10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia
1. Pengertian Lansia
Lansia merupakan tahap akhir dalam kehidupan manusia. Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi ransangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian (Nugroho, 2008).
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur serta fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan jelas dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Dapat disimpulkan bahwa manusia, secara perlahan mengalami kemunduran struktur dan fungsi organ. Kondisi ini dapat mempengaruhi kemandirian dan kesehatan lansia (Nugroho, 2008). Menua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan secara perlahan–lahan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normal sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menua bukanlah suatu penyakit tetapi
merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering terjadi pada kaum lansia (Nugroho, 2013).
Lansia adalah seseorang yang mengalami tahap akhir dalam perkembangan kehidupan manusia. UU No. 13/Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia disebutkan bahwa lansia adalah seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun (Dewi, 2014). Proses menua adalah proses alamiah kehidupan yang terjadi mulai dari awal seseorang hidup, dan memiliki beberapa fase yaitu anak, dewasa, dan tua (Kholifah, 2016).
Lansia adalah tahap akhir dalam proses kehidupan yang terjadi banyak penurunan dan perubahan fisik, psikologi, sosial yang saling berhubungan satu sama lain, sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan fisik maupun jiwa pada lansia (Cabrera, 2015). Lansia mengalami penurunan biologis secara keseluruhan, dari penurunan tulang, massa otot yang menyebabkan lansia mengalami penurunan keseimbangan yang berisiko untuk terjadinya jatuh pada lansia (Susilo, 2017).
2. Klasifikasi Lansia
Menurut WHO (2013) seseorang dikatakan usia lanjut apabila telah berumur 60 tahun ke atas, klasifikasi lansia adalah sebagai berikut:
a. Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-54 tahun.
b. Lansia (elderly), yaitu kelompok usia 55-65 tahun.
c. Lansia muda (young old), yaitu kelompok usia 66-74 tahun.
d. Lansia tua (old), yaitu kelompok usia 75-90 tahun.
e. Lansia sangat tua (very old), yaitu kelompok usia lebih dari 90 tahun.
Selain itu kategori umur menurut Depkes RI (2009) yaitu sebagai berikut :
a. Masa balita = 0 – 5 th
b. Masa kanak-kanak = 5 – 11 th c. Masa remaja awal = 12 – 16 th d. Masa remaja akhir = 17 – 25 th e. Masa dewasa awal = 26 – 35 th f. Masa dewasa akhir = 36 – 45 th g. Masa lansia awal = 46 – 55 th h. Masa lansia akhir = 56 – 65 th i. Masa manula = > 65 th
3. Karakteristik Lansia
Karakteristik lansia menurut Ratnawati (2017); Darmojo &
Martono (2006) yaitu:
a. Usia
Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Ratnawati, 2017).
b. Jenis kelamin
Data Kemenkes RI (2015), lansia didominasi oleh jenis kelamin perempuan. Artinya, ini menunjukkan bahwa harapan hidup yang paling tinggi adalah perempuan (Ratnawati, 2017).
c. Status pernikahan
Berdasarkan Badan Pusat Statistik RI SUPAS 2015, penduduk lansia ditilik dari status perkawinannya sebagian besar berstatus kawin (60%) dan cerai mati (37%). Adapun perinciannya yaitu lansia perempuan yang berstatus cerai mati sekitar 56,04% dari keseluruhan yang cerai mati, dan lansia laki-laki yang berstatus kawin ada 82,84%. Hal ini disebabkan usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan usia harapan hidup laki-laki, sehingga presentase lansia perempuan yang berstatus cerai mati lebih banyak dan lansia laki-laki yang bercerai umumnya kawin lagi (Ratnawati, 2017).
d. Pekerjaan
Mengacu pada konsep active ageing WHO, lanjut usia sehat berkualitas adalah proses penuaan yang tetap sehat secara fisik, sosial dan mental sehingga dapat tetap sejahtera sepanjang hidup dan tetap berpartisipasi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI 2016 sumber dana lansia sebagian besar pekerjaan/usaha (46,7%), pensiun (8,5%) dan (3,8%) adalah tabungan, saudara atau jaminan sosial (Ratnawati, 2017).
e. Pendidikan terakhir
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Darmojo menunjukkan bahwa pekerjaan lansia terbanyak sebagai tenaga terlatih dan sangat sedikit yang bekerja sebagai tenaga professional.
Dengan kemajuan pendidikan diharapkan akan menjadi lebih baik (Darmojo & Martono, 2006).
f. Kondisi kesehatan
Angka kesakitan, menurut Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI (2016) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur derajat kesehatan penduduk. Semakin rendah angka kesakitan menunjukkan derajat kesehatan penduduk yang semakin baik. Angka kesehatan penduduk lansia tahun 2014 sebesar 25,05%, artinya bahwa dari setiap 100 orang lansia terdapat 25 orang di antaranya mengalami sakit. Penyakit terbanyak adalah penyakit tidak menular (PTM) antar lain hipertensi, artritis, stroke, diabetes mellitus (Ratnawati, 2017).
4. Perubahan pada Lanjut Usia
Menurut Potter & Perry (2009) proses menua mengakibatkan terjadinya banyak perubahan pada lansia yang meliputi :
a. Perubahan Fisiologis
Pemahaman kesehatan pada lansia umumnya bergantung pada persepsi pribadi atas kemampuan fungsi tubuhnya. Lansia yang memiliki kegiatan harian atau rutin biasanya menganggap dirinya sehat, sedangkan lansia yang memiliki gangguan fisik, emosi, atau
sosial yang menghambat kegiatan akan menganggap dirinya sakit.
