DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
KABUPATEN NATUNA
ii | R e n c a n a S t r a t e g i s D P U P R 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Kata Pengantar ……….. i
Daftar Isi ………... ii
Daftar Tabel ……… v
Daftar Gambar ……… vi
Daftar Lampiran ………. vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ……….. I-1 1.2. Landasan Hukum ……….. I-2 1.3. Maksud dan Tujuan ………... I-10 1.3.1. Maksud ………. I-10 1.3.2. Tujuan ……… I-12 1.4. Sistematika Penulisan ………. I-13
BAB II GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH (PD)
2.1. Aspek Geografi dan Demografi ……… II-1
2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah ………II-2
2.1.2. Wilayah Rawan Bencana ………...II-9
2.1.3. Potensi Sumber Daya ……….II-10
2.1.4. Demografi ………II-11
2.2. Aspek Pelayanan Umum ………II-14
2.2.1. Capaian Indikator Pembangunan Bidang Pekerjaan Umum danPenataan Ruang ………
II-15
2.2.2. Capaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum ……….
II-20 2.3. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Perangkat Daerah ………... II-21 2.3.1. Tugas dan Fungsi ………... II-21 2.3.2. Struktur Organisasi ………. II-57 2.4. Sumber Daya Perangkat Daerah ……….. II-58
Daftar Isi
R e n c a n a S t r a t e g i s D P U P R 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | iii
2.4.1. Sumber Daya Manusia ……….. II-58 2.4.2. Aset yang Dikelola ……….. II-60 2.5. Kinerja Pelayanan Perangkat Daerah ………. II-62 2.5.1. Capaian Kinerja ……… II-63 2.5.2. Kinerja Keuangan ………... II-63 2.6. Kekuatan dan Kelemahan ……….. II-64 2.6.1. Kekuatan ………. II-63 2.6.2. Kelemahan ………... II-65 2.7. Tantangan dan Peluang Pengembangan Perangkat Daerah ……….. II-65 2.7.1. Tantangan Pengembangan Perangkat Daerah ………... II-65 2.7.2. Peluang Pengembangan Perangkat Daerah ……… II-66
BAB III PERMASALAHAN DAN ISU – ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan
SKPD ……….. III-1 3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
Terpilih ……….. III-4 3.3. Telaahan Renstra Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
dan Renstra Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau ………... III-8 3.3.1. Renstra Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ……….. III-8 3.3.2. Renstra Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi
Kepulauan Riau ………. III-9 3.4. Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Telaah Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) ……….. III-12 3.4.1. Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ……… III-12 3.4.2. Telaah Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) ….……… III-19 3.5. Penentuan Isu-Isu Strategis ………. III-21
BAB IV TUJUAN DAN SASARAN ………. IV-1
iv | R e n c a n a S t r a t e g i s D P U P R 2 0 2 1 - 2 0 2 6
BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
5.1. Strategi ……….. V-1 5.2. Arah Kebijakan ………. V-2
BAB VI RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, SERTA PENDANAAN
6.1. Rencana Program dan Kegiatan ………. VI-1 6.1.1. Rencana Program ………. VI-2 6.1.2. Rencana Kegiatan ……… VI-3 6.2. Rencana Pendanaan Indikatif ………... VI-7
BAB VII KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN ……… VII-1
BAB VIII PENUTUP
8.1. Pedoman Transisi ……… VIII-1
8.2. Kaidah Pelaksanaan ……… VIII-2
R e n c a n a S t r a t e g i s D P U P R 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | v
Tabel 2.1. Wilayah Adminsitrasi Kabupaten Natuna menurut Kecamatan …………... II-3 Tabel 2.2. Banyaknya Pulau menurut Kecamatan Kabupaten Natuna ………. II-4 Tabel 2.3. Statistik Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2020.. II-13 Tabel 2.4. Capaian Indikator Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Tahun
2016 – 2020 ... II-15 Tabel 2.5. Panjang Jalan Menurut Pemerintahan yang Berwenang Mengelola dan
Jenis Permukaan, Kabupaten Natuna Tahun 2019 (Km) ………... II-18 Tabel 2.6. Capaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum
Kabupaten Natuna Tahun 2020 ……….. II-21 Tabel 2.7. Susunan Kepegawaian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Tahun 2021 ... II-58 Tabel 2.8. Kondisi Inventaris Peralatan dan Mesin ……….. II-61 Tabel 2.9. Realisasi Anggaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Natuna Periode 2016 – 2020 ……… II-64 Tabel 4.1. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah ……….. IV-1 Tabel 5.1. Tujuan, Sasaran, Strategi dan Kebijakan Dinas Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang Kabupaten Natuna Tahun 2021 – 2026 ……… V-3 Tabel 6.1. Program Prioritas dan Indikator Kinerja ………... VI-2 Tabel 6.2. Program Prioritas dan Rencana Kegiatan ………... VI-5 Tabel 6.3. Alokasi Anggaran Per Urusan ………... VI-7 Tabel 6.4. Alokasi Anggaran Per Program ……… VI-7 Tabel 7.1. Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang Kabupaten Natuna yang sesuai RPJMD Kabupaten Natuna 2021 – 2026 ……….. VII-2
Daftar Tabel
vi | R e n c a n a S t r a t e g i s D P U P R 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Gambar 2.1. Peta Kabupaten Natuna ………. II-2 Gambar 2.2. Peta Kawasan Strategis Kabupaten Natuna ……… II-11 Gambar 2.3. Piramida Penduduk Kabupaten Natuna Tahun 2020 ………. II-13 Gambar 2.4. Grafik Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Natuna Tahun 2016 –
2020 ………...
II-14
Gambar 2.5. Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan ………... II-59 Gambar 2.6. Proporsi Jumlah Pegawai Berdasarkan Klasifikasi Sarjanan dan Non
Sarjana ……….. II-60 Gambar 2.7. Kondisi Inventaris Barang dan Peralatan Kantor ………. II-62
Daftar Gambar
R e n c a n a S t r a t e g i s D P U P R 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | vii
Lampiran 1 RENCANA STRATEGIS DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN NATUNA 2022 - 2026
Daftar Lampiran
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-1
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna Tahun 2021 – 2026 merupakan bentuk pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), dengan berpedoman pada ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah.
Renstra Perangkat Daerah merupakan dokumen perencanaan untuk kurun waktu 5 (lima) tahun yang memuat tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Perangkat Daerah serta bersifat indikatif. Rancangan akhir Renstra Perangkat Daerah disusun dengan mengacu kepada Rencana Pembanguna Jangka Menengah (RPJMD) yang sudah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
I-2 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Perubahan perkembangan masyarakat saat ini telah memberikan implikasi terhadap tuntutan kebutuhan pelayanan yang lebih baik dan prima. Dalam menjawab tuntutan tersebut, maka instansi pemerintah harus mampu meningkatkan kinerja dan profesionalisme.
