KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL SEJARAH DAN PURBAKALA
KAJIAN
EVALUASI VEGETASI DI ZONA 1 DAN 2
CANDI BOROBUDUR MENURUT MASTERPLAN JICA DIBANDINGKAN DENGAN PELAKSANAANNYA
OLEH :
Yudi Suhartono, S.S.,M.A Fr. Dian Ekarini, S.Si Achmad Chabib Santoso
BALAI KONSERVASI PENINGGALAN BOROBUDUR MAGELANG
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat RahmatNyalah kami berhasil menyelesaikan kajian dengan judul Evaluasi Vegetasi Di Zona 1 Dan 2 Candi Borobudur Menurut Masterplan JICA Dibandingkan Dengan Pelaksanaannya.
Dalam kajian ini diuraikan antara lain kondisi lingkungan dan vegetasinya di zona 1 dan 2 kawasan Borobudur saat ini dibandingkan dengan konsep dalam Masterplan JICA tahun 1979.
Selain itu juga diuraikan beberapa penyebab terjadinya perubahan fungsi lahan dengan vegatasinya dan rencana ke depan pengelolaannya.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Marsis Sutopo, M.Si, Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur selaku atasan kami, yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk melakukan kajian ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Ibu Dra. Niken Wirasanti, M.Si, Dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada selaku Nara Sumber, yang telah memberi arahan dan masukan pada kajian ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktur PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko beserta seluruh jajarannya yang membantu kami dalam pengumpulan data. Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu kami yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Kami menyadari hasil kajian ini belum sempurna dan masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kesempurnaan kajian ini. Semoga kajian ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Borobudur, Akhir Oktober 2010
Mengetahui Ketua Tim Studi
Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur
Yudi Suhatono, SS, MA
NIP. 19700507 199802 1 001
Drs. Marsis Sutopo, M.Si NIP. 19591119 199103 1 001
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……….……….. ii
DAFTAR ISI ………...………... iii
INTISARI ... iv
BAB I PENDAHULUAN ………...……….. 1
1.1. Dasar ……….. 1
1.2. Latar Belakang ………..………. 1
1.3. Rumusan Masalah ………..……….. 3
1.4 Tujuan ... ………...……….... 4
1.5. Manfaat ... 4
1.6. Ruang Lingkup ... ... .. 4
1.7. Metode Kajian... .... ………...…………. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... ...………...…… 7
2.1. Pengertian dan Peran Vegetasi ... 7
2.2. Pengeloalaan Vegetasi Berdasarkan JICA Tahun 1979 ... 9
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 .Hasil ... ...……...………. 19
3.2. Pembahasan ... 34
BAB IV. PENUTUP... 43
4.1. Kesimpulan . ... 43
4.2. Saran /... 43
DAFTAR PUSTAKA ………..………...……... 44
INTISARI
Evaluasi Vegetasi Di Zona 1 Dan 2 Candi Borobudur Menurut Masterplan Jica Dibandingkan Dengan Pelaksanaannya
Vegetasi adalah semua tumbuhan baik sejenis maupun tidak sejenis (flora) yang tumbuh di suatu wilayah dan bagaimana distribusi dari masing-masing jenisnya. Dalam konsep Masterplan JICA tahun 1979 membagi zona penghijauan di zona 1 dan 2 kawasan Borobudur menjadi 5 zona yaitu Sanctuary Greennery, Scenic Greenery, Fasility Geenery, Recreational Greenery, dan Edge Greenery. Dalam konsep Masterplan JICA tersebut telah dijelaskan mengenai berbegai jenis vegetasi yang sesuai ditanam dalam masing-masing zona penghijauan. Konsep yang ada dalam Masterplan JICA tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi saat ini pada zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur. Dari hasil kajian dapat diketahui bahwa pada zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur telah terjadi perubahan fungsi lahan dengan vegetasinya pada saat ini dibandingkan naskah masterplan JICA tahun 1979 dengan beberapa faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut.
Untuk pengelolaan lingkungan dan vegetasinya ke depan, naskah yang disusun oleh JICA pada tahun 1979 masih relevan digunakan pada saat ini. Namun masih diperlukan perbaikan dan penyesuaian dengan kondisi yang ada. Dalam pengelolaan lingkungan dan vegetasinya perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Pengelolaan lingkungan vegetasi dalam koridor pelestarian candi Borobudur; Pengelolaannya perlu mempertimbangkan keseimbangan antara vegetasi dengan luas lahan secara keseluruhan, dalam hal menggunakan konsep Green Coverage Ratio (GCR); dan perlu meminimalisir pembangunan fasilitas dengan kontruksi beton;
Pembuatan fasilitas dapat dilakukan terbatas dengan menggunakan bahan-bahan dari alam, misalnya pembuatan tempat dari kayu dan sebagainya
Kata Kunci : Kawasan Borobudur, Vegetasi, Masterplan JICA, Pengelolaan
1 BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Dasar
1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 5 Th. 1992;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
4. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 Tanggal 7 September 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Peninggalan Borobudur;
5. Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : KM.65/KP.110/MKP/2009 Tanggal 31 Desember 2009 tentang Penunjukan Pejabat Pelaksana Anggaran Tahun 2010 pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Lingkungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata;
6. DIPA Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Tahun 2010 No. 0027/040- 04.2/XIII/2010 Tanggal 31 Desember 2009.
1.2. Latar Belakang
Candi Borobudur merupakan bangunan candi yang berdiri di atas bukit yang mempunyai ketinggian bukit kurang lebih 15 meter dari tanah di sekitarnya. Keberadaan dan kelestarian candi sangat tergantung dari lingkungan di sekitarnya, khususnya vegetasi. Pengertian vegetasi dalam kamus ilmu lingkungan mengacu pada tumbuhan pada umumnya atau jumlah total kehidupan tumbuhan di suatu daerah. Oleh karena Candi Borobudur berada di bukit maka keberadaan vegetasi sangat penting fungsinya untuk menjaga kelestarian candi dan kawasannya. Kawasan Candi Borobudur khususnya zone 1 dan 2 telah ditanami vegetasi dengan fungsi :
1. Untuk menjaga kestabilan lereng bukit candi 2. Menjaga kandungan air tanah di bawah bukit
3. Sebagai penahan atau barrier terhadap angin dan polusi udara
4. Sebagai lahan penghijauan dan taman yang berfungsi untuk memperindah pemandangan di sekitar candi
5. Untuk melestarikan sejumlah tanaman asli serta tanaman langka di Indonesia.
2 Pada saat pemugaran Candi Borobudur yang kedua sedang berlangsung, pada tahun 1976 pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Jepang dengan nama organisasi JICA (Japanese International Cooperation Agency) melaksanakan studi mengenai program Taman Arkeologi Nasional di Borobudur dan Prambanan. Dalam studi yang dimulai pada bulan Juli 1978, salah satu usulan studi adalah tentang pembagian zonasi (zoning system).
Pembagian zona menurut JICA adalah :
1. Zona I (Sanctuay Area) adalah zona secara khusus diperuntukan untuk perlindungan monumen dan lingkungan arkeologis. Di dalam zona ini tidak diperkenankan mendirikan bangunan dan fasilitas baru yang bertentangan dengan prinsip pelestarian. Luas zona 1 adalah 44,8 ha, termasuk zona inti dari Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Ngawen dan Candi Gunung Wukir. Khusus untuk Candi Borobudur luas zona 1 adalah 25,371 Ha.
2. Zona 2 (Archeological Park Zone) adalah untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah dengan luas areal seluas 87,1 ha. Pada zona ini dapat diberi fasilitas baru namun harus dibatasi jumlahnya, diawasi bentuk arsitekturnya dan keserasian lingkungannya. Semuanya tidak bertentangan dengan upaya pelestarian dan menimbulkan pencemaran aspek arkeologi.
3. Zona 3 (Land Use Regulation Zone), adalah untuk mengatur tata guna lahan sekeliling taman arkeologi. Zona ini merupakan kawasan pemukiman terbatas, daerah pertanian, jalur hijau, dan fasilitas khusus yang dibuat dalam rangka menunjang kelestarian candi.
Dalam zona ini arealnya meliputi desa Borobudur, Wanurejo dan Mendut, termasuk Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut, dengan total areal seluas 10,1 km2.
4. Zona 4 (Historical Scenery Preservation Zone), adalah zona perlindungan kawasan bersejarah dengan luas areal sekitar 26 Km².
5. Zona 5 (National Archeological Park Zone), adalah zona perlindungan kawasan bersejarah dengan luas areal sekitar 78,5 Km² yang diperlukan dalam rangka penanggulangan kerusakan terhadap peninggalan-peninggalan purbakala yang masih terpendam dalam tanah.
Di dalam naskah JICA tahun 1979 telah disebutkan mengenai berbagai jenis vegetasi dan fungsi di zona 1 dan zona 2 Candi Borobudur. Dalam naskah JICA disebutkan bahwa lingkungan taman harus menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan nyaman untuk pengunjung dan keberadaan pohon-pohon sangat penting perannya dalam menciptakan suasana lingkungan dan menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter dan lingkungan fisik taman.
Setelah JICA selesai membuat perencanaan kawasan Borobudur dalam bentuk
3 Masterplan tahun 1979, kemudian pada tahun 1983 Candi Borobudur selesai direstorasi dan dibuka untuk umum. Dua puluh tujuh tahun telah berlalu semenjak diresmikannya pembukaan kembali Candi Borobudur dan sekitarnya untuk para wisatawan dalam dan luar negeri.
