• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PROGRAM VISITING TEACHER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI WILAYAH PERBATASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI PROGRAM VISITING TEACHER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI WILAYAH PERBATASAN"

Copied!
200
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI PROGRAM VISITING TEACHER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI WILAYAH PERBATASAN

TESIS

Diajukan kepada Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Magister Pendidikan

Oleh :

MIFTAHUL ABSHOR 21180181000007

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2021/1442

(2)
(3)

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Miftahul Abshor, S.Pd.I

Tempat/Tanggal Lahir : Dili, 22 Juli 1993

NIM : 21180181000007

Prodi : Magister Manajemen Pendidikan Islam Judul Tesis : Evaluasi Program Visiting Teacher PAI

di Wilayah Perbatasan

Mahasiswa tersebut sudah selesai masa bimbingan tesis dan disetujui untuk pendaftaran ujian tesis

Jakarta, 5 Desember 2020 Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A NIP 195710051987031003

(4)

LEMBAR PENGESAHAN SEMINAR HASIL TESIS

Tesis dengan judul “Evaluasi Program Visiting Teacher Pendidikan Agama Islam di Wilayah Perbatasan“ yang ditulis oleh Miftahul Abshor dengan NIM 21180181000007, telah diujikan dalam Seminar Hasil Program Magister Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 10 Desember 2020. Tesis ini telah diperbaiki sesuai saran-saran dari penguji sebagai salah satu syarat mengikuti Ujian Promosi Tesis.

Jakarta, 30 Desember 2020

Tanggal Tanda Tangan

Penguji I

Dr. Maftuhah, M.A.

NIP. 197211182005012001 30 Desember 2020

Penguji II

Dr. Zahruddin, Lc., M.Pd.

NIP. 197306022005011002 30 Desember 2020

(5)

LEMBAR PENGESAHAN TESIS

Tesis dengan judul “Evaluasi Program Visiting Teacher Pendidikan Agama Islam di Wilayah Perbatasan“ yang ditulis oleh Miftahul Abshor dengan NIM 21180181000007, telah diujikan dalam Sidang Promosi Tesis oleh Magister Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 7 Januari 2021. Tesis ini telah diperbaiki sesuai saran-saran dari penguji sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) pada program Magister (S2) Manajemen Pendidikan Islam.

Jakarta, 7 Januari 2021

Tanggal Tanda Tangan

Wadek 1/Ketua Program Studi

Dr. Kadir, M.Pd 10 Januari 2021

NIP. 196708121994021001

Penguji 1

Dr. Maftuhah, M.A. 25 Januari 2021 NIP. 197211182005012001

Penguji 2

Dr. Zahruddin, Lc., M.Pd. 25 Januarai 2021 NIP. 197306022005011002

Pembimbing

Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A 26 Januari 2021 NIP. 19571005197031005

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. Sururin, M.Ag NIP. 197103191998032001

(6)

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam tesis ini berpedoman pada buku

“Pedoman Penullisan Kaya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)” yang diterbitkan oleh Tim CeQDA (Center For Quality Development dan Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

A. Konsonan

ARAB NAMA LATIN KETERANGAN

ا

Alif - Tidak dilambangkan

ب

Ba’ B Be

ت

Ta’ T Te

ث

Tsa’ Ts Te dan es

ج

Jim J Je

ح

Ḥa’ Ha dengan titik di bawah

خ

Kha’ Kh Ka dan Ha

د

Dal D De

ذ

Dzal Dz De dan zet

ر

Ra’ R Er

ز

Zai Z Zet

س

Sin S Es

ش

Syin Sy Es dan ye

ص

Ṣad Es dengan titik di bawah

ض

Ḍad De dengan titik di bawah

ط

Ṭa Te dengan titik di bawah

ظ

Ẓa Zet dengan titik di bawah

ع

‘Ain Koma terbalik

غ

Ghain Gh Ge dan ha

ف

Fa F Fa

ق

Qaf Q Qi

ك

Kaf K Ka

(7)

ل

Lam L El

م

Mim M Em

ن

Nun N En

و

Wau W We

ه

Ha’ H Ha

ء

Hamzah Apstrof

ي

Ya’ Y Ye

B. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, terdiri dari vokal tunggal, vocal rangkap, dan vocal panjang. Ketiganya adalah sebagai berikut:

1. Vokal Tunggal

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ا

Fatḥaḥ A A

ا

Kasraḥ I I

ا

Ḍammaḥ U U

Contoh:

رصن

: Naṣaara dan

بتك

: Kataba

2. Vokal rangkap

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ى

ي

Fatḥaḥ dan Ya’sakun Ai A dan I

ى

و

Fatḥaḥ dan Wau sakun Au A dan U

Contoh:

لي

س

: Laisa

لوح

: ḥaula

3. Vokal panjang

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ب

ا

Fatḥaḥ dan Ba Ā A dengan garis di atas

ي ب

Kasrih dan Ba Ī I dengan garis di atas

ب

و

Ḍammah dan Ba Ȗ U dengan garis di atas

(8)

ABSTRAK

Miftahul Abshor NIM 21180181000007: “Evaluasi Program Visiting Teacher PAI di Wilayah Perbatasan” Tesis Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program visiting teacher PAI di wilayah perbatasan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI pada beberapa aktifitas yang belum optimal. Program ini merupakan salah satu kegiatan yang fokus pada upaya pemerataan peningkatan kompetensi guru agama Islam di daerah 3T. Program tersebut merupakan program tahunan yang diselenggarakan di berbagai Kabupaten/Kota yang berbeda untuk pemerataan kompetensi guru.

Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sumber bahan yang digunakan dalam penelitian ini melalui pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.

Penyajian data melalui model taksonomi untuk memberikan gambaran hasil analisis yang komprehensif sehingga penjabaran makna dapat terbentuk. Analisis data terbagi menjadi empat kategori dengan menggunakan model context, input, process, product (CIPP) sehingga proses pelaksanaan program dideskripsikan secara detail. Pengecekan keabsahan data dengan tringulasi sumber dan teknik yaitu jumlah tempat penelitian program yang berjumlah tiga, pelaksanaan visiting teacher di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara sebagai tempat penelitian utama, Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat dan Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai penguat data temuan.

Hasil temuan penelitian dijabarkan melalui model CIPP. Pada aspek context adanya kesesuaian antara rumusan tujuan dan kebutuhan lokal di wilayah sasaran.

Kemudian aspek input, program visiting teacher memiliki tenaga pelatih yang mumpuni, materi pelatihan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, metode pelatihan sesuai dengan materi ajar, fasilitas kegiatan dan pembiayaan cukup memberikan dukungan program, serta penggunaan pola pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai langkah strategi peningkatan kompetensi guru yang tepat. Pada aspek process menunjukkan bahwa pelaksanaan program visiting teacher PAI mulai dari pra program, pelaksanaan program hingga pasca program telah berjalan sesuai dengan perencanaan awal. Pada aspek product, program ini cukup berhasil ditinjau dari respon guru didaerah sasaran, hasil pelaksanaan program dan identifikasi keunggulan program.

Berdasarkan hasil temuan analisis model CIPP pada evaluasi program visiting teacher PAI disimpulkan bahwa optimalisasi program visiting teacher PAI dalam rangka peningkatan kompetensi guru dapat dibentuk melalui aktifitas program yang terukur, terencana dan berkelanjutan. Temuan tersebut sejalan dengan teori John T.

Seyfarth yakni manajemen sumber daya manusia; Cara Stillings Candal melalui konsep guru hebat tidak dilahirkan tetapi diciptakan; dan Michael J. Hatton dengan teori pembelajaran seumur hidup.

Kata Kunci: evaluasi program, visiting teacher PAI, fenomenologi, pengembangan profesionalisme guru

(9)

ABSTRACT

Miftahul Abshor NIM 21180181000007: "Evaluation of Visiting Teacher PAI Program in Border Areas" Thesis of Master Program in Islamic Education Management (MPI) Faculty of Tarbiyah and Teacher Training (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

This study aims to evaluate the visiting teacher program of PAI in border areas organized by the Directorate of Islamic Religious Education, Directorate General of Islamic Education, Ministry of Religion the Republic of Indonesia on some sub-optimal activities. This program is one of the activities that focuses on efforts to increase the equal distribution of the competence of Islamic religious teachers in the border area.

