• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang

Menurut Ayatrohaedi, terdapat 700 bahasa dan dialek di Indonesia (2003:

1). Namun, sampai saat ini belum semua bahasa di wilayah Indonesia dipetakan.

Data terbaru yang dikeluarkan oleh Summer Institute of Linguistic pada tahun 2006 menunjukkan bahwa terdapat 743 bahasa di Indonesia. Banyaknya bahasa daerah di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah peneliti bahasa yang ada. Oleh karena itu, penelitian dialektologi dirasa dapat membantu memecahkan persoalan tersebut (Lauder, 1987: 2). Menurut Meillet dalam bukunya yang berjudul The Comparative Method of Historical Linguistic (1967), masalah terbatasnya tenaga,

waktu, sarana, dan dana dalam meneliti bahasa dapat diatasi oleh penelitian dialektologi karena pada hakekatnya dengan mengadakan penelitian dialektologi pada saat dan kesempatan yang sama telah diperoleh gambaran umum mengenai sejumlah dialek dari bahasa yang diteliti (dalam Lauder, 1987: 2).

Menurut Lauder, walaupun penelitian bahasa di Indonesia dapat dikatakan sudah banyak, baik yang dilakukan oleh peneliti pribumi maupun peneliti asing, kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini baru ada sekitar 70 penelitian dialektologi yang pernah dilakukan, dan dari jumlah itu baru 18 hasil penelitian dialektologi yang telah terbit (dalam Ayatrohaedi, 2003: 16). Gambaran mengenai situasi kebahasaan di Indonesia terus dilakukan sampai sekarang. Upaya terakhir yang dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lengkap berdasarkan data lapangan tengah dilakukan oleh Pusat Bahasa bekerja sama dengan para ahli yang berada di beberapa perguruan tinggi (Ayatrohaedi, 2003: 18). Salah satu daerah yang belum dipetakan bahasanya adalah Kepulauan Seribu

Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan satu-satunya kabupaten yang berada di Provinsi DKI Jakarta. Berbeda dengan kabupaten- kabupaten lain di Indonesia, kabupaten administrasi bukanlah daerah otonom.

Kabupaten administrasi dipimpin oleh seorang bupati dan dibantu oleh wakil bupati yang diangkat oleh gubernur. Perangkat daerah kabupaten administrasi terdiri dari Sekretariat Kabupaten Administrasi, Suku Dinas, kecamatan, dan

(2)

kelurahan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_administrasi, diunduh 11 Juli 2009). Sebelum menjadi kabupaten, wilayah Kepulauan Seribu merupakan bagian dari Kotamadya Jakarta Utara dan berdiri menjadi kabupaten administrasi pada tahun 2001. Di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terdapat dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan membawahi tiga kelurahan yaitu Kelurahan Pulau Tidung, Kelurahan Pulau Pari, dan Kelurahan Pulau Untung Jawa. Kecamatan Kepulauan Seribu Utara membawahi tiga kelurahan juga yaitu Kelurahan Pulau Kelapa, Kelurahan Pulau Harapan, dan Kelurahan Pulau Panggang (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten _Administrasi_Kepulauan_Seribu, diunduh 11 Juli 2009).

Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di Teluk Jakarta dan Laut Jawa yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan laut.

Selama delapan tahun berdiri, kabupaten ini terus mengalami kemajuan di bidang pembangunan fisik maupun pembangunan nonfisik. Pemerintah Daerah Kepulauan Seribu sampai saat ini terus mendata keterangan penduduk dan potensi yang dimiliki daerah ini. Usaha pendataan penduduk yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kepulauan Seribu selama ini belum mencakup pendataan mengenai bahasa yang terdapat di Kepulauan Seribu.

Lokasi Kepulauan Seribu yang hanya berjarak sekitar 2—3 jam dari Teluk Jakarta dan sekitar 1—2 jam dari Tangerang memungkinkan penduduk Kepulauan Seribu untuk berkomunikasi dengan penduduk yang ada di darat1. Dalam situasi tersebut, kontak bahasa antara bahasa yang dipakai di Kepulauan Seribu dengan bahasa yang di pakai di darat sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mendata dan memetakan bahasa-bahasa yang terdapat di Kepulauan Seribu.

1.2 Rumusan Masalah

Kepulauan Seribu diperkirakan terdiri dari berbagai macam etnis. Dalam

(3)

Kepulauan Seribu sangat besar (lihat 3.4). Sarana perhubungan antarpulau memungkinkan penduduk Kepulauan Seribu untuk berkomunikasi dengan baik.

Akibatnya, diduga akan timbul masalah kebahasaan, mungkin dalam tingkat pemakaian, dalam alternasi pemakaian bahasa, dalam fungsi bahasa, dalam interferensi, yang mungkin akan melahirkan variasi bahasa atau variasi sabdapraja (kutipan Lauder, 1987: 3, dari Prawiraatmaja, 1978:1).

