KONTRIBUSI SEKTOR PRIMER, SEKTOR SEKUNDER DAN SEKTOR TERSIER TERHADAP PRODUK DOMESTIK REGIONAL
BRUTO (PDRB) AGREGATIF KABUPATEN MADIUN
ML.Endang Edy Rahayu 1 Retno Djumhariyati 2
Tatik Mulyati 3
1 , 2 dan 3 adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Madiun
Abstract
Economis structure changed was pushed by incresed income that take changeed taste of the society which reflection in consumtion taste changed. From the other side, main sektor that push are changed or technological progressits, human resources increased. There are positif correlation between growth and changed economic structure. The continous growth can take the economic structure changed from the society income. The economic in one region growth equal with history value, geographic, and society culture. Economic structure in kabupaten Madiun was formed by primary sektor, secondary sektor and tertiery sector. The growth and the changed of primary sektor , secondary sektor, and tertiery sektor was hoped equal for all aspect in society life and can be pleased for all society. This reasearch is discriptif research with secondary data and collection technic by documentation. The analysis was quantitatif analysis where there are to know the economic growth in Kabupaten Madiun.
The conclution are : 1) The result shows that there are primary sektor contribution more descent cause there are the descent in agriculture sektor. 2) Secondary sektor contribution increased cause there are the increased in property sektor. 3) Tertiery sektor contribution shows that there are increased in trading sektor, hotels and restaurant. 4) The higher contributin is agriculture sektor. 5) Economic structure in Kabupaten Madiun was dominated by secondary and tertiery sektor.
Keywords : Primary Sektor, Secondary Sektor, Tertiery Sektor.
PENDAHULUAN
Pembangunan yang pada hakekatnya selain sebagai upaya untuk mencapai terjadinya pertumbuhan ekonomi, juga harus dibarengi dengan terjadinya perubahan secara positif dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan seluruh bangsa. Hal ini sesuai dengan hakekat tujuan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Undang-Undang Dasar tahun 1945. Dalam mewujudkan tujuan pembangunan tersebut bidang ekonomi masih menjadi titik berat penggerak utama.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan suatu
keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.
Selain dari sisi permintaan (konsumsi) dari penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan dengan perubahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut, yang selanjutnya akan mempengaruhi suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi harus lebih besar dari laju pertumbuhan penduduk, agar peningkatan pendapatan perkapita dapat
dicapai. Selain pertumbuhan, proses pembangunan ekonomi juga akan membawa dengan sendirinya suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi.
Dari sisi permintaan agregatif perubahan struktur ekonomi terjadi terutama didorong oleh peningkatan pendapatan yang pada gilirannya membawa perubahan selera masyarakat yang terefleksi dalam perubahan pola konsumsinya. Dari sisi penawaran agregatif, faktor pendorong utama adalah perubahan atau kemajuan teknologi, peningkatan sumber daya manusia. Sehingga ada suatu korelasi positif antara pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi, paling tidak dalam periode jangka panjang, pertumbuhan yang berkesinambungan membawa perubahan struktur ekonomi lewat efek dari sisi permintaan (peningkatan pendapatan masyarakat) dan pada gilirannya perubahan tersebut menjadi faktor pemicu pertumbuhan ekonomi.
Perekonomian suatu wilayah berkembang sesuai dengan nilai historis, geografis dan kultur masyarakatnya. Dalam perkembangannya, lambat laun akan memberikan corak warna bagi struktur ekonomi suatu wilayah. Struktur ekonomi Kabupaten Madiun dibentuk oleh tiga sektor sebagai pendukung PDRB yaitu : (a) Sektor primer, terdiri dari sektor pertanian dan sektor Pertambangan dan Penggalian. (b) Sektor sekunder, terdiri dari sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (LGA) dan sektor Konstruksi. (c) Sektor Tersier, terdiri dari sektor Perdagangan,Hotel dan Restoran (PHR), sektor Angkutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan, dan sektor Jasa Perusahaan dan sektor jasa-jasa.
