M 60
Proses Pelapisan Logam Paduan Material Stent dengan Bahan Antiproliferatif Alami Lokal
1st Muhammad Kusumawan Herliansyah Departemen Teknik Mesin dan Industri
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia [email protected]
2nd Ameliyana Rizky Syamara Putri Akhmad Yani
Departemen Teknik Mesin dan Industri Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, Indonesia [email protected]
3rd Ibnu Rosyid Alhassany Departemen Teknik Mesin dan Industri
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia [email protected]
Abstrak— Terjadinya penyumbatan kembali pembuluh darah setelah pemasangan ring jantung (stent) berbahan logam (bare metal stent; BMS) yang dipicu oleh pertumbuhan sel otot polos pembuluh darah (in stent restenosis) mendorong pengembangan stent berlapis obat (drug eluting stent; DES). Untuk menghasilkan DES, obat berupa Paclitaxel atau Sirolimus dilapiskan pada permukaan BMS dengan bantuan polimer sebagai media perekat atau drug carrier. Namun, karena mahalnya kedua jenis obat tersebut dan munculnya dampak negatif penggunaan polimer yang sulit terdegradasi di dalam tubuh, mendorong para peneliti mencari alternatif bahan anti-proliferasi dan media perekat dari bahan alami yang dapat diterima tubuh. Kurkumin merupakan jenis bahan alami yang bersifat anti-proliferasi. Selain itu kitosan merupakan alternatif bahan biopolimer yang dapat digunakan.
Namun demikian karakteristik gabungan antara kurkumin dan kitosan sebagai pelapis pada DES belum sepenuhnya dipahami.
Dalam penelitian ini dilakukan pelapisan kurkumin dengan perekat kitosan pada permukaan material stainless steel 316L menggunakan metode Electrophoretic Deposition (EPD), dengan tujuan untuk mempelajari fenomena dan laju pelepasan lapisan kurkumin dari permukaan material stent. Pengujian efisiensi proses pelapisan dan pelepasan kurkumin menggunakan Ultraviolet Visible Spectrophotometry (UV-Vis; WVR-UV 1680C) menunjukkan bahwa pelepasan kurkumin dari lapisan dengan larutan konsentrasi asam rendah, cenderung lebih tinggi dari pelepasan lapisan dengan larutan konsentrasi asam tinggi. Selain itu secara keseluruhan terjadi burst release (pelepasan cepat) yang dilanjutkan pelepasan dengan laju yang lebih lambat pada saat observasi pelepasan kurkumin untuk semua sampel. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kurkumin dengan media perekat kitosan berpotensi digunakan sebagai bahan pelapis pada pembuatan DES.
Kata kunci─ electrophoretic deposition (EPD); kurkumin;
kitosan; stent; drug eluting stent (DES)
I. PENDAHULUAN
Keberhasilan bare metal stent (BMS) sebagai solusi atas penyakit jantung koroner (PJK) ternyata belum cukup untuk menuntaskan permasalahan yang ada. Kehadiran BMS di dalam tubuh pasien akan dikenali sebagai benda asing oleh tubuh, hal tersebut akan memicu sistem proteksi yang berdampak pada terjadinya pertumbuhan dinding sel pembuluh darah bagian dalam, yaitu pada daerah yang bersinggungan langsung dengan BMS. Pada jangka waktu satu bulan awal pemasangan BMS,
pertumbuhan dinding sel berlangsung cukup signifikan, sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan kembali rongga pembuluh darah [1]
Terjadinya in stent restenosis (ISR), menjadi pendorong dilakukannya penelitian drug eluting stent (DES), dimana model pertamanya mulai diaplikasikan ke tubuh manusia pada tahun 2001 [2]. DES terdiri atas BMS, polimer sebagai pembawa obat, dan obat antirestenosis (antiinflammatory atau antiproliferative sebagai contoh Paclitaxel atau Sirolimus) selain itu terdapat pula sejumlah DES yang menambahkan lapisan akhir berupa rate limiting barrier material untuk mengatur laju pelepasan obat ke dalam sistem tubuh manusia [3-5]. Mekanisme kerja DES ialah dengan mereduksi munculnya ISR melalui obat yang dilapiskan pada BMS dengan bantuan polimer sebagai perekatnya.
