530
Potret Sosial dalam Kumpulan Crita Cekak Ratu Karya Krishna Mihardja: Tinjauan Struktural
Reyninta Gita Maharani, Darmoko
[email protected], [email protected] Program Studi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
Depok, Indonesia ABSTRAK
Kumpulan crita cerkak Ratu (KCCR) merupakan cerita surealistis-pasemon, yang menggambarkan khayalan dan kenyataan menjadi satu-kesatuan. Cerpen ini ditulis antara tahun 1991-1994. Cerita yang dibangun oleh pengarang, sarat akan sindiran politik dengan sasaran, yaitu pemerintahan masa Orde Baru. Penelitian ini memberikan gambaran tentang sindiran politik masa Orde Baru. Penelitian ini menganalisis cerpen Rampog dan Wong Iku dan mengaitkannya dengan potret sosial pada masa Orde Baru, khususnya aspek politik.
Dalam menganalisis unsur struktural peneliti menggunakan pendekatan objektif. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini, yaitu metode analisis deskriptif. Langkah awal, mengumpulkan data dari cerpen, lalu menganalisis dengan terlebih dahulu memberikan bukti fakta melalui teks data. Selanjutnya, berdasar pada tujuan penelitian mengenai analisis struktural, yang mencakup analisis tokoh-penokohan, plot, latar, tema dan moral. Teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiyantoro.
Kata kunci: potret sosial, Orde Baru, unsur struktural, Rampog, Wong Iku
Pendahuluan
Suharianto (2005:1) menyatakan bahwa sebuah karya sastra merupakan suatu kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap pengarangnya, latar belakang pendidikannya, keyakinannya, dan sebagainya, karena kebenaran dalam sebuah karya sastra tidak mungkin disamakan dengan kenyataan yang ada di sekitar. Hasil karya sastra tercipta, dari gagasan sang pengarang. Gagasan yang diperoleh biasanya dari pengalaman, baik pengalaman pribadi sang penulis maupun yang berasal dari orang-orang sekitar sang pengarang.
Makin banyak kesenangan dan kegunaan yang diberikan suatu karya sastra makin bertambah tinggi nilainya (Pradopo, 1994: 59). Bentuk paparan yang terdapat dalam karya sastra mengandung unsur kesenangan dilihat dari respon si pembaca, baik respon positif maupun negatif. Menurut Aminudin, 1990: 3, karya sastra secara objektif terwujud dalam bentuk paparan bahasa merupakan hasil ekspresi gagasan penutur yang sekaligus mengimplikasikan adanya orang kedua sebagai penanggap atau pembaca
531
“Good literature recreates the sense of life, its weight and texture. It recreates the experiential wholeness of life-of the life of emotions, the life of the mind, the individual life and the social life, the object-laden world. It creates these things all together and interpenetrating, as they do in the lives we live ourselves .... Good literature recreates the immediacy of life.”
Sastera yang baik menciptakan kembali rasa kehidupan, bobotnya dan susunannya.
Menciptakan kembali keseluruhan hidup yang dihayati, kehidupan emosi, kehidupan budi, individu maupun sosial, dunia yang sarat objek. Hal ini diciptakannya bersama-sama dan secara saling berjalinan, seperti terjadi dalam kehidupan yang kita hayati sendiri ....
Sastera yang baik menciptakan kembali kemendesakan hidup. (Richard Hoggart dalam Teeuw, 2003: 194-195).
Sebuah karya sastra tercipta, karena keinginan sang pengarang untuk mengungkapkan gagasan atau pendapatnya agar dapat diketahui banyak orang. Karya sastra tercipta dari rekaan atau imajinasi sang pengarang, akan tetapi tak terlepas dengan persoalan di kehidupan sehari-hari. Dalam penciptaan sebuah karya sastra, sang pengarang menginginkan pembaca untuk mengetahui gagasan yang ditulis serta dapat memetik manfaat dari sebuah hasil karya tersebut. Menurut Suharianto, 2005: 4, karya sastra adalah bersifat imajinatif maksudnya mampu menimbulkan citra atau bayangan-bayangan tertentu di dalam benak penikmatnya.
Seiring perkembangan zaman, karya sastra menjadi sebuah individual pribadi, sesuatu yang dibaca disimpan untuk sendiri. Masyarakat modern sudah melepaskan kondisi karya sastra yang seharusnya. Akibatnya dalam sastra modern kebebasan dan kebutuhan para seniman untuk merombak sistem sastra jauh lebih besar dan lebih radikal (yakni sampai akarnya) daripada di zaman lampau (Teeuw, 1991: 5). Sistem sastra menjadi kacau karena bersifat dinamis, tidak jelas, serta batas-batas jenis sastra. Hal itu disebabkan oleh pandangan bahwa karya sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan kreasi (Teeuw, 2003:
264). Teori sastra sudah tidak dapat membedakan jenis teks sastra, nilai keindahan yang dapat dijadikan pakem penilai di masa lampau, dalam sastra modern sudahlah menjadi sangat subyektif.
Media bahasa merupakan alat untuk menuangkan segala gagasan atau ide dari si pengarang. Terdapat dua bentuk karya sastra, yaitu fiksi dan non fiksi. Bentuk karya sastra fiksi yaitu, prosa, puisi, dan drama. Sedangkan contoh bentuk karya sastra nonfiksi, biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra.
