SISTEM PRODUKSI PETERNAKAN DAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN 07 November 2020
ISBN : 978-602-50946-7-5
52 Kandungan Logam Berat (Cd dan Pb) Pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)
yang Dipasarkan Di Kota Padang
Yusra
1*, Deby Purnama Sari
1, Yempita Efendi
1, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta
ABSTRAK
* Korespondensi Penulis e-mail:
Ikan tongkol (Euthynnus affinis) memiliki peranan penting bagi sektor perikanan tangkap Kota Padang dan merupakan komoditas ekspor, oleh karena itu harganya sangat ditentukan oleh mutu hasil tangkapan termasuk kandungan logam berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis konsentrasi logam berat (Cd dan Pb) yang terdapat pada ikan tongkol yang dipasarkan di Kota Padang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sampel diambil pada 15 tempat, yang terdiri atas 5 Tempat Pendaratan Ikan (TPI), 5 pasar dan 5 pedagang keliling. Konsentrasi logam berat diukur menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA).
Rata-rata konsentrasi logam berat pada ikan tongkol yang dipasarkan di 5 TPI adalah Cd 0,05 mg/kg dan Pb 1,5 mg/kg; pada ikan tongkol yang dipasarkan di 5 (lima) pasar adalah: Cd 0,03mg/kg dan Pb 1,9mg/kg;
serta ikan yang dijual oleh beberapa pedagang keliling mengandung Cd 0,01mg/kg dan Pb 1,9mg/kg. Nilai kandungan Cd pada ikan tongkol yang dipasarkan pada beberapa TPI, pasar dan pedagang keliling di Kota Padang masih berada di bawah batas aman konsumsi, namun kandungan Pb sudah melewati SNI.
Kata kunci: kandungan, Cd, Pb, tongkol, Kota Padang
PENDAHULUAN
Sumatera Barat memiliki potensi yang cukup besar dalam bidang perikanan tangkap. Jenis ikan yang biasa dijadikan komoditas ekspor penting berasal dari kelompok ikan tuna tongkol dan cakalang (TTC), kerapu dan lobster (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2019). Jenis ikan yang juga bernilai ekonomis tinggi antara lain adalah:
tuna, cakalang, tongkol, kembung, dan laying (Handayani et al., 2015). Kota Padang merupakan daerah yang terletak di pesisir pantai dengan tingkat konsumsi ikan tongkol yang cukup tinggi.
Ikan tongkol (Euthynnus affinis) memiliki kandungan protein yang tinggi serta kaya akan asam lemak omega-3. Setiap 100 gramnya mempunyai komposisi kimia yang terdiri dari air 69,40%, lemak 1,50%, protein 25,00% dan karbohidrat 0,03% (Sanger, 2010). Ikan tongkol memiliki komposisi proksimat antara daging merah dan daging putih yang berbeda. Kandungan protein daging merah ikan tongkol yaitu 54,2% dan 68,4%
pada daging putih; kandungan lemak daging putih
1,8% dan daging merah 5,6%; serta kadar abu daging putih berkisar 2,5% dan daging merah 3,3%
(Hafiludin, 2011). Kesegaran ikan adalah hal yang sangat penting untuk menentukan keseluruhan mutu dari suatu produk perikanan. Mutu kesegaran yang mencakup rupa atau kenampakan, rasa, bau, dan juga tekstur akan dinilai oleh pembeli atau pengguna dari produk tersebut (Winarni et al., 2003).
Daerah pesisir merupakan ekosistem yang mudah terkena dampak aktivitas manusia dan kegiatan pembangunan, meliputi perkapalan, dumping di laut, pertambangan, eksplorasi dan eksploitasi minyak (Sugara, 2012). Salah satu indikator gangguan lingkungan di laut adalah kandungan logam berat dalam perairan akibat terpapar dari kegiatan industri (Anggraeny, 2010 tesis in). Logam yang terdapat di perairan akan diserap oleh organisme melalui proses biologis dan akhirnya terakumulasi (Said et al,. 2009). Pb dan Cd adalah logam yang paling banyak mencemari
53
perairan. WHO mengeluarkan peraturan mengenai asupan logam berat Cd dan Pb yang diperbolehkan dalam makanan yaitu sebanyak 400-500 µg/orang/minggu dan 3 µg/orang/minggu. Batas maksimum cemaran logam Cd ikan dan hasil olahannya adalah 0,1 mg /kg, dan Pb 0,3 mg /kg (Standar Nasional Indonesia 2729 : 2013).
