• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS

CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Manajemen

Program Studi S1 Manajemen

Oleh : Alfonsus Widiarto NIM : 182214005

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2022

(2)

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS

CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Manajemen

Program Studi S1 Manajemen

Oleh : Alfonsus Widiarto NIM : 182214005

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2022

(3)

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS

CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Manajemen

Program Studi S1 Manajemen

Oleh : Alfonsus Widiarto NIM :182214005

Telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing I

19 Mei 2022

Dr. Lukas Purwoto, M.Si. Tanggal………...

Dosen Pembimbing II

20 Juni 2022 Christina Heti Tri Rahmawati, S.T., M.Sc. Tanggal………..

(4)

SKRIPSI

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS

CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO Dipersiapkan dan Ditulis oleh :

Alfonsus Widiarto NIM : 182214005

Telah dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal 20 Juli 2022

Dan Dinyatakan Memenuhi Syarat SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Jabatan Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua Patrick Vivid Adinata, S.E., M.Si.

Sekretaris Maria Theresia Ernawati, S.E., M.A.

Anggota Dr. Lukas Purwoto, M.Si.

Anggota Christina Heti Tri Rahmawati, S.T., M.Sc.

Anggota Drs. Theodorus Sutadi, M.B.A

Yogyakarta, ______________

Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Dekan,

Tiberius Handono Eko Prabowo, M.B.A., Ph.D.

29 Juli 2022

(5)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Filipi 1:21

„Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan‟

„Wanting to be someone else is a waste of who you are’

(Ingin menjadi orang lain sama saja menyia-nyiakan siapa dirimu yang sebenarnya)

(Kurt Cobain)

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

Tuhan Yesus Kristus, teman setiaku

Kedua orang tuaku yang berjasa besar dalam hidupku

Teman-temanku yang selalu mendukung

Almamaterku Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

(6)

UNIVERSITAS SANATA DHARMA FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN MANAJEMEN-PROGRAM STUDI MANAJEMEN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, dengan ini menyatakan bahwa Skripsi dengan judul :

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS

CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO dan diajukan untuk diuji pada tanggal 20 Juni 2022 adalah hasil karya saya.

Saya juga menyatakan bahwa di dalam skripsi ini tidak terdapat hasil tiruan atau mengambil sebagian dan/atau keseluruhan dari tulisan orang lain. Seluruh gagasan dan rangkaian kalimat adalah hasil pemikiran dan pendapat saya bukan hasil pemikiran orang lain yang saya akui seolah-olah merupakan tulisan saya sendiri.

Saya mencantumkan sumber referensi atau penulis aslinya di setiap pendapat atau kalimat dari sumber terpercaya lainnya yang saya rasa mampu memperkuat hasil pemikiran saya dalam skripsi ini.

Bila di kemudian hari terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan plagiarisme, maka saya bersedia menerima sanksi yaitu skripsi ini digugurkan dan gelar akademik yang saya peroleh (S.M.) dibatalkan serta diproses sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku (UU No 20 Tahun 2003, pasal 25 dan pasal 70).

Yogyakarta, 29 Juli 2022 Yang membuat pernyataan,

Alfonsus Widiarto NIM : 182214005

(7)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Alfonsus Widiarto

Nomor Induk Mahasiswa : 182214005

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul

Pengaruh Servant Leadership Style dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kinerja Karyawan JTL Express Cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan

Ponorogo

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media yang lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat sebagaimana mestinya.

Yogyakarta, 29 Juli 2022 Penulis,

Alfonsus Widiarto

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih karunia dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Servant Leadership Style dan Komunikasi Interpersonal terhadap Kinerja Karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo”. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Manajemen Program Studi Manajemen, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.Penulis menyadari bahwa tanpa dukungan, bimbingan, bantuan, dan doa dari berbagai pihak, skripsi ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Tiberius Handono Eko Prabowo, M.B.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Patrick Vivid Adinata, S.E., M.Si. selaku Ketua Program Studi Manajemen, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Dr. Lukas Purwoto, M.Si. selaku dosen pembimbing I, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan sabar dan sepenuh hati sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

4. Ibu Christina Heti Tri Rahmawati, S.T., M.Sc. selaku dosen pembimbing II, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan sabar dan sepenuh hati sehingga skripsi ini menjadi lebih sempurna dan selesai tepat waktu.

5. Seluruh dosen dan karyawan yang telah membimbing dan menambah wawasan baru bagi penulis selama perkuliahan.

6. Agustinus Gunadi dan Christina Widiarti selaku orang tua yang selalu memberi dukungan, kasih sayang, doa tulus hati, nasihat, dan motivasi kepada penulis dari masa awal perkuliahan hingga pengerjaan skripsi selesai.

7. Mahasiswa Prodi Manajemen angkatan 18 kelas A yang telah mendampingi penulis selama masa perkuliahan.

(9)

8. Band Vox Amens yang selalu menghibur dan menemani penulis selama masa perkuliahan.

9. Kelompok “Pemoeda Pemalas” yang selalu memberi dukungan dan motivasi kepada penulis.

10. Kelompok “Mahasiswa Gabut” yang menjadi tempat nyaman bagi penulis untuk berkembang.

Penulis menyadari bahwa penyusunan dan penyelesaian skripsi ini masih banyak yang perlu diperbaiki.Untuk itu penulis mengharapkan masukan, kritik, dan saran dari berbagai pihak untuk dapat menyempurnakannya.

Yogyakarta, 29 Juli 2022 Penulis,

Alfonsus Widiarto

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ... v

HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI ... vi

HALAMAN KATA PENGANTAR ... vii

HALAMAN DAFTAR ISI ... ix

HALAMAN DAFTAR TABEL ... xi

HALAMAN DAFTAR GAMBAR ... xii

HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

HALAMAN ABSTRAK ... xiv

HALAMAN ABSTRACT ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Pembatasan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 9

E. Manfaat Peneltian... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 11

A. Manajemen Sumber Daya Manusia ... 11

B. Teori Kepemimpinan dan Servant Leadership Style ... 13

1. Teori Kepemimpinan ... 13

2. Definisi Servant Leadership Style ... 16

3. KarakteristikServant Leadership Style ... 17

4. Tugas dan Manfaat Kepemimpinan Yang Melayani ... 26

5. Aspek dan Dimensi Kepemimpinan Yang Melayani ... 29

C. Komunikasi Interpersonal ... 33

1. Definisi Komunikasi Interpersonal ... 33

2. Unsur Komunikasi Interpersonal ... 35

3. Karakteristik Komunikasi Interpersonal ... 37

4. Fungsi dan Tujuan Komunikasi Interpersonal ... 40

5. Sifat-Sifat Komunikasi Interpersonal ... 46

6. Bentuk-Bentuk Komunikasi Interpersonal ... 52

7. Komunikasi Interpersonal Yang Efektif ... 55

(11)

x

2. Indikator Kinerja ... 58

3. Faktor Yang Memengaruhi Kinerja ... 60

E. Penelitian Terdahulu ... 61

F. Kerangka Pemikiran ... 65

G. Hipotesis ... 68

BAB III METODE PENELITIAN ... 71

A. Pendekatan Penelitian ... 71

B. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 72

C. Populasi dan Sampel ... 72

D. Variabel Penelitian ... 73

E. Skala Pengukuran Variabel Penelitian ... 77

F. Sumber Data ... 77

G. Teknik Pengumpulan Data ... 78

H. Instrumen Penelitian dan Pengujian Instrumen ... 79

I. Teknik Analisis Data ... 82

J. Uji Hipotesis... 89

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 92

A. Gambaran Umum JTL Express ... 92

B. Logo JTL Express ... 94

C. Visi dan Misi JTL Express ... 94

D. Budaya Perusahaan dan Pelayanan ... 95

E. Struktur Organisasi... 98

F. Tugas dan Tanggung Jawab ... 98

G. Sumber Daya Manusia ... 100

H. Jam Operasional ... 101

I. Pemasaran ... 101

J. Lokasi Cabang ... 101

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 102

A. Pengujian Instrumen ... 103

B. Teknik Analisis Data ... 108

C. Pengujian Asumsi Klasik ... 116

D. Uji Hipotesis... 120

E. Pembahasan ... 124

BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN ... 129

A. Kesimpulan ... 129

B. Saran ... 129

C. Keterbatasan ... 130

DAFTAR REFERENSI ... 131

LAMPIRAN ... 138

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Ciri-ciri Servant Leadership Style ... 25

