• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERLIBATAN STAKEHOLDER DALAM STRATEGI PERENCANAAN PENDIDIKAN PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA : Studi Kasus pada Pengembangan Universitas Tirtayasa Banten / Persiapan Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Keppres No. 130/1999 dan STIA Maulana Yusuf Bant

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KETERLIBATAN STAKEHOLDER DALAM STRATEGI PERENCANAAN PENDIDIKAN PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA : Studi Kasus pada Pengembangan Universitas Tirtayasa Banten / Persiapan Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Keppres No. 130/1999 dan STIA Maulana Yusuf Bant"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

^

*3£85

Sfi

&-•

KETERLIBATAN STAKEHOLDER DALApff^r

STRATEGI PERENCANAAN PENDIDIKAltt

PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA y&

(Studi Kasus pada Pengembangan Universitas Tirtayasa Banten / Persiapan

Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Keppres No. 130/1999

dan STIA Maulana Yusuf Banten di Kabupaten Serang)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat

Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Administrasi Pendidikan

» # ^

Oleh

HER1 ERLANGGA

989794

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2001

(2)

DISETUJUI DAN DISYAHKAN OLEH PEMBIMBING TESIS

Pembimbing I,

Prof. Dr. H. Moch Idochi Anwar, M.Pd

Pembimbing II,

(3)

DISETUJUI OLEH :

KETUA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(4)

ABSTRAK

KETERLIBATAN STAKEHOLDER

DALAM STRATEGI PERENCANAAN PENDIDIKAN

PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA

(Studi Kasus pada PengembanganUniversitas Tirtayasa Banten / Persiapan

menjadi Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa, Keppres No. 130/1999

dan STIA Maulana Yusuf Banten di Kabupaten Serang)

Mengungkap penelitian dengan judul di atas, adalah pilihan penting dari

sekian kajian yang sesuai dengan Tocus' dan 'fokus' Program Studi Administrasi

Pendidikan, sebagai wacana keilmuan yang dapat direfleksikan dalam mewujudkan

manajemen perguruan tinggi swasta yang mandiri dan profesional.

Permasalahan yang diangkat sebagai latar belakang penelitian, yaitu

keprihatinan penulis dalam pengamatannya terhadap kondisi PTS di daerah yang

cendemng lamban dan mengundang image masyarakat yang negatif, sehingga diduga

kedua PTS tidak memiliki visi, misi dan strategi perencanaan pendidikan yang jelas.

Karenanya pokok permasalahan yang layak diteliti adalah; Apakah dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan pada PTS tersebut, melibatkan stakeholder ? Persepsi yang dikembangkan dalam penelitian ini, yaitu apabila dalam memposisikan stakeholder tepat dan proporsional ketika proses perencanaan, maka langkah ini akan memberikan kemudahan bagi langkah-langkah selanjutnya,

misalkan dalam perumusan visi, misi, analisis posisi dan penentuan strategi.

Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah memperoleh gambaran tentang bagaimana keterlibatan stakeholder dalam merumuskan strategi perencanaan

pendidikan pada UNTIRTA dan STIA; mengkaji hambatan dan peluang keterlibatan

stakeholder dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan; kemudian menganalisis sejauh mana keterlibatan stakeholder yang memberikan pengaruh terhadap strategi perencanaan pendidikan pada keduaPTS tersebut.

Pendekatan penelitian yang digunakan melalui pendekatan dekriptif analisis.

Melengkapi data yang diperlukan penulis melakukan wawancara intensif dengan

sumber data, selanjutnya dianalisis tentang masalah yang diungkap dengan ukuran

atau indikator secara kualitatif, dan dapat digunakan sebagai bahan "trianggulasi"

dan "member check" terhadap kebenaran data.

(5)

Tahapan penelitian yang digunakan terdiri dari; tahap orientasi; tahap

ekplorasi; tahap member check. Sedangkan pengolahan dan analisis data yang

dijadikan pedoman adalah dengan cara content analysis, kategorisasi dan deskripsi

data, melalui analisis stakeholder yang terdiri dari dua kegiatan, yaitu identifikasi

stakeholder dan pemetaan stakeholder.

Sebagai hasil

penelitan,

menggambarkan bahwa posisi

keterlibatan

stakeholder pada UNTIRTA Banten dan STIA Maulana Yusuf Banten,

memperlihatkan adanya perbedaan. Gambaran UNTIRTA, memberikan nilai

optimisme dan harapan di masa depan, dengan mulai dilibatkannya beberapa

komponen stakeholder. Sedangkan Gambaran STIA masih sangat jauh dari nilai

optimisme dan harapan untuk berkembang, karena mencerminkan stagnasi di dalam

keterlibatan stakeholder. Kondisi inilah yang mempengaruhi terhadap pengembangan

kedua PTS tersebut sangat berbeda. Secara obyektif UNTIRTA lebih menjanjikan,

apalagi dengan persiapan untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri berdasarkan

Keppres No. 130/1999.

Merekomendasikan hasil penelitian, dengan harapan dapat didiskusikan dan

hal-hal berikut ini : Pemahaman secara seksama tentang perlunya melibatkan

stakeholder dalam perencanaan pendidikan hendaknya mampu disosialisasikan

dengan optimal; perumusan visi, misi dan strategi secara konseptual hams segera

terwujud dan tersosialisasi melalui konsep "membumikan visi, misi dan strategi

perencanaan pendidikan tahun 2000-2004", agar proses penegrian seiraman dengan

dinamika pemahaman stakeholder terhadap konsep tersebut; Perlunya dilakukan

identifikasi dan pemetaan stakeholder secara komprehensif; Secara khusus ditujukan

kepada unsur yayasan pendidikan STIA, perlunya memahami secara cermat dengan

wawasan kependidikan yang luas, sehingga akan dapat membah pandangan dalam

pengelolaan lembaga pendidikan ke arah profesional; yang terpenting dalam program

pengembangan adalah diiringi dengan perbaikan nilai moralitas dan budaya

akademik kampus, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat; Kedua PTS,

hendaknya terns mengkaji dan mengevaluasi posisi KKPA (kekuatan, kelemahan,

peluang dan ancaman) sebagai pendorong kinerja; Dalam program pengembangan

(6)

DAFTARISI

Halaman

ABSTRAK i

KATA PENGANTAR iii

UCAPAN TERIMA KASIH DAN PENGHARGAAN vi

DAFTARISI vn

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTARTABEL xii

DAFTAR BAGAN xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Perumusan Masalah 5

C. Pertanyaan Penelitian 5

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 6

E. Kerangka Penelitian 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Administrasi Pendidikan 14

B. Konsep Stakeholder dalam Manajemen Strategi 18

1. Sejarah "Pihak-pihak Berkepentingan" 24

2. Pendekatan Stakeholder untuk Manajemen Strategi ... 26

3. Tingkatan "Rasional" Peta Stakeholder 32

C. Konsep Manajemen Strategi 35

1. Bentuk dan Proses Berpikir Strategi 36

2. Arti Manajemen Strategi 38

3. Model Manajemen Strategi 39

4. Konsep Strategi 42

(7)

D. Konsep Sistem Perencanaan 44

1. Keuntungan Perencanaan 49

2. Fungsi Perencanaan 50

3. Kerangka Perencanaan 52

4. Langkah-langkah Perencanaan 53

5. Model Perencanaan 54

E. Konsep Perencanaan Pendidikan 56

1. Hakikat dan Lingkup Perencanaan Pendidikan 59

2. Tujuan Perencanaan Pendidikan 60

3. Proses Perencanaan Pendidikan 61

F. Kajian Studi yangRelevan 63

BAB HI PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian 66

B. Sumber Data Penelitian 68

C. Teknik dan Instmmen Pengumpulan Data 72

D. Tahap-tahap Penelitian 75

E. Prosedur Analisis Data 78

F. Validitas Penelitian 81

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Temuan Penelitian 84

1. Posisi Keterlibatan Stakeholder 84

a. UNTIRTA Banten 86

b. STIA Maulana Yusuf Banten 88

2. Visi, Misi dan Strategi Perencanaan Program

Pengembangan 89

a. UNTIRTA Banten 89

b. STIA Maulana Yusuf Banten 103

(8)

3. Profil Perguruan Tinggi 104

a. UNTIRTA Banten 104

b. STIA Maulana Yusuf Banten 113

B. Analisis Hasil Penelitian 117

1. Perencanaan Program Pengembangan

UNTIRTA Banten 117

a. Analisis Posisi Stakeholder 117

b. Pemetaan Terhadap KKPA 118

c. Perumusan Visi, Misi dan Strategi Perencanaan .... 123

2. Perencanaan Program Pengembangan

STIA MY Banten 117

a. Analisis Posisi Stakeholder 123

b. Pemetaan Terhadap KKP A 124

c. Perumusan Visi, Misi dan Strategi Perencanaan .... 124

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Analisis Keterlibatan Stakeholder UNTIRTA dan STIA 134