Peraturan Bupati Natuna Nomor 02 Tahun 2022 tentang Susunan organisasi, Tugas dan Fungsi serta tata kerja Dinas Pemerintah Kabupaten Natun, dimana Fungsi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna menyatakan bahwa Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Runag Kabupaten Natuna merupakan unsur pelaksana Pemerintah Kabupaten Natuna di bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Dinas Pekerjaan Umum mempunyai tugas melaksanakan sebagian kewenangan Desentralisasi, tugas Dekonsentrasi dan tugas pembantuan di bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sesuai dengan lingkup tugasnya.
Dengan tersusunnya Renstra Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna, diharapkan dapat menjadi arah dan pedoman penyelenggaraan pembangunan di bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Dokumen tersebut menerjemahkan perencanaan pembangunan setiap tahun dengan program dan kegiatan yang fokus dan terukur serta menunjang pencapaian sasaran pembangunan Kabupaten Natuna dari bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
1.2. Landasan Hukum
Adapun peraturan – peraturan terkait dengan dokumen perencanaan pembangunan yang menjadi landasan penyusunan Renstra ini adalah : 1. Undang – Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan
Kabupaten Natuna, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 181, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3902) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-3 Natuna, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4880);
2. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
3. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
4. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6042);
7. Peraturan Presiden 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional Tahun 2020 – 2024 (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 10);
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan
I-4 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Jangka Menegah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1213);
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 tentang Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;
10. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-5889 Tahun 2021 tentang Hasil Verifikasi, Validasi dan Inventarisasi Pemutakhiran Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;
11. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 2 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2009 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 20);
12. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 1 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2017 – 2037 (Lembaran Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2016 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 43);
13. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 3 Tahun 2021 tentang tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021 – 2026;
14. Peraturan Daerah Kabupaten Natuna Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Natuna Tahun 2011 Nomor 8);
15. Peraturan Daerah Kabupaten Natuna Nomor 20 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Natuna Tahun 2021 – 2026 (Lembaran Daerah Kabupaten Natuna Tahun 2021 Nomor 20).
16. Peraturan Bupati Natuna Nomor : 02 Tahun 2022 tentang Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Pemerintah Kabupaten Natuna.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-5 Renstra Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna merupakan salah satu dokumen perencanaan yang tidak dapat terlepas dari substansi dokumen – dokumen peraturan dan perencanaan yang menjadi landasan dan acuan penyusunan.
Pembangunan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dilandasi peraturan perundangan yang bersumber dari adanya amanat UUD 1945 Bab XA Hak Azazi Manusia Pasal 28H : “ Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta memperoleh pelayanan kesehatan “.
Amanat UUD 1945 tersebut secara hierarki dijabarkan dalam Undang – Undang, Peraturan Pemerintah maupun Keputusan – keputusan yang antara lain meliputi :
1. Bina Marga dan Bina Konstruksi :
a. Undang – undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi;
b. Undang – undang Nomor. 38 Tahun 2004 tentang Jasa Jalan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Konstruksi;
d. Peraturan Pemerintah Nomor. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Pembinaan Jasa Konstruksi;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan;
g. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan;
h. Peraturan Menteri PUPR Nomor 13 Tahun 2011 tentang Pemeliharaan dan Penilikan Jalan;
i. Peraturan Menteri PUPR Nomor 19 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan;
2. Penataan Ruang :
a. Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
b. Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
I-6 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
c. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Penataan Ruang;
g. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman;
h. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan Hak Atas Tanah;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
k. Peraturan Menteri PAN-RB Nomor 78 Tahun 2020 tentang Jabatan Fungsional Penataan Ruang;
l. Peraturan Menteri ATR Nomor 10 Tahun 2021 Pedoman Penyusunan, Peninjauan Kembali, Dan Revisi Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan, Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional, Dan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara;
m. Peraturan Menteri ATR Nomor 11 Tahun 2021 Tata Cara Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, Dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, Dan Rencana Detail Tata Ruang;
n. Peraturan Menteri ATR Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Pertimbangan Teknis Pertanahan;
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-7 o. Peraturan Menteri ATR Nomor 13 Tahun 2021 Tentang Pelaksanaan
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Dan Sinkronisasi Program Pemanfaatan Ruang;
p. Peraturan Menteri ATR Nomor 14 Tahun 2021 Tentang Pedoman Penyusunan Basis Data Dan Penyajian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Dan Kota, Serta Peta Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota;
q. Peraturan Menteri ATR Nomor 15 Tahun 2021 Koordinasi Penyelenggaraan Penataan Ruang;
r. Peraturan Menteri ATR Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah;
s. Peraturan Menteri ATR Nomor 19 Tahun 2021 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
t. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau No 1 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2017- 2037;
u. Peraturan Daerah Kabupaten Natuna Nomor 18 Tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2021 – 2041 (Lembaran Daerah Kabupaten Natuna Tahun 2021 Nomor 18).
