• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA. Akuntansi Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA. Akuntansi Lingkungan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENDAHULUAN

Lingkungan merupakan instrumen penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan produksi suatu perusahaan, karena adanya hubungan sebab akibat antara proses produksi, barang yang dihasilkan dan lingkungan (Lucky, et al.

2014). Pencemaran dan limbah produksi merupakan salah satu contoh dampak negatif dari operasional industri. Industri memerlukan sistem akuntansi lingkungan sebagai kontrol tanggung jawab perusahaan (Wahyudi, 2014). Pabrik kertas merupakan perusahaan yang menghasilkan limbah yang berbahaya, salah satunya adalah limbah cair yang mengandung logam berat jenis Hg dan Cu.

Bahan kimia dalam air limbah pabrik kertas sangat membahayakan kehidupan biota perairan, dapat mengendap ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan dan kelestarian kehidupan perairan (Bangun dan Sunarni, 2013).

Akuntansi lingkungan merupakan pos modern dari akuntansi sosial sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Pada akuntansi lingkungan menunjukkan biaya riil atas input dan proses bisnis, memastikan dalam mengukur biaya kualitas dan jasa serta mengidentifikasi biaya yang tersembunyi dan meningkatkan performance industri di bidang pengelolaan lingkungan (Sari, et. al. 2013).

Konsep akuntansi lingkungan sudah mulai berkembang sejak tahun 1970-an di Eropa. Konsep itu muncul akibat tekanan organisasi non pemerintah (lembaga swadaya masyarakat) dan meningkatnya efisiensi pengelolaan lingkungan.

Artinya mulai dilakukan penghitungan dan penilaian lingkungan dari sudut biaya (environmental costs) dan manfaat atau efek (economic benefit).

Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan maupun non keuangan yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan (Ikhsan, 2009). Biaya-biaya tersebut terdiri dari biaya pencegahan, biaya deteksi, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal, dimana biaya-biaya tersebut timbul karena adanya kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi (Hansen dan Mowen 2007). Dari sudut pandang biaya lingkungan (environmental cost) dan manfaat biaya (cost benefit), penerapan akuntansi lingkungan akan meningkatkan usaha pengelolaan

(2)

2

lingkungan yang ada di perusahaan sehingga memungkinkan perusahaan untuk mengurangi dan menghapus biaya-biaya lingkungan serta memperbaiki kinerja lingkungan dari dampak negatif yang terjadi di perusahaan (Santoso, 2012).

Tujuan dari akuntansi lingkungan adalah untuk menyediakan informasi biaya lingkungan yang relevan bagi mereka yang memerlukan dan dapat menggunakannya (Debora dan Ismail, 2013).

Ikhsan (2009) mengatakan bahwa akuntansi lingkungan menjadi hal yang penting untuk dapat dipertimbangkan dengan sebaik mungkin karena akuntansi lingkungan merupakan bagian dari akuntansi. Akuntansi lingkungan juga merupakan suatu bidang yang terus berkembang dalam mengidentifikasi pengukuran-pengukuran dan mengomunikasikan biaya-biaya aktual perusahaan atau dampak potensial lingkungannya. Perhitungan biaya dalam penanganan limbah diperlukan adanya perlakuan akuntansi yang sistematis dan benar.

Perlakuan terhadap masalah penanganan limbah hasil operasi perusahaan ini menjadi sangat penting dalam pengendali pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungannya. Alokasi biaya lingkungan terhadap produk atau proses produksi dapat memberikan manfaat motivasi bagi manajer atau bawahannya untuk menekan polusi sebagai akibat dari proses produksi. Di dalam akuntansi konvensional, biaya ini dialokasikan pada biaya overhead dan pada akuntansi tradisional dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan dialokasikan ke produk tertentu atau dialokasikan pada kumpulan biaya yang menjadi biaya tertentu sehingga tidak dialokasikan ke produk secara spesifik (Mulyani, 2013).

Penelitian ini merupakan studi kasus pada PT Sinar Indah Kertas (SIK) yang merupakan salah satu perusahaan industri kertas yang ada di Jawa Tengah.

PT Sinar Indah Kertas berlokasi di Desa Gondo Arum, Jekulo, Kudus, Jawa Tengah. Aktivitas operasi perusahaan dalam memproduksi kertas menghasilkan banyak limbah. Dalam proses operasinya PT Sinar Indah Kertas memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), IPAL ini dioperasikan untuk mengelola limbah-limbah yang berasal dari kegiatan produksi, oleh sebab itu dengan adanya pengolahan limbah kertas tersebut maka perusahaan tidak akan mencemari

(3)

3

lingkungan sekitar, dikarenakan limbah cair yang dihasilkan oleh perusahaan diolah agar menghasilkan limbah cair yang bersih. Limbah cair yang diolah tersebut di pres kadar airnya sebesar 70% agar bisa menjadi limbah padat yang dijadikan sebagai bahan baku untuk produksi, sedangkan limbah cair bersih dibuang ke sungai untuk digunakan sebagai irigrasi sawah oleh warga disekitar perusahaan. PT. Sinar Indah Kertas telah melakukan kontribusi dibidang lingkungan akan tetapi belum diwujudkan sepenuhnya, hal ini terlihat biaya terkait aktivitas lingkungan belum dipisahkan sebagai pendukung untuk pengelolaan lingkungan, karena biaya-biaya yang terkait dengan lingkungan lebih difokuskan untuk aktivitas pengolahan limbah operasi perusahaan. Dari semua aktivitas lingkungan yang ada diperusahaan maka akan menimbulkan banyak biaya diantarannya biaya lingkungan, dengan timbulnya biaya lingkungan maka perusahaan perlu melakukan aktivitas perencanaan, pengendalian dan pelaporan biaya lingkungan.

Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui identifikasi biaya lingkungan PT.

Sinar Indah Kertas dengan konsep biaya lingkungan dari Hansen dan Mowen (2007). Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat pada peneliti dan akademis berupa pengetahuan terkait penerapan dan pengembangan akuntansi lingkungan pada suatu perusahaan. Bagi perusahaan, penelitian ini menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk menerapkan akuntansi lingkungan (environmental cost accounting) dimasa mendatang terkait pengengelolaan biaya lingkungan dan pengelolaan kinerja lingkungan yang lebih baik.

(4)

4 TINJAUAN PUSTAKA

Akuntansi Lingkungan

Akuntansi Lingkungan (Environment Accounting) didefinisikan sebagai pencegahan, pengurangan, dan atau penghindaran dampak terhadap lingkungan, bergerak dari beberapa kesempatan, dimulai dari perbaikan kembali kejadian- kejadian yang menimbulkan bencana atas kegiatan-kegiatan tersebut (Ikhsan, 2009).

Menurut Helvegia (2001) dalam Wahyu (2014) akuntansi lingkungan menunjukkan biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efesiensi biaya, selai itu juga dapat digunakan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa. Tujuan utamanya adalah dipatuhinya perundang perlindungan lingkungan untuk menemukan efisiensi yang mengurangi dampak dan biaya lingkungan.

Biaya Lingkungan

Dalam bukunya, Hansen dan Mowen (2007, 413) mengatakan bahwa biaya lingkungan adalah biaya-biaya yang terjadi karena kualitas lingkungan yang buruk atau kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Hansen dan Mowen (2007, 413) mengklasifikasikan biaya lingkungan menjadi empat kategori yaitu biaya pencegahan (prevention cost), biaya deteksi (detection cost), biaya kegagalan internal (internal failure cost) dan biaya kegagalan eksternal (external failure cost).

1) Biaya pencegahan (prevention cost) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah atau sampah yang dapat merusak lingkungan.

Contoh: evaluasi dan pemilihan pemasok, desain proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus limbah, mempelajari dampak lingkungan.

2) Biaya deteksi (detection cost) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan bahwa produk, proses dan aktivitas lain diperusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak.

(5)

5

Contoh: audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses (agar ramah lingkungan), pengembangan pengukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran.

3) Biaya kegagalan internal (internal failure cost) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan karena diproduksinya limbah dan sampah, tetapi juga dibuang lingkungan luar.

Contoh: pengolahan dan pembuangan limbah beracun, lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah, pengoperasian peralatan untuk mengurangi atau menghilangkan polusi.

4) Biaya kegagalan eksternal (external failure cost) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan. Biaya kegagalan ini merupakan biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan.

Contoh: jaminan, penyelesaian keluhan.

Menurut Ikhsan (2009, 103) definisi biaya lingkungan adalah mencakup biaya-biaya yang paling nyata (seperti limbah buangan), untuk ketidakpastian.

Definisi tambahan mengenai biaya lingkungan menurut Ikhsan (2009) :

a. Biaya lingkungan meliputi biaya-biaya dari langkah yang diambil, atau yang harus diambil untuk mengatur dampak-dampak lingkungan terhadap aktivitas perusahaan dalam cara pertanggungjawaban lingkungan, seperti halnya biaya lain yang dikemudikan dengan tujuan-tujuan lingkungan dan keinginan perusahaan.

b. Biaya-biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal dan berhubungan terhadap seluruh biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan dan perlindungan.

c. Biaya-biaya lingkungan adalah pemakaian sumberdaya disebabkan atau dipandu dengan usaha-usaha untuk : 1) mencegah atau mengurangi bahan sisa dan polusi, 2) mematuhi regulasi lingkungan dan kebijakan perusahaan, 3) kegagalan memenuhi regulasi dan kebijakan lingkungan.

(6)

6 Tujuan Biaya-biaya Lingkungan

Menurut Ikhsan (2009, 115) terdapat beberapa alasan penting dalam mengatur biaya lingkungan secara hati-hati. Pertama, biaya lingkungan seperti halnya dengan biaya lainnya mempengaruhi apa yang digariskan dan akibatnya harus diatur untuk meningkatkan profitabilitas. Kedua, tergantung pada industri, biaya-biaya lingkungan dapat berjumlah 20 persen dari biaya total produk (Ditz &

Banks, 1995). Jika biaya-biaya ini dialokasikan pada overhead para manajer membuat keputusan harga didasarkan hanya 80 persen dari biaya produk. Yang terpenting, secara aktif alokasi biaya lingkungan terhadap produk menyoroti rendahnya biaya atas pembersihan produksi.

