1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kanker merupakan jenis dari penyakit yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas kinerja dari suatu bagian tubuh. Kebanyakan disebutkan adalah tumor ganas dan neoplasma. Menurut WHO kanker adalah tumbuhnya sel baru yang tidak normal atau disebut dengan istilah abnormal di bagian - bagian tubuh dan menyebar yang berpengaruh pada aktivitas tubuh atau disebut dengan proses metastasis.
Kanker ialah suatu penyakit penyebab kematian kedua sekitar 9,6 juta kematian pada tahun 2018. Dan yang paling sering umum dan sering terjadi pada wanita antara lain, kanker payudara, kanker paru, kanker rahim dan kanker kelenjar getah bening (WHO, 2019).
Kebanyakan orang menyebut kanker sebagai tumor. Tumor sendiri merupakan benjolan yang abnormal, sedangkan kanker disebut juga sebagai tumor ganas. Kanker dapat menyerang semua orang tidak terkecuali, dapat menyerang di semua bagian tubuh tanpa terkecuali, dapat menyerang berbagai umur dan lebih sering kanker muncul pada usia 40 tahun. Biasanya keluhan atau gejala yang muncul apabila kanker sudah meluas atau merusak jaringan penderita. Dan apabila keluhan sudah muncul penyakit kanker sudah lanjut (YKI, 2019).
Gejala yang dikeluarkan kanker seperti deman, kelelahan bahkan sampai penurunan berat badan. Hal ini disebabkan karena system kekbalan system imun ditubuh bereaksi. Sel kanker juga melepaskan suatu zat yang dapat menyebabbkan pembekuan darah sehingga akan mempengaruhi saraf dan otot sehingga membuat orang akan lemah dan pusing (ACS, 2017)
Kanker payudara merupakan suatu pertumbuhan abnormal secara ganas suatu jaringan di payudara yaitu pada bagian epitel duktus atau lobus. Gejala yang muncul dari kanker payudara adalah benjolan (ACS, 2017). Salah satu pembunuh atau penyebab kematian wanita yaitu kanker payudara, tidak hanya Indonesia bahkan seluruh dunia. Menurut WHO wanita penderita kanker sebanyak 1,5 juta dan angka kematian wanita penderita kanker payudara pada tahun 2015 adalah 570.000 sedangkan menurut Phatological Based Registration, dari 100.000 wanita, 12
wanita di Indonesia mengalami kematian karena disebabkan oleh kanker payudara, sehingga kanker payudara menduduki peringkat pertanma penyebab kematian menurut Phatological Based Registration (Kemenkes RI, 2015). Menurut data Histopatologik , Badan registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologis Indonesia pada Tahun 2010 data kanker di Indonesia diperkirakan 12 orang wanita dari 100.000 wanita, dan di Amerika 92 wanita dari 100.000 wanita dengan mortalitas yang tinggi 18% dari jumlah angka kematian kebanyakan terjadi pada wanita. Lebih dari 80% kasus sudah diketahui pada stadium lanjut dan pada stasium ini sudah sulit untuk dilakukan pengobatan. Sehingga dibutuhkan kesadaran masyarakat atau pemahaman tentang penghindaran dan diagnosis awal mengenai kanker payudara (Kemenkes RI, 2015).
Faktor risiko yang kebanyakan terjadi yang berhubungan dengan insiden kanker payudara adalah jenis kelamin wnaita yang berusia >50 tahun yang memiliki riwayat genetic (Pembawa mutasi gen BRCA1, BRCA 2, ATM atau TP53), riwayat penyakit payudara yang sudah dialami sebelumnya, menstruasi dini <12 tahun, riwayat gangguan pada reproduksi, kelainan hormonal, permasalahan dalam berat badan (obesitas), factor lingkungan yang memicu munculnya sel kanker. Untuk mengurangi factor risiko tersebut dapat dilakukan dengan Deteksi Dini Pencegahan (pencegahan primer) agar tidak terjadi kanker payudara dengan meminimalisir bahkan menghilangkan semua factor risiko yang berhubungan dengan pemicu munculnya kanker payudara. Selanjutnya ada pencegahan sekunder yang dilakukan dengan pemeriksaan untuk menemukan gejala gejala yang mengarah pada sel kanker payudara. Tujuan dari pencegahan sekunder yaitu mengurangi nilai kematian yang disebabkan oleh kanker payudara. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), Pemeriksaan payudara klinis (SADANIS), mamografi skrinning. Dengan cara tersebut, dapat mengurangi nilai morbiditas dan kematian dan dapat menjadi salah satu penanggulangan munculnya abnormalitas dari kanker payudara (Kemenkes RI, 2015).
