BAB II KAJIAN PUSTAKA
KONSEP IDEAL PELAKSANAAN DI DAERAH
5. Hasil Analisis CIPP
Berdasarkan hasil analisis model context, input, process, product (CIPP) terkait program visiting teacher PAI, peneliti merumuskan hasil tersebut kedalam tabel 7.7 untuk memberikan gambaran program dan menjadi panduan dalam pengambilan keputusan.
Konteks Input Proses Produk
Rumusan tujuan
di wilayah sasaran
pelatihan yang tepat dengan pola pengembangan keprofesian berkelanjutan, kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan guru, dan pembiayaan yang cukup mendanai program
bimtek, pelaksanaan program hingga pasca program telah berjalan sesuai dengan
perencanaan awal.
Komitmen dan
pelaksanaan tugas oleh visitor di daerah sasaran dapat
dijalankan dengan baik sesuai dengan tujuan pelaksanaan program
didaerah sasaran, hasil pelaksanaan program dan identifikasi keunggulan program
Tabel 4.36 Hasil Analisis Model CIPP pada Program Visiting Teacher PAI Dari hasil analisis CIPP tersebut, maka optimalisasi program visiting teacher PAI dalam rangka peningkatan kompetensi guru dapat dibentuk melalui aktifitas program yang terukur, terencana dan berkelanjutan. Hal ini dibuktikan dengan penerapan pola pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui program visiting teacher PAI yang berdampak cukup signifikan untuk pemerataan kompetensi guru PAI di wilayah perbatasan. Ketercapaian program visiting teacher sangat dipengaruhi oleh faktor ketersediaan sumber daya manusia dan pendanaan program. Kemudian beberapa aspek ketidak tercapaian program visiting teacher diakibatkan oleh kendala teknis seperti publikasi, penjadwalan, koordinasi dan tindak lanjut program. Untuk memudahkan hasil analisa, peneliti jabarkan dalam diagram berikut:
Gambar 4.14 Hasil Analisis Model CIPP Program Visiting Teacher PAI
6. Pembahasan
a. Peningkatan Kompetensi Guru
Pemerataan kompetensi guru pada program visiting teacher PAI di wilayah perbatasan berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Hal tersebut dapat ditinjau berdasarkan konteks tujuan dan input program yang cukup memadai dalam upaya pemerataan kompetensi guru. Pada aspek konteks tujuan kegiatan, program tersebut mungkin menjadi harapan yang cukup dinanti oleh beberapa guru PAI di daerah perbatasan yang belum pernah mendapatkan pelatihan. Syafi’i (2018, p. 162) menjelaskan bahwa guru yang mengajar di daerah terpencil biasanya mengajar dengan tidak terstruktur dan mengabaikan teori-teori pembelajaran yang efektif karena peningkatan kompetensi guru di daerah terpencil belum menjadi prioritas dalam pembangunan pendidikan. Konteks pemerataan kompetensi guru yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian agama dalam program ini dinilai tepat jika sesuai dengan sasaran wilayah yang masih rendah kompetensi gurunya.
Sedangkan pada aspek input program, menurut peneliti ini adalah keunggulan program visiting teacher PAI. Hal tersebut dapat ditinjau berdasarkan ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni, strategi program yang sesuai, materi ajar berbasis kebutuhan, dan pembiayaan. Ketersediaan tenaga pelatih sangat diperlukan untuk mewujudkan pemerataan kompetensi guru di daerah. Seyfarth (2002) dalam teorinya menyebutkan bahwa pengembangan professional diartikan sebagai aktivitas atau proses yang dilaksanakan untuk memelihara atau meningkatkan keterampilan, sikap, pemahaman atau perbuatan professional dan mendorong individu dalam tugasnya saat ini maupun di masa mendatang. Dengan demikian, guru profesional sebagai trainer dalam pelatihan lebih mampu memberikan pemahaman dan penguatan materi dalam penyiapan kompetensi guru.
