• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Tamwil: Jurnal Ekonomi Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Tamwil: Jurnal Ekonomi Islam"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Tamwil: Jurnal Ekonomi Islam

http://ecampus.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/tamwil/index E- ISSN : 2775-8125

P- ISSN : 2476-9452

ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA AQAD MURABAHAH DALAM PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BUKITTINGGI NOMOR 08/PDT.BTH/2004/PN.BT DAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA

BUKITTINGGI NOMOR 284/PDT.G/2006/PA.BKT Indra Fardi

Polres Tanah Datar

Jln. Sutan Alam Bagagarsyah, Kec. Tanjung Mas, Kab. Tanah Datar 27280 email: [email protected]

Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana proses penyelesaian sengketa aqad murabahah dan analisis yuridis terhadap putusan dalam Putusan Pengadilan Negeri Bukittinggi No.08/PDT.BTH/2004/PN.BT. Masalah kedua adalah Bagaimana proses penyelesaian sengketa aqad murabahah dan analisis peradilan Pengadilan Agama Bukittinggi No.284/Pdt.G/2006/PA. Bkt. Hasil penelitian adalah sengketa akad jual beli al-murabahah Bank Bukopin Syariah Bukittinggi yang diputus oleh Pengadilan Agama Bukittinggi merupakan sengketa yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap atau inkrak van gewijsde sebelum Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 berlaku tentang perampasan eksekusi jaminan, maka itu bukan prinsip nebis in idem. Pengadilan Agama Bukittinggi berwenang memeriksa dan memutus perkara akad jual beli al-murabahah Bank Bukopin Syariah Bukittinggi. Pengadilan Agama Bukitinggi mendasarkan putusannya pada: KUH Perdata, Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Al-Hadits. Penyelesaian sengketa wanprestasi paling baik dilakukan dengan keputusan Pengadilan. Perlu adanya undang-undang tentang ekonomi syariah selain Al-Quran dan Al-Hadits sebagai pedoman bagi pelaku ekonomi syariah. Bank syariah harus menerapkan syariat Islam secara tetap sebagai bagian dari ibadah.

Kata Kunci: Sangketa, Murabaha, Putusan Pengadilan

Abstract: The problem in this research is how the aqad murabahah dispute resolution process and the juridical analysis of the verdict in the Judgment of the Bukittinggi District Court No.08/PDT.BTH/2004/PN.BT. The second problem is How is the aqad murabahah dispute resolution process and judicial analysis Bukittinggi Religious Court No.284/Pdt.G/2006/PA.

Bkt. The research findings are the dispute over the al-murabaha sale and purchase agreement of Bank Bukopin Syariah Bukittinggi which was decided by the Bukittinggi Religious Court is a dispute that has permanent legal force or inkrak van gewijsde before Act No. 3 of 2006 is effective about seizing the execution of collateral, then it is not the principle of nebis in idem. The Bukitinggi Religious Court has the authority to examine and decide the case of al-murabaha sale and purchase agreement Bank Bukopin Syariah Bukittinggi. The Bukitinggi Religious Court bases its decision on: KUH Perdata, Fatwa of the Indonesian Ulema Council and the Al-Hadith. Settlement of

(2)

dispute defaults best with Court decisions. The need for a law on sharia economics in addition to the Al-Quran and Al-Hadith as a guideline for sharia economic actors. Islamic banks must implement Islamic law in a fixed manner as part of worship.

Keywords:Dispute, Murabaha, Court Decision PENDAHULUAN:

Lembaga keuangan syari’ah dalam memberikan pelayanan sudah semakin lengkap sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dari produk penghimpunan dana, pembiayaan sampai dengan produk tambahan berupa jasa. Salah satu dari produk pembiayaan yang telah dikeluarkan oleh lembaga keuangan syari’ah adalah produk pembiayaan dengan aqad murabahah yang dikeluarkan oleh seluruh bank syari’ah.

