^
*3£85
Sfi
&-•
KETERLIBATAN STAKEHOLDER DALApff^r
STRATEGI PERENCANAAN PENDIDIKAltt
PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA y&
*»
(Studi Kasus pada Pengembangan Universitas Tirtayasa Banten / Persiapan
Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Keppres No. 130/1999
dan STIA Maulana Yusuf Banten di Kabupaten Serang)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Administrasi Pendidikan» # ^
Oleh
HER1 ERLANGGA
989794
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2001
DISETUJUI DAN DISYAHKAN OLEH PEMBIMBING TESIS
Pembimbing I,
Prof. Dr. H. Moch Idochi Anwar, M.Pd
Pembimbing II,
DISETUJUI OLEH :
KETUA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
ABSTRAK
KETERLIBATAN STAKEHOLDER
DALAM STRATEGI PERENCANAAN PENDIDIKAN
PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA
(Studi Kasus pada PengembanganUniversitas Tirtayasa Banten / Persiapan
menjadi Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa, Keppres No. 130/1999
dan STIA Maulana Yusuf Banten di Kabupaten Serang)
Mengungkap penelitian dengan judul di atas, adalah pilihan penting dari
sekian kajian yang sesuai dengan Tocus' dan 'fokus' Program Studi Administrasi
Pendidikan, sebagai wacana keilmuan yang dapat direfleksikan dalam mewujudkan
manajemen perguruan tinggi swasta yang mandiri dan profesional.Permasalahan yang diangkat sebagai latar belakang penelitian, yaitu
keprihatinan penulis dalam pengamatannya terhadap kondisi PTS di daerah yang
cendemng lamban dan mengundang image masyarakat yang negatif, sehingga diduga
kedua PTS tidak memiliki visi, misi dan strategi perencanaan pendidikan yang jelas.
Karenanya pokok permasalahan yang layak diteliti adalah; Apakah dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan pada PTS tersebut, melibatkan stakeholder ? Persepsi yang dikembangkan dalam penelitian ini, yaitu apabila dalam memposisikan stakeholder tepat dan proporsional ketika proses perencanaan, maka langkah ini akan memberikan kemudahan bagi langkah-langkah selanjutnya,
misalkan dalam perumusan visi, misi, analisis posisi dan penentuan strategi.
Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah memperoleh gambaran tentang bagaimana keterlibatan stakeholder dalam merumuskan strategi perencanaan
pendidikan pada UNTIRTA dan STIA; mengkaji hambatan dan peluang keterlibatan
stakeholder dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan; kemudian menganalisis sejauh mana keterlibatan stakeholder yang memberikan pengaruh terhadap strategi perencanaan pendidikan pada keduaPTS tersebut.Pendekatan penelitian yang digunakan melalui pendekatan dekriptif analisis.
Melengkapi data yang diperlukan penulis melakukan wawancara intensif dengan
sumber data, selanjutnya dianalisis tentang masalah yang diungkap dengan ukuranatau indikator secara kualitatif, dan dapat digunakan sebagai bahan "trianggulasi"
dan "member check" terhadap kebenaran data.
Tahapan penelitian yang digunakan terdiri dari; tahap orientasi; tahap
ekplorasi; tahap member check. Sedangkan pengolahan dan analisis data yang
dijadikan pedoman adalah dengan cara content analysis, kategorisasi dan deskripsi
data, melalui analisis stakeholder yang terdiri dari dua kegiatan, yaitu identifikasi
stakeholder dan pemetaan stakeholder.
Sebagai hasil
penelitan,
menggambarkan bahwa posisi
keterlibatan
stakeholder pada UNTIRTA Banten dan STIA Maulana Yusuf Banten,memperlihatkan adanya perbedaan. Gambaran UNTIRTA, memberikan nilai
optimisme dan harapan di masa depan, dengan mulai dilibatkannya beberapa
komponen stakeholder. Sedangkan Gambaran STIA masih sangat jauh dari nilai
optimisme dan harapan untuk berkembang, karena mencerminkan stagnasi di dalam
keterlibatan stakeholder. Kondisi inilah yang mempengaruhi terhadap pengembangan
kedua PTS tersebut sangat berbeda. Secara obyektif UNTIRTA lebih menjanjikan,
apalagi dengan persiapan untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri berdasarkan
Keppres No. 130/1999.Merekomendasikan hasil penelitian, dengan harapan dapat didiskusikan dan
hal-hal berikut ini : Pemahaman secara seksama tentang perlunya melibatkan
stakeholder dalam perencanaan pendidikan hendaknya mampu disosialisasikan
dengan optimal; perumusan visi, misi dan strategi secara konseptual hams segera
terwujud dan tersosialisasi melalui konsep "membumikan visi, misi dan strategi
perencanaan pendidikan tahun 2000-2004", agar proses penegrian seiraman dengan
dinamika pemahaman stakeholder terhadap konsep tersebut; Perlunya dilakukan
identifikasi dan pemetaan stakeholder secara komprehensif; Secara khusus ditujukan
kepada unsur yayasan pendidikan STIA, perlunya memahami secara cermat dengan
wawasan kependidikan yang luas, sehingga akan dapat membah pandangan dalam
pengelolaan lembaga pendidikan ke arah profesional; yang terpenting dalam program
pengembangan adalah diiringi dengan perbaikan nilai moralitas dan budaya
akademik kampus, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat; Kedua PTS,
hendaknya terns mengkaji dan mengevaluasi posisi KKPA (kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman) sebagai pendorong kinerja; Dalam program pengembangan
DAFTARISI
Halaman
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR iii
UCAPAN TERIMA KASIH DAN PENGHARGAAN vi
DAFTARISI vn
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTARTABEL xii
DAFTAR BAGAN xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Perumusan Masalah 5
C. Pertanyaan Penelitian 5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 6
E. Kerangka Penelitian 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Administrasi Pendidikan 14
B. Konsep Stakeholder dalam Manajemen Strategi 18
1. Sejarah "Pihak-pihak Berkepentingan" 24
2. Pendekatan Stakeholder untuk Manajemen Strategi ... 26
3. Tingkatan "Rasional" Peta Stakeholder 32
C. Konsep Manajemen Strategi 35
1. Bentuk dan Proses Berpikir Strategi 36
2. Arti Manajemen Strategi 38
3. Model Manajemen Strategi 39
4. Konsep Strategi 42
D. Konsep Sistem Perencanaan 44
1. Keuntungan Perencanaan 49
2. Fungsi Perencanaan 50
3. Kerangka Perencanaan 52
4. Langkah-langkah Perencanaan 53
5. Model Perencanaan 54
E. Konsep Perencanaan Pendidikan 56
1. Hakikat dan Lingkup Perencanaan Pendidikan 59
2. Tujuan Perencanaan Pendidikan 60
3. Proses Perencanaan Pendidikan 61
F. Kajian Studi yangRelevan 63
BAB HI PROSEDUR PENELITIAN
A. Metode Penelitian 66
B. Sumber Data Penelitian 68
C. Teknik dan Instmmen Pengumpulan Data 72
D. Tahap-tahap Penelitian 75
E. Prosedur Analisis Data 78
F. Validitas Penelitian 81
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Temuan Penelitian 84
1. Posisi Keterlibatan Stakeholder 84
a. UNTIRTA Banten 86
b. STIA Maulana Yusuf Banten 88
2. Visi, Misi dan Strategi Perencanaan Program
Pengembangan 89
a. UNTIRTA Banten 89
b. STIA Maulana Yusuf Banten 103
3. Profil Perguruan Tinggi 104
a. UNTIRTA Banten 104
b. STIA Maulana Yusuf Banten 113
B. Analisis Hasil Penelitian 117
1. Perencanaan Program Pengembangan
UNTIRTA Banten 117
a. Analisis Posisi Stakeholder 117
b. Pemetaan Terhadap KKPA 118
c. Perumusan Visi, Misi dan Strategi Perencanaan .... 123
2. Perencanaan Program Pengembangan
STIA MY Banten 117
a. Analisis Posisi Stakeholder 123
b. Pemetaan Terhadap KKP A 124
c. Perumusan Visi, Misi dan Strategi Perencanaan .... 124
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Analisis Keterlibatan Stakeholder UNTIRTA dan STIA 134
1. Identifikasi Stakeholder 134
2. Pemetaan Stakeholder 136
a. UNTIRTA Banten 137
b. STIA Maulana Yusuf Banten 138
B. Strategi Perencanaan Pendidikan dalam Mewujudkan
Produktivitas 149
C. Pemberdayaan Stakeholder UNTIRTA dan STIA 151
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan 153
B. Rekomendasi 157
DAFTAR PUSTAKA 160
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. ALAT PENGUMPUL DATA 164
B. DATA PENELITIAN 170
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1.1 Paradigma Penelitian 13
2.1 Peta Pihak-pihak Berkepentingan dalam Organisasi 21
2.2 Gambaran Manajerial Organisasi/PTS 23
2.3 Sejarah Konsep Pihak-pihak Berkepentingan 25
2.4 Proses Manajemen Strategi 27
2.5 Tahapan Berpikir Strategi 37
2.6 Model Manajemen Strategi 41
2.7 Proses Perencanaan 61
2.8 Proses Perencanaan Pendidikan 62
4.1 Stmktur Organisasi Perguman Tinggi / LINTIRTA... 108 4.2 Stmktur Organisasi Perguruan Tinggi / STIA 116
4.3 Proses Perencanaan Sistem 127
4.4 The Strategic Hierarchy of Values 128
4.5 Proses Strategi Perencanaan di Perguruan Tinggi .... 130 4.6 Tahapan Proses Penyusunan Strategi Perencanaan ... 131
4.7 Hubungan Visi, Misi dan Tujuan serta Isu Utama dan
Strategi Pengembangan 133
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
3.1 Kisi-Kisi Instmmen Penelitian 13
4.1 Gambaran Stakeholder UNTIRTA dan STIA 16
5.1 Pemetaan Kekuatan dan Keterdugaan 141
5.2 Pemetaan Kekuatan dan Kepentingan 145
[image:10.595.127.469.72.733.2]DAFTAR BAGAN
Nomor Halaman
2.1 Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Beiakang Masalah
Pendidikan mempakan salah satu upaya mewujudkan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi
segenap bangsa dan selumh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Sesuai dengan amanat tersebut,
menjadi hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang diselenggarakan melalui Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dengan legalitas
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989, tentang pengaturan penyelenggaraan Sistem
Pendidikan Nasional yang mempakan alat dalam mencapai tujuan nasional.
