• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKALI LAGI RES PUBLICA!

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKALI LAGI RES PUBLICA!"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

RES PUBLICA!

j. ’ ! * *

SEKALI LAGI

RES PUBLICA!

I -t i-orjfustakaan Sastrii*

f Ja^ftTsitas Indonesia

-

0 7

KEMENTERIAN PENEKANGAN R. L

(2)

1 / ^ i • t f r "

" ' r

PENERBITAN CHUSUS I

<z.

\ A > /J* Uft RES PUBLICA!

SEKALI LAGI

RES PUBLICA!

Amannt Presiden

kcpada sidang plcno Konstituante Bandung, 22 April 1959

KEMENTERIAN PENERANGAN R.L

(3)
(4)

Upatjaru peluntikan dan pemhnkaan D ew an Konstituante di Gedim g Merdeka Bandung pud a th. 1956 oleh Presiden Soekarno.

(5)
(6)

RES PU BLICA, SE K A LI L A G I RES P U B L IC A !

Saudara Ketua clan Saudara-saudara Anggota Konstituante jang terliormat.

Pada liari ini sudali ada tepat 2 taliun, 5 bulan dan 12 liari ber- langsung, scdjak saja melantik Sidang Pem buat Undang-undang Dasar jang terhormat ini.

Seperti Saudara-sandara sekalian masili ingat, pelantikan K on- stituante itu tempo-bari dengan sengadja dilangsungkan pada waktu selnrub Rakjat. Indonesia memperingati ulang taliun ke-11 Hari Pablawan, jailu 10 N opem ber 1956.

Sebagaimana saja katakan dalam upatjara pelantikan itu, maka Bangsa Indonesia telali mentjapai salali satu puntjak Revolusi Nasionalnja dengan pembukaan sidang Konstituante pada waktu itu.

Sekarang Bangsa kita mendekati lagi salahsatu puntjak Perdjoang- annja, jaitu apabila Konstituante telab nienjelesaikan tugasnja, se­

bagaimana mestinja, dan sebagaimana diharapkan oleh 85 djuta Rakjat jang membentuknja.

Dalam masa antara pembukaan dan penutupan sidang Konstituante itu, telali terdjadilah banjak hal, banjak gedjala, banjak peristhva, jang symptom-symptomnja sudali saja ■ sinjalir dalam xiraian saja pada tanggal 10 N opem ber 1956.

Ivedjadian-kedjadian didalam Negeri maupun diluar N egeri se- lama itu, jang tentunja telali mendapat perliatian sepennlinja dari Saudara-saudara sekalian sebagai wakil-wakil R akjat Indonesia, be- gitu pula kesibukan pekerdjaan seliari-liari, mungkin m enjebabkan Saudara-saudara sudali tidak ingat lagi apa jang saja katakan bam- pir

2l/2

taliun jang lalu.

Karena itu ada baiknja kiranja, apabila saja disini mengulangi beberapa pokok-fikiran jang penting dari amanat jang saja utjap- kan pada upatjara pelantikan sidang Konstituante dulu itu.

Apakali pokok-pokok-fikiran itu?

Dalam pidato pelantikan Konstituante jang saja maksudkan tadi saja terangkan, baliwa tanggal 10 N opem ber 1945 itu kita peringati

(7)

liap-tiap taliun, karena pada liari itu bangkit k em bali S e m a n g a t Pahlaw an Bangsa Indonesia setjara massal.

Palilawan-pahlawan kita — demikianlah kukatakan selandjutuja

— rcla niengorbankan segala sesnatu untuk m em bela suatu „ id e e ’ , jaitu idee kemerdekaan dan keselamatan seluruli Bangsa, idee ja n g diproklam irkan pada tanggal 17 Agnstus 1945, idee untuk bernegara jang berbentuk R epublik Kesatuan berdasarkan U ndang-undang Dasar 1945.

Idee tadi sebelum itu telah mengalami beberapa fase.

Fase pertama adalah fase kesukuan.

Tiap-tiap sukn merasa dirinja sebagai suatu kesatuan jan g niutlak, dan masing-masing lianja mementingkan keselamatan d irin ja sen- diri sadja.

Fase kedua adalah fase kepulauan.

Tiap-tiap pulau merasa dirinja sebagai suatu kesatuan ja n g m ullak, dan masing-masing lianja mementingkan keselamatan d iri­

nja sendiri sadja.

Fase ketiga adalah fase kerdja-sama antar-suku dan antar-pulau, tetapi kerdja-sama itu hanja dilakukan atas dasar federasi, karena tidak ada satu suku ataupun satu pulau jang rela b erk orb a n untuk seluruh bangsa atau tanah-air Indonesia.

Pada tahun 1928 turunlah Idee-Baru, jang m ew ah ju h i A ngkatan Pemuda, dan selandjutnja seluruh Bangsa Indonesia.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 Angkatan Pem uda in i m engikrar- kan sumpahnja jang termasjhur:

,,Kam i setanah air, tanah air Indonesia,

„Ivam i sebangsa, bangsa Indonesia,

„ICami sebahasa, bahasa Indonesia” .

Dengan terbitnja matahari Kebangsaan Indonesia jan g bulat dan bersatu itu, hilanglah hak sedjarah bagi idee provincialism e, idee insularisme dan idee federalisme.

Maka barangsiapa sekarang ini mem bangkitkan k em b a li idee k e s u k u a n , idee kepulauan atau idee federalism e itu, ia adalali seperti orang jang menggali kubur dan m entjoba m en ghidupkan kem bali tulang orang jang dikuburkan 30 tahun jan g lam pau.

(8)

Mcmang kila lelap berhak m entjintai dan m em adjukan suku atau daerah kila masing-masing, tetapi kita liarus m entjintainja dan memadjukannja dalam rangka kesatuan bangsa dan kesatuan tanah-air Indonesia, jang tak bisa dipisah-pisalikan.

Pada tahun 1933 Idee berbangsa, bertanah-air dan berbahasa satu itu meningkat lagi dengan tim bulnja Idee B ern e gara-satu jang berbentuk Republik.

Untuk Idee itulah, jaitu Idee ,.Bangsa Indonesia bersalu dalam satu Negara Nasional jang berbentuk R epublik Kesatuan, jang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945” , dilakukanlah tin- dakan-tindakan kepahlawanan setjara massal sem endjak 10 No- pember 1945.

Dan karena Idee itulah pula, maka Negara R epublik Indonesia Serikat, jang didasarkan idee provincialisme, idee insularisme dan idee federalisme, jang telah kita kubur 30 tahun jang lampau, hanja dapat liidup i y 2 bulan, ibarat suatu tengkorak jang diliidup- kan dan didalangkan setjara buatan atau „kunstmatig” .

Saudara-saudara sekalian.

Kita telah berhasil memulihkan kem bali Negara Kesatuan R epu­

blik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950, jang tersusun berdasar- kan Undang-undang Dasar Sementara jang berlaku sampai seka- rang, tetapi Djiwa dan Semangat Proklamasi. dan Undang-undang Dasar 1945 terasa belum dipulihkan pula dengan itu.

Oleh karena itu maka pasal 134 Undang-undang Dasar Sementara mcnentukan supaja selekas-lekasnja ditetapkan „Undang-undang Dasar Republik Indonesia” jang akan menggantikan Undang-undang Dasar Sementara itu.

Untuk itu maka dibentuklah Konstituante ini, jang bersama-sama dengan Pemerintah, selekas-lekasnja liarus menetapkan „Undang- undang Dasar R epublik Indonesia” jang saja maksudkan tadi.

Pada upatjara pelantikan Konstituante pada tanggal 10 N opem ber 1956 itu saja menjampaikan beberapa pesanan kepada Konstituante jang terhormat ini, untuk dipergunakan dalam menunaikan tugas- nja menetapkan „Undang-undang Dasar R epu blik In d on esia ’ .

P e r t a m a : Saja minla supaja Saudara-saudara sebagai Ang- gota-anggota Konstituante m endjadilah penjam hung-lidah jang setia

(9)

daripada 80-85 djuta Rakjat Indonesia jang sedang ber-revolusi dan palilawan-pahlawan Rakjat Indonesia jang telali berk orban dan mati, jang tiap-tiap taliun pada tanggal 10 N opem ber kita peringati.

K e d u a : Saja minta supaja Konstituante — bersama-sama dengan Pemerintab — menetapkan suatu „Undang-undang Dasar R epublik Indonesia” , jang sesuai dengan djiwa, watak dan kepriba- dian Bangsa Indonesia sendiri.

Kita, dalam pada itu, tidak perlu menutup mala kepada dunia sekeliling kita. Kita malahan sebaliknja perlu m em peladjari peng- alaman-pengalaman, keadaau-keadaan, adjaran-adjaran dan k on - stitusi-konstitusi dinegeri-negeri lain. Tetapi segala sesuatu itu tidak boleb m endorong kita mengbasilkan suatu konstitusi ja n g lianja merupakan satu „co p y ” belaka daripada konstitusi-konstitusi asing.

Segala sesuatu dari luar negeri itu hanjalali merupakan baban-baban sadja, untuk menjenipurnakan „Undang-uudang Dasar R e p u b lik Indonesia , jang hams kita buat bersama.

Bagi Bangsa Indonesia, jang sedang ber-revolusi, Konstitusi barus merupakan suatu Konstitusi Perdjoangan, jang m em berikan arali dan dinamik kepada Perdjoangan, jang merupakan suatu m anifes- tasi daripada geloranja dan gegap-gempitanja Perdjoangan.

Bagi Bangsa Indonesia, jang sedang m erom bak tata k olon ia l ja n g mesum mendjadi tata nasional jang m odern dan berbabagia, sebaik- nja dibuatkanlah suatu Konstitusi jang berdasarkan falsafah na­

sional, jang mengenal apa jang saja namakan pada waktu itu

„dem okrasi terbimbing atau demokrasi terpim pin ” , disegala lapang- an kenegaraan dan disegala lapangan kemasjarakatan, disegala bidang-bidang Politik, disegala bidang-bidang m iliter, disegala bidang-bidang sosial-ekonomi.

