• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnalisme Damai Dalam Pemberitaan Konflik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jurnalisme Damai Dalam Pemberitaan Konflik."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

iv ABSTRACT

According to mass media sight, conflict constitutes “something wanted and hunted”. On the causal of news conflict sharing enable to encourage the rating. Broadcasting greatest conflict that shared by media is business chance and most wanted things in public view. Apart from the fact that several mass media not necessarily inform suit news and often deny the factual that occurred in field. The hopeful of news becomes public choice or readers option. Media doesn’t become conflict solution but source of conflict.

In a once genre modern journalism, it’s known peace journalism to broadcast conflict. By definition, mass media devotion influenced with several factors: for instance media extra (media extra), media routine and media ideology. Among mass media that incorporated into peace journalism principle is Pikiran

Rakyat. This media is soft, kind, sensible and polite. Meanwhile, Republika was

claimed as Moslem media. The two media labels not necessarily undertake peace journalism when broadcast Ahmadiyah conflict in West Java.

This research used qualitative approach with case study method. The hopeful of this study is to know creating news process, newsroom decision, information sources and working principle in creating news of Ahmadiyah conflict in the daily news of Pikiran Rakyat and Republika according to peace journalism perspective.

The result of this research found several facts. First, creating news process of Ahmadiyah conflict is done with certain step; for instance, collecting information, examining, mapping and then field study (journalist creates news in the field). In this process, the two mass media have used peace journalism. It means, the whole information that received by mass media must be mapped and conformed. It’s probable to simplify way out (a peace way) if the conflict occurred.

Second, issue decision prescribed by newsroom decision, journalist

criteria, news language and shaping news must be based on peace journalism standard. And the two mass media like Pikiran Rakyat and Republika always ask journalists to report about conflict and avoid the differences, adjective and negative label.

Third, the broadcasting of Ahmadiyah conflict was concord with peace

journalism role. It means, the two media ask each journalists to involve informers (the source of information) when they create news rightly.

Fourth, working principle in creating news of Ahmadiyah conflict based

(2)

v ABSTRAK

Konflik merupakan sesuatu yang ’dinanti’ dan diburu oleh media. Karena dengan melakukan pemberitaan konflik media bisa meningkatkan rating. Semakin besar konflik semakin tinggi pula peluang media tersebut diburu orang. Namun dalam tugasnya, tidak sedikit media yang memelintir fakta, dengan harapan beritanya menjadi pilihan pembaca. Media alih-alih menjadi solusi atas konflik, tetapi malah menjadi pemantik konflik.

Di dalam salah satu genre jurnalisme modern, dikenal jurnalisme damai untuk meliput konflik. Namun pada praktiknya media pun dipengaruhi beberapa faktor, seperti ekstra media, rutinitas media dan ideologi media. Dan di antara media yang menganut prinsip jurnalisme damai adalah Pikiran Rakyat, yang dikenal sebagai media santun dan lembut. Kemudian Republika, yang diklaim sebagai media Islam. Namun label kedua media tersebut menyisakan pertanyaan, apakah kedua media ini benar-benar mempraktikkan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik Ahmadiyah di Jawa Barat?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan harapan ini bisa mengetahui proses meliput, kebijakan redaksi, sumber informasi, dan prinsip kerja dalam pemberitaan konflik Ahmadiyah di Harian Umum Pikiran Rakyat dan Republika dalam perspektif junalisme damai.

Dari hasil penelitian ditemukan beberapa fakta, pertama, proses liputan jurnalis dalam konflik Ahmadiyah melalui tahap pengumpulan informasi, pengujian, pemetaan dan jurnalis meliput ke lapangan. Pada proses ini, kedua media telah mempraktikkan jurnalisme damai, yaitu pada proses informasi yang diterima media (jurnalis) dipetakan konflik prakekerasan sehingga mudah mencari jalan damai.

Kedua, kebijakan redaksi dalam penentuan isu, kriteria jurnalis, bahasa

berita, pemuatan berita sudah memenuhi standar jurnalisme damai. Di mana kedua media ini senantiasa meminta jurnalisnya melaporkan dari daerah konflik dan menghindari perbedaan antara kedua pihak yang sedang bertikai, menghindari adjektif, menghindari label negatif.

Ketiga, sumber berita dalam pemberitaan konflik Ahmadiyah sudah sesuai

dengan kaidah jurnalisme damai, yaitu dalam setiap pemberitaannya kedua media meminta para jurnalisnya untuk melibatkan narasumber dari kedua belah pihak yang bertikai dengan identitas yang benar.

Keempat, prinsip kerja dalam meliput konflik Ahmadiyah kedua media

Referensi

Dokumen terkait

The purpose of this research is to know the mecanism of Detikcom ’s journalists from gathering, processing, until developing the news of an Indonesian perish in

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) Observasi dokumentasi, yaitu mencermati pemberitaan tentang konflik Keraton Kasunanan Surakarta di SKH SOLOPOS

Tidak hanya raja yang tertahan masuk ke Keraton, abdi dalem dan sentana pro rekonsiliasi juga tidak bisa memasuki Keraton karena sejumlah pintu masuk Keraton tertutup rapat..

Definisi konseptual yang mendasari penelitian penulis ialah dengan melihat beberapa karakteristik jurnalisme damai dan juga tipe peliputan berita mengenai jamaah

” (Komunikasi massa di bedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai

Bila hanya terfokus pada siapa pihak yang berkonflik dan kekerasan yang mereka lakukan saat berkonflik, maka masyarakat tidak akan mengetahui mengapa pihak-pihak

Solusi yang terdapat pada pemberitaan konflik etnis Rohingya dan militer Myanmar di Tirto.id berasal dari narasumber yang dipilih Tirto.id, dan bukan berasal dari redaksi

Tabel 1.1 Jurnalisme Damai dan Jurnalisme Perang 8 Tabel 1.2 Unit Analisis Dan Kategorisasi Urutan Isi Yang Dianalisis 14 Tabel 1.3 Tahap Penyebab Konflik 21 Tabel 1.4 Tahap Proses