http://publikasi.undana.ac.id/index.php/JG
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DITERBITKAN OLEH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
VOLUME 18 NO. 2, EDISI OKTOBER
DITERBITKAN OLEH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN RUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
OKTOBER 2020
Peran Pembina Osis Dalam Membina Sikap Kepemimpinan Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Di SMP Negeri 13 Kupang
Dorcas Langgar
Makna Simbolik Dalam Tradisi
Menurut Kepercayaan Jingitiu Di Kelurahan Limaggu Sabu Raijua
Leonard Lobo
Kajian Tentang Nilai
Perkawinan Adat Sabu Di Desa Tanajawa, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua
Petrus Ly
Partisipasi Politik Masyarakat Dalam Pemilihan
Tahun 2019 Di Desa Oinlasi Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS
Semuel Sabat
Nilai-Nilai Pancasila Dalam Upacara Adat
(Memanggil Nira) Pada Masyarakat Jingitiu Di Desa Eilogo Kabupaten Sabu Raijua
Soleman Bully
Meningkatkan Prestasi Belajar Menggunakan Model Pembelajaran TPS Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Soleman D. Nub Uf
Penerapan Model Pembelajaran Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Antonius Suban
Penggunaan Metode Eksperimen Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika
Marsi D.S. Bani
Penerapan Model Pembelajaran
Lks Terstruktur Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Paulus Taek
Implementasi Metode
Keaktifan dan Kreativitas Belajar Bahasa Inggris Soleman Dapa Taka
Pengaruh Motivasi Belajar Dan Lingkungan Teman Sebaya Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Peserta Didik Kelas X SMA Swasta PGRI Kupang
Andri Paulus Loe
VOLUME 18
NO 2, EDISI OKTOBER 2020
Penerbit Program Studi
Pendidikan Kewarganegaraan
FKIP Undana
Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan Pembina Osis Dalam Membina Sikap Kepemimpinan Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Di SMP Negeri 13
Makna Simbolik Dalam Tradisi Happo Ana (Syukuran Kelahiran) Menurut Kepercayaan Jingitiu Di Kelurahan Limaggu Kabupaten
Kajian Tentang Nilai-Nilai Pancasila Yang Terkandung Dalam Perkawinan Adat Sabu Di Desa Tanajawa, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua
Partisipasi Politik Masyarakat Dalam Pemilihan Umum Presiden Tahun 2019 Di Desa Oinlasi Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS
Nilai Pancasila Dalam Upacara Adat Kelila Wadu (Memanggil Nira) Pada Masyarakat Jingitiu Di Desa Eilogo Kabupaten Sabu Raijua
Meningkatkan Prestasi Belajar Menggunakan Model Pembelajaran TPS Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Soleman D. Nub Uf
Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika
Antonius Suban Hali
Penggunaan Metode Eksperimen Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika
Marsi D.S. Bani
Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle “5E” Berbantuan Lks Terstruktur Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Implementasi Metode Mind Mapping Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Kreativitas Belajar Bahasa Inggris
Soleman Dapa Taka
Pengaruh Motivasi Belajar Dan Lingkungan Teman Sebaya Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Peserta Didik Kelas X SMA Swasta PGRI Kupang
Andri Paulus Loe1) Fredrik Bolang2) Yeheskial Nggandung3)
Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan
p - ISSN : 1858 e - ISSN : 2772
Pembina Osis Dalam Membina Sikap Kepemimpinan
Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Di SMP Negeri 13 121-126
(Syukuran Kelahiran)
Kabupaten 127-137
Nilai Pancasila Yang Terkandung Dalam
Perkawinan Adat Sabu Di Desa Tanajawa, Kecamatan Hawu 138-148
Umum Presiden
Tahun 2019 Di Desa Oinlasi Kecamatan Amanatun Selatan 149-158
Wadu
(Memanggil Nira) Pada Masyarakat Jingitiu Di Desa Eilogo 159-169
Meningkatkan Prestasi Belajar Menggunakan Model Pembelajaran
170-177 Untuk
178-189 Penggunaan Metode Eksperimen Dalam Pembelajaran Untuk
190-199
” Berbantuan
Lks Terstruktur Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi 200-207 Untuk Meningkatkan
208-215 Pengaruh Motivasi Belajar Dan Lingkungan Teman Sebaya
Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Peserta Didik Kelas X SMA 216-224 Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan
ISSN : 1858-2893 ISSN : 2772-5151
Penerapan Model Pembelajaran
Meningkatkan Hasil Belajar Kewarganegaraan Hendrikus Pous