Perubahan fisiologis pada lansia beberapa diantaranya, kulit kering, penipisan rambut, penurunan pendengaran, penurunan refleks batuk, pengeluaran lender, penurunan curah jantung dan sebagainya.
Perubahan tersebut tidak bersifat patologis, tetapi dapat membuat lansia lebih rentan terhadap beberapa penyakit. Perubahan tubuh terus menerus terjadi seiring bertambahnya usia dan dipengaruhi kondisi kesehatan, gaya hidup, stressor, dan lingkungan.
b. Perubahan Fungsional
Fungsi pada lansia meliputi bidang fisik, psikososial, kognitif, dan sosial. Penurunan fungsi yang terjadi pada lansia biasanya berhubungan dengan penyakit dan tingkat keparahannya yang akan memengaruhi kemampuan fungsional dan kesejahteraan seorang lansia. Status fungsional lansia merujuk pada kemampuan dan perilaku aman dalam aktivitas harian (ADL). ADL sangat penting untuk menentukan kemandirian lansia. Perubahan yang mendadak dalam ADL merupakan tanda penyakit akut atau perburukan masalah kesehatan.
c. Perubahan Kognitif
Perubahan struktur dan fisiologis otak yang dihubungkan dengan gangguan kognitif (penurunan jumlah sel dan perubahan kadar neurotransmiter) terjadi pada lansia yang mengalami gangguan kognitif maupun tidak mengalami gangguan kognitif.
Gejala gangguan kognitif seperti disorientasi, kehilangan
keterampilan berbahasa dan berhitung, serta penilaian yang buruk bukan merupakan proses penuaan yang normal.
d. Perubahan Psikososial
Perubahan psikososial selama proses akan melibatkan proses transisi kehidupan dan kehilangan. Semakin panjang usia seseorang, maka akan semakin banyak pula transisi dan kehilangan yang harus dihadapi. Transisi hidup, yang mayoritas disusun oleh pengalaman kehilangan, meliputi masa pensiun dan perubahan keadaan finansial, perubahan peran dan hubungan, perubahan kesehatan, kemampuan fungsional dan perubahan jaringan sosial.
Menurut Ratnawati (2017) perubahan psikososial erat kaitannya dengan keterbatasan produktivitas kerjanya. Oleh karena itu, lansia yang memasuki masa-masa pensiun akan mengalami kehilangan-kehilangan sebagai berikut:
1) Kehilangan finansial (pedapatan berkurang).
2) Kehilangan status (jabatan/posisi, fasilitas).
3) Kehilangan teman/kenalan atau relasi
4) Kehilangan pekerjaan/kegiatan. Kehilangan ini erat kaitannya dengan beberapa hal sebagai berikut:
a) Merasakan atau sadar terhadap kematian, perubahan bahan cara hidup (memasuki rumah perawatan, pergerakan lebih sempit).
b) Kemampuan ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan.
Biaya hidup meningkat padahal penghasilan yang sulit, biaya pengobatan bertambah.
c) Adanya penyakit kronis dan ketidakmampuan fisik
d) Timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial.
e) Adanya gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan kesulitan.
f) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
g) Rangkaian kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga.
h) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik (perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri)
5. Permasalahan Lanjut Usia
Menurut Suardiman (2011), Kuntjoro (2007), dan Kartinah (2008) usia lanjut rentan terhadap berbagai masalah kehidupan. Masalah umum yang dihadapi oleh lansia diantaranya:
a. Masalah ekonomi
Usia lanjut ditandai dengan penurunan produktivitas kerja, memasuki masa pensiun atau berhentinya pekerjaan utama. Disisi lain, usia lanjut dihadapkan pada berbagai kebutuhan yang semakin meningkat seperti kebutuhan akan makanan yang bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, kebutuhan sosial dan rekreasi.
Lansia yang memiliki pensiun kondisi ekonominya lebih baik karena memiliki penghasilan tetap setiap bulannya. Lansia yang tidak
memiliki pensiun, akan membawa kelompok lansia pada kondisi tergantung atau menjadi tanggungan anggota keluarga (Suardiman, 2011).
b. Masalah sosial
Memasuki masa lanjut usia ditandai dengan berkurangnya kontak sosial, baik dengan anggota keluarga atau dengan masyarakat. kurangnya kontak sosial dapat menimbulkan perasaan kesepian, terkadang muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, serta merengek-rengek jika bertemu dengan orang lain sehingga perilakunya kembali seperti anak kecil (Kuntjoro, 2007).
c. Masalah kesehatan
Peningkatan usia lanjut akan diikuti dengan meningkatnya masalah kesehatan. Usia lanjut ditandai dengan penurunan fungsi fisik dan rentan terhadap penyakit (Suardiman, 2011).
d. Masalah psikososial
Masalah psikososial adalah hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan sehingga membawa lansia kearah kerusakan atau kemrosotan yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya, bingung, panik, depresif, dan apatis. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat seperti, kematian pasangan hidup, kematian sanak saudara dekat, atau trauma psikis. (Kartinah, 2008).
6. Mekanisme Penuaan
Setiap manusia di bumi ini pasti akan mengalami proses penuaan.
Menua didefinisikan sebagai proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail (lemah dan rentan) dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai macam penyakit dan kematian secara eksponensial (Setiati, 2014). Penuaan juga didefiniskan sebagai proses multidimensional, yaitu mekanisme perbaikan dan perusakan dalam tubuh yang terjadi secara bergantian pada kecepatan dan saat yang berbeda-beda. Penuaan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor genetik, kebudayaan, ras, nutrisi dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan itu sendiri dapat berasal dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (Tambayong, 2000). Berbagai teori mengenai proses penuaan telah banyak diajukan, namun hingga 20 tahun lalu teori-teori tersebut sepertinya sama dengan teori yang pernah diajukan 200 tahun yang lalu. Beberapa teori yang telah ditinggalkan dan ditolak diantaranya adalah :
1) Model “error catastrophe” yang diperkenalkan oleh Orgel;
2) Teori rate of living yang diajukan oleh Pearl; dan 3) Hipotesis glukokortikoid.
