• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. etimologi, anak angkat berasal dari kata adoptie (adopsi) dalam Bahasa Belanda,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. etimologi, anak angkat berasal dari kata adoptie (adopsi) dalam Bahasa Belanda,"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum Tentang Anak Angkat 1. Definisi Pengertian Anak Angkat

Ditinjau berdasarkan dua perspektif yang berbeda, anak angkat didefinisikan menurut sudut pandang etimologi dan terminologi. Dilihat dari pendangan etimologi, anak angkat berasal dari kata adoptie (adopsi) dalam Bahasa Belanda, adoption (adopt) dalam Bahasa Inggris yaitu diartikan sebagai pengangkatan anak, kemudian Prof. Mahmud Yunus berpendapat bahwa anak angkat berasal dari Bahasa Arab yaitu Tabbani (mengambil anak angkat). Berdasarkan kamus hukum, dalam Bahasa Belanda anak angkat merupakan suatu pengangkatan seseorang dalam hal ini adalah anak untuk menjadi anak kandung.1 Muderis Zaini mengemukakan seorang anak yang diadopsi (anak angkat) dikatakan sebagai suatu peristiwa hukum dimana anak dari orang lain masuk dan menjadi anggota baru dalam sebuah keluarga. Anak yang telah diangkat secara hukum oleh keluarga tersebut mendapatkan perlakuan yang baik dari segi kasih sayang atau kecintaan, pendidikan, pemberian nafkah, pemenuhan dan pelayanan akan kebutuhan hidup, serta tidak diperlakukan seperti anak nasab.2

Anak angkat menurut pendapat dari Hilman Hadikusuma adalah anak yang lahir dari orang lain, dimana anak tersebut telah resmi diangkat secara hukum adat yang berlaku oleh orang lain dan kemudian dirawat selayaknya anak kandung.

Pengangkatan anak yang dilakukan menurut adat setempat bertujuan untuk pemeliharaan aset dan/atau kelangsungan keturunan suatu keluarga.3 Pengangkatan

1 Soeroso, Perbandingan Hukum Perdata, Jakarta, Sinar Grafika, 2007, hlm. 174.

2 Muderis Zaini, Op.Cit., hlm. 85.

3 Hilman Hadikusuma, 1991, Hukum Perkawinan Adat, Bandung, Alumni,hlm. 20.

(2)

13

anak merupakan suatu peristiwa yang termasuk ke dalam tindakan perdata dan kemudian menjadi bagian dari hukum keluarga, sehingga persoalan yang timbul dikemudian hari akan berhubungan dengan hukum yang terjadi antar manusia.4

Pengangkatan anak juga dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan hukum yang bertujuan untuk mengambil alih seorang anak dari wali, orang tua, ataupun orang lain yang sah bertanggung jawab terhadap anak tersebut baik dalam hal membesarkan, pendidikan maupun perawatan kepada orang tua atau keluarga angkat. Tindakan mengangkat anak telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak Pasal 1 Butir 2. Berdasarkan pendapat ahli yaitu Soerjono Soekanto, pengangkatan anak merupakan tindakan yang dapat menimbulkan suatu hubungan antara seseorang yang diangkat dengan orang tua atau keluarga angkat dan seakan- akan memiliki hubungan darah. Seseorang dalam hal tersebut yakni anak orang lain yang diangkat untuk menjadi anak sendiri.5 Dilihat dari beberapa definsi yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat di ambil sebuah kesimpulan yaitu pengangkatan anak (adopsi) merupakan suatu tindakan hukum dimana seorang anak diberikan kedudukan kepada orang lain untuk menjadi anak angkat sebagaimana layaknya anak sah/kandung.6

2. Dasar Hukum Anak Angkat

Di Indonesia dasar hukum yang mengatur terkait dengan anak angkat diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak. Pada peraturan tersebut mengartikan anak angkat sebagai anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali

4 Ibid, hlm. 30.

5 Soerjono Soekanto, 1980, Intisari Hukum Keluarga, Alumni Bandung, hlm. 52.

6 Djaja S. Meliala, Op.Cit., hlm. 3.

(3)

14

yang sah, atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut kedalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.7 Berdasarkan Staatsblad No. 129 Tahun 1917 hukum waris perdata dari pemerintah Hindia Belanda yang mengatur tentang anak angkat menjelaskan jika akibat hukum dari dilakukannya pengangkatan anak yaitu secara hukum anak yang diangkat akan dijadikan ahli waris orang tua angkat, mendapatkan nama dari bapak angkat, dan menjadi anak dari orang tua angkat sama seperti anak yang dilahirkan. Artinya secara hubungan atau hukum perdata, akibat yang ditimbulkan dari perbuatan pengangkatan anak adalah terputusnya hubungan diantara anak dengan orang tua kandung. Oleh karena itu, orang tua angkat yang bersangkutan memiliki hak untuk mewariskan harta peninggalannya, tetapi melalui pengadilan dan disesuaikan dengan hukum yang sah dan berlaku.

Pengangkatan anak tidak menimbulkan akibat hukum terkait hubungan darah, hubungan terkait hak waris dengan orang tua angkat, dan hubungan wali mewali jika dilihat berdasarkan hukum Islam. Anak tersebut akan tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandung serta tetap menggunakan nama bapak kandungnya. Orang tua angkat dapat memberikan wasiat dengan aturan tidak lebih dari 1/3 harta yang ditinggalkan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 209 KHI, dan hal ini dilakukan bertujuan untuk melindungi hak anak yang adopsi.8 Terdapat hubungan darah menjadi prinsip atau hal pokok kewarisan dalam hukum Islam. Pasal 171 huruf c KHI, ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai

7 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak

8 Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam

(4)

15

hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.9

Berdasarkan hukum adat, anak angkat merupakan anak orang lain yang dianggap sebagai anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi sesuai dengan hukum adat yang berlaku setempat. Penentuan waris bagi anak angkat menyesuaikan dengan hukum adat yang berlaku di wilayah setempat, misalnya jika menggunakan sistem parental seperti di Jawa, pengangkatan anak tidak serta merta memutuskan hubungan dengan orang tua kandungnya, sehingga selain berhak mewaris pada orang tua angkatnya, dia juga berhak mewaris pada orang tua kandungnya. Hak waris anak angkat terbatas pada harta bersama.

3. Syarat Syarat Pengangkatan Anak

Syarat Calon Anak Angkat Berdasarkan Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, ditentukan bahwa anak yang dapat diadopsi belum memasuki usia 18 (delapan belas) tahun, berada pada lembaga pengasuhan anak atau asuhan keluarga, anak diterlantarkan atau terlantar, serta anak tersebut perlu mendapatkan perlindungan khusus.10 Usia anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

a. Anak belum berusia 6 (enam) tahun, merupakan prioritas utama.

b. Anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan belum berusia 12 (dua belas) tahun sepanjang ada alasan mendesak, dan

c. Anak berusia 12 (dua belas) tahun sampai dengan belum berusia 18 (delapan belas) tahun, sepanjang anak memerlukan perlindungan khusus.Syarat calon orang tua angkat Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007,

menentukan Calon orang tua angkat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

9 Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam

10 Berdasarkan Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak

(5)

16 a. Sehat jasmani dan rohani.

b. Berumur paling rendah 30 (tiga puluh) tahun dan paling tinggi 55 (lima puluh lima) tahun.

c. Beragama sama dengan agama calon anak.

d. Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum, karena melakukan tindak kejahatan.

e. Berstatus menikah paling singkat 5 (lima) tahun.

f. Tidak merupakan pasangan sejenis.

g. Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak.

h. Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial.

i. Memperoleh persetujuan anak dan izin tertulis orang tua atau wali anak.

j. Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak.

k. Adanya laporan sosial dari pekerja sosial setempat.

l. Telah mengasuh calon anak paling singkat 6 (enam) bulan, sejak izin pengasuh diberikan; dan

m. Memperoleh izin Menteri dan/atau Kepala Instansi Sosial.11

4. Tujuan Pengangkatan Anak

Berdasarkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, pengangkatan anak atau adopsi harus dilakukan dengan tujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi anak. Berlakunya Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Pasal 39 Butir 1, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan mengangkat anak dilaksanakan demi kepentingan

11 Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007

(6)

17

terbaik sang anak menurut adat serta kebiasaan setempat dan berbagai ketentuan lain yang berlaku.

Tujuan pengangkatan anak berdasarkan hukum adat berbeda dengan peraturan perundang-undangan. Pada hukum adat, tujuan pengangkatan anak lebih menekankan kekhawatiran yang dihadapi oleh calon orang tua angkat terhadap kepunahan, oleh karenanya calon orang tua angkat yang tidak dikaruniai anak akan mengangkat anak dari saudara atau kerabatnya, serta anak tersebut akan berkedudukan sebagai anak kandung dari orang tua angkat. Dalam hal tersebut membuat anak tidak lagi memiliki ikatan dengan kerabat sebelumnya secara otomatis.12

5. Akibat Pengangkatan Anak

Pengangkatan anak memiliki akibat hukum terhadap hak perwalian, waris, dan juga soal nama anak diantara lain yaitu:

a. Perwalian

Umumnya jika berpacu pada hukum perdata di Indonesia, anak angkat tidak lagi memiliki hubungan perwalian dengan orang tua kandung dan beralih kepada orang tua angkat. Peralihan wali tersebut terjadi sejak putusan oleh pengadilan. Setelah peralihan wali dilakukan, maka segala bentuk hak serta kewajiban orang tua kandung beralih kepada orang tua angkat. Namun dalam agama tertentu salah satunya agama Islam terdapat pengecualian yakni anak yang diadopsi tetap memiliki hubungan perwalian dengan orang tua kandung.

