Komunitas Srimpi Urip

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Vol. 1, No. 1 (2020): 1-20; doi.10.14421/ijsd.2020.011.01 https://jurnal.apsindo.org/index.php/ijsd/index

Komunitas Srimpi Urip

Solusi Penanganan Rekonsiliasi Konflik Berbasis Pendidikan Lingkungan

dan Pemberdayaan Ekonomi

Pinurba Parama Pratiyudha1, Kafa Abdallah Kafaa2, Kinanti Indah Safitri3 Abstrak

Konflik pada dasarnya merupakan salah satu fenomena sosial yang selalu mewarnai dalam dinamika kehidupan masyarakat. Melalui kehadiran fenomena konflik memuculkan usaha penciptaan integrasi. Keberadaan konflik agraria yang bersifat laten di Desa Nglumut, Magelang, Jawa Tengah ini menjadi suatu hal yang patut diperhatikan lebih lanjut terutama dalam kaitannya dengan penciptaan integrasi. Konflik laten ini bermula dari keberadaan petani salak dan penambang pasir yang hidup berdampingan, namun memiliki permasalahan tersembunyi yang dikarenakan oleh keberadaan aktivitas penambangan. Aktivitas penambangan pasir dianggap merusak lingkungan dan mengancam keberadaan lahan pertaniaan milik petani salak. Menanggapi hal tersebut, keberadaan Komunitas Srimpi Urip ditujukan guna menjadi strategi rekonsiliasi konflik melalui mediasi antar kedua kelompok masyarakat yang berkonflik. Tidak hanya itu, Komunitas Srimpi Urip juga berfungsi sebagai basis awal dari pelestarian lingkungan dan upaya pemberdayaan ekonomi. Dengan adanya Komunitas Srimpi Urip ini, maka kiranya akan menyentuh pada aspek integrasi yang kuat di masyarakat Nglumut.

Kata Kunci: Konflik Laten; Pemberdayaan Masyarakat; Pendidikan Lingkungan Abstract

Conflict is one of the social phenomena that always being a part of people’s daily lives. However, the existence of conflict triggers some efforts to create integration in society. Nevertheless, the existence of agrarian latent conflict in Village of Nglumut, Magelang Regency, Central Java Province which is deserve to noticed deeply with create integration especially. This latent conflict is originated by existence Salak farmers and sand miners which living side by side. Their presence caused a hidden issue which is caused by sand mining activities. Those are considered to be damaging the environment and threatening the existence Salak farmer’s farms. Accordingly, the existence of Komunitas Srimpi Urip aims to become conflict reconciliation strategy through mediation these two stackeholder (farmers and sand miners). Furthermore, Komunitas Srimpi Urip is also in function as base of environmental preservation and economic empowerment. The implementation of Komunitas Srimpi Urip will trigger strong integration in Nglumut community.

Keywords: Community Empowerment; Environmental Education; Latent Conflict

1Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Universitas Gadjah Mada (email korespondensi:

pinurba.parama.p@mail.ugm.ac.id)

2 Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Universitas Gadjah Mada (email: abdallah_ kafa@mail.ugm.ac.id)

(2)

Pendahuluan

Salah satu potensi konflik yang cukup besar di Indonesia selain konflik agama adalah konflik berbasis perebutan lahan (agraria). Permasalahan perebutan lahan bukanlah hal baru di Indonesia. Di mulai dari perebutan lahan pada era kolonial antara Belanda dengan kerajaan-kerajaan lokal hingga perebutan lahan berbasis politik pada zaman Orde Lama dan Orde Baru. Pada era modern ini konflik agraria semakin umum dilihat di media massa baik konflik yang melibatkan pihak swasta ataupun dengan warga masyarakat sendiri. Mulai dari Insiden Mesuji yang bersifat horizontal hingga konflik di daerah Urut Sewu yang melibatkan perusahaan sebagai salah satu aktor konflik. Menurut data dari Konsorsium Pembaharuan Agraria (2014) pada rentang 2009-2014 terjadi peningkatan jumlah kasus konflik agraria tiap tahunnya. Pada data terakhir terjadi lonjakan dari tahun 2013 hingga 2014 terjadi lonjakan jumlah kasus konflik agraria yang semula sebanya 369 kasus menjadi 472 kasus. Sementara itu masih dari sumber yang sama, bedasarkan jumlah konflik agraria yang terjadi pada tahun 2014 urutan pertama sebanyak 224 kasus merupakan konflik antara swasta dengan masyarakat, kemudian urutan kedua antara pemerintah dan warga sabanyak 115 kasus, dan di posisi ketiga masyarakat dengan masyarakat sebanyak 75 kasus.

Keberadaan kasus konflik yang cukup sering ini memberi dampak pada tidak terciptanya integrasi yang padu antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hal ini semakin memberi suatu permasalahan ketika masih ada konflik di dalam masyarakat terkait perebutan sumberdaya agraria (Ardianto,

2016; Dhiaulhaq & McCarthy, 2020; Lestari, 2013). Walaupun konflik antarwarga menduduki urutan ketiga terbanyak namun cukup menjadi catatan bagaimana jumlah ini masih cukup besar dibandingkan konflik antara masyarakat dengan perusahaan negara. Hal ini menjadi menarik karena hampir sebagian besar pemberitaan media terkait konflik lebih kepada konflik antara masyarakat dengan perusahaan swasta ataupun negara daripada antarmasyarakat itu sendiri. Posisi konflik antarmasyarakat yang tidak terendus juga menimbulkan catatan lagi dalam upaya penanganan mediasi dan rekonsiliasi konflik yang tidak bisa optimal.

Memang sedari awal keberadaan konflik tidak bisa diniscayakan dalam proses bermasyarakat, bahkan di dalam masyarakat komunal Indonesia. Sedari awal konflik sangatlah berperan besar dalam proses transformasi sosial (Klitzsch, 2014; Sujatmiko, 2012). Kehadiran konflik secara bersamaan memberi nafas dalam terciptanya integrasi. Integrasi inilah yang kemudian sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga pada titik ini dibutuhkan sebuah upaya pengelolaan konflik yang baik, terkhususnya dalam menciptakan integrasi dalam masyarakat. Pemetaan sosial, rekonsiliasi konflik, dan manajemen paska konflik menjadi bentuk umum yang wajib dilakukan dalam menciptakan integrasi masyarakat.