Tabel II.2 Karakteristik Komunikasi Interpersonal ... 38

Tabel III.1 Indikator Variabel Penelitian ... 76

Tabel III.2 Skala Jawaban ... 77

Tabel III.3 Skala Data Servant Leadership Style ... 84

Tabel III.4 Skala Data Komunikasi Interpersonal ... 85

Tabel III.5 Skala Data Kinerja Karyawan ... 86

Tabel IV.1 Gudang JTL Express ... 93

Tabel V.1Validitas Servant Leadership Style ... 104

Tabel V.2 Validitas Komunikasi Interpersonal ... 105

Tabel V.3Validitas Kinerja Karyawan ... 106

Tabel V.4 Reliabilitas Servant Leadership Style ... 107

Tabel V.5Reliabilitas Komunikasi Interpersonal ... 107

Tabel V.6 Reliabilitas Kinerja Karyawan ... 108

Tabel V.7 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin ... 109

Tabel V.8 Karakteristik Responden Menurut Usia ... 109

Tabel V.9 Karakteristik Responden Menurut Pendidikan Terakhir ... 110

Tabel V.10 Deskripsi Servant Leadership Style ... 112

Tabel V.11 Deskripsi Komunikasi Interpersonal ... 114

Tabel V.12 Deskripsi Kinerjas Karyawan ... 115

Tabel V.14 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov ... 117

Tabel V.15 Hasil Uji Multikolinieritas... 118

Tabel V.17Hasil Uji Regresi Linier Berganda ... 120

Tabel V.18Hasil Uji F ... 122

Tabel V.19 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 124

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.3 Kerangka Pemikiran ... 67

Gambar IV.2 Logo JTL Express ... 94

Gambar IV.3 Struktur Organisasi JTL Express Cabang ... 98

Grafik V.13 Grafik Normal P-Plot ... 116

Gambar V.16 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 119

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian ... 139

Lampiran 2: Skor Per item Variabel dan Rata-Ratanya ... 145

Lampiran 3: Hasil Output SPSS 23.0 ... 152

Lampiran 4: Surat Keterangan Penelitian ... 164

(15)

ABSTRAK

PENGARUH SERVANT LEADERSHIP STYLE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN JTL EXPRESS

CABANG MADIUN, NGAWI, MAGETAN, DAN PONOROGO

Alfonsus Widiarto Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2022

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) pengaruh secara simultan servant leadership style dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, 2) pengaruh servant leadership style terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, 3) pengaruh komunikasi interpersonal terhadap terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo yang berjumlah 45 orang.Analisis data menggunakan program aplikasi SPSS 23.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) servant leadership style dan komunikasi interpersonal berpegaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, 2) servant leadership style berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, 3) komunikasi interpersonal berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

Kata Kunci :Servant Leadership Style, Komunikasi Interpersonal, Kinerja Karyawan

(16)

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF SERVANT LEADERSHIP STYLE AND INTERPERSONAL COMMUNICATION ON EMPLOYEE PERFORMANCE

A Study on Employees of JTL Express in Madiun, Ngawi, Magetan, and Ponorogo Branches

Alfonsus Widiarto Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2022

This study aims to determine : 1) the simultaneous influence of servant leadership style and interpersonal communication on employee performance, 2) the influence of servant leadership style on employee performance, 3) the influence of interpersonal communication on employee performance. The type of this study is a sensus. The population of this study are all employees of JTL Express Madiun, Ngawi, Magetan, and Ponorogo branches, totaling 45 peoples. Data analysis uses SPSS 23.0. The results of the study show that : 1) servant leadership style and interpersonal communication have simultaneous influence on employee performance, 2) servant leadership style had a positive influence on employee performance, 3) interpersonal communication had a positive influence on employee performance.

Keywords : Servant Leadership Style, Interpersonal Communication, and Employee Performance.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Majunya teknologi membuat setiap pekerjaan menjadi mudah dan cepat.Seperti mbanking, memudahkan orang untuk melakukan transaksi pembayaran tanpa pergi ke bank atau ATM. Aplikasi jual/beli online (seperti Shopee, Tokopedia, dan lain-lain), memudahkan orang untuk belanja tanpa ke pasar atau mall.Ojek online, solusi untuk mereka yang malas mengendarai motor atau tidak ada kendaraan bermotor tapi ingin keluar rumah.Semua fasilitas teknologi sekarang ini sangat memanjakan orang-orang.

Selain mudah dan cepat, majunya teknologi juga membuat orang serasa tak berjarak.Komunikasi melalui WhatsAppbisa mendengar suara dan melihat rekan kita tanpa harus bertemu.Orang bisa belanja apapun, kapanpun, dan darimanapun barang tersebut dijual.Sebagai contoh aplikasi belanja online Shopee. Jika kita sudah membeli barang dan membayarnya, barang akansampai rumah atau alamat kita hanya dalam waktu 2-5 hari saja. Konsumen sangat dipuaskan dengan jasa yang diberikan produsen.Menurut Tjiptono (2001:74), jasa adalah aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Lupiyoadi (2006:148) juga mendefinisikan jasa adalah semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau konstruksi, yang biasanya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah (contoh : kenyamanan, hiburan kesenangan atau

(18)

kesehatan) atau pemecahan akan masalah yang dihadapi konsumen.Dari definisi di atas maka secara garis besar jasa merupakan aktivitas ekonomi (bukan produk fisik) yang ditawarkan produsen kepada konsumen untuk memuaskan konsumen tanpa menyebabkan terjadinya perpindahan kepemilikan.Menurut Tjiptono (2001:96), jasa memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan barang yakni tidak berwujud (intangibles), tidak dapat dipisahkan (inseparability), keanekaragaman (variability), dan tidak tahan lama (perishability). Tidak berwujud artinya tidak dapat dilihat, dirasa, diraba atau didengar.Tidak dapat dipisahkan artinya jasa tidak dapat dipisahkan dari proses produksi dan konsumsinya. Keanekaragaman yang artinya banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis tergantung pada siapa, kapan, dan di mana jasa tersebut dihasilkan.Dan yang terakhir tidak tahan lama berarti bahwa jasa bukan benda yang dapat disimpan.

Dengan demikian bila suatu jasa tidak dapat digunakan maka jasa tersebut akan berlalu begitu saja.Ada berbagai macamperusahaan jasa yang ada seperti jasa transportasi atau pengiriman barang, jasa keuangan, jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan sebagainya. Namun di sini peneliti akan mendalami perusahaan jasa pengiriman barang.

Dewasa ini banyak sekali perusahaan jasa pengiriman barangyang bermunculan untuk memanfaatkan peluang belanja online.Perusahaan jasa pengiriman barang adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang bergerak dibidang yang memberikan pelayanan pengiriman barang.Suatu barang akan dikirim karena adanya suatu kebutuhan untuk memindahkan atau mengirim barang dari satu tempat ke suatu tempat lainnya. Adapun bisanya juga pengiriman

(19)

barang bisa terjadi jika ada keadaan seperti adanya transaksi antara penjual dan pembeli barang dan adanya kebutuhan suatu barang di tempat lain.