K e t i g a : Saja minta djanganlali K onstituante didjadikan tem pat berdebat bertele-tele, suatu medan pertem puran bagi partai- partai atau pemimpin-pemimpin politik.

Saja peringatkan pada itu waktu, babwa K onstituante bukan gelanggang antitliese, melainkan badan untuk bersynthese.

Karena itu maka permusjawarataii dalam K onstituante tidak boleli menemukan „djalan buntu” , dan kita seniua w a djib bericlitia r

(10)

unluk mentjarikan „djalan keluar” bagi segala kesulitan jan g di- liadapi olek Konstituante itu.

Pidato-pelantikan Konstituante tempo liari itu saja acliiri dengan suatu peringatan dan suatu seruan.

Saja peringatkan bahwa Indonesia Merdeka adalah hanja sekedar djembatan emas, dan diatasnja kita tidak b oleh saling mendesak, saling menendang, saling sengkelit, karena djem batan itu adalah m ilik kita bersama.

Saja peringatkan pada pelantikan itu bahwa musuli-musuh kita sedang berusaha untuk m endjebol tiang-tiang dari djem batan emas kita itu, dan dalam liubungan itu saja m en-sinjalir antara lain ada- nja aksi-aksi subversif asing, dan bahwa im perialism e-kolonialism e beluin mati, dan masih bertjokol meradjalela di Irian-Barat.

Karena itu maka pada pelantikan itu saja serukan, supaja Bangsa Indonesia dengan kom pak bersatu-padu m enjeberangi djem batan emas „Indonesia Merdeka” itu, m enudju ke kebahagiaan dan kese- djahteraan, dan saja serukan kepada Konstituante, berikanlah kepada Bangsa Indonesia suatu Undang-undang Dasar, jang m endjam in kesatuan Bangsa, mendjam in kesatuan Tanah-air, m endjam in ke- merdekaan bulat, m endjam in kesedjahteraan seluruli Rakjat.

2 Tahun, 5 bulan dan 12 hari telah berlangsung sedjak saat pelan­

tikan itu.

Dalam djangka waktu itu Saudara-saudara sekalian telah berkali- kali bersidang.

Dan dengan mengingat keadaan Negara dan Masjarakat selama djangka waktu tersebut, Saudara-saudara telah bersepakat untuk

* mempertjepat pekerdjaan Konstituante, jang sesuai pula dengan pasal 134 Undang-undang Dasar Sementara, jang menentukan supaja Undang-undang Dasar Republik Indonesia ditetapkan selekcisdekas- nja.

Sebagai wakil-wakil jang terhormat daripada R akjat Indonesia, Saudara-saudara tentunja memaklumi kesulitan-kesulitan Negara dan Masjarakat kita, terutama pada tahun-taliun belakangan ini.

Pada suatu ketika kesulitan-kesulitan itu adalah dem ikian me- mimtjaknja, sehingga saja memandang perlu pada tanggal 21 Pebru-

7

(11)

ari 1957 mengemukakan suatu Konsepsi untuk m enjelam atkan R epu blik Proklamasi.

Konsepsi saja itu ternjata belum dapat diterima oleli m asjarakat setjara bulat. Padabal peneriinaan setjara bulat itu m erupakanlali suatu ’ ’conditio sine qua non” bagi pelaksanaannja dengan sesein- purna-seinpurnan j a.

Sementara itu kesulitan-kesulitan jang dihadapi oleli Negara dan Masjarakat kita sudah demikian inemuntjaknja, sehingga dirasa perlu untuk menjatakan seluruh wilajali Negara R epu blik Indonesia dalam keadaan darurat perang, jang kemudian diganti dengan kea- daan perang.

Dalam keadaan jang demikian itu saja membentuk Ivabinet K arya, jang inemegang pemerintahan Negara sampai sekarang.

Saudara-saudara sekalian selandjutnja dapat inenjaksikan sendiri usaba-usaha Kabinet Karya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan jang kita hadapi, baik jang terletak dibidang exekutif, m aupun ja n g jang terletak dibidang Konstitusi.

Kesulitan-kesulitan tersebut meliputi soal-soal kenegaraan mau- pun soal-soal kemasjarakatan, meliputi bidang-bidang p o litik , maupun bidang-bidang militer dan sosial-ekonomi.

Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu setjara kekeluargaan dalam waktu jang singkat, diadakanlali pelbagai ragam perm usja- waratan.

Dalam lial ini saja memperingatkan pada M usjawarali N asional dan Musjawarali Nasional Pembangunan dalam taliun 1957, dan pada beberapa musjawarali militer, jang kesem uanja dilakukan antara wakil-wakil pusat dan wakil-wakil daerab.

Pembitjaraan-pembitjaraan setjara luas dan m endalam dilakukan pula antara saja dan Dewan Menteri, antara saja dan D ew an N asio­

nal, antara saja dan pemimpin-pemimpin politik serta orang-orang terkemuka, mengenai penjelesaian m a sa la h -m a sa la li kita itu.

Kesemuanja — permusjawaratan, pem bitjaraan, pertukaran fik ira n itu, achirnja memperkuat kejakinan kita baliwa keadaan N egara dan Masjarakat kita menghendaki agar dalam waktu sesingkat- singkatnja sistim kenegaraan dan kemasjarakatan kita ditin d jau lah

(12)

kembali dan dirombak setjara revolnsioner. Ja!, ditindjau kem bali dan dirombak setjara revolusioner, selekas-lekasnja!

Maka dipandanglah perlu, agar pembuatan Undang-undang Dasar R epublik Indonesia oleh Konstituante bersama-sama dengan Peme- rintah, lebih dipertjepat lagi.

Dalam pada itu terasalak pula keperluan untuk m entjarikan djalan keluar bagi kesulitan-kesulitan jang dihadapi oleh K onsti­

tuante sendiri, mengenai beberapa soal-soal pokok jang berat.

Berliubung dengan itu, maka pada liari ini saja datang di Bandung, dan menghadiri pembukaan sidang pleno jang pertama Konstituante tahun 1959, untuk m enjam paikan atas nama Peme- rintah suatu andjuran jang penting, jang dapat mem pertjepat penjelesaian tugas bersama Konstituante dan Pemerintah, dan dapat pula membuka djalan-keluar bagi kesulitan jang dihadapi oleh Konstituante sekarang jang saja maksudkan tadi.

Saudara-saudara sekalian.

Andjuran jang hendak saja sampaikan kepada Konstituante atas nama Pemerintah itu berbunji tjekak-aos:

MariLuh kita kem bali kepada Undang-undang Dasar 1945.

Andjuran ini disetudjui dengan suara bulat oleh Dewan Menteri dalam sidangnja pada tanggal 19 Pebruari 1959.

Kemudian perumusan dari pada andjuran Pem erintah itu saja setudjui dengan resmi pada tanggal 20 Pebruari 1959.

Naskah andjuran Pemerintah tersebut disampaikan setjara ter- tulis oleh Perdana Menteri kepada Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakjat pada tanggal 21 Pebruari 1959.

Pendjelasan atas andjuran Pemerintah itu disampaikan setjara tertulis pula oleh Perdana Menteri kepada Konstituante berturut- turut pada permulaan bulan Maret jang lalu.

Saudara-saudara sekalian.

Berkenaan dengan andjuran „kem bali kepada Undang-undang Dasar 1945” itu, maka saja sampaikan kepada Konstituante dengan resmi naskah Undang-undang Dasar 1945 itu, jang terdiri dari Pembukaan, batang-tubuh jang berisikan 37 pasal, 4 Aturan Per- alilian, dan 2 Aturan Tambalian.

(13)

Saja harap Saudara-saudara sekalian dalam, w aktu ja n g sin gk at dapat m enerim a adjakan P em erintah ja n g saja setu d ju i sep en u lm ja itu , seliingga dalam waktu ja n g tidak lam a lagi K on stitu an te dan P em erin tah bersama-sama dapat m en eta pkan naskah U ndang-un- dang Dasar 1945 itu sebagai Undang-undang Dasar R e p u b lik I n d o ­ nesia, guna m enggantikan U ndang-undang D asar Sem entara ja n g b erlaku sekarang ini.

D engan dem ikian, maka K onstituante m elakukan suatu tin dak an ja n g bersedjarali, baik dalam perdjalan an R ev olu si N a sion a l kita ja n g m asih m enggelora terus sam pai sekarang in i, m a u pu n dalam riw ajat Bangsa Indonesia jan g In sja ’A lla h akan berlan gsu n g un tu k selam a-lam anja!

Setengah orang akan b erta n ja : A p a k a h K on stitu a n te tidak m engundurkan djam dengan m em utuskan u n tu k k e m b a li k epa d a Undang-undang Dasar 1945?

A pak ah Konstituante tidak m engabaikan pan ggilan zam an ja n g sudah m a d ju lagi 14 taliun, dengan m enetapkan U n dan g-u n dan g Dasar 1945 sebagai Undang-undang Dasar R e p u b lik In d o n e sia ?

D jaw aban saja ialah tegas-tandas: O rang ja n g m en a n ja d em ik ia n itu tidak m engerti atau tengah m en jelew en g dari d jiw a dan sema- ngat jan g m urni Bangsa Indonesia, ja n g telali m e m p ro k la m irk a n kem erdekaannja pada tanggal 17 Agustus 1945!

rang jan g m enanja dem ikian itu tid u r n je n ja k , atau b an gu n n De amun, karena tidak m enangkap sebab-m usabab k e d ja d ia n -

^an ^a^am masa kem erdekaan kita, terutam a sed ja k 1950.

aja tetap tegas-tandas mengatakan, bahw a dengan m en eta p k a n n ang-undang Dasar 1945 sebagai U ndang-undang D asar R e p u b lik n onesia, Konstituante m elakukan suatu tin dakan b ersed ja ra li ja n g ernilai tinggi dalam zaman R evolusi N asional kita dan dalam r i­

w ajat Bangsa Indonesia.

