BAB II KAJIAN PUSTAKA
E. Model Evaluasi yang Digunakan 1. Evaluasi Model CIPP
CIPP merupakan singkatan dari kata Context, Input, Process and Product. Model CIPP ini dikembangkan oleh Stufflebeam di Ohio State University. Model CIPP ini biasa digunakan pada kegiatan mengevaluasi program pendidikan. Peneliti memilih model evaluasi CIPP ini karena, bersifat objektif dan efektif untuk menilai sebuah program. Pelaksanaan CIPP bersifat komperhensif untuk mengarahkan terlaksananya evaluasi terhadap objek program, personalia, produk, dan sistem sehingga model evaluasi ini sesuai dengan lingkup penelitian yang menitikberatkan pada seluruh komponen program.
Menurut Stufflebeam (1986, p. 159) model evaluasi CIPP merupakan sebuah proses menggambarkan, memperoleh dan memberikan informasi deskriptif dan subyektif tentang nilai dan manfaat dari beberapa objek tujuan, desain, implementasi, dan dampak untuk mengarahkan pada pengambilan keputusan, menyediakan catatan yang akuntabel, dan mengembangkan pemahaman terhadap fenomena yang terlibat.
Berdasarkan definisi diatas, terdapat tiga tujuan utama dari pelaksanaan model CIPP, yaitu mengarahkan pada pengambilan keputusan (decision maker), menyediakan catatan yang dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel) dan mengembangkan pemahaman terhadap peristiwa yang terlibat. Hal tersebut menunjukkan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses yang meliputi tiga tahapan: menggambarkan, memperoleh dan menyediakan informasi.
Pada aspek pengambilan keputusan dan akuntabilitas, Stufflebeam (1986, p. 164) menjabarkannya pada tabel berikut:
Tabel 2.6 Model Pengambilan Keputusan dan Akuntabilitas dengan CIPP Sumber: Stufflebeam (1986)
Skema tersebut mengarahkan penilai dalam merancang dan melaksanakan evaluasi serta melaksanakan programnya, terlepas dari seberapa sempit atau luasnya informasi yang dibutuhkan. Stufflebeam (1986, p. 165) menjelaskan bahwa penggunaan
pendekatan CIPP akan menghasilkan informasi yang relevan dengan menjawab hal-hal berikut:
a. Apa kebutuhan yang ditangani? Seberapa luas dan pentingnya kebutuhan tersebut? Sejauh mana tujuan program mencerminkan kebutuhan yang dinilai? (informasi konteks)
b. Apa rencana prosedur program, pegawai dan anggaran yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan? Apa alternatif yang dipertimbangkan? Mengapa hal tersebut yang dipilih dibandingkan yang lain? Sejauh mana hal tersebut logis, potensi berhasil tinggi, dan hemat untuk memenuhi kebutuhan yang dinilai? (informasi input)
c. Sejauh mana rencana program dilaksanakan? Bagaimana dan alasan apa harus dilakukannya modifikasi? (informasi proses)
d. Apa hasil positif dan negative yang sengaja dan tidak sengaja diamati?
Bagaimana para pemangku kebijakan menilai hasil dan manfaat? Sejauh mana kebutuhan target sasaran terpenuhi? (informasi produk)
Stufflebeam (1986, pp. 169-177) mendeskripsikan model evaluasi CIPP (context, input, process dan product) sebagai berikut:
a. Evaluasi context adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari beberapa objek seperti lembaga, program, populasi atau personal target dan mengarahkan pada peningkatan. Tujuan utama dari model ini adalah untuk menilai keseluruhan objek, mengidentifikasi kekurangan, mengidentifikasi kekuatan yang digunakan untuk memperbaiki kekurangan, mendiagnosa masalah dan solusi untuk peningkatan objek yang lebih baik dan secara umum mencirikan lingkungan program. Evaluasi konteks juga bertujuan untuk menilai apakah tujuan dan prioritas selaras dengan kebutuhan objek sasaran. Hasil dari evaluasi konteks harus memberikan dasar yang kuat untuk menyesuaikan atau menetapkan tujuan dan prioritas serta mentargetkan perubahan yang dibutuhkan.
b. Evaluasi input memiliki orientasi utama untuk membantu menentukan program yang akan digunakan dan menghasilkan perubahan yang diperlukan. Evaluasi input harus mengidentifikasi dan menilai pendekatan yang relevan dalam merencanakan strategi dan prosedur kerja, serta menentukan sumber dan mengatur dalam pengambilan keputusan. Hasil dari evaluasi input adalah membantu mempertimbangkan strategi program dalam konteks kebutuhan dan keadaan lingkungan serta mengembangkan rencana yang lebih efisien.
c. Evaluasi process adalah pemeriksaan berkelanjutan berdasarkan implementasi program yang direncanakan. Salah satu objek evaluasi proses adalah memberikan feedback kepada manajer atau staff tentang sejauh mana pelaksanaan program sesuai dengan jadwal, sesuai rencana, dan penggunaan sumber daya secara efisien. Objek evaluasi lainnya adalah memberikan panduan untuk perubahan (modifikasi) atau menjelaskan rencana sesuai dengan kebutuhan. Hasil dari evaluasi proses harus memberikan catatan yang luas sesuai dengan pelaksanaan program, bagaimana perbandingan dan pengunaan biaya secara keseluruhan. Evaluasi ini untuk mengetahui
seberapa jauh program kegiatan dilaksanakan dan menyediakan informasi untuk keputusan program.
d. Evaluasi product bertujuan untuk mengukur, menafsirkan dan menilai pencapaian sebuah program. Tujuan utama dari evaluasi produk adalah untuk memastikan sejauh mana program telah memenuhi kebutuhan kelompok yang akan dilayaninya. Evaluasi produk harus melihat secara luas dampak dari program yang dilaksanakan, termasuk dampak yang disengaja dan tidak disengaja, serta hasil positif dan negatif. Dampak tersebut akan menjadi pertimbangan dalam pengambilan tindakan guna memutuskan program dilanjutkan, direvisi atau diberhentikan.
