• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PRASARANA TPKPU DI WILAYAH PERKOTAAN CIAMIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN PRASARANA TPKPU DI WILAYAH PERKOTAAN CIAMIS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

508

PENGEMBANGAN PRASARANA TPKPU DI WILAYAH PERKOTAAN CIAMIS

Rikrik Jami Tarikat Sekolah Tinggi Transportasi Darat

Rachmat Sadili Sekolah Tinggi Transportasi

Darat

Bardi

Sekolah Tinggi Transportasi Darat

ABSTRACT

Ciamis regency is one of the regencies in West Java Province which is passed by jalKramat Ciamis is one of the regencies in West Java Province which is traversed by the south cross lane on Java Island. Today community activities are increasing year by year. While the need for public transportation stops is needed especially for students and merchants who want to travel using public transportation. In addition, when looking at the condition of the field, many people are waiting for public transport on the roadside or under the tree, so that the safety aspect will be dangerous. This resulted in an increase in the intensity of urban activities that require the support of transportation infrastructure, especially road transport, among others, road infrastructure in this case is in the form TPKPU.

Keywords : TPKPU, Safety

ABSTRAK

Kabupaten Ciamis merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang dilalui oleh jalur lintas selatan pada Pulau Jawa. Sekarang ini aktivitas masyarakat sedang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sedangkan kebutuhan akan tempat pemberhentian angkutan umum sangat dibutuhkan terutama untuk Pelajar dan Pedagang yang hendak bepergian menggunakan angkutan umum. Selain itu apabila melihat kondisi lapangan, banyak orang yang menunggu angkutan umum dipinggir jalan atau dibawah pohon, sehingga dari aspek keselamatan akan membahayakan. Hal ini mengakibatkan peningkatan intensitas kegiatan kota yang memerlukan dukungan prasarana transportasi khususnya transportasi jalan antara lain prasarana jalan dalam hal ini adalah berupa TPKPU.

Kata-kata kunci : TPKPU, Keselamatan

PENDAHULUAN

Minat masyarakat Ciamis terhadap angkutan umum tinggi. Namun untuk pelaksanaan naik turun penumpang ke dalam kendaraan angkutan umum belum teratur karna kurangnya fasilitas perhentian angkutan umum, yang membuat masyarakat malas untuk berjalan ke tempat perhentian angkutan umum, dikarenakan terlalu jauh. Oleh sebab itu diperlukan penambahan fasilitas tempat henti angkutan umum. Ini diperlukan guna memberikan kenyamanan, keselamatan, ketertiban dan kemudahan dalam menunggu angkutan umum maupun naik dan turun dari kendaraan angkutan umum, selain itu juga mempermudah para penyedia jasa angkutan umum dalam mencari penumpang.

(2)

509

TINJAUAN PUSTAKA

TPKPU

TPKAU adalah Tempat Pemberhentian Kendaraan Penumpang Umum di sepanjang rute angkutan umum, yang berfungsi sebagai tempat naik dan turunnya penumpang atau menunggu angkutan umum. Selain itu keberadaan halte dapat meminimalkan gangguan dan kelancaran lalu lintas. Keberadaan halte sangat penting dalam pengaturan sistem operasi dan layanan angkutan umum, yaitu memberi kepastian bagi pengemudi angkutan umum dalam mencari tempat calon penumpang dan bagi penumpang merupakan tempat menunggu serta mencari jurusan angkutan yang sesuai dengan tujuannya. Untuk itu TPKAU perlu dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai, serta lokasi yang sesuai dengan tata ruang lingkungannya. Pengaturan TPKAU angkutan umum perlu disesuaikan dengan kebutuhan.

Survei On Bus

Survai dinamis atau survai didalam kendaraan (On Bus Survey) merupakan salah satu jenis survai dalam bidang angkutan umum yang dilaksanakan didalam kendaraan yang menjadi obyek survai. Pada survai ini surveyor berada dalam kendaraan tersebut untuk mencatat jumlah penumpang yang naik dan penumpang yang turun serta waktu perjalanan dalam setiap segmen yang dilewati masing-masing trayek.