Karya sastra di Indonesia sangatlah banyak, berbeda daerah berbeda pula bentuk karya sastranya. Karya sastra Jawa cukup banyak, seperti crita cekak (cerpen), geguritan (sajak), serat (naskah), cerita rakyat, dll, serta beragam bentuknya. Karya sastra Jawa bukan hanya sebagai sebuah bacaan, melainkan memiliki nilai moral yang dapat dipetik serta dapat dijadikan sebuah tuntunan dikehidupan nyata.
532
Karya sastra Jawa yang akan diteliti adalah crita cekak (cerkak), yang dalam bahasa Indonesia, cerita pendek (cerpen). Cerkak merupakan jenis (genre) baru dalam kesusastraan Jawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), cerpen berasal dari dua kata yaitu cerita yang artinya tuturan tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal dan pendek berarti kisah yang diceritakan pendek (tidak lebih dari 10.000 kata) yang memberikan kesan dominan dan memusatkan hanya pada satu tokoh saja dalam ceritanya.
Kehadiran dan pengembangan dalam cerpen Jawa (cerkak) dalam masyarakat sudah mulai muncul pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Pada tahun 1934 dalam kesusastraan Jawa, istilah cerpen, atau crita cekak (cerkak) secara eksplisit baru muncul. Dengan demikian, memungkinkan cerkak mengalami pembaruan dalam penggunaan bahasa Jawa. Pada waktu itu terjadi penyederhanaan dalam pemakaian bahasa Jawa karena pergeseran sosial seperti, dalam prosa lama menggunakan bahasa Jawa krama inggil, lalu dalam karya sastra modern mengalami pergeseran dengan menggunakan ragam bahasa krama madya atau bahkan ngoko.
Menurut Dhanu dalam Pisungsung Antologi Geguritan lan Cerkak pada sampul buku, bahasa Jawa adalah bahasa seni yang memungkinkan kesusastraan berkembang dengan kelembutan dan kepekaan ekspresinya.
Ciri lain dari cerpen adalah konsep ideal cerpen sebagai salah satu dari subjenis prosa modern, yaitu bertumpu pada asas realisme (Sedyawati, Wiryamartana, Damono, Adiwimarta, 2001: 369). Ciri pembeda cerpen dengan novel adalah struktur dan bahasanya. Struktur yang terdapat dalam cerpen terpusat kepada inti persoalan, menjadi sebuah bentuk yang ringkas dan padat. Dengan demikian, unsur struktur lain dibuat seperlunya sebagai sebuah pendukung.
Pemilihan tema dalam cerpen mulai mengalami pergeseran, tema romantisme mulai ditinggalkan dan mulai memasuki persoalan sehari-hari yang dialami sang pengarang serta mungkin akan membahas persoalan yang akan datang. Cerpen Jawa sudah mulai meninggalkan sekitar kehidupan di istana ataupun bertemakan romantisme, maka cerpen sebagai sarana cerita sudah mengalami pergeseran.
Penerbitan cerkak bukan hanya dimuat di dalam majalah, melainkan diterbitkan dalam bentuk antologi. Ada dua jenis antologi yaitu, antologi yang bersifat perorangan dan antologi yang merupakan kumpulan karya dari beberapa pengarang.
Tahun 1968 hingga 1998, merupakan masa pemerintahan Presiden Soeharto. Masa pemerintahan ini disebut sebagai masa Orde Baru, yang menggantikan Orde Lama merujuk kepada pemerintahan Soekarno (Wijaya, 2016: paragraf 1-2). Masa kepemimpinan Orde Baru merupakan masa kepemimpinan nasional yang bertekad melaksanakan Pancasila dan
533
UUD 1945 secara murni dan konsekuen serta bertujuan menegakkan keadilan dan kebenaran dalam negara Republik Indonesia. (Abdulkarim dan Sukmayadi 2011: 23 dan 39).
Ideologi pancasila bersumber pada cara pandang intergralistik yang mengutamakan gagasan Negara yang bersifat persatuan (Wijaya, 2016: paragraf 5). Selama perjalanan masa Orde Baru, Indonesia mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang, terutama ekonomi.
Rezim Orde Baru berhasil memperbaiki ekonomi Indonesia yang tidak stabil sejak masa kemerdekaan (Putra, 2017: paragraf 13).
Keterkaitan uraian mengenai masa Orde Baru dengan penelitian cerkak kali ini dikarenakan, cerkak yang menjadi kajian objek dituliskan oleh pengarang pada tahun 1990an, serta mengandung sindiran yang ditujukan untuk pemerintahan Orde Baru. Karya satra yang akan diteliti adalah crita cekak (cerkak) dalam KCCR ini ditulis pada tahun 1990-1994. Pada buku KCCR ini terdapat tujuh belas judul cerkak yaitu, Ki Dhalang, Gendera Jambon, Horn, Lara Mata, Pabrik, Prapatan Awan-Awan, Rampog, Ratu, Sapari, Tikus, Wong Iku, Bayi, Jendhela Kaca, Sandhal Jinjit, Kopri, Skak, dan Gong. KCCR ini merupakan karya sastra yang berbentuk prosa dengan menggunakan bahasa Jawa hari-hari. Sehinga dengan mudah dapat dipahami. Krishna Mihardja merupakan sang penulis buku KCCR, lahir pada tanggal 17 September 1957 di desa Pirakbulus Sidamulya Godean Yogyakarta yang ditempati hingga sampai saat ini. Krishna Mihardja adalah seorang penulis yang mampu mengolah masalah sehari-hari menjadi cerita yang serius.