Peningkatan Hasil Belajar IPS Menggunakan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 7 Kupang
Theresia Fatutuan
Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Ciri
Dengan Menggunakan Media Gambar Pada Siswa Kelas III SDI Oetete 2 Kupang
Elfrida Dhiu
Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di SMP Negeri 2 Kupang Tahun Pelajaran 2019/2020
Fredrik Boreel
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika SMP Negeri 8 Kota Kupang Kelas VIII
Yosefina Hingin Beda
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres Oetete 2 Dengan Konsep Sifat Benda Cair Mata Pelajaran Ilmu
Alam Menggunakan Metode Tahun Ajaran 2018/2019
Elfrida Dhiu
Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar IPS Dengan Model Pembelajaran Picture And Picture
Pada Siswa Kelas Theresia Fatutuan
Pembelajaran Interaktif Dan Menyenangkan Di Prodi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Melalui LMS
Industri 4.0 Anif Istianah
Peningkatkan Minat Belajar Tematik Tema Hidup Pada Siswa Kelas VI SD
Taty R Koroh
Revitalisasi Semangat Sumpah Pemuda Dalam Meningkatkan Nasionalisme Guru Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Maria Lufransiya Bribin
Pengaruh Kompetensi Dan Motivasi
Pada Karyawan P.T Aquamor Timorindo Kupang) Soleman Daud Nub Uf
VOLUME 18 NO 2, EDISI OKTOBER 2020
Penerbit Program Studi
Pendidikan Kewarganegaraan
FKIP Undana
Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Introduction Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kewarganegaraan
Peningkatan Hasil Belajar IPS Menggunakan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 7 Theresia Fatutuan
Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Ciri-Ciri Makhluk Hidup Menggunakan Media Gambar Pada Siswa Kelas III SDI Oetete 2 Kupang
Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Inquiri Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di SMP Negeri 2 Kupang Tahun Pelajaran 2019/2020
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika SMP Negeri 8 Kota Kupang Kelas VIII
Yosefina Hingin Beda
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres Oetete 2 Dengan Konsep Sifat Benda Cair Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Menggunakan Metode Discovery Inquiry Semester Dua Tahun Ajaran 2018/2019
Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar IPS Dengan Model Pembelajaran Picture And Picture Berbantuan Metode Menyanyi Pada Siswa Kelas VII A SMP Negeri 7 Kupang
Theresia Fatutuan
Pembelajaran Interaktif Dan Menyenangkan Di Prodi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Melalui LMS E-Learning Di Era
Peningkatkan Minat Belajar Tematik Tema Selamatkan Makhluk Hidup Pada Siswa Kelas VI SD
Revitalisasi Semangat Sumpah Pemuda Dalam Meningkatkan Nasionalisme Guru Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Maria Lufransiya Bribin
Pengaruh Kompetensi Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja (Studi Pada Karyawan P.T Aquamor Timorindo Kupang)
Soleman Daud Nub Uf1), Leony M. Ndoen2), Ricky E. Foeh3)
Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan
p - ISSN : 1858 e - ISSN : 2772
Untuk
225-228 Peningkatan Hasil Belajar IPS Menggunakan Model Pembelajaran
Penemuan Terbimbing Pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 7 229-236
Ciri Makhluk Hidup
Menggunakan Media Gambar Pada Siswa Kelas III SDI 237-242
Terhadap Hasil
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di SMP Negeri 2 Kupang 243-251
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika
252-256 Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres Oetete 2
Pengetahuan
Semester Dua 257-264
Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar IPS Dengan Model
Berbantuan Metode Menyanyi 265-271
Pembelajaran Interaktif Dan Menyenangkan Di Prodi Pendidikan
Di Era 272-278
Selamatkan Makhluk
279-285 Revitalisasi Semangat Sumpah Pemuda Dalam Meningkatkan
Nasionalisme Guru Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan 286-291 Kerja Terhadap Kinerja (Studi
292-303 Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan
ISSN : 1858-2893 ISSN : 2772-5151
Penanggung Jawab
Ketua Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FKIP Undana
Dewan Penyunting:
1. Dr. Petrus Ly, M. Si (Ketua) 2. Dr. Dorcas Langgar, M. Pd (Anggota)
3. Dr. Leonard Lobo, M. Kes (Anggota)
Dewan Redaksi/ Tata Usaha:
1. Dorcas Kale, S. Pd., M. Pd.
2. Yanse Ndolu, S. ST 3. Daud Y. Nasa, S. Pd., M. Pd.
4. Imanuel Sone
Editor & Layout:
Marsi D.S. Bani, S. Pd., M. Si
Penerbit:
Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang
Alamat Redaksi:
Jurusan PPKn, FKIP Undana Jl. Adicupto Penfui Kupang Telp. (0380) 822515, Fax. (0380) 822060
Volume Terbit :
Dua Kali Setahun, Yakni Bulan April dan Oktober
p - ISSN : 1858-2893 e - ISSN : 2772-5151
REDAKSI JURNAL
Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan
286 REVITALISASI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA DALAM MENINGKATKAN NASIONALISME GURU PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
Maria Lufransiya Bribin Universitas Nusa Cendana e-mail: [email protected]
Abstrak
Pemuda merupakan harapan bangsa, memiliki masa depan dan jiwa kepemimpinan. Pemuda menjadi salah satu unsur dari bagian negara yang perlu di bina dan diperhatikan. tanggal 28 Oktober 1928 melalui kongres pemuda pada masa itu, dicetuskanlah Sumpah pemuda yang merupakan ikrar kaum muda sebagai bukti dari perjuangan untuk persatuan atas nama bangsa Indonesia. Hal ini menjadi perhatian bahwa pengaruh kaum muda bagi sebuah bangsa sangatlah besar. Sikap yang ditunjukan pemuda tak lain adalah cinta tanah air atau Nasionalisme. Nasionalisme yang diharapkan pada jiwa rakyat Indonesia adalah Nasionalisme yang memperhatikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang beraneka ragam, membangun kesadaran kesatuan di dalam perbedaan (unity within diversity), dan perbedaan didalam kesatuan (diversy in unity). Guru PKn mempunyai fokus yang lebih mendalam untuk merealisasikan sikap Nasionalisme bagi generasi muda, karena Guru PKn mengemban tugas tidak hanya membuat peserta didik tahu dan hafal dengan pelajaran yang diberikan. Melainkan, Guru PKn harus membentuk warga negara melalui pendidikan dan menanamkan sikap Nasionalisme pada generasi muda. Namun, sikap Nasionalisme yang dimiliki Guru PKn sudah cukup baik atau justru perlu mendapatkan perhatian lebih. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial.
Kata Kunci : Sumpah Pemuda, Nasionalisme, Guru PKn
PENDAHULUAN
Pemuda merupakan harapan bangsa, memiliki masa depan dan jiwa kepemimpinan pemuda yang merupakan salah satu unsur dari bagian negara yang perlu di bina dan diperhatikan. Karena melalui kaum muda inilah bangsa mampu mengembangkan jati diri sebagai cerminan yang memiliki nilai-nilai budaya dalam segala aspek kehidupan. Apabila budaya bangsa sudah dimiliki dan didalami oleh generasi muda, maka jika gempuran globalisasi mampu diimbangi oleh bangsa sehingga tak terhempas arus globalisasi yang semakin besar. bagaimana peran generasi muda di dalamnya.
Partisipasi yang diberikan dalam berbagai aspek kehidupan, serta seberapa besarkah peran pemuda dalam pengambilan keputusan sehingga mampu ikutserta dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat khalayak.
Generasi penerus saat ini tidak harus melanjutkan perang melawan penjajah, melainkan bagaimana melanjutkan cita-cita para pejuang terdahulu dengan menjadi pemuda yang produktif, kreatif, kritis dan sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Seperti yang disebutkan p - ISSN : 1858-2893 e - ISSN : 2772-5151
VOLUME 18 NO. 2 EDISI OKTOBER 2020
Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan
Gatranusantara, Volume 18 No. 2, Edisi Oktober 2020 p - ISSN 1858 - 2893 e - ISSN 2722 - 5151
287 dalam Undang-Undang RI No. 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan yang berbunyi “Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Dapat dikatakan bahwa peran pemuda menjadi kunci utama dalam mewujudkan pembangunan Indonesia kearah yang lebih maju dan kreatif”.
