• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Pendidikan Karakter dalam Dongeng Tujuh Menit Karya Clara NG dan Relevansinya Bagi Anak Usia Madrasah Ibtidaiyah (MI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nilai Pendidikan Karakter dalam Dongeng Tujuh Menit Karya Clara NG dan Relevansinya Bagi Anak Usia Madrasah Ibtidaiyah (MI)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

E-ISSN: 2654-5497, P-ISSN: 2655-1365 Website: http://jonedu.org/index.php/joe

Nilai Pendidikan Karakter dalam Dongeng Tujuh Menit Karya Clara NG dan Relevansinya Bagi Anak Usia Madrasah Ibtidaiyah (MI)

Putri Puji Ayu Lestari

Pascasarjana Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’yah, IAIN Purwokerto

Jl. A. Yani No.40A, Karanganjing, Purwanegara, Kec. Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah [email protected]

Abstract

The purpose of this research is to analyze the educational values contained in Clara NG's 7-Minute Fairy Tale and its relevance in the world of children, especially in children of Madrasah Ibtidaiyah (MI) age. This research uses qualitative methods, which produce descriptive data. This study will analyze, analyze, and clarify the value of character education for MI-age children in 7-Minute Fairy Tales by focusing on the value of character education and its relevance to the values of character education for MI-age students.

Keywords: character education, fairy tales, students’ madrasah ibtidayiyah

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan yang yang ada dalam Dongeng 7 Menit karya Clara NG serta relevansinya dalam dunia anak khususnya pada anak usia Madrasah Ibtidaiyah (MI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang menghasilkan data deskriptif. Penelitian ini akan menuturkan, menganalisis dan mengklarifikasikan nilai pendidikan karakter bagi anak usia MI dalam Dongeng 7 Menit dengan memfokuskan pada nilai pedidikan karakter dan relevansinya dengan nilai-nilai pendidikan karakter bagi siswa usia MI.

Kata kunci: pendidikan karakter, dongeng, siswa madrasah ibtidayiyah

Copyright (c) 2022 Putri Puji Ayu Lestari Corresponding author: Putri Puji Ayu Lestari

Email Address: [email protected] (Jl. A. Yani No.40A, Karanganjing, Purwanegara, Banyumas) Received 20 June 2022, Accepted 06 June 2022, Published 06 June 2022

PENDAHULUAN

Karya sastra di samping menawarkan tentang berbagai macam masalah kehidupan, sastra juga memberikan pemahaman tentang berbagai macam karakter manusia dan informasi yang dapat membantu pemahaman pembaca (Burhan Nurgiyantoro, 2005: 3). Pendidikan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena dengan adanya pendidikan manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam segi pengetahuan bangsa Indonesia untuk menciptakan insan yang berilmu dan berwawasan sehingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang cerdas. Dalam psikologi pengertian pendidikan adalah kegiatan yang didalamnya melibatkan banyak orang, Diantarannya peserta didik (siswa), pendidik, administrator, masyarakat, dan orang tua (Mahmud, 2017: 13). Dapat disimpulkan bahwa, pendidikan di Indonesia pada dasarnya adalah penanaman nilai-nilai pada diri seseorang, agar kelak tumbuh menjadi anak yang tidak hanya mempunyai kecerdasan akal, namun juga kecerdasan mental dan spiritual serta dapat bersaing dengan bangsa lain.

Sama halnya dengan pendidikan, karakter juga merupakan hal yang mendasar bagi manusia.

Karakter menurut Zubaedi (2011:1) adalah pembeda manusia dengan binatang. Manusia tanpa

(2)

karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”. Saat ini pembangunan karakter bangsa menjadi salah satu perhatian kuat pemerintah, karena melihat banyaknya kasus yang menyangkut kemerosotan moralitas yang melibatkan pelajar di Indonesia. Sepatutnya program pembangunan karakter ini disambut baik dan dirumuskan langkah-langkah sistematik dan komprehensif untuk diimplementasikan dalam proses pendidikan. Pendidikan karakter bukanlah kebijakan baru dalam pendidikan melainkan upaya mengembalikan penyelenggaraan pendidikan kepada esensi yang sesungguhnya.