This program is an annual program held in different districts/cities for equal distribution of teacher competence.

Based on these objectives, this study is a qualitative study with a phenomenological approach. The source of the material used in this research is through data collection using observation, interview and documentation methods. Presentation of data through a taxonomic model to provide a comprehensive description of the results of the analysis so that the translation of meaning can be formed. Data analysis is divided into four categories using the context, input, process, product (CIPP) model so that the program implementation process is described in detail. Checking the validity of the data by using triangulation of sources and techniques, namely the number of program research sites, amounting to three, the implementation of visiting teachers in Tarakan City, North Kalimantan Province as the main research location,

The research findings are described through the CIPP model. In the context aspect, there is a match between the formulation of goals and local needs in the target area. Then in the input aspect, the visiting teacher program has qualified trainers, training materials are in accordance with established procedures, training methods are in accordance with teaching materials, activity facilities and funding are sufficient to provide program support, and the use of sustainable professional development patterns as a strategic step for increasing teacher competence right. In the process aspect, it shows that the PAI visiting teacher program, from pre-program, to post-program implementation, has gone according to the initial planning. In the product aspect, this program was quite successful in terms of teacher response in the target area, program implementation results and identification of program excellence.

Based on the results of the analysis of the CIPP model in the evaluation of the visiting teacher PAI program, it is concluded that the optimization of the PAI visiting teacher program in order to increase teacher competence can be formed through measurable, planned and sustainable program activities. These findings are in line with the theory of John T. Seyfarth namely human resource management; Stillings Candal's way through the concept of the great teacher was not born but created; and Michael J.

Hatton with lifelong learning theory.

Keywords: program evaluation, PAI visiting teacher, phenomenology, teacher professional development

(10)

ثحبلا صخلم

راصبلأا حاتفم

21180181000007

"ةيدودحلا قطانملا يف ةيملاسلإا ةيبرتلا مولعلا ىف رئازلا ملعملا جمانرب مييقت"

ةيملاسلإا ةيبرتلا ةرادا مسق يف ريتسجاملا ةلاسر اتركاج هللا ةياده فيرش ةعماجب ةيبرتلا ةيلكب

سلإا ةيبرتلا مولعلا ىف رئازلا ملعملا جمانرب مييقت وه ةساردلا هذه نم ضرغلا نا اهمظنت يتلا ةيدودحلا قطانملا يف ةيملا

اذه .لثملأا ىوتسملا نود ةطشنلأا ضعب يف ايسينودنإ ةيروهمجب ةينيدلا نؤشلا ةرازوب ةيملاسلإا ةينيدلا ةيبرتلا ةيريدم علا ىف رئازلا ملعملا تاءافكل يواستملا عيزوتلا ةدايزل ةلوذبملا دوهجلا ىلع زكرت يتلا ةطشنلأا دحأ وه جمانربلا مول

دقو ةيدودحلا قطانملا يف ةيملاسلإا ةيبرتلا تذفتنا

جمانربلا اذه ةينيدلا نؤشلا ةرازوب ةيملاسلإا ةينيدلا ةيبرتلا ةيريدم

.نيملعملا ةءافكل يواستملا عيزوتلل ةفلتخملا قطانملا يف ماقي ايونس ا اذه يف ةمدختسملا رداصملا .يرهاظ جهن تاذ ةيعون ةسارد ةساردلا هذه دعت مادختساب تانايبلا عمج وه ثحبل

ليلحتلا جئاتنل لماش فصو ميدقتل يفينصت جذومن للاخ نم تانايبلا ضرعو .قيثوتلاو ةلباقملاو ةظحلاملا قرط ةيلمعلاو ، تلاخدملاو ،قايسلا مادختساب تائف عبرأ ىلإ تانايبلا ليلحت مسقني .ىنعملا ةمجرت نيوكت نكمي ثيحب تي ثيحب جتنملا جذومنو ، تانايبلا ةحص نم ةساردلا هذه مدختسا .ليصفتلاب جمانربلا ذيفنت ةيلمع فصو م

ةيلامشلا ناتناميلاك ةعطاقم ناكارات ةنيدم يف نيرئازلا نيملعملا ذيفنت ةثلاثب تاينقتلاو رداصملا ثيلثت مادختساب اراجنيت اسون ةعطاقم ، غنابوك ةنيدمو ةيبرغلا ةرطموس ةعطاقم ، يسيئر ثحب عقومك .تانايبلا جئاتنل زيزعتك ةيقرشلا

جذومن للاخ نم ةساردلا هذه جتنتسا ةقطنملا يف ةيلحملا تاجايتحلااو فادهلأا ةغايصب ، قايسلا بناج

عم ةقفاوتم ةيبيردتلا داوملاو ، نيلهؤم نيبردم ىلع رئازلا ملعملا جمانرب يوتحي ، لاخدلإا بناج يف مث .ةفدهتسملا

، اهب لومعملا تاءارجلإا معد ريفوتل نييفاك ليومتلاو ةطشنلأا قفارمو ، سيردتلا داوم عم ةقفاوتم بيردتلا قرطو

، ةيلمعلا بناج يفو .ملعملا ةءافك نيسحتل ةيجيتارتسا ةوطخك ةمادتسملا ةينهملا ةيمنتلا طامنأ مادختسا . جمانربلا رئازلا ملعملا جمانرب نأ رهظُي ةلحرم نم ةيملاسلإا ةيبرتلا مولعلا ىف

ناك ، جتنملا بناج يفو .جمانربلا دعب ذيفنت ىلإ

.اهديدحتو جمانربلا ذيفنت جئاتنو ةفدهتسملا ةقطنملا يف ملعملا ةباجتسا ثيح نم ةياغلل اًحجان جمانربلا اذه كمي ملعملا ةءافك ةدايز لجأ نم ةيملاسلإا ةيبرتلا مولعلا ىف رئازلا ملعملا جمانرب نيسحت نأ ةساردلا هذه جتنتسا ن

رب ةطشنأ للاخ نم هليكشت ةمادتسمو ةططخمو ةساقُم جمان

نم لدناك قيرط لاز ام .ةيرشبلا دراوملا ةرادلإ ثرافيس .

.ةايحلا ىدم ملعتلا ةيرظن عم نوتاه.ج لكيامو ؛ هؤاشنإ مت لب دلوي مل ميظعلا ملعملا موهفم للاخ

ةميلكلا

ةيسيئارلا

:

مولعلا ىف رئازلا ملعملا ، جمانربلا مييقت

ملعملل ينهملا ريوطتلا ، رهاوظلا ، ةيملاسلإا ةيبرتلا

(11)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Evaluasi Program Visiting Teacher PAI di Wilayah Perbatasan”

guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa perubahan kepada umat manusia dari peradaban jahiliyah menuju peradaban madaniyah.

Penulis menyadari kelemahan serta keterbatasan yang ada, sehingga dalam menyelesaikan tesis ini tentunya banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada:

1. Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis, Lc, MA selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Sururin, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Dr. Jejen Musfah, MA selaku Ketua Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang selalu memberikan motivasi dan nasehat tanpa lelah kepada penulis.

4. Dr. Maftuhah, M.A. selaku penguji I dan Dr. Zahruddin, Lc., M.Pd. selaku penguji II yang telah memberikan kritik dan saran kepada peneliti dari hasil riset yang dilakukan, semoga berdampak baik dari hasil penyusunan tesis ini sehingga lebih bermanfaat dan bermutu.

5. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA selaku pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan kepada penulis dengan sabar, membuka wawasan penulis dalam riset, memberikan banyak ilmu pengetahuan, juga memberikan tantangan luar biasa dalam penyusunan metode penelitian. Penulis sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan langsung bimbingan dengan Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam sehingga proses penyelesaian tesis ini mendapat wawasan baru dalam penemuan hasil riset.

6. Seluruh Dosen Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu.

7. Ayahanda H. Ahmad Kasmuni dan ibunda Hj. Mufailah yang selalu memberikan dukungan, do’a, nasihat perhatian dan kasih sayangnya, juga kepada Abang Huri Eka Prasetya dan Adinda Kaeva Rahmawati yang selalu memotivasi penulis. I love you.

