Kami menggabungkan perhitungan dari semua dimensi, yaitu dimensi strategi, kultur, teknologi, dan performa media sosial untuk mendapatkan skor akhir indeks dari setiap organisasi.
Tabel 12. Skor Akhir Indeks Kematangan Digital
NO NAMA ORGANISASI
DIMENSI PENGUKURAN
INDEKS AKHIR STRATEGI KULTUR TEKNOLOGI
PERFORMA MEDIA SOSIAL
1 JAVLEC Indonesia 2,67 3,83 3,05 4,94 3,89
2 Walhi Lampung 2,67 2,50 3,33 4,52 3,51
3 Yayasan KEHATI 3,67 4,50 4,43 1,28 3,03
4 Yayasan RMI Bogor 3,20 4,50 4,00 1,60 2,98
5 Yayasan Konservasi
Way Seputih 3,60 4.17 4,71 1,14 2,95
6 Ciliwung Institute 2,87 4,67 3,76 1,52 2,87
7 Forest Watch Indonesia 3,40 4,17 3,48 1,50 2,81
8 WRI Indonesia 3,00 4,17 3,67 1,52 2,78
9 Rekonvasi Bhumi 2,67 3,67 2,86 2,20 2,72
10 Yayasan Kanopi
Indonesia 3,07 3,67 3,90 1,21 2,61
11 Walhi Yogyakarta 2,87 3,83 3,24 1,28 2,50
12 Sawit Watch 2,60 3,67 3,19 1,41 2,46
RATA-RATA 3,02 3,95 3,64 2,01 2,93
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa skor indeks akhir sebagian besar organisasi masih berada dalam fase Transisi, yaitu fase kedua dalam tahap kematangan digital organisasi. Dari dua belas NGO, terdapat sembilan NGO yang masih berada pada fase Transisi, hal ini dapat dilihat melalui tabel di atas pada kolom Indeks Akhir
yang berwarna kuning. Sementara itu, sudah ada tiga organisasi yang telah berada pada fase Kompetitif, JAVLEC Indonesia, Walhi Lampung, dan Yayasan KEHATI.
Nilai rata-rata skor indeks kematangan digital dari semua NGO yang menjadi subjek penelitian adalah 2,92, yang memasukkan rata-rata skor indeks organisasi ini ke fase Transisi. Hal ini terjadi karena meskipun nilai indeks untuk dimensi 1-3 atau aspek kapasitas produksi sudah memasuki fase Kompetitif, namun nilai indeks untuk dimensi Performa Media Sosial dari 75% organisasi yang menjadi subjek penelitian ini masih berada di fase Berkembang.
Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata NGO yang menjadi subjek penelitian sebetulnya sudah memiliki modal dan kapabilitas organisasi yang cukup untuk melakukan advokasi digital. Hal ini dapat dilihat dari empat aspek yang diwakilkan melalui dimensi-dimensi yang dijadikan tolok ukur, yaitu:
1. Telah adanya pengembangan dan penerapan rencana strategis dalam pemanfaatan teknologi digital.
2. Adanya penciptaan kultur yang mendorong pertumbuhan inovasi dan kolaborasi secara digital.
3. Adanya penyediaan infrastruktur dari organisasi untuk mendukung kebutuhan advokasi digital serta adanya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan data dan teknologi digital.
Akan tetapi, modal yang ada ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk melakukan advokasi mengenai isu lingkungan hidup melalui media sosial. Pada akhirnya, advokasi ini masih belum bisa menjangkau audiens secara luas.
TEMUAN PENELITIAN
54
Organisasi dengan Nilai Indeks Tertinggi
Tabel 13. Tiga Organisasi dengan Nilai Indeks Tertinggi
NO NAMA ORGANISASI
DIMENSI PENGUKURAN
INDEKS AKHIR STRATEGI KULTUR TEKNOLOGI
PERFORMA MEDIA SOSIAL
1 JAVLEC Indonesia 2,67 3,83 3,05 4,94 3,89
2 Walhi Lampung 2,67 2,50 3,33 4,52 3,51
3 Yayasan KEHATI 3,67 4,50 4,43 1,28 3,03
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Tiga organisasi dengan nilai indeks tertinggi adalah JAVLEC Indonesia, Walhi Lampung, dan Yayasan KEHATI. Ketiga organisasi ini masuk ke dalam fase Kompetitif, meskipun ketika dilihat lebih jauh, tidak semua dimensi di dalamnya berada dalam fase Kompetitif. Artinya, secara umum, organisasi-organisasi ini sudah menempatkan digitalisasi sebagai salah satu prioritas utama.