Baru-bari ini kemerosotan karakter anak bangsa diperkuat dengan adanya bukti kenakalan remaja. Dimana seorang anak remaja berusia 15 tahun menjadi tersangka pembunuhan anak balita berusia 5 tahun dikarena senang membaca buku dan menonton film di Youtube beraliran thriller (mengerikan). Selain itu, hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2016 menunjukkan bahwa sedikitnya ada 3000 kasus menyebar pada 9 dari 34 provinsi yang terdata adanya human traficking (penjualan anak) hingga aksi-aksi kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak.

Semakin maraknya tindak kriminal serta kemerosotan moral yang terjadi dikalangan pelajar dari tahun ke tahun mengindikasikan ada hal yang salah dalam pendidikan kita. Salah satu faktor penyebabnya yakni kurangnya pengawasan dan perhatian dari orang orang tua terhadap perilaku keseharian anak. akibat, kurangnya perhatian orang tua bisa mengakibatkan seorang anak susah diatur, tidak menghormati peraturan, dan tidak mempunyai sifat peduli sosial.

Selain orang tua, pendidik juga mempunyai peranan pentig dalam membentuk karakter anak di sekolah. Terkadang masih banyak pendidik yang hanya memberikan tugas tanpa memberikan penguatan materi. Beberapa kasus banyak pula pendidik yang pilih kasih terhadap peserta didiknya.

Tanpa disadari, hal itu juga dapat menganggu jiwa seorang peserta didiknya menjadi tidak bersemangat berangkat sekolah dan tidak menaati peraturan sekolah

Seiring dengan perkembangan ilmu pendidikan, pengetahuan, dan teknologi (IPTEK), pendidikan mengalami pergeseran paradigma. Pendidikan yang selama ini terbatas di ruang kelas, dapat terjadi di luar kelas melalui media pendidikan lain, baik media massa, media cetak maupun media elektronik. Beragamnya model penyajian media telah mengambil peran yang cukup penting dalam dunia pendidikan. Tidak hanya teknologi yang mengajarkan karakter baik melalui sebuah film, karya sastra seperti dongeng, puisi, dan novel juga dapat mengajarkan nilai-nilai karakter pendidikan bagi anak, melalui pesan-pesan moral yang bisa dijadikan contoh untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sastra merupakan media pembelajaran yang banyak disukai orang untuk untuk menyampaikan nilai atau pesan moral kepada orang lain. Pesan-pesan yang disajikan dalam buku seperti novel, komik, dongeng, puisi, dan lain sebagainya dan ternyata memiliki efek psikologis yang lebih besar. Salah satunya adalah media cetak memiliki tingkat kedekatan proximity (kedekatan) yang lebih besar dibandingkan dengan media elektronik. Pembentukan karakter anak memang tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat karena membutuhkan proses panjang dalam waktu yang lama.

(3)

Hal tersebut juga dilakukan secara terus-menerus dengan menggunakan metode yang tepat dan efektif. Salah satu karya satra yang dapat digunakan untuk membentuk karakter anak adalah melalui dongeng.

Menurut Pusat Bahasa (2003:167), dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi atau cerita bohong. Salah satu unsur intrinsik yang ada dalam dongeng adalah memiliki amanat atau pesan moral. Oleh karena itu, dongeng bisa dijadikan sebagai media untuk membentuk karakter anak karena memiliki nilai budi pekerti yang bisa dipelajari oleh anak. Menurut Dudung (2015), dongeng adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang kejadian luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) dan tidak benar-benar terjadi. Selain itu, Kamisa (Zakia, 2017) menjelaskan bahwa pengertian dongeng adalah cerita yang dituturkan atau dituliskan yang bersifat hiburan dan biasanya tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dongeng adalah cerita fiktif yang bertujuan untuk menghibur dan mengandung nilai-nilai budi pekerti di dalamnya.