Begitu pula sebaliknya berlaku terkait dengan nasab seorang anak. Anak angkat tetap mengikuti nasab dari orang tua kandung. Apabila anak angkat

12 Ahmad Kamil dan M. Fauzan,Op.,Cit, hlm. 34.15

(7)

18

berjenis kelamin perempuan, ayah kandungnya tetap menjadi wali bagi anak tersebut.

b. Waris

Hubungan waris diantara anak angkat, orang tua kandung, serta orang tua angkat berdasarkan hukum adat yang berlaku di Indonesia banyak sekali macamnya. Bagi sebagian masyarakat, hubungan antara anak kandung dengan orang tua kandung tetap diakui dalam hukum adat, khususnya pada suku Jawa yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika orang tua dari anak meninggal dunia, maka anak tersebut memiliki hak untuk memperoleh harta warisan milik orang tua kandung maupun orang tua angkatnya. Sebagaimana yang ditercantum dalam literatur milik Soedarso, yaitu anak angkat yang sudah diakui menjadi anak kandung oleh orang tua angkat dan telah membantu cukup lama pekerjaan orang tuanya akan memperoleh bagian warisan dengan berdasarkan pada kebijaksanaan.

Anak kandung merupakan pewaris dari orang tua kandung yang telah melahirkannya, sedangkan anak kandung tidak sah atau semata-mata hanya secara hukum terdapat kemungkinan bahwa anak tersebut tidak memiliki hak untuk menjadi ahli waris dari orang tua yang melahirkannya, baik dari ayah maupun ibu, anak hanya berhak sebagai ahli waris dari ibu yang telah melahirkannya atau mungkin dari ayahnya saja, mempunyai hak yang sama dengan anak kandung sah sebagai ahli waris dari orang tua kandungnya.

Hukum waris Islam memutuskan bahwa anak angkat juga hanya dapat mewarisi serta diwarisi harta peninggalan dari orang tua kandungnya, ayah kandung juga tetap dapat mewarisi dan diwarisi oleh anak kandung. Dalam hukum waris Islam ditentukan wasiat wajibah mengenai hak serta kewajiban

(8)

19

dengan orang tua. Wasiat wajibah merupakan wasiat yang diberikan bukan kepada ahli waris dan hanya 1/3 harta bagian milik bersangkutan yaitu anak angkat maupun orang tua angkat.

c. Nama

Permasalahan terkait kedudukan adat, nama gelar, serta marga, berdasarkan pendapat M. Buadiarto yaitu anak akan memperoleh marga dan/atau gelar dari orang tua angkat.13 Pada awalnya pengangkatan anak yang berasal dari keturunan tionghoa menganut hukum barat Staatsblad 1917 No. 129 Pasal 11 terkait nama keluarga seseorang yang mengangkat anak, nama keluarga tersebut juga akan menjadi nama bagi anak yang diangkat. Akan tetapi, setelah diterbitkannya Keputusan Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta No.907/1963/P pada 29 Mei 1963 peraturan sebelumnya sudah tidak lagi berlaku dan anak angkat memiliki hak untuk menentukan marga yang akan digunakan dalam namanya.

6. Status Anak Angkat

Status anak angkat masuk kedalam cakupan jalinan keluarga dengan orang tua angkat merupakan pengangkatan anak yang dilaksanakan berdasarkan prosedur hukum adat yang benar dan sesuai. Pengangkatan anak tetap dianggap sah walaupun tidak terdapat penetapan yang dilakukan saat proses pengadilan terkait pengangkatan anak. Hal tersebut mengakibatkan anak angkat akan mempunyai kesamaan hak serta kewajiban baik terkait pembagian harta warisan ataupun sebagainya ketika orang tua angkatnya meninggal. Jika anak angkat tidak menjadi ahli waris, maka tidak memperoleh bagian sebagai ahli waris dari harta warisan yang dimiliki oleh orang tua angkatnya.

13 M. Budiarto, 1985, Pengangkatan Anak Ditinjau dari segi Hukum, Jakarta, Akademika Pressindo, hlm. 21.

(9)

20

Status anak angkat dalam hukum Islam tidak dapat menjadi suatu parameter untuk bisa diakui atau dijadikan sebagai dasar ataupun sebab untuk mewarisi. Hal tersebut dikarenakan prinsip pokok yang terdapat dalam hukum waris Islam yaitu terdapat nasab/hubungan darah/keturunan. Dalam hukum kewarisan, tindakan pengangkatan anak tidak mengantarkan pengaruh hukum akan status anak angkat, yaitu jika bukan anak kandung, maka tidak dapat menjadi ahli waris bagi orang tua angkat. Solusi untuk permasalahan hak waris berdasarkan kompilasi hukum Islam yaitu memberikan “wasiat wajibah” dengan ketentuan tidak boleh melebihi 1/3 (sepertiga) harta yang dimiliki.

Pada Hukum Perdata terdapat status anak angkat yang diatur dalam Staatsblad No. 129 Tahun 1917 yang menjelaskan bahwa seorang anak angkat dengan anak anak kandung dari orang tua angkat mempunyai hak yang sama. Oleh karenanya, di dalam lingkup keluarga anak angkat berkedudukan sama selayaknya anak kandung atau anak yang terlahir dari orang tua angkatnya.

7. Akibat Hukum Terhadap Orangtua Angkatnya

Orang tua kandung tetap mempunyai kekuasaan terhadap anaknya yang telah diangkat oleh orang atau keluarga lain. Tetapi menurut hukum perdata di Indonesia hubungan tersebut tidak lagi sepenuhnya. Pada literasi hukum adat, anak angkat secara hukum dapat juga dikatakan sebagai anak kandung. Oleh sebab itu, status mengenai anak kandung terbagi kedalam 2 (dua) jenis yaitu anak kandung secara hukum dan anak kandung yang sesungguhnya. Anak angkat yang diadopsi sejak lahir dan sah secara hukum, sehingga pada akta kelahirannya tertulis nama orang tua angkat selaku orang tua kandung bagi anak disebut sebagai anak kandung secara hukum. Anak kandung secara hukum berkaitan erat dengan silsilah orang tuanya. Diberbagai daerah Indonesia, banyak sekali istilah dari anak kandung tidak

(10)

21

sah seperti anak kampung (Melayu), anak astra (Bali), anak haram jadah (Sunda), anak kowar (Jawa), dan lain sebagainya. Anak yang mengikuti keluarga atau orang lain sebagai orang tua yang mengurusnya merupakan definisi dari anak pungut.14

Kedudukan secara hukum anak kandung dianggap sama dengan anak kandung yang sesungguhnya dalam masyarakat yang tidak taat Islam seperti Timor, Mentawai, Minahasa, serta sebagian masyarakat Jawa. Terdapat 2 (dua) tujuan dari mengangkat anak antara lain yakni untuk menjaga harta kekayaan atau harta benda miliki keluarga dan/atau untuk meneruskan keturunan. Masyarakat hukum adat di daerah melakukan pengangkatan anak dengan cara mengambilnya dari anggota keluarganya sendiri. Contohnya seperti pada daerah Lampung yang diwajibkan untuk mengangkat seorang anak laki-laki dari saudara atau kerabatnya jika tidak memiliki keturunan berjenis kelamin tersebut. Tetapi jika keluarga tidak ingin mengangkat anak laki-laki dari kerabatnya, maka anak perempuan dari keluarga tersebut ditetapkan sebagai anak laki-laki dan kemudian melaksanakan perkawinan untuk mengambil anak laki-laki (Ngakuk Ragah). Tradisi tersebut sama halnya adat daerah Bali yang disebut sebagai Nyentane.

Perkawinan tersebut secara sosial tidak memutus hubungan darah antara orang tua kandung dengan anak angkat dan kekuasaan atas anak tersebut jatuh kepada orang tua angkat. Hal tersebut terjadi ketika anak angkat telah secara resmi melewati upacara adat untuk pengangkatan anak yang disertai dengan permohonan pengadilan. Namun waris serta perwalian bagi anak angkat berbeda menyesuaikan dengan suku di masing- masing daerah.

14 Hilman Hadisukusma, Hukum Perkawinan Adat, Op. Cit., hlm. 143-150.28

(11)

22

8. Kedudukan Hukum Anak Angkat dalam Hukum Adat Jawa, Hukum Islam Menurut KHI dan Kitab Undang Undang Hukum Perdata

Anak angkat mempunyai kedudukan yang sama selayaknya anak kandung dalam sistem hukum adat, namun terdapat anak angkat yang memiliki hak dengan bagian yang berbeda. Yurisprudensi merupakan salah satu dasar hukum yang dijadikan pedoman dan berdasarkan pada putusan MA (Mahkamah Agung).