Sejalan dengan hal tersebut, Konsep "great teachers are not born, they are made" yang dipublikasikan oleh Candal (2015, p. 22), bahwa profesionalisme guru dibentuk melalui berbagai tahapan kegiatan yang sistematis mulai dari kualifikasi pendidik hingga kompetensinya. Salah satu konsep guru professional yang diciptakan adalah rekrutmen pendidik yang sangat ketat dan kesesuaian kriteria calon pendidik dengan arah tujuan lembaga. Secara konseptual, penyamaan persepsi tenaga pelatih dengan tujuan program sesuai dengan pelaksanaan program visiting teacher. Dalam pelaksanaanya, perlu mendapatkan perhatian lebih mendalam bagi penyelenggara program untuk melaksanakan proses rekrutmen secara selektif dan terbuka. Informasi publik melalui website ataupun media sosial belum terlaksana untuk memberikan kesempatan bagi seluruh guru PAI yang kompeten.
Selain itu, Penentuan strategi dan kurikulum melalui pengembangan keprofesian berkelanjutan guru sesuai dengan target peningkatan kompetensi guru berdasarkan kebutuhan. Hal tersebut merupakan arah kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan profesionalisme guru yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan guru, sebagaimana yang termuat dalam Permenpan RB Nomor 16 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Agama Nomor 38 Tahun 2018. Rosyada (2017, p. 217) menjabarkan kompetensi utama bagi guru untuk menjadi profesional,
yakni menguasai bahan ajar. Dalam implementasinya, penguasaan bahan ajar mencakup tiga aspek utama yaitu: penguasaan materi ajar yang akan diajarkan kepada para siswa, kemampuan mengembangkan kurikulum operasional dan kemampuan mengembangkan bahan ajar melalui aktifitas penelitian. Hal tersebut sejalan dengan konsep pengembangan keprofesian berkelanjutan guru, khususnya pada tahapan pelatihan yang terdiri dari pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.
Pelaksanaan program visiting teacher PAI tidak serta merta berjalan sempurna.
Terdapat beberapa catatan temuan penelitian yang menjadi hambatan program sehingga berdampak pada ekpektasi guru didaerah yang tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Kendala pelaksanaan program terdiri atas efisiensi waktu, dukungan program dan tindak lanjut program. Hambatan pertama adalah efisiensi waktu yang terkesan terburu-buru dan berakibat pada sebagian guru mengeluhkan materi penyampaian yang tidak mendalam. Target waktu pelaksanaan pelatihan yang singkat dengan jumlah materi kurikulum pelatihan yang kompleks tentu tidak akan berjalan dengan optimal.
Kemudian pada akhirnya, pelaksanaan program diselesaikan berdasarkan jumlah materi penyampaian bukan pada tingkat pemahaman. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Musfah (2011, p. 88) bahwa penyelenggara pelatihan harus memperhatikan penyediaan waktu pelatihan sesuai dengan tingkat kesulitan dan keluasan materi. Waktu yang memadai memungkinkan pelatih dan peserta untuk mempelajari dan mendalami materi secara tuntas kemudian dilanjutkan pada praktik, penilaian serta evaluasi.
Pada aspek dukungan program, keterlibatan organisasi profesi guru dalam penyelenggaraan program visiting teacher adalah penting untuk mengumpulkan data dan informasi kebutuhan di daerah. Pada proses pelaksanaan pemetaan kebutuhan, secara keseluruhan organisasi profesi guru yakni KKG, MGMP dan Pokjawas terlibat aktif dalam penyelenggaraan program. Namun hal tersebut belum secara utuh terbantu dalam penyediaan anggaran kegiatan pelatihan di daerah. Konsep pelaksanaan pelatihan selama tiga hari tentu membutuhkan biaya operasional bagi guru. Aspek tersebut merupakan keluhan pelaksanaan visiting yang dapat menjadi pertimbangan bagi penyelenggara program dalam perencanaan biaya operasional program secara komprehensif.