Dongeng dapat dibagi menjadi tujuh jenis, yaitu mitos, sage, fabel, legenda, cerita lucu, cerita pelipur lara, dan perumpamaan. Jenis-jenis dongeng antara lain (1) mitos: bentuk dongeng yang menceritakan hal-hal magis seperti cerita tentang dewa-dewa, peri atau Tuhan; (2) sage: dongeng kepahlawanan, keberanian, atau sihir seperti sihir dongeng Gajah Mada; (3) fabel: dongeng tentang binatang yang dapat berbicara atau berperilaku seperti manusia; (4) legenda: bentuk dongeng yang menceritakan tentang sebuah peristiwa tentang asal-usul suatu benda atau tempat; (5) cerita jenaka:

cerita yang berkembang di masyarakat dan dapat membangkitkan tawa; (6) cerita pelipur lara:

biasanya berbentuk narasi yang bertujuan untuk menghibur tamu di pesta dan kisah yang diceritakan oleh seorang ahli; dan (7) cerita perumpamaan: bentuk dongeng yang mengandung kiasan, contohnya adalah didaktik dari Haji Pelit. Cerita tersebut tumbuh dan berkembang di daerah dan dinamakan cerita lokal (Dudung, 2015).

Sedangkan manfaat dongeng bagi anak ialah dapat mengasah kreativitas dan minat anak dalam membaca. Selain itu, anak juga bisa belajar nilai-nilai karakter yang ada dalam cerita. Jika kebiasaan baik seperti ini terus diterapkan, maka akan memberikan manfaat positif bagi tumbuh kembang mental anak, bahkan memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupannya di masa depan.

Siswa sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah adalah siswa dengan usia 7-8 tahun. Dimana pada usia tersebut pertumbuhan otak dalam masa keemasan (golden age). Menurut Hidayah (2009:10), Pertumbuhan otak dan kepala anak lebih cepat daripada pertumbuhan organ yang lain. Dilihat dari aspek perkembangan kecerdasan balita, banyak ahli mengatakan: (a) pada usia 0-4 tahun mencapai 50%; (b) pada usia 4-8 tahun mencapai 80%; dan (c) pada usia 8-18 tahun mencapai 100%. Anak mempunyai daya imajinasi yang lebih beragam dari pada orang dewasa. Terlebih lagi ketika anak- anak bermain peran, yaitu memerankan tokoh dari sebuah cerita, maka imajinasinya akan menghidupkan daya fantasinya sehingga ia seolah-olah benar-benar menjadi sosok yang diperankannya tersebut. Oleh karena itu, orangtua perlu melatih kemampuan fisik dan kemampuan

(4)

berpikir anak, termasuk mengembangkan imajinasi anak. Merangsang rasa ingin tahu anak dapat dilakukan dengan mengajak jalan-jalan, melihat gambar, serta membacakan sebuah dongeng.

Salah satu dongeng yang berisi nilai-nilai pendidikan karakter ialah Dongeng 7 Menit karya Clara Ng. Clara Regina Juana atau dikenal dengan nama pena Clara Ng, lahir di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1973, dan melewati masa kecil serta remajanya di Jakarta. Setelah lulus sekolah tingkat lanjutan atas, ia berangkat ke Amerika Serikat untuk meneruskan sekolahnya di Universitas Negeri Ohio (Ohios State University). Ia mengambil jurusan Interpersonal Communication dan lulus pada tahun 1997. Setelah lulus kuliah dia memilih menjadi ibu rumah tangga dan seorang penulis. Karya- karyanya yang terkenal ialah novel trilogo Indiana Chronicle, cerpen Rahasia Bulan dan Malaikat Jatuh, dongeng-dongeng filsafat dialektika, dan masih banyak lagi lainya.