Berdasarkan latar belakang tersebut kemudian tulisan mengangkat rumusan penelitian mengenai bentuk solusi dalam upaya rekonsiliasi konflik terkhususnya yang terjadi antar masyarakat. Dalam kasus yang terjadi di Desa Nglumut, Kabupaten Magelang secara garis besar terjadi semacam

(3)

friksi antara dua kelompok masyarakat berkepentingan yaitu petani dan penambang pasir. Masing-masing kelompok ini memiliki kepentingan dalam pengelolaan lahan yang ada di Desa Nglumut. Namun yang menjadi catatan di sini adalah keberadaan konflik yang masih bersifat potensial sehingga belum terwujud dalam pergesekan secara langsung. Hal inilah yang kemudian memunculkan suatu solusi dalam melakukan pencegahan daripada menunggu masalah muncul. Komunitas Srimpi Urip adalah bentuk solusi yang penulis tawarkan dalam menjawab kasus tersebut. Berlandaskan pada semangat harmoni kehidupan, Komunitas Srimpi Urip menjadi suatu bagian mediasi dan pemberdayaan masyarakat dalam mencapai integrasi secara bersama. Dengan penguatan integrasi dari kelompok kecil ini dapat memberi pengaruh dalam penciptaan integrasi secara luas.

Metode Penelitian

Metode pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah peneltian kualitatif dengan menggunakan dasar pada studi kasus. Menurut Taylor dan Bogdan (1984) bahwasannya ‘penelitan kualitatif sebagai penelitan yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti’. ‘Studi kasus menyajikan investigasi yang bersifat menyeluruh dan memaknai karakter dalam keberlangsungan sebuah peristiwa, kehidupan individual, proses menegerial dan organisasi, perubahan masyarakat, hubungan internasional atau pertumbuhan industri’ (Yin, 2009, p. 2).

Lokasi penelitian dilakukan di Desa Nglumut, Kecamatan Srumbung-Kabupaten Magelang. Sementara waktu pengumpulan data observasi dan wawancara dilaksanakan pada tanggal 13-15 Oktober 2015. Observasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sengaja dan sadar untuk mengumpulkan data dan dilakukan secara sistematis dan sesuai prosedur (Creswell, 2013). Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan konflik laten antara penambang pasir dengan petani guna menyusun strategi rekonsiliasi. Observasi dilakukan dengan melihat kondisi terkait keberadaan lahan yang menjadi sumber permasalahan dan kondisi masyarakat Desa Nglumut. Selain itu dilakukan pupa wawancara secara tidak terstruktur.

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan responden terpilih yang memiliki pengetahuan, mendalami situasi dan mengetahui informasi yang diperlukan (Creswell, 2013). Wawancara dilakukan dengan mengumpulkan data informasi bedasarkan para tokoh masyarakat yang mengerti terkait kondisi permasalahan antara para penambang dengan petani salak Desa Nglumut. Data wawancara menunjukkan konflik laten terjadi karena adanya modal sosial berupa ikatan kekeluargaan yang kuat yang menjadi penghambat penciptaan kebebasan aspirasi terhadap situasi latensi yang berkembang di Desa Nglumut.

Kerangka Teori

Teori Konflik, Konflik Laten, dan Manifesto Konflik

Konflik menurut Lewis A Coser akan selalu ada dalam masyarakat dan menjadi

(4)

bagian dari fenomena dalam masyarakat. Meneruskan apa yang dirumuskan oleh Simmel, konflik dapat bersifat destruktif atau justru menjadi suatu bentuk konstruktif (Affandi, 2004; Coser, 1956; Parlevliet, 2015). Berdasarkan pemikiran Coser, adanya konflik dapat menciptakan suatu integrasi dalam masyarakat dengan memperkuat ikatan solidaritas. Keberadaan konflik memberi pengaruh pada munculnya suatu inisiasi bersama untuk mengerti satu sama lain antara pihak berkonflik sehingga diantara mereka akan mampu menciptakan sebuah kesepakatan dan resolusi yang kemudian menyelesaikan konflik tersebut (Coser, 1957; Morrill & Rudes, 2010). Pada akhirnya kemudian konflik justru memberi suatu momentum dalam terciptanya sebuah keberpahaman antar kelompok ataupun individu. Konflik memberi suatu inovasi baru dalam bentuk integrasi seperti apa yang dikemukakan di awal tadi. Adanya pemahaman dan keterlepasan emosi memberi dampak konflik untuk segara menuju suatu akhir (Wieviorka, 2013). Perspektif konflik Coser ini menjadi suatu pandangan dasar bagaimana kemudian dialakukan suatu manajemen konflik.

Pada dasarnya di dalam konflik terdapat suatu tahap yang belum mencapai pada bentuk manifest yaitu pada kondisi yang masih berupa lanten. Pada tahap laten kondisi ketertarikan untuk berkonflik belum terlalu bebas namun cepat atau lambat akan berubah pada bentuk manifest (Galtung, 2010; Rustad, Buhaug, Falch, & Gates, 2011). Dalam kondisi konflik yang masih bersifat laten mulai muncul kondisi masyarakat yang terfragmentasi, penetasi, dan eksploitasi. Hal demikian rupa dapat memancing timbulnya

perselisihan antara kelompok yang berpotensi bertentangan bilamana mencapai kondisi yang sudah termanifestasikan. Walaupun belum mencapai taraf pergesekan yang terbuka, konflik yang bersifat laten ini sudah mencapai bentuk dimana dalam masyarakat tidak tercapai suatu posisi yang seimbang.