Hasil Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian sebelumnya berkaitan dengan biaya lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi (2014) membahas mengenai penerapan akuntansi lingkungan pada PT Swasstisiddhi Amarga. Pada penelitian tersebut membahas mengenai biaya lingkungan yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam pengelolaan limbah minyak kelapa sawit, namun perusahaan masih menyatukan biaya-biaya tersebut dalam satu akun dan perusahaan belum membuat laporan khusus mengenai biaya lingkungan. Menurut pihak ketiga terkait pengelolaan limbah PT Swasstisiddhi Amarga sudah memenuhi standart kelayakan, namun hanya saja dalam melakukan pengelolaan limbah perusahaan kurang maksimal sehingga masih terdapat kebocoran dan berdampak buruk untuk lingkungan dan perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Setyaningtyas dan Andono (2013) yang membahas mengenai penerapan Environtmental Cost Accounting pada PG Modjopangoong di Kabupaten Tulungagung. Pada penelitian tersebut membahas mengenai pengelolaan limbah perusahaan dari hasil proses pabrikasi, dalam melakukan pengolahan limbah ternyata sudah memenuhi aturan atau standart yang berlaku, hanya saja mungkin dalam pengelolaan limbahnya kurang maksimal sehingga masih ada kebocoran dan berdampak buruk bagi lingkungan

(7)

7

dan perusahaan. Dalam mengurangi dampak pencemaran lingkungan perusahaan telah berusaha memanfaatkan dan digunakan kembali limbah yang dihasilkan.

Namun, sampai saat ini perusahaan masih belum memisahkan antara biaya

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut yang pada dasarnya membahas tentang perlakuan akuntansi lingkungan pada suatu perusahaan dan sama-sama bergerak dalam bidang manufaktur dan membahas mengenai penerapan akuntansi lingkungan pada laporan keuangan, sehingga dapat disimpulkan bahwa akuntansi lingkungan sangat berperan penting bagi manajemen di sebuah perusahaan dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan menjaga keberlangsungannya.

METODA PENELITIAN Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah sebuah perusahaan industri yang bergerak dibidang produksi kertas yaitu PT Sinar Indah Kertas – Kudus.

Jenis dan Sumber Data

Data primer yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa hasil wawancara langsung kepada manajer perusahaan atau staff yang mewakili dalam hal ini bagian Sanitasi Lingkungan mengenai tata cara proses pengolahan limbah dan cara penetapan metoda akuntansi biaya lingkungan pada objek penelitian secara langsung. Data sekunder yang dihasilkan yaitu berupa laporan keuangan terkait biaya-biaya yang digunakan untuk pengolahan limbah operasi perusahaan.

Teknik dan Langkah Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis dokumen, observasi, dan wawancara dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Dokumen yang digunakan adalah data internal berupa laporan keuangan, serta peneliti melakukan wawancara secara mendalam dengan pihak PT. Sinar Indah Kertas. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut :

(8)

8 1. Mengumpulkan data-data perusahaan.

Dalam tahap ini, peneliti mengumpulkan data-data perusahaan yang berupa dokumentasi data laporan keuangan perusahaan, dan pedoman kebijakan perusahaan untuk pengolahan limbah. Dari data tersebut, peneliti selanjutnya akan melakukan wawancara lanjutan kepada pihak yang bersangkutan, apabila peneliti masih belum menemukan jawaban atas penelitian yang dilakukan atau belum paham atas data yang telah diperoleh.

2. Mengidentifikasi setiap biaya-biaya terkait aktivitas lingkungan di perusahaan.

Dalam tahap ini, peneliti mengidentifikasi item-item biaya aktivitas lingkungan yang dicatat dalam perusahaan. Ini dilakukan karena tidak semua biaya yang ada di perusahaan merupakan biaya lingkungan. Tujuan dilakukan langkah ini adalah untuk mengetahui dan memastikan apa saja biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dan bagaimana perlakuan akuntansi atas biaya pengolahan limbah di laporan keuangan perusahaan.

3. Mengelompokkan setiap biaya-biaya terkait aktivitas lingkungan yang sudah diidentifikasi.

Setelah melakukan identifikasi biaya aktivitas lingkungan di laporan keuangan, kemudian peneliti melakukan pengelompokkan biaya-biaya terkait dengan aktivitas lingkungan yang disesuaikan per kategori biaya kualitas lingkungan yang ada, dimana kategori biaya tersebut terdiri dari biaya pencegahan, biaya deteksi, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal.

4. Menganalisis pengalokasian biaya-biaya lingkungan yang terjadi di perusahaan.

Peneliti akan mencari tahu pengalokasian biaya-biaya lingkungan perusahaan dengan membandingkan dari bukti-bukti yang ada seperti bukti biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan terkait biaya lingkungan dengan konsep yang ada (Hansen dan Mowen). Tujuan dilakukan langkah

(9)

9

ini adalah untuk mengetahui kesesuaian atau tidak antara teori yang berkembang secara umum dengan praktek yang terjadi di perusahaan.

5. Melakukan perhitungan biaya lingkungan untuk menyusun laporan biaya lingkungan.

Dalam langkah ini peneliti melakukan perhitungan biaya lingkungan untuk menyusun laporan biaya lingkungan berdasarkan kategori biaya lingkungan dan disertai dengan prosentase pada tiap klasifikasi. Prosentase tersebut berasal dari biaya lingkungan dibandingkan penjuakan tahun tersebut dengan tujuan untuk mengetahui berapa besar proporsi untuk melakukan pengendalian biaya-biaya kualitas lingkungan.

