• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURMALAH: JURNAL MAHASISWA AL-ISHLAH Volume 1, Nomor 1, Juni 2021, Hal. xx-xx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURMALAH: JURNAL MAHASISWA AL-ISHLAH Volume 1, Nomor 1, Juni 2021, Hal. xx-xx"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL MAHASISWA AL-ISHLAH

Volume 1, Nomor 1, Juni 2021, Hal. xx-xx

MEMBANGUN BUDAYA SANTRI TERHADAP MAHASISWA PERGURUAN TINGGI PESANTREN STIT AL-ISHLAH

BONDOWOSO

Parmadi Zeky Ustad1, Ramadhan Arifin Mansyur2, Fatahillah Arrozi3

1 STIT Al-Ishlah Bondowoso, Jl Jember No 17-19 Grujugan Bondowoso e-mail: [email protected]

2 STIT Al-Ishlah Bondowoso, Jl Jember No 17-19 Grujugan Bondowoso e-mail: [email protected]

3STIT Al-Ishlah Bondowoso, Jl Jember No 17-19 Grujugan Bondowoso e-mail: [email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study was to find out how the culture of the santri was built towards the students of the Islamic boarding school STIT Al-Ishlah Bondowoso. The approach used in this research is descriptive qualitative and ethnographic as the design.Ethnography is a research design to describe a culture. As the main objective of this research is to understand a view of life from the point of view of a particular society. i. Furthermore, the research was conducted at STIT Al-Ishlah Jl. Raya No. 17-19 Dadapan, Grujugan, Bondowoso Regency, East Java 6821. Primary data sources are all personnel involved in the educational process at STIT Al_Ishlah Bondowoso starting from the care for students as supervisors for student education, lecturers as teachers or teaching staff, and students at STIT Al-Ishlah themselves. Meanwhile, secondary data was obtained from the surrounding community. In-depth observations and interviews were conducted to collect data. The data analysis technique in this study uses the Miles and Huberman model with three stages. Namely: a. Data reduction. b. Data Presentation. c. Conclusion Withdrawal.In this study, it was concluded that in order to build a culture of santri towards Islamic boarding school students, students need to be boarding like students. As long as they are in the dormitory, it is necessary to hold additional programs such as congregational prayers, reciting the Koran, memorizing the Qur'an, learning Arabic, sunnah fasting and night prayers.

Keywords: santri culture, boarding school

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana budaya santri dibangun terhadap mahasiswa perguruan tinggi pesantren STIT Al-Ishlah Bondowoso.

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualiatif dan etnografi sebagai desainnya. Etnografi adalah desain penelitian untuk mendeskripsikan suatu kebudayaan. Sebagai tujuan utama dari penelitian ini untuk memahami sebuah pandangan hidup melalui sudut pandang masyarakat tertentu.i.

Selanjutnya, Penilitian dilakukan di STIT Al-Ishlah Jl. Raya No. 17-19 Dadapan, Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur 6821

Sumber data primer adalah seluruh personal yang terlibat dalam proses pendidikan di STIT Al_Ishlah Bondowoso mulai dari Pengasuhan mahasantri sebagai pengawas pendidikan mahasantri, para dosen sebagai guru atau tenaga pendidik, dan mahasantri STIT Al-Ishlah sendiri. Sementara itu data sekunder diperoleh dari masyarakat sekitar. Observasi dan wawancara secara mendalam dilakukan untuk

(2)

Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx  2 mengumpulkan data. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman dengan tiga tahapan. Yaitu: a. Reduksi Data. b. Penyajian Data. c. Penarikan Kesimpulan. Dalam penelitian ini berhasil ditarik kesimpulan, bahwa untuk membangun budaya santri terhadap mahasiswa perguruan tinggi pesantren, mahasiswa perlu diasramakan seperti layaknya santri. Selama mereka berada di dalam asrama maka perlu diadakan program taambahan seperti, sholat berjamaah, mengaji, menghafal Al-Qur’an, pembelajaran Bahasa Arab, puasa sunnah dan sholat malam.

KataKunci:budaya santri, perguruan tinggi pesantren

PENDAHULUAN

Salah satu tugas pesantren adalah membangun nilai-nilai keislaman dengan mengaplikasikannya pada keseharian santri yang bermukim di pondok pesantren (El Iq Bali &

Fadli, 2019; Riskiyah & Muzammil, 2020). Nilai, norma, aturan, adat, yang dibiasakan dan dilakukan setiap saat di lingkungan pondok akan menjadi sebuah budaya yang identitasnya melekat pada setiap individu yang ada di dalamnya. Bahkan dalam prosesnya budaya-budaya tersebut ada yang dibangun dengan cara menjadikannya peraturan tertulis yang wajib ditaati oleh seluruh santri.