M en gapa?

K arena Anggota-anggota Konstituante, dengan dem ik ia n , sebagai putera-putera R akjat Indonesia, m engerti sedalam -dalam nja akan d jiw a , w atak dan kepribadian Bangsa kita ja n g sedjati.

K arena Anggota-anggota Konstituante, dengan dem ik ia n , sebagai utusan-utusan R akjat Indonesia, m engerti sedalam -dalam n ja 10

■ n rtlS 'i A.I5.AATS

(14)

keliendak Revolusi Nasional pada tingkatan sekarang dan mengerti keliendak zaman sekarang.

Dengan kembali kepada Undang-undang Dasar 1945, maka kita kembalikan Undang-undang kita, jang lukur artinja dalam Revolusi Nasional dan sedjarah Bangsa Indonesia itu, kepada kedudukannja jang agung semula. Kita kembalikannja kepada Singgasana Historis Revolusioner jang asli-mulia.

Selamilali dalam-dalam apa jang terdjadi sebelum dan sesudah Hari Kramat Bangsa Indonesia, Hari Proklamasi 17 Agustus 1945!

Selami segala kedjadian-kedjadian itu, dan saudara akan mengarti bahwa Saudara-saudara akan berbuat historis tinggi nilai, djika Saudara-saudara kembali kepada Undang-undang Dasar 1945 itu.

Saja tidak akan mengulangi disini apa jang tertulis dalam lem- baran-lembaran hitam dibuku sedjarah Indonesia, jang melukiskan zaman pendjadjahan di Tanah A ir kita, jang penuh dengan penderitaan Rakjat kita.

Saja djuga tidak akan memperingatkan disini kepada bagian- bagian dari buku sedjarah Indonesia, jang melukiskan perlawanan Bangsa Indonesia terhadap pendjadjah-pendjadjah itu guna meng- achiri penderitaan Rakjat kita itu.

Sebab dalam uraian saja pada upatjara pelantikan Konstituante pada tanggal 10 Nopember 1956 saja telah gambarkan setjara pan- djang lebar, — dan dalam permulaan uraian saja sekarang ini telah saja singgung lagi dengan singkat— , apakah jang telah diusahakan oleh Bangsa Indonesia untuk mengachiri penderitaan R akjat kita itu.

Saja disini lianja ingin mengemukakan, bahwa dalam mengikuti perdjoangan Bangsa Indonesia melawan pendjadjahan pada umum- nja, dimasa Ivebangkitan Nasional pada chususnja, kita senantiasa menghadapi suatu „amanat penderitaan Rakjat” . Amanat penderi­

taan Rakjat jang mcngharukan. Amanat penderitaan Rakjat jang liarus kita taati. Amanat penderitaan Rakjat jang liarus kita penuhi.

Oleh karena ia adalah AM ANAT.

Apakah Amanat itu?

Tiga hal.

Pertama: tjiptakanlah suatu masjarakat jang adil dan m akmur;

(15)

K ed u a: bentuklali suatu negara kesatuan berdasarkan faliam unitarisme;

K etiga: anutlah tjara bermusjawarah, dalam satu badan atau sistim mono-kameral.

Amanat penderitaan Rakjat itulah jang mendjiwai Piagam D ja­

karta, jang pada tanggal 22 Djuni 1945 ditandatangani oleli 9 orang, jaitu Soekarno, Mobammad Hatta, A.A. Maramis, Abikusno T jokro- sujoso, Abdulkahar Muzaldr, Agus Salim, Aclim ad Subardjo,

^'ach id Hasjim, dan Muhammad Yamin.

^ Piagam Djakarta ini memuat lengkap amanat penderitaan Rak­

jat jang saja sebutkan tadi, jaitu: satu masjarakat jang adil dan makmur, satu negara kesatuan jang berbentuk republik, satu badan pennusjawaratan perwakilan rakjat.

Piagam Djakarta adalah suatu „d ok u m en liistoris” , ja n g nicm - p e lo p o n dan mempengarulu pem bentukan U ndang-nndang D a sar

■ I .na. *tU nia^a naskah Piagam Djakarta itupun saja sam- paAan nanti dengan resmi kepada sidang Konstituante ini.

undang Dasar ’4 s " ;! ™ s.el*udiutnja mendjiwai Umlang- nesia pada tanggal 17 A gustuT w fs masi K emerdekaan Indo-

Undang-undang Dasar ’45 n„ „

ritaan Rakjat jang saja sebutkan t a ^ Amanat P ^ adil dan makmur, satu ne^an k dl> jaitu: satu masjarakat jang badan permusjawaratan° ne "6!f*Uan JanS berbentuk republik, satu kameral. tWa 1 an ra^jat jang bersifat m o n o -

Amanat penderitaan Rakiat it,

’45 dalam keseluruhannja. I a m<;n(^*wai Undang-undang Dasar meliputi batang-tubuhnja ^ P eiubiikaannja, ia plin

Undang-undang Dasar ’45 adalal 1

deritaan Rakjat dizaman pend' i.* ar llntuk mengachiri pen- raan Rakjat dizaman kemerdelT ^ ^ ^an memu^ai kesedjahte-

Karena itulah maka Undan<M a

artinja dalam sedjarah Bangg^ j* ^ asar ’45 adalah luhur dalam Revolusi Nasional kita ** 011e8*a, a^ung kedudukaniija

(16)

Kenapa ia pernah masuk kotak? A h ja, tidak ada barang sesuatu didunia ini jang kokoli-abadi atau langgeng.

Segala sesuatu didunia ini mengalami pasang naik dan pasan^- surut, mengalami timbul dan tenggelam, mengalami ” up and down” .

Undang-undang Dasar ’45, jang kita luliurkan, kita agungkan, kita hormati, kita taati, kita keramatkan itu, djuga mengalami pasang naik dan pasang surut, mengalami timbul dan tenggelam, meng­

alami up and down.

Setelah berlaku 5 tahun dalam masa Revolusi pliysik, maka kita terpaksa menjimpan sementara Undang-undang Dasar ’45 itu dalam lemari-es.

Memang ada maksud-maksud dan usalia-usaha dari bekas pen- djadjah untuk mentjabut Undang-undang Dasar ’45 jang memang sebcnarnja api mesiu Revolusi Bangsa Indonesia itu dari pandangan mata Rakjat Indonesia, untuk mendinginkan semangat Bangsa Indonesia jang sedang ber-revolusi berdasarkan Kitab Nasional jang

— menurut istilah Mr. Dr. A. M. Tambunan — „magis-sentimenteel- nationaal geladen” itu.

Akan tetapi maksud-maksud dan usalia-usaha bekas pendjadjah jang bertentangan dengan takdir Tuhan dan hiikum alam itu hanja

(|ap a I dipcrlalm ka n schwm 7/2

h uhn sadja. R.I.S. kita kuhur, Undang-undang Dasar R.I.S. kita bongkar kembali.

Maka Undang-undang Dasar ’45 kemudian kita pindahkan ke- dalam sematjam lemari-katja.

Dengan Undang-undang Dasar ’45 dalam lemari-katja itu, benar kita dapat bcrtjerm in kepadanja, jaitu mentjoba mengusahakan ter- tjiptanja masjarakat jang adil dan makmur, m entjoba berkeliidupan dalam suasana negara kesatuan jang berbentuk republik unitaristis, m entjoba sistim bermusjawarah dalam satu dewan perwakilan rakjat jang bersifat mono-kameral, — tetapi kita tidak dapat menangkap-merasa djiwa-raga Undang-undang Dasar ’45 itu kalau kita tidak membebaskannja dulu dari isolasinja.

Tan<r telah kita lakukan selama 10 tahun belakangan ini ter- hadap Undang-undang Dasar ’45 itu ialah tak lain tak bukan hanja m e m u d ja Kitab Nasional kita jang luliur-agung itu, tanpa m enjelam i lm i sehari-hari titali-titah jang disabdakan didalamnja.

Iclj

(17)

A k ib a t daripada itu ialah penjelew engan-penjelew engan dilia m pir semua lapangan. Penjelew engan dilapangan kenegaraan dan kem a- sjarakatan. Penjelew engan dibidang-bidang politik . P enjelew en gan dibidang m iliter. Penjelewengan dibidang sosial-ekonom i. P e n je le ­ wengan, penjelewengan, penjelewengan, — 'hampir 10 taliun bela- kangan in i terus-menerus!

O leh karena itulah maka Pemerintah berpendapat, bahw a sekarang sudah tibalah saatnja, untuk m engem balikan Undang-undang Dasar

’45 pada Singgasananja semula jang A gung dan H istoris R evo- lusioner itu, dan kita selandjutnja hidup benar-benar jnenuriit djiw a, semangat dan ketentuan-ketentuan dalam K itab N asional jan g sutji-m um i itu!

Saudara-saudara sekahan.

T adi saja kemukakan, bahwa setengah orang m enjangsikan apakah Undang-undang Dasar ’45, jang dibuat dalam suasana revolu sion er pada waktu itu, masih dapat dipergunakan sebagai dasar peng- hidupan dan keliidupan sekarang, setelah kita sudah m a d ju 14 tahun lagi. Tidakkah sekarang ini Zaman Pembangunan, tidak lagi Zam an R evolusi Physik?

