• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Konsep Pendidikan Agama Islam

1. Sejarah Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia

Secara historis, kebijakan Pendidikan Agama Islam telah ada sejak zaman penjajahan. Pada masa penjajahan Belanda, Pendidikan agama sudah berjalan di masyarakat namun tidak diajarkan pada sekolah umum, dengan alasan bahwa pemerintah Belanda bersikap netral terhadap pendidikan Agama sehingga belajar agama menjadi tanggungjawab keluarga (Imam Tolhah, 2016). Pendidikan Agama di Indonesia saat itu dilakukan secara tradisional dengan tujuan untuk penyebaran agama.

Geertz (Geertz, 2014) mengungkapkan bahwa Islam di Indonesia berkembang secara gradual, liberal dan akomodatif. Melalui pendekatan akulturasi budaya, Islam dapat berkembang dan diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah Belanda melakukan politisasi pendidikan yang diskriminatif sebagai baagian strategi penjajah. Usulan dari wakil-wakil rakyat di Volksraad (semacam DPR) agar pendidikan Agama Islam diajarkan disekolah selalu ditolak oleh pemerintah penjajah (Imam Tolhah, 2016).

Pada masa pemerintahan Jepang, Pendidikan Agama Islam mendapatkan ruang gerak untuk diajarkan di sekolah umum. Pendidikan sekolah merupakan salah satu wilayah yang dimanfaatkan pemerintah Jepang sebagai sarana mendoktrin masa (Kurasawa, 1993). Pemerintahan Jepang meningkatkan posisi agama Islam dan memberikan kewenangan pada aspek sosial dan politik, hal tersebut dibuktikan dengan mempercayakan jabatan Kepala Kantor Urusan Agama kepada orang Indonesia.

Organisasi Islam Masyumi turut menjadi pegawai Pemerintah, baik administrasi pusat maupun daerah yang bertanggung jawab dalam masalah-masalah Islam. Pendekatan ini dilakukan oleh pemerintahan Jepang untuk mencari simpati masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sehingga diharapkan dapat memperlancar agenda politik mereka yang lebih besar. Pada periode Jepang inilah awal Pendidikan Agama diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah walaupun baru dipraktikkan di Sumatera, namun di wilayah lain menerapkan Pendidikan Budi Pekerti (Imam Tolhah, 2016).

Pasca kemerdekaan, Pendidikan Agama berada dibawah naungan Kementerian Agama. Tugas bagian pendidikan saat Kementerian Agama dibentuk adalah mengatur pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah serta menyediakan guru yang cukup pengetahuannya; mengadakan suatu Sekolah Menengah Agama yang perlu menjadi contoh orang-orang yang ingin mendirikan secara partikelir; mengurus pelajar-pelajar yang pergi ke negeri-negeri Islam; mencari buku-buku pelajaran agama; mengadakan suatu Sekolah Penghulu untuk keperluan masjid; dan memperhatikan pesantren (Imam Tolhah, 2016). Sejarah perkembangan Pendidikan Islam tersebut memberikan paradigma yang luas tentang corak kebijakan terkait praktik pendidikan agama di sekolah. Secara garis besar, pendidikan Agama di Indonesia memiliki latar belakang yang kuat dan tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

2. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Definisi Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki beberapa perspektif pengertian dari beberapa kalangan. Menurut Abdul Majid (Majid, 2012), Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam menyiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang ditelah ditetapkan. Zakiah Darajat (1987) dalam Abdul Majid menjelaskan Pendidikan Agama Islam merupakan usaha untuk membina peserta didik dalam memahami kandungan ajaran Islam secara utuh dan dapat mengamalkannya. Didalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 211 Tahun 2011, disebutkan bahwa definisi Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan.

Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan kepada peserta didik dalam lembaga pendidikan formal mulai jenjang pendidikan dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Hal ini berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 12 Ayat 1 Poin A yang menyebutkan bahwa “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”. Juga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Pasal 3 tertulis bahwa “Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama”.