Berbagai teknik pelapisan dan kinetika pelepasan lapisan obat ke lingkungan tubuh pada DES juga telah diteliti [6-8]
Dalam perkembangannya, proses pembuatan DES telah diteliti pula potensi penggunaan bahan-bahan anti proliferasi dan anti inflamantori alami [9-12], karena penggunaan bahan-bahan obat sintetik tersebut dirasa sangat mahal salah satunya adalah kurkumin. Kurkumin yang memiliki kemampuan sebagai agen anti trombosis, anti oksidan, dan anti proliferasi [11] dipandang memiliki potensi untuk digunakan pada pengembangan DES.
Kurkumin digunakan oleh Pan, dkk untuk pelapisan DES dengan bantuan biopolimer PLGA telah terbukti mampu mereduksi restenosis, utamanya pada satu bulan pertama pemasangan pada tubuh [12]. Selain itu dari sisi bahan pengikat obat berupa bahan polimer dipandang memiliki potensi bahaya karena diketahui polimer sulit terdegradasi di dalam lingkungan tubuh. Oleh karena itu pengembangan DES juga mengarah pada penggunaan biopolimer atau bahkan tanpa menggunakan bahan polimer sama sekali [13]. Jenis bahan biopolimer yang banyak digunakan diantaranya adalah bahan-bahan biostable polimer atau biodegradable polimer. Salah satu contoh biodegradable polimer alami ialah kitosan. Kitosan diproduksi dari proses deasetilasi kitin yang umumnya terdapat pada hewan eksoskeleton dan jamur, [14]. Peluang penggunaan kitosan sebagai polimer pengikat obat untuk aplikasi DES terbuka lebar karena material tersebut bersifat biocompatible, biodegradable, serta mampu mengikat senyawa organik [15].
Dalam proses pelapisan DES terdapat berbagai macam metode yang telah digunakan, diantaranya, dip-coating, plasma
M 61 treated coating, ultrasonic spray coating dan electrophoretic
deposition (EPD) [7, 8]. EPD ialah teknik pelapisan dimana objek dicelupkan pada suatu larutan atau suspensi, yang dialiri arus listrik sehingga partikel pada suspensi atau larutan bergerak menuju objek pelapisan dan pada akhirnya terdeposisi. [16].
Kemampuan untuk menghasilkan permukaan yang homogen, kemampuan melapisi objek dengan bentuk komplek, peralatan yang relatif sederhana, dan hemat dalam penggunaan material coating (obat dan biopolimer) merupakan sejumlah keunggulan proses EPD dibandingkan dengan proses pelapisan yang lain [17] serta menjadi pertimbangan penentuan teknik pelapisan yang digunakan dalam penelitian ini.
Walaupun penggunaan kurkumin sebagai bahan obat pada DES telah banyak diteliti, namun penggunaan bahan kurkumin dengan bahan pembawa berupa biopolimer kitosan belum banyak dikaji sehingga mekanisme pelekatan dan pelepasan bahan kurkumin-kitosan dari permukaan material stent belum sepenuhnya dipahami. Selain itu kemampuan teknik pelapisan EPD dalam mendeposisi kurkumin-kitosan pada permukaan juga belum dipahami sepenuhnya. Pada penelitian ini dilakukan proses pelapisan kurkumin-kitosan pada permukaan material stainless steel 316L menggunakan metode EPD, dengan tujuan untuk mempelajari fenomena dan laju pelepasan lapisan kurkumin. Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui kecukupan jumlah kurkumin yang dilepas dari permukaan stent selama periode awal pemasangan stent sehingga dapat membuka peluang lebih lebar penggunaan kurkumin-kitosan sebagai bahan pelapis DES.
II. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Bahan
Penelitian ini mengunakan spesimen berupa plat stainless steel 316L (Outokumpu), sandpaper grit 2000 (Taiyo), deionized water (Onelab), asam asetat (kemurnian 98.8%, Merck), kitosan (molecular weight : 300 kDa, derajat deasetilasi
≈ 85%, Sigma Aldrich), etanol (kemurnian 98%, Merck), dan kurkumin (molecular weight: 368.38 kDa, Merck)
Penyiapan Spesimen dan Larutan
Proses pelapisan bahan stent dilakukan dengan teknik EPD seperti telah diuraikan secara detil dalam Alhassany dan Herliansyah [18]. Plat stainless steel 316L (Outokumpu) dipotong dengan ukuran 15×10×1 mm. Setelah proses pemotongan, spesimen dihaluskan dengan sandpaper hingga ukuran grit 2000. Pembuatan suspensi kitosan-kurkumin diawali dengan mencampur 15%Vol deionized water dengan tiga variasi asam asetat yang berbeda (0.2, 0.4, dan 0.8 %Vol).
Kemudian kedalam larutan asam tersebut ditambahkan 0.5 g/L kitosan, dan dilakukan pengadukan dengan magnetic stirrer selama 30 menit. Selanjutnya ditambahkan etanol sehingga volume total setiap larutan sebesar 100 ml, dan dilanjutkan dengan pengadukan selama 5 jam. Langkah berikutnya adalah, 0.01 gram kukumin ditambahkan pada masing – masing larutan kitosan, serta diaduk kembali selama 1 jam.
Proses deposisi dilakukan dengan menempatkan spesimen sebagai katoda, serta material yang sama digunakan sebagai anoda (Gambar 1). Jarak antara anoda dan katoda ialah 10 mm, dan area deposisi pada spesimen ialah 10×10 mm2. Sumber listrik pada proses EPD menggunakan DC power supply (3005
DT, Cody Electronic). Tegangan listrik yang diterapkan pada proses tersebut ialah 20 Volt, dengan durasi proses selama 5 menit
Gambar 1. Skema proses electrophoretic deposition [17]
B. Metode Karakterisasi
Morfologi hasil deposisi diobservasi menggunakan kamera optik (D-5100, Nikon). Berat hasil deposisi dan laju deposisi proses EPD diuji menggunakan timbangan (PA224, Ohaus) dengan akurasi 0.1 mg. Penimbangan dilakukan pada spesimen yang belum dilapisi dan spesimen yang telah dilapisi. Pengujian efisiensi pelapisan dan pelepasan kurkumin diawali dengan pembuatan kurva standar untuk mengetahui konsentrasi kurkumin yang terlepas. Rentang konsentrasi kurva standar mulai dari 0 µg/ml hingga 10 µg/ml. Setiap konsentrasi diuji dengan UV Vis spectrophotometry (UV-Vis; WVR-UV 1680C) pada panjang gelombang 425 nm untuk mengetahui nilai absorbansinya. Setelah diketahui seluruh nilai absorbansinya lalu dibuat grafik yang menunjukkan perbandingan absorbansi dan konsentrasi.
Pengujian efisiensi pelapisan dilakukan dengan merendam hasil pelapisan pada campuran asam asetat, air, etanol dan aseton. Setelah semua lapisan terlepas, hasil perendaman lalu diuji kandungan kurkuminnya dengan UV Vis spectrophotometry (UV-Vis; WVR-UV 1680C). Efisiensi pelapisan dihitung dengan membandingkan kurkumin hasil perendaman dengan kurkumin yang dilarutkan pada saat pembuatan larutan kitosan kurkumin [19].
