37
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis dan Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan sudut pandang paradigma positivistik, yang merupakan paradigma didasarkan pada hukum-hukum yang baku. Ilmu yang dibentuk secara deduktif, berawal dari hal umum dan memiliki sifat abstrak, menuju ilmu yang lebih konkrit dan spesifik (Muslim, 2018, p. 78). Paradigma ini kemudian menciptakan suatu pendekatan penelitian yang disebut kuantitatif, karena didasarkan pada ilmu nomotetik yaitu berasal dari hukum-hukum kausal bersifat universal yang melibatkan beberapa variabel di dalam penelitiannya.
Menurut Sugiyono (2017, p. 8), pendekatan kuantitatif dilandasi oleh filsafat positivisme yang kemudian digunakan untuk mengkaji sebuah populasi dan sampel tertentu. Lewat hipotesis yang dirumuskan, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena ingin mengetahui pengaruh Green Packaging terhadap Minat Beli yang dimediasi oleh Sikap terhadap 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Oleh karena itu sifat penelitian yang dipilih adalah eksplanatif. Menurut Supriyanto & Masyhuri (2010, p.201), sifat penelitian eksplanatif ini untuk menjelaskan hubungan dari beberapa variabel, sehingga peneliti dapat menjelaskan hubungan sebab akibat antara pengaruh Green Packaging terhadap Minat Beli konsumen Aqua yang dimediasi oleh sikap pro-3R terhadap 3R.
38
3.2 Metode Penelitian
Pada penelitian kuantitatif menurut Creswell (2013, p. 16) menggunakan dua metode pengumpulan data, yaitu survei dan eksperimen. Pada penelitian ini menggunakan metode yang pertama yaitu survei, peneliti akan menyebar kuesioner secara daring. Kuesioner ini akan berisi tentang pengaruh Green Packaging terhadap Minat Beli konsumen Aqua yang dimediasi oleh sikap 3R. Dalam menggunakan survei, peneliti perlu memilih kriteria responden yang teridentifikasi sebagai sampel penelitian (Morissan, 2017, p. 125).
Survei ini kemudian digunakan sebagai metode kajian yang memanfaatkan angket sebagai alat peranti untuk mengambil data untuk mendapatkan informasi sejumlah sampel yang dibutuhkan (Krisyantono, 2014, p.59). Kuesioner tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang mewakili setiap variabel. Penelitian ini akan menggunakan skala likert untuk mengukur jawaban responden, skala likert 1-5 yang berarti sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 PopulasiMenurut Bryan (2016, p.548), populasi dapat disebut sebagai keseluruhan bagian yang akan dikaji dalam bentuk sampel penelitian. Populasi dalam penelitian ini merupakan pria dan wanita yang mengetahui program #BijakBerplastik Aqua pada media sosial Instagram Aqua Lestari yang tinggal di DKI Jakarta. Berdasarkan
39
data yang peneliti peroleh, tercatat sejumlah 10,56 juta jiwa penduduk DKI Jakarta menurut berita resmi sensus Badan Pusat Statistik 2020.
3.3.2 Sampel
Setelah menentukan populasi penelitian, penentuan sampel pada penelitian ini dilakukan menggunakan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Teknik non-probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk mengumpulkan sampel dengan tidak memberikan peluang yang sama untuk setiap anggota populasinya (Sugiyono, 2017, p. 84). Sementara itu jenis purposive sampling pada penelitian ini menggunakan kriteria sampel yang ditentukan sesuai syarat yang memenuhi kriteria pada penelitian. Menurut Sugiyono (2017, p.81), sampel adalah bagian dari sejumlah populasi yang sudah ditentukan oleh peneliti, sampel harus bersifat mewakili. Teknik ini mencakup responden yang diseleksi berdasarkan beberapa kriteria tertentu, untuk menunjang penelitian ini (Krisyantono, 2014, p.158). Penelitian ini menggunakan sampel responden yang memiliki KTP Jakarta dan Domisili Jakarta, rentang usia 20 - 44 tahun karena usia ini merupakan usia produktif dalam mengakses internet terutama media sosial Instagram sebagai publikasi informasi Aqua LIFE. Penentuan kriteria sampel ini berdasarkan sasaran program #BijakBerplastik Danone AQUA, yakni selain yang sudah menjadi konsumen Aqua tetapi juga aktif megikuti kegiatan #BijakBerplastik di Instagram. Sementara itu, rentang usia yang ditentukan dalam kriteria sampel dapat ditentukan oleh temuan-temuan survei bahwa usia tersebut tergolong sudah bekerja dan berpenghasilan (bps.go.id, 2021), karena penting untuk dijadikan kriteria untuk
40
melihat pengaruh minat beli konsumen. Jumlah sampel pada penelitian ini mengacu pada Malhotra, dkk (2017, p. 418)
Tabel 3. 1 Ukuran Sampel Marketing Research
Type of study Minimum size Typical Range
Problem Identification 500 1000 - 2.500
Problem Solving research 200 300 - 500
Product test 200 300 - 500
Test marketing studies 200 300 - 500 TV, radio, print or online
advertising 150 200 - 300
Test market audits 10 stores 10 - 20 stores
Focus group 6 groups 6 - 12 groups Sumber: Malhotra, dkk, 2016
Menurut Malhotra (2017, p.418) jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian data menyesuaikan dengan jenis penelitian tersebut. Mengacu pada tabel di atas pada penelitian ini akan melakukan uji terhadap peluncuran produk baru Aqua LIFE. Oleh karena itu, jumlah minimum sampel yang dibutuhkan untuk meneliti
41
Pengaruh Green Packaging minimal 300 responden yang mengetahui program #BijakBerplastik. Penelitian ini akan menguji 347 responden sebagai sampel.