Dikutip dari laman Bisnis.com pada 16 Desember 2021, survei yang dilakukan Snapcart menunjukkan 59 persen responden di Indonesia berbelanja secara daring selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hasil survei tersebut dilakukan terhadap 3.763 orang Indonesia selama 18-20 Mei 2020.Ramainya minat masyarakat untuk belanja online membuat jasa pengiriman barang juga meningkat.Perusahaan jasa pengiriman barang ini berlomba-lomba untuk meningkatkan kredibilitasnya dan menarik hati konsumen dengan memasang harga terjangkau dan proses pengiriman yang cepat.Namun dari ramainya perusahaan jasa pengiriman barang ini konsumen mencari jasa yang tercepat, sehingga ini menjadi tantangan bagi setiap perusahaan untuk bersaing.

Salah satu perusahaan jasa pengiriman barang yang lahir akhir-akhir ini adalah JTL Express.JTL Express adalah perusahaan jasa pengiriman barang yang berkantor pusat di kota Surabaya.JTL Express lahir pada tahun 2019 sebelum munculnya pandemi Covid-19.JTL Express memiliki cabang di seluruh kota di pulau Jawa dan beberapa cabang di luar pulau Jawa.Pada penelitian ini peneliti mengambil daerah penelitian di JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo dengan total karyawan 45 orang.JTLExpress cabang Madiun memiliki jumlah karyawan sebanyak 12 orang.Admin 2orang dan kurir 10 orang.JTL Express cabang Ngawi memiliki jumlah karyawan sebanyak 11 orang.Admin 1 orang dan kurir 10 orang.JTL Express cabang Magetan memiliki jumlah karyawan sebanyak 11 orang.Admin 1 orang dan kurir 10 orang.JTL

(20)

Express cabang Ponorogo memiliki jumlah karyawan sebanyak 11 orang.Admin 1 orang dan kurir 10 orang.

Kinerja merupakan suatu tolok ukur keberhasilan suatu perusahaan mencapai tujuannya.Karyawan yang berkinerja baik adalah karyawan yang bekerja sesuai dengan tugasnya. Misalnya di JTL Express, seorang kurir dikatakan memiliki kinerja yang baik jika ia menjalankan kewajiban utamanya untuk mengantar barang, sedangkan seorang admin dikatakan berkinerja baik apabila ia mengerjakan tugas utamanya sebagai pencatat setiap transaksi yang ada.

Kinerja karyawan tidak luput dari peran seorang pemimpin.Cara pemimpin mengatur bawahannya juga menjadi salah satu faktor kinerja kayawan bisa baik atau buruk. Karyawan akan nyaman bekerja jika pemimpin mereka selalu memberi dukungan dan peka terhadap keadaan. Pemimpin yang sabar, mengerti, tidak menghakimi adalah pemimpin yang dambakan setiap karyawan. Berbeda halnya jika pemimpin memiliki sifat yang arogan, pemarah, penuntut, menyalahgunan kekuasaan, dan sebagainya, maka mayoritas karyawan akan merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itulah yang nantinya membuat kinerja menurun.

Maka sangatlah penting hubungan antara pemimpin dan karyawan dalam suatu perusahaan.Karyawan JTL Express adalah karyawan yang memiliki semangat yang tinggi, ingin diperhatikan, dan kekeluargaan yang erat.Oleh karena itu dibutuhkan sesosok pemimpin hangat yang merangkul dan yang mampu mengerti suasana kerja.Inilah yang menjadi alasan penulis memilih JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo sebagai tempat penelitian.

(21)

Penulis ingin mengamati dan menganalisis gaya kepemiminan yang melayani (servant leadership style) dan komunikasi yang intim (komunikasi antarpribadi) yang dilakukan pemimpin atau manajer apakah berhasil meningkatkan kinerja karyawan atau tidak. Mispa (2014) tentang „Kepemimpinan Yang Melayani (Servant Leadership) di PT Panca Amara Utama‟, menjelaskan bahwa Ashok Baveja selaku pimpinan PT Panca Amara Utama telah melakukan kepemimpinan yang melayani dengan baik.Ia memiliki sifat empati, persuasif, konseptualisasi, dan membangun komunitas. Karena begitu dekatnya dengan karyawan, setiap akan mengambil sebuah keputusan ia selalu mengajak karyawannya untuk berkontribusi. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran karyawan dihargai, diakui, dan dianggap penting oleh pemimpin, sehingga karyawan menjadi nyaman untuk berkerja dan kinerja menjadi lebih baik.

Khanka (2013:114) menyatakan ada beberapa aktivitas manajemen yang dapat menciptakan ketidakdisiplinan kerja, seperti kepemimpinan yang lemah, fleksibel, tidak kompeten dan penuh kecurigaan, pengawasan yang tidak baik, praktek pembagian kekuasaan, kondisi lingkungan kerja yang tidak baik, diskriminasi, koordinasi, delegasi wewenang, dan penetapan tanggungjawab yang salah, maupun sistem komunikasi yang tidak efektif. Menurut Yulk (2015:205) kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya, dan proses memfasilitasi usaha individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.Artinya, ketika pemimpin tidak mampu mengembangkan kemampuannya untuk

(22)

mempengaruhi bawahannya dalam membentuk disiplin kerja, maka karyawan menjadi tidak dispilin atau kurang disiplin.

Peneliti melakukan wawancara terhadap beberapa orang yang pernah menggunakan jasa pengiriman barang JTL Express cabang Madiun. Mereka mengatkan bahwa kinerja JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogokurang memuaskan, karena barang yang mereka kirim membutuhkan waktu hingga 7 hari lebih untuk sampai ke alamat tujuan yang masih dalam satu propinsi.Hal ini merupakan masalah yang signifikan bagi JTL Express cabang Madiun, karena konsumen pasti menuntut kecepatan. Berdasarkan survei langsung peneliti kekantor JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, terlihat manajer operasional dan seluruh kurirsangat santai seakan-akan tidak ada deadline waktu untuk mengirimkan barang.Ada beberapa yang menjadi faktor penyebabnya.Pertama manajer operasionalnya yang kurang tegas dan disiplin.Seperti kata pepatah buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, yang terjadi di JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo adalah manajer operasionalnya juga santai sehingga para kurirnya mengimitasi hal tersebut. Kedua kurirnya yang malas dan tidak disiplin. Karena manajer operasionalnya santai, justru para kurir merasa bebas dan lupa akan kewajibannya untuk mengantar paket tepat waktu.

Mengingat hubungan yang demikian maka komunikasi adalah salah satu faktor yang penting untuk memperbaiki hubungan antara atasan dan bawahan.Menurut Mulyana (2009), dengan berkomunikasi kita dapat membangun kontak sosial dan juga dapat memengaruhi orang lain untuk memiliki pemikiran

(23)

atau perilaku seperti yang kita inginkan. Selain itu menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya yang berjudulKomunikasi Interpersonal (2018:19), terdapat dua (2) fungsi dari komunikasi, yakni: fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan.

Maka dari itu permasalahan yang dihadapi oleh JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo adalah gaya kepemimpinan yang salah dan kurang efektifnya komunikasi antara manajer operasional dan kurir.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti ingin membahas mengenai pengaruh servant leadership style dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu cara untuk memaksimalkan kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah servant leadership style dan komunikasi interpersonal memberi pengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo ?