Undang-undang Dasar ’45 dapat tetap dipergunakan sebagai dasar penghidupan dan keliidupan Bangsa Indonesia, tidak h an ja pada Zam an Physical Revolution, tetapi djuga pada dewasa sekarang ini, pada 10 tahun lagi, pada 20 tahun lagi, pada 30 tahun lagi, ja b , bahkan pada 100 tahun lagi, 200 taliun lagi, m alahan In sja’ A lla h untuk selama-lamanja!

Saja misalnja teringat pada Konstitusi A m erika Serikat, ja n g dibuat dizaman revolusi dan perang-kemerdekaan A m erika h am pir dua abad jang lalu, tetapi toh masih tetap berlaku sampai pada saat ini, sekalipun dengan tambahan-tambahan jan g dilakukan ber-

angsur-angsur untuk memenulii kebutuhan zaman.

Karena itu saja pertjaja, bahwa Undang-undang Dasar ’45 pun akan tetap dapat dipergunakan oleh Bangsa Indonesia dimasa manapun djuga jang akan datang, walaup iin kita m ungkin besok harus m enam bahnja berturut-turut sesuai dengan keperluan kita, jan g dapat dilakukan misalnja dengan m enjam bungnja dengan beberapa „aanhangsel , seperti diusulkan oleh Saudara I.J. Ivasiino.

(18)

Sebab — sekali lagi saja njat akan — jang penting dalam Undang- undang Dasar ’45 bukanlak sekedar Bab-babnja, bukanlah sekedar Pasal-pasalnja, bukanlah sekedar rumusan-rumusannja, bukanlah sekedar kata-katanja, tetapi djiwanja, semangatnja, dan kepribadian Bangsa Indonesia dan Amanat penderitaan Rakjat Indonesia jang mewahjulii Konstitusi Proklamasi kita itu.

Bab-babnja, Pasal-pasalnja, rumusan-rumusannja, kata-katanja, dapat ditambali dimasa jang akan datang. Tetapi djiw anja, sema- ngatnja, dan kepribadian Bangsa Indonesia dan Amanat penderi­

taan Rakjat Indonesia, Insja’AJlah akan telap sama dizaman mana- pun djuga.

Djiwa, semangat, kepribadian Bangsa Indonesia, Amanat pen- deritaan Rakjat itu, perlu dan liarus kita pakai sebagai pedom an, terutama dimasa revolusi psychis dan mental jang masih berkobar sedjak ’45 sampai sekarang, dan kemudian dalam penghidupan dan kehidupan kita dimasa depan.

Karena itu saja jakin, bahwa, dengan berani kem bali ke Undang- undang Dasar 1945, setelah ham pir 10 tahun hidup dibawah

„vigeur” Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia, kita melakukan suatu tindak- an revolusioner 100% , jang dapat kita pertanggung-djawabkan terhadap Bangsa Indonesia dan keturunan kita, dizaman manapun djuga.

Bahkan kita menurut pendapat saja dapat mempertanggung- 'djawabkannja djuga terhadap Tuhan, djika nanti kita diminta pertanggungan-djawab oleliNja, karena — seperti diperingatkan oleh Saudara Achm ad Sjaichu — menurut adjaran Hadits:

„tiap-tiap kamu adalah penggembala, dan tiap-tiap penggem- bala akan ditanja tentang apa jang digembalakan” .

Saudara-saudara sekalian.

Andjuran Pemerintah kepada Konstituante untuk kem bali ke Undang-undang Dasar 1945, jang saja sambut dengan tulus-ichlas- gembira-puas itu, dirumuskan dalam 3 Bab, jaitu :

Pertama — tentang Undang-undang Dosar 1945,

Kcdua. — tentang Prosedur kem bali ke Undang-undang Dasar 1945, dan

15

(19)

K e tig a tentang M asuknja golon ga n fu n g sio n il ketlalam D .P .R .

M arilah kita kupas berturut-turut:

B A B P E R T A M A — T E N T A N G U N D A N G -U N D A N G D A S A R 1945 untuk itu dikem ukakan 10 p o k o k fik ir a n :

P e r t a m a : U N D A N G -U N D A N G D A S A R 1945 M E R U P A K A N ,,D O K U M EN H IS T O R IS ” , A T A S D A S A R M A N A R E V O L U SI D IM U L A I D A N J A N G D A P A T D IP A - K A I U N TU K L A N D A S A N G U N A PEN J E L E S A IA N R E V O L U SI P A D A T IN G IC A T A N S E K A R A N G . P o k o k fikiran itu sudah djelaslah kiran ja dengan u raian saja tadi.

Atas dasar Undang-undang Dasar Proklam asi 17 Agustus 1 9 4 5 kita m ulai R evolusi Nasional kita, physik dan psychis-m ental, dan kita lakukan tindakan-tindakan ke-pahlawan-an berturut-turut sed ja k 10 N opem ber 1945.

Atas dasar Undang-undang Proklam asi 17 Agustus 1 9 4 5 kita m en jon gson g Negara Kesatuan berben tu k R e p u b lik , bersistim m on okam eral dan bertudjuan masjarakat adil-niakm ur, N egara ja n g kem u dian diakui oleh 10 Negara asing berturut-turut pada tahun 194 7 dan 1948.

Atas dasar Undang-undang Proklam asi 17 Agustus 1 9 4 5 kita m em peroleh kekuatan lahir-batin untuk memaksa p e n d ja d ja li-p e n - , d ja d ja h Bangsa dan Tanah-Air Indonesia berkapitulasi berturut- turut pada tahun 1945 dan achir 1949.

T e tc pi setelah kita mengalami pasang-naiknja djiw a-sem angat Unc ang-undang Proklamasi 17 Agustus 1945 itu, kita m en jak sik an pasang-surutnja sem endjak penandatanganan persetu dju an K .M .B . pada acln r 1949 sampai sekarang.

B e n a r r e v o lu s i p h y s ik te r h e n ti d im a sa s e s u d a h a c h ir 1 9 4 9 , d a n p e n e h i u p a n d a n k e h id u p a n d id a la m n e g e r i m e n u d j u k e a r a li u k u r a n -u k u r a n ja n g n o r m a l.

B enar kem erdekaan dan kedaulatan Indonesia diakui berturut- turut oleh leb ih dari 60 Negara pada tahun 194 9 dan 1 9 5 0 dan ach irnja oleh Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 1 951.

(20)

Benar kita dapat mulai membersihkan diri dari sisa-sisa zaman kolonial dan mulai membangun atas dasar-dasar nasional.

Tetapi ichtiar kita untuk mengatur penghidupan dan keliidupan kita senantiasalali mengalami keseretan-keseretan, bahkan achir- acliir ini terantjam djuga dengan kematjetan-kematjetan jan g mem- baliajakan.

Dibidang politik terdjadi pertentangan-pertentangan jang prinsi- piil mengenai ideologi, kebidjaksanaan, kepemimpinan dan sebagai- nja, diantara partai-partai dan pemiinpin-pemimpinnja.

Dibidang militer terdjadi pensalahgunaan kekuasaan, jan g menundjukkan sifat-sifat warlord-ism.

Dibidang sosial-ekonomi terdjadi perebutan rezeki dan kekajaan, dengan tendenz-tendenz menudju ke kapitalisme nasional.

Kita mentjoba menglientikan segala sesuatu itu dengan minta pendapat Rakjat, dengan mengadakan pemililian umum, ja n g mengliasilkan D.P.R. sekarang, guna mengatur penghidupan dan keliidupan kita sehari-hari, dan mengliasilkan Konstituante ini, guna mengatur penghidupan dan keliidupan kita dimasa jang akan datang.

D.P.R. bersidang, bekerdja dan memeras tenaga dan fikirannja Konstituante bersidang, bekerdja dan memeras tenaga dan fikirannja.

Malahan kita mengadakan Musjawarah Nasional, dan Musjawarah Nasional Pembangunan, dan pula konperensi-konperensi m iliter antara staf-pusat dan komandan-komandan territorial.

Akan tetapi, sekalipun demikian:

— Pertentangan-pertentangan politik toll m en djadi-djadi!

— Pemberonlakan bersendjata toll meledak!

— Korupsi toll meradjalela!

Kita bertanja, mengapa kemerosotan, mengapa desintegrasi, mengapa ’ ’ afglijdingsproces” itu berdjalan terus-menerus disemua lapangan, dibidang politik, dibidang militer, dibidang sosial-eko' nomi?

Djawabannja tak lain dan tak bukan ialali: karena kita njele­

weng. Njeleweng disemua lapangan! Njeleweng disemua bidang dari djiwa dan semangat Undang-undang Dasar Proklamasi 17 Agustus

(21)

1945. K ita bersalah m ulai m em andang U ndang-undang D asar 1945 itu sebagai suatu „d o k u m e n ” jan g m em pu n jai arti ’ ’ h istoris” belak a.

Kita bersalah m em perofanasikan Proklam asi K em erd ek a a n In d o n e ­ sia, dengan m em peringatinja tiap-tiap tahun pad a tanggal 17 Agustus setjara adat-kebiasaan atau ” sleur” belaka.

Dalam suasana jang dem ikian, dapatlah d im en gerli m en gapa d i beberapa kalangan, resmi maupun tidak resmi, m iliter m au pu n tidak m iliter, terdengar semula bisikan-bisikan, ja n g lam bat-laun m en - d ja d i suara jan g gemuruh, m em badai laksana taufan, u n tu k m em ekikkan stop kepada pertum buhan N egara dan M asjarakat kita jan g m enudju kedjurang kemusnalian itu, dengan k em b a li k e djiwa-semangat Undang-undang Proklam asi 1945.

Sebab, R evolusi Nasional kita sekarang belu m selesai! B e 1 u m s e l e s a i ,

— kariMia tudjuannja m entjiptakan m asjarakat adil-m akm u r b e lu m tertjapai,

— karena negara unitaristis jang bersistim m ono-kaineral m asih di- antjam oleh bahaja-babaja federalistis jan g m en gh en daki sistim bikam eral,

karena masih ada golongan-golongan didalam dan dilu ar n egeri jan g dengan ambil kesempatan „m n m pu n g” m elantjarkan o fle n - sifnja dibidang-bidang j>olitik, m iliter, ekon om i dan keuangan.