Pendidikan Nasional mempakan bagian dari pembangunan nasional. Sebagai
usaha untuk meningkatkan taraf kesejahteraan kehidupan manusia dalam
menghadapi perubahan-pembahan besar di era reformasi serta proses globalisasi
yang juga mempengamhi kehidupan nasional, maka kita memerlukan suatu
perencanaan pendidikan yang lebih terarah.
Dalam melaksanakan pembangunan nasional, perencanaan mempakan proses
awal suatu kegiatan. Perencanaan yang dilakukan dengan benar dan didukung
dengan teknik dan kemampuan profesional yang tinggi akan berpengarah terhadap
Perencanaan sebagai salah satu fungsi manajemen adalah suatu proses pengambilan
keputusan dari sejumlah pilihan yang akan dilaksanakan pada waktu mendatang.
Perencanaan sangat diperlukan karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang kita
miliki, baik itu sumber daya manusia, dana, maupun sumber daya lainnya
dibandingkan dengan kebutuhan yang kita perlukan.
Pada kenyataannya perencanaan pendidikan mempakan pekerjaan yang
sangat mmit, apalagi dikaitkan dengan level maupun jenis isu-isunya. Kondisi ini
diperkuat dengan masih relatif sedikitnya bukti adanya pihak-pihak yang secara
sepihak mempunyai kekuatan yang dapat menentukan tujuan, visi, misi dan strategi
suatu organisasi. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa saling keterhubungan
dan ketergantungan antara sub-sistem dalam suatu organisasi atau antara berbagai
organisasi perlu mendapatkan perhatian yang serius.
Sadar akan kondisi ini, ketika seorang perencana berkehendak untuk
membuat perencanaan pendidikan dipelbagai unit, jenis atau level, dan pada saat itu
pulalah perlunya perencana mempertimbangkan pihak-pihak berkepentingan, baik
yang ada dalam organisasi maupun yang berada diluar organisasi, sehingga tujuan
organisasi dapat dicapai.
Berdasarkan kondisi riil bidang pendidikan, maka "Stakeholder" perlu
mendapat kedudukan yang strategis dalam mencapai keberhasilan perencanaan
pendidikan baik di pusat, daerah maupun di perguruan tinggi negeri dan swasta
dengan harapan mampu untuk survive menghadapi pembahan-pembahan besar
Universitas Tirtayasa Banten dan STIA Maulana Yusuf Banten adalah
mempakan perguman tinggi swasta yang diselenggarakan atas dasar kesadaran
sebagian warga masyarakat Kabupaten Serang akan pentingnya pendidikan
berkelanjutan yang dapat dirasakan oleh masyarakat dengan tujuan memberikan
peluang masa depan yang lebih baik. Berdirinya kedua PTS tersebut membawa
harapan dapat menjalankan fungsi perguruan tinggi yang berperan, yaitu :
a). Sebagai penghasil agen-agen perubahan yang mampu merancang, mendorong
dan memelopori pembahan dalam berbagai aspeknya menuju masyarakat
modern;
b). Pencipta dan pendukung ide-ide bam yang selalu hidup, dan
c). Pemberi sumbangan bagi kemajuan intelektual dan sosial di masyarakat,
(Sonhaji; 1990).
Ketiga peran tersebut mengisyaratkan perguruan tinggi sebagai pusat
pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi sena
perwujudan dinamika masyarakat sehingga memberikan sumbangan yang berarti
bagi keberhasilan pembangunan nasional.
Oleh sebab itu, sebagai konsekuensinya perguruan tinggi (khususnya PTS
yang berada di daerah) hendaknya diusahakan dan dikelola untuk pengembangan
lebih maju dengan melibatkan pihak-pihak yang dapat mendukung kearah tujuan
yang diinginkan sebagai langkah persiapan memasuki kebijakan desentralisasi
Dalam masa pengabdiannya pada masyarakat yang relatif cukup lama
(15-20 tahun), kedua PTS tersebut semakin dituntut kemampuannya yang tanggap
terhadap berbagai agenda pembahan kebutuhan pembangunan pendidikan yang
memiliki mutu, relevansi, efisiensi dan pemerataan serta partisipasi aktif dari
komponen stakeholder.
Permasalahan berkaitan dengan keterlibatan stakeholder sering terjadi di
dalam pengelolaan perguman tinggi swasta yang berada di daerah, yaitu tentang
partisipasinya memberikan in-put untuk menentukan strategi perencanaan
pendidikan. Hal tersebut terlihat dari hasil pengamatan awal peneliti, diperoleh kesan
bahwa perguman tinggi swasta di daerah (khususnya UNTIRTA Banten dan STIA
Maulana Yusuf Banten) dalam melakukan pengembangannya cendemng lamban
baik dibidang administrasi akademik, mutu, relevansi dan prestasi, sehingga diduga
kedua PTS tersebut tidak memiliki visi dan strategi perencanaan pendidikan yang
jelas.
Bertolak dari latar belakang masalah, peneliti tertarik untuk meneliti lebih
dalam keterlibatan atau peranan stakeholder di dalam memberikan perhatian vang
maksimal terhadap strategi perencanaan pendidikan PTS-PTS di Kabupaten Serang
dengan mengambil kasus pada Universitas Tirtayasa Banten dan Sekolah Tinggi
B. Perumusan Masalah
Perencanaan
pendidikan
yang
efektif
adalah
perencanaan
yang
memperhatikan berbagai komponen penting, termasuk didalamnya stakeholder yang
mempakan salah satu variabel penting sebagai komponen yang dapat membantu para
pengelola pendidikan dalam mencapai tujuan yang tepat guna dan sesuai dengan
sasaran.
Agar masalah lebih spesifik, maka kajian ini difokuskan kepada keterlibatan
stakeholder dalam strategi perencanaan pendidikan di UNTIRTA Banten dan STIA
Maulana Yusuf Banten melalui keterlibatan pihak yayasan, pejabat struktural, para
dosen, pihak masyarakat, pemerintah daerah dan dunia usaha.
Dengan demikian pokok permasalahan yang layak diteliti ialah; Apakah
dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan pada UNTIRTA Banten dan
STIA Maulana Yusuf Banten tetap melibatkan stakeholder ?
Persepsi yang ingin
dikembangkan; apabila dalam memposisikan stakeholder tepat dan proporsional
ketika proses perencanaan, maka langkah ini akan memberikan kemudahan bagi
langkah-langkah selanjutnya, misal; dalam perumusan visi dan misi, analisis posisi,
penentuan strategi dan sebagainya.
C. Pertanyaan Penelitian
Penjabaran pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan dalam pokok
permasalahan di atas, dapat diperdalam melalui spesifikasi pertanyaan penelitian
1) Seberapa besar kemampuan dan kepekaan para pengelola UNTIRTA Banten dan
STIA MY Banten dalam upaya melibatkan komponen-komponen stakeholder
untuk memmuskan strategi perencanaan pendidikan ?
