13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PRESEDEN
A. REDESAIN
Secara etimologi redesain berasal dari dua kata yaitu ‘re-’ yang berarti kembali dan ‘desain’ yang berarti merancang, sehingga redesain dapat diartikan merancang kembali. Frick (2007) mendefinisikan merancang atau membangun kembali dapat dilakukan dengan cara membongkar dan atau memperbaiki kesalahan yang telah dibangun. Menurut John M. dalam Himmah (2012), redesain merupakan kegiatan perencanaan dan perancangan kembali suatu bangunan sehingga terjadi perubahan fisik tanpa mengubah fungsinya baik melalui perluasan, perubahan, maupun pemindahan lokasi.
Dari pengertian-pengertian tentang redesain tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa redesain merupakan kegiatan merancang kembali bangunan yang sudah ada tanpa mengubah fungsinya untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibangun sehingga dapat didapatkan manfaat yang lebih baik di masa depan. Dalam proses redesain perlu melakukan kegiatan Post Occupancy Evaluation (POE) atau evaluasi purna huni pada bangunan eksisting.
Evaluasi purna huni adalah proses sistematis mengevaluasi kinerja bangunan setelah dibangun dan dihuni selama beberapa waktu (Council, 2002). Menurut Rabinowitz dalam Moore (1994) memilih POE dalam tiga aspek yaitu: fungsional, teknis, dan perilaku (“Bab 8 Evaluasi Pasca Huni,” n.d.).
1. Aspek fungsional
Beberapa hal yang merupakan evaluasi dalam aspek fungsional menurut Sudibyo dalam Bab 8 Evaluasi Pasca Huni (n.d.) antara lain:
a. Pengelompokan fungsi: menyangkut konsep pengelompokan atau pemisahan fungsi-fungsi yang berlangsung di dalam satu bangunan.
b. Sirkulasi bangunan.
c. Faktor manusia, mencakup segi-segi perancangan dan standar.
d. Fleksibilitas dan perubahan.
2. Aspek Teknis
Menurut Sudibyo Bab 8 Evaluasi Pasca Huni (n.d.), aspek teknis menyangkut kondisi fisik bangunan meliputi struktur, ventilasi, sanitasi, dan
14 pengamanan bangunan serta sistem penanganannya, yang bertujuan agar bangunan tersebut aman, nyaman, dan berumur panjang.
3. Aspek perilaku
Menurut Sudibyo dalam Bab 8 Evaluasi Pasca Huni (n.d.), aspek perilaku menghubungkan kegiatan pemakai dengan lingkungan fisiknya mengenai bagaimana kesejahteraan sosial dan psikologis pemakai dipengaruhi oleh rancangan bangunan. Beberapa permasalahan perilaku yang perlu diperhatikan misalnya proximity dan teritoriality, privacy dan interaksi, persepsi, citra dan makna, kognisi dan orientasi.
Menurut Dibner dalam Tomasowa (2012) dalam redesain dengan penambahan baru pada bangunan harus memperhatikan interaksi antara bangunan lama dengan yang baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Ukuran dan bentuk. Dalam penambahan baru pada bangunan yang dirancang ukuran dan bentuk tidak harus tetap sama, namun desainnya harus dilihat sebagai satu unit dengan keseluruhan bangunan.
2. Lahan. Sebagian besar bangunan ditambahkan secara horizontal, sehingga ukuran lahan yang memadai perlu diperhatikan.
3. Struktur. Sistem struktur yang sudah ada harus ditinjau ulang kecukupannya untuk mengurangi resiko jika dilakukan penambahan baru.
4. Sistem mekanikal dan elektrikal. Sistem mekanikal dan elektrikal yang sudah ada harus ditinjau ulang sesuai kebutuhan jika dilakukan penambahan baru.
B. PASAR WISATA
1. Pasar
Secara tradisional pasar merupakan suatu tempat atau lokasi bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli (Keputusan Menteri No.
23/MPP/KEP/1998 tentang Lembaga-Lembaga Usaha Perdagangan) produk barang maupun jasa (Sudaryono, 2015). Menurut Brian Tracy dalam Sudaryono (2015) pasar adalah himpunan pembeli nyata dan pembeli potensial atas suatu produk. Pasar adalah tempat fisik di mana para pembeli dan penjual berkumpul untuk membeli dan menjual barang (Kotler & Keller, 2007). Dari pengertian menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pasar merupakan tempat transaksi jual beli barang maupun jasa oleh penjual dan pembeli.
15 Menurut kelas mutu pelayanannya pasar dapat digolongkan menjadi pasar tradisional dan pasar modern. Pasar modern adalah pasar yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta yang pengelolaannya dilaksanakan secara modern dan mengutamakan pelayanan kenyamanan berbelanja dengan dilengkapi label harga yang pasti, dan bentuknya berupa mall, supermarket, department store, dan shopping centre. Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah maupun swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los, dan tenda, yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil dan menengah dengan usaha skala kecil dan modal kecil, dan dengan proses jual beli melalui tawar-menawar.
Dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 378/KPTS/1987 tentang Pengesahan 33 Standar Bangunan Indonesia dalam Amin (2012), peranan pasar dijabarkan ke dalam enam peranan, di antaranya adalah pasar sebagai tempat rekreasi. Barang-barang yang diperdagangkan dalam pasar ditata dan disajikan sedemikian rupa sehingga menarik pengunjung. Pengunjung pasar terkadang sekedar berjalan-jalan sambil melihat-lihat dagangan untuk mengurangi kejenuhan.
