• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak kepada usia dewasa, yang berlangsung antara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak kepada usia dewasa, yang berlangsung antara"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Akidah Akhlak

-BAB 6-

AKHLAK PERGAULAN REMAJA

Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak kepada usia dewasa, yang berlangsung antara usia 13-19 tahun.

 Bentuk-Bentuk Akhlak Terpuji:

1. Menjalin Persaudaraan (Ukhuwah)

Dalam kaitanya dengan pergaulan remaja, Islam memberi petunjuk bahwa antara laki-laki dengan perempuan diperbolehkan mengadakan pergaulan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa.

2. Mengembangkan Wawasan Keilmuan

Fokus mereka adalah kemampuan berpikir secara abstrak dan berpikir secara hipotesis. Sehingga sebagian remaja sudah terlihat kehebatan intelektualitasnya dalam berbagai bidang pemikiran dan perasaan sehingga mampu melahirkan karya-karya bermutu dalam bidang seni, sains, dan teknologi.

3. Mengembangkan Sikap Saling Menghormati dan Menghargai (Tasamuh)

Tasamuh (toleransi) adalah rasa tenggang rasa atau sikap menghargai dan menghormati terhadap sesama, baik terhadap sesama muslim maupun dengan non muslim.

4. Bijak Dalam Menggunakan Media Sosial

Pemanfaatan media sosial yang tepat, akan sangat berguna bagi perkembangan peradaban manusia, tetapi apabila disalahgunakan maka akan sangat membahayakan tata kehidupan sosial yang berakibat pada rusaknya nilai-nilai persatuan (ukhuwah), bahkan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

 Dampak Positif Akhlak Terpuji:

1. Menumbuhkan Sikap Arif dan Bijaksana

Perilaku remaja yang arif dan bijaksana mendorong terbentuknya pribadi yang berwawasan luas, mempunyai tenggang rasa yang tinggi, bersikap hati-hati, sabar dan santun.

2. Menumbuhkan Sikap Mandiri

Sikap mandiri pada diri remaja akan mendorong terbentuknya perilaku tangguh, tidak mudah terpengaruh perilaku negatif, berpegang teguh pada prinsip dan keyakinan atas kebenaran sesuai tuntutan ajaran agama, moral dan ketentuan hukum yang berlaku.

3. Menumbuhkan Sikap Tanggungjawab

(2)

Remaja yang mempunyai rasa tanggung jawab akan mendorong terbentuknya pribadi yang mampu menegakkan kebenaran dan keadilan, penuh pengabdian, serta tidak menyalahgunakan profesi yang diamanatkan.

 Membiasakan Akhlak Terpuji:

1. Menutup Aurat

Misalnya: pakaian harus menutup anggota tubuh yang semestinya ditutup, tidak transparan dan tidak ketat.

2. Menjauhi Perbuatan Zina

Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan diperbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Dalam pergaulan lawan jenis, harus dijaga jarak agar tidak mengarah kepada perbuatan zina.

3. Mengajak Untuk Berbuat Kebaikan

4. Mengisi Waktu Luang Dengan Kegiatan Yang Bermanfaat

Kegiatan yang dapat diikuti oleh remaja untuk mengisi waktunya sangat bervariasi sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya, misalnya dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, kursus-kursus untuk meningkatkan keterampilan kewirausahaan, kegiatan keolahragaan ataupun mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.

5. Tawadlu’ Kepada Yang Lebih Tua Dan Menyayangi Yang Lebih Muda 6. Santun dan Rendah Hati

-Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah gejala sakit (patologis) secara social pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.

 Bentuk Akhlak Tercela:

a. Pergaulan seks bebas (free sex)

Hubungan seksual sebelum atau di luar nikah tidak dapat dibenarkan. Pergaulan seks bebas (free sex) memicu munculnya pelanggaran pelanggaran yang baru, misalnya aborsi, pembunuhan bayi, hamil diluar nikah, dll

b.Tawuran Remaja

c. Mengkonsumsi minuman keras

Orang yang mengkonsumsi minuman alkohol secara berlebihan akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis maupun sosial. Hal inilah yang menyebabkan seorang pemabuk sering melakukan keonaran atau keributan bahkan perkelahian hingga pembunuhan.

d. Penyalahgunaan narkoba

(3)

Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Pada awalnya, narkotika digunakan untuk keperluan medis, namun dalam perkembangannya sering disalah gunakan untuk bersenang-senang).

 Dampak Akhlak Tercela:

a. Bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama b. Hilangnya budaya malu

c. Menimbulkan masalah kesehatan

Dalam banyak kasus, penyalahgunaan narkoba telah menjadi sumber masalah di bidang kesehatan, misalnya penularan virus HIV/AIDS yang mematikan. Sedang dampak minuman keras bagi yang mengkonsumsinya adalah mabuk, sehingga dapat menyebabkan cedera dan kematian.

 Cara Menghindari Akhlak Tercela:

a. Meningkatkan Kadar Iman Dan Amal Saleh b. Meningkatkan Kualitas Akhlak Dan Etika Bergaul c. Mengatur Waktu Dengan Baik

-BAB 7-

ISRAF, TABZIR, BAKHIL A. Israf

Pengertian

Berasal dari bahasa Arab “Asrafa – Yusrifu – Israafan” yang berarti bersuka ria sampai melewati batas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, melampaui batas (berlebihan) diartikan; “melakukan tindakan di luar wewenang yang telah ditentukan berdasarkan aturan (nilai) tertentu yang berlaku. Isrāf juga dapat berarti menggunakan harta untuk sesuatu yang benar namun melebihi batas yang dibenarkan, misalnya makan atau minum secara berlebihan.

Dasar hukum

ب ِحُي َلَ ُهَّنِإ ۚ اوُف ِرْسُت َلَ َو اوُبَرْشا َو اوُلُكَو ٍد ِجْسَم ِ لُك َدْنِع ْمُكَتَني ِز اوُذُخ َمَدآ يِنَب اَي َنيِف ِرْسُمْلا

Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Contoh

a) Isrāf dalam ibadah, misalnya melaksanakan salat lail semalam suntuk sehingga ketiduran dan tidak

(4)

melaksanakan salat subuh.

b) Isrāf dalam berpakaian, misalnya memakai pakaian dengan mode pakaian yang justru tidak sesuai dengan syari’at, misalnya terlalu panjang atau terlalu kecil.

c) Berlebih-lebihan dalam segala perbuatan mubah sehingga mengalahkan yang sunnah dan yang wajib

d) Isrāf dalam makan dan minum, misalnya mengkonsumsi makanan melebihi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Termasuk dalam kategori ini adalah bermewah-mewahan dalam makan dan minum.

e) Isrāf dalam penggunaan listrik, misalnya tidak mematikan lampu setelah selesai dipakai, tidak mematikan kipas angin setelah tidak dipakai, dsb.

Dampak negatif

a) Memunculkan kecemburuan sosial yang dapat memicu kerawanan sosial.

b) Menimbulkan perilaku rakus. Dari perilaku rakus ini akan memicu perilaku buruk lainnya, yaitu menghalalkan segala cara untuk memenuhi kerakusannya itu.

Upaya menghindari

a) Sifat kebersahajaan (iffah), setiap muslim dilarang mengikuti ajakan nafsu atau panggilan syahwat.

Nafsu harus dikendalikan, karena sebagian besar keburukan itu disebabkan oleh tidak mampunya seseorang dalam mengendalikan nafsunya.

b) Sikap sepadan (musawah). Ajaran ini memiliki tujuan untuk menciptakan rasa kesejajaran, persamaan dan kebersamaan serta penghargaan terhadap sesama manusia sebagai makhluk Tuhan

B. Tabzir Pengertian

Secara bahasa tabżīr berasal dari kata badzara-yubadzdziru-tabdziiron yang suatu perbuatan menghambur-hamburkan harta. Menurut KBBI, tabẓīr diartikan sebagai “berlebih-lebihan atau menghambur-hamburkan dalam pemakaian uang ataupun barang” . Sebagian ulama memahami tabẓīr (pemborosan) sebagai sesuatu pengeluaran yang bukan haq. Maka tabzir secara istilah adalah membelanjakan harta tidak sesuai dengan hak (peruntukan) harta tersebut atau tidak layak menurut ketentuan syariat.

Dasar hukum

(5)

ي ِرِ ذَبُمْلٱ َّنِإ . ا ًريِذْبَت ْرِ ذَبُت َلَ َو ِليِبَّسلٱ َنْبٱ َو َنيِكْسِمْلٱ َو ۥُهَّقَح ٰىَب ْرُقْلٱ اَذ ِتاَء َو ۦِهِ ب َرِل ُنَٰطْيَّشلٱ َناَك َو ۖ ِنيِطَٰيَّشلٱ َن َٰوْخِإ ۟ا ٓوُناَك َن

(QS. Al-Isra’ [17]: 26-27)

Berdasarkan ayat diatas, Allah menjelaskan bahwa orang yang boros itu saudara setan. Ungkapan ini ditujukan untuk mencela orang-orang yang memiliki sikap boros.