Pembiayaan dengan aqad murabahah sudah banyak diterapkan diperbankan syari’ah sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan permodalan masyarakat

Murabahah adalah pembelian barang dengan biaya yang ditangguhkan Pembiayaan murabahah adalah pembiayaan yang diberikan kepada nasabah atas dasar persetujuan kedua belah pihak tentang harga dasar ditambah dengan margin keuntungan yang telah ditetapkan. Pengertian lain dari murabahah adalah jual beli barang pada hara asal dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati.

Jasa yang diberikan oleh pihak bank berhak menarik fee (keuntungan) dari nasabah atau komisi sebagai keuntungan pihak bank.

Namun hal itu harus disepakati terlebih dahulu dengan pihak pemesan mengenai besar komisinya yang akan diterima oleh pihak bank.

Hal ini berbeda dengan eksistensi produk pembiayaan Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi.Praktek jual beli murabahah sebagai salah satu produk pembiayaan Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi yang telah beroperasi tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Perjanjian aqad murabahah yang mengikat nasabah dengan pihak Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi bahwa dalam isi perjanjian dinyatakan pihak bank syari’ah menyediakan barang-barang pesanan nasabah dan selanjutnya bank syari’ah menjual barang tersebut kepada nasabah dan mengambil keuntungan didalam penjualan barang tersebut.

Jadi, dari ketentuan syari’ah pembiayaan oleh bank kepada nasabah jelas diatur bahwa inti dari pembiayaan murabahah ini adalah adanya barang yang dibeli nasabah dan pemasok barang.Sedangkan nasabah hanya mengajukan permohonan kepada pihak Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi untuk penambahan modal usaha dan take over.Jual beli barang yang sebagaimana dimaksud dalam perjanjian aqad murabahah antara nasabah dengan pihak Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi tidak ada wujud barang yang diperjualbelikan tersebut.

Maka dari itu nasabah melalui kuasa hukumnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama Bukittinggi. Hakim pengadilan memutuskan perkara sengketa aqad murabahah No.284/Pdt.G/2006/PA.BKT bahwa perjanjian aqad murabahahyang dilakukan oleh nasabah dengan pihak Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi batal demi hukum. Take over yang dilakukan batal demi hukum. Pertimbangan hakim dalam memutus perkara sengketa aqad murabahah antara nasabah dengan pihak bank syari’ah yakni berdasarkan fatwa mengenai murabahah harus adanya wujud barang yang diperjualbelikan.

Pada tahun 2003 nasabah pernah juga menggugat ke Pengadilan Negeri Bukittinggi.

Hakim pengadilan memutuskan perkara sengketa aqad murabahah Pengadilan Negeri Bukittinggi No.08/PDT.BTH/2004/PN.BT bahwa perjanjian aqad murabahah yang dilakukan oleh nasabah dengan pihak Bank Bukopin Syari’ah Bukittinggi sah demi hukum dan mensahkan juga tindakan hukum Bank menyita Hak Tanggungan Nasabah.

Pertimbangan hakim dalam memutus perkara sengketa aqad murabahah harus disesuaikan dengan ketentuan dalam fiqh muamalah. Penulis menganalisis apakah putusan ini sesuai dengan kaidah syari’at islam atau tidak berdasarkan pertimbangan hakim yang memutus perkara dengan menelaah fatwa-fatwa dewan syari’ah. Karena perbankan

(3)

syari’ah yang menggunakan prinsip-prinsip syari’ah dalam pembiayaannya harus disesuaikan dengan konsep muamalah

Dengan demikian penulis tertarik untuk meneliti karya ilmiah ini dengan judul “Analisis Penyelesaian Sengketa Aqad Murabahah dalam Putusan di Pengadilan Negeri Bukittinggi No.08/PDT.BTH/2004/PN.BT dan Pengadilan Agama Bukittinggi No.284/Pdt.G/2006/PA.Bkt”.