Pertumbuhan dan perubahan sektor primer, sektor sekunder, dan sektor primer tersebut sudah barang tentu diharapkan secara merata bagi seluruh aspek kehidupan bangsa dan secara merata pula dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Dengan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini akan dikaji peran sektor
primer, sektor sekunder, dan sektor primer terhadap PDRB Kabupaten Madiun, untuk mengetahui kondisi riil yang ada sehingga bisa menjadi masukan yang berguna untuk memberdayakan potensi-potensi yang ada.
Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana peran sektor primer dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun ? 2)Bagaimana peran sektor sekunder dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun ? dan 3) Bagaimana peran sektor tersier dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun ?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu : 1) Untuk mengetahui program sektor primer dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun. 2)Untuk mengetahui bagaimana sektor sekunder dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun. 3)Untuk mengetahui bagaimana sektor tersier dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun.
Kontribusi Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada penentu kebijakan, khususnya sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam pengembangan yang akan memberikan corak warna struktur ekonomi wilayah Kabupaten Madiun yang didukung oleh tiga sektor yaitu sektor primer, sektor sekunder, dan sektor tersier dan peranannya dalam mendukung PDRB agregatif Kabupaten Madiun.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Pembangunan Daerah Menurut Arsyad (2004) bahwa Pembangunan Daerah sama dengan (sumber daya alam, tenaga kerja, investasi, entrpreneurship, transportasi, komunikasi, komposisis industri, teknologi, luas daerah,
pasar ekspor, situasi ekonomi internasional, kapasitas pemerintah daerah, pengeluaran pemerintah pusat, dan bantuan-bantuan pembangunan).
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan daerah yaitu, pertama adalah arah proses tranformasi perekonomian, dan yang kedua adalah proses globalisasi.
Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumber daya fisik secara lokal (daerah).
Orientasi ini mengarahkan kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses. Yaitu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru.
Upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah daerah bersama masyarakat harus mengambil inisiatif pembangunan daerah.
2. Pembangunan Seimbang (Balanced Growth)
Dalam kaitannya dengan pembangunan daerah, Sukirno (1978) menjelaskan yang dimaksudkan pembangunan seimbang adalah pembangunan yang dilakukan secara merata di berbagai daerah, sehingga setiap daerah mencapai tingkat kelajuan pembangunan yang sama. Ada pula golongan yang
memaksudkan pembangunan seimbang sebagai usaha pembangunan yang menumpahkan perhatian yang seimbang terhadap sektor industri maupun sektor pertanian, sehingga kedua sektor tersebut bukan saja dapat berkembang dengan baik, melainkan juga saling mendorong perkembangan lainnya.
Menurut Jhingan (2000) pembangunan seimbang adakalanya diartikan pula sebagai pembangunan yang bukan saja menitikberatkan pengembangan kegiatan ekonomi, tetapi juga menumpahkan perhatian yang sama pentingnya kepada mengembangkan berbagai aspek dari kehidupan sosial, politik, dan kebudayaan.
Kalau berbagai pandangan yang mengemukakan tentang perlunya pembangunan seimbang diperhatikan, maka pada hakekatnya alasan utama perlunya pembangunan seimbang adalah (i) untuk menjaga agar pembangunan tersebut tidak menghadapi hambatan-hambatan dalam memperoleh bahan mentah, tenaga ahli, sumber tenaga (air dan listrik), dan (ii) fasilitas-fasilitas untuk mengangkut hasil produksi ke pasar.
Menurut pandangan Rosenstein- Rodan (dalam Sukirno, 1981), mengadakan industrialisasi di daerah yang kurang berkembang merupakan cara untuk menciptakan pembagian pendapatan yang lebih merata di dunia dan untuk menciptakan pendapatan di daerah semacam itu dengan lebih cepat daripada di daerah yang lebih kaya. Agar suatu wilayah atau negara berkembang dapat berkembang, maka seluruh sektor harus melangkah bersama, agar sektor tersebut dapat dengan mudah mendapatkan masukan (input) yang diperlukannya. Jadi, semua harus tersedia atau dikembangkan secara serempak. Tujuan utamanya adalah menciptakan berbagai jenis industri yang mempunyai hubungan erat, sehingga setiap industri akan memperoleh ekonomi ekstern sebagai akibat dari industrialisasi yang demikian coraknya.