Kawasan Candi Borobudur telah mengalami banyak perubahan, terutama setelah dijadikannya kawasan ini menjadi Taman Wisata. Salah satu aspek yang menarik dari upaya pelestarian Candi Borobudur adalah keputusan pemerintah untuk mendirikan perusahaan perseroan Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan sebagai pengelola lingkungan candi itu.
Gagasan awal yang mendasari pendirian P.T. Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan adalah pentingnya upaya pelestarian warisan budaya itu secara terus menerus dan terencana dengan baik. Perawatan dan pengawetan yang dilakukan pada bangunan candinya sendiri dirasakan tidak cukup, karena dengan selesainya pemugaran candi akan semakin banyak orang yang mengunjungi Candi Borobudur. Meningkatnya jumlah pengunjung akan memberikan dampak kurang baik bagi upaya pelestarian warisan budaya. Oleh karena itu, perlu dibuat wilayah peredam yang dapat menghambat pengunjung agar tidak naik bersama-sama ke candi, yaitu dengan membuat taman wisata di lingkungan candi. Dengan adanya taman wisata ini diharapkan pengunjung akan tersebar ke berbagai penjuru taman. Tersebarnya pengunjung akan mengurangi beban pondasi bangunan candi. Untuk mengelola taman wisata tersebut, maka didirikan sebuah perusahaan persero yang disebut Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (sekarang : P.T. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko) (Taufik, dkk 2000 : 3).
Setelah Taman wisata Borobudur dikelola oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, perlu di evaluasi kembali apakah perencanaan vegetasi yang dilakukan oleh JICA masih diterapkan pada zona 1 dan zona 2 Candi Borobudur. Untuk itu, pada kajian ini akan diulas jenis-jenis vegetasi yang ada sekarang dibandingkan dengan perencanaan yang dilakukan oleh JICA.
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang muncul pada kajian ini adalah :
1. Bagaimanakah perkembangan fungsi lahan dengan tanaman vegetasi yang ada di zona 1 dan 2 Candi Borobudur saat ini ?
2. Apakah pengelolaan pemanfaatan lahan dan vegetasinya yang dilakukan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko sebagai pemegang otoritas
4 pengelolaan Zona 2 Candi Borobudur telah mengikuti konsep pola penataan kawasan yang ada di studi Masterplan JICA atau pemanfaatan lahan menggunakan konsep lainnya ?
3. Apa yang melatarbelakangi terjadinya perubahan pola fungsi lahan dengan tanaman vegetasi yang tidak sesuai dengan konsep masterpaln JICA
4. Bagaimanakah rencana ke depan mengelola lingkungan vegetasi di kawasan Borobudur
1.4. Tujuan
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan, maka kajian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi yang saat ini ditanam di zona 1 dan 2 Candi Borobudur.
2. Mengkaji apakah pengelolaan vegetasi yang ada yang ada saat ini sudah sesuai dengan masterplan JICA.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi lahan yang tidak sesuai dengan masterplan JICA
4. Mengetahui perencenaan ke depan pengelolaan lingkungan vegetasi di kawasan Borobudur.
1.5. Manfaat
Manfaat kajian ini adalah untuk memberikan masukan dan kontribusi kepada pihak- pihak pengampu kepentingan khususnya mengenai pengelolaan tanaman vegetasi yang ada di zona 1 dan zona 2 dalam usaha pelestarian Candi Borobudur.
1.6. Ruang Lingkup
Sesuai dengan tujuan kajian maka ruang lingkup kajian ini adalah tanaman vegetasi yang ada di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur, dengan zonasi yang digunakan sesuai dengan zonasi JICA tahun 1979.
1.7. Metode Kajian
Sehubungan dengan tujuan kajian ini, maka kajian dilakukan melalui tahapan-tahapan kajian yang meliputi :
5 1. Tahap Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer meliputi vegetasi yang ada di zona 1 dan zona kawasan Borobudur. Adapun data sekunder meliputi informasi bentuk pengelolaan vegetasi di kawasan Borobudur dan kawasan Prambanan serta data pustaka penunjang lainnya.
Penjaringan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu observasi langsung di lapangan untuk mendapatkan data primer dan studi pustaka, wawancara dan studi banding untuk mendapatkan data sekunder.
a. Observasi / Pengumpulan data lapangan
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data ke lapangan
yaitu di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur untuk memperoleh data tentang kondisi vegetasi saat ini dan bentuk pengelolaan yang dilakukan terhadap vegetasi yang ada di kedua zona tersebut. Di dalam observasi lapangan ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung, pengukuran menggunakan GPS dan pemetaan menggunakan Total Station (TS).
Saat ini pengelolaan vegetasi di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur dilakukan oleh sebuah Divisi di PT Taman Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Untuk itu perlu dilakukan perngumpulan data ke PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko untuk mengetahui rencana ke depan mengenai pengelolaan vegetasi di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur.
b. Studi Pustaka
Pada tahap ini dilakukaan penelusuran pustaka yang berhubungan dengan topik yang dibahas dan dapat digunakan untuk pembahasan topik yang dibicarakan atau sebagai bahan acuan. Pustaka yang akan ditelaah meliputi konsep yang direncanakan oleh JICA mengenai pengaturan vegetasi di kawasan Candi Borobudur. Selain itu dilakukan studi literatur mengenai berbagai jenis vegetasi dan pengelolaan vegetasi di berbagai tempat / daerah serta data lainnya yang mendukung.
c. Wawancara
Metode wawancara dilakukan untuk mendapatkan data mengenai berbagai jenis vegetasi yang tumbuh di zona 1 dan zona 2, dengan respoden orang-orang yang memahami vegetasi yang ada di zona 1 dan zona 2. Selain itu, juga dilakukan
6 wawancara dengan pengelola vegetasi, untuk mengetahui bentuk pengelolaan yang dilakukan terhadap vegetasi di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur.
d. Studi Banding pengumpulan
Studi banding dilakukan di kawasan CandI Prambanan, yang studi masterplannya juga dibuat oleh JICA bersamaan dengan pembuatan studi Masterplan Candi Borobudur.
Studi banding ini diharapkan dapat mengumpulkan data mengenai kondisi vegetasi dan pengelolaannya sekarang. Data yang yang diperoleh akan digunakan untuk mengetahui bagaimana bentuk pengelolaan vegetasi di kawasan Prambanan dibandingkan dengan di di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan pengelolaan vegetasi dikedua kawasan tersebut dilakukan oleh satu manajemen yaitu PT. Tamaan Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.
2. Tahap Pengolahan Data
Setelah data lapangan berupa data koordinast vegatasi yang telah diambil dengan menggunakan alat GPS dan total stasion kemudian diolah ke dalam komputer software system informasi geografis. Diharapkan dapat dihasilkan peta persebaran vegetasi di zona 1 dan zona 2 kawasan Borobudur. Peta pesebaran vegetasi ini akan dibandingkan dengan data vegetasi hasil pengolahan data ini diharapkan dapat diperoleh kesimpulan untuk dibahas sesuai dengan tujuan penelitian.
3. Tahap Penafsiran Data
Berbeda dengan dua tahap sebelumnya, maka pada tahap ketiga ini hasil pengolahan data akan dianalisis. Hasil analisis ini kemudian akan ditafsirkan lebih lanjut untuk menjawab permasalahan yang ada. Pada tahap ketiga ini diharapkan diperoleh suatu kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kesimpulan yang diambil diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk penelitian di masa yang akan datang.
7 BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian dan Peran Vegetasi
Di dalam masyarakat tumbuh-tumbuhan dikenal adanya formasi tumbuh-tumbuhan. Bagian dari formasi ini dikenal dengan asosiasi. Dalam asosiasi diketemukan populasi tumbuh-tumbuhan atau tanaman. Populasi adalah sekumpulan tanaman terdiri dari jenis yang sama yang menempati suatu habitat tertentu yang tidak terlalu luas dan memungkinkan terjadinya interbreeding antar sesamanya. Dikenal adanya populasi tanaman di hutan payau, rawa, gambut, pasang surut, di sawah, padang rumput dan di pegunungan kapur. Semua tumbuhan baik sejenis maupun tidak sejenis (flora) yang tumbuh di suatu wilayah dan bagaimana distribusi dari masing-masing jenisnya biasanya disebut dengan vegetasi. Vegetasi dapat tumbuh di daratan (terrestris) maupun di perairan dan ada pula yang tumbuh di antara keduanya. Apabila diamati lebih mendalam dan dikelompok-kelompokkan terdapat beberapa formasi tumbuh-tumbuhan. Di dalam formasi ini terdapat komunitas tanaman. Komunitas suatu tanaman adalah kesatuan atau kelompok tanaman yang didalamnya terdapat hubungan/interaksi dengan sesamanya dan dengan lingkungan. Ahli-ahli ekologi sangat menaruh perhatian terhadap komunitas tumbuh-tumbuhan ini, sebab akan dapat dipelajari struktur dari komunitas (jenis, kerapatan, dominasi, frekuensi dan nilai penting) dan adanya pengaruh-pengaruh habitat terhadap komunitas atau sebaliknya. Pada saat ini perhatian pakar ekologi semakin meningkat sebab mempelajari komunitas tanaman ini akan dapat diketahui perkembangan dari komunitas bila habitatnya berubah. Sebaliknya bila komunitasnya berubah maka proses perubahan habitat tempat tumbuhnya (lingkungannya) dapat diketahui (Fandeli, C;
2001 dalam Swatikawati, dkk, 2005).