KAJIAN TEORI:

Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sementara yang membedakan pengertiannya dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Istilah lain yang juga berkaitan dengan ini adalah Unit Usaha Syariah (UUS) yakni unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.

Mudharabah diartikan sebagai suatu bentuk kemitraan, di satu pihak akan menyediakan dana seluruhnya yang selanjutnya disebut sebagai shahib al-mal, sdangkan di pihak lain akan melakukan pengelolaan usaha (mudharib). Dalam kemitraan ini jika untung, maka keuntungan akan dibagi sesuai dengan rasio laba yang telah disepakati sebelumnya.

Sedangkan jika rugi, maka shahib al’mal akan kehilangan sebagian dari modalnya dan mudharib akan kehilangan imbalan atas kerja keras dan menejerial skill yang disumbangkan.

Murabahah merupakan suatu transaksi jual beli, maka dengan demikian rukun- rukunnyapun sama dengan rukun jual beli.

Jumhur ulama mengatakan ada empat rukun dalam jual beli yaitu orang yang menjual, orang yang membeli, sighat dan barang atau sesuatu yang diaqadkan. Keempat rukun ini mereka sepakati dalam setiap jenis aqad. Rukun jual

beli menurut jumhur ulama selain mazhab hanafi ada tiga atau empat persyaratan yaitu orang yang beraqad, yang diaqadkan, sighat.

Dewan Syariah Nasional adalah lembaga yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mempunyai fungsi melaksanakan tugas-tugas MUI dalam menangani masalah- masalah yang berhubungan dengan aktifitas lembaga keuangan syariah. Salah satu tugas pokok Dewan Syari’ah Nasional (DSN) adalah mengkaji, menggali dan merumuskan nilai dan prinsip-prinsip hukum Islam (Syari’ah) dalam bentuk fatwa untuk dijadikan pedoman dalam kegiatan transaksi di lembaga keuangan syari’ah. Melalui Dewan Pengawas Syari’ah melakukan pengawasan terhadap penerapan prinsip syari’ah dalam sistem dan manajemen lembaga keuangan syari’ah (LKS). Seperti yan telah dijelaskan dalam Fatwa Dewan Syaria’ah Nasional MUI yang berbunyi sebagai berikut:

Fatwa DSN-MUI NO: 04/DSN- MUI/IV/2000 Tentang Murabahah.

Take over syariah adalah pembiayaan yang timbul sebagai akibat dari take over terhadap transaksi non syariah yang telah berjalan yang dilakukan oleh bank syariah atas permintaan nasabah. Sedangkan Take over menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 31/ DSN-MUI/VI 2002. Yang disebut juga dengan pengalihan hutang.

Pengalihan hutang yang dimaksud di sini adalah pengalihan transaksi non syariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang sesuai dengan syariah.Atau take over merupakan proses perpindahan kredit nasabah di bank konvensional menjadi pembiayaan dengan prinsip jual beli yang berdasarkan syariah.

Dalam proses take over ini, bank syariah sebagai pihak yang akan melakukan take over terhadap kredit yang dimiliki calon nasabahnya di bank konvensional, bertidak sebagai wakil dari calon nasabahnya untuk melunasi sisa kredit yang terdapat di bank asal, mengambil bukti lunas, surat asli agunan, perizinan, polis asuransi, sehingga barang (yang dikreditkan) menjadi milik nasabah secara utuh. Kemudian untuk melunasi hutang nasabah kepada bank syariah, maka nasabah tersebut menjual kembali (barang yang dikreditkan) tersebut kepada bank syariah. Kemudian bank syariah akan menjual rumah tersebut lagi kepada

(4)

nasabah dengan pilihan kombinasi akad yang tertera dalam Fatwa DSN-MUI/VI/2002 tentang pengalihan hutang seperti qardh dan murabahah, syirkah al-milk dan murabahah, qardh dan ijarah serta qardh dan ijarah muntahiyah bittamlik.