8. Dr. H. Imam Safe’I, M.Pd dan Hj. Anisatul Widad serta ustadz H. Jauhari, Lc.

dan ustadzah Munakhiroh El Hajar, M.Pd. selaku orangtua kami yang telah

(12)

memberikan support, motivasi, nasihat dan memberikan kesempatan bagi penulis untuk dapat melanjutkan studi pascasarjana.

9. Seluruh guru-guru yang telah mengajari penulis berbagai hal, baik yang ada di Kota Kefamenanu Nusa Tenggara Timur maupun Kabupaten Bogor Jawa Barat, hinga penulis bisa sampai pada tahap ini.

10. Keluarga Besar Direktorat Pendidikan Agama Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI yang telah mengizinkan pelaksanaan riset dan juga bagi pejabat-pejabat terkait yang telah meluangkan waktu bagi penulis selama riset.

11. Keluarga Besar Pondok Pesantren Entrepreneurship Pemuda dan Mahasiswa (Pondok Pendawa) Parung – Bogor, yang telah mengiringi dan menjadi tempat menetap bagi penulis selama mengenyam pendidikan di tanah rantau.

12. Keluarga besar mahasiswa kelas Manajemen Pendidikan Islam (MPI) A 2018 yang terus menebar semangat dan saling mengingatkan dengan pertanyaan sederhana “Kapan Sidang?” sehingga dapat bersama-sama menyelesaikan tugas akhir pendidikan magister. Khususnya juga kepada Afif, bunda Ajeng dan bunda Lasti yang menjadi tempat diskusi selama riset dan juga membantu langkah-langkah dalam tataran administrasi kampus, juga Armenia yang telah membantu dalam persiapan bahan pustaka dan administrasi selama riset.

13. Guru-guru Visiting Teacher yang telah membantu penulis dalam meluangkan waktu dalam proses pengumpulan data.

14. Tujuh sekawan perbatasan, Alanuari, Adha, Habiburohim, Husnul, Sugeng dan Wendi yang selalu menginspirasi hingga penulis dapat menyelesaikan studi.

15. Semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan tesis ini yang tidak dapat ditulis satu persatu oleh penulis.

Penulis berharap semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan ketulusan hati dengan keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT. Akhir kata penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan baik isi maupun susunannya. Semoga tesis ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis juga bagi para pembaca. Aamiin.

Jakarta, 5 Desember 2020 Penulis,

Miftahul Abshor

(13)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN KARYA SENDIRI ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING iii

LEMBAR PENGESAHAN HASIL TESIS iv

LEMBAR PENGESAHAN TESIS v

PEDOMAN TRANSLITERASI vi

ABSTRAK viii

KATA PENGANTAR xi

DAFTAR ISI xiii

DAFTAR TABEL xiv

DAFTAR GAMBAR xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Batasan dan Perumusan Masalah 6

1. Identifikasi Masalah 6

2. Pembatasan Masalah 6

3. Rumusan Masalah 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 7

1. Tujuan Penelitian 7

2. Manfaat Penelitian 7

D. Penelitian Terdahulu yang Relevan 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Evaluasi Program 11

1. Pengertian Evaluasi Program 11

2. Tujuan Evaluasi Program 12

B. Konsep Pendidikan Agama Islam 14

1. Sejarah Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia 14

2. Pengertian Pendidikan Agama Islam 15

3. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam 16

C. Konsep Peningkatan Kompetensi Guru 17

1. Pengembangan Kompetensi Guru 17

2. Pengembangan Profesionalisme Guru 20

3. Pelatihan Guru 25

4. Fungsi Pelatihan 25

5. Karakteristik Pelatihan yang Efektif 26

D. Konsep Visiting Teacher 30

1. Pengertian Visiting Teacher 30

2. Kebijakan Program Visiting Teacher PAI 31

E. Model Evaluasi yang Digunakan 33

1. Evaluasi Model CIPP 33

2. Langkah-Langkah Evaluasi Model CIPP 35

3. Kelebihan dan Kekurangan Evaluasi Model CIPP 37

F. Kriteria Evaluasi 37

1. Urgensi Penyususnan Kriteria 37

(14)

2. Sumber Penyusunan Kriteria 38

3. Jenis Kriteria Kualitatif 39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian 41

B. Lokasi Penelitian 41

C. Teknik Pengumpulan Data 42

D. Teknik Analisis Data 47

E. Triangulasi 48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN EVALUASI

A. Hasil Penelitian 49

1. Gambaran Umum Program 49

2. Tujuan dan Manfaat Program 51

3. Kriteria Peserta dan Proses Rekrutmen 53

4. Sasaran Program 56

5. Wilayah Sasaran 57

6. Proyeksi Pelaksanaan Program 58

7. Ketersediaan Tenaga Pelatih 59

8. Materi Pelatihan 64

9. Metode Pelatihan 67

10. Fasilitas Kegiatan 69

11. Pembiayaan 69

12. Jadwal Pelaksanaan Program 71

13. Aktifitas Pelaksanaan Program 76

14. Hambatan Pelaksanaan Program 86

15. Produk Program Visiting Teacher PAI 99

B. Analisis Data & Pembahasan 100

1. Analisis Konteks 100

2. Analisis Input 107

3. Analisis Proses 112

4. Analisis Produk 117

5. Hasil Analisis CIPP 125

6. Pembahasan 127

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan 135

B. Rekomendasi 136

DAFTAR PUSTAKA 137

LAMPIRAN 142

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Peserta dan Wilayah Sasaran pada

Program Visiting Teacher PAI 5

Tabel 1.2 Tabel Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu 9 Tabel 2.1 Informasi yang Dikumpulkan dalam Evaluasi Program Secara

Komprehensif 13

Tabel 2.2 Tujuan Individu dan Kelompok Pelatihan Profesional 27 Tabel 2.3 Tujuan Pelatihan dan Metode Pelatihan 28 Tabel 2.4 Jenis, Metode, bentuk Operasional dan Kemampuan yang

Diharapkan 29

Tabel 2.5 Ruang Lingkup Program Visiting Teacher PAI dengan analisis CIPP 32 Tabel 2.6 Model Pengambilan Keputusan dan Akuntabilitas CIPP 33 Tabel 3.1 Kisi-Kisi Pengumpulan Data Dengan Model CIPP 44 Tabel 3.2 Pedoman Wawancara Program Visiting Teacher PAI 46 Tabel 3.3 Pedoman Observasi dan Dokumentasi Program Visiting Teacher PAI 47

Tabel 4.1 Hak dan Kewajiban Peserta Program Visiting Teacher PAI 55 Tabel 4.2 Penetapan Daerah Sasaran Program Visiting Teacher PAI ke Wilayah

Perbatasan 57

Tabel 4.3 Data Narasumber dan Materi Kegiatan Program Visiting Teacher PAI 60 Tabel 4.4 Penetapan Peserta Program Visiting Teacher PAI ke

Wilayah Perbatasan 60

Tabel 4.5 Materi Persiapan Bimbingan Teknis Program Visiting Teacher PAI 64 Tabel 4.6 Materi Kegiatan Evaluasi Program Visiting Teacher PAI 66 Tabel 4.7 Materi Pelatihan Program Visiting Teacher PAI di Kota Tarakan 66 Tabel 4.8 Jadwal Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI 71 Tabel 4.9 Jadwal Pelaksanaan Bimbingan Teknis Program Visiting Teacher PAI 71 Tabel 4.10 Jadwal Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI di Kota Tarakan 72 Tabel 4.11 Jadwal Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI di Kabupaten Pesisir

Selatan 73

Tabel 4.12 Jadwal Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI di Kota Kupang 74

(16)

Tabel 4.13 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi Program Visiting Teacher PAI 75 Tabel 4.14 Kuota Peserta Program Visiting Teacher PAI 76 Tabel 4.15 Penetapan Peserta dan Lokasi Tugas Program Visiting Teacher PAI 76 Tabel 4.16 Materi yang Didapatkan Selama Pelatihan Di Daerah 90 Tabel 4.17 Tingkat Pemahaman Materi Selama Pelatihan Di Daerah 91 Tabel 4.18 Tingkat Pemahaman Guru PAI terkait Implementasi Kurikulum 2013 92 Tabel 4.19 Kebermanfaatan Program PKB pada Visiting Teacher PAI 94 Tabel 4.20 Saran dan Masukan Guru PAI di Daerah Sasaran 95 Tabel 4.21 Hasil Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI 97 Tabel 4.22 Jumlah Guru dan Pengawas PAI yang Terlayani Pada