Vegetasi memegang peran penting dalam biosfir. Pertama, karena berperan mengatur aliran sejumlah siklus biokimia seperti air, karbon dan nitrogen yang berperan penting sebagai penyeimbang energi secara lokal dan global. Kedua, vegetasi mempengaruhi karakteristik tanah seperti volume, kandungan kimia dan struktur yang menentukan karakteristik tumbuhan termasuk produktifitas dan strukturnya. Ketiga, vegetasi adalah sumber hidup sejumlah habitat hewan liar. Keempat dan merupakan fungsi terpenting bahkan untuk vegetasi alga sekali pun adalah menjalankan fungsi sebagai penyedia oksigen (http://www.siej.or.id).
Vegetasi dapat memberikan stabilitas permukaan tanah yang positif dari jalinan akar dan terhambatnya aliran air di permukaan. Sistim akar tumbuhan yang menyebar secara lateral, keluar dari tumbuhan mengikat butiran tanah menjadi menyatu, meningkatkan kuat geser, atau
8 dapat tumbuh secara vertikal masuk ke dalam tanah hingga menembus lapisan tanah yang lebih stabil sehingga mampu menjangkar tanah. Penggunaan vegetasi untuk stabilisasi tanah mempunyai berbagai keunggulan antara lain relatif murah, swa-perbaikan (self-repairing), tidak memerlukan peralatan rumit/berat, ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kehidupan. Meski begitu, penggunaan vegetasi memiliki kelemahan, diantaranya sulit dilakukan pada lereng yang terjal dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk dapat berfungsi
Menurut Eckbo (1964) dan Fakuara (1987) dalam Swastikawati, dkk, 2005) secara umum manfaat dan fungsi penghijauan memiliki banyak manfaat yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Lebih lanjut manfaat penghijauan tersebut dapat memberikan dampak yang positif bagi unsur-unsur biotis (manusia, binatang, dan tumbuhan) dan abiotis di dalam lingkungan tersebut. Manfaat penghijauan tersebut adalah manfaat estetis, orologis, hidrologis, klimatologis, edafis, ekologis, protektif, hygienis, dan edukatif.
Pembuatan pertamanan lingkungan situs atau penataan lansekap bukan hanya untuk kepentingan estetika saja, tetapi lebih dari itu, yaitu untuk menciptakan situs yang berwawasan lingkungan.Suatu upaya untuk memperbaiki dan memperbarui sumberdaya lingkungan sehingga tercipta kembali suasana yang asri, serasi, dan sejuk sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan situs (Swatikawati, dkk, 2005).
Salah satu contoh terabaikannya peran atau fungsi lingkungan terutama vegetasi di sekitar objek wisata adalah yang terjadi di objek wisata Dataran Tinggi Dieng, yang diakibatkan oleh alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi lahan pertanian kentang. Penanaman kentang dilakukan pada lahan yang kemiringan lerengnya tinggi tanpa dilengkapi dengan teknik konservasi yang memadai. Berdasarkan hasil penelitian Rusiah,M; Satya,N; dan Wahyudin, A;
(2005 dalam Swatikawati, 2005)), menunjukan adanya kerusakan lingkungan di objek Dataran Tinggi Dieng; kondisi lingkungan dan objek wisata Telaga warna, Telaga Merdada, Kompleks Candi Pandawa Lima, Kawah Sikidang dan Kawah Sileri mengalami kerusakan yang cukup parah. Hutan di sekitar objek wisata tersebut telah dibuka menjadi lahan pertanian kentang sedangkan sisa hutan yang masih ada dalam kondisi yang sangat kritis. Kerusakan lingkungan objek wisata Dataran Tinggi Dieng ditandai dengan adanya pendangkalan telaga, warna air yang berubah dan rusaknya kehidupan organisme sebagai akibat penggunaan pupuk kimia dan pertisida, adanya percepatan erosi dan pengambilan air telaga untuk pengairan tanaman kentang. Dampak aktifitas pertanian kentang yang meningkat tanpa memperhatikan kaidah konservasi lahan di sekitar objek wisata menimbulkan kerusakan hutan, tanah, air dan lingkungan. Kerusakan lingkungan telah mengancam objek wisata wisata Dataran Tinggi Dieng.
9 2.2. Pengelolaan Vegetasi Berdasarkan JICA Tahun 1979
Evaluasi vegetasi di zona 1 dan 2 Candi Borobudur ini mengacu kepada masterplan yang dibuat oleh JICA tahun1979. Zona 1 Candi borobudur, dikelola oleh Balai Konservasi peninggalan Borobudur sedang untuk zona 2 Candi Borobudur dikelola oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur.
Berdasarkan masterplan JICA , lingkungan taman harus menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan nyaman untuk pengunjung dan keberadaan pohon-pohon sangat penting perannya dalam menciptakan suasana lingkungan dan menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter dan lingkungan fisik taman. JICA membagi zona penghijauan ke dalam 5 blok (JICA, 1979):
1. Sanctuary Greennery (Penghijauan di zona inti) Aktivitas Pengunjung : - untuk apresiasi monumen Tujuan :
- kelestarian monumen dan lingkungan sekelilingnya - menambah suasana religius di tempat suci
Lokasi : - zona inti
GCR (Green Coverage Ratio) : 30 – 40%
2. Scenic Greenery;
Aktivitas Pengunjung :
- jalan menuju monumen dan ke sejumlah fasilitas - untuk beristirahat menimati pemandangan Tujuan :
- untuk pedoman bagi pengunjung dan kontrol jalan
- untuk memberikan lingkungan taman yang bervariasi dan menyenangkan selain untuk aspek estetika
Lokasi : - di concourse, tepi jalan taman Fungsi : 1,2,3,8,9,10
GCR (Green Coverage Ratio) : 25%
3. Fasility Geenery Aktivitas Pengunjung :
- untuk belajar dan apresiasi segala sesuatu tentang fasilitas monumen - untuk beristirahat di tempat fasilitas
10 - untuk masuk ke taman
Tujuan :
- Visual barrier// penghalang pandangan
- mengontrol iklim untuk lingkungan yang lebih menyenangkan - untuk efek estetika taman
Lokasi : - di sekitar fasilitas-fasilitas, lingkungan museum, area parkir Fungsi : 1,2,3,8,6,9
GCR (Green Coverage Ratio) : 50%
4. Recreational Greenery Aktivitas Pengunjung :
- untuk lebih menyatu dengan alam - untuk beristirahat
Tujuan :
- tempat istirahat dan bersantai di lingkungan yang menyenangkan - efek estetika
- mendapatkan keamanan/kenyamanan Lokasi : - Bukit Dagi
Fungsi : 1,2,3,4,9
GCR (Green Coverage Ratio) : 25%
5. Edge Greenery Aktivitas Pengunjung :
- untuk mengenali area taman Tujuan :
- sebagai tanda batas dan area ???
- mencegah pengaruh visual ??? dan fisik dari luar taman (memperoleh keamanan)
Lokasi : - garis keliling dari taman Fungsi : 4,5,6,7
GCR (Green Coverage Ratio) : 70%
Selain 5 blok di atas ada juga yang disebut Green Pavement : - Aktivitas pengunjung :
11
• Untuk beristirahat
• Untuk menikmati pemandangan - Tujuan :
o Aspek estitika
o Kontrol iklim, dan lain-lain.
- Lokasi : tanah di taman kecuali permukaan yang keras, area trotoar/pavement - Fungsi : 4,9
- GCR (Green Coverage Ratio) : -
Pepohonan akan memberikan kontribusinya di tiap-tiap blok sesuai dengan fungsinya masing- masing :
a. Untuk perbaikan iklim (Climate amelioration), pepohonan memberikan fungsi sebagai : 1. Modifikasi Temperatur, dengan menciptakan bayangan pohon akan meningkatkan
iklim mikro taman.
2. Kontrol angin.
b. Untuk fungsi teknis (Engineering Uses), pohon kontribusi sebagai : 3. Perlindungan dari air
Pohon dapat melindungi dari tekanan/pancuran air hujan.
4. Kontrol erosi
Erosi dari angin, air hujan dan elemen alam lainnya.
5. Mengurangi kebisingan
Pohon akan mengurangi/meredam kebisingan yang disebabkan dari jalan.
c. Untuk fungsi arsitektur (Architectural Uses) 6. Visual Barrier
Untuk privasi/pandangan yang lebih baik.
7. Phisical Demarcation
Untuk membuat batas luar dari taman atau batas dari zona atau area di dalam taman.
8. Sebagai peoman (Guidance)
Untuk konfirmasi posisi dan pedoman sepanjang jalan/perjalanan.
9. Untuk keindahan (Beautification)
Di tiap musim, pepohanan akan memberikan suasana pemandangan dengan keindahan tersendiri melalui bunga-bunga.
10. Fungsi lainnya (Other uses) :
12 1. upaya memelihara tanaman langka
2. Sebagai sarana pendidikan/pembelajaran 3. Pepohonan yang lazim/banyak dikenal orang 4. Pohon religius
Area di kawasan Borobudur yang tidak memerlukan untuk ditanami pepohonan adalah :
1. Di daerah pavement/trotorar yaitu di daerah tempat parkir, concourse, jalan taman, jalan untuk layanan, tempat berdagang.