Perspektif dasar dalam melakukan manajemen konflik adalah memosisikan konflik tersebut sebagai sarana dalam mencapai suatu rekonsiliasi bersama. ‘Konflik memberi ruang bagaimana adanya saling keberpahaman antar kelompok dan individu yang berkonflik’ (Eunson, 2007, p. 2). Senada dengan perspektif Lewis A Coser yang melihat konflik tidaklah menjadi permasalahan destruktif namun menjadi jalan menuju keberpahaman. Dalam melakukan kegiatan manajemen konflik terdapat berbagai prosedur yang salah satunya adalah mediasi.‘Mediasi merupakan langkah penyelesaian konflik melalui campur tangan pihak ketiga atau mereka yang berada di luar arena konflik (Jeong, 2010). Untuk melakukan mediasi salah satu elemen kuncinya adalah keberadaan mediator. ‘Secara dasar seorang mediator memiliki tiga peran utama dalam menengahi suatu permasalahan konflik’ (Hadi, 2006, pp. 106–107). Peran pertama yaitu memberikan pemahaman tentang resolusi konflik, keuntungan, dan kerugiannya. Kedua, mereka harus menganalisis dan mendesain rancangan mediasi. Peran yang ketiga adalah membantu mengembangkan pilihan-pilihan, membantu menyatukan keinginan para pihak dengan pilihan-pilihan yang dimaksud, serta memformulasikan kesepakatan.

(5)

Pemberdayaan Masyarakat

Memahami suatu mekanisme

pemberdayaan masyarakat, maka terlebih dahulu harus melihat arti dari masing-masing komponen penyusun pemberdayaan

masyarakat secara epistemologi.

‘Pemberdayaan berasal dari penerjemahan bahasa Inggris yaitu empowerment yang berarti pemberian kekuasaan atau daya’ (Wrihatnolo & Dwijowijoto, 2007, p. 1). Kata masyarakat sendiri menurut Soerjono Soekanto (Soekanto, 1987, pp. 106–107) merujuk pada ‘warga-warga sebuah desa, sebuah kota, suku atau suatu bangsa yang hidup bersama sedemikian rupa sehingga mereka merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan hidup yang utama’. Sehingga suatu pemberdayaan masyarakat didefinsikan sebagai usaha pemberian kuasa dan atau daya kepada sekelompok manusia yang saling hidup bersama dalam batas wilayah ataupun tujuan bersama mereka. Dalam pemberdayaan masyarakat, fokus paling penting pada dasarnya adalah bagaimana mendudukan masyarakat pada posisi subjek yang aktif, tidak pasif (Morales & Harris, 2014).

Pemberdayaan masyarakat memiliki berbagai komponen dasar utama dalam

menciptakan prosesnya. Komponen

tersebut dapat (Soetomo, 2011, 2013) dispesifikasikan menjadi tujuh komponen perspektif dasar pemberdayaan masyarakat yaitu ‘desentralisasi kekuasaan, bottom up development, berbasis variasi lokal, mengutamakan proses belajar, penciptaan keberlanjutan, social inclusion, serta berfokus pada transformasi kondisi’. Dalam Wrihatnolo & Dwidjowijoto (2007, p. 1) terdapat tiga tahap utama dalam suatu pemberdayaan

masyarakat: ‘penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan’.

Suatu pembangunan terutama

pemberdayaan haruslah mampu

menciptakan integrasi antara ekonomi, lingkungan, dan sosial (Dobler, Lajili, & Zéghal, 2015; Rauschmayer, Bauler, & Schäpke, 2015). Dalam rangka penciptaan suatu pemberdayaan ekonomi berbasis suistainable, diperlukan suatu penguatan basis lokal dalam masyarakat. Pemanfaatan ikatan masyarakat dan sumberdaya yang ada mampu menciptakan suatu peningkatan kondisi ekonomi secara bersama serta penciptaan lapangan kerja baru (Ferragina & Arrigoni, 2017; Fukuyama, 2001; Park, Lee, Choi, & Yoon, 2012). Sehingga dalam teknisnya industri kecil masyarakat perlu dikembangkan lebih lanjut. Dalam melakukan suatu pengembangan diperlukan suatu langkah konkret seperti: penguatan

basis dasar industri lokal, introduksi

inovasi teknologi, bantuan prasarana-sarana, penguatan kelembagaan, dan pemberian kapasitas pelatihan. Selain itu dalam ketentuan lain pemberdayaan juga memerlukan suatu model pendampingan asimetris. Pendampingan asimetris ini merupakan pendampingan yang tidak terseragamkan dan sesuai dengan objek yang didampingi (Drydyk, 2013; IRE, 2016) . Oleh karena itu, kembali lagi kemudian perlunya ditekankan keberadaan variasi lokal dan bottom up dalam penyelenggaraan program pemberdayaan.

(6)

Hasil

Telaah Permasalahan Konflik Laten di Desa Nglumut

Desa Nglumut adalah desa yang terletak di kaki gunung merapi dan sepanjang wilayah tersebut dikelilingi oleh sungai yang berhulu di puncak merapi. Di zaman dahulu, sungai tersebut adalah aliran lahar sehingga di dalam sungai mengandung material pasir yang melimpah. Desa Nglumut terletak di kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Di desa tersebut terdapat dua jenis kelompok masyarakat yang perbedaannya didasarkan pada kelompok profesi yakni kelompok petani dan kelompok penambang pasir. Aktivitas tambang di Desa Nglumut sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970an namun intensitas eksplorasi masih belum terlalu besar. Pada saat itu, warga mulai mengeruk pasir sebagai ekonomi subsisten namun seiring berjalannya waktu, aktivitas penambangan pasir menjadi sentra dominan perekonomian masyarakat di Desa Nglumut.

Berdasarkan data wawancara dengan bapak Joko seorang petani salak di Desa Nglumut, dalam sehari minimal satu lahan tambang pasir menghasilkan dua truk pasir siap angkut, harga pasir satu truk tersebut dijual kisaran Rp.1.200.000-Rp.1.500.000 kemudian pendapatan tersebut dibagi antara pemilik lahan, pemborong dan pekerja tambang. Dan setiap pekerja tambang rata-rata perharinya mendapatkan uang sekitar Rp.100.000-150.000,-. Aktivitas pertanian buah salak tidak lagi diminati oleh warga sehingga sekitar 70% warga desa bekerja sebagai penambang pasir. Penambangan pasir tidak hanya dilakukan oleh warga yang tidak memiliki lahan perkebunan

salak, warga yang memiliki kebun salak juga mengkonversikan lahannya untuk dijadikan lahan penggalian pasir. Hal ini dikarenakan keuntungan dari aktivitas penambangan yang jauh lebih besar daripada bertani salak.