Konsumsi ikan maupun produk olahan ikan yang tercemar logam berat berpotensi dapat menimbulkan berbagai penyakit, baik jangka pendek maupun jangka panjang (Wanna et al., 2017). Jika makanan yang tercemar oleh logam Pb dan Cd dikonsumsi oleh manusia akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal dan hati, dalam konsentrasi tinggi dapat mematikan (Damin et al., 2013).
Sudah banyak penelitian tentang kandungan logam berat yang terdapat pada air laut dan daging ikan.
Arifin et al., (2012), menyatakan bahwa kandungan logam dalam air laut disekitar Bungus Teluk Kabung berturut-turut: Cu 0,0058-0,0720 ppm, Cd 0,0063 – 0,0103 ppm, Cr 0,089 – 0,170 dan Pb 0,0630 – 0,0907 ppm. Konsentrasi tembaga dan timbal pada perairan Muaro Kota Padang masih berada di bawah level baku mutu yang dikeluarkan oleh baku mutu air golongan A, sedangkan untuk logam berat merkuri telah melebihi baku mutu yang diizinkan (Puyanti dan Deswati, 2012). (Sulistiono et al., 2018) meneliti kandungan logam berat pada ikan beloso (Glosogobius giuris) di perairan Segara Anakan bagian Timur, Cilacap, Jawa Tengah.
Tanjung et al., (2019), menganalisis kandungan logam berat pada ikan kakap putih (Lates calcarifer) di Perairan Mimika Papua. Selanjutnya Roza et al., (2019), meneliti kandungan Cd, Cu dan Pb pada air permukaan dan sedimen permukaan di muara-muara sungai Kota Padang. Namun penelitian tentang kandungan logam berat yang terdapat pada daging ikan khususnya ikan tongkol belum pernah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis konsentrasi logam berat (Cd dan Pb) yang terdapat pada ikan tongkol yang dipasarkan di Kota Padang.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2018. Lokasi penelitian di beberapa tempat di Kota Padang yaitu 5 sampel dari Tempat Pendaratan Ikan (TPI), 5 dari pasar tradisional dan 5 pedagang keliling. Pengujian kandungan logam berat pada ikan dilakukan di Laboratorium LLDIKTI X, Padang, Sumatera Barat.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: box styrofoam, kamera, alat tulis, microwave, pisau, seperangkat alat AAS, aluminium foil, cawan porselen, labu takar, gegep (penjepit), timbangan digital dengan kapasitas ≥ 2 kg dan sensitifitas 0,1 g, tissue. Bahan yang digunakan adalah ikan Tongkol segar yang berasal dari 15 tempat, aquadest, HNO3 65% , H2O2 air deinonisasi, larutan standar Pb dan Cd, HNO3 dan es curai.
Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Dalam pengambilan sampel digunakan metode purposive sampling.
Sampel yang diamati adalah ikan tongkol segar berasal dari 15 tempat di Kota Padang yang telah dipilih sesuai dengan semua persyaratan sampel yang dibutuhkan. Setiap sampel yang dibeli diberi kode sampel. Jenis ikan tongkol yang dijadikan sampel memiliki berat ± 250 gr. Setelah dibeli, ikan dimasukkan kedalam box styrofoam dan dilapisi es curai untuk mempertahankan tingkat kesegarannya selama perjalanan menuju laboratorium.
Penentuan Kadar Logam Berat Timbal (Cd) dan Kadmium (Pb) (SNI 2354.5:2011)
Pengujian dilakukan dengan metode destruksi basah. Sampel ikan dihaluskan dengan blender/homogenizer hingga menjadi partikel kecil.
Sampel ditimbang sebanyak 2 gram ke dalam tabung sampel (vessel) kemudian dicatat beratnya (W). Destruksi dilakukan ke labu takar 50 ml, secara berurutan ditambahkan 5ml – 10 ml HNO3
65% , 2 ml H2O2 dan air deinonisasi sampai tanda batas yang diinginkan. Proses destruksi dilakukan hingga larutan berwarna jernih. Larutan standar kerja Pb dan Cd disiapkan masing-masing minimal 5 (lima) titik konsentrasi. Larutan standar kerja, contoh dan spiked dibaca menggunakan alat Spektrofotometer Serapan Atom Graphite Fumace pada panjang gelombang 283,3 nm untuk Pb dan 228,8 nm untuk Cd. Perhitungan konsentrasi Pb dan Cd yang dijelaskan dalam SNI 2354.5:2011 yaitu ;
Keterangan :
D = Konsentrasi sampel μg/l dari hasil pembacaan AAS E = Konsentrasi blanko contoh μg dari hasil pembacaan
AAS
Fp = Faktor Pengenceran
V = Volume akhir larutan sampel yang disiapkan (ml), harus diubah ke dalam satuan liter.