2. Area monumen yaitu daerah di dalam monumen dan yang dekat dengan monumen.
3. Di daerah bangunan/gedung.
Sedangkan daerah yang memerlukan pepohonan adalah daerah lain di dalam taman.
Pepohonan yang tidak dimanfaatkan untuk penghijauan adalah : a. Yang mempunyai nilai rendah untuk dipandang
b. Yang menimbulkan masalah perawatan, yaitu pohon buah-buahan dan semak-semak.
Sedangkan pepohonan yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan adalah : a. Yang berguna untuk tujuan pemandangan yang indah
b. Pohon-pohon religi
c. Pohon-pohon yang lazim/umum ditanam
d. Yang dapat menyesuaikan dengan fungsi pepohonan di taman.
Desain kriteria dan garis-garis besar penghijauan di tiap blok : 1. Sanctuary Greenery
Di taman Borobudur, titik berat diberikan kepada daerah-daerah yang ditanami belukar dengan ketinggian medium dan di atas medium, dengan mahkota yang lebar dan dalam pemilihan pohon, dipilih yang mempunyai arti tertentu. Tanah harus ditutupi dengan rumput.
2. Scenic Greenery
Di concourse ditekankan untuk penanaman pohon-pohon bertipe tunggal yang tinggi secara berderet untuk memberikan kesan teratur. Ruang jalan yang ideal akan memberikan banyak kesan teduh kepada pengunjung. Belukar ditanam di daerah tertentu sebagai tanaman pendukung, dan kecuali pada permukaan yang keras, tanah harus ditutupi dengan rumput dan sebagian belukar atau tanaman penutup lahan lainnya.
Di tepi jalan, penghijauan di sepanjang jalan dan tempat parkir tidak hanya menciptakan teduh tapi juga kelestarian secara visual dan orinentasi ke arah
13 fasilitas-fasilitas pendukung. Di sini terdiri atas pohon-pohon dengan ketinggian medium dan belukar untuk tujuan yang berbeda-beda.Tipe, warna, bentuk dan lain- lain dari vegetasi akan memberikan petunjuk kpada pergerakan pengunjung menuju ke relief candi.
3. Fasility Greenery
Tanaman di sekitar dan diatas lahan fasilitas-fasilitas pendukung taman menggunakan pohon-pohon dengan ketinggian medium dan tinggi yang bentuknya menyolok, belukar yang bervariasi dan tanaman tropis dengan bunga, daun dan warna yang indah. Kolan kecil juga merupakan elemen kebun dan taman juga, ini untuk fasilitas gedung pertunjukkan dan diteduhi oleh pohon-pohon tinggi dengan mahkota yang besar/lebar.
4. Recreation Geenery
Tanaman di bukit Dagi, terditi atas pohon-pohon kelapa yang masih ada, sebagian tambahan pohon palem dengan tipe yang berbeda-beda dan beberapa belukar tertentu, memberi kesan keseluruhan sebagai kebun palem dengan pandangan indah di daerah sekitarnya.
5. Edge Greenery
Tanaman ini lokasinya di sepanjang batas dari daerah taman, akan berfungsi sebagai pembatas, pengaturan pandangan dan batas fisik taman. Disini terdiri dari deretan phon-pohon tinggi yang lebat dan ditambah dengan tanaman belukar.
6. Green Pavement
Tanaman disini terdiri dari bermacm-macam jenis rumput dan tanaman penutup lahan dengan penyinaran matahari dan kondisi tanah yang berbeda-beda. Tanaman ini akan melindungi permukaan tanah, mengontrol pertumbuhan semak dan menyediakan ruang/lingkungan yang menarik untuk berbagai macam kegiatan.
14 Gambar 1. Zona penghijuajun dalam konsep JICA 1979
15 Berdasarkan studi yang dilakukan oleh JICA tahun 1979, berikut adalah pohon-pohon yang cukup memadai dan penting untuk ditanam :
‐ pohon-pohon besar (tinggi ≥ 12,5 m)
Nama pohon Nama latin
Pinang Areca catechu
Nangka Artocarpus integra
Cemara Casuarina equisetifolia
Pohon kapuk Ceiba pentandra
Kelapa Cocos nucifera
Flamboyan Delonix regia
Durian Durio zibethinus
Beringin Ficus benjamina
Pohon bodi Ficus religiosa
Kere payung Filicium decipiens
Pohon karet Ficus elastic
Waru Hibiscus tiliaceus
Mangga Mangifera indica
Mindi Melia azedarach
Tanjung Mimusops elengi
Rambutan Nephelium lappaceum
Adpokat Persea Americana
Palem raja Roystonea regia
Mahoni Swietenia mahagoni
Asam Tamarindus indica
‐ pohon-pohon medium (tinggi ≥ 7,5 m)
16
Nama pohon Nama latin
Sawo manila Achras zapota
Mimosa Albizia julibrissin
Sirsak Annona muricata
Srikaya Annona squamosa
Cherimoya Annona cherimola
Sukun Artocarpus communis
Belimbing wuluh Averrhoa bilimbi
Gandaria Bouea macrophylla
Pepaya Carica papaya
Trengguli Cassia javanica
Flamboyan Delonix regia
Jambu air Eugenia aquea
Salam Eugenia polyantha
Manggis Garcinia mangostana
Bungur Langerstroemia flos reginae
Petai cina Leucaena glauca
Jambu biji Psidium guajava
Pisang kipas Ravenala Madagascariensis
Duwet Syzygium polycephalum
‐ pohon-pohon kecil (tinggi ≥ 4,5 m)
Nama pohon Nama latin
Buni Antidesma bunius
Kenanga Cananga odorata
Trengguli Cassia fistula
17
Kayu manis Cinnamomum burmani
Jeruk keprok Citrus nobilis
Cerakin Croton tiglium
Cemara natal Cupressus funebris
Pakis hias Cycas revolta
Dadap Erythrina sepium
Cengkeh Eugenia aromatic
Cempaka Michelia champaca
Kamboja merah Plumeria rubra
Karamunting Rhodomyrthus tomentosa
Coklat Theobroma cacao
‐ pohon-pohon religius
Nama pohon Nama latin
Palmyra palm Borasus flabellifera
Yellow cotton tree Cochlospermum gossypium
Kelapa Cocos nucifera
Gebang Corypha utan
Maja Crataeva religiosa
Sonokeling Darbegia sisso
Banyan Ficus bengalensis
Beringin Ficus benjamina
Pohon bodi Ficus religiosa
Mangga Mangnifera indica
Pohon asoka Saraca indica
Sal Shorea robusta
18
Anting putri Wrightia religiosa
‐ Semak tinggi sampai medium (tinggi 2,5 m)
Nama pohon Nama latin
Duri landak Agave Americana
Kembang merak Caesalpinia pulcherrima
Palem hias Chrysalidocarpus lutescens
Pakis pohon Cyathea sp dan Alsophila sp
Koka Erythroxilon coca
Kembang sepatu Hibiscus sp
Kembang asoka Ixora coccinea
Melati Jasminum sambac
Bungur cina Lagerstroemia indica
Kemuning Murraya paniculata
Oleander Nerium indicum
Kamboja merah Plumeria rubra
Rhododendron Rhododendron mucronatum
‐ Semak rendah (tinggi 1,5 m)
Nama pohon Nama latin
Kadaka Asplenium nidus
Bugenvil Bougainvillea spectabilis
Mamang besar Cleome spinosa
Teklan/prasman Eupatorium triplinerve
Kaca piring Gardenia augusta
Monstera Monstera deliciosa
Kembang tungau Salvia splendens
19
BAB III
HASIL DAN PEMBAHSAN
3.1. Hasil
A. Kondisi vegetasi saat ini di kawasan Borobudur
Dalam menjabarkan kondisi saat ini vegetasi di zona 1 dan zona 2 digunakan konsep yang tercantum dalam JICA 1979. Hal dilakukan untuk memudahkan ketika akan membandingkan kondisi penataan vegetasi saat ini dengan konsep penataan vegetasi dalam JICA 1979.
1. Sanctuary Greenery
Di halaman Candi Borobudur ditanam rumput pada daerah-daerah tertentu yang berfungsi sebagai pencegah erosi air hujan dan untuk keindahan pemandangan. Batas antara halaman dengan bukit ditanam semak dan perdu sebagai pembatas, diantaranya yaitu teh-tehan (Acalypha siamensis), landepan (Barleria cristata), malihan (Duranta sp.), duranta kuning (Duranta sp.), terang bulan (Duranta variegata). Di halaman candi ditanami pepohonan yang selain berfungsi untuk perindang juga sebagai penahan tanah agar tidak tererosi dan sebagai pemandangan yang indah. Tanaman tersebut antara lain keben (Baringtonia asiatica), biola cantik (Ficus lyrata), kemuning (Murraya paniculata), nyamplung (Calophyllum inophyllum).
Gambar 2. Tamanan teh-tehan (Acalypha siamensis) di utara candi
Gambar 3. Tanaman rumput di halaman sebelah barat laut candi
20
Di lereng bukit ditanam pohon-pohon keras yang berfungsi sebagai penahan erosi tanah dan sebagai peneduh, diantaranya adalah pohon bodi (ficus religiosa), pinus (Pinus sp.), asem jawa (Tamarindus indica), trengguli (Cassia fistula), akasia (Acacia auriculiformis), kasia (Cassia javanica), santenan, nyamplung (Calophyllum inophyllum), biola cantik (Ficus lyrata), kelapa (Cocos nucifera) dan berbagai semak dan perdu diantaranya alamanda (Allamanda cathertica), joko nantang (Duranta repens), teh-tehan (Acalypha siamensis), akalipa (Acalypha wilkesiana), puring (Condeseum veriegantum), mojo (Cresentia cujete), walisongo (Schefflera).