Menurut informasi bapak Mugiyono Kepala Dusun Tegal Rejo Kecamatan Nglumut, terkonfirmasi bahwa penduduk didaerahnya mata pencaharian utama adalah petani kebun salak dan penambang pasir. Dusun Tegal Rejo merupakan pusat aktivitas tambang. Dusun tersebut terdiri dari RT 8 dan RT 9 dengan jumlah kepala keluarga sebesar 61 KK. Penambangan pasir dikelola secara mandiri oleh masyarakat yang terbagi menjadi tiga yakni kelompok pemodal (pemilik lahan), Pengelola tambang (pemborong), pekerja tambang (pihak yang tidak memiliki lahan tambang). Dengan demikian pembagian keuntungan dibagi berdasarkan kelompok tersebut. Pak Mugiyono menyatakan bahwa Desa Nglumut merupakan desa wisata Magelang dengan keunikan dan karakteristik warganya yang berkebun salak.

Oleh sebab itu banyak warga yang beralih kegiatan ekonomi di sektor penambangan. Dari adanya peralihan sektor perekonomian masyarakat tersebut menjadi sumber adanya konflik agraria yang bersifat laten di Desa Nglumut. Penambangan pasir di Desa Nglumut bersifat ilegal karena tidak memenuhi syarat unsur-unsur ekologis yakni berkaitan dengan tidak adanya smelter untuk membuang sisa penambangan pasir. Kedua, tidak adanya izin dari pemerintah daerah Magelang. Akan tetapi tingkat eksplorasi pasir di desa tersebut semakin besar dengan adanya alat berat yang digunakan untuk mengeruk pasir. Bahkan penambangan pasir tersebut telah mengeksploitasi tebing-tebing

(7)

yang berada di pinggir sungai. Kerusakan tebing di sepanjang pinggir sungai, mengancam pertanian salak warga yang berada di atas tebing sehingga berpotensi longsor.

Aktivitas penambangan pasir juga menyebabkan sungai semakin dalam dan mengakibatkan petani kesulitan mendapatkan air untuk irigasi. Para petani salak harus membeli pipa saluran air dan kemudian memasangnya diwaktu musim kemarau dan kembali melepas pipa itu ketika musim penghujan. Masyarakat yang tidak setuju dengan aktivitas penambangan pasir yang merusak lingkungan memilih untuk tetap menjadi petani salak meskipun lahan perkebunan salak mereka harus hidup diantara lautan pasir. Tentunya, pasir yang masuk ke areal perkebunan salak menjadikan produktivitas tanaman menjadi berkurang. Terlebih lagi, banyak kesulitan yang dihadapi oleh petani salak akibat aktivitas ekonomi pertambangan tersebut selain mengalami dampak lingkungan. Masyarakat yang kontra tersebut tidak dapat melakukan sebuah penolakan yang lebih serius karena hal ini berkaitan dengan ikatan kekeluargaan warga desa yang telah menjalin kedekatan dalam kehidupan bertetangga.

Masyarakat petani merasa tidak enak hati untuk melanjutkan perkara ke pihak berwajib maupun mengorganisir untuk menolak aksi pertambangan pasir ilegal yang telah merusak kebun salak mereka secara lebih masif. Karena pekerja tambang di area tersebut juga merupakan bagian dari masyarakat yang tinggal di Desa nglumut. Masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian atau lahan tambang terpaksa untuk bekerja sebagai buruh tambang

pasir. Aktivitas tersebut merupakan sumber penopang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga para petani dan pekerja tambang hidup berdampingan di Desa Nglumut meskipun sebenarnya terdapat konflik yang bersifat laten karena adanya dualisme kepentingan ekonomi.

Pada dasarnya konflik laten muncul oleh karena keberadaan ikatan modal sosial yang terlalu dalam pada masyarakat di Desa Nglumut. Munculnya suatu perasaan ketidakenakan hati masyarakat yang terkhususnya berprofesi sebagai petani menjadikan mereka tidak ingin terbuka dengan ketakutan akan merusak harmoni dalam sistem masyarakat mereka. Hal ini menjadikan keberperanan modal sosial menjadi berdampak negatif dan justru menciptakan suatu konflik yang bersifat laten. Kemunculan potensi konflik ini dapat berkembang menjadi suatu permasalahan baru dan justru akan lebih susah dalam penyelesainnya daripada konflik yang muncul dari pertentangan antara dua masyarakat yang tidak terikat. Oleh karena ikatan sangatlah dalam maka ketika ikatan tersebut rusak akan menciptakan suatu pertentangan yang berlarut-larut. Kondisi yang sudah saling mengetahui antara kelompok yang bertentangan justru menciptakan suatu kesulitan untuk menemukan solusi rekonsiliasi.

Komunitas Srimpi Urip sebagai Solusi Penanganan Konflik Berbasis Pemberdayaan

Rekonsiliasi yang baik pada

dasarnya adalah rekonsiliasi yang mampu menyelesaikan masalah tidak hanya melalui perencanaan jangka pendek namun juga

(8)

melibatkan perencanaan jangka panjang.

Komunitas Srimpi Urip merupakan

solusi yang ditawarkan sebagai upaya penyelesaian pertentangan yang terjadi di Desa Nglumut, Magelang. Arti Srimpi Urip secara harfiah berarti “keseimbangan hidup” yang menunjukkan tujuan dari keberadaan Komunitas ini sebagai penjaga keseimbangan setiap komponen yang ada dalam masyarakat di Desa Nglumut. Terlebih lagi bagaimana Komunitas Srimpi Urip mampu menciptakan suatu kondisi yang harmonis dan meredam konflik yang akan muncul sehingga tercipta suatu keseimbangan sosial.

Keberfungsian Komunitas Srimpi Urip kiranya dapat digolongkan pada tiga pokok ranah kerja yaitu mediasi (identifikasi),

pelestarian (pengkapasitasan),dan

pemberdayaan (pendayaan). Mediasi sebagai puncak dari rangkaian proses identifikasi konflik merupakan langkah pertama yang digunakan dalam menyelesaikan konflik dengan peran pihak ketiga. Pelestarian sebagai bagian dari rangkaian proses pengkapasitasan merupakan langkah kedua setelah mediasi, lebih tepatnya usaha pelestarian lingkungan dengan menciptakan kesadaran lingkungan yang tinggi dan upaya bersama dalam menjaga keseimbangan dengan alam. Sementara langkah ketiga, pemberdayaan adalah upaya lanjutan jangka panjang dengan tujuan untuk memberikan bekal ilmu, keterampilan, dan kreatifitas kepada pihak yang terlibat konflik dengan harapan dapat mencegah timbulnya bibit konflik antara petani salak dengan penambang pasir di Desa Nglumut. Lebih jauh lagi, pemberdayaan ini juga menyangkut aspek ekonomi, yang mana pemberdayaan ekonomi ini bertujuan untuk menciptakan

suatu suistainable masyarakat Desa Nglumut terutama dalam menciptakan industri kecil bersama.