Keberlanjutan program juga belum tertera secara redaksional dalam petunjuk teknis program. Peneliti berasumsi bahwa pelaksanaan pelatihan guru tanpa adanya pembinaan tindak lanjut belum sepenuhnya dapat membentuk guru professional.
Ibrahim (2013, pp. 7-8) menegaskan bahwa lahirnya seorang profesional tidak hanya melalui bentuk penataran dalam waktu enam hari, supervisi dalam sekali atau dua kali, dan studi banding. Maka perlu adanya tinjauan kembali bagi penyelenggara program terkait proses tindak lanjut sehingga keterlibatan organisasi profesi guru dapat optimal, terpetakannya kompetensi guru di masing-masing daerah, dan penyediaan anggaran dapat lebih efisien.
Peningkatan kompetensi guru PAI yang terdiri dari enam kompetensi yaitu pedagogic, kepribadian, social, perofesional, spiritual dan leadership telah berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Hasil pelaksanaan program visiting teacher PAI
dalam upaya peningkatan kompetensi guru PAI di daerah sasaran melalui beragam aktifitas pelatihan, peneliti jabarkan dalam tabel berikut:
Sumber Daya Kurikulum Kompetensi
Guru PAI Daerah
Implementasi Kurikulum
Pedagogik dan Profesional Penggunaan Media ICT
Model dan metode Pembelaran Karya Tulis Ilmiah
Real Teaching
Kepribadian Sosial Spiritual Leadership
Tabel 4.37 Hasil Peningkatan Kompetensi Guru melalui Program Visiting Teacher PAI b. Profesionalisme Guru
Dalam konteks ini, profesionalisme guru mengacu pada pengertian yang dijabarkan oleh Rosyada (2017, p. 217) bahwa kriteria seorang pekerja profesional, termasuk pekerjaan pendidik baik guru maupun dosen, setidaknya harus memiliki kriteria berikut yaitu memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan pekerjaannya dan diakui oleh instansi terkait, melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan tidak beralih profesi lain, memiliki penghasilan yang memadai dan dihargai oleh profesi lain, serta terlibat dalam organisasi profesi. Kriteria tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan profesional harus memiliki tiga komponen yaitu kompetensi, sikap dan penghargaan. Komponen kompetensi yang dimaksud yaitu memiliki kualifikasi pendidikan sesuai dengan keahliannya, kemudian komponen sikap yaitu memiliki loyalitas terhadap profesinya, dan komponen penghargaan yaitu memiliki pengasilan yang memadai.
Program visiting teacher PAI setidaknya telah memenuhi salah satu komponen professional yaitu terkait peningkatan kompetensi guru. Peningkatan kompetensi guru dilaksanakan dengan peningkatan wawasan implementasi kurikulum 2013 beserta komponennya melalui pelatihan, sehingga guru yang dilatih memiliki wawasan dan pengetahuan tentang kurikulum PAI, model, metode dan media pembelajaran.
Disamping itu, guru yang mendapatkan pelatihan telah terkualifikasi sebagai sarjana pendidikan agama sesuai dengan profesi yang digelutinya. Hal ini dapat peneliti temukan dalam daftar peserta pelatihan yang secara menyeluruh mengajar sebagai guru PAI di masing-masing sekolah. Melalui pelatihan tersebut juga memberikan dampak secara tidak langsung terhadap sikap loyalitas profesi guru, sehingga secara sadar guru yang dilatih memiliki komitmen dalam peningkatan profesinya.