Maksud dilaksanakannya survai dinamis adalah untuk mendapatkan data kinerja pelayanan angkutan umum dengan maksud mengetahui:

a. Jumlah penumpang yang diangkut pada trayek tertentu, yaitu :

Total penumpang yang naik dan turun dalam suatu trayek. Hasil dari survai ini dapat berupa total penumpang per hari.

b. Waktu perjalanan, yaitu :

Waktu yang digunakan untuk melayani suatu trayek angkutan tertentu dalam sekali jalan, termasuk waktu tundaan, dan waktu henti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang

c. Produktifitas ruas pada setiap trayek, yaitu :

Total penumpang yang naik dan turun per waktu pelayanan pada setiap segmen / ruas atau total penumpang naik dan turun per kilometer pelayanan.

Tujuan dari survai dinamis adalah mengidentifikasi kantong – kantong penumpang pada setiap trayek angkutan kota.

Target data yang dapat diperoleh pada survai ini adalah : a. Faktor muat tiap ruas untuk tiap rute

b. Waktu perjalanan rata – rata setiap rute

c. Jumlah penumpang yang naik dan turun pada setiap segmen.

d. Waktu tempuh pada setiap segmen.

e. Kecepatan pada setiap rute.

Hal-hal yang perlu disiapkan sebelum melaksanakan survai dinamis adalah : a. Lokasi survai

Survai dinamis ini dilakukan di dalam kendaraan dari semua trayek angkutan perkotaan yang ada di Kabupaten Ciamis.

(3)

510 b. Peralatan dan perlengkapan

1) Formulir survai 2) Alat tulis 3) Clipboard 4) Stop watch c. Pelaksanaan survai

Survai ini dilaksanakan pada 3 ( tiga ) periode waktu, yaitu pada jam sibuk pagi ( pukul 06:00 – 09:00 ), pada periode jam sibuk siang (pukul 12:00 – 14:00 ) dan pada jam sibuk sore ( pukul 16:00 – 18:00).

ANALISA

Dalam makalah ini data yang dipergunakan adalah data dari hasil survei On Bus yang dilaksanakan pada 3 ( tiga ) periode waktu, yaitu pada jam sibuk pagi ( pukul 06:00 – 09:00 ), pada periode jam sibuk siang (pukul 12:00 – 14:00 ) dan pada jam sibuk sore ( pukul 16:00 – 18:00).

Tabel 1 Data Jumlah naik turun penumpang pada tiap segmen

No Nama Jalan (SEGMEN)

Jml Pnp pada Ruas

Jalan (segmen)

No Nama Jalan (SEGMEN)

Jml Pnp pada Ruas

Jalan (segmen)

1 Jl. Ciptomangunkusumo 13 17 Ds. Pawindan 1

2 Jl. Kh. Ahmad Dahlan 13 18 Darussalam 5

3 Jl. Hos Cokroaminoto 16 19 Imbanegara 19

4 Jl.Ir. H. Juanda 26 20 Cisadap 0

5 Jl. Jenderal Sudirman 42 21 Puncakasih 0

6 Jl. RE. Martadinata 21 22 Bojonghuni 2

7 Jl. Yosudarso 14 23 Dsn. Gunungsari 1

8 Jl. Rumah sakit 14 24 Perumnas Kertasari 1

9 Jl. Baru Kodim 14 25 Sukamaju 0

10 Jl. Raya Banjar 6 26 Utama 1

11 Jl. Stadion 16 27 Cijantung 1

12 Jl. Otista 1 28 Graha 1

13 Jl. Siliwangi 17 29 Bojongmenger 2

14 Sukajadi 8 30 Jl. A. Yani 4

15 Sadananya 1 31 Jl. Kapten Murod Idrus 3

16 Jl. Panyingkiran 4 32 Jl. Handap herang 2

Sumber : Hasil Survei On bus

(4)

511 Untuk standarisasi penentuan kebutuhan TPKPU dengan lindungan digunakan analisa data menggunakan metode dengan mencari nilan Persentil 85 dari jumlah penumpang yang naik turun dari tiap segmen jalan yang dilalui oleh angkutan umum.