Pada bab pendahuluan dalam KCCR Rachmat Djoko Pradopo berpendapat bahwa pada KCCR ini dapat dikatakan crita surealistis atau supernatural, di mana antara khayalan dan kenyataan menjadi satu-kesatuan. KCCR ditulis pada tahun 1990an, tujuh belas cerkak tersebut sarat akan sindiran-sindaran politik, yang saat itu Indonesia mengalami pemerintahan masa Orde Baru meskipun disampaikan secara tersirat atau implisit. Penulis akan menganalisis unsur struktural dari dua buah cerkak yang berjudul, Rampog dan Wong Iku, serta mengaitkannya dengan potret sosial khususnya aspek politik yang terjadi pada rezim Orde Baru yang tergambarkan dalam dua cerkak tersebut. Di atas Rachmat Djoko Pradopo mengatakan bahwa KCCR merupakan cerita surealistis-pasemon, penulis menyetujui pendapat Rachmat Djoko Pradopo tersebut akan tetapi beliau belum menjelaskan secara keseluruhan, maka dari itu penulis akan meneruskan pendapat Rachmat Djoko Pradopo serta menganalisis atau membuktikannya melalui teks yang terdapat pada kedua cerkak dengan judul Rampog dan Wong Iku yang dipilih sebagai penelitian kali ini.
Sebelum penulis menganalisis potret sosial politik yang terdapat pada dua cerkak, penulis akan menganalis struktur cerkak terlebih dahulu yang mencakup tokoh penokohan,
534
plot, alur, tema dan moral. Penulis memilih KCCR ini untuk penelitian karena cerkak-cerkak yang terdapat dalam KCCR ini menggambarkan khayalan dan kenyataan menjadi satu- kesatuan. Berdasarkan tahun penulisan cerkak tersebut, tidak heran jika cerita yang dibangun oleh pengarang, sarat akan sindiran politik dengan sasaran, yaitu masa Orde Baru. Hal ini dapat dilihat dari judul-judul cerkak yang diciptakan oleh pengarang terbilang nyeleneh, dan cerita yang dibangun terkesan absurd. Penulis memilih dua buah judul cerkak, karena kedua cerkak yang berjudul Rampog dan Wong Iku, erat kaitannya dengan potret sosial yang terjadi pada saat masa Orde Baru, khususnya aspek politik serta memiliki kesamaan dengan menyindir kekuasaan yang terjadi pada pemerintahan Orde Baru.
Berdasarkan uraian pendahuluan di atas, peneliti memiliki rumusan masalah. Pertama menganalisis struktur dua buah cerkak yang berjudul Rampog dan Wong Iku yang terdapat dalam KCCR karya Krishna Mihardja. Kedua, menganalisis potret sosial-khususnya aspek sosial politik pada masa Orde Baru yang dimunculkan oleh pengarang di dalam dua buah cerkak yang berjudul Rampog dan Wong Iku dalam KCCR karya Krishna Mihardja
Berdasarkan rumusan masalah di atas diharapkan peneliti dapat menjelaskan tujuan penelitian. Seperti, menjelaskan struktur dua buah cerkak yang berjudul Rampog dan Wong Iku yang terdapat dalam KCCR karya Krishna Mihardja. Mengungkap potret sosial- khususnya aspek politik pada masa Orde Baru yang dimunculkan oleh pengarang di dalam dua buah cerkak yang berjudul Rampog dan Wong Iku dalam KCCR karya Krishna Mihardja, agar masyarakat zaman sekarang dapat mengetahui bahwa pemerintahan Orde Baru memiliki kelemahan dalam memimpin negara.
Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, , di mana karya sastra sebagai struktur yang bersifat otonom. Plot merupakan bahasan yang paling penting dalam masalah
535
struktur karya sastra. Abrams (dalam Teeuw, 2003: 42) memberikan sebuah kerangka (framework) yang sederhana tetapi cukup efektif:
(Semesta) Universe
Work (Karya)
(pencipta) Artist Audience (pembaca) Gambar 1.1. Pendekatan Sastra Abrams
Kerangka di atas mengandung pendekatan kritis yang utama terhadap karya sastra, yakni: (1) Pendekatan objektif, pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri, (2) Pendekatan ekspresif, pendekatan yang menitikberatkan penulis, (3) Pendekatan mimetik, pendekatan yang menitikberatkan pembaca (Teeuw 2003:43).
Penelitian kali ini, mengunakan pendekatan objektif yaitu pendekatan yang menitkberatkan sebuah karya. Peneliti akan fokus terhadap teks yang terdapat dalam karya sastra yang menjadi objek kajian atau bahan dari penelitian ini.
Metodologi yang digunakan di dalam penelitian ini, yaitu metode analisis deskriptif.
Sub bab bagian ini, peneliti akan mendeskripsikan unsur pokok dalam karya sastra, dengan menggunakan teori struktural yang dikembangkan kembali oleh Nurgiyantoro dalam teori pengkajian fiksi (1998: 37) pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Serta sudah menyangkut bahan yang dipakai (data atau objek kajian) untuk analisis terkait metode penelitian deskripstif. Metode analisis deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan dengan analisis (Ratna, 2007: 53). Unsur pembangun atau unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra yaitu, tokoh penokohan, plot, latar, serta tema dan moral yang akan dibahas lebih mendalam agar dapat menganalisis isi dari cerkak yang dipilih untuk penelitian ini. Di bawah ini akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai kerangka teori dalam karya sastra.