Komunitas Srimpi Urip dan Solusi Rekonsiliasi Konflik

Munculnya potensi konflik antara petani salak dan penambang pasir di Desa Nglumut dimungkinkan dapat mampu menciptakan suatu potensi konflik yang bersifat manifes untuk kedepannya. Sebelum melangkah pada pengkapasitasan dan pendayaan masyarakat dalam aspek ekonomi maupun lingkungan, diperlukan penyatuan dan penguatan kondisi sosial dalam masyarakat Desa Nglumut. Oleh karena itu, mediasi konflik merupakan langkah pertama dari Komunitas Srimpi Urip. Mediasi konflik ini menggunakan model pendampingan desa yang asimetris. Model ini merujuk pada kemandirian dan kepedulian masyarakat terhadap apa yang ada di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Pada konteks konflik Desa Nglumut ini, Komunitas Srimpi Urip mengajak secara bersama-sama kepada seluruh elemen masyarakat desa untuk menindaklanjuti solusi penyelesaian konflik yang ada. Sederhananya, Komunitas Srimpi Urip berperan sebagai wadah dalam penyelesaian konflik dengan tentu memanfaatkan masyarakat setempat sebagai subjek sekaligus objek dalam model pendampingan asimetris ini. Model pendampingan ini merupakan awalan dari serangkaian tahapan dalam penyelesaian konflik berbasis pemberdayaan di Desa Nglumut. Pada awalnya, Komunitas Srimpi Urip hadir sebagai kepedulian pihak ketiga atas kondisi yang terjadi di Desa Nglumut. Pihak ketiga ini secara sederhana adalah generasi muda (pemuda-pemudi) dan aktivis

(9)

pemberdayaan masyarakat terutama mereka yang bergerak dalam kepedulian masyarakat. Dipilihnya generasi muda sendiri oleh karena harapan peran generasi muda Indonesia sebagai seorang agen perubahan yang mampu terjun dalam segala persoalan yang terjadi dalam masyarakat.

Sebagai langkah awal, generasi muda yang menjadi pihak ketiga dalam mediasi haruslah terlibat langsung dan menjalin hubungan dengan masyarakat di Desa Nglumut, baik petani salak maupun penambang pasir atau kelompok masyarakat terkait. Dengan menjalin hubungan ini, maka pihak ketiga mampu mempelajari dan mengetahui setiap akar permasalahan serta kondisi masyarakat terutama dalam memetakan kemungkinan terjadinya konflik dan integrasi. Proses identifikasi ini dapat dilakukan melalui dialog bersama atau percakapan informal dengan setiap kelompok masyarakat di Desa Nglumut. Lebih jauh lagi, melalui penjalinan hubungan ini pihak ketiga dapat menjadi mediator dalam penyelesaian konflik di Desa Nglumut.

Setelah melakukan usaha menjalin hubungan bersama, kemudian diadakan penjajakan suatu mediasi bersama melalui forum dialog. Forum dialog ini dinamakan sebagai forum Hastha Brata. Nama tersebut diambil dari khasanah budaya Jawa kuno, terdiri dari 8 sifat yang baik, yakni sifat Surya (matahari), Bawana (bumi), Candra (bulan), Kartika (bintang), Tirta (air), Maruta (angin), Dahan (api), dan Samodra (lautan atau samudra). Sifat Surya (matahari) berarti menerangi dalam kegelapan, mampu membantu mengatasi kesulitan atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi; Bawana (bumi) berarti memiliki

peran sebagai ibu, mampu memelihara, mengayomi, mengasuh, dan memomong terhadap orang lain; Candra (bulan) berarti berlandaskan aspek-aspek sosio-emosional, memperhatikan harkat dan martabat sesama manusia; Kartika (bintang) berarti dambaan cita-cita, tumpuan harapan, sumber inspirasi, dan pemberi arah; Tirta (air) berarti memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan siapapun dan dimanapun; Maruta (angin) berarti mampu menyejukkan, membuat suasana menjadi sejuk, harmonis, dan menyegarkan; Dahan (api) berarti memiliki sifat panas, mampu membakar api semangat, berperan sebagai motivator atau inisiator; Samodra (lautan atau samudra) berarti memiliki sifat menampung semua kebutuhan, kepentingan, aspirasi, dan isi hati bagi orang lain (Suratno, 2006).

Dalam bagian ini pihak ketiga haruslah melakukan pendekatan secara personal dan pemberian pemahaman supaya tercipta masyarakat yang saling mengerti dan memahami akan urgensi dari mediasi konflik. Pada proses ini pihak ketiga tidaklah menjadikan masyarakat sebagai objek ceramah belaka, namun haruslah mampu menciptakan suatu dialog dengan masyarakat. Melalui proses pemahaman mediasi dengan dialog, pihak ketiga tidaklah memberikan penyadaran saja, namun juga mendapatkan suatu feedback dari masyarakat berupa saran dan tanggapan yang kemudian diolah kembali sebagai bahan untuk rencana mediasi yang akan dilakukan. Sederhananya, pihak ketiga atau mediator harus memiliki sifat Hastha Brata sebagaimana nama forum tersebut.