Budaya pesantren yang melekat pada santri terbagi menjadi dua bagian, yaitu budaya religius yang nilai dan aturannya tertulis jelas dalam alqura’an dan sunnah, serta budaya lokal yang biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan dan nilai yang berlaku di setiap pondok dan masyarakat sekitarnya (Arifin, 2014).

Contoh budaya religius pada santri diantaranya, budaya sholat berjemaah, budaya mengaji, menghafal alqur’an, mengamalkan puasa sunnah, saling mengucapkan salam dan ibadah lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Disebut budaya karena amalan-amalan tadi sudah lumrah dan umum dilakukan di dalam pondok pesantren, bahkan ketika menyebut nama pondok maka yang terlintas di pikiran setiap orang adalah ibadah-ibadah tersebut di atas (Rizqiah, 2016;

SARIFUDIN, 2018).

Budaya lokal sangat dipengaruhi oleh nilai, norma, dan adat istiadat yang berlaku di lingkungan sekitar pondok. Misal budaya santri mencium tangan kyai atau ustadz, membungkukkan badan sebagai rasa hormat saat kyai lewat, dan lain-lain bisa jadi menjadi satu budaya di satu pondok, tapi tidak di pondok lain karena perbedaan adat istiadat yang berlaku (Luthfi, 2016; Mukhibat, 2016).

Keberadaan perguruan tinggi pesantren saat ini berkembang pesat selaras dengan bertambahnya jumlah santri yang membutuhkan pendidikan tinggi selepas menjalani pendidikan di tingkatan SMP dan SMA (El Iq Bali, 2017; Khoiruddin, 2019). Konsep perguruan tinggi pesantren berbeda dengan pesantren perguruan tinggi, untuk model yang pertama pesantren dulu dibangun,

(3)

setelah mempunyai lulusan maka disediakan perguruan tinggi untuk menampung jenjang pendidikan para santrinya, sehingga mahasiswanya sering disebut mahasantri.

Sementara itu definsi dari pesantren perguruan tinggi artinya pesantren yang dibangun untuk memfasilitasi kebutuhan mahasiswa akan aktifitas kesantriannya, artinya perguruan tingginya dulu dibangun baru pesantrennya menyusul.

STIT Al-Ishlah Bondowoso adalah salah satu perguruan tinggi pesantren yang ada di Bondowoso. Disebut begitu karena STIT Al-Ishlah berdiri untuk memfasilitasi lulusan Pondok Pesantren akan kebutuhan pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswanya diasramakan dan diawasi oleh majelis pengasuhan mahasantri. Setelah dilakukan pengawatan awal dan belum bersifat mendalam, ditemukan data bahwa mahasiswa STIT Al-Ishlah tidak semuanya berasal dari lulusan pondok pesantren. Sehingga ketika mereka perlu beradaptasi dengan budaya santri ketika berbaur di dalam asrama. Hal ini menghadirkan ketertarikan tersendiri bagi peneliti untuk mengetahui bagaimana budaya santri dibangun terhadap mahasiswa perguruan tinggi pesantren STIT Al-Ishlah Bondowoso.

METODE

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualiatif (Lexi & M.A., 2010; Somantri, 2005) dan etnografi sebagai desainnya (Windiani & Rahmawati, 2016). Etnografi adalah desain penelitian untuk mendeskripsikan suatu kebudayaan. Sebagai tujuan utama dari penelitian ini untuk memahami sebuah pandangan hidup melalui sudut pandang masyarakat tertentu.i. Selanjutnya, Penilitian dilakukan di STIT Al-Ishlah Jl. Raya No. 17-19 Dadapan, Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur 6821

Sumber data primer adalah seluruh personal yang terlibat dalam proses pendidikan di STIT Al_Ishlah Bondowoso mulai dari Pengasuhan mahasantri sebagai pengawas pendidikan mahasantri, para dosen sebagai guru atau tenaga pendidik, dan mahasantri STIT Al-Ishlah sendiri.

Sementara itu data sekunder diperoleh dari masyarakat sekitar (Dr. Wahidmurni, 2017). Observasi dan wawancara secara mendalam dilakukan untuk mengumpulkan data . Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman dengan tiga tahapan. Yaitu: a. Reduksi Data. b. Penyajian Data. c. Penarikan Kesimpulan (Rijali, 2019).