Pengujian pelepasan kurkumin dilakukan dengan merendam hasil pelapisan pada campuran pbs:etanol (9:1). Setelah direndam dalam waktu tertentu, hasil perendaman lalu diuji kandungan kurkuminnya menggunakan UV Vis spectrophotometry. Hasil perendaman diuji setelah dilakukan perendaman selama 1, 3, 7, dan 14 hari [20, 21]. Seluruh data pelepasan lalu ditampilkan pada grafik yang membandingkan hari pelepasan dan konsentrasi kurkumin yang terlepas. Dalam hasil danpembahasan, variasi konsentrasi asam 0.2, 0.4, dan 0.8
%Vol pada hasil pelapisan dinotasikan dengan KKA, KKB, dan KKC
M 62 III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pelapisan
Proses deposisi kitosan-kurkumin pada proses EPD bisa dilakukan, ketika kitosan terprotonasi dengan cara dicampur pada larutan asam. Pada persamaan 1 pencampuran air dengan asam asetat akan menghasilkan hydronium (H3O+). Ketika kitosan (Chit-NH2) dicampur pada larutan asam pH < 5, maka hidronium bereaksi dengan kitosan sehingga terprotonasi (persamaan 2). Kitosan yang terprotonasi, akan berpindah menuju katoda ketika medan listrik dialirkan melalui larutan kitosan. Pada area sekitar katoda akan terjadi elektrolisis air (persamaan 3 dan 4) dan ketika bereaksi dengan kitosan yang terprotonasi, maka kitosan akan kehilangan muatan listiknya dan melekat (terdeposisi) pada permukaan katoda [22].
CH3COOH + H2O → CH3COO─ + H3O+ (1) Chit-NH2 + H3O+ → Chit-NH3+ + H2O (2) 2H2O + 2e─ → H2 + 2OH─ (3) Chit-NH3+ + OH─ → Chit-NH2 + H2O (4)
Reaksi pada persamaan 3 juga menghasilkan gas hidrogen, yang berakibat pada munculnya bercak-bercak gelembung dan mereduksi kerataan hasil deposisi. Selain itu, menurut penelitian oleh Sorkhi, dkk [23], derajat elektrolisis meningkat seiring peningkatan volume air yang digunakan. Sehingga pada penelitian ini, etanol digunakan untuk mengurangi terjadinya fenomena elektrolisis pada proses EPD, serta untuk memperoleh hasil deposisi yang merata pada permukaan spesimen.
Setelah proses deposisi, tahap selanjutnya adalah proses pengeringan yang dilakukan pada suhu ruangan selama 24 jam.
Hasil proses pengeringan lapisan kurkumin pada permukaan material stent berupa logam stainless steel 316L pada Gambar 2 menunjukkan bahwa lapisan kurkumin dapat terbentuk dan melekat pada permukaan material stent tersebut secara merata dan homogen.
Gambar 2. Spesimen setelah pengeringan selama 24 jam, dimana (a) KKA, (b) KKB, dan (c) KKC
B. Fenomena dan Laju Pelepasan Lapisan Kurkumin
Gambar 3. menunjukkan kurva pelepasan kurkumin pada tiga sampel berbeda dalam waktu uji selama 14 hari. Pada hari pertama, seluruh sampel mengalami fenomena pelepasan kurkumin secara cepat (burst release) dengan kuantitas kurkumin yang terlepas untuk sampel KKA, KKB, dan KKC ialah 1,25, 1,01, dan 0,65 µg. Pada tahap berikutnya, pelepasan kurkumin terjadi dengan laju yang lebih lambat dimulai dari hari
ke-2 hingga hari ke-7. Selanjutnya laju pelepasan semakin menurun hingga hari ke-14, dimana seluruh kurkumin yang terlepas pada hari tersebut ialah 1,96, 1,68, dan 1.19 µg untuk sampel KKA, KKB, dan KKC secara berturut – turut.
