• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA MAKASSAR"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI

KOTA MAKASSAR

Diajukan Oleh:

DHEA WIDYA NINGRUM 4516011013

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Sarjana EKONOMI

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BOSOWA

MAKASSAR 2020

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Makassar

Nama Mahasiswa : Dhea Widya Ningrum Stambuk/NIM : 4516011013

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Tempat Penelitian : Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar Telah Disetujui :

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. H. A. Arifuddin Mane, SE.,M.Si.,SH.,MH Rafiuddin, SE., M.Si

Mengetahui dan Mengesahkan :

Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Ketua Program Studi Universitas Bosowa Ekonomi Pembangunan

Dr. H. A. Arifuddin Mane, SE., M.Si, SH.,MH Rafiuddin SE.,M.Si Tanggal Pengesahan :

(3)

iii

PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Dhea Widya Ningrum

Nim : 4516011013

Jurusan : Ekonomi Pembangunan Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

Judul : Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Makassar

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan skripsi ini berdasarkan hasil penelitian, pemikiran, dan pemaparan asli dari saya adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah skripsi ini tidak pernah diajukan orang lain untuk memperoleh gelar akademik disuatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan daftar pustaka.

Demikian pernyataan saya ini saya buat dalam keadaan sadar dan dapat tanpa paksaan sama sekali.

Makassar, September 2020

Dhea Widya Ningrum

(4)

iv

PENGARUH PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA MAKASSAR

Oleh :

Dhe a Widya Ningrum

Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Bosowa

ABSTRACT

DHEA WIDYA NINGRUM. 2020. Thesis. The Influence of Local Taxes and Levies on Economic Growth in Makassar City is supervised by DR. H. A.

Arifuddin Mane, SE., M.Si., SH., MH and Rafiuddin, SE., M.Si.

The purpose of this study is to determine and analyze the effect of local taxes and regional retribution on economic growth in Makassar City in 2009- 2018. The object of research is the Makassar City Regional Revenue Agency. The analytical tools used are descriptive analysis model and multiple linear regression analysis.

The results of this study indicate that local taxes have an effect on economic growth, the contribution of local taxes will affect the ups and downs of economic growth in Makassar City in 2009-2018. Meanwhile, local retribution has no effect on economic growth in Makassar City in 2009-2018.

Keywords: Local Taxes, Regional retribution and Economic Growth.

(5)

v

PENGARUH PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA MAKASSAR

Oleh :

DHEA WIDYA NINGRUM

Program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa

ABSTRAK

DHEA WIDYA NINGRUM.2020.Skripsi. Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Makassar dibimbing oleh DR. H. A. Arifuddin Mane, SE.,M.Si.,SH.,MH dan Rafiuddin, SE.,M.Si.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar tahun 2009-2018. Objek penelitian adalah Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar. Alat analisis yang digunakan yaitu model Analisis Deskriptif dan Analisis Regresi Linear Berganda.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pajak daerah berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, adanya kontribusi pajak daerah akan mempengaruhi naik turunnya pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar pada tahun 2009-2018. Sedangkan retribusi daerah tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar pada tahun 2009-2018.

Kata Kunci : Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hanya karena kebaikan Kasih dan Berkat-Nya lah sehingga skripsi ini yang berjudul

“Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Makassar”. Penelitian ini dimaksudkan untuk memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada jurusan Ekonomi Pembangunan Pada Universitas Bosowa Makassar.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini.

1. Pertama-tama,ucapan terima kasih penulis berikan kepada Rektor Universitas Bosowa Bapak Prof. Dr. Ir. Saleh Pallu, M.Eng.

2. Bapak Dr. H. A. Arifuddin Mane, SE., M.Si., S.H., M.H selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa dan sebagai pembimbing I atas waktu yang telah diluangkan untuk membimbing, memberi motivasi dan bantuan, serta diskusi-diskusi yang telah dilakukan oleh penulis.

3. Ibu Dr. HJ. Herminawati Abu Bakar, SE.,M.M selaku Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa

4. Bapak Rafiuddin, SE., M.Si selaku ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa Bosowa dan sebagai pembimbing II atas waktu yang telah diluangkan untuk membimbing,

(7)

vii

memberi motivasi dan bantuan, serta diskusi-diskusi yang telah dilakukan oleh penulis.

5. Seluruh Dosen Universitas Bosowa yang telah memberi ilmu dan pendidikannya kepada penulis sehingga wawasan penulis bisa bertambah.

Beserta seluruh staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa, terima kasih atas bantuan dalam pengurusan administrasi.

6. Badan Pusat Statistik Kota Makassar, terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bentuk bantuan dan kesediaan waktu yang telah diberikan sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian ini dengan baik dan lancar.

7. Sukiman Imamdiarjo dan Tugini, selaku kedua orangtua penulis yang senantiasa memberikan doa yang tak akan pernah terputus, masukan- masukan, dukungan, dan nasihatnya yang sangat berharga sehingga penulis bisa semangat untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.

8. Ririk Murnia S.Pd dan Nanang Isgiyanto A.Md, kakak tercinta. Terima kasih atas segala bentuk motivasi dan pengertian yang kalian berikan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

9. Iswan Asga, teman terbaik. Terima kasih untuk segala pengertian, perhatian, dan kesediaan waktu yang telah diberikan untuk selalu menemani, selalu ada dalam keadaan apapun, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

10. Teman-temanku Cindy, Kiki, Nisa, Ati, Venna, Venny, Kak Rully, Kak Ari, Kak Sisi, Mute, Kak Jojo dan semua TICTAC Family. Terima kasih

(8)

viii

telah memberikan waktu, dukungan, dan motivasi kepada penulis dalam keadaan susah maupun senang, dan selalu ada dalam keadaan apapun.

11. Terima kasih juga untuk semua teman-teman Ekonomi Pembangunan yang telah membantu dan memberi dukungan kepada penulis.

Skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna. Apabilah terdapat kesalahan dalam skripsi ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab peneliti dan bukan para pemberi bantuan. Kritik dan saran konstruksi yang membangun akan lebih menyempurnakan skripsi ini. Semoga kebaikan yang telah diberi oleh pihak mendapat berkat di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Makassar,

Penulis

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN KEORSINILAN ... iii

ABSTRACT ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Masalah Pokok ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori ... 7

2.1.1 Keuangan Daerah ... 7

2.1.2 Pajak ... 8

2.1.3 Pajak Daerah ... 9

2.1.4 Retribusi Daerah ... 17

2.1.5 Pertumbuhan Ekonomi ... 22

(10)

x

2.1.6 PDRB ... 26

2.2 Kerangka Pikir ... 31

2.3 Hipotesis ... 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Daerah Penelitian ... 33

3.2 Metode Pengumpulan Data ... 33

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 34

3.4 Metode Analisis ... 34

3.5 Definisi Operasional ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37

4.1 Gambaran Umum Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar ... 37

4.1.1 Profil Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar ... 37

4.1.2 Sejaran Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar ... 37

4.1.3 Visi dan Misi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar ... 38

4.1.4 Faktor Pendukung dan Penghambat ... 39

4.1.5 Lokasi Badan Pendaatan Daerah Kota Makassar ... 39

4.1.6 Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar ... 41

4.2 Deskriptif Data ... 46

4.3 Analisis Data ... 53

4.3.1 Analisis Deskriptif ... 53

4.3.2 Analisis Regresi Linear Berganda ... 54

4.4 Pembahasan ... 56

(11)

xi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 59

5.1 Kesimpulan ... 60

5.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62 LAMPIRAN

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pikir... 31 Gambar 4.1 Lokasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar ... 40

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar. . 41

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar... 2

Tabel 4.1 Realisasi Pajak Daerah Kota Makassar ... 46

Tabel 4.2 Realisasi Retribusi Daerah Kota Makassar ... 48

Tabel 4.3 Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar ... 50

Tabel 4.4 Hubungan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi... 51

Tabel 4.5 Deskriptive Statistics ... 54

Tabel 4.6 Rekapitulasi hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 55

Tabel 4.7 Hasil Olah Data Nilai Koefisien Determinasi ... 56

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan nasional di Indonesia merupakan rencana strategis yang diarahkan untuk mengembangkan potensi daerah masing-masing dengan menyeimbangkan laju pertumbuhan antar daerah di Indonesia sesuai prioritasnya dalam meningkatkan pendayagunaan dan potensi daerah secara optimal. Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah salah satu landasan yuridis bagi pengembangan otonomi daerah di Indonesia.

Sebagai daerah otonom, daerah dituntut untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan semua potensi daerah yang digali dari dalam wilayah daerah bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain. Pendapatan daerah yang sah yang menjadi sumber PAD maka pemerintah mempunyai kewajiban untuk meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat serta menjaga dan memelihara ketentraman dan ketertiban.

Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut, daerah berhak menggerakan pungutan kepada masyarakat. Berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan, ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa diatur dengan undang-undang.dengan demikian, pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah harus didasarkan pada undang-undang.

(15)

2

Suatu masyarakat di pandang mengalami suatu pertumbuhan dalam kemakmuran masyarakat apabila pendapatan perkapita menurut harga atau pendapatan terus menerus bertambah dan laju pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Salah satu daerah atau kota yang akan dilihat pertumbuhan ekonominya adalah pertumbuhan ekonomi kota Makassar, dimana kota makassar merupakan daerah atau kota yang merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk yang besar.

Pembangunan ekonomi yang sedang dijalankan oleh pemerintah kota Makassar merupakan suatu usaha berkelanjutan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahtraan masyarakat yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihasilkan sehingga untuk dapat mencapai tujuan itu maka pembangunan daerah dipusatkan pada pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu perlu di lihat pertumbuhan ekonomi kota Makassar sejauh mana perkembangannya selama ini.

Tabel 1.1

PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA MAKASSAR (2009-2018)

TAHUN PDRB PERTUMBUHAN (%)

2009 50.303.429,56 8,56

2010 58.556.467,43 16,4

2011 67.281.771,03 14,9

2012 78.013.037,46 15,9

2013 88.363.458,08 13,2

2014 100.392.977,47 13,6

2015 114.412.418,14 13,9

2016 128.045.368,71 11,9

2017 142.448.701,43 11,2

2018 160.207.659,28 12,4

Sumber: BPS Kota Makassar

(16)

3

Berdasarkan tabel 1.1 diatas menunjukkan bahwa PDRB ADH berlaku (Juta), laju pertumbuhan di Kota Makassar tahun 2009 sebesar Rp 50.303.429,56 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp 58.556.467,43 atau mengalami peningkatan sebesar 16,4 % selanjutnya pada tahun 2011 meningkat menjadi Rp 67.281.771,03 atau meningkat sebesar 14,9 % pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar Rp 78.013.037,46 atau meningkat sebesar 15,9 % pada tahun 2013 meningkat sebesar Rp 88.363.458,08 atau meningkat sebesar 13,2 % pada tahun 2014 sebesar Rp 100.392.977,47 atau meningkat sebesar 13,6 % dan pada tahun 2015 meningkat menjadi Rp 114.432.125,73 atau mengalami peningkatan sebesar 13,9 % selanjutnya pada tahun 2016 sebesar Rp 128.045.368,71 atau meningkat sebesar 11,9 % dan pada tahun 2017 meningkat menjadi Rp 142.448.701,43 atau mengalami peningkatan sebesar 11,2 % dan pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp 160.207.659,28 atau meningkat sebesar 12,4 %. Ini menujukkan bahwa perkembangan pertumbuhan ekonomi kota makassar setiap tahunnya mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Dengan meningkatnya PDRB, maka mempunyai peluang yang sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi di kota Makassar.

Kota Makassar merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Selatan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Kota Makassar berusaha untuk meningkatkan Pertumbuhan ekonomi salah satunya melalui pajak daerah dan retribusi daerah. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber penerimaan yang potensial di Kota Makassar.

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan otonomi daerah, Kota Makassar mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan

(17)

4

pemerintahannya untuk meningkatkan efesiensi dan efektvitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut, Pemerintah Daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Mengingat perpajakan daerah merupakan salah satu bentuk pembebanan kepada rakyat, maka pajak dan pungutan lain yang memaksa ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana perintah dari ketentuan undang-undang tersebut diatas.

Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Kota Makassar berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi salah satunya melalui pajak daerah dan retribusi daerah. Dan diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari pajak daerah dan retribusi daerah. Terdapat kaitan erat antara penerimaan daerah, pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dimana semakin tinggi penerimaan yang diterima daerah maka semakin tinggi peluamg untuk membangun perekonomian daerah dan mensejahterakan masyarakat. Potensi-potensi yang ada di Kota Makassar seharusnya bisa dimaksimalkan lagi untuk menambah sumber penerimaan yang diterima oleh daerah. Tujuan adanya peningkatan pajak daerah dan retribusi daerah adalah untuk mendorong perekonomian Kota Makassar melalui pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang perekonomian. Dengan adanya pembangunan tersebut diharapkan perekonomian dapat berkembang dan tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat.

(18)

5

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merasa tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “PENGARUH PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA MAKASSAR PERIODE 2009-2018”

1.2 Masalah Pokok

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka diidentifikasi masalah pada penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pengaruh pajak daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar ?

2. Bagaimana pengaruh retribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pajak daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar

2. Untuk mengetahui pengaruh retribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan menambah pemahaman tentang Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan pertumbuhan ekonomi.

(19)

6

2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pengetahuan mengenai permasalahan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah agar dapat lebih memahami seberapa besar pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar.

(20)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KERANGKA TEORI 2.1.1 Keuangan Daerah

Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 156 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, adalah sebagai berikut: “Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut” (Pusdiklatwas BPKP, 2007).

Faktor keuangan merupakan faktor yang paling dominan dalam mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya. Keadaan keuangan suatu daerah yang menentukan bentuk dan ragam yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara nyata, kemampuan daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri adalah kemampuan

“self supporting” dalam bidang keuangan. Halim (2007) mengungkapkan bahwa kemampuan Pemerintah Daerah dalam mengelola keuangan daerah dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya untuk mengukur kemampuan keuangan Pemerintah Daerah adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.

Menurut Halim (2007), ruang lingkup keuangan daerah terdiri dari

“keuangan daerah yang dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan.

(21)

8

Yang termasuk dalam keuangan daerah yang dikelola langsung adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan barang-barang inventaris milik daerah. Keuangan daerah yang dipisahkan meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)”.“Keuangan daerah dalam arti sempit yakni terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Oleh sebab itu, keuangan daerah identik dengan APBD”.

Pengertian laporan keuangan sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, adalah bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan Negara dan daerah selama suatu periode. Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada pasal 11 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, disusun berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Pengertian Laporan Realisasi Anggaran sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 1 ayat 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, adalah laporan yang menggambarkan realisasi pendapatan, belanja, dan pembiayaan selama suatu periode.

2.1.2 Pajak

a) Definisi Pajak

Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib pajak membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya

(22)

9

adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas Negara yang menyelenggarakan pemerintah.

Selain itu pajak merupakan sebagian harta kekayaan rakyat (swasta) yang, berdasarkan undang-undang wajib diberikan oleh rakyat kepada Negara tanpa mendapat kontra prestasi secara individual dan langsung dari Negara, serta bukan merupakan penalty, yang berfungsi sebagai dana untuk penyelenggaraan Negara, dan sisanya, jika ada, digunakan untuk pembangunan, serta sebagai instrunen/ alat untuk mengatur kehidupan sosial ekonomi masyrakat.

Pajak juga biasa diartikan sebagai iuran kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

2.1.3 Pajak Daerah

a) Definisi Pajak Daerah

Pajak Daerah merupakan salah satu pendapatan asli daerah yang diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah untuk memajukan daerah tersebut, antara lain dapat ditempuh suatu kebijaksanaan yang mewajibkan setiap orang untuk membayar pajak sesuai dengan kewajibannya. Setiap daerah berhak mengurus rumah tangganya sendiri (otonom).

Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh daerah bedasarkan peraturan pajak yang ditetapkan oleh daerah (melalui Perda) untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga pemerintah daerah. Definisi pajak menurut Prof. Dr.

(23)

10

Rochmat Soemitro, SH Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat timbal (kontraprestasi) yang lansung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Beberapa unsur-unsur pajak :

1. Iuran dari rakyat kepada negara Yaitu berhak memungut pajak hanyalah negara iuran tersebut berupa uang (bukan barang)

2. Berdasarkan undang-undang Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung yang dapat ditunjuk.Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

b) Jenis – Jenis Pajak Daerah

Jenis Pajak daerah yang dipungut oleh Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun Kabupaten / Kota adalah sebagai berikut

1. Pajak Provinsi, meliputi:

a. Pajak Kendaraan Bermotor.

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor.

d. Pajak Air Permukaan.

e. Pajak Rokok.

(24)

11 2. Pajak Kabupaten / Kota, meliputi :

a. Pajak Hotel.

b. Pajak Restoran.

c. Pajak Hiburan.

d. Pajak Reklame.

e. Pajak Penerangan Jalan.

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.

g. Pajak Parkir.

h. Pajak Air Tanah.

i. Pajak sarang Burung Walet.

j. Pajak Bumi dan Bangunan perdesaan dan perkotaan.

k. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan.

c) Tarif Pajak Daerah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan asli daerah selain retribusi. Pelaksanaan kebijakan Pajak Daerah dilakukan dengan mengedepankan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keterlibatan masyarakat, serta berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Secara garis besar, Pajak Daerah dibagi menjadi dua jenis, yakni Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota.

1. Pajak Provinsi

Pajak Provinsi terdiri dari lima jenis dengan rincian sebagai berikut.

a. Pajak Kendaraan Bermotor

Tarif maksimal Kendaraan Bermotor adalah sebesar 10%.

(25)

12 b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

Untuk penyerahan pertama, tarif yang dikenakan untuk Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah 20%. Tarif untuk penyerahan selanjutnya adalah sebesar 1%.

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Tarif yang dikenakan adalah maksimal 10%.

d. Pajak Air Permukaan

Tarif Pajak Air Permukaan maksimal adalah sebesar 10%.

e. Pajak Rokok

Tarif yang dikenakan untuk Pajak Rokok adalah sebesar 10% dari cukai rokok.

2. Pajak Kabupaten/Kota a. Pajak Hotel

Tarif yang dikenakan untuk Pajak Hotel adalah sebesar 10%.

b. Pajak Restoran

Tarif maksimal yang dikenakan untuk Pajak Restoran adalah sebesar 10%.

c. Pajak Hiburan

Tarif maksimal pajak hiburan adalah mencapai 75%. Untuk hiburan berupa kesenian rakyat yang wajib dilestarikan, tarif pajak maksimal adalah 10%.

d. Pajak Reklame

Tarif maksimal pajak reklame adalah sebesar 25%.