Dongeng 7 Menit adalah salah satu karya Clara Ng yang berisi kumpulan cerita seperti ‘Bugi Hiu Suka Senyum’, ‘Wayang Sebelum Tidur’, ‘Upik Bermain Bola’, ‘Air Mata Buaya’, ‘Kancil yang Baik’, ‘Ketahuan’, dan ‘Padi Merah Jambu’. Masing-masing kisah mempunyai pesan moral yang mengajak pembaca agar selalu menerima perbedaan, dan mencintai diri sendiri yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami untuksiswa usia sekolah dasar. Oleh sebab itu, Dongeng 7 Menit karya Clara Ng sangat berguna untuk menanamkan karakter pada diri anak. Peneliti tertarik untuk meneliti Dongeng 7 Menit karya Clara Ng dengan judul Nilai-Nilai Karakter dalam Dongeng 7 Menit Karya Clara Ng dan Relevansinnya dengan Pendidikan Karakter bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah.

METODE

Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan (Library Reaserch). Penelitian kepustakaan adalah teknik penelitian yang megumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai macam materi yang terdapat dalam kepustakaan. Penelitian ini akan menuturkan, menganalisis dan mengklarifikasikan nilai pendidikan karakter bagi anak usia MI dalam Dongeng 7 Menit dengan memfokuskan pada nilai pedidikan karakter dan metode pembelajaran yang ada di dalamnya. Sumber data peneltian ini dibagi menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah buku Dongeng 7 Menit karya Clara Ng yang diterbitkan pada tahun 2015. Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku pendidikan karakter salah satunya adalah Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global Karya Doni Koesoema A, jurnal, skripsi, dan sebagainya yang relevan dengan penelitian.

Dalam penelitian kepustakaan ini metode pengumpulan data yang digunakan antara lain: (a) Metode Studi Pustaka, dimana dalam studi pustaka ini, peneliti mengkaji buku Dongeng & Menit dan buku-buku tentang pendidikan karakter. (b) Metode Dokumentasi, yaitu dengan menghimpun dan menganalisis baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik. Dalam hal ini peneliti mendapatkan tentang biografi Clara Ng dari blog beberapa orang yang mengkutip langsung hasil wawancara dengan Clara Ng, untuk menemukan pengalamn dan latar belakang kehidupannya. (c) Metode Analisis Data, yaitu penelitian yang berisifat pembahasan mendalam terhadap ini suatu informasi

(5)

tertulis atau tercetak dalam media cetak, dengan mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudia diberi interpretasi. Dalam hal ini digunakan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Dongeng 7 Menit.

HASIL DAN DISKUSI

Nilai adalah harga atau kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap memiliki nilai apabila secara intrinsik memiliki kemanfaatan. Sebab, nilai memiliki arti harga, pesan, makna, semangat yang terkandung dalam fakta, konsep atau teori. Karena itu, pada dasarnya nilai tidak berdiri sendiri tetapi perlu disandarkan kepada konsep tertentu (Subur, 2015:51). Sedangkan menurut Beni Ahmad Saebani dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam (2009) mengatakan, sesuatu dikatakan bernilai tidak hanya dipandang dari sisi fisik atau jasmani, tetapi juga dari sisi spiritual karena manusia merupakan perpaduan antara jasmani dan rohani yang seimbang. Dengan demikian, nilai merupakan suatu konsep, yaitu pembentukan mentalitas yang dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga menjadi sejumlah anggapan yang hakiki, baik dan perlu dihargai sebagaimana semestinya.

Karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia lingkungannya, yang berwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat (Fathurrohman, 2013: 18). Menurut Mansur (2011: 29) Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek teori pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter menekankan pada kebiasaan yang terus-menerus dipraktikan dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa ketiga aspek tersebut, pendidikan karakter dipandang tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Gambar 1. Pengembangan Nilai-nilai Karakter

(6)

Bugi Hiu Suka Senyum

Dongen Bugi Hiu Suka Senyum mengajarkan kita bahwa menjadi berbeda dengan yang lain bukanlah hal yang salah. Justu, terkadang perbedaan itulah yang dapat menyatukan kita, karena setiap orang memiliki kemampuan dan kekurangannya masing-masing. Semua permasalahan dapat diatasi dengan hal-hal kecil seperti ‘senyuman’ dan tutur kata yang baik. Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup sendiri, melainkan untuk saling melengkapi dan berdampingan, maka berbuat baik dan bersahabatlah dengan siapa saja.