Gambar 3. Kurva pelepasan kurkumin selama 14 hari
Gambar 4. Tiga profil perilisan dalam media polimer [24]
Berdasarkan Gambar 4, jenis kurva pelepasan kurkumin yang dihasilkan pada penelitian ini termasuk dalam kurva pelepasan tipe II. Pada tipe tersebut, fenomena pelepasan obat terbagi menjadi dua fase. Fase 1 ialah tahapan terjadinya burst release, dimana mekanisme pelepasan pada umumnya disebabkan oleh kurkumin yang tidak terlapisi oleh biopolimer, retakan pada hasil pelapisan, dan hidrolisis molekul kurkumin.
Pada fase tersebut terjadi laju pelepasan kurkumin yang cukup tinggi. Fase 2 ialah tahapan dimana pelepasan kurkumin terjadi dengan laju yang lebih lambat dimana mekanisme pelepasan didominasi oleh difusi [24]. Fenomena terjadinya burst release pada tahap awal justru merupakan fenomena yang dapat menimbulkan dampak positip bagi material stent dan jaringan pembuluh darah yang ada disekelilingnya. Kecenderungan terbentuknya thrombus pada awal mula pemasangan stent diperkirakan dapat direduksi dengan fenomena burst release tersebut [21].
M 63 Seluruh kurva pelepasan pada Gambar 3, menunjukkan
bentuk yang identik, namun jumlah kurkumin yang terlepas berbeda pada setiap sampel. Kuantitas kurkumin yang terlepas selama 14 hari untuk sampel KKA merupakan jumlah yang paling tinggi bila dibandingkan dengan sampel lain. Fenomena tersebut diperkirakan karena pengaruh konsentrasi asam yang berbeda pada tiap larutan yang digunakan untuk proses pelapisan yang mengakibatkan perbedaan tingkat kekasaran hasil pelapisan permukaan material stent sebagaimana ditampilkan pada Gambar 5.
Gambar 5. Morfologi permukaan sampel (A) KKA, (B) KKB, dan (C) KKC Hasil analisis terhadap morfologi permukaan lapisan kurkumin pada material stent menggunakan Scanning Electron Microscoupe (SEM) yang ditampilkan pada Gambar 5 menunjukkan permukaan lapisan yang kasar menyebabkan molekul larutan Phosphate Buffer Saline (PBS) lebih mudah melakukan penetrasi kedalam molekul kitosan sehingga kurkumin yang diikat oleh kitosan lebih mudah terlepas.
Berdasarkan pernyataan tersebut, kuantitas kurkumin yang terlepas dari permukaan yang lebih kasar akan lebih besar dibandingkan permukaan yang lebih halus. Fenomena tersebut identik dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menyatakan bahwa lapisan obat pada permukaan material stent akan lebih mudah terlepas dari hasil pelapisan dengan permukaan yang lebih kasar [25].
Gambar 6. Perbandingan persentase kurkumin yang terlepas selama 14 hari Gambar 6. menunjukkan perbandingan persentase kumulatif kurkumin yang terlepas dibandingkan dengan keseluruhan kurkumin yang terdeposisi pada permukaan sampel material stent. Berdasarkan kurva tersebut, persentase kurkumin yang terlepas pada hari ke 14 untuk sampel KKA, KKB, dan KKC ialah 39,89%, 31,48%, dan 17,62%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kuantitas kurkumin yang belum terlepas masih cukup banyak pada akhir periode pengamatan selama 14 hari. Banyaknya kurkumin yang belum telepas sangat berkaitan dengan proses degradasi kitosan sebagai material pembawanya.
Sebagaimana penelitian sebelumnya, kitosan hanya akan larut atau langsung terdegradasi ketika terjadi kontak dengan larutan yang memiliki pH dibawah 6.5, sedangkan pada penelitian ini PBS yang digunakan sebagai media observasi pelepasan memiliki pH 7.4. Berdasarkan penjelasan tersebut, proses pelepasan kurkumin dengan kitosan sebagai media pembawa/perekat akan dipengaruhi salah satunya oleh pH media pelepasanya [26].