W = Berat sampel (g)
54 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan Logam Cd pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)
Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 15 sampel ikan Tongkol terdapat 1 sampel yang melebihi batas aman konsumsi yaitu ikan Tongkol dari TPI Muaro Gantiang. Pencemaran yang terjadi akibat logam Cd tidak hanya berasal dari sumber perairan. Ikan dari TPI Muaro Gantiang ini ditangkap menggunakan kapal penangkapan ikan jenis payang dengan daerah penangkapan di
sekitar perairan Pulau Bindalang dan Toran.
Kurang baiknya penanganan dari awak kapal payang saat membawa ikan hasil tangkapan bisa jadi menjadi salah satu pemicu tingginya kandungan logam Cd. Mengingat kandungan Cd pada bahan bakar dan minyak pelumas mencapai 0,5 ppm. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Clark (2003) yang mengatakan bahwa sumber dari pencemaran Cd dan Pb di perairan dan pada ikan berasal dari tumpahan minyak, buangan dan proses di kapal, buangan industri ke laut, proses pengeboran minyak di laut dan buangan pestisida dari pertanian
Tabel 1. Hasil Pengujian Kadar Cd (Kadmium) Ikan Tongkol di Kota Padang
No Sampel Kadar Cd (mg/kg) Kategori (Maks 0,1 mg/kg)
1 TPI Gaung 0,000 Aman
2 TPI Muaro Padang 0,000 Aman
3 TPI Pasia Nan Tigo 0,000 Aman
4 TPI Muaro Gantiang 0,251 Tercemar
5 TPI Ulak Karang 0,000 Aman
6 Pasar Gaung 0,036 Aman
7 Pasar Bandar Buat 0,084 Aman
8 Pasar Raya 0,007 Aman
9 Pasar Alai 0,000 Aman
10 Pasar Lubuk Buaya 0,000 Aman
11 Pedagang Keliling Mata Air 0,007 Aman
12 Pedagang Keliling Tunggul Hitam 0,060 Aman
13 Pedagang Keliling Lubuk Minturun 0,007 Aman
14 Pedagang Keliling Kayu Kalek 0,000 Aman
15 Pedagang Keliling Aia Pacah 0,000 Aman
Selain itu sumber Cd di perairan berasal dari pupuk phosfat, endapan sampah dan campuran seng (0,2% Cd sebagai bahan impurity). Selain itu logam Cd di perairan juga berasal dari tumpahan solar dari perahu nelayan (Wardhana, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Arifin (2011) di teluk Kelabut menemukan kandungan cadmium pada ikan sebesar 0,47 mg/gr, nilai ini sudah melebihi ambang batas baku mutu. Kandungan logam Cd
rata-rata di daging ikan rejung pada setiap bulan sudah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh FAO/WHO, yaitu sebesar 0,01 ppm (Cahyani et al., 2016). Dari penelitian Edward (2019) tentang akumulasi logam berat pada daging ikan di Teluk Kao Halmahera diketahui bahwa kadar tertinggi Cd dijumpai dalam daging ikan totodi (Synodus foetens) yakni 0,36 ppm dan terendah dalam daging ikan ngafi (Stolephorus indicus) yakni 0,07 ppm.
Gambar 1. Kandungan Cd Ikan Tongkol Segar Berdasarkan Tempat Pengambilan Sampel
55
Nilai kandungan Cd ikan Tongkol segar dari Tempat Pendaratan Ikan, pasar dan pedagang keliling di Kota Padang adalah 0,05 mg/kg; 0,03 mg/kg dan 0,01 mg/kg. Batas cemaran kadmium (Cd) yang diizinkan untuk ikan segar oleh Badan Standarisasi Nasional adalah 0,1 mg/kg.