2. Apakah ada pengaruh servant leadership style terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo ?

(24)

3. Apakah ada pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo ?

C. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari pembahasan yang lebih luas terkait topik penelitian, maka penulis membatasi masalah penelitian sebagai berikut :

1. Alanisis servant leadership style yang diterapkan oleh pemimpin atau manajer JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo akan dinilai langsung oleh karyawannya. Dinilai menggunakan 10 indikator servant leadership style yaitumendengarkan, empati, menyembuhkan, kesadaran diri, persuasif, konseptualisasi, memiliki visi, kemampuan melayani, komitmen pada pertumbuhan pribadi, dan membangun komunitas.

2. Analisis komunikasi interpersonal yang diterapkan oleh pemimpin atau manajer JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo akan dinilai langsung oleh karyawannya. Dinilai menggunakan 5 indikator komunikasi interpersonal yang efektif antara lain :respect, empathy, audible , clarity, dan humble.

3. Analisis kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo diteliti berdasarkan dimensi operasional dan dimensi relasi. Dimensi operasional antara lain : karyawan datang ke kantor tepat waktu, dapat bekerja sama sebagai tim, dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Dimensi relasiyaitu : karyawan

(25)

percaya kepada manajernya, manajer menjadi orang yang dapat dicontoh oleh karyawan, karyawan ikut andil dalam setiap pengambilan keputusan untuk pengembangan kantor cabang.

D. Tujuan penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui pengaruh secara simultan servant leadership style dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

2. Mengetahui pengaruh servant leadership style terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

3. Mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kinerja karyawan JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari keseluruhan rangkaian kegiatan dan hasil penelitian ini, antara lain :

1. Manfaat praktis

a. Bagi Penulis, hasil penelitian ini diharapkan akan menambah dan memperluas wawasan dan pendalaman pengetahuan tentang aspek-aspek manajemen sumber daya manusia khususnya dalam gaya kepemimpinan dan komunikasi.

(26)

b. Bagi Manajemen, hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat praktis berupa masukan-masukan bagi pihak manajemen JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo khususnya dalam pengambilan keputusan dalam memperbaiki dan meningkatkan kinerja karyawan melalui servant leadership style dan komunikasi interpersonal.

2. Manfaat Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang manajemen sumber daya manusia serta menambah bahan referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut bagi peneliti lain.

(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen adalah suatu proses di mana seseorang dapat mengatur segala sesuatu yang dikerjakan oleh individu atau kelompok. Selanjutnya menurut Stoner dan Freeman (dalam Wibowo, 2010:1-2) manajemen merupakan suatu proses menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi melalui fungsi planning dan decision making, organizing, leading, dan controlling.

Manajemen juga dikatakan sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi yang tersedia untuk mencapai tujuan organisasi yang dinyatakan jelas.

Sejalan dengan pemahaman tersebut, maka manajemen sumber daya manusia dapat diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian atas tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan dan pemulusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat (Flippo, 1984). Maka berdasarkan definisi tersebut terdapat dua fungsi utama dalam manajemen sumber daya manusia, yaitu : 1) fungsi manajemen, yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian (controlling); dan fungsi operasional, yang meliputi perekrutan dan

(28)

seleksi, pelatihan dan pengembangan, kompensasi, integritas, dan pemutusan hubungan kerja.

Menurut Mondy, Noe & Premeaux (2002:2-3), manajemen sumber daya manusia (human resource development) adalah suatu alat atau cara bagi individu untuk mencapai tujuan organisasi, di mana di dalamnya terdapat 5 fungsi utama antara lain :

1. Staffingmerupakan suatu proses yang dilakukan oleh suatu organisasi untuk memastikan apakah organisasi tersebut selalu memiliki jumlah tenga kerja dengan kemampuan yang tepat, yang menempati posisi kerja yang tepat dan pada waktu yang tepat (right man in the right place at the right time) dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.

2. Human resource development adalah fungsi utama dalam manajemen sumber daya manusia yang meliputi tidak hanya pelatihan (training) dan pengembangan (development) namun juga meliputi perencanaan dan aktivitas pengembangan karir (career planning and development) serta penilaian kerja (performance appraisal).

3. Compensation and benefits. Compensation adalah seluruh imbalan yang diterima individu sebagai hasil dari usaha mereka dalam melaksanakan tugas dan pekerjaanya.Benefitmerupakan salah satu bentuk dari compensation di mana berupa imbalan finansial karyawan di luar gaji/upah pokok, termasuk di dalamnya asuransi kesehatan, memberikan hari libur maupun izin istirahat bagi karyawan yang sakit.

(29)

4. Safety and health. Safety merupakan bentuk perlindungan terhadap seluruh karyawan dari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Sedangkan health lebih mengarah pada perasaan tenang atau nyaman secara fisik maupun mental.

5. Employee and labor relations. Hubungan karyawan dan tenaga kerja berkaitan dengan penyelesaian masalah yang melibatkan karyawan dan mempengaruhi situasi kerja.

B. Teori Kepemimpinan dan Servant Leadership Style

1. Teori Kepemimpinan

Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan kerja samake arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Sudriamunawar, 2006:9).Artinya bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin orang laindan orang yang dipimpin mau mengikutinya untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut beberapa ahli kepemimpinan seperti Robinson & Coutler (2009), Yukl (2010), Covey (2010), Lussier & Achua (2010); teori kepemimpinan terbagi atas 5 (lima) teori besar. Teori-teori tersebut antara lain ;

a. Teori kepemimpinan sifat, teori ini memusatkan perhatian pada sifat atau keunikan masing-masing pemimpin, seperti pemimpin yang memiliki energy tak kenal lelah, instuisi kepengelolaan,

(30)

pandangan masa depan, dan kekuatan untuk membujuk yang tidak dapat ditolak.

b. Teori kepemimpinan perilaku, teori ini muncul karena rasa tidak terhadap kepemimpinan sifat dan berusaha untuk menjelaskan secara langsung gaya yang digunakan oleh pemimpin.

c. Teori kepemimpinan kekuatan-pengaruh, teori ini menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah proses persuasi atau pemberian contoh yang dilakukan oleh individu maupun sebuah tim kepemimpinan kepada bawahan, rekan, maupun atasan untuk mencapai tujuan bersama.

d. Teori kepemimpinan kontingensi atau situasional, teori ini mengkombinasikan teori ciri/sifat, perilaku, dan kekuatan pengaruh. Teori-teori integratif sebagai berikut ;

1) Teori kepemimpinan atribusi. Menurut teori ini kepemimpinan adalah realitas yang dibentuk oleh interaksi sosial. variabel-variabel individual, proses, struktural, dan lingkungan adalah fenomena penyebab yang semuanya memegang peranan dalam berbagai pembahasan kepemimpinan.

2) Teori kepemimpinan karismatik. Menurut teori ini para pemimpin memiliki kualitas yang lebih unggul daripada pengikut mereka bukan prngaruh dari kekuasaan atau tradisi

(31)

3) Teori kepemimpinan transaksional. Teori ini mengatakan bahwa pertukaran kepemimpinan bisa terjadi melalui diskusi pemimpin dengan pengikutnya yang dikehendaki.

4) Teori kepemimpinan transformasional. Menurut Bass (1985) atas gagasan awal Burns (1978), kepemimpinan transformasional mengembangkan kualitas pengikutnya untuk dapat menjadi pemecah masalah yang inovatif melalui pemberian pelatihan, mentoring, dan memperlengkapinya melalui pemberian tantangan dan dukungan (dalam Nenobais, 2020:15).

5) Teori kepemimpinan visioner. Teori ini mengatakan bahwa kepemimpinan berarti mengartikulasikan visi, mewujudkan nilai-nilai, dan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk mencapai berbagai hal. Teori ini mendefinisikan kepemimpinan adalah sebuah seni menggerakkan orang lain.