1. Identifikasi Stakeholder 134

2. Pemetaan Stakeholder 136

a. UNTIRTA Banten 137

b. STIA Maulana Yusuf Banten 138

B. Strategi Perencanaan Pendidikan dalam Mewujudkan

Produktivitas 149

C. Pemberdayaan Stakeholder UNTIRTA dan STIA 151

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan 153

B. Rekomendasi 157

DAFTAR PUSTAKA 160

LAMPIRAN-LAMPIRAN

A. ALAT PENGUMPUL DATA 164

B. DATA PENELITIAN 170

(9)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1.1 Paradigma Penelitian 13

2.1 Peta Pihak-pihak Berkepentingan dalam Organisasi 21

2.2 Gambaran Manajerial Organisasi/PTS 23

2.3 Sejarah Konsep Pihak-pihak Berkepentingan 25

2.4 Proses Manajemen Strategi 27

2.5 Tahapan Berpikir Strategi 37

2.6 Model Manajemen Strategi 41

2.7 Proses Perencanaan 61

2.8 Proses Perencanaan Pendidikan 62

4.1 Stmktur Organisasi Perguman Tinggi / LINTIRTA... 108 4.2 Stmktur Organisasi Perguruan Tinggi / STIA 116

4.3 Proses Perencanaan Sistem 127

4.4 The Strategic Hierarchy of Values 128

4.5 Proses Strategi Perencanaan di Perguruan Tinggi .... 130 4.6 Tahapan Proses Penyusunan Strategi Perencanaan ... 131

4.7 Hubungan Visi, Misi dan Tujuan serta Isu Utama dan

Strategi Pengembangan 133

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

3.1 Kisi-Kisi Instmmen Penelitian 13

4.1 Gambaran Stakeholder UNTIRTA dan STIA 16

5.1 Pemetaan Kekuatan dan Keterdugaan 141

5.2 Pemetaan Kekuatan dan Kepentingan 145

[image:10.595.127.469.72.733.2]
(11)

DAFTAR BAGAN

Nomor Halaman

2.1 Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan 16

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Beiakang Masalah

Pendidikan mempakan salah satu upaya mewujudkan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi

segenap bangsa dan selumh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan

umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Sesuai dengan amanat tersebut,

menjadi hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang diselenggarakan melalui Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dengan legalitas

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989, tentang pengaturan penyelenggaraan Sistem

Pendidikan Nasional yang mempakan alat dalam mencapai tujuan nasional.

Pendidikan Nasional mempakan bagian dari pembangunan nasional. Sebagai

usaha untuk meningkatkan taraf kesejahteraan kehidupan manusia dalam

menghadapi perubahan-pembahan besar di era reformasi serta proses globalisasi

yang juga mempengamhi kehidupan nasional, maka kita memerlukan suatu

perencanaan pendidikan yang lebih terarah.

Dalam melaksanakan pembangunan nasional, perencanaan mempakan proses

awal suatu kegiatan. Perencanaan yang dilakukan dengan benar dan didukung

dengan teknik dan kemampuan profesional yang tinggi akan berpengarah terhadap

(13)

Perencanaan sebagai salah satu fungsi manajemen adalah suatu proses pengambilan

keputusan dari sejumlah pilihan yang akan dilaksanakan pada waktu mendatang.

Perencanaan sangat diperlukan karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang kita

miliki, baik itu sumber daya manusia, dana, maupun sumber daya lainnya

dibandingkan dengan kebutuhan yang kita perlukan.

Pada kenyataannya perencanaan pendidikan mempakan pekerjaan yang

sangat mmit, apalagi dikaitkan dengan level maupun jenis isu-isunya. Kondisi ini

diperkuat dengan masih relatif sedikitnya bukti adanya pihak-pihak yang secara

sepihak mempunyai kekuatan yang dapat menentukan tujuan, visi, misi dan strategi

suatu organisasi. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa saling keterhubungan

dan ketergantungan antara sub-sistem dalam suatu organisasi atau antara berbagai

organisasi perlu mendapatkan perhatian yang serius.

Sadar akan kondisi ini, ketika seorang perencana berkehendak untuk

membuat perencanaan pendidikan dipelbagai unit, jenis atau level, dan pada saat itu

pulalah perlunya perencana mempertimbangkan pihak-pihak berkepentingan, baik

yang ada dalam organisasi maupun yang berada diluar organisasi, sehingga tujuan

organisasi dapat dicapai.

Berdasarkan kondisi riil bidang pendidikan, maka "Stakeholder" perlu

mendapat kedudukan yang strategis dalam mencapai keberhasilan perencanaan

pendidikan baik di pusat, daerah maupun di perguruan tinggi negeri dan swasta

dengan harapan mampu untuk survive menghadapi pembahan-pembahan besar

(14)

Universitas Tirtayasa Banten dan STIA Maulana Yusuf Banten adalah

mempakan perguman tinggi swasta yang diselenggarakan atas dasar kesadaran

sebagian warga masyarakat Kabupaten Serang akan pentingnya pendidikan

berkelanjutan yang dapat dirasakan oleh masyarakat dengan tujuan memberikan

peluang masa depan yang lebih baik. Berdirinya kedua PTS tersebut membawa

harapan dapat menjalankan fungsi perguruan tinggi yang berperan, yaitu :

a). Sebagai penghasil agen-agen perubahan yang mampu merancang, mendorong

dan memelopori pembahan dalam berbagai aspeknya menuju masyarakat

modern;

b). Pencipta dan pendukung ide-ide bam yang selalu hidup, dan

c). Pemberi sumbangan bagi kemajuan intelektual dan sosial di masyarakat,

(Sonhaji; 1990).

Ketiga peran tersebut mengisyaratkan perguruan tinggi sebagai pusat

pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi sena

perwujudan dinamika masyarakat sehingga memberikan sumbangan yang berarti

bagi keberhasilan pembangunan nasional.

Oleh sebab itu, sebagai konsekuensinya perguruan tinggi (khususnya PTS

yang berada di daerah) hendaknya diusahakan dan dikelola untuk pengembangan

lebih maju dengan melibatkan pihak-pihak yang dapat mendukung kearah tujuan

yang diinginkan sebagai langkah persiapan memasuki kebijakan desentralisasi

(15)

Dalam masa pengabdiannya pada masyarakat yang relatif cukup lama

(15-20 tahun), kedua PTS tersebut semakin dituntut kemampuannya yang tanggap

terhadap berbagai agenda pembahan kebutuhan pembangunan pendidikan yang

memiliki mutu, relevansi, efisiensi dan pemerataan serta partisipasi aktif dari

komponen stakeholder.

Permasalahan berkaitan dengan keterlibatan stakeholder sering terjadi di

dalam pengelolaan perguman tinggi swasta yang berada di daerah, yaitu tentang

partisipasinya memberikan in-put untuk menentukan strategi perencanaan

pendidikan. Hal tersebut terlihat dari hasil pengamatan awal peneliti, diperoleh kesan

bahwa perguman tinggi swasta di daerah (khususnya UNTIRTA Banten dan STIA

Maulana Yusuf Banten) dalam melakukan pengembangannya cendemng lamban

baik dibidang administrasi akademik, mutu, relevansi dan prestasi, sehingga diduga

kedua PTS tersebut tidak memiliki visi dan strategi perencanaan pendidikan yang

jelas.

Bertolak dari latar belakang masalah, peneliti tertarik untuk meneliti lebih

dalam keterlibatan atau peranan stakeholder di dalam memberikan perhatian vang

maksimal terhadap strategi perencanaan pendidikan PTS-PTS di Kabupaten Serang

dengan mengambil kasus pada Universitas Tirtayasa Banten dan Sekolah Tinggi

(16)

B. Perumusan Masalah

Perencanaan

pendidikan

yang

efektif

adalah

perencanaan

yang

memperhatikan berbagai komponen penting, termasuk didalamnya stakeholder yang

mempakan salah satu variabel penting sebagai komponen yang dapat membantu para

pengelola pendidikan dalam mencapai tujuan yang tepat guna dan sesuai dengan

sasaran.

Agar masalah lebih spesifik, maka kajian ini difokuskan kepada keterlibatan

stakeholder dalam strategi perencanaan pendidikan di UNTIRTA Banten dan STIA

Maulana Yusuf Banten melalui keterlibatan pihak yayasan, pejabat struktural, para

dosen, pihak masyarakat, pemerintah daerah dan dunia usaha.

Dengan demikian pokok permasalahan yang layak diteliti ialah; Apakah

dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan pada UNTIRTA Banten dan

STIA Maulana Yusuf Banten tetap melibatkan stakeholder ?

Persepsi yang ingin

dikembangkan; apabila dalam memposisikan stakeholder tepat dan proporsional

ketika proses perencanaan, maka langkah ini akan memberikan kemudahan bagi

langkah-langkah selanjutnya, misal; dalam perumusan visi dan misi, analisis posisi,

penentuan strategi dan sebagainya.

C. Pertanyaan Penelitian

Penjabaran pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan dalam pokok

permasalahan di atas, dapat diperdalam melalui spesifikasi pertanyaan penelitian

(17)

1) Seberapa besar kemampuan dan kepekaan para pengelola UNTIRTA Banten dan

STIA MY Banten dalam upaya melibatkan komponen-komponen stakeholder

untuk memmuskan strategi perencanaan pendidikan ?