Putusan tersebut dapat disimpulkan kedalam beberapa poin seperti berikut:

a. Anak angkat mempunyai hak untuk mewaris yang hanya terbatas pada harta gono-gini (harta bersama).

b. Anak angkat tidak memiliki hak untuk mewaris terhadap harta pusaka (asli).

c. Anak angkat dapat menutup hak mewaris ahli waris asal.

Berdasarkan kompilasi hukum Islam, anak angkat tetap berkedudukan sebagai anak sah menurut putusan pengadilan dengan tetap menjaga hubungan darah/nasab dengan orang tua kandungnya. Hal tersebut dikarenakan pada prinsip kompilasi hukum Islam, pengangkatan angkat adalah wujud keimanan manusia dalam menjalankan misi kemanusiaan dengan cara merawat dan mencukupi seluruh kebutuhan anak dari orang lain. Menurut kompilasi hukum Islam pembagian harta warisan untuk anak angkat yaitu memberikan “wasiat wajibah”

dengan ketentuan tidak boleh melebihi 1/3 (sepertiga) harta yang dimiliki. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk melindungi para hali waris lainnya.

Berikutnya berdasarkan KUH Perdata kedudukan anak angkat dalam mendapatkan hak waris dapat mempengaruhi kedudukan hak mewaris anak angkat terhadap orang tua angkatnya, dimana dalam prinsipnya pewarisan terhadap anak angkat dikembalikan lagi kepada orang tua angkatnya. Orang tua angkat mempunyai kewajiban dalam menjaga anak angkatnya baik setelah

(12)

23

meninggal dunia agar tidak terlantarkan. Sistematika atau prosedur pengangkatan anak dapat dilakukan dengan cara membuat akta terkait pengangkatan anak melalui notaris. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan mengajukan suatu permohonan ke pengadilan tinggi untuk mendapatkan kepastian hukum. Khusus bagi masyarakat yang memiliki keturunan darah Tionghoa, anak angkat mempunyai kedudukan yang sama dengan anak sah, karena hak mewaris anak angkat tidak diatur kedalam undang-undang hukum perdata. Maka anak angkat berhak untuk menjadi waris bagi harta milik orang tua angkat berdasarkan hukum waris testamentair ataupun undang-undang jika telah memperoleh testament (Hibah Wasiat).

Tinjauan Umum Tentang Hukum Waris Adat Jawa 1. Pengertian Hukum waris Adat Jawa

Hukum waris adat termasuk kedalam hukum lokal yang berlaku pada daerah atau suku tertentu di Indonesia serta diyakini oleh masyarakat setempat. Pengaruh susunan kekerabatan masyarakat yang berbeda tidak pernah terlepas dari hukum waris adat yang ada di Indonesia. Hukum waris adat baik yang telah ditetapkan secara tertulis maupun tidak tertulis akan tetap dipatuhi oleh masyarakat setempat.

Dalam buku yang berjudul "Azas-azas dan Susunan Hukum Adat" karya Ter Haar Bzn yang diterjemahkan oleh K. Ng. Soebakti Poesponoto menjelaskan bahwa hukum waris merupakan berbagai aturan hukum yang berisikan mengenai cara peralihan atau penerusan harta kekayaan yang tidak berwujud maupun berwujud dari generasi ke generasi.15

Indonesia belum memiliki hukum waris nasional yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kewarisan. Suparman menegaskan bahwa hukum waris yang ada

15 Ibid.,

(13)

24

dan berlaku di Indonesia hingga saat ini belum mampu diwujudkan karena belum adanya pengaturan yang seragam mengenai masalah kewarisan, khusunya pada pulau Jawa.16 Namun di negara Indonesia terdapat 3 (tiga) kaidah hukum yang positif yang mengatur terkait hal-hal kewarisan seperti hukum perdata barat, hukum Islam dan hukum adat. Suku Jawa terkenal mempunyai budaya adiluhung yang tidak hanya bergerak pada bidang pemerintahan, politik, kesenian, tradisi dan religi, namun juga meluas keseluruh aspek kehidupan manusia. Suku Jawa termasuk kedalam kelompok etnik yang dapat dikatakan cukup besar jumlahnya di Indonesia yaitu kurang lebih sekitar 40% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia.

Hukum yang berisi mengenai garis keturunan terkait asas serta sistem hukum waris, pewaris, harta warisan, dan ahli waris serta cara agar harta warisan dapat dialih kepemilikannya dari pewaris ke ahli waris.17 Hukum waris adat Jawa juga berisikan berbagai peraturan yang mengatur proses untuk mengalihkan barang- barang atau harta benda serta barang lain yang tidak berwujud benda dari satu generasi ke generasi lain yang masih dalam garis keturunannya.18

Pada hukum waris adat, terdapat hukum kewarisan yang termasuk kedalam bagian hukum keluarga yang berperan sangat penting untuk mencerminkan serta menentukan bentuk dan sistem hukum yang dijalankan pada lingkup masyarakat.

Hukum waris memiliki kaitan yang sangat erat terhadap kehidupan manusia, karena masing-masing orang pasti merasakan kematian yang termasuk dalam peristiwa hukum. Hal tersebut dikarenakan kematian adalah peristiwa yang tidak dapat dihindari oleh manusia manapun. Peristiwa hukum kematian akan

16 Eman Suparman, 2005, Bandung, hlm. 5.

17 Ibid, Hlm. 7

18 Soepomo, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Jakarta, Pradnya Paramita, 1987, Hlm. 79

(14)

25

menimbulkan suatu masalah berkaitan dengan kelanjutan serta pengurusan hak dan kewajiban orang yang telah meninggal dunia.19

Hukum adat jawa lebih mementingkan perhatiannya pada jenis harta dan kepentingan ahli waris. Hak untuk mewaris anak baik laki-laki maupun perempuan pada dasarnya adalah sama. Namun tidak berarti bahwa tiap-tiap anak mempunyai bagian yang sama menurut jumlah angka melainkan berdasarkan kebutuhan dan kepatutan.20 Di lain sisi, hukum kewarisan Islam juga mengatur hal yang sama pula masalah hak bagian anak.

2. Asas Asas Hukum waris Adat Jawa

Hukum waris adat mengatur hal-hal yang berkaitan dengan penyerahan, peralihan, perpindahan, penerusan, serta pengoperan harta kekayaan milik seseorang baik berwujud ataupu tidak berwujud dikarenakan mempunyai sejarah keterkaitan hubungan dari generasi ke generasi lain. Hilman Hadikusuma berpendapat bahwa hukum waris adat merupakan suatu hukum adat yang didalamnya tercantum asas, sistem, garis keturunan hukum waris mengenai pewaris, waris, dan warisan, serta cra-cara pengalihan dan penguasaan harta warisan dari pewaris ke waris. Endraswara mengemukakan bahwa dalam tradisi atau adat Jawa, terjadi sinkretisme yang ditimbulkan dari tercampurnya agama dengan adat. Keterkaitan dapat dikatakan dengan istilah “Islam Jawa” yang diakibatkan oleh sinkretisme yang terjadi diantara tradisi dengan agama Islam yang kemudian melahirkan adat kejawen.21 Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa di Jawa terkadang diantara agama dengan adat istiadat sulit untuk dipisahkan kerena seperti telah bersatu. Dalam masalah terkait hukum waris adat

19 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Waris di Inonesia, Bandung, Sumur, 1983, Hlm. 11

20 Tamakiran S., 2000, Pionir Jaya, Bandung, hlm. 71.

21 Suwardi Endraswara, 2006, Falsafah Hidup Jawa, Cakrawala, Yogyakarta, hlm. 77.

(15)

26

juga sulit untuk dilakukan karena timbulnya kompromi dengan hukum Islam.

Terkadang secara kebetulan, prinsip hukum waris adat dan Islam sama, seperti pembagian warisan yakni 2 banding 1 atau dapat disebut dengan istilah sepikul segendong.