4. Sumber Daya Air :
a. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 121 Tahun 2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air;
c. Peraturan Menteri PUPR Nomor 04 Tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai;
d. Peraturan Menteri PUPR Nomor 06 Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Sumber Air dan Bangunan;
e. Peraturan Menteri PUPR Nomor 07 Tahun 2015 tentang Pengaman Pantai;
I-8 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
f. Peraturan Menteri PUPR Nomor 08 Tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Jaringan Irigasi;
g. Peraturan Menteri PUPR Nomor 09 Tahun 2015 tentang Penggunaan Sumber Daya Air;
h. Peraturan Menteri PUPR Nomor 10 Tahun 2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan;
i. Peraturan Menteri PUPR Nomor 11 Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaann Jaringan Reklamasi Rawa Pasang Surut;
j. Peraturan Menteri PUPR Nomor 12 Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaann Jaringan Irigasi;
k. Peraturan Menteri PUPR Nomor 13 Tahun 2015 tentang Pengaggulangan Darurat Bencana Akibat Daya Rusak Air;
l. Peraturan Menteri PUPR Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Status Daerah Irigasi;
m. Peraturan Menteri PUPR Nomor 16 Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaann Jaringan Irigasi Rawa Lebak;
n. Peraturan Menteri PUPR Nomor 17 Tahun 2015 tentang Komisi Irigasi;
o. Peraturan Menteri PUPR Nomor 18 Tahun 2015 tentang Iuran Eksploitasi dan Pemeliharaann Bangunan Pengairan;
p. Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaann Jaringan Irigasi Tambak;
q. Peraturan Menteri PUPR Nomor 23 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Aset Irigasi (PAI);
r. Peraturan Menteri PUPR Nomor 26 Tahun 2015 tentang Pemeliharaan Alur Sungai dan atau Pemanfaatan Ruas Bekas Sungai;
s. Peraturan Menteri PUPR Nomor 27 Tahun 2015 tentang Bendungan;
t. Peraturan Menteri PUPR Nomor 28 Tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau;
u. Peraturan Menteri PUPR Nomor 29 Tahun 2015 tentang Rawa;
v. Peraturan Menteri PUPR Nomor 30 Tahun 2015 tentang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi;
w. Peraturan Menteri PUPR Nomor 31 Tahun 2015 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi;
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-9 x. Peraturan Menteri PUPR Nomor 37 Tahun 2015 tentang Izin
Penggunaan Air dan atau Sumber Air;
5. Cipta Karya :
a. Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2002 tentang Cipta Kerja;
b. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Konstruksi;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam rangka Mendukung Kemudahan Berusaha dan Layanan Daerah;
g. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung;
h. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2021 tentang Kemudahan Proyek Strategis Nasional;
k. Peraturan Menteri PUPR Nomor 2 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 05/PRT/M/2016 tentang Izin Mendirikan Bangunan Gedung;
l. Peraturan Menteri PUPR Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 27/PRT/M/2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung;
I-10 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
m. Peraturan Menteri PUPR Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penilai Ahli, Kegagalan Bangunan dan Penilaian Kegagalan Bangunan;
n. Peraturan Menteri PUPR Nomor 8 Tahun 2021 tentang Permen PUPR No. 8 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko Sektor Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
o. Peraturan Menteri PUPR Nomor 9 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko Sektor Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
p. Peraturan Menteri PUPR Nomor 18 Tahun 2021 tentang Standar Pembongkaran Bangunan Gedung;
q. Peraturan Menteri PUPR Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Bangunan Cagar Budaya yang Dilestarikan;
r. Peraturan Menteri PUPR Nomor 20 Tahun 2021 tentang Bangunan Gedung Fungsi Khusus;
s. Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau;
t. Peraturan Menteri PUPR Nomor 22 Tahun 2021 tentang Pendataan Bangunan Gedung;
u. Peraturan Menteri PUPR Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
v. Peraturan Daerah Kabupaten Natuna Nomor 18 Tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2021 – 2041 (Lembaran Daerah Kabupaten Natuna Tahun 2021 Nomor 18).
1.3. Maksud dan Tujuan 1.3.1. Maksud
Maksud dari Penyusunan Renstra Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna tahun 2021 – 2026 adalah sebagai berikut :
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-11 a. Sebagai arah dan pedoman perencanaan dalam
penyelenggaraan pembanguna infrastruktur urusan bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta pelaksanaan tugas – tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah sesuai tugas pokok dan fungsinya di Kabupaten Natuna terkait perumusan kebijakan dalam pembangunan daerah, sebagai tolak ukur untuk mengukur dan melakukan monitoring dan evaluasi kinerja tahunan, dan pengendalian pelaksanaan kegiatan sehingga pelaksanaan pembangunan urusan terkait bisa dilaksanakan secara terpadu, sinergis, harmonis dan berkesinambungan;
b. Memberikan gambaran tentang kondisi umum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna dalam kaitannya dengan tugas pokok dan fungsi organisasi sekaligus memberikan gambaran kondisi yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi dan misi kepala daerah;
c. Mempermudah pengendalian program serta pelaksanaan koordinasi dengan Perangkat Daerah di Lingkup Pemerintah Kabupaten Natuna terutama terkait monitoring, evaluasi, dan pelaporan hasil pelaksanaan kegiatan;
d. Untuk memudahkan seluruh jajaran aparatur Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna dalam mencapai tujuan dan sasaran, memahami dan menilai, sebagai pedoman menyusun program dan kegiatan serta kebijakan secara terpadu, terarah, terukur dan berkesinambungan dalam rentang waktu 5 (lima) Tahun untuk mewujudkan pelaksanaan pembangunan daerah yang efisien, efektif dan profesional, sekaligus sebagai langkah awal untuk melakukan pengukuran kinerja sasaran serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas program dan kegiatan agar mampu eksis dan unggul dalam persaingan yang makin ketat dan lingkungan yang cepat berubah.
I-12 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 1.3.2. Tujuan
Tujuan penyusunan Renstra Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna Tahun 2021 – 2026 adalah untuk :
a. Menterjemahkan visi, misi, tujuan, sasaran, program dan kegiatan pembangunan yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Natuna 2021 – 2026 secara nyata dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan wajib dan/atau urusan pemerintahan pilihan sesuai dengan tugas dan fungsi dengan merumuskan tujuan sasaran strategis dan kebijakan pembangunan bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;
b. Mewujudkan perencanaan dan penganggaran terpadu yang berbasis hasil/kinerja dengan menciptakan mekanisme pelaksanaan program dan kegiatan Perangkat Daerah yang adil dan merata;
c. Membangun sistem penilaian kinerja sasaran yang terukur, transparan, dan akuntabel dalam upaya menciptakan mekanisme pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pembangunan bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang efektif dan efisien;
d. Menselaraskan pencapaian sasaran, program dan kegiatan pembanguna dalam Renstra Perangkat Daerah dengan pencapaian sasaran, program dan kegiatan pembangunan yang ditetapkan dalam Renstra Kementerian atau Lembaga Pemerintah Non Kementerian untuk tercapainya sasaran Pembanguna Nasional.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | I-13 1.4. Sistematika Penulisan
Renstra Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna tahun 2021 – 2026 disusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada Bab ini mengemukakan secara ringkas latar belakang, landasan hukum, maksud dan tujuan serta sistematika penulisan.
BAB II GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH (PD)
Pada Bab ini memuat informasi tentang tugas, fungsi dan struktur organisasi, sumber daya, kinerja pelayanan, tantangan dan peluang pengembangan pelayanan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna.
BAB III PERMASALAHAN ISU – ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH (PD)
Pada Bab ini menjelaskan permasalahan, telaahan visi, misi dan program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih, telaahan Renstra Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Renstra Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau, Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) serta penentuan isi – isu strategisBAB IV TUJUAN DAN SASARAN
Pada Bab ini menyajikan secara lengkap tujuan dan sasaran jangka menengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna.
BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
Pada Bab ini menyajikan strategi dan arah kebijakan pencapaian tujuan dan sasaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna.
BAB VI RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN SERTA PENDANAAN
Pada Bab ini dikemukakan rencana program dan kegiatan beserta indikatornya, kelompok sasaran, dan pendanaan indikatif.
BAB VII KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN
I-14 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Pada Bab ini dikemukakan indikator kinerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Natuna.