Program Visiting Teacher PAI 99

Tabel 4.23 Dampak Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI 99 Tabel 4.24 Kriteria Sumber Evaluasi Program Visiting Teacher PAI 100 Tabel 4.25 Kebutuhan Daerah Sasaran Program Visiting Teacher PAI 103 Tabel 4.26 Tujuan Individu dan Kelompok Pelatihan Profesional 104 Tabel 4.27 Kekuatan dan Kelemahan Program Visiting Teacher PAI 105 Tabel 4.28 Rumusan Kebutuhan dan Tujuan Program Visiting Teacher PAI 106 Tabel 4.29 Rumusan Komponen Input dan Strategi Pelaksanaan

Program Visiting Teacher PAI 111

Tabel 4.30 Skema Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI 113 Tabel 4.31 Komponen Proses dan Efisiensi Pelaksanaan Program

Visiting Teacher PAI 116

Tabel 4.32 Materi Pelatihan Guru di Daerah 119

Tabel 4.33 Respon Terkait Saran dan Masukan Program Visiting Teacher PAI 122 Tabel 4.34 Korelasi Tujuan Program dengan Pelaksanaan Hasil Program Visiting

Teacher PAI 123

Tabel 4.35 Komponen Produk dan Pencapaian Pelaksanaan Program

Visiting Teacher PAI 124

Tabel 4.36 Hasil Analisis Model CIPP pada Program Visiting Teacher PAI 125 Tabel 4.37 Hasil Peningkatan Kompetensi Guru melalui Program

Visiting Teacher PAI 129

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Hasil UKG Tahun 2015 3

Gamber 2.1 Diagram Alur Evaluasi CIPP Stufflebeam 35

Gambar 3.1 Triangulasi Sumber 48

Gambar 3.2 Triangulasi Teknik Pengumpulan Data 48

Gamber 4.1 Struktur Organisasi Kementerian Agama RI 49 Gamber 4.2 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 50 Gamber 4.3 Ruang Lingkup Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI 101 Gamber 4.4 Taksonomi Peningkatan Kompetensi bagi Guru pada Program

Visiting Teacher PAI 102

Gamber 4.5 Taksonomi Input Program Visiting Teacher PAI 108 Gamber 4.6 Taksonomi Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI 113 Gambar 4.7 Peningkatan Kompetensi Guru PAI pada Program

Visiting Teacher PAI 115

Gambar 4.8 Peningkatan Kompetensi Visitor pada Program

Visiting Teacher PAI 116

Gamber 4.9 Taksonomi Analisis Produk Program Visiting Teacher PAI 118 Gambar 4.10 Besaran Pelaksanaan Materi Pelatihan di Tiga Provinsi Sasaran 120 Gambar 4.11 Tingkat Pemahaman Menteri Secara Umum Bagi Guru PAI

di Tiga Provinsi Sasaran 121

Gambar 4.12 Tingkat Pemahaman Materi Analisis SKL, KI, KD

Bagi Guru PAI di Tiga Provinsi Sasaran 121 Gambar 4.13 Tingkat Kebermanfaatan Program Visiting Teacher PAI 122 Gamber 4.14 Hasil Analisis Model CIPP Program Visiting Teacher PAI 126

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peran pemerintah dalam upaya peningkatan pendidikan sudah banyak dilakukan baik berupa regulasi pendidikan maupun program pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Melalui Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 tentang kewajiban Negara membiayai pendidikan kepada seluruh masyarakat, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang guru, dan beberapa regulasi lain terkait pendidikan merupakan bentuk peningkatan pendidikan yang menjadi acuan pengelolaan bagi pemangku kebijakan. Dalam hal lain, peningkatan pendidikan melalui program pemerintah dilakukan melalui pelaksanaan sejumlah kegiatan seperti pelatihan guru, seminar, pendidikan profesi guru, pengembangan keprofesian guru dan program-program lainnya.

Guru merupakan bagian dari komponen pendidikan yang memiliki unsur penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Menurut Rosyada (2017, p. 206), guru adalah profesi yang unik karena mereka harus menguasai beberapa kompetensi untuk menyiapkan generasi mendatang. Profesi guru menjadi garda terdepan sebagai pelaksana pendidikan yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus oleh Pemerintah baik dari kesejahteraan, peningkatan kompetensi dan pemenuhan kualifikasi pendidikan. Namun perhatian tersebut belum terlaksana secara optimal. Pada aspek kesejahteraan, masih banyak guru mengalami kesenjangan pendapatan berdasarkan status pegawai negeri dan honorer (Musfah, 2018, p. 49). Pada sisi kompetensi, belum semua guru menyandang status profesional. Hal ini ditandai masih terdapat beberapa guru mengajar tidak sesuai dengan kualifikasi akademik dan juga terdapat beberapa guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan (Danim, 2011, p. 1).

Tugas seorang pendidik sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang guru disebutkan definisi guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing dan mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam perspektif lain, Rosyada (2013, p.

109). mendefiniskan bahwa tugas guru tidak selesai setelah memenuhi jam wajib masuk kelas, namun lebih dari itu, mengubah siswa dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak memiliki kompetensi menjadi memiliki kompetensi dan sebagainya. Pada realitanya, pendidik saat ini belum dianggap sebagai Guru yang professional, hal ini dikarenakan pengelolaan guru melalui Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan (Musfah, 2018, p. 26).

Tantangan di era digital saat ini ditandai dengan perkembangan teknologi yang kian canggih. Kemampuan pendidik untuk berkreasi dan berinovasi menjadi kebutuhan mendasar dalam aktivitas pembelajaran. Kompetensi guru yang perlu disiapkan

(19)

diantaranya memiliki educational competence; competence for technological commercialization; competence in globalization; competence in future strategies dan counselor competence (Wahyuni, 2018, pp. 13-18). Kompetensi tersebut secara global dianggap mampu mendidik siswa untuk menghadapi tantangan kedepan. Iwantoro (2017, p. 149) menjelaskan bahwa guru harus mampu menyiasati dengan meningkatkan kompetensi profesionalitasnya sehingga mampu mengimbangi perubahan zaman.

Namun pada realitanya, kompetensi tersebut hanya mampu dikembangkan oleh pendidik yang berada pada lokasi perkotaan yang mana akses untuk mendapatkan internet dan perkembangan informasi lebih mudah.

Islam memandang profesionalisme merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Suriadi (2018, p. 140) menjelaskan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an sebagaimana pendapat para mufassir memberikan isyarat tentang adanya petunjuk bahwa perbuatan atau pekerjaan, apapun profesinya, hendaknya dilakukan dengan professional. Pernyataan tersebut berdasar pada pendapat mufassir terhadap penekanan makna kata ‘ala makanatikum pada salah satu surat Al-An’am ayat 135:

ا ِۗ ل اَّدلا ُةبَا قاةعاٗهةدا نْو كةتا ْنةما َۙةنْو مةلْعةتا ةفْو ةسةفاٌۚ ل ماةعاْي ن لاْم ك تةناةكاةماىٰلةعالْو لةمْعلا مْوةقٰياْل ق ٥٣١ا-ا ةن ْو م ل ّٰظدلا ح لْف يا ةلَاٗهان ل

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (Q.S Al An’am: 135)

Makna tersebut dalam tafsir al Misbah karangan M. Quraish Shihab dalam Suriadi (2018, p. 130), yang berarti berbuatlah sepenuh kemampuan kamu apapun yang kamu kerjakan sesungguhnya akupun berbuat pula sepenuh kemampuanku. Berbuatlah sekuat kemampuanmu untuk menghalangi da’wahku, akupun akan berbuat sekuat kemampuanku untuk tetap meningkatkan da’wah dalam menegakkan perintah Allah.

Kesemuanya itu dapat dipahami dalam arti kondisi seseorang mampu melaksanakan pekerjaan yang dikehendakinya semaksimal mungkin untuk mendapat hasil yang baik.

Dari sinilah yang dapat ditarik pemahaman bahwa Al-Quran memberikan isyarat pekerjaan itu harus dilakukan secara profesional. Demikian pula dengan profesi guru harus dilakukan secara profesional.