D ari itulah, maka Undang-undang Proklam asi 1945, ja n g kita pakai sebagai dasar mennilai Revolusi Nasional kita 14 tahun ja n g 3alu itu, masih kita perlukan sebagai landasan untuk m en jelesaikan R evolusi Nasional kita pada tingkatan sekarang in i!

Sekarang kita datang pada pokok-pikiran ja n g :

K e d u a : UNDANG-UNDANG D A SA R 1945 A D A L A H T J U K U P DEMOICRATIS DAN SESUAI D E N G A N K E P R IB A - D fA N BANGSA IN D O N E SIA : „K E R A K J A T A N J A N G DIPLMPIN OLEH H IK M A T K E B ID J A K S A N A A N D A ­ LA M P E R M U SJA W A R A TA N P E R W A K IL A N ” (P E M ­ B U K A A N UNDANG-UNDANG D A S A R 1945).

Undang-undang Dasar 1945 tak bisa lain daripada dem ok ratis!

Sebab demokrasi adalah salalisatu sila, salahsatu sendi, salahsatu

(22)

dasar-pokok daripada Negara dan Masjarakat kita, sem endjak P ro- klamasi Kem erdekaan 17 Agustus 1945.

Hal itu dinjatakan baik dalam Piagam Djakarta m aupun dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, jang m em pergunakan per- kataan ,,kerakjatan” .

Akan tetapi kerakjatan jang dimaksudkan disitu adalah lain daripada demokrasi jang kita praktekkan selama ini.

Dalam pidato saja pada waktu melantik Konstituante ini, saja katakan antara lain: djanganlah kita meniru, djanganlah kita m engim port dan m engoper demokrasi-liberal, karena sistim itu tidak tjotjok dengan djiwa, semangat dan kepribadian Bangsa Indonesia, dan tidak tjotjok pula dengan keadaan di Tanah A ir kita.

Jang tjotjok dengan iklim Indonesia — dem ikianlali kukatakan selandjutnja — adalah suatu sistim demokrasi, dimana golongan- golongan jang lemah mendapat perlindungan, dimana golongan- golongan jang kuat dibatasi kekuatannja, dimana dihalangi ter- djadinja exploitasi golongan jang lemah oleh golongan jang kuat.

Itu berarti bahwa demokrasi Indonesia haruslah dem okrasi jang terbim bing atau demokrasi jang terpim pin, ’’ guided dem ocracy” , dus: jang tidak berdiri diatas faliam-faham liberalisme.

Dalam „K onsepsi” saja untuk ,,M enjelamatkan R epublik In d o­

nesia” , jang pada tanggal 21 Pebruari 1957 saja pertim bangkan didepan forum masjarakat Indonesia, kukatakan, bahwa demokrasi jang kita pakai selama ini adalah demokrasi Barat, namakanlah ia demokrasi parlementer.

Karena tidak tjotjok dengan iklim Indonesia, maka terdjadilali exces-exces dalam penjelenggaraan demokrasi Barat itu, seperti misalnja pensalahgunaan makna „opposisi” dibidang politik, pe- langgaran disiplin dan hierarchi dibidang m iliter, korupsi dan lain-lain sebagainja dibidang sosial-ekonomi.

Maka oleh karena itu, untuk m enghindarkan segala kesulitan, baik jang terletak dibidang exekutif, maupun jang terletak dibidang konstitusi, perlulah kita kem bali ke dem okrasi jan g dim aksud dalam Undang-undang Dasar 1945, jang paling sesuai dengan iklim

(23)

In don esia, dan ja n g din am akan „k e ra k ja ta n ja n g d ip im p in o le h h ik m a t k ebidjaksan aan dalam perm u sjaw aratan p e rw a k ila n ” .

A pakah ja n g dim aksud dengan „k e ra k ja ta n ja n g d ip im p in o le h hikm at kebidjaksanaan dalam perm u sjaw aratan p e rw a k ila n ” it u ?

Hal itu saja terangkan sekarang dalam m e m b itja ra k a n p o k o k pikiran ja n g :

K e t i g a : U N D A N G -U N D A N G D A S A R 1945 L E B IH M E N ­ D J A M IN T E R L A IC S A N A N J A P R IN S I P D E M O ­ K R A S I T E R P IM P IN .

D E M O K R A S I T E R P IM P IN I A L A H D E M O K R A S I . Saudara-saudara sekalian.

P em erintah m em berikan definisi m engenai dem ok ra si te r p im p in itu sebagai beriku t:

1. D em okrasi terpim pin ialah dem okrasi, atau — m e n u ru t istila li Undang-undang Dasar 1945 — „k era k ja ta n ja n g d ip im p in o le h hikm at kebidjaksanaan dalam perm usjaw aratan p e r w a k ila n ” . 2. D em okrasi terpim pin bukanlah diktatur, b e rla in a n d en g a n

dem okrasi sentralisme, dan berbed'a pula dengan d e m o k ra si liberal, jan g kita praktekkan selama ini.

3. D em okrasi terpim pin adalah dem okrasi ja n g t jo t jo k den gan kepribadian dan dasar hidup Bangsa Indonesia.

4. D em okrasi terpim pin adalah dem okrasi disegala soal k en ega - raan dan kemasjarakatan, jang m elip u ti b id a n g -b id a n g p o litik , ek on om i dan sosial.

5. In ti daripada pimpinan dalam dem okrasi te rp im p in ada lali perm usjawaratan, tetapi suatu perm usjawaratan ja n g „ d ip im p in o leh hikm at kebidjaksanaan” , bukan oleh „p e rd e b a ta n dan penjiasatan jang diachiri dengan ppngaduan kekuatan dan penghitungan suara pro «lan contra” .

H asil ,,permusjawaratan perwakilan jang dip im p in o leh h ik m a t kebidjaksanaan itu kemudian diserahkan k epa d a seora n g 1 residen, jan g dipilih oleh ^permusjawaratan” itu pu la, guna dilaksanakan. Dalam melaksanakan hasil perm u sjaw aratan tersebut, Presiden inenundjuk tenaga^tenaga ja n g b a ik d a n tjakap sebagai pem bantu-pem bantunja, tetapi P residen tetap

(24)

setjara individiiil (tidak setjara k ollek tif bersama-sama dengan pembantu-pembantunja) bertanggung-djawab kepada m adjelis permusjawaratan perwakilan rakjat itu.

Selandjutnja, dalam mendjalankan seliari-hari lialuan negara (menurut garis-garis besar jang ditetapkan oleh M adjelis P er­

musjawaratan R akjat) Presiden liarus bekerdja bersama dengan Dewan Perwakilan Rakjat, jang dilakukan pula dengan p e r ­ musjawaratan jang dipim pin oleh hikmat kebidjaksanaan” , tidak dengan mengutamakan perdebatan dan penjiasatan jang dapat mengakibatkan pem bubaran Dewan Perwakilan R akjat atau penjeralian-kembali mandat seluruh Kabinet, lial-hal mana tidak dimungkinkan menurut Undang-undang Dasar 1945.

6. Opposisi dalam arti melahirkan pendapat jang seliat dan jang membangun diharuskan dalam alam demokrasi terpim pin; jang penting ialah tjara bermusjawarat dalam permusjawaratan

•perwakilan jang liarus dipim pin dengan hikmat kebidjaksanaan.

7. Demokrasi terpim pin adalah alat, bukan tudjuan.

8. Tudjuan melaksanakan demokrasi terpim pin ialah m entjapai suatu masjarakat jang adil dan makmur, jang penuh dengan kebahagiaan materiil dan spirituil, sesuai dengan tjita-tjita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

9. Sebagai alat, maka demokrasi terpimpin mengenal djuga ke- bebasan berfikir dan berbitjara, tetapi dalam batas-batas ter- tentu, jakni batas keselamatan Negara, batas kepentingan rak­

jat banjak, batas kepribadian bangsa, batas kesusilaan dan batas pertanggungan-djawab kepada Tuhan.

10. Masjarakat adil dan makmur tidak bisa lain daripada suatu masjarakat teratur dan terpimpin, jang terikat pada b a ta s-b a ta s tuntutan keadilan dan kemakmuran, dan jang mengenal eko- nom i terpim pin; dalam melaksanakan pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dalam rangka ekonom i terpim pin masih tersedia sektor-sektor perekonom ian bagi pengusaha partikelir.

11. Untuk menjelenggarakan masjarakat adil dan makmur diperlu- kan suatu pola, jang disiapkan oleh Dewan Perantjang Nasio-

(25)

nal, jang dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 80 tahun 1958, dan untuk menjelenggarakan pola tersebut liarus diper- gunakan demokrasi terpimpin, sehingga dengan demikian de­

mokrasi terpimpin pada hakekatnja adalah demokrasi penje- lenggaraan atau demokrasi karya (w erk-dem ocratie).

12. Konsekwensi daripada pelaksanaan prinsip demokrasi terpim- pm adalah:

(a) penertiban dan pengaturan menurut wadjarnja keliidupan epartaian se agai alat perdjoangan dan pelaksana tjita- jita bangsa Indonesia dalam suatu Undang-undang Kepar- Ne^aU ^ pll!'dj llkai1 temtama kepada keselamatan oleh AT ^ *ndoiiesia’ sebagaimana diputuskan

pada bulan September .alum adanja sinlm m uM r,!"? dem‘ kian itu ',aPat ditjegah pula punjai pengaruh tidak J.’ I ™ " ^ hakeka,ni a m em ‘ di Negara kita; terhadap stabililct politik

kekuatan p o t e n l r f a s i o n a w " l u n ^ i o n i l ’ j aitu k ek u a ta n - tumbuh dan ber-erak t* “ J. masj arakat kita’ i ang dalam perwakilan "una8^ ^ . mamis’ setjara effektif dan stabilitet politik 6 antjaran roc^a pemerintalian (c) keharusan adanja sistim '

dari Pemerintah, ‘,aUg meilfl j aniin honlinuitet programnja, jang Seh **Sgup bekerdja melaksanakan bangnnan 6emesta. ° ^ dalam pola pem- Saudara-saudara BckalUm.