2) Bagaimanakah potret wacana strategi perencanaan pendidikan yang telah dimmuskan dan digunakan oleh para pengelola menuju pada pengembangan

UNTIRTA dan STIA ?

3) Potensi, kekuatan, kelemahan, ancaman dan kendala apa saja yang dihadapi dan

mempengamhi terhadap para pengelola UNTIRTA dan STIA di dalam

melibatkan stakeholder untuk merumuskan strategi perencanaan pendidikan ?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi dan analisis

mengenai keterlibatan stakeholder dalam meningkatkan strategi perencanaan

pendidikan, dan secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1) Memperoleh gambaran tentang keterlibatan stakeholder dalam merumuskan

strategi perencanaan pendidikan pada UNTIRTA dan STIA.

2) Mengetahui dan mencermati lebih dalam tentang strategi perencanaan

pendidikan yang telah dirumuskan dan ditetapkan para pengelola UNTIRTA

dan STIA dalam rangka pengembangan.

3) Mengkaji dan memahami peta kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman

yang menjadi hambatan potensi UNTIRTA dan STIA di dalam mendorong

keterlibatan stakeholder merumuskan strategi perencanaan pendidikan yang

(18)

Adapun sebagai manfaat yang diinginkan dalam penelitian, antara lain :

1) Dapat mengungkapkan dan mempertajam posisi stakeholder dalam

merumuskan strategi perencanaan pendidikan yang dapat diterapkan untuk

pengembangan UNTIRTA Banten dan STIA MY Banten.

2) Memberikan sumbangan pemikiran atau bahan masukan bagi kedua PTS

tersebut dalam bentuk konsep-konsep strategi perencanaan pendidikan.

E. Kerangka Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian, kerangka acuan penelitian ini berdasar pada

beberapa konsep teoritis yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

/. Analisis Stakeholder

Perencanaan sebagai suatu sistem terdiri atas berbagai sub-sistem, sehingga

suatu perencanaan tidak dapat dipisahkan dari sub-sistem perencanaan

lainnva.

Salah satu sub-sistem yang sangat strategis dalam suatu sistem perencanaan adalah

posisi stakeholder yang sangat berpengarah terhadap perumusan misi. visi dan

strategi suatu organisasi pendidikan, dan mulai tingkat pendidikan dasar sampai pada

tingkat perguruan tinggi.

Adapun untuk memahami posisi stakeholder, beberapa aspek yang penting

untuk dikaji adalah makna stakeholder, peranan stakeholder dalam sistem

perencanaan, proses analisis stakeholder, dan sumber-sumber kekuatan stakeholder.

Pada hakekatnya stakeholder adalah pihak-pihak baik di dalam maupun di luar

(19)

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Goreth R. Jones

bahwa :"Stakeholder are people who have an interest, claim, or stake in the

organization, in what it does, and in how well it performs".

Umumnya stakeholder termotivasi untuk berpartisipasi dalam suatu

organisasi jika mereka itu menerima inducement (hadiah, seperti uang, kekuasaan, dan kedudukan dalam organisasi) yang melebihi nilai kontribusinya (keterampilan,

pengetahuan, dan keahlian) yang dikehendaki. Demikian juga pihak-pihak yang

berkepentingan pada setiap jenis organisasi relatif berbeda, apakah itu organisasi

pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi bisnis atau industri.

Untuk lebih jelasnya, dalam perencanaan pendidikan tingkat perguman

tinggi, pihak-pihak berkepentingan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1 Stakeholder dari dalam organisasi :

a) Universitas/Institut/Sekolah/Akademik, Fakultas, Lembaga Jurusan, Pusat,

Program Studi.

b) Kelompok lain, misalnya; Dewan Penyantun, Senat Universitas/Institut/

Sekolah Tinggi/Akademi, Ikatan Senat Mahasiswa, Ikatan Orang iua

Mahasiswa, Senat Fakultas, Tim Ahli, Konsultan.

c) Perorangan; Rektor, Direktur, Kepala, Dekan, Ketua Jurusan.

2. Stakeholder dari luar organisasi:

a) Perguman Tinggi lain (negeri dan swasta), Kanwil, Dirjen Dikti,

(20)

b) Kelompok atau organisasi yang mempunyai hubungan dengan

penyelenggaraan pendidikan, misalnya; Universitas Luar Negeri sebagai

partner kerjasama, dunia usaha, dunia industri, asosiasi penerbit.

c) Masyarakat luas lainnya.

Mempertegas pemahaman stakeholder yang hakekatnya tidak terlepas dengan

pengembangan perencanaan pendidikan, karena secara mendasar dapat diasumsikan

bahwa perencanaan yang profesional seharusnya mampu mengidentifikasi sumber

kekuatan stakeholder. Dengan demikian penjabaran konseptual dari strategi dan

perencanaan pendidikan perlu dikemukakan agar lebih dipahami.

2. Konsep Strategi

Pada dasamya yang dimaksud dengan strategi adalah suatu rencana yang

berskala besar dan berorientasi pada masa depan dengan menetapkan terwujudnya

interaksi efektif dalam kondisi kompetitif, yang kesemuanya diarahkan kepada

pencapaian tujuan.

Definisi strategi pertama yang dikemukakan oleh Chandler (Freddy

Rangkuti, 1999 : 3) menyebutkan bahwa " strategi adalah tujuan jangka panjang

dari suatu organisasi serta pendayagunaan dan alokasi semua sumber daya yang

penting untuk mencapai tujuan tersebut".

Thompson dan Strickland (Freddy Rangkuti, 1999 : 4), strategi

sebenarnya merupakan rencana percaturan manajemen untuk memperkuat posisi

(21)

Argyris, Mintzberg, Steiner dan Miner (Freddy Rangkuti^f^J9; 4}^« '

strategi merupakan respon secara terus menerus maupun adaptifterhadap

pdaaag-dan ancaman ekstemal serta kekuatan pdaaag-dan kelemahan internal yang dapat

mempengaruhi organisasi.

Porter (Freddy Rangkuti, 1999 : 4), strategi adalah alat yang sangat

penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

Andrews, Chaffe (Freddy Rangkuti, 1999 : 4), strategi adalah kekuatan

motivasi untuk stakeholder, seperti shareholders, debtholders, manajemen,

kaiyawan, konsumen, komunitas, pemerintah dan sebagainya, yang baik secara

langsung maupun tidak langsung menenma keuntungan atau biaya yang ditimbulkan

oleh semua tindakan yang dilakukan oleh organisasi.

Lauwrence R. Jauch, William F. Glueck (Murad., AR. Henry, 1999 ; 12),

strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan

keunggulan strategi organisasi dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang

untuk memastikan bahwa tujuan utama organisasi dapat dicapai melalui

pelaksanaan yang tepat oleh organisasi.

Memahami konsep tersebut, maka sebagai implementasinya bahwa strategi

yang baik hams dimmuskan terlebih dahulu guna menentukan spesifikasi sasaran

(22)

11

3. KonsepPerencanaan Pendidikan

Philips H Coombs (Istiwidaryati, 1987 : 7) mengemukakan essensi

perencanaan pendidikan di bawah ini:

Dalam arti yang luas perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan

dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan eflsien sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para siswa dan masyarakat.

F.W. Banghart dan Albert Trull Jr (1973 : 12) menggambarkan essensi

perencanaan dalam uraian di bawah ini:

Educational planning, likewise, can precede educational policy, because planning involves a decission and a choice among alternative courses and action in selecting course and action, educational planning becomes a policy

for the next lower administrative unit.

Pada bagian yang sama F.W. Banghart dan Albert Trull Jr, menjelaskan di

bawah ini :

Educational planning involves people from various discipline, and the problem of economics in time and cost is a major constraint. The essense of economic constraints stresses the importance of producing a plan that bring together, in proper relation, all the cost required to attain educational objectives.

Perencanaan pendidikan dilakukan didasari oleh tekanan-tekanan sosial,

ekonomi, agar pendidikan dapat mencapai sasaran secara efektif dengan segala

keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Perencanaan pendidikan bertitik tolak dari

kesadaran terhadap tantangan pendidikan. Karenanya untuk meluraskan suatu

perencanaan yang sistematik, tepat guna, dan sesuai dengan sasaran yang akan

dicapai, sebaiknya hams mempertimbangkan berbagai faktor-faktor yang ada, baik

(23)

12

F.W. Banghart dan Albert Trull Jr, berpendapat bahwa perencanaan

pendidikan pada suatu organisasi akan dipengaruhi faktor-faktor di bawah ini:

1. Faktor-faktor Internal:

a) Aspirasi masyarakat.

b) Kemampuan, bakat dan minat siswa.

c) Keterbatasan lokasi dan ruangan tempat dilaksanakannya pendidikan. d) Anggaran pembiayaan dalam pengelolaan pendidikan.

e) Kurikulum yang relevan dengan tuntutan perubahan.

2. Faktor-faktor Eksternal:

a) Tuntutan pembahan terjadi dalam masyarakat baik secara ekonomi, politik,

sosial dan budaya.

b) Aturan, kebijakan dari pemerintah yang terkait dengan pendidikan.