Lebih lanjut, stufflebeam (1986, p. 167) menggambarkan diagram alur terkait peran evaluasi CIPP dalam perbaikan sistem suatu program.
Gambar 2.1 Diagram Alur evaluasi CIPP stufflebeam Sumber: Stufflebeam (1986)
Penggunaan model evaluasi CIPP mampu mengevaluasi hasil beserta seluruh aspek context, input, process dan product secara menyeluruh sehingga pengambilan keputusan bagi penyelenggara program dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan program dimasa mendatang.
2. Langkah-Langkah Evaluasi Model CIPP
Suharsimi Arikunto (1988, pp. 38-43), sebagaimana mengutip Stufflebeam (1971), menjabarkan penilaian dengan model CIPP merupakan tipe penilaian yang terikat pada pengambilan keputusan. Untuk memberikan arahan bagi evaluator dalam mengumpulkan dan menganalisis data sebuah program maka masing-masing komponen
terkait context, input, process, dan product sepatutnya dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut:
Penilaian konteks setidaknya dapat menjawab 4 (empat) pertanyaan berikut:
a. Kebutuhan program apasaja yang belum terpenuhi oleh kegiatan program?
b. Tujuan pengembangan manakah yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan?
c. Tujuan pengembang manakah yang berhubungan dengan kegiatan yang menyumbang masyarakat?
d. Tujuan manakah yang paling mudah dicapai?
Kemudian pada penilaian input dilakukan untuk menjawab pertanyaan berikut:
a. Apakah strategi yang digunakan oleh program sudah sesuai dengan pencapaian tujuan?
b. Apakah strategi yang diambil merupakan strategi yang resmi?
c. Strategi manakah yang sudah ada sebelumnya dan sudah cocok untuk pencapaian tujuan yang lalu?
d. Prosedur dan jadwal khusus manakah yang digunakan untuk melaksanakan strategi tersebut?
e. Apakah yang dapat dikatakan sebagai ciri khusus dari kegiatan yang dilaksanakan didalam program dan apa akibat yang ditimbulkan?
Beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan penilaian proses yaitu:
a. Apakah kegiatan program sudah sesuai dengan jadwal yang ditentukan?
b. Perlukah staf pelaksana diberikan orientasi terkait mekanisme kegiatan program?
c. Apakah fasilitas dan bahan penunjang lain telah digunakan secara tepat?
d. Hambatan-hambatan penting apakah yang dijumpai selama pelaksanaan program berlangsung dan perlu diatasi?
Pada tahap akhir yang berkenaan dengan penilaian hasil (produk) terdapat 4 (empat) pertanyaan sebagai berikut:
a. Tujuan-tujuan manakah yang sudah dicapai?
b. Pernyataan-pernyataan seperti apakah yang dapat dibuat yang menunjukkan hubungan antara spesifikasi prosedur dengan hasil nyata dari kegiatan program?
c. Kebutuhan individu manakah yang telah terpenuhi sebagai akibat dari kegiatan program?
d. Hasil jangka panjang apakah yang Nampak sebagai akibat dari kegiatan program?
Lebih lanjut, Arikunto (1988, p. 44) menjelaskan terdapat tiga dimensi dalam model CIPP yaitu, tipe evaluasi, manfaat evaluasi dan tahapan evaluasi. Tipe evaluasi berkaitan dengan konteks, input, proses hasil. Manfaat evaluasi berkaitan dengan pengambilan keputusan dan bukti pertanggungjawaban. Pada tahap evaluasi dilakukan
dengan menggambarkan (delineating), memperoleh (obtaining) dan menyediakan (providing). Tiga tahapan tersebut merupakan dasar dari penerapan model CIPP.
a. Menggambarkan (delineating) berkaitan dengan pertanyaan seperti apa yang ajukan
b. memperoleh (obtaining) berkaitan dengan pertanyaan bagaimana cara memperoleh informasi yang diperlukan?
c. menyediakan (providing) berkaitan dengan pertanyaan bagaimana informasi yang diperoleh akan dilaporkan?
3. Kelebihan dan Kekurangan Evaluasi Model CIPP
Model evaluasi ini memiliki kelebihan dan kelemahan, diantara kelebihan yang dimiliki model evaluasi ini adalah bersifat komperhensif atau menyeluruh yang mana evaluasi tidak hanya untuk hasil tetapi 4 aspek lainnya seperti context, input, process dan product. Lengkapnya informasi dari model evaluasi ini guna pengambilan keputusan, kebijakan dan untuk menyusun program-program selanjutnya (Eko, 2015).
Kelengkapan data secara komprehensif dapat memberikan gambaran bagi penyelenggara program untuk menetapkan keputusan terkait berlangsungnya program.
Sedangkan kelemahan model CIPP diantaranya adalah dibutuhkannya waktu dan biaya yang lebih karena dalam penerapan model pada program pembelajaran memiliki tingkat yang rendah jika tanpa adanya kolaborasi (Eko, 2015). Optimalisasi pengumpulan data program dan proses penilaian diperlukan waktu yang cukup dan dukungan biaya penelitian sehingga proses evaluasi program tidak dapat dilaksanakan dalam waktu singkat.