2) Bagaimanakah potret wacana strategi perencanaan pendidikan yang telah dimmuskan dan digunakan oleh para pengelola menuju pada pengembangan
UNTIRTA dan STIA ?
3) Potensi, kekuatan, kelemahan, ancaman dan kendala apa saja yang dihadapi dan
mempengamhi terhadap para pengelola UNTIRTA dan STIA di dalam
melibatkan stakeholder untuk merumuskan strategi perencanaan pendidikan ?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi dan analisis
mengenai keterlibatan stakeholder dalam meningkatkan strategi perencanaan
pendidikan, dan secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1) Memperoleh gambaran tentang keterlibatan stakeholder dalam merumuskan
strategi perencanaan pendidikan pada UNTIRTA dan STIA.
2) Mengetahui dan mencermati lebih dalam tentang strategi perencanaan
pendidikan yang telah dirumuskan dan ditetapkan para pengelola UNTIRTA
dan STIA dalam rangka pengembangan.
3) Mengkaji dan memahami peta kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
yang menjadi hambatan potensi UNTIRTA dan STIA di dalam mendorong
keterlibatan stakeholder merumuskan strategi perencanaan pendidikan yang
Adapun sebagai manfaat yang diinginkan dalam penelitian, antara lain :
1) Dapat mengungkapkan dan mempertajam posisi stakeholder dalam
merumuskan strategi perencanaan pendidikan yang dapat diterapkan untuk
pengembangan UNTIRTA Banten dan STIA MY Banten.
2) Memberikan sumbangan pemikiran atau bahan masukan bagi kedua PTS
tersebut dalam bentuk konsep-konsep strategi perencanaan pendidikan.
E. Kerangka Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian, kerangka acuan penelitian ini berdasar pada
beberapa konsep teoritis yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
/. Analisis Stakeholder
Perencanaan sebagai suatu sistem terdiri atas berbagai sub-sistem, sehingga
suatu perencanaan tidak dapat dipisahkan dari sub-sistem perencanaan
lainnva.
Salah satu sub-sistem yang sangat strategis dalam suatu sistem perencanaan adalah
posisi stakeholder yang sangat berpengarah terhadap perumusan misi. visi dan
strategi suatu organisasi pendidikan, dan mulai tingkat pendidikan dasar sampai pada
tingkat perguruan tinggi.
Adapun untuk memahami posisi stakeholder, beberapa aspek yang penting
untuk dikaji adalah makna stakeholder, peranan stakeholder dalam sistem
perencanaan, proses analisis stakeholder, dan sumber-sumber kekuatan stakeholder.
Pada hakekatnya stakeholder adalah pihak-pihak baik di dalam maupun di luar
Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Goreth R. Jones
bahwa :"Stakeholder are people who have an interest, claim, or stake in the
organization, in what it does, and in how well it performs".
Umumnya stakeholder termotivasi untuk berpartisipasi dalam suatu
organisasi jika mereka itu menerima inducement (hadiah, seperti uang, kekuasaan, dan kedudukan dalam organisasi) yang melebihi nilai kontribusinya (keterampilan,
pengetahuan, dan keahlian) yang dikehendaki. Demikian juga pihak-pihak yang
berkepentingan pada setiap jenis organisasi relatif berbeda, apakah itu organisasi
pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi bisnis atau industri.
Untuk lebih jelasnya, dalam perencanaan pendidikan tingkat perguman
tinggi, pihak-pihak berkepentingan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1 Stakeholder dari dalam organisasi :
a) Universitas/Institut/Sekolah/Akademik, Fakultas, Lembaga Jurusan, Pusat,
Program Studi.
b) Kelompok lain, misalnya; Dewan Penyantun, Senat Universitas/Institut/
Sekolah Tinggi/Akademi, Ikatan Senat Mahasiswa, Ikatan Orang iua
Mahasiswa, Senat Fakultas, Tim Ahli, Konsultan.
c) Perorangan; Rektor, Direktur, Kepala, Dekan, Ketua Jurusan.
2. Stakeholder dari luar organisasi:
a) Perguman Tinggi lain (negeri dan swasta), Kanwil, Dirjen Dikti,
b) Kelompok atau organisasi yang mempunyai hubungan dengan
penyelenggaraan pendidikan, misalnya; Universitas Luar Negeri sebagai
partner kerjasama, dunia usaha, dunia industri, asosiasi penerbit.
c) Masyarakat luas lainnya.
Mempertegas pemahaman stakeholder yang hakekatnya tidak terlepas dengan
pengembangan perencanaan pendidikan, karena secara mendasar dapat diasumsikan
bahwa perencanaan yang profesional seharusnya mampu mengidentifikasi sumber
kekuatan stakeholder. Dengan demikian penjabaran konseptual dari strategi dan
perencanaan pendidikan perlu dikemukakan agar lebih dipahami.
2. Konsep Strategi
Pada dasamya yang dimaksud dengan strategi adalah suatu rencana yang
berskala besar dan berorientasi pada masa depan dengan menetapkan terwujudnya
interaksi efektif dalam kondisi kompetitif, yang kesemuanya diarahkan kepada
pencapaian tujuan.
Definisi strategi pertama yang dikemukakan oleh Chandler (Freddy
Rangkuti, 1999 : 3) menyebutkan bahwa " strategi adalah tujuan jangka panjang
dari suatu organisasi serta pendayagunaan dan alokasi semua sumber daya yang
penting untuk mencapai tujuan tersebut".
Thompson dan Strickland (Freddy Rangkuti, 1999 : 4), strategi
sebenarnya merupakan rencana percaturan manajemen untuk memperkuat posisi
Argyris, Mintzberg, Steiner dan Miner (Freddy Rangkuti^f^J9; 4}^« '
strategi merupakan respon secara terus menerus maupun adaptifterhadap
pdaaag-dan ancaman ekstemal serta kekuatan pdaaag-dan kelemahan internal yang dapat
mempengaruhi organisasi.
Porter (Freddy Rangkuti, 1999 : 4), strategi adalah alat yang sangat
penting untuk mencapai keunggulan bersaing.
Andrews, Chaffe (Freddy Rangkuti, 1999 : 4), strategi adalah kekuatan
motivasi untuk stakeholder, seperti shareholders, debtholders, manajemen,
kaiyawan, konsumen, komunitas, pemerintah dan sebagainya, yang baik secara
langsung maupun tidak langsung menenma keuntungan atau biaya yang ditimbulkan
oleh semua tindakan yang dilakukan oleh organisasi.
Lauwrence R. Jauch, William F. Glueck (Murad., AR. Henry, 1999 ; 12),
strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan
keunggulan strategi organisasi dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang
untuk memastikan bahwa tujuan utama organisasi dapat dicapai melalui
pelaksanaan yang tepat oleh organisasi.
Memahami konsep tersebut, maka sebagai implementasinya bahwa strategi
yang baik hams dimmuskan terlebih dahulu guna menentukan spesifikasi sasaran
11
3. KonsepPerencanaan Pendidikan
Philips H Coombs (Istiwidaryati, 1987 : 7) mengemukakan essensi
perencanaan pendidikan di bawah ini:
Dalam arti yang luas perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan
dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan eflsien sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para siswa dan masyarakat.
F.W. Banghart dan Albert Trull Jr (1973 : 12) menggambarkan essensi
perencanaan dalam uraian di bawah ini:
Educational planning, likewise, can precede educational policy, because planning involves a decission and a choice among alternative courses and action in selecting course and action, educational planning becomes a policy
for the next lower administrative unit.
Pada bagian yang sama F.W. Banghart dan Albert Trull Jr, menjelaskan di
bawah ini :
Educational planning involves people from various discipline, and the problem of economics in time and cost is a major constraint. The essense of economic constraints stresses the importance of producing a plan that bring together, in proper relation, all the cost required to attain educational objectives.
Perencanaan pendidikan dilakukan didasari oleh tekanan-tekanan sosial,
ekonomi, agar pendidikan dapat mencapai sasaran secara efektif dengan segala
keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Perencanaan pendidikan bertitik tolak dari
kesadaran terhadap tantangan pendidikan. Karenanya untuk meluraskan suatu
perencanaan yang sistematik, tepat guna, dan sesuai dengan sasaran yang akan
dicapai, sebaiknya hams mempertimbangkan berbagai faktor-faktor yang ada, baik
12
F.W. Banghart dan Albert Trull Jr, berpendapat bahwa perencanaan
pendidikan pada suatu organisasi akan dipengaruhi faktor-faktor di bawah ini:
1. Faktor-faktor Internal:
a) Aspirasi masyarakat.
b) Kemampuan, bakat dan minat siswa.
c) Keterbatasan lokasi dan ruangan tempat dilaksanakannya pendidikan. d) Anggaran pembiayaan dalam pengelolaan pendidikan.
e) Kurikulum yang relevan dengan tuntutan perubahan.