Perilaku boros adalah termasuk hal yang bāṭil, dan seluruh perbuatan setan pasti mengandung kebatilan, sehingga tindakan yang dilakukan oleh orang yang boros mempunyai kesamaan dengan perbuatan setan, yaitu sama-sama perbuatan batil, sehingga Allah Swt. menempatkan pemboros sebagai saudara setan.

Contoh tabzir

o Membantu orang lain dalam kemaksiatan. Contoh: memberi sumbangan kepada orang untuk meminum-minuman keras

o Mengkonsumsi makanan yang tidak ada manfaatnya dan membahayakan. Misalnya membeli minum-minuman keras, narkoba, dll.

o Membeli sesuatu yang tidak diambil manfaatnya.

o Kumpul-kumpul yang tidak jelas tujuannya.

o Segala sesuatu pembelanjaan yang tidak memperhitungkan tujuan dan kemanfaatan dan hanya menuruti kesenangan.

o Orang yang bersodakoh tetapi tidak ikhlas

o Merayakan Hari Raya lebaran dengan berlebihan

o Merayakan pesta pernikahan dengan berlebihan tidak sesuai dengan syari’at

Bahaya tabzir

 Pamer kekayaan dan berjiwa sombong akan menyebabkan kehancuran pada diri sendiri karena tidak mempunyai kontrol pribadi dan sosial.

 Menimbulkan kecurangan dimana-mana yang merugikan semua pihak.

 Masih ingatkah kalian dengan kisah Qarun? Akibat sifatnya yang boros Allah memberikan pelajaran dengan membenamkannya bersama harta kekayaannya ke dalam bumi.

C. Bakhil Pengertian

Bakhīl/kikir ialah menahan harta yang seharusnya dikeluarkan. Al-Jurjani dalam kitab at-Ta’rifat

(6)

mendefinisikan bakhīl dengan menahan hartanya sendiri, yakni menahan memberikan sesuatu pada diri dan orang lain yang sebenarnya tidak berhak untuk ditahan atau dicegah, misalnya uang, makanan, minuman, dan lain-lain.

Dasar hukum

Harta yang dimiliki manusia adalah karunia dari Allah Swt. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya maka kita harus mengeluarkan sebagian dari karunia tersebut untuk orang lain. Apabila menahannya berarti kebakhilan telah menghinggapinya. Perilaku bakhil ini dilarang Allah Swt. sebagai firman-Nya:

َش َوُه ْلَب ۗ ْمُهَّل ا ًرْيَخ َوُه ٖهِلْضَف ْنِم ُ هاللّٰ ُمُهىٰتٰا ٓاَمِب َن ْوُلَخْبَي َنْيِذَّلا َّنَبَسْحَي َلَ َو ْمُهَّل ٌّر

Artinya: Sekali-kali janganlah orang yang bakhīl dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhīlan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhīlan itu adalah buruk bagi mereka. (QS. Ali Imran [3]: 180).

Bahaya perilaku bakhil

o Harta yang ditahan karena kebakhilan akan dikalungkan di lehernya di hari kiamat, o Mengikuti jejak

o Terhalang masuk surga o Rezeki menjadi sempit o Menimbulkan malapetaka

Cara menghindari sifat bakhil

• Menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu itu milik Allah

• Memperbanyak rasa syukur

• Melakukan kegiatan sosial dengan memperbanyak infak dan sedekah

• Memohon perlindungan Allah dari sifat bakhīl /kikir -BAB 8-

KEMATIAN QS. Al-Ankabut: 57

َن ْوُعَج ْرُت اَنْيَلِا َّمُث ِۗت ْوَمْلا ُةَقِٕىۤاَذ ٍسْفَن لُك

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”

(7)

KEADAAN ORANG MATI

Bagi orang yang beriman dan beramal saleh, mereka akan menghadapi kematian dengan tenang. Allah telah menjajikan surga untuk mereka dalam QS. Fusilat : 30

َتَت ا ْوُماَقَتْسا َّمُث ُ هاللّٰ اَن بَر ا ْوُلاَق َنْيِذَّلا َّنِا ا ْوُفاَخَت َّلََا ُةَكِٕىٰۤلَمْلا ُمِهْيَلَع ُلَّزَن

َن ْوُدَع ْوُت ْمُتْنُك ْيِتَّلا ِةَّنَجْلاِب ا ْو ُرِشْبَا َو ا ْوُنَزْحَت َلَ َو

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Bagi orang kafir, malaikat akan mendatanginya dengan membentak dan memukul mereka dari belakang.

Allah menginformasikan balasan bagi mereka yaitu neraka yang akan membakarnya dalam QS. Al-Anfal : 50

ْوُق ْوُذ َو ْۚمُه َراَبْدَا َو ْمُهَه ْوُج ُو َن ْوُب ِرْضَي ُةَكِٕىٰۤلَمْلا اوُرَفَك َنْيِذَّلا ىَّفَوَتَي ْذِا ىٰٓرَت ْوَلَو ْلا َباَذَعا

ِقْي ِرَح

“Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.”

Bagi orang zalim, malaikat akan mendatanginya dengan membentak dan memukulnya seraya menyampaikan balasannya yaitu siksaan yang sangat pedih. Firman Alah QS.Al-An’am: 93

ْنَع ْمُتْنُك َو ِ قَحْلا َرْيَغ ِ هاللّٰ ىَلَع َن ْوُل ْوُقَت ْمُتْنُك اَمِب ِن ْوُهْلا َباَذَع َن ْو َزْجُت َم ْوَيْلَا ْۗمُكَسُفْنَا ا ْٓوُج ِرْخَا ْۚمِهْيِدْيَا ا ْٓوُطِساَب ُةَكِٕىٰۤلَمْلاَو ِتْوَمْلا ِت ٰرَمَغ ْيِف َنْوُمِلهظلا ِذِا ىٰٓرَت ْوَلَو َن ْو ُرِبْكَتْسَت ٖهِتٰيٰا

“(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

HUSNUL KHATIMAH

Keadaan orang yang meninggal dalam keadaan baik. Tanda-tanda husnul khatimah:

(8)

1. Mengucapkan kalimat tauhid sebelum menjelang ajal

2. Meninggal dunia di jalan Allah, meninggal dalam keadaan sabar ketika ditimpa penyakit tipes, TBC, sakit perut, radang selaput dada, tenggelam.

3. Meninggal pada hari jumat

4. Bagi wanita hamil, meninggal saat melahirkan, atau meninggal saat sedang hamil

5. Meninggal karena sedang ribath (menjaga wilayah perbatasan)

6. Meninggal dalam keadaan mengerjakan amal saleh

7. Meninggal karena mempertahankan harta dari perampokan atau pembegalan

SUUL KHATIMAH

Penutup kehiduan dunia yang buruk. Seperti orang yang meninggal dalam keadaan durhaka kepada Allah atau meninggal dalam keadaan maksiat. Tanda-tanda su’ul khatimah:

1. Sulit dibimbing mengucapkan zikir/la ilaha illallah ketika menghadapi sakaratul maut

2. Sering melalaikan shalat

3. Suka mengkonsumsi khamr

4. Durhaka kepada orang tua

5. Suka berbuat zalim terhadap orang lain

6. Melakukan dosa besar, kejii, dan tidak mau bertaubat kepada Allah

Sebab-sebab su’ul khatimah:

1. Rusaknya aqidah (keyakinan)

2. Menunda-nunda taubat

3. Adanya ketergantungan terhadap dunia, dan terjerumus kepada jalan-jalan yang terlarang

(9)

4. Gandrung terhadap kemaksiatan

5. Bunuh diri dengan segala macam caranya

ALAM BARZAKH

Barzakh adalah alam diantara dunia dan akhirat. Setelah kematian, di alam barzakh inilah ruh manusia menunggu sampai datangnya hari kebangkitan (hari kiamat)

KELOMPOK KONDISI MANUSIA DI ALAM BARZAKH

1. Kelompok orang yang mendapatkan nikmat kebahagiaan

Yaitu, orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah, serta orang yang mendapatkan pengampunan dari Allah SWT.

2. Kelompok orang yang mnedapatkan siksaan dan kesengsaraan

Inilah siksa bagi orang-orang yang kafir, durhaka, berrdosa, zalim, paratiran, dan semacamnya

3. Kelompok orang yang dibiarkan saja tanpa kenikmatan dan tanpa siksaan

Mereka tertidur saja dan tersentak ketika kiamat tiba. Ini adalah kondisi mereka yang melakukan maksiat dan dosa, tetapi tidak sebesar dosa kelompok kedua

-BAB 9-

SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT, MA’RIFAT

A. Syari’at

Syari’at berasal dari akar kata syara’a yang berarti jalan. Ia adalah jalan yang benar, sebagai rute perjalanan yang baik, dan dapat ditempuh oleh siapa saja.