2. Wisata
Menurut UNWTO dalam Suryadana & Octavia (2015), pariwisata merupakan kegiatan perjalanan dan tinggal seseorang di luar tempat tinggal dan lingkungannya selama tidak lebih dari satu tahun berurutan untuk berwisata, bisnis atau tujuan lain bukan untuk bekerja di tempat yang dikunjunginya. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara (“Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009,” n.d.). Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa wisata adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan perjalanan di luar daerah asalnya dalam jangka waktu sementara menuju daerah yang memiliki daya tarik untuk tujuan rekreasi.
Menurut UU No. 10 Tahun 2009, daerah tujuan wisata yang selanjutnya disebut destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam suatu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Dengan demikian suatu destinasi wisata terdapat komponen-komponen yang saling terintegrasi dalam
16 terwujudnya kepariwisataan. Menurut Cooper et. al dalam Damster & Tassiopoulos (2005), suatu destinasi memiliki empat komponen utama yaitu atraksi, fasilitas, aksesibilitas, dan layanan tambahan.
a. Atraksi atau daya tarik wisata
Berdasarkan UU No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Menurut Prosser dalam Mason (2003), dalam suatu lingkungan destinasi wisata terdapat suatu atraksi yang merupakan hal-hal untuk dilihat dan dilakukan oleh wisatawan; perjalanan insentif; berupa bangunan, budaya, dan alam. Menurut Nyoman S. Pendit dalam Suryadana & Octavia (2015) atraksi merupakan segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat, yang meliputi panorama keindahan alam, gunung, lembah, ngarai, gua, danau, air terjun, pantai, iklim, dsb. Menurut Inskeep dalam Suryadana & Octavia (2015), atraksi wisata mencakup:
i. Wisata alam: iklim, pemandangan indah, laut dan pantai, flora dan fauna, ruang terbuka hijau, dan kawasan lindung.
ii. Wisata budaya: arkeologi, sejarah dan tempat-tempat budaya, pola budaya yang khas, seni dan kerajinan tangan, daya tarik aktivitas ekonomi, daya tarik pertokoan, museum dan fasilitas budaya lainnya, festival budaya, ramah tamah kenegaraan.
iii. Wisata khusus: taman nasional, taman hiburan, sirkus, shopping, pertemuan, konferensi dan konvensi, event khusus, gambling.
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa atraksi atau daya tarik wisata merupakan segala sesuatu yang menarik sehingga dapat menjadi suatu tujuan wisata. Atraksi berkaitan dengan potensi suatu daerah, seperti kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia, sehingga potensi yang ada pada suatu daerah merupakan sesuatu yang dapat menarik pengunjung.
Berdasarkan macam-macam atraksi wisata tersebut, pasar wisata termasuk ke dalam wisata budaya dan khusus karena mencakup daya tarik seni dan kerajinan tangan sebagai budaya setempat dan merupakan sarana belanja wisatawan.
Dalam kegiatan wisata, terjadi pergerakan wisatawan dari daerah asal menuju daerah tujuan wisata yang salah satu komponen destinasi tersebut adalah daya tarik wisata. Setiap destinasi wisata memiliki daya tarik yang beragam
17 sesuai dengan potensi yang dimiliki. Daya tarik yang tidak atau belum dikembangkan merupakan sumber daya potensial, namun belum dapat disebut daya tarik wisata sampai adanya pengembangan tertentu. Daya tarik merupakan unsur utama kepariwisataan. Oleh karena itu, tanpa adanya daya tarik di suatu daerah, kepariwisataan akan sulit dikembangkan (Suryadana & Octavia, 2015).
Menurut Maryani dalam Suryadana & Octavia (2015) suatu daya tarik wisata dapat menarik wisatawan harus memenuhi syarat-syarat antara lain:
i. What to see
Di tempat tersebut harus ada atraksi wisata yang berbeda dengan yang dimiliki daerah lain.
i. What to do
Di tempat tersebut harus tersedia fasilitas rekreasi yang dapat membuat wisatawan betah untuk tinggal lama di tempat tersebut.
ii. What to buy
Di tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk berbelanja sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke daerah asal wisatawan, seperti souvenir dan kerajinan rakyat.
iii. What to arrive
Di tempat tersebut tersedia sarana dan prasarana transportasi untuk kemudahan menuju tempat tersebut.
iv. What to stay
Di tempat tersebut tersedia fasilitas akomodasi bagi para wisatawan yang akan tinggal, seperti hotel, dsb.
Menurut Suryadana & Octavia (2015) suatu daerah dikatakan memiliki daya tarik wisata bila memiliki sifat:
i. Keunikan ii. Keaslian
iii. Kelangkaan, sulit ditemui di daerah atau negara lain
iv. Menumbuhkan semangat dan memberikan nilai bagi wisatawan.
b. Fasilitas dan pelayanan wisata
Di samping komponen daya tarik wisata, wisatawan membutuhkan adanya fasilitas yang menunjang kegiatan wisatanya. Oleh karena itu perlu disediakan
18 berbagai macam fasilitas, mulai dari pemenuhan kebutuhan sejak wisatawan tersebut berangkat dari daerah asalnya, selama berada di daerah destinasi wisata berada, dan kembali ke daerah asalnya. Fasilitas-fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan melengkapi satu sama lain, tidak dapat dipisahkan tergantung bentuk perjalanan wisata yang dilakukan oleh wisatawan. Komponen fasilitas biasanya terdiri dari unsur alat transportasi, fasilitas akomodasi, fasilitas makan dan minum, dan fasilitas penunjang lainnya yang bersifat spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan (Suryadana & Octavia, 2015).