2. Faktor-faktor Eksternal:
a) Tuntutan pembahan terjadi dalam masyarakat baik secara ekonomi, politik,
sosial dan budaya.
b) Aturan, kebijakan dari pemerintah yang terkait dengan pendidikan.
Dari konsep perencanaan pendidikan di atas, penulis memiliki asumsi bahwa
dari beberapa definisi pada essensinya dapat dimaknai pada suatu pengertian yang
saling berdekatan dan memperkuat terhadap pemahaman kita tentang perencanaan
itu, dan sesungguhnya penulis memaknai dari konsep perencanaan pendidikan
tersebut pada dataran praktis/aplikatif secara keselumhan tidak dapat dipisahkan,
merupakan sesuatu yang integral. Karenanya penulis didorong rasa ingin tahu yang
sangat tinggi bermaksud untuk menguji teori-teori tersebut di dalam penelitian ini.
Untuk mempermudah pemahaman alur pemikiran dalam penelitian, maka
paradigma penelitian yang penulis kembangkan, terungkap pada gambar sebagai
Pihak
Internal
Kekuatan (strengths)
Kelemahan (weaknesses)
<—•
Penilaian Pemerintah
Stakeholder;
Analisis Posisi Pihak-Pihak yang
Berkepentingan
k
Pihak Ekstemal
w
13
Pemetaan Stakeholder;
Keterdugaan (predictability) Tingkat Kepentingan (interest)
Peluang (opportunities) Ancaman (threats)
Pemmusan Strategi
Perencanaan Pendidikan
Program Pengembangan PTS
Produktivitas
[image:24.595.69.510.90.568.2]PTS-PTS
Gambar. 1.1
Skema Paradigma Penelitian
L > I - s F r - v - J - i i~> •^•.i-i-i'-'--,-tt-3! ''••J
L . I ' i i
-BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini diarahkan pada metode deskriptif analisis melalui metode
survey yaitu menjelaskan secara sistematis faktor atau gejala. Gejala yang ada dan
mencari keterangan-keterangan atau informasi secara utuh dan faktual untuk pada
saat ini. Kerlinger (Sugiyono, 1993 : 3) mengemukakan bahwa, penelitian survey
adalah, penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang
dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga
dapat ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar
variabel, sosiologis maupun psikologis.
Penelitian survey pada umumnya dilakukan untuk mengambil suatu
generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Walaupun metode survey ini tidak memerlukan kelompok kontrol seperti halnya pada metode ekspenmen. namun
generalisasi yang dihasilkan bisa akurat bila digunakan sampel yang representatif,
David Kline (Sugiyono, 1993 : 3).
Selanjutnya peneliti akan menganalisis tentang masalah keterlibatan
stakeholder dan strategi perencanaan pendidikan dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Jadi, sifat analisis dari penelitian ini merupakan kegiatan lanjutan dari
deskripsi gejala dan peristiwa. Analisis secara mendalam dilakukan berdasarkan
kajian teori, setelah didapat gambaran yang jelas dan lengkap tentang aspek-aspek
yang diteliti.
67
Mengenai pendekatan kualitatif, dapat dijelaskan menurut Lexy J. Moleong
(1996), sebagai berikut:
Penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan,
mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode
kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif, mengarahkan
sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, membatasi studi
dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan
data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya
disepakati oleh kedua belah pihak: Peneliti dan Subyek Penelitian.
Berdasarkan pada definisi di atas, tergambarlah mengenai karakteristik
pendekatan kualitatif, sebagai berikut : Pertama,
menunjukkan bahwa penelitian
kualitatif memiliki latar alamiah sebagai sumber data langsung serta peneliti menjadi
instrumen utama; Kedua, mengimplikasikan bahwa data.yang dikumpulkan dalam
penelitian kualitatif lebih cenderang dalam bentuk kata-kata dari pada angka-angka
sebagaimana yang ada dalam penelitian kuantitatif; Ketiga, menyatakan bahwa
penelitian ini lebih menekankan pada proses dari pada hasil. Dalam penelitian ini
data dan informasi yang dikumpulkan lebih terfokus pada kegiatan yang dilakukan.
bukan dari hasil semata; Kempat dan Kelima, menegaskan mengenai analisis yang
digunakan oleh peneliti kualitatif serta pemaknaannya. Melalui analisis induktif, peneliti berupaya mengungkapkan makna dari keadaan yang diamatinya.
Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, maka jelaslah bahwa
instmmen penelitian yang dimaksud adalah peneliti yang menjadi pengumpul data
68
B. Sumber Data Penelitian
Menurut Lofland dan Lofland (Moleong, 1994 : 112) sumber data utama
dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan Iain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian mi
jenis datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis dan foto.
Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor
(1975) yang menyatakan bahwa metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif, yaitu kata-kata orang yang ditulis atau diucapkan
sendiri dan tingkah laku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada setting
dan individu-individu dalam setting tersebut secara utuh. Dengan demikian subjek
penelitian mi tidak direduksi menjadi variabel-variabel yang terpisah atau menjadi
Hipotesis, tetapi dipandang sebagai bagian dari keselurahan. Penelitian kualitatif
memberikan deskripsi secara naratif tentang gejala tertentu.
1. Kata-kata dan Tindakan
Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau
diwawancarai
merapakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis
atau melalui perekaman audio tapes dan pengambilan foto. Pencatatan sumber data
utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta merapakan hasil usaha
gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Dengan seperangkat
petunjuk seperti yang telah diungkapkan, kiranya peneliti akan dapat menjaring
kata-kata dan tindakan yang relevan saja, terutama dengan memanfaatkan kriteria
69
2. Sumber Tertulis
Walaupun dikatakan bahwa sumber di luar kata dan tindakan merapakan
sumber data kedua, jelas hal itu tidak bisa diabaikan. Dilihat dari segi sumber data,
bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan
jurnal ilmiah, sumber dari arsip, dan dokumen resmi.
3. Foto
Digunakan bersama-sama dengan pengamatan berperan serta. Saat-saat suatu
peristiwa yang bemilai sejarah, sosial, ritual, dan kultural akan sangat bermanfaat
apa bila dipelajari detail-detailnya dalam foto dari pada hanya mengalami
peristiwanya tanpa foto. Penggunaan foto untuk melengkapi sumber data jelas sekali
manfaatnya. Pada prinsipnya data-data tersebut merapakan segala sesuatu yang dapat
dilihat sebagai suatu sumber informasi yang dapat dianalisa dan diinterpretasikan
dari aspek-aspek yang dibahas dalam penelitian ini.
Selanjutnya mengenai sumber data atau populasi dalam penelitian kualitatif,
mengacu pada empat tipe sumber data penelitian kualitatif, yaitu setting, penstiwa,
orang dan proses (Huberman,1984) Dengan demikian pemilihan sampel dilakukan
secara purposive dan mengacu pada konsep sampel berlanjut untuk mencapai
redundancy dengan berdasarkan tujuan penelitian dan mampu memberikan
kelengkapan informasi tentang keterlibatan stakeholder dalam strategi perencanaan
70
Merujuk pada kerangka pemikiran dan fokus masalah penelitian ini yang
menjadi sumber data, diantaranya : 1) Stakeholder Internal, yang terdiri dari
penguras yayasan, unsur pimpinan lembaga, para dosen tetap yayasan dan
mahasiswa; 2) Stakeholder Ekstemal, yang terdiri dari pemerintah daerah, tokoh
masyarakat di bidang pendidikan, dan dunia usaha.
Sebagai rincian dari sumber data yang penulis lakukan wawancara, adalah; 1) UNTIRTA Banten, terdiri dari; Sekretaris Yayasan Pendidikan Tirtayasa Banten,
Pimpinan Universitas (Pembantu Rektor I) dan Pimpinan Fakultas (Tiga Orang Dekan), Ketua Lembaga Tingkat Universitas, dan Para Dosen (Sembilan Orang),
serta mahasiswa; 2) STIA Maulana Yusuf Banten, terdiri dan; Sekretaris Yayasan Pendidikan Administrasi Maulana Yusuf Banten, Para Unsur Pimpman (Ketua dan Pembantu Ketua I, II dan III, Ketua jurusan, dan Para Dosen (Delapan Orang), serta
mahasiswa.
Dalam melakukan penelusuran data penelitian, yang dijadikan sebagai
sandaran untuk wawancara dan studi dokumentasi adalah dengan mengacu kepada
VARIABEL ASPEK Perumusan Strategi Perencanaan Pendidikan 2. Keterlibatan Stakeholder Tabel. 3.1
KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN
SUB VARIABEL 1NDIKAT0R
1. Visi dan Misi yang
diirumuskan.