Gambar 4. Penanaman rumput di beberapa lokasi halaman candi
Gambar 5. Pohon keben (Baringtonia asiatica) di halaman sebelah barat laut candi
Gambar 6. Pohon biola cantik (Ficus lyrata) di sebelah utara candi
Gambar 7. Deretan pohon kemuning (Murraya paniculata) di halaman sebelah selatan candi
21
Di areal zona 1, ditanam juga pohon-pohon yang mempunyai arti tertentu diantaranya pohon-pohon religius yang selalu dikaitkan dengan beberapa peristiwa kehidupan Budha yaitu kelahiran, pernikahan, keselamatan dan meninggal. Tapi tidak semua pohon ada yang terdapat di sanctuary zone, yaitu Saraca indica (saraka), hubungannya dengan kelahiran dan pernikahan, dan Ficus religiosa (bodi), hubungannya dengan keselamatan. Pohon lain yang juga mempunyai hubungan dekat dengan umat Budha sebagiai contoh tentang pengajaran Budha dan pohon obat adalah : kelapa (Cocos nuficera), gebang (Corypha utan), mojo (Crataeva religiosa), sonokeling (Dalbergia sisso), beringin (Ficus benjamina), mangga (Mangifera indica).
Gambar 8. Tamanan semak duranta kuning (Duranta sp.) sebagai batas halaman candi dengan
Gambar 9. Pohon pinus (Pinus sp.) di lereng sebelah utara candi
Gambar 10. Asam jawa (Tamarindus indica) di lereng utara
Gambar 11. Pohon bodi (Ficus religiosa) di lereng
sebelah timur laut candi
22
Gambar 12. Pohon saraka (Saraca indica) di sebelah selatan candi
Gambar 13. Pohon gebang (Corypha elata).) di lereng sebelah barat candi
Gambar 14. Pohon mojo (Cresentia cujete) di halaman candi
Gambar 15. Pohon sonokeling (Dalbergia sisso) di lereng sebelah timur laut candi
Gambar 16. Pohon beringin (Ficus religiosa) di selatan candi
Gambar 17. Pohon kelapa (Cocos nucifera) di sebelah barat daya candi
23
Untuk melestarikan tanaman yang sudah langka di zona ini juga ditanam tanaman langka diantaranya tejo (Cinnamomum iners), keben (Baringtonia asiatica), sintok (Cinnamomum sintok), nam-nam (Cynometra cauliflora), bodi (Ficus religiosa), titi (Gmelina), kanthil (Michelia alba), cempaka mawar (Michelia cempaka), malaka (Phillantus embrica), wijaya kusuma (Pisonia silvertis), walikukun (Schoutenia ovata Korth), kosambi (Schleichera), cakar ayam (Selaginella doedelenii Hieron), kandri (eurya nitida), pulai (Alstonia scholaris), santenan, mahkota dewa (Phaleria macrocrpa) dan matoa (Pometia pinnata).
Di lereng sebelah timur lebih banyak ditanami semak, perdu dan pohon hias karena merupakan pintu masuk pengunjung sehingga dapat memberikan kesan indah dan memberikan pemandangan yang asri. Jenis tanaman yang ditanam diantaranya wijaya
Gambar 18. Pohon walikukun (Schoutenia ovate Korth) di selatan candi
Gambar 19. Pohon tejo (Cinnamomum iners) di sebelah barat laut candi
Gambar 20. Cakar ayam (Selaginella doedelenii Hieron) di lereng timur candi
Gambar 21. Pohon wijaya kusuma (Selaginella doedelenii Hieron) di tangga selatan
24
kusuma (Pisonia silvertis), daun lebar (Heliconia sp), Nusa indah (Mussaenda philippica), mojo (Cresentia cujete), joko nantang (Duranta repens), teh-tehan (Acalypha siamensis), mondokaki (Tabernaemontana coronaria), akalipa (Acalypha wilkesiana), landepan (Barleria cristata), terang bulan (Duranta vareigata), soka kecil (Ixora sp) dan sringin.
2. Scenic Greenery
Di sepanjang jalan concourse pintu masuk ke Candi Borobudur, di tepi jalan ditanam deretan pohon-pohon yang berbatang tunggal dan tinggi serta mempunyai tajuk yang lebar sehingga berfungsi sebagai peneduh bagi para pengunjung yang akan menuju ke candi.
Pohon yang ditanam adalah pohon tejo (Cinnamomum iners) yang termasukm pohon langka dan glodogan (Polyathea pendula) yang termasuk pohon hias. Dua pohon ini ditanam secara selang seling di sepanjang concourse.
Di bagian tengah concourse dibuat taman untuk memperindah halaman. Jenis vegetasi yang ditanam tanaman semak dan perdu yang batangnya tidak terlalu tinggi sehingga tidak menghalangi pandangan ke arah candi. Jenis tanaman tersebut diantaranya sri gading (Nyctanthes arbor trystis), mondokaki (Tabernaemontana coronaria), kana (Canna indica).
Di sepanjang tepi-tepi jalan di dalam taman di tanam vegetasi yang bertujuan untuk memberikan arah bagi pengunjung untuk menuju candi dan sebagai kontrol jalan serta memberikan lingkungan taman yang bervariasi dan menyenangkan selain untuk aspek estetika/keindahan seperti yang direncanakan oleh JICA. Jenis vegetasi yang ditanam berupa pohon-pohon yang mempunyai ketinggian medium. Vegetasi yang ditanam diantaranya kelapa (Cocos nucifera), kenari (Canarium commune L), palem ekor tupai (Wodyetia bifurcata), keben (Barringtonia asiatica), palem raja (Oreodoxa regia), kenari
Gambar 22. Taman di lereng timur candi, pintu masuk pengunjung
25
londo (Canarium commune), pohon tejo (Cinnamomum iners), jambe/pinang (Arecha cathecu), gayam (Inocarpus edulis).
3. Fasility Greenery
Berbagai fasilitas yang ada sebagai pendukung keberadaan Candi Borobudur dibangun di zona 2, diantaranya Museum Kapal Samudraraksa, Museum Karmawibangga, Kantor PT.
Taman Wisata Unit Candi Borobudur, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Hotel Manohara, Museum Muri dan Pasar Souvenir. Berbagai jenis vegetasi yang ditanam adalah pohon-pohon dengan ketinggian tinggi (≥ 12,5 m) dan medium (≥ 7,5 m) yang bentuknya mencolok dan belukar yang bervariasi dengan bunga, daun dan warna yang indah. Jenis tanaman di sekitar tempat-tempat fasilitas tersebut antara lain :
- yang termasuk semak adalah monokaki (Tabernaemontana coronaria), Gambar 23. Deretan pohon ditepi concourse yang
terdiri pohon tejo dan glodogan
Gambar 24. Tanaman yang ada di tengah concourse
Gambar 25. Deretan pohon kelapa (Cocos nucifera)ditepi di tepi jalan taman di barat laut
Gambar 26. pohon kenari (Canarium commune L) dan palem raja (Oreodoxa regia) di barat laut
26
duri landak (Agave americana)
- yang termasuk tanaman perdu adalah landepan (Barleria cristata), puring (Condeseum variegantum), terang bulan (Duranta variegata), soka kecil (Ixora sp.),
- yang termasuk palma yaitu kelapa (Cocos nuficera), pakis haji (Cycas rumpii), palem ekor tupai (Wodyetia bifurcata), palem kuning (Chrysalidocarpus lutescens), palem segitiga (Dypsis decary),
- yang termasuk pohon hias adalah jati mas (Cordea sebestina), podokarpus (Podocarpus sp.)
- yang termasuk jenis tanaman langka yaitu keben (Baringtonia asiatica),
- yang termasuk tanaman buah-buahan yaitu nangka (Artocarpus sp.), rambutan (Napheliun lapacum), kepel (Stelechocarpus burahol),
- yang termasuk jenis tanaman peneduh yaitu biola cantik (Ficus lyrata), sapu tangan (Maniltoa granoiflora scheff), weru (Albizia procera Benth)
Gambar 27. Jenis tanaman di sekitar fasilitas
mushola
Gambar 28. Jenis tanaman di sekitar fasilitas
Museum Kapal
Gambar 29. Jenis tanaman di sekitar fasilitas
Museum Karmawibangga
Gambar 30. Jenis tanaman di sekitar fasilitas
Toilet
27
Tujuan dari fasility greenery ini adalah untuk mengontrol iklim agar lingkungan lebih menyenangkan, dan untuk aspek estetika taman. Di sini pengunjung dapat belajar dan beristirahat menikmati pemandangan..
4. Recreation Greenery
Tempat yang direkomendasikan sebagai tempat rekreasi adalah bukit Dagi, sebagai tempat kemah para siswa sekolah dan tempat beristirahat. Sebagian besar tanaman yang terdapat di bukit Dagi adalah pohon pinus (Pinus sp.), selain itu terdapat pula pohon kelapa (Cocos nuficera), tarena, flamboyan (Delonix regia), pandan (Pandanus sp.), kelapa sawit (Elaeis guiensis). Tanaman di bagian bawah lereng bukit Dagi didominasi oleh pohon kelapa (Cocos nucifera) sedangkan bagian atas Gambar 31. Jenis tanaman di sekitar fasilitas
Tempat Pembelian Tiket Masuk
Gambar 32. Jenis tanaman di sekitar fasilitas Pusat Informasi
Gambar 33. Jenis tanaman di sekitar fasilitas Hotel Manohara
Gambar 34. Jenis tanaman di sekitar fasilitas pos P3K
28
didominasi pohon pinus (Pinus sp.). Seluruh tanah ditutupi dengan tanaman rumput.