6. Menarik Kesimpulan

Penarikan kesimpulan ini harus disesuaikan dengan keseluruhan dari proses pengumpulan data. Kemudian seluruh temuan penelitian disimpulkan sehingga diperoleh penjelasan tentang pencatatan biaya lingkungan serta kinerja lingkungan perusahaan. Tujuan dari langkah ini adalah untuk membantu memberi perusahaan beberapa pilihan untuk lebih mengembangkan praktek perlakuan akuntansi biaya lingkungan di perusahaan tersebut sesuai dengan teori dan konsep yang ada.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Lingkungan

PT Sinar Indah Kertas merupakan salah satu pabrik kertas yang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan selalu berusaha memenuhi standar yang berlaku untuk mengantisipasi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan operasional perusahaan. Menyadari begitu pentingnya pengolahan limbah merupakan bentuk tanggungjawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik beroperasi, perusahaan perlu melakukan pengolahan limbah untuk mencegah atau mengurangi pencemaran lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan disekitar perusahaan. PT Sinar Indah Kertas telah melakukan berbagai cara untuk melakukan pengolahan limbah operasional

(10)

10

perusahaan dimana limbah yang dihasilkan perusahaan adalah limbah cair dan limbah padat. Dalam proses pengolahan limbah PT Sinar Indah Kertas telah sesuai dengan UKL-UPL. UKL-UPL yang dimaksud yaitu upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan AMDAL, PT Sinar Indah Kertas menggunakan UKL-UPL dikarenakan PT Sinar Indah Kertas merupakan perusahaan dengan lingkup kecil dan tidak menghasilkan limbah yang terlalu berbahaya bagi lingkungan sekitar.

Dari hasil proses produksi, PT Sinar Indah Kertas menghasilkan limbah padat dan limbah cair. Kedua limbah yang telah dihasilkan tersebut kemudian diolah supaya tidak mencemari lingkungan dan dapat digunakan untuk bahan baku produksi kembali. Dalam proses pengolahan limbah itu sendiri limbah kertas yang dihasilkan akan masuk ke bak sedimentasi untuk dipompa, dari bak sedimentasi tersebut akan menghasilkan limbah padat yang bisa langsung digunakan untuk stock produksi dan ada yang harus diolah kembali. Limbah padat yang akan diolah, di pres kadar airnya melalui bak equalisasi lalu akan masuk ke dalam bak Primary Clarifier untuk diolah sehingga menghasilkan yang namanya sludge. Sludge ini merupakan hasil limbah padat yang telah diolah yang kemudian disimpan dan dimanfaatkan untuk diolah kembali menjadi bahan baku produksi pembuatan kertas. Sedangkan untuk limbah cair yang dari bak Primary Clarifier akan masuk kedalam bak Clear Water, di bak tersebut limbah cair tadi akan diolah supaya menghasilkan limbah cair yang tidak berbahaya, limbah cair yang masih bisa diproses untuk menjadi bahan baku produksi akan masuk ke limbah stock produksi. Sedangkan untuk sisa limbah cair yang lain diproses kembali di dalam bak aerasi dimana yang berguna untuk menaikkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air buangan sehingga berguna bagi kehidupan. Dalam proses aerasi tersebut sangat penting terutama pada pengolahan limbah yang proses pengolahan biologinya memanfaatkan bakteri aerob. Pada PT Sinar Indah Kertas menggunakan aerasi secara mekanik yaitu menggunakan proses pengadukan dengan suatu alat yang berupa baling-baling sehinga memungkinkan terjadinya kontak air dengan udara. Lalu dari bak aerasi limbah cair tersebut dibawa ke

(11)

11

dalam bak Secondary Clarifier, di dalam bak secondary clarifier ini berfungsi sebagai parameter, lalu dari bak secondary clarifier limbah cair akan masuk kedalam bak sampling. Di dalam bak sampling ini limbah cair akan dipompa untuk menghasilkan limbah cair yang jernih atau limbah cair yang bersih untuk dibuang ke sungai sebagai perariran sawah di sekitar perusahaan.

Pada dasarnya, setiap perusahaan dalam melakukan pengolahan limbah akan mengeluarkan beberapa biaya yang digunakan supaya limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan. Biaya yang dimaksud yaitu biaya lingkungan, dimana biaya lingkungan selalu berhubungan dengan biaya produk, proses, sistem atau fasilitas penting yang berguna untuk pengambilan keputusan manajemen yang lebih baik. Penggambaran biaya lingkungan pada suatu perusahaan tergantung dari niat perusahaan itu sendiri untuk menggunakan informasi yang dihasilkan dari informasi biaya lingkungan.

Menurut Ibu Yani selaku administrasi bagian Unit Pengolahan Limbah (UPL) PT Sinar Indah Kertas mengatakan bahwa “biaya lingkungan merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan akibat kerusakan lingkungan dan biaya yang digunakan untuk pengelolaan lingkungan”. Dalam mengolah produksi pembuatan kertas, yang mana setiap kegiatan operasional menghasilkan limbah dan dalam pengolahan tersebut, PT Sinar Indah Kertas menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibawah pengawasan langsung Kepala Urusan Produksi dan Teknik, hal ini menjadi tanggungjawab proses produksi agar dapat menghasilkan kertas yang baik dan air limbah yang sesuai standar. Setiap tahunnya PT Sinar Indah Kertas diperiksa oleh pihak ketiga terkait dengan pengolahan limbahnya untuk memastikan apakah limbah yang dihasilkan oleh hasil aktivitas operasional perusahaan sudah memenuhi standart atau belum, dan dalam hal tersebut limbah PT Sinar Indah Kertas sudah memenuhi standart.

Dalam mengelola biaya limbah produksi yang ada di PT Sinar Indah Kertas masih menggunakan akuntansi konvensional (secara umum) dan biaya lingkungan belum disendirikan kedalam laporan keuangan. Adapun laporan biaya

(12)

12

lingkungan PT Sinar Indah Kertas masih menjadi satu kedalam biaya pengolahan.