MOTODE PENELITIAN:

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran). Pater Mahmud Marzuki menjelaskan bahwa penelitian hukum normatif adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip- prinsip hukum, guna menjawab permasalahan hukum, penelitian hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi (penilaian) dalam masalah yang dihadapi.

Adapun sifat penelitian adalah preskriptif kualitatif yaitu untuk memberikan argumentasi atas hasil penelitian yang telah dilakukan.Argumentasi dilakukan oleh peneliti untuk memberikan preskripsi mengenai benar atau salah atau apa yang seyogianya menurut hukum terhadap isi putusan serta memberikan penilaian terhadap pertimbangan hukum dan dasar hukum hakim kemudian menganalisisnya berdasarkan hukum formil di Pengadilan Agama Indonesia dan hukum materil yang berdasarkan hukum Islam dan perundang- undangan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan analitis.

Pendekatan ini merupakan pencarian makna dalam istilah-istilah hukum yang terdapat didalam perundang-undangan, dengan begitu peneliti memperoleh pengertian makna baru dari istilah hukum dan menguji penerapannya secara praktis dengan menganalisis putusan- putusan hukum.

Yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah pada Putusan Hakim Pengadilan Negeri Bukittinggi No.08/PDT.BTH/2004/PN.BT dan Putusan Hakim Pengadilan Agama Bukittinggi No.284/Pdt.G/2006/PA.Bkt

terhadap penyelesaian sengketa Perbankan Syariah serta nantinya akan menganalisis menurut pandangan Islam tentang Aqad Murabahah.

HASIL PENELITIAN:

Bagi hakim dalam mengadili suatu perkara terutama yang dipentingkan adalah fakta atau peristiwanya dan bukan hukumnya.

Peraturan hukumnya hanyalah sebagai alat, sedangkan yang bersifat menentukan adalah peristiwanya. Hakim akhirnya akan menemukan kesalahan dengan menilai peristiwa itu secara keseluruhannya. Di dalam peristiwa itu sendiri akan tersimpul hukumnya.

Oleh karena itu, untuk dapat menemukan fakta dan mengetahui peristiwa yang sebenarnya, maka dapat diketahui dari pernyataan yang diutarakan oleh penggugat dan tergugat di persidangan.

Penggugat dalam gugatannya mengajukan peristiwa konkret yang menjadi dasar gugatannya dan tergugat di persidangan mengemukakan peristiwa konkret juga sebagai jawaban terhadap gugatan penggugat. Maka dibukalah kesempatan jawab-menjawab di persidangan antara penggugat dan tergugat yang tujuannya adalah agar hakim dapat memperoleh kepastian tentang peristiwa konkret yang disengketakan oleh para pihak.

Hakim harus mengkonstair peristiwa konkret tersebut melalui pembuktian. Kemudian setelah peristiwa konkret dibuktikan dan dikonstair, maka harus dicarikan hukumnya.

Di sinilah dimulai dengan penemuan hokum (rechtsvinding).

Pada perkara No.

284/Pdt.G/2006/PA.Bkt mngenai dasar pada pertimbangan hakim dalam menyelesaikan perkara ekonomi syariah, yang bertitik tolak dari proses lahirnya akad, bahwa akad jual beli murābaḥah I, akte no. 2 tanggal 2 Juli 2003 dan akad jual beli murābaḥah II, Akte No : 43 tanggal 27 Agustus 2003 yang dibuat oleh dan dihadapan Yulfaisal, SH notaris di Bukittinggi sebelum pihak-pihak yang namanya tercantum dalam akte-akte tersebut membubuhkan tanda tangan terlebih dahulu oleh notaris Yulfaisal, S.H. telah dibacakan isi pokok akte perjanjian dan dijelaskan secara keseluruhan dihadapan para pihak (Penggugat dan Tergugat) serta

(5)

saksi-saksinya dimana pihak-pihak menyatakan persetujuan dan tidak keberatan, barulah pihak-pihak menanda tangani akte jual beli murābaḥah tersebut. Dengan adanya kesepakatan tersebut menurut Majelis Hakim maka kedua pihak langsung mengikatkan diri dengan kedua akta perjanjian jual beli murābaḥah sesuai dengan pasal 1338 KUH Perdata yang berbunyi: “semua persetujuan yang dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.