BAB VIII PENUTUP
Pada bagian ini dikemukakan kesimpulan terkait kinerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Natuna.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-1
BAB
2
GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH (PD)
2.1. Aspek Geografi dan Demografi
Aspek geografi dalam perencanaan pembangunan daerah memiliki sisi strategis utamanya dalam memberikan dukungan baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan pembangunan daerah. Penjabaran aspek geografi akan memberikan gambaran utuh bagaimana karakteristik wilayah Kabupaten Natuna baik dalam kaitannya dengan luas dan batasan wilayah, letak geografis, topografi, hingga klimatologi wilayah. Selain itu, akan dilihat pula berbagai potensi pengembangan wilayah seperti yang telah diuraikan dalam perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten Natuna.
Analisis aspek demografi dalam pembangunan Kabupaten Natuna akan memberikan ukuran, struktur, maupun distribusi/persebaran penduduk baik secara series maupun kewilayahan. Analisis aspek demografi ini menjadi penting mengingat pelaksana utama pembangunan sekaligus obyek pembangunan adalah penduduk, sehingga keterkaitan antara demografi dengan aspek – aspek lain akan menjadi perlu untuk diperhatikan secara seksama.
II-2 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 2.2.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah
a. Luas dan batasan wilayah administrasi
Kabupaten Natuna berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga. Adapun batasan – batasan wilayah Kabupaten Natuna adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Laut Natuna Utara, Negara Vietnam, Sebelah Timur : Negara Malaysia Timur dan Provinsi
Kalimantan Barat, Sebelah Selatan : Kabupaten Bintan, dan
Sebelah Barat : Negara Malaysia Timur dan Provinsi Kalimantan Barat,
Gambar 2.1. Peta Kabupaten Natuna
Sumber : Bidang Penataan Ruang Tahun 2021
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-3 Secara administratif Kabupaten Natuna memiliki 15 Kecamatan serta 7 Kelurahan dan 70 Desa dengan luas wilayah mencapai 264.198,37 Km2, dimana sebagian besar terdiri dari wilayah perairan yakni seluas 262.167,07 Km2 dan sisanya daratan yang merupakan kepulauan seluas 1.978,19 Km2. Secara rinci, wilayah dengan luas daratan terluas yaitu Kecamatan Bunguran Barat seluas 248,38 Km2, sedangkan luas daratan tersempit yaitu Kecamatan Suak Midai seluas 12,45 Km2, seperti terlihat pada tabel II.1 berikut :
Tabel 2.1. Wilayah Adminsitrasi Kabupaten Natuna menurut Kecamatan
No. Kecamatan Luas Darat ( Km2 )
Luas Lautan ( Km2 )
Jumlah Kelurahan / Desa
Jumlah Pulau
1 Midai 13,80
216.113,42
3 1
2 Suak Midai 12,45 3 1
3 Bunguran Barat 248,38 5 16
4 Bunguran Batubi 214,81 5 1
5 Bunguran Utara 405,88 8 15
6 Pulau Laut 37,64 3 8
7 Pulau Tiga 41,55 6 15
8 Pulau Tiga Barat 17,41 4 3
9 Bunguran Timur 142,14 7 9
10 Bunguran Timur Laut 299,42 7 10
11 Bunguran Tengah 85,95 3 -
12 Bunguran Selatan 234,56 4 8
13 Serasan 44,99 7 34
14 Subi 146,33 8 23
15 Serasan Timur 26,61 4 10
1.978,19 216.113,42 77 154
Sumber : Bagian Pemerintahan Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna
b. Letak dan Kondisi Geografis
Secara geografis, letak Kabupaten Natuna berada pada posisi 1°16’ Lintang Utara sampai dengan 7°19’ Lintang Utara dan 105°00’
Bujur Timur 110°00’ Bujur Timur. Di wilayah Kabupaten Natuna terdapat 154 pulau, dengan 27 pulau (17,53 persen) yang berpenghuni dan sebagian besar pulau (127 pulau atau 82,47 persen) tidak berpenghuni. Pulau-pulau tersebut tersebar di 14 Kecamatan, dengan Kecamatan Serasan yang memiliki jumlah
II-4 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
pulau terbanyak yaitu 34 pulau (11,76% pulau berpenghuni dan 88,24% tidak berpenghuni), sedangkan Kecamatan Bunguran Tengah sama sekali tidak memiliki pulau. Adapun jumlah masing- masing pulau yang dimiliki setiap kecamatan tersaji dalam tabel di bawah ini.
Tabel 2.2. Banyaknya Pulau menurut Kecamatan Kabupaten Natuna
No. Kecamatan
Jumlah Pulau
Total
Pulau Persentase Berpenghuni
% Tidak
Berpenghuni %
1 Midai 1 100,00 - 0,00 1 0,65
2 Suak Midai - 0,00 1 100,00 1 0,65
3 Bunguran Barat 3 18,75 13 81,25 16 10,39
4 Bunguran Batubi - 0,00 1 100,00 1 0,65
5 Bunguran Utara 2 13,33 13 86,67 15 9,74
6 Pulau Laut 3 37,50 5 62,50 8 5,19
7 Pulau Tiga 3 20,00 12 80,00 15 9,74
8 Pulau Tiga Barat 1 33,33 2 66,67 3 1,94
9 Bunguran Timur 1 11,11 8 88,89 9 5,84
10 Bunguran Timur Laut 1 10,00 9 90,00 10 6,49
11 Bunguran Tengah - 0,00 - 0,00 - 0,00
12 Bunguran Selatan - 0,00 8 100,00 8 5,19
13 Serasan 4 11,76 30 88,24 34 22,08
14 Subi 7 30,43 16 69,57 23 14,93
15 Serasan Timur 1 10,00 9 90,00 10 6,49
27 17,53 127 82,47 154 100
Sumber : Kabupaten Natuna Dalam Angka 2021
c. Topografi
Berdasarkan kondisi topografinya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Ketinggian wilayah antar kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 sampai dengan 959 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 2 sampai 5 meter. Selain itu, pada umumnya struktur tanah di wilayah Kabupaten Natuna terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bahan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-5 d. Geologi
Berdasarkan kondisi geomorfologinya, Kabupaten Natuna merupakan perbukitan yang membujur dari tenggara barat laut dengan puncak Gunung Ranai dan dataran yang menempati bagian barat dari Pulau Bunguran. Pola aliran sungai di wilayah Natuna adalah radial hingga dendritik di sekitar Gunung Ranai, sedangkan ke arah barat laut berubah menjadi pola aliran trellis. Kabupaten Natuna merupakan cekungan tersier yang kaya minyak dan gas bumi terutama Cekungan Natuna.