Unsur terpenting dalam sebuah karya sastra khususnya cerkak merupakan, tokoh dan penokohan. Tokoh menunjuk kepada pelaku cerita, sedangkan istilah penokohan lebih
536
kepada karakter atau watak dari tokoh. Berdasarkan peranannya, tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh yang disebut pertama adalah tokoh utama cerita (central character, main character), sedang yang kedua adalah tokoh tambahan (peripheral character) (Nurgiyantoro, 1998: 176). Perbedaan dari kedua tokoh tersebut adalah porsi kemunculan di dalam cerita.
Plot dibedakan menjadi dua berdasarkan urutan waktu yaitu, plot lurus atau progresif dan plot sorot-balik atau flashback. Tahapan plot dibedakan menjadi lima bagian yang dikemukakan oleh Tasrif dalam Mochtar Lubis dengan mendasarkan pada pendapat Richard Summers (dalam Nurgiyantoro, 1998: 149-150). Kelima tahapan itu adalah sebagai berikut.
1. Tahap situation atau tahap penyituasian, berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembuka cerita, pemberian informasi awal, yang berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap selanjutnya.
2. Tahap generating circumstances atau tahap pemunculan konlik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Tahap ini merupakan tahap awalnya munculnya konflik, dan konflik itu akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.
3. Tahap rising action atau tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya.
Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencengkam dan menegangkan. Konflik internal dan eksternal, pertentangan antar tokoh mengarah ke klimaks yang semakin tak dapat dihindari.
4. Tahap climax atau tahap klimaks, konflik dan pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakui dan ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. Tahap ketiga dan keempat berkesesuaian dengan tahapan tengah penahapan di atas.
5. Tahap denouement atau tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberikan penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Tahapan ini merupakan tahapan akhir.
Latar dibedakan menjadi ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial.
Dari ketiga unsur meskipun masing-masing berbeda akan tetapi dapat dibicakan secara
537
sendiri, pada kenyataannya yang saling berkaitan (Nurgiyantoro, 1998: 227). Latar tempat merupakan tempat terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita yang dikisahkan dalam suatu karya sastra. Latar waktu merupakan waktu yang ditulis pengarang untuk menunjukkan kapan terjadinya suatu peristiwa yang ada dalam cerita. Dan sosial dalam sebuah cerita bersangkutan dengan kehidupan masyarakat di mana suasana kedaerahan tentang kehidupan sosial dapat terlihat dalam cerita yang dikisahkan oleh pengarang. Melalui latar tempat, latar waktu, serta latar sosial, pembaca dapat menggambarkan situasi dalam cerita.
Tema menjadi unsur yang terpenting dalam sebuah karya fiktif di mana pengarang menentukan ide yang dituangkan melalui tema serta menggambarkannya melalui cerita, serta pembaca dapat mengetahui atau dapat mengkatagorikan tema apa yang ada dalam cerita tersebut.
Moral merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang, yang harus diketahui oleh pembaca sehingga dapat memetik pelajaran dari sebuah cerita dalam karya sastra. Serta dalam sebuah cerita terdapat moral yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung, semua diserahkan kepada pembaca agar dapat menyimpulkannya sendiri.
Potret sosial yang menjadi kaitan kebudayaan dalam penelitian kali ini. Dalam kaitan dengan kebudayaan ini akan menggunakan buku Pendidikan Kewarganegaraan Membangun Karakter Bangsa Abdulkarim dan Sukmayadi tahun 2011 dan Butir-Butir Budaya Jawa Mencapai Kesempurnaan Hidup Berjiwa Besar Mengusahakan Kebaikan Sejati tahun 1987 yang ditulis sendiri oleh Soeharto. Buku ini berisikan macam-macam pituduh (ajaran baik) yang dibagi menjadi enam kategori yaitu, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kerohanian, Kemanusiaan, Kebangsaan, Kekeluargaan, dan Kebendaan. Penelitian ini menggunakan pituduh kebangsaan, karena mendukung dari tujuan penelitian mengenai potret sosial pada masa Orde Baru aspek politik.
Analisis Cerkak Rampog
Tokoh Rampog menjadi tokoh utama yang menjadi penggerak peristiwa dalam cerkak ini. Rampog masuk kedalam golongan tokoh sederhana, karena hanya memiliki satu watak yaitu tegas. Cerkak Rampog memiliki tokoh tambahan lainnya sebagai pendukung yang memiliki watak bermacam-macam. Hubungan Rampog dengan tokoh tambahan yaitu, tokoh aku sangat erat karena dari awal cerita tokoh aku sudah dimunculkan. Rampog juga masuk dalam golongan tipikal karena menunjukkan identitas profesinya yaitu sebagai rampok.
Tokoh Rampog dalam cerita terlukiskan sebagai seorang yang merampas kemerdekaan serta
538
gemar menyuap. Melalui peristiwa yang tergambarkan, tokoh Rampog dapat dibaratkan seorang yang memiliki kekuasaan, sedangkan tokoh tambahan hanyalah seorang bawahan.
Watak Rampog tersebut terlihat antara lain dari kutipan di bawah ini.
“Bener, iku kang dakkarepake nganti aku dadi rampog lan ngelumpukake kowe kabeh.
Saiki aku njaluk gawemu, kepriye nemokake cara kabeh mau!” wong iku, rampog iku, nyuwara sora. (KCCR 1995: 49)
Terjemahan:
“Benar, itu yang kuharapkan hingga aku menjadi rampok dan mengumpulkan kalian semua. Sekarang aku meminta pekerjaanmu, bagaimana menemukan seluruh cara tadi!” orang itu, Rampog itu, bersuara lantang.