Setelah Majelis Hakim memperhatikan pelaksanaaan terhadap akad jual beli murābaḥah tersebut ternyata tidak sesuai dengan maksud akad murābaḥah yaitu harus adanya barang yang diperjual belikan, yang terjadi hanya Tergugat I memberikan pinjaman uang kepada Penggugat I dalam tahap I sebesar Rp. 500.000.000,- untuk Take Over Penggugat I dari BRI Cabang Bukittinggi kepada Bukopin Syari‟ah Cabang Bukittinggi.

Tahap II: Tergugat hanya memberikan pinjaman uang sebesar Rp. 350.000.000,- untuk penambahan modal usaha P & D Penggugat.

Majelis Hakim berpendapat dengan tidak adanya barang yang diperjual belikan antara Penggugat I dengan Tergugat I, maka kedua akad murābaḥah tersebut batal demi hukum karena adanya barang merupakan syarat mutlak untuk sahnya akad jual beli murābaḥah sesuai dengan fatwa No. 04/DSN- MUI/IV/2000 tentang ketentuan murābaḥah nomor 6 “Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.”

Ditinjau dari fatwa DSN MUI No.

04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ketentuan Umum murābaḥah dalam Bank Syariah pun jelas akad murābaḥah ini tidak memenuhi rukun dan syarat sahnya suatu akad murābaḥah karena tidak ada barang yang diperjual belikan. Sedangkan dalam fikih muamalah juga dijelaskan bahwa akad murābaḥah adalah akad jual beli barang

tertentu, dimana penjual menyebutkan dengan barang yang diperjualbelikan, termasuk harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atasanya laba atau keuntungan dalam jumlah tertentu.

Pembiayaan berdasarkan take over adalah pembiayaan yang timbul sebagai akibat dari take over terhadap transaksi nonsyariah yang telah berjalan yang dilakukan oleh bank syariah atas permintaan nasabah. Setelah Majelis Hakim meneliti tentang Take Over (pengalihan hutang Penggugat I dari BRI Cabang Bukittinggi kepada Bank Bukopin Syari‟ah Cabang Bukittinggi ditemukan fakta:

Bahwa dalam pelaksanaan Take over yang dilakukan Penggugat dan Tergugat tidak ditemukan aset atau wujud barang milik nasabah (Penggugat I) atau barang milik Tergugat I (Bank Bukopin Syari‟ah Cabang Bukittinggi). Jika ditinjau dengan menggunakan akad hawalah dalam hukum Islam pengalihan hutang atau take over antara penggugat I dengan Bank Bukopin Syariah telah memenuhi rukun dan syarat dalam hawalah, yang mana akad tersebut tergolong dalam ḥawalah dayn (pemindahan hutang) karena pihak penggugat I berkewajiban melunasi hutangnya kepada pihak Bank Bukopin Syariah.

Dari fakta tersebut di atas dihubungkan dengan fatwa No. 31 /DSN-MUI/VI/2002 tentang pengalihan hutang (Take Over), Majelis Hakim berpendapat bahwa Take over yang dilakukan kedua pihak (Penggugat I degan tergugat I) menyimpang (tidak sesuai) dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam fatwa tersebut mengandung cacat hukum oleh karenanya take over tersebut batal demi hukum.

Dalam hal ini, bahwa keputusan hakim dalam memutus mengenai kedua akad murābaḥah dan take over yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang batal demi hukum itu sudah benar, maka kedudukan uang Rp.