Berdasarkan ketetapan tersebut, maka kadar kadmium pada ikan Tongkol segar dari TPI, pasar dan pedagang keliling di Kota Padang belum melebihi batas aman konsumsi sesuai SNI.
Keracunan bersifat kronis yang disebabkan daya racun logam Cd terjadi dalam selang waktu yang sangat panjang, karena logam Cd yang masuk ke dalam tubuh hanya dalam jumlah kecil sehingga dapat ditolerir oleh tubuh Jika proses penimbunan logam dalam tubuh terjadi secara berkelanjutan, maka tubuh mencapai batas akhir dan tidak mampu lagi memberikan toleransi terhadap daya racun yang dibawa oleh Cd. Sistem-sistem tubuh yang dapat dirusak oleh keracunan kronis Cd yaitu sistem ginjal, sistem respirasi (pernafasan/paru-
paru), sirkulasi darah jantung hati, otak dan testis ((Palar, 2012; Indiwati, 2017).
Kandungan Logam Pb pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)
Timbal (Pb) adalah logam berat yang manfaatnya tidak diketahui untuk organisme air.
Namun, jumlah timbal diatas ambang batas dapat mengganggu kelangsungan hidup organisme akuatik dan juga manusia (Yolanda et al., 2017).
Penyebab utama peningkatan kadar timbal diperairan yaitu penggunaan cat yang mengandung timbal, pengelasan kapal, dan bahan bakar yang bocor dari kapal perikanan (Rizkiana et al., 2017).
Adanya kandungan logam berat Pb pada ikan tongkol, dapat terakumulasi di dalam tubuh ikan yang membahayakan keamanan pangan. Hal ini menunjukkan adanya penyimpangan dari Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan dimana bahan pangan yang beredar harus memenuhi ketentuan bebas dari cemaran biologis, kimiawi, maupun fisik.
Tabel 2. Hasil Uji Kadar Pb pada Ikan Tongkol Segar di Kota Padang
No Sampel Kadar Pb mg/kg Kategori
(maks 0,3 mg/kg)
1 Pasar Gaung 2,9 Tercemar
2 Pasar Bandar Buat 0,8 Tercemar
3 Pasar Raya 2,2 Tercemar
4 Pasar Alai 1,7 Tercemar
5 Pasar Lubuk Buaya 1,7 Tercemar
6 TPI Gaung 1,3 Tercemar
7 TPI Muaro 1,8 Tercemar
8 TPI Pasia Nan Tigo 2,7 Tercemar
9 TPI Muaro Gantiang 0,4 Tercemar
10 TPI Ulak Karang 1,5 Tercemar
11 Pedagang Keliling Mata Air 1,4 Tercemar
12 Pedagang Keliling Tunggul Hitam 1,6 Tercemar
13 Pedagang Keliling Lubuk Minturun 3,3 Tercemar
14 Pedagang Keliling Kayu Kalek 1,7 Tercemar
15 Pedagang Keliling Aia Pacah 1,3 Tercemar
Timbal merupakan suatu logam toksik yang bersifat kumulatif, dimana toksisitasnya dapat berpengaruh negatif pada kesehatan manusia yang terpapar melebihi batas amannya Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa seluruh sampel (100 %) memiliki kandungan di atas batas minimum kandungan Pb ikan segar yaitu 0,3 mg/ kg. Ikan tongkol biasa hidup di perairan laut lepas namun dekat dengan garis pantai atau lapisan antara dasar dan
permukaan. Berdasarkan tempat hidupnya ikan tongkol termasuk ikan yang rentan terkena pencemaran. Dilihat dari makanan yang dikonsumsi, ikan tongkol merupakan ikan buas dan predator yang memangsa ikan-ikan kecil dan cumi- cumi yang kemungkinan telah tercemar logam berat seperti timbal. Nilai rata-rata kandungan Pb pada ikan tongkol berdasarkan tempat pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 2
56
.
Gambar 2. Kandungan Pb Ikan Tongkol Segar Berdasarkan Tempat Pengambilan Sampel
Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai kandungan Pb ikan Tongkol di TPI, pasar dan pedagang keliling yaitu 1,5 mg/kg, 1,9 mg/kg dan 1,9 mg/kg. Ikan Tongkol yang diambil dari pasar, pedagang keliling dan Tempat Pendaratan Ikan di Kota Padang 100% melebihi batas aman konsumsi berdasarkan mutu dan keamanan pangan ikan segar (maks 0,3 mg/kg). Hal ini disebabkan karena perairan tempat ikan tongkol ini ditangkap sudah tercemar oleh logam Pb. Menurut Palar (2012) Pb adalah senyawa yang ditambahkan dalam bahan bakar kendaraan bermotor yang berfungsi sebagai anti ketuk pada mesin-mesin kendaraan. Seperti yang kita ketahui bahwa bahan bakar adalah bahan yang diperlukan untuk pengoperasian kapal penangkap ikan.