Bangsa Indonesia yang tersusun atas berbagai macam etnis, bahasa, agama, dan wilayah merupakan suatu kesatuan meskipun berbeda-beda dengan kekhasan masing-masing. Unsur-unsur yang beraneka ragam masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri menyatukan diri dalam suatu persekutuan hidup bersama yaitu bangsa Indonesia (Kaelan, 2013: hlm. 317).
Pada tanggal 28 Oktober 1928 melalui kongres pemuda pada masa itu, dicetuskanlah Sumpah pemuda yang merupakan ikrar kaum muda sebagai bukti dari perjuangan untuk persatuan atas nama bangsa Indonesia. Hal ini menjadi perhatian bahwa pengaruh kaum muda bagi sebuah bangsa sangatlah besar.
Sama halnya dengan pemuda, Guru juga merupakan bagian terpenting dari sebuah negara.
Tanpa guru, pendidikan yang ada di Indonesia tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi teladan bagi peserta didik, yang bertujuan untuk membentuk penerus bangsa menjadi generasi yang taat dan patuh terhadap nilai dan norma.
Diharapkan pula, guru memberikan pengetahuan dan meningkatkan rasa nasionalisme yang ada pada peserta didik sehingga mampu menjadi warga negara yang mencintai bangsanya.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka Guru PKn mempunyai fokus yang lebih mendalam untuk merealisasikannya. Karena Guru PKn mengemban tugas tidak hanya membuat peserta didik tahu dan hafal dengan pelajaran yang diberikan, melainkan harus membentuk warga negara melalui pendidikan dan menanamkan sikap Nasionalisme pada generasi muda. Dengan adanya momentum sumpah pemuda ini, diharapkan tidak hanya generasi muda melainkan guru PKn pada khususnya mampu meningkatkan sikap nasionalisme sehingga ketika memberikan arahan dan menjelaskan pelajaran mampu memberikan contoh dan tindakan bukan hanya sekedar perkataan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial. Penelitian ini memiliki cara pandang induktif, berfokus pada makna individual, dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan (Cresswell, 2013: hlm.4)
Metode Kajian pustaka merupakan langkah awal dalam metode pengumpulan data penelitian.Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan.”Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.”(Sugiyono,2005:83)
PENGKAJIAN
1. Revitalisasi Sumpah Pemuda
Pemuda selalu berperan dalam setiap zaman. Ketika kolonialisme tidak lagi pada masanya, pemuda harus tetap memainkan peran dalam perang ekonomi global abad ini. Sumpah pemuda lahir karena adanya ruang-ruang sempit pemikiran kedaerahan bangsa ini. Mengusung semangat sumpah pemuda, kita harus menghapus batas-batas kedaerahan, agama maupun partai untukmemajukan negara ini sesuai cita-cita dari founding fathers (Widodo, 2012: hlm.9)
Perbedaan adalah kenyataan yang harus diterima dan bukan untuk dipertentangkan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa, dan terdapat 719 bahasa lokal/daerah. Menurut Penjelasan UU Nomor 1/PNPS/1965, agama yang diakui di Indonesia, yakni: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Disamping itu Indonesia dapat dibagi menjadi 23 lingkungan adat, 3.025 spesies binatang, 47.000 jenis tumbuh- tumbuhan, 300 gaya seni tari, dan 485 lagu daerah.
Perbedaan etnis, suku, asal usul, golongan, dan agama masih sering dieksploitasi untuk mengobarkan api permusuhan. Berbagai kerawanan sosial tersebut menjadi pemicu timbulnya ketidakpuasan masyarakat sehingga menimbulkan permasalahan yang mempengaruhi kehidupan
Gatranusantara, Volume 18 No. 2, Edisi Oktober 2020 p - ISSN 1858 - 2893 e - ISSN 2722 - 5151
288 kebangsaan dan kenegaraan. Ketidakpuasan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk tindakan- tindakan yang mengarah pada perpecahan diantara anak bangsa (Mulia, 2015: hlm 1).
Keberagaman bangsa Indonesia yang disebut diatas semakin memperlihatkan betapa kaya bangsa ini, hingga pada 28 Oktober 1928 kongres pemuda yang menjadi titik balik perjuangan bangsa indonesia menggugah semangat persatuan. Pemuda yang memiliki ide dan gagasan untuk menyatukan perjuangan atas nama bangsa Indonesia. Semangat cinta tanah air dan rasa persatuan para kaum muda di kala itu sepatutnya masih dan diteruskan oleh generasi muda zaman sekarang.