2. Sosialisasi Visi dan Misi.
3. Strategi yang di inginkan
Yayasan. 4. Strategi yang
dikembangkan Para Pengelola.
5. Kendala yang dihadapi.
6. Upaya yang dilakukan.
1. Keterlibatan Unsur
Pimpinan.
2. Keterlibatan Para Dosen.
3. Keterlibatan Pemda &
Masyarakat. 4. Upaya
melibatkai-Stakeholder.
SUMBER / RESPONDEN 1. Yayasan
2. Unsur Pimpinan Universitas
dan Fakultas, Sekolah Tinggi dan Jurusan.
1. Para Dosen.
1. Yayasan.
1. Unsur Pimpinan Universitas &
Fakultas, Sekolah Tinggi &
Jurusan. 1. S.d.a 1. S.d.a Unsur Pimpinan. Dosen. Unsur Pimpinan ASDA II. Tokoh Masyarakat.
Stakeholder Internal & Ekstemal.
CARA / METODE INSTRUMEN 1. Wawancara.
2. Studi dokumen; RIP dan
Pokok-pokok Progeam. Wawancara. Wawancara. Wawancara. Dokumentasi Wawancara. Wawancara. Wawancara. Wawancara. Wawancara.
Wancara / Dokumen.
Wawancara.
72
Menentukan sumber data dalam penelitianini dilakukan, sementara penelitian
berjalan, dengan metode sebagai berikut; Peneliti memilih sampel yang dinilai akan
memberikan data dan informasi yang diperlukan; kemudian berdasarkan data dan
informasi yang diperoleh, peneliti menetapkan sampel atau sumber data berikutnya
yang memungkinkan dapat memberikan data dan informasi yang telah lengkap.
Namun demikian, seperti yang diungkapkan oleh Nasution (1988), yang
berpendapat bahwa penentuan sampel atau responden dianggap telah memadai
apabila telah sampai pada taraf "Redudancy" atau kejenuhan, artinya bahwa dengan
menggunakan sumber data atau responden yang berlanjut, dinilai tidak akan ada lagi
tambahan informasi dan data yang berarti.
C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian yang bersifat deskriptif analitik
lebih menitikberatkan pada perekaman situasi yang terjadi dalam kontek masalah
yang dibahas. Dengan demikian pada penelitian ini alat utama bagi pengumpulan
data yang diperlukan adalah melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
E. Kusmana (1984 : 94), mejelaskan bahwa metode deskriptif analitis
memungkinkan adanya suatu langkah evaluatif atas keadaan yang nyata terjadi. Juga
memungkinkan pula peneliti memberikan masukan-masukan yang dipandang
berguna, bermanfaat dari aspek yang dikaji atau tehadap masalah-masalah yang ada
di lapangan, sehingga akan memberikan suatu analisa yang lebih mendalam terhadap
73
Irawan Soehartono (dovo :4) menegaskan bahwa pengumpulan data dalam
penelitian kualitatif tidak menggunakan kuesioner berstruktur seperti alat ukur untuk
vanabel tertentu. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif temtama
menggunakan pengamatan berperan serta (participant observation), dan juga
wawancara mendalam (m-depth interview), analisis ,si (content analysis), serta
beberapa lainnya. Dalam pengamatan berperan serta pembuatan catatan dilakukan
sesegera mungkin setelah pengamatan selesai dilaksanakan.
Penelitian kualitatif sangat mendasarkan din pada desknpsi, perbandingan,
pengamatan, analisis isi, tinjauan histons, dan proses single-subjeck. Jadi, penelitian
kualitatif menggunakan manusia sebagai suatu kesatuan secara utuh dan tidak
. direduksi menjadi variabel-variabel.
Diperlukannya observasi atau pengamatan secara langsung maupun tidak
langsung adalah, sebagai langkah untuk memperoleh data-data atau informasi
mengenai tindakan-tindakan yang mencermmkan kmerja dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Cara im dimaksudkan untuk mendapatkan data yang cermat,
faktual dan kontekstual.
Moleong (1996 : 112) dengan mengutip pendapat Lofland dan Lofland yang
menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan
tindakan. Kata-kata tersebut terangkap melalui seangkaian wawancara yang telah di
persiapkan secara matang, baik berupa wawancara yang bersifat terbuka maupun
74
Wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka ditunjukan
untuk mendapatkan data atau informasi yang lengkap dan mendalam, sedangkan
wawancara terstruktur lebih ditujukan untuk menjaga agar wawancara dapat
berlangsung, tetap pada konteks permasalahan penelitian dan untuk meyakinkan
kebenaran data yang bersifat spesifik. Wawancara yang diarahkan pada suasana
dialogis ini dilakukan beralang-ulang kepada responden hingga mencapai kejenuhan,
dalam pengertian peneliti telah menemukan hal-hal yang berkaitan dengan faktor
yang diteliti.
Studi dokumentasi dilakukan untuk melacak berbagai informasi yang
berkaitan dengan keterlibatan stakeholder dalam strategi perencanaan pendidikan
pada UNTIRTA Banten dan STIA MY Banten. Dokumen-dokumen yang dikaji
antara lain; Rumusan Visi, Misi dan Tujuan Lembaga, Konsep Strategi Perencanaan
Pendidikan, Rencana Induk Pengembangan, Bukti keterlibatan Stakeholder Internal
maupun Ekstemal, Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Tenaga Edukatif,
Bentuk Pengembangan PTS tersebut, serta Laporan Kegiatan.
Studi ini sangat penting sebagai produk nyata yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai keterlibatan Stakeholder (Internal atau Ekstemal)
dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan pada kedua PTS tersebut.
Sekaligus dapat digunakan sebagai bahan 'trianggulasi' dan 'member check'
75
Sebagai kelengkapan catatan lapangan (field notes) dan ketelitian data yang
diperoleh, peneliti melengkapi diri dengan buku catatan dan tape recorder,
peralatan-peralatan tersebut digunakan untuk "mencatat" informasi verbal maupun non-verbal
selengkap mungkin.
Sedangkan Instrumen penelitian yang di maksud adalah peneliti sendiri
(human instrument), karena manusia mempunyai adaptabilitas tinggi serta responsif
terhadap situasi yang berubah-ubah yang terjadi selama penelitian berlangsung.
Selain itu, sebagai menusia peneliti memiliki kemampuan untuk menjelaskan kepada
responden tentang sesuatu yang kurang dipahami, juga memiliki kemampuan untuk
menggali sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya, tidak diduga atau tidak lazim yang dapat memperdalam makna penelitian (Nasution, 1990 : 55-66).
D. Tahap-tahap Penelitian
Usaha mempelajari penelitian kulitatif tidak terlepas dan usaha pengenalan
tahap-tahap penelitian. Tahap-tahap penelitian kualitatif dengan salah satu ciri pokoknya peneliti menjadi sebagai alat penelitian, menjadi sebagai alat penelitian, menjadi berbeda dengan tahap-tahap penelitian non-kualitatif. Khususnya analisa
data ciri khasnya sudah dimulai sejak awal pengumpulan data.
Kirk dan Miller (Moleong, 1994) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif memiliki empat tahapan antara lain; (1) Invensi; (2) Kegiatan Lapangan; (3)
Penafsiran; dan (4) Eksplanasi. Kemudian Nasution (1992 : 85) membagi langkah
penelitian kualitatif terdiri dari tiga tahapan : (1) Tahap orientasi; (2) Tahap
76
Menurut Bogdan (Moleong, 1993 : 85) mengatakan bahwa pelaksanaan
sesuatu penelitian terdiri dari tiga tahapan, yaitu; (1) Pra-lapangan; (2) Kegiatan
lapangan; (3) Analisis intensif.
Tahapan-tahapan penelitian yang diajukan oleh Nasution tersebut adalah
sebagai berikut:
Tahap orientasi, yaitu berupa penelitian awal dengan tujuan memperoleh
gambaran permasalahan yang lebih lengkap guna memantapkan fokus penelitian.
Tahapan ini terdiri dari langkah-langkah :
(a) Menjajaki dan menilai kondisi lapangan, setelah peneliti membaca terlebih
dahulu tentang situasi dan kondisi lapangan yang berhubungan dengan
permasalahan penelitian;
(b) Memilih dan menggunakan informasi, yaitu memafaatkan orang-orang
yang-layak dipilih dan dipercaya memberikan informasi mengenai masalah penelitian
ini;
(c) Menyiapkan perlengkapan penelitian yaitu jauh sebelumnya dipersiapkan
pedoman wawancara, observasi, kamera/foto, alat rekaman atau tape recorder.
Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak terkait yang berada pada kedua PTS
tersebut, seperti; Penguras Yayasan, Para Pejabat Struktural, Dosen Yayasan,
Mahasiswa, Tokoh-tokoh Masyarakat Pengamat Pendidikan, Pemerintahan
Daerah dan Dunia Usaha;
(d) Melakukan adaptasi atau penyesuaian dengan situasi lapangan, dan peneliti
77
Tahap eksplorasi, terdiri dari kegiatan; (a) melakukan pemahaman latar
penelitian dan mempersiapkan diri untuk melakukan penelitian, memperoleh data
dengan sikap yang selektif, menjauhi keadaan yang akan mempengaruhi data,
mencari informasi yang relevan dan selalu berpedoman pada masalah penelitian; (b)
ke lapangan dengan menjaga hubungan keakraban dan menyadari tugas sebagai
peneliti pada objek penelitian; (c) mengumpulkan data sesuai dengan masalah
melalui teknik pengumpulan data, yaitu melalui wawancara dengan strategi setiap
tahapan wawancara yang telah dilakukan, peneliti menyusun deskripsi hasil
wawancara berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan.
Hal itu dilakukan untuk membantu kemudahan analisis data dan untuk
menemukan pola jawaban dengan cara reduksi data. Terkait dengan deskripsi yang
telah dibuat, peneliti membuat catatan terpisah bempa catatan refleksi yang
merupakan pandangan peneliti dalam melihat permasalahan penelitian.
Tahap member check terdiri dari tiga kegiatan : (a) melakukan korfimasi
terhadap data yang diperoleh dengan mengecek kebenaran data bersama pihak
informan untuk memberikan tanggapan-tanggapannya sebagai langkah re-check
kebenaran data; (b) melakukan kegiatan yang sifatnya trianggulasi yakni
menuntaskan kebenaran data dan meminta tanggapan mengenai data yang diperoleh
dengan pihak ketiga yang relevan dan diyakini dapat memberikan informasi tentang
78
Tahap ini pada prinsipnya dilakukan dengan verifikasi data yaitu mengecek
validitas data yang dimaksudkan untuk mengecek kebenaran informasi-informasi
yang telah dikumpulkan agar hasil penelitian dapat dipercaya. Pengecekan informasi
ini dilakukan setiap kali peneliti selesai melakukan wawancara yakni dengan
mengkonfirmasikan catatan-catatan hasil wawancara. Dalam wawancara itu juga
dapat mungkin disimpulkan bersama-sama dengan informan.
E. Prosedur Analisis Data
Nasution (1998); menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi oleh peneliti
kualitatif dalam menganalisis data adalah tidak adanya prosedur baku yang dapat
dijadikan pedoman atau pola analisis data. Pendapatnya, bahwa "Analisis data
memerlukan daya kreatif serta kemampuan intelektual yang tinggi. Lagi pula tidak
ada cara tertentu yang dapat diikuti untuk mengadakan analisis, sehingga setiap
peneliti harus mencari sendiri metoda yang dirasakan cocok dengan sifat
penelitiannya.
Moleong (1996 : 104), berpendapat bahwa karakter analisis dalam penelitian
kualitatif berlangsung secara induktif dan terus menerus, dengan kata lain analisis
data ini dilakukan dalam suatu poses yang berarti pelaksanaannya sudah dilakukan
semenjak pengumpulan data dan dikerjakan secara lebih intensif lagi sesudah
meninggalkan lapangan. Miles dan Huberman (1984 : 21) menjelaskan bahwa
pengolahan dan analisis data dilaksanakan semenjak awal hingga selesai penulisan
79
Bogdan dan Biklen (1982 : 154-149) memisahkan proses analisis data atas ']",jj
analisis selama di lapangan dengan analisis setelah data terkumpul dan kegiatan
lapangan telah cukup memadai.
Berdasarkan pada keterangan di atas, maka prosedur penglolahan dan analisis
data meliputi kegiatan :
1.
Reduksi data; dilakukan dengan cara memilih data yang sudah disusun dalam
laporan lapangan, kemudian menyusunnya kembali dalam bentuk uraian atau
laporan yang lebih terperinci. Selanjutnya laporan yang direduksi dirangkum
dan dipilih berdasarkan hal-hal pokok serta difokuskan pada hal-hal penting
dan relevan dengan fokus penelitian.
Kategorisasi data; data atau informasi yang diperoleh diidentifikasi satuan
anahsisnya dan altematif kategori yang dimungkinkan untuk satuan analisis
tersebut. Tahapan proses analisisis ini dilakukan dengan cara mengorganisasi
data dan membangun kategori. Organisasi data, dilakukan dengan membuat
kode berdasarkan pertanyaan penelitian, membuat pengertian untuk
memeriksa tulisan-tulisan, melihat pada kode-kode utama untuk setiap
pertanyaan penelitian, membangun kategori, karena interaksi antara teori dan
data (Huberman, 1984). Kategori dilihat dari kemiripan unsur-unsur yang
terkandung dalam suatu aspek atau unsur-unsur yang membedakan antara
satu aspek dengan yang lainnya. Kategori dalam studi ini dilihat berdasarkan
80
Nasution (1988 : 129-150) menyarankan, bahwa selesai analisis data dengan
tahapan diatas, dilakukan juga prosedur reduksi data, display data, kesimpulan dan
verifikasi;
1.
Reduksi data, dilakukan dengan menelaah kembali seluruh catatan lapangan
yang diperoleh dari hasil wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi
dengan tujuan untuk menemukan hal-hal pokok atau penting yang berkenaan
dengan fokus penelitian yakni keterlibatan stakehoder UNTIRTA Banten dan
STIA MY Banten (Internal dan Ekstemal) dalam merumuskan strategi
perencanaan pendidikan. Selanjutnya hal-hal pokok tersebut dirangkum
dalam susunan yang lebih sistematis sehingga dapat diketahui dengan mudah
makna tema atau polanya.
2.
Display data, dan pola yang tampak di atas, yang dimaksud adalah display
data, selanjutnya dapat ditarik kesimpulan, sehingga data yang dikumpulkan
menjadi memiliki makna tetentu.
3.
Kesimpulan dan Verifikasi, menarik kesimpulan data penelitian untuk
memantapkannya, maka dilakukan verifikasi melalui member check maupun
trianggulasi. Sehingga proses verifikasi kesimpulan ini dapat berlangsung
81
F. Validitas Penelitian.
Nasution (1992 : 105) Menjelaskan mengenai validitas penelitian, dengan
pemyataan :
Keabsahan data merupakan konsep penting dari konsep kesahihan
(validitas) dan keandalan (realibilitas) menurut versi "Positivisme".
Validitas membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan
apa yang sesungguhnya ada dan terjadi dalam dunia kenyataan, dan
apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia nyata memang sesuai
dengan yang sebenarnya ada atau terjadi.
Selanjutnya, Nasution (1992 : 149-151) mengungkapkan bahwa validitas
menilai proses dan produk dengan kriteri-kriteria, yaitu Kredibilitas,
Transferabilitas, Dependabilitas, dan Konfirmabilitas, secara aktual usaha memenuhi
kriteria tersebut di jelaskan dalam uraian di bawah ini:
1. Kredibilitas, merupakan salah satu ukuran tentang kebenaran data yang
dikumpulkan. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif menggambarkan
kecocokan konsep peneliti dengan konsep yang ada pada responden atau
nara-sumber. Untuk memenuhi kriteria ini dilakukan upaya antara lain:
a. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengenai baik responden maupun
keadaan lapangan, sehingga mendapatkan kesempatan yang
sebaik-baiknya dalam mengumpuikan dan re-check semua data yang diperlukan.
b. Mempelajari fokus penelitian secara mendalam melalui observasi secara
penuh dan terus menerus.
c. Melakukan trianggulasi melalui pengecekan kebenaran data pada sumber
82
d. Mendiskusikan hasil penelitian dengan pihak yang relevan seperti teman
sejawat, dan lainnya yang mengetahui ihwal penelitian ini atau peer
debriefing.
e. Melakukan komparasi penelitian ini dengan penelitian lainnya.
f Meminta penilaian reponden terhadap kebenaran data, tafsiran, dan
kesimpulan atau melakukan member-check.
2. Transferabilitas, mencapai kriteria penelitian ini tergantung dari pengguna
yang memanfaatkan pada suatu situasi tertentu dalam mengupayakan untuk kemungkinan dapat diaplikasikan pada situasi dan kondisi yang lain.
Karenanya dilakukan deskripsi data yang disusun secara rinci dan jelas. 3. Dependabilitas, tercapainya kriteria ini diupayakan agar pengumpulkan data,
pembentukan dan penggunaan konsep, pembuatan penafsiran serta
kesimpulan penelitian dijaga agar tetap konsisten.