Pembangunan industri secara besar-besaran akan menciptakan tiga macam ekonomi
ekstern: 1) yang diakibatkan oleh perluasan pasar, 2) karena industri yang sama letaknya berdekatan, dan 3) karena adanya industri lain dalam perekonomian tersenut.
Nurske dalam Sukirno (1981) mengatakan bahwa dari segi permintaan, dorongan untuk mengadakan penanaman modal adalah sangat rendah karena kecilnya daya beli masyarakat, yang dikarenakan rendahnya pendapatan riil masyarakat.
Sehingga pasar untuk produksi yang diciptakan sektor produktif adalah sangat terbatas.
3. Teori Pembangunan Tidak Seimbang (Unbalanced growth)
Hirschman dalam Sukirno (1981) mengatakan bahwa untuk selalu menciptakan keadaan perekonomian yang terus menerus maju ke depan, maka pembangunan harus tetap menjamin terciptanya goncangan- goncangan, disproporsi, dan ketidakseimbangan-ketidakseimbangan. Ia berkeyakinan bahwa pembangunan yang terus menerus mengahadapi kegoncangan dan ketidakseimbangan merupakan proses pembangunan yang paling ideal, karena gangguan dan ketidakseimbangan tersebut akan mendorong penanaman modal pada masa berikutnya.
Analog tentang ketidakseimbangan dalam perkembangan ekonomi, Hirschman berpendapat bahwa dalam perkembangan wilayah pun terdapat ketidakseimbangan. Di dunia ini, terdapat negara maju dan negara terbelakang, yang biasa disebut negara berkembang. Dalam satu negara pun, terdapat wilayah-wilayah yang maju serta wilayah-wilayah yang terbelakang. Negara atau wilayah yang maju disebut sebagai
‘utara’ (north) dan negara atau wilayah berkembang disebut sebagai ‘selatan’
(south).
Pembangunan tidak seimbang lebih sesuai untuk dilaksanakan di negara-negara berkembang karena negara-negara tersebut menghadapi masalah kekurangan sumber- sumber daya. Dengan melaksanakan program pembangunan tidak seimbang, usaha pembangunan pada suatu waktu
tertentu dipusatkan kepada beberapa kegiatan yang akan dapat mendorong penanaman modal terpengaruh (induced investment) di berbagai kegiatan lain pada masa berikutnya. Dengan demikian pada setiap tingkat pembangunan sumbr-sumber daya yang sangat langka dapat digunakan dengan lebih efisien.
Akhirnya pandangan mengenai perlunya melaksanakan program pembangunan tidak seimbang didasarkan pada keyakinan bahwa pembangunan tidak seimbang akan menciptakan gangguan- gangguan dan ketidakseimbangan- ketidaseimbangan dalam kegiatan ekonomi.
4. Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB)
Pengertian lain dari PDRB adalah jumlah seluruh nilai tambah (produk) yang ditimbulkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha yang melakukan kegiatan usahanya di suatu daerah (region) tanpa memperhatikan pemilihan atas faktor produksi. Oleh karena itu secara agregatif PDRB menunjukkan kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan / balas jasa kepada faktor produksi di daerah tersebut (anonim ,1993)
Dalam membuat suatu perhitungan regional adalah menggunakan wilayah/
region dari suatu negara, dimana region dapat berupa propinsi, kabupaten atau kota.
Transaksi ekonomi yang dihitung adalah transaksi yang terjadi dalam wilayah domestik suatu region dan transaksi yang dilakukan oleh masyarakat dari region tersebut. Dorbuch (1986) mengatakan bahwa PDB maupun PDRB adalah nilai dari barang-barang jadi dan jasa yang diproduksi.
Penekanan pada barang jadi dan jasa. Jasa adalah semata-mata untuk meyakinkan bahwa tidak melakukan penghitungan ganda (value added) . Pada setiap tingkatan dari perubahan suatu barang hanya nilai yang ditambahkan pada barang ditingkat pembuatan itu yang dihitung sebagai bagian dari PDRB.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang ingin memberikan gambaran mengenai daya dukung / peran sektor primer, sektor sekunder, dan sektor tersier terhadap PDRB Kabupaten Madiun. Meskipun untuk itu juga diperlukan studi yang menunjukkan hubungan-hubungan yang bersifat kausal / korelasional.