Sumpah Pemuda merupakan suatu komitmen bersama yang di pelopori kaum pemuda untuk bersatu melawan penjajah, memerangi kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan bidang pendidikan. Momen inilah yang membuka pintu bagi para pejuang hingga mencapai kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sumpah Pemuda sebagai catatan penting dalam sejarah Indonesia untuk mempersatukan perjuangan pemuda dalam merebut kemerdekaan.
Sumpah Pemuda meletakkan arah dan tujuan perjuangan menentang kolonialisme, salah satunya melalui pendidikan. Sumpah Pemuda sejatinya adalah cikal bakal menuju proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 (Susanto dkk, 2015 : hlm. 4)
Pemuda merupakan penerus perjuangan generasi terdahulu untuk mewujukan cita-cita bangsa. Pemuda menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa, Pemuda lah yang dapat merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Pemuda tidak selalu identik dengan kekerasan dan anarkisme tetapi lebih kepada daya pikir revolusionernya yang menjadi kekuatan utama. Sebab, dalam mengubah tatanan lama budaya bangsa dibutuhkan pola pikir terbaru, muda dan segar.
Peranan pemuda dalam kehidupan masyarakat, kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. pemuda mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum revolusioner yang sedang mencari peran dalam tatanan sosial. Pada saatnya nanti sewaktu mereka mendapatkan peran, dia akan menuangkan ide ide barunya ke masyarakat. Pemuda-pemudi generasi sekarang sangat berbeda dengan generasi terdahulu dari segi pergaulan atau sosialisasi, cara berpikir, dan cara menyelesaikan masalah. Pemuda-pemuda zaman dahulu lebih berpikir secara rasional dan jauh ke depan. Dalam arti, mereka tidak asal dalam berpikir maupun bertindak, tetapi mereka merumuskannya secara matang dan mengkajinya kembali dengan melihat dampak-dampak yang akan muncul dari berbagai aspek.
2. Sikap Nasionalisme
Nasionalisme dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dikenal sebagai sebuah kata sakti yang mampu membangkitkan kekuatan berjuang melawan penindasan yang dilakukan kaum kolonialis selama beratus-ratus tahun lamanya. Perasaan senasib dan sepenanggungan yang dialami mampu mengalahkan perbedaan etnik, budaya dan agama sehingga lahirlah sejarah pembentukan kebangsaan Indonesia (Kusumawardani & Faturochman, 2004:62)
Persatuan suatu bangsa (Nasionalisme) terdapat dua aspek kekuasaan yang mempengaruhinya yaitu kekuasaan politik (lahir) atau disebut juga kekuasaan materialis yang berupa kekerasaan dan paksaan. Kekuasaan idealis yang berupa nafsu psikis, moral, ide-ide dan kepercayaan- kepercayaan. Proses nasionalisme (Persatuan) yang dikuasai oleh kekuasaan fisik (lahir)(materialis) akan tumuh berkembang menjadi negara utopis idealis yang jauh dari realitas bangsa dan negara oleh karena itu bagi bangsa Indonesia prinsip-prinsip persatuan (Nasionalisme) itu tidak bersifat berat sebelah, namun justru merupakan suatu sitesis yang serasi dan harmonis baik hal-hal yang bersifat batin. Prinsip tersebut adalah yang paling sesuai dengan hakikat manusia yang bersifat monopluralis yang terkandung dalam Pancasila (Kaelan, 2013 : hlm 276).
Nasionalisme Indonesia harus direkonstruksi ulang bukan lagi menghadapi penjajah, tetapi menghadapi berbagai tantangan instrument budaya sebagai alat penjajahannya. Demikian pula persatuan Indonesia bukan lagi persatuan untuk menghadapi musuh dari luar tetapi persatuan untuk menuju Indonesia baru yang adil dan sejahtera yang pemimpin-pemimpinnnya membawa amanah rakyat sehingga merasakan denyut nadi rakyatnya.