Dalam dunia tasawuf, syari’at dijadikan sebagai dasar/pondasi bagi tahap berikutnya (tarekat, hakikat, dan ma’rifat) sehingga kedudukannya sangat penting. Syari’at bukan hanya sekedar kumpulan kode atau peraturan yang mengatur tindak lahiria tetapi juga menjelaskan tentang keimanan, tauhid, cinta (mahabah), syukur, sabar, ibadah, ẓikir, jihad, takwa, dan ihsan,

(10)

serta menunjukkan bagaimana mewujudkan realitas tersebut.

Dalil Syari’at terdapat dalam Q.S Al-Jatsiyah : 18, yang berbunyi :

َلَ َنْيِذَّلا َءۤا َوْهَا ْعِبَّتَت َلََو اَهْعِبَّتاَف ِرْمَ ْلَا َنِ م ٍةَعْي ِرَش ىٰلَع َكٰنْلَعَج َّمُث َن ْوُمَلْعَي

"Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui."

B. Tarekat

Tarekat berasal dari bahasa arab tariqah, (jamak : turuq atau taraaiq), yang bermakna jalan atau metode atau aliran (madzhab). Bisa juga disebut dengan istilah al khat fi syai yang berarti garis sesuatu. Secara terminologis, menurut Gibb, kata tarekat telah mengalami pergeseran makna.

Pasca abad ke-19 dan 20, tarekat didefinisikan sebagai metode psikologi moral untuk bimbingan praktis individu yang memiliki panggilan mistik. Tarekat juga bermakna jalan atau cara untuk mencapai tingkat-tingkatan (maqamat) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Melalui cara ini, seorang sufi dapat mencapai peleburan diri dengan Yang Nyata (Fana fi al haqq). Menurut Syekh Bahauddin al- Naqsyabandi tujuan tarekat adalah untuk mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang engkau ketahui lewat penjelasan dan argument.

Dalil :

اًقَدَغ ًءٓاَّم مُهَٰنْيَقْسَ َلَ ِةَقي ِرَّطلٱ ىَلَع ۟اوُمَٰقَتْسٱ ِوَّلَأ َو

Arti: Dan bahwasanya: jika kalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).

Metode Tarekat :

1. Memperingati diri (musyaratah) 2. Mengawasi diri (muraqabah) 3. Intropeksi diri (muhasabah) 4. Menghukum diri (mu’aqabah)

5. Kesungguhan lahir batin (mujahadah) 6. Menyesali diri (mu’atabah)

(11)

7. Pembukaan hijab (mukasyafah) Tradisi Tarekat :

Dalam tradisi tarekat, murid-murid biasanya berkumpul di suatu tempat yang disebut ribat, zawiyah, atau khanqah untuk melakukan Latihan-latihan ruhani (dzikrullah) yang materi pokoknya adalah membaca istighfar, membaca sholawat nabi dan membaca zikir nafi isbat dan ismu zat secara Bersama di bawah bimbingan guru (mursyid), yang di dalamnya ajaran-ajaran (‘amaliyyah), aturan-aturan (adab), kepemimpinan (mursyid), hubungan antara murid dan mursyid atau antara guru dengan anggota tarekat, wasilah, rabitah, silsilah, ijazah, suluk, dan ritual-ritual seperti bai’at atau talqin, khususiyah, haul, dan manaqib.

Syarat Tarekat :

1. Mempelajari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syari’at agama

2. Mengamati dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti jejak langkah guru 3. Mengekang hawa nafsu agar terhindar dari kesalahan yang menodai amal.

4. Tidak mencari-cari keringanan dalam beramal agar tercapai kesempurnaan hakiki

5. Berbuat dan mengisi waktu seefisien mungkin dengan segala wirid dan doa guna pemantapan dan kekhususan dalam mencapai maqamat yang lebih tinggi.

C. Hakikat

Hakikat adalah inti dan makna dari perkara tertentu. Syariat berbasis fiqih, sementara hakikat berbasis iman. Dengan kata lain, syariat adalah pengejawantahan dari perbuatan-perbuatan fiqih, yang digali dari dalil-dalil secara terperinci. Relasi keduanya tak terpisahkan. Karena syariat harus diperkuat dengan hakikat dan hakikat dibatasi oleh ketentuan hukum syariat. Sehingga, keberadaan syariat seharusnya mampu mendorong komunikasi langsung "syuhud" antara seorang hamba dan khalik tanpa perantara apa pun.

Hakikat dan ihsan itu serupa ma'rifat, ketiga jenjang ini pada dasarnya adalah pengejaan dari makna takwa. Maka untuk mengamalkannya butuh tarikat dari seorang pembimbing (mursyid). Agar tidak terjadi ketimpangan, maka ketiganya harus diterapkan secara keseluruhan, yakni syariat, tarekat, dan hakikat untuk mencapai puncak makrifat (pengetahuan). Syariat tanpa hakikat adalah kosong dan hakikat tanpa syariat adalah batal serta tak berdasar

(12)

اصو هتلزنم تعفتراو هتجرد تلع نإو نمؤملاف اهب لَإ نلاصحي لَو ناميقتسي لاف ةعيرشلا ىلع فقوتم امهلاك ةقيقحلاو ةقيرطلا نأ ىنعملاو ر

ورفملا تادابعلا هنع طقست لَ ءايلولَا ةلمج نم ةنسلاو نآرقلا يف ةض

Arti: “Maknanya, tarekat dan hakikat bergantung pada (pengamalan) syariat. Keduanya takkan tegak dan hasil tanpa syariat. Sekalipun derajat dan kedudukan seseorang sudah mencapai level yang sangat tinggi dan ia termasuk salah satu wali Allah, ibadah yang wajib sebagaimana diamanahkan dalam Al-Qur’an dan sunnah tidak gugur darinya,” (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, Al-Haramain: tt, h. 12).

Sayyid Bakri mencontohkan shalat tahajud Rasulullah SAW sehingga kedua kakinya bengkak, karena aktivitas shalat malamnya semalam suntuk. Ketika ditanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan mendatang?” Rasulullah menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Maksudnya adalah kewajiban ibadah berlaku untuk memenuhi hak kehambaan dan hak syukur atas nikmat. Para wali dengan derajat kewalian mereka tidak pernah keluar dari batas kehambaan dan pihak yang menerima nikmat Allah,” (Sayyid Bakri: 12).

Jadi shalatnya Rasullah ini adalah bagian ibadah yang bisa dilihat dari sisi syariat.

Jika dianalogikan, maka syariat itu ibarat perahu, tarekat adalah nahkodanya, hakikat adalah pulau yang hendak dituju dari perjalanan itu, sementara ma'rifat adalah tujuan akhir, yaitu bertemu dengan Sang Pemilik Pulau. Dengan demikian, hakikat dan ma'rifat tak akan mampu dituju oleh salik, tanpa menggunakan perahu dan melalui nahkoda. Karena itu menurut Sayyid Bakri, umat Islam tidak boleh terkecoh untuk mudah meninggalkan syariat atas nama hakikat atau ma'rifat

D. Ma’rifat

Secara bahasa adalah pengetahuan atau pengalaman. Secara istilah cahaya yang dipancarkan kepada hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ini merupakan pengetahuan hakiki yang datang melalui “penyingkapan” (kasyf), “penyaksian” (musyahadah), dan “cita rasa” (dzauq).

Menurut Imam Ja’far Al-Shadiq, Mengatakan Para ahli ma’rifat (arifin) berada bersama orang-orang, sedangkan hatinya bersama Allah. Jika hatinya melupakan Alah sekejap saja, ia akan mati karena kerinduannya kepada Allah”.

Menurut Al-Qusyairi Hati adalah sarana untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, mencintai-Nya,

(13)

dan melihat-Nya. Hati manusia mempunyai tiga kapasitas, yaitu : 1. potensi untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, disebut qalb (hati) 2. potensi untuk mencintai Tuhan, disebut rūh

3. potensi untuk melihat Tuhan, disebut sirr”

Tingkatan Ma’rifat :

1. Ma’rifat kalangan awam

mereka mengetahui tidak ada Tuhan selain Allah melalui pembenaran berita tentang Tuhan dalam pengajaran syahadat.

2. Ma’rifat kalangan ulama dan para filsuf

mereka mengetahui adanya Allah melalui tanda-tanda atau dalil-dalil pemikiran.

3. Ma’rifat kalangan para wali dan orang-orang suci

mereka mengenal Allah berdasarkan pengalaman kesufian mereka, yakni mengenal Tuhan dengan Tuhan

Proses sampainya qalb pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan konsep takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri dari akhlak tercela dan perbuatan maksiat melalui taubat.

Hal ini dilanjutkan dengan tahalli yaitu menghiasi diri dengan akhlak mulia dan amal ibadah.

Sedangkan tajalli adalah terbukanya hijab, sehingga tampak jelas cahaya Tuhan.