Menyoal profesionalisme guru, masih ditemukan beberapa penyebab rendahnya kompetensi guru yang beragam. Wahyuni (2018, pp. 13-18) menilai penyebab rendahnya kompetensi guru diantaranya adalah adanya ketidak sesuaian (mis-match) antara bidang ajar dengan latar belakang pendidikan, masih terdapat kualifikasi guru belum sarjana, program peningkatan keprofesian berkelanjutan (PKB) guru masih rendah, dan rekrutmen guru belum efektif. Beberapa penyebab tersebut, bagi peneliti, yang menjadi permasalahan mendasar adalah akses pendidikan yang belum merata.

Pemerataan pendidikan secara nasional tidak hanya menjadi tugas pemerintah pusat, namun perlu mendapat dukungan dan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada dasarnya, pemerataan akses dan peningkatan kualitas pendidikan

(20)

merupakan salah satu program pemerintah yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019.

Berdasarkan data Neraca Pendidikan Nasional Kemendikbud tahun 2017 terkait hasil uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015, nilai rata-rata hasil UKG secara nasional adalah 56,69. Dari hasil penyelenggaraan tersebut, terdapat tujuh provinsi yang memperoleh nilai terbaik berdasarkan standar kompetensi minimum yang ditargetkan secara nasional sebesar 55, diantaranya: DI Yogyakarta: 62,58, Jawa Tengah: 59,10, DKI Jakarta: 58,44, Jawa Timur: 56,73, Bali: 56,13, Bangka Belitung: 55,13, dan Jawa Barat: 55,06 (Kemendikbud, 2016). Namun hasil UKG pada kompetensi bidang pedagogik memperoleh nilai rata-rata sebesar 48,94, hal ini membuktikan bahwa kompetensi mengajar guru masih berada dibawah standar minimum yang ditetapkan.

Adapun hasil UKG pada tahun 2015 di semua jenjang sebagaimana gambar berikut.

Gambar 1.1 Hasil UKG tahun 2015

Sumber: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dalam ranah guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dilaporkan dari hasil pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) PAI tahun 2019 bahwa jumlah guru PAI yang mendaftar seleksi pretest PPG secara nasional sebanyak 32.336 orang. Dari jumlah tersebut yang kemudian dihasilkan guru PAI yang layak mengikuti seleksi pretest sebanyak 19.296 orang dan yang belum lulus sebanyak 13.040 orang. Pasca pelaksanaan seleksi pretest PPG ditetapkan sebanyak 2.390 orang dengan hasil sebanyak 1.556 guru PAI berhak mengikuti PPG tahun 2019 dan sebanyak 874 orang tidak lulus PPG PAI. Jumlah tersebut mengindikasikan masih terdapat sebagian besar GPAI yang belum layak mengikuti pendidikan profesi guru untuk mendapatkan peningkatan kompetensi.

Pemerataan akses pendidikan yang belum berjalan optimal berdampak pada ketimpangan pada masing-masing wilayah. Secara umum permasalahan penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T antara lain yaitu permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah guru, distribusi yang tidak seimbang berada dibawah standar mutu, kurang kompeten serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dan bidang ajar. Pada permasalahan lainnya yaitu angka putus sekolah masih tinggi, angka partisipasi sekolah rendah, sarana prasarana belum memadai serta infrasturktur untuk kemudahan akses dalam mengikuti pendidikan masih sangat kurang (Hasthoro, 2016, pp. 57-61). Pada aspek kompetensi guru, Syafii (2018, p. 162) menyebutkan bahwa ketimpangan kompetensi guru didaerah cukup tinggi. Guru yang mengajar di daerah 3T

(21)

biasanya mengajar dengan tidak terstruktur dan mengabaikan teori-teori pembelajaran yang efektif. Kebanyakan guru di daerah 3T belum memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan peningkatan mutu guru.

Pada aspek distribusi dan pemerataan guru di Indonesia, Muthmainnah (2015, p.

3) dalam risetnya menunjukkan bahwa distribusi guru belum sepenuhnya merata, akibatnya 34% sekolah di Indonesia masih kekurangan guru terutama 66% sekolah di daerah terpencil. Namun ditemukan pada beberapa daerah mengalami kelebihan jumlah guru. Fenomena tersebut menyebabkan munculnya pemusatan pendidikan di suatu daerah sehingga kualitas pendidikan antar daerah mengalami ketimpangan. Fakta lain menyebutkan, berdasarkan laporan UNDP tahun 2013 indeks HDI (human development index) Indonesia berada pada urutas 121 dari 185 negara, meskipun bidang pendidikan bukan menjadi penentu HDI namun melalui pendidikan merupakan salah satu factor dominan dalam membentuk sumber daya manusia.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama RI terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pendidikan Islam. Salah satu tujuan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2015-2019 (Pendis K. , 2019) adalah Peningkatan kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan distribusi yang merata di seluruh satuan pendidikan. Dibawah naungan Ditjen Pendidikan Islam, Direktorat Pendidikan Agama Islam (Dit. PAI) mengusung Program Visiting Teacher PAI di wilayah perbatasan yang menjadi salah satu program unggulannya. Program ini dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan sebagai salah satu akses pemerataan kompetensi guru PAI dalam bidang implementasi kurikulum PAI, penggunaan media pembelajaran berbasis ICT dan metodologi pembelajaran. Kehadiran program visiting teacher PAI dianggap mampu mewujudkan tujuan Dijten Pendidikan Islam dalam aspek pemerataan akses pendidikan.

Dalam sejarahnya, program visiting teacher PAI bermula dari program pertukaran guru yang diselenggarakan pada tahun 2010. Program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru pada aspek penelitian tindakan kelas (PTK) di sekolah sasaran. Pertukaran guru ini menggunakan model perbandingan antara guru PAI yang memiliki pengalaman mengajar di sekolah yang setara, misalnya guru PAI pada sekolah berstandar Internasional di wilayah Jakarta di tukar dengan guru PAI yang mengajar di sekolah standar internasional di wilayah lain. Penyelenggaraan pertukaran guru dilaksanakan selama 2 bulan di sekolah sasaran untuk mendapatkan hasil penelitian tindakan kelas.

Model pertukaran guru tersebut kemudian berubah nama program menjadi Guru Visit pada tahun 2013, yang mana fokus semula program tersebut pada peningkatan PTK kemudian beralih menjadi peningkatan kompetensi guru pada aspek kurikulum dan pembelajaran. Ruang lingkup peningkatan kompetensi guru yang dimaksud tertuju pada aspek implementasi kurikulum 13, penggunaan media dan metodologi pembelajaran. Jangka waktu pengiriman guru ke wilayah sasaran pun berubah, hanya menjadi 2 minggu. Kemudian pada tahun 2015-2016, Program Guru Visit berubah nomenklaturnya menjadi Program Visiting Guru PAI dengan model program yang masih sama namun jangka waktu di daerah menjadi lebih singkat. Pada tahun 2017,

(22)

nomenklatur Visiting Teacher PAI berubah menjadi Guru Kunjung, perubahan tersebut juga berdampak pada tujuan program untuk pemerataan kompetensi di wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Pada tahun 2018-2019, nama program Guru Kunjung berubah kembali menjadi program Visiting Teacher Pendidikan Agama Islam ke Wilayah perbatasan.

Terdapat beberapa aspek yang menjadi perhatian peneliti untuk melakukan kajian pada program visiting teacher PAI di Kementerian Agama. Dari hasil penelusuran peneliti, skema perkembangan program visiting dari tahun ke tahun pada lingkup jumlah kuota peserta mengalami data yang fluktuatif. Jumlah peserta visiting pada tahun 2015 terdata sebanyak 90 orang, kemudian pada tahun 2016 dan tahun 2017 jumlah kuota peserta berkurang menjadi 60 orang per masing-masing tahun. Pada tahun 2018, kuota peserta visiting sedikit meningkat menjadi 75 orang, dan pada tahun 2019 jumlah kuota peserta menurun drastis menjadi 30 orang. Jumlah guru yang dikirim tentu akan berdampak pada luas sebaran wilayah yang menjadi sasaran visiting setiap tahunnya.