Biaya lingkungan di PT Sinar Indah Kertas dapat ditelusuri melalui akun biaya pengolahan. Biaya pengolahan ini memuat biaya lingkungan dan biaya yang terkait dengan perbaikan peralatan dan pabrikasi. Pelaporan biaya lingkungan menjadi satu dalam neraca tahunan PT Sinar Indah Kertas. Anggaran biaya lingkungan tersebut disesuaikan dengan kondisi yang ada dilingkungan PT Sinar Indah Kertas dan penganggaran biaya ini mengacu pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). RKAP ini merupakan gambaran besarnya biaya yang diperlukan oleh PT Sinar Indah Kertas untuk kegiatan operasional perusahaan.

Besarnya anggaran bergantung pada kapasitas pabrik dan kebutuhan perusahaan.

Adapun biaya yang dikeluarkan untuk lingkungan hidup akan senantiasa berubah dari tahun ketahun bergantung pada situasi dan kondisi lingkungan perusahaan.

Dilihat dari sudut pandang akuntansi, PT Sinar Indah Kertas belum menunjukkan kepedulian lingkungan dilihat dari laporan yang ada di perusahaan.

Hal ini terlihat dari belum adanya laporan khusus mengenai biaya lingkungan dan belum adanya pemisahan biaya-biaya yang masuk ke dalam biaya lingkungan.

Laporan biaya lingkungan merupakan bukan menjadi indikator utama dalam menilai suatu organisasi terhadap lingkungan hidup akan tetapi dengan adanya laporan tersebut merupakan langkah kecil dari sebuah organisasi atau perusahaan untuk menunjukkan tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan.

Berdasarkan perbandingan hasil wawancara tentang kinerja lingkungan dengan pengamatan laporan keuangan PT Sinar Indah Kertas, tampak bahwa biaya-biaya lingkungan yang timbul atas kinerja lingkungan yang dilakukan oleh PT Sinar Indah Kertas belum teridentifikasi dalam laporan keuangan. Disamping itu pendapatan lingkungan yang lain sebagai hasil kinerja lingkungan juga belum teridentifikasi.

(13)

13 Biaya Lingkungan (Environmental Cost)

Dalam menghitung biaya lingkungan, PT Sinar Indah Kertas menggunakan cara yang sederhana dan perusahaan belum menerapkan Akuntansi Lingkungan dalam menghitung biaya lingkungan yang terjadi disana. Berdasarkan apa yang telah diungkapkan oleh PT Sinar Indah Kertas terkait dengan proses pengolahan limbah, maka ada beberapa penjelasan yang perlu diungkapkan terkait dengan cost atau biaya yang terkait dengan lingkungan pada PT Sinar Indah Kertas. Cost

yang dimaksud adalah:

1. Biaya untuk menguji kelayakan limbah cair yang dilakukan oleh pihak ke tiga sebesar Rp 31.680.000,00.

2. Biaya pemeriksaan produk dan proses supaya limbah yang dihasilkan ramah lingkungan sebesar Rp 6.000.000,00.

3. Biaya kompensasi lingkungan ke masyarakat atas pembuangan limbah ke desa sebesar Rp 25.000.000,00.

4. Biaya keselamatan tenaga kerja seperti helm, sepatu boots sebesar Rp 24.500.000,00.

5. Biaya ijin pengolahan limbah B3 sebesar Rp 7.000.000,00.

6. Biaya audit aktivitas lingkungan sebesar Rp 12.000.000,00.

7. Biaya perbaikan kebocoran pipa yang rusak sebesar Rp 1.200.000,00.

Biaya-biaya yang terkait dengan aktivitas lingkungan sudah diketahui, namun masing-masing aktivitas belum dipisahkan sesuai dengan kategori biaya kualitas lingkungan yang ada. Dari data yang telah didapat, peneliti mengelompokkan biaya aktivitas lingkungan PT Sinar Indah Kertas dengan kategori biaya kualitas lingkungan berdasarkan Hansen dan Mowen (2007) yaitu biaya pencegahan (prevention cost), biaya deteksi (detection cost), biaya kegagalan internal (internal failure cost), biaya kegagalan eksternal (external failure cost). Berikut empat klasifikasi biaya lingkungan berdasarkan aktivitas lingkungan pada PT Sinar Indah Kertas :

(14)

14 a. Biaya pencegahan (prevention cost)

Biaya pencegahan yang terdapat pada PT Sinar Indah Kertas terdiri dari biaya keselamatan tenaga kerja sebesar Rp 24.500.000,00, biaya ijin pengolahan limbah B3 sebesar Rp 6.000.000,00.

b. Biaya deteksi (detection cost)

Biaya deteksi yang terdapat pada PT Sinar Indah Kertas terdiri dari biaya menguji kelayakan limbah cair sebesar Rp 31.680.000,00, biaya audit lingkungan dari dinas sebesar Rp 1.000.000,00. Biaya pemeriksaan produk dan proses sebesar Rp 6.000.000,00.

c. Biaya kegagalan eksternal (external failure cost)

Biaya kegagalan eksternal yang terdapat pada PT Sinar Indah Kertas terdiri dari biaya kompensasi lingkungan kepada masyarakat sebesar Rp 25.000.000,00. Biaya perbaikan kebocoran pipa sebesar Rp 1.200.000,00