Dari konsep perencanaan pendidikan di atas, penulis memiliki asumsi bahwa

dari beberapa definisi pada essensinya dapat dimaknai pada suatu pengertian yang

saling berdekatan dan memperkuat terhadap pemahaman kita tentang perencanaan

itu, dan sesungguhnya penulis memaknai dari konsep perencanaan pendidikan

tersebut pada dataran praktis/aplikatif secara keselumhan tidak dapat dipisahkan,

merupakan sesuatu yang integral. Karenanya penulis didorong rasa ingin tahu yang

sangat tinggi bermaksud untuk menguji teori-teori tersebut di dalam penelitian ini.

Untuk mempermudah pemahaman alur pemikiran dalam penelitian, maka

paradigma penelitian yang penulis kembangkan, terungkap pada gambar sebagai

(24)

Pihak

Internal

Kekuatan (strengths)

Kelemahan (weaknesses)

<—•

Penilaian Pemerintah

Stakeholder;

Analisis Posisi Pihak-Pihak yang

Berkepentingan

k

Pihak Ekstemal

w

13

Pemetaan Stakeholder;

Keterdugaan (predictability) Tingkat Kepentingan (interest)

Peluang (opportunities) Ancaman (threats)

Pemmusan Strategi

Perencanaan Pendidikan

Program Pengembangan PTS

Produktivitas

[image:24.595.69.510.90.568.2]

PTS-PTS

Gambar. 1.1

Skema Paradigma Penelitian

(25)

L > I - s F r - v - J - i i~> •^•.i-i-i'-'--,-tt-3! ''••J

L . I ' i i

(26)

-BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini diarahkan pada metode deskriptif analisis melalui metode

survey yaitu menjelaskan secara sistematis faktor atau gejala. Gejala yang ada dan

mencari keterangan-keterangan atau informasi secara utuh dan faktual untuk pada

saat ini. Kerlinger (Sugiyono, 1993 : 3) mengemukakan bahwa, penelitian survey

adalah, penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang

dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga

dapat ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar

variabel, sosiologis maupun psikologis.

Penelitian survey pada umumnya dilakukan untuk mengambil suatu

generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Walaupun metode survey ini tidak memerlukan kelompok kontrol seperti halnya pada metode ekspenmen. namun

generalisasi yang dihasilkan bisa akurat bila digunakan sampel yang representatif,

David Kline (Sugiyono, 1993 : 3).

Selanjutnya peneliti akan menganalisis tentang masalah keterlibatan

stakeholder dan strategi perencanaan pendidikan dengan menggunakan pendekatan

kualitatif. Jadi, sifat analisis dari penelitian ini merupakan kegiatan lanjutan dari

deskripsi gejala dan peristiwa. Analisis secara mendalam dilakukan berdasarkan

kajian teori, setelah didapat gambaran yang jelas dan lengkap tentang aspek-aspek

yang diteliti.

(27)

67

Mengenai pendekatan kualitatif, dapat dijelaskan menurut Lexy J. Moleong

(1996), sebagai berikut:

Penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan,

mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode

kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif, mengarahkan

sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, membatasi studi

dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan

data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya

disepakati oleh kedua belah pihak: Peneliti dan Subyek Penelitian.

Berdasarkan pada definisi di atas, tergambarlah mengenai karakteristik

pendekatan kualitatif, sebagai berikut : Pertama,

menunjukkan bahwa penelitian

kualitatif memiliki latar alamiah sebagai sumber data langsung serta peneliti menjadi

instrumen utama; Kedua, mengimplikasikan bahwa data.yang dikumpulkan dalam

penelitian kualitatif lebih cenderang dalam bentuk kata-kata dari pada angka-angka

sebagaimana yang ada dalam penelitian kuantitatif; Ketiga, menyatakan bahwa

penelitian ini lebih menekankan pada proses dari pada hasil. Dalam penelitian ini

data dan informasi yang dikumpulkan lebih terfokus pada kegiatan yang dilakukan.

bukan dari hasil semata; Kempat dan Kelima, menegaskan mengenai analisis yang

digunakan oleh peneliti kualitatif serta pemaknaannya. Melalui analisis induktif, peneliti berupaya mengungkapkan makna dari keadaan yang diamatinya.

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, maka jelaslah bahwa

instmmen penelitian yang dimaksud adalah peneliti yang menjadi pengumpul data

(28)

68

B. Sumber Data Penelitian

Menurut Lofland dan Lofland (Moleong, 1994 : 112) sumber data utama

dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Selebihnya adalah data

tambahan seperti dokumen dan Iain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian mi

jenis datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis dan foto.

Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor

(1975) yang menyatakan bahwa metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian

yang menghasilkan data deskriptif, yaitu kata-kata orang yang ditulis atau diucapkan

sendiri dan tingkah laku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada setting

dan individu-individu dalam setting tersebut secara utuh. Dengan demikian subjek

penelitian mi tidak direduksi menjadi variabel-variabel yang terpisah atau menjadi

Hipotesis, tetapi dipandang sebagai bagian dari keselurahan. Penelitian kualitatif

memberikan deskripsi secara naratif tentang gejala tertentu.

1. Kata-kata dan Tindakan

Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau

diwawancarai

merapakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis

atau melalui perekaman audio tapes dan pengambilan foto. Pencatatan sumber data

utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta merapakan hasil usaha

gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Dengan seperangkat

petunjuk seperti yang telah diungkapkan, kiranya peneliti akan dapat menjaring

kata-kata dan tindakan yang relevan saja, terutama dengan memanfaatkan kriteria

(29)

69

2. Sumber Tertulis

Walaupun dikatakan bahwa sumber di luar kata dan tindakan merapakan

sumber data kedua, jelas hal itu tidak bisa diabaikan. Dilihat dari segi sumber data,

bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan

jurnal ilmiah, sumber dari arsip, dan dokumen resmi.

3. Foto

Digunakan bersama-sama dengan pengamatan berperan serta. Saat-saat suatu

peristiwa yang bemilai sejarah, sosial, ritual, dan kultural akan sangat bermanfaat

apa bila dipelajari detail-detailnya dalam foto dari pada hanya mengalami

peristiwanya tanpa foto. Penggunaan foto untuk melengkapi sumber data jelas sekali

manfaatnya. Pada prinsipnya data-data tersebut merapakan segala sesuatu yang dapat

dilihat sebagai suatu sumber informasi yang dapat dianalisa dan diinterpretasikan

dari aspek-aspek yang dibahas dalam penelitian ini.

Selanjutnya mengenai sumber data atau populasi dalam penelitian kualitatif,

mengacu pada empat tipe sumber data penelitian kualitatif, yaitu setting, penstiwa,

orang dan proses (Huberman,1984) Dengan demikian pemilihan sampel dilakukan

secara purposive dan mengacu pada konsep sampel berlanjut untuk mencapai

redundancy dengan berdasarkan tujuan penelitian dan mampu memberikan

kelengkapan informasi tentang keterlibatan stakeholder dalam strategi perencanaan

(30)

70

Merujuk pada kerangka pemikiran dan fokus masalah penelitian ini yang

menjadi sumber data, diantaranya : 1) Stakeholder Internal, yang terdiri dari

penguras yayasan, unsur pimpinan lembaga, para dosen tetap yayasan dan

mahasiswa; 2) Stakeholder Ekstemal, yang terdiri dari pemerintah daerah, tokoh

masyarakat di bidang pendidikan, dan dunia usaha.

Sebagai rincian dari sumber data yang penulis lakukan wawancara, adalah; 1) UNTIRTA Banten, terdiri dari; Sekretaris Yayasan Pendidikan Tirtayasa Banten,

Pimpinan Universitas (Pembantu Rektor I) dan Pimpinan Fakultas (Tiga Orang Dekan), Ketua Lembaga Tingkat Universitas, dan Para Dosen (Sembilan Orang),

serta mahasiswa; 2) STIA Maulana Yusuf Banten, terdiri dan; Sekretaris Yayasan Pendidikan Administrasi Maulana Yusuf Banten, Para Unsur Pimpman (Ketua dan Pembantu Ketua I, II dan III, Ketua jurusan, dan Para Dosen (Delapan Orang), serta

mahasiswa.

Dalam melakukan penelusuran data penelitian, yang dijadikan sebagai

sandaran untuk wawancara dan studi dokumentasi adalah dengan mengacu kepada

(31)
[image:31.842.120.786.114.502.2]

VARIABEL ASPEK Perumusan Strategi Perencanaan Pendidikan 2. Keterlibatan Stakeholder Tabel. 3.1

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

SUB VARIABEL 1NDIKAT0R

1. Visi dan Misi yang

diirumuskan.

2. Sosialisasi Visi dan Misi.

3. Strategi yang di inginkan

Yayasan. 4. Strategi yang

dikembangkan Para Pengelola.

5. Kendala yang dihadapi.

6. Upaya yang dilakukan.

1. Keterlibatan Unsur

Pimpinan.