Selain itu tingginya kandungan Pb dari daging ikan tongkol ini juga disebabkan oleh perairannya yang sudah tercemar oleh logam ini.
Hal ini sejalan dengan penelitian Arifin et al., (2012) di perairan Bungus Teluk Kabung Kota Padang diketahui kandungan logam Cr dan Pb telah melampaui standar baku mutu air laut. Penelitian Roza dan Muhelni (2019) tentang kandungan Cd, Cu dan Pb pada air dan sedimen permukaan di muara-muara sungai Kota Padang diketahui bahwa kadar logam Pb pada air berkisar antara 0.0155- 0.0378 mg/l, sedangkan kandungan Pb pada sedimen berkisar antara 0.0265-0.225 (mg/kg).
Menurut Amriani et al., (2011), semakin tinggi kandungan logam dalam perairan akan semakin tinggi pula kandungan logam yang terakumulasi di dalam tubuh organisme yang hidup didalamnya.
Hariyoto et al., (2015) dalam penelitiannya melaporkan bahwa nilai rata-rata konsentrasi kandungan Pb daging ikan Tongkol Lisong (Auxis rochei) di wilayah perairan Muncar, Banyuwangi yaitu 0,77 ± 0,56 mg/kg. Rata-rata konsentrasi Pb ikan Tongkol yang dipasarkan di Kota Padang dan di wilayah perairan Muncar, Banyuwangi, sama-
sama melebihi batas maksimum cemaran logam Pb dalam ikan dan hasil olahannya.
KESIMPULAN
Kandungan logam Cd ikan Tongkol dari TPI, pasar dan pedagang keliling di Kota Padang berturut-turut yaitu 0,05 mg/kg, 0,03 mg/kg dan 0,01 mg/kg, serta memiliki kandungan logam Pb yaitu 1,5 mg/kg, 1,9 mg/kg dan 1,9 mg/kg. Nilai kandungan Cd ikan Tongkol yang dipasarkan di Kota Padang masih berada dibawah batas aman konsumsi, sedangkan kandungan Pb sudah melewati batas aman konsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, B., E. Afriyani, dan A.M. Saputra. 2011.
Distribusi Spasial Logam Pb dan Cu pada Sedimen dan Air Laut Permukaan di Perairan Tanjung Buton Kabupaten Siak Provinsi Riau.
Jurnal Teknobiologi. Vol. 2,.(1): 1–8.
Anggraeny, Y. 2010. Analisis Kandungan Logam Berat Pb, Cd, Hg pada Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Arifin, B., Deswati dan Umiati, L. 2012. Analisis Kandungan Logam berat Cd, Cu, Cr dan Pb dalam Air Laut Disekitar Perairan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang. Jurnal Teknik Lingkungan Unand, Vol. 9, (2): 139-145.
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2010.
Mengenal Logam Beracun. Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya.
Jakarta.
57
Badan Standarisasi Nasional. 2011. Cara Uji Kimia–Bagian 5: Penentuan Kadar Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Produk Perikanan.. SNI 2354.5: 2011. Jakarta : BSN.
Badan Standarisasi Nasional. 2013. Ikan Segar.
SNI 2729 : 2013. Jakarta : BSN.
Cahyani, N., Batu, D. T. F. L dan Sulistiono. 2016.
Kandungan Logam Berat Pb, Hg, Cd dan Cu Pada Daging Ikan Rejung (Silago sihama) di Estuari Sungai Donan, Cilacap, Jawa Tengah.
JPHPI, Vol. 19, No. 5: 267-276.
Clark, R. 2003. Marine Pollution, Clerredon Press.
Oxford.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat. 2019. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Sumatera Barat. Padang.
Edward, 2019. Akumulasi Logam Berat Pb, Cd, Ni dan Zn pada Daging Ikan di Teluk Kao, Halmahera. Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan, Vol. 2, (2):59-71.