Menurut hemat saja definisi Pe .

terpimpin ini tidak perlu dipernandi ' “ l*1’ m c»genai demokrasi di eIas- )an& la sudal, terang. la sudah

Definisi itu mendjadi lebih djelas i

rangka uraian saja jang terdahulu <ljika ditindjau dalam Karena itu ,aja hendak mengalihkan pemK-.-

fikiran jang: Pen>l>Ujaraan kepada pokok-

(26)

I C e e m p a t : UNDANG-UNDANG DASAR 1945 M ENDJAM IN PEM ERINTAH JANG STABIL SELAM A 5 T A H U N (PASAL 7) — LEBIH D A R I UNDANG-UNDANG DASAR SEMENTARA SEKARANG — OLEH K A ­ REN A KEKUASAAN DEW AN P E R W A K IL A N R A K JA T DIBATASI (T ID A K D A P A T MENDJA- TUHIvAN PEM ERINTAH I.C. PRESID EN ), BER- HUBUNG KEKUASAAN TERTIN G G I (JA ITU ICEDAULATAN R A K JA T ) A D A D ITA N G A N MADJELIS PERM USJAW ARATAN RAK JAT.

Saudara-saudara sekalian.

Dari uraian saja jang terdaliulu dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam alam demokrasi terpimpin tidaklah sewadjarnja apabila ada suatu opposisi, dalam arti golongan jang senantiasa dan dalam segala lial liantam-kromo menentang sadja Pemerintah, baik setjara parlementer maupun setjara extra-parlementer.

Garis-^aris besar daripada haluan Negara ditetapkan oleh M adje­

lis Permusjawaratan Rakjat. Madjelis inilah jang „tjakrawarti”

Madjelis inilah jang melakukan kekuasaan tertinggi, jaitu kedau- latan, jang ada ditangan Rakjat.

P e n e ta p a n itu liarus d ila k u k a n den gan m u sja w a ra li o le h p e r ­ w a k ila n R a k ja t, ja n g d ip im p in o le h h ik m a t k e b id ja k sa n a a n ta n p a g a n g g u a n o p p o s is i a la d em ok ra si lib e ra l, te ta p i d en g a n o p p o s is i a la demokrasi terpimpin.

Setelah Madjelis P erm u sja w a ra ta n Rakjat dengan suara bulat,

« a „ setidak-tidafcnja dengan suara terbanjak, menetapkan garis-

„ aris besar daripada haluan Negara itu, maka d.p.hhlah olehnja L n ra u - Preside.! dan seorang Wakil Preside., untnk 5 tahun, untuk menjelenggarakan haluan Negara tersebut.

Sehm a .nasa djabatannja itu, Presiden dan W akil Presiden me-

‘ kekuasaan membentuk Undang-undang atau legislatif , “ „ r.,,,tu diu a n Dewan Perwak.lan Rakjat, dan memegang denga p intahan atau eksekutif dengan bantuan Menteri- kekuasaan p dj awab kepada Presiden, jang meng- nienteri, jang b erta n ^ e j

angkat dan memberhentikannja.

(27)

1’ reaiAen Aan ^a\d\ Pre»\A«v Yjeitai^gvmg-Clja'WaY) V.epa&a Mod je­

lls Permusjawaratan Rakjat, jang memilihnja.

Oleh karena itu maka Presiden dan W akil Presiden tidak dapat diganggu-gugat oleh Dewan Perwakilan Rakjat.

Sebaliknja Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat meinbubar- kan Dewan Perwakilan Rakjat, fang merupakan bagian d a r i p a d a

MadjeJis Permusjawaratan Rakjat, jang m em ilih Kepala dan W akil Kepala Negara.

D en gan demikian maka terdjaminlah suatu P e m e r in t a h jang stabil selama 5 tahun, dan dikurangilah krisis-krisis IC a b in et dan jpergantian-^ergantian Pemerintah, jang senantiasa diikuti oleh kegont jangan-kegont jangan didalam negeri dengan r e fle k s i-r e fle k s i-

nja diluar negeri.

ICestabilan Pemerintah itu tidak berarti, bahwa tidak dapat ter- djadi pergeseran seseorang atau beberapa orang M e n te r i sela in a 5 tahun itu.

Tetapi pergantian Kabmet qua Kabinet menurut U n d a n g - u n d a n g

Dasar 1945 hanja dapat terdjadi satu kali dalam djangka waktu

5 tahun. J °

Selain itu maka Preside.! djuga lebih bebas dalam p e n g a n g k a ta n M enteri-m entcn dalam sistim Undang-undang Dasar 1945 itu dari­

pada dalam stst.m Undang-undang Dasar Sementara sekarang, karena pengaruh parta.-partai nanti mendapat im bangan dari golongan- g „ longan fungsmm l, tentang hal mana akan d ib eri p en d jelasa n dalam membrtjarakan pokok likiran jang b eriku tn ja, ja itu ja n g : R e l i m a : UNSUR GOLONGAN FUNGSIONIL D A P A T W -

MASUKK.A1N DALAM :

b (PASAL 19

c. 16

(P A S A L 2 ,™ En M U S J A W A R A T A-N R A K J A T D IM A N A J ^ - U N D A N G D A S A R 1 9 4 5 ) , A N D A R I D IS E B U T U T U S A N -U T U S -

a n2 (lA iT T i ^ a h'd a e r a h D A N g o l o n g- (JAITU GOLONGAN FUNGSIONIL).

(28)

Saudara-saudara sekalian.

Sebagaimana kita dulu mengenal adanja kasta ketiga di Perantjis, ataupun adanja proletariat misalnja di Russia, maka kita disamping unsur kepartaian liarus mengakui pula adanja golongan fungsionil di Indonesia sebagai alat demokrasi, jang timbul sebagai potensi- potensi nasional dalam masjarakat dan jang terdjadi dengan meng- adakan penggolongan warganegara menurut tugas pekerdjaannja dilapangan produksi- dan djasa dalam melaksanakan pembangunan masjarakat adil dan makmur, sesuai dengan tjita-tjita Bangsa dan Proklamasi Kemerdekaan kita.

Kedudukan golongan fungsionil di Tanah A ir kita telali mendapat pengakuan jang sail oleli Penierintali bersama-sama Dewan Perwa- kilan Rakjat, dengan ditetapkannja Undang-undang No. 80 tahun 1958 tentang Dewan Perantjang Nasional.

Berhubung dengan hal-hal jang dikemukakan tadi, maka adalah sewadjarnja "apabila wakil-wakil dari golongan-golongan fungsionil itu bersama-sama dengan wakil-wakil dari partai-partai dimasukkan dalam M adjelis Permusjawaratan Rakjat, dalam Dewan Pertim- bangan Agung dan dalam Dewan 1 erwakilan Rakjat.

Sekalipun istilah „golongan-golongan fungsionil” itu tidak pernah terdengar pada tahun 1945, maka perkataan „golongan dalam pasal 2 ajat (1) Undang-undang Dasar 1945 mengenai susunan Madjelis Permusjawaratan Rakjat meliputilah djuga „golongan-golongan fungsionil” jang kita akui sekarang dengan resmi.

H al itu d a p a t d ib u k tik a n dengan kata-kata serik at sekerdja d a n la in -la in badan k o l l e k t i f ’, ja n g terdapat: d a la m P e n d je la s a n atas pasal 2 a ja t (1) U n d a n g -u n d a n g Dasar 194 tersebut, ja n g m e n u , d ju k k a n bahwa golongan-golongan fungsionil (misalnja tani, b u ru h ,

! , , • • \ rlqnat ikut-serta dalam pemenntahan pemuda, dan sebagainja) clapax . / . . .

St dengan melalui orgamsasi-orgamsasinja

Negara setiara teratur .

(jaitu seri'kat-serikat ta n i, serik a t-se n k a t buruh, seokat-senkat pemuda, dau laiu-iain serikat sekerdja), jang kesemuanja merupa- kan pula badan-badan kollektif.

Dus, tida k k a h b e n a r , S a u d a r a -sa u d a r a , kalau saja b e r k a t a : k m , sudah djelaslah, bahwa:

(29)

__ dem okrasi terpim pin adalah d em okrasi;

__ golongan fungsionil adalah golongan?

Dan. sekalipun dalam pasal 16 dan pasal 19 U n dan g-u n dan g D asar 1945 tidak ditentukan bahwa wakil-wakil dari g o l o n g a n - g o l o n g a n

atau golongan-golongan fungsionil harus dim asukkan d ju ga dalam Dewan Pertimbangan Agvrng dan Dewan P erw a k ila n R a k ja t, h al itu tidak berarti bahwa Undang-undang D asar 1945 rnelarang pemasukan 'wakil-wakil dari golongan-golongan term ak su d dalam kedua Dewan tersebut. Tentang hal ini, kita bebas m en gatu r s u s u n a n kedua Dewan itu.

M alahan adalah sewadjarnja, lebih logis, le b ih rasion il, le b ih

„ harus” , apabila wakil-wakil dari golongan-golongan fu n g sio n il itu dimasukkan dalam semua badan, dimana djuga terdapat w a k i l - w a k i l dari partai-partai, karena kedua unsur itu, partai dan g o l o n g a n fungsionil, adalah alat-alat demokrasi.