2. Keterlibatan Para Dosen.

3. Keterlibatan Pemda &

Masyarakat. 4. Upaya

melibatkai-Stakeholder.

SUMBER / RESPONDEN 1. Yayasan

2. Unsur Pimpinan Universitas

dan Fakultas, Sekolah Tinggi dan Jurusan.

1. Para Dosen.

1. Yayasan.

1. Unsur Pimpinan Universitas &

Fakultas, Sekolah Tinggi &

Jurusan. 1. S.d.a 1. S.d.a Unsur Pimpinan. Dosen. Unsur Pimpinan ASDA II. Tokoh Masyarakat.

Stakeholder Internal & Ekstemal.

CARA / METODE INSTRUMEN 1. Wawancara.

2. Studi dokumen; RIP dan

Pokok-pokok Progeam. Wawancara. Wawancara. Wawancara. Dokumentasi Wawancara. Wawancara. Wawancara. Wawancara. Wawancara.

Wancara / Dokumen.

Wawancara.

(32)

72

Menentukan sumber data dalam penelitianini dilakukan, sementara penelitian

berjalan, dengan metode sebagai berikut; Peneliti memilih sampel yang dinilai akan

memberikan data dan informasi yang diperlukan; kemudian berdasarkan data dan

informasi yang diperoleh, peneliti menetapkan sampel atau sumber data berikutnya

yang memungkinkan dapat memberikan data dan informasi yang telah lengkap.

Namun demikian, seperti yang diungkapkan oleh Nasution (1988), yang

berpendapat bahwa penentuan sampel atau responden dianggap telah memadai

apabila telah sampai pada taraf "Redudancy" atau kejenuhan, artinya bahwa dengan

menggunakan sumber data atau responden yang berlanjut, dinilai tidak akan ada lagi

tambahan informasi dan data yang berarti.

C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian yang bersifat deskriptif analitik

lebih menitikberatkan pada perekaman situasi yang terjadi dalam kontek masalah

yang dibahas. Dengan demikian pada penelitian ini alat utama bagi pengumpulan

data yang diperlukan adalah melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi.

E. Kusmana (1984 : 94), mejelaskan bahwa metode deskriptif analitis

memungkinkan adanya suatu langkah evaluatif atas keadaan yang nyata terjadi. Juga

memungkinkan pula peneliti memberikan masukan-masukan yang dipandang

berguna, bermanfaat dari aspek yang dikaji atau tehadap masalah-masalah yang ada

di lapangan, sehingga akan memberikan suatu analisa yang lebih mendalam terhadap

(33)

73

Irawan Soehartono (dovo :4) menegaskan bahwa pengumpulan data dalam

penelitian kualitatif tidak menggunakan kuesioner berstruktur seperti alat ukur untuk

vanabel tertentu. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif temtama

menggunakan pengamatan berperan serta (participant observation), dan juga

wawancara mendalam (m-depth interview), analisis ,si (content analysis), serta

beberapa lainnya. Dalam pengamatan berperan serta pembuatan catatan dilakukan

sesegera mungkin setelah pengamatan selesai dilaksanakan.

Penelitian kualitatif sangat mendasarkan din pada desknpsi, perbandingan,

pengamatan, analisis isi, tinjauan histons, dan proses single-subjeck. Jadi, penelitian

kualitatif menggunakan manusia sebagai suatu kesatuan secara utuh dan tidak

. direduksi menjadi variabel-variabel.

Diperlukannya observasi atau pengamatan secara langsung maupun tidak

langsung adalah, sebagai langkah untuk memperoleh data-data atau informasi

mengenai tindakan-tindakan yang mencermmkan kmerja dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya. Cara im dimaksudkan untuk mendapatkan data yang cermat,

faktual dan kontekstual.

Moleong (1996 : 112) dengan mengutip pendapat Lofland dan Lofland yang

menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan

tindakan. Kata-kata tersebut terangkap melalui seangkaian wawancara yang telah di

persiapkan secara matang, baik berupa wawancara yang bersifat terbuka maupun

(34)

74

Wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka ditunjukan

untuk mendapatkan data atau informasi yang lengkap dan mendalam, sedangkan

wawancara terstruktur lebih ditujukan untuk menjaga agar wawancara dapat

berlangsung, tetap pada konteks permasalahan penelitian dan untuk meyakinkan

kebenaran data yang bersifat spesifik. Wawancara yang diarahkan pada suasana

dialogis ini dilakukan beralang-ulang kepada responden hingga mencapai kejenuhan,

dalam pengertian peneliti telah menemukan hal-hal yang berkaitan dengan faktor

yang diteliti.

Studi dokumentasi dilakukan untuk melacak berbagai informasi yang

berkaitan dengan keterlibatan stakeholder dalam strategi perencanaan pendidikan

pada UNTIRTA Banten dan STIA MY Banten. Dokumen-dokumen yang dikaji

antara lain; Rumusan Visi, Misi dan Tujuan Lembaga, Konsep Strategi Perencanaan

Pendidikan, Rencana Induk Pengembangan, Bukti keterlibatan Stakeholder Internal

maupun Ekstemal, Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Tenaga Edukatif,

Bentuk Pengembangan PTS tersebut, serta Laporan Kegiatan.

Studi ini sangat penting sebagai produk nyata yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai keterlibatan Stakeholder (Internal atau Ekstemal)

dalam merumuskan strategi perencanaan pendidikan pada kedua PTS tersebut.

Sekaligus dapat digunakan sebagai bahan 'trianggulasi' dan 'member check'

(35)

75

Sebagai kelengkapan catatan lapangan (field notes) dan ketelitian data yang

diperoleh, peneliti melengkapi diri dengan buku catatan dan tape recorder,

peralatan-peralatan tersebut digunakan untuk "mencatat" informasi verbal maupun non-verbal

selengkap mungkin.

Sedangkan Instrumen penelitian yang di maksud adalah peneliti sendiri

(human instrument), karena manusia mempunyai adaptabilitas tinggi serta responsif

terhadap situasi yang berubah-ubah yang terjadi selama penelitian berlangsung.

Selain itu, sebagai menusia peneliti memiliki kemampuan untuk menjelaskan kepada

responden tentang sesuatu yang kurang dipahami, juga memiliki kemampuan untuk

menggali sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya, tidak diduga atau tidak lazim yang dapat memperdalam makna penelitian (Nasution, 1990 : 55-66).

D. Tahap-tahap Penelitian

Usaha mempelajari penelitian kulitatif tidak terlepas dan usaha pengenalan

tahap-tahap penelitian. Tahap-tahap penelitian kualitatif dengan salah satu ciri pokoknya peneliti menjadi sebagai alat penelitian, menjadi sebagai alat penelitian, menjadi berbeda dengan tahap-tahap penelitian non-kualitatif. Khususnya analisa

data ciri khasnya sudah dimulai sejak awal pengumpulan data.

Kirk dan Miller (Moleong, 1994) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif memiliki empat tahapan antara lain; (1) Invensi; (2) Kegiatan Lapangan; (3)

Penafsiran; dan (4) Eksplanasi. Kemudian Nasution (1992 : 85) membagi langkah

penelitian kualitatif terdiri dari tiga tahapan : (1) Tahap orientasi; (2) Tahap

(36)

76

Menurut Bogdan (Moleong, 1993 : 85) mengatakan bahwa pelaksanaan

sesuatu penelitian terdiri dari tiga tahapan, yaitu; (1) Pra-lapangan; (2) Kegiatan

lapangan; (3) Analisis intensif.

Tahapan-tahapan penelitian yang diajukan oleh Nasution tersebut adalah

sebagai berikut:

Tahap orientasi, yaitu berupa penelitian awal dengan tujuan memperoleh

gambaran permasalahan yang lebih lengkap guna memantapkan fokus penelitian.

Tahapan ini terdiri dari langkah-langkah :

(a) Menjajaki dan menilai kondisi lapangan, setelah peneliti membaca terlebih

dahulu tentang situasi dan kondisi lapangan yang berhubungan dengan

permasalahan penelitian;

(b) Memilih dan menggunakan informasi, yaitu memafaatkan orang-orang

yang-layak dipilih dan dipercaya memberikan informasi mengenai masalah penelitian

ini;

(c) Menyiapkan perlengkapan penelitian yaitu jauh sebelumnya dipersiapkan

pedoman wawancara, observasi, kamera/foto, alat rekaman atau tape recorder.

Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak terkait yang berada pada kedua PTS

tersebut, seperti; Penguras Yayasan, Para Pejabat Struktural, Dosen Yayasan,

Mahasiswa, Tokoh-tokoh Masyarakat Pengamat Pendidikan, Pemerintahan

Daerah dan Dunia Usaha;

(d) Melakukan adaptasi atau penyesuaian dengan situasi lapangan, dan peneliti

(37)

77

Tahap eksplorasi, terdiri dari kegiatan; (a) melakukan pemahaman latar

penelitian dan mempersiapkan diri untuk melakukan penelitian, memperoleh data

dengan sikap yang selektif, menjauhi keadaan yang akan mempengaruhi data,

mencari informasi yang relevan dan selalu berpedoman pada masalah penelitian; (b)

ke lapangan dengan menjaga hubungan keakraban dan menyadari tugas sebagai

peneliti pada objek penelitian; (c) mengumpulkan data sesuai dengan masalah

melalui teknik pengumpulan data, yaitu melalui wawancara dengan strategi setiap

tahapan wawancara yang telah dilakukan, peneliti menyusun deskripsi hasil

wawancara berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan.