Melanjutkan proses penerimaan

(10)

masyarakat, kemudian dilakukan pra-pelaksanaan mediasi. Dalam pra pra-pelaksanaan ini menjadi awal dari munculnya Komunitas Srimpi Urip. Dalam bagian ini Komunitas Srimpi Urip dihidupkan oleh pihak ketiga dengan menggunakan partisipasi warga, sehingga kedepannya dapat mampu tercipta suatu keberlanjutan. Dalam pra-pelaksanaan mediasi ini warga diajak bersama untuk merancang akan bentuk forum yang diinginkan dan keberperanan masing-masing pihak yang terlibat. Unsur perangkat desa serta mereka yang dituakan dalam masyarakat Desa Nglumut menjadi prioritas warga dalam pra-pelaksanaan mediasi ini. Langkah selanjutnya masuk dalam mediasi. Mediasi secara umum akan dilakukan melalui forum dialog bersama (Hastha Brata). Dalam forum bersama ini pihak ketiga berfungsi sebagai mediator kedua belah pihak dan penengah dalam forum. Forum ini bertujuan menyatukan pendapat warga secara kolektif tanpa merugikan masing-masing pihak baik petani salak maupun penambang pasir. Dalam forum mediasi ini juga akan dibahas akan rencana selanjutnya terutama rencana pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Setelah dilakukan mediasi dan mampu mencapai kesepakatan, pihak mediator juga harus menciptakan suistainable dalam forum bersama. Kedepannya peran pihak ketiga dalam mediasi akan berkurang dan hanya sekedar mendampingi serta mengamati. Oleh karena perlu dilakukan suatu pembelajaran mediasi kepada warga. Pembelajaran mediasi ini bertujuan agar warga mampu menciptakan suatu upaya rekonsiliasi bersama terhadap setiap konflik yang muncul di kemudian hari. Lebih jauh

lagi pembelajaran ini mampu menciptakan penyelesaian konflik yang lebih baik tanpa melalui pihak ketiga karena masyarakatlah yang tahu akan konflik tersebut dan memiliki waktu yang tepat serta cara yang lebih tepat dalam menyelesaikan konflik yang akan datang.

Diskusi

Komunitas Srimpi Urip sebagai Basis Pelestarian Lingkungan

Sebagai bentuk pelakasanaan

pembangunan mikro berbasis keberlanjutan, Komunitas Srimpi Urip mengutamakan suatu kondisi yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan yang akan datang. Sehingga harus ada upaya pembentukan lingkungan yang masih bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang. Upaya pelestarian lingkungan merupakan tindak lanjut dari kondisi lingkungan yang dirusak oleh aktivitas penambangan pasir. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, kerusakan pengairan dan kualitas tanah menyebabkan kondisi lingkungan di Desa Nglumut tercemar dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat di luar aktivitas penambangan pasir.

Melalui Komunitas Srimpi Urip, masyarakat baik para petani maupun para penambang pasir diajak bersama saling melestarikan dan menjaga lingkungan. Pelestarian ini tidak hanya memberi dampak positif bagi keberlangsungan ekonomi petani salak, namun juga dapat menciptakan kehidupan yang berkelanjutan bagi penambang pasir di sana. Tanpa adanya suatu usaha pelestarian yang optimal, kerusakan ini dapat berdampak lebih parah

(11)

lagi kepada masyarakat seperti terbatasnya air bersih serta kondisi kesehatan yang menurun akibat aktivitas penambangan. Sehingga pada bagian awal ini diperlukan suatu penyadaran dan konsultasi bersama akan permasalahan lingkungan melalui forum Hastha Brata yang sudah disebutkan sebelumnya. Warga harus saling memahami dan mengerti akan kesulitan yang dialami masing-masing kelompok dan bergerak bersama untuk menangani permasalahan tersebut.

Komunitas Srimpi Urip menjadi basis awal masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk merencanakan serta bergerak dalam upaya pelestarian lingkungan. Setelah setiap warga mampu memahami dan mengerti melalui forum Hastha Brata, maka dilakukan suatu pengkapasitasan masyarakat. Pada bagian ini pihak ketigalah yang berperan dalam pengkapasitasan ini. Perlu diingat dalam tahap pengkapasitasan, pihak ketiga janganlah berkedudukan sebagai guru atau penyuluh. Mereka haruslah berposisi sebagai pendamping dan sekedar pemberi materi tanpa menerapkan suatu doktrinasi. Dalam pengkapasitan ini, masyarakat diberi suatu bimbingan dan materi akan upaya pelestarian lingkungan yang berkaitan dengan kondisi kerusakan alam yang terjadi di Desa Nglumut.

Setelah melalui tahap pengkapasitasan, masyarakat diajak bersama merumuskan tindakan yang akan dilakukan dalam pelestarian lingkungan. Dalam tahap ini seluruh masyarakat Desa Nglumut dilibatkan. Perancanaan ini dilakukan secara bersama dengan tujuan mampu memetakan kondisi kerusakan lingkungan secara rill dan sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya

terjadi. Selain itu dengan dilibatkannya warga maka akan timbul upaya untuk belajar akan penataan lingkungan serta meningkatkan kemampuan warga untuk menyesuaikan upaya pelestarian lingkungan dengan potensi sosial dan budaya yang mereka miliki. Dari perencanaan yang dilakukan kemudian dilaksanakan tindakan nyata dari upaya pelestarian dan penjagaan kondisi alam lingkungan. Pada tahap terakhir kemudian dilakukan evaluasi bersama atas program yang telah berjalan.

Komunitas Srimpi Urip dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Pemberdayaan ini merupakan

pengembangan sektor ekonomi kerakyatan berdasarkan potensi lokal yang ada di Desa Nglumut. Seperti yang diketahui, Desa Nglumut merupakan salah satu daerah pengekspor buah salak di berbagai negara. Jenis salak yang dihasilkan adalah jenis salak pondoh yang banyak diminati oleh konsumen. Dengan banyaknya perkebunan salak di Desa Nglumut, maka dapat dikembangkan pula industri rumah tangga yang bergerak dalam pengolahan buah salak menjadi aneka camilan seperti keripik salak, asinan salak, dan manisan salak.