Di samping itu, terjadinya keberagaman dialek terutama disebabkan oleh adanya hubungan dan keunggulan bahasa yang terbawa ketika terjadi perpindahan penduduk, penyerbuan, atau penjajahan. Peranan dialek atau bahasa yang bertetangga juga menentukan terbentuknya dialek atau bahasa baru. Dialek dan bahasa yang bertetangga itu masuk ke dalam dialek atau bahasa yang baru dalam bentuk kosakata, struktur, dan cara pengucapan atau lafal (Guiraud, 1970, dikutip oleh Ayatrohaedi, 1979:6). Kepulauan Seribu dulu pernah menjadi bagian dari Kerajaan Padjajaran, kemudian menjadi bagian Kerajaan Banten, lalu menjadi bagian dari VOC, hingga akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia (lihat 3.2). Berdasarkan hal tersebut, di Kepulauan Seribu diduga terdapat sedikitnya tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, bahasa Belanda, dan bahasa Indonesia. Karena pernah menjadi bagian dari empat kekuasaan yang berbeda, di Kepulauan Seribu diduga terdapat juga berbagai dialek dalam bahasa-bahasa di sana.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bahasa apa sajakah yang terdapat di Kepulauan Seribu?

2. Di manakah letak batas bahasa atau dialek yang terdapat di Kepulauan Seribu?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian dialektologi ini bertujuan untuk memetakan bahasa-bahasa di Kepulauan Seribu dan mengetahui batas-batas bahasa atau dialek di Kepulauan Seribu. Hal ini akan terlaksana dengan memetakan unsur-unsur leksikal dari bahasa-bahasa di Kepulauan Seribu (lihat 1.5).

(4)

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini secara umum diharapkan bermanfaat untuk perkembangan bidang linguistik Indonesia. Selain itu, penelitian ini secara khusus dapat memperkaya referensi dalam bidang dialektologi. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahui persebaran bahasa di Kepulauan Seribu.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini berfokus pada bidang leksikal dengan dasar anggapan bahwa unsur leksikon merupakan unsur yang paling mandiri dalam bahasa apa pun (Kutipan Lauder, 1993:63, dari Nauton, 1963:53). Pada umumnya, di dalam bahasa apa pun leksikon merupakan satuan bahasa yang dapat mencerminkan adanya perubahan sosiokultural. Selain itu, leksikon menyimpan strukturisasi berpikir suatu budaya tertentu. Jadi, leksikon berfungsi sebagai cermin dari konsep-konsep budaya (Lauder, 1993: 41). Lagi pula, pada umumnya satuan bahasa yang paling mudah dipisahkan adalah leksikon (Kutipan Lauder, 1993: 41, dari Séguy, 1971).

Menurut Séguy, secara teoritis dapat diketahui bahwa perbedaan dialek yang satu dengan dialek lainnya, atau dengan dialek baku, terutama tampak dalam bidang fonologi dan leksikon (Lauder, 1993: 41). Unsur sintaksis jarang diperhatikan karena memang jarang sekali didapati perbedaan yang mencolok antardialek yang satu dengan dialek yang lain di dalam tataran geografis dalam struktur sintaksis (Lauder, 1993: 41).

Menurut Bynon, dari segala aspek kebahasaan yang saling bersinggungan, baik antarbahasa maupun antar dialek, leksikon memegang peranan paling awal (Lauder, 1993: 41).

1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Metode Penelitian

(5)

mencatat, mendengar, dan memerhatikan langsung apa yang informan lakukan dalam menjawab pertanyaan ketika wawancara berlangsung.

Penulis menggunakan metode penelitian lapangan yang digunakan oleh Ayatrohadi (1978: 34), dengan pertimbangan penulis langsung bertemu dengan informan sehingga dapat:

1. Memeroleh kesempatan memerhatikan, mencatat, mendengar, merekam, dan mengumpulkan keterangan-keterangan lain yang tidak terdapat dalam daftar tanyaan dan diperkirakan dapat melengkapi bahan. Hal-hal yang bertalian dengan adat istiadat, keadaan sosial budaya, dan lingkungan daerah penelitian akan dapat diamati dengan lebih baik.

2. Apabila terdapat jawaban yang meragukan, penulis dapat dengan langsung mencari keterangan lain yang lebih meyakinkan.

1.6.2 Daftar Pertanyaan

Daftar pertanyaan (lihat lampiran) yang digunakan adalah daftar pertanyaan yang telah dibuat oleh Morish Swadesh sebanyak 200 kosakata dasar (lihat Keraf, 1984: 140). Kosakata ini digunakan dengan pertimbangan bahwa kosakata ini tedapat di semua bahasa dan kosakata ini yang paling mungkin berubah. Selain itu, daftar pertanyaan yang digunakan juga berisi kosakata budaya dasar bidang bagian tubuh sebanyak 52 kosakata (Pusat Bahasa, 2008).