Namun, yang menarik dalam praktik profesionalisme guru adalah pelaksanaannya yang belum optimal. Musfah (2018, p. 7) menyebutkan bahwa secara
umum guru masih jauh dari professional. Hal tersebut dibuktikan bahwa kebanyakan guru merupakan produk LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) yang tidak menjalankan pendidikan sesuai standar yang telah ditetapkan. Tidak semua lembaga penghasil guru memenuhi standar minimal perguruan tinggi. Data Kemendikbud dalam Musfah (2018, p. 7) menyebutkan bahwa hanya ada 100 dari 415 unit kampus LPTK yang berkualitas. Data Majalah Dikti Volume 3 Tahun 2013 menyebutkan jumlah LPTK terdiri dari 46 LPTK Negeri dan 383 LPTK swasta, jumlah mahasiswa mencapai 1.440.770 orang. Padahal, tahun 2010 LPTK berjumlah 300-an. Jadi ada kenaikan 100 buah lebih dalam waktu 3 tahun atau 3 buah setiap bulan, setiap hari muncul 10 LPTK baru.
Lebih lanjut Musfah (2018, pp. 7-8) menjabarkan bahwa praktik tidak standar yang terjadi di LPTK yang tidak berkualitas, terdapat dosen yang belum terkualifikasi S2, dosen mengajar tidak sesuai keahliannya, pembukaan kelas jauh, pertemuan kurang dari 16 kali, masa studi kurang dari 8-9 semester, tidak adanya lab micro-teaching, praktik lapangan yang singkat, dan tugas akhir (skripsi) yang buruk. Permasalahan tersebut merupakan fenomena real yang terjadi dalam praktik pendidikan di sebagian LPTK. Praktik menyimpang tersebut juga terjadi karena ada kebutuhan guru untuk mengikuti sertifikasi guru yang syaratnya adalah S1 pendidikan. Guru yang terdesak usia dan alasan lainnya lebih memilih kuliah singkat di LPTK tidak berkualitas daripada kuliah regular di LPTK yang reputasinya baik.
Kehadiran program visiting teacher PAI secara konteks tidak bertujuan untuk pemenuhan kriteria dalam sertifikasi guru, sehingga peningkatan penghasilan bagi guru adalah hal lain yang belum menjadi ranah program. Pelatihan guru dalam program visiting menjadi salah satu upaya pemerataan kompetensi guru setempat. Namun, Musfah (2018, p. 2) mengingatkan bahwasannya keberhasilan pelatihan sangat ditentukan oleh banyak faktor, dalam konteks ini terkait pelatih dan peserta. Pertama, pelatih harus menguasai materi dan serius dalam mengikuti pelatihan. Calon pelatih harus kompeten dan pembelajar, yakni cepat belajar dan bertanya jika tidak paham serta berlatih dengan sungguh-sungguh. Pelatihan selama lima hari tidak akan cukup untuk menguasai dengan baik kurikulum 2013 sebaik apapun pelatihnya. Maka calon pelatih harus belajar mandiri atau kelompok setelah pelatihan berakhir. Proses rekrutmen pelatih menjadi penting, apakah pelatih memiliki kriteria pembelajar? Berintegritas?
Memiliki bakat pendidik? Kedua, peserta yaitu guru. Tidak semua guru pembelajar yang baik, sehingga pelatihan akan sia-sia atau tidak membekas. Keberhasilan pelatihan ditentukan oleh kondisi dan tipe gurunya. Sikap pembelajar dalam diri guru akan terus meningkatkan kompetensinya walaupun tanpa pelatihan. Sejalan dengan teori pembelajaran seumur hidup oleh M.J. Hatton (1997) bahwa guru guru harus memahami arti penting pembelajaran seumur hidup, sehingga dirinya merupakan individu yang melaksanakan belajar seumur hidup dimanapun dirinya berada.
Dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru dalam konteks program visiting teacher PAI terbatas pada ranah peningkatan wawasan implementasi kurikulum 2013, model dan metode pembelajaran, media pembelajaran dan real teaching. Sedangkan menurut Rosyada (2017, p. 217), kriteria profesionalisme terdapat tiga komponen yaitu kompetensi, sikap dan penghargaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa komponen penghargaan belum tercantum secara tertulis dalam petunjuk teknis program sebagai upaya peningkatan kesejahteraan guru.
c. Jumlah Kuota Visitor dan Penetapan Wilayah Sasaran
Menyoal permasalahan program visiting teacher PAI pada aspek kebijakan program, peneliti sedikit membahas terkait jumlah kuota visitor yang fluktuatif, dan urgensi penetapan wilayah sasaran. Jumlah kuota pelaksanaan program visiting teacher PAI terdata mengalami pergerakan yang fluktuatif. Jumlah peserta visiting pada tahun 2015 terdata sebanyak 90 orang, kemudian pada tahun 2016 dan tahun 2017 jumlah kuota peserta berkurang menjadi 60 orang per masing-masing tahun. Pada tahun 2018, kuota peserta visiting sedikit meningkat menjadi 75 orang, dan pada tahun 2019 jumlah kuota peserta menurun drastis menjadi 30 orang. Jumlah guru yang dikirim tentu berdampak pada luas sebaran wilayah yang menjadi sasaran visiting setiap tahunnya.
Penetapan jumlah kuota peserta merupakan salah satu tahapam perencanaan program yang juga berkaitan dengan penetapan wilayah sasaran program. Penetapan wilayah sasaran program visiting teacher PAI tahun 2019 terdiri dari 14 kabupaten 9 Provinsi. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal 2015-2019 terdapat 122 Kabupaten dari 24 Provinsi yang terkategori sebagai daerah tertinggal. Selain itu, dalam data Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) terdapat 41 Kabupaten/Kota dari 13 Provinsi yang dikategorikan sebagai wilayah Perbatasan (Kemendes, 2015). Dari data tersebut, lokasi sasaran khususnya yang terkategori sebagai daerah perbatasan dan tertinggal pada tahun 2019 menyasar 7 kabupaten dari total 14 kabupaten sasaran atau sebesar 50%.
Jumlah wilayah sasaran tersebut yang kemudian menjadi dasar penetapan jumlah kuota peserta yang tersedia. Dalam penetapan wilayah sasaran, penyelenggara program menyampaikan kriteria daerah dan direkomendasikan kepada Kantor Wilayah Kemenag Provinsi untuk mengajukan usulan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Nasri dan Ibu Farida dalam wawancara terkait penetapan lokasi program.
“Penetapan lokasi sasaran itu biasanya kita menyampaikan kriteria, kemudian kita minta kepada seluruh bidang di provinsi, meminta di daerah mana yang kiranya perlu didatangkan guru kunjung. Jadi ada usulan semacam permohonan atau usulan daerah-daerah yang akan dijadikan daerah tujuan program visiting teacher. Dari daerah yang sudah diusulkan tentu saja tidak bisa semua kita akomodir, kita pilih kita sesuaikan dengan ketersediaan anggaran baru kita tetapkan, berapa jumlahnya, derah mana saja dan berapa guru-guru yang bisa kita tempatkan disana.” (Nasri, 2020)
“Pemilihan lokasi sasaran berdasarkan rekomendasi dari Kanwil Kemenag Provinsi dengan merujuk kepada pemerataan akses dan daerah yang kualitas guru masih rendah.” (Farida I. , 2020)
Namun yang perlu menjadi perhatian adalah jumlah ideal atau target guru PAI dari berbagai provinsi yang akan ditingkatkan kompetensinya belum tertera dalam petunjuk teknis program, sehingga target capaian program dapat diketahui berapa lama program visiting akan berakhir. Urgensi data jumlah kompetensi guru yang masih rendah disetiap provinsi akan menjadi acuan pengembangan program sehingga pelaksanaan program dapat terukur dan lebih efisien.
d. Teori yang mendukung
Hasil analisa program visiting teacher dengan model CIPP menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru PAI dapat dibentuk melalui aktifitas program yang terukur, terencana dan berkelanjutan. Pemetaan kebutuhan guru PAI didaerah yang akan ditingkatkan kompetensinya menjadi aspek penting untuk optimalisasi pelaksanaan pelatihan kompetensi guru sehingga ukuran pelaksanaan program dapat ditentukan. Perencanaan program berbasis kebutuhan di daerah menjadi tindak lanjut untuk menetapkan strategi yang tepat sehingga program dapat berjalan efektif.
Pembinaan secara berkelanjutan kepada guru yang ditingkatkan kompetensinya harus dilaksanakan untuk pendampingan pasca pelatihan guru di daerah sasaran.
Pembahasan hasil analisa program visiting teacher PAI dengan teori profesionalisme guru peneliti sandingkan untuk melihat beberapa teori yang menjadi acuan pengembangan profesionalisme guru sehingga dapat menjadi kajian akademik dalam penelitian ini. Adapun pembahasan teori tersebut peneliti jabarkan sebagai berikut:
1) John T. Seyfarth
Seyfarth (2002) melalui manajemen sumber daya manusia menyatakan bahwa “pengembangan professional diartikan sebagai aktivitas atau proses yang dilaksanakan untuk memelihara atau meningkatkan keterampilan, sikap, pemahaman atau perbuatan professional dan mendorong individu dalam tugasnya saat ini maupun di masa mendatang.” Pengelolaan sumber daya manusia pada lingkungan pendidikan dilakukan dengan memberikan gambaran kedepan praktik pengelola untuk mengetahui kelemahan cakupan kegiatan sehingga dapat memulai dan menampilkan pekerjaan terbaik. Musfah (2011, p. 22) menjabarkan bahwa pengembangan profesionalisme guru secara individual dapat dilakukan melalui aktifitas seperti pelatihan, seminar, diskusi kelompok, melanjutkan pendidikan dan studi banding.
Manajemen sumber daya manusia difokuskan oleh Seyfatrh pada: 1) perencanaan kebutuhan staf; 2) persiapan seleksi; 3) mendapatkan informasi dan mengevaluasi pelamar; 4) seleksi administrasi dan dukungan personalia; 5) memotivasi personalia; 6) mengesahkan/pelantikan; 7) pengembangan professional bagi personil pendidikan; 8) mengevaluasi kinerja pegawai; 9) kompensasi dan penghargaan; 10) meciptakan lingkungan kerja yang produktif;
11) peraturan-peraturan tentang permasalahan dalam HRD; 12) kesepakatan bersama; 13) menyelesaikan konflik; 14) mengurangi dan mengakhiri kekerasan.
Pengelola lembaga pendidikan setidaknya mampu merespon seluruh aktifitas termasuk aspek manajemen sumber daya manusia yang mencakup pengembangan kompetensi.
Teori Seyfarth ini mendukung hasil analisis pelaksanaan program visiting teacher bahwa proses pelaksanaan pengembangan profesionalisme guru
dilakukan berdasarkan kebutuhan kompetensinya dan pembinaan secara berkelanjutan. Dalam pengertian bahwa peningkatan kompetensi guru meliputi tahapan proses yang panjang, tidak hanya dengan pelatihan beberapa hari guru dianggap professional sebagaimana yang dijelaskan Ibrahim (2013, pp. 7-8) bahwa peningkatan profesionalisme guru harus dilakukan secara sistematis, dalam arti direncanakan secara matang, dilaksanakan secara taat asas, dan dievaluasi secara objektif, sebab lahirnya seorang profesional tidak hanya melalui bentuk penataran dalam waktu enam hari, supervisi dalam sekali atau dua kali, dan studi banding. Dengan demikian, peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan berdampak luas bagi guru yang dilatih dan juga bagi peserta didik serta sekolah sasaran.
2) Cara Stillings Candal
Candal mengenalkan konsep "great teachers are not born, they are made"
bahwa guru yang hebat tidak dilahirkan tapi diciptakan. Profesionalisme guru dibentuk melalui berbagai tahapan kegiatan yang sistematis mulai dari kualifikasi pendidik hingga kompetensinya. Membentuk guru profesional, dalam hal ini guru baru, perlu didukung dengan keterlibatan pihak sekolah dan guru senior.