Tata laksana terapi harus didahului oleh diagnose yang akurat dan tepat dengan pendekatan humanis dan komprehensif. Yang paling utama harus tepat diagnose pada penetapan stadium kanker payudara. Terapi kanker payudara harus
ada pertimbangan antara untung dan rugi. Yang paling utama yang perlu dipertimbangkan adalah factor usia, co-morbid, evidence, cost effective. Beberapa langkah yang biasanya dilakukan untuk menyembuhkan kanker payudara adalah pembedahan, kemoterapi, radioterapi, breast conservasy therapy (BCT). Tetapi, saat akan melakukan terapi harus tetap mempertimbangkan dan melihat stadium kanker payudara atau tingkat keparahan yang dialami pasien (Kemenkes RI, 2015).
Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat melimpah termsuk didalamnya adalah tanaman herbal atau tamanan yang dapat digunakan sebagai pengobatan.
Penggunaan obat tradisional saat ini semakin maju. Hal ini disebabkan karena manusia memilih untuk back to nature (pengobatan secara alami). Alasanya dengan back to nature lebih mudah karena sudah menjadi warisan leluhur. Tanaman yang dikembangkan di daerah Kalimantan Tengan salah satunya yaitu bawang dayak (Eleutherine palmifolia L.). Bawang dayak sering digunakan untuk obat tradisional karena bawang dayak mudah didapat dan harga terjangkau dan dapat ditanam di pekarangan rumah dan dijadikan sebagai tanaman obat keluarga. Bawang dayak dapat dapat digunakan sebagai obat tradisional karena mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, steroid, dan tannin. Sejak dahulu kandungan dari bawnag dayak ini dapat menyembuhkan penyakit kanker, salah satunya penyakit kanker payudara. Sehingga perlu dilakukan pengembangan dan penelitian lebih lanjut untuk pengembangan biofarmaka dari bawang dayak ini ( Galingging, 2009).
Hasil metabolit sekunder berupa senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, terpenoid, dan juga antrakuinon yang memungkinkan senyawan tersebut dapat digunakan sebagai antikanker (Puji et al., 2006). Pada senyawa flavonoid mekanisme terhadap sel kanker adalah menghalangi pembentukan mikrotubula pada pembelahan sel tumor, sehingga sel tumor akan terhambat (Kintzious and Baberaki, 2003). Senyawa flavonoid mempunyai aktivitas biologis yang dapat digunakan untuk antikanker, antivirus, antiinflamasi, mengurangi penyakit kardiovaskular, serta mampu mencegah radikal bebas (Indrawati, 2013). Terpenoid mampu menghambat inisiasi dan promosi karsinogenesis, menginduksi diferensiasi sel dan apoptosis (Thoppil and Bishayee, 2011). Pada polifenol mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara MCF-7 (Li et al., 2016). Dan pada atrakuionon memiliki aktivitas sebagai antikanker (Febriansah et al., 2012).