Plot dalam cerkak adalah alur lurus atau progresif tokoh utama yaitu Rampog menjadi penggerak peristiwa, meski tokoh utama kehadirannya belum dimunculkan dari awal cerita.
Di bawah merupakan beberapa rangkaian peristiwa pada cerkak Rampog yang membuktikan bawah cerkak ini beralur lurus atau maju.
1. Rampog mendatangi rumah aku.
2. Permintaan Rampog membuat bahasa tubuh Aku menolak, yang dapat dirasakan oleh aku.
3. Rampog berhasil membawa pergi kepala aku.
Latar yang terlihat dalam cerkak ini, yaitu latar tempat dan latar sosial. Latar yang tergambarkan dalam cerkak Rampog ini, bahwa Rampog membawa seluruh kepala yang dirampasnya kesebuah tempat yang tidak disebutkan letaknya. Serta penggambaran latar sosial dalam cerkak Rampog ini berstatus bawah karena menggunakan bahasa ngoko. Cara berpikir serta pandangan hidup yang dimiliki oleh Rampog serta tokoh tambahan sangat bertolak belakang.
Tema dalam cerkak Rampog adalah mengenai kekuasaan. Rampog yang berprofesi sebagai rampok, dengan menggunakan kekuasaannya terhadap orang lain menjadikan tema dalam cerkak ini menjadi tema sosial. Tema yang dilukiskan oleh pengarang melalui judul cerkak ini merupakan gagasan dari pengarang, mengenai Rampog.
Ora watara suwe, Rampog iku teka ing papan kang akeh sirahe iku, kahanan dadi sidhem dadakan. Dheweke banjur menehake saweneh barang kang kudu dipangan. Kudu dipangan. Aku ora ngerti sejatine barang iku, nanging bareng bubar mangan barang iku, saiki kabeh sirah iku kanthi bebarengan madhep ngulon. Madhep ngulon kabeh, siji bae ora ana kang cicir, sirahku uga mangkono. (KCCR 1995: 48)
539
... “Saiki kowe kabeh wis bisa nyawijekake panyawang. Mula, wiwit iki dakjaluk gawemu,” wong iku, kang wis ngrampog sirahku, kandha lan ngetokake dluwang akeh banget. Saben sirah diwenehi sakbendhel. (KCCR 1995: 49)
Terjemahan bebas:
Tidak lama kemudian, Rampog sampai di tempat dengan banyak kepala itu, keadaan seketika menjadi sepi. Lalu dia memberikan sebuah sesuatu yang harus dimakan. Harus dimakan. Sejatinya aku tidak mengetahui itu barang apa, namun setelah memakan barang itu, sekarang seluruh kepala dengan sekaligus menghadap ke arah Barat. Menghadap Barat seluruhnya, tak satu pun yang tidak menghadap Barat, kepalaku pun juga begitu.
... “Sekarang kalian semua dapat menyatukan penglihatan. Maka, mulai sekarang aku minta perkerjaanmu,” orang itu, yang telah merampok kepalaku, berkata dan mengeluarkan kertas banyak sekali. Tiap satu kepala diberikan segepok.
Moral yang terkandung dalam cerkak Rampog yaitu, sebuah nilai kejujuran, nilai keadilan serta kesejahteraan yang seharusnya didapatkan oleh setiap manusia. Jika mendapatkan keadilan maka setiap manusia dapat mengungkapkan pendapat serta tidak akan ada yang dapat merampas kemerdekaan dari seseorang.
Analisis Cerkak Wong Iku
Dalam cerkak Wong Iku, memiliki beberapa tokoh, Wong Iku menjadi tokoh utama serta, ada beberapa tokoh tambahan lainnya. Wong Iku mengalami inkonsistensi dalam sifat atau watak serta wujud. Dalam sifat mengalami perubahan dari protagonis menjadi antagonis, sedangkan dalam wujud mengalami perubahan sebanyak tiga kali, dari Wong Iku-Puntadewa- Rakasasa Putih. Karena mengalami perubahan dalam sifat atau watak Wong Iku tergolong kedalam tokoh bulat, karena memiliki beberapa macam, watak. Perubahan wujud serta watak yang dialami tokoh utama dibuktikan melalui kutipan di bawah ini.
“Serat Kalimasada boten mawi aksara ingkang kasebataken kalawau. Lan malih, panjengan dereng saged maos lan nyuraos kahanan, punika teges dereng saged nyuraos Kalimasada ... (KCCR 1995: 80)
“Hei, tedhak turune wong Kuwara, aja cedhak-cedhak aku,” kandhane, lan dumandakan wong aneh iku tansaya gedhe, tansaya gedhe. Praupane malih dadi buta putih nggegirisi. (KCCR 1995: 81)
Terjemahan:
“Kitab Kalimasada tidak menggunakan aksara yang disebutkan tadi. Dan lagi, anda belum dapat membaca serta memahami situasi, itu artinya belum dapat membaca Kalimasada ...
“Hei, keturunannya orang Kurawa, jangan dekat-dekat denganku,” ucapnya, dan mendadak orang aneh itu berubah besar, semakin besar. Raut muka berubah menjadi raksasa putih mengerikan.
Plot dalam cerkak Wong Iku, beralur lurus atau maju. Melalui dari beberapa rangkaian peristiwa yang terjadi, cerkak ini menceritakan tentang seseorang yang tidak ingin
540
menyaksikan suatu kenyataan yang dibalut secara indah. Di bawah ini merupakan pembuktian cerkak ini beralur maju, melalui beberapa rangkaian peristiwa.
1. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki televisi-warna di desanya.