Adapun alat yang digunakan untuk ma’rifat adalah qalb (hati), qalb selain alat untuk merasa adalah juga untuk berfikir. Bedanya qalb dengan akal adalah bahwa akal tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, sedangkan qalb bisa mengetahui hakikat dari segala yang ada, dan jika dilimpahi cahaya Tuhan, bisa mengetahui rahasia-rahasia Tuhan.

Untuk memperoleh ma’rifat hakiki harus melalui proses yang berlangsung secara continue atau berulang-ulang. Semakin banyak keterbukaan hati maka semakin banyak hakikat atau rahasia ketuhanan yang diketahui sang ārif. Kendati bisa semakin banyak, ma’rifat hakiki tidak dapat menjadi ma’rifat yang penuh tentang Tuhan karena Tuhan itu tidak terbatas (infinite) sedangkan sang ārif sebagai manusia dan makhluk bersifat terbatas (finite).

Pandangan para ulama’ mengenai Ma’rifat :

1. al-Junaid al-Baghdadi (Ma’rifat dianggap sebagai hal) 2. Risalah Qusyairiyah (ma’rifat dianggap sebagai maqam)

3. al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin (ma’rifat datang sebelum mahabbah)

(14)

4. al-Kalabazi (Ma’rifat datang sesudah mahabbah)

5. Ada pula yang mengatakan ma’rifat dan mahabbah merupakan kembar dua yang selalu disebut berbarengan.

Makrifat adalah anugerah Allah pada kalangan Al-Arif (orang yang mencapai makrifat) berupa ilmu, rahasia (asrar) dan lataif (kelembutan). Untuk mendapatkan anugerah arifbillah ini, seorang salik tidak dapat begitu saja, tetapi, ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan. Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda karena maqāmāt itu terkait erat dengan pengalaman spiritual itu sendiri

-BAB 10-

TOKOH DAN AJARAN TASAWUF SUFI BESAR

Pengertian Tasawuf :

1. Secara Bahasa, tasawuf memiliki arti safa (suci) , suf (bulu domba), saffah (serambi tempat duduk), saff (barisan), theosophi

2. Sedangkan secara istilah, tasawuf merupakan ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun dzahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.

Tasawuf Imam Junaid

1) Ajaran tasawuf : Ajaran tasawuf al-Junaid berpusat pada konsep khauf, dan raja’. Takut (khauf) membuat qabid (rasa kecut/susah/sempit). Harap (raja’) kepada-Nya membuat menjadi basit (lapang/luas).

2) Dasar ajaran tasawuf :

-Seorang sufi harus meninggalkan kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang baik.

-Ajaran tasawuf adalah ajaran-ajaran yang dapat memurnikan hati manusia dan mengajarkan hubungan baik dengan makhluk lain.

-Memalingkan perhatian dari urusan duniawi kepada urusan ukhrawi.

-Harus berpegang kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah Swt. dengan sesempurna-Nya.

-Seorang sufi harus bisa melakukan tiga syarat amalan, yaitu:

 Melazimkan ẓikir yang disertai himmah dalam kesadaran penuh

 Mempertahankan tingkat kegairahan dan semangat yang tinggi

 Senantiasa melaksanakan syari’at yang ketat dan tepat dalam kehidupan sehari-hari.

(Di kalangan sufí, al-Junaid dinilai sebagai guru awal dan mendapatkan gelar Syaikh atau penghulu kaum sufí)

Biografi Imam Junaid

(15)

Nama lengkap : Abu Qasim al-Junaid ibnu Muhammad ibnu Junaid al-Baghdadi Lahir : Kota Nihawand, Persia

Wafat : Hari Jum’at 298 H/910 M

Imam Junaid belajar ilmu tasawuf kepada pamannya, Syaikh Sari al-Saqati dan al-Harits al-Muhasibi pendiri Madrasah al-Baghdadiyah

Kepribadian : cerdas, tangkas, sederhana (Zuhud), tekun, rajin ibadah, Catatan Singkat

Al-Junaid lebih mementingkan mengajar dan berdiskusi dari pada menulis buku, sehingga ibnu Nadim dalam bukunya al-Fihrits hanya menyebutkan dua kitab al-Junaid, yaitu Amtsal al-Qur’an yang naskahnya sudah tidak ada, dan ar-Rasa’il yang sebagian besar dapat ditemukan. (Sebagian besar pendapatnya yang dapat kita temukan adalah yang dimuat dalam kitab-kitab karangan muridnya)

Tasawuf Rabi’ah

1. Corak tasawuf Rabi’ah al-Adawiyah terfokus pada konsepnya tentang Mahabbatullah (cinta Allah). Ia mengungkapkan perasaannya tentang cinta Ilahi dengan dua corak cinta, yaitu cinta karena diriku dan cinta karena dirimu.

2. Tasawuf yang diamalkan oleh Rabi’ah termasuk tasawuf irfani. Konsep tasawuf mahabbah yang diajarkan oleh Rabi’ah merupakan perwujudan rasa tulus dan ikhlas dengan cinta tanpa adanya permintaan ganti dari Allah.

Biografi Rabi’ah

Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah alQaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M atau 99 H/717 M di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H/801 M.

Sejak kecil Rabi'ah sudah dikenal sebagian anak yang cerdas dan taat beragama. Beberapa tahun kemudian kedua orang tuanya meninggal dunia, sehingga Rabi'ah dan ketiga saudara perempuannya menjadi anak yatim piatu. Rabi'ah bekerja sebagai penarik perahu yang menyeberangkan orang di Sungai Dajlah.

Tasawuf Imam Ghazali

Di dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlu Al Sunnah wa Al-jama’ah. Corak tasawufnya adalah psikomoral yang mengutamakan pendidikan moral yang dapat di lihat dalam karya-karyanya seperti Ihya’ullum, Al-Din, Minhaj Al-‘Abidin, Mizan Al-Amal, Bidayah Al Hidayah, M’raj Al Salikin, Ayyuhal Wlad.

Biografi Imam Ghazali

Nama lengkap: Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin ahmad at-Thusi al-Ghazali, dengan gelar Hujjah

(16)

al-Islam.

Lahir: di kota Ṭus yang merupakan kota kedua di Khurasan setelah Naysabur, pada tahun 450 H.

Kitab yang ditulis oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali:

 Ihya’ Ulumu ad-Din (menghidupkan ilmu-ilmu agama).

 Mukasyafah al-Qulub (terbukanya hati)

 Mizan al-‘Amal (timbangan amal)

 Dll.

Wafat: di kota Thus, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan ath-Thabaran.

Tasawuf Syaikh Abdul Qadir

-Di kalangan dunia tasawuf, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dijuluki Sultan al-Auliya’ (rajanya para wali).

Kedudukan yang mulia ini dicapainya karena akhlak yang terpuji, ahwāl dan karamah yang dimilikinya.

-Tasawuf yang dikembangkan oleh Syaikh Abdul Qadir termasuk tasawuf akhlaki, yaitu tasawuf yang berorientasi kepada perbaikan akhlak, mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan manusia yang dapat mencapai maqam ma’rifat kepada Allah.

Biografi Syaikh Abdul Qadir

1. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadán, tahun 471 H di kampung Jilan.

2. Ibunya adalah Umu al-Khair (induk kebaikan), amat al-Jabbar (khadam Tuhan yang Maha Perkasa) Fatimah binti Abu ‘Abdillah asSuma’i, seorang ibu yang banyak memiliki karamah dan ahwāl.

3. Beliau menetap di Jilan sampai berusia 18 tahun, pada tahun 488 H pindah ke Baghdad hingga akhir hayatnya

-BAB 11-

KISAH TELADAN

1. ABDURRAHMAN BIN AUF

a. Biografi Singkat

Salah seorang sahabat besar Nabi Saw. dan termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga (al-‘Asyarah al-mubasyarah/sepuluh yang digembirakan). Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam .

(17)

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khatthab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercaya Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.

b. Keutamaan

1. Termasuk sahabat yang masuk Islam sangat awal, yaitu yang kedelapan. Beliau bersyahadah 2 hari setelah Abu Bakar.

2. Termasuk salah satu dari enam orang yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab untuk memilih khalifah sesudahnya.

3. Seorang mufti yang dipercaya oleh Rasulullah Saw. untuk berfatwa di Madinah padahal Rasulullah Saw. masih hidup.

4. Terlibat dalam perang Badar bersama Rasulullah Saw. dan menewaskan musuh-musuh Allah.

Beliau juga terlibat dalam perang Uhud dan bahkan termasuk yang bertahan di sisi Rasulullah Saw.

5. Menyumbang separuh hartanya yang senilai 2000 Dinar.

6. Menyumbang 200 uqiyah emas ketika Rasullullah membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah yang lagi dilanda musim panas.

7. Menyantuni para pejuang perang Badar.

c. Teladan

1. Sikap tolong menolong.

2. Dinamis dalam berusaha.

3. Dermawan.

4. Serta zuhud atau tidak cinta dunia.

2. ABU DZAR AL-GHIFARI

a. Sebelum Masuk Islam

Abu Dzar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghifar saat itu, tetapi ia dan pengikutnya hanya merampok orang-orang kaya dan hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada

(18)

fakir miskin. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya, insaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya.

Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya. Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis al-Ghifar, Abu Dzar hijrah ke Nejed. Ini merupakan hijrah pertama Abu Dzar dalam mencari kebenaran.

b. Masuk Islam

Keislaman Abu Dzar bermula dari saudaranya yang bernama Anīs al-Ghiffārī. Ketika itu, saudaranya baru pulang dari Makkah. Kepada Abu Dzar, Anīs menceriterakan bahwa ia bertemu dengan seorang Nabi (Muhammad Saw.) yang menyebarkan agama sama seperti yang diamalkan Abu Dzar, yaitu mewajibkan orang kaya memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin. Seperti Abu Dzar, Nabi pembawa agama baru itu sangat mengecam orang yang tidak memperhatikan orang lemah, seperti anak yatim dan fakir miskin. Berita ini memberikan daya tarik yang luar biasa kepada Abu Dzar.

Abu Dzar kemudian menuju Makkah. Secara terang-terangan, ia mengucapkan kalimat syahadat di dekat Ka’bah. Suasananya saat itu sangat mencekam dan menakutkan, yang menyebabkan para sahabat takut menyatakan keislamannya secara terang-terangan. Hal itu disebabkan oleh adanya ancaman dan penganiayaan kaum musyrik Makkah terhadap penganut agama Islam.

c. Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa

Semasa hidupnya, Abu Dzar al-Ghifari sangat dikenal sebagai penyayang kaum mustadh’afun.

Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abu Dzar.

Sudah menjadi kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah merampok kafilah yang lewat. Abu Dzar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa. Kebiasaan menyayangi kaum lemah ini, tidak berhenti ketika sudah memeluk Islam.

d. Wasiat Rasulullah Saw. kepada Abu Dzar al-Ghifari:

(1) mencintai orang miskin

(2) lihatlah orang yang lebih rendah dalam hal materi dan penghidupan (3) menyambung silaturrahim

(19)

(4) perbanyaklah ucapan lā haula walā quwwata illā billāh (5) berani berkata benar meskipun pahit

(6) tidak takut celaan ketika berdakwah di jalan Allah (7) tidak meminta-minta.

(20)

Al-Qur’an Hadits

-BAB 6-

BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA AMANAH

ٰل َم ا َه ْيَ

ل َع ُ ة َرا َج ِحْ

لا َو ُسانلا اَّ هَد ْوُ ُ ق َّو ا ًراَ

ن ْمُ ك ْي ِلهْ َ

ا َو ْمُ ك َسُ

فْ نَ

ا اوْٰٓ ُ ق ا ْون َمُ ٰ

ا َن ْي ِذَّ

لا ا َه ُّيَ ايٰٓ

ٌةَ ك ِٕى ِغ َٰ

للّا َ ن ْو ُص ْعَي َّ

لَّ داٌ َ د ِش ٌ

ظ َ

َ لَ

ن ْو ُر َمْ ؤ ُي ا َم َ

ن ْوُ ل َعْ

ف َي َو ْمه َر َمُ َ ا ٓ

ا َم

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS at-Taḥrım [66]: 6) Dalam suatu riwayat hadis dari al-Qurthubi dinyatakan bahwa pada saat ayat ini turun, ‘Umar bin Khaṭṭab berkata:

‚Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana cara menjaga keluarga kami? Rasulullah bersabda‚Laranglah mereka mengerjakan sesuatu yang kamu dilarang untuk melakukannya, dan serulah mereka melakukan sesuatu yang kamu diperintahkan oleh Allah untuk melakukannya.’ Sementara itu, menurut Ibn Abbas, makna ayat di atas adalah ‘beramallah kamu dengan taat kepada Allah dan takutlah kamu akan bermaksiat kepada-Nya, dan perintahkanlah keluargamu untuk mengingat Allah, niscaya Allah akan melepaskan kamu dari api neraka’. Sedangkan menurut Sayyidina ‘Ali kwa, ‚Ajarkan dirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka‛.

Begitulah cara menghindarkan mereka dari api neraka.

ى وْ قَّ

تل ِل ُ ة َب ِقا َعْ

لا َو كۗ َ ُ قُ

ز ْرَ ن ُن ْحَ

ن ۗ اً

قْ ز ِر كَ ُ

ل َٔـ ْسَ ن َ

لَّ ۗ اه ْيَ َ

لَ ع ْ ِِب َ

ط ْصا َو ِةوٰ ل َّصلاِب كَ َ

لهْ َ ا ْر ُمْ

أ َو Terjemahan

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.

Pada ayat ini, Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. dan umatnya agar menyeru keluarga masing-masing untuk mendirikan salat dan bersabar. Maksudnya, menyelamatkan keluarganya dari siksa api neraka dengan cara melaksanakan salat yang diikuti dengan kesabaran dalam melaksanakannya. Pada ayat 132ini Allah swt.

memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar menyeru keluarganya untuk melaksanakan salat, sebagaimana perintah untuk bisa mendirikan salat kepada dirinya sendiri. Dalam perintah untuk tidak tergiur kepada kekayaan dan kenikmatan orang-orang kafir. Demikianlah perintah Allah swt. kepada Rasul-Nya, sebagai bekal untuk

menghadapi perjuangan berat yang patut dijadikan contoh tauladan bagi pejuang yang ingin menegakkan kebenaran dan ketauhidan di muka bumi ini. Mereka terlebih dahulu harus menjalin hubungan yang erat dengan khaliqnya, dengan cara mengerjakan salat dan memperkokoh jiwanya dengan sifat tabah dan sabar.

(21)

َل َس ْبُ ت ْ

نَ ا ٰٓ

هِب ْرِّ

كَ ذ َو ا َيْ

نُّ

دلا ُ ةو ي َحْ

لا ُم ُهْ ت َّرَ

غ َّو ا ًو ْهَ ل َّو ا ًب ِعَ

ل ْم ُهَ

ن ْي ِد اْو ُذ َخَّتا َنْي ِذَّ

لا ِرَ ذ َو َهَ

ل َس ْيَ ل ْۖ ْ

تَب َسَ ك ا َمِب سٌ ْ

فَ

َّ ن لَّ ٍلْ

د َع َّلُ ك ْل ِد ْعَ

ت ْ

ن ِاَوۚ ٌعْي ِف َش َ

لَّ َّو ٌّ ي ِلَو ِ ٰللّا ِن ْوُد ْن ِم ا ا َمِب ٌمْيِلَ

ا ٌباَ

ذ َع َّو ٍمْي ِم َح ْن ِّم ٌباَ ََش ْم ُهَ ل ا ْو ُب َسَ

ك ا َمِب اْوُل ِسْبُا َنْي ِذَّ

لا َ ك ِٕى ٰ

لوُ ا ۗ

ا َهْ ن ِم ْ

ذَ خْ

ؤ ُي

َ ن ْو ُرُ

فْ ك َي ا ْوُ

ناَ

ࣖ ك

Terjemahan

Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena kekafiran mereka dahulu.

Dalam ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman agar meninggalkan dan memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menjadikan agama sebagai main-main dan bahan senda gurau, dengan memperolok-olokkan agama. Mereka mau mengerjakan perintah agama dan

menghentikan larangannya atas dasar main-main dan tidak bersungguh-sungguh. Mereka tidak membersihkan diri dan jiwa mereka serta tidak memperbaiki budi pekertinya sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad saw

س َمْ لا َو مٰت َيْ

لا َو ِب ْرُ قْ

لا ى ِذِبَّو اًنا َس ْحِا ِنْي َدِلا َوْ

لاِبَّو أًـْي َش هِب ا ْوُ كِشَْ ُ

ت َ لَّ َو للّا اوَ ٰ ُ

د ُبعا َوْ َو ِب ْرُ

قْ

لا ى ِذ ِراَجْلا َو ِن ْ ي ِك ا َم َو ِۙ

ِلْيِبَّسلا ِنْبا َو ِب ْ ن َجْ

لاِب ِب ِحا َّصلا َو ِبن ُجُ ْ لا ِراَجْلا

ِۙا ًر ْوُ خَ

ف ً لَّاتَ ْ

خ ُم ناَ ك ْن َم ُّب ِحُي َلَّ َ ٰللّا َّنِا ۗ ْمُكُنا َمْيَا ْت َكَل َم َ Terjemahan

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,

Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang kewajiban manusia kepada Allah swt. dan kepada sesama. Perintah ibadah ini bukan hanya ibadah ritual (maḥḍah), yaitu ibadah yang cara, kadar, waktu dan tempatnya telah

ditentukan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya, seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Tapi ibadah yang mencakup ibadah gairu maḥḍah, yaitu semua pekerjaan baik yang dikerjakan dalam rangka hanya untuk memproleh ridha Allah swt.

bukan karena yang lain, seperti membantu fakir miskin, memelihara anak yatim, dan mengajar orang lain, yang

(22)

pelaksanaan dan tata caranya tidak diatur secara rinci dan diserahkan kepada manusia. Atau dengan kata lain, mencakup segala aktivitas atau perbuatan yang hendak dilakukan hanya karena Allah swt. Selanjutnya dalam ayat ini, Allah swt. mengatur kewajiban manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Setelah memerintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua, Allah swt. menyuruh berbuat baik kepada karib kerabat. Karib kerabat adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan seseorang sesudah orang tua. Setelah itu, berlanjut untuk berbuat baik kepada anak yatim dan orangorang miskin. Semua perbuatan baik itu didasarkan pada tuntunan agama dan rasa perikemanusiaan yang tinggi sebagai realisasi dari ketaqwaan kepada Allah swt.