Adanya pengembangan industri rumah tangga ini juga menjadi alternatif solusi bagi masyarakat agar tidak mengandalkan aktivitas ekonomi di sektor penambangan

yang memiliki dampak langsung

terhadap kerusakan lingkungan. Untuk tahap awalnya, sama seperti pelestarian lingkungan diadakan forum komunikasi bersama dan kemudian diikuti dengan pengkapasitasan. Forum komunikasi ini

(12)

tetap terintegrasi dengan forum Hastha Brata guna memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi dan menguatkan hubungan antarsesama anggota forum. Dalam forum komunikasi ini akan disatukan pandangan seluruh penduduk dalam menciptakan suatu industri mikro berdaya. Kemudian dalam tahap pengkapasitasan akan dilakukan pembekalan dan pelatihan penduduk di Desa Nglumut dalam penciptaan dan manajemen industri mikro. Target utama dalam kegiatan ini adalah sektor rumah tangga, seperti ibu rumah tangga dan pemuda-pemudi Desa Nglumut. Khusus dalam sektor rumah tangga ini fokus utama adalah ibu rumah tangga dari keluarga penambang pasir untuk menciptakan kondisi ekonomi yang suistainable bagi keluarga penambang. Namun, nantinya semua warga dapat terlibat dalam industri ini.

Pada tahapan pembangunan industri mikro ini, Komunitas Srimpi Urip akan berperan sebagai penggerak bersama dan penggalang modal secara swadaya dalam mengawali keberadaan industri. Dalam pemodalan, modal utama adalah apa yang dimiliki oleh warga, sementara modal dari pihak lain (pemerintah dan swasta) menjadi modal cadangan dalam usaha pemberdayaan ini. Hal ini dilakukan agar dapat tercipta masyarakat yang tidak tergantung akan suntikan dana dari luar. Untuk mendukung upaya ini, maka sebelumnya diperlukan pelatihan manajemen keuangan dalam masyarakat. Dengan adanya kemampuan manajemen ini maka masyarakat akan mampu menggunakan apa yang mereka miliki untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai untung yang tinggi.

Pada sisi lain, industri mikro ini juga menjadi tahapan awal dalam pembentukan Badan Usaha Milik (BUM) Desa. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa pembentukan BUM Desa merupakan amanat dari konstitusi sebagaimana yang telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Keberadaan BUM Desa di desa Nglumut juga masih belum ada. Lebih jauh lagi, melalui pemberdayaan ekonomi berbasis industri mikro ini, masyarakat Desa Nglumut dapat membantu dalam pembentukan BUM tersebut. Nantinya semua kegiatan industri mikro ini dinaungi langsung oleh BUM Desa. Masyarakat dalam melakukan produksi maupun distribusi, semuanya telah terintegrasi dalam BUM Desa ini. Lebih tepatnya, BUM Desa berperan sebagai wadah dalam pengembangan industri mikro khususnya dan kegiatan ekonomi masyarakat Desa Nglumut pada umumnya.

Meskipun pada dasarnya fokus pemberdayaan ekonomi ini adalah untuk menciptakan suistainable bagi para penambang pasir, namun para petani salak tetap akan mendapatkan keuntungan pula dari pemberdayaan ini. Fokus buah salak sebagai bahan baku industri utama dapat menciptakan peningkatan ekonomi bagi para petani salak. Jumlah produksi salak yang digunakan sangatlah banyak dan petani salak dapat pula meningkat kondisi ekonomi mereka seiring pemakaian buah salak sebagai bahan utama industri ini. Dengan demikian, pemberdayaan ini dapat mampu menciptakan peningkatan kesejahteraan bersama yang menguntungkan semua pihak.

Solusi komuunitas Srimpi Urip merupakan wujud keberdayaan masyarakat

(13)

dalam menghadapi tantangan global. Tanpa adanya integrasi dapat terjadi kondisi ekonomi yang kian timpang yang semakin mendukung disintegrasi. Permasalahan konflik petani salak dan penambang pasir Desa Nglumut memberi dampak pada proses integrasi tersebut. Meskipun bersifat kecil, apabila tidak segera diselesaikan maka hanya akan menjadi masalah yang kian menumpuk. Penyelesaian masalah kecil dapat memberi efek yang besar terhadap masalah yang lebih besar. Komunitas Srimpi Urip mengedepankan suatu integrasi bersama melalui pemberdayaan dalam mempercepat kemajuan ekonomi dan sosial. Tanpa adanya kemajuan ekonomi dan sosial ini, masyarakat kita tidak akan mampu beradaptasi secara baik dalam pasar bebas tanpa melepas identitas lokal mereka. Pendekatan asimetris serta peran dari aktor masyarakat dapat memberi dampak pada masyarakat yang maju tanpa adanya dorongan untuk melepas indetitas mereka.

Penutup

Kondisi masalah tersebut dapat dilihat di

Desa Nglumut, Kabupaten Magelang. Konflik

yang bersifat laten antara petani salak dan penambang pasir memberi masalah dalam

perwujudan integrasi. Keberadaan konflik

pada keduanya menciptakan masyarakat yang tertutup dan hanya disibukan dengan pertentangan dua kubu dalam diri mereka tanpa menjawab setiap permasalahan global yang akan mereka hadapi. Integrasi sudahlah harus menjadi titik akhir dari latensi dan

manifestasi konflik uang terjadi. Oleh karena itu

diperlukan suatu dorongan untuk menciptakan

penyelesaian dalam konflik tersebut. Konflik

yang terjadi di Desa Nglumut merupakan

salah satu bentuk dari bagaimana latensi yang berlarut dapat memberi dampak yang luas. Bukan hanya berbicara dalam bentuk dampak ekonomi semata, namun bagaimana kemudian kasus yang terjadi menjadikan munculnya dampak sosial sekaligus lingkungan. Tulisan

ini kemudian selain berusaha melihat konflik

tersebut, juga berupaya untuk menghadirkan hasil dan diskusi dalam bentuk solusi.

Komunitas Srimpi Urip adalah jawaban yang dapat menjadi solusi di Desa Nglumut. Mengutamakan mediasi lalu diikuti pengkapasitasan dengan diakhiri pemberdayaan masyarakat, Srimpi Urip menjadi semacam wadah bagi masyarakat agar saling aktif dan partisipatif dalam pembangunan mandiri. Mediasi sebagai awal arah Komunitas ini adalah cara bagaimana sebelum dilakukan pemberdayaan dibutuhkan suatu integrasi bersama dalam menyelesaikan

konflik. Sementara itu pemberdayaan

berbasis ekonomi dan lingkungan menjadi cara untuk penyiapan diri dalam melakukan upaya pembangunan yang mandiri dalam menjawab tantangan global semacam MEA.

Oleh karena itu dalam setiap mediasi maupun

pemberdayaan ditekankan bagaimana perlunya pendampingan asimetris yang melibatkan hubungan yang berfokus pada peran aktif masyarakat.