(26)

13 e. Pajak Penerangan Jalan

Tarif maksimal yang dikenakan khusus pajak penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam sebesar 3%. Sedangkan tarif khusus pajak penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri sebesar 1,5%.

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

Yang menjadi objek Pajak Tarif pajak yang dikenakan adalah sebesar maksimal 25%.

g. Pajak Parkir

Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30%.

h. Pajak Air Tanah

Tarif maksimal Pajak Air Tanah adalah sebesar 20%.

i. Pajak Sarang Burung Walet

Tarif pajak maksimal yang dikenakan adalah sebesar 10%.

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

Tarif pajak maksimal yang dikenakan adalah sebesar 0,3%.

k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan maksimal adalah sebesar 5%.

d) Fungsi Pajak Fungsi pajak yaitu:

a. Fungsi Budgetair

Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran.

(27)

14

b. Fungsi Regulerend Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.

e) Pengelompokan Pajak a. Menurut Golongan

1) Pajak Langsung yaitu: pajak yang harus dipikul sendiri Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

2) Pajak Tidak Langsung yaitu : pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

b. Menurut Sifatnya

1) Pajak Subjektif yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.

2) Pajak Objektif yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan diri Wajib Pajak.

c. Menurut Lembaga Pemungutan

1) Pajak Pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara.

2) Pajak Daerah yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah, pajak daerah.

f) Tata Cara Pemungutan Pajak Pemungutan Pajak Dapat dilakukan berdasarkan 3 stelstel:

(28)

15 a. Stelsel nyata (riel stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata), sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesugguhnya diketahui. Selselnyata mempunyai kelebihan atau kebaikan dan kekurangan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis sedangkan kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir priode (setelah penghasilan riir diketahui).

b. Stelsel anggapan (fictieve stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang. Misalnya, penghasilan satu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan bersama pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kelebihan stelel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.

c. Stelsel campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan pada awal tahun, biasanya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar dan pada pajak yang menurut anggapan, maka wajib pajak harus menambah sebaliknya jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

(29)

16 g) Sistem Pemungutan Pajak

a. Self Assesment

Self Assesment adalah suatu sistem pemungut pajak yang wajib pajak menentukan sendiri jumlah pajak yang tentang sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan. Dalam tata cara ini kegiatan pmungutan pajak diletakkan kepada aktivitas masyarakat sendiri, yang wajib pajak diberi kepercayaan untuk.

1) Menghitung sendiri pajak yang terutang.

2) Memperhitungkan sendiri pajak yang terutang.

3) Membayar sendiri jumlah pajak yang harus bayar.

4) Melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang.

Tata cara ini berhasil dengan baik kalau masyarakat sendiri mempunyai pengetuhan dan disiplin pajak yang tinggi Ciri-ciri sistem Self Assesssment adalah :

a) Adanya kepastian hukum.

b) Sederhana perhitungannya.

c) Mudah pelaksanaan.

d) Lebih adil dan merata.

e) Perhitungan pajak dilakukan oleh wajib pajak.

b. Offical Assessment

Offical Assessment adalah suatu sistem pemungutan pajak, yang aparatur perpajakan menentukan sendiri (di luar wajib pajak) jumlah pajak yang terhutang. Dalam sistem ini inisiatif dan kegiatan dalam menghitung dan

(30)

17

pemungutan pajak sepenuhnya ada pada aparatur perpajakan. Sistem ini akan berhasil dengan baik kalau aparatur perpajakan baik kualitas maupun kuantitasnya telah memenuhi kebutuhan.

c. Witholding System

Witholding System adalah suatu sistem pemungutan pajak, yang penghitungan besarnya pajak yang terutang oleh seorang wajib pajak dilakukan oleh pihak ketiga.

2.1.4 Retribusi Daerah

a) Definisi Retribusi Daerah

Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 memberikan kewenangan kepada daerah secara luas, nyata, dan bertanggungjawab untuk mengelola sumber keuangannya sendiri. Dalam menggali keuangannya tersebut tidak terlepas dari peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai dasar kebijakan Pemerintah dalam mengelola sumber pendapatan asli daerahnya.

Retribusi daerah sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah sebagai mana dijelaskan dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 sudah semestinya diperhatikan daerah disamping sumbersumber yang lain.

Pengertian retribusi secara umum adalah pembayaran-pembayaran pada Negara yang dilakuka pada mereka yang menggunakan jasa-jasa Negara.Retribusi adalah iuaran pada Pemerintah yang dapat dipaksakan dan jasa balik secara langsung dapat ditunjukan.Paksaan disini dapat bersifat ekonomis karna siapa saja yang merasakan jasa balik dari pemerintah dikenakan iuaran itu. Lebih lanjut, retribusi adalah suatu pembayaran dari

(31)

18

rakyat kepada Pemerintah dimana kita dapat melihat adanya hubungan antara balas jasa yang langsung diterima dengan adanya balas jasa tersebut.

b) Objek Retribusi Daerah

Yang menjadi Objek Retribusi Daerah adalah:

a. Jasa Umum b. Jasa Usaha c. Perizinan Tertentu c) Retribusi Jasa Umum

Retribusi Jasa Umum merupakan pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah dengan tujuan untuk kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati dan dirasakan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Badan Usaha. Retribusi Jasa Umum meliputi:

a. Retribusi Pelayanan Kesehatan.

b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan.

c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil.

d. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat.

e. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum.

f. Retribusi Pelayanan Pasar.

g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor.

h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran.

i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta.

j. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus.

(32)

19 k. Retribusi Pengolahan Limbah Cair.

l. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang.

m. Retribusi Pelayanan Pendidikan.

n. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

d) Retribusi Jasa Usaha

Retribusi Jasa Usaha dijelaskan sebagai pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan prinsip komersial yang meliputi:

a. Pelayanan dengan menggunakan atau memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal.

b. Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta.