Tanah merupakan unsur penting dalam kegiatan perekonomian, karena tanah merupakan wadah dari segala aktivitas baik itu aktivitas ekonomi, sosial maupun kegiatan lainnya. Jenis data tanah yang terdapat di wilayah studi diambil berdasarkan klasifikasi Pusat Penelitian Tanah (PPT) tahun 1983, sedangkan adanya perbedaan penamaan sebelum tahun 1983 karena tanahnya dibedakan dengan klasifikasi Pusat Penelitian Tanah (PPT) tahun 1983. Tanah-tanah yang terdapat di lokasi studi dapat dibedakan menjadi dua kelompok tanah, yaitu tanah mineral dan tanah organik.
Tanah di Kecamatan Bunguran Barat dan Kecamatan Bunguran Timur umumnya terdiri dari jenis tanah latosol, alluvial, podsolik serta organosol. Tanah-tanah tersebut terbentuk dari bahan induk batuan beku organosol. Tanah-tanah tersebut terbentuk dari bahan organik.
Jenis tanah alluvial dijumpai di sepanjang tanggul sungai utama, daerah meander serta daerah flood plain yang terdapat di belakang pantai marin. Jenis tanah latosol adalah jenis tanah mineral yang telah mengalami pelapukan lanjut, sangat tercuci sehingga batas – batas horison menjadi baur, kandungan mineral primer dan unsur hara rendah dengan warna tanah merah, coklat kemerahan, coklat, coklat kekuningan dijumpai dari muka laut hingga ketinggian 900 m diatas permukaan laut.
II-6 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Jenis tanah podsolik dijumpai pada ketinggian antara 50 m hingga 350 m dpl, sedangkan jenis tanah organosol dijumpai pada daerah cekungan di belakang sungai utama yang merupakan daerah rawa dan pada umumnya tingkat kematangan hemik sampai saprik.
Tingkat kesuburan tanah pada daerah studi yang dinilai berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Tanah (PPT) tahun 1983 tergolong rendah hingga sedang pada seluruh jenis tanah yang diteliti.
Tanah yang terdapat di Kecamatan Serasan dan Midai umumnya terdiri dari jenis tanah gleisol, latosol, alluvial, litosol dan organosol.
Tanah-tanah tersebut terbentuk dari bahan induk bahan organik (endapan pantai berupa pasir, kerikil dan sisa tumbuhan), batuan beku basa dan batuan vulkanik. Tanah alluvial sebagaian besar menempati satuan visiografi daratan pasang surut dan pantai marin terbentuk dari bahan induk alluvium pantai/endapan marin. Pada satuan fisiografi ini tanah terbentuk dari bahan endapan muda (alluvium- kolluvium) dan proses pembentukannya sangat dipengaruhi oleh fluktuasi air/genangan sehingga sifat-sifat hidromorfik di dalam penampangannya.
Jenis tanah gleisol dijumpai di Pulau Subi besar yang berkembang dari bahan alluvium-koluvium yang terdiri dari endapan halus dan kasar (campuran) serta lumpur marin menempati satuan fisiografi pasang-surut dan pelembahan dengan bentuk wilayah datar.
Perkembangan tanah sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang selalu jenuh air (hidromorfik) yang dicirikan oleh adanya gleid yang merupakan hasil dari proses reduksi. Kondisi drainase terhambat sampai sangat terhambat, kedalaman tanah umumnya dalam dengan perkembangan struktur yang sangat lemah pada lapisan atas dan pejal pada lapisan bawah. Tekstur lapisan atas lempung berpasir dan lapisan bawah lempung liat berpasir dengan reaksi tanah masam.
Tingkat kesuburan tanah pada daerah studi yang dinilai berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh PPT tahun 1983 tergolong rendah hingga sedang.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-7 e. Hidrologi
Kondisi hidrologi di Kabupaten Natuna dapat dilihat dari 2 hal, yaitu air permukaan dan air tanah. Air permukaan yang terdapat di wilayah Kabupaten Natuna berupa sungai, diantaranya Sungai Ranai yang terdapat di Kecamatan Bunguran Timur dan sungai lainnya. Hulu Sungai Ranai dan sungai-sungai kecil lainnya di Kecamatan Bunguran Timur ini umumnya di Gunung Ranai, sungai-sungai kecil tersebut diantaranya Sungai Ngusang, Sungai Sarang Batunagis, Sungai Batukilang, Sungai Jemengan, Sungai Siman dan Sungai Senipak.
Selain sungai, air permukaan terdapat juga di Kecamatan Bunguran Timur yaitu Air Terjun Gunung Ranai dan di Kecamatan Bunguran Tengah yaitu Air Terjun Air Lengit. Sumber air tanah yang terdapat di Kabupaten Natuna berkisar 1 – 3 m wilayah dataran, sedangkan pada wilayah yang topografinya berbukit – bukit kedalaman muka air tanah berkisar 1 – 7 m.
f. Klimatologi
Iklim di Kabupaten Natuna sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin. Dalam rentang musim penghujan yang terjadi di Natuna, ada musim yang populer di masyarakat Natuna terutama untuk kalangan nelayan yaitu musim angin utara. Musim ini dinamakan angin utara karena angina datang secara kontinyu dari arah utara melewati wilayah Natuna. Jika musim ini sedang berlangsung, nelayan di Kabupaten Natuna tidak berani turun melaut akibat gelombang, angin dan badai laut sangat berbahaya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Natuna memasuki musim angin utara pada bulan Januari, April, dan Agustus. Pada tahun 2019, musim angin utara berlangsung pada bulan Januari, Februari, April, Mei, Juni, Agustus, September dan Oktober.
Menurut pemantauan yang dilakukan oleh BMKG, suhu udara di Kabupaten Natuna berada pada rentang 21,6˚c sampai dengan 35,2˚c
II-8 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
pada tahun 2019. Suhu udara mencapai titik tertinggi di bulan Agustus dengan suhu maksimum adalah 35,2˚c. Namun jika merujuk pada suhu rata-rata harian, temperatur udara paling tinggi terjadi di bulan April dengan rata-rata mencapai 28,5˚c.
Data BMKG juga menunjukkan bahwa rata-rata tekanan udara di Kabupaten Natuna berada pada rentang 1.009,9 milibars per second (mbps) hingga 1.012,8 mbps pada tahun 2019. Pada bulan Februari, tekanan udara mencapai titik maksimum yaitu 1.016,7 mbps dengan rata-rata harian sebesar 1.012,8 mbps. Sedangkan pada bulan Mei, tekanan udara mencapai titik minimum yaitu 1.005,10 mbps dengan rata-rata harian 1.010,40 mbps.