Suatu teori Penuaan dapat dikatakan valid bila ia dapat memenuhi 3 kriteria berikut :
1) teori yang dikemukakan harus terjadi secara umum di seluruh anggota spesies yang dimaksud,
2) proses yang dimaksud pada teori harus terjadi secara progressif seiring dengan berjalannya waktu,
3) proses yang terjadi harus menghasilkan perubahan yang menyebabkan disfungsi suatu organ atau sistem tubuh tertentu.
Beberapa teori tentang proses menua yang dapat diterima saat ini antara lain adalah teori radikal bebas, teori glikosilasi dan teori “DNA repair” (Setiati, 2014). Namun teori proses menua yang akan diuraikan disini hanya teori yang inti saja dan cukup banyak penganutnya.
Mekanisme Penuaan berdasarkan masing-masing teori adalah sebagai berikut:
1) Teori radikal bebas
Radikal bebas adalah molekul atau bagian molekul yang tidak lagi utuh karena sebagian telah pecah atau melepaskan diri. Bagian yang melepaskan diri ini akan melekat pada molekul lain dan merusak atau mengubah struktur dan fungsi molekul yang bersangkutan (Tambayong, 2000). Setaiti (2014), juga menjelaskan bahwa teori ini menyebutkan bahwa produk hasil metabolisme oksidatif yang sangat reaktif yaitu radikal bebas dapat bereaksi dengan berbagai komponen penting sel, termasuk protein, DNA dan lipid yang akan mengakibatkan komponen sel tersebut menjadi molekul-molekul yang tidak berfungsi namun dapat bertahan lama dan menggangu fungsi sel lainnya.
Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron tidak berpasangan yang tebentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses
selular. Sebagai contoh adalah ROS (Reactive Oxygen Spesies) dan RNS (Reactive Nitrogen Species) yang dihasilkan selama metabolisme normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan mencari pasangan elektronnya dengan bereaksi dengan substansi lain terutama protein dan lemak tidak jenuh. Melalui proses oksidasi, radikal bebas yang dihasilkan selama fosforilasi oksidatif dapat menghasilkan berbagai modifikasi makromolekul. Sebagai contoh, membran sel mengandung sejumlah lemak, ia dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran sel mengalami perubahan.
Akibat perubahan tersebut, membran sel menjadi lebih permeabel terhadap substansi dan memungkinkan substansi tersebut melewati membran secara bebas. Struktur di dalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh lemak sehingga mudah dirusak oleh radikal bebas. DNA juga dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga menyebabkan mutasi kromosom dan merusak genetik normal dari sel. Jadi dapat disimpulkan bahwa teori radikal bebas merupakan akumulasi radikal bebas secara bertahap seiring dengan berjalannya waktu yang terjadi di dalam sel dan apabila kadarnya melebihi batas ambang konsentrasinya, maka mereka mungkin berkontribusi pada perubahan-perubahan yang terkait dengan penuaan.
2) Teori “Genetic Clock”
Teori ini mengungkapkan bahwa menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Setiap spesies mempunyai inti sel yang memiliki jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan mengatur mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar. Menurut konsep ini, bila jam telah berhenti, maka spesies tersebut akan meninggal meski tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit terminal.
Walaupun secara teoritis, jam ini dapat diputar ulang kembali meski hanya untuk beberapa waktu dengan syarat terdapat pengaruh- pengaruh dari luar berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan atau dengan tindakan-tindakan tertentu.
Teori telomere merupakan perkembangan dari teori genetic clock, menjelaskan bahwa setiap mitosis sel bagian telomere DNA akan memendek, dengan semakin pendeknya telomere ini maka kemampuan sel untuk membelah menjadi terbatas dan pada akhirnya berhenti (Darmojo, 2015). Namun sebenarnya, peran pengendalian genetik terhadap usia hidup hanya memberi kontribusi sedikit, sekitar 15-35%. Pengaruh terbesar pada kekuatan hidup adalah berasal dari lingkungan yang nyaman dan kebiasaan hidup yang menyenangkan.
3) Teori Imunitas
Teori ini menggambarkan tentang menurunnya imunitas tubuh yang berhubungan dengan proses Penuaan. Semakin menua
seseorang, maka semakin banyak pula sel yang telah mengalami mutasi berulang sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh untuk mengenali dirinya sendiri. Mutasi ini menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel yang menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang telah mengalami mutasi tersebut sebagai benda asing dan kemudian menghancurkannya. Sudah terdapat banyak bukti bahwa terjadi peningkatan prevalensi auto-antibodi pada orang lanjut usia. Di sisi lain, sistem imun sendiri mengalami penurunan pertahanan tubuh, sehingga daya serangnya terhadap sel kanker juga menjadi menurun yang mengakibatkan sel kanker membelah dengan leluasa (Darmojo, 2015).
B. Latihan Static Contraction Quadriceps
1. Pengertian Latihan Static Contraction Quadriceps
Static contraction quadriceps exercise merupakan latihan isometrik contraction dimana otot yang dilatih tidak mengalami perubahan panjang dan tanpa ada pergerakan dari sendi. Sehingga latihan akan menyebabkan ketegangan (tension) otot bertambah dan panjang otot tetap (Kisner dan Colby, 2007). Contraction otot dimana tidak terjadi perubahan panjang otot dengan beban dapat berubah-ubah. Isometrik juga sering disebut statik contraction yaitu contraction otot dimana sendi dalam keadaan statis. Pada contraction isometrik terjadi: Resiprocal innervation (Reserve Innervation)
yaitu kelompok otot agonis berkontraksi maka akan diikuti oleh rileksasi pada kelompok otot antagonisnya.