Pengelompokkan biaya terkait aktivitas lingkungan pada PT Sinar Indah Kertas sudah diidentifikasi. Selanjutnya peneliti akan membandingkan dari beberapa biaya lingkungan yang telah dikeluarkan oleh perusahaan dengan konsep dari Hansen dan Mowen. Berikut merupakan perbandingan biaya aktivitas lingkungan yang terdapat di PT Sinar Indah Kertas dengan teori dari Hansen dan Mowen (2007) :

(15)

15 Tabel 1

Perbandingan Biaya Antara Hansen dan Mowen dengan PT Sinar Indah Kertas

No. Keterangan Biaya Lingkungan menurut Hansen dan Mowen

Biaya Lingkungan menurut PT Sinar Indah Kertas

1. Biaya Pencegahan

a. Evaluasi dan pemilihan pemasok.

b. Evaluasi dan pemilihan alat untuk

mengendalikan polusi

c. Desain proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus limbah

d. Melaksanakan Studi lingkungan Biaya keselamatan tenaga kerja

d. Melatih pegawai

e. Mempelajari dampak lingkungan Biaya ijin pengolahan limbah B3

f. Audit risiko lingkungan g. Pelaksanaan penelitian lingkungan h. Pengembangan sistem manajemen

lingkungan

i. Daur ulang produk

j. Pemerolehan sertifikat ISO 14001.

2. Biaya

Deteksi

a. Audit aktivitas lingkungan Biaya audit lingkungan b. Pemeriksaan produk dan proses (agar

ramah lingkungan)

Biaya pemeriksaan produk dan proses

c. Pengembangan ukuran kinerja lingkungan

d. Pelaksanaan pengujian pencemaran Biaya menguji kelayakan limbah cair

e. Verifikasi kinerja lingkungan dari

pemasok

f. Serta pengukuran tingkat pencemaran.

3.

Biaya Kegagalan Internal

a. Pengoperasian peralatan untuk mengurangi atau menghilangkan polusi b. Pengolahan dan pembuangan limbah

beracun

c. Pemeliharaan peralatan polusi d. Mendaur ulang sisa bahan e. Lisensi fasilitas untuk memproduksi

limbah, serta daur ulang sisa bahan.

4.

Biaya Kegagalan Eksternal

a. Pembersihan danau yang tercemar b. Penggunaan bahan baku dan energi secara

tidak efisien

c. Pembersihan tanah yang tercemar d. Penyelesaian klaim kecelakaan pribadi

dari praktek kerja yang tidak ramah lingkungan

Biaya Kompensasi Lingkungan

e. Penyelesaian klaim kerusakan properti Biaya Perbaikan Kebocoran Pipa

Sumber : Data Internal Perusahaan diolah

(16)

16

Dari hasil identifikasi biaya lingkungan yang telah dilakukan oleh PT Sinar Indah Kertas, peneliti selanjutnya akan membuat laporan biaya lingkungan.

Dimana dalam bukunya Hansen dan Mowen (2007) mengatakan pelaporan biaya lingkungan penting dilakukan apabila sebuah organisasi ingin serius memperbaiki kinerja lingkungan dan mengendalikan biaya lingkungannya. Langkah pertama yang baik sebelum membuat laporan biaya lingkungan yaitu memberikan perincian biaya lingkungan menurut klasifikasi, kemudian memasukkan rincian biaya tersebut ke dalam laporan biaya lingkungan dan disertai dengan prosentase pada tiap klasifikasi. Pelaporan biaya lingkungan ini memiliki manfaat diantaranya yaitu : (1) mengurangi dampak lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan dan (2) jumlah yang relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori.

Dengan mengelola lingkungan perusahaan secara efektif dan efesien, maka perusahaan dapat membantu pembangunan secara berkesinambungan sehingga pelanggan dapat mengkonsumsi produk yang ramah lingkungan. Disamping itu karyawan dapat bekerja dalam situasi kondusif, biaya modal perusahaan rendah, biaya asuransi kesehatan rendah, dan masyarakat dapat hidup sehat.

Berikut merupakan tabel klasifikasi biaya lingkungan beserta laporan biaya lingkungan yang ada pada PT Sinar Indah Kertas :

Tabel 2

Klasifikasi dan Laporan Biaya Lingkungan Prosentase Biaya Tahun 2014

Aktivitas Biaya

Prosentase per Kategori

Prosentase berdasarkan

Penjualan

Biaya Pencegahan

Biaya ijin pengolahan limbah B3 Rp 6.000.000,00 Biaya keselamatan tenaga kerja Rp 24.500.000,00

TOTAL BIAYA PENCEGAHAN Rp 30.500.000,00 32% 0,84%

Biaya Deteksi

Biaya pemeriksaan produk dan

proses Rp 6.000.000,00

Biaya menguji kelayakan limbah

cair Rp 31.680.000,00

Biaya audit lingkungan Rp 1.000.000,00

(17)

17

TOTAL BIAYA DETEKSI Rp 38.680.000,00 41% 1,07%

Biaya Kegagalan Eksternal

Biaya kompensasi lingkungan Rp 25.000.000,00 Biaya perbaikan kebocoran pipa Rp 1.200.000,00 TOTAL BIAYA KEGAGALAN

EKSTERNAL Rp 26.200.000,00 27% 0,72%

TOTAL BIAYA LINGKUNGAN Rp 95.380.000,00 100% 3%

Sumber : Diolah Peneliti

Biaya terbesar ada pada biaya deteksi yaitu sebesar 41%, sedangkan untuk biaya pencegahan sebesar 32%, dan biaya kegagalan eksternal sebesar 27%. Dari prosentase diatas dapat disimpulkan bahwa biaya lingkungan yang terjadi pada tahun 2014 sebesar 3% dari keseluruhan penjualan perusahaan. Hal ini berarti bahwa PT Sinar Indah Kertas telah berkontribusi dengan baik terhadap lingkungan akan tetapi perusahaan masih mengeluarkan biaya-biaya kegagalan.