Obyek penelitian yang digunakan adalah PDRB sektor primer, sektor sekunder, dan sektor tersier Kabupaten Madiun dalam struktur perekonomian Kabupaten Madiun.
Adapun untuk analisis didasarkan atas dokumen dari Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Madiun dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Madiun.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang diperoleh dari laporan / dokumen yang berasal dari instansi / lembaga terkait seperti Biro Pusat Statistik (BPS) dan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Dari BPS berupa data PDRB, Jumlah penduduk, kondisi geografis dan lain-lain. Sedangkan Disperindag berupa data industri hulu dan hilir di Kabupaten Madiun dengan teknik pengumpulan data secara dokumentasi.
Sedangkan tenik analisa data yang digunakan ada dua yaitu : 1) menghitung prosentase selisih PDRB sektor/subsektor i dengan teknik kuantitatif menggunakan teknik porsentase nilai PDRB masing- masing sektor/subsektor i terhadap PDRB sektor/subsektor i. 2) Untuk mengetahui kontribusi/peran PDRB sektor/subsektor i terhadap PDRB Agregatif dilakukan dengan
membandingkan nilai PDRB
sektor/subsektor i terhadap PDRB Agregatif.
Variabel –variabel dalam penelitian meliputi : (1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) agregatif adalah jumlah keseluruhan nilai tambah (produk) yang ditimbulkan oleh berbagai sektor yang telah melakukan usaha atau kegiatannya di suatu daerah tanpa memperhatikan pemilihan atas faktor produksi, oleh karena itu maka PDRB secara agregatif menunjukkan kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan balas jasa kepada faktor produksi di daerah tersebut. (2) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (gross domestic Regional Product at current market price) adalah jumlah nilai produk atau pendapatan atau pengeluaran yang berlaku pada tahun yang bersangkutan.
(3) Sektor primer, terdiri dari sektor pertanian dan sektor Pertambangan dan Penggalian. (4) Sektor sekunder, terdiri dari sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (LGA) dan sektor Konstruksi. (5) Sektor Tersier, terdiri dari sektor Perdagangan,Hotel dan Restoran (PHR), sektor Angkutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan, dan sektor Jasa Perusahaan dan sektor jasa-jasa. (6) Peran sektor primer, sekunder, dan tersier artinya daya dukung atau kontribusi ketiga sektor terhadap PDRB yang dicerminkan dengan pengaruh nilai PDRB ketiga sektor terhadap nilai PDRB agregatif.
HASIL PENELITIAN
1. Peran Sektor Primer dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun
Sektor Primer, terdiri dari sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian. Besarnya peranan dari sektor primer dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
SEKT OR
PDRB SEKTOR PERAN/SUMBANGAN
2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008
Sektor Primer : 1.269.338,47 1.386.617,21 1.524.713,69 1.734.178,70 37,6 36,17 35,42 35,1
1.. Pertanian 1.176.646,70 1.289.422,35 1.423.064,32 1.627.937,06 34,85 33,63 33,06 32,95 2. Pertambangan
& Penggalian 92.691,77 97.194,86 101.649,37 106.241,64 2,75 2,54 2,36 2,15
Dengan melihat perkembangan peranan sektor primer (sektor pertanian dan sektor penggalian dan pertambangan) terhadap Produk Domestik Regional Bruto secara agregatif menurut harga berlaku dari tahun 2005 hingga tahun 2008 terlihat adanya kecenderungan menurun. Namun dari tingkat pertumbuhan menunjukkan trend meningkat. Sumbangan sektor primer di dominasi oleh sektor pertanian. Secara Agregatif pada tahun 2008 sumbangan sektor pertanian sebesar 32,95 persen dan sektor pertambangan dan penggalian hanya
2,15 persen. Secara total peran sektor primer tahun 2008 sebesar 35,10 persen.