Berdasarkan penelitian Lauder (1993: 43), kosakata dasar bidang bagian tubuh merupakan unsur yang memungkinkan untuk dipergunakan sebagai medan makna dasar pemilah bahasa. Kosakata medan makna bagian tubuh sudah dipergunakan secara luas dalam penelitian dialektologi di Indonesia yang dilakukan oleh pusat bahasa2. Jumlah kosakata yang digunakan dalam penelitan ini adalah 252 kosakata dasar.

2Berdasarkan wawancara dengan Multamia RMT Lauder, 10 Juli 2009.

Kosa Kata Dasar Swadesh

No. Kata No. Kata No. Kata

1 abu 68 ekor 135 makan

2 air 69 empat 136 malam

(6)

3 akar 70 engkau 137 mata

4 alir (me) 71 gali 138 matahari

5 anak 72 garam 139 mati

6 angin 73 garuk 140 merah

7 anjing 74 gemuk, lemak 141 mereka

8 apa 75 gigi 142 minum

9 api 76 gigit 143 mulut

10 apung (me) 77 gosok 144 muntah

11 asap 78 gunung 145 nama

12 awan 79 hantam 146 napas

13 ayah 80 hapus 147 nyanyi

14 bagaimana 81 hati 148 orang

15 baik 82 hidung 149 panas

16 bakar 83 hidup 150 panjang

17 balik 84 hijau 151 pasir

18 banyak 85 hisap 152 pegang

19 baring 86 hitam 153 pendek

20 baru 87 hitung 154 peras

21 basah 88 hujan 155 perempuan

22 batu 89 hutan 156 perut

23 beberapa 90 Ia 157 pikir

24 belah (me) 91 ibu 158 pohon

25 benar 92 ikan 159 potong

26 bengkak 93 ikat 160 punggung

27 benih 94 ini 161 pusar

28 berat 95 isteri 162 putih

29 berenang 96 Itu 162 rambut

30 beri 97 jahit 164 rumput

31 berjalan 98 jalan (ber) 165 satu

32 besar 99 jantung 166 saya

33 bilamana 100 jatuh 167 sayap

34 binatang 101 jauh 168 sedikit

35 bintang 102 kabut 169 sempit

36 buah 103 kaki 170 semua

(7)

1.7 Pelaksanaan Penelitian 1.7.1 Teknik Penelitian

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara bertanya langsung. Untuk mendapatkan data yang diinginkan mengenai kosakata daerah tersebut, penulis bertanya dengan menunjukkan langsung benda yang ditanyakan, menerangkan bentuk, sifat atau kegunaan benda yang ditanyakan. Penulis juga

40 bunuh 107 kanan 174 sungai

41 buru (ber) 108 karena 175 tahu

42 buruk 109 kata (ber) 176 tahun

43 burung 110 kecil 177 tajam

44 busuk 111 kelahi (ber) 178 takut

45 cacing 112 kepala 179 tali

46 cium 113 kering 180 tanah

47 cuci 114 kiri 181 tangan

48 daging 115 kotor 182 tarik

49 dan 116 kuku 183 tebal

50 danau 117 kulit 184 telinga

51 darah 118 kuning 185 telur

52 datang 119 kutu 186 terbang

53 daun 120 lain 187 tertawa

54 debu 121 langit 188 tetek

55 dekat 122 laut 189 tidak

56 dengan 123 lebar 190 tidur

57 dengar 124 leher 191 tiga

58 di dalam 125 lelaki 192 tikam (me)

59 di mana 126 lempar 193 tipis

60 di sini 127 licin 194 tiup

61 di situ 128 lidah 195 tongkat

62 pada 129 lihat 196 tua

63 dingin 130 lima 197 tulang

64 diri (ber) 131 Ludah 198 tumpul

65 dorong 132 Lurus 199 ular

66 dua 133 Lutut 200 usus

67 duduk 134 Main

(8)

sering mengulang pertanyaan yang diajukan agar informan tidak salah dalam menafsirkan pertanyaan tersebut. Sebagai contoh, jika penulis ingin menanyakan kata TONGKAT, yang penulis lakukan adalah bertanya apakah alat yang biasanya dipakai oleh orang yang sudah tua untuk berjalan, panjangnya sekitar satu meter dan terbuat dari kayu.