500.000.000,- ditambah Rp. 350.000.000,- = Rp. 850.000.000,- adalah sebagi pinjaman biasa (Al-Qardh)). Hakim telah menggunakan dasar hukum ekonomi syariah berupa Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 04/DSN- MUI/IV/2000 tentang murābaḥah dalam ketentuan umum murābaḥah dalam Bank

(6)

Syariah, Fatwa No. 31/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pengalihan Hutang (take over), Fatwa No. 19/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Al- Qard} namun dalam memutus perkara ini hakim hanya menggali sumber hukum dari Fatwa DSN saja, menurut penulis hakim bisa saja menambahkan sumber hukum lain yaitu berupa Fikih Muamalah ataupun KHES tentang akad murābaḥah.

Menurut penulis, dasar pertimbangan hukum yang digunakan hakim telah sesuai dengan permasalahan yang sedang dipersengketakan. Dapat ditambahkan pula sebagai rujukan bagi hakim ketentuan tentang jual beli murābaḥah juga terdapat dalam pasal 116 KHES, yaitu: 1) Penjual harus membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati spesifikasinya. 2) Penjual harus membeli barang yang diperlukan pembeli atas nama penjual sendiri dan pembelian ini harus bebas riba. 3) Penjual harus memberi tahu secara jujur tentang harga pokok barang kepada pembeli berikut biaya yang diperlukan”. Namun ketentuan tersebut tidak tercantum atau tidak menjadi bahan pertimbangan hakim dalam putusan Nomor.

284/Pdt.G/2006/PA.Bkt, sehingga menurut penulis, hakim perlu menggali referensi atau bahan pertimbangan yang terdapat pada KHES maupun peraturan lainnya yang membahas mengenai ekonomi syariah, sehingga putusan yang dihasilkan dapat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

KESIMPULAN:

Berdasarkan uraian penulis tentang Analisis Hukum tentang Penyelesaian Sengketa Aqad Murabahah di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Bukittinggi (Studi Putusan Hakim Pengadilan Negeri Bukittinggi No.08/PDT.BTH/2004/PN.BT dan Putusan Hakim Pengadilan Agama Bukittinggi No.284/Pdt.G/2006/PA.Bkt, maka penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut : 1. Hakim Pengadilan Negeri Bukittinggi

memutuskan bahwa baik Pelawan I maupun Pelawan II adalah pihak yang telah melanggar janji (waprestasi) dan tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya kepada Bank

Bukopin Cabang Syariah

Bukittinggi.Menetapkan seluruh akta-akta perjanjian yang dibuat oleh para pihak, yaitu Akad Murabahah Nomor 2 dan Surat Hutang Nomor 3 jo Akad Murabahah Nomor 43 dan surat hutang Nomor 44 berikut seluruh akta-akta terkait telah memenuhi syarat sah perjanjian, terutama Pasal 1320 dan 1338 Kitab Undang Undang Hukum Perdata.Hakim menetapkan Pelaksanaan Penetapan Sita Eksekusi Hak Tanggungan yang ditetapkan oleh pengadilan Negeri Bukittinggi merupakan perbuatan yang sah, dan karenanya mempunyai kekuatan hukum tetap.Melanjutkan pelaksanaan Penetapan Sita Eksekusi Hak Tanggungan sebagimana yang telah ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Bukittinggi;

2. Majelis Hakim Pengadilan Agama Bukittinggi dalam memutuskan perkara ekonomi syariah sengketa akad murābaḥah No.284/Pdt.G/2006/PA.Bkt sudah sesuai dengan hukum ekonomi syariah, bahwa perjanjian akad murābaḥah yang dilakukan oleh nasabah dengan pihak bank syari‟ah batal demi hukum dan hubungan antara keduanya yaitu sebagai pinjam meminjam biasa (alquran) dengan jaminan benda tidak bergerak. Akad yang dilakukan keduanya pun batal demi hukum. Berdasarkan fatwa DSN-MUI No: 04/DSN- MUI/IV/2000 tentang murābaḥah, fatwa DSN-MUI No. 31/DSN-MUI/VI/2002 tentang take over.Dalam ketentuan hukum ekonomi syariah pelaksanaan dan penerapan perjanjian kedua akad murābaḥah tidak sesuai karena tidak memenuhi rukun dan syarat sahnya murābaḥah. Dimana nasabah mengajukan permohonan untuk penambahan modal usaha dan take over kepada pihak bank syari‟ah. Keduanya mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian yaitu perjanjian akad murābaḥah yang isinya seolah-olah pihak bank syari‟ah menyediakan barang yang dibutuhkan oleh nasabah, kemudian menjualkan barang tersebut kepada nasabah dengan mengambil keuntungan di dalamnya.