Tanaman-tanaman ini secara keseluruhan memberikan kesan indah.
.
5. Edge Greenery
Tanaman yang sering dipakai sebagai pembatas taman biasanya dipilih deretan pohon-pohon tinggi ditambah dengan tanaman semak. Jenis tanaman pembatas yang terdapat di sepanjang jalan batas antara zona 1 dan 2 dan batas taman adalah palem raja (Oreodoxa regia), Angsana (Pterocarpus indica), bambu paris (Bambusa sp.), kelapa (Cocos nuficera), palem ekor tupai (Wodyetia bifurcata), kenari (Canarium communi), kenari londo (Canarium commune), duri landak (Agave americana), jambe/pinang (Arecha catechu), tejo (Cinnamomum iners), tanjung (Mimusops elengi).
Gambar 35. Jalan mesuk menuju Bukit Dagi Gambar 36. Sebagian besar tanaman di Bukit Dagi adalah pinus (Pinus sp.)
Gambar 37. Pohon kelapa di lereng sebelah timur bukit Dagi
29
Jenis tanaman rendah yang sering menyertai pohon-pohon tinggi pembatas adalah daun lebar (Heliconia sp), teh-tehan (Acalypha siamensis) dan walisongo (Schefflera sp).
Gambar 42. Tanaman duri landak (Agave Americana) di batas zona 2
Gambar 43. Selain pohon-pohon tinggi juga ditanam tanaman rendah seperti Heliconia sp.
Gambar 38. Pohon tinggi di jalan batas antara zona 1 dan 2
Gambar 39. Pohon tinggi di jalan batas antara zona 1 dan 2
Gambar 40. Pohon tinggi di jalan batas antara zona 1 dan 2
Gambar 41. Pohon tinggi di jalan batas antara
zona 1 dan 2
30
6. Green Pavement
Di dalam area taman baik di zona 1 dan 2 Candi Borobudur terdapat tempat-tempat terbuka (open space) yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk beristirahat melepas lelah dan menikmati pemandangan. Di tempat-tempat tersebut tanah harus ditutupi dengan rumput dan tanaman penutup lahan lainnya untuk menyediakan tempat atau lingkungan yang menarik untuk berbagai macam kegiatan bagi pengunjung. Dilihat dari perbandingan antara kerapatan tanamannya dan lahan yang ada, di tempat tersebut dinilai belum seimbang karena masih banyak lokasi-lokasi yang kosong tanpa tanaman.
Tujuan dari green pavement ini adalah sebagai aspek estetika, kontrol iklim dan lain- lain. Adapun fungsinya sebagai kontrol erosi dan keindahan.
Gambar 44. Lahan terbuka (open space) di zone 2 selatan candi
Gambar 45. Lahan terbuka (open space) di zona 2 utara candi
Gambar 46. Lahan terbuka (open space) di zone 2 timur laut candi
Gambar 47. Lahan terbuka (open space) di zona 1 timur candi
31
Gambar 48. Peta Persebaran Vegetasi di zona 1 dan zona 2 Kawasan Borobudur
32
B. Studi Banding Ke Kompleks Candi Prambanan
Studi banding ke kompleks Candi Prambanan dilakukan dengan pertimbangan bahwa kompleks Candi Borobudur dan Candi Prambanan perencanaan vegetasinya di lakukan oleh JICA. Di Kompleks Candi Prambanan pengelolaan vegetasi/tanaman dikelola oleh 3 instansi yang berbeda yaiu zona sanctuary (inti) dan zona 1 adalah oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), untuk Candi Prambanan dikelola oleh BP3 Yogyakarta dan untuk Candi Sewu, Candi Bubrah and Candi Lumbung oleh BP3 Jawa Tengah. Adapun untuk zona 2, dikelola oleh PT. Taman Wisata unit Candi Prambanan
a. Zona 1 Candi Prambanan
Di zona sanctuary dan zona 1 kompleks Candi Prambanan, vegatasi/tanamannya tidak banyak penambahan/penanaman pohon karena lebih mempertahankan kondisi aslinya. Adapun untuk zona 2 selain masih ada pohon-pohon asli, banyak juga ditanam pohon-pohon yang baru. Untuk candi Prambanan, di zona sanctuary hanya ada 6 buah pohon keben (Baringtonia asiatica). Adapun di zona 1 mayoritas tanamannya adalah pohon waru (Hibiscus sp.), Jambu air (Syzygium samarangense), munggur/trembesi (Samanea samman), kapuk (Ceiba pentandra), mangga (Mangifera indica), klengkeng (Euphoria longana) dan asam (Tamarindus indica) yang merupakan tumbuhan/tanaman asli daerah tersebut.
Untuk zona 2 Kompleks Candi Prambanan, PT. TWCP merencanakan penanaman bambo (Bambusa sp.) di sepanjang tepi jalan sebelah selatan candi yang fungsinya selain untuk aspek keamanan juga sebagai visual barrier/ penghalang pandangan agar tidak langsung ke candi.
b. Zona 1 Candi Sewu
Tanaman/vegetasi di zona sanctuary hanya tanaman rendah sejenis semak seperti teh- tehan (Acalypha siamensis) yang ditanam di sepanjang pagar batas antara zona 1 dan 2. Di zona sanctuary dulu ada pohon tapi kemudian ditebang karena jaraknya dekat dengan candi perwara sehingga dapat mengganggu keberadaan candi tersebut. Di zone 1 sekitar kantor unit, ada tanaman baru yang ditanam oleh kantor unit berikut pemeliharaannya yaitu pohon mangga (Mangifera indica), sawo kecik (Manilkara kauki) dan lain-lain. Di sebelah utara kantor unit Candi Sewu, Candi Bubrah dan Candi lumbung ini ditanam deretan
33
bamboo (Bambusa sp.) sebagai kamuflase atau visual barrier agar pandangan orang tidak langsung ke candi.
c. Zona 1 Candi Bubrah
Di zona 1, terdapat tanaman semak diantaranya adalah teh-tehan (Acalypha siamensis) di sepanjang pagar dalam, dan lahan ditanamai dengan rumput. Adapun di zona 2 tanaman yang dominan adalah pohon mangga (Mangifera indica), asem londo (Pithecolobium dulce), sukun (Artocarpus communis Forst), sawo (Manilkara kauki), dan kapuk yang merupakan tanaman asli daerah tersebut. Adapun tanaman baru yang ditanam adalah sawo bludru (Chrysophyllum cainito), walikukun (Schoutenia ovata Korth).
d. Zona 1 Candi Lumbung
Vegetasi di area zone 1 dikelilingi semak di sepanjang pagar pembatas. Tanamn pohon yang ada adalah pohon salam (Syzygium Polyanthum), kamboja (Kemboja putih) dan soka (Ixora coccinea). Tanaman yang dominan di zone 2 adalah pohon waru (Hibiscus sp.), asem londo (Pithecolobium dulce) dan mangga (Mangifera indica).
e. Zona 2 Kompleks candi Prambanan
Berdasarkan wawancara langsung dengan Kepala Unit PT. Taman Wisata Candi Prambanan, penanaman vegetasi di zona 2 komplek Cnadi Prambanan secara prinsip mengikuti konsep yang direkomendasikan olej JICA, namun ada beberapa yang dilakukan penyesuaian di lapangan. Sebagai contoh, pada awal-awal pembentukan taman, agar tanaman cepat tumbuh digunakan pohon asam kranji dan angsana yang berfungsi sebagai peneduh, padahal tanaman ini tidak ada di buku JICA/tidak direkomendasikan dalam masterplan JICA. Contoh lainnya adalah tanaman biola cantik, pohon ini merupakan tanaman langka namun tidak sesuai dengan peruntukannya. Pohon ini mempunyai akar yang bukan akar tunggang, sehingga mudah roboh/tumbang. Selain itu akarnya menyebar kemana-mana sampai masuk ke saluran instalasi kotoran sehingga harus dibongkar. Aspal dan conblok juga sering terangkat oleh akar biola cantik ini sehingga merusak jalanan.
Buku JICA adalah hasil studi panduan untuk membuat taman arkeologi, di dalam teknis pelaksanaannya masih dituangkan dalam buku kerja, sehingga buku JICA belum aplikatif di lapangan. Segala kegiatan pengelolaan vegetasi di zona 2 ditangani langsung oleh kantor pusat PT. Taman Wisata, sedangkan yang dikerjakan oleh kasi pertamanan di kantor unit
34
PT. Taman Wisata Candi Prambanan adalah kegiatan pemeliharaan dan penanaman tanaman/pohon-pohon kecil/rendah. Konsep yang dijalankan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko dalam pengelolaan vegetasi/tanaman pada prinsipnya tetap mempertahankan dan melihat kondisi lingkungan dan tetap memperhatikan masterplan yang dibuat oleh JICA tahun 1979.