Dengan demikian, Nasionalisme yang diharapkan ada pada jiwa rakyat Indonesia adalah Nasionalisme yang memperhatikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang beraneka ragam,
Gatranusantara, Volume 18 No. 2, Edisi Oktober 2020 p - ISSN 1858 - 2893 e - ISSN 2722 - 5151
289 membangun kesadaran kesatuan di dalam perbedaan (unity within diversity), dan perbedaan didalam kesatuan (diversy in unity) (Komalasari dan Syaifullah, 2009 : hlm. 142)
Nasionalisme merupakan salah satu nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila yang perlu diwariskan kepada generasi penerus termasuk para siswa di sekolah. Dengan menanamkan sikap nasionalisme, diharapkan siswa tumbuh menjadi manusia pembangunan yakni generasi yangmampu mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Peran semangat dan jiwa nasionalisme sangat penting artinya, sebagaimana pengertian Nasionalisme yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: ”Nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri atau kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan danmengabdikan identitas, intregitas, kemakmuran dan kekuatan bangsa, semangat kebangsaan”.
3. Guru Pendidikan Kewarganegaraan
Menurut Undang-undang nomor 14 Tahun 2005, “Guru ialah seorang pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.
Guru mengetahui apa yang akan diajarkannya pada siswa. Guru menyiapkan metode dan media pembelajaran setiap akan mengajar. Perancangan pembelajaran menimbulkan dampak positif berikut ini:
Pertama, siswa akan selalu mendapatkan pengetahuan baru dari guru, tidak akan terjadi pengulangan materi yang tidak perlu yang dapat mengakibatkan kebiasaan siswa dalam belajar.
Pengulangan materi perlu sebatas untuk penguatan.
Kedua, menumbuhkan kepercayaan siswa pada guru, sehingga mereka akan senang dan giat belajar. Guru yang baik akan memotivasi siswa unntuk meneladani kebaikan dan kedisiplinannya, meskipun siswa itu tidak mengatakannya pada guru. Perbuatan guru lebih efektif mendidik siswa dibanding perkataannya.
Ketiga, belajar akan menjadi aktivitas yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu bagi siswa, karena mereka merasa tidak akan sia-sia datang belajar ke kelas. Berbeda perasaan siswa saat berhadapan dengan guru yang mengajar selalu tanpa persiapan atau kadang siap kadang tidak siap (mengajar) (Musfah, 2011 : hlm.36).
Kepribadian guru telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007, pada ayat 2 pasal 3, yaitu : “Kepribadian guru sekurang – kurangnya mencakup kepribadian yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.”
Tabrani Rusyan (1990:14), mengemukakan bahwa fungsi dan peran guru adalah sebagai berikut :
a) Guru sebagai pendidik dan pengajar.
b) Guru sebagai anggota masyarakat, guru harus pandai bergaul dengan masyarakat.
c) Guru sebagai pemimpin, guru harus pandai memimpin.
d) Guru sebagai pelaksana administrasi akan dihadapkan kepada administrasi-administrasi yang harus dikerjakan di sekolah.
e) Guru sebagai pengelola proses belajar mengajar, harus menguasai situasi belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Wina Sanjaya (2008), merumuskan 4 peran guru dalam pendidikan yaitu:
a. Guru sebagai fasilitator; guru berperan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran
b. Guru sebagai pengelola; guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.
c. Guru sebagai demonstrator; sebagai demonstrator dapat diartikan guru harus menjadi teladan bagi siswa.
Gatranusantara, Volume 18 No. 2, Edisi Oktober 2020 p - ISSN 1858 - 2893 e - ISSN 2722 - 5151
290 d. Guru sebagai evaluator; guru tidak hanya mengumpulkan informasi tentang berbagai kelemahan dalam proses pembelajaran sebagai umpan balik dalam perbaikan selanjutnya, namun juga melihat sejauh mana siswa telah mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam hal ini, Guru PKn harus mempunyai kepribadian yang dapat memberikan contoh atau teladan yang baik untuk peserta didik, seperti tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh PPK yaitu untuk mendidik warga negara yang sejati yang bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara dan masyarakat dengan sifat-sifat sebagai berikut.
“Perasaan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa; perasaan cinta kepada alam; perasaan cinta kepada negara; perasaan cinta dan hormat kepada ibu dan bapak; perasaan cinta kepada bangsa dan kebudayaan; perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut pembawaan dan kekuatannya; keyakinan bahwa orang menjadi bagian tak terpisah dari keluarga dan masyarakat;
keyakinan bahwa orang yang hidup dalam masyarakat harus tunduk pada tata tertib; keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama derajatnya sehingga sesama anggota masyarakat harus saling menghormati; berdasarkan rasa keadilan dengan berpegang teguh pada harga diri; dan keyakinan bahwa negara memerlukan warga negara yang rajin bekerja; mengetahui kewajiban, dan jujur dalam pikiran dan tindakan’. (Djojonegoro,1996:75-76).