Munculnya biaya kegagalan eksternal tersebut disebabkan oleh karena pada tahun 2014 PT Sinar Indah pernah mengalami kerusakan pada pipa saluran pembuangan limbah, akibat dari kebocoran tersebut maka perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki pipa yang bocor tersebut dan perusahaan mengeluarkan biaya untuk kompenasi lingkungan kepada masyarakat sebagai ganti rugi pelepasan limbah atau sampah ke lingkungan sekitar perusahaan beroperasi. Hal ini mengakibatkan biaya lingkungan yang ada di PT Sinar Indah Kertas tidak efektif karena masih adanya biaya kegagalan eksternal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.

Biaya kegagalan lingkungan dapat dikurangi dengan menginvestasikan lebih banyak pada aktivitas-aktivitas pencegahan dan deteksi. Dimungkinkan pengurangan biaya lingkungan akan berperilaku serupa dengan model biaya kualitas total, yaitu bahwa biaya lingkungan terendah diperoleh pada titik kerusakan nol, sama seperti titik cacat nol pada model biaya kualitas total.

Sehingga untuk hasil yang lebih baik apabila perusahaan memiliki pengelolaan lingkungan yang maksimal ketika nilai atau prosentase biaya-biaya kegagalan lebih kecil daripada biaya pencegahan dan biaya deteksi, serta lebih baik lagi apabila nilai atau prosentase biaya kegagalan mendekati titik nol.

(18)

18

Dari tabel klasifikasi yang telah disajikan, pada kolom prosentase berdasarkan penjualan perusahaan dapat dilihat, bahwa prosentase total biaya lingkungan terhadap penjualan perusahaan adalah sebesar 3%. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi perusahaan terhadap lingkungan tidak cukup besar, dimana 3% merupakan kontribusi terhadap lingkungan sedangkan sisanya sebesar 97% berasal dari aktivitas operasi perusahaan. Prosentase ini mungkin tidak cukup signifikan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Menurut Hansen dan Mowen (2007) dilihat dari sudut pandang praktis bahwa biaya lingkungan akan menerima perhatian manajerial jika jumlahnya signifikan. Dalam hal ini berarti bahwa manajemen PT Sinar Indah Kertas harus tetap memperhatikan besarnya biaya lingkungan yang akan dikeluarkan dan kinerja lingkungan yang ada diperusahaan agar besar biaya lingkungan tidak signifikan. Jika dibandingkan dengan penelitian dari Wahyudi (2014) yang mengatakan bahwa total biaya lingkungan terhadap biaya operasional perusahaan sebesar 0,31% tidak cukup signifikan mempengaruhi profitabilitas perusahaan dikarenakan prosentase biaya lingkungan masih sangat kecil dan prosentase untuk biaya-biaya kegagalan mendekati titik nol. Dari hasil perbandingan tersebut diartikan bahwa kinerja lingkungan PT Sinar Indah Kertas masih kurang maksimal karena prosentase biaya lingkungan cukup besar dibandingkan dengan penelitian sebelumnya dan prosentase biaya kegagalan eksternal juga masih cukup besar, karena menurut Hansen dan Mowen bahwa biaya lingkungan tampaknya dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan secara signifikan dan dalam laporan biaya lingkungan juga menyediakan informasi yang berhubungan dengan distribusi relatif dari biaya lingkungan.

Pada laporan biaya lingkungan dapat dilihat prosentase terbesar adalah biaya deteksi sebesar 1,07%, kemudian biaya pencegahan sebesar 0,84% dan biaya kegagalan eksternal sebesar 0,72%. Dari total biaya lingkungan dan dari hasil prosentase ini dapat dijelaskan bahwa kinerja lingkungan PT Sinar Indah Kertas masih kurang maksimal, walaupun besar prosentase pada biaya kegagalan eksternal lebih kecil daripada biaya pencegahan dan biaya deteksi namun

(19)

19

prosentase pada biaya kegagalan eksternal masih cukup besar, sehingga keadaan seperti ini masih perlu diperhatikan dan ditangani oleh pihak manajemen perusahaan karena prosentase biaya kegagalan eksternal cukup besar dan mendekati prosentase biaya pencegahan bahkan perusahaan masih mengeluarkan biaya kegagalan, ini berarti kinerja lingkungan perusahaan masih bisa memberikan dampak kegagalan atau bisa dikatakan dampak kurang baik bagi lingkungan perusahaan maupun lingkungan sekitar perusahaan dan masih memungkinkan akan menghasilkan kinerja lingkungan yang buruk. Menurut Setyaningtyas dan Andono (2013) apabila pencegahan dan pedeteksian terhadap limbah hasil produksi tidak diperbaiki maka lama-kelamaan akan semakin berdampak buruk bagi lingkungan, reputasi perusahaan juga semakin turun dan biaya untuk perbaikan lingkungan yang ditanggung perusahaan juga akan semakin besar.