Asas-asas hukum waris adat pada umumnya dan terutama pada adat jawa dapat dilihat dari Pancasila yang merupakan pedoman hidup warga negara Indonesia. Hukum waris adat mempunyai beberapa prinsip yang berasaskan pada:

a. Asas Ketuhanan yang Maha Esa dan pengendalian diri

Karena masyarakat percaya bahwa rezeki, harta dan kekayaan serta bakat keterampilan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa maka sepanjang masa benda berwujud dan tidak berwujud itu di teruskan atau dialihkan kepada generasi ke generasi agar masyarakat tetap beriman dan bertaqwa dalam memelihara dan memanfaatkan warisan itu.

b. Asas Kesamaan Hak dan Kebersamaan Hak

Pada umumnya praktik yang ada di masyarakat pelaksanaan Hukum waris menekankan pembagian atau penentuan warisan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keperluannya, tidak selalu pembagian warisan harus dibagi rata begitupun ketika keputusan tidak membagikan apapun karena kebutuhan untuk memelihara kebersamaan sepanjang masa.

c. Asas Kerukunan dan Kekeluargaan

Alasan dibalik pewarisan adalah kehendak yang mengikuti setiap pewaris dari dulu hingga saat ini agar adanya persatuan dan kerukunan diantara keluarga besar. Asas kekeluargaan mendorong setiap pewaris dan waris untuk selalu menjaga kerukunan, sehingga tidak heran hukum waris Adat selalu dekat

(16)

27

konflik perpecahan karena meninggalkan asas kerukunan dalam menjalankan Hukum waris Adat.

d. Asas Musyawarah dan Mufakat

Musyawarah menjadi perangkat diterapkan pada saat pelaksanaan suatu kegiatan pewaris dalam hukum waris adat. Sebagaimana tercantum dalam Pancasila yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat digunakan sebagai pandangan hidup dan asas bagi masyarakat. Oleh sebab itu, ketika masyawarah untuk mufakat dilaksanakan dalam hukum waris adat akan terdapat nilai-nilai ketaatan serta penghormatan terhadap seluruh hasil yang didapat.

e. Asas Keadilan dan Parimirma

Ketika hukum waris adat akan diberlakukan, rasa keadilan selalu diinginkan, disaat ada yang ingin memanfaatkan hukum waris adat untuk menguasai harta kekayaan peninggalan secara tamak, maka pada umunya perasaan tersebut tidak memiliki keadilan. Dalam hukum waris adat, asas keadilan sangat berhubungan erat dengan ikatan keluarga dalam kehidupan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Rasa keadilan tersebut akan dihasilkan melalui parimirma untuk keluarga besar yang terikat pada hukum waris adat dari generasi ke generasi.

3. Jumlah Besar Pembagian Hukum waris Adat Jawa

Harta perkawinan berdasarkan hukum adat Jawa didefinisikan sebagai seluruh harta baik berstatus harta bersama (gana gini) maupun harta asal (gawan) dan pada saat perkawinan harta tersebut dikuasai.22 Harta warisan yang tidak dapat dibagikan atau belum terbagi akibat masih hidupnya salah satu pewaris disebut

22 R. Otje Salman, 2007, Kesadaran Hukum Masyarakat terhadap Hukum Waris, PT Alumni, Bandung, hlm. 54.

(17)

28

sebagai harta peninggalan. Harta warisan adalah harta kekayaan yang berasal dari pewaris yang telah wafat atau meninggal dunia, baik harta tersebut telah terbagi ataupun masih dalam keadaan tidak terbagi.23 Walaupun berdasarkan hukum adat harta warisan bukan merupakan kesatuan seperti menurut hukum Islam, tetapi harta warisan tetap merupakan harta yang telah dibersihkan dari utang-piutang.

Hadikusuma mengemukakan, untuk mengakhiri utang piutang yang dapat diperhitungkan hanya yang berkaitan dengan harta milik bersama, sedangkan harta bawaan atau harta asal yang berhubungan dengan lingkup kekeluargaan tidak perlu dilakukan perhitungan.24 Kepemilikan warisan masih terpengaruh terhadap sifat kebersamaan serta kerukunan, sehingga tali persaudaraan yang terjalin serta rasa persatuan sangat berhubungan dan saling berpengaruh pada pertemanan hidup keluarga. Pada perkembangannya, lahirnya suatu peristiwa keluarga yang tidak lagi peduli dengan masalah tersebut cukup sulit untuk dihindarkan. Namun, sikap individual serta cara berpikir yang masih mengedepankan kepentingan terhadap kebendaan dan bukan merupakan kepribadiaan asli suku Jawa.

Pada umumnya, sebagian besar masyarakat adat Jawa dalam menyelesaikan masalah terkait pembagian warisan dilakukan dengan cara susunan kekeluargaan.

Permasalahan yang sering terjadi pada saat pembagian warisan adalah adanya rasa tidak puas yang ditimbulkan oleh keluarga yang memiliki niat buruk untuk menguasai harta yang bukan haknya. Oleh karenanya, jika terjadi perselisihan pada saat pembagian harta warisan, umumnya diselesaikan terlebih dahulu dengan cara musyawarah dan mufakat. Jika cara tersebut tidak mampu menyelesaikan perselisihan, maka terjadi sengketa warisan yang diteruskan pada adanya gugatan

23 Hilman Hadikusuma, 1999, Hukum Waris Adat, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm.11.

24 Ibid, hlm. 65

(18)

29

yang diajukan ke Pengadilan Negeri ataupun sampai ke Mahkamah Agung.

Sebelum meninggalnya pewaris, hal ini dilakukan apabila ahli waris telah berumah tangga atau sudah menikah, oleh karena itu pewaris membagikan sebagian hartanya ke ahli waris yang telah menikah tersebut, supaya ahli waris bisa menghidupi anak dan istrinya, dan tidak bergantung lagi dengan orang tua (tidak ketergantungan) serta telah memiliki penghasilan sendiri, tetapi ahli waris tidak diizinkan untuk menjual warisan tersebut tanpa persetujuan dari pewaris, karena harta warisan tersebut belum seutuhnya menjadi milik ahli waris ataupun sampai ke Mahkamah Agung. Catatan apabila ahli waris tidak bisa merawat dan memelihara warisan yang telah diberikan pewaris, misalnya seorang pewaris membagikan hartanya terhadap ahli waris yang telah berumah tangga atau menikah dengan cara membagikan kebun dan sawah kepada ahli waris supaya bisa menghidupi anak dan istrinya dengan jalan menggarap kebun dan sawah tersebut, tetapi apabila kebun dan sawah tersebut tidak mampu di rawat oleh ahli waris sehingga menyebabkan kebun atau sawah tersebut tidak bisa lagi diambil hasilnya, maka pewaris bisa meminta kembali kebun atau sawah yang tidak bisa di rawat oleh ahli waris.25

Setelah pewaris wafat, hal ini dilakukan setelah meninggalnya pewaris, pembagian harta waris biasanya di awali dengan musyawarah para ahli waris terlebih dahulu, dan musyawarah tersebut biasanya dilakukan setelah tiga hari terhitung sejak wafatnya pewaris, setelah tiga hari barulah para ahli waris bermusyawarah terkait cara pembagian harta warisan kepada masing-masing ahli waris, umumnya musyawarah berjalan lancar, namun tidak menutup kemungkinan terjadi suatu ketidaksesuaian diantara para ahli waris terkait pembagian harta

25 Ratno Lukito, 2008, Tradisi Hukum Indonesia, Teras, Yogyakarta, hlm. 65.

(19)

30

warisan yang ditinggalkan pewaris. Apabila telah terjadi perselisihan, maka langkah utama yang perlu dilaksanakan para ahli waris yaitu memanggil Sangkan paraning dumadi (pencipta kehidupan), Manunggaling kawula gusti (hubungan manusia dengan Tuhan) atau Memayu hayuning bawana (kebaikan) agar dapat memberikan pendapat untuk pembagian harta warisan tersebut.26 Setelah cara tersebut dilakukan namun tetpa tidak memdapatkan titi terang, maka langkah selanjutnya adalah memanggil Uyut. Selain dengan cara di atas, para ahli waris yang masih merasa tidak adil dalam pembagian harta warisan dan mengajukan gugatan ke pengadilan, dan kemudian pengadilan yang berhak memutuskan dan menetapkan seadil-adilnya dan sebaik-baik tentang pembagain harta warisan tersebut, supaya tidak terdapat pihak yang merasa dirugikan.

Dilaksanakannya proses pewarisan adalah masalah yang sangat penting.

Proses pewarisan memiliki 3 (tiga) unsur yang harus dipenuhi sebelum proses pewarisan dilakukan. Ketiga unsur tersebut yaitu pertama, seorang pewaris yang pada saat wafatnya meninggalkan harta kekayaan atau warisan; kedua, seorang atau beberapa ahli waris yang mempunyai hak untuk mendapatkan harta kekayaan yang ditinggalkan; ketiga, harta warisan atau harta peninggalan, adalah harta yang ditinggalkan, dibagi-bagi, dan sekali beralih kepada para ahli waris. Harta yang dapat dibagi merupakan harta peninggalan yang sudah dikurangi dengan utang- utang yang ditinggalkan oleh pewaris selama hidupnya, sehingga ahli waris hanya menerima harta peninggalan bersih.