Dari semua karakteristik tersebut, karakteristik perasaan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, Cinta kepada negara, cinta kepada bangsa dan kebuyaan merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang harus dijunjung tinggi dan harus dimiliki oleh setiap pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa.
Pasal3 Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dinyatakan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak Mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Apabila memperhatikan rumusan di atas watak kewarganegaraan dapat ditujukkan dengan indikator warga negara Indonesia yang beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, Berakhlak Mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara khusus menegaskan bahwa PKn dimaksudkan untuk membentuk siswa menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Beberapa tantangan bagi guru PKn sangat banyak sekali yang dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap peranannya. Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2003:7).
Untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme pada siswa, tergantung bagaimana guru mengajarkan nasionalisme secara berkualitas. guru harus mampu memberikan contoh serta mempraktekkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dengan menanamkan sikap nasionalisme dengan menghargai kebhinnekaan, serta bangga sebagai bangsa Indonesia, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu Bendera, dan beberapa lagu nasionalisme dan patriotisme lainnya.
SIMPULAN
Wawasan Nusantara sebagai wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia yang timbul karena kesadaran diri dan tempaan sejarah mengandung nilai-nilai luhur bengsa, diantaranya: pengorbanan demi kepentingan nasional; kesetaraan dalam perjuangan mewujudkan cita- cita; kekeluargaan dalam menjalin hubungan harmonis antar individu, kelompok, antar individu dengan kelompok, masyarakat bangsa dan antar bangsa; dan gotong-royong dalam kepedulian untuk saling membantu dengan ikhlas guna saling memenuhi kebutuhan.
Sumpah Pemuda merupakan suatu komitmen bersama yang di pelopori kaum pemuda untuk bersatu melawan penjajah, memerangi kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan bidang pendidikan. Sumpah Pemuda meletakkan arah dan tujuan perjuangan menentang kolonialisme, salah satunya melalui pendidikan.
Gatranusantara, Volume 18 No. 2, Edisi Oktober 2020 p - ISSN 1858 - 2893 e - ISSN 2722 - 5151
291 Nasionalisme yang diharapkan ada pada jiwa rakyat Indonesia adalah Nasionalisme yang memperhatikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang beraneka ragam, membangun kesadaran kesatuan di dalam perbedaan (unity within diversity), dan perbedaan didalam kesatuan (diversy in unity)
Bangsa Indonesia harus memiliki keuletan dan ketangguhan dalam eksistensi, identitas, integritas dan terus berjuang agar mampu mengatasi setiap bentuk tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari mana saja. Oleh karena itu, Pemuda sebagai generasi penerus sebuah bangsa, kader Selakigus aset masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting bagi bangsa dan negara Indonesia.
DAFTAR Rujukan
Creswell, John W. Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixes. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Kaelan. 2013. Negara Kebangsaan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma
Komalasari, Kokom dan Syaifullah. 2009. Kewarganegaraan Indonesia : konsep, Perkembangan dan Masalah Kontemporer.Bandung : FPIPS
Mulia, Musdah.2015. Revitalisasi Esensi Sumpah Pemuda Untuk Memperkukuh Ketahanan Nasional.Jakarta
Musfah, Jejen. 2011. Peningkatan Kompetensi Guru : Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik.Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru
Rusyan, A. Tabrani. 1990. Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Yayasan Karya Sarjana Mandiri.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Kencana.
Somantri, Numan. 1976. Metode Pengajar civics. Jakarta: Erlangga Sugiyono. (2005) Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABETA
Susanto, Halilulloh dkk. 2015. Faktor-faktor Penyebab Rendahnya Pemahaman Nilai-Nilai Sumpah Pemuda. Lampung
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
Widodo,Sutejo.2012. Memaknai Sumpah Pemuda Di Era Reformasi. Semarang : Universitas Diponegoro
Winataputra, U.S.2012. Pendidikan Kewarganegaraan dalam Perspektif Internasional (Konteks, Teori, dan Profil Pembelajaran). Bandung: Widya aksara Pres
PETUNJUK DAN PERSYARATAN ARTIKEL UNTUK JURNAL GATRA NUSANTARA JURNAL GATRA NUSANTARA ditebitkan dua kali setahun, yakni bulan april dan oktober oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), FKIP Undana Kupang.