Pesantren Sebagai Budaya Pendidikan Indonesia

Sebagai sebuah produk budaya Indonesia pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tertua dan eksistensinya masih tampak hingga saat ini (Syafe’i, 2017; Usman, 2013). Sejarah mencatat, pesantren sebagai lembaga pendidikan dengan budaya santrinya yang kental juga memberikan andil yang besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang mengakar pada jiwa santri dan menjadi budaya, merupakan faktor yang mempengaruhi karakter pelajar yang pejuang.

(4)

Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx  4 Walaupun saat ini banyak pondok hadir dengan berbagai macam konsep dengan keunggulan program masing-masing, misal pondok traditional dengan keunggulan penguasaan kitab kuning, pondok modern dengan penguasaan bahasanya, pondok tahfidz dengan program hafalan al-qur’annya, dan konsep-konsep yang lain, tapi tetap saja budaya religius yang tertanam di dalamnya budaya-budaya islam menjadi pembeda dengan lembaga-lembaga lain.

Terbukti saat pandemic covid-19 melanda Indonesia dan dunia, hanya pondok pesantren yang tetap memberlakukan pendidikan dan pembelajaran tatap muka, walaupun dengan sedikit inovasi yaitu menggunakan masker. Sholat berjemaah di masjid tetap dilakukan, mengaji berkelompok tetap berjalan, olahraga, aktivitas pembelajaran di kelas tetap berlangsung secara tatap muka, ini menunjukkan budaya pesantren yang tertanam dalam jiwa santri tidak tergoyahkan oleh isu dan wacana apapun termasuk wacana pandemic (Athaillah et al., 2021).

Catatan-catatan dalam sejarah ini cukup menjadi thesis bagi dunia pendidikan, bahwa konsep pendidikan pondok pesantren adalah model pendidikan yang paling proporsional saat ini, khususnya di Indonesia. Kurikulum yang dipakai juga bisa menjadi bukti, bagaimana kurikulum yang dipakai pondok pesantren rata-rata adalah kurikulum mandiri yang berjalan aktif secara turun temurun. Bisa dikomparasi dengan kurikulum pemerintah yang setiap berganti menteri pendidikan maka kurikulumnya juga mengalami perubahan. Sehingga dalam banyak kasus guru kurang menguasai kurikulum baru saat akan diaplikasikan dan efeknya muridpun menjadi korban.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Membudayakan Nilai-nilai Santri terhadap Mahasiswa

Pondok Pesantren Al-Ishlah salah satu pondok pesantren di Bondowoso Jawa Timur, memiliki fasilitas perguruan tinggi yang bernama STIT Al-Ishlah Bondowoso. Perguruan tinggi ini berdiri pada Tahun 2003, dan masih aktif menjalankan fungsi pendidikan bagi mahasiswa (Prayoga

& Mukarromah, 2018).

Mahasiswa dan mahasiswi yang belajar di pondok ini berasal dari lulusan pondok Al-Ishlah sendiri dan juga mahasiswa dari luar. Mahasiswa yang berasal dari golongan santri biasanya kuliah sambil mengabdi. Yang dimaksud dengan mengabdi disini adalah membantu mengajar di beberapa lembaga milik pondok, yaitu TK, SD, SMP, dan KMI.

Lama mengabdi para ustadz ini juga tergantung pada status mereka saat menjadi santri yaitu Banuh, Basa, Taba (Arrozi, 2011). Pada artikel kami yang lain pernah diteliti secara mendalam tentang manajemen pemerataan pendidikan melalui Banuh, Basa dan Taba ini. Dan mewajibkan lulusan untuk mengabdi merupakan salah satu bentuk efisiensi pembiayaan, karena bisa memangkas biaya gaji untuk pengajar. Banuh merupakan singkatan dari Bayar penuh, yaitu santri yang membayar biaya bulanan secara penuh, lama pengabdian santri dengan golongan Banuh ini adalah satu tahun .

(5)

Yang kedua adalah Basa atau bayar sebisa-bisa. Santri golongan ini membayar biaya bulanannya sebisa atau semampunya, tapi diberi standar pembayaran minimum yaitu Rp. 250.000,- . Lama pengabdian untuk santi golongan Basa adalah dua tahun. Dan yang terakhir adalah Taba yang merupakan singkatan dari tanpa bayar. Santri golongan ini mendapatkan fasilitas pendidikan secara gratis di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Lama pengabdian untuk golongan ini adalah tiga tahun.