Kelembapan udara di Kabupaten Natuna berada pada rentang 51 persen hingga 99 persen pada tahun 2019. Secara rata-rata, kadar uap air yang terkandung dalam udara ada sebanyak 82 persen hingga 90 persen di tahun 2019.
Kecepatan angin yang bergerak melewati Kabupaten Natuna bervariasi pada kecepatan 1 knot sampai 26 knot. Jika melihat pada rata-rata kecepatan angin harian, angin bergerak kencang pada bulan Januari dan Desember, dan melambat di bulan Mei, Juni, Juli.
Kecepatan rata-rata harian angina mencapai 7 knot di titik tertinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh musim angin utara yang sedang berlangsung di Kabupaten Natuna.
Penyinaran matahari di tahun 2019 terjadi cukup intens dengan rata- rata 65 persen per hari. Penyinaran matahari paling intens terjadi pada bulan Maret dengan nilai 88 persen. Di sisi lain, pada bulan juni, lama penyinaran matahari sangat rendah, hanya sebesar 44 persen. Pada tahun 2019, hujan turun selama 142 hari. Dapat dikatakan bahwa pada tahun 2019 musim Kemarau lebih panjang daripada musim hujan. Musim kemarau terjadi di Kabupaten Natuna pada Februari dan maret. Jumlah Curah hujan pada masing- masing
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-9 bulan yaitu 13,9mm dan 11,8mm. Sedangkan pada bulan Desember merupakan bulan dengan curah hujan tertinggi selama tahun 2019 dengan total curah hujan sebesar 286,2 mm.
g. Penggunaan Lahan
Pola pemanfaatan ruang wilayah dalam kawasan perkotaan dan perdesaan terdiri dari Kawasan lindung, Kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumberdaya buatan. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
2.2.2. Wilayah Rawan Bencana
Secara umum, berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi.Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain.
Dari hasil pendataan sementara yang dilakukan bagian kesiagaan dan penanggulangan bencana Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol dan Linmas) Natuna, menyatakan bahwa, kawasan pulau Natuna merupakan daerah yang berkawasan ekstrim. Hal ini dikarenakan letak geografis wilayahnya berada di ujung utara dan berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Salah satu titik rawan bencana di daerah kepulauan Kabupaten Natuna adalah daerah yang berpotensi tinggi terhadap masalah abrasi pantai, meliputi : Kecamatan Midai, Kecamatan Pulau Laut, Kecamatan Serasan dan Kecamatan Subi. Selain itu, daerah yang berpotensi mengalami angin puting beliung adalah Kecamatan Bunguran Utara.
II-10 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Sedangkan, kawasan yang berpotensi terjadi longsor berada di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Timur Laut.
2.2.3. Potensi Sumber Daya
Potensi pengembangan wilayah di Kabupaten Natuna sangat beragam, Kabupaten Natuna yang secara geografis terdiri dari kepulauan memiliki keunggulan di bidang parisiwata alam. Gugusan Kepulauan Natuna memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Natuna demikian elok dan memiliki banyak potensi, seperti Pantai Tanjung, Pantai Sebagul, Pantai Teluk Selahang, Pantai Setengar, Pantai Sisi Serasan dan Pantai Piwang dan sebagainya. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi penggemar wisata maritim seperti snorkeling, diving, pengamat habitat penyu, dan pecinta wisata bawah air dan wisata maritim lainnya.
Kabupaten Natuna dengan luas wilayah lautan sebesar 99,25 persen juga mempunyai potensi yang sangat besar di bidang perikanan.
Selain potensi pariwisata alam dan perikanan Kabupaten Natuna saat ini memang menjadi salah satu daerah andalan penghasil minyak dan gas Indonesia. Berdasarkan laporan studi Kementerian dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2002, cadangan minyak yang dimiliki Natuna mencapai 308,30 juta Barel. Sementara cadangan gas buminya terbesar se- Indonesia, yaitu sebesar 54,78 triliyun kaki kubik.
Tidak mengherankan jika Dana Bagi Hasil Migas menjadi sumber utama pendapatan Kabupaten Natuna.
Kawasan prioritas adalah kawasan yang strategis dikembangkan lebih dahulu karena potensi yang dimilikinya baik karena fungsinya maupun karena kegiatan tersebut mampu mendorong perkembangan sektor kegiatan lainnya. Pengembangan kawasan prioritas berdasarkan fungsinya lebih diarahkan kepada pemantapan dan peningkatan fungsi tersebut, sedangkan kawasan prioritas yang mempunyai multiplier effect (efek ganda) terhadap timbul dan berkembangnya kegiatan baru adalah dengan mendorong peningkatan kegiatan tersebut dengan cara
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-11 memberikan kemudahan/akses, pengembangan fasilitas dan penciptaan iklim investasi yang kondusif terhadap perkembangan kegiatan tersebut.
Rencana pola ruang dan kawasan strategi Kabupaten Natuna dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 2.2. Peta Kawasan Strategis Kabupaten Natuna
Sumber : RTRW Kabupaten Natuna Tahun 2021 – 2041
2.2.4. Demografi
Penduduk suatu wilayah administrasi merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan pembangunan daerah.
Hal tersebut dikarenakan sumber daya manusia berperan sebagai pelaksana pembangunan (subyek) sekaligus sebagai sasaran pembangunan (obyek). Oleh karena itu, penting untuk melihat karakteristik demografi penduduk baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya sebagai bagian dari pengkajian potensi sumber daya pelaksana pembangunan guna menentukan arah kebijakan sektoral selanjutnya.
Jumlah penduduk Kabupaten Natuna mengalami kenaikan di setiap tahunnya hingga menjadi sebanyak 81.495 jiwa pada tahun 2020.
II-12 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Kenaikan yang cukup tinggi ini disebabkan oleh berbagai fenomena demografi baik karena kelahiran maupun migrasi penduduk masuk, adapun pengurang penduduk Natuna disebabkan karena adanya kematian dan migrasi penduduk keluar.
Dari 81.495 jiwa yang tinggal di Kabupaten Natuna, penduduk tersebar hampir merata di seluruh kecamatan Natuna kecuali wilayah kecamatan Bunguran Timur yang memiliki jumlah penduduk paling tinggi mencapai 34,12 persen atau sebanyak 27.806 jiwa yang tinggal di kecamatan tersebut. Penghunian penduduk tertinggi ini dikarenakan Kecamatan Bunguran Timur merupakan kecamatan dimana pusat pemerintahan berada yakni ibukota Natuna (Ranai). Sehingga berbagai pusat kegiatan perekonomian juga berada pada kawasan yang sama.
