SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Kegurun dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh Wulan Sanytiara Nim 105401103717
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2021
vi
vii
viii
ix
x
MOTO DAN PERSEMBAHAN
Jangan menunda pekerjaan sampai besok Jika hari ini dapat diselesaikan
Maka tuntaskanlah
Kupersembahkan karya ini buat:
Kedua orang tuaku, saudaraku, sahabatku, dan seperjuangnku di PGSD 2017.
Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan
xi ABSTRAK
Wulan Sanytiara. 2021. Pengaruh Penggunaan Media Pakapin (Papan Kantong Pintar) Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Skripsi.
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dibimbing oleh M. Agus dan Muhammad Akhir.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu apakah ada pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Jenis penelitian ini adalah pre-experimental design dan desain penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design, yaitu suatu penelitian yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok dan perbandingan tetapi dilakukan tes awal. Sampel pada penelitian ini adalah kelas II dengan jumlah 26 siswa, 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi dan tes. Hasil belajar bahasa Indonesia siswa di ukur menggunakan instrument pretest dan posttest.
Data hasil penelitian diperoleh sebelum diberikan perlakuan skor rata-rata adalah 51,53% sedangkan setelah diberikan perlakuan skor rata-rata meningkat menjadi 81,92%, hasil uji hipotesis menunjukkan nilai thitung=16,17>ttabel=1,708.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian berbunyi “Ada Pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa” dinyatakan diterima. Hal ini berarti penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) berpengaruh terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
Kata kunci: Pengaruh, Media Pakapin, Hasil Belajar, Pretest, Posttest
xii
KATA PENGANTAR
Allah maha Penyanyang dan Pengasih, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.
Penulis menyadari bahwa segala hal dalam proses penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang senantiasa memberikan masukan, nasihat serta motivasi yang tiada hentinya. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu kelancaran proses penyusunan skripsi.
Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Muh. Sawit dan Anita yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu.
Demikian pula, penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemaniku dengan candanya, penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada bapak Dr. M Agus, S.Pd., M.Pd, dan Dr. Muhammad Akhir S.Pd., M.Pd., pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.
Tidak lupa pula penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada; bapak Prof. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.,
xiii
Erwin Akib, M.Pd., Ph.D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar., dan Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sahabatku tercinta Risky Agustia Magfirah, Sri Hidayati, dan Rahmayanti Nasir yang selalu menemaniku dalam suka dan duka, teman-teman terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2017 atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi pelangi dalam hidupku.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Aamiin.
Makassar, Agustus 2021
Penulis
xiv DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 8
1. Penelitian yang Relevan ... 8
2. Media Pembelajaran ... 10
3. Pakapin (Papan Kantong Pintar) ... 17
4. Hasil belajar ... 20
5. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD ... 27
B. Kerangka Pikir ... 32
C. Hipotesis ... 34
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian ... 35
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 36
C. Variabel dan Definisi Operasional ... 36
D. Populasi dan Sampel ... 37
E. Prosedur Penelitian... 38
xv
F. Instrumen Penelitian... 39 G. Teknik Pengumpulan Data ... 39 H. Teknik Analisis Data ... 40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ... 45 B. Pembahasan ... 53 BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ... 56 B. Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA ... 57 LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
3.1 Desain Penelitian One Group Pretest-Postest Design ... 35
3.2 Populasi Siswa Kelas II ... 37
3.3 Standar Ketuntasan Hasil Belajar... 41
4.1 Perhitungan Untuk Mencari Mean (rata-rata) Nilai Pretest ... 46
4.2 Tingkat Hasil Belajar Pretest ... 47
4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia ... 47
4.4 Perhitungan Untuk Mencari Mean (rata-rata) Nilai Posttest ... 48
4.5 Tingkat Hasil Belajar Posttest ... 49
4.6 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia ... 50
xvii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 33
xviii
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Lampiran 2. Lembar Observasi Pretest
Lampiran 3. Lembar Observasi Posttest Lampiran 4. Tes Pretest
Lampiran 5. Tes Posttest
Lampiran 6. Daftar Hadir Siswa Kelas II Lampiran 7. Data Nilai Hasil Belajar (Pretest) Lampiran 8. Data Nilai Hasil Belajar (Posttest) Lampiran 9. Data Hasil Belajar Pretest dan Posttest Lampiran 10. Dokumentasi
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reformasi bidang pendidikan dilakukan dari waktu ke waktu selalu saja ada hal yang baru.Bahkan semakin cepatnya pembaruan dibidang pendidikan kadang membuat masyarakat tidak bisa mengikuti ritmenya.Contoh kasus tentang perubahan kurikulum beberapa waktu lalu. Ganti menteri, ganti kurikulum.Hal ini cukup membuat gejolak dimasyarakat. Tujuannya tentu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional (Alimuddin, 2018).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Republik Indonesian Nomor 20 Tahun 2003). Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya.
Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung sepanjang hidup merupakan faktor penting dari kehidupan seseorang dan merupakan aspek strategis bagi suatu Negara. Mengacu pada kompleksitas dan dinamisasi penyelenggaraan pendidikan tersebut, terkait hal ini para pakar dan pemerhati pendidikan telah banyak menyumbangkan tenaga dan pemikirannya dengan maksud untuk memperbaiki mutu dan memajukan pendidikan yang dapat menyejahterakan suatu bangsa.
Pada hakikatnya belajar dimaknai sebagai proses perubahan perilaku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Perubahan perilaku terhadap hasil belajar yang bersifat continiu, fungsional, positif, aktif, dan terarah.
Proses perubahan tingkah laku dapat terjadi dalam berbagai kondisi berdasarkan penjelasan dari para ahli pendidikan dan psikologi.
Adapun pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik, dengan bahan pelajaran, metode penyampaian, strategi pembelajaran dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Kemudian, keberhasilan dalam proses belajar dan pembelajaran dapat dilihat melalui tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Proses pembelajaran ditandai dengan adanya interaksi edukatif yang terjadi, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan. Interaksi ini berakar dari pihak pendidik (guru) dan kegiatan belajar belajar secara pedagogis pada diri peserta didik, berproses secara sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan berproses melalui tahapan-tahapan
tertentu. Dalam pembelajaran, pendidik menfasilitasi peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Dengan adanya interaksi tersebut maka akan menghasilkan proses pembelajaran yang efektif sebagaimana yang telah diharapkan.
Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) dapat menjadi sarana untuk menanamkan kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai berdasarkan Kurikulum yang berlaku (Akhir, 2017). Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang penting didalam dunia pendidikan. Di jenjang pendidikan dasar (SD/MI) pembelajaran bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengubah perilaku peserta didik dalam berbahasa Indonesia, dalam perubahan tersebut dapat dicapai apabila pendidik membelajarkan peserta didik sesuai dan sejalan dengan tujuan belajar bahasa Indonesia di (SD/MI). Mata pelajaran bahasa Indonesia diberikan dengan maksud untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam dunia pendidikan, seringkali istilah alat bantu atau media digunakan secara bergantian atau pengganti dengan istilah media pembelajaran.
Kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. Tidak hanya itu saja media pembelajaran sangatlah
berguna dan bermanfaat agar peserta didik lebih untuk memahami pelajaran yang telah diberikan.
Guru sebagai penyampai informasi atau pesan dapat menimbulkan berbagai permasalahan terutama dalam upaya memusatkan perhatian siswa dan ketepatan pesan yang semula ingin disampaikan, sehingga sering kali terjadi salah penafsiran oleh siswa terhadap apa yang ingin disampaikan oleh guru. Tentu saja pada akhirnya hal ini juga akan berdampak terhadap hasil belajar siswa menjadi tidak seperti yang diharapkan oleh guru itu sendiri. Sering kali ditemukan berbagai hambatan dalam proses pembelajaran dikarenakan kurang tepatnya atau bahkan tidak digunakannya media dalam pembelajaran. Untuk itu guru harus menggunakan media pembelajaran yang optimal agar proses pembelajaran berlangsung efektif dan berhasil dengan baik.
Berdasarkan hasil dari observasi dan pengamatan yang peneliti lakukan di SDI Parangrea terkait kondisi siswa dalam mengikuti pembelajaran yaitu 1) kurangnya perhatian siswa dalam proses pembelajaran,hal ini terjadi ketika guru menjelaskan materi pelajaran, siswa lebih asyik dengan aktifitasnya sendiri seperti menggambar di buku tulis, dan mengobrol dengan teman dan bermain saat proses pembelajaran. 2) kegiatan belajar mengajar yang kurang menarik, hal ini terlihat ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung ramai, jenuh dan bosan saat guru menyampaikan materi. 3) kurangnya semangat belajar pada siswa, hal ini terlihat ketika pembelajaran siswa merasa ngantuk dan kurang bersemangat saat mengikuti pelajaran dari guru.
Selain itu, wali kelas mengungkapkan bahwa bahasa Indonesia adalah mata pelajaran dengan hasil belajar yang kurang dikarenakan kemampuan berbahasa baku masih rendah dari mata pelajaran lainnya, hal tersebut sejalan dengan nilai KKM siswa kelas II yaitu 70. Pada saat proses pembelajaran guru juga kurang bervariasi menggunakan media pembelajaran sebagai alat untuk membangkitkan semangat belajar siswa.
Berdasarkan permasalahan tersebut penelitipun menawarkan media yang tepat dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu media pembelajaran pakapin (papan kantong pintar) adalah media yang terbuat dari tripleks atau karton yang ditempelkan dengan botol aqua bekas yang dihias sebanyak empat kantong, hal ini bertujuan agar siswa semangat saat menerima pelajaran. Selain itu, media ini juga dapat digunakan pada mata pelajaran lainnya.
Sejalan dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Layyinatus shifa dan Aquami (2015) dengan Judul “penggunaan media papan kantong dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas III materi surat pendek pada mata pelajaran al-qur’an hadist di MI Al-Amanah Baruharjo Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten Oku Timur”, menunjukkan bahwa hasil belajar mengalami peningkatan yang signifikan. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Devi Ratnasari (2016) dengan judul “pengaruh penggunaan media kantong bilangan terhadap hasil belajar matematika penjumlahan bilangan secara bersusun pada siswa kelas I SDN Prambanan Sleman”, menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan media kantong bilangan terhadap hasil belajar matematika penjumlahan bilangan secara bersusun pada siswa. Dan penelitian yang dilakukan
oleh Yudi Susilo (2017) dengan judul “efektivitas teknik kancing gemerincing melalui papan kantong terhadap keterampilan menulis bahasa arab siswa kelas VII MTS Negeri 1 Semarang”, menunjukkan bahwa adanya peningkatan keterampilan menulis bahasa Arab dengan menggunakan teknik kancing gemerincing melalui media papan kantong.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran papan kantong pintar pada pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan demikian peneliti mengambil judul “Pengaruh Penggunaan Media Pakapin (Papan Kantong Pintar) terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah “Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a) Bagi Akademisi, sebagai acuan teoretis tentang pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa.
b) Bagi Peneliti, sebagai pengalaman yang bersifat ilmiah, dan dapat dijadilkan sebagai referensi bagi peneliti lain.
2. Manfaat Praktis a) Bagi sekolah
Digunakan sebagai bahan masukan untuk dapat menyelenggarakan proses pembelajaran secara lebih baik dan dapat dijadikan pedoman dalam meningkatkan mutu pendidikan.
b) Bagi guru
Digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menerapkan media pembelajaran pakapin (papan kantong pintar) sebagai upaya meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia murid.
c) Bagi siswa
Dengan menggunakan media pembelajaran pakapin (papan kantong pintar) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar murid dan murid akan lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Layyinatus Shifa dan Aquami (2015), dengan judul “Penggunaan Media Papan Kantong Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III Materi Surat Pendek Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadist Di MI Al-Amanah Baruharjo Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten Oku Timur” hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang menggunakan media papan kantong mendapatkan nilai rata-rata 84, sedangkan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan media papan kantong di kelas III mendapat nilai rata-rata 76.
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teknik uji-t dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang menggunakan media papan kantong dan tidak menggunakan media papan kantong materi surah pendek pada mata pelajaran al-qur’an hadist di MI Al- Amanah Baruharjo. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan tes “t” lebih besar dari
“t” tabel baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1% atau dengan rincian 2,05 < 3,742 > 2,76 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak..
Persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan media papan kantong dan sama-sama menggunakan metode eksperimen. Perbedaan penelitian ini adalah terletak pada mata pelajaran, penelitian terdahulu menggunakan mata pelajaran al-
qur’an hadist sedangkan peneliti sekarang fokus pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Devi Ratnasari (2016), dengan judul
“Pengaruh Penggunaan Media Kantong Bilangan Terhadap Hasil Belajar Matematika Penjumlahan Bilangan Secara Bersusun Pada Siswa Kelas I Sd Negeri Prambanan Sleman” hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan media kantong bilangan terhadap hasil belajar matematika penjumlahan bilangan secara bersusun pada siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil perhitungan Uji-t yang menunjukkan bahwa ada perbedaan pada post-test kelompok eksperimen dari kelompok kontrol. Hasil perhitungan Uji-t yaitu thitung
sebesar 2,359 dengan taraf signifikansi 0,022. Berdasarkan tabel, nilai t untuk df = 50 adalah 1,684. Dari analisis tersebut diperoleh bahwa thitung lebih besar daripada ttabel (thitung>ttabel). Persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode eksperimen. Sedangkan perbedaan penelitian ini terletak pada mata pelajaran yang digunakan, peneliti terdahulu menggunakan mata pelajaran matematika sedangkan peneliti sekarang menggunakan mata pelajaran bahasa Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Yudi Susilo (2017), dengan judul
“Efektivitas Teknik Kancing Gemerincing Melalui Papan Kantong Terhadap Keterampilan Menulis Bahasa Arab Siswa Kelas VII Mts Negeri 1 Semarang”
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan keterampilan menulis bahasa Arab dengan menggunakan teknik kancing gemerincing melalui media papan kantong. Nilai rata-rata kelas eksperimen 61,74 menjadi 79,47 sedangkan
nilai rata-rata kelas kontrol 63 menjadi 73. Dan setelah dihitung diperoleh nilai thitung sebesar 2,40 dan ttabel sebesar 1,672. Dengan demikian nilai ttabel<thitung, maka hipotesis yang diterima dalam penelitian ini adalah hipotesis kerja atau alternative (Ha) yaitu pembelajaran keterampilan menulis bahasa Arab dengan menggunakan teknik kancing gemerincing melalui media papan kantong lebih efektif dibandingkan tidak menggunakan teknik kancing gemerincing melalui media papan kantong. Persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode eksperimen dan media papan kantong sedangkan perbedaan penelitian ini adalah peneliti terdahulu menggunakan kelas VII dan peneliti sekarang menggunakan kelas II sebagai subjek penelitian.
Berdasarkan penelitian relevan diatas, media papan kantong pintar diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas di SDI Parangrea.
2. Media Pembelajaran
a. Pengertian media pembelajaran
Kata media secara etimologis berasal dari kata Latin yaitu medium, yang artinya antara, dalam arti umum dipakai untuk melanjutkan alat komunikasi.
Secara istilah, kata media menunjukkan segala sesuatu yang membawa atau menyalurkan informasi antara sumber dan penerima, seperti film, televisi, radio, alat visual yang diproyeksikan, barang cetakan, dan lain-lain sejenis itu adalah media komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan atau gagasan (Susanto, 2014:
313).
Candra Rahmawati (dalam Suryani, 2018: 5) media pembelajaran adalah segala bentuk dan sarana penyampaian informasi yang dibuat atau dipergunakan sesuai dengan teori pembelajaran, dapat digunakan untuk tujuan pembelajaran dalam menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan dan berkendali.
Media pembelajaran adalah sarana untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Mengingat banyaknya macam media tersebut, maka guru harus dapat berusaha memilihnya dengan cermat agar dapat digunakan dengan tepat.
Dalam kegiatan belajar mengajar, sering pula pemakaian kata media pembelajaran digantikan dengan istilah seperti bahan pembelajaran (instructional material), komunikasi pandang-dengar (audio-visual communication), alat peraga pandang (visual education), alat peraga dan media penjelas (Kustandi dan Darmawan, 2020: 6).
Batasan lain telah dikemukakan pula oleh para ahli dan lembaga di antaranya berikut ini. AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan
saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Di samping, sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming (1987: 234) merupakan penyebab atau alat yang turut
campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya.dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Di samping
itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan canggih, dapat disebut media.
Dengan demikian, jelaslah bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran yang dimaksudkan untuk memudahkan, memperlancar komunikasi antara guru dan siswa sehingga proses pembelajaran berlangsung efektif dan berhasil dengan baik. Media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Sering kali ditemukan berbagai hambatan dalam proses pembelajaran dikarenakan kurang tepatnya waktu atau bahkan tidak digunakannya media dalam pembelajaran (Susanto, 2014: 315).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pelajaran dengan lebih baik dan sempurna.
b. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran 1. Fungsi media pembelajaran
Media pembelajaran telah menjadi bagian integral dalam pembelajaran.
Bahkan keberadaannya tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal ini telah di kaji dan diteliti bahwa pembelajaran yang menggunakan media hasilnya lebih optimal (Cahyadi, 2019: 58).
Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu pembelajaran, yang ikut mempengaruhi situasi, kondisi dan lingkungan belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah diciptakan dan di desain oleh guru. Selain itu media dapat memperjelas pesan agar tidak terlalu bersifat verbal (dalam bentuk kata tertulis dan kata lisan belaka).
Menurut Benni pribadi (dalam Syukur), media pembelajaran berfungsi sebagai berikut:
a) Membantu memudahkan belajar bagi peserta didik dan juga memudahkan proses pembelajaran bagi guru.
b) Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi konkrit).
c) Menarik perhatian peserta didik lebih besar (jalannya pelajaran tidak membosankan).
d) Semua indra peserta didik dapat diaktifkan.
e) Dapat membangkitkan dunia teori dan realitanya.
Media pembelajaran, menurut Kemp & Dayton (1985) dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok yang besar jumlahnya, yaitu: (1) memotivasi minat atau tindakan; (2) menyajikan informasi; (3) memberi instruksi. Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan.
2. Manfaat media pembelajaran
Media pembelajaran dapat digunakan untuk memperoleh perhatian siswa.
Pada umumnya, siswa akan tertarik melihat sebuah gambar yang ditayangkan, pertanyaan pada papan tulis, atau suara tertentu yang diperdengarkan di kelas. Jika
guru menggunakan media tayang seperti proyektor, maka beberapa hal yang dapat ditayangkan adalah: tujuan pembelajaran, peta konsep tentang materi pelajaran, pertanyaan singkat (kuis), hasil tes, dan sebagainya. (Sani, 2019: 326).
Kemp dan Dayton mengidentifikasi delapan manfaat media dalam pembelajaran yaitu:
a) Menyeragamkan materi pembelajaran.
b) Menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih menarik.
c) Menjadikan proses belajar siswa menjadi lebih interaktif.
d) Mempersingkat waktu penyajian oleh guru.
e) Meningkatkan kualitas belajar siswa.
f) Melaksanakan proses belajar dapat terjadi di mana dan kapan saja.
g) Menjadikan sikap positif siswa terhadap bahan pembelajaran maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan.
h) Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif.
c. Ciri-ciri Media Pembelajaran
Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu melakukannya (Kustandi dan Darmawan, 2020: 10-12).
1) Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekontruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, videotape,
audio tape, disket computer, compact disk, dan film. Suatu objek yang telah diambil gambarnya (direkam) dengan video atau video kamera dengan mudah dapat di reproduksi dengan mudah kapan saja diperlukan. Dengan ciri fiksatif ini, media memungkinkan suatu rekaman kejadian atau objek yang terjadi pada satu waktu tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu.
2) Ciri Manipulatif (Manipulative Property)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena dia memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Misalnya bagaimana proses larva menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik rekaman fotografi tersebut. Di samping dapat dipercepat, suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat menayangkan kembali hasil suatu rekaman video;
misalnya proses sunami atau reaksi kimia dapat diamati melalui kemampuan manipulatif dari media.
3) Ciri Distributif (Distributive Property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadian itu. Dewasa ini, distribusi media tidak hanya terbatas pada satu kelas atau beberapa kelas pada sekolah-sekolah didalam suatu wilayah tertentu, tetapi juga media itu misalnya rekaman video, disket computer dapat di sebar ke seluruh penjuru tempat yang diinginkan kapan saja.
d. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Media yang digunakan dalam pembelajaran beraneka ragam. Seorang guru harus dapat memilih salah satu media pembelajaran yang akan digunakan.
Penggunaan atau pemilihan media harus disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai (Cahyadi, 2019: 45). Jenis-jenis media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Media Audio
Media audio adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran. Dilihat dari sifat pesan yang diterima, media audio dapat menyampaikan pesan verbal (bahasa lisan atau kata-kata) maupun non verbal (bunyi-bunyian dan vokalisasi). Contohnya: radio, kaset audio, MP3.
2) Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan.
Media visual menampilkan materialnya dengan menggunakan alat proyeksi atau proyektor, karena melalui media ini perangkat lunak (soft ware) yang melengkapi alat proyeksi ini akan dihasilkan suatu bias cahaya atau gambar yang sesuai dengan materi yang diinginkan. Contohnya: foto, gambar, poster, kartun, grafik dll.
3) Media Audio-Visual
Media audio-visual disebut juga sebagai media video. Video merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui
pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi. Contohnya: film bersuara, video, televise, sound slide.
4) Media Multimedia
Media yang dapat menyajikan unsure media secara lengkap, seperti:
animasi. Multimedia sering diidentikkan dengan komputer, internet dan pembelajaran berbasis komputer.
5) Media Realita
Media nyata yang ada dilingkungan alam, baik digunakan dalam keadaan hidup maupun sudah diawetkan, seperti: binatang, specimen, herbarium dll.
3. Pakapin (Papan Kantong Pintar)
a. Pengertian Pakapin (Papan Kantong Pintar)
Menurut Mamik Nur Lailiyah mengatakan bahwa dalam membeli atau membuat sebuah media pembelajaran haruslah ada kolaborasi yang erat dengan materi yang akan diajarkan agar siswa mudah untuk menangkap pesan yang disampaikan guru, dan jika seorang guru membuat media itu sendiri atau membeli pilih dan buatlah media yang tidak gampang rusak (tahan lama), tidak butuh biaya yang banyak, malah bagus jika media dibuat oleh guru dengan menggunakan barang bekas.
Media kantong pintar bahasa ini merupakan sebuah media yang sengaja dibuat untuk memberikan nuansa yang berbeda saat proses belajar mengajar berlangsung, dalam media ini juga bertujuan agar siswa semangat saat menerima pelajaran bahasa Indonesia. Sebenarnya media ini bisa digunakan untuk mata
pelajaran lainnya juga, jadi media kantong pintar ini tidak hanya digunakan untuk pelajaran bahasa Indonesia saja tetapi bisa juga untuk pelajaran yang lainnya.
Media kantong pintar bahasa ini terdiri dari 4 kantong yang bisa kita lapisi dengan karton maupun tripleks ukuran sesuai dengan kemauan, kantong tadi bisa kita buat dari botol bekas yang di hiasi oleh kertas kado maupun kertas warna- warni (Origami).
Media kantong pintar bahasa ini berupa kantong yang terbuat dari tripleks atau karton berukuran kira-kira panjangnya 90 cm dan tingginya ± 60 cm, pada tripleks/karton yang digunakan kita tempelkan botol bekas yang sudah dihias sebanyak 4 kantong. Dengan desain yang menarik akan membantu siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran dan memudahkan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut, sehingga peserta didik dapat lebih aktif belajar didalam kelas tidak hanya itu saja peserta didik juga dapat lebih cepat memahami pembelajaran yang telah berlangsung.
b. Langkah-langkah Media Pakapin
1) Menyiapkan terlebih dahulu kertas karton yang tebal, kertas origami, kertas kado, botol aqua bekas ukuran besar, lem tembak, glukol, gunting, kardus bekas, double tipe, stik es cream.
2) Pada tahap pertama, lapisi kertas karton dengan menggunakan kertas kado pilihlah kertas kado yang menarik lalu rekatkan dengan menggunakan glukol.
Kemudian, tunggu hinggs kertas karton dan kertas kado merekat dengan sempurna.
3) Tahap kedua, ambil botol aqua bekas gunakan botol aqua sesuai dengan kebutuhan kita. Kemudian, potong bagian ujung botol lalu hias botol aqua tersebut dengan menggunakan kertas origami dan rekatkan dengan menggunakan lem tembak agar lebih menarik lagi, hias dengan stik es cream, tempelkan stik es cream pada bagian depan botol tersebut.
4) Tahap ketiga, buatlah sebuah tulisan media kantong pintar yang berupa print out, kemudian gunting satu persatu huruf dan tempelkan pada sebuah kardus yang sebelumnyamsudah dilapisi/dihias dengan menggunakan kertas origami.
5) Tahap keempat, tahap tempel menempel. Yang pertama kita tempel yaitu tulisan media kantong pintar, kemudian kita letakkan pada sisi atas karton kita rekatkan menggunakan lem tembak agar lebih kuat, yang kedua kita tempel satu persatu kantong yang terbuat dari botol bekas tadi dengan menggunakan lem tembak.
6) Tahap terakhir, silahkan hias sebaik mungkin media ini menurut imajinasi kalian, buatlah media ini semenarik mungkin.
c. Kelebihan dan Kekurangan Pakapin 1. Kelebihan
a) Menarik karena media ini menggunakan desain yang menarik dan menggunakan warna-warna yang meriah, dapat kita lihat anak-anak suka dengan warna yang meria dan mencolok.
b) Dapat menambahkan semangat siswa saat belajar karena dala media ini tersimpan banyak manfaat mengenai materi yang akan disampikan.
c) Peserta didik dapat belajar sambil bermain dengan menggunakan media ini.
d) Menumbuhkan sikap yang aktif pada diri peserta didik.
e) Menambahkan semangat baru saat proses pembelajaran berlangsung.
f) Selain itu, media ini bahannya ada yang berasal dari barang bekas.
g) Tidak hanya digunakan untuk pelajaran bahasa Indonesia saja. Tetapi bisa juga digunakan untuk semua mata pelajaran.
2. Kekurangan
a) Butuh waktu yang lama untuk membuatnya.
b) Susah jika dibawa kemana-mana.
c) Membuat peserta didik gaduh jika pendidik/guru kurang teliti dalam mengawasi proses pembelajaran.
4. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instrusional (Susanto, 2016: 5).
Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana
dikemukakan oleh Sunal (1993: 94), bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian ini dapat dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yag diberikan kepada siswa.
Hasil belajar merupakan segala perilaku yang dimiliki peserta didik sebagai akibat dari proses belajar yang ditempuhnya. Perubahan mencakup aspek tingkah laku secara menyeluruh baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, hal ini sejalan dengan teori Bloom bahwa hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah yaitu, kognitif (hasil belajar yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi), afektif (hasil belajar terdiri dari kemampuan menerima, menjawab, dan menilai) dan psikomotorik (hasil belajar terdiri dari keterampilan motorik, manipulasi dan kordinasi neuromuscular). Nana Sudjana menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pelajaran. Hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar merupakan indikator dan derajat perubahan tingkah laku siswa (Nurmawati, 2016: 53).
Ngalim Purwanto berpendapat bahwa seseorang dapat dikatakan berhasil dalam belajar apabila telah terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya, sebagai
akibat dari latihan dan pengalaman. Perubahan tersebut bersifat kontiniu, fungsional, positif dan tanpa disadari.Selanjutnya menurut Ngalim, hasil belajar dapat diketahui dengan menggunakan salah satu indikator berupa tes, hasil ini kemudian dianalisis oleh guru dan diberikan penilaian. Hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah diterapkan.Hasil belajar menunjukkan adanya prestasi, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa. Hasil belajar adalah suatu kompetensi yang telah berhasil dikuasai siswa mengacu kepada indikator- indikator yang telah ditentukan (Julhadi, 2021: 46).
Hasil belajar merupakan salah satu aspek pembelajaran, hasil pembelajaran itu terdiri atas tiga jenis, yaitu keefektifan, efesiensi dan daya tarik pembelajaran. Keefektifan pembelajaran diukur dengan taraf serap prestasi belajar yang dicapai peserta didik. Prestasi belajar tersebut dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh siswa setelah menghadapi tes prestasi belajar yang diadakan setelah selesainya suatu program pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh oleh peserta didik yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dilakukan secara sadar atau disengaja setelah melakukan kegiatan belajar.
b. Macam-macam Hasil Belajar
Hasil belajar sebagaimana telah dijelaskan meliputi pemahaman konsep, keterampilan proses, dan sikap siswa (Susanto, 2016: 6-11). Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep menurut Bloom (1979: 89) diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari.
Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang ia lakukan.
Untuk mengukur hasil belajar siswa yang berupa pemahaman konsep, guru dapat melakukan evaluasi produk.Sehubungan dengan evaluasi produk ini, W.S.
Winkel (2007: 540) menyatakan bahwa melalui produk dapat diselidiki apakah dan sampai berapa jauh suatu tujuan instruksional telah tercapai; semua tujuan itu merupakan hasil belajar yang seharusnya diperoleh siswa. Berdasarkan pandangan Winkel ini, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa erat hubungannya dengan tujuan instruksional (pembelajaran) yang telah dirancang guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar.
Evaluasi produk dapat dilaksanakan dengan mengadakan berbagai macam tes, baik secara lisan maupun tertulis. Dalam pembelajaran di SD umumnya tes
diselenggarakan dalam berbagai bentuk ulangan, baik ulangan harian, ulangan semester, maupun ulangan umum.
2) Keterampilan Proses
Usman dan Setiawati (1993: 77) mengemukakan bahwa keterampilan proses merupakan keterampilan yang mengarah kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan social yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa. Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitanya.
Indrawati (1993: 3) merumuskan bahwa keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotorik) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah yang telah ada sebelumnya, atau untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan (falsifikasi).
Dengan kata lain, keterampilan ini digunakan sebagai wahana penemuan dan pengembangan konsep, prinsip, dan teori.
Selanjutnya, Indrawati menyebutkan ada enam aspek keterampilan proses, yang meliputi: observasi, klasifikasi, pengukuran, mengkomunikasikan, memberikan penjelasan atau interpretasi terhadap suatu pengamatan, dan melakukan eksperimen. Kemudian, Indrawati membagi keterampilan proses menjadi dua tingkatan, yaitu: keterampilan proses tingkat dasar (meliputi observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inference) dan keterampilan proses terpadu (meliputi: menentukan, variabel, menyusun tabel
data, menyusun grafik, memberi hubungan variabel, memproses data, menganalisi penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan variabel secara operasional, merencanakan penyelidikan, dan melakukan eksperimen).
3) Sikap
Menurut Lange dalam Azwar (1998: 3), sikap tidak hanya merupakan aspek mental semata, melainkan mencakup pula aspek respons fisik. Jadi, sikap ini harus ada kekompakan antara mental dan fisik secara serempak. Jika mental saja yang dimunculkan, maka belum tampak secara jelas sikap seseorang yang ditunjukkannya. Selanjutnya, Azwar mengungkapkan tentang struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu: komponen kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap; komponen afektif yaitu perasaan yang menyangkut emosional; dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.
Sementara menurut Sardiman (1996: 275), sikap merupakan kecenderungan untuk melakukan sesuatu dengan cara, metode, pola dan teknik tertentu terhadap dunia sekitarnya baik berupa individu-individu maupun objek- objek tertentu. Sikap merujuk pada perbuatan, perilaku, atau tindakan seseorang.
Dalam hubungannya hasil belajar siswa, sikap ini lebih diarahkan pada pengertian pemahaman konsep, maka domain yang sangat berperan adalah domain kognitif.
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Kualitas proses belajar seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Menurut Syah (2001), dengan merujuk pada teori belajar kognitif, bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi belajar itu dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar yang digunakan.
Faktor- faktor ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi (Kurniawan, 2014:
22-23).
1. Faktor Internal
Faktor internal terdiri atas unsur jasmaniah (fisiologis) dan rohaniah (psikologis) pebelajar. Unsur jasmaniah yaitu kondisi umum sistem otot (tonus) dan kondisi dari organ-organ khusus terutama pancaindra. Otot dalam keadaan lelah juga berpengaruh terhadap kemampuan kerja kognitif dan semangat belajar.
Belajar akan terjadi dengan optimal jika keadaan otot yang bugar.
Selanjutnya yang berkaitan dengan panca indra. Panca indra adalah tempat masuknya pesan ke dalam sensory register, kuat lemahnya kemampuan panca indra akan mempengaruhi atau menentukan kuat tidaknya pesan yang masuk ke dalam sensory register dan pengolahan arus informasi dalam sistem memori. Jika pesan yang diterima sistem pendengaran berupa gema (echoic) dan yang diterima oleh mata berupa citra (econic) bisa diterima dengan baik maka proses pengolahan arus informasi akan baik pula, dalam arti terjadi proses belajar dengan baik. Akan tetapi jika kemampuan dengar dan penglihatan lemah, maka akan menghambat terhadap arus dan pengolahan infrmasi atau dengan kata lain proses belajar terhambat.
Kemudian unsur rohaniah. Banyak unsure psikologis yang berpengaruh terhadap kualitas proses dan hasil belajar siswa, namun yang paling menonjol diantaranya yaitu tingkat kecerdasan/intelegensi, sikap, bakat, minat dan motivasi.
1) Faktor Eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang ada dilingkungan diri pelajar yang meliputi lingkungan sosial dan lingkungan non sosial. Lingkungan sosial yaitu keluarga, guru dan staf sekolah, masyarakat dan teman ikut berpengaruh juga terhadap kualitas belajar individu. Kemudian lingkungan eksternal yang masuk kategori non sosial diantaranya yaitu keadaan rumah, sekolah, peralatan dan alam.
2) Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi pelajaran. Strategi belajar bagaimana yang digunakan pebelajar ini akan berpengaruh terhadap kualitas belajar. Strategi belajar bagaimana yang digunakan pebelajar juga menunjukkan suatu karakteristik pendekatan belajar tipe apa yang digunakan pebelajar yang bersangkutan.
5. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD a. Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik tentang keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Menurut Atmazaki, mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi
secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Khair, 2018: 89).
Menurut Cahyani, pembelajaran bahasa Indonesia ditingkat SD/MI diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik agar dapat berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan atau tulis. Pembelajaran bahasa Indonesia secara garis besar terdiri atas enam aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, kebahasaan, dan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia. Melalui membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara peserta didik mampu mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, inventif terus-menerus yang akan diteruskan juga melalui mata pelajaran yang lain. Disamping itu, mengutip hasil penelitian di Almeria, spanyol, Gunawan mengungkapkan bahwa satu dari dua bidang studi yang sangat penting dan sangat memengaruhi konsep diri anak adalah kemampuan membaca dan menulis, disamping kemampuan di bidang matematika (Prastowo, 2019: 85).
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang pendidikan dasar (SD/MI) diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengubah perilaku peserta didik
dalam berbahasa indonesia, perubahan tersebut dapat dicapai apabila pendidik dalam membelajarkan peserta didik sesuai dan sejalan dengan tujuan belajar bahasa Indonesia di SD/MI. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia diberikan dengan maksud mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (Hidayah, 2015: 193).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia adalah upaya membelajarkan keterampilan berbahasa yang baik dan benar untuk mengubah perilaku peserta didik agar memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku.
Belajar bahasa adalah salah satu kegiatan manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan khususnya di SD. Pada tingkat permulaan, siswa SD akan diberikan pengetahuan calistung (baca, tulis, hitung). Salah satu aspek calistung adalah membaca yang merupakan pengetahuan dasar yang harus di kuasai karena aspek tersebut memegang peranan penting dalam kehidupan (Rahman dan Haryanto, 2014: 128).
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, membaca merupakan salah satu sumber pengetahuan dan asas pembentukan diri kearah memperoleh ilmu pengetahuan. Membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan, seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.
Membaca didefinisikan sebagai suatu proses yang melibatkan penafsiran kode dan pemahaman (Wilson & Gambrell 1998). Membaca merupakan satu alat
pembelajaran yang efektif karena memberi kekuatan pada seorang siswa untuk membuat keputusan yang tepat dalam meningkatkan proses pembelajaran dan pemikiran. Seorang pembaca dapat memahami dan menilai teks yang dibaca dengan mengaktifkan skema prosedur dan isi skema yang terdapat dalam dirinya.
Farida Rahim (2008: 1) menjelaskan bahwa proses belajar yang paling efektif dilakukan melalui kegaiatan membaca. Tujuan akhir dari membaca adalah memahami isi bacaan, tetapi kenyataan yang ada belum semua siswa dapat mencapai tujuan tersebut. Banyak anak yang dapat membaca lancar suatu bahan bacaan tetapi tidak memahami isi bahan bacaan tersebut. Membaca pemahaman merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa sekolah dasar terutama pada kelas lanjut (Tristianti & Sumantri, 2016: 204- 205).
b. Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan bangsa, lambang identitas nasional, alat pemersatu serta alat komunikasi antar daerah dan antar kebudayaan (Rambe, 2018: 102-103).
Berikut adalah fungsi pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain:
1) Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah belajar siswa.
2) Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi control guru yang kaku dan tradisional, serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya.
3) Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, dengan jalan perencanaan program pendidikan yang lebih sistematis, serta pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh perilaku.
4) Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan meningkatkan kemampuan manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih konkrit, serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit.
5) Memungkinkan belajar secara seketika, karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit, serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6) Memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas, terutama dengan alat media massa.
c. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menurut Atmazaki (2013) mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik lisan ataupun tulisan, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tetap kreatif untuk berbagai tujuan-tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, budi
pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual Indonesia (Surianto dkk, 2020: 89).
Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SD antara lain bertujuan agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Adapun tujuan khusus pengajaran bahasa Indonesia, antara lain agar siswa memiliki kegemaran membaca, meningkatkan karya sastra untuk meningkatkan kepribadian, mempertajam kepekaan, perasaan, dan memperluas wawasan kehidupannya. Pengajaran bahasa Indonesia juga dimaksudkan untuk melatih keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis yang masing-masing erat hubungannya (Prastowo, 2019: 87).
B. Kerangka Pikir
Hasil belajar adalah perubahan perilaku atau kompetensi (sikap, pengetahuan, keterampilan) yang diperoleh siswa setelah melalui aktivitas belajar.
Ada dua faktor yang memengaruhi hasil belajar, yakni faktor internal dari dalam diri siswa, dan faktor eksternal dari luar siswa. Pada umumnya, hasil belajar 70%
dipengaruhi oleh kemampuan siswa (faktor internal) dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan (faktor eksternal). Faktor lingkungan yang paling berpengaruh pada hasil belajar adalah kualitas pembelajaran (Sani, 2019: 38).
Mata pelajaran bahasa Indonesia untuk kelas II SD tentunya membutuhkan media untuk mengonkretkan konsep yang akan dipelajari. Materi bahasa Indonesia bukanlah termasuk yang terlalu sulit diajarkan disekolah dasar, akan
tetapi dalam mengajarkan materi tersebut guru harus menggunakan media pembelajaran yang tepat dan benar agar siswa dapat membangun dan menemukan sendiri penyelesaiannya. Media kantong pintar merupakan suatu alat sederhana yang ditujukan untuk mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran. Media ini dapat membantu siswa kelas II dalam proses pembelajaran berlangsung sehingga siswa tidak bosan. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa media papan kantong pintar bahasa sebagai solusi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan demikian, media papan kantong pintar bahasa tepat digunakan untuk memberikan pengaruh terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea.
Bagan 2.1 Skema Kerangka Pikir Kurikulum 2013
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pretest Posttest
Analisis
Ada pengaruh Penggunaan Media
Pembelajaran Pakapin
Tidak ada pengaruh Keterampilan Membaca
C. Hipotesis
Menurut sugiyono (2018: 99) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, kajian pustaka, kerangka pikir, dalam penelitian digunakan hipotesis sebagai berikut:
Ha= Ada pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
Ho = Tidak ada pengaruh penggunaan media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
35 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-experimental design. Penelitian ini melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen. Menurut Sugiyono, bahwa pre-experimental adalah jenis penelitian yang belum dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen.
Hal ini dapat terjadi, karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara random.
2. Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design. Ilustrasi desain penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Desain Penelitian One Group Pretest-Posttest Design
Sumber: Sugiyono (2018: 111) Keterangan :
O1 = Nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)
X = Treatment (perlakuan) yaitu menerapkan media pembelajaran pakapin O2 = Nilai posttest (setelah diberi perlakuan)
O
1X O
2B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar bahasa Indonesia siswa, sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini yaitu media pembelajaran pakapin (papan kantong pintar).
2. Definisi operasional
Demi menghindari kemungkinan meluasnya penafsiran terhadap permasalahan yang dibahas dalam penelitian, maka perlu disampaikan definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a) Media pakapin
Media pakapin adalah sebuah media pembelajaran yang terbuat dari papan tripleks yang ditempelkan dengan botol aqua bekas yang didalamnya berisi suatu permasalahan atau informasi yang harus diselesaikan oleh masing-masing siswa.
Media ini dipajang didepan kelas kemudian siswa mengambil kertas yang ada dalam botol tersebut, lalu siswa menyelesaikan tugas/misi dari kertas tersebut.
b) Hasil belajar siswa
Hasil belajar bahasa Indonesia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh siswa pada tes awal (pretest) dan nilai yang diperoleh siswa pada tes akhir (posttest).
C. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDI Parangrea yang terletak di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Peneliti memilih SDI Parangrea
sebagai tempat penelitian karena SD ini memenuhi kriteria untuk dilakukan penelitian yaitu belum pernah digunakannya papan kantong pintar sebagai media pembelajaran.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2021/2022 semester ganjil.
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berikut ini keseluruhan siswa kelas II SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang berjumlah 26 orang siswa. Objek yang diambil peneliti berfokus pada siswa kelas II sebagai berikut:
Tabel 3.2 Populasi Siswa Kelas II SDI Parangrea
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
II 14 12 26
Sumber: SDI Parangrea Kec. Bajeng 2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas II yang berjumlah 26 siswa.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik sampling jenuh. Teknik sampling jenuh merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, jadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 26 orang.
E. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir.
1. Tahap persiapan
a) Mengidentifikasi masalah yang akan diteliti.
b) Memilih materi yang akan digunakan dalam penelitian.
c) Membuat RPP, LKS, bahan ajar dan instrument penilitian.
d) Pemilihan kelas eksperimen.
2. Tahap pelaksanaan a) Melakukan observasi.
b) Mengadakan pretest pada kelas sampel.
c) Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media pakapin.
d) Mengadakan posttest pada kelas sampel.
3. Tahap akhir
a) Mengolah data hasil pretest dan posttest serta menganalisis instrument yang lain seperti lembar observasi.
b) Menganalisis data hasil penelitian dan membahasa temuan penelitian.
c) Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data.
F. Instrumen Penelitian 1. Lembar observasi
Lembar observasi merupakan gambaran yang digunakan untuk melihat atau mengamati aktivitas yang dilakukan siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media pakapin (papan kantong pintar). Lembar observasi ini berisi mengenai aspek-aspek atau beberepa item-item yang akan diamati pada saat pembelajaran berlangsung. Observasi ini digunakan untuk mengamati sikap dan karakter siswa.
2. Tes hasil belajar
Tes merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan hasil atau data hasil belajar jenis pretest dan posttest. Pretest ini dilakukan sebelum media pembelajaran pakapin (papan kantong pintar) diterapkan, sedangkan posttest dilakukan setelah siswa melakukan treatment, atau penerapan media pakapin (papan kantong pintar).
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakkan dalam penelitian ini adalah tes awal dan tes akhir, adapun tahap-tahap yang dilakukan diantaranya:
1. Lembar Observasi
Teknik observasi digunakan untuk mendapatkan data berdasarkan dengan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran.
2. Tes Awal (Pretest)
Tes yang dilakukan sebelum treatment, pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki siswa sebelum diterapkannya media pembelajaran pakapin (papan kantong pintar).
3. Tes Akhir (Posttest)
Setelah melakukan treatment, tahap selanjutnya ialah posttest (tes akhir) guna pengaruh media pakapin (papan kantong pintar) terhadap hasil belajar siswa kelas II.
H. Teknik Analisis Data
Dalam pengolahan data hasil penelitian digunakan dua teknik statistik, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial sebagai berikut:
1. Statistik deskriptif
Statistik deskriptif adalah cara yang digunakan untuk menganalisis data dengan mendeskripsikan data yang telah terkumpul selama proses penelitian yang bersifat kuantitatif. Langkah-langkah dalam penyusunan analisis ini sebagai berikut:
a) Rata-rata (Mean) 𝑥̅ =∑ 𝑥
𝑁 Keterangan :
𝑥̅ = Nilai rata-rata
Σx = Jumlah jawaban keseluruhan N = Banyaknya subjek
b) Persentase (%) 𝑃 = 𝐹
𝑁x 100 Keterangan :
P = Angka persentase
F = Frekuensi yang dicari persentasenya N = jumlah item (subjek penelitian)
Pada proses analisis ini peneliti menetapkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan prosedur yang dicanangkan oleh SDI Parangrea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yaitu:
Tabel 3.3 Standar Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Tingkat Penguasaan (%) Kategori Hasil Belajar
0 – 54 Sangat Rendah
55 – 64 Rendah
65 – 79 Sedang
80 – 89 Tinggi
90 – 100 Sangat Tinggi
2. Statistik Inferensial
Analisis data statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi.
Statistik ini cocok untuk digunakan bila sampel dari populasi itu dilakukan secara random. Statistik ini juga disebut statistik probabilitas karena kesimpulan