Tahun Jumlah Visitor Jumlah Kab./Kota Sasaran

Jumlah Provinsi Sasaran

2016 60 GPAI 30 Kab./Kota 22 Provinsi

2017 60 GPAI 30 Kab./Kota 22 Provinsi

2018 75 GPAI 37 Kab./Kota 22 Provinsi

2019 30 GPAI 12 Kab./Kota 8 Provinsi

Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Peserta dan Wilayah sasaran pada program Visiting Teacher PAI

Sumber: Dokumen Direktorat PAI Kementerian Agama RI

Pada aspek lain, jumlah wilayah sasaran belum sepenuhnya merata. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal 2015- 2019 terdapat 122 Kabupaten dari 24 Provinsi yang terkategori sebagai daerah tertinggal. Selain itu, dalam data Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) terdapat 41 Kabupaten/Kota dari 13 Provinsi yang dikategorikan sebagai wilayah Perbatasan (Kemendes, 2015). Dari data tersebut, lokasi sasaran khususnya yang terkategori sebagai daerah perbatasan dan tertinggal pada tahun 2019 menyasar 7 kabupaten dari total 14 kabupaten sasaran atau sebesar 50%. Jumlah lokasi tersebut yang kemudian menjadi pijakan peneliti untuk menentukan 3 kabupaten pada provinsi yang berbeda guna mendalami proses penyelenggaraan visiting teacher PAI.

Penyelenggaraan program visiting teacher PAI setiap tahunnya menekankan pada pola peningkatan kompetensi guru PAI, namun terdapat salah satu distingsi dalam penyelenggaraan program visiting teacher PAI tahun 2019 dengan tahun sebelumnya dimana pelaksanaan program visiting teacher tahun 2019 menggunakan pola pengembangan keprofesian berkelanjutan. Berdasarkan hasil telaah dokumen program visiting, penerapan PKB melalui program visiting teacher PAI merupakan penyelenggaraan perdana dari beberapa program visiting sebelumnya sehingga perlu dijabarkan secara komprehensif untuk meninjau optimalisasi program visiting teacher PAI. Hal tersebut juga menjadi salah satu kebijakan peningkatan kompetensi guru sebagaimana yang termuat dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 38 Tahun 2018

(23)

tentang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru yang menjelaskan bahwa pengembangan kompetensi bagi guru dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan.

Keterlibatan komunitas belajar guru PAI seperti Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) jenjang SD, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) jenjang SMP dan SMA/SMK, dan Kelompok Kerja Pengawas Pendidikan Agama Islam (POKJAWAS PAI) berkontribusi dalam penyelenggaraan program vitising teacher di daerah sasaran. Komunitas belajar guru PAI menjadi wadah penghubung informasi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, kepada guru PAI di sekolah. Melalui komintas belajar tersebut, guru PAI di daerah akan mendapatkan informasi terkait pelaksanaan program sehingga mereka dapat mengikuti program tersebut untuk kesuksesan kegiatan. Keterlibatan komunitas belajar guru dalam proses pelaksanaan visiting teacher di daerah turut berkontribusi dan menjadi bagian dari pelaksanaan program.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu adanya evaluasi program secara menyeluruh guna menjadi gambaran bagi penyelenggara dalam menetapkan kebijakan program periode berikutnya. Persoalan mendasar dalam penyelenggaraan program Visiting Teacher PAI adalah bagaimana proses pelaksanaan peningkatan kompetensi guru pada masing-masing wilayah sasaran yang memiliki kebutuhan yang beragam.

Disamping itu juga, proses penyelenggaraan program visiting teacher PAI dilakukan melalui pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) dalam meningkatkan kompetensi guru yang kemudian menjadi perhatian peneliti untuk melakukan kajian lebih mendalam. Atas dasar tersebut peneliti melakukan telaah lebih lanjut dalam tesis ini dengan judul “Evaluasi Program Visiting Teacher Pendidikan Agama Islam di Wilayah Perbatasan”.

B. Batasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang berkaitan dengan program visiting teacher PAI diantaranya:

a. Kompetensi guru di daerah 3T rendah;

b. Pemerataan kompetensi guru belum tercapai;

c. Adanya mismatch antara disiplin keilmuan dan bidang ajar guru PAI;

d. Adanya kualifikasi guru yang belum sarjana;

e. Program Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan masih rendah.

2. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, peneliti membatasi objek kajian penelitian ini pada pelaksanaan program visiting teacher PAI tahun 2019 yang belum berjalan optimal. Pendekatan evaluasi program tersebut menggunakan model context, input, process, product (CIPP) untuk melihat implementasi program mulai dari rekrutmen, bimbingan teknis, pelaksanaan dan evaluasi internal secara komprehensif.

(24)

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah diatas maka peneliti dapat merumuskan permasalahan penelitian dalam bentuk pertanyaan yaitu:

Bagaimana optimalisasi peningkatan kompetensi guru melalui program visiting teacher PAI di wilayah perbatasan ditinjau dari pendekatan context, input, process, product?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian secara umum ditujukan untuk menjawab pertanyaan pada rumusan masalah. Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini terbagi dalam dua aspek yaitu aspek akademik dan terapan. Pada aspek akademik, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pelaksanaan program visiting teacher PAI di wilayah perbatasan dan tertinggal dalam upaya peningkatan kompetensi guru PAI secara komprehensif. Pada aspek terapan, tujuan penelitian ini mampu menjadi kajian telaah bagi pelaksana program sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Selain itu juga dapat menjadi referensi bagi praktisi pendidikan untuk dapat mengembangkan program pemerataan kompetensi guru di wilayah perbatasan dan tertinggal.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat Akademis dari hasil penelitian ini dapat berkontribusi dalam menambah khazanah keilmuan khususnya pada kajian evaluasi program pendidikan dan pelatihan. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi lembaga pendidikan baik pada tingkat pusat maupun daerah untuk dapat bersinergi dalam upaya pemerataan pendidikan melalui peningkatan kompetensi guru di wilayah tertinggal. Bagi akademisi yang akan melakukan penelitian yang serupa atau lebih mendetail sebagai rujukan untuk penelitian berikutnya.

Manfaat terapan penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi penyelenggara program, yaitu Kementerian Agama, dalam mengambil keputusan untuk implementasi program berikutnya. Manfaat lainya kepada daerah sasaran untuk dapat menjadi acuan dalam membuat kebijakan dan regulasi agar peningkatan kompetensi guru melalui program visiting teacher tidak hanya selesai pada guru yang dilatih oleh visitor, namun juga dapat ditindaklanjuti ke Kabupaten/Kota, Kecamatan hingga Desa agar pemerataan kompetensi guru dapat terwujud.

D. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Berdasarkan penelusuran peneliti, terdapat beberapa hasil penelitian yang menjabarkan tentang visiting teacher dengan lingkup tujuan yang berbeda-beda.

Pelbagai kajian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian ini pada aspek pengelolaan program guru kunjung dari segi input, proses dan produk. Pada objek

(25)

lokasi penelitian, terdapat beberapa hasil kajian yang mendeskripsikan pengelolaan guru kunjung di wilayah 3T sehingga dapat menjadi kajian untuk penelitian ini. Adapun penelitian terdahulu yang relevan diantaranya:

Pertama, Jane F. Culbert, (1921, pp. 81-89), The Visiting Teacher. Dalam karyanya, Culbert mendeskripsikan tentang peran visiting teacher di New York, Amerika sebagai sebuah asosiasi, disebut dengan National Association of Visiting Teachers, yang memiliki legalitas untuk membantu mengatasi permasalahan anak di sekolah. Peran guru kunjung disini adalah menganalisa perilaku anak di sekolah, rumah dan lingkungan dalam kesehariannya. Pelaksanaannya tidak dibatasi waktu hingga mendapat sebuah kesimpulan terkait kendala siswa dari aspek psikologis. Hasil temuan tersebut akan menjadi laporan guru kunjung kepada sekolah dan guru sekolah sehingga dapat menentukan kebutuhan siswa selama pembelajaran. Peran guru kunjung tersebut dapat dikatakan sebagai seorang konsultan psikologi anak, karena mereka memiliki kompetensi akademik dan pengalaman yang kuat.

Kedua, Pamela B. Finney, dkk. (2002, pp. 94-97), The South Carolina/Spain Visiting Teacher Program, Finney dkk. mendeskripsikan pelaksanaan guru kunjung di Carolina Selatan, Amerika Serikat khususnya guru pendidikan bahasa Spanyol.