Tabel V. 2 Tabel Distribusi Frekuensi

0 >= x < 7 19

19

7 >= x < 14 5

24

14 >= x < 21 5

29

21 >= x < 28 2

31

28 >= x < 35 0

31

35 >= x <= 42 1

32

Jumlah 32

Tabel V.2 merupakan hasil pengelompokan seluruh data dari jumlah penumpang yang terkecil sampai jumlah penumpang yang terbesar dengan lebar kelas interval yaitu 7.

Penentuan Jumlah Minimal Penumpang

Dalam penentuan jumlah minimal penumpang, dalam tahap ini digunakan analisa nilai Persentil 85 untuk menetapkan jumlah penumpang yang nantinya dijadikan sebuah syarat untuk dibangunya sebuah TPKPU dengan lindungan pada suatu ruas jalan. Nilai Persentil 85 dipakai karena nilai ini dianggap sudah memenuhi syarat dalam pengambilan jumlah minimal.

Rumus Pesentil :

P85 =14+7 ((32 x 85/100-29)/5 ) = 11,48

≈ 11

(5)

512 Tabel V. 3 Penentuan Kebutuhan TPKPU

No Nama Jalan ( SEGMEN ) Jumlah Penumpang

Jumlah Minimal Penumpang

Keterangan

1 Jl. Ciptomangunkusumo 13 11 Ya

2 Jl. Kh. Ahmad Dahlan 13 11 Ya

3 Jl. Hos Cokroaminoto 16 11 Ya

4 Jl.Ir. H. Juanda 26 11 Ya

5 Jl. Jenderal Sudirman 31 11 Ya

6 Jl. RE. Martadinata 21 11 Ya

7 Jl. Yosudarso 14 11 Ya

8 Jl. Rumah sakit 14 11 Ya

9 Jl. Baru Kodim 14 11 Ya

10 Jl. Raya Banjar 6 11 Tidak

11 Jl. Stadion 16 11 Ya

12 Jl. Otista 1 11 Tidak

13 Jl. Siliwangi 17 11 Ya

14 Sukajadi 8 11 Tidak

15 Sadananya 1 11 Tidak

16 Jl. Panyingkiran 4 11 Tidak

17 Ds. Pawindan 1 11 Tidak

18 Darussalam 5 11 Tidak

19 Imbanegara 19 11 Ya

20 Cisadap 0 11 Tidak

21 Puncakasih 0 11 Tidak

22 Bojonghuni 2 11 Tidak

23 Dsn. Gunungsari 1 11 Tidak

24 Perumnas Kertasari 1 11 Tidak

25 Sukamaju 0 11 Tidak

26 Utama 1 11 Tidak

27 Cijantung 1 11 Tidak

28 Graha 1 11 Tidak

29 Bojongmenger 2 11 Tidak

30 Jl. A. Yani 4 11 Tidak

31 Jl. Kapten Murod Idrus 3 11 Tidak

32 Jl. Handap herang 2 11 Tidak

Sumber : Hasil Analisa

Keterangan : Ya = Dengan Lindungan Tidak = Tanpa Lindungan

(6)

513 Tabel V.4 Jumlah Total Tempat Henti Dengan Lindungan yang diperlukan

No. Nama Jalan ( SEGMEN )