Mahasantri yang berasal dari pesantren tentunya sudah terbiasa dengan budaya santri yang tertanam dalam kebiasaan mereka. Mereka sudah terbiasa sholat berjemaah, biasa mengaji, menghafal Al-Quran, ta’dzim kepada guru, puasa sunnah, saling mengucapkan salam, dan budaya positif lainnya. Sementara itu mahasantri yang berasal dari luar, yang berangkat dengan budaya yang dibawa dari luar pondok, tentu perlu beradaptasi. Tidak sedikit yang perlu waktu lama untuk beradaptasi, hingga terkadang menolak nilai-nilai yang coba untuk ditanamkan pada mereka.

Lalu bagaimana STIT Al-Ishlah menanamkan budaya santri terhadap mahasantri mereka?.

Sebagai perguruan tinggi pesantren tentu saja pengelola pendidikan kampus harus memiliki pembeda dengan perguruan tinggi umum. Dari hasil pengamatan peneliti di lapangan, pembentukan budaya santri terhadap mahasiswa dilakukan dengan program extrakurikuler yang kontinyu dan berkesinambungan.

Diantara program yang dijalankan yaitu, 1. Kewajiban sholat berjamaah, 2. Halaqoh tahsinul qur’an 3. Halaqoh tahfidzul qur’an, 4. Pembelajaran Bahasa Arab, 5. Pelajaran baca kitab, 6. Puasa sunnah, 7. Sholat malam.

Kewajiban untuk ikut sholat berjamaah di masjid diterapkan untuk seluruh mahasiswa dan mahasiswi. Pengawasannya dilakukan oleh MPM (Majelis Pengawasan Mahasiswa), dengan memberlakukan pengecekan kehadiran di setiap selesai sholat.

Kegiatan selanjutnya yaitu tahsinul qur’an yang dilaksanakan setiap hari setiap ba’da sholat subuh. Kegiatan ini dilakukan di masjid dengan bimbingan musyrif yang sudah ditunjuk. Metode yang digunakan yaitu metode ummi.

Kegiatan ke tiga adalah halaqoh tahfidzul qur’an, yaitu kegiatan menghafal Al-Quran yang waktunya meneruskan waktu tahsinul qur’an. Kegiatan menghafal Al-Quran ini disesuaikan dengan hafalan mahasiswa di kelas, karena di jam perkuliahan juga ada mata kuliah menghafal Al- Quran.

Pada jam 07.30 pagi, mahasiswa setiap hari diberi pelajaran tambahan Bahasa Arab yang dibimbing langsung oleh Ustadz Azhar, Lc. Tampak mahasiswa antusias mengikuti kegiatan pembelajaran ini setiap harinya. Karena pembelajaran bahasa arab ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan skill mereka dalam membaca kitab-kitab berbahasa arab.

Untuk kegiatan ibadah yang bersifat sunnah seperti puasa senin kamis, sholat malam, pembiasaan sholat dhuha juga ditekankan kepada mahasiswa. Dengan pembiasaan-pembiasaan ini

(6)

Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx  6 akhirnya mahasiswa yang berasal dari luar pesantren inipun akhirnya memiliki budaya santri seperti santri pondok pesantren pada umumnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam penelitian ini berhasil ditarik kesimpulan, bahwa untuk membangun budaya santri terhadap mahasiswa perguruan tinggi pesantren, mahasiswa perlu diasramakan seperti layaknya santri. Selama mereka berada di dalam asrama maka perlu diadakan program taambahan seperti, sholat berjamaah, mengaji, menghafal Al-Qur’an, pembelajaran Bahasa Arab, puasa sunnah dan sholat malam.

Disarankan kepada perguruan tinggi lain yang merupakan perguruan tinggi berbasis pesantren agar menerapkan hasil penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2014). Budaya Pesantren Dalam Membangun Karakter Santri. Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial Dan Keagamaan, 6(1), 1–22.

http://ejournal.kopertais4.or.id/tapalkuda/index.php/qodiri/article/view/1158

Arrozi, F. (2011). Manajemen pembiayaan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di Pondok Pesantren Al-Ishlah Dadapan Bondowoso / Fatahillah Arrozi.

Athaillah, R. A., Rahma, F. N., Alam, M. S. Q., Fauzi, B. A., Wulandari, F., & Safii, I. (2021).

Implementasi Kebijakan Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren Taruna Al Qur’an Putri Yogyakarta Masa Darurat Covid-19. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(4), 2027–2036.

https://doi.org/10.31004/EDUKATIF.V3I4.1112

Dr. Wahidmurni, M. P. (2017). Pemaparan Metode Penelitian Kualitatif. Repository Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 1–16.