Adapun jenis-jenis Retribusi usaha adalah sebagai berikut:

a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

b. Retribusi Pasar Grosir atau Pertokoan.

c. Retribusi Tempat Pelelangan.

d. Retribusi Terminal.

e. Retribusi Tempat Khusus Parkir.

f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Vila.

g. Retribusi Rumah Potong Hewan.

h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan.

i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga.

j. Retribusi Penyeberangan di Air.

k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

(33)

20 e) Retribusi Perizinan Tertentu

Retribusi Perizinan Tertentu merupakan pelayanan perizinan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Daerah baik kepada Orang Pribadi dan Badan, yang ditujukan untuk pengaturan dan pengawasan atas aktivitas pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

Adapun jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah sebagai berikut:

a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol.

c. Retribusi Izin Gangguan.

d. Retribusi Izin Trayek.

e. Retribusi Izin Usaha Perikanan.

f) Subyek Retribusi Daerah

Subyek Retribusi Daerah adalah sebagai berikut:

a. Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau badan yang mennggunakan menikamati pelayana jasa umum yang bersangkutan.

b. Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.

c. Retribusi Perizinan Tertentu adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh izin tertentu dari Pemerintah Daerah.

g) Prinsip Dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi

Prinsip dan Sasaran penetapan Retribusi adalah sebagai berikut:

(34)

21

a. Retribusi Jasa Umum, ditetapkan dengan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut, Yang dimaksud dengan biaya disini meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga, dan baya modal.

b. Retribusi Jasa Usaha, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak, yaitu keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efesien dan berorientasi pada harga pasar.

c. Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Yang biaya penyelenggaraan pemberian izin disini meliputi penerbitan dokumen izin, pengawasan dilapangan, penegakan hukum, penatausahaan dan biaya dampak negatuf dari pemberian izin tersebut.

h) Tata Cara Pemungutan Retribusi

Retribusi dipungut dengan menggunakann Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain dipersamakn berupa karcis, kupon, dan kartu langganan. Dalam Hal wajib Retribusi tentu tidak membayar tepat pada waktunya atu kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD). Penagihan Retribusi terutang sebagaimana didahului dengan surat teguran. Tata cara pelaksanaan pemungutan Retribusi ditetapkan dengan

(35)

22

Peraturan Kepada Daerah (STRD). Penagihan Retribusi sebagaiman didahului dengan Surat Teguran. Tata cara pelaksanaan pemungutan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.

i) Pemanfaatan retribusi

Pemanfaat dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi digunakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan.Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

2.1.5 Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan dalam suatu perekonomian. Kemajuan suatu perekonomian ditentukan oleh besarnya pertumbuhan yang ditunjukan oleh perubahan output nasional. Adanya perubahan output dalam perekonomian merupakan analisis ekonomi jangka pendek.

Secara umum teori tentang pertumbuhan ekonomi dapat di kelompokan menjadi dua, yaitu teori pertumbuhan ekonomi klasik dan teori pertumbuhan ekonomi modern. Pada teori pertumbuhan ekonomi klasik, analisis di dasarkan pada kepercayaan dan efektivitas mekanisme pasar bebas. Teori ini merupakan teori yang dicetuskan oleh para ahli ekonom klasik antara lain Adam Smith, David Ricardo.

Teori lain yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi adalah teori ekonomi modern. Teori pertumbuhan Harrod-Domar merupakan salah satu teori

(36)

23

pertumbuhan ekonomi modern, teori ini menekankan arti pentingnya pembentukan investasi bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi investasi maka akan semakin baik perekonomian, investasi tidak hanya memiliki pengaruh terhadap permintaan agregat tetapi juga terhadap penawaran agregat melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam perspektif yang lebih panjang investasi akan menambah stok kapital.

a) Pengertian Pertumbuhan

Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan upaya peningkatan kapasitas produksi untuk mencapai penambahan output, yang diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) maupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam suatu wilayah.

Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Tekanannya pada tiga aspek, yaitu: proses, output perkapita dan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat. Disini kita melihat aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Tekanannya ada pada perubahan atau perkembangan itu sendiri.

Menurut Prof. Simon Kuznets, pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas tersebut

(37)

24

dimungkinkan oleh adanya kamajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, intitusional dan ideologi terhadap berbagai keadaan yang ada.

Perkembangan ekonomi mengandung arti yang lebih luas serta mencakup perubahan pada susunan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Pembangunan ekonomi pada umunya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil perkapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan.

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang berarti perubahan yang terjadi terus menerus, usaha untuk menaikkan pendapatan perkapita, kenaikan pendapatan perkapita harus terus berlangsung dalam jangka panjang dan yang terakhir perbaikan sistem kelembagaan disegala bidang (misalnya ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya). Sistem ini bisa ditinjau dari dua aspek yaitu:

aspek perbaikan dibidang organisasi (institusi) dan perbaikan dibidang regulasi baik legal formal maupun informal. Dalam hal Ini, berarti pembangunan ekonomi merupakan suatu usaha tindakan aktif yang harus dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat, pemeritah, dan semua elemen yang terdapat dalam suatu negara untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.

Berdasarkan berbagai teori pertumbuhan yang ada yakni teori Harold Domar, Neoklasik, dari Solow, dan teori endogen oleh Romer, bahwasanya terdapat tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi.

Ketiganya adalah:

(38)

25

1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.

2. Pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selajutnya akan memperbanyak jumlah angkatan kerja.

3. Kemajuan teknologi, Pembangunan daerah dilaksanakan untuk mencapai tiga tujuan penting, yaitu mencapai pertumbuhan (growth), pemerataan (equity), dan keberlanjutan (sustainability).

a) Pertumbuhan (growth), tujuan yang pertama adalah pertumbuhan ditentukan sampai dimana kelangkaan sumber daya dapat terjadi atas sumber daya manusia, peralatan, dan sumber daya alam dapat dialokasikan secara maksimal dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan produktif.

b) Pemerataan (equity), dalam hal ini mempunyai implikasi dalam pencapaian pada tujuan yang ketiga, sumber daya dapat berkelanjutan maka tidak boleh terfokus hanya pada satu daerah saja sehingga manfaat yang diperoleh dari pertumbuhan dapat dinikmati semua pihak dengan adanya pemerataan.

c) Berkelanjutan (sustainability), sedangkan tujuan berkelanjutan, pembangunan daerah harus memenuhi syarat-syarat bahwa penggunaan sumber daya baik yang ditransaksikan melalui sistem pasar maupun diluar sistem pasar harus tidak melampaui kapasitas kemampuan produksi.