Pem erintah memandang tidak perlu m engadakan suatu U ndang- undang tersendiri mengenai golongan fungsionil itu. H a l itu d a p a t diatur setjukupnja dalam Undang-undang K epartaian d a n U n dan g- undang untuk menjempurnakan Undang-undang N o. 7 ta h u n 1953 (Undang-undang Pemilihan Umum), jang k in i sedang d i r a n t j a n g k a n oleh dua Panitia ad hoc Kabinet, ja n g telali d ib e n tu k o le h Pemerintah.

Undang-undang Kepartaian jang saja sebutkan ta d i b e r m a k s u d mengadakan penjederhanaan dalam sistim kepartaian, bu ka n untu m em bubarkan partai-partai.

Undang-undang jang lainnja jang saja m a k s u d k a n ta d i b e r m a k s u d menjesuaikan Undang-undang No. 7 tahun 1953 (U n d a n g - u n d a n g Pem ilihan Umum) dengan keadaan sekarang, dan dalam pada itu melaksanakan sekaligus pemasukan ™ ,kil-w akil golongan fu n g sio n i d a la m Dewan P«*.rwaVV\a™ Rakjat jang akan datang.

A dapun pemasukan wakil-wakil golongan fu n gsionil dalam M a- djelis Permusjawaratan Rakjat dan Dewan P e r t im b a n g a n A g u n g dapat diatur besok dalam Undang-undang tentang susunan k ed u a Badan tersebut, jang harus dibuat berdasarkan pasal 2 dan pasal 16 Undang-undang Dasar 1945.

(30)

Saudara-saudara sekalian.

P ok ok fikiran jang berikutnja adalah jang:

K e e n a m : P A R A L E L DENGAN D EM OKRASI T E R P IM P IN , M A K A KEBIDJAKSANAAN EKONOM I T E R P IM ­ PIN DIDASARK AN PASAL 33, A SAL TJU KU P DIDJELASKAN N ANTI OLEH PERUMUSAN-PE- RUMUSAN DEW AN PE RAN TJAN G N ASIONAL.

Bagaimana bunji pasal 33 itu?

Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 berbunji sebagai berikut:

A j a t ( 1 ) : „Perekonom ian disusun sebagai usaha bersama ber- dasar atas azas kekeluargaan” .

A j a t (2) : „Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi Ne­

gara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oleh Negara” .

A j a t (3 ) : „B um i dan air dan kekajaan alam jang terkandung didalam nja dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar- besar kemakmuran rakjat” .

Saudara-saudara! Sebelum saja menguraikan lebih landjut hal ekonom i terpim pin berdasarkan pasal 33 itu, maka lebih dulu saja ingin inengemukakan hal jang berikut: Saja teringat pada Maklu- m at P olitik Pemerintah Republik Indonesia tertanggal 1 Nopem ber 1945, jang antara lain mengatakan, bahwa „segala m ilik bangsa asing, selain dari pada jang diperlukan oleh Negara kita untuk diusahakan oleh Negara sendiri, dikembalikan kepada jang berhak, serta jang diam bil oleh Negara akan dibajar kerugmnnja dengan seadil-adilnja” .

Dengan adanja pengambilan alih perusahaan-perusahaan Belanda baru-baru ini, jang kemudian disusul dengan tuisionalisasi per- usahaan-perusahaan tersebut, ternjatalah bahwa dalam beberapa hal kita tidak sudi lagi kepada Maklumat Politik tersebut.

Adapun m e n g e n a i m ilik ora n g asing lainnja (ja itu n on -B ela n d a '*, m a k a k e b id ja k s a n a a n P e m e rin ta h liarus d ila ksa n a k a n d a la m ra n g k a ja n g luas (d e n g a n m e n g in g a t soal-soal p o litik , e k o n o m i d a n seba- gainja).

(31)

Sekarang lial ekonomi terpimpin berdasarkan pasal 33:

Perumusan pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 itu telah kita oper dalam keseluruhannja pada waktu menjusun pasal 38 Undang- undang Dasar Sementara 1950, jang berlaku sampai sekarang.

Tetapi kita harus mengakui setjara djantan, bahwa dari keteu- tuan-ketentuan dalam pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 atau pasal 38 Undang-undang Dasar Sementara itu sa m p a i sekarang belum banjak jang direalisir.

Baru pada achir 1957 Pemerintah mulai mengambil tindakan- tindakan terhadap perusahaan-perusahaan jang vital, sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam kedua pasal tersebut.

Dan baru baru-baru inilali Pemerintah m enjelcsaikan 3 Ran- tjangan Undang-undang, jaitu tentang Agraria, tentang P c r ta m b a n g - an, dan tentang Minjak.

Dan Alhamdulillah Pemerintah telah mulai pula inengam bil tindakan-tindakan pokok, diantaranja ialah mengenai pengusahaan tambang minjak Snmatera Utara, jang dipertjajakan kepada

„Perusahaan Mmjak Nasional” atau „Permina” , dan mengenai pengawasan produksi serta distribusi minjak didalam Negeri, jang

M in ja k B u „ u ” P 1 P e ,' ia lu r J'en g u sa h a a n

, MT « ' ! l , kUa ,ST nPal “ ^Mang banjak merealisir keten- tuan-ketentuan dalam pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, ata«

pasal 38 Undang-undanc Das-ir ^ ° .

Karena - seperti kukatAan , i tu?

pelantikan Konstituante pada tan “ ” 1 ? ^ ‘l!>lam

m em praktekkan di Negeri kit g§ N opem b er 1956 — kita m eliputi didalamnja prinsin ^em okrasi lib era l, j an»

faham-faham „free enterprise” ,, ° n° mi libera1. jang berintikan body” , — kebebasan bertindak X opportunity f o r . every-

sem ua orang. au *esem patan ja n g sama bag1

K ini kita merasakan akibat-akibat 1 1 pelaksanaan prinsip ekonomi libe - 1 ^ses-ekses ^ari p Indonesia, — Indonesia, j an<r d i a T k ^ N e g a r a d a n M a s j a r a k a t

keadaan, dalam sifat, dalam tab’1 etljeda dengan Eropa dalam

lainnja. lat’ ^ dalam rupa-rupa l13

(32)

Keadaan ekonomi Negara merosot, keadaan keuangan Negara merosot, keadaan sosial Masjarakat merosot, — disemua lapangan kita merosot, d a n ... merosot terus-menerus!

Tidakkah tiba waktunja sekarang untuk bertindak menghentikan kemerosotan integral itu, menjetop ’ ’afglijdingsproces” dalam Negara kita, menjetop „pauperiseringsproces” dalam Masjarakat kita itu?

Sekali lagi saja mengadjak:

— Marilali kenibali ke Undang-undang Dasar 19451

— Marilali membuang prinsip demokrasi liberal dan ekonomi lib era l!

— Marilali memakai prinsip demokrasi terpimpin dan ekonomi terpim pin !

— Marilali kita segera menjetudjui prinsip demokrasi terpimpin dan ekonom i terpimpin itu dimedja-musjawarali in i!

__ Marilali kita kemudian segera melaksanakan prinsip demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin itu dimedja-karya dan medan- karva jang sudali menanti!

Dewan Perantjang Nasional, jang liarus dibentuk berdasarkan U n dan -u n dan g No. SO tahun 1958, tidak lama lagi Insja Allah akan mulai bersidang, dan mulai menjusun blue-print pembangunan semesta, pola pembangunan semesta.

Marilali kita segera dapat menetapkan pola pembangunan semesta itu serta melaksanakannja, 'berpedoman pada pasal 33 Undang.

i.ndan" Dasar 1945, untuk kepentingan dan keselamatan Negara dan Masjarakat Indonesia. Untuk memenuhi harapan Rakjat - untuk meincnulii „an,anat penderitaan Rakjat” ! Untuk me.nenul., Dharma RevoUisi!

Djagalah, djangan sampai Negara dan Rakjat menunggu-nunggu , , , „ TCoki'it nanti terpaksa bertindak sendin, terlalu lama, sehmgga Kakjat nan 1 . .

. ia permulaan Revolusi Nasional kita.

sebagaimana kita saksikan paaa pun

D fan-anlah membuang-buang waktu untuk merundmgkan mat a n w n a tja m usul u n tu k merobah pasal im atau pasal , t „ me-

" mbah ajat ini atau ajat itu, menjempurnakan bab „ u atau bab « u d ” naskah U n d a n g -u n d a n g Dasar 1945, berdasarkan pertnnbangan- pertimbangan apapun, - pertimbangan ,deolog,skal„ b.stonskah,

(33)

atau rupa-rupa ” is” jang lain-lainkali. Djangan membuang-buang waktu, sebab matjam-matjam hal itu bisa kita tunda. Seba'b —

seperti dikemukakan dalam pokok-fikiran jang:

K e t u d j u h : SISTIM M EROBAH DAN MENJEMPURNAICAN UNDANG-UNDANG DASAR D A L A M UNDANG- UNDANG DASAR 1945 LEBIH F L E X IB L E D A N D A P A T DILAKU KAN SETIAP W A K T U A M A T T E R A SA KEPERLU ANN JA OLEH M ADJELIS PERM U SJAW ARATAN R A K J A T D E N G A N SUA- R A 2/3.

Memang, pasal 37 Undang-undang Dasar 1945 menentukan:

pada ajat (1) : ,,Untuk mengubah Undang-undang Dasar sekurang- kurangnja 2J3 daripada djum lah Anggota M adjelis Permusjawaratan Rakjat harus hadlir” .

pada ajat (2) : „Putusan diambil dengan persetudjuan sekurang- kurangnja 2J3 daripada djum lah Anggota jang hadlir” .