3.4 Operasionalisasi Variabel
Variabel didefinisikan menjadi sebuah konsep yang dapat diidentifikasi dan diukur (Kriyantono (2014, p. 20). Penelitian ini memiliki tiga variabel yang akan diteliti yaitu, Green Packaging, Sikap terhadap 3R, dan Minat Beli.
3.4.1 Variabel Bebas (Independen)
Merupakan variabel yang dapat mempengaruhi variabel dependen (Sugiyono, 2017, p. 39). Dalam penelitian ini Green Packaging sebagai variabel bebas. Green Packaging atau eco-friendly packaging yang merupakan kemasan ramah lingkungan yang seluruhnya terbuat dari bahan yang baik bagi lingkungan maupun manusia, dapat digunakan kembali (reuse), didaur ulang (recycle), kemasan dapat digunakan kembali guna untuk mengurangi volume limbah secara signifikan (reduce) (Zhang & Zhao, 2012, p. 901). Dalam penelitian ini, kemasan hijau merupakan variabel yang akan diukur sebagai informasi bagi sampel penelitian kali ini. Green packaging memiliki 4 dimensi meliputi: Effective, Efficient, Cycle, dan Safe mengacu pada Sustainable Development Alliance (2010) dalam (Ekawati & Palaguna, 2016, p. 7506) yang dirincikan sebagai berikut.
1. Effective : Fungsi kemasan yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Yaitu kemasan lebih mudah dibuka, menghindari penggunaan plastik yang berlebihan, dan kemasan dapat digunakan kembali. Dimensi
42
effective dapat diukur melalui: (1) kemasan Aqua LIFE dapat dibuka secara mudah; (2) kemasan Aqua LIFE menghindari penggunaan kemasan plastik berlebihan; (3) kemasan Aqua LIFE dapat digunakan kembali; (4) kemasan Aqua LIFE berdampak lingkungan rendah.
2. Efficient : Menggunakan bahan yang seefisien mungkin yaitu menggunakan lebih sedikit material plastik baru sehingga kemasan lebih tipis, lebih ringan, serta menggunakan bahan material daur ulang. Dimensi ini dapat diukur melalui: (1) kemasan Aqua LIFE menggunakan lebih sedikit plastik baru; (2) kemasan Aqua LIFE tekstur kemasan yang lebih tipis; (3) kemasan Aqua LIFE memiliki berat plastik lebih ringan; (4) bahan baku kemasan Aqua LIFE berasal dari bahan yang dapat didaur-ulang.
3. Cycle : Kemasan digunakan dapat dikumpulkan (collect) setelah dikonsumsi, dikembalikan (returnable) ke tempat tersedia, dan digunakan kembali (reusable) untuk kemudian didaur-ulang menjadi kemasan baru, dan meminimalkan degradasi bahan. Dimensi cycle dapat diukur melalui: (1) kemasan Aqua LIFE dapat dikumpulkan setelah dikonsumsi; (2) kemasan Aqua LIFE dapat dikembalikan untuk didaur ulang; (3) kemasan Aqua LIFE dapat digunakan dalam jangka panjang; (4) kemasan Aqua LIFE dapat didaur-ulang kembali.