(39)

26

Pembangunan daerah dan pembangunan sektoral perlu selalu dilaksanakan dengan selaras, sehingga pembangunan sektoral yang berlangsung didaerah- daerah, benar-benar dengan potensi dan prioritas daerah. Untuk keseluruhan pembangunan, daerah juga benar-benar merupakan satu kesatuan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan didalam mewujudkan tujuan nasional.

b) Faktor Pertumbuhan Ekonomi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara umum, antara lain:

1. Sumber daya alam

2. Jumlah dan mutu pendidikan penduduk 3. Ilmu pengetahuan dan teknologi

4. Sistem sosial 5. Pasar

2.1.6 PDRB

Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa pada kegiatan ekonomi masyarakat dan diukul melalui PDB berdasarkan harga konstan, supaya angka pertumbuhan yang dihasilkan ada pertambahan produksi (Dewi, J.K., Budhi, 2018). Perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun menggambarkan perkembangan yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume produksi barang dan jasa yang dihasilkan dan perubahan dalam tingkat harganya dan menunjukkan pendapatan

(40)

27

yang dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah serta menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun.

Salah satu faktor yang mendorong investor melakukan investasi di suatu daerah adalah karena faktor ekonomi di daerah tujuan, seperti potensi pasar, sumber daya alam dan daya saing. Potensi pasar digambarkan dengan besarnya pendapatan daerah tersebut yang dicerminkan oleh nilai PDRB (Habiburrahman, 2012).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam periode tertentu. Penyusunan PDRB dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu:

1. Pendekatan produksi 2. Pengeluaran

3. Pendapatan

Pendekatan Produksi dapat disebut juga pendekatan nilai tambah dimana nilai tambah bruto (NTB) dengan cara mengurangkan nilai output yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan biaya antara dari masing-masing nilai produksi bruto tiap sektor ekonomi. Nilai tambah merupakan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi sebagai input antara. Nilai yang ditambahkan sama dengan balas jasa faktor produksi atas ikutsertanya dalam proses produksi.

Unit-unit produksi dalam penyajian ini dikelompokkan dalam 9 lapangan usaha (sektor) sesuai dengan International Standard Industrial Classification of

(41)

28

All Economic Activities (ISIC), yaitu: Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih; Konstruksi; Perdagangan, Hotel dan Restoran; Pengangkutandan Komunikasi; Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan serta Jasa-jasa (termasuk jasa pemerintah).

Pada pendekatan pendapatan, nilai tambah dari kegiatan-kegiatan ekonomi dihitung dengan cara menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi yaitu upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi). Untuk sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari keuntungan, surplus usaha (bunga neto, sewa tanah dan keuntungan) tidak diperhitungkan.

Pendekatan pengeluaran digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa yang digunakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat untuk keperluan konsumsi rumah tangga, pemerintah, yayasan sosial, pembentukan modal dan ekspor. Mengingat nilai barang dan jasa hanya berasal dari produksi domestik, total pengeluaran dari komponen diatas harus dikurangi nilai impor sehingga nilai ekspor yang dimaksud adalah ekspor neto. Penjumlahan seluruh komponen pengeluaran akhir ini disebut PDRB atas dasar harga pasar.

Data pendapatan nasional adalah salah satu indikator makro yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian setiap tahunnya. Manfaat yang dapat diperoleh dari data ini antara lain:

(42)

29

1. PDRB harga berlaku menunjukkan kemampuan sunber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah

2. PDRB harga konstan digunakan untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan per tahun

3. Distribusi PDRB harga berlaku menurut lapangan usaha menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap kategori ekonomi dalam suatu wilayah

4. PDRB per kapita atas dasar berlaku menunjukkan nilai PDB dan PNB per satu orang penduduk

5. PDRB per kapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi per kapita penduduk suatu negara.

Produk Domestik Regional Neto (PDRN) merupakan produk domestik regional bruto yang dikurangi penyusutan barang modal yang terjadi selama proses produksi atau adanya pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dan subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada unit produksi. Pendapatan regional merupakan PDRN dikurangi dengan pendapatan yang mengalir ke luar dan ditambah dengan pendapatan yang mengalir ke dalam daerah. Ekspor barang dan impor merupakan kegiatan transaksi barang dan jasa antara penduduk daerah dengan penduduk daerah lain.

Selain dari sektoral, perkembangan ekonomi dapat juga tercermin dari komponen-komponen penggunaan PDRB yang menggambarkan komposisi penggunaan barang dan jasa, baik yang dihasilkan didalam maupun diluar daerah.

(43)

30

Komponenkomponen tersebut terdiri dari: pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan inventaris, ekspor neto (ekspor dikurangi impor).

(44)

31 2.2 KERANGKA PIKIR

Dinas Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Kota Makassar

Pertumbuhan Ekonomi

Pajak Daerah Retribusi Daerah

Metode Analisis

Deskriptif Kuantitatif Regresi

Linear Berganda

Kesimpulan

Rekomendasi

(45)

32 2.3 HIPOTESIS

Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka fikir, maka penulis merumuskan hipotesis, yaitu:

1. Diduga bahwa pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar dari tahun ke tahun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

2. Diduga pula bahwa retribusi daerah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar dari tahun ke tahun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

(46)

33

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Daerah Penelitian

Berdasarkan judul yang diangkat oleh penulis yaitu “Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Makassar”

maka untuk memperoleh data, penelitian ini di lakukan di Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar. Pengaruh pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi objek penelitian. Guna memperoleh data yang berkaitan dengan judul penelitian tersebut. Oleh karena itu Kota Makassar menjadi objek dalam menemukan jawaban dari tujuan penelitian ini.

Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan selama 3 bulan yakni dari bulan Mei sampai dengan Juli 2020.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a) Penelitian Lapangan (Find Research). Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai objek penelitian maka penulis melakukan pengamatan dan pengkajian secara langsung kepada objek penelitian yang telah ditetapkan.

b) Penelitian Pustaka (Library Research). Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji buku – buku dan macam media penulisan lainnya yang ilmiah, di

(47)

34

maksudkan untuk menambah referensi pendukung tentang teori-teori ilmiah yang dapat berkaitan dengan topik penelitian dalam rangka penyusunan laporan.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis dan sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Jenis Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif. Yaitu data yang diperoleh dari Badan Pendapatan Daerah dalam bentuk angka-angka atau hitung-hitungan serta data lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Makassar dan mengkaji buku – buku , referensi – referensi yang berkaitan dengan judul ini.

