BAB II KAJIAN PUSTAKA
NO KABUPATEN/KOTA
2. Analisis Input
Evaluasi input merupakan bagian dari kajian evaluatif untuk menentukan strategi pelaksanaan program dan penentuan sumber daya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Stufflebeam (1986, p. 173) bahwa evaluasi input memiliki orientasi utama untuk membantu menentukan program yang akan digunakan dan menghasilkan perubahan yang diperlukan. Evaluasi input harus mengidentifikasi dan menilai pendekatan yang relevan dalam merencanakan strategi dan prosedur kerja, serta menentukan sumber dan mengatur dalam pengambilan keputusan. Hasil dari evaluasi input adalah membantu mempertimbangkan strategi program dalam konteks kebutuhan dan keadaan lingkungan serta mengembangkan rencana yang lebih efisien.
Suharsimi Arikunto (1988, p. 40) mendeskripsikan analisis input meliputi pertimbangan tentang sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan program. Mengutip dari Stufflebeam, Arikunto menjelaskan bahwa analisis input dilakukan untuk menjawab pertanyaan berikut: 1) Apakah strategi yang digunakan oleh program sudah sesuai dengan pencapaian tujuan? 2) Apakah strategi yang diambil merupakan strategi yang resmi? 3. Strategi manakah yang sudah ada sebelumnya dan sudah cocok untuk pencapaian tujuan yang lalu? 4) Prosedur dan jadwal khusus manakah yang digunakan untuk melaksanakan strategi tersebut? 5) Apakah yang dapat dikatakan sebagai ciri khusus dari kegiatan yang dilaksanakan didalam program dan apa akibat yang ditimbulkan? Pertanyaan tersebut menjadi dasar analisa input untuk memberikan gambaran tentang sumber daya dan strategi pelaksanaan program.
Untuk memudahkan proses analisis, evaluasi input dibagi menjadi empat poin yaitu: ketersediaan tenaga pelatih, strategi pelatihan, kurikulum dan pembiayaan.
Dalam analisis input ini, untuk menentukan strategi pelaksanaan program dan peran masing-masing individu, maka peneliti membagi empat unsur diatas menjadi dua lingkup pembahasan. Pertama, prosedur pelaksanaan program yang meliputi:
ketersediaan tenaga pelatih, strategi pelatihan dan kurikulum. Tiga unsur tersebut merupakan pokok program yang ada dalam satu rangkaian kegiatan dan saling berkesinambungan. Kedua, dukungan program yakni terkait pembiayaan. Unsur tersebut sangat penting untuk terlaksananya program lebih maksimal. Adapun input program visiting teacher, peneliti jabarkan dalam analisis taksonomi berikut:
Gambar 4.5 Taksonomi Input Program Visiting Teacher PAI
Penyiapan kebutuhan tenaga pelatih, dalam hal ini visitor, dilakukan melalui tahapan seleksi melalui portofolio dan peserta terbaik dari hasil training of trainer Diklat PKB. Ketersediaan tenaga pelatih dalam pelaksanaan program telah memenuhi kebutuhan yang telah ditentukan, namun masih terdapat beberapa perbedaan antara petunjuk teknis secara ideal dengan proses seleksi visitor. Penetapan tenaga pelatih mengacu pada peserta terbaik diklat PKB yang secara administratif telah memiliki kemampuan sesuai dengan persyaratan visitor. Dalam petunjuk teknis, kriteria peserta (visitor) program visiting teacher belum tercantum prasyarat sebagai peserta terbaik dalam diklat PKB. Hal ini yang kemudian perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara program untuk mencermati lebih detail dalam petunjuk teknis program.
Kebijakan strategi pelaksanaan pelatihan melalui pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) telah menjadi ketetapan pada penyelenggaraan di tahun 2019.
Secara ideal, program PKB dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan guru. Proses pelaksanaan PKB berdasarkan Permenneg PAN RB Nomor 16 Tahun 2009 berdasarkan tiga tahapan yakni pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. Penetapan strategi pelatihan berkaitan dengan penetapan kurikulum (materi) pelatihan di daerah. Penentuan materi pelatihan di daerah sasaran berdasarkan kebutuhan guru di masing-masing wilayah. Penyesuaian kebutuhan materi sasaraan masing-masing kabupaten/kota beragam, seperti di Kota Tarakan yang membutuhkan materi terkait implementasi kurikulum 2013, model dan metode pembelajaran, penulisan karya ilmiah dan pelaksanaan real teaching melalui lesson study. Sedangkan kebutuhan materi di Kabupaten Pesisir Selatan mengacu pada model pembelajaran berbasis ICT, Penguatan Pendidikan Karakter, literasi pembelajaran, sekolah ramah anak, implementasi kurikulum PAI 2013 dan penguatan Islam rahmatan
lil ‘alamin. Kemudian kebutuhan materi di Kota Kupang adalah terkait pengembangan model dan metode pembelajaran.
Pemilihan metode pengajaran menyesuaikan dengan materi yang disampaikan selama proses pelatihan kompetensi guru di daerah sasaran. Secara umum, pelatihan kompetensi guru tidak hanya fokus teoritis terkait implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran yang ideal, namun juga diimbangi dengan praktik secara langsung sebagai bentuk penerapan materi yang telah dipelajari. Pendekatan tersebut memberikan pembelajaran langsung bagi guru sehingga depat memahami materi pelatihan secara menyeluruh. Adapun penggunaan metode pengajaran di Kota Tarakan menggunakan metode demonstrasi dan studi mandiri. Kemudian penggunaan metode pengajaran di Kabupaten Pesisir Selatan menerapkan metode sharing dan discuss learning. Sedangkan penggunaan metode pelatihan di kota Kupang menerapkan metode diskusi interaktif.
Pada aspek pembiayaan, pelaksanaan program visiting teacher cukup memadai.
Hal tersebut tercantum dalam anggaran DIPA Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2019 yang membiayai pelaksanaan program visiting teacher PAI. Komponen pembiayaan dalam pelaksanaan program meliputi: transportasi (pulang-pergi), konsumsi, penginapan dan honorarium. Ketersediaan anggaran telah direncanakan sebelumnya untuk pelaksanaan kegiatan mulai dari 28 November sampai dengan 6 Desember 2019 yang terdiri dari tiga pelaksanaan kegiatan yakni pelaksanaan bimtek, pengiriman guru ke daerah, dan evaluasi kegiatan. Namun yang menjadi perhatian peneliti adalah dukungan anggaran kegiatan visiting teacher PAI bagi organisasi profesi guru di daerah sasaran belum direncanakan secara merata. Temuan dilapangan terkait pemerataan bantuan pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya optimal sehingga masih terdapat keluhan dari KKG dan MGMP PAI yang belum menerima bantuan dan harus melaksanakan kegiatan pelatihan secara mandiri.
Persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara program untuk merencanakan seluruh kebutuhan kegiatan baik secara operasional kegiatan pusat hingga operasional kegiatan di daerah. Keterlibatan KKG dan MGMP dalam setiap program pemerintah perlu dioptimalkan karena organisasi guru merupakan wadah koordinasi untuk meninjau kondisi guru di daerah. Musfah (2018, p. 13) menyebutkan bahwa KKG dan MGMP merupakan sumber data tentang kondisi sekolah yang autentik sehingga bisa dimanfaatkan untuk bahan diskusi, seminar, workshop, penelitian, bahkan pengambilan kebijakan untuk pengembangan pendidikan.
Disamping itu, terdapat salah satu bagian yang turut menjadi dukungan program yaitu fasilitas kegiatan. Pada aspek fasilitas kegiatan secara umum cukup memadai dalam pelaksanaan kegiatan baik selama persiapan program, pelaksanaan program hingga kegiatan evaluasi. Walaupun dibeberapa daerah, pelaksanaan kegiatan pelatihan guru PAI dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan fasilitas yang ada. Namun hal tersebut bukan menjadi kendala utama bagi guru PAI di daerah sasaran, yang menjadi kebutuhan prioritas adalah peningkatan kompetensi masing-masing guru.
Secara garis besar, ketersediaan sumber daya dan strategi pelaksanaan program berupa pelatihan guru telah terselenggara dengan baik. Merujuk pada konsep yang dijabarkan oleh Manullang (2004, p. 203) bahwa pelatihan yang efektif sepatutnya mencakup 7 hal pokok sebagai berikut:
a. Tujuan pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan.
b. Materi pelatihan harus relevan dengan realisasi tujuan latihan.
c. Jadwal disusun sehingga kondusif bagi pelatih maupun peserta pelatihan.
d. Lokasi pelatihan dipilih yang memberi semangat dalam proses pelatihan.
e. Kuantitas dan kualitas peserta harus tidak mengganggu kepada jalannya pelaksanaan pelatihan.
f. Pelatihan harus dipilih yang memiliki kualifikasi yang diperlukan.
g. Metode pelatihan harus disesuaikan dengan peserta pelatihan dan materi yang diberikan.
Proses pelaksanaan program pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui program visiting teacher PAI merupakan salah satu aspek mendasar dalam penelitian ini untuk optimalisasi program peningkatan kompetensi guru. Dalam penyusunan konsep pengembangan keprofesian berkelanjutan secara ideal dijabarkan dalam Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 terkait unsur kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. Secara umum, pelaksanaan PKB pada program visiting teacher PAI mengacu pada pengembangan diri yang meliputi kegiatan: (1) perencanaan pendidikan dan program kerja; (2) pengembangan kurikulum, penyusunan RPP dan pengembangan bahan ajar; (3) pengembangan metodologi mengajar; (4) penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik; (5) penggunaan dan pengembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) dalam pembelajaran; (6) inovasi proses pembelajaran; (7) peningkatan kompetensi profesional dalam menghadapi tuntutan teori terkini; (8) penulisan publikasi ilmiah; (9) pengembangan karya inovatif; (10) kemampuan untuk mempresentasikan hasil karya; dan (11) peningkatan kompetensi lain terkait pelaksanaan tugas-tugas tambahan atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Namun terdapat beberapa daerah sasaran yang menyampaikan materi terkait penguatan publikasi ilmiah seperti pelaksanaan visiting teacher di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Sedangkan karya inovatif belum diterapkan pada program visiting teacher PAI.
Penetapan strategi pengembangan profesionalisme guru melalui PKB adalah pola perdana selama pelaksanaan program visiting teacher PAI berlangsung. Penerapan program PKB pada aspek pengembangan diri terbagi atas tiga materi pokok yaitu:
pedagogik 1, pedagogik 2 dan pedagogik 3. Materi pedagogik 1 meliputi: karakteristik peserta didik; analisis SKL, KI, KD dan kegiatan pembelajaran; analisis minggu efektif pembelajaran; program tahunan; program semester; silabus satuan pendidikan; kriteria ketuntasan minimal; pengembangan IPK; dan penyusunan RPP. Kemudian pedagogik 2 meliputi: konsep model pembelajaran; analisis SKL, KI, KD dan model pembelajaran, sintaks pembelajaran, pembelajaran abad 21, penyusunan LK pembelajaran; dan praktik model pembelajaran. Materi pada pedagogik 3 meliputi: konsep penilaian pembelajaran; analisis SKL, KI, KD dan penilaian pembelajaran; pengembangan
penilaian sikap; pengembangan penilaian pengetahuan; pengembangan penilaian keterampilan; pengembangan IPK HOTS; penyusunan soal HOTS; analisis butir soal;
pengolahan, pelaporan dan pemanfaatan penilaian; dan analisis hasil penilaian dan tindak lanjut.
Penggunaan strategi pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) pada program visiting teacher PAI secara terstruktur dapat menilai kebutuhan kompetensi daerah berdasarkan materi pelatihan. Selain itu juga, pola PKB dapat menjadi bidang pemetaan bagi Kemanterian Agama dalam meninjau kebutuhan kompetensi guru agama pada masing-masing provinsi sasaran. Ibrahim (2013, p. 7) menjelaskan bahwa peningkatan profesionalisme guru harus dilakukan secara sistematis, dalam arti direncanakan secara matang, dilaksanakan secara taat asas, dan dievaluasi secara objektif. Dalam hal ini, konsep pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan mengarahkan pendidik dalam upaya peningkatan profesional guru yang mampu menguasai pemahaman pendidikan baik secara teoritik maupun praktik.
Berdasarkan jabaran analisis input diatas, secara umum strategi pelaksanaan program pada ketersediaan tenaga pelatih, materi pelatihan, metode pelatihan, fasilitas kegiatan dan pembiayaan cukup memadai. Untuk melihat relasi tersebut peneliti deskripsikan pada tabel berikut: di daerah sesuai dengan arahan dan tujuan program.
Ketersediaan tenaga pelatih (visitor) dalam pelaksanaan pelatihan guru PAI di daerah sasaran menjadi salah satu kunci utama pelaksanaan program visiting teacher sebagaimana tujuan program yang telah ditetapkan.
Strategi pelatihan Pelaksanaan program visiting menggunakan pola
pengembangan keprofesian berkelanjutan yang terdiri atas tiga komponen yaitu
pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif..
Pelaksanaan pelatihan dalam peningkatan kompetensi guru PAI menggunakan pola pengembangan keprofesian berkelanjutan
Kurikulum Penetapan kurikulum atau materi pelatihan berdasarkan materi pengembangan keprofesian berkelanjutan yang terdiri dari pedagogik 1, pedagogik 2 dan pedagogik 3.
Penetapan materi pelatihan
penyusunan materi kegiatan dalam peningkatan kompetensi guru.
Pembiayaan Pembiayaan program meliputi:
transportasi, konsumsi, penginapan dan honorarium
Pembiayaan program menjamin terlaksananya program visiting teacher PAI. Namun dukungan program kegiatan di daerah yang melibatkan organisasi profesi guru belum sepenuhnya merata.
Tabel 4.29 Rumusan Komponen Input dan Strategi Pelaksanaan Program Visiting Teacher PAI
Hasil analisis input menunjukkan bahwa program visiting teacher PAI memiliki empat komponen utama dalam peningkatan kompetensi guru PAI diantaranya: tenaga pelatih yang mumpuni, strategi pelatihan yang tepat, kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan guru, serta ketersediaan biaya untuk menunjang program. Keempat komponen tersebut mendeskripsikan implementasi strategi program visiting teacher dalam upaya peningkatan kompetensi guru. Dalam implementasinya, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara program yaitu optimalisasi organisasi profesi guru. Dukungan program melalui organisasi profesi guru perlu menjadi perhatian penyelenggara program agar optimalisasi program dapat terwujud.