Rekrutmen guru kunjung dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Carolina Selatan melalui seleksi guru bahasa langsung dari Spanyol, dan kontrak mereka bertugas selama 1 tahun. Pelaksanaan guru kunjung tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan guru bahasa di wilayah Carolina Selatan. Pada proses pelaksanaan program tersebut, guru dilibatkan secara langsung dengan lingkungan sekolah dan berkontribusi penuh pada pengembangan kurikulum dan penilaian sebagaimana guru mata pelajaran lainnya.

Ketiga, Ahmad Yani (2010, pp. 47-54), Kebijakan Distribusi Guru Melalui Participatory Management Pada Era Otonomi Daerah. Pada penelitian ini, Yani mengusulkan konsep manajemen pastisipatori menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan distribusi guru di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru. Jenis penyelenggaraan guru kunjung yang telah diterapkan di Kabupaten Sukabumi terbagi menjadi 4 jenis yaitu: guru kunjung harian, guru kunjung tahunan menetap, guru kunjung tahunan berkeliling dan guru kunjung tahunan berkeliling multifungsi.

Kebijakan visit teacher ke sekolah-sekolah yang kekurangan guru dapat menolong guru memenuhi 24 jam tatap muka sekaligus dapat meratakan distribusi guru dan meningkatkan mutu pendidikan. Hasil yang ditemukan, mencakup tentang pengelolaan distribusi guru dari daerah yang memenuhi kebutuhan guru ke wilayah kekurangan guru.

Keempat, Reddy Siram (2013, pp. 225-229), Pelaksanaan Model Guru Kunjung di Daerah Terpencil. Dalam risetnya, Siram menjabarkan bahwasanya pelaksanaan model guru kunjung yang dilakukan di Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari tiga tahapan yaitu: perencanaan, sosialisasi, dan pelaksanaan. Pada tahap perencanaan, adanya kontribusi dari masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan, kepala SD induk, guru, komite bersama-sama membangun SD kunjung mulai dari pendataan siswa dan penyiapan proposal. Setelah SD Kunjung telah berdiri, sosialisasi dilakukan secara berjenjang dari tokoh masyarakat, rapat adat dayak dan masyarakat

(26)

sekitar melalui lisan dan tulisan. Model pelaksanaan sistem guru kunjung terdiri dari dua program yaitu: pertama, program A1 dan A2 untuk anak usia sekolah dasar 7-12 tahun yang akhirnya bisa mengikuti UAN SD dan melanjutkan ke SMP. Kedua, program B1 dan B2 untuk usia diatas SD yang akhirnya dapat mengikuti ujian persamaan SD (UPER SD) dan dapat melanjutkan ke Paket B. Peran guru disini adalah sebagai fasilitator dan penyusun modul belajar yang akan diajarkan kepada siswa, baik belajar dalam kelas maupun belajar mandiri, di daerah terpencil. Jadwal pelajaran ditentukan oleh kepala sekolah SD Induk secara luwes dengan memperhatikan kondisi siswa.

Kelima, Sukoco (2014, pp. 145-163), Evaluasi Pelaksanaan Program SEAMOLEC Di SMK Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada penelitian ini, Sukoco mendedah evaluasi program SEAMOLEC (Southeast Asian Minister Of Organization Regional Open Learning Center) yang terdiri dari program kolaborasi e-learning, pertukaran siswa, pertukaran guru dan pelatihan guru yang ditinjau menggunakan model evaluasi context, input, proses, product (CIPP). Program tersebut merupakan program kerjasama internasional antara Indonesia dengan Thailand. Dalam penelitian tersebut, fokus peningkatan kompetensi guru pada pengembangan profesionalisme.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program SEAMOLEC di SMK DIY dari aspek CIPP masuk pada kategori sangat baik.

No Peneliti Perbedaan Persamaan

1 Jane F. Culbert (1921)

Karya Culbert memiliki perbedaan pada aspek pelaksanaan program yang memfokuskan kajiannya pada penanganan persoalan anak disekolah melalui pendekatan psikologi. Karya Culbert memberikan wawasan tambahan pada penelitian ini sebagai maksud penyelenggaraan visiting teacher di Amerika.

Persamaan beberapa kajian tersebut dengan penelitian ini terdapat pada tujuan secara umum yaitu upaya pemerataan pendidikan dan pelaksanaan evaluasi program.

Secara khusus beberapa kajian memfokuskan penelitiannya pada pengelolaan pendidikan di wilayah perbatasan dan tertinggal.

2 Pamela B.

Finney, dkk.

(2002)

Karya Finney memiliki perbedaan pada hasil yang diterapkan, dimana pelaksanaan visiting teacher di Carolina untuk pemenuhan kebutuhan guru di beberapa sekolah. Kajian Finney mendeskripsikan secara komprehensif pelaksanaan program mulai dari rekrutmen, orientasi, pelaksanaan dan evaluasi.

3 Ahmad Yani (2010)

Perbedaan Studi kebijakan oleh Ahmad Yani dengan penelitian ini terdapat pada ruang lingkup peningkatan kompetensi guru.

Kajian Ahmad Yani membahas terkait peningkatan kompetensi

(27)

guru secara personal, sedangkan program visiting teacher melakukan peningkatan kompetensi guru secara kelompok melalui pelatihan.

4 Reddy Siram (2013)

Perbedaan hasil kajian Reddy Siram dengan penelitian ini terdapat pada lingkup pembelajaran kelas. Reddy memusatkan deskripsi program pada pelaksanaan manajemen pembelajaran di wilayah 3T, sedangkan penelitian ini mendeskripsikan pelaksanaan manajemen peningkatan kompetensi guru di wilayah 3T.

5 Sukoco (2014) Perbedaan hasil evaluasi Sukoco dengan penelitian ini terdapat pada lingkup peningkatan kompetensi gurunya. Program SEAMOLEC meningkatkan kompetensi profesionalitas sedangkan program visiting teacher PAI melakukan peningkatan kompetensi guru pada aspek implementasi kurikulum 2013.

Tabel 1.2 Tabel Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

Sumber: Jane F. Culbert (1921), Pamela B. Finney (2002), Ahmad Yani (2010), Reddy Siram (2013), Sukoco (2014).

Dari hasil penelitian terdahulu diatas, yang menjadi distingsi pada penelitian ini terdapat pada ruang lingkup dan tujuan program yang diimplementasikan. Fokus penelitian program visiting teacher PAI ini adalah berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru di daerah perbatasan dan tertinggal pada aspek implementasi kurikulum 2013, metode dan model pembelajaran, media ICT, pengembangan keprofesian berkelanjutan dan kemampuan karya tulis ilmiah. Penelitian-penelitian terdahulu diatas, meskipun mampu memberikan gambaran metodis terkait pengelolaan pendidikan melalui guru kunjung dan evaluasi program, namun program visiting teacher PAI memiliki cakupan yang cukup luas dari aspek geografi, desain pelatihan dan tujuan program.

(28)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Evaluasi Program 1. Pengertian Evaluasi Program

Evaluasi program merupakan bagian integral dari evaluasi pendidikan. Evaluasi program pendidikan memiliki makna yang luas, bukan hanya mencakup proses belajar mengajar tetapi juga dilakukan pada program yang merupakan hasil keputusan pemegang kebijakan untuk diprioritaskan pelaksanaannya seperti program yang dilakukan untuk masyarakat berupa program pembangunan gedung laboratorium, penelitian berbasis masyarkat, diklat pendidikan dan sebagainya (Sukardi, 2015).

Evaluasi program tersebut merupakan kombinasi antara teori yang digunakan untuk mengakomodasi pertanggungjawaban pengambil kebijakan dan penilaian didalamnya.

Dalam pengertiannya, definisi kata evaluasi secara bahasa dari bahasa Inggris yaitu evaluation, dalam bahasa Arab al-Taqdῑr, dan dalam bahasa yang berarti penilaian. Kata evaluasi berakar dari kata value dan al Qῑmah yang berarti nilai. Jika dihubungkan dengan kata pendidikan maka evaluasi pendidikan (educational evaluation/al taqdῑr al tarbawiy) berarti penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan (Sudijono, 2005).

Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi pendidikan secara bahasa adalah tindakan penilaian pada bidang pendidikan. Pada konteks definisi evaluasi program yaitu tindakan penilaian pada aspek program pendidikan.