Dalam membina guru baru, perlu dibuat tahapan dengan target yang terukur seperti tahun pertama terlibat dalam lingkungan sekolah, tahun kedua terlibat dalam mengajar di kelas hingga guru binaan dapat mengajar secara mandiri.
(Candal, 2015, p. 22)
Salah satu konsep guru professional yang diciptakan adalah rekrutmen pendidik yang sangat ketat. Proses rekrutmen tersebut ditekankan pada aspek pemahaman visi misi lembaga atau arah tujuan yang ditetapkan. Kesesuaian kriteria calon pendidik dengan arah tujuan lembaga akan menimbulkan sikap profesionalitas dalam menjalankan tugasnya. Salah satu faktor keberhasilan guru yang menjadi perhatian Candal adalah latar belakang akademis pendidik yang menguasai bidang pendidikan (Candal, 2015, p. 15). Pendapat ini sejalan dengan Spencer dan Spencer (1993, p. 7) yang mengungkapkan bahwa kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Namun kompetensi guru juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar dan lamanya mengajar.
Hasil analisis pada program visiting teacher PAI dengan teori Candal sesuai dengan pengembangan konteks profesionalisme guru pada kompetensi sikap dan kepribadian visitor. Temuan teoritis terkait sikap profesionalitas visitor dalam menjalankan tugas sebagai trainer peningkatan kompetensi guru di daerah dibentuk melalui beberapa tahapan kegiatan dalam rangka penguatan kompetensi guru PAI. Hal ini selaras dengan apa yang dijelaskan oleh Rosyada (2017, p.
139) bahwa guru setidaknya memiliki capability dan loyality, yakni kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkan serta loyal terhadap tugas keguruan. Visitor
merupakan guru professional terpilih yang telah menguasai keilmuan bidang pendidikan dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan program.
3) Michael J. Hatton
Hatton (1997) menjelaskan teori pembelajaran seumur hidup yakni
“pembelajaran yang terjadi di dalam atau dihubungkan dengan institusi pelatihan dan pendidikan formal, termasuk kerja yang terkait dengan latihan di tempat kerja, seperti juga pembelajaran yang lebih luas dalam masyarakat dan rumah."
Guru sebagai garda terdepan pendidikan sepatutnya memahami nilai-nilai belajar sepanjang hayat. Musfah menegaskan bahwa guru harus memahami arti penting pembelajaran seumur hidup, sehingga dirinya merupakan individu yang melaksanakan belajar seumur hidup dimanapun dirinya berada. Semangat belajarnya terus tumbuh dalam kondisi apapun dan selalu belajar melalui media apapun (Musfah, 2011, p. 23).
Guru sepatutnya memiliki jiwa belajar atau belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada disekelilingnya sehingga berdampak pada pengembangan kompetensi pribadi. H.A. Malik Fajar dalam Muhaimin (2003, p. 210) mengungkapkan bahwa dunia pendidikan saat ini masih kekurangan guru, namun tenaga pengajar banyak. Hal tersebut ditamsilkan bahwa guru dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugas. Seorang dikatakan professional jika dirinya melekat sikap deedikatif yang tinggi, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model kerja yang sesuai dengan tuntutan zaman yang dilandasi dengan prinsip tugas mendidik adalah tugas
Guru sepatutnya memiliki jiwa belajar atau belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada disekelilingnya sehingga berdampak pada pengembangan kompetensi pribadi. H.A. Malik Fajar dalam Muhaimin (2003, p. 210) mengungkapkan bahwa dunia pendidikan saat ini masih kekurangan guru, namun tenaga pengajar banyak. Hal tersebut ditamsilkan bahwa guru dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugas. Seorang dikatakan professional jika dirinya melekat sikap deedikatif yang tinggi, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model kerja yang sesuai dengan tuntutan zaman yang dilandasi dengan prinsip tugas mendidik adalah tugas