4. Konfirmabilitas, pencapaiannya dilakukan melalui audit-audit trail dalam
mengupayakan agar hasil penelitian sesuai dengan data dan merapakan satu
kesatuan. Kegiatan audit trail antara lain;
a. Merekam dan mencatat data inentah selengkap mungkin untuk
digunakan sebagai bahan analisis selanjutnya.
b. Menganalisis data dengan menyeleksi, merangkum, kemudian
menyusun kertibali, dan melakukan pembahalan dengan arahan
pembimbing.
c. Menarik kesimpulan berdasarkan analisis data
83
Dengan upaya dan berbagai langkah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian
ini diharapkan akan diperoleh data dan informasi yang lengkap, sehingga dapat
dijadikan dasar bagi pembahasan penelitian yang mengkaji tentang keterlibatan
stakeholder dalam strategi perencanaan pendidikan pada Universitas Tirtayasa
Banten dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Maulana Yusuf Banten di
I
i nT>*mV" "Ssr si i. > f £eri::w;Ms:::^!:;»«srafflffl!HiwKM!-s;:»
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang akan diuraikan adalah merapakan pokok-pokok pikiran
yang didasarkan atas hasil penelitian melalui pembahasan yang didukung kajian
kritis terhadap tinjauan pustaka yang relevan. Karena itu, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Salah satu sub sistem yang sangat strategis posisinya dalam suatu sistem
perencanaan strategis adalah stakeholder yang berpengarah terhadap perumusan
visi dan misi UNTIRTA Banten dan STIA Maulana Yusuf Banten.
2. Menuju pada pemahaman stakeholder, dapat dilakukan melalui analisis
stakeholder dengan beberapa aspek yang penting untuk dikaji diantaranya; makna
stakeholder, peranan stakeholder dalam sistem perencanaan, proses analisis stakeholder, dan sumber-sumber kekuatan stakeholder pada kedua PTS tersebut, yang memiliki perbedaan-perbedaan dalam melakukan analisisnya.
3. Umumnya, keterlibatan stakeholder untuk berpartisipasi aktif pada kegiatan
pendidikan, adalah jika mereka termotivasi dengan kepentingannya yang selalu
diperhatikan dan diposisikan pada komponen yang memiliki kekuatan.
154
4. Merumuskan perencanaan pendidikan pada UNTIRTA dan STIA, para
komponen stakeholder belum melakukannya dengan
maksimal dalam
mempertimbangkan pihak-pihak yang berkepentiangan, baik yang ada dalam
organisasi tersebut maupun pihak-pihak berkepentingan yang berada di luar
organisasi, sehingga menciptakan hubungan yang kurang harmonis.
5. Untuk dapat menghindari kondisi yang kurang menguntungkan bagi kedua PTS
tersebut, maka dalam memmuskan strategi perencanaan didorong untuk mampu
menyeimbangkan berbagai kepentingan yang bermakna, sehingga pada
implementasinya, strategi perencanaan yang dirumuskan tidak hanya memuaskan
sekelompok komponen stakeholder.
6. Proses analisis stakeholder pada kedua PTS itu, dapat diarahkan kepada dua
kegiatan utama, yaitu :
a. Identifikasi stakeholder (baik yang bersifat perorangan maupun kelembagaan)
dan jenis kepentingannya. Berdasarkan siatusi yang diamati memperiihatkan
perbedaan dikedua PTS tersebut, yang mana UNTIRTA sedang menuju
kepada pemahaman yang positif dalam melakukan identifikasi stakeholder,
dan juga bersikap responsif dalam menghadapi isu-isu aktual tentang
pengembangan pendidikan. Sebaliknya STIA, belum tergambar secara
menggembirakan mengenai tingkat pemahamannya terhadap identifikasi
155
b. Pemetaan Stakeholder., dalam analisis ini yang penting dilakukan adalah
penilaian (judgment) terhadap kepentingannya, melalui penentuan kriteria
penilaian mengenai:
-
Cara stakeholder dalam mengemukakan kepentingannya terhadap
organisasi;
- Kemampuan atau kekuatan untuk menekan organisasi agar
memperhatikan dan memenuhi kepentingannya;
- Dampak kepentingan stakeholder terhadap strategi organisasi dimasa
yang akan datang.
Jawaban terhadap kriteria penilaian di atas, kedua PTS memperiihatkan
fenomena yang berbeda. Jika disimak secara mendalam, kondisi UNTIRTA
memberikan optimisme dalam melakukan pemetaan stakeholder dengan
didukung pemetaan terhadap KKPA (kekuatan, kelemahan, Peluang dan
Ancaman). Namun, STIA tidak tergambarkan nilai optimismenya dalam
analisis pemetaan stakeholder, karena kondisi yang ada pada masing-masing
komponen stakeholder, kurang saling mendukung terhadap berbagai
lnovasi-inovasi untuk pengembangan STIA.
7. Merumuskan strategi perencanaan, kedua PTS secara bertahap
berupaya
mengidentifikasi sumber kekuatan stakeholder. Hal ini dimengerti sebagai
sesuatu yang penting sekali, karena dengan identifikasi sumber kekuatan
stakeholder yang ada di dalam dan di luar PTS tersebut, akan memudahkan para
komponen stakeholder untuk mengembangkan strategi perencanaannya secara
156
8. Dalam penerapan strategi perencanaan pendidikan tidak terlepas dari penetapan
dan penerapan visi dan misi organisasi. Penetapan dan penerapan visi dan misi
dari suatu organisasi sangat ditentukan oleh komponen stakeholder. Seperti yang
tergambar pada penetapan visi, misi dan strategi UNTIRTA tahun 2000-2004,
yang akan ditetapkan dalam acara Raker awal tahun 2001, dengan melibatkan
seluruh komponen stakeholder. Sedangkan pada STIA belum terencana dengan
jelas. Seharanya disadari bahwa penerapan strategi selalu memberikan sebuah
keuntungan, sehingga jika prosesnya yang dilakukan gagal untuk menciptakan
perubahan, maka proses tersebut terjadi mis-manajemen.
9. Strategi perencanaan dalam suatu sistem dituntut memperhatikan faktor
lingkungan masyarakat dan lingkungan kelembagaan sendin. Kedua jenis
lingkungan tersebut, penting sebagai pertimbangan, karena perencanaan yang
akan disusun dimaksudkan agar sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.
Hal inilah yang mulai direspon UNTIRTA dengan memposisikan stakeholder
internal dan ekstemal secara optimal.
10. Perencanaan pendidikan erat hubungannya dengan perkembangan sosial-kulturai,
politik dan ekonomi yang tumbuh dimasyarakat. Seperti yang tergambar pada
rencana pengembangan UNTIRTA, dengan semakin terbukanya wawasan
akademis dan budaya masyarakat, kemudian didukung situasi politik yang
menguntungkan (adanya arus reformasi), sehingga iklim yang kondusif mulai
terasa pada dunia pendidikan, yang secara langsung bagi UNTIRTA adalah
proses untuk menjadi Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Banten
157
B. Rekomendasi
Beberapa kesimpulan yang terangkap di atas, memberikan implikasi secara
deduktif dengan maksud bahwa kajian kritis dari pembahasan penelitian ini, tidak
hanya berlaku untuk kedua PTS tersebut, namun dapat diadaptasikan pada PTS
lainnya.
Sehingga secara khusus, peneliti bertanggung jawab berdasarkan wawasan
keilmuan yang dimiliki untuk memberikan usulan, saran, dan nasehat dalam bentuk
rekomendasi sesuai kajian penelitian, sebagai bahan renungan untuk didiskusikan.
1. Pemahaman secara seksama tentang perlunya melibatkan stakeholder dalam
perencanaan pendidikan, hendaknya mampu disosialisasikan kepada seluruh
komponen stakeholder sampai pada upaya yang optimal.
2. Perumusan visi, misi dan strategi kedua PTS tersebut, secara konseptual harus
segera terwujud dan tersosialisasi dengan konsep 'membumikan visi, misi dan
strategi UNTIRTA Tahun 2000-2004, agar proses penegrian seirama senyan
dinamika stakeholder yang memahami perencanaan pengembangan organisasi.
Khusus untuk STIA yang masih jauh dari konsep tersebut diperlukan adanya
percepatan di dalam merespon persaingan PTS di daerah.
3. Sebagai upaya melibatkan selurah komponen stakeholder, maka perlunya
dilakukan identifikasi stakeholder secara lengkap dan menyelurah dari kedua
PTS. Kemudian dengan tindakan pro-aktif masing-masing stakeholder tersebut
saling melakukan check and balance, sehingga akan tercipta hubungan yang
158
4. Secara khusus untuk pengelola STIA, dalam hal ini unsur yayasan perlunya
memahami.dengan cermat dengan wawasan kependidikan yang luas, sehingga
akan dapat merabah pandangan dalam pengelolaan lembaga pendidikan ke arah
yang produktif dengan menetapkan strategi perencanaan pendidikan yang jelas.