Hal-hal berkenaan dengan perobahan, penambahan dan penjem - purnaan U ndang-undang Dasar 1945 itu dapat kita b itjarak an nanti djika terasa perlu dalam Madjelis Permusjawaratan R akjat, jang m enurut pasal 2 ajat (1) U ndang-undang Dasat' 1945 liarus d iben tu k

dengan undang-undang.

Sekali lagi. D janganlah hendaknja menghabiskan waktu, tenaga, an i iran, untuk berunding berlarut-larut mengenai naskah Un an,., undang Dasar 1945 jang saja sampaikan dengan resmi 'epa a onstituante ini! Hendaknja diterimalah baik apa jang diandjurkan dalam pokok-fikiran jang:

K e d e l a p a n : UNDANG-UNDANG DASAR 1945 IN I D IP E R - TAH AN K AN SEBAGAI KESELURUHAN.

Dalam uraian saja jang terdaliulu sudalilah dikemukakan, bahwa Undang-undang Dasar ’45 itu, disamping perlunja dipakainja lagi sebagai Konstitusi kita, kita pandang djuga sebagai „dokum en his­

toris” .

D jika kita memandangnja sebagai „dokum en historis” , maka kita harus mempertahankan Undang-undang Dasar ’45 itu dalam ke-

(34)

seluruhannja, ja itu dengan lengkap P em bu k aa n n ja, len g k a p 37 pasalnja, lengkap Aturan-aturan P eralih an n ja dan lengkap A tu ra n - aturan Tam baliannja.

Sebab kalau kita nierobalx, menambah, atau m enjem purnakan satu perkataan sadja pun daripadanja, maka lenjaplah sifat ke- asliannja atau kesedjarahannja, lenjap orisinilnja atau historisnja, dan ia lantas mendjelma m endjadi Undang-undang Dasar baru, namakanlah misalnja Undang-undang Dasar 1959.

Benar beberapa ketentuan dalam Undang-undang Dasar ’45 tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang, diantaranja dalam Aturan- aturan Peralihan dan Aturan-aturan Tambahan jang misalnja memuat perkataan-perkataan seperti „peperangan Asia Tim ur Raya” , „Panitia Persiapan Kemerdekaan” atau „K om ite Nasional” ,

— benar demikian, tetapi djika kita umpamanja m enjetudjui di- adakannja penjesuaian dengan keadaan sekarang daripada keten- - tuan-ketentuan dalam Aturan-aturan Peralihan dan Aturan-aturan

Tambahan itu, maka kita setjara konsekwen liarus djuga m enje­

tudjui diadakannja perobahan, penambahan atau penjempurnaan terhadap pasal-pasal lain.

Dengan demikian maka seperti kukatakan tadi, pembitjaraan mengenai adjakan „kem bali ke Undang-undang Dasar ’45 itu akan bcrlarut-Jarut dan inemakan waktu, tenaga dan fikiran jang banjak dan berharga.

Berhubung dengan itu maka saja mengandjurkan kepada K on ­ stituante ini:

Terimalah Undang-undang Dasar ’45 itu dalam keseluruhannja, tangguhkanlali usaha-usaha untuk menjempurnakannja.

Saudara-saudara sekalian.

P em erintah selandjutnja mengem ukakan dalam p ok ok -fik iran ja n g :

K e s e m b i l a n : UNTUK M ENDEKATI H A SR A T GOLOlNG- AN-GOLONGAN ISLAM, BERHUBUNG D E­

NGAN PENJ ELESAIAN DAN PEM ELIH A- R AAN KEAM ANAN, D IAK U I A D A N JA

„PIA G A M D JA K A R T A ” TE R T A N G G A L 22 DJUNI 1945, JANG DITAN D A T AN GANT

(35)

O LE H SOEICARNO, M O H A M M A D II A T T A , A. A . M A RAM IS, A B IK U S N O T JO K R O S U - JOSO, A. K. M U Z A K IR , A G U S SA L IM , A C H - M AD SU BARDJO, W A H ID H A S JIM D A N M U H AM M AD Y A M IN .

Sebagaimana telah saja tegaskan berkali-kali dalam pida to-pidato saja, misalnja dalam memperingati ulang tahun Proklam asi Ivemer- dekaan Indonesia tiap-tiap tahun, maka gangguan-gangguan ke- amanan harus dipandang sebagai perbuatan-perbuatan contra- revolusioner, dan merupakan penjelew engan dari djiw a dan semangat Revolusi Nasional kita, jan g m eledak pada tanggal 17 Agustus 1945 berdasarkan Undang-undang Dasar P roklam asi 1945. Dan demikianpun penjelew engan-penjelew engan dibidan g- bidang politik, m iliter dan sosial-ekonomi.

Untuk usaha pemulihan dan pem eliharaan keam anan itu, sedjak acliir 1949 kita sudah banjak m engeralikan potensi nasional kita, baik jan g berw udjud tenaga dan fikiran, m aupun jan g b e rw u d ju d perbelandjaan, termasuk peralatan.

Kita semua menginsjafi betapa pentingnja pem ulihan dan pem e- araan keamanan itu untuk usaha-usalia pem bangunan rlisegala apane an. Tanpa keamanan, pem bangunan ta’ m u n gkin b erd ja la n .

Maka untuk penjelesaian masalah keam anan itu harus diusalia- kan persatupaduan sebesar-besarnja daripada seluruh poten si nasio- na kita, seperti djuga untuk m enorm alisir keadaan d ib ida n g- idang politik, m iliter dan sosial-ekonom i. D an untuk m em u lih k a n Set,V?ak ^ daknj a memperbesar — potensi nasional kita itu liarus- a i iichtiarkan persatuan jang sebesar-besarnja antara sem ua

^o on«.an dalam masjarakat Indonesia, term asuk um m at Islam , ja n g m erupakan golongan jang terbesar dalam m asjarakat kita.

H al ini dapatlah tertjapai, Insja A llah , dengan k e m b a li k e Undang-undang Dasar 45. Dan m enurut hem at saja, djala n itu dapat disetudjui oleh ummat Islam dengan diak u in ja setjara ich las akan adanja Piagam D jakarta tertanggal 22 D ju n i 1945, ja n g m en- dahului Undang-undang Proklam asi 17 Agustus 1945.

Pengakuan itu djelas tidak bersifat insidentil. W alau p u n P iagam D jakarta tidak m erupakan bagian daripada U ndang-undang D asar

%

(36)

’45. diantaranja m enilik tanggalnja 22 D juni 1945 dan bukan 17 Agustus, tetapi naskali itu sebagai dokum en liistoris besar artinja bagi perdjoangan Bangsa Indonesia, dan sebagai bahan untuk m enjusun Pem bukaan Undaiig-undang Dasar ’45, jang m en djadi bagian daripada Konstitusi Proklamasi.

Pengakuan adanja Piagam Djakarta sebagai dokum en historis berarti pula pengakuan akan pengaruhnja terliadap Undang-undang Dasar ’45, tidak lianja mengenai Pembukaannja, tetapi djuga m engcnai pasal 29 Undang-undang Dasar ’45, pasal mana liarus m endjadi dasar bagi keliidupan liukum dibidang keagamaan.

Dengan pengakuan adanja Piagam Djakarta dalam rangka kem- bali ke Undang-undang Dasar ’45 itu diharapkan dapat dipulihkan

— setidak-tidaknja diperkuat — potensi nasional kita, guna m enje- lesaikan masalah keamanan dan melaksanakan pembangunan se- mesta setjara jang lebih lantjar dimasa jang akan datang.

Saudara-saudara sekalian.

Kita sekarang m enindjau apa jang dikemukakan dalam pokok- fikiran jan g:

K e s e p u l u h : P E R O B A H A N , TA M B A H A N D A N PENJEM- PU R N A A N UNDANG-UNDANG D A SA R 1945 D A P A T D ILA K SA N A K A N DENGAN M ELALU I D JA LA N PASAL 37 UNDANG-UNDANG D A ­ SA R 1945, JAITU OLEH M ADJELIS P E R ­ M U SJA W A R A TA N R A K JA T. SE BAIK N JA H A L IN I B ARU D ILA K U K A N SETELAH BE- B E R A P A TAH U N BE R LA K U D AN SETELAH TE R T JA P A IN JA STABILISASI D IL A P A N G A N P O L IT IK DAN EKON OM I!

Tadi saja m engandjurkan: Terimalali sekarang Undang-undang Dasar ’45 dulu dalam keseluruliaimja, tanpa perobahan, tanpa tambahan atau penjempurnaan.

Perobahan, tambahan dan penjempurnaan itu dapat diadakan besok djika terasa perlu, dan djika Madjelis Permusjawaratan Rakjat sudah terbentuk.

Referensi

Dokumen terkait

Pelatih yang disediakan oleh pihak manajemen perusahaan harus pelatih yang memiliki kompetensi diatas rata- rata pesertanya (karyawan). Karena jika kemampuan pelatih itu dirasa

RS Harapan Jayakarta adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan kesehatan yang sedang bertumbuh dalam situasi persaingan global

Berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi menunjukkan bahwa ketiga variabel dependen yaitu Produk ( X1), Promosi ( X2),, Harga ( X3), dan Tempat ( X4)

Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan R guru BK di SMA Negeri 1 Samarinda pada tanggal 16 November 2013, di SMA Negeri 1 Samarinda

Seora Seorang pasie ng pasien mengeluh n mengeluhkan rus kan rusaknya pada pe aknya pada permukaa rmukaan gigi pas n gigi pasien, pas ien, pasien ter ien tersebut sebut mengaku

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Optimasi Formula

Hasil perhitungan diatas didapat nilai F hitung sebesar 13,705 dengan tingkat signifikansi 0 atau kecil dari 0,05 (0 &lt; 0,05) menunjukan bahwa model regresi dapat

Sebelum dilakukan penetapan kebijakan penanggulangan rob, kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang dijadikan sasaran program disosialisasikan terlebih dahulu mengenai