4. Safe : Komponen kemasan yang digunakan, termasuk informasi bahan dalam kemasan, komponen lainnya tidak menimbulkan resiko bagi kesehatan manusia dan aman bagi lingkungan. Dimensi safe dapat diukur melalui: (1)
43
kemasan Aqua LIFE memuat informasi produk aman untuk dikonsumsi; (2) kemasan yang digunakan pada produk Aqua LIFE aman untuk dikonsumsi; (3) kemasan yang digunakan pada produk Aqua LIFE ramah lingkungan.
3.4.2 Variabel Terikat (Dependen)
Merupakan variabel yang dapat terpengaruh oleh variabel bebas (Sugiyono, 2017, p. 39). Variabel minat beli menjadi variabel terikat dari penelitian ini. Niat pembelian merupakan pilihan yang dilakukan seorang konsumen setelah menganalisa beberapa produk yang sejenis. (Lily & Ricanto, 2018, p. 42). Pada penelitian ini, Minat pembeli konsumen merupakan peristiwa ketika konsumen mulai menunjukkan intensi pada pembelian produk Aqua LIFE. Minat Beli memiliki tiga dimensi meliputi: Minat Eksploratif, Minat Preferensial, dan Minat Transaksional (Ferdinand, 2014, p.188) yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Minat Ekploratif: minat konsumen untuk mencari informasi-informasi terkait produk atau jasa karena telah tertarik dengan suatu produk atau jasa tertentu. Minat eksploratif dapat diukur melalui: (1) saya ingin mendalami informasi mengenai produk Aqua LIFE di media sosial; (2) saya ingin mencari informasi mengenai produk Aqua LIFE melalui orang-orang terdekat; (3) saya berminat mencari informasi mengenai produk Aqua LIFE melalui media konvensional (TV, Radio, Majalah); (4) saya berminat mengeksplorasi informasi
44
produk Aqua LIFE melalui Website; (5) Saya mencari tahu harga produk Aqua LIFE E-Commerce; (6) Saya mencari tahu kualitas produk Aqua LIFE lewat review dari pengguna sebelumnya.
2. Minat Preferensial: kecenderungan konsumen untuk memilih produk atau jasa yang lain ketika melihat adanya manfaat lebih yang didapatkan. Minat preferensial dapat diukur melalui: (1) saya memilih produk Aqua LIFE dibandingkan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sejenis lainnya; (2) saya lebih tertarik membeli produk Aqua LIFE dibandingkan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sejenis lainnya; (3) saya ingin mencoba produk Aqua LIFE dibandingkan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sejenis lainnya.
3. Minat Transaksional: merujuk pada konsumen yang memiliki kecenderungan untuk membeli (melakukan transaksi) suatu produk atau jasa. Minat Transaksional dapat diukur melalui: (1) saya tertarik membeli produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Aqua LIFE; (2) Saya menjadikan produk Aqua LIFE sebagai pilihan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK); (3) saya berminat mencoba produk Aqua LIFE sebagai Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
45 3.4.3 Variabel Intervening
Merupakan variabel yang memediasi atau perantara yang berfungsi memediasi antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel intervening dalam penelitian ini adalah sikap terhadap 3R. Menurut Novandari (2015), sikap terhadap 3R berarti ketika seseorang menunjukkan respon mereka terhadap kegiatan menjaga lingkungan yaitu dengan memilih green product dalam konsumsinya untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas kehidupan mereka. Dalam penelitian ini, sikap terhadap 3R ditunjukkan dengan respon responden pada kegiatan 3R yang dilakukan oleh Danone AQUA, sehingga terdiri atas 3 dimensi yakni: Reduce, Reuse, dan Recycle menurut junal Mills (2012) sebagai berikut.
1. Sikap terhadap Reduce: sebagai respon stimulus yang diberikan dalam upaya mengurangi timbunan sampah dalam kegiatan sehari-hari dan lingkungan sekitar. Sikap terhadap reduce dapat diukur melalui: (1) mendukung pengurangan penumpukan sampah; (2) mengurangi penumpukan sampah dapat mengurangi pencemaran lingkungan; (3) mendukung setiap kegiatan yang dapat mengurangi jumlah penumpukan sampah (Mills, 2012). 2. Sikap terhadap Reuse: individu setuju dengan adanya sistem reuse dapat mengurangi kejadian pencemaran lingkungan karena meminimalisir sampah yang tidak bisa diuraikan oleh tanah dan bisa dimanfaatkan kembali. Sikap terhadap reuse dapat diukur melalui: (1) mendukung penggunaan kembali material sampah yang tidak dapat terurai; (2) mendukung gerakan
46
memanfaatkan kembali material sampah yang tidak dapat diurai untuk menjaga kelestarian lingkungan; (3) penggunaan material sampah yang tidak dapat diurai dapat mengurangi pencemaran lingkungan (Mills, 2012).