Hal itu dilakukan untuk membantu kemudahan analisis data dan untuk

menemukan pola jawaban dengan cara reduksi data. Terkait dengan deskripsi yang

telah dibuat, peneliti membuat catatan terpisah bempa catatan refleksi yang

merupakan pandangan peneliti dalam melihat permasalahan penelitian.

Tahap member check terdiri dari tiga kegiatan : (a) melakukan korfimasi

terhadap data yang diperoleh dengan mengecek kebenaran data bersama pihak

informan untuk memberikan tanggapan-tanggapannya sebagai langkah re-check

kebenaran data; (b) melakukan kegiatan yang sifatnya trianggulasi yakni

menuntaskan kebenaran data dan meminta tanggapan mengenai data yang diperoleh

dengan pihak ketiga yang relevan dan diyakini dapat memberikan informasi tentang

(38)

78

Tahap ini pada prinsipnya dilakukan dengan verifikasi data yaitu mengecek

validitas data yang dimaksudkan untuk mengecek kebenaran informasi-informasi

yang telah dikumpulkan agar hasil penelitian dapat dipercaya. Pengecekan informasi

ini dilakukan setiap kali peneliti selesai melakukan wawancara yakni dengan

mengkonfirmasikan catatan-catatan hasil wawancara. Dalam wawancara itu juga

dapat mungkin disimpulkan bersama-sama dengan informan.

E. Prosedur Analisis Data

Nasution (1998); menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi oleh peneliti

kualitatif dalam menganalisis data adalah tidak adanya prosedur baku yang dapat

dijadikan pedoman atau pola analisis data. Pendapatnya, bahwa "Analisis data

memerlukan daya kreatif serta kemampuan intelektual yang tinggi. Lagi pula tidak

ada cara tertentu yang dapat diikuti untuk mengadakan analisis, sehingga setiap

peneliti harus mencari sendiri metoda yang dirasakan cocok dengan sifat

penelitiannya.

Moleong (1996 : 104), berpendapat bahwa karakter analisis dalam penelitian

kualitatif berlangsung secara induktif dan terus menerus, dengan kata lain analisis

data ini dilakukan dalam suatu poses yang berarti pelaksanaannya sudah dilakukan

semenjak pengumpulan data dan dikerjakan secara lebih intensif lagi sesudah

meninggalkan lapangan. Miles dan Huberman (1984 : 21) menjelaskan bahwa

pengolahan dan analisis data dilaksanakan semenjak awal hingga selesai penulisan

(39)

79

Bogdan dan Biklen (1982 : 154-149) memisahkan proses analisis data atas ']",jj

analisis selama di lapangan dengan analisis setelah data terkumpul dan kegiatan

lapangan telah cukup memadai.

Berdasarkan pada keterangan di atas, maka prosedur penglolahan dan analisis

data meliputi kegiatan :

1.

Reduksi data; dilakukan dengan cara memilih data yang sudah disusun dalam

laporan lapangan, kemudian menyusunnya kembali dalam bentuk uraian atau

laporan yang lebih terperinci. Selanjutnya laporan yang direduksi dirangkum

dan dipilih berdasarkan hal-hal pokok serta difokuskan pada hal-hal penting

dan relevan dengan fokus penelitian.

Kategorisasi data; data atau informasi yang diperoleh diidentifikasi satuan

anahsisnya dan altematif kategori yang dimungkinkan untuk satuan analisis

tersebut. Tahapan proses analisisis ini dilakukan dengan cara mengorganisasi

data dan membangun kategori. Organisasi data, dilakukan dengan membuat

kode berdasarkan pertanyaan penelitian, membuat pengertian untuk

memeriksa tulisan-tulisan, melihat pada kode-kode utama untuk setiap

pertanyaan penelitian, membangun kategori, karena interaksi antara teori dan

data (Huberman, 1984). Kategori dilihat dari kemiripan unsur-unsur yang

terkandung dalam suatu aspek atau unsur-unsur yang membedakan antara

satu aspek dengan yang lainnya. Kategori dalam studi ini dilihat berdasarkan

(40)

80

Nasution (1988 : 129-150) menyarankan, bahwa selesai analisis data dengan

tahapan diatas, dilakukan juga prosedur reduksi data, display data, kesimpulan dan

verifikasi;

1.

Reduksi data, dilakukan dengan menelaah kembali seluruh catatan lapangan

yang diperoleh dari hasil wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi

dengan tujuan untuk menemukan hal-hal pokok atau penting yang berkenaan

dengan fokus penelitian yakni keterlibatan stakehoder UNTIRTA Banten dan

STIA MY Banten (Internal dan Ekstemal) dalam merumuskan strategi

perencanaan pendidikan. Selanjutnya hal-hal pokok tersebut dirangkum

dalam susunan yang lebih sistematis sehingga dapat diketahui dengan mudah

makna tema atau polanya.

2.

Display data, dan pola yang tampak di atas, yang dimaksud adalah display

data, selanjutnya dapat ditarik kesimpulan, sehingga data yang dikumpulkan

menjadi memiliki makna tetentu.

3.

Kesimpulan dan Verifikasi, menarik kesimpulan data penelitian untuk

memantapkannya, maka dilakukan verifikasi melalui member check maupun

trianggulasi. Sehingga proses verifikasi kesimpulan ini dapat berlangsung

(41)

81

F. Validitas Penelitian.

Nasution (1992 : 105) Menjelaskan mengenai validitas penelitian, dengan

pemyataan :

Keabsahan data merupakan konsep penting dari konsep kesahihan

(validitas) dan keandalan (realibilitas) menurut versi "Positivisme".

Validitas membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan

apa yang sesungguhnya ada dan terjadi dalam dunia kenyataan, dan

apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia nyata memang sesuai

dengan yang sebenarnya ada atau terjadi.

Selanjutnya, Nasution (1992 : 149-151) mengungkapkan bahwa validitas

menilai proses dan produk dengan kriteri-kriteria, yaitu Kredibilitas,

Transferabilitas, Dependabilitas, dan Konfirmabilitas, secara aktual usaha memenuhi

kriteria tersebut di jelaskan dalam uraian di bawah ini:

1. Kredibilitas, merupakan salah satu ukuran tentang kebenaran data yang

dikumpulkan. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif menggambarkan

kecocokan konsep peneliti dengan konsep yang ada pada responden atau

nara-sumber. Untuk memenuhi kriteria ini dilakukan upaya antara lain:

a. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengenai baik responden maupun

keadaan lapangan, sehingga mendapatkan kesempatan yang

sebaik-baiknya dalam mengumpuikan dan re-check semua data yang diperlukan.

b. Mempelajari fokus penelitian secara mendalam melalui observasi secara

penuh dan terus menerus.

c. Melakukan trianggulasi melalui pengecekan kebenaran data pada sumber

(42)

82

d. Mendiskusikan hasil penelitian dengan pihak yang relevan seperti teman

sejawat, dan lainnya yang mengetahui ihwal penelitian ini atau peer

debriefing.

e. Melakukan komparasi penelitian ini dengan penelitian lainnya.

f Meminta penilaian reponden terhadap kebenaran data, tafsiran, dan

kesimpulan atau melakukan member-check.

2. Transferabilitas, mencapai kriteria penelitian ini tergantung dari pengguna

yang memanfaatkan pada suatu situasi tertentu dalam mengupayakan untuk kemungkinan dapat diaplikasikan pada situasi dan kondisi yang lain.

Karenanya dilakukan deskripsi data yang disusun secara rinci dan jelas. 3. Dependabilitas, tercapainya kriteria ini diupayakan agar pengumpulkan data,

pembentukan dan penggunaan konsep, pembuatan penafsiran serta

kesimpulan penelitian dijaga agar tetap konsisten.

4. Konfirmabilitas, pencapaiannya dilakukan melalui audit-audit trail dalam

mengupayakan agar hasil penelitian sesuai dengan data dan merapakan satu

kesatuan. Kegiatan audit trail antara lain;

a. Merekam dan mencatat data inentah selengkap mungkin untuk

digunakan sebagai bahan analisis selanjutnya.

b. Menganalisis data dengan menyeleksi, merangkum, kemudian

menyusun kertibali, dan melakukan pembahalan dengan arahan

pembimbing.

c. Menarik kesimpulan berdasarkan analisis data

(43)

83

Dengan upaya dan berbagai langkah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian

ini diharapkan akan diperoleh data dan informasi yang lengkap, sehingga dapat

dijadikan dasar bagi pembahasan penelitian yang mengkaji tentang keterlibatan

stakeholder dalam strategi perencanaan pendidikan pada Universitas Tirtayasa

Banten dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Maulana Yusuf Banten di

(44)

I

i nT>*mV" "Ssr si i. > f £eri::w;Ms:::^!:;»«srafflffl!HiwKM!-s;:»

(45)

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang akan diuraikan adalah merapakan pokok-pokok pikiran

yang didasarkan atas hasil penelitian melalui pembahasan yang didukung kajian

kritis terhadap tinjauan pustaka yang relevan. Karena itu, dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut:

1. Salah satu sub sistem yang sangat strategis posisinya dalam suatu sistem

perencanaan strategis adalah stakeholder yang berpengarah terhadap perumusan

visi dan misi UNTIRTA Banten dan STIA Maulana Yusuf Banten.