3.4 Metode Analisis

Umtuk menjawab permasalahan yang telah ditetapkan, maka digunakan metode analisis data yaitu:

a) Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang dilakukan untuk menilai karakteristik dari sebuah data. Karakteristik itu antara lain: nilai mean, median, sum, variance, standar error, standar error of mean, mode, range atau rentang, minimal, maksimal, swekness dan kurtosis.

(48)

35 b) Analisis Regresi Linear Berganda

Secara umum analisis ini digunakan untuk menggambarkan hubungan linear dari beberapa variabel independen (variabel X) terhadap variabel dependen (variabel Y).Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pajak Daerah (X1), Retribusi Daerah (X2), sedangkan variabel dependen adalah Pertumbuhan Ekonomi (Y) sehingga persamaan regresi bergandanya adalah :

LnY = Ln β0 + β1 LnX1 + β2 LnX2 + e Dimana:

LnY = Pertumbuhan Ekonomi β = Koefisien Regresi LnX1 = Pajak Daerah LnX2 = Retribusi Daerah

e = Error Term (Kesalahan Pengganggu) 3.5 Definisi Operasional

Definisi operasional bertujuan untuk memberikan arahan dan pengertian yang jelas tentang definisi variabel yang berkaitan dengan penelitian ini :

1. Pajak daerah (X1) adalah kontribusi wajib kepada masyarakat Kota Makassar yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.

2. Retribusi daerah (X2) adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau

(49)

36

diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan di Kota Makassar.

3. Pertumbuhan ekonomi (Y) yaitu kenaikan produk lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi di Kota Makassar.

(50)

37

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar 4.1.1 Profil Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pada pemerintah kota Makassar yang dibentuk berdasarkan peraturan daerah kota Makassar Nomor 8 Tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan perangkat daerah kota Makassar, dimana Badan Pendapatan Daerah mempunyai tugas membantu Walikota melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan yang menjadi kewenanagan daerah.

Pelayanan publik merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan birokrasi/pemerintah kepada masyarakat. Pelaksanaan pelayanan publik dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan yang seusai dengan keinginan dan harapan masyarakat. Dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat, BAPENDA telah melakukan berbagai hal dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, antara lain : perbaikan gedung kantor, pembangunan loket pembayaran yang nyaman, serta ruangan layanan.

4.1.2 Sejarah Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

Sebelum terbentuknya Badan Pendapatan Kotamadya Tingkat II Makassar, Dinas Pasar, Dinas Air Minum dan Dinas Penghasilan Daerah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Wilikotamadya Nomor 155/

(51)

38

Kep/A/V/1973 Tanggal 24 mei 1973 terdiri dari beberapa Sub Dinas Pemeriksaan Kendaraan Tidak Bermotor dan Sub Dinas Administrasi.

Dengan adanya kekputusan Walikotamadya Keputusan Daerah Tingkat II Ujung Pandang Nomor 74/S/Kep/A/V1977 Tanggal 1 April 1977 bersama dengan surat Edaran Mentri Dalam Negeri Nomor 3/12/43 Tanggal 9 September 1975 dan Instruktur Mentri Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tanggal 25 Oktober 1975 Nomor Keu/3/22/33 tentang pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Ujung Pandang telah disempurnakan dan ditetapkan perubahan namanya menjadi Dinas Penghasilan Daerah yang kemudian menjadi unit-unit yang menangani sumber-sumber keuangan daerah seperti Dinas Perpajakan, Dinas Pasar dan Sub Dinas Pelelangan Ikan dan semua Sub-sub Dinas dalam unit penghasilan daerah yang tergabung dalam unit penghasilan daerah dilebur dan dimsaukan pada unit kerja Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Ujung Pandang, seiring dengan adanya perubahan kotamadya Ujung Pandang menjadi Kota Makassar, secara otomatis nama Badan Pendapatan Daerah Kotamadya Ujung Pandang berubah menjadi Badan Pendapatan Kota Makassar.

4.1.3 Visi dan Misi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar Visi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

Terwujudnya pengelolaan pendapatan yang optimal online terpadu Misi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

a. Mewujudkan pengelolaan PAD yang optimal berbasis IT secara terpadu dan terintegrasi.

(52)

39

b. Mewujudkan sumber daya manusia yang professional dan memiliki kompetensi dalam bidangnya.

c. Memantapkan koordinasi administrasi pengelolaan pendapatan dan keuangan daerah.

4.1.4 Faktor Pendukung dan Penghambat 1. Faktor Pendukung

a. Penerimaan yang baik oleh Badan Pendapatan Derah Kota Makassar

b. Ketersediaan dan kelancaran sarana transportasi dan komunikasi

c. Tidak adanya lagi jadwal kuliah karena sedang libur memasuki semester ganjil atau semester 7 (tujuh) sehingga memungkinkan peserta fokus untuk magang.

2. Faktor Penghambat

Tidak di izinkannya peserta magang untu membuat program kerja di luar pola kerja kantor.

4.1.5 Lokasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

Badan Pendapatan daerah/Badan Pendapatan Daerah beralamat di Jl.

Urip Sumoharjo No. 8 kota Makassar. Terdapat beberapa dinas yang terdapat di sekitar Badan Pendapatan Daerah seperti Dinas Tata Ruang dan Bangunan, Badan Arsip, Dinas Pekerjaan Umum, dan juga terdapat satu masjid. Adapun

(53)

40

Bank Sulselbar dan kantin yang berada di samping kiri bangunan Dinas Pendapatan daerah/Badan Pendapatan Daerah.

Berikut lokasi Badan Pendapatan Daerah :

Gambar 4.1 Lokasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

Struktur Organisasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar

(54)

41

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar 4.1.6 Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pendapatan Daerah Kota

Makassar

Berikut tugas pokok dan fungsi BAPENDA Kota Makassar 1. Tugas Pokok

Tugas pokok Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar yaitu merumuskan, membina, mengendalikan, dan mengelola serta mengkoordinir kebijakan bidang daerah.