Otot dapat menghasilkan tegangan yang lebih besar ketika melakukan contraction isometrik maksimal. Karena tidak ada gerakan sendi, maka kekuatan otot meningkat sesuai dengan beban yang diberikan juga dibentuk oleh panjang otot saat latihan. Dalam Latihan isometrik akan terjadi contraction jaringan kontraktil pada otot menjadi lebih kuat akibatnya akan terjadi hypertropi pada serabut otot dan peningkatan rekruitmen motor unit pada otot. Pada peningkatan kekuatan otot akan terjadi fase-fase pada awal latihan dan itu disebabkan karena saat otot berkontraksi maka akan terjadi perubahan pada serabut otot dan adanya adaptasi neurologik yaitu meningkatkan koordinasi dan rekruitmen motor unit dan jika contraction dilakukan secara rutin dan spesifik maka akan meningkatkan kekuatan otot.
Latihan diawali dengan contraction isometrik yang ditujukan untuk mengurangi nyeri dan menambah kepercayaan diri penderita untuk mengkontraksikan ototnya. Latihan isometrik dilakukan pada posisi tidur terlentang, tungkai lurus di atas permukaan yang datar. Untuk otot quadriceps penderita diminta menekan lututnya ke arah tempat tidur.
untuk latihan static quadriceps setiap satu kali latihan untuk 10 pengulangan dengan 6 detik, dan 10 detik istirahat di setiap pengulangan (Deyle, 2000), dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu selama 4 minggu.
Studi literature terhadap 7 artikel sistematika review dan 2 meta analisis tentang efektivitas strengthening exercise dan aerobik pada OA
lutut di Tokyo, dikatakan bahwa latihan peregangan otot dan latihan aerobik efektif menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsi fisik pada pasien OA lutut derajat ringan sampai sedang. Jadi dapat dikatakan bahwa nyeri pada pasien OA lutut derajat I dan II dapat dikurangi dengan melakukan exercise seperti ROM dan strengthening exercise (Ambardini, 2013).
Contraction isometrik pada otot akan diikuti oleh relaksasi akibat dari teraktivasinya organ golgi. Isyarat dari organ golgi yang beraktivasi diantarkan dalam mendulla spinalis sehingga mengkibatkan efek refleks pada otot. Refleksi ini bersifat menghambat otot dan bukan merangsang.
Bila ketegangan otot meningkat, maka efek inbihisi dari organ dapat menjadi sedemikian besar sehinggga inhibisi ini akan menyebabkan terjadinya relaksasi pada otot yang pada akhirnya akan dapat menurunkan adanya nyeri (Hoppenfeld, 2011).
2. Indikasi dan Kontraindikasi Latihan Isometrik
Indikasi dan kotraindikasi pemberian latihan isometrik quadriceps Johnston (2016), yaitu :
a. Indikasi : Nyeri gerak, fraktur dengan penggunaan bidai atau gips, Meningkatkan kekuatan otot ketika latihan dinamis dikhawatirkan dapat mengakibatkan cedera sendi, mencegah atropi.
b. Kontraindikasi : Latihan ini dikontraindikasikan pada penderita gangguan kardiovaskular karena latihan isometrik cenderung membuat seseorang menahan napas pada saat menahan beban sehingga dapat menimbulkan kenaikan tekanan darah.
c. Karakteristik Latihan isometrik 1) Intensitas Contraction Otot
Kekuatan tekanan yang dapat digenerasikan otot tergantung posisi sendi. Intensitas kekuatan yang digunakan adalah 60-80%
kekuatan maksimal dan disesuaikan pada setiap posisi. Beban perlahan ditingkatkan sampai pada akhirnya kekuatan otot meningkat.
2) Durasi Aktivitas
Latihan isometrik dilakukan enam sampai 10 detik. Latihan yang dilakukan kurang dari 6 detik belum menimbulkan adaptasi atau perubahan anatomi dan fisiologi otot sedangkan latihan yang dilakukan terlalu lama dapat menimbulkan kelelahan dan bahkan bila berulang-ulang dapat menimbulkan cedera lanjut (Kisner &
Colby, 2007)
3) Contraction Repetitif
Penggunaan contraction repetitif dengan cara memberi tahanan waktu selama enam sampai 10 detik setiap pengulangan akan menurunkan kejang otot dan meningkatkan keefektifan hasil dari latihan isometrik.
3. Variasi pada Lingkup Gerak Sendi Lainnya
Untuk memaksimalkan efek fisiologis contraction isometris dilakukan pada berbagai posisi sendi. Pada umumnya direkomendasikan untuk memvariasi arah sendi menjadi 4-6 arah.
4. Manfaat latihan isometrik Contraction a. Melancarkan sirkulasi darah
b. Meningkatkan kekuatan otot c. Merileksasi otot
d. Redukasi otot
5. Mekanisme Latihan Isometrik Quadiceps terhadap Nyeri
Studi yang telah dilakukan oleh Lim et al (2008) menyatakan bahwa penguatan pada otot quadriceps memiliki efek yang baik untuk menurunkan rasa sakit dan mengembalikan fungsi pada pasien penderita osteoarthritis lutut. Penelitian yang dilakukan oleh Amin (2009) melaporkan bahwa responden yang memiliki kekuatan quadriceps lebih kuat dan memiliki nyeri lutut lebih sedikit dan fungsi fisik yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memiliki kekuatan otot quadriceps paling sedikit. Otot yang kuat dapat menstabilkan sendi dengan keadaan sejajar yang baik, dapat mengurangi benturan sehingga dapat diteruskan ke sendi lutut dan meminimalkan efek benturan dengan menyebarkan kekuatan ke area yang lebih luas sehingga dapat diperkirakan bahwa peningkatan kekuatan otot adalah salah satu penyebab utama untuk mengurangi rasa sakit dan cacat. Dalam penelitian ini, pengurangan rasa sakit dan kecacatan pada kelompok eksperimen dapat dikaitkan dengan peningkatan kekuatan otot quadriceps dan dengan demikian meningkatkan stabilitas, yang menyebabkan pengurangan rasa sakit dan kecacatan.