Uji sitotoksisitas digunakan untuk menentukan kadar antiproliferatif yang didahului dengan uji menggunakan sel kultur invitro. Hasil yang didapat dari uji sitotoksisitas adalah IC50. IC50 merupakan konsentrasi yang mampu menghambat pertumbuhan suatu populasi sel sebanyak 50%.Pada uji sitototoksik ini untuk mengamati sel yang masih hidup menggunakan metode MTT Assay (3 – (4–5 – dimetiltiazol-2-yl) – 2, 5 – difenil tetrazolium bromid). MTT adalah suatu garam tetrazolium dimana sel yang masih hidup akan mereduksi sehingga menghasilkan Kristal formazan yang memiliki warna ungu. Sel kanker yang masih hidup akan berkorelasi dengan Kristal fromazan sehingga menghasilkan warna ungu, sedangkan pada sel yang mati tidak akan direduksi. Prinsip kerja dari MTT Assay ini adalah garam tetrazolium ini di metabolism oleh suatu enzim yang bernama enzim dehydrogenase mitokondria. Hasilnya adalah cincin tetrazolium putus sehingga menjadinkristal formazam berwarna ungu. Hasil dari MTT Assay ini adalah berubahnya warna ungu dari sel yang masih hidup (Mosmann, 1983).
Intensitas warna ungu dan absorbansi diukur dengan ELISA reader. Panjang gelombang yang digunakan adalah 550nm (Burgess, 1995). Kelebihan menggunakan MTT assay cepat, memiliki sensitifitas baik, akurat, dan dapat digunakan untuk pengujian sampel yang banyak. Nilai absorbansi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghitung persentase sel yang masih hidup. Apabila warna ungu yang dihasilkan semakin banyak maka absorbansi semakin besar dan sel yang masih hidup semakin banyak. Hal ini disebabkan karena Internsitas warna ungu berbanding lurus dengan total sel yang masih hidup
Jenis sel kanker payudara yang sering digunakan untuk penelitin salah satunya adalah sel MCF 7 dan sel T47D. Sel MCF-7 diperoleh dari sel kanker payudara bagian preural effusion breast adenocarcinoma pada seorang pasien penderita kanker payudara wanita Kaukasian berusia 69 tahun, memiliki golongan darah O dengan Rh positif. Sel MCF 7 menunjukan atau membuktikan adanya deferensiasi (pembentukan sel lebih khusus dari sel kanker payudara) yang teletak pada bagian jaringan epitel mammae dan juga pada sintesis estradiol (CCRC, 2014).
Pertumbuhan sel MCF 7 dapat diatasi atau dihambat pleh suatu tumor. Tumor ini dinamakan necrosis factor alpha (TNF alpha) (ATCC, 2019).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Mutiah., et al (2017) ekstrak etanol dari umbi bawang dayak menunjukkan aktivitas antikanker yang dengan nilai IC50
terhadap sel kanker serviks (Hela) sebesar 40, 36 μg/mL. Hal ini berarti bahwa bawang dayak memiliki efek toksisitas terhadap sel kanker serviks (HeLa). Untuk dapat melihat tingkat dari selektifitas suatu ekstrak secara selektif dapat membunuh sel kanker HeLa tanpa membunuh sel normal, maka perlu diperlukan penghitungan selektifitas indeks. Ekstrak dikatakan selektif apabila memiliki nilai selektifitas indeks lebih besar dari 3 (Prayoto, 2016). Hasil dari selektifitas adalah sebesar 5,77.
Jadi, ekstrk etanol pada umbi bawang dayak selektif terhadap sel HeLa tanpa membunuh el vero (Mutiah et al., 2017). Pada penelitian Fitri et al., (2014) hasil uji sitotoksisitas IC50 dengan fraksi n-heksan didapatkan 265,023 μg/ml, fraksi etil asetat 147,24 μg/ml dan untuk fraksi etanol 3782, 29 μg/ml. Dari hasil penelitian tersebut fraksi etil asetat dilakukan pengujian pada siklus sel pada fase G0-G1 dan didapatkan nilai 48,88%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat memiliki pengaruh sitotoksisitas pada siklus sel T47D. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, berdasarkan kategori aktivitas kanker dapat dikategorikan aktif apabila mempunyai aktivitas sebagai antikanker dengan nilai IC50 <30 μg/mL, dikategorikan moderate aktif apabila nilai IC50 30-100 μg/mL dan dikategorikan tidak aktif apabila nilai IC50 >100 μg/mL. (Amir, 2017., Bezivin, 2003., Sentilraja
& Kthiresan, 2015., Paputungam, 2017., Weerapreeyakul, 2012). Tingkat selektifitas fraksi yang dapat membunuh sel kanker tanpa mempengaruhi sel normal dapat diketahui dengan perhitungan Selectivity Index (SI) dimana apabila nilai SI
>3 dapat dikatakan selektif dan tidak selektif apabila nilai SI <3 (Prayoto, 2016).