Praktik Pendidikan Agama Islam di sekolah lebih menekankan pada aspek pengamalan. Muhaimin dalam Susanto (Susanto, 2014) menjelaskan Pendidikan

Agama Islam disekolah dapat diajarkan mulai dari tahap kognisi, kemudian menuju tahap afeksi dan selanjutnya tahap psikomotorik, yaitu pengamalan ajaran Islam oleh para siswa yang bersangkutan. Pendidikan agama memiliki prinsip pengajaran yang sifatnya doktrinasi untuk mengikuti ajarannya dan tidak bisa bersifat netral seperti mata pelajaran lainnya, sehingga para siswa dituntut untuk mengikuti dan mengamalkan yang telah diketahuinya sebagai bagian dari proses pembelajaran (Nugraha, 2019). Mengacu pada definisi diatas, pendidikan agama Islam di sekolah tidak hanya diajarkan pada aspek kognitif saja melainkan juga pada pengamalannya untuk membentuk sikap dan kepribadian siswa.

3. Tujuan Dan Fungsi Pendidikan Agama Islam

Penyusunan tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah ditetapkan oleh pemerintah penyelenggara pendidikan yang mengurusi bidang agama. Dalam hal ini Kementerian Agama adalah penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan agama sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Tujuan tersebut termaktub dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 211 Tahun 2011 tentang Standar Nasional Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah, yaitu: berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Tujuan dalam regulasi tersebut mengarahkan agar setiap peserta didik memiliki karakter religious dalam perbuatan dan keilmuan serta dapat menyerasikannya dalam kompetensi siswa masing-masing. Penetapan tujuan ini menjadi arah pendidikan agama Islam kedepan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pada perspektif lain, terdapat beberapa pendapat yang mengemukakan tentang tujuan Pendidikan Agama Islam. Majid (Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 2012) menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di lingkungan sekolah dan madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman para siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan, berbangsa dan bernegara serta dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Arifin (Arifin, 2012) menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam yang hendak dicapai adalah terbentuknya kepribadian yang utuh sebagai manusia individual dan sosial serta hamba Tuhan yang mengabdi diri kepada-Nya. Nugraha (Nugraha, 2019) mengemukakan bahwa tujuan akhir pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti adalah membentuk keimanan dan ketaqwaan yang kokoh bagi siswa setelah mempelajari materi yang diberikannya sebagai salah satu didalam mencapai kompetensi sikap spiritual.

Berdasarkan tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa dan membentuk kepribadian yang islami dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkannya, lingkungan dengan frame religius mampu memberikan pengaruh positif dalam mengendalikan diri peserta didik. Kehidupan dalam lingkungan positif dapat melatih peserta didik untuk menghindari hal-hal bersifat negatif seperti tawuran,

narkoba, pergaulan bebas dan lainnya. Dukungan dari stakeholder dan masyarakat untuk bersama membangun lingkungan yang positif sangat membantu percepatan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah.

Pendidikan Agama sebagai fungsi juga termaktub dalam KMA Nomor 211 Tahun 2011. Fungsi tersebut yaitu membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. Fungsi Pendidikan Agama Islam di sekolah mencakup: 1) Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; 2) peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga; 3) penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial; 4) perbaikan kesalahan, kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari; 5) pencegahan peserta didik dari dampak negatif budaya asing yang dihadapi sehari-hari; 6) pengajaran tentang ilmu keagamaan baik teori maupun praktik;

7) penyaluran bakat-minat peserta didik di bidang Keislaman; dan 8) penyelarasan antara potensi dasar (fithrah mukhallaqah) peserta didik dengan agama (fithrah munazzalah) sebagai acuan hidup agar peserta didik tetap berjalan di atas nilai-nilai Islam.

Fungsi Pendidikan Agama Islam di sekolah berdasarkan regulasi tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam diarahkan pada sikap merawat keberagaman pada lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Melaui pengajaran agama yang utuh dan sikap moderat akan memberikan wawasan yang luas bagi peserta didik untuk menghargai perbedaan. Arraiyyah (Arraiyyah, 2016) mengungkapkan fungsi pendidikan agama pada perspektif Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam yaitu mengusung tema Islam rahmatan lil’alamin sebagai respon terhadap gejala kekerasan yang ditunjukkan oleh siswa. Tindak kekerasan dalam be ntuk penganiayaan, tawuran antar kelompok, pelecehan seksual, pemalakan, pembunuhan dan bullying. Fungsi pendidikan agama tersebut dinilai sudah tepat untuk mencegah tindakan-tindakan lain yang akan merusak moral siswa dan juga pemahaman radikal.

C. Konsep Peningkatan Kompetensi Guru