Di Jawa pembagian harta warisan mayoritas masyarakat tidak melaksanakan pembagian warisan melalui pengadilan, selama masih dapat dilakukan dengan cara musyawarah dan mufakat. Hal tersebut dilakukan karena sistem kekeluargaan

26 Suwardi Endraswara, 2006, Falsafah Hidup Jawa, Cakrawala, Yogyakarta, hlm. 77

(20)

31

yang terjalin masih sangat kental. Jadi masyarakat yang menjadi ahli waris tidak ingin memperebutkan ataupun memperdebatkan harta warisan yang ditinggalkan oleh pewaris. Ahli waris lebih memilih jalan kekeluargaan demi persatuan dan keutuhan keluarga.27 Masyarakat Jawa, dalam melakukan pembagian harta warisan berdasarkan hukum waris adat yang telah berlaku dan di jalankan secara turun-temurun dari leluhur mereka terdahulu. Dalam membagi harta warisan, masyarakat menerapkan cara bermusyawarah untuk mufakat, para ahli waris berkumpul membicarakan harta warisan milik pewaris untuk segera membagikan kepada seluruh ahli waris. Tidak terdapat satupun ahli waris yang diperbolehkan untuk protes terhadap keputusan yang disampaikan terkait dengan bagian-bagian yang telah ditetapkan oleh juru untuk para ahli waris. Pembagian warisan seperti tersebut merupakan suatu cara yang telah lama dilakukan sejak zaman leluhur terdahulu, sebagaimana yang telah diajarkan kepada berbagai pihak yang berkaitan dengan warisan. Masyarakat Jawa juga berpedoman kepada hukum waris adat Jawa dan nasehat orang-orang tua. Tidak berarti dalam hal ini pihak perempuan atau anak-anak perempuan tidak mendapat apapun dari harta warisan orang tuanya, untuk anak perempuan biasanya diberikan harta benda yang berharga pada waktu ia menikah.28

Perkembangan zaman yang pesat dan pola pikir manusia yang semakin luas dan modern, terutama bagi masyarakat Jawa yang banyak merantau keluar daerah, memiliki paradigma baru yang lebih bebas yang terjadi karena pengaruh adaptasi dan sosialisasi dengan masyarakat luar serta pengaruh pendidikan sehingga mereka terkadang meninggalkan sistem pewarisan parental yang mengakibatkan proses pembagian harta warisan kepada para ahli warisnya tidak terlalu terpaku

27 Suwardi Endraswara, 2006, Mistik Kejawen Sinkritisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa, Narasi, Yogyakarta, hlm. 75.

28 Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju, Bandung,2003, Hlm 120.

(21)

32

pada ketentuan lama, dimana sebagian orang tua tidak membeda bedakan pembagian harta bagian anak laki-laki dan anak perempuan ataupun jika tidak mempunyai anak laki-laki dan hanya mempunyai anak perempuan, maka harta warisannya tetap jatuh atau di berikan kepada anak perempuan tersebut. Namun, ada harta yang tidak dapat dibagi secara menyeluruh misalnya harta pusaka yang masih dipakai atau digunakan berdasarkan ketentuan lama yakni mengenai penerusan keturunan yang dibawa langsung oleh pihak laki-laki sebagai generasi penerus dari ayahnya. Perkembangan dan perubahan tersebut terjadi diakibatkan oleh faktor modrenisasi dan emansipasi yang berbaur dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, politik, serta ekonomi yang secara langsung berdampak pada hak asasi manusia dan kesadaran sosial. Terdapat argumentasi atau alasan- alasan yang melandasi sitem hukum waris adat pada masyarakat Jawa dengan sistem kekerabatan parental.

Di berbagai daerah dikalangan masyarakat Jawa, dikatakan terdapat 2 (dua) kemungkinan pembagian warisan antara anak lelaki dan anak perempuan, yaitu:

a. Cara dundum kupat atau sigar semangka, yang diartikan sebagai anak perempuan dan anak laki-laki mendapatkan bagian yang sama atau seimbang.

b. Cara segendong sepikul, yaitu bagian anak laki-laki dua kali lipat lebih banyak daripada bagian yang didapatkan oleh anak perempuan.29

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, pada dasarnya semua anak dalam hukum adat Jawa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama atas harta warisan orang tuanya. Hak sama mengandung arti yaitu semua anak berhak diperlakukan sama. Oleh karena itu, atas dasar kerukunan dengan memperhatikan keadaan masing-masing ahli waris, bagian anak lelaki maupun anak perempuan

29 Hilman Hadikusuma, Op.Cit., hlm. 106.

(22)

33

adalah sama.30 Di sisi lain, jika anak lelaki mendapat dua kali bagiannya anak perempuan tidak masalah asalkan pembagian tetap didasarkan pada prinsip kepatutan. Prinsip menjaga harmoni atau menghindari pertikaian yang diakibatkan oleh pembagian warisan umumnya masih dianut sebagian orang Jawa. Ungkapan mangan ora mangan waton kumpul adalah sarana pemersatu, karena suatu keluarga diharapkan tetap bersatu dalam keadaan duka maupun suka.31

Pembagian warisan semakin jelas berbeda diantara anak laki-laki dan anak perempuan ketika orang Jawa melakukan pembagian waris dengan cara segendong sepikul atau sapikul sagendhongan dengan ketentuan pria mendapat sapikul dan wanita sagendhongan. Hal tersebut memperlihatkan sikap orang Jawa yang menaikkan pria dibandingkan wanita. Pria harus mendapatkan bagian yang lebih besar dalam segala hal, termasuk warisan. Pria dianalogikan sebagai orang yang hebat, sakti dan istimewa dibanding wanita. Maka dari itu, pria Jawa mempunyai tugas serta tanggungjawab lebih jika dibandingkan dengan wanita.

Pria harus melaksanakan lima A, yaitu Angayani (memberi nafkah lahir batin), Angomahi (membuat rumah sebagai tempat tinggal), Angayomi (mengayomi dan membimbing keluarga), Angayemi (menjaga ketentraman keluarga), serta Angamatjani (mampu menurunkan keturunan).32

4. Jumlah bagian Anak Angkat menurut Hukum waris Adat Jawa

Berdasarkan hukum adat, anak angkat diartikan sebagai suatu ikatan sosial yang bersifat sama dengan ikatan biologis. Anak angkat juga memperoleh kedudukan yang dikatakan hampir sama dengan anak kandung atau anak yang dilahirkan oleh orang tua angkat, yakni dala hal perkawinan serta kewarisan.

30 R. Soepomo, 1993, Bab-Bab tentang Hukum Adat, PT Pradnya Paramita, Jakarta, hlm. 80.

31 Atik Triratnawati, 2006, “Hukum Agama, Hukum Barat, dan Adat, Kasus-Kasus Pewarisan di Yogyakarta”, dalam Heddy Shri Ahimsa Putra (Ed.Kepel Press, Yogyakarta, hlm. 162.

32 Suwardi Endraswara, Op.Cit, hlm. 53-54.

(23)

34

Pengangkatan seorang anak dilaksanakan dengan tujuan atau motivasi yang berbeda dari setiap orangnya, namun tetap sejalan dalam hal perasaan hukum dan sistem hukum yang berlaku di dalam lingkup masyarakat.

Anak angkat merupakan seorang anak yang dirawat oleh orang tua angkat, baik dalam hal yang berkaitan dengan biaya hidup, pendidikan dan sebagainya, dimana hal tersebut menjadi tanggung jawab bagi orang tua angkat menurut putusan pengadilan. Pengangkatan anak mempunyai salah satu tujuan yaitu untuk menolong sang anak agar dapat meringankan beban orang tua kandungnya. Selain itu, pengangkatan anak juga dilaksanakan guna bertujuan keberlangsungan perkawinan suatu keluarga yang tidak dikaruniakan anak. Pada suku Jawa, pengangkatan seorang anak juga memiliki tujuan yaitu sebagai pancingan keluarga yang belum mendapatkan keturunan. Hal tersebut dipercaya oleh suku adat Jawa bahwa jika suatu keluarga yang belum diberikan seorang anak, lalu melakukan pengangkatan anak, maka keluarga tersebut nantinya akan dikaruniakan anak. Di lain hal, pengangkatan anak dilakukan sebab kondisi ekonomi suatu keluarga yang kurang memadai untuk menafkahkan seluruh kebutuhan anak-anaknya. Keadaan tersebut pada akhirnya menimbulkan suatu permasalahan terkait dengan harta warisan, baik dari orang tua angkat maupun orang tua kandung anak tersebut. Pemeliharaan harta peninggalan atau kekayaan dapat dilaksanakan berdasarkan jalur yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

Di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, pegakuan atau pengangkatan anak hanyalah memasukkan anak itu ke dalam kehidupan rumah tangga yang mengangkatnya, tetapi tidak memutuskan pertalian keluarga antara anak dengan orang tuanya sendiri. Anak angkat di daerah ini tidak mempunyai kedudukan

(24)

35

sebagai anak kandung dan tidak diambil sebagai anak dengan maksud meneruskan keturunan orang tua angkatnya. Imam Sudiyat menyampaikan bahwa pada realitanya dalam hukum waris, anak angkat tetap memiliki pretensi terhadap harta kekayaan milik orang tua kandungnya. Pretensi tertentu terhadap harta kekayaan milik orang tua angkat tetap dimiliki anak angkat, namun tidak pada harta warisan asal yang wajib hukumnya untuk dikembalikan kepada keluarga suami atau istri sendiri.

Sejalan dengan prinsip adat Jawa, seorang anak angkat tetap dapat mejadi waris bagi orang tua kandungnya karena tidak terputusnya tali kekeluargaan dengan orang tua kandung. Oleh sebab itu, anak angkat tetap berhak menjadi waris bagi orang tua kandungnya dan tetap mewarisi kerabatnya. Jika orang tua angkat masih memiliki anak kandung, maka anak angkat tidak memperoleh warisan sebanyak yang diperoleh oleh anak kandung, dan jika orang tua angkat takut anak angkatnya tidak mendapat bagian yang wajar seperti anak kandung maka digunakan hukum Islam, maka sudah menjadi adat kebiasaan orang tua angkat untuk memberi bagian harta warisan kepada anak angkat sebelum meninggal dunia dengan melalui wasiat. Meskipun anak angkat memiliki hak untuk menjadi waris dari orang tua angkatnya, namun tetap tidak diperbolehkan melebihi warisan yang diberikan kepada anak kandung.