6) Teori kepemimpinan pelayan.Teori ini merupakn gaya kepemimpinan yang melayani para pengikutnya.

Kepemimpinan pelayan (Servant leadership) menempatkan kebutuhan pengikut adalah prioritas utama jadi posisi pengikutnya sejajar sebagai rekan bukan atasan dan bawahan. Konsep kepemimpinan ini adalah suatu konsep berkarisma dan bermoral, kepemimpinan bukan sebagai

(32)

status atau posisi melainkan sebagai kesempatan melayani untuk mengembangkan orang lain dengan sepenuhnya.

Secara teortis, kepemimpinan ini mampu menciptakan motivasi dan kinerja yang optimal kepada para pengikut (Robert K. Greenleaf, 1970).

2. Definisi Servant Leadership Style

Menurut Neuschel (2005:95), pemimpin yang melayani adalah seorang pemimpin dengan pengikut yang ia bantu untuk berkembang dalam reputasi, kemampuan, atau dalam sejumlah hal memberikan kontribusi untuk membangun pengikutnya menjadi lebih berguna.

Menurut Laub (2003:3), kepemimpinan yang melayani adalah pemahaman dan praktik kepemimpinan yang menempatkan kebaikan mereka yang dipimpin di atas kepentingan pribadi pemimpin.Kepemimpinan yang melayani mempromosikan penilaian dan pengembangan orang, pembangunan komunitas, praktik keaslian, pemberian kepemimpinan untuk kebaikan mereka yang dipimpin dan pembagian kekuasaan dan status untuk kepentingan bersama masing- masing individu, total organisasi dan mereka yang dilayani oleh organisasi.

Ditegaskan juga oleh Nenobais (2020:21), kepemimpinan pelayan (servant leadership) lebih dari sekedar teori belaka, namun timbul dari perasaan atau suara hati yang tulus untuk melayani pertama.Konsep

(33)

kepemimpinan pelayan lebih menekankan pada pentingnya menghargai manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sehingga pemberdayaan dan pengembangan pengikut adalah mandat yang harus dipenuhi.

Melalui beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang melayani (servant leadership) adalah kepemimpinan yang berasal dari hari nurani untuk melayani sepenuhnya para pengikutnya dengan tujuan mengembangkan mereka menjadi lebih baik untuk bekerja bersama-sama mencapai tujuan bersama.

3.Karakteristik Servant LeadershipStyle

Spears (2010:27) menyatakan ada 10 (sepuluh) karakteristik utama seorang pemimpin pelayan (servant leadership) yakni ;

a. Mendengarkan (listening)

Pemimpin dapat membuat keputusan jika mengetahui dan memahami masalah apa yang sedang dihadapi. Itulah pentingnya mendengar secara tanggap para pengikutnya atau bawahannya baik yang dikatakan maupun yang tidak dikatakan, agar pemimpin tau sedang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.

b. Empati (empathy)

Pemimpin yang melayani itu merangkul pengikutnya. Merangkul di sini berarti dekat dengan pengikutnya, memahami, berempati atau tahu yang orang lain rasakan, dan melihat dunia dari sudut pandang

(34)

lain.Jadi sikap empati ini juga membuat pengikutnya merasa menjadi pribadi yang „unik‟.

c. Menyembuhkan (healing)

Pemimpin yang melayani secara potensial mampu melakukan penyembuhan diri dan hubungannya dengan orang lain. Salah satu kekuatan dari pemimpin yang melayani adalah mampu membantu pengikutnya untuk menyelesaikan masalah pribadi.Proses penyembuhan ini berlangsung dua arah, pertama membantu pengikut menjadi sehat, dan kedua membuat pemimpin sendiri menjadi lebih baik.

d. Kesadaran diri (awareness)

Pemimpin yang melayani memiliki kesadaran diri yang tinggi.Kesadaran menolong seseorang dalam memahami masalah yang berkaitan dengan etika, kekuasaan, dan nilai.

e. Persuasif (persuasion)

Persuasif adalah bentuk komunikasi yang mampu meyakinkan orang lain untuk berubah. Pemimpin yang melayani mampu meyakinkan pengikutnya untuk melakukan hal yang diharapkan tanpa melalui paksaan.

f. Konseptualisasi (conceptualization)

Konseptualisasi merujuk pada kemampuan pemimpin dalam berpandangan jauh ke depan bagi suatu organisasi, dan memberi pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah organisasi.

(35)

g. Memiliki visi (foresight)

Karakter ini berkaitan dengan kemampuan pemimpin melihat masa depan. Lebih sederhana ialah kemampuan untuk menduga hal apa yang akan terjadi di masa depan berdasarkan pada apa yang terjadi saat ini dan masa lampau.

h. Kemampuan melayani (stewardship)

Kewajiban utama pemimpin yang melayani adalah melayani itu sendiri.Secara etimologi melayani adalah kegiatan membantu orang lain atau memberikan diri untuk menolong dan membantu orang lain.

Jadi pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mampu memberikan diri kepada pengikutnya.

i. Komitmen pada pertumbuhan individu (commitment to the growth of people)

Pemimpin yang melayani selalu berkomitmen untuk membantu setiap pengikutnya di dalam organisasi agar bisa tumbuh baik secara pribadi maupun professional.Dengan kata lain pemimpin dan pengikutnya saling bersinergi untuk bertumbuh dan berkembang bersama sesuai visi misi organisasi.

j. Membangun komunitas(building community)

Pemimpin yang melayani mampu membangun komunitas. Dalam kata lain bahwa pemimpin mampu menyediakan tempat di mana orang bisa merasa aman dan terhubung satu sama lain, tetapi tetap diberi kebebasan untuk mengekspresikian dirinya sendiri.

(36)

Menurut Laub (2003:3), ada enam (6) hal penting yang menggambarkan perilaku pemimpin yang melayani, antara lain :

a. Menghargai orang lain

Menghargai orang lain adalah menerima keberadaan seseorang dengan berbagai perbedaan yang ada. Salah satu pentingnya menghargai orang lainyaitu komuniasi yang terjalin akan lancar.

Dengan menghargai setiap pendapat maka solusi dari setiap permasalahan akan mudah untuk ditemukan. Cara sederhana menghargai orang lain antara lain : dengan cara mendengarkan orang lain secara intens atau seksama, melayani kebutuhan pihak lain sebagai prioritas utama, dan mempercayai orang lain.

b. Mengembangkan orang lain

Mengembangkan orang lain berarti keinginan tulus untuk mendorong proses belajar dan menyediakan sarana bagi mereka yang akan dikembangkan. Instruksi dalam mengembangkan orang lain antara lain :memberikan teladan, memberikan kesempatan kepada pengikut untuk terus belajar, dan memberdayakan pihak lain.

c. Membangun komunitas

Pentingnya membangun komunitas yaitu membuat hubungan antarindividu semakin dekat, membuat suasana kerja yang mendukung, dan membuat kinerja individu meningkat.Cara membangun komunitas antara lain : membangun hubungan yang kuat,

(37)

saling berkolaborasi, dan menghargai perbedaan serta latar belakang individu.

d. Memperlihatkan autentisitas

Pemimpin yang melayani bersifat autentik atau asli.Di mana gambaran dan integritas pemimpin bisa diketahui pengikutnya secara transparan, tidak dibuat-buat.Autentisitas itu bisa dilihat melalui sistem kepercayaan, keterbukaan, tanggungjawab, dan adanya keinginan untuk belajar dari orang lain.

e. Memberikan kepemimpinan

Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, namun kepemimpinan yang baik adalah menggambarakan masa depan untuk organisasi, mengambil inisiatif, dan melakukan klarifikasi terhadap tujuan-tujuan yang ada.

f. Pendistribusian kekuasaan serta status kepemimpinan Pendistribusian kekuasaanyang baik yaitu melalui perilaku penciptaan visi bersama, penyebaran kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan status untuk semua level dalam organisasi.