2. Keingintahuan aku mengenai siapa Wong Iku.
3. Aku merasakan ada keanehan pada diri Wong Iku.
4. Dugaan aku mengenai penyebab sakitnya perut Wong Iku.
Latar yang terdapat dalam cerkak Wong Iku yaitu, latar tempat, waktu, serta sosial.
Latar tempat yang tergambarkan dalam cerkak Wong Iku terjadi di sekitar rumah tokoh tambahan saja yaitu rumah aku. Penggambaran latar waktu dalam cerkak Wong Iku terjadi pada siang hari dan pagi hari. Latar sosial dalam cerkak ini berstatus menengah karena menggunakan bahasa krama madya. Dalam cara berpikir serta sudut pandang dalam tokoh- tokoh cerkak Wong Iku mengalami banyak perbedaan.
Tema dalam cerkak Wong Iku, mengenai kejemuan terhadap kenyataan sebuah keadaan yang pahit dikemas secara indah. Dapat disimpulkan cerkak ini memiliki tema sosial.
Dibuktikan melalui kutipan di bawah ini.
Suwe-suwe aku dadi ngerti lageneya, dheweke malah mesem-mesem nalika wong- wong padha ngetepeng nonton bal-balan. Wetenge dicekeli yen ngepasi Berita Nasional kang dening tanggaku dijenengi Berita Menteri iku. (KCCR 1995: 78) Terjemahan:
Lama-kelamaan aku menjadi mengerti mengapa, dia malah senyum-senyum ketika seluruh orang-orang fokus menonton bola. Perutnya dipegangi kalau bersamaan Berita Nasional oleh tetanggaku yang dinamain Berita Mentri itu.
Moral yang terkandung dalam cerkak Wong Iku yaitu nilai kejujuran mengenai keadaan. Sesuatu hal yang ditutupi dari kenyataan pasti akan terlihat juga. Moral diambil dari peristiwa-peristiwa yang diceritakan secara runtut oleh pengarang dalam cerkak Wong Iku.
Analisis Potret Sosial Orde Baru
Pada saat kepemimpinan Orde Baru, terjadi ketidakpuasan masyarakat akibat kepemimpinan yang bersifat secara sentralistik yang tidak memperhatikan kepentingan, kemakmuran, serta kesejahteraan masyarakat.
Berikut ini berbagai penyebab penyimpangan dalam pelaksanaan pembangunan Orde Baru (Abdulkarim dan Sukmayadi 2011: 40).
541
a. Bidang ekonomi. Pelaksanaan perekonomian, cenderung monopolistik. Artinya, kelompok tertentu yang dekat dengan elit kekuasaan mendapat prioritas khusus yang mengakibatkan kesenjangan sosial.
b. Bidang politik. Mekanisme hubungan pusat dan daerah cenderung menganut sentralistik kekuasaan. Keadaan ini menghambat pemeretaan hasil pembangunan dan pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan bertanggung jawab.
c. Bidang hukum. Undang-undang tentang pembatasan kekuasaan Presiden belum memadai sehingga memberi peluang terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selain itu, terjadi penyalahgunaan wewenang, pelecehan hukum, dan pengabaian rasa keadilan.
Pemerintahan Orde Baru yang sudah dijelaskan di atas dapat dikatakan pemerintahan dipimpin secara otoriter. Menurut Amien Rais 1999:37-38, Orde Baru erat kaitannya mengenai sesuatu kenyataan pahit yang selama ini selalu dibungkus dengan indah.
Kebebasan berpendapat ditekan, yang tidak sependapat dengan pemerintah akan
“dibungkam”. Uraian ini merupakan kelemahan dari masa pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.
Dari uraian di atas, dapat dikaitkan nilai budaya yang terdapat pada kedua cerkak, memalui tema dari kedua cerkak yang bertemakan sosial. Pengarang menyampaikan sindiran terhadap Orde Baru melalui cerkak yang disampaikan secara kenyataan-khayalan menjadi satu kesatuan. Menurut Franz Magnis-Suseno 1984:98, kekuasaan merupakan sidiran yang ingin disampaikan oleh pengarang. Kekuasaan adalah kemampuan untuk memaksakan kehendak pada orang lain, untuk membuat mereka melakukan tindakan-tindakan yang kita kehendaki. Pada cerkak Rampog berceritakan mengenai kekuasaan seseorang untuk merampas hak orang lain yang tergambarkan pada zaman itu. Pada cerkak Wong Iku berceritakan mengenai kejemuan seseorang mengenai suatu keadaan, yang ditulis oleh pengarang secara metafora.
Kutipan di bawah ini merupakan tema sekaligus pembuktian sindiran terhadap Orde baru pada cerkak Rampog ditulis oleh pengarang.
Ora watara suwe, Rampog iku teka ing papan kang akeh sirahe iku, kahanan dadi sidhem dadakan. Dheweke banjur menehake saweneh barang kang kudu dipangan. Kudu dipangan. Aku ora ngerti sejatine barang iku, nanging bareng bubar mangan barang iku, saiki kabeh sirah iku kanthi bebarengan madhep ngulon. Madhep ngulon kabeh, siji bae ora ana kang cicir, sirahku uga mangkono. (KCCR 1995: 48)
542
... “Saiki kowe kabeh wis bisa nyawijekake panyawang. Mula, wiwit iki dakjaluk gawemu,” wong iku, kang wis ngrampog sirahku, kandha lan ngetokake dluwang akeh banget. Saben sirah diwenehi sakbendhel. (KCCR 1995: 49)
Terjemahan bebas:
Tidak lama kemudian, Rampog sampai di tempat dengan banyak kepala itu, keadaan seketika menjadi sepi. Lalu dia memberikan sebuah sesuatu yang harus dimakan. Harus dimakan. Sejatinya aku tidak mengetahui itu barang apa, namun setelah memakan barang itu, sekarang seluruh kepala dengan sekaligus menghadap ke arah Barat. Menghadap Barat seluruhnya, tak satu pun yang tidak menghadap Barat, kepalaku pun juga begitu.