2. Menuju pada pemahaman stakeholder, dapat dilakukan melalui analisis

stakeholder dengan beberapa aspek yang penting untuk dikaji diantaranya; makna

stakeholder, peranan stakeholder dalam sistem perencanaan, proses analisis stakeholder, dan sumber-sumber kekuatan stakeholder pada kedua PTS tersebut, yang memiliki perbedaan-perbedaan dalam melakukan analisisnya.

3. Umumnya, keterlibatan stakeholder untuk berpartisipasi aktif pada kegiatan

pendidikan, adalah jika mereka termotivasi dengan kepentingannya yang selalu

diperhatikan dan diposisikan pada komponen yang memiliki kekuatan.

(46)

154

4. Merumuskan perencanaan pendidikan pada UNTIRTA dan STIA, para

komponen stakeholder belum melakukannya dengan

maksimal dalam

mempertimbangkan pihak-pihak yang berkepentiangan, baik yang ada dalam

organisasi tersebut maupun pihak-pihak berkepentingan yang berada di luar

organisasi, sehingga menciptakan hubungan yang kurang harmonis.

5. Untuk dapat menghindari kondisi yang kurang menguntungkan bagi kedua PTS

tersebut, maka dalam memmuskan strategi perencanaan didorong untuk mampu

menyeimbangkan berbagai kepentingan yang bermakna, sehingga pada

implementasinya, strategi perencanaan yang dirumuskan tidak hanya memuaskan

sekelompok komponen stakeholder.

6. Proses analisis stakeholder pada kedua PTS itu, dapat diarahkan kepada dua

kegiatan utama, yaitu :

a. Identifikasi stakeholder (baik yang bersifat perorangan maupun kelembagaan)

dan jenis kepentingannya. Berdasarkan siatusi yang diamati memperiihatkan

perbedaan dikedua PTS tersebut, yang mana UNTIRTA sedang menuju

kepada pemahaman yang positif dalam melakukan identifikasi stakeholder,

dan juga bersikap responsif dalam menghadapi isu-isu aktual tentang

pengembangan pendidikan. Sebaliknya STIA, belum tergambar secara

menggembirakan mengenai tingkat pemahamannya terhadap identifikasi

(47)

155

b. Pemetaan Stakeholder., dalam analisis ini yang penting dilakukan adalah

penilaian (judgment) terhadap kepentingannya, melalui penentuan kriteria

penilaian mengenai:

-

Cara stakeholder dalam mengemukakan kepentingannya terhadap

organisasi;

- Kemampuan atau kekuatan untuk menekan organisasi agar

memperhatikan dan memenuhi kepentingannya;

- Dampak kepentingan stakeholder terhadap strategi organisasi dimasa

yang akan datang.

Jawaban terhadap kriteria penilaian di atas, kedua PTS memperiihatkan

fenomena yang berbeda. Jika disimak secara mendalam, kondisi UNTIRTA

memberikan optimisme dalam melakukan pemetaan stakeholder dengan

didukung pemetaan terhadap KKPA (kekuatan, kelemahan, Peluang dan

Ancaman). Namun, STIA tidak tergambarkan nilai optimismenya dalam

analisis pemetaan stakeholder, karena kondisi yang ada pada masing-masing

komponen stakeholder, kurang saling mendukung terhadap berbagai

lnovasi-inovasi untuk pengembangan STIA.

7. Merumuskan strategi perencanaan, kedua PTS secara bertahap

berupaya

mengidentifikasi sumber kekuatan stakeholder. Hal ini dimengerti sebagai

sesuatu yang penting sekali, karena dengan identifikasi sumber kekuatan

stakeholder yang ada di dalam dan di luar PTS tersebut, akan memudahkan para

komponen stakeholder untuk mengembangkan strategi perencanaannya secara

(48)

156

8. Dalam penerapan strategi perencanaan pendidikan tidak terlepas dari penetapan

dan penerapan visi dan misi organisasi. Penetapan dan penerapan visi dan misi

dari suatu organisasi sangat ditentukan oleh komponen stakeholder. Seperti yang

tergambar pada penetapan visi, misi dan strategi UNTIRTA tahun 2000-2004,

yang akan ditetapkan dalam acara Raker awal tahun 2001, dengan melibatkan

seluruh komponen stakeholder. Sedangkan pada STIA belum terencana dengan

jelas. Seharanya disadari bahwa penerapan strategi selalu memberikan sebuah

keuntungan, sehingga jika prosesnya yang dilakukan gagal untuk menciptakan

perubahan, maka proses tersebut terjadi mis-manajemen.

9. Strategi perencanaan dalam suatu sistem dituntut memperhatikan faktor

lingkungan masyarakat dan lingkungan kelembagaan sendin. Kedua jenis

lingkungan tersebut, penting sebagai pertimbangan, karena perencanaan yang

akan disusun dimaksudkan agar sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.

Hal inilah yang mulai direspon UNTIRTA dengan memposisikan stakeholder

internal dan ekstemal secara optimal.

10. Perencanaan pendidikan erat hubungannya dengan perkembangan sosial-kulturai,

politik dan ekonomi yang tumbuh dimasyarakat. Seperti yang tergambar pada

rencana pengembangan UNTIRTA, dengan semakin terbukanya wawasan

akademis dan budaya masyarakat, kemudian didukung situasi politik yang

menguntungkan (adanya arus reformasi), sehingga iklim yang kondusif mulai

terasa pada dunia pendidikan, yang secara langsung bagi UNTIRTA adalah

proses untuk menjadi Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Banten

(49)

157

B. Rekomendasi

Beberapa kesimpulan yang terangkap di atas, memberikan implikasi secara

deduktif dengan maksud bahwa kajian kritis dari pembahasan penelitian ini, tidak

hanya berlaku untuk kedua PTS tersebut, namun dapat diadaptasikan pada PTS

lainnya.

Sehingga secara khusus, peneliti bertanggung jawab berdasarkan wawasan

keilmuan yang dimiliki untuk memberikan usulan, saran, dan nasehat dalam bentuk

rekomendasi sesuai kajian penelitian, sebagai bahan renungan untuk didiskusikan.

1. Pemahaman secara seksama tentang perlunya melibatkan stakeholder dalam

perencanaan pendidikan, hendaknya mampu disosialisasikan kepada seluruh

komponen stakeholder sampai pada upaya yang optimal.

2. Perumusan visi, misi dan strategi kedua PTS tersebut, secara konseptual harus

segera terwujud dan tersosialisasi dengan konsep 'membumikan visi, misi dan

strategi UNTIRTA Tahun 2000-2004, agar proses penegrian seirama senyan

dinamika stakeholder yang memahami perencanaan pengembangan organisasi.

Khusus untuk STIA yang masih jauh dari konsep tersebut diperlukan adanya

percepatan di dalam merespon persaingan PTS di daerah.

3. Sebagai upaya melibatkan selurah komponen stakeholder, maka perlunya

dilakukan identifikasi stakeholder secara lengkap dan menyelurah dari kedua

PTS. Kemudian dengan tindakan pro-aktif masing-masing stakeholder tersebut

saling melakukan check and balance, sehingga akan tercipta hubungan yang

(50)

158

4. Secara khusus untuk pengelola STIA, dalam hal ini unsur yayasan perlunya

memahami.dengan cermat dengan wawasan kependidikan yang luas, sehingga

akan dapat merabah pandangan dalam pengelolaan lembaga pendidikan ke arah

yang produktif dengan menetapkan strategi perencanaan pendidikan yang jelas.

Jika tidak mampu untuk merabah manajemen yang dijalankan selama ini yang

mengundang image negatif masyarakat, maka akan tertinggal jauh dari kompetisi

PTS-PTS lainnya.

5. Langkah persiapan yang dilakukan UNTIRTA menuju pada proses Universitas

Negeri, hendaknya tidak sekedar karena Political Will pemerintah yang akan

mampu merabah image masyarakat. Namun, yang terpenting adalah mesti

diiringi dengan perubahan nilai moralitas dan budaya akademik kampus yang

mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan UNTIRTA

sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi yang menjanjikan kualitas lulusannya.

6. Kedua PTS tersebut hendaknya terus mengkaji dan mengevaluasi posisi KKPA

(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) sebagai pendorong kinerja,

sehingga akan lebih memahami keberadaannya pada posisi yang diketahui.

Bagaimana kekuatan yang dimiliki dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan ?

Kapan kelemahan yang ada dapat dihilangkan ?