Kebutuhan Halte Berdasarkan

Jarak

Jumlah halte yang sudah ada

Jumlah Halte

yang diperlukan

1 Jl. Ciptomangunkusumo 1 Belum ada 0 1

2 Jl. Kh. Ahmad Dahlan 2 Sudah ada 1 1

3 Jl. Hos Cokroaminoto 1 Sudah ada 1 0

4 Jl.Ir. H. Juanda 6 Sudah ada 1 5

5 Jl. Jenderal Sudirman 11 Sudah ada 5 6

6 Jl. RE. Martadinata 2 Sudah ada 1 1

7 Jl. Yosudarso 1 Belum ada 0 1

8 Jl. Rumah sakit 2 Belum ada 0 2

9 Jl. Baru Kodim 2 Sudah ada 1 1

10 Jl. Stadion 2 Belum ada 1 1

11 Jl. Siliwangi 1 Belum ada 0 1

12 Imbanegara 4 Belum ada 0 4

JUMLAH TOTAL HALTE YANG DIPERLUKAN 24

Sumber : Hasil Analisa

Berdasarkan data diatas dilakukan analisa mengenai jarak maksimum sesuai dengan intensitas tata guna lahan serta ukuran kota

(7)

514 Penentuan Jumlah TPKPU

Untuk penentuan jumlah halte dihitung dari panjang segmen dan tata guna lahan pada segmen tersebut. Cara ini dilakukan berdasarkan dari pedoman teknis perekayasaan tempat perhentian kendaraan penumpang umum . (SK. Dirjen Perhubungan Darat Nomor : 271 /HK.105 /DRJD /96.). Dengan rumus :

Tabel V.5 Jumlah Total Tempat Henti Dengan Berdasarkan Jarak dan Tata Guna Lahan

No Nama Jalan (SEGMEN) Kebutuhan Tempat Henti Berdasarkan Jarak

Jarak Sebelum dan Sesudah Simpang 50 m

Tata Guna Lahan Lokasi Jarak

Standar

Kebutuhan Tempat

Henti

1 Jl. Ciptomangunkusumo 376 276 Jasa, Pemukiman (padat) Kota 300-400 1

2 Jl. Kh. Ahmad Dahlan 1100 1000 Sekolah, Jasa (padat) Kota 300-400 2

3 Jl. Hos Cokroaminoto 410 310 Sekolah, Jasa, Pemukiman (padat) Kota 300-400 1

4 Jl.Ir. H. Juanda 2500 2400 Sekolah, Jasa, Pemukiman (padat) Kota 300-400 6

5 Jl. Jenderal Sudirman 4550 4450 Perkantoran, Sekolah, Jasa, Pemukiman

(padat) Kota 300-400 11

6 Jl. RE. Martadinata 1800 1700 jasa, sekolah, Pemukiman, (campuran

jarang) Kota

500-

1000 2

7 Jl. Yosudarso 830 730 Sekolah, Jasa, Pemukiman (padat) Kota 300-400 2

(8)

515

8 Jl. Rumah sakit 920 820 Jasa, Pemukiman (padat) Kota 300-400 2

9 Jl. Baru Kodim 1220 1120 Jasa, pertokoan, perkantoran, pemukiman

(padat) Kota 300-400 3

10 Jl. Raya Banjar 8000 7900 sekolah, pemukiman, sawah (campuran

jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 8

11 Jl. Stadion 640 540 Pasar (sangat padat) CBD 200-300 2

12 Jl. Otista 3400 3300

Sekolah, Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 3

13 Jl. Siliwangi 1000 900

Sekolah, Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

14 Sukajadi 2300 2200

Pemukiman, sawah (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 2

15 Sadananya 4300 4200

Pemukiman, sawah (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 4

16 Jl. Panyingkiran 3500 3400

Pemukiman, sawah (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 3

17 Ds. Pawindan 700 600

Pemukiman, sawah (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

18 Darussalam 1850 1750 Sekolah, Pemukiman, Sawah (campuran

jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 2

19 Imbanegara 2340 2240 Pertokoan, Jasa, Pemukiman (campuran

padat)

Pinggiran

Kota 300-500 2

20 Cisadap 3500 3400

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 3

(9)