2. Peran Sektor Sekunder dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun
Sektor Sekunder, terdiri dari Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (LGA), dan sektor Konstruksi/Bangunan. Besarnya peranan dari sektor primer dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tahun
PDRB Sektor Sekunder
(dlm jutaan Rupiah)
Kenaikan Tingkat Pertumbuhan
(%)
PDRB Agregatif (dalam jutaan
rupiah)
Sumbangan PDRB Sektor Sekunder thd PDRB
Agregat (%)
2005 465.968,88 - - 3.376.252,32 13,80
2006 562.753,80 96.784,92 20,77 3.833.654,90 14,68
2007 639.172,53 76.418,73 13,58 4.304.724,14 14,85
2008 737.017,24 97.844,71 15,31 4.940.336,21 14,92
SEKTOR
PDRB SEKTOR PERAN/SUMBANGAN
2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008
Sektor Sekunder : 465.968,88
562.753,80
639.172,53
737.017,24 13,80 14,68 14,85 14,92 Industri
Pengolahan
130.649,23
153.198,91
175.738,48
206.575,23 3,87 4,00 4,08 4,18 Listrik,Gas & Air
29.445,68
33.240,30
37.327,97
42.239,58 0,87 0,87 0,87 0,85 Bangunan
305.873,97
376.314,59
426.106,08
488.202,43 9,06 9,82 9,90 9,88
Dengan melihat perkembangan peranan sektor sekunder (terdiri dari Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (LGA), dan sektor Konstruksi/Bangunan) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara agregatif menurut harga berlaku dari tahun 2005 hingga tahun 2008 terlihat adanya kecenderungan mengalami kenaikan. Namun dari tingkat pertumbuhan menunjukkan trend menurun. Sumbangan pada sektor sekunder di dominasi oleh sektor bangunan. Secara Agregarif untuk tahun 2008 terlihat bahwa peran sektor bangunan sebesar 9,88 persen, sedangkan sektor industri pengolahan
sebesar 4,18 persen dan sektor LGA sebesar 0,85 persen. Secara total peran sektor sekunder tahun 2008 sebesar 14,92 persen.
3. Peran Sektor Tersier dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun
Sektor Tersier, terdiri dari Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR),Sektor Angutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa. Besarnya peranan dari sektor primer dapat dilihat pada tabel IV.9 di bawah ini.
Tahun PDRB Sektor Tersier (dlm jutaan Rupiah)
Kenaikan
Tingkat Pertumbuhan
(%)
PDRB Agregatif (dalam jutaan
rupiah)
Sumbangan PDRB Sektor Tersier thd PDRB
Agregat (%)
2005 1.640.944,98 - - 3.376.252,32 48,60
2006 1.884.283,89 243.338,91 14,83 3.833.654,90 49,15
2007 2.140.837,92 256.554,03 13,61 4.304.724,14 49,73
2008 2.469.140,26 328.302,34 15,33 4.940.336,21 49,98
SEKTOR
PDRB SEKTOR PERAN/SUMBANGAN
2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008
Sektor Tersier 1.640.944,98
1.884.283,89
2.140.837,92
2.469.140,26 48,60 49,15 49,73 49,98 Perdagangan, Hotel,
dan Restoran
861.389,89
998.142,84
1.147.974,51
1.357.908,75 25,51 26,04 26,67 27,49 Angkutan dan
Komunikasi
102.293,86
121.584,46
136.375,25
164.049,56 3,03 3,17 3,17 3,32
Keuangan, Persewaan,
& Jasa Perusahaan
148.543,43
163.094,37
182.745,30
199.595,26 4,40 4,25 4,25 4,04
Jasa-Jasa 528.717,80
601.462,22
673.742,86
747.586,69 15,66 15,69 15,65 15,13 Tahun PDRB Sektor
Primer (dlm jutaan Rupiah)
Kenaikan
Tingkat Pertumbuhan
(%)
PDRB Agregatif (dalam jutaan
rupiah)
Sumbangan PDRB Sektor Primer thd PDRB
Agregat (%)
2005 1.269.338,47 - - 3.376.252,32 37,60
2006 1.386.617,21 11.727.87
4 9,24 3.833.654,90 36,17
2007 1.524.713,69 13.809.64
8 9,96 4.304.724,14 35,42
2008 1.734.178,70 20.946.50
1 13,74 4.940.336,21 35,10
Dengan melihat perkembangan peranan sektor (tersier terdiri dari Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR),Sektor Angutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara agregatif menurut harga berlaku dari tahun 2005 hingga tahun 2008 terlihat adanya kecenderungan meningkat. Dari tingkat pertumbuhan sektor tersier juga menunjukkan trend meningkat. Pada sektor
tersier sumbangan didominasi oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Peran sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran untuk tahun 2008 sebesar 27,49 persen, diikuti oleh sektor jasa-jasa sebesar 15,13 persen. Secara total peran sektor tersier tahun 2008 sebesar 49,98 persen.