IV. KESIMPULAN
1. Efisiensi kurkumin yang terdeposisi meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi asam yang digunakan, namun secara keseluruhan kuantitas kurkumin yang terdeposisi lebih rendah bila dibandingkan dengan kurkumin yang dicampurkan saat pembuatan larutan.
2. Pelepasan kurkumin dari lapisan dengan larutan konsentrasi asam rendah, cenderung lebih tinggi daripada pelepasan pada lapisan dengan larutan konsentrasi asam tinggi.
3. Secara keseluruhan terjadi lapisan kurkumin pada permukaan material stent akan mengalami burst release dan dilanjutkan dengan pelepasan dengan laju yang lebih lambat pada saat dilakukan analisis laju pelepasan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini dapat terlaksana atas dukungan dari Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada melalui Hibah Penelitian DTMI Tahun 2021.
M 64 DAFTAR PUSTAKA
[1] Curcio, A., Torella, D., Indolfi, C., “Mechanism of smooth muscle cell proliferation and endhotelial regeneration after vascular injury and stenting: Approach to therapy”, Journal of the Japanes Circulation Society, vol. 75, pp. 1287 – 1296, 2011
[2] Rensing B.J., Vos J., Smits P.C., Foley D.P., Van Den Brand M., Van Der Giessen W.J., Feijter P.J., and Serruys P.W., Coronary restenosis elimination with sirolimus eluting stent, European Heart Journal, vol.
22, pp. 2125 – 2130, 2001.
[3] Sisipan Baru Htay, T. and Liu, M.W., “Drug-eluting stent: a review and update”, Vascular Health and Risk Management, 1(4), pp. 263–276, 2005
[4] Khan, W., Farah, S. and Domb, A.J. “Drug eluting stents: Developments and current status”, Journal of Controlled Release 161, pp. 703–712, 2012
[5] Puranik, A.S., Dawson, E.R. and Peppas, N.A., “Recent advances in drug eluting stents”, International Journal of Pharmaceutics 441; pp. 665–
679, 2013
[6] Raval, A., Parikh, J. and Engineer, C., “Mechanism of Controlled Release Kinetics from Medical Devices”, Brazilian Journal of Chemical Engineering, Vol. 27, No. 02, pp. 211 - 225, 2010
[7] Shanshan, C., Lili, T., Yingxue, T., Bingchun, Z. and Ke, Y. “Study of Drug-Eluting Coating on Metal Coronary Stent”, Materials Science and Engineering C, 33; pp. 1476–1480, 2013
[8] Livingston, . and Tan, A., “Coating Techniques and Release Kinetics of Drug-Eluting Stents”, Journal of Medical Devices, ASME, Vol. 10, pp.
010801-1- 010801-8, 2016
[9] Lee, C.H. and Kim, J.H., “A review on the medicinal potentials of ginseng and ginsenosides on cardiovascular diseases”, J Ginseng Res 38, pp. 161-166, 2014
[10] Miswan, Z., Lukman, S.K., Majid,F.A.A., Loke, M.F., Saidin, S., Hermawan, H., ”Drug-eluting coating of ginsenoside Rg1 and Re incorporated poly (lactic-co-glycolic acid) on stainless steel 316L:
Physicochemical and drug release analyses”, International Journal of Pharmaceutics 515; pp. 460–466, 2016
[11] Aggarwal, B.B. and Harikumar, K. B., “Review: Potential therapeutic effects of curcumin, the anti-inflammatory agent, against neurodegenerative, cardiovascular, pulmonary, metabolic, autoimmune and neoplastic diseases”, The International Journal of Biochemistry &
Cell Biology 41, pp. 40–59, 2009
[12] Pan C.J., Tang J.J., Weng Y.J., Wang J., and Huang N., “Preparation, characterization and anticoagulation of curcumin-eluting controlled biodegradable coating stents”, Journal of Controlled Release, vol. 116, pp 42 – 49, 2006.