Hak anak angkat terhadap harta warisan dalam hukum adat Jawa, yaitu anak angkat berhak atas harta warisan orang tua kandung, anak angkat berhak atas harta warisan orang tua angkat dengan bagian tertentu atau dalam jumlah terbatas (tidak boleh melebihi bagian anak kandung) dan anak angkat berhak atas harta kekayaan.

(25)

36

Tinjauan Umum Tentang Hukum waris Islam menurut KHI 2. Pengertian Hukum waris Islam menurut KHI

Hukum waris memiliki karakteristik yang unik sebagai bagian dari Syariah Islam yang pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari Aqidah maupun keimanan.

Seseorang tidak mendapatkan harta waris sesuai dengan bagian yang telah ditentukan oleh Allah diluar keinginan atau kehendaknya dan tidak perlu meminta haknya. Hukum Kewarisan sebagai salah satu bagian dari Hukum Kekeluargaan yang sangat penting dipelajari agar dalam pelaksanaan pembagian harta warisan tidak terjadi kesalahan dan dapat dilaksanakan dengan seadil adilnya. Sebab dengan mempelajari hukum waris Islam maka bagi ummat Islam dapat menunaikan hak-hak yang berkenaan dengan harta waris setelah ditinggalkan oleh muwaris dan disampaikan kepada ahli waris yang berhak untuk menerimanya.

Dengan demikian seseorang dapat terhindar dari dosa yakni tidak memakan harta orang yang bukan haknya. Karena tidak ditunaikannya hukum Islam mengenai kewarisan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata waris berarti orang yang menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal.33 Waris menurut Hukum Islam adalah Hukum yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnya bagi para ahli warisnya.34 dan juga berbagai aturan tentang peralihan hak milik, hak milik disini dimaksud adalah berupa harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya, dalam istilah lain waris disebut juga dengan fara’id. artinya ada sebagian tertentu yang

33 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,.ed.3. (Jakarta: balai pustaka 2001)h.

1386

34 Effendi Perangin, Huk um Waris,(Jakarta: Rajawali Pers,2008), h.3

(26)

37

dibagi menurut Agama Islam kepada semua yang berhak menerimanya dan yang telah ditetapkan bagian-bagiannya.35

Hukum waris bagi umat Islam Indonesia diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), yaitu dalam buku II KHI yang terdiri dari pasal 171 sampai dengan pasal 214. Dalam pasal 171 KHI, 36ada beberapa ketentuan umum mengenai kewarisan yaitu:

a. Hukum Kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang peralihan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagian masing masing.

b. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggal berdasarkan putusan pengadilan beragam Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.

c. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karenan hukum untuk menjadi ahli waris.

d. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa harta benda yang menjadi hak miliknya maupun hak haknya.

e. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah dengan harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah, pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.

f. Wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.

g. Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki.

h. Baitul maal adalah balai harta keagamaan.

35 Beni Ahmad Sabeni, Fiqih Mewaris, (Bandung: Pustaka setia, 2012),h. 13.

36 Pasal 171 Kompilasi Hukum Islam

(27)

38 2. Dasar Hukum waris Islam menurut KHI

Hukum waris di Indonesia banyak beragam karena setiap masyarakat memiliki kepercayaan masing masing, baik itu hukum waris yang mengikuti aturan agama, negara maupun adat. Pada negara kita mayoritas adalah beragama Islam dan tidak sedikit masyarakat Indonesia banyak mengunakan hukum waris Islam untuk sebuah pembagian pewarisan. Masyarakat juga memahami Hukum waris Islam yang berada di Indonesia karena berlandaskan Al-Quran dan Hadist, sehingga membuat masyarakat percaya dengan hukum yang bersumber dengan syariat Islam yang dapat mengatur Kehidupan untuk mencapai kebahagiaan di dunia juga di akhirat.

Pada Kompilasi Hukum Islam pasal 171 yang menjelaskan tentang pengertian waris, memiliki pengertian “Hukum waris Islam sepenuhnya adalah hukum yang dibuat untuk mengatur terkait pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan pewaris, serta menentukan siapa siapa yang berhak menerima dan menjadi ahli warisnya, dan juga jumlah bagian tiap ahli waris.”37 Ada beberapa sumber hukum waris Islam adalah berasal dari Al Qur’an, As-Sunnah Nabi Saw, dan Ijma’ para Ulama.38

Dasar Hukum waris Islam dalam Al-Qur’an disebutkan pada surat An-Nisa ayat 12:

۞ ْﻢُﻜَﻟ َو ُﻒْﺼِﻧ ﺎَﻣ َكَﺮَﺗ ْﻢُﻜُﺟا َوْزَا ْنِا ْﻢﱠﻟ ْﻦُﻜَﯾ ﱠﻦُﮭﱠﻟ ٌﺪَﻟ َو ۚ◌ ْنِﺎَﻓ َنﺎَﻛ ﱠﻦُﮭَﻟ ٌﺪَﻟ َو ُﻢُﻜَﻠَﻓ ُﻊُﺑﱡﺮﻟا ﺎﱠﻤِﻣ َﻦْﻛَﺮَﺗ ْۢﻦِﻣ ِﺪْﻌَﺑ ٍﺔﱠﯿ ِﺻ َو َﻦْﯿ ِﺻ ْﻮﱡﯾ ٓﺎَﮭِﺑ ْوَا ٍﻦْﯾَد ۗ◌ ﱠﻦُﮭَﻟ َو ُﻊُﺑﱡﺮﻟا ﺎﱠﻤِﻣ ْﻢُﺘْﻛَﺮَﺗ ْنِا ْﻢﱠﻟ ْﻦُﻜَﯾ ْﻢُﻜﱠﻟ ٌﺪَﻟ َو ۚ◌ ْنِﺎَﻓ َنﺎَﻛ ْﻢُﻜَﻟ ٌﺪَﻟ َو ﱠﻦُﮭَﻠَﻓ ُﻦُﻤﱡﺜﻟا ﺎﱠﻤِﻣ ْﻢُﺘْﻛَﺮَﺗ ْۢﻦِّﻣ ِﺪْﻌَﺑ ٍﺔﱠﯿ ِﺻ َو َن ْﻮُﺻ ْﻮُﺗ ٓﺎَﮭِﺑ ْوَا ٍﻦْﯾَد ۗ◌ ْنِا َو َنﺎَﻛ ٌﻞُﺟَر ُثَر ْﻮﱡﯾ ًﺔَﻠٰﻠَﻛ ِوَا ٌةَاَﺮْﻣا ٓٗﮫَﻟ ﱠو ٌخَا ْوَا ٌﺖْﺧُا ِّﻞُﻜِﻠَﻓ ٍﺪ ِﺣا َو ﺎَﻤُﮭْﻨِّﻣ ُۚسُﺪﱡﺴﻟا ْنِﺎَﻓ ا ْٓﻮُﻧﺎَﻛ َﺮَﺜْﻛَا ْﻦِﻣ َﻚِﻟٰذ ْﻢُﮭَﻓ ُءۤﺎَﻛَﺮُﺷ ﻰِﻓ ِﺚُﻠﱡﺜﻟا ْۢﻦِﻣ ِﺪْﻌَﺑ ٍﺔﱠﯿ ِﺻ َو ﻰ ٰﺻ ْﻮﱡﯾ ٓﺎَﮭِﺑ ْوَا ٍۙﻦْﯾَد َﺮْﯿَﻏ ٍّرۤﺎَﻀُﻣ ۚ◌ ًﺔﱠﯿ ِﺻ َو َﻦِّﻣ ِﱣ�ا ۗ◌ ُﱣ�ا َو ٌﻢْﯿِﻠَﻋ ٌۗﻢْﯿِﻠَﺣ

37 Pasal 171 Kompilasi Hukum Islam

38 Addys Aldizar, Faturahman, Huk um Waris, (Jakarta: Senayan Abadi Publishing, 2004)h.14

(28)

39

artinya “Dan bagimu (suami suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri istrimu mempunyai anak, maka kamu mendapatkan seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah di penuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sudah dibayar hutangnya.

Para isteri memperoleh memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sudah dibayar hutang hutangmu. Jika seseorang mati, laki laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada Ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”39

Dasar Hukum waris Islam juga terdapat dalam Hadist dan As-Sunnah Nabi Muhammad SAW, yakni dari Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad SAW bersabda

“berikanlah harta pusaka kepada orang orang yang berhak sesudah itu sisanya laki laki yang lebih utama” (HR. Muslim).40 Dan dasar Hukum Ijma’ dan Ijtihad yakni para sahabat tabi’in generasi pasca sahabat, tabi’it tabi’in dan generasi pasca tabi’in. Telah berijma’ atau bersepakat tentang legalitas ilmu faraid dan tidak dapat

39 Al-Quran surat An-nisa ayat 12

40 Imam Az Zabidi, Shahih Al-Buk ori Ringk asan Hadist, (jakarta: Pustaka Amani tahun 2002)h.035

(29)

40

ada yang menyalahinya.41 Imam imam mahzab yang berperan dalam pemecahan pemecahan masalah waris yang belum dijelaskan dalam nash nash shorih.42

Hukum waris Islam yang ada di Indonesia juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) sesuai dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991.