C. Nyeri
1. Pengertian Nyeri
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan sebagai akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial, yang menyakitkan tubuh serta diungkapkan oleh individu yang mengalaminya. Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk, 2009).
Definisi keperawatan menyatakan bahwa nyeri adalah sesuatu yang menyakitkan tubuh yang diungkapkan secara subjektif oleh individu yang mengalaminya. Nyeri dianggap nyata meskipun tidak ada penyebab fisik atau sumber yang dapat diidentiftkasi. Meskipun beberapa sensasi nyeri dihubungkan dengan status mental atau status psikologis, pasien secara nyata merasakan sensasi nyeri dalam banyak hal dan tidak hanya membayangkannya saja. Kebanyakan sensasi nyeri adalah akibat dari stimulasi fisik dan mental atau stimuli emosional. (Potter & Perry, 2005).
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa nyeri adalah suatu pengalaman sensori yang tidak menyenangkan dan menyakitkan bagi tubuh sebagai respon karena adanya kerusakan atau trauma jaringan maupun gejolak psikologis yang diungkapkan secara subjektif oleh individu yang mengalaminya.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri
Reaksi fisik seseorang terhadap nyeri meliputi perubahan neurologis yang spesifik dan sering dapat diperkirakan. Reaksi pasien terhadap nyeri dibentuk oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi mencakup umur, sosial budaya, status emosional, pengalaman nyeri masa lalu, sumber nyeri dan dasar pengetahuan pasien. Kemampuan untuk mentoleransi nyeri dapat menurun dengan pengulangan episode nyeri, kelemahan, marah, cemas dan gangguan tidur. Toleransi nyeri dapat ditingkatkan dengan obat-obatan, alkohol, hipnotis, kehangatan, distraksi dan praktek spiritual (Le Mone & Burke, 2008).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain:
a. Pengalaman Nyeri Masa Lalu
Semakin sering individu mengalami nyeri, makin takut pula individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut. Individu ini mungkin akan lebih sedikit mentoleransi nyeri; akibatnya, ia ingin nyerinya segera reda dan sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah. Individu dengan pengalaman nyeri berulang dapat mengetahui ketakutan peningkatan nyeri dan pengobatannva tidak adekuat (Potter & Perry, 2005).
b. Kecemasan
Ditinjau dari aspek fisiologis, kecemasan yang berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri.
Secara klinik, kecemasan pasien menyebabkan menurunnya kadar
serotonin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang memiliki andil dalam memodulasi nyeri pada susunan saraf pusat. Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan sensasi nyeri (Le Mone & Burke, 2008).
c. Umur
Umumnya para lansia menganggap nyeri sebagai komponen alamiah dari proses penuaan dan dapat diabaikan atau tidak ditangani oleh petugas kesehatan. Di lain pihak, normalnya kondisi nyeri hebat pada dewasa muda dapat dirasakan sebagai keluhan ringan pada dewasa tua. Orang dewasa tua mengalami perubahan neurofisiologi dan mungkin mengalami penurunan persepsi sensori stimulus serta peningkatan ambang nyeri. Selain itu, proses penyakit kronis yang lebih umum terjadi pada dewasa tua seperti penyakit gangguan, kardiovaskuler atau diabetes mellitus dapat mengganggu transmisi impuls saraf normal (Le Mone & Burke, 2008).
Cara lansia bereaksi terhadap nyeri dapat berbeda dengan cara bereaksi orang yang lebih muda. Karena individu lansia mempunyai metabolisme yang lebih lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot lebih besar dibanding individu berusia lebih muda, oleh karenanya analgesik dosis kecil mungkin cukup untuk menghilangkan nyeri pada lansia. Persepsi nyeri pada lansia mungkin berkurang sebagai akibat dari perubahan patologis berkaitan dengan beberapa penyakitnya (misalnya diabetes), akan tetapi pada individu lansia
yang sehat persepsi nyeri mungkin tidak berubah (Le Mone & Burke, 2008).
Diperkirakan lebih dari 85% dewasa tua mempunyai sedikitnya satu masalah kesehatan kronis yang dapat menyebabkan nyeri. Lansia cenderung mengabaikan lama sebelum melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan karena sebagian dari mereka menganggap nyeri menjadi bagian dari penuaan normal. Sebagian lansia lainnya tidak mencari perawatan kesehatan karena mereka takut nyeri tersebut menandakan penyakit yang serius. Penilaian tentang nyeri dan ketepatan pengobatan harus didasarkan pada laporan nyeri pasien dan pereda ketimbang didasarkan pada usia (Potter & Perry, 2005).
d. Jenis Kelamin
Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri.
Berbagai penyakit tertentu ternyata erat hubungannya dengan jenis kelamin, dengan berbagai sifat tertentu. Penyakit yang hanya dijumpai pada jenis kelamin tertentu, terutama yang berhubungan erat dengan alat reproduksi atau yang secara genetik berperan dalam perbedaan jenis kelamin (Le Mone & Burke , 2008).