َن ْو ُح ِل ْص ُم ا َهُل ْهَا َّو ٍمْ ل ُ

ظِب ى رُ قْ

لا َ

ك ِلْهُيِل َكُّب َر َناَ ك ا َم َو

ِۙ َن ْ ي ِف ِلتَ ْ

خ ُم َ ن ْوُ

لا َز َي َ لَّ َّو ً

ةَ

د ِحاَّو ًة َّمُا َساَّنلا َل َع َجَل َكُّب َر َء ا َش ْوَل َو لَّ َ َك ِّب َر َ ُ

ة َم ِلَ ك ت َّمْ َ

ت َوۗ ْم ُهَ قَ

لخ َ َ

ك ِل ذ ِلَوۗ َكُّب َر َم ِح َّر ْن َم َّ

لَّ ِا ْجَ

ا ِساَّ

نلا َو ِةَّ

ن ِجْ

لا َن ِم َمن َه َج َّن َٔـَّ َ َن ْ ل ْم

ي ِع َم

Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama pen-duduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (117). Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat) (118). Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, ‛Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya (119). (QS H)117-119:]11[ūd

Pada ayat 117, Allah swt. menjelaskan bahwa Dia tidak akan membinasakan suatu negeri selama penduduk negeri sebagaimana itu masih suka berbuat kebaikan, tidak suka berbuat zalim, tidak suka mengurangi kadar timbangan

aib, tidak melakukan perbuatan liwa

kaumnya Nabi Su ṭ (LGBT) sebagaimana umatnya Nabi Lūṭ, tidak patuh, kejam dan bengis seperti halnya zaman Fir’aun, yang demikian itu adalah suatu kezaliman. Selanjutnya, pada ayat 118, dijelaskan bahwa jika Allah swt. mau berkehendak agar umat ini menjadi satu dalam beragama, sesuai dengan asal fitrah kejadiannya, niscaya hal tersebut akan terjadi. Tetapi Allah swt. menciptakan manusia itu dilengkapi dengan akal, sehingga mereka berusaha berbuat dengan ikhtiar tanpa ada paksaan dan dijadikan berbeda-beda tentang kemampuan dan pengetahuannya. Sekalipun pada mulanya manusia adalah umat yang satu, dan tidak ada perselisihan di antara mereka, tetapi setelah berkembang biak timbullah keinginan dan kemauan yang

berbeda-beda, karena itulah timbul perbedaan pendapat yang tidak habis-habisnya. Sedangkan pada ayat 119, Allah swt. menjelaskan bahwa perselisihan tidak hanya terjadi di antara para pemeluk agama, seperti agama Yahūdi, Nasrani, Majusi dan Islam, tetapi juga sesama penganut agama yang sama pun sering berselisih, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya. Mereka itu bersatu dan selalu mengupayakan persatuan agar manusia tetap pada ketentuan Allah swt. mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang.

ٰل َم ا َه ْيَ ل َع ُ

ة َرا َج ِحْ

لا َو ُسانلا اَّ هَد ْوُ ُ ق َّو ا ًراَ

ن ْمُ ك ْي ِلهْ َ

ا َو ْمُ ك َسُ

فْ نَ

ا اوْٰٓ ُ ق ا ْون َمُ ٰ

ا َن ْي ِذَّ

لا ا َه ُّيَ ايٰٓ

ٌةَ ك ِٕى ِغ َٰ

للّا ن ْو ُص ْعَي َ َّ

لَّ داٌ َ د ِش ٌ

ظ َ

َ لَ

ن ْو ُر َمْ ؤ ُي ا َم ن ْوَ ُ

ل َعْ ف َي َو ْمه َر َمُ َ

ا ٓ ا َم

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS at-Taḥrım [66]: 6)

(23)

Dalam suatu riwayat hadis dari al-Qurthubi dinyatakan bahwa pada saat ayat ini turun, ‘Umar bin Khaṭṭab berkata:

‚Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana cara menjaga keluarga kami? Rasulullah bersabda‚Laranglah mereka mengerjakan sesuatu yang kamu dilarang untuk melakukannya, dan serulah mereka melakukan sesuatu yang kamu diperintahkan oleh Allah untuk melakukannya.’ Sementara itu, menurut Ibn Abbas, makna ayat di atas adalah ‘beramallah kamu dengan taat kepada Allah dan takutlah kamu akan bermaksiat kepada-Nya, dan perintahkanlah keluargamu untuk mengingat Allah, niscaya Allah akan melepaskan kamu dari api neraka’. Sedangkan menurut Sayyidina ‘Ali kwa, ‚Ajarkan dirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka‛.

Begitulah cara menghindarkan mereka dari api neraka.

ى وْ قَّ

تل ِل ُ ة َب ِقا َعْ

لا َو كۗ َ ُ قُ

ز ْرَ ن ُن ْحَ

ن ۗ اً

قْ ز ِر كَ ُ

ل َٔـ ْسَ ن َ

لَّ ۗ ا َه ْيَ

ل َع ْ ِِب َ ط ْصا َو ِةوٰ

ل َّصلاِب كَ َ لهْ َ

ا ْر ُمْ أ َو Terjemahan

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.

Pada ayat ini, Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. dan umatnya agar menyeru keluarga masing-masing untuk mendirikan salat dan bersabar. Maksudnya, menyelamatkan keluarganya dari siksa api neraka dengan cara melaksanakan salat yang diikuti dengan kesabaran dalam melaksanakannya. Pada ayat 132ini Allah swt.

memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar menyeru keluarganya untuk melaksanakan salat, sebagaimana perintah untuk bisa mendirikan salat kepada dirinya sendiri. Dalam perintah untuk tidak tergiur kepada kekayaan dan kenikmatan orang-orang kafir. Demikianlah perintah Allah swt. kepada Rasul-Nya, sebagai bekal untuk

menghadapi perjuangan berat yang patut dijadikan contoh tauladan bagi pejuang yang ingin menegakkan kebenaran dan ketauhidan di muka bumi ini. Mereka terlebih dahulu harus menjalin hubungan yang erat dengan khaliqnya, dengan cara mengerjakan salat dan memperkokoh jiwanya dengan sifat tabah dan sabar.

َل َس ْبُ ت ْ

نَ ا ٰٓ

هِب ْرِّ

كَ ذ َو ا َيْ

نُّ

دلا ُ ةو ي َحْ

لا ُم ُهْ ت َّرَ

غ َّو ا ًو ْهَ ل َّو ا ًب ِعَ

ل ْم ُهَ

ن ْي ِد اْو ُذ َخَّتا َنْي ِذَّ

لا ِرَ

ٌ ذ َو سْ فَ

َّ ن لَّ ٍلْ

د َع َّلُ ك ْل ِد ْعَ

ت ْ

ن ِاَوۚ ٌعْي ِف َش َ

لَّ َّو ٌّ ي ِلَو ِ ٰللّا ِن ْوُد ْن ِم ا َهَ ل َس ْيَ

ل ْۖ ْ تَب َسَ

ك ا َمِب ا َمِب ٌمْيِلَا ٌباَ

ذ َع َّو ٍمْي ِمَح ْن ِّم ٌباَ ََش ْم ُهَ ل ا ْو ُب َسَ

ك ا َمِب اْوُل ِسْبُا َنْي ِذَّ

لا َ ك ِٕى ٰ

لوُ ا ۗ

ا َهْ ن ِم ْ

ذَ خْ

ؤ ُي

َ ن ْو ُرُ

فْ ك َي ا ْوُ

ناَ

ࣖ ك

Terjemahan

Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an agar setiap orang tidak terjerumus (ke

(24)

dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena kekafiran mereka dahulu.