Struktur ekonomi Kabupaten Madiun dari ketiga sektor pendukung di atas dari tahun 2005 hingga tahun 2008 ditujukan pada Tabel di bawah ini.
Berdasarkan Tabel di atas dapat disimpulkan bahwa struktur ekonomi Kabupaten Madiun didominasi oleh sektor primer dan sektor tersier , dan dalam perkembangannya peranan sektor sekunder semakin meningkat seiring kejenuhan peranan yang terjadi pada sektor primer.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 1. Peran Sektor Primer Dalam
Mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun
Sektor Primer, terdiri dari sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, peranan sektor primer semakin menurun. Pada tahun 2005 peranan sektor primer sebesar 37,6 % dan terus menurun hingga menjadi 35,1% pada tahun 2008.
Penurunan ini akibat peranan salah satu sektor pendukungnya mengalami penurunan yaitu sektor pertanian, hal ini disebabkan karena luas lahan pertanian semakin berkurang sebagai akibat semakin banyaknya pembukaan daerah pemukiman baru berupa perumahan maupun untuk mendirikan pabrik baru, adanya perubahan sistem irigasi dan penggunaan lahan yang cenderung menggantungkan sistem pengairan ketadah hujan serta minimnya balas jasa di sektor pertanian. Sedangkan pada sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan karena adanya PERDA No.1 tahun 2005 serta adanya larangan melakukan penambangan dan penggalian di beberapa lokasi penambangan dengan pertimbangan membahayakan wilayah sekitar penambangan membawa
Sektor/Subsektor
Tahun
2005 2006 2007 2008
Sektor Primer 1. Pertanian
2.Pertambangan dan Penggalian
37,60 34,85 2,75
36,17 33,63 2,54
35,42 33,06 2,36
35,10 32,95 2,15 Sektor Sekunder
1. Industri Pengolahan 2. Listrik, Gas, dan Air 3. Bangunan
13,80 3,87 0,87 9,06
14,68 4,00 0,87 9,82
14,85 4,08 0,87 9,90
14,92 4,18 0,85 9,88 Sektor Tersier
1. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 2. Angkutan dan Komunikasi
3. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 4. Jasa-Jasa
48,60 25,51 3,03 4,40 15,66
49,15 26,04 3,17 4,25 15,69
49,73 26,67 3,17 4,25 15,65
49,98 27,49 3,32 4,04 15,13
implikasi pada sub sektor ini hingga beberapa tahun ke depan.
2. Peran Sektor Sekunder Dalam mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun
Sektor Sekunder, terdiri dari Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (LGA), dan sektor Konstruksi/Bangunan. Sektor sekunder ini mengalami peningkatan peranan sejak tahun 2005, akibat peningkatan peranan sektor bangunan. Hal ini disebabkan karena adanya pangsa pasar perdagangan barang dan jasa yang sangat baik, mengingat perkembangan pusat perbelanjaan seperti mall, plasa, food court/fast food yang tumbuh pesat di kabupaten Madiun, sehingga menarik investor untuk melakukan investasi dalam bentuk usaha property, seperti ruko dan perumahan. Hal ini akan meningkatnya volume kegiatan ekonomi di Kabupaten Madiun.