2. Fungsi

Fungsi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar, yaitu sebagai berikut:

(55)

42

a. Fungsi penyusunan rumusan kebijakan teknis di bidang pengelolaan pendapatan serta melakukan pendataan potensi sumber-sumber pendapatan daerah.

b. Penyusunan rencana dan program evaluasi pelaksanaan pungutan pendapatan daerah.

c. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional bidang pendataan, penetapan, keberatan dan penagihan serta pembukuan pajak hotel, pajak hiburan, pajak restoran, pajak parkir, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan pengelolaan batuan galian golongan C serta pajak atau pendapatan daerah dan retribusi daerah lainnya.

d. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional bidang bagi hasil dan pendapatan lainnya serta intensifikasi dan ekstensifikasi.

e. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional pengelolaan keuangan, kepegawaian, dan pengurusan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

f. Pelaksanaan kesekretariatan dinas.

Badan Pendapatan Daerah mempunyai uraian tugas:

1. Merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang Pendapatan Daerah

2. Merumuskan dan melaksanakan visi dan misi badan;

3. Merumuskan dan mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan Sekretariat dan Bidang Pendaftaran dan Pendataan, Bidang Pajak I dan

(56)

43

Retribusi Daerah, Bidang Pajak Daerah II dan Bidang Koordinasi, Pengawasan dan Perencanaan;

4. Merumuskan Rencana Strategis (RENSTRA) dan Rencana Kerja (RENJA), Indikator Kinerja Utama (IKU), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)/RKPA, Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)/DPPA dan Perjanjian Kinerja (PK) badan;

5. Mengoordinasikan dan mermuskan bahan penyiapan penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)/Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kota dan segala bentuk pelaporan lainnya sesuai bidang tugasnya;

6. Merumuskan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)/Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) badan;

7. Merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Standar Pelayanan (SP) badan;

8. Mengkoordinasikan pembinaan dan pengembangan kapasitas organisasi dan tata laksana;

9. Menyelenggarakan pembinaan, pemeriksaan, pengawasan, pengendalian, dan penindakan terhadap pengelolaan pendapatan daerah yang bersumber dari pemungutan pajak daerah, retribusi

(57)

44

daerah, deviden Badan Usaha Milik Daerah dan penerimaan daerah lainnya;

10. Menyelenggarakan pelayanan administrasi pengelolaan dan pemungutan Pajak Hotel, Pajak Hiburan, Pajak Restoran, Pajak Parkir, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan dan Pengolahan Mineral Bukan Logam, Pajak Air Bawah Tanah, Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Bumi Dan Bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah Bangunan, serta Pajak/ Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah lainnya.

11. Melaksanakan perencanaan dan pengendalian teknis operasional pengelolaan keuangan, kepegawaian dan pengurusan barang milik Daerah yang berada dalam penguasaannya;

12. Melaksanaan tugas pembantuan dari pemerintah Provinsi ke pemerintah Kota sesuai dengan bidang tugasnya;

13. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan menginventarisasi permasalahan di lingkup tugasnya serta mencari alternatif pemecahannya;

14. Mempelajari, memahami dan melaksanakan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan lingkup tugasnya sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;

15. Memberikan saran dan pertimbangan teknis kepada pimpinan;

16. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait lainnya sesuai dengan lingkup tugasnya;

(58)

45

17. Membina, membagi tugas, memberi petunjuk, menilai dan mengevaluasi hasil kerja bawahan agar pelaksanaan tugas dapat berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

18. Melaksanakan pembinaan jabatan fungsional;

19. Melaksanakan pembinaan unit pelaksana teknis;

20. Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas kepada walikota melalui sekretaris Daerah;

21. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh walikota.

mempelajari, memahami dan melaksanakan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan lingkup tugasnya sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;

22. Memberikan saran dan pertimbangan teknis kepada pimpinan;

23. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait lainnya sesuai dengan lingkup tugasnya;

24. Membina, membagi tugas, memberi petunjuk, menilai dan mengevaluasi hasil kerja bawahan agar pelaksanaan tugas dapat berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

25. Melaksanakan pembinaan jabatan fungsional;

26. Melaksanakan pembinaan unit pelaksana teknis;

27. Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas kepada walikota melalui sekretaris Daerah;

28. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh walikota.

(59)

46 4.2 Deskripsi Data

4.2.1 Penerimaan Pajak Kota Makassar

Melihat membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembanguna daerah untuk memantapkan otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab. Melihat pentingnya pajak daerah dalam sumber pendapatan daerah maka perlu dilakukan peningkatan penerimaan pajak daerah setiap tahun dengan mengkaji potensi-potensi pajak yang dapat meningkatkan realisasi penerimaan pajak daerah tersebut. Untuk melihat sejauh mana penerimaan pajak daerah Kota Makassar, berikut ini penulis menyajikan data tentang realisasi penerimaan pajak daerah Kota Makassar sejak tahun 2009 sampai tahun 2018.

TABEL 4.1

REALISASI PAJAK DAERAH KOTA MAKASSAR

TAHUN

REALISASI PAJAK DAERAH

(Rp)

JUMLAH PRESENTASE PAJAK DAERAH

(%)

2009 115.223.338.974 17,1

2010 133.551.818.678 15,9

2011 266.065.576.931 99,5

2012 388.445.926.266 45,9

2013 518.703.083.895 33,5

2014 561.697.247.681 8,2

2015 635.647.206.877 13,1

2016 759.202.412.170 19,4

2017 938.796.384.191 23,6

2018 942.551.920.193 0,4

TOTAL 4.694.385.487.112 100

Sumber:BPS Kota Makassar

Referensi

Dokumen terkait

Judul Skripsi: PENGARUH PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, DAN DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH DENGAN BELANJA MODAL SEBAGAI VARIABEL MODERASI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pertumbuhan ekonomi memoderasi pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, DAU dan DBH pada belanja modal.. Metode

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh pajak daerah, retribusi daerah dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah baik secara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh pajak daerah, retribusi daerah dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah baik secara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh pajak daerah, retribusi daerah dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah baik secara

Penelitian yang mengkaji pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Kemandirian daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi telah dilakukan oleh Darmayasa dan Bagiada

Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah adalah unsur pelaksana Kota Medan dalam bidang pemungutan Pajak, Retribusi dan Pendapatan Daerah lainnya yang dipimpin oleh

PENGARUH PENERIMAAN PAJAK HOTEL, PAJAK RESTORAN, PAJAK HIBURAN, DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA MALANG TAHUN 2007-2016 Skripsi Diajukan Guna Memenuhi