Dalam ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman agar meninggalkan dan memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menjadikan agama sebagai main-main dan bahan senda gurau, dengan memperolok-olokkan agama. Mereka mau mengerjakan perintah agama dan

menghentikan larangannya atas dasar main-main dan tidak bersungguh-sungguh. Mereka tidak membersihkan diri dan jiwa mereka serta tidak memperbaiki budi pekertinya sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad saw

س َمْ لا َو مٰت َيْ

لا َو ِب ْرُ قْ

لا ى ِذِبَّو اًنا َس ْحِا ِنْي َدِلا َوْ

لاِبَّو أًـْي َش هِب ا ْوُ كِشَْ ُ

ت َ

لَّ َو َللّا اوٰ د ُب ْعا َوُ ِني ِكْ

ا َم َو ِۙ

ِلْيِبَّسلا ِنْبا َو ِبن َج ْ ْ

لاِب ِب ِحا َّصلا َو ِبن ُجُ ْ

لا ِراَجْلا َو ِب ْر ُقْ

لا ى ِذ ِراَجْلا َو

ِۙا ًر ْوُ خَ

ف ً لَّاتَ ْ

خ ُم َ

ناك ْن َم ُّب ِحُي َلَّ َ ٰللّا َّنِا ۗ ْمُكُنا َمْيَا ْت َكَل َم َ Terjemahan

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,

Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang kewajiban manusia kepada Allah swt. dan kepada sesama. Perintah ibadah ini bukan hanya ibadah ritual (maḥḍah), yaitu ibadah yang cara, kadar, waktu dan tempatnya telah

ditentukan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya, seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Tapi ibadah yang mencakup ibadah gairu maḥḍah, yaitu semua pekerjaan baik yang dikerjakan dalam rangka hanya untuk memproleh ridha Allah swt.

bukan karena yang lain, seperti membantu fakir miskin, memelihara anak yatim, dan mengajar orang lain, yang pelaksanaan dan tata caranya tidak diatur secara rinci dan diserahkan kepada manusia. Atau dengan kata lain, mencakup segala aktivitas atau perbuatan yang hendak dilakukan hanya karena Allah swt. Selanjutnya dalam ayat ini, Allah swt. mengatur kewajiban manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Setelah memerintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua, Allah swt. menyuruh berbuat baik kepada karib kerabat. Karib kerabat adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan seseorang sesudah orang tua. Setelah itu, berlanjut untuk berbuat baik kepada anak yatim dan orangorang miskin. Semua perbuatan baik itu didasarkan pada tuntunan agama dan rasa perikemanusiaan yang tinggi sebagai realisasi dari ketaqwaan kepada Allah swt.

َن ْو ُح ِل ْص ُم ا َهُل ْهَا َّو ٍمْ ل ُ

ظِب ى رُ قْ

لا َ

ك ِلْهُيِل َكُّب َر َناَ ك ا َم َو

ِۙ َن ْ ي ِف ِلتَ ْ

خ ُم َ ن ْوُ

لا َز َي َ لَّ َّو ً

ةَ

د ِحاَّو ًة َّمُا َساَّنلا َل َع َجَل َكُّب َر َء ا َش ْوَل َو

(25)

ۗ ْم ُهَ قَ

لَ خ َ

ك ِل ذ ِلَوۗ َكُّب َر َم ِح َّر ْن َم َّ

لَّ ِا ْجَ

ا ِساَّ

نلا َو ِةَّ

ن ِجْ

لا َن ِم َمن َه َج َّن َٔـَّ َ ل ْمَ َ

لَّ ك ِّب َر َ ُ ة َم ِلَ

ك ت َّمْ َ َن ْ ت َو

ي ِع َم

Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama pen-duduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (117). Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat) (118). Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, ‛Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya (119). (QS H)117-119:]11[ūd

Pada ayat 117, Allah swt. menjelaskan bahwa Dia tidak akan membinasakan suatu negeri selama penduduk negeri kadar timbangan sebagaimana a mengurangi

itu masih suka berbuat kebaikan, tidak suka berbuat zalim, tidak suk aib, tidak melakukan perbuatan liwa

kaumnya Nabi Su ṭ (LGBT) sebagaimana umatnya Nabi Lūṭ, tidak patuh, kejam dan bengis seperti halnya zaman Fir’aun, yang demikian itu adalah suatu kezaliman. Selanjutnya, pada ayat 118, dijelaskan bahwa jika Allah swt. mau berkehendak agar umat ini menjadi satu dalam beragama, sesuai dengan asal fitrah kejadiannya, niscaya hal tersebut akan terjadi. Tetapi Allah swt. menciptakan manusia itu dilengkapi dengan akal, sehingga mereka berusaha berbuat dengan ikhtiar tanpa ada paksaan dan dijadikan berbeda-beda tentang kemampuan dan pengetahuannya. Sekalipun pada mulanya manusia adalah umat yang satu, dan tidak ada perselisihan di antara mereka, tetapi setelah berkembang biak timbullah keinginan dan kemauan yang

berbeda-beda, karena itulah timbul perbedaan pendapat yang tidak habis-habisnya. Sedangkan pada ayat 119, Allah swt. menjelaskan bahwa perselisihan tidak hanya terjadi di antara para pemeluk agama, seperti agama Yahūdi, Nasrani, Majusi dan Islam, tetapi juga sesama penganut agama yang sama pun sering berselisih, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya. Mereka itu bersatu dan selalu mengupayakan persatuan agar manusia tetap pada ketentuan Allah swt. mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang.

-BAB 7-

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN

Q.S. Al-Baqarah ayat 148

َّن ِا ۗ ا ًعْي ِمَج ُ ٰللّا ُمُكِب ِت

ْأ َي ا ْوُ ن ْوُ

كَ ت ا َم َن ْيَ

ا ۗ

ِت بْ َ خْ

لا اوُ قِبت ْساَ َ

ف اه ْيَ ِّ

ل َو ُم َوه ُ ٌ ةه ْج ِّو ٍّلَ ُ

ك ِلَو للّا َ ٰ

ٰ لٰعَ ٌر ْي ِدَ

ق ٍء ْ يش ِّلََ ُ ك

Artinya: Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah [2] :148)

Arti Kata

Kiblat

ٌة َه ْج ِّو

Menghadap kepadanya

ا َه ْي

ِّل َو ُم

Maka berlomba-lombalah

او

ُقِبَت ْساَ ف

(26)

Datang/tiba

ِت

ْأ َي

Q.S. Fathir ayat 32

ٌم ِلاَ ظ ْم ُهْ

ن ِمَ ف ۚ

اَ

ن ِدا َب ِع ْن ِم اَنْي َف َط ْصا َنْي ِذَّ

لا َبت ِكْ لا انَْ

ث َر ْوَ ا َّمُ

ث ْم ُهْ

ن ِمَوۚ ٌد ِصَت ْق ُّم ْم ُهْن ِم َوۚ ه ِسْ فنَِّ

ِل ذۗ ِ ٰ ل للّا ِنْ

ذ ِاِب ِت بْ َ خْ

لاِب ٌ ق ِبا َس

ۗ ُ ْ ب ِبَ

كْ لا ُلضْ َ

فْ لا َوه ُ كَ

Artinya: Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Q.S. Fathir [35] : 32)

Arti Kata

Kami wariskan

ا

َنْ ث َر ْوَ

ا

Kami pilih

ا

َن ْيَ فط ْصاَ

Orang dzalim

ٌم ِلا

َظ

yang pertengahan

ٌد ِصَتْ ق ُّم

yang lebih dahulu

ٌق ِبا َس

Karunia

ُل

ْضَ فْ

لا

Q.S. An-Nahl ayat 97 َر ْجَ

ا ْمهَُّ

ن َي ِزْجَنَل َو ًۚ

ة َب ِّيط َ ً ةو ي َح هٗ َّ

ن َي ِيْحُنَلَف ٌنِمْ

ؤ ُم َوه َو ُٰ ثْ نُ

ا ْوَ ا ٍرَ

كَ

ذ ْن ِّم ا ًح ِلا َص َل ِمَع ْن َم ْمهُ

ْحَ

َ اِب ن ْوُ

ل َم ْعَي ا ْوُ ناَ

ك ا َم ِنَس

Artinya: Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl [16] : 97)

Arti Kata

Laki-laki

ٍر

َكَ ذ

Perempuan

ٰث

ْنُ ا

maka kami berikan kepadanya kehidupan

ٗهَّ

ن َي ِيْحُنَلَف

dan akan Kami berikan

ْم ُه

َّن َي ِزْجَنَل َو

(27)

-BAB 8-

ETOS KERJA PRIBADI MUSLIM

kembali bertebaran di muka bumi, mengerjakan urusan duniawi, dan berusaha Pengertian

Etos kerja adalah sebuah keyakinan yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan sesuatu hal dengan tekad untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik. Berdasarkan KBBI, etos kerja merupakan semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Dalam dunia kerja sikap ini sangat penting karena

mencerminkan kualitas diri dari seseorang.

Dalil

Q.S Al Jumuah 9-11

َو َِّ

للّا ِرْ ك ِذ َ

ل ِإ اْو َع ْساَف ِة َع ُم ُجْ

لا ِمْوَي ْن ِم ِة َ

لَ َّصل ِل َيِدوُ ن اَ

ذ ِإ اوُ ن َمآ َني ِذَّ

لا ا َه ُّيَ أ ا َي ۚ َع ْي َبْ

لا او ُرَ ذ َ

ذ ﴿ َ

نو ُمَ ل ْعَ

ت ْمتُنْ ُ ك ْ

ن ِإ ْمُكَل ٌ ْ ب َخ ْمُكِل ٩

ُكَّ

ل َعَ ل ا ً ب ِثَ

ك َللّا او ُرَّ ُ كْ

ذا َو ِ َّ

للّا ِلضْ َ ف ْن ِم اوغُ َ

ت ْبا َو ِضْرَ ْ

لْا ي ِنف او ُ َِشَتْناَ ف ُ

ة َ

لَ َّصلا ِتَي ِضُ ق اَ

ذ ِإَ ِلْ ف

فُ ت ْم ﴿ نو ُحَ ١٠

ْهَ ل ْوَ

أ ً ة َرا َج ِت اْوَ

أ َر اَ ذ ِإَو َن ِمَو ِوهَّْ

للا َن ِم ٌبْ َ خ ِ َّ

للّا َ دْ

ن ِع اَم ْل ُق ۚ ا ًمِئاَ ق كوَ ُ

ك َرَ ت َو اه ْيَ َ

ل ِإ اوضُّ َ فْ

نا ا ًو ﴿ َن ي ِقِزا َّرلا ُبْ َ

خ ُ َّ

للّا َو ۚ ِةَرا َجِّتلا ١١

﴾ Artinya :

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (9)

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (10)

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (11)

Penjelasan Ayat

QS al-Jumu’ah ayat 9 ini berkenaan dengan seruan dari Allah swt. kepada orang-orang yang beriman agar mendirikan salat Jum’at. Kata seruan pada ayat di atas, sebenarnya dapat dipahami tidak hanya sebatas azan yang

dikumandangkan oleh muazin pada hari Jum’at, tetapi seruan dari Allah swt. Pada ayat ke-10 surat al-Jumu’ah, Allah swt. melanjutkan seruan-Nya, yaitu apabila telah selesai melaksanakan salat Jum’at, maka segeralah mencari karunia Allah swt., boleh mencari rezeki yang baik dan halal. Di akhir ayat, Allah swt. memerintahkan agar banyak berzikir kepada-Nya supaya manusia memperoleh keberuntungan.

(28)

Q.S Al Qasas 77

َن ِم َ ك َبي ِصَ

ن َسنَ ت َ

لَّ َو ْۖ َ

ة َر ِخا َءْلٱ َرا َّدلٱ ُ َّللّٱ َك ىَتا َء ٓا َمي ِف ِغت ْبٱ َوَ ِإ للّٱ َن َس ْحُ َّ َ

أ ٓ ا َمَ

ك ن ِسْحَ أ َو ْۖ ا َيْ

نُّ

دلٱ ا َسَ

فْ لٱ ِغْبَت َ

لَّ َو ْۖ ك ْيَ َ َني ِد ِسْ ل

ف ُمْ

لٱ ُّب ِحُي َلَّ َ َّللّٱ َّنِإ ْۖ ِضْرَ ْ

لْٱ ِنف َد

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Penjelasan Ayat

Di awal ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar membuat keseimbangan antara usaha untuk memperoleh keperluan duniawi dan memenuhi keperluan ukhrawi. Ayat ini juga memerintahkan kepada manusia untuk bisa berbuat baik kepada Allah swt. dan sesamanya. Bentuk perbuatan baik itu dapat dikategorikan menjadi empat hal, yaitu:

Berbuat baik pada nikmat Allah swt. berupa harta. Kemewahan dan harta yang berlimpah tidak boleh menjadikan dirinya lupa diri dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Bentuk perbuatannya baiknya adalah dengan menggunakan harta untuk memberi nafah keluarga, menyantuni anak yatim, ataupun biaya pendidikan keluarga.

Berbuat baik kepada diri sendiri dengan memelihara kehidupan dirinya di dunia, namun tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Bentuk perbuatan baik ini seperti makan, minum, berpakaian, beragama, berkeluarga, bekerja dan bermasyarakat.

Berbuat baik sebagaimana yang diajarkan Allah swt. sebagai wujud pelaksanaan kewajiban muslim, yaitu selalu menaati perintah Allah swt. melalui ibadah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Hadis Nabi Riwayat Ibnu Mājah

a. Arti Hadis

(29)

“Disampaikan kepada kami oleh Hisyam bin ‘Ammar dari Isma’il bin ‘Ayyas dari Bahir bin Sa’ad dari Khalid bin Ma’dan dari al-Miqdām bin Ma’dikarib azZubaidi dari Rasulullah, beliau bersabda: ‚Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya sendiri. Dan apa-apa yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah” ( HR. Ibnu

Mājah).

b. Penjelasan Hadis

Hadis di atas merupakan motivasi dari Nabi Muhammad saw. kepada kaum muslimin untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Kita dilarang oleh Nabi hanya bertopang dagu dan berpangku tangan mengharap rezeki datang dari langit. Kita harus giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga.

Bahkan dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. bahwa tidak ada yang lebih baik dari usaha seseorang kecuali hasil kerjanya sendiri. Hal ini tentunya juga bukan sembarang kerja, tetapi pekerjaan yang halal dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

-BAB 9-

MAKANAN YANG HALAL DAN BAIK

1. Al-Baqarah 168-169

ْمُ كَ

ل هٗ َّ

ن ِا ۗ

ِنط ْي َّ

شلا ِت وطُ ُ خ ا ْو ُعِبتََّ

ت َ لَّ َّوْۖ ا ًب ِّيط َ ً

لَٰ ل َح ِضْرَ ْ

لَّا ِف ا َّم ِم ان ْوُلُك ُساَّنلا ا َهُّيَايٰٓ

ُّم ٌّودُعَ ( ٌن ْ ي ِب ١٦٨ )

ا َم ِللّا ٰ َ لٰع ا ْوَ ُ

ل ْوُ قَ

ت نْ َ ا َو ِءاش ْحَ َ

فْ لا َو ِءْْۤ

و ُّسلاِب ْمُكُر ُمْ أ َي ا َمَّ

ن ِا ( ن ْو ُمَ َ

ل ْعَ ت َ

لَّ

١٦٩ )

Artinya:

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu (168)

Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah (169)

QS al-Baqarah ayat 168, berisi perintah Allah swt. kepada manusia untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik.

Makanan dan minuman yang halal adalah makanan dan minuman yang diperbolehkan oleh agama, baik dari segi zatnya maupun hakikatnya.

Menurut Ibnu Abbas Surat Al-Baqarah ayat 168 turun berkaitan dengan kebiasaan satu kaum yang terdiri atas Banı Saqi, Banı Amir bin Ṣa‘ṣa‘ah, Khuza‘ah dan Banı Muḍid. Kaum tersebut

mengharamkan beberapa jenis binatang menurut kemauan sendiri, padahal Allah swt. tidak mengharamkannya.

Diantara jenis binatang yang diharamkan adalah baḥirah, yaitu unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima jantan, lalu dipotong telinganya. waṣilah yaitu domba yang beranak dua ekor, satu jantan dan satu betina, lalu anak yang jantan tidak boleh dimakan melainkan harus diserahkan kepada berhala.

Dalam QS al-Baqarah ayat 169, Allah swt. menegaskan bahwa setan selalu menyuruh manusia untuk

melakukan kejahatan, serta perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini berkaitan erat dengan ayat

Referensi

Dokumen terkait

Observasi terjkait dengan judul yang akan diteliti adalah kegiatan pengamatan terhadap peranan pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat desa

: Kajian Pelapukan Pedokimia(A-+B) Berdasarkan Mineral Liat pada Tanah Berbahan Induk Alluvial dan Tuff Liparit di Kecamatan Tanjung Morawa Rafael Felix Nababan.. 010303029 IImu

 Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengumumkan niatnya untuk mengunjungi Myanmar pada akhir bulan ini, yang akan menjadikannya sebagai Presiden AS pertama yang

WIRATRAN SAMUDERA SHIPPING PALEMBANG 72 PT.PROPAN RAYA I.C.C DISTRIBUTOR CAT PALEMBANG 73 RUKO LEMABANG MAS PERTOKOAN PALEMBANG 74 SEKOLAH KRISTEN IPEKA SEKOLAH

Pada pengujian kadar glukomanan metode kolorimetri denngan reagen 3,5-DNS, sampel tepung konjak yang akan dianalisis dipreparasi terlebih dahulu dengan cara diaduk

Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya Jl.. Optimasi Pemadatan Cepat Pada Pembuatan Minyak Kaya Asam Lemak Q-3 Dari Minyak Hasil Samping Penepungan Ikan Lemuru.. Teti Estiasih

Beberapa penelitian tentang nama orang dan nama keluarga yang telah dilakukan sebelumnya yang memiliki kaitan dengan topik ini, yaitu:.. ³1DPD .HOXDUJD GDODP %DKDVD

Dari hasil pengujian regresi linear sederhana diperoleh nilai koefisien regresi untuk remunerasi sebesar 0,518, selain itu nilai value = 0,013 < 0.05,