Penulis langsung menuliskan jawaban yang diberikan informan. Selain itu, penulis juga merekam jawaban agar tidak terdapat keragu-raguan. Hal ini juga dimaksudkan agar hasil pendataan lebih optimal. Penulis juga mewawancarai orang-orang yang berada di sekitar informan ketika wawancara dilakukan agar pengumpulan data idiolek dapat dihindari.

1.7.2 Penentuan Titik Pengamatan

Untuk daerah Kepulauan Seribu, diambil sebelas titik pengamatan (TP) dengan pertimbangan hanya ada sebelas pulau yang berpenghuni di Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Untung Jawa (TP 1), Pulau Lancang (TP 2), Pulau Pari (TP3), Pulau Payung (TP 4), Pulau Tidung Besar (TP 5), Pulau Pramuka (TP 6), Pulau Panggang (TP 7), Pulau Harapan (TP8), Pulau Kelapa (TP 9), Pulau Kelapa Dua (TP 10), dan Pulau Sebira (TP 11). Untuk selanjutnya, pulau-pulau yang diteliti disebut dengan titik pengamatan 1, titik pengamatan 2, dan lain-lain.

1.7.3 Pemilihan Informan

Dari setiap pulau dipilih satu informan yang dianggap ideal. Menurut Lauder, usia yang dianggap sangat sesuai bagi seorang informan ialah usia pertengahan (40—50 tahun) karena pada usia itu mereka telah menguasai bahasa atau dialeknya, tetapi belum sampai tahap pikun (dalam Ayatrohaedi 1978: 106).

Pendidikan informan maksimal SLTA, tidak pernah meninggalkan desa dalam waktu lama, dan tidak menyandang kelainan alat ucap dan pendengaran (Ayatrohaedi, 1985: 76). Selain itu, informan yang dipilih juga sudah tinggal di

(9)

Anak-anak tidak dipilih untuk menjadi pembahan (informan) karena pada umumnya anak-anak sering kurang mengerti dengan pasti apa yang dikehendaki oleh penulis di samping itu anak-anak kurang begitu sabar untuk menjawab beratus-ratus kata dan kadang kala harus mengucapkan sebuah kata berulang- ulang dan dengan perlahan-lahan supaya penulis dapat mencatatnya dengan tepat (Lauder, 1987: 6). Hal ini karena anak-anak masih kurang tanggung jawab (kutipan Lauder, 1987: 7, dari Samarin, 1967:31).

Ketika penelitian berlangsung, informan tidak hanya berdua saja dengan penulis. Informan juga ditemani oleh dua sampai tiga orang lain. Informan tambahan tersebut Orang-orang lain inilah yang penulis jadikan informan tambahan untuk menguji kesahihan data yang didapatkan. Pengumpulan data idiolek dapat dihindari dengan mewawancarai informan-informan tambahan tersebut. Jika informan utama adalah laki-laki, penulis mengusahakan informan tambahannya adalah perempuan. Hal ini dilakukan agar data yang didapatkan tidak merupakan ciri khas pemakaian bahasa yang dipakai oleh perempuan atau laki-laki saja.

1.7.4. Pemetaan Data

Data-data yang telah terkumpul mula-mula akan dikelompokkan dan dimasukkan ke dalam kartu-kartu untuk memudahkan pemetaan. Penelitian ini menggunakan sistem lambang (lihat 2.2). Batas-batas fonologis dan morfologis suatu leksikon akan ditandai dengan isoglos-isoglos. Semua isoglos akan disatukan ke dalam satu peta yang memuat berkas-berkas isoglos.

Referensi

Dokumen terkait

Dari 5 kecamatan tersebut dipilih 2 kecamatan contoh secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan sebagai sentra produksi kedelai. Kedua kecamatan

Berdasarkan hasil uji pada tampilan nilai t, maka diperoleh hasil variabel kecerdasan emosi merupakan variabel mediator untuk peranan humor cognitive terhadap stres

Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman-Rank antara faktor kepribadian dengan kepuasan pernikahan yang telah dilakukan dan dijelaskan sebelumnya pada bab 4, maka

Anak-anak mulai mengenal tentang keterampilan dasar konseling dari kegiatan membaca modul, kegiatan berdiskusi kelompok dengan mendiskusikan secara bersama-sama sub

Mencari faktor yang mempengaruhi kejadian malaria pada petani dilakukan dengan analisa bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu karakteristik

Caranya salah satu modul photovoltaik yang terpasang pada sistem photovoltaik dilakukan pengujian untuk mendapatkan nilai parameter-parameter model yang sesuai. Nilai

Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing Keuntungan (kerugian) dari perubahan nilai aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual. Pajak

Indonesia juga kerap disebut sebagai pemimpin ASEAN (Smith, 1999, p. Posisi ini tentu menunjukan.. 56 kedekatan antara Indonesia dan ASEAN. Kedekatan Indonesia dan ASEAN juga