Di beberapa kebudayaan menyebutkan bahwa anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis, sedangkan seorang anak perempuan boleh menangis dalam situasi yang sama. Toleransi nyeri dipengaruhi oleh faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin. Meskipun
penelitian tidak menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyerinya, pengobatan ditemukan lebih sedikit pada perempuan. Perempuan lebih suka mengkomunikasikan rasa sakitnya, sedangkan laki-laki menerima analgesik opioid lebih sering sebagai pengobatan untuk nyeri (Potter
& Perry, 2005).
e. Sosial Budaya
Mengenali nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki seseorang dan memahami mengapa nilai-nilai ini berbeda dari nilai-nilai kebudayaan lainnya dapat membantu untuk menghindari mengevaluasi perilaku pasien berdasarkan pada harapan dan nilai budaya seseorang. Perawat yang mengetahui perbedaan budaya akan mempunyai pemahaman yang lebih besar tentang nyeri pasien dan akan lebih akurat dalam rnengkaji nyeri dan reaksi perilaku terhadap nyeri juga efektif menghilangkan nyeri pasien (Potter & Perry, 2005).
f. Nilai Agama
Pada beberapa agama, individu menganggap nyeri dan penderitaan sebagai cara untuk membersihkan dosa. Pemahaman ini membantu individu menghadapi nyeri dan menjadikan sebagai sumber kekuatan. Pasien dengan kepercayaan ini mungkin menolak analgetik dan metode penyembuhan lainnya; karena akan mengurangi (Potter &
Perry, 2005).
g. Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat
Lingkungan dan kehadiran dukungan keluarga juga dapat mempengaruhi nyeri seseorang. Pada beberapa pasien yang mengalami nyeri seringkali bergantung pada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan, perlindungan.
Walaupun nyeri tetap terasa, tetapi kehadiran orang yang dicintainya akan dapat meminimalkan rasa kecemasan dan ketakutan. Apabila keluarga atau teman tidak ada seringkali membuat nyeri pasien tersebut semakin tertekan. Pada anak-anak yang mengalami nyeri kehadiran orang tua sangat penting (Potter & Perry, 2005).
3. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua yaitu nyeri akut dan nyeri kronis. Klasifikasi ini berdasarkan pada waktu atau durasi terjadinya nyeri.
a. Nyeri akut
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi dalam kurun waktu yang singkat, biasanya kurang dari 6 bulan. Nyeri akut yang tidak diatasi secara adekuat mempunyai efek yang membahayakan di luar ketidaknyamanan yang disebabkannya karena dapat mempengaruhi sistem pulmonary, kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin, dan imonulogik (Potter & Perry, 2005).
b. Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri yang berlangsung selama lebih dari 6 bulan. Nyeri kronik berlangsung di luar waktu penyembuhan yang
diperkirakan, karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Jadi nyeri ini biasanya dikaitkan dengan kerusakan jaringan (Guyton & Hall, 2008). Nyeri kronik mengakibatkan supresi pada fungsi sistem imun yang dapat meningkatkan pertumbuhan tumor, depresi, dan ketidak mampuan.
Berdasarkan sumbernya, nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri nosiseptif dan neuropatik (Potter & Perry, 2005).
a. Nyeri nosiseptif
Nosiseptif berasal dari kata “noxsious/harmful nature” dan dalam hal ini ujung saraf nosiseptif, menerima informasi tentang stimulus yang mampu merusak jaringan. Nyeri nosiseptif bersifat tajam, dan berdenyut (Potter & Perry, 2005).
b. Nyeri neuropatik
Nyeri neuropatik mengarah pada disfungsi di luar sel saraf.
Nyeri neuropatik terasa seperti terbakar kesemutan dan hipersensitif terhadap sentuhan atau dingin. Nyeri spesifik terdiri atas beberapa macam, antara lain nyeri somatik, nyeri yang umumnya bersumber dari kulit dan jaringan di bawah kulit (superficial) pada otot dan tulang. Macam lainnya adalah nyeri menjalar (referred pain) yaitu nyeri yang dirasakan di bagian tubuh yang jauh letaknya dari jaringan yang menyebabkan rasa nyeri, biasanya dari cidera organ visceral. Sedangkan nyeri visceral adalah nyeri yang berasal dari
bermacam-macam organ viscera dalam abdomen dan dada (Guyton
& Hall, 2008).
4. Fisiologi Nyeri
Saat terjadinya stimulus yang menimbulkan kerusakan jaringan hingga pengalaman emosional dan psikologis yang menyebabkan nyeri, terdapat rangkaian peristiwa elektrik dan kimiawi yang kompleks, yaitu transduksi, transrmisi, modulasi dan persepsi. Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius diubah menjadi aktivitas elektrik pada ujung saraf sensorik (reseptor) terkait. Proses berikutnya, yaitu transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls yang menuju ke atas (ascendens), dari medulla spinalis ke batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik antara thalamus dan cortex. Proses ketiga adalah modulasi yaitu aktivitas saraf yang bertujuan mengontrol transmisi nyeri. Suatu senyawa tertentu telah ditemukan di sistem saraf pusat yang secara selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Senyawa ini diaktifkan jika terjadi relaksasi atau obat analgetika seperti morfin (Dewanto, 2003).
Proses terakhir adalah persepsi, proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum jelas. Bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat disayangkan karena nyeri secara mendasar merupakan pengalaman subyektif yang dialami seseorang sehingga sangat sulit untuk memahaminya (Dewanto, 2003). Nyeri diawali sebagai pesan
yang diterima oleh saraf-saraf perifer. Zat kimia (substansi P, bradikinin, prostaglandin) dilepaskan, kemudian menstimulasi saraf perifer, membantu mengantarkan pesan nyeri dari daerah yang terluka ke otak.