Secara istilah, terdapat beberapa perspektif pengertian evaluasi. Stufflebeam (Stufflebeam D. L., 1983) mengatakan evaluasi merupakan sebuah proses perbaikan, dimana sebuah program akan menjadi lebih baik ketika kita tahu kelemahan dan kekuatannya. Berbeda dengan Ralph Tyler (1950) mengemukakan bahwa evaluasi sebuah proses guna mengumpulkan data untuk sejauh mana sebuah tujuan pendidikan telah dicapainya. Jika ditemukan adanya yang belum dicapai, maka akan dapat diketahui sebabnya (Arikunto, 2013). Scriven (1967) dan Glas (1969) mendefinisikan evaluasi adalah upaya untuk mengetahui manfaat atau kegunaan suatu program, kegiatan, dan sebagainya (Sudjana, 2006). Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan evaluasi merupakan kegiatan untuk mengumpulkan infomasi dengan cara mengamati, menelaah dan mengukur agar dapat mengambil kesimpulan dan keputusan.

Definisi evaluasi secara bahasa dan istilah telah diuraikan diatas, pada konteks evaluasi program terdapat beberapa pendapat ahli yang menjelaskan pengertian evaluasi program. Paulson (1976) mendefinisikan evaluasi program sebagai proses pengujian terhadap suatu fakta sebagai bahan pengambilan keputusan. Worthen dan Sanders (1973) memaknai evaluasi program merupakan proses identifikasi dan pengumpulan informasi untuk membantu para pengambil keputusan dalam memilih berbagai alternative keputusan. Stufflebeam (1971) mengartikan evaluasi program sebagai proses mendeskripsikan, mengumpukan dan menyajikan informasi yang berguna untuk menetapkan alternative keputusan (Sudjana, 2006). Sukardi (2015) mendefinisikan evaluasi program adalah proses pengumpulan data, menganalisis, dan pengambilan

(29)

keputusan yang dievaluasi. Beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi program merupakan proses penilaian program secara bertahap untuk memperoleh data yang berguna dalam pengambilan keputusan.

Konsep evaluasi program perlu dipahami secara utuh untuk menghindari kesalahpahaman. Terdapat beberapa pemahaman yang dinilai masih keliru terkait konsep evaluasi program. Sudjana (Sudjana, 2006) menyebutkan bahwa sebagian kalangan mengartikan evaluasi sebagai kegiatan menguji hasil sebuah program, padahal konteks menguji hasil merupakan kegiatan uji hasil (product testing). Ada pula yang mengartikan evaluasi program merupakan kegiatan mengumpulkan data sebagai pendukung operasional program, seperti sumber dana dan pengelolaan keuangan, padahal kegiatan tersebut lebih tepatnya sebagai institutional accounting. Sebagian lainnya mengartikan evaluasi program sebagai kegiatan mengetes kecakapan seseorang atau kelompok seperti lulusan program pendidikan dan lainnya, padahal kegiatan tersebut dikenal dengan istilah tes kecakapan bukan evaluasi program.

Pada hakikatnya, evaluasi program bukanlah kegiatan untuk menetapkan baik buruknya sebuah program karena kegiatan tersebut termasuk pada keputusan. Evaluasi program juga bukan kegiatan untuk mengukur karakteristik unsur-unsur program seperti komponen, proses dan hasil program, karena kegiatan tersebut masuk pada kategori pengukuran. Sudjana (Sudjana, 2006) menegaskan bahwa evaluasi program bukanlah kegiatan untuk mencari kesalahan orang lain atau lembaga, mengetes dan mengukur, atau memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan program.

2. Tujuan Evaluasi Program

Berdasarkan pada pengertiannya, esensi evaluasi program terdapat pada pengambilan keputusan. Sudjana (2006) menyebutkan bahwa tujuan evaluasi berfungsi sebagai pengaruh dan sebagai acuan untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas kegiatan evaluasi program. Bagi Arikunto (1988, p. 7), tujuan evaluasi program adalah untuk kepentingan pengambilan keputusan, misalnya akan digunakan atau tidaknya suatu sistem, strategi atau metode. Dalam hal ini, Tujuan evaluasi program perlu direncanakan oleh evaluator dalam proses pelaksanaan penilaian. Tujuan evaluasi dapat berupa hasil pengambilan keputusan maupun acuan efektifitas program.

Lebih luas, Sudjana (Sudjana, 2006) menyebutkan tujuan evaluasi program dalam 6 aspek yaitu: 1) memberi masukan kepada perencana program; 2) memberi masukan untuk kelanjutan, perluasan dan penghentian program; 3) memberi masukan untuk modifikasi program; 4) memperoleh informasi tentang factor pendukung dan penghambat program; 5) memberi masukan untuk motivasi dan pembinaan pengelola dan pelaksana program; 6) memberi masukan untuk memahami landasan keilmuan bagi evaluasi program. Beberapa alternatif tujuan evaluasi program dapat menjadi pertimbangan bagi evaluator maupun peneliti dalam menetapkan tujuan evaluasi yang diharapkan.

Menurut Arikunto (1988, p. 8), terdapat empat kemungkinan kebijakan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program yaitu diantaranya adalah:

(30)

a. Dilanjutkan dan disebarkannya sistem program tersebut karena hasil penilaian program menunjukkan manfaat yang sangat positif dan diperkirakan akan baik juga diterapkan pada program lain.

b. Dilanjutkan tetapi hanya pada program tersebut karena untuk dapat disebarkan pada program lainnya menuntut persyaratan khusus.

c. Dilanjutkan hanya pada program yang bersangkutan, itupun memerlukan perubahan, penambahan atau penyempurnaan seperlunya.

d. Dihentikan karena hasil penilaian terhadap program menunjukkan tidak adanya manfaat.

Melakukan evaluasi program sama pentingnya dengan merencanakan program.

Menurut Musfah (2011, p. 93) Perencanaan dan proses evaluasi harus dilakukan secara matang untuk mengetahui titik lemah dan kekuatan program. Rencana evaluasi program yang komprehensif, sebagaimana yang dikembangkan oleh Seyfarth (2002) dalam Musfah, melibatkan penilaian empat outcome pengembangan professional yakni: reaksi guru, pengetahuan, perubahan perilaku dan pembelajaran siswa. Adapun evaluasi secara komprehensif dijabarkan pada tabel berikut:

Hasil Unsur-Unsur

Reaksi Guru  Ketepatan waktu dan hari pelatihan

 Ketepatan lokasi

 Kenyamanan ruangan

 Kemampuan penyaji membuat konsep yang jelas dan menumbuhkan kegairahan

 Pengetahuan penyaji

 Kecocokan materi dengan sekolah atau kelas guru

 Kemungkinan penerapan strategi yang disajikan dalam pelatihan

 Penilaian kebutuhan untuk umpan balik dan tindak lanjut Pengetahuan

Guru

 Penilaian guru tentang pengetahuannya terhadap materi sebelum dan setelah pelaksanaan pelatihan

 Tes sebelum dan setelah pelatihan untuk mengukur pengetahuan

 Keinginan untuk mempelajari materi tindak lanjut Perubahan

Perilaku

 Penilaian guru tentang frekuensi penggunaan strategi baru, satu bulan setelah pelatihan

 Data dari pengawas kelas menunjukkan frekuensi penggunaan

 Penilaian guru tentang kesulitan penggunaan (termasuk waktu, pemahaman dan penerimaan murid)

 Penilaian guru tentang kemungkinan mereka akan menggunakan strategi

Pembelajaran Siswa

 Hasil penelitian eksperimental terhadap perolehan siswa dikelas dengan guru yang menggunakan teknik baru, dibandingkan dengan siswa dikelas dengan guru yang menggunakan teknik lama

 Penilaian siswa tentang jumlah yang mereka pelajari saat guru

Gambar

Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Peserta dan Wilayah sasaran   pada program Visiting Teacher PAI
Tabel 1.2 Tabel Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu
Tabel 2.3 Tujuan Pelatihan dan Metode Pelatihan  Sumber: Gomes (2003)
Tabel 2.6 Model Pengambilan Keputusan dan Akuntabilitas dengan CIPP  Sumber: Stufflebeam (1986)
+7

Referensi

Dokumen terkait