Hafiludin. 2011. Karakteristik Proksimat Dan Kandungan Senyawa Kimia Daging Putih Dan Daging Merah Ikan Tongkol (Euthynnus affinis).
Jurnal Kelautan, Vol 4,(1), 1-10.
Handayani., Baiq, R., Kusumo,. Werdiningsih, W., Rahayu, I. T dan Hariani. 2015. Kajian Mutu Organolepti dan Daya Simpan Pindang Tongkol dengan Perlakuan Jenis Air. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan, Vol. 3.(1):194-199.
Hariyoto, F.D.A., Soegianto, A dan Irawan, B. 2015.
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb), Kadmium (Cd) dan Seng (Zn) pada Daging Ikan Tongkol Lisong (Auxis rochei) di Wilayah Perairan Muncar, Banyuwangi. Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Airlangga. Surabaya.
Indiwati, S. M. 2017. Pencemaran Logam berat Pb dan Cd dan keluhan Kesehatan pada Masyarakat di Kawasan pesisir Belawan. Jurnal Jumantik, Vol. 2, (2): 1-7.
MEN-KLH. 2004. Surat Keputusan Nomor: Kep-51/
MENKLH/I/2004. tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Sekretariat Mentri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.
Jakarta.
Palar, H. 2012. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Puryanti, D dan Deswati, S. 2012. Kajian Kualitas Air Permukaan Disekitar Kawasan Muaro Kota Padang Menggunakan Parameter Konduktivitas dan Kandungan Logam Berat. Jurnal Ilmu Fisika (JIF), Vol. 4 (2): 40-45.
Rizkiana, L., Karina, S., & Nurfadillah. 2017.
Analisis Timbal (Pb) pada Sedimen dan Air Laut di Kawasan Pelabuhan Nelayan Gampong Deah Glumpang Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. Vol. 2,(1): 89-96.
Roza, S. Y dan Muhelni, L. 2019. Analisis Kandungan Cd, Cu dan Pb pada Air Pemukaan dan Sedimen Permukaan di Muara-Muara Sungai Kota Padang. Jurnal Akuatika Indonesia. Vol. 4. (1): 1-5.
Said, I., Jalaludin, M. N., Upe, A dan Wahab, A. W.
2009. Penetapan Konsentrasi Logam berat Krom dan Timbal dalam Sedimen Estuaria Sungai Batang Pondo Palu, Jurnal Chemica, Vol.10 (l2): 40-47.
Sanger, G. 2010. Mutu Kesegaran Ikan Tongkol (Auxis Tozord) Selama Penyimpanan Dingin.
Jurnal Warta Iptek, 35:39-43.
Standar Nasional Indonesia (SNI) 2354.5. 2011.
Penentuan Kadar Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Produk Perikanan, Jakarta:
Badan Standarisasi Nasional.
Sugara, G. 2012. Pencemaran laut. Diunggah kembali dari http://gamasugara.blogspot.com/
2012_08_01_archive.html.
Sulistiono., Irawati, Y., Batu, D. T. F. L. 2018.
Kandungan Logam Berat Pada Ikan Beloso (Glosogobius giuris) di Perairan Segara Anakan Bagian Timur, Cilacap, jawa Tengah Indonesia.
JPHPI 2018, Vol. 21 (3): 423-432.
Tanjung, R. H. R., Suwito., Purnamasari, V dan Suharno. 2019. Analisis Kandungan Logam Berat Pada Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Perairan Mimika Papua. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol. 17 (2): 256-263.
Wanna, M., Yanto, S dan Kadirman. 2017. Analisis Kualitas Air dan Cemaran Logam Berat Merkuri (Hg) dan Timbal (Pb) pada Ikan di Kanal Daerah Hertasning Kota Makassar. Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian, Vol. 3. 197- 210
Wardhana, W. A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Edisi Revisi. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Winarni, T.F., Swastawati, Darmanto, Y dan Dewi.
2003. Uji Mutu Terpadu pada Beberapa Spesies Ikan dan Produk Perikanan Indonesia." Laporan Akhir Hibah Bersaing XI Perguruan Tinggi Universitas Diponogoro Semarang.
Yolanda, S., Rosmaidar, Nazaruddin, Armansyah, T., Balqis, U., dan Fahrima, Y. 2017. Pengaruh paparan timbal (pb) terhadap Histopatologis Insang Ikan Nila (Oreochromis nilloticus). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner, Vol.1 (4): 736-741.