Sinyal nyeri dari daerah yang terluka berjalan sebagai impuls elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal spinal cord (daerah pada spinal yang menerima sinyal dari seluruh tubuh). Pesan kemudian dihantarkan ke thalamus, pusat sensoris di otak di mana sensasi seperti panas, dingin, nyeri, dan sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan lalu dihantarkan ke cortex, di mana intensitas dan lokasi nyeri dipersepsikan. Penyembuhan nyeri dimulai sebagai tanda dari otak kemudian turun ke spinal cord. Di bagian dorsal, zat kimia seperti endorphin dilepaskan untuk mengurangi nyeri di daerah yang terluka (Potter & Perry, 2005).
Di dalam spinal cord, ada gerbang yang dapat terbuka atau tertutup.
Saat gerbang terbuka, impuls nyeri lewat dan dikirim ke otak. Gerbang juga bisa ditutup. Stimulasi saraf sensoris dengan cara menggaruk atau mengelus secara lembut di dekat daerah nyeri dapat menutup gerbang sehingga mencegah transmisi impuls nyeri. Impuls dari pusat juga dapat menutup gerbang, misalnya motivasi dari individu yang bersemangat ingin sembuh dapat mengurangi dampak atau beratnya nyeri yang dirasakan (Potter & Perry, 2005).
Kozier, dkk. (2009) mengatakan bahwa nyeri akan menyebabkan respon tubuh meliputi aspek fisiologis dan psikologis, merangsang respon otonom (simpatis dan para simpatis respon simpatis akibat nyeri seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, peningkatan
pernapasan, meningkatkan tegangan otot, dilatasi pupil, wajah pucat, diaphoresis, sedangkan respon parasimpatis seperti nyeri dalam, berat, berakibat tekanan darah turun nadi turun, mual dan muntah, kelemahan, kelelahan, dan pucat.
Pada kasus nyeri yang parah dan serangan yang mendadak merupakan ancaman yang mempengaruhi manusia sebagai sistem terbuka untuk beradaptasi dari stressor yang mengancam dan menganggap keseimbangan. Hipotalamus merespon terhadap stimulus nyeri dari reseptor perifer atau korteks cerebral melalui sistem hipotalamus pituitary dan adrenal dengan mekanisme medula adrenal hipofise untuk menekan fungsi yang tidak penting bagi kehidupan sehingga menyebabkan hilangnya situasi menegangkan dan mekanisme kortek adrenal hopfise untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan menyediakan energi kondisi emergency untuk mempercepat penyembuhan. Apabila mekanisme ini tidak berhasil mengatasi stressor (nyeri) dapat menimbulkan respon stress seperti turunnya sistem imun pada peradangan dan menghambat penyembuhan dan kalau makin parah dapat terjadi syok ataupun perilaku yang meladaptif (Potter & Perry, 2005).
5. Pengukuran Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif
yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut Smeltzer & Bare (2002) adalah sebagai berikut : a. Skala intensitas nyeri
Gambar 2.1 Skala identitas nyeri Sumber: Smeltzer & Bare (2002)
b. Skala identitas nyeri numerik
Gambar 2 2 Skala identitas nyeri numerik Sumber: Smeltzer & Bare (2002)
c. Skala analog visual
Gambar 2 3 Skala analog visual Sumber: Smeltzer & Bare (2002)
d. Skala nyeri menurut bourbanis
Gambar 2 4 Skala nyeri menurut bourbanis Sumber: Smeltzer & Bare (2002)
Keterangan : 0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan memiliki gejala yang tidak dapat terdeteksi.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif pasien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik. Memiliki karateristik adanya peningkatan frekuensi pernafasan, tekanan darah, kekuatan otot, dan dilatasi pupil.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi. Memiliki karateristik muka pasien pucat, kekakuan otot, kelelahan dan keletihan
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Pasien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan pasien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis.
Pendeskripsi ini diurut dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan pasien skala tersebut dan meminta pasien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan pasien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, pasien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala ini paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (Potter & Perry, 2005).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala
ini memberi pasien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena pasien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
e. Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat pasien melengkapinya. Apabila pasien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskriptif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi pasien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).
D. Lutut
1. Pengertian Lutut
Lutut merupakan sendi terbesar dari sendi tubuh lainnya. Sendi lutut terletak diantara sendi ankle dan sendi panggul dan mempunyai peran yang penting sebagai stabilisator dan penggerak organ ekstremitas. Sendi lutut merupakan sendi sinovium yang memiliki ciri-ciri yaitu permukaan artikular dilapisi tulang rawan, mempunyai kapsul sendi, mempunyai memberan sinovium yang memproduksi cairan sinovium, terdapat meniskus pada intra artikular sebagai peredam kejut, terdapat persarafan yaitu proprioreceptor yang bertanggungjawab terhadap sensasi posisi dan
gerak, serta nociceptor yang mengontrol sensasi sakit (Suriani & Lesmana, 2013).
Otot-otot penggerak sendi lutut adalah bagian anterior otot penggerak sendi lutut yang utama adalah otot quadrisep yang terdiri dari: musculus rectus femoris, musculus vastus lateralis, musculus medialis dan musculus vastus intermedialis, bagian posterior: musculus biceps femoris, musculus semitendinosus, musculus semimembranosa dan musculus gastrocnemius, bagian medial: musculus sartorius, (Putz & Pabts, 2000).