Pendidikan karakter yang terdapat dalam dongeng Bugi Hiu Suka Senyum adalah karakter toleransi, peduli sosial, bersahabat, cinta damai, dan demokrasi. Dikisahkan Bugi si hiu adalah hiu yang suka senyum dan memiliki banyak teman dari jenis binantang, menyebabkan ia tidak disukai oleh teman hiu lainya. Permasalahan muncul saat sekolompok lumba-lumba bermain dengan suara yang keras. Hiu-hiu yang lain ingin mengusir dengan cara menakut-nakuti (menyeringai) pada lumba- lumba. Namun, cara itu tidak berhasil dan malah ditertawakan oleh kelompok lumba-lumba. Tetapi, dengan cerdik dan kreatifnya Bugi si hiu mengusulkan untuk berbicara baik-baik dan tersenyum pada lumba-lumba, dengan begitu mereka bisa bermain bersama. Sikap-sikap yang ditunjukka Bugi adalah sikap yang dapat dijadikan contoh penanaman karakter pada anak dalam bersosial. Dengan begitu anak akan mudah bergaul dan beradaptasi di lingkungan-lingkungan baru yang ditemuinya.

Wayang Sebelum Tidur

Dongeng Wayang sebelum Tidur menandung banyak sekali pembelajaran. Pendidikan karakter yang terdapat dalam dongeng wayang sebelum tidur ini adalah karakter kreatif, mandiri, cinta tanah air, dan bersahabat. Dalam dongeng ini dikisahkan kakak beradik Sita dan Bima yang akan pergi tidur di malam hari, namun tidak kunjung mengantuk. Dengan cerdiknya Sita sang kakak, bermain banyangan membentuk sebuah burung dengan kedua tangannya. Mereka bergembira. Permasalahan muncul saat Bima sang adik ingin mencoba membuat burung seperti Kak Sita namun tidak bisa, karena jari-jarinya yang masih kecil. Dengan kreatifitasnya Kak Sita mengambil gunting dan kertas, lalu dipotongnya membentuk tokoh pewayangan Punakawan (Gareng, Petruk, dan Bagong).

Merekapun main bersama hingga jatuh tertidur. Sikap-sikap yang ditunjukan Sita dalam menyelesaikan permasalahan bersama adiknya merupakan sikap yang dapat diajar kepada peserta didik, untuk selalu dapat mandiri, berkreasi tanpa batas, serta mencintai budaya Indonesia

Upik Bermain Bola

Dongeng Upik Bermain Bola berisi banyak pembelajaran dan nilai-nilai pendidikan karakter, terutama perihal mencintai diri sendiri. Pendidikan karakter yang terdapat pada kisah ini adalah rasa ingin tahu, toleransi, bersahabat, cinta damai, peduli sosial, dan tanggung jawab. Dikisahkan Upik merupakan seekor ulat yang sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu. Permasalahan muncul ketika Upik tidak suka menjadi kupu-kupu terutama pada sayapnya. Menurutnya sayapnya sangat mengganggusaat ia sedang bermain sepak bola. Ia selalu bertanya mengapa ia menjadi seekor kupu- kupu, sedangkan ia lebih suka menjadi ulat. Upik mulai mencintai dirinya saat ia merasa bahwa

(7)

dengan sayapnya ia dapat membantu banyak orang, bahkan ia sekarang ia dapat mengambil bola yang tersangkut karena tendangan keras teman-temannya. Dari dongeng ini terdapat pelajaran penting yang dapat peserta didik ambil, bahwa perubah yang terjadi pada diri bukanlah akhir dari segalanya.

Jadikanlah perubahan itu alat yang dapat membantu kalian dalam menebar kebaikan.