... “Sekarang kalian semua dapat menyatukan penglihatan. Maka, mulai sekarang aku minta perkerjaanmu,” orang itu, yang telah merampok kepalaku, berkata dan mengeluarkan kertas banyak sekali. Tiap satu kepala diberikan segepok.
Kutipan di atas menjelaskan mengenai Rampog dalam cerita yang diibaratkan sebagai penguasa dapat bertindak sesuai dengan keinginannya meski harus memaksa dari orang lain.
Tindakan Rampog dengan merampok kepala-kepala adalah contohnya. Tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh Rampog merupakan penyuapan terhadap kepala-kepala. Kepala dapat diibaratkan sebagai bawahan dari penguasa. Penyuapan dilakukan agar penguasa terkesan baik di hadapan bawahannya karena memberikan uang. Sindiran yang disampaikan oleh pengarang merupakan sindiran mengenai korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang terjadi pada pemerintahan Orde Baru.
Kutipan yang menjadi bukti sindiran seperti kutipan pada tema cerkak Wong Iku.
Suwe-suwe aku dadi ngerti lageneya, dheweke malah mesem-mesem nalika wong- wong padha ngetepeng nonton bal-balan. Wetenge dicekeli yen ngepasi Berita Nasional kang dening tanggaku dijenengi Berita Menteri iku. (KCCR 1995: 78) Terjemahan:
Lama-kelamaan aku menjadi mengerti mengapa, dia malah senyum-senyum ketika seluruh orang-orang fokus menonton pentandingan sepak bola. Perutnya dipegangi kalau bersamaan Berita Nasional oleh tetanggaku yang dinamain Berita Mentri itu.
Sindiran yang disampaikan pengarang dalam cerkak Wong Iku, mengenai kejemuan seseorang mengenai manipulasi keadaan masa pemerintahan Orde Baru. Kutipan di atas menjelaskan bahwa seseorang yang lebih menyukai acara pertandingan bola dibandingkan acara berita. Pengarang menyampaikan sidiran melalui bahasa metafora, jika dipikir tidak akan masuk dengan nalar. Seseorang tidak mungkin merasa sakit hanya karena acara televisi.
Pengarang ingin menyampaikan, jika melihat acara berita memungkinkan adanya hal manipulasi suatu keadaan atau kondisi, sedangkan acara pertandingan sepak bola merupakan kebalikannya karena, dalam sebuah pertandingan akan dilaksanakan secara fakta seperti contohnya menendang bola ke gawang, melakukan pelanggaran, dll.
543
Selanjutnya, mengenai banyaknya hal buruk yang dikemas secara indah adalah manipulasi keadaan yang dilakukan Soeharto dalam proses membangun citra baiknya agar mendapatkan simpati dari rakyatnya. Dengan contoh, pada masa Orde Baru tahun 1987 Soeharto menulis buku mengenai ajaran baik. Di bawah ini merupakan ajaran baik yang ditulis Soeharto 1987:129.
Wong ala yen bisa kuwasa, kang ala iku diarani becik, kosok baline yeng wong becik kang kuwasa, kang becik iku kang ditindakake.
Terjemahan:
Orang yang jahat kalau dapat berkuasa, segala yang jelek dikatakan baik, sebaliknya kalau orang yang baik-baik berkuasa, maka hal-hal yang baiklah yang dijalankan.
Secara garis besar, ajaran baik yang ditulis oleh Soeharto dapat dikaitkan dengan sindiran yang disampaikan oleh pengarang pada kedua cerkak, karena pada ajaran baik milik Soeharto menuliskan “Orang yang jahat kalau dapat berkuasa, segala yang jelek dikatakan baik,”. Sama seperti yang apa yang dilakukan pada masa pemerintahannya. Kesamaan ajaran baik tersebut dengan cerkak Rampog adalah ingin membagun citra yang baik dari rakyat.
Kesamaan itu terjadi karena, tokoh Rampog yang melakukan penyuapan terhadap seseorang di bawah kekuasaannya. Pada cerkak Wong Iku pengarang menyelipkan sindiran mengenai kejemuan seseorang mengenai kenyataan pahit yang dikemas secara indah, sama seperti kutipan mengenai ajaran baik yang ditulisnya. Citra baik yang dibangun oleh Soeharto tidak sejalan dengan pemerintahan yang dipimpinnya. Sindiran terakhir yang ditulis oleh pengarang seperti pada kutipan di bawah ini.
“Yen anggone turu bae kanthi ora eling, apa hiya wong-wong iku bisa maca kahanan,”
batinku karo uceg-uceg mripat kang sasuwene iki ora bisa nyawang kahanan kanthi bener. (KCCR 1995: 81)
Terjemahan:
“Jika dalam keadaan tidur saja tidak ingat, apa benar orang-orang itu dapat memahami situasi,” batinku dengan mengucek-ucek mata yang selama ini tidak dapat melihat keadaan hingga benar.