Seperti apa peluang yang

diperoleh dapat dimanfaatkan ?

dan dengan cara apa ancaman yan dihadapi

(51)

159

7. Dalam program pengembangan, seyogyanya kedua PTS mengacu pada Statuta /

RIP (rencana induk pengembangan) yang mutlak dimiliki, karena statuta

berfungsi sebagai inspirator, motivator bagi pengembangan perguraan tinggi

sesuai visi, misi dan pedoman perguraan tinggi tersebut, jika tidak dimiliki dapat

dipastikan pengembangannya akan tertinggal oleh PTS lain.

8. Upaya pemberdayaan stakeholder seharusnya tidak terbatas pada kegiatan-kegiatan formal di tingkat fakultas atau universitas (seperti acara raker), tetapi

secara informal mampu diciptakan oleh unsur pimpinan suasana dialogis (misalnya dalam diskusi-diskusi atau dialog-dialog ringan) dengan tujuan menyerap dan menjaring pemikiran-pemikiran ke arah kemajuan pendidikan,

dan yang terpenting adalah pengakuan lembaga terhadap posisi masing-masing

(52)

•IS""-* • 1r t . ::. :....::..::.-:.lsL-:riatjsq-Kt-;::.:"•R""iB!tB:"BESKM!:q—•.

iKiSKSriiS:"^"'-^

•stasia: --•:-:•-;:". -, t I--.B •"«r:ir:B>«j^;ja.:SK«B:S!M!»-!...

(53)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku

Abin Syamsuddin, (1998), Analisis Posisi Pembangunan Pendidikan dan

Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.

Agustinus Sri Wahyudi, (1996), Manajemen Strategi; Pengantar Proses Berpikir

Strategik, Jakarta, Binarupa Aksara.

Ananto KS dan Rokhmat Wahab, (1998), Analisis Stakeholder Pembangunan

Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan Sekjen. Dikti

Depdikbud.

A. Tumangung, A.Shofyanis, (1998), Pelaksanaan Pembangunan Pendidikan dan

Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.

Azis A. Wahab, (1987), Educational Management, IK1P Bandung.

Bambang Tri Cahyono, (1999), Manajemen Strategi, Jakarta, Badan Penerbit IPWI.

Banghart W.F. Trull Jr Albert, (1973), Educational Planning, New York: The

Macmillan Company.

Benis G Wame, Kenneth and Robert, (1985), The Planning of Change, New York: CBS College Publishing.

Coombs Philip H, (1982), Apakah Perencanaan Pendidikan Itu ? Jakarta, Bhatara

Karya Aksara dan Unesco.

Conry R. Semiawan, (1991), Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional

MenjelangAbad-21, Jakarta, PT. Gramedia.

David Faulkner & Cliff Bauma, (1997), The Essense Of Competitive Strategy, Yogyakarta, Penerbit ANDI.

(54)

161

Djam'an Satori, Abin Syamsuddin, (1998), Sasaran Pembangunan Pendidikan dan

Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.

Edward Sallis, (1993), Total Quality Management in Education, British Library.

Engkoswara, (1999), Menuju Indonesia Modern 2020, Yayasan Amal Keluarga.

Fakry Gaffar, (1987), Perencanaan Pendidikan; Teori dan Metodologi, Jakarta,

Depdikbud.

Freddy Rangkuti, (1999), Analisis SWOT; Reorientasi Konsep Perencanaan

Strategis untuk Menghadapi Abad 21, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Freeman R. Edward, (1995), Manajemen Strategik; Pendekatan Terhadap

Pihak-Pihak Berkepentingan, Jakarta, PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Gannon J Martin, (1979), Organizational Behavior; A Managerial and

Organizational Perspective, Printed in the USA.

Gregory H. Watson, (1997), Strategic Benchmarking, Jakarta, PT. Gramedia

Pustaka Utama.

Hari Prasetyo, Yani S, Triono S, (1998), Pengendalian Strategis dan Operasional

dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Pendidikan dan

Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.

Hadari Nawawi, (1998), Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta, Gajah Mada

University Press.

H.A.R. Tilaar, (1998), Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional; dalam

PerspektifAbad-21, Jakarta, Tera Indonesia.

lman Barnadib, (1997), Filsafat Pendidikan; Sistem dan Metode, Yogyakarta. Andi

Offset.

Lawrence R. Jauch & William F. Glueck, (1994), Manajemen Strategis Kebijakan

Perusahaan, Jakarta, Penerbit Erlangga.

Mochtar Buchori, (1994), Pendidikan Dalam Pembangunan, Jakarta, IKIP

Muhammadiyah Press.

Moleong, Lexy J, (1991), Metodologi Penelitian Kualitatif BandungRosdakarya.

Made Pidarta, (1988), Perencanaan Pendidikan Partisipatori; Dengan Pendidikan

(55)

162

Mimbar Pendidikan, (1995), Strategi Pembangunan Pendidikan; Visi 2020, IKIP Bandung.

Muhammad Ali, (1994), Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung, Angkasa.

Nanang Fatah, (2000), Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung, PT. Remaja

Rosda Karya.

Nasution S, (1992), Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung, Tarsito.

Oemar Hamalik, (1999), Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Bandung,

Mandar Maju.

Paulo Freire, dkk, (1999), Menggugat Pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Rochmat Wahab, Ananto KS, (1998), Analisis Misi dan Visi Pembangunan

Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.

Rowe J. Alan, Dickel, Mason, Snyden, (1990), Strategic Management; A

Methodological Approach, Canada, Addison-Wesley Publishing Company.

Setiawan HP., Zulkieflimansyah, (1988), Manajemen Strategi; Sebuah Konsep

Pengantar, Jakarta, Lembaga Penerbit FEUI.

Sudarja A, (1988), Sosiologi Pendidikan, Isyu dan Hipotesis tentang Hubungan

Pendidikan dan Masyarakat, Jakarta, Depdikbud Dirjen Dikti P2LPTK.

Sugiyono, (1993), Metode Penelitian Administrasi, Bandung, Alfabeta.

Sudjana, (1990), Teknik Analisis Data Kualitatif, Bandung, Tarsito.

Sumamo, Ananto KS, (1998), Strategi Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan,

Jakarta, Biro Perencanaan, Sekjen Depdikbud.

Steiner, George A, (1992), Strategic Planning, Macmillan Publishing Co. Inc,

United State of America.

Taliziduhu Ndraha, (1988), Manajemen Perguruan Tinggi, Jakarta, PT. Btna Aksara. The Drucker Foundation, (1997), The Organization Of The Future, Jakarta, PT. Elex

Media Komputindo.

(56)

162

B. Dokumen-Dokumen

Dirjen Dikti, (1999), Peraturan Pemerintah RI Nomor. 60 Tahun 1999, tentang

Pendidikan Tinggi, Jakarta, Depdikbud.

(1999), Peraturan Pemerintah RI Nomor. 61 Tahun 1999, tentang

Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum, Jakarta, Depdikbud.

(2000), Panduan Asistensi Penyusunan Statuta Perguruan Tinggi

berdasarkan PP. Nomor. 60 Tahun 1999, Jakarta, Depdiknas.

_, (2000), Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi dan Tantangan

Perkembangan Mutakhir Ootonomi, Desentralisasi dan Reformasi, Jakarta,

Depdiknas.

UNTIRTA, (1995), Rencana Induk Pengembangan UNTIRTA Tahun 1995 1996

1999/2000, Serang.

, (2000), Pokok-pokok Program dan Kebijakan Pengembangan UNTIRTA

Banten Tahun 2000-2004, Serang.

(2000), Buku Kenang-kenangan Wisuda Sarjana ke-XHl dan Diploma

ke-V, Persiapan Universitas Negeri Sultan Agung Tirtayasa Banten, Serang,

Biro Akademik.

Gambar

Gambaran Stakeholder UNTIRTA dan STIA
Gambar. 1.1Skema Paradigma Penelitian
Tabel. 3.1

Referensi

Dokumen terkait

Karena itu, ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan

Passive footprinting adalah proses mengumpulkan data atau menggali informasi terhadap sebuah sistem, namun dalam proses ini tidak melibatkan korban atau sistem secara langsung,

Pada pengujian data testing, identifikasi motif dalam masing-masing citra testing dilakukan menggunakan model-model klasifikasi dengan memanfaatkan sliding window

Dari kerangka pikir diatas dapat diinterpretasikan bahwa untuk mengetahui adanya perbedaan kinerja bank umum konvensional dan bank umum syariah, peneliti membandingkan

Seluruh pegawai Museum Manusia Purba Gilimanuk yang telah menerima penulis dengan baik serta memberikan izin pengambilan sampel terhadap kapak perunggu tipe jantung koleksi

Kondisi demikian menunjukkan bahwa, pemberian pakan suplemen MBPM dapat mempunyai nilai ekonomi lebih baik dalam mempercepat muncul berahi pada sapi induk Brahman Cross

Dalam pendekatan sistem, identifikasi sistem pengolahan gula dilakukan dengan evaluasi aspek yaitu aspek lingkungan dan aspek sosio-teknik.. Aspek lingkungan mengevaluasi

Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan sistem yang ditunjang dengan basis data spasial dan metode shortest path pada aplikasinya dapat menghemat waktu dan