Tujuan : (1) menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan politik, hokum, social budaya dan pendidikan, pun dalam kajian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan khususnya pendidikan pada umumnya; (2) meningkatkan saling tukar pengtahuan antar-institusi; (3) memotivasi para dosen dan praktisi untuk menulis artikel ilmiah berdasarkan hasil penelitian dan atau jurnal kajian pustaka.
Beberapa petunjuk dan persyaratan penulisan/pengiriman artikel jurnal:
1. Pertimbangan utama diteimanya artikel, adalah yang isinya sesuai tujuan diatas
2. Naskah artikel berupa hasil penelitian dan atau kajian pustaka yang belum pernah dipublikasihkan Hasil Penelitian:
JUDUL : singkat, dituli dengan huruf besar/capital
NAMA PENULIS : ditulis tanpa gelar (tanpa catatan kaki);
INSTANSI ASAL : secara lengkap (termasuk program studi/jurusan, fakultas, bagi yang berasal dari PT)
ABSTRAK : dalam bahasa Indonesia tau ingris, maksimal 150 kata KATA KUNCI : maksimal 5 kata (bukan kalimat)
PENDAHULUAN : (tidak perlu ditulis, tapi langsung dimulai dengan kalimat pada paragraph pertama). Pada bagian ini juga mencakup perumusan masalah, tinjauan pustaka, tujuan dan manfaat)
MATERI DAN METODE : (sesuai dengan prosedur penelitian)
HASIL DAN PEMBAHASAN : (sedapat mungkin juga membandingkan kepustakaan yang dikutip)
SIMPULAN : (bukan kalimat/kata kuantitiatif, melainkan kualitatif)
DAFTAR PUSTAKA : (dicantumkan hanya pustaka yang dikutip dalam uraian) Kajian Pustaka (literature review)
Hampir sama format hasil penelitian, dengan urutan sebagai berikut: JUDUL, PENULIS/INSTANSI, ABSTRAK, KATA KUNCI, PENDAHULUAN, PENGKAJIAN, PENUTUP (terdiri dari Simpulan dan Rekomendasi), DAFTAR PUSTAKA
3. Naskah diketik pada kertas kuarto dengan 1 ½ spasi (font 12), jenis huruf times new roman, dengan format satu kolom. Margin yang digunakan adalah 2,5 cm (atas, bawah, samping kiri dan kanan). Maksimal 15 halaman (termasuk daftar pustaka, gambar, grafik, tabel, diagram dan lain- lain)
4. Naskah pada point 3 dibuat/diprin-out dua rangkap beserta disket 3 ½ inci
5. Gambar, grafik, tabel, diagram diberi nomor dengan huruf latin (bukan romawi) secara berurutan sesuai dengan peruntukan/penomoran masing-masing
6. Bahasa untuk jurnal adalah bahasa Indonesia 7. Penulisan daftar pustaka, berdasarkan kutipan:
(a) Buku : nama penulis, Tahun. Judul buku (cetak miring). Nama penerbit. Kota terbit.
Contoh : Pelto, G.H. and Pelto, P.J. 1979. The Cultural Dimension of the human Adventure.
Macmilan Publisihing Co., Inc., New York.
(b) Jurnal/majalah/bulletin : nama penulis. Tahun. Judul tulisan. Nama jurnal/majalah/bulletin (cetak miring). Edisi (vol/no).halaman (ditulis khusus halaman yang dikutip)
Contoh: Ly, P. 2005. KOnsep Mahan: Analisis Relevansinya Terhadap Penerapan KOnsep Wawasan Nusantara dalam BIdang Hankam. J. Gatra Nusantara, 1(1):14-16,19.
(c) Bunga rampai/kumpulan tulisan dalam buku: Nama Penulis. Tahun. Judul Tulisan. Dalam (ditulis nama editor), judul buku (cetak miring). Penerbit, kota terbit.
Contoh : Faisal, S. 2001. Varian-varian KOntemporer Penelitian Sosial. Dalam Bungin, B.
(ed). Metode Penelitian Kualitatif. P.T. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Bila penulis lebih dari dua orang, maka dalam uraian setelah penulis pertama diikuti kata “dkk” atau
“et al” Namun bila dalam daftar pustaka, maka seluruh nama penulis dicantumkan (tanpa dkk., atau et al).