Jika dilihat dari kepadatan penduduk, maka kepadatan penduduk Kabupaten Natuna secara umum sebesar 40,56 jiwa/km2 yang berarti dalam cakupan luas wilayah 1 km2 terdapat 40-41 penduduk yang berdomisili di Natuna. Jika dilihat menurut kecamatannya, kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Midai yang mencapai 261,16 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Bunguran Utara yang mencapai 11,15 jiwa/km2. Selain itu, pertumbuhan penduduk tertinggi dalam kurun waktu tahun 2018-2020 di Kabupaten Natuna sebesar 1,62 persen dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di Kecamatan Midai yang mencapai 9,80 persen.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-13
Tabel 2.3. Statistik Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2020
No. Kecamatan
Jumlah Penduduk
( Jiwa )
Distribusi Penduduk
( % )
Kepadatan Penduduk ( Jiwa / Km2 )
Pertumbuhan Penduduk 2019 – 2020
1 Midai 3.604 4,42 261,16 9,80
2 Suak Midai 1.739 2,13 139,68 - 6,89
3 Bunguran Barat 7.854 9,64 31,62 0,45
4 Bunguran Batubi 4.525 5,55 11,15 1,66
5 Bunguran Utara 2.319 2,85 61,61 0,65
6 Pulau Laut 3.727 4,57 89,70 1,46
7 Pulau Tiga 3.882 4,76 18,07 1,30
8 Pulau Tiga Barat 2.109 2,59 121,14 2,61
9 Bunguran Timur 27.806 34,12 195,62 1,94
10 Bunguran Timur Laut 5.372 6,59 17,94 2,16
11 Bunguran Tengah 3.677 4,51 42,78 2,55
12 Bunguran Selatan 3.349 4,11 14,28 2,72
13 Serasan 5.266 6,46 117,05 1,52
14 Subi 3.064 3,76 20,94 1,69
15 Serasan Timur 3.202 3,93 120,33 1,55
Jumlah 81.495 100,00 40,56 1,62
Sumber : BPS Kabupaten Natuna Tahun 2021 (Hasil Registrasi Penduduk)
Analisis kependudukan salah satu nya adalah piramida penduduk yang dilihat dari jumlah penduduk menurut karakteristik umur.
Piramida penduduk merupakan sebuah gambaran awal mengenai struktur kependudukan yang dilihat dari segi umur penduduk dan jenis kelamin untuk dianalisis mengenai produktivitas umur di suatu wilayah.
Gambar 2.3. Piramida Penduduk Kabupaten Natuna Tahun 2020
Sumber : BPS Kabupaten Natuna Tahun 2021
II-14 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Jika dilihat dari piramida penduduk Natuna, maka terlihat bahwa sebagian besar penduduk di Natuna adalah penduduk muda namun pada umur produktivitas tertentu (20-24 tahun) mengalami penurunan secara drastis dan meningkat kembali pada kelompok umur di atasnya.
Kemungkinan besar hal ini dikarenakan cukup tingginya atensi masyarakat umur 20-24 dalam mengenyam pendidikan kuliah di luar Natuna untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Natuna terjadi paling tinggi pada tahun 2020 yakni di angka 1,62%. Sebelumnya tahun 2019 turun di angka 1,04%. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Natuna ini masih cenderung rendah, karena masih di bawah angka 2. Sebagai pembanding laju pertumbuhan penduduk Kota Batam pada tahun 2020 adalah 2,32% dan laju pertumbuhan penduduk Provinsi Kepri pada tahun 2020 adalah sebesar 2,02%.
Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Natuna terjadi paling tinggi pada tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada Gambar berikut ini.
Gambar 2.4. Grafik Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Natuna Tahun 2016 – 2020
Sumber : BPS Kabupaten Natuna Tahun 2021
2.2. Aspek Pelayanan Umum
Pada bagian aspek pelayanan umum akan dijelaskan perkembangan kinerja yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna, yang mana masuk pada urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Berikut penjabaran aspek pelayanan umum sebagai bagian dari hasil pembangunan daerah selama ini.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-15 Salah satu fokus pembangunan infrastruktur dasar pembangunan adalah pembangunan sarana jalan yang merupakan salah satu bagian dari pembangunan suatu wilayah. Kondisi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi seperti sekarang ini, menuntut tersedianya prasarana jalan yang memadai.
Ketersediaan prasarana jalan yang memadai dapat mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
2.2.1. Capaian Indikator Pembangunan Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Capaian indikator pembangunan bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna adalah indikator yang mencakup panjang dan persentase jalan dalam kondisi baik, Rasio Jaringan Irigasi, Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (minimal dilalui roda 4), Panjang Jalan Kabupaten dalam kondisi baik ( > 40KM/Jam), Sempadan Sungai yang dipakai bangunan liar, Drainase dalam kondisi baik/ pembuangan aliran air tidak tersumbat, Persentase Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB (%), Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan, Ruang publik yang berubah peruntukannya.
Capaian lengkap indikator pembangunan bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Natuna Tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 2.4. Capaian Indikator Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Tahun 2016 – 2020
No. Indikator Satuan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020
1 Panjang jalan dalam
kondisi baik Km 576,86 441,86 441,86 460,85 649,18
2 Persentase panjang
jalan dalam kondisi aik % 56,72 56,72 56,72 63,54 55,62 3 Rasio Jaringan Irigasi Rasio 16,53 21,99 26,71 26,71 26,71 4 Panjang jalan dilalui
Roda 4 Km 1017,11 1039,19 1039,19 1103,79 1176,18
5 Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan
pemukiman penduduk (minimal
Km 809,72 954,27 1039,19 1103,79 1176,18
II-16 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 dilalui roda 4)
6 Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( >
40KM/Jam )
Km 287,32 126,05 274,868 239,82 245,97
7 Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air (minimal 1,5 m)
Km 0 0 0 0 0
8 Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan rumah liar
% 0 0 0 0 0
9 Sempadan sungai yang dipakai bangunan liar
% 1 1 1 1 4,93
10 Drainase dalam kondisi baik/
pembuangan aliran air tidak tersumbat
% 2,99 1,7 2,65 14 32,3
11 Pembangunan turap di wilayah jalan
penghubung dan aliran sungai rawan longsor lingkup kewenangan kabupaten
% n.a 1,5 2,5 2,5 2,5
12 Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik
% 29,76 34,46 36,35 34,46 51
13 Persentase Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB (%)
% 15 15 20,32 20,32 8,79
14 Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan
Rasio 1 : 229 1 : 168 1 : 129 1 : 42,9 1 : 52,8 15 Ruang publik yang
berubah peruntukannya
% 1,83 1,83 2,14 2,14 2,14
16 Luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan perkotaan
% 29,92 29,92 29,92 28,48 28,48
17 Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan
Rasio 1 : 1,8 1 : 1,8 1 : 1,8 1 : 1,4 1 : 1,4
18 Ketaatan terhadap
RTRW % 30 34,61 39,92 48,37 48,37
19 Rasio luas daerah irigasi kewenangan kabupaten/kota yang dilayani oleh jaringan
irigasi
Rasio 18,22 19,69 22,19 23,66 24,65
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-17 20 Jumlah
rumahntangga yang mendapatkan akses terhadap
air minum melalui SPAM jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi terhadap rumah tangga di seluruh kabupaten/kota
Rumah
Tangga 11.015 10.385 10.703 11.412 11.629
21 Persentase jumlah rumah tangga yang memperoleh
layanan pengolahan air limbah
domestik
% 63,22 63,22 70,45 63,14 63,14
22 Jumlah IMB yang diberikan oleh pemerintah dalam tahun
eksisting
IMB 26 29 15 18 15
23 Tenaga
operator/teknisi/analisis yang memiliki
sertifikat kompetensi
Orang 168 180 237 275 288
Sumber : Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Natuna, 2020
Berdasarkan data capaian kinerja pada table diatas, untuk indikator Rasio luas kawasan permukiman rawan banjir yang terlindungi oleh infrastruktur pengendalian banjir di WS kewenangan Kab/Kota, Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI No. 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria Dan Penetapan Wilayah Sungai (WS), WS di Kepulauan Riau secara keseluruhan merupakan WS Strategis Nasional. Untuk WS Strategis Nasional berdasarkan pasal 5 ayat (3) peraturan di atas menjadi kewenangan dan tanggung jawab Menteri, ini artinya Kabupaten Natuna tidak memiliki wilayah sungai yg menjadi kewenangan Kabupaten.