Menurut Patterson (2010:170), dalam teori kepemimpinan terdapat tujuh (7) karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, antara lain :

a. Cinta Agape (Agapao love)

Cinta agape dimaknai sebagai mengasihi dalam arti sosial atau moral.Cinta agape ini mendorong pemimpin untuk menganggap setiap

(38)

pengikut tidak hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, tetapi sebagai pelengkap antara kebutuhan dan keinginan.Pemimpin yang melayani benar-benar peduli untuk orang lain dan tertarik dalam kehidupan pengikutnya.

Melalui cinta agape pemimpin berusaha untuk memberdayakan pengikut sehingga dapat lebih berkembang dan bertumbuh menjadi orang yang lebih baik di masa depan. Pemimpin yang melayani berperan sebagai mentor, guru, bahkan pembimbing pribadi demi kemajuan pengikutnya.Pengembangan diri orang lain merupakan prioritas tertinggi yang diemban oleh pemimpin yang melayani.

b. Rendah hati (humility)

Rendah hati pada dasarnya adalah suatu sikap yang menyadari adanya keterbatasan kemampuan diri seseorang sehingga ia membutuhkan dukungan dan pertolongan dari orang lain dan Tuhan.

Patterson menjelaskan bahwa rendah hati adalam sebuah konsep yang paradoks, sebab banyak orang yang menganggap bahwa rendah hati dapat diasosiasikan dengan perasaan rendah diri.Tetapi rendah hati ialah kemampuan seseorang untuk menjaga keseimbangan antara kemampuan yang dimiliki serta kesadaran bahwa apa yang telah ia capai sebagai pemimpin dapat terjadi oleh karena kemampuan dan sumbangsih dari pengikutnya, bukan diri sendiri.

Seorang pemimpin yang rendah hati memfokuskan semua perhatian dan pujian kepada para pengikutnya yang telah memberikan

(39)

kontribusi kepada organisasi.Oleh karena itu, pemimpin yang melayani memiliki sifat rendah hati bukan arogan maupun egois.Sifat rendah hati dan cinta agape inilah yang membuat pemimpin untuk melakukan aktivitas pelayanan secara tulus.

c. Altruisme (altruism)

Altruisme berkebalikan dengan egois.Altruisme adalah sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain, dengan menomor duakan dirinya sendiri. Segala aktivitas yang dilakukan oleh altruis atau orang yang bersifat altruisme seringkali muncul secara tulus tanpa ada rasa pamrih.Meski sikap altruisme dinilai sebagai hal yang terpuji, namun juga dapat berdampak buruk bagi pelakunya jika dilakukan secara berlebihan.

d. Memiliki visi

Visi dalam teori kepemimpinan pelayanan adalah sebuah proses dari seorang pemimpin di mana ia merasakan hal-hal yang tidak dirasakan oleh orang lain, melihat kelebihan-kelebihan setiap individu yang unik kemudian akan mempengaruhi keputusan pemimpin dan membantunya untuk mempertajam rencana-rencana organisasi demi tercapainya visi yang telah dibentuk.

e. Rasa percaya (trust)

Rasa percaya diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin akan dirinya, sehingga orang bersangkutan tidak perlu terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, dapat melakukan hal-hal yang disukainya dan

(40)

bertanggungjawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, menghargai orang lain, dan memiliki dorongan untuk berprestasi.

Dalam kepemimpinan yang melayani (servant leadership), rasa percaya diri memiliki makna sebagai proses untuk membawa cita-cita dan harapan para pengikut ke dalam visi organisasi akan meningkatkan rasa percaya kepada para pengikut kepada pemimpin yang melayani.

Orang lain akan percaya bahwa pemimpinnya adalah orang yang peduli kepada mereka, dan mereka juga percaya bahwa bekerja di organisasi tersebut dengan seorang pemimpin yang melayani akan mengarahkan mereka pada tercapainya visi pribadi mereka sendiri.

f. Memberdayakan pihak lain (empowerment)

Pemimpin yang melayani memberdayakan pengikutnya dengan ikut menjadi mereka. Artinya bahwa pemimpin mendengarkan dan berempati kepada pengikutnya, membuat setiap orang menjadi penting dalam organisasi dan pekerjaanya, dan menekankan pada kerja sama tim, serta menghargai satu sama lain.

g. Melayani (service)

Melayani merupakan suatu usaha untuk membantu menyiapkan atau mengurus apa yang diperlukan orang lain. Pemimpin yang melayani mengemban komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain, termasuk lebih menekankan keterbukaan dan persuasi daripada kontrol. Jadi pemimpin ingin semua orang atau pengikutnya memiliki

(41)

peranan yang penting dalam menajalankan organisasi dengan mengarah kepada kebaikan masyarakat lebih besar.

Tabel II.1

Ciri-ciri servant leadership style

Ciri-ciri servant leadership style Sifatteori : Normatif

Peranpemimpin : Untukmelayanipengikut

Peranpengikut : Untuk menjadi lebihbijaksana, lebih bebas, lebihmemilikiotonomi

Komponenmoral : Eksplisit

Hasil yang diharapkan : Kepuasan, pengembangan,dan komitmen pengikut untuk melayani, serta perbaikan masyarakat

Tingkat individual : Keinginan untuk melayani Tingkat interpersonal : Pemimpin melayani pengikut Tingkat kelompok : Pemimpin melayani kelompok untuk menentukan kebutuhan kelompoknya

Tingkat organisasi : Pemimpin menyiapkan organisasi untuk melayani masyarakat

Tingkat masyarakat : Pemimpin meninggalkan atau mewariskan hal yang positif bagi kebaikan masyarakat

Sumber:BarbutoandWheeler (2006:305)

Dalam hubungannya dengan penelitian ini, peneliti mengadaptasi sepuluh (10) karakteristik yang dikemukakan oleh Larry C.

Spears.Spears selama bertahun-tahun mempelajari tulisan-tulisan Greenleaf sebagai tokoh yang memperkenalkan servant leadership yang mana paling sering dipakai oleh para pakar

(42)

kepemimpinan.Karakteristik pemimpin yang melayani (servant leadership) yang akan peneliti gunakan dalam implementasinya di JTL Express cabang Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo adalah mendengarkan (listening), empati (empathy), menyembuhkan (healing), kesadaran diri (awareness), persuasif (persuasion), konseptualisasi (conceptualization), memiliki visi (foresight), kemampuan melayani (stewardship), komitmen terhadap pertumbuhan individu (commitment to the growth of people), dan membangun komunitas (building community).

4. Tugas dan Manfaat Kepemimpinan yang Melayani (Servant Leadership Style)

Konsep pemimpin yang melayani adalah mengubah pendekatan kepemimpinan secara evolusioner dan pribadi, artinya pemimpin dan pengikutnyamemiliki hubungan yang dekat dan intim sehingga rasa empati tumbuh dengan sendirinya. Pemimpin yang melayani tidak melimpahkan pekerjaan melainkan mencontohkan cara mengerjakan pekerjaan tersebut.

Maka dari itu pemimpin yang melayani akan memberikan perubahan secara menyeluruh pada kehidupan personal dan professional karyawan.