(7)

KEPUSTAKAAN ACUAN:

Al-Shidiqi, Hasbi. (1975). Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

A Karim, Adiwarman. (2011). Bank Islam:Analisis Fiqh dan Keuangan.

Jakarta: Rajawali Press.

Azhar, Ahmad Basyir. (2000). Asas-Asas Hukum Muamalah. Yogyakarta: UII Press.

Depag RI. (1989). Al- Quran dan Terjemahnya. Semarang: Toha Putra.

Devita, Irma Purnamasari. (2010). Kiat-Kiat Cerdas, Mudah dan Bijaksana Memahami Masalah Aqad Syariah.

Jakarta: Kencana Prenada Media.

Ghofur, Abdul Anshori. (2010). Hukum Perjanjian Islam di Indonesia.

Yogyakarta: UGM Press.

Kasmir. (2003). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Lubis, Ibrahim. (1995). Ekonomi Islam: Suatu Pengantar. Jakarta: Kalam Mulia.

Majid Abdul. (1986). Pokok-Pokok Fiqh Muamalah dan Hukum Kebendaan Dalam Islam. Bandung: IAIN SGD.

Muhwan, Wawan Hariri. (2011). Hukum Perikatan dilengkapi Hukum Perikatan Dalam Islam. Bandung: Pustaka Setia PPHIMM. (2009). Kompilasi Hukum

Ekonomi Syariah. Jakarta: Kencana.

Rahman, Abdul Ghazaly. (2012). Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana.

Remy, Sutan Sjahdeini. (2009) Perbankan Syariah Produk-Produk dan Aspek- Aspek Hukumnya. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Rianto, Bambang Rustam. (2005). Perbankan Syari’ah. Pekanbaru: Mumtaz Cendikia Press.

Suhendi, Hendi. (1997). Fiqh Muamalah.

Bandung: Gunung Djati Press.

Syafei, Rachman. (2001). Fiqh Muamalah.

Bandung: Pustaka Setia.

Syafii, Muhammad Antonio. (2009). Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta:

Tazkia.

Takiddin, Imam Abibakar. Kitab Kifayatul Akhyar. Semarang: Toha Putra.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mendapatkan hasil yang optimal pada perangkat Communication Radio, pada frequency tertentu, biasanya dilakukan tuning coaxial pada transmission cable & juga tuning

p value > 0,05 dan nilai r sebesar -0.085 dari hasil tersebut menunjukan tidak ada hubungan antara Riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi dengan arah

Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini memilih metode spektrofotometri ultraviolet sebagai metode yang digunakan untuk penetapan kadar α-mangostin dalam plasma

Tetapi produksi paving block juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat cetakan manual, yang dalam IbM kali ini menggunakan cetakan yang dipesan dari Desa

Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah

Adapunkriteria inklusi dari subyek penelitian adalah anak jalanan di Kota Semarang, pernah mengalami kekerasan seksual berupa perkosaan, baik per vaginal maupun per anal (sodomi),

Sehubungan dengan pelaksanaan tugas penulis lebih terfokus pada tugas Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Pelalawan,

Magister Teknik Informatika Institut Bisnis dan Informatika Darmajaya Pada setiap kriteria memiliki sub kriteria dan nilai yang dijadikan acuan untuk melakukan pemberian nilai