516

21 Puncakasih 1700 1600

Pemukiman, sawah (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 2

22 Bojonghuni 1800 1700 Sekolah, sawah, pemukiman (campuran

jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 2

23 Dsn. Gunungsari 1800 1700

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 2

24 Perumnas Kertasari 1200 1100

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

25 Sukamaju 1300 1200

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

26 Utama 900 800

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

27 Cijantung 750 650

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

28 Graha 300 200

Jasa, Pemukiman (padat)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

29 Bojongmenger 340 240 Pertokoan, Jasa, Pemukiman (campuran

padat)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

30 Jl. A. Yani 450 350

Jasa, pertokoan, pemukiman (padat)

Pinggiran

Kota 300-500 1

31 Jl. Kapten Murod Idrus 1200 1100

Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 1

32 Jl. Handap herang 2100 2000

Sekolah, Pemukiman (campuran jarang)

Pinggiran Kota

500-

1000 2

(10)

517 Penentuan Letak TPKPU

Perencanaan penempatan halte baru, melihat kepada tata guna lahan daerah tersebut dan titik dimana penumpang banyak naik dan turun. Dan Yang perlu diperhatikan adalah standar tata letak hate yang telah ditetapkan untuk jarak pada persimpangan adalah minimal 50 meter.

KESIMPULAN

Kurangnya fasilitas TPKPU di wilayah perkotaan Ciamis menyebabkan ketidak teraturan dalam pelaksanaan naik dan turun penumpang. Ketidak teraturan naik dan turun penumpang menyebabkan terancamnya keselamat penumpang dalam melakukan naik dan turun penumpang dan mengganggu kendaraan lain pada jalur tersebut. Oleh karena itu perlu penambahan jumlah TPKPU guna memberikan keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan bagi pengguna jasa angkutan umum maupun penyedia jasa angkutan umum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

, 1996, SK. Dirjen Perhubungan Darat Nomor : 271/HK.105/DRJD/96, Direktorat Jenderal Perhubungan, Jakarta.

Harinaldi. 2005. Prinsip-prinsip Statistik Untuk Teknik dan Sains. Jakarta: Erlangga.

Gambar

Tabel 1 Data Jumlah naik turun penumpang pada tiap segmen
Tabel V. 2 Tabel Distribusi Frekuensi
Tabel V.5 Jumlah Total Tempat Henti Dengan Berdasarkan Jarak dan Tata Guna Lahan

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisa di dapat jumlah penduduk tahun 2019 yang dihitung dengan metode Geometrik sebesar 29905 jiwa, untuk kebutuhan air pada tahun 2019 di dapat kebutuhan air rata-rata 20,8

Langkah awal yang dilakukan peniliti dalam melakukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran ini adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan

Dari hasil analisa perhitungan untuk mendapatkan pengadaan APD yang ekonomis menggunakan metode EOQ dilakukan dengan cara menganalisa kebutuhan APD menurut lifetime,

Mencari faktor yang mempengaruhi kejadian malaria pada petani dilakukan dengan analisa bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu karakteristik

Agar dapat menghasilkan debit puncak dan hidrograf limpasan permukaan, maka dikembangkan metode perhitungan hidrograf satuan untuk wilayah perkotaan dengan ordinat

Sistem jaringan jalan primer adalah jaringan jalan yang menghubungkan pusat kegiatan nasional (PKN) dengan pusat kegiatan nasional antar satuan wilayah pengembangan, jaringan

Penentuan wilayah potensial pengembangan kedelai adalah menggabungkan (overlay) antara hasil analisis LQ dengan SSA, sehingga wilayah yang memiliki potensi pengem- bangan yang

Berdasarkan hasil penelitian Ninawati dan Sri Sugiarsi yang berjudul Hubungan Antara Kelengkapan Pengisian Kuesioner Autopsi Verbal dengan Keakuratan Penentuan Sebab Dasar