a. Panjang Jalan dan Kondisi Jalan di Kabupaten Natuna
Pada akhir tahun 2017 tercatat bahwa panjang jalan di Kabupaten Natuna adalah 817,95 Km yang terbagi menjadi 117,88 Km Jalan Negara, 143,33 Km Jalan Provinsi, 434,93 Km Jalan Kabupaten, dan 121,81 Km Jalan Non Status. Jumlah ini tidak menurun dibanding tahun 2016, namun Panjang Jalan Desa/Kelurahan tidak tercatat sehingga jumlahnya lebih kecil. Jika dilihat berdasarkan jenis permukaannya, Panjang Jalan di
II-18 | R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6
Kabupaten Natuna terbagi menjadi 277,41 Km Jalan Beraspal, 124,61 Km Jalan Beton, 256,40 Km Jalan Kerikil, dan 159,53 km jalan tanah. Seluruh Jalan Negara yang ada di Kabupaten Natuna sudah dilapisi aspal. Namun, untuk jalan provinsi dan Jalan Kabupaten hanya sebagian jalan yang sudah dilapisi aspal. Sementara itu, Jalan Non Status hanya sedikit yang dilapisi aspal dan masih didominasi dengan jalan yang dilapisi tanah yaitu sebanyak 71,90 Km.
Tabel 2.5. Panjang Jalan Menurut Pemerintahan yang Berwenang Mengelola dan Jenis Permukaan, Kabupaten Natuna Tahun 2019 (Km)
No. Jenis Permukaan Jalan
Nasional Provinsi Kabupaten Desa
/Kelurahan Jumlah
1 Aspal 117,88 92,51 126,32 0,00 336,69
2 Beton 0,00 21,62 134,23 250,50 406,35
3 Kerikil 0,00 29,20 134,59 0,00 163,79
4 Tanah 0,00 0,00 68,94 65,56 134,51
Jumlah 117,88 143,33 464,07 316,06 1.041,35
Sumber : Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, BP3D Kabupaten Natuna, 2020
Panjang Jalan dalam Kondisi Baik di Kabupaten Natuna tahun 2020 adalah 649,18 Km, ini meningkat terus dari tahun 2018 sepanjang 441,86 Km dan tahun 2019 sepanjang 460,85 Km. Namun jika dipersentasekan maka pada tahun 2018 kondisinya 26,71%, tahun 2019 dengan kondisi 63,54%
dan tahun 2020 dengan kondisi 55,62%.
Panjang jalan yang dilalui roda 4 dan Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (minimal dilalui roda 4) tahun 2020 adalah sepanjang 1.176,18 Km, sementara Panjang Jalan Kabupaten dalam kondisi baik tahun 2020 sepanjang 245,97 Km.
b. Kondisi Drainase dan Luas irigasi
Drainase dalam kondisi baik/pembuangan aliran air tidak tersumbat, capaiannya masih sangat kecil, namun secara bertahap ditingkatkan.
Tahun 2016 hanya 2,99% Drainase dalam Kondisi Baik dan tahun 2020 sudah mencapai 32,3%.
R e n c a n a S t r a t e g i s 2 0 2 1 - 2 0 2 6 | II-19 Luas Irigasi Kabupaten dalam Kondisi Baik, capaiannya selalu meningkat, yakni dari 29,76% pada tahun 2016 menjadi 51% pada tahun 2020.
Irigasinya ini penting sekali untuk membantu petani dalam penyediaan air bagi tanaman.
c. Kinerja Penataan Ruang
Dalam hal kinerja Penataan Ruang, capaian indikator Persentase Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB (%) berfluktuasi dan cenderung menurun dari 15% pada tahun 2016 menjadi 8,79% pada tahun 2020. Hal ini menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna agar capaian indikator Persentase Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB (%) mencapai 20% untuk RTH Publik dan 10% untuk RTH Privat.
Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan pada akhir periode adalah 1 : 37. Artinya dari 37 bangunan eksisting, hanya ada 1 bangunan ber-IMB.
Angka ini masih sangat kecil dan harus komitmen untuk meningkatkan kepatuhan bangunan gedung yang tertib dan teratur. Ruang publik yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Natuna 2011 – 2031 adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk polar uang solid yang memiliki fungsi lindung. Dalam periode akhir ruang publik mengalami perubahan peruntukannya adalah sebesar 2,14%. Angka ini relatif sama sejak tahun 2018, di mana sebelumnya adalah 1,83% pada tahun 2016 dan 2017. Hal ini terjadi karena tidak ada dinamika pergeseran dan perubahan pola ruang dalam periode tersebut. Ruang publik yang direncanakan dalam Pola Ruang tidak mengalami perubahan apabila dilihat dari tutupan lahan, hal ini juga memiliki relevansi dengan kondisi eksisting dimana belum ada kegiatan yang dapat mempengaruhi rencana pola ruang tersebut.
Perubahan peruntukan sebesar 2,14 % tersebar di beberapa lokasi, tersebar di Pulau Bunguran, Pulau Midai, Pulau Serasan dan beberapa pulau berpenghuni lainnya.