Kutipan di atas menjelaskan bahwa sindiran pengarang ditunjukkan kepada masyarakat yang belum dapat menyadari keadaan dengan benar. Ketidakpekaan masyarakat mengenai citra baik yang dibangun masa pemerintahan Orde Baru, tidak sejalan dengan situasi yang terjadi. Sudah terlalu banyak hal-hal yang pahit disajikan atau dikemas secara indah.
Kesimpulan
544
Kajian analisis di atas mengahasilkan kesimpulan sebagai berikut. Pada analisis unsur struktural yang sudah dipaparkan. Kedua cerkak mempunyai kesamaan pada alur, tema dan moral. Dapat dikatakan sama karena beralurkan lurus atau progresif serta bertemakan sosial.
Tema sosial menjadi gagasan pengarang untuk menyindir pemerintahan Orde Baru. Serta terdapat pula nilai-nilai yang dapat dijadikan sebuah pengajaran hidup mengenai nilai keadilan dan kejujuran.
Sindiran yang dihadirkan oleh pengarang dalam cerkak Rampog dan Wong Iku merupakan kondisi gambaran masyarakat pada tahun 1990an. Pengarang hadir mewakili rakyat untuk mengungkapkan pendapat. Masyarakat yang menginginkan rasa keadilan serta kesejahteraan. Sindiran ditujukan bukan hanya kepada pemerintahan Orde Baru melainkan kepada masyarakat. Pada saat itu masyarakat belum menyadari atau belum memahami mengenai banyaknya kelemahan pemerintahan Orde Baru. Secara garis besar sindiran yang disampaikan pengarang, mengenai kejemuan seseorang terhadap ketidakjujuran penguasa mengenai keadaan. Keterkaitan mengenai kalimat “kenyataan yang dikemas secara indah”, adalah citra baik yang dibangun oleh Soeharto, sangat berlawanan dengan pemerintahan yang dipimpinnya. Ajaran baik yang ia tulis sendiri adalah bukti nyata dalam pembangunan citra baiknya.
Biodata Penulis
Reyninta Gita Maharani kelahiran Ngawi pada hari Minggu Wage, tanggal 26 Oktober tahun 1995. Anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang bertempat tinggal di daerah Jakarta. Bersekolah di SDN 05 Pagi Kalideres, Jakarta Barat. Sekolah Menengah Pertama di SMPN 225 Kalideres, Jakarta Barat. Melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di SMAN 56 Kamal Raya, Jakarta Barat dengan jurusan IPS. Lalu, di terima di perguruan tinggi Universitas Indonesia jurusan Sastra Daerah untuk Sastra Jawa melalui jalur undangan pada tahun 2013, memiliki alamat email institusi [email protected] serta dinyatakan lulus pada tanggal 15 Juni 2017.
545
DAFTAR REFERENSI Buku
Abdulkarim, Aim & Trisna Sukmayadi. Pendidikan Kewarganegaraan Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Grafindo Media Pratama. 2011.
Adam, Asvi Warman. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Ombak. 2007.
---. Membongkar Manipulasi Sejarah Kontroversi Pelaku dan Peristiwa.
Jakarta: Kompas. 2009.
Aminuddin. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru. 2002.
---. Pelurusan Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak. 2009.
Djafar, Zainuddin. Soeharto Mengapa Kekuasaannya Dapat Bertahan Selama 32 Tahun?.
Universitas Indonesia: FISIP UI Press. 2005.
Gautama, Sidarta. & Aris Boediono. Moralitas Politik dan Pemerintahan Yang Bersih.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1999.
Hutomo, Suripan Sadi. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. 1975.
Jeffrey, Winters A. Dosa – Dosa Politik Orde Baru. Jakarta: Djambatan. 1999.
Kutha, Ratna Nyoman. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Poststrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2007.
Magnis, Franz & Suseno SJ. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia. 1984.
Mihardja, Krishna. Kumpulan Crita Cekak Ratu. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. 1995.
Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University press. 1998.
Prabowo, Dhanu Priyono. Pisungsung Antologi Geguritan lan Cerkak. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 1997.
546
Pradopo, Rachmat Djoko. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra Teori dan Penerapannya.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1994.
Sedyawati, Edi & dkk. Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Jakarta: Balai Pustaka. 2001.
Soeharto. Butir-Butir Budaya Jawa Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawaleksana Ngudi Sejatining Becik Mencapai Kesempurnaan Hidup Berjiwa Besar Mengusahakan Kebaikan Sejati. Keluarga Cendana. 1987.
Sudjiman, Panuti. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. 1988.
Suharianto, S. Dasar-Dasar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia. 2005.
Teeuw, A. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1991.
---. Sastra dan Iilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. 2003.
Tim Peneliti Balai Bahasa Yogyakarta. Ikhtisar Perkembangan Sastra Jawa Modern Periode Kemerdekaan. Yogyakarta: Kalika Press. 2001.
Kamus
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka dan KBBI Offline. 2005.
Poerwadarminta, W.J.S.. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uigevers Maatschappij N.V. dan Baoesastra Djawa Offline. 1939.
Website/laman/blog
Putra, Michael. Masa Orde Baru – Pengertian, Latar Belakang, Tujuan, Sejarah, Kebiijakan.
Januari 3, 2017. https://www.sayanda.com Diakses pada tanggal 7 Maret, 2017 pukul 20:21 dan 2 Mei, 2017 pukul 20.13.
Wijaya, Yulia. Jelaskan Tentang Sistem Pemerintahan Orde Baru. Maret 8, 2016.
www.paduanbelajar.web.id Diakses pada tanggal 7 Maret, 2017 pukul 20:11.