3.2. Pembahasan
A. Evaluasi Pengelolaan Vegetasi di Zona 1 dan zona 2 Candi Borobudur
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 tahun 1992 tentang Pengelolaan Taman Wisata Candi Borobudur dan Taman Wisata Candi Prambanan serta pengendalian lingkungan kawasannya, kawasan Candi Borobudur dibagi menjadi 3 zonasi yang meliputi
1. Zona 1. Zona ini merupakan lingkungan kepurbakalaan yang diperuntukkan bagi perlindungan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan fisik candi. Luas zone 1 adalah ± 44,8 Ha dan berbentuk lingkaran dengan titik pusat pada as candi. Zona 1 ini dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan.
2. Zona II. Zona ini merupakan kawasan di sekeliling candi dan diperuntukan bagi pembangunan taman wisata sebagai tempat kegiatan kepariwisataan, penelitian, kebudayaan dan pelestarian lingkungan candi. Luas zone 2 adalah ± 42,3 Ha. Zona 2 dikelola oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan.
3. Zona III. Zona 3 merupakan kawasan di luar zona 2 candi Borobudur dan diperuntukkan bagi pemukiman terbatas, daerah pertanian, jalur hijau atau fasilitas tertentu lainnya yang disediakan untuk menjamin keserasian dan kesimbangan kawasan di zona I pada umumnya, dan untuk mendukung kelestarian candi serta fungsi taman wisata pada khususnya. Luas zona III adalah ± 932 Ha. Zona 3 dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang..
Evaluasi ini menggunakan konsep pengelolaan vegetasi yang ada dalam buku JICA tahun 1979) kemudian dibandingkan dengan kondisi saat ini
a. Sanctuary Greenery
Dalam masterplan JICA, tujuan dari Sanctuary Greenery (penghijauan zona inti) adalah untuk melindungi monumen dan lingkungan disekelilingnya serta menambah
35
suasana religius di tempat suci. Adapun fungsi dari dari penghijauan tersebut adalah sebagai pengendali erosi dan penahan angin, sebagai batas fisik dari area di dalam taman dan fungsi lainnya diantaranya melestarikan tanaman langka dan sebagai sarana pendidikan/pembelajaran. Luas areal Sanctuary Greenery adalah 1.821.2653 m2 dengan Green Coverage Ratio (GCR) adalah 25 %. GCR adalah luas lahan yang ditumbuhi tanaman hijau dibandingkan dengan luas lahan secara keseluruhan.
Melihat gambar yang ada pada peta JICA, Sanctuary Greenery dapat disamakan dengan zona 1 candi Borobudur diluar bangunan candi dan halamannya yang termasuk Scenic Greenery. Sebelum tahun 2009 sempat terjadi salah penafsiran terhadap luas zona 1 candi Borobudur, yang menganggap batas zona 1 candi Borobudur adalah adalah pagar keliling yang mengelilingi bukit Borobudur dengan luas 345.3266 m2 Sedangkan menurut JICA 1979 luas zona 1 adalah 1.031.6764 m2 dengan batas sekarang adalah jalan aspal di luar pagar yang mengelilingi zona 1 candi Borobudur. Akibat salah penafsiran tersebut, lahan antara pagar dan aspal dianggap sebagai zona 2 Taman Wisata dan dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata. Di sisi barat terdapat tanah lapang (lapangan Gunadarma), yang pada saat-saat tertentu difungsikan sebagai untuk kepentingan pemanfaatan seperti pentas kesenian, areal pameran, areal upacara seremonial waisak dan sebagainya.
Sedangkan di sisi selatan, dibangun panggung pementasan sendatari / kesenian lainnya, yang juga dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya yang tidak ada kaitannya dengan candi Borobudur.
Gambar 49. Panggung Asobkya di sisi selatan
Gambar 50. Lapangan Gunadarma di sisi utara
36
Dii tinjau dari sisi Green Coverage Ratio (GCR), dalam naskah JICA GCR untuk Sanctuary Greenery adalah 30 - 40 %, sedangkan GCR kondisi sekarang adalah 70 %, maka Sanctuary Greenery masih sesuai dengan konsep masterplan yang dibuat JICA
b. Scenic Greenery
Dalam memasterplan JICA, yang termasuk Scenic Greenery adalah halaman zona 1, concourse dan sebagian sisi utara. Fungsi dari scenic greenery adalah untuk:
a. Modifikasi temperatur, dengan menciptakan bayangan pepohonan akan meningkatkan iklim mikro di kawasan taman.
b. Sebagai kontrol angin.
c. Perlindungan dari air hujan.
d. Sebagai pembatas tepi jalan dan arah jalan.
e. Keindahan
Di concourse ditekankan untuk penanaman pohon-pohon bertipe tunggal yang tinggi secara berderet untuk memberikan kesan teratur. Ruang jalan yang ideal akan memberikan banyak kesan teduh kepada pengunjung. Belukar ditanam di daerah tertentu sebagai tanaman pendukung, dan kecuali pada permukaan yang keras, tanah harus ditutupi dengan rumput dan sebagian belukar atau tanaman penutup lahan lainnya.
Kondisi saat ini terutama di sisi utara, di sebagian lahan scenic greenery yang seharusnya menurut JICA merupakan lahan hijau sudah berubah fungsi menjadi bangunan fasilitas pariwisata yang dibangun pada tahun 2005. Di lokasi ini terdapat terdapat bangunan museum kapal Samuderaraksa yang menyambung hingga lahan fasility greenery. Untuk menyesuaikan dengan keberadaan museum kapal dan sejarah perdagangan pada masa lalu, maka disekitar museum kapal ditanam pohon kayu manis (Cinnamomum burmani) yang merupakan komiditi perdagangan pada masa lalu. Selain museum kapal Samudraraksa, di sisi utara juga terdapat kios-kios penampungan pedagang. Keberadaan museum kapal dan kios-kios pedagang tidak ada dalam perencanaan JICA, yang hanya merencanakan museum Karmawibangga di lahan fasility greenery yang bersebelahan dengan lahan scenic greenery. Di samping keberadaan fasilitas pariwisata tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah vegetasi yang ada di lahan tersebut.
37
Dii tinjau dari sisi Green Coverage Ratio (GCR), dalam naskah JICA GCR untuk Scenic Greenery adalah 25 %, sedangkan GCR kondisi sekarang adalah 30 %, maka Scenic Greenery masih sesuai dengan konsep masterplan yang dibuat JICA
c. Fasility Greenery
Dalam masterplan JICA, yang termasuk fasility greenery adalah sebagian sisi utara candi dan sisi selatan candi. Tujuan dari fasility greenery ini adalah mengontrol iklim agar lingkungan lebih menyenangkan, dan untuk aspek estetika taman. Di sini pengunjung dapat belajar dan beristirahat menikmati pemandangan. Adapun fungsi dari penghijauan ini adalah untuk :
a. Modifikasi temperatur b. Sebagai kontrol angin c. Perlindungan dari air hujan
d. Visual barrier/penghalang pandangan e. Keindahan.
Dalam fasility greenery, tanaman di sekitar dan dia tas lahan fasilitas-fasilitas pendukung taman menggunakan pohon-pohon dengan ketinggian medium dan tinggi yang bentuknya menyolok, belukar yang bervariasi dan tanaman tropis dengan bunga, daun dan warna yang indah. Kolan kecil juga merupakan elemen kebun dan taman juga, ini untuk fasilitas gedung pertunjukkan dan diteduhi oleh pohon-pohon tinggi dengan mahkota yang besar/lebar.
Kondisi saat ini, dalam lahan fasility greenery terdapat berbagai fasilitas seperti lahan parkir, kios pedagang, gedung informasi, hotel manohara dan gedung perkantoran.
Gambar 51. Museum kapal Samudraraksa
38
Keberadaan berbagai fasilitas tersebut menyebabkan tidak ada keseimbangan dengan vegetasi yang ada. Berdasarkan hasil survei, diketahui Green Coverage Ratio (GCR) hanya sekitar 30 %, jauh dibawah nilai GCR yang ada dalam masterplan JICA yaitu 50 %. Dari hal tersebut di atas, maka kondisi fasility greenery sudah tidak sesuai dengan yang ada dalam masterplan JICA.
d. Recreation greenery
Dalam masterplan JICA, tempat yang direkomendasikan sebagai tempat rekreasi adalah bukit Dagi. Recreation greenery ini bertujuan sebagi tempat beristirahat dan bersantai di lingkungan yang menyenangkan, sebagai aspek estetika dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Tanaman yang yang ada di Recreation greenery terdiri atas pohon-pohon kelapa yang masih ada, sebagian tambahan pohon palem dengan tipe yang berbeda-beda dan beberapa belukar tertentu, memberi kesan keseluruhan sebagai kebun palem dengan pandangan indah di daerah sekitarnya.
Dii tinjau dari sisi Green Coverage Ratio (GCR), dalam naskah JICA, GCR untuk Recreation greenery adalah 25 %, sedangkan GCR kondisi sekarang adalah 80 %, maka Recreation greenery masih sesuai dengan konsep masterplan yang dibuat JICA
e. Edge Greenery
Tujuan dari edge greenery adalah sebagai tanda batas area/zona dan mencegah adanya pengaruh visual dan fisik dari luar taman. Adapun fungsinya adalah sebagai kontrol erosi, mengurangi kebisingan, sebagi visual barrier dan sebagai tanda batas dari area taman.
Tanaman yang ada di edge Greenery terdiri dari deretan pohon-pohon tinggi yang lebat dan ditambah dengan tanaman belukar.