Menurut Jenning dan Stahl-Wert (2003:23), tugas dari pemimpin yang melayani adalah sebagai berikut :

a. Melaju ke arah tujuan yang besar dengan tetap memegang erat visi organisasi di hadapan tim, bisnis, atau organisasi mereka, sehingga

(43)

akan memotivasi semua orang untuk memberikan upaya mereka yang terbaik.

b. Membalikkan piramid yang terdapat dalam pemikiran manajemen konvensional. Pemimpin yang melayani memposisikan diri di bagian bawah dalam suatu susunan piramid dan melepaskan energi, ketertarikan, dan bakat-bakat yang ada dalam tim, bisnis, dan komunitas mereka.

c. Mendirikan tonggak harapan dengan cara menjadi sangat selektif dalam memilih para pemimpin tim dan dengan menerapkan standar- standar kinerja yang tinggi. Tindakan ini adalah salah satu tindakan yang signifikan karena pemimpin tim tersebut bertugas sebagai coordinator tim di mana ia yang mengarahkan, mengontrol, dan mengevaluasi kinerja tim mereka.

d. Membuka jalan dengan mengajarkan berbagai prinsip dan praktik pemimpin yang melayani, serta dengan menyingkirkan rintangan yang dapat menghalangi kinerja. Tindakan ini berupaya untuk mendidik dan membentuk pengikutnya untuk menjadi pribadi yang berkualitas bagi diri sendiri, tim, bisnis, dan komunitas sehingga secara tidak langsung dapat memimpin dirinya sendiri.

e. Membangun kekuatan dengan mengatur masing-masing pribadi dalam tim, bisnis, dan komunitasnyauntuk memberikan kontribusi terbaik di bidangnya. Tindakan ini dapat meningkatkan kinerja setiap orang dan

(44)

membuat tim menjadi lebih solid karena menggabungkan kekuatan dari seluruh anggota.

Sebagai seorang ahli yang memiliki pengalaman konsultasi dan mengajar di berbagai organissi seperti universitas, bisnis, yayasan, keagamaan, organisasi kesehatan (rumah sakit), asosiasi professional di berbagai negara, Greenleaf (dalam Lantu, 2007:52), menyatakan bahwa filosofi pemimpin yang melayani berlaku secara efektif untuk semua institusi sosial, baik mereka yang mengejar keuntungan maupun yang tidak.Greenleaf meyakini bahwa filosofi dan praktik servant leadershipdapat diterapkan dan memberikan pengaruh yang positif bagi seluruh institusi di berbagai negara.Spears dalam Lantu (2007:133) juga menyatakan bahwa kepemimpinan yang melayani atau servant leadershipsaat ini memberi pengaruh yang substansial dalam berbagi area spesifik dari pengembangan organisasi, antara lain :

a. Kepemimpinan yang melayani telah menjadi sebuah filosofi institusi dan model untuk memimpin serta berorganisasi.

b. Kepemimpinan yang melayani telah menjadi fondasi etikal dan teori untuk berbagai jenjang pelatihan dan pendidikan.

c. Kepemimpinan yang melayani telah mengubah focus berbagai komunitas organisasi secara positif.

d. Kepemimpinan yang melayani telah berpengaruh pada pengembangan edukasi eksperiental.

(45)

e. Kepemimpinan yang melayani telah dipakai secara luas sebagai konsep dasar untuk pelatihan kepemimpinan dan manajerial.

f. Kepemimpinan yang melayani telah banyak dipakai berbagai organisasi untuk menstimulasi pngembangan personalitas pimpinan puncak perusahaan.

g. Kepemimpinan yang melayani telah diterima secara baik di antara berbagai kelompok multikultural, termasuk golongan minoritas dan wanita.

5. Aspek dan Dimensi Kepemimpinan yang Melayani

Menurut Nenobais (2020:20) konsep kepemimpinan yang melayani lebih menekankan pada pentingnya menghargai manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sehingga pemimpin menganggap bahwa pemberdayaan dan pengembangan pengikut adalah mandat yang harus dipenuhinya. Tujuan utama dari seorang pemimpin yang melayani adalah melayani dan memenuhi kebutuhan pihak lain secara optimal. Pemimpin yang melayani akan mengembangkan setiap individu di sekitarnya, membantu agar berhasil dalam pekerjaan dan juga kehidupan individu.

Blanchard dan Hodges (2005:1) menyatakan tentang tiga (3) aspek kepemimpinan yang melayani, antara lain :

a. Hati yang melayani (Karakter Kepemimpinan)

Kepemimpinan yang melayani berasal dari diri sendiri.Kepemimpinan yang sejati berawal dari dalam dan disalurkan ke

(46)

luar.Artinya bahwa sebelum memotivasi orang lain, kita harus bisa memotivasi diri sendiri.Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut.Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya.Wujud kasih itu seperti peduli akan kebutuhan, kepentingan, impian, dan harapan dari yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountale).Artinya seluruh perkataan, pikiran, dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atau kepada setiap anggota organisasinya.Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.Selain itu pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang bisa mengendalikan ego, emosi, dan kepentingan pribadinya untuk kepentingan bersama atau publik.

b. Kepala yang melayani (metoda kepemimpinan)

Kepemimpinan yang efektif harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan.Metoda tersebut diawali dengan adanya visi yang jelas.Visi ini adalah sebuah daya atau pilar untuk berjalan kedepan dan melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses kreatifitas melalui berbagai sinergi yang berasal dari keahlian orang-orang di dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, artinya yaitu seorang pemimpinmemiliki tujuan yang jelas mau kearah

(47)

mana organisasi yang dipimpinnya. Secara sederhana bagaimana proses untuk membawa anggotanya menuju satu tujuan (goal) bersama yang jelas.Visi inilah yang nantinya akan mendorong organisasi untuk terus belajar dan tumbuh serta bertahan dalam survivalnya. Kepemimpinan yang efektif juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin memiliki sikap yang aktif dan proaktif dalam menemukan dan menyelesaikan suatu permasalahan dan tantangan yang ada.Selain aktif dan proaktif, pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih dan pendamping bagi anggotanya.

c. Tangan yang melayani (perilaku kepemimpinan)

Pemimpin sejati tidak hanya sekedar menunjukkan karakter dan integritasnya, melainkan juga menunjukkan kebiasaan-kebiasaan seorang pemimpin, yaitu :

1) Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi lebih berasal dari lubuk hati yang paling dalam untuksenantiasa memuaskan Tuhan. Seorang pemimpin harus senantiasa seturut firman Tuhandalam melakukan segala kegiatan, seperti merancang tujuan bersama dan mencari solusi dalam menyelesaikan masalah serta mengarahkan, memberi contoh, dan melatih pengikutnya. Pemimpin memiliki pegangan kokoh untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.

2) Pemimpin sejati lebih memfokuskan pada hal-hal spiritual dibandingkan kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan

(48)

kemakmuran adalah salah satu sarana untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Segala hal yang dilakukan bukan semata- mata untuk mendapatkan suatu penghargaan melainkan untuk melayani sesamanya, maka dari itu pemimpin lebih mengutamakan relasi atau hubungan dengan sesame yang penuh kasih dibandingkan dengan status atau kekuasaan semata.

3) Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Pemimpin selalu memiliki komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama melalui keheningan (solitude), doa (prayer), dan membaca firman Tuhan (scripture).

Dierendonck dan Patterson (2010:117) juga mengembangkan dimensi kepemimpinan yang melayani.Mereka mengembangkan model berbasis penelitian kepemimpinan yang melayani berdasarkan konsep yang dikembangkan oleh Greenleaf (1977) dan Spears (2002) dan mengevaluasinya. Kelima (5) dimensi itu antara lain :

a. Panggilan altruistik (altruistic calling)

Maksud dari panggilan altruistik adalah perasaan atau panggilan hati seorang pemimpin yang terdorong untuk bersifat altruis kepada orang lain. Panggilan altruistic menggambarkan besarnya hasrat dari pemimpin untuk membuat perubahan positif bagi kehidupan orang lain atau pengikutnya dengan carabekerja keras untuk memenuhi kebutuhan orang lain dan meletakkan kepentingannya di bawah kepentingan orang lain.