Dimana Kompilasi Hukum Islam (KHI) merupakan sebuah peraturan perundang undangan yang menyangkut hal hal perwakafan, perkawinan, termasuk juga hal hal perwarisan. Kompilasi Hukum Islam (KHI) sendiri berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadist rasulullah, yang mana akan digunakan secara khusus oleh Pengadilan Agama untuk menjalankan tugasnya dalam menangani permasalahan keluarga masyarakat Islam di Indonesia.

2. Rukun & Syarat Hukum waris Islam menurut KHI

Persoalan yang berkaitan dengan waris mewaris identik dengan berpindahnya harta benda, tanggung jawab, serta hak yang berasal dari pewaris yang diberikan kepada para ahli waris. Asas Ijbari menjadi asas penerimaan harta warisan berdasarkan hukum waris Islam, yakni berpindahnya harta warisan secara sendirinya sesuai dengan ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan pada kehendak pewaris atau ahli waris.43 Pengertian tersebut akan terwujud jika syarat dan rukun mewarisi telah terpenuhi dan tidak terhalang mewarisi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian harta warisan. Syarat-syarat tersebut selalu mengikuti rukun, akan tetapi sebagian ada yang berdiri sendiri. Ada tiga syarat hukum waris diantara lain yaitu:

a. Meninggalnya seorang pewaris.

41 Ibid.h.19

42 Ibid.h.20

43 Muhammad Daud Ali, Asas Huk um Islam, (jakarta: Rajawali Th 1990)h.129

(30)

41

b. Terdapat ahli waris, merupakan orang-orang yang mempunyai hak untuk menerima serta menguasai harta peninggalan pewaris sebab terdapat ikatan kekerabatan (nasb) dan/atau ikatan pernikahan.

c. Harta warisan, merupakan segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris baik berupa uang atau tanah.44

Adapun syarat waris yang harus terpenuhi pada saat pembagian harta warisan.

Rukun waris dalam hukum kewarisan Islam diketahui ada tiga macam, yaitu:

a. Muwaris

Yaitu orang yang di warisi peninggalanya atau orang yang mewariskan hartanya. Syaratnya adalah muwaris benar benar telah meninggal dunia.

Kematian seorang muwaris itu menurut ulama dapat dibedakan menjadi 3 macam antara lain:

a) Mati haqiqy (mati sejati)

Adalah matinya muwaris yang diyakini tanpa membutuhkan putusan hakim dikarenakan kematian tersebut disaksikan oleh orang banyak dengan panca indera dan dapat dibuktikan dengan alat bukti yang jelas dan nyata.

b) Mati hukmy (mati menurut putusan hakim atau yuridis)

Adalah suatu kematian yang dinyatakan atas dasar putusan hakim karena adanya beberapa pertimbangan. Maka dengan putusan hakim secara yuridis muwaris dinyatakan meninggal dunia. Meskipun terdapat kemungkinan hidup.

c) Mati taqdiry (mati menurut dugaan)

44 Op. Cit Addys Aldizar, Faturrahman, Huk um waris, h.28

(31)

42

Adalah sebuah kematian muwaris berdasarkan dugaan yang sangat kuat, misalnya dugaan seorang ibu hamil yang dipukul perutnya atau dipaksa minum racun. Ketika bayinya terlahir dalam keadaan mati, maka dengan dugaan kuat kematian itu diakibatkan oleh pemukulan terhadap ibunya.

b. Waris (ahli waris)

Ahli waris diartikan sebagai orang yang dipercayai memiliki hubungan kekeluargaan baik hubungan darah (nasab), hubungan perkawinan, atau hubungan sebab semenda ataupun karena memerdekakan hamba sahaya.

Syarat menjadi ahli waris adalah berada dalam kondisi hidup disaat muwaris wafat. Termasuk dalam hal ini adalah bayi yang masih dalam kandungan (al- haml). Terdapat juga syarat lain yang harus dipenuhi yaitu antara muwaris dan ahli waris tidak ada halangan saling mewarisi.45

c. Al Mauruts

Sleuruh harta benda yang menjadi warisan. Baik berupa hak dan kewajiban serta harta yang termasuk kedalam kategori warisan.

2. Golongan yang berhak menerima waris dari Hukum Islam menurut KHI Masalah waris mawaris dikalangan ummat Islam di Indonesia, secara jelas diatur dalam pasal 49 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989, bahwa Pengadilan Agama berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara kewarisan baik ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang:

a. Perkawinan.

b. Kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam.

45 Long. Cit Ahmad Rofiq h.28

(32)

43

c. Wakaf dan sedekah.46Ahli waris Menurut pasal 172 KHI yang disebut ahli waris dipandang beragama Islam apabila diketahui dari Kartu identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.47 Kelompok Ahli Waris Adapun mengenai kelompok ahli waris ditentukan pada Pasal 174 yaitu kelompok kelompok ahli waris terdiri dari:

a. Menurut hubungan darah:

a) golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.

b) Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari:

Duda atau janda. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya : anak, ayah, ibu, janda atau duda.48

Mengenai besarnya bagian dalam Pasal 176 dijelaskan bahwa” Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.49 Selanjutnya pada Pasal 177 mengenai bagian yang didapat ayah, Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam

46 Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989

47 Pasal 172 Kompilasi Hukum Islam

48 Pasal 174 Kompilasi Hukum Islam

49 Pasal 176 Kompilasi Hukum Islam

(33)

44

bagian.50 Pada Pasal 178 Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian dan Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersamasama dengan ayah.51

Menurut pasal 190 Kompilasi Hukum Islam, Bagi pewaris yang beristri dari seorang maka masing masing isteri berhak mendapatkan bagian dari gono gini dari rumah tangga dengan suaminya sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak milik para ahli warisnya.52 jika duda mendapatkan separuh bagian bila pewaris meninggalkan anak maka duda mendapatkan seperempat bagian berdasarkan pasal 179 KHI (Kompilasi Hukum Islam).53 Dan janda mendapatkan seperempat bagian, bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan apabila meninggalkan anak maka janda mendapat seperempat bagian berdasarkan pasal 180 KHI.54 Perlu diketahui bahwa jika pewaris meninggalkan ibu, maka semua nenek terhalang, baik nenek dari pihak ibu sendiri maupun nenek dari pihak ayah (mahjub hirman). Dan jika semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan adalah hanya anak (baik laki-laki maupun perempuan), ayah, ibu, dan janda atau duda sedangkan ahli waris yang lain terhalang (mahjub) (Pasal 174 Ayat (2) KHI).55 Bila pewaris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali, atau ahli warisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya kepada Baitul Maal untuk kepentingan agama Islam dan kesejahteraan umum (Pasal 191 KHI).56

50 Pasal 177 Kompilasi Hukum Islam

51 Ibid. h.157

52 Pasal 190 Kompilasi Hukum Islam

53 Pasal 179 Kompilasi Hukum Islam

54 Pasal 180 Kompilasi Hukum Islam

55 Pasal 174 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam

56 Pasal 191 Kompilasi Hukum Islam

(34)

45

Pada Hukum waris Islam terdapat beberapa yang berhak mendapatkan hak waris, yang golongan ahli warisnya antara lain:

a. Adapun ahli waris dari kalangan dari kalangan laki-laki ada sepuluh yaitu:

a) Anak laki-laki

b) Cucu laki-laki dari anak laki-laki c) Ayah

d) Kakek dan terus ke atas e) Saudara laki-laki sekandung f) Saudara laki-laki dari ayah g) Paman

h) Anak laki-laki i) Suami

j) Tuan laki-laki yang memerdekakan budak.

b. Adapun tujuh ahli waris dari kalangan perempuan yaitu:

a) Anak perempuan

b) Anak perempuan dari anak laki-laki c) Ibu

d) Nenek

e) Saudara perempuan f) Istri

g) Tuan wanita yang memerdekakan budak

c. Adapun lima ahli waris yang yang tidak perna gugur mendapatkan mendapatkan hak waris yaitu:

a) Suami b) Istri

(35)

46 c) Ibu

d) Ayah

e) Anak yang langsung dari pewaris.57 d. Adapun ashabah yang paling dekat yaitu:

a) Anak laki-laki

b) Cucu dari anak laki-laki c) Ayah

d) Kakek dari pihak ayah

e) Saudara laki-laki seayah dan seibu f) Saudara laki-laki seayah

g) Anak laki-laki dari saudara laki seayah dan seibu h) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah i) Paman

j) Anak laki-laki paman

k) Jika Ashabah tidak ada, maka tuan yang memerdekakan budaklah yang mendapatkannya.58

Masing-masing ahli waris mempunyai bagian yang berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi karena jumlah ahli waris yang ada dan jauh dekatnya suatu hubungan.