Grafik 18. Indeks Akhir JAVLEC Indonesia
JAVLEC Indonesia sudah cukup merata dalam memperhatikan penyediaan modal-modal yang dibutuhkan untuk mendukung jalannya advokasi digital, maupun dalam pemanfaatan media sosial untuk menjalankan advokasi tersebut. Bahkan ketika penyediaan modal dari segi elemen strategis (lihat nilai dimensi Strategi), namun dari JAVLEC Indonesia sudah memberikan output media sosial yang baik (lihat nilai dimensi Performa Media Sosial).
TEMUAN PENELITIAN
56
Grafik 19. Indeks Akhir Walhi Lampung
Sama seperti JAVLEC Indonesia, Walhi Lampung juga memiliki output media sosial yang baik, yang berarti konten-konten advokasi digital sudah bisa menjangkau audiens secara luas (lihat nilai dimensi Performa Media Sosial), meskipun dari segi penyediaan modal strategi masih kurang adanya rencana dan tindakan yang jelas dalam memanfaatkan teknologi (lihat nilai dimensi Strategi) dan dari segi budaya juga kolaborasi dan inovasi teknologi belum didorong secara aktif (lihat dimensi Kultur).
Grafik 20. Indeks Akhir Yayasan KEHATI
Berbeda dengan JAVLEC Indonesia dan Walhi Lampung, Yayasan KEHATI memiliki kekuatan di bagian penyediaan modal strategi, budaya, teknologi, dan sumber daya manusia. Akan tetapi, justru di bagian performa media sosial, Yayasan KEHATI memiliki nilai yang rendah. Artinya, meskipun penyediaan modal sudah mumpuni, namun Yayasan KEHATI masih kurang dalam memanfaatkan media sosial untuk melakukan advokasi digital, sehingga jangkauan audiensnya masih kurang.
TEMUAN PENELITIAN
58
Organisasi dengan Nilai Indeks Terendah
Tabel 14. Tiga Organisasi dengan Nilai Indeks Terendah
NO NAMA ORGANISASI
DIMENSI PENGUKURAN
INDEKS AKHIR STRATEGI KULTUR TEKNOLOGI
PERFORMA MEDIA SOSIAL 10 Yayasan Kanopi
Indonesia 3,07 3,67 3,90 1,21 2,61
11 Walhi Yogyakarta 2,87 3,83 3,24 1,28 2,50
12 Sawit Watch 2,60 3,67 3,19 1,41 2,46
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Tiga organisasi dengan nilai indeks terendah adalah Yayasan Kanopi Indonesia, Walhi Yogyakarta, dan Sawit Watch. Ketiga organisasi ini masuk ke dalam fase Transisi meskipun ketika dilihat lebih jauh, tidak semua dimensi di dalamnya berada dalam fase Transisi.
Artinya, bahkan untuk nilai indeks terendah sekalipun, organisasi nonpemerintah yang menjadi subjek penelitian sudah mencapai fase Transisi, dan sudah tidak ada yang masih dalam fase Berkembang, yang artinya, organisasi-organisasi yang ada sudah mulai memprioritaskan digitalisasi meskipun dalam penerapannya belum maksimal.
Grafik 21. Indeks Akhir Yayasan Kanopi Indonesia
Yayasan Kanopi Indonesia masih belum seimbang dalam memperhatikan elemen-elemen yang terkait digitalisasi. Kekuatannya berada bagian penyediaan modal strategi, budaya, teknologi, dan sumber daya manusia, namun performa media sosialnya rendah.
TEMUAN PENELITIAN
60
Grafik 22. Indeks Akhir Walhi Yogyakarta
Sama seperti Yayasan Kanopi Indonesia, meskipun penyediaan modal sudah mumpuni, namun Walhi Yogyakarta masih kurang dalam memanfaatkan media sosial untuk melakukan advokasi digital, sehingga output-nya masih kurang.
Grafik 23. Indeks Akhir Sawit Watch
Membandingkan dengan Yayasan Kanopi Indonesia dan Walhi Yogyakarta, Sawit Watch juga memiliki masalah yang sama. Dengan ini, terlihat bahwa permasalahan utama dalam organisasi-organisasi yang memiliki nilai indeks terendah, terletak pada bagaimana sebetulnya penyediaan modal untuk digitalisasi sudah cukup baik, namun dari segi implementasi dan pemanfaatan media sosial untuk advokasi digital masih kurang, sehingga hasilnya konten-konten advokasi ini juga masih kurang menjangkau audiens.