Kondisi saat, lahan edge greenery sisi timur sekarang merupakan jalan raya Borobudur – Salaman, sedangkan di sisi lainnya ditumbuhi dengan pohon-pohon tinggi dan bambu
Dii tinjau dari sisi Green Coverage Ratio (GCR), dalam naskah JICA GCR untuk Edge greenery adalah 25 %, sedangkan GCR kondisi sekarang adalah 65 %, maka Edge greenery masih sesuai dengan konsep masterplan yang dibuat JICA
Dari evaluasi yang telah dilakukan, maka sudah ada perubahan fungsi lahan pada saat ini dibandingkan dengan naskah dalam masterplan JICA. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis, beberapa hal penyebab dari perubahan itu adalah
39
1. Menurut pihak PT. Taman Wisata candi Borobudur, pendiriam museum kapal Samudraraksa dan panggung Aksobya adalah kebijakan dari pemerintah pusat, pihak PT.
Taman Wisata Candi Borobudur hanya melaksanakan saja.
2. Bertambahnhya jumlah pengunjung candi Borobudur membutuhkan fasilitas-fasilitas penunjuang pariwisata, yang berakibat pada bertambahnya bangunan fasilitas di kawasan Borobudur terutama di zona 2. Penambahan fasiltas ini tanpa melihat apakah penambahan fasiliatas tersebut sesuai dengan peruntukan lahan dan bisa mengganggu kelestarian lingkungan candi Borobudur.
3. Pengelola kawasan Borobudur terutama pengelola lahan zona 2 tidak memahami naskah masterplan JICA sebagai panduan dalam pengelolaan lingkungan dan vegetasinya, sehingga dalam pelaksanaannya berjalan sendiri dan berakibat pada terjadinya perubahan lingkungan vegetasi di kawasan Borobudur.
4. Tidak adanya aspek legal pada masterplan JICA sehingga masterplan JICA hanya dianggap sebagai naskah akademik.
5. Pengelola kawasan Borobudur terutama pengelola zona 2 kurang memahami aspek pelestarian lingkungan kawasan Borobudur.
B. Rencana Pengelolaan lingkungan Vegetasi Ke Depan Kawasan Borobudur
PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko pada tahun 2010 telah membuat perencanaan Pengembangan Lanskap Taman Wisata Candi Borobudur. Dalam Pengembangan lanskap tersebut, zona 2 candi Borobudur dibagi lagi menjadi 8 zona yaitu :
1. Concourse zone
2. Conservation Research and Study Zone 3. Meditation Zone
4. Bird Park/Butterfly park Zone 5. Future Development Zone 6. Education & Exhibition Zone
7. Visitor Amenity Zone (Parking, Entrance Gate, Visitor Centre, Kiosk) 8. Javanese Garden Zone
Berdasarkan peta Pengembangan Lanskap Taman Wisata Candi Borobudur terlihat dalam perencanaan pihak PT. Taman Wisata menggunakan konsep Taman Wisata, bukan Taman Arkeologi (Nation Archaelogy Park) seperti yang direkomendasikan dalam Masterplan JICA tahun 1979. Pengembalian ke arah perencanan ke Taman Arkeologi bukan Taman Wisata
40
merupakan suatu hal yang mendesak. Mengingat zona 2 candi Borobudur merupakan zona penyangga (buffer zone) yang semestinya tidak boleh banyak terdapat fasilitas untuk kepentingan pemanfaatan. Fasilitas yang diperbolehkan hanya terkait dengan pelestarian candi Borobudur. Dalam Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 72 ayat 1 berbunyi Pelindungan Cagar Budaya dilakukan dengan menetapkan batas-batas keluasannya dan pemanfaatan ruang melalui sistem Zonasi berdasarkan hasil kajian. Pasal 73 ayat 3 berbunyi sistem zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat terdiri atas :
a. Zona Inti
b. Zona penyangga
c. Zona pengembangan; dan/atau d. Zona penunjang (Anonim, 2010)
Dalam Mintakat penyangga, (buffer zone), adalah mintakat yang berfungsi sebagai penyangga yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas yang berkaitan dengan benda cagar budaya (Anonim, 1992, Sutopo, 2007). Dalam pelaksanaan di lapangan, fungsi dan arahan zona dapat diuraikan yaitu Lahan tata hijau (green belt) berisi tanaman penghias, tanaman penahan angin (wind breaker), dan tanaman peneduh. Tanaman keras yang ditanam merupakan tanaman historik atau tanaman yang sudah langka misalnya pohon sawo kecik, keben, ketapang, dan sebagainya. Selain itu juga dapat didirikan bangunan peneduh dan pos keamanan dengan konstruksi skala kecil serta jalan setapak untuk pengunjung (Sutopo, 2007).
Dalam kaitannya dengan Perencanaan Pengembangan Lanskap Taman Wisata zona 2 candi Borobudur, dengan menggunakan konsep Taman Wisata, pengembangan ke depan lebih mengarah untuk kepentingan pemanfaatan (pariwisata, religi, dan sebagainya) bukan untuk kepentingan pelestarian lingkungan candi Borobudur termasuk lingkungan vegetasinya. Hal ini terlihat dari pembagian zonanya seperti zona meditasi (meditation zone), Zona Taman burung/taman kupu-kupu (bird park/butterfly park), Zona pengembangan masa depan (Future Development Zone), Zona Pendidikan dan Pameran (Education & Exhibition Zone), Zona Pengunjung (Visitor Amenity Zone (Parking, Entrance Gate, Visitor Centre, Kiosk).
Dengan konsep tersebut di atas, dikhawartirkan ke depan terjadi penambahan fasilitas baru dengan alasan dan legitimasi untuk mendukung keberadaan zona. Misalnya dibutuhkan taman burung dan taman kupu-kupu di zona taman burung/taman kupu-kupu dan fasilitas-fasilitas di zona lainnya, yang pada akhirnya yang akan terkena dampak adalah lingkungan dan vegetasinya sebagai faktor utama pendukung kelestarian candi Borobudur.
41
Gambar 52. Perencanaan Pengembangan Lanskap Taman Wisata Candi Borobudur
42
Untuk pengelolaan ke depan, naskah yang disusun oleh JICA pada tahun 1979 masih relevan digunakan pada saat ini. Namun masih diperlukan perbaikan dan penyesuaian dengan kondisi yang ada. Dalam pengelolaan lingkungan dan vegetasinya perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pengelolaan lingkungan vegetasi dalam koridor pelestarian candi Borobudur
2. Pengelolaannya perlu mempertimbangkan keseimbangan antara vegetasi dengan luas lahan secara keseluruhan, dalam hal menggunakan konsep Green Coverage Ratio (GCR).
3. Perlu meminimalisir pembangunan fasilitas dengan kontruksi beton
4. Pembuatan fasilitas dapat dilakukan terbatas dengan menggunakan bahan-bahan dari alam, misalnya pembuatan tempat dari kayu dan sebagainya
43 BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari hasil anaslisis yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kajian yang telah dilakukan dapat menjabarkan persebaran vegetasi di zona 1 dan zona 2.
2. Hasil evaluasi yang telah dilakukan, pengelolaan vegetasi di zona 1 dan zona 2 saat ini sebagian sudah tidak sesuai dengan naskah masterplan JICA tahun 1979.
3. Telah terjadi perubahan fungsi lahan dengan vegetasinya pada saat ini dibandingkan naskah masterplan JICA tahun 1979 dengan beberapa faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut.
4. Perencanaan pengelolaan lanskap termasuk vegetasinya di Zona 2 Candi Borobudur ke depan telah dibuat oleh PT. Taman Wisata Candi Borobuudur.
Prambanan dan Ratu Boko. Perencanaan yang dibuat tersebut menggunakan konsep Taman Wisata bukan Taman Arkeologi
5. Konsep Pengelolaan lingkungan dan vegetasi yang terdapat dalam Masterplan JICA tahun 1979 masih relavan digunakan saat ini. Namun masih diperlukan perbaikan dan penyesuaian dengan kondisi yang ada.
4.2. Saran
1. Dalam setiap penataan ruang khususnya penataan vegetasi di zona 1 dan zona 2 selalui berorientasi pada pelestarian candi Borobudur dan lingkungannya
2. Perlu dibuatkan pedoman yang memiliki aspek legal dalam upaya penataan lingkungan dan vegetasinya di kawasan Borobudur.
44 DAFTAR PUSTAKA
Anonim
2010 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya
Aronaff
1989 Geographic Information System : A Management Perspective. Ottawa Kanada : WDLPublication
JICA.
1979 Borobudur Prambanan National Archaeological Parks. Jakarta : Pemerintah Republik Indonesia.
Puntadewo, Atie, dkk
2002 Sistem Informasi Geografis Untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam. Jakarta : Center For International Forestry Research
Sutopo, Marsis,
2007 “Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Cagar Budaya”, makalah pada Bimbingan Teknis Pengelolaan Warisan Budaya Dunia. Borobudur : BKP Borobudur.
Swatikawati, dkk,
2005 Studi Pengaruh Polutan Udara dan Vegetasi terhadap Kelestarian Candi Borobudur. Borobudur : Balai Konservasi Peninggalan Borobudur
Winarni
2006 Kajian Perubahan Ruang Kawasan World Cultural Heritage Candi Borobudur. Tesis Magister Perencanaan Kota dan Daerah. Yogyakarta : Sekolah Pasca Sarjana UGM