Air Mata Buaya

Dongen Air Mata Buaya berisi banyak pembelajaran dan nilai-nilai karakter, diantaranya Peduli sosial, demokrasi, gemar membaca, toleransi, tanggung jawab, dan kreatif. Dalam dongeng tersebut dikisahkan seorang anak buaya yang mudah sekali menagis karena hal-hal kecil hingga membuat teman-teman dan ibu gurunya ikut menagis juga!. Suatu hari susu yang dibawa Jerapah tumpah ke lantai, melihat itu Buaya menagis tak berhenti. Rupanya ia menagis karena amat disayangkan susu itu tumpah, padahal masih banyak di luar sana yang tidak bisa minum susu. Hal lain terjadi lagi saat Bu Gajah membawa semangkuk besar bubur ayam yang akan dibagikan kepada anak-anak, namun sayangnya bubur itu kemasukkan cat yang tidak sengaja disemprotkan oleh Monyet. Melihat hal itu buaya langsung menagis, membuat yang lainnya pun ikut menangis, karena menurutnya bubur sebanyak itu tidak bisa dimakan, padahal di luar sana banyak anak-anak Indonesia yang kelaparan.

Dari kisah diatas pembelajaran karakter yang akan tertanam pada peserta didik adalah sikap peduli dan peka terhadap keadaan sekitar. Peserta didik akan diingatkan melalui hal-hal sederhana seperti menghabiskan makanan saat makan dan tidak membuang-buang makanan. Karena diluar sana banyak sekali anak-anak yang tidak dapat makan dan minum layak seperti mereka.

Kancil yang Baik

Dongen Kancil yang Baik berisi banyak pembelajaran dan nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat digunakan untuk menumbuhkan karakter anak terutama karakter jujur, disiplin, tanggung jawab, mandiri, kerja keras, cinta damai, peduli sosial, toleransi, dan menghargai prestasi. Dalam dongeng ini dikisahkan, anak kancil yang bernama Kancil adalah anak yang baik. Namun, zaman dahulu kancin terkenal dengan nakal karena menipu Pak Tani dan Buaya sehingga sampai saat ini ia tidak memiliki banyak teman. Suatu hari, dia bertekad ingin mengubah imej nya, dan menemui Pak Tani dan Buaya untuk meminta maaf. Segala hal dilakukan Kancil untuk Meminta Maaf, namun tetap tidak mendakan maaf dari Pak Tani dan Buaya. Kancil menunjukkan kegigihannya dengan membuatkan Pak Tani kue rasa ketimun dan merajut sebuah topi dan syal panjang untuk Buaya, hingga akhirnya ia dimaafkan dan berteman dengan keduanya. Pendidikan karakter yang dapat diajar kepada peserta didik dalam kisah ini adalah semangat dan kegigihan dalam mencai suatu keinginan, tentunya harus disertai kerja keras dan usaha. Tidak enggan mengucapkan kata ‘maaf’ bila salah dan mengucapkan ‘terimaksih’

saat telah diberi pertolongan.

Ketahuan!

Dongeng Ketahuan! Memiliki pembelajaran karakter pendidikan yang baik untuk anak-anak.

Pendidikan karakter yang terdapat dalam dongeng ini adalah disiplin, rasa ingin tahu, demokrasi, jujur, cinta damai, bersahat, dan toleran. Dalam dongeng ini dikisahkan tentang seorang anak kecil

(8)

bernama bintang yang selalu terbangun saat malam karena mendengar suara bisik-bisik yang bersumber dari mainannya. Bintang selalu bilang pada ibunya bahwa mainannya sangat berisik saat malam hari, namun ibunya tidak percaya. Hingga suatu malam, Bintang bertekad untuk terjaga dan akan memergoki mainan-maianannya yang sedang bermain dengan berisik. Namun, siapa sangka hal itu berhasil. Bintang melihat dengan nyata bahwa mainannya dapat hidup, bahkan mengajak Bintang bermain bersama mereka.