Selain sektor bangunan sektor industri pengolahan juga mengalami peningkatan di Kabupaten Madiun. Sektor industri pengolahan meskipun mempunyai keunggulan komparatif tetapi bukan merupakan sektor unggulan . Hal ini disebabkan karena tenaga kerja murah jika dilihat dari Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) tetapi yang menjadi prioritas adalah bagaimana menarik investor untuk mau menanamkan modalnya di Kabupaten Madiun. Pada tahun 2005 peranan sektor sekunder sebesar 13,80 persen dan selanjutnya meningkat tiap tahunnya masing- masing 14,68 persen untuk tahun 2006;
14,85 persen untuk tahun 2007 dan 14,92 persen untuk tahun 2008.
3. Peran Sektor Tersier Dalam Mendukung PDRB Agregatif Kabupaten Madiun
Sektor tersier adalah sektor ketiga yang membentuk struktur ekonomi Kabupaten Madiun. Sektor Tersier terdiri dari Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR),Sektor Angutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa. Sektor tersier menunjukan adanya kecenderungan peningkatan peranan. Pada tahun 2008, peranan sektor tersier mencapai 49,98 persen, sedangkan pada tahun 2005 peranannya hanya mencapai 48,60 persen.
Peran terbesar didominasi oleh sektor perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) Peningkatan peranan ini dikarenakan letak geografis Kabupaten Madiun yang merupakan jalur selatan yang banyak dilalui kendaraan lintas propinsi memberikan peluang pada sektor perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) untuk berkembang. Adanya dampak positif dari pembangunan pusat- pusat perbelanjaan di Kota Madiun yang membawa multiplier effect pada sektor tersier (perdagangan) yang semakin membaik di Kabupaten Madiun. Selain itu perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat juga berperan besar di dalam meningkatkan nilai tambah pada sektor tersier.
KESIMPULAN
1. Kontribusi sektor primer semakin menurun, akibat peranan salah satu sektor/subsektor pendukungnya mengalami penurunan yaitu sektor pertanian.
2. Kontribusi Sektor sekunder mengalami peningkatan akibat peningkatan peranan di sektor/subsektor bangunan.
3. Kontribusi Sektor tersier menunjukan adanya kecenderungan peningkatan karena akibat adanya peningkatan peranan pada sektor/subsektor Perdagangan, Hotel dan Restoran serta sektor jasa-jasa.
4. Kontribusi tertinggi terhadap PDRB Agregatif di Kabupaten Madiun adalah sektor/subsektor pertanian.
5. Struktur ekonomi Kabupaten Madiun didominasi oleh sektor sekunder dan sektor tersier.
SARAN
1. Sektor primer cenderung mengalami penurunan terutama subsektor pertanian,
maka salah satu cara untuk meningkatkan peranan sektor primer adalah pengembangan teknologi pertanian, membangun infrastruktur pertanian seperti pembangunan irigasi, menjaga ketersediaan dan distribusi pupuk dengan melakukan pengawasan pada kios-kios maupun pengembangan kawasan agropolitan.
2. Untuk peranan sektor sekunder lebih mengoptimalkan maka sektor industri pengolahan sebagai sektor pendukungnya agar dapat meningkatkan hasil produksi, yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan pembinaan, serta pajak dan bea yang ideal. Selain itu dioptimalkan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk mendukung sektor sekunder.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2007, Kabupaten Madiun Dalam Angka, BPS, Kabupaten Madiun.
, 2008, Kabupaten Madiun Dalam Angka, BPS, Kabupaten Madiun.
, 2008, Propinsi Jawa Timur Dalam Angka, BPS, Surabaya , 2008, Produk Domestik Regional
Bruto Kabupaten Madiun
Arsyad, Lincolin, 1999, Pengantar Perencanaan dan Pembangunan
EkonomiDaerah, BPFE,
Yogyakarta.
, 2004, Ekonomi Pembangunan,
Sekolah Tinggi ilmu
Ekonomi/STIE, YKPn Yogyakarta.
Jhingan, ML, 2000, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sukirno, Sadono, 1976, Beberapa Aspek Dalam Persoalan Pembangunan Daerah, LPFE UI, Jakarta.
,1978, Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, FE UI.
,1985, Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, FE UI.
Sugiyono, 1999, Metodologi Penelitian Bisnis, Penerbit CV.Alfabeta, Bandung.