Fasilitas dan pelayanan wisata menurut Inskeep dalam Suryadana &
Octavia (2015) yang dimaksud adalah semua fasilitas yang dibutuhkan dalam perencanaan kawasan wisata. Fasilitas tersebut misalnya restoran dan berbagai jenis tempat makan lainnya, toko-toko untuk menjual hasil kerajinan tangan, cinderamata, toko-toko khusus, toko kelontong, bank, tempat penukaran uang dan fasilitas pelayanan keuangan lainnya, kantor informasi wisata, pelayanan pribadi, pelayanan kesehatan, keamanan umum, dsb.
C. PRESEDEN PASAR WISATA
1. Pasar Beringharjo, Yogyakarta
Gambar II.1 Pasar Beringharjo, DIY
Sumber: http://www.mymagz.net/pasar-beringharjo-pasar-tertua-di-yogyakarta/
Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional sekaligus pasar wisata yang terletak di kawasan Malioboro Jalan Pabringan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasar ini selain merupakan pusat perekonomian masyarakat sekitar juga menjadi tujuan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Komoditi yang diperdagangkan dalam pasar ini selain kebutuhan primer dan sekunder juga menyuguhkan pernak-pernik cinderamata, aksesoris, hasil kerajinan, batik lurik, konveksi, hingga kuliner khas Yogyakarta. Pasar yang menampung sekitar 7.000 pedagang ini tidak pernah sepi pengunjung, beroperasi dari setiap hari mulai pukul 06.00 sampai 17.00 WIB.
19 Bangunan pasar ini dibagi menjadi dua bangunan terpisah, yaitu di sisi barat yang terdiri dari dua lantai dan di sisi timur yang terdiri dari tiga lantai. Ciri khas bangunan ini yaitu memiliki interior yang merupakan perpaduan arsitektur kolonial dengan arsitektur tradisional Jawa. Pasar ini merupakan salah satu bagian dari tata kota Kesultanan Yogyakarta yang memiliki peranan sebagai pusat transaksi ekonomi (“- JOGJATRIP,” n.d.).
Bangunan pasar ini hanya difungsikan sebagai tempat jual beli, sehingga tidak disediakan atraksi berupa workshop maupun pameran produk kerajinan. Pasar ini memiliki void di bagian tengah bangunan utamanya. Namun kurang memaksimalkan pencahayaan alami sehingga banyak kios-kios dalam pasar cenderung menggunakan lampu sebagai pencahayaan dalam kios. Selain itu juga kurang memaksimalkan penghawaan alami sehingga ruangan dalam pasar terasa cukup panas ditambah banyaknya pedagang dan ramainya pengunjung yang diwadahi dalam pasar ini. Area sirkulasi dalam Pasar Beringharjo cenderung sempit untuk jumlah pengunjung yang banyak setiap harinya. Hal ini disebabkan karena perilaku pedangang yang menjajakan barang dagangannnya di luar kios yang telah disediakan agar dagangannya lebih terlihat oleh pengunjung sehingga area sirkulasi kurang nyaman.
Berikut fasilitas utama dan penunjang dalam Pasar Beringharjo antara lain:
No Fasilitas Utama Karakteristik
1 Kios-kios dan los
Dikelompokkan berdasarkan jenis komoditi yang dipasarkan:
▪ Batik di lantai dasar bangunan utama
▪ Los bagian barat dikhususkan untuk komoditi hasil konveksi
▪ Lantai tiga bagian timur merupakan sentra barang-barang antik
2 Kios dan los kuliner
Sumber:
www.wisatamelayu.com/id/images/obyek/pasar- beringharjo-1.jpg
▪ Terdapat di sisi barat bagian depan dan belakang
▪ Lantai dua bagian timur merupakan area yang menjual jejamuan
Tabel II.1 Fasilitas utama Pasar Beringharjo Sumber: (“- JOGJATRIP,” n.d.)
20
No Fasilitas Penunjang Karakteristik
1 Tempat penitipan anak
Berada di sisi selatan pintu utama pasar, dan berhadapan dengan area parkir.
(sumber: http://indonesia-
feature.blogspot.co.id/2015/06/tpa-pasar- beringharjo-satu-satunya-tpa.html)
2 Kantor Pengelola
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_Beringharjo
Berada di sisi kanan dan kiri pintu utama.
Berukuran 2,5m x 3,5m.
3 Parkir
4 Area bongkar muat barang 5 Gudang
6 Sarana pengamanan 7 Tempat penitipan barang 8 Pusat pelayanan kesehatan 9 Koperasi pasar
10 Mekanikal Elektrikal 11 Mushola
12 Toilet
13 Sarana komunikasi
14 Pusat pelayanan jasa angkut
Tabel II.2 Fasilitas penunjang Pasar Beringharjo Sumber: (Jogja, 2014)
2. Pasar Wisata Jatim Park I, Batu
Gambar II.2 Pasar Wisata Jatim Park I, Batu Sumber: dokumen penulis
Pasar wisata ini terletak di kawasan obyek wisata Jawa Timur Park I di jl.
Dewi Sartika, Kota Batu. Pasar wisata ini merupakan salah satu tujuan pengunjung setelah mengunjungi taman hiburan Jatim Park I. Oleh karena itu pasar ini tidak
21 pernah sepi pengunjung. Selain itu, komoditi dalam pasar ini cukup beragam, seperti pakaian, aksesoris, mainan anak, kerajinan kayu dan perabotan dapur, handicraft, snack, tanaman hias, hewan peliharaan, serta buah-buahan.
Berikut fasilitas utama dan penunjang dalam Pasar Wisata Jatim Park I antara lain:
No Fasilitas Utama Karakteristik
1 Kios-kios Dikelompokkan berdasarkan komoditi yang
dipasarkan:
▪ Bagian selatan terdiri dari tiga massa bangunan dengan sistem sirkulasi grid yang menjual berbagai snack dan buah-buahan khas Kota Batu.
▪ Bagian utara terdiri dari satu massa bangunan yang menyuguhkan pakaian, aksesoris, mainan, dan handicraft. Bangunan ini terintegrasi dengan foodcourt di bagian belakangnya.
2 Kios Bunga
▪ Menjual berbagai jenis tanaman hias
▪ Terletak di bagian utara sebelah barat
▪ Kios dibuat semi terbuka
3 Kios Hewan
▪ Menjual hewan-hewan peliharaan
▪ Terletak di bagian selatan sebelah timur
4 Foodcourt
▪ Terdiri dari beberapa stand makanan yang menjual makanan-makanan cepat saji.
▪ Stand dibuat mengelilingi tempat makan pengunjung yang berada di tengahnya.
Tabel II.3 Fasilitas utama Pasar Wisata Jatim Park I Sumber: Survey penulis, 2016
No Fasilitas Penunjang Karakteristik
1 Parkir
Menyatu dengan obyek wisata Jatim Park I 2 Sarana pengamanan
3 Pusat informasi
4 ATM
5 Kantor Pengelola
22 6 Layanan kebersihan
Berada di bagian belakang yaitu zona servis 7 Mushola
8 Toilet
9 Tempat makan dan istirahat pengunjung
▪ Berada di sisi kiri setelah pintu masuk pasar yang dapat diakses dari obyek wisata Jatim Park I
▪ Ruangan dibuat semi terbuka
Tabel II.4 Fasilitas penunjang Pasar Wisata Jatim Park I Sumber: Survey penulis, 2016
3. Pasar Apung Nusantara Museum Angkut, Batu
Gambar II.3 Pasar Apung Nusantara, Batu Sumber: dokumen penulis
Pasar wisata ini terletak di kawasan obyek wisata Museum Angkut dan Museum D’topeng, Kota Batu. Pasar wisata ini merupakan salah satu tujuan pengunjung setelah mengunjungi museum transportasi terbesar se-Asia ini, sehingga pasar ini tidak pernah sepi pengunjung. Komoditi dalam pasar ini cukup beragam, seperti pakaian, aksesoris, kerajinan, handicraft, snack, serta aneka kuliner khas nusantara.
Berikut fasilitas utama dan penunjang dalam Pasar Apung Nusantara antara lain:
23
No Fasilitas Utama Karakteristik
1 Kios-kios ▪ Tidak dikelompokkan berdasarkan
komoditi yang dijual, sehingga pedagang bebas memilih lokasi kios mereka.
▪ Setiap kios memiliki arsitektur yang berbeda menggambarkan miniatur rumah tradisional yang ada di seluruh Indonesia seperti Jawa, Papua, Kalimantan, Lombok, Toraja, dan Madura.
2 Gerai makanan dan minuman
▪ Dapat dijumpai di setiap sudut pasar
▪ Menjual kuliner khas nusantara
3 Bazar
▪ Terintegrasi dengan Museum D’topeng
▪ Menjual pakaian
Tabel II.5 Fasilitas utama Pasar Apung Nusantara Sumber: Survey penulis, 2016
No Fasilitas Penunjang Karakteristik
1 Parkir
Menyatu dengan obyek wisata Museum Angkut
2 Sarana pengamanan 3 Pusat informasi 4 Layanan kebersihan
5 ATM
6 Mushola
24 7 Toilet
▪ Berada di area barat
▪ Eksterior menampilkan bangunan tradisional
▪ Interior menampilkan toilet modern
8 Tempat istirahat pengunjung
▪ Dibuat semi terbuka
▪ Berada di setiap sudut pasar
▪ Memungkinkan pengunjung untuk duduk bersantai dengan nyaman
9 Smoking area
▪ Dibuat semi terbuka
▪ Berada di setiap sudut pasar
10 Dermaga perahu
▪ Fasilitas ini memungkinkan pengunjung menikmati suasana berlayar dengan perahu mengelilingi pasar apung
▪ Memiliki ruang tunggu
Tabel II.6 Fasilitas penunjang Pasar Apung Nusantara Sumber: Survey penulis, 2016
4. Pasar Seni Gabusan, Bantul, DIY
Gambar II.4 Pasar Seni Gabusan, Bantul, DIY Sumber: http://jogjatrip.com/id/422/Pasar-Seni-Gabusan
Pasar Seni Gabusan merupakan pusat penjualan barang-barang kerajinan yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Bantul. Pasar ini terdiri dari 16 los yang
25 menampung lebih dari 400 pedagang. Setiap los dalam pasar tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis barang yang dijual untuk memudahkan pengunjung mencari barang yang diinginkan. Komoditi dalam pasar ini antara lain kaligrafi, dompet, kipas, wayang, batik, konveksi, topeng, dan masih banyak lagi.
Pasar ini tidak hanya memiliki daya tarik dalam hal komoditinya, namun juga memiliki daya tarik berupa kegiatan pendukungnya dan arsitektur bangunannya.
Kegiatan pendukung dalam pasar ini yaitu membatik. Arsitektur bangunan pasar ini mengapresiasi perpaduan antara arsitektur modern dan tradisional (“- JOGJATRIP,”
n.d.).
Pasar seni Gabusan ini adalah pasar yang bertaraf internasional dan merupakan salah satu alternatif wisata belanja yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota Yogyakarta. Kawasan pasar seni ini banyak memanfaatkan ruang terbuka hijau.
Arsitektur bangunan pasar ini cenderung memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami yang ditunjukkan dari setiap ruang-ruangnya yang memiliki orientasi ke ruang terbuka hijau tersebut. Namun dibalik keunggulan dari segi arsitekturnya, pasar ini memiliki kekurangan dari segi pemasarannya karena hingga saat ini pasar ini cenderung sepi pengunjung. Padahal atraksi berupa komoditi yang diwadahi cukup beragam, sedangkan untuk atraksi berupa workshop kegiatan masih kurang beragam karena yang disuguhkan hanya workshop membatik padahal banyak produk kerajinan yang berpotensi untuk dijadikan workshop pengunjung.
Berikut fasilitas utama dan penunjang dalam Pasar Seni Gabusan, Bantul antara lain:
No Fasilitas Utama Karakteristik
1 Kios
sumber: http://jogjatrip.com/id/422/Pasar-Seni- Gabusan
▪ Memiliki orientasi ke ruang terbuka dengan selasar di luarnya
2 Los ▪ Tidak memiliki batas antar ruang
dengan sirkulasi di tengahnya
▪ Los 1 dan 3 merupakan sentra kerajinan kulit dan rotan
▪ Los 4 dan 5 merupakan sentra batik
▪ Los 11 dan 12 merupakan sentra topeng
▪ Los 8 merupakan sentra kerajinan kayu
26 3 Restoran
Tabel II.7 Fasilitas utama Pasar Seni Gabusan, Bantul Sumber: (“- JOGJATRIP,” n.d.)
Fasilitas Penunjang Karakteristik
1 Parkir 2 Mushola 3 Lavatory
4 Lapangan futsal pasir
5 Pusat informasi Memungkinkan pengunjung mencari
informasi mengenai lokasi los-los dan komoditi yang dipasarkan
6 Taman bermain anak
Merupakan area bermain outdoor
Tabel II.8 Fasilitas penunjang Pasar Seni Gabusan, Bantul Sumber: (“- JOGJATRIP,” n.d.)
Berdasarkan teori dan studi preseden dapat disimpulkan bahwa fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan tergantung bentuk perjalanan yang dilakukan.
Oleh karena itu untuk bentuk perjalanan yang dilakukan dalam suatu pasar wisata, fasilitas utama dan penunjang yang dibutuhkan antara lain:
a. Kios-kios, baik kios penjual hasil kerajinan atau cinderamata b. Fasilitas tempat makan dan minum, seperti foodcourt
c. Fasilitas hiburan, seperti area bermain atau berfoto d. Tempat beribadah
e. Fasilitas MCK f. Fasilitas parkir
g. Fasilitas informasi dan komunikasi h. Fasilitas kebersihan dan keamanan i. Layanan keuangan, seperti ATM
D. ARSITEKTUR METAFORA
Menurut Jencks (1977), arsitektur dapat dibaca sebagai bahasa. Metafora menjadi salah satu alat arsitektur postmodern untuk mengkritisi dan memparodikan era modern. Pada arsitektur postmodern, posisi metafora sebagai struktur bahasa arsitektural menjadi bagian utama dari semiotika atau sistem tanda arsitektur. Orang
27 selalu melihat salah satu bangunan dalam hal lain, atau dalam hal benda serupa, singkatnya sebagai metafora. Semakin terbiasa dengan bangunan modern, semakin orang akan membandingkannya dengan kiasan yang mereka ketahui. Metafora digunakan sebagai tanda arsitektural, yang merupakan kelanjutan dari transformasi bentuk dan teknik yang baru.
Menurut Lakoff & Johnson dalam Mansilla (2003), Metafora adalah mekanisme analogi [...]. Terdapat beberapa cara dalam perancangan metafora atau analogi desain, salah satunya adalah creative thinking. Menurut Mahmoodi (2001) terdapat tahapan desain dalam creative thinking yaitu synthesising, elaborating, dan imagining.
a. Synthesising
Merupakan proses analisis dengan mengumpulkan data-data yang digunakan untuk menentukan ide desain. Dalam perancangan Pasar Wisata Plaosan ini proses synthesising dilakukan dengan cara survey tentang objek yang merepresentasikan Kabupaten Magetan.
b. Elaborating
Merupakan proses memperluas ide sehingga dapat dimodifikasi dari ide awal menjadi ide-ide desain, serta menggeser pandangan agar tidak terikat pada satu ide namun pada ide-ide lain yang dapat dikembangkan lagi.
c. Imagining
Merupakan proses mengembangkan respon terhadap suatu masalah dan mencari solusi dari permasalahan sehingga dapa memvisualisasikan solusi tersebut untuk mendapatkan keputusan desain.
Menurut Antoniades (1990) terdapat tiga kategori dari metafora yaitu:
a. Intangible Metaphor, yaitu metafora yang tidak dapat diraba, misalnya suatu konsep atau sebuah ide yang mencakup tradisi atau budaya.
b. Tangible Metaphors, yaitu metafora yang dapat diraba dan dapat dirasakan secara visual. Ide metafora ini berasal dari objek yang konkrit.
c. Combined Metaphors, yaitu penggabungan antara metafora intangible dan tangible, di mana secara konsep dan visual saling mengisi.
Menurut Broadbent (1988), bentuk penganalogian metafora dalam arsitektur terbagi menjadi empat macam, yaitu:
a. Analogi romantik, cirinya yaitu dapat mendatangkan tanggapan emosional dalam diri pengamat. Analogi romantik biasanya berhubungan dengan apa yang ada pada
28 alam, melalui bentuk rona, proses alami, tempat eksotis, dan bentuk-bentuk primitif lainnya.
b. Analogi linguistik, menyampaikan pandangan terhadap suatu bangunan dengan salah satu cara: metode tata bahasa, ekspresionis, dan semiotik. Metode tata bahasa, arsitektur dianggap terdiri dari unsur kata yang ditata menurut aturan tata bahasa dan sinteksis. Metode ekspresionis, bangunan dianggap sebagai alat bagi arsitek untuk mengungkapkan sikapnya terhadap proyek bangunan. Metode semiotik merupakan penafsiran yang menggunakan tanda-tanda pada sebuah karya arsitektur, tanda tersebut mengandung informasi mengenai fungsi bangunan serta tujuan keberadaannya.
c. Analogi benda hidup, menjelaskan bahwa arsitektur alam menciptakan suatu bentuk dan fungsi bangunan, misalnya sarang laba-laba yang mengilhami bentuk struktur kabel, kulit telur yang menjadi landasan awal dari struktur cangkang, dan akar pohon yang menimbulkan pemahaman bahwa bangunan tidak mampu berdiri tanpa pondasi.
d. Analogi benda mati, menjelaskan bahwa perbandingan pada bentuk arsitektur tidak harus selalu berwujud banda hidup, misalnya struktur folded plate yang diilhami dari lipatan kertas, atau struktur tenda yang dapat menginspirasi struktur membran dan struktur tensil.
Berdasarkan beberapa kategori arsitektur metafora menurut Antoniades dan penganalogian arsitektur metafora menurut Broadbent, untuk proyek tugas akhir ini jenis metafora yang digunakan yaitu tangible metaphors (metafora yang dapat dirasakan secara visual), sedangkan analogi metafora yang digunakan yaitu gabungan analogi romantik dan analogi linguistik dengan metode semiotik. Hal tersebut dipilih karena obyek yang dipilih untuk dimetaforakan merupakan obyek alam dan benda hasil kerajinan. Dengan analogi linguistik metode semiotik dapat memberi tanda tentang salah satu komoditi yang diwadahi dalam Pasar Wisata Plaosan Kabupaten Magetan.
29
E. PRESEDEN ARSITEKTUR METAFORA
1. Guggenheim Museum of Bilbao, Spanyol
Gambar II.5 Guggenheim Museum Sumber: (Widianingsih, 2010)
Bangunan museum ini berdiri di atas lahan seluas 32.700 m2, berada di sebelah selatan tepi sungai Nervion, Bilbao, Spanyol. Bangunan terdiri dari serangkaian massa yang memiliki sebuah fokus berupa atrium di pusatnya dengan skala monumental.
Ditinjau dari jenis metafora yang digunakan, museum ini menggunakan jenis combined metaphor yaitu secara visual dan konsep terepresentasikan dalam bangunan, sedangkan penganalogian metafora yang digunakan yaitu analogi linguistik dengan metode ekspresionis yang terlihat dari bagaimana Frank O. Gehry mengungkapkan sikapnya terhadap proyek museum ini. Obyek yang dimetaforakan dalam bangunan ini yaitu:
a. Hiruk pikuk atau suasana sibuk manusia kontemporer. Dalam mengekspresikan idenya tersebut, Gehry membutuhkan nuansa ruang yang bernuansa dinamis, hidup dan energik sehingga menimbulkan kesan yang sama dengan suasana sibuknya kota Bilbao yang merupakan kota industri dan metropolis. Hal ini tergambarkan dalam ekspresi garis-garis abstrak yang dimunculkan dalam desain museum ini merupakan ekspresi yang dinamis, aktif dan hidup dengan garis-garis lengkung, bersudut yang bermunculan di setiap sisi bangunannya.
Gambar II.6 Ekspresi bentuk Guggenheim Museum Sumber: (Widianingsih, 2010)
30 b. Ikan dan gerakan ikan. Metafora gerakan ikan tergambar pada komposisi garis yang cenderung didominasi oleh lengkungan dengan putaran ke kiri, kanan, atas dan bawah. Metafora ikan yang tampak pada bangunan ini yaitu pada teksturnya yang menyerupai sisik ikan. Sisik ikan tersebut diaplikasikan pada tekstur dinding eksteriornya. Eksterior museum ini berlapis titanium berwarna metal, penggunaan material tersebut menyesuaikan daerah eksisting karena daerah itu merupakan penghasil bijih besi.
Gambar II.7 Metafora ikan pada tekstur eksterior Museum Guggenheim Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
c. Bunga mawar. Jika dilihat dari atas, bangunan ini tampak seperti bunga mawar yang sedang mekar. Bentuk mahkota bunga mawar tersebut tergambar dalam komposisi bentuk lengkung ruang dan secara keseluruhan sculptural.
Gambar II.8 Metafora bunga mawar pada Museum Guggenheim Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
d. Kapal pesiar. Jika dilihat dari sisi sungai Nervion, museum ini tampak seperti kapal pesiar yang sedang berlayar.
Gambar II.9 Metafora kapal pada Museum Guggenheim Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
Interior museum terdiri dari tiga lantai ruang peragaan termasuk galeri monumental setinggi 50 m beratap skylight pada atriumnya yang dikhususkan untuk karya seni berukuran besar. Selain itu museum ini memiliki galeri memanjang,
31 seluas 10.400 m2, yang menjangkau kedua sisi bawah jembatan Puente de la Salve dan berakhir pada menara. Pencahayaan alami melalui skylight dan sistem pantulan pada atap menerangi penampilan interiornya (Widianingsih, 2010).
2. Museum Tsunami Aceh
Gambar II.10 Museum Tsunami Aceh
Sumber: sengpaku.blogspot.co.id/2016/01/museum-tsunami-aceh-rumoh-aceh-escape- hill.html?m=1 (diakses pada 10/05/2017)
Museum Tsunami Aceh berlokasi Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh ini dibangun dengan tujuan untuk mengenang para korban bencana tsunami, sebagai pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami, dan pusat evakuasi jika bencana tsunami terjadi lagi. Selain itu museum ini dijadikan simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami, hal ini yang menjadi ide dasar pembangunan museum ini.
Bangunan museum ini terdiri dari empat lantai yang menerapkan konsep rumah tradisional Aceh yaitu rumah panggung yang merupakan simbol kearifan lokal. Jika ditinjau dari jenis metafora yang digunakan, museum ini menggunakan jenis tangible metaphor atau metafora yang dapat dirasakan secara visual, sedangkan penalogian metafora yang digunakan yaitu analogi linguistik dengan metode semiotik yang terlihat dari bentuk bangunan yang merupakan tanda yang mengandung informasi mengenai fungsi dan tujuan museum ini berada. Obyek yang dimetaforakan dalam bangunan ini yaitu:
a. Kapal pesiar. Jika dilihat dari depan, museum ini tampak seperti kapal pesiar dengan sebuah mercusuar berdiri tegak di atasnya.
Gambar II.11 Tampak depan Museum Tsunami tampak seperti kapal Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
32 b. Pusaran gelombang laut. Jika dilihat dari atas, museum ini tampak seperti pusaran gelombang air laut dengan pusatnya di bagian tengah yang merupakan penyebab terjadinya tsunami. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan pada proses terjadinya tsunami.
Gambar II.12 Tampak atas Museum Tsunami tampak seperti pusaran air Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
c. Tari saman. Tari saman merupakan sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius masyarakat Aceh. Dinding lengkung eksterior museum dihiasi relief orang-orang menari Saman yang diabstraksikan menjadi bentuk yang geometris. Tari saman dipilih untuk mengekspresikan keberagaman budaya Aceh yang terlihat dari ornamen dekoratif tersebut. Motif tersebut terbuat dari GRC yang berfungsi sebagai secondary skin.
Gambar II.13 Tari Saman sebagai relief eksterior Museum Tsunami Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
Ketika masuk ke dalam museum, pengunjung harus melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi. Desain ruang tersebut bertujuan untuk mengingatkan kembali suasana dan kepanikan saat terjadi tsunami. Pada lantai tiga, terdapat beberapa fasilitas seperti ruang geologi, ruang perpustakaan, mushola, dan area cinderamata. Pada ruang geologi, pengunjung dapat memperoleh berbagai informasi tentang bencana, tentang gempa, dan sebab tsunami terjadi, melalui penjelasan dari beberapa display, dan alat simulasi yang terdapat dalam ruangan tersebut. Adapun di lantai paling atas, difungsikan sebagai escape building atau tempat penyelamatan diri apabila tsunami terjadi lagi di masa yang akan datang.
Bagian atap museum yang berbentuk datar dan lapang ini dirancang sebagai zona evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa (Ramadhina, 2014).
33 3. Sidney Opera House, Australia
Gambar II.14 Sidney Opera House
Sumber: (“Sydney Opera House - Data, Photos & Plans,” n.d.)
Sidney Opera House merupakan sebuah mahakarya hasil kompetisi internasional karya arsitek asal Denmark yaitu Jörn Utzon pada tahun 1959. Gedung ini memiliki lebih dari 1.000 kamar yang sebagian besar digunakan untuk studio musik dengan kapasitas lebih dari 5.000 orang. Sidney Opera House dibangun di semenanjung kecil di Bennelong Point, sisi selatan dari teluk Sidney, Australia, dalam satu area dengan taman kota di mana perkantoran dibangun dan ketiga sisinya dikelilingi oleh pelabuhan.
Jika ditinjau dari jenis metafora yang digunakan, museum ini menggunakan jenis tangible metaphor atau metafora yang dapat dirasakan secara visual, sedangkan penganalogian metafora yang digunakan yaitu analogi benda hidup. Obyek yang dimetaforakan dalam bangunan ini yaitu:
a. Irisan jeruk. Gagasan awal arsitek dalam desain ini digambarkan sebagai
‘irisan jeruk’ saat dikupas sehingga didapatkan segmen kupasan jeruk tersebut.
Gambar II.15 Metafora kupasan jeruk pada Sidney Opera House Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
34 b. Kapal pesiar. Karena lokasi gedung opera ini dikelilingi teluk banyak orang menyebut bahwa desain bangunan ini terinspirasi dari bentuk kapal pesiar yang sedang berlayar.
Gambar II.16 Metafora kapal pada Sidney Opera House Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
c. Kerang. Selain seperti kapal pesiar yang sedang berlayar, banyak orang yang menyebut bangunan ini seperti sebuah kerang yang bertumpuk-tumpuk.
Gambar II.17 Metafora kerang pada Sidney Opera House Sumber: www.google.com (diakses pada 10/05/2017)
Ditinjau dari penganalogian metafora dalam arsitektur bangunan ini menggunakan analogi benda hidup, yaitu menggunakan struktur cangkang yang diilhami dari bentuk cangkang telur. Bangunan ini memiliki 183 m panjang dan lebar 120 m, yang terdiri dari serangkaian struktur cangkang yang bertumpu pada sudut segitiga dan membuka sebagai stabilitas menantang. Struktur yang efisien dalam bentuk kubah merupakan awal geometri yang terbatas, namun hampir dari awal proses desain kubah tersebut direncanakan sebagai perumpamaan yang ditopang oleh struktur prefabrikasi.
Setelah melalui beberapa proses, arsitek mengembangkan model berdasarkan bentuk bola. Struktur cangkang yang dibuat sebagai bagian dari sebuah bola yang akhirnya menjadi desain akhir. Bagian yang paling sederhana yaitu permukaan melengkung. Dalam satu area tingkat kelengkungannya sama di semua poin yang sama.
35 Gambar II.18 Konsep Sidney Opera House
Sumber: (“Sydney Opera House - Data, Photos & Plans,” n.d.)
Eksterior bangunan ini didominasi bentuk lengkung dan warna putih. Setiap elemen desain, dari bagaimana letak gedung ini, dan dari berbagai sudut pandang dimaksudkan untuk membuat pengunjung merasa santai dan merasa disambut.
Dalam gambar desain asli podium dirancang agar cocok dengan struktur keseluruhan.
Gambar II.19 Fasad Sidney Opera House
Sumber: (“Sydney Opera House - Data, Photos & Plans,” n.d.)
Sebagian besar struktur bangunan terbuat dari beton. Atapnya memiliki 2.194 bagian beton pracetak. Beberapa bagian atap ditumpu oleh kabel baja. Fasad berupa kaca berwarna dengan rangka baja yang terkesan menggantung pada struktur cangkang. Kaca yang digunakan yaitu dengan ketebalan 12 mm dan 6 mm yang terpolarisasi dalam warna perunggu, terhubung dengan dua lapisan 0,76 mm
36 Polivinilbuteral bening. Tujuannya adalah untuk menghindari naungan ‘green glass’
yang datang dengan tambahan perlindungan dari panas terik matahari digunakan orientasi jendela ke utara. Dinding teater dilapisi dengan ubin putih yang diproduksi di Swedia. Interior bangunan terbuat dari granit merah muda dan kayu lapis dari New South Wales. Struktur cangkang ini terdiri dari tiga ruang publik yaitu teater opera, ruang konser, dan restoran. Gedung Sidney Opera ini berisi 5 teater, 5 studio, pengujian, 2 aula utama, 4 restoran, 6 bar, dan beberapa toko (“Sydney Opera House - Data, Photos & Plans,” n.d.).
Berdasarkan beberapa preseden arsitektur metafora yang diambil, dapat ditarik kesimpulan yaitu:
a. Obyek yang dapat dimetaforakan tidak selalu dari obyek konkrit, namun juga dapat diambil dari obyek yang abstrak.
b. Penampilan bangunan dengan arsitektur metafora dapat menimbulkan tanggapan yang berbeda tergantung dari sudut pandang pengamat.
c. Obyek yang dimetaforakan tidak hanya mengambil dari satu obyek saja melainkan kombinasi dari berbagai obyek.
d. Obyek-obyek yang dimetaforakan biasanya diabstraksikan menjadi bentuk yang lebih geometris agar lebih fungsional.
e. Pengambilan obyek yang dimetaforakan biasanya mengambil atau menyesuaikan dengan tema bangunan atau lingkungan di mana bangunan berada.