Jika tidak mampu untuk merabah manajemen yang dijalankan selama ini yang
mengundang image negatif masyarakat, maka akan tertinggal jauh dari kompetisi
PTS-PTS lainnya.
5. Langkah persiapan yang dilakukan UNTIRTA menuju pada proses Universitas
Negeri, hendaknya tidak sekedar karena Political Will pemerintah yang akan
mampu merabah image masyarakat. Namun, yang terpenting adalah mesti
diiringi dengan perubahan nilai moralitas dan budaya akademik kampus yang
mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan UNTIRTA
sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi yang menjanjikan kualitas lulusannya.
6. Kedua PTS tersebut hendaknya terus mengkaji dan mengevaluasi posisi KKPA
(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) sebagai pendorong kinerja,
sehingga akan lebih memahami keberadaannya pada posisi yang diketahui.
Bagaimana kekuatan yang dimiliki dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan ?
Kapan kelemahan yang ada dapat dihilangkan ?
Seperti apa peluang yang
diperoleh dapat dimanfaatkan ?
dan dengan cara apa ancaman yan dihadapi
159
7. Dalam program pengembangan, seyogyanya kedua PTS mengacu pada Statuta /
RIP (rencana induk pengembangan) yang mutlak dimiliki, karena statuta
berfungsi sebagai inspirator, motivator bagi pengembangan perguraan tinggi
sesuai visi, misi dan pedoman perguraan tinggi tersebut, jika tidak dimiliki dapat
dipastikan pengembangannya akan tertinggal oleh PTS lain.
8. Upaya pemberdayaan stakeholder seharusnya tidak terbatas pada kegiatan-kegiatan formal di tingkat fakultas atau universitas (seperti acara raker), tetapi
secara informal mampu diciptakan oleh unsur pimpinan suasana dialogis (misalnya dalam diskusi-diskusi atau dialog-dialog ringan) dengan tujuan menyerap dan menjaring pemikiran-pemikiran ke arah kemajuan pendidikan,
dan yang terpenting adalah pengakuan lembaga terhadap posisi masing-masing
•IS""-* • 1r t . ::. :....::..::.-:.lsL-:riatjsq-Kt-;::.:"•R""iB!tB:"BESKM!:q—•.
iKiSKSriiS:"^"'-^
•stasia: --•:-:•-;:". -, t I--.B •"«r:ir:B>«j^;ja.:SK«B:S!M!»-!...
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-Buku
Abin Syamsuddin, (1998), Analisis Posisi Pembangunan Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.
Agustinus Sri Wahyudi, (1996), Manajemen Strategi; Pengantar Proses Berpikir
Strategik, Jakarta, Binarupa Aksara.
Ananto KS dan Rokhmat Wahab, (1998), Analisis Stakeholder Pembangunan
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan Sekjen. Dikti
Depdikbud.
A. Tumangung, A.Shofyanis, (1998), Pelaksanaan Pembangunan Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.
Azis A. Wahab, (1987), Educational Management, IK1P Bandung.
Bambang Tri Cahyono, (1999), Manajemen Strategi, Jakarta, Badan Penerbit IPWI.
Banghart W.F. Trull Jr Albert, (1973), Educational Planning, New York: The
Macmillan Company.Benis G Wame, Kenneth and Robert, (1985), The Planning of Change, New York: CBS College Publishing.
Coombs Philip H, (1982), Apakah Perencanaan Pendidikan Itu ? Jakarta, Bhatara
Karya Aksara dan Unesco.Conry R. Semiawan, (1991), Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional
MenjelangAbad-21, Jakarta, PT. Gramedia.
David Faulkner & Cliff Bauma, (1997), The Essense Of Competitive Strategy, Yogyakarta, Penerbit ANDI.
161
Djam'an Satori, Abin Syamsuddin, (1998), Sasaran Pembangunan Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.
Edward Sallis, (1993), Total Quality Management in Education, British Library.
Engkoswara, (1999), Menuju Indonesia Modern 2020, Yayasan Amal Keluarga.
Fakry Gaffar, (1987), Perencanaan Pendidikan; Teori dan Metodologi, Jakarta,
Depdikbud.
Freddy Rangkuti, (1999), Analisis SWOT; Reorientasi Konsep Perencanaan
Strategis untuk Menghadapi Abad 21, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.
Freeman R. Edward, (1995), Manajemen Strategik; Pendekatan Terhadap
Pihak-Pihak Berkepentingan, Jakarta, PT. Pustaka Binaman Pressindo.
Gannon J Martin, (1979), Organizational Behavior; A Managerial and
Organizational Perspective, Printed in the USA.
Gregory H. Watson, (1997), Strategic Benchmarking, Jakarta, PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Hari Prasetyo, Yani S, Triono S, (1998), Pengendalian Strategis dan Operasional
dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.
Hadari Nawawi, (1998), Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta, Gajah Mada
University Press.
H.A.R. Tilaar, (1998), Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional; dalam
PerspektifAbad-21, Jakarta, Tera Indonesia.
lman Barnadib, (1997), Filsafat Pendidikan; Sistem dan Metode, Yogyakarta. Andi
Offset.
Lawrence R. Jauch & William F. Glueck, (1994), Manajemen Strategis Kebijakan
Perusahaan, Jakarta, Penerbit Erlangga.
Mochtar Buchori, (1994), Pendidikan Dalam Pembangunan, Jakarta, IKIP
Muhammadiyah Press.
Moleong, Lexy J, (1991), Metodologi Penelitian Kualitatif BandungRosdakarya.
Made Pidarta, (1988), Perencanaan Pendidikan Partisipatori; Dengan Pendidikan
162
Mimbar Pendidikan, (1995), Strategi Pembangunan Pendidikan; Visi 2020, IKIP Bandung.
Muhammad Ali, (1994), Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung, Angkasa.
Nanang Fatah, (2000), Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung, PT. Remaja
Rosda Karya.
Nasution S, (1992), Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung, Tarsito.
Oemar Hamalik, (1999), Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Bandung,
Mandar Maju.
Paulo Freire, dkk, (1999), Menggugat Pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Rochmat Wahab, Ananto KS, (1998), Analisis Misi dan Visi Pembangunan
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.
Rowe J. Alan, Dickel, Mason, Snyden, (1990), Strategic Management; A
Methodological Approach, Canada, Addison-Wesley Publishing Company.
Setiawan HP., Zulkieflimansyah, (1988), Manajemen Strategi; Sebuah Konsep
Pengantar, Jakarta, Lembaga Penerbit FEUI.
Sudarja A, (1988), Sosiologi Pendidikan, Isyu dan Hipotesis tentang Hubungan
Pendidikan dan Masyarakat, Jakarta, Depdikbud Dirjen Dikti P2LPTK.
Sugiyono, (1993), Metode Penelitian Administrasi, Bandung, Alfabeta.
Sudjana, (1990), Teknik Analisis Data Kualitatif, Bandung, Tarsito.
Sumamo, Ananto KS, (1998), Strategi Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan,
Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.
Steiner, George A, (1992), Strategic Planning, Macmillan Publishing Co. Inc,
United State of America.
Taliziduhu Ndraha, (1988), Manajemen Perguruan Tinggi, Jakarta, PT. Btna Aksara. The Drucker Foundation, (1997), The Organization Of The Future, Jakarta, PT. Elex
Media Komputindo.
162
B. Dokumen-Dokumen
Dirjen Dikti, (1999), Peraturan Pemerintah RI Nomor. 60 Tahun 1999, tentang
Pendidikan Tinggi, Jakarta, Depdikbud.
(1999), Peraturan Pemerintah RI Nomor. 61 Tahun 1999, tentang
Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum, Jakarta, Depdikbud.
(2000), Panduan Asistensi Penyusunan Statuta Perguruan Tinggi
berdasarkan PP. Nomor. 60 Tahun 1999, Jakarta, Depdiknas.
_, (2000), Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi dan Tantangan
Perkembangan Mutakhir Ootonomi, Desentralisasi dan Reformasi, Jakarta,
Depdiknas.
UNTIRTA, (1995), Rencana Induk Pengembangan UNTIRTA Tahun 1995 1996
1999/2000, Serang.
, (2000), Pokok-pokok Program dan Kebijakan Pengembangan UNTIRTA
Banten Tahun 2000-2004, Serang.
(2000), Buku Kenang-kenangan Wisuda Sarjana ke-XHl dan Diploma
ke-V, Persiapan Universitas Negeri Sultan Agung Tirtayasa Banten, Serang,
Biro Akademik.