Penelitian fraksi etanol dari Eleutherina palmifollia L. terhadap sel MCF-7 masih belum banyak dilakukan dan masih sangat minim. Oleh karena itu, sejauh pengetahuan penulis pada penelitian sebelumnya terbatas pada uji sitotoksisitas terhadap ekstrak umbi bawang Dayak (Eleutherina palmifollia L.) dan belum ada yang melakukan pengamatan terhadap fraksi etanol pada sek kanker payudara MCF-7 sehingga peneliti ingin melakukan penelitian terhadap sel kaker payudara MCF-7 dengan metode MTT assay. Sehingga pada penelitian yang saat ini dengan menggunakan metode fraksinasi bertingkat diharapkan dapat mengetahui efek toksisitas IC50 fraksi etanol bawang dayak (Eleutherina palmifollia L.) pada sel
kanker MCF-7. Dan dari hasil penelitian ini dapat terus dikembangkan sehingga mampu menjadi terobosan untuk menciptakan pengobatan dengan bahan alam yang baru dan bermanfaat bagi banyak orang.
1.2. Rumusan Masalah
Bersumber pada latar belakang, maka rumusan masalah yang dibuat adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana aktivitas anti kanker fraksi etanol dari umbi bawang Dayak (Eleutherina palmifolia L.) terhadap sel kanker payudara MCF-7 dengan metode MTT assay?.
2. Bagaimana aktivitas anti kanker fraksi etanol dari umbi bawang dayak (Eleutherina palmifolia L.) terhadap sel vero dengan metode MTT assay ? 3. Apa sajakah kandungan metabolit sekunder dari Eleutherine palmifollia
L.?
1.3. Tujuan
Bersumber pada latar belakang serta rumusan masalah maka penelitian ini memiliki tujuan adalah sebagai berikut:
1. Memperoleh data aktivitas sitotoksik dari fraksi etanol bawang dayak (Eleutherina palmifolia L.) terhadap sel kanker payudara MCF-7 dengan metode MTT assay.
2. Memperoleh data aktivitas sitotoksik dari fraksi etanol bawang dayak (Eleutherina palmifolia L.) terhadap sel vero dengan metode MTT assay.
3. Mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder pada fraksi etanol dari umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia L.) ?
1.4. Manfaat
Bersumber pada latar belakang, rumusan masalah, serta tujuan maka penelitian ini memiliki manfaat adalah sebagai berikut :
1.4.1 Segi Akademik
1.Dapat menyempurnakan terhadap penelitian sebelumnya terkait manfaat dan potensi umbi bawang dayak (Eleutherine palmifollia L.) sebagai antikanker payudara.
2. Dapat menegtahui manfaat fraksi etanol umbi bawang dayak (Eleutherine palmifollia L.) yang dapt digunakan untuk antikanker payudara MCF-7.
3. Dapat memberikan tambahan ilmu dalam bidang kesehatan terkait manfaat fraksi etanol bawang dayak (Eleutherina palmifolia L.) sebagai antikanker
1.4.2 Segi Masyarakat
1. Dapat memberikan informasi terkait dengan alternatif pengobatan antikanker pada masyarakat.
2. Dapat digunakan sebagai penunjang untuk menggunakan obat tradisional sebagai salah satu pengobatan yang layak agar dapat diterima oleh kalangan masyarkat secara keseluruhan dan klinis khususnya.
3. Dapat memberikan informasi tentang selektifitas fraksi etanol umbi bawang dayak (Eleutherine palmifollia L.) terhadap sel kanker payudara MCF-7 dan sel niormal (sel vero).