Adapun bagian masing-masing ahli waris yaitu sebagai berikut:

a. Suami

Suami mendapatkan ½ apabila tidak ada anak dan cucu, apabila ada anak dan cucu suami mendapatkan ¼

b. Istri

57 Mustafa Bid Al-Bugha, Fiqih Islam Lengkap, (Surakarta: Media Zikir thun 2009) h.327

58 Ibid h. 3283

(36)

47

Istri mendapatkan ¼ jika tidak ada anak dan cucu, apabila ada anak dan cucu istri mendapatkan 1/8 dan apabila istri lebih dari satu orang ¼ atau 1/8 dibagi rata.

c. Anak Laki Laki

anak laki laki jika Ashabah Sendirian atau bersama Dzawil Furudh, dan 2 lebih besar bagian Anak perempuan (jika ada Anak laki laki dan Anak perempuan). Apabila anak laki laki lebih dari satu orang dibagi menjadi rata.

d. Anak perempuan

Anak perempuan mendapatkan ½ jika Anak perempuan hanya seorang, apabila anak perempuan lebih dari satu orang mendapatkan 2/3 dengan dibagi rata. Dan anak perempuan menjadi Ashabah dan mendapatkan ½ bagian Anak laki laki (jika ada Anak laki laki dan Anak perempuan)

e. Cucu laki laki (dari anak laki laki)

Cucu laki laki (dari anak laki laki) tidak mendapatkan waris jika ada anak laki laki. Ia akan menjadi Ashabah jika ia Sendirian atau bersama Dzawil Furudh dan mendapatkan bagian 2 lebih besar dari bagian Cucu perempuan (jika ada Cucu laki laki dan Cucu perempuan), apabila Cucu laki laki lebih dari seorang maka bagian tersebut dibagi rata.

f. Cucu perempuan (dari anak laki laki)

Cucu perempuan (dariAnak laki laki) tidak mendapatkan waris apabila ada anak laki laki dan Ada dua orang atau lebih Anak perempuan (kecuali Cucu perempuan bersama Cucu laki laki). Apabila cucu perempuan hanya satu orang maka mendapat bagian ½ dan mendapatkan 2/3 jika Cucu perempuan lebih dari seorang untuk dibagi rata. Cucu perempuan akan mendapatkan 1/6 jika bersama Anak perempuan dan akan menjadi Ashabah jika ada cucu

(37)

48

perempuan dan cucu laki laki dan mendapatkan bagian ½ bagian dari cucu laki laki.

g. Ayah

Ayah akan mendapatkan 1/6 jika Ada Anak laki laki atau Cucu laki laki, apabila ayah ada anak perempuan dan cucu perempuan maka ia akan mendapatkan 1/6 dan sisa. Ayah akan mendapatkan 2/3 jika Ahli waris hanya Ayah dan Ibu, ayah akan mendapatkan 2/3 dari sisa (setelah dikurangi hak Istri/Suami), jika ada Istri/ Suami dan Ibu. Apabila tidak ada ahli waris lainnya seorang ayah akan menjadi Ashabah.

h. Ibu

Ibu akan mendapatkan 1/6 jika Ada Anak/ Cucu/ dua orang atau lebih Saudara dan akan mendapatkan 1/3 Ahli waris hanya Ibu, atau Ayah dan Ibu. Ibu juga akan mendapatkan 1/3 dari sisa (setelah dikurangi hak Istri/Suami), jika ada Istri/ Suami dan Ayah.

i. Kakek

Kakek tidak akan mendapatkan waris jika ada Ayah. Jika Ada Anak laki laki atau Cucu laki laki akan mendapatkan 1/6. Apabila bagian kakek 1/6 dan sisa jika Ada Anak perempuan atau Cucu perempuan dan Sisa Tidak ada Anak atau Cucu, tetapi ada Ahli waris lain dan akan menjadi Ashabah jika Tidak ada Ahli waris lainnya.

j. Nenek

Nenek tidak mendapatkan waris jika ada Ayah atau Ibu (untuk Nenek dari Ayah) dan Ada Ibu (untuk Nenek dari Ibu). Apabila Ada maupun tidak ada Ahli waris selain Ayah/ Ibu, nenek mendapatkan 1/6. Jika ada nenek lebih dari satu orang akan mendapatkan 1/6 dibagi rata.

(38)

49 k. Saudara laki laki kandung

Saudara laki laki kandung tidak akan mendapat waris jika Ada: Ayah/ Anak laki laki/ Cucu laki laki (dari Anak laki laki) dan akan menjadi Ashabah jika Sendirian atau bersama Dzawil Furudh bagiannya 2 kali lebih besar dari Saudara perempuan kandung (jika ada Saudara laki laki dan Saudara perempuan kandung). Apabila ada saudara laki laki kandung lebih dari satu orang pembagiannya dibagi rata dan bagian Saudara seibu Ahli waris: Suami, Ibu, Saudara kandung dan dua orang atau lebih Saudara seibu.

l. Saudara perempuan kandung

Saudara perempuan kandung tidak akan mendapatkan waris jika ada Ayah/

Anak laki laki/ Cucu laki laki (dari Anak laki laki). Apabila saudara perempuan hanya seorang akan mendapatkan bagian ½ dan mendapatkan bagian 2/3 jika Saudara perempuan kandung lebih dari seorang untuk dibagi rata. Akan menjadi Ashabah jika Bersama dengan Saudara laki laki kandung (bagian perempuan ½ bagian laki-laki) dan Bersama Anak perempuan atau Cucu perempuan.

m. Saudara laki laki sebapak

Saudara laki laki sebapak tidak akan mendapatkan waris jika ada Ayah/ Anak laki laki/ Cucu laki laki (dari Anak laki laki)/ Saudara laki laki kandung/Saudara perempuan kandung bersama Anak perempuan atau Cucu perempuan dan akan menjadi Ashabah jika Sendirian atau bersama Dzawil Furudh dan akan mendapatkan bagian dibagi rata jika Saudara laki laki sebapak lebih dari seorang.

n. Saudara perempuan sebapak

(39)

50

Saudara perempuan sebapak tidak akan menerima waris jika ada Ayah/ Anak laki laki/ Cucu laki laki (dari Anak laki laki)/ Saudara laki laki kandung/

Saudara perempuan kandung bersama Anak perempuan atau Cucu perempuan/

dua atau lebih Saudara perempuan kandung dan akan mendapatkan bagian ½ jika Saudara perempuan sebapak hanya seorang, apabila Saudara perempuan sebapak lebih dari seorang mendapatkan 2/3 untuk dibagi rata. Jika saudara perempuan sebapak bersama seorang saudara perempuan kandung akan dapat bagian 1/6 dan akan menjadi Ashabah jika Bersama Saudara laki laki sebapak (bagian perempuan ½ bagian laki-laki) dan Bersama Anak perempuam atau Cucu perempuan.

o. Saudara laki laki dan perempuan seibu59

Saudara laki laki/ perempuan seibu tidak akan mendapatkan waris jika ada Ayah/ Anak/ Cucu/Kakek. Jika ada saudara seibu hanya seorang maka akan mendapatkan bagian 1/6 dan akan mendapatkan bagia 1/3 jika Saudara seibu lebih dari seorang untuk dibagi rata.

2. Sebab-sebab terjadinya saling mewaris dalam Hukum waris Islam menurut KHI

Dalam agama Islam sudah dijelaskan ada beberapa sebab dalam waris dalam Hukum Islam terkait hak seseorang mendapatkan warisan yaitu hubungan kekerabatan dan hubngan perkawinan. Kedua bentuk hubungan itu antara lain:

a. Hubungan Kekerabatan.

Hubungan kekerabatan atau biasa disebut hubungan nasab ditentukan oleh adanya hubungan darah, dan adanya hubungan darah dapat diketahui pada saat adanya kelahiran, seorang ibu mempunyai hubungan kekerabatan dengan anak

59 Ibid h.331

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa empati merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menempatkan diri dalam memahami kondisi

Selanjutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Woelandari Oetami (2009) menyimpulkan bahwa besarnya kepemilikan unit penyertaan manajer investasi

Guru menyiapkan media gambar yang berkaitan dengan tema agar tujuan pembelajaran dapat tercapaib. (Select Method, Media, And Material)

ini yaitu sejak perusahaan tersebut berdidiri, belum memiliki media komunikasi visual yang memandai untuk mendukung promosi atau mengenalkan perusahaan kepada masyarakat. Salah

Berdasarkan beberapa hal yang terkait dengan pembelajaran matematika yaitu siswa tidak hanya diharapkan dapat memiliki keterampilan menyelesaikan soal menggunakan

године Услуга преноса новчаних средстава на платни рачун (члан 4. 6) ЗПУ) Сенка Венчевић Руководилац: Сенка Венчевић 389 MILAN TODOROVIĆ PR,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Tingkat kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis siswa dengan menggunakan model kombinasi NHT-STAD, (2) Perbedaan kemampuan

Atribut-atribut yang perlu ditingkatkan oleh Bukalapak yaitu adanya pengembalian dana jika barang yang diterima rusak atau tidak sampai, customer service melayani