Pendidikan karakter yang dapat diajarkan pada peserta didik dalam kisah ini ialah tumbuhkanlah rasa ingin tahu mu sebanyak mungkin untuk mencari tahu kehebatan-kehebatan yang ada di dunia, agar peserta didik dapat mengagungkan ke-esaan Allah SWT terhadap semua makhluk ciptaanya.

Pembelajaran karakter yang lain adalah sikap jujur dan demokrasi yang dilakukan Bintang, yang diharapkan peserta didik dapat menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

Padi Merah Jambu

Dongeng Padi Merah Jambu merupakan dongeng terakhir pada buku ini, selain kisahnya yang mengandung banyak pembelajaran karakter seperti kerja keras, demokrasi, peduli sosial, kreatif, tanggung jawab, peduli sosial dan cinta tanah air. Kisah dimulai dari gambaran beberapa orang peri yang sedang bekerja sama untuk mengecat padi dengan warna keemasan untuk persiapan panen para petani di desa. Peri-peri itu dipimpin oleh Dewi Sri yang cantik. Namun, suatu hari Dewi Sri jatuh sakit sehingga tidak ada yang dapat membantu peri-peri lain mengecat padi. Singkat cerita, beberapa Kodok Hijau menawari dirinya menjadi relawan yang menggantikan Dewi Sri mengecat padi.

Masalah bermulai ketika para kodok tidak mewarnai padi-padi dengan kuning keemasan tapi malah berwarna pink dan biru, yang akhirnya membuat para petani bingung. Alhasil Dewi Sri meminta para kodok untuk mempertanggung jawabkan kesalahnnya dengan cara mengecat ulang padi-padi tersebut dengan warna keemasan. Keesokkannya padi kembali kuning keemasan dan membuat para petani senang.

Pembelajaran karakter yang dapat diajarkan kepada pesera didik ialah bahwa kita harus saling tolong bantu membantu kepada siapa pun yang sedang kesulitan. Peserta didik juga akan belajar tentang amanah, dimana di dalam amanah terdapat tanggung jawab yang besar yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin agar tetap dipercaya oleh orang lain. Tak lupa setiap pekerjaan akan selalu lebih ringan apabila dikerjakan secara bersama-sama dari pada sendiri.

Diskusi

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat relevansi antara nilai-nilai pendidikan karakter dalam dongeng 7 menit dan nilai-nilai pendidikan karakter bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah. Nilai-nilai tersebut tergolong ke dalam tiga fungsi, yakni fungsi spiritual, fungsi psikologis, fungsi sosial. Fungsi spiritual, Fungsi spiritual yang terdapat dongeng 7 menit adalah berkaitan dengan nilai religius. Nilai- nilai tersebut terdapat dalam dongeng upik bermain bola dan air mata buaya, yang mengisahkan tentang mencintai diri sendiri atas apa yang telah duberikan tuhan, dan tidak menyianyiakan makanan sebagai bentuk riski dari tuhan.

(9)

Fungsi psikologis, dalam buku dongeng 7 menit terdapat nilai-nilai yang mencerminkan fungsi psikologis, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai gemar membaca, nilai tanggung jawab, nilai pantang menyerah, nilai pemberani, nilai kedisiplinan, nilai kesabaran, nilai kasih sayang, nilai rasa ingin tahu, nilai jujur, dan nilai tanggung jawab. Nilai-nilai terdapat pada kisah Bugi Si Hiu, Wayang sebelum tidur, Kancil yang Baik, dan Ketahuan!.

Fungsi sosial, dalam buku dongeng 7 menit terdapat nilai-nilai yang mencerminkan fungsi sosial sosial. Di antaranya berupa nilai persahabatan, nilai peduli terhadap sesama, nilai toleransi, nilai peduli lingkungan, nilai semangat kebangsaan. Nilai-nilai terdapat pada kisah Padi Merah Jambu, Wayang Sebelum Tidur, Air Mata Buaya, Bugi Si Hiu, Kancil yang Baik, dan Upik Bermaian Bola.