Dalam pendukungan Komunitas Srimpi Urip, peran multi aktor sangat diperlukan dalam keberfungsian yang berkelanjutan. Peran tiga pilar utama pembangunan yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat diperlukan dalam mendukung pembangunan mandiri. Pemerintah dapat berperan dalam membentuk regulasi yang mendukung sehingga ada suatu obligasi yang memfasilitasi Komunitas Srimpi Urip. Swasta dapat

(14)

berkontribusi sebagai aktor dengan melalui bagian Corporate Social Responsibility (CSR) mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan serta sebagai wujud pembenahan market failure akibat pasar bebas. Sementara peran masyarakat sudah lebih jelas sebagai peran sentral dalam keberlangsungan Komunitas Srimpi Urip.

Referensi

Affandi, H. I. (2004). Akar Konflik Sepanjang Sejarah: Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ardianto, H. T. (2016). Mitos Tambang Untuk Kesejahteraan: Pertarungan Wacana

Kesejahteraan dalam Kebijakan

Pertambangan. Yogyakarta: Research Center for Politics and Government (PolGov).

Coser, L. A. (1956). The Function of Social Conflict. New York: Free Press.

Coser, L. A. (1957). Social Conflict and the

Theory of Social Change. The British Journal of Sociology, 8(3), 197–207. https://doi.org/10.2307/586859

Creswell, J. W. (2013). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Los Angeles: SAGE Publications.

Dhiaulhaq, A., & McCarthy, J. F. (2020).

Indigenous Rights and Agrarian Justice

Framings in Forest Land Conflicts in

Indonesia. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 21(1), 34–54. https://doi. org/10.1080/14442213.2019.1670243 Dobler, M., Lajili, K., & Zéghal, D. (2015).

Corporate environmental sustainability disclosures and environmental risk.

Journal of Accounting & Organizational Change, 11(3), 301–332.

Drydyk, J. (2013). Empowerment, agency, and

power. Journal of Global Ethics, 9(3),

249–262. https://doi.org/10.1080/17449 626.2013.818374

Eunson, B. (2007). Conflict Management.

Melbourne: John Wiley & Sons Australia.

Ferragina, E., & Arrigoni, A. (2017). The Rise

and Fall of Social Capital: Requiem for a Theory? Political Studies Review, 15(3),

355–367.

Fukuyama, F. (2001). Social capital, civil society

and development. Third World Quarterly,

22(1), 7–20.

Galtung, J. (2010). Peace Studies and Conflict Resolution: The Need for

Transdisciplinarity. Transcultural Psychiatry, 47(1), 20–32. https://doi. org/10.1177/1363461510362041

Hadi, S. P. (2006). Resolusi Konflik Lingkungan. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

IRE. (2016). Mengembangkan Model

Pendampingan Desa Asimetris di Indonesia (Policy Paper). Yogyakarta.

Jeong, H.-W. (2010). Conflict Management and Resolution: An Introduction. New York: Routledge.

Klitzsch, N. (2014). Disaster politics or disaster of politics? Post-tsunami conflict transformation in Sri Lanka

and Aceh, Indonesia. Cooperation and Conflict, 49(4), 554–573. https://doi. org/10.1177%2F0010836714545692 Konsorsium Pembaharuan Agraria. (2014).

Catatan Akhir Tahun 2014. Jakarta: Konsorsium Pembaharuan Agraria.

Lestari, N. I. (2013). Mineral Governance, Conflicts and Rights: Case Studies on

the Informal Mining of Gold, Tin and Coal in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 49(2), 239–240. https://doi.org/10.1080/00074918.2013.8 09847

Morales, M. C., & Harris, L. M. (2014). Using

Subjectivity and Emotion to Reconsider Participatory Natural Resource Management. World Development,

64, 703–712. https://doi.org/10.1016/j. worlddev.2014.06.032

Morrill, C., & Rudes, D. S. (2010). Conflict Resolution in Organizations. Annual Review of Law and Social Science, 6, 627–

(15)

651. https://doi.org/10.1146/annurev. lawsocsci.3.081806.112717

Park, D.-B., Lee, K.-W., Choi, H.-S., & Yoon, Y. (2012). Factors influencing social capital

in rural tourism communities in South Korea. Tourism Management, 33, 1511– 1520.

Parlevliet, M. B. (2015). Embracing concurrent realities: Revisiting the relationship between human rights and conflict resolution. University od Amsterdam. Rauschmayer, F., Bauler, T., & Schäpke, N.

(2015). Towards a thick understanding

of sustainability transitions — Linking transition management, capabilities and social practices. Ecological Economics,

109, 211–221.

Rustad, S. C. A., Buhaug, H., Falch, Å., & Gates, S. (2011). All Conflict is Local: Modeling Sub-National Variation in Civil Conflict

Risk. Conflict Management and Peace Science, 28(1), 15–40.

Soekanto, S. (1987). Sosiologi Suatu Pengantar.

Jakarta: CV Rajawali.

Soetomo. (2011). Pemberdayaan Masyarakat:

Mungkinkah Muncul Antitesisnya?

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soetomo. (2013). Masalah Sosial dan Upaya

Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Sujatmiko, I. G. (2012). Conflict Transformation

and Social Reconciliation: The Case of Aceh, Indonesia. Asian Social Science,

8(2), 104–111. https://doi.org/10.5539/ ass.v8n2p104

Suratno, P. (2006). Sang Pemimpin Menurut Asthabrata, Wulang Reh, Tripama, dan Dasa Darma Raja. Yogyakarta: Adi Wacana.

Taylor, S. J., & Bogdan, R. (1984). Introduction to qualitative research methods: the search for meanings. New York: Wilye & Sons. Inc. Retrieved from https://books.google.

co.id/books?id=cwlHAAAAMAAJ

Wieviorka, M. (2013). Social Conflict. Current Sociology, 61(5–6), 696–713. https://doi. org/10.1177/0011392113499487

Wrihatnolo, R. R., & Dwijowijoto, R. N.

(2007). Manajemen Pemberdayaan, Sebuah Pengantar dan Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Yin, R. K. (2009). Case Study Research: Design and Methods. Los Angels: SAGE Publications Ltd.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :