RULES ON MARKET ACCESS
Lola Liestiandi Primadona Dutika B.
Trade in Goods
RULES ON MARKET ACCESS
TARIFF BARRIERS
1. Bea Masuk 2. Pajak
3. Biaya-Biaya Lainnya
NON-TARIFF BARRIERS
1. Restriksi Kuantitatif
2. Hambatan Non-Tarif Lainnya
Tariff Barriers
to Trade in Goods
Tarif f Barriers to Trade in Goods
• Akses pasar atas barang dan jasa dari negara lain ke dalam pasar anggota WTO dapat dihalangi atau dilarang.
• Hambatan/larangan berupa tarif atau non-tarif.
• Hambatan tarif yang paling umum
adalah BEA MASUK.
A. Bea Masuk
• Bea masuk : biaya/tagihan keuangan yang berbentuk pajak yang diterapkan pada barang-barang pada waktu, dan/atau karena, impor barang-barang tersebut.
• Akses pasar adalah sementara sampai setelah pembayaran bea masuk.
• Sebagian besat bea masuk adalah Ad Volarem , yaitu persentasi dari nilai barang impor tersebut.
• Contoh: Bea masuk yang diterapkan oleh Komunitas
Negara-negara Eropa atas bubuk Cocoa adalah 8% ad
volarem. Oleh karena itu, pada prinsipnya, untuk impor
bubuk cocoa yang bernilai 10.000, bea masuknya 800
harus dibayarkan.
Bea Masuk
• Bea masuk/tarif yang diterapkan tiap negara berlaku untuk impor yang diatur dalam ketentuan tarif negara tersebut.
• Bea masuk Komunitas Negara-negara Eropa ditentukan melalui database
Tarif Integre des Communautes Europeennes
(TARIC).• Bea masuk di Indonesia dapat dilihat di Buku Tarif Bea masuk Indonesia.
• Pembagian Bea Masuk:
a. Negosiasi Tarif
b. Konsesi Tarif (Tariff Concessions) c. Penerapan Bea Masuk
d. Pajak dan biaya-biaya lainnya
Negosiasi Tarif
• Pasal XXVIII GATT 1994 menganjurkan anggota WTO untuk negosiasi penurunan bea masuk demi peningkatan akses pasar barang.
• Prinsip utama yang mengatur negosiasi tarif:
Prinsip timbal balik (reciprocity) dan keuntungan bersama (mutual advantage)
Kewajiban perlakuan MFN pada Pasal I GATT 1994
• Doha Development Round tercapai Formula Swiss.
Formula Swiss
• Doha Development Round, menghasilkan
Formula Swiss (metode yang digunakan untuk menentukan besarnya pemotongan tarif)
dimana negara berkembang diminta memotong lebih besar, yakni sebesar 15%. Sementara
negara maju hanya akan mengurangi tarif industrinya sebesar 10%.
Konsesi Tarif (Tariff Concession)
• Merupakan hasil dari kesuksesan negosiasi tarif (tariff concessions) atau peraturan-peraturan yang mengikat mengenai tarif (tariff bindings).
• Bertujuan untuk tidak menaikkan bea masuk atas barang tertentu di atas batas yang sudah disetujui.
• Tercantum dalam Jadwal Konsesi Anggota (Members Schedule of Concessions).
Dilampirkan dalam Marrakesh Protocol GATT 1994 dan merupakan satu kesatuan.
• Pasal II ayat 1 (a) GATT 1994 menyatakan bahwa para anggota harus memberikan perlakuan yang tidak kurang menguntungkan (treatment no less favourable) atas barang-barang yang diimpor dari anggota lain, sebagaimana yang disebutkan dalam jadwal mereka.
• Pasal II ayat 1 (b) menyebutkan bahwa barang-barang yang disebutkan dalam Bagian I Jadwal anggota manapun, pada impor, harus diperkecualikan dari bea masuk biasa yang melebihi apa yang telah ditentukan dalam Schedule.
• Tujuan dari Pasal II GATT 1994:
Melindungi komitmen atas pengurangan bea masuk yang telah disepakati selama perundingan tarif dan untuk memberikan keapastian atas bea masuk maksimum yang dapat diterapkan oleh anggota WTO atas sebuah barang
• Syarat-syarat dan prosedur penerapan tercantum dalam Pasal XXVIII GATT 1994.
Penerapan Bea Masuk
• Sebagai tambahan peraturan untuk melindungi pemberian hak atas tarif (tariff concessions), terdapat tata cara bagaimana bea masuk harus diterapkan.
• Tiga syarat penentuan penerapan bea masuk:
Penentuan atas klasifikasi yang seharusnya atas barang impor
Penentuan atas nilai pajak atas barang impor
Penetuan asal dari barang impor.
Klasifikasi Kepabeanan (Customs Classification)
• Anggota harus mempertimbangkan kewajiban umum mereka dalam perjanjian WTO.
• Peraturan-peraturan khusus atas klasifikasi kepabeanan -> International Convention on the Harmonised Commodity Description and Coding System.
• Hampir semua anggota WTO adalah anggota dari konvensi dan mengikuti peraturan yang sama untuk klasifikasi kepabeanan.
PenilaianKepabeanan (Customs Valuation)
• Nilai barang-barang impor harus ditentukan untuk menghitung bea masuk terhutang/yang harus dibayarkan.
• Tercantum dalam Pasal VII GATT 1994 (Valuation for Customs Purposes) dan
Agreement on the Implementation of Article VII of the GATT 1994)
• Penetuan nilai kepabeanan barang adalah NILAI TRANSAKSI BARANG.
Peraturan atas Asal Barang (Rules of Origin)
• Aturan yang esensial. Penerapan bea masuk menjadi berbeda mengikuti asal barang impor tersebut.
• Contoh:
Barang yang berasala dari negara-negara berkembang secara umum mendapatkan keuntungan penerapan bea masuk yang lebih rendah atau bahkan bebas bea masuk.
B. Pajak dan Biaya-Biaya Lainnya
• Barang-barang impor terkadang merupakan subyek beban-beban dan pajak-pajak lain.
• Pasal II : 1(b) – Pajak dan beban-beban keuangan lain ini dilarang, kecuali jika dan hanya sejauh anggota WTO telah secara patut mencatatkan mereka dalam (Schedule of Concessions).
• Pengecualian pada Pasal II ayat 2 GATT 1994 menerapkan pada barang-barang impor dalam hal:
Beban keuangan apapun yang tidak melebihi pajak internal yang diterapkan pada barang-barang domestik sejenis
Bea masuk anti-dumping atay bea masuk imbalan yang konsisten/sejalan dengan WTO
Biaya atau beban keuangan yang sama dengan biaya jasa-jasa yang diberikan.
Non-Tariff Barriers
to Trade in Goods
NTBs to Trade in Goods
- Aturan-aturan mengenai NTBs diatur di dalam Annex 1A GATT.
- Menyebabkan unfair impediments pada perdagangan.
Quantitative
Restriction Other NTBs
NTBs: Restriksi Kuantitatif
(1)• Tindakan dari negara-negara tertentu anggota WTO yang dengan maksud melindungi industri dalam negerinya.
• Instrumen kebijakan yang melanggar hukum perdagangan internasional.
• Membatasi perdagangan internasional dengan menghambat melalui:
a. A prohibition b. A quota
c. Automatic and non-automatic licensing d. Other quantitative restrictions
NTBs: Restriksi Kuantitatif
(2)Kuota Impor
• Kuota impor adalah pembatasan secara lansung terhadap jumlah barang yang boleh diimpor dari luar negeri untuk melindungi kepentingan industri dan konsumen.
• Macam-macam Kuota Impor :
a. Absolute/ uniteral quota, yaitu sistem kuota yang ditetapkan secara sepihak (tanpa negoisasi).
b. Negotiated/ bilateral quota, yaitu sistem kuota yang ditetapkan atas kesepakatan atau menurut perjanjian.
c. Tariff quota, yaitu pembatasan impor yang dilakukan dengan mengkombinasikan sistem tarif dengan sistem kuota.
d. Mixing quota, yaitu pembatasan impor bahan baku tertentu untuk melindungi industri dalam negeri.
NTBs: Restriksi Kuantitatif
(3)Hambatan Administrasi
• Hambatan administrasi adalah hambatan yang terjadi di kepabeanan yang menyangkut penilaian pada
produk impor yang masuk.
• Hambatan administratif lain adalah dalam hal
prosedur pemberian lisensi impor. Lisensi impor ini akan menghambat perdagangan jika dilakukan
dengan tidak transparan dan tidak adil selain karena lisensi impor ini bisa dianggap sebagai bentuk lain dari praktek restriksi impor.
• Lisensi Impor:
a. Otomatis
b. Non-Otomatis
NTBs: Restriksi Kuantitatif
(4)Dapat dilakukan dalam hal:
• Mencegah terkurasnya produk-produk esensial di negara pengekspor;
• Untuk melindungi pasar dalam negeri khususnya yang menyangkut produk pertanian dan
perikanan;
• Untuk mengamankan ancaman atas produksi dalam negeri dari ancaman meningkatnya impor yang berlebihan;
• Melindungi neraca pembayaran (luar negerinya).
NTBs: Restriksi Kuantitatif
(5)GATT
(Art XI) Praktik Restriksi Kuantitatif
dilarang
(Art XII) Membolehkan suatu negara untuk menerapkan pembatasan masuknya produk
impor demi mengamankan neraca pembayaran
(Art XIII) Mensyaratkan penerapan Restriksi
Kuantitatif harus dilaksanakan tanpa
diskriminasi
(Art XIV) Pengaturan pengecualian-pengecualian Restriksi Kuantitatif dalam hal pembatasan masuknya produk
impor karena alasan moneter
NTBs: Restriksi Kuantitatif (6)
Transpransi Regulasi Nasional
Article X GATT 1994, yang mensyaratkan para anggota untuk:
1. Menginformasikan secara berkelanjutan kepada Sekretariat WTO mengenai peraturan-peraturan baru atau perubahan pada peraturan yang sudah ada (persyaratan notifikasi).
2. Segera mempublikasikan peraturan perdagangan mereka sebelum menerapkannya (persyaratan publikasi).
3. Menyediakan pusat-pusat informasi dimana para anggota lainnya dan pelaku perdagangan di Negara anggota agar dapat meminta informasi atas hukum dan regulasi yang mempengaruhi perdagangan.
4. Beberapa peraturan, harus diberitahukan kepada secretariat WTO sebelum mereka disahkan dan berlaku, untuk memberi kesempatan kepada para anggota WTO lainnya untuk menyampaikan keberatan apapun dalam waktu yang cukup.
Other NTBs
• Voluntary Export Restraint (VER)
• Certificate of Origin
• Domestic Content Requirement
• Import License
• Import State Trading Enterprises (ISTEs)
• Technical Barrier to Trade
• Exchange Rate Management Policies
• Precautionary Principle and Sanitary Barrier to Trade
• GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui tarif (menaikan tingkat tarif bea masuk) dan tidak melalui upaya-upaya perdagangan lainnya (non-tariff commercial measures).
• GATT mengharapkan tarif menjadi satu-satunya alat dalam melindungi industri dalam negeri, karena:
a. Tarif adalah mekanisme yang “kelihatan”;
b. Tarif tidak memerlukan anggaran dari negara;
c. Tarif diharapkan menjadi alat ketika membalas praktek perdagangan yang tidak adil.
NTBs to Trade in Goods
Barriers
to Trade in SERVICES
• Banyak peraturan pemerintah dalam bidang jasa yang tidak harmonis dengan GATS-inkonsisten terhadap upaya
penghilangan/pengurangan barriers to trade in services.
• Alasan: sektor produksi dan konsumsi bidang jasa sering dihubungkan dengan
– Perlindungan konsumen
– Jaminan terhadap kesehatan masyarakat dan keamanannya
• Preamble GATS
– “the right of Members to regulate, and to introduce new regulations on, the supply of services within their territories in order to meet national policy objectives.”
Barriers to Trade in Services
Barriers
Market Access Barriers to Trade in Services
Other Barriers to Trade in Services
Barriers to Trade in Services
BTS: Market Access
(1)• Market access barriers to trade in services – Art XVI: 2(a) to (f)
• Pembatasan jumlah service suppliers
• Pembatasan total nilai transaksi jasa atau aset
• Pembatasan jumlah total service operations atau total kuantitas service output
• Pembatasan total jumlah pekerja dalam sektor tertentu
• Pelarangan atau persyaratan bentuk badan hukum tertentu atau joint venture
• Pembatasan penyertaan modal asing
Other BTS
(1)• Other barriers to trade in services – Lack of transparency
• Publikasi, saluran keluhan, pemberitahuan, prosedur keberatan
– Unfair or arbitrary application of measures affecting trade in services
• Pemberitahuan terhadap putusan atas suatu pendaftaran
– Domestic regulation
Other BTS
(2)• Other barriers to trade in services
– Lack of recognition of diploma and professional certificates
• 2 cara: harmonisasi atau persetujuan antar negara yang berkepentingan
– Other measures and actions
• Monopolies and exclusive service
providers (perhatikan komitmen yang telah dibuat)
• International payments and transfer
• Government procurement laws and practices (penyediaan barang dan jasa)
THANK YOU
Universitas Indonesia 2013