[13] Muramatsu, T., Onuma, Y. Zhang, Y.J., Bourantas, C.V., Kharlamov, A., Diletti, R., Farooq, V., Gogas, B.D., Garg, S., Garcı´a-Garcı´a, H.M., Ozaki, Y. and Serruys, P.W., “Progress in Treatment by Percutaneous Coronary Intervention: The Stent of the Future”, Rev Esp Cardiol; 66(6):
pp. 483–496, 2013
[14] Jenning J.A., and Bumgardner J.D., “Chitosan based biomaterial”, 1st ed., Woodhead Publishing, 2017.
[15] Elgadir M.A., Uddin, Md. S., Ferdosh, S., Adam, A., Chowdhury, A. J.
K., Sarker, Md. Z. I., “Impact of chitosan composites and chitosan nanoparticle composites on various drug delivery systems: A review”, Journal of Food and Drug Analysis, vol. 23, pp. 619 - 629, 2014.
[16] Pishbin, F., Mourino, V., Gilchrist, J.B., McComb, D.W., Kreppel, S., Salih, V., Ryan, M.P., and Boccaccini, A.R., “Single-step electrochemical deposition of antimicrobial orthopaedic coatings based on a bioactive glass/chitosan/nano-silver composite system”, Acta Biomaterialia, vol. 9 (7), pp. 7469 – 7479, 2013.
[17] Boccaccini, A. R., Keim, S., Ma, R., and Zhitomirsky, I.,
“Electrophoretic deposition of biomaterials”, Journal of the Royal Society Interface, vol. 7, pp. s581 – s613, 2010.
[18] Alhassany, A.R. dan Herliansyah, M.K., 2019, “Karakteristik Hasil Pelapisan Kitosan- Kurkumin pada material stent Stainless Steel 316L dengan Metode Electrophoretic Deposition (EPD),” Prosiding Seminar Nasional Teknik Industri Universitas Gadjah Mada 2019, ISBN 978- 623-92050-0-3, Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universtas Gadjah Mada, Yogyakarta, 9 Oktober 2019, hal M31-M35 [19] Kharaziha, M., Fathi, M.H., Edris, H., Nourbakhsh, N., Talebi, A., and
Salmanizadeh, S., “PCL – Forsterite nanocomposite fibrous membranes for controlled release of dexamethasone”, Journal Material Science:
Mater Medicine, vol 26, pp 1 – 11, 2015
[20] Pan C.J., Tang J.J., Weng Y.J., Wang J., and Huang N., “Preparation and in vitro release profiles of drug-eluting controlled biodegradable polymer coating stents”, Colloids and Surfaces B : Biointerfaces, vol. 73, pp. 199 – 206, 2010
[21] Fatemeh, M., Golafshan, N., Kharaziha, M., and Ashrafi, A., 2019,
“Chitosan – heparin nanoparticle coating on anodized NiTi for improvement of blood compatibility and biocompatibility”, International Journal of Biological Macromolecules, vol. 127, pp 159 – 168
[22] Pang, X., and Zhitomirsky, I. “Electrophoretic deposition of hydroxyapatite chitosan, Material Characterization”, vol. 58, pp 339 – 348, 2007.
[23] Sorkhi L., Rad M.F., and Shahrabi T., “Electrophoretic deposition of chitosan in different alcohols”, Journal of Coating Technology, vol. 11 (5), pp. 739 – 746, 2014.
[24] Xu, Y., Kim, C.S., Saylor, D.M., and Koo, D., 2016, Polymer degradation and drug delivery in PLGA-based drug-polymer applications: A review of experiments and theories, Society for Biomaterials
[25] Kalosakas, G., and Martini, D., 2015, Drug release from slabs and the effect of surface roughness, International Journal of Pharmaceutics, vol.
496, pp. 291 – 298
[26] Nair, R. J., Morris, A., Billa, N., Leong, C. O., “An evaluation of curcumin-encapsulated chitosan nanoparticles for transdermal delivery”, AAPS PharmSciTech, vol. 20, 2018