Adanya relevansi antara nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Dongeng 7 Menit dengan ketiga fungsi (spiritual, psikologis, sosial) menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian fungsi terhadap karakter siswa Madrasah Ibtidaiyah. Salah satunya adalah memperbaiki karakter manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, dan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab.

KESIMPULAN

Karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia lingkungannya, yang berwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Dongeng dapat menjadi salah satu media pembetuk karakter,18 nilai karakter terdapat yang muncul dalam Dongeng 7 Menit dalam karya Clara Ng. nilai-nilai karakter tersebut ialah (1) tanggung jawab, (2) toleransi, (3) manidri, (4) kreatif, (5) peduli sosial, (6) demokrasi, (7) rasa ingin tahu, (8) bersahabat, (9) cinta damai, (10) cinta lingkungan, (11) menghargai prestasi, (12) gemar membaca, (13) cinta tanah air, (14) peduli lingkungan, (15) jujur, (16) religious, (17) disiplin, dan (18) semangat kebangsaan.

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat relevansi antara nilai- nilai pendidikan karakter dalam buku Dongeng 7 menit karya Clara Ng dan nilai-nilai pendidikan karakter bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah. Nilai-nilai tersebut tergolong ke dalam tiga fungsi, yakni fungsi spiritual, fungsi psikologis, fungsi sosial.

REFERENSI

Adriyono, Dudung. 2005. Cerita Rakyat Kabupaten Sukoharjo dalam program Pasca Sarjana.

Surakarta: program pasca sarja Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sstra Universita Sebelas Maret Surakarta.

Fathurrohman, Pupuh. 2013. Pengembangan Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama.

(10)

Habsari, Zakia. 2017. Dongeng Sebagai Pembentuk Karakter Anak. BIBLIOTIKA Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi, (1) 1, 21-29.

Hidayah, Rifa. 2009. Psikologi Pengasuhan Anak. Malang: UIN-Malang Press.

Https://www.websitependidikan.com/2017/01/pengertian-konsep-dasar-dan-manfaat-penguatan- pendidikan-karakter-serta-hal-penting-terkait-ppk.html

Mahmud. 2017. Psikologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Ng, Clara. 2015. Dongeng 7 Menit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Pusat Bahasa. 2003. Kamus Pelajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Saebani, Beni Ahmad dan Hendra Akhdiyat. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Sisdiknas. 2014. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. Bandung: Citra Umbara.

Subur. 2015. Pembelajaran Nilai Moral Berbasis Kisah. Yogyakarta: Kalimedia.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.

Alfabeta: Bandung.

Yaumi, Muhammad. 2016. Pendidikan Karakter Landasan (Pilar & Implementasi). Jakarta:

Prenadamedia Group.

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Pendidikan. Jakarta:

Prenada Media.

.

Referensi

Dokumen terkait

Mencari distro linux untuk server yang dapat diuji kehandalannya ketika sumber daya yang tersedia digunakan untuk memberikan layanan terhadap request dari client

4.3 Studi Aliran Daya pada Jaringan Distribusi 20 kV yang Terinterkoneksi dengan Distributed Generation ...52. 4.4 Rangkuman Hasil

Bagi peserta yang berkeberatan atas penetapan pemenang pelelangan tersebut di atas diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan kepada Pokja Pengadaan Barang/Jasa

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah badan usaha yang seluruhnya atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari

Kencing nanah atau gonore adalah penyakit menular seksual yang dapat menyerang pada pria ataupun wanita, pada wanita yang mengalami penyakit kencing nanah ini jika mengalami

Menurut Assauri (1999:4) mendefinisikan pemasaran: “Sebagai usaha menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu

dalam mewujudkan peradaban masyarakat yang qur’ani. Pelaksanaan pembelajaran tahfi>z ini dilaksanakan pada dua tempat yakni PPTQ Al- Hasan pada hari Senin dan

"MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI KABUPATEN TAPIN (Studi Multi Kasus di TK Idhata, RA Miftahul Ulum, dan TK Islam Terpadu Al-Madani) adalah benar-benar