(49)

b. Penyembuhan emosi (emotional healing)

Penyembuhan emosi ini menggambarkan keterampilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi semangat atau suasana hati orang lain.

Hal ini menjadi sebuah komitmen bagi pemimpin yang melayani untuk selalu memahami penderitaan yang dialami pengikutnya dan mampu merangkulnya serta mengembalikkan bahkan meningkatkan semangat mereka.

c. Kebijaksanaan (wisdom)

Kebijaksanaan menggambarkan keterampilan seorang pemimpin yang pekadan tanggap dalam melihat dan memahami kondisi atau situasi yang sedang terjadi di lingkungannya dan mampu memberikan solusi yang tepat.

d. Pemetaan persuasif (persuasive mapping)

Pemetaan persuasif menggambarkan keterampilan seorang dalam memetakan persoalan dan mampu mengkonseptualisasikan kemungkinan tertinggi terjadinya persoalan tesebut hingga mampu menemukan solusi.Selain itu pemetaan persuasif juga menggambarkan keterampilan seseorang untuk melakukan sesuatu ketika ada peluang.

e. Kepengurusan organisasi (organizational stewardship)

Kepengurusan organisasi menggambarkan sejauh mana pemimpin membuat satu komitmen menyiapkan organisasi untuk membuat kontribusi positif terhadap lingkungannya dengan menyusun program

(50)

pengabdian masyarakat dan pengembangan komunitas serta mendorong pendidikan yang tinggi.

C. Komunikasi Interpersonal

1. Definisi Komunikasi Interpersonal

Definisi konseptual komunikasi adalah usaha untuk menyampaikan pesan, informasi, pikiran, gagasan dan pendapat yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang lain (Effendy, 2007:9).Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu ide dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka (Canggara, 2004:32). Jadi dapat ditarik suatu pemahaman bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk memberi tahu, mengemukakan pendapat, atau mengubah sikap baik secara langsung maupun tidak langsung. Unsur terpenting dalam komunikasi adalah adanya suatu hubungan timbal balik antara komunikator dan komunikan.

Menurut Devito (2010:252) komunikasi interpersonal atau antarpribadi adalah the process of sending and receiving massages between two person, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback. (komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang, atau di antara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa umpan balik seketika).

Mulyana (2002:3) juga mengemukakan bahwa komunikasi interpersonal

(51)

adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau antara sekelompok kecil orang dengan beberapa dampak dan umpan balik seketika, serta berpendapat bahwa komunikasi interpersonal efektif dengan mengubah perilaku orang lain jika terdapat pesan yang sama, antara komunikator yang menyampaikan dengan komunikan yang menerima.

2. Unsur Komunikasi Interpersonal

Menurut Ngalimun (2018:12), komunikasi interpersonal memiliki unsur-unsur penting, antara lain :

a. Sumber (source), sering disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder),komunikator (communicator), pembicara (speaker), atau originator. Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber bisa berasal dari individu, kelompok, organisasi, perusahaan, bahkan suatu negara. Untuk menyampaikan apa yang ada dalam hatinya (perasaan) atau dalam kepalanya (pikiran), sumber harus mengubah perasaan atau pikirannya ke dalam seperangkat simbol verbal maupun nonverbal yang idealnya dipahami oleh si penerima pesan. Proses inilah yang dinamakan dengan penyandian atau encoding. Pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir, dan perasaan sumber memengaruhi sumber dalam merumuskan pesan.

b. Pesan, yaituapa yang dikomunikasikan atau disampaikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat symbol verbal dan

(52)

nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan dari sumber. Pesan pada dasarnya memiliki tiga (3) komponen utama, yaitu : makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan. Simbol terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat merepresentasikan benda, gagasan, dan perasaan, baik ucapan (percakapan, wawancara, diskusi, ceramah) ataupun tulisan (surat, esai, artikel, novel, puisi, pamflet). Kata-kata memungkinkan seseorang memiliki berbagai pikiran dengan orang lain.

c. Saluran atau media, yaitu alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Saluran merujuk pada bagaimana cara untuk menyampaikan pesan, apakah melalui tatap muka, atau lewat media cetak, atau media elektronik, semua itu dapat dikategorikan sebagai saluran dalam komunikasi. Pengirim akan memilih saluran bergantung pada situasi, tujuan yang hendak dicapai, dan jumlah penerima pesan yang dihadapi.

d. Penerima (receiver), sering juga disebut sasaran atau tujuan (destination), penyandi balik (decoder), atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter), yakni orang yang menerima pesan dari sumber. Dengan kata lain penerima adalah pihak yang menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat simbol baik verbal maupun nonverbal yang ia terima menjadi sebuah gagasan yang dapat ia pahami. Proses ini disebut juga dengan penyandian balik (decoding).

(53)

e. Efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut. Sederhananya seperti hukum aksi-reaksi, bagaimana reaksi atau tanggapan penerima saat mendapat aksi atau pesan dari pengirim atau sumber. Efek tersebut misalnya bisa berupa tambahan pengetahuan, menghibur, perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan perilaku, dan sebagainya.

3. Karakteristik Komunikasi Interpersonal

Apabila diamati dan ditelaah dengan jenis komunikasi lainnya, maka dapat dikemukakaan ciri-ciri komunikasi interpersonal, antara lain : arus pesan dua arah, suasana informal, umpan balik segera, peserta komunikasi berada dalam jarak dekat dan peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal (Ngalimun, 2018:15). Secara terperinci, tabel karakteristik komunikasi interpersonal sebagai berikut :

(54)

Tabel II.2

Karakteristik Komunikasi Interpersonal

KarakteristikKomunikasi Interpersonal

Audien atau Komunikan : Berjumlah kecil, homogen, mudah dikenali, dan berjarak dekat.

Pesan : Dikirimkan dalam keadaan terbatas atau pribadi, isinya tidak mengalami pembatasan, dan kecepatan transmisinya dipengaruhi oleh hambatan hubungan.

Sumber: Komunikator sering bekerja mandiri, tidak membutuhkan biaya, dan adanya keterlibatan pemuka pendapat.

Saluran: Komunikasi personal memakai saluran komunikasi informal.

Saluran komunikasi informal adalah jaringan komunikasi antarpribadi yang diciptakan di antara interaksi pribadi secara tatap muka dengan tujuan dan kepentingan yang sama. Saluran komunikasi sendiri diartikan sebagai penghubung efektif yang saling memadukan getaran-getaran sumber penerima dalam suatu struktur komunikasi, di mana pesan itu mengalir.

Sumber : Blake dan Haroldson, Terj. Hasan Bahanan (2003:41)

Sementara itu menurut Pearson dalam Suranto (2010:16) terdapat enam (6) karakteristik komunikasi interpersonal, antara lain :

a. Komunikasi interpersonal dimulai dari diri sendiri (self), artinya bahwa segala bentuk proses penafsiran pesan maupun penilaian mengenai orang lain itu berangkat dari diri sendiri.

b. Komunikasi interpersonal bersifat transaksional, artinya bahwa komunikasi interpersonal bersifat dinamis, merupakan pertukaran pesan secara timbal balik dan berkelanjutan.

Referensi

Dokumen terkait

Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi, yang penulis beri judul ”

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala kasih dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul

Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih, karunia, anugerah dan rahmat-Nya yang telah

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, karunia dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pengembangan Karir

KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kualitas

Puji syukur kehadira Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan sripsi dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Yang Melayani (Servant

Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih karunia- Nya atas selesainya penulisan skripsi ini dengan judul “Strategi Komunikasi

Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul Pengaruh