El Iq Bali, M. M. (2017). Perguruan Tinggi Islam Berbasis Pondok Pesantren. AL-TANZIM : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM, 1(2), 1–14. https://doi.org/10.33650/al- tanzim.v1i2.109

El Iq Bali, M. M., & Fadli, M. F. S. (2019). Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Pesantren dalam Meningkatkan Ketahanan Mental Santri. PALAPA, 7(1), 1–14.

https://doi.org/10.36088/palapa.v7i1.164

Khoiruddin, M. (2019). Integrasi Kurikulum Pesantren dan Perguruan Tinggi. Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan, 17(2), 219–234.

https://doi.org/10.21154/CENDEKIA.V17I2.1526

Lexi, J., & M.A., M. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. In Metodologi Penelitian Kualitatif.

In Rake Sarasin. https://scholar.google.com/citations?user=O-B3eJYAAAAJ&hl=en Luthfi, K. M. (2016). Islam Nusantara: Relasi Islam dan Budaya Lokal. SHAHIH : Journal of

Islamicate Multidisciplinary, 1(1), 1. https://doi.org/10.22515/shahih.v1i1.53

(7)

Mukhibat, M. (2016). MENEGUHKAN KEMBALI BUDAYA PESANTREN DALAM

MERAJUT LOKALITAS, NASIONALITAS, DAN GLOBALITAS. KARSA: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman, 23(2), 177. https://doi.org/10.19105/karsa.v23i2.717

Prayoga, A., & Mukarromah, I. S. (2018). Kiai Pondok Pesantren Mahasiswa. Madrasa: Journal of Islamic Educational Management, 1, 30–38. https://doi.org/10.32940/mjiem.v1i0.72

Rijali, A. (2019). ANALISIS DATA KUALITATIF. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 17(33), 81.

https://doi.org/10.18592/alhadharah.v17i33.2374

Riskiyah, I., & Muzammil, M. (2020). Internalisasi Nilai-nilai Keislaman dalam Pendidikan Pesantren di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Karanganyar Paiton Probolinggo. EDISI, 2(1), 25–39. https://doi.org/10.36088/EDISI.V2I1.780

Rizqiah, K. (2016). Aktualisasi budaya religius pesantren dalam meningkatkan kedisiplinan siswa studi di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ma’arif 02 Singosari Malang. http://etheses.uin-

malang.ac.id/4106/

SARIFUDIN, N. I. P. (2018). INTERNALISASI BUDAYA RELIGIUS MELALUI PROGRAM PESANTREN BAGI SISWA DI SMK KOMPUTAMA JERUKLEGI CILACAP.

http://repository.iainpurwokerto.ac.id/4837/

Somantri, G. R. (2005). Memahami Metode Kualitatif. Makara Human Behavior Studies in Asia, 9(2), 57–65. https://doi.org/10.7454/mssh.v9i2.122

Syafe’i, I. (2017). PONDOK PESANTREN: Lembaga Pendidikan Pembentukan Karakter. Al- Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 61. https://doi.org/10.24042/atjpi.v8i1.2097 Usman, I. (2013). Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam. Al Hikmah, XIV(1), 101–119.

Windiani, W., & Rahmawati, F. N. (2016). Menggunakan Metode Etnografi Dalam Penelitian Sosial. DIMENSI - Journal of Sociology, 9(2).

https://journal.trunojoyo.ac.id/dimensi/article/view/3747

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis- jenis, struktur, dan maksud dari tindak kesantunan direktif pada wacana kolom

Secara umum, tujuan asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami gangguan mobilisasi bervariasi, bergantung pada diagnosis dan batasan karakteristik masing-masing

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa personil band musik metal di Kota Bandung tidak hanya memiliki satu tipe agresi melainkan ada yang memiliki lebih dari satu tipe

Lokasi dalam penelitian ini adalah jalan Teuku Cik Ditiro Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui

Meskipun begitu, banyak faktor yang mempengaruhi sehingga anak-anak dengan potensi baik ini mengalami kegagalan dalam proses belajar di sekolah, selain

3.1.1 Melafalkanmufrodatte ntangة َرَكاَذُمْلا ِةَف ْرُغ يِف 3.1.2 Melafalkanteksqira’ah temaة َرَكاَذُمْلا ِةَف ْرُغ يِف 3.2.1

Menurut Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 38 disebutkan bahwa tenaga kependidikan bertugas melaksanakan

Segala puji bagi Allah swt yang dengan segala rahmat dan riḍa-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi ini dengan judul “Transmisi Pendidikan Agama