Berikut merupakan gambaran biaya kualitas lingkungan oleh PT Sinar Indah Kertas Kudus pada tahun 2014 :

Grafik 1

Klasifikasi Biaya Kualitas Lingkungan

Sumber : Data sekunder yang diolah tahun 2014

32%

41%

27%

KLASIFIKASI BIAYA LINGKUNGAN TAHUN 2014

Biaya Pencegahan

Biaya Deteksi

Biaya Kegagalan Eksternal

(20)

20

Pada diagram diatas bisa dilihat bahwa prosentase terbesar yaitu pada biaya deteksi dan biaya pencegahan yang apabila di total sebesar 73% sedangkan sisanya sebesar 27% yaitu pada biaya kegagalan. Dari prosentase tersebut dapat di terlihat bahwa kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan masih kurang maksimal, dikarenakan prosentase pada biaya kegagalan masih cukup besar itu berarti masih ada kinerja lingkungan yang buruk terjadi pada PT Sinar Indah Kertas. Namun, secara keseluruhan kinerja lingkungan PT Sinar Indah Kertas sudah cukup baik jika di lihat dari hasil prosentase biaya lingkungan yaitu biaya pencegahan dan biaya deteksi lebih besar daripada biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal. Alangkah lebih baiknya bagi perusahaan jika berusaha terus untuk memperbaiki kinerja lingkungan dengan meningkatkan pada biaya pencegahan dan pendekteksian terkhusus untuk pengolahan limbah agar tidak muncul adanya biaya-biaya kegagalan yang harus ditanggung oleh pihak perusahaan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian, secara keseluruhan kinerja lingkungan PT Sinar Indah Kertas sudah cukup baik jika di lihat dari hasil prosentase biaya lingkungan yaitu biaya pencegahan dan biaya deteksi lebih besar daripada biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal. Namun, dalam mengelola biaya yang diakibatkan dari proses produksi kertas, PT Sinar Indah Kertas masih belum memisahkan antara biaya lingkungan dengan biaya lainnya melainkan biaya lingkungan masih menjadi satu kedalam biaya pengolahan, dan pencatatannya juga masih sederhana. Oleh karena itu penulis memberikan perhitungan mengenai biaya lingkungan dengan menggunakan sistem akuntansi lingkungan dan penulis juga mengidentifikasi biaya-biaya tersebut kedalam 4 kategori biaya kualitas lingkungan menurut buku Hansen dan Mowen (2007) yaitu biaya pencegahan, biaya deteksi, biaya kegagalan internal, biaya kegagalan eksternal. Biaya pencegahan diantaranya yaitu ada biaya ijin pengolahan limbah B3, biaya keselamatan karyawan. Biaya deteksi diantaranya yaitu ada biaya pemeriksaan

(21)

21

produk dan proses, biaya menguji kelayakan limbah cair, dan biaya audit lingkungan. Biaya kegagalan internal diantaranya yaitu ada biata transportasi.

Biaya kegagalan eksternal diantaranya yaitu ada biaya kompensasi lingkungan dan biaya perbaikan kebocoran pipa.

(22)

22 Implikasi Terapan

Berdasarkan hasil kesimpulan diatas maka peneliti memberikan saran kepada perusahaan agar mengklasifikasikan aktivitas lingkungan kedalam empat kategori biaya lingkungan, sehingga dari klasifikasi tersebut dapat diketahui mana saja aktivitas yang belum maksimal dan mana yang perlu dimaksimalkan dan perusahaan sebaiknya menyusun laporan biaya lingkungan dan biaya pengelolaan limbah secara khusus (atau terpisah) dari laporan keuangan secara umum untuk memberikan informasi bagi pengendalian kualitas lingkungan sebagai usaha kualitas lingkungan sekitar perusahaan.

Keterbatasan

1. Penelitian ini hanya terbatas pada sisi manajemen saja belum membahas mengenai sisi keuangannya.

2. Memperoleh data mengenai laporan keuangan perusahaan hanya satu tahun saja.

3. Minimnya informasi yang diberikan manajemen yang terkait dalam biaya lingkungan.

Saran

Saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan mampu menambahkan informasi lebih mengenai biaya-biaya terkait aktivitas lingkungan perusahaan dan bisa menambahkan data laporan keuangan lebih dari satu tahun guna untuk membandingan biaya terkait aktivitas lingkungan dan kinerja lingkungan setiap tahunnya.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem konversi gelombang laut tipe owe, seperti yang telah diuraikan sebelumnya adalah sistem yang terdiri dari dua bagian utama yaitu ruang udara berupa kolom

Berdasarkan fenomena yang telah disebutkan sebelumnya, penelitian ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana konsumen UMKM di Jawa Barat berminat menggunakan

Hasil dari penelitian ini sebagai berikut: (1) komite SDN Serayu telah melaksanakan perannya sebagai badan pemberi pertimbangan (Advisory Agency) dalam pengelolaan

Kecamatan Kalidoni Kota Palembang sangat terbantu dengan adanya para kader lingkungan dalam menjalankan program sistem pengendalian banjir, untuk kedepannya diharapkan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal piutang usaha sudah diterapkan dengan benar dalam

5. Mewujudkan Korpri yang netral dan bebas dari pengaruh politik.. menganalisis gambaran pelayanan SKPD; 3) Mereview hasil evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu

Hal ini dirasa penting karena, perusahaan dapat lebih dulu mengetahui keunggulan kompetitif yang dimiliki, kelemahan yang dimiliki, peluang yang ada untuk progres

Pengembalian hutang piutang oleh petani tambak kepada tengkulak Pengembalian hutang adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak yang berhutang, mengenai cara dan