Secara biomekanik, sendi lutut terjadi gerakan osteokinematik dan artrokinematik. Osteokinematik merupakan analisa gerak dimana gerak dipandang dari tulang pembentuk sendi. Gerakan tersebut terdiri atas fleksi-ekstensi, eksorotasi-endorotasi dimana gerakan tersebut dapat diukur dengan alat yang disebut goniometer. Gerakan artrokinematik merupakan analisa gerak dipandang dari permukaan sendinya, disebut juga gerak intra artikular yang terdiri dari gerak traksi, kompresi, translasi dan spin (Anwar, 2012).
2. Anatomi Lutut
Sendi lutut dibentuk oleh tiga persendian yaitu tibiofemoralis, patellofemoralis, tibiofibularis. Sendi lutut disusun oleh tulang femur, tulang patella, tulang tibia dan tulang fibulla. Pada ujung distal tulang femur teridiri atas dua kondilus besar yaitu, kondilus lateral dan kondilus medial. Kedua kondilus tersebut memiliki panjang berbeda dimana bila dilihat dari depan kondilus medial nampak lebih panjang dari pada
kondilus lateral. Perbedaan panjang kedua kondilus tersebut berpengaruh pada rotasi dan penguncian sendi lutut (Seeley, 2003).
Sendi lutut mempunyai fungsi sebagai stabilitas aktif sekaligus sebagai penggerak dalam aktifitas sendi lutut, otot tersebut antara lain otot quadriceps femoris (vastus medialis, vastus intermedius, vastus lateralis, rectus femoris). Keempat otot tersebut bergabung sebagai grup ekstensor sedangkan grup fleksor terdiri dari otot gracilis, sartorius dan semi tendinosus. Gerak rotasi pada sendi lutut dipelihara oleh otot-otot grup fleksor baik grup medial/endorotasi (m.semi tendinosus, semi membranosus, sartorius, gracilis, popliteus) dan grup lateral eksorotasi (m.biceps femoris, m.tensor fascialata) (Mansfield & Neumann, 2009).
Gambar 2 5 Grup otot quadriceps & hamstring Sumber: Mansfield & Neumann, 2009
Grup otot fleksor dan grup lateral rotasi pada sendi lutut sebagai stabilisasi juga diperkuat oleh beberapa ligamen, yaitu ligamen cruciatum anterior dan posterior yang berfungsi untuk menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan (eksorotasi). Ligamen cruciatum posterior berfungsi untuk menahan bergesernya tibia ke arah belakang.
Pada gerakan endorotasi kedua ligamen cruciatum menyatu, yang mengakibatkan kedua permukaan sendi tertekan, sehingga saling mendekat dan kemampuan bergerak antara tibia dan femur berkurang. Pada gerakan eksorotasi, kedua ligamen cruciatum saling sejajar, sehingga pada posisi ini sendi kurang stabil. Di sebelah medial dan lateral sendi lutut terdapat ligamen collateral medial dan lateral. Ligamen collateral medial menahan gerakan valgus serta eksorotasi, sedangkan ligamen collateral lateral hanya menahan gerakan ke arah varus. Kedua ligamen ini menahan bergesernya tibia ke depan dari posisi fleksi lutut 90 derajat (Arya & Jain, 2013).
Gambar 2 6 Ligamen pembentuk sendi lutut Sumber: Arya & Jain, 2013
Hubungan yang simetris antara condylus femoris dan condylus tibia dilapisi oleh meniscus dengan struktur fibrocartilago yang melekat pada kapsul sendi. Meniscus medialis berbentuk seperti cincin terbuka “C” dan meniscus lateralis berbentuk cincin “O”. Meniscus ini akan membantu mengurangi tekanan femur atas tibia dengan cara menyebarkan tekanan pada cartilago articularis dan menurunkan distribusi tekanan antara kedua
condylus, mengurangi friksi selama gerakan berlangsung, membantu kapsul sendi dan ligamentum dalam mencegah hiperekstensi lutut dan mencegah capsul sendi terdorong melipat masuk ke dalam sendi (Litwic, 2013).
3. Biomekanik Sendi Lutut
Secara biomekanik, pada sendi lutut beban yang diterima dalam keadaan normal akan melalui medial sendi lutut dan akan diimbangi oleh otot-otot paha bagian lateral, sehingga resultannya akan jatuh di bagian sentral sendi lutut.
a. Osteokinematika
Osteokinematika merupakan gerakan yang terjadi diantara dua tulang yang merupakan gerakan fisiologis sendi. Sendi lutut merupakan hinge joint dengan gerak rotasi ayun dalam bidang sagital sebagai fleksi-ekstensi. Pada ekstensi terakhir terjadi rotasi eksternal tibia yang dikenal closed rotation phenomenon. Pada gerakan fleksi nilai LGS normal 1300 -1400 dengan soft end feel, oleh penekanan jaringan lunak. Pada hiperekstensi ROM berkisar antara 50 - 100 dengan hard end feel, oleh pembatasan tulang (Kisner & Colby, 2012).
Pembatasan tulang dalam gerakan putaran pada bidang rotasi dengan lingkup gerak sendi untuk endorotasi antara 300-350, sedangkan untuk eksorotasi antara 400-450 dari posisi awal mid posision. Gerakan rotasi ini terjadi pada posisi lutut fleksi 900 (Kisner & Colby, 2012).
b. Arthrokinematika
Artrokinematika pada sendi lutut di saat femur bergerak rolling dan sliding berlawanan arah, disaat terjadi gerak fleksi femur rolling ke arah belakang dan sliding-nya ke depan, saat gerakan ekstensi femur rolling kearah depannya sliding-nya ke belakang. Jika tibia bergerak fleksi ataupun ekstensi maka rolling maupun sliding terjadi searah, saat fleksi menuju dorsal, sedangkan ekstensi menuju ventral (Kisner & Colby, 2012).