3. Sikap terhadap Recycle: dukungan individu untuk mendaur ulang sampah jumlah sampah akan berkurang diikuti oleh penurunan tingkat pencemaran lingkungan yang dapat diukur melalui: (1) mendukung kegiatan daur ulang sebagai sarana mengurangi pencemaran lingkungan; (2) kegiatan daur ulang dapat mengurangi jumlah sampah; (3) mendaur ulang sampah secara efektif dapat mengurangi pencemaran lingkungan (Mills, 2012).
47
Tabel 3. 2 Operasionalisasi Variabel Green Packaging Aqua LIFE
No. Variabel Dimensi Indikator Pernyataan Skala
1. Green Packaging (Sustainable Packaging Alliance, 2010)
Effective Fungsi kemasan yang bermanfaat bagi
lingkungan dan masyarakat. Yaitu kemasan lebih mudah dibuka, menghindari penggunaan plastik yang berlebihan, dan kemasan dapat digunakan kembali.
1. Kemasan Aqua LIFE dapat dibuka secara mudah
2. Kemasan Aqua LIFE menghindari
penggunaan kemasan plastik berlebihan 3. Kemasan Aqua LIFE dapat digunakan
kembali
4. Kemasan Aqua LIFE berdampak lingkungan rendah
Likert (1-5)
Efficient Menggunakan bahan yang seefisien mungkin yaitu menggunakan lebih sedikit material plastik baru sehingga kemasan lebih tipis, lebih ringan, serta menggunakan bahan material daur ulang.
1. Kemasan Aqua LIFE menggunakan lebih sedikit plastik baru. 2. Kemasan Aqua LIFE tekstur kemasan yang lebih tipis
3. Kemasan Aqua LIFE
Likert (1-5)
48
memiliki berat plastik lebih ringan
4. Bahan baku kemasan Aqua LIFE berasal dari bahan yang dapat didaur-ulang
Cycle Kemasan digunakan dapat dikumpulkan (collect) setelah dikonsumsi, dikembalikan (returnable) ke tempat tersedia, dan digunakan kembali
(reusable) untuk kemudian didaur-ulang menjadi kemasan baru, dan meminimalkan degradasi bahan.
1. Kemasan Aqua LIFE dapat dikumpulkan setelah dikonsumsi 2. Kemasan Aqua LIFE dapat dikembalikan untuk didaur ulang 3 Kemasan Aqua LIFE dapat digunakan dalam jangka panjang
4. Kemasan Aqua LIFE dapat didaur-ulang kembali
Likert (1-5)
Safe Komponen kemasan yang digunakan, termasuk informasi bahan dalam kemasan, komponen lainnya tidak menimbulkan resiko bagi kesehatan manusia dan aman bagi lingkungan
1. Kemasan Aqua LIFE memuat informasi produk aman untuk dikonsumsi
Likert (1-5)
49
2. Kemasan yang digunakan pada produk Aqua LIFE aman untuk dikonsumsi
3. Kemasan yang digunakan pada produk Aqua LIFE ramah lingkungan Sumber: Data Olahan Penelitian, 2021
50
Tabel 3. 3 Operasionalisasi Variabel Minat Beli
No. Variabel Dimensi Indikator Pernyataan Skala
1. Minat Beli (Ferdinand, 2014, 188) Minat Eksploratif Eksplorasi informasi produk
1. Saya ingin mendalami informasi mengenai produk Aqua LIFE di media sosial
2. Saya ingin mencari informasi mengenai produk Aqua LIFE melalui orang-orang terdekat
3. Saya berminat mencari informasi mengenai produk Aqua LIFE melalui media konvensional (TV, Radio, Majalah) 4. Saya berminat mengeksplorasi
informasi produk Aqua LIFE melalui Website
5. Saya mencari tahu harga produk Aqua LIFE E-Commerce
6. Saya mencari tahu kualitas produk Aqua LIFE lewat review dari pengguna sebelumnya Likert (1-5) Minat Preferensial Preferensi memilih produk
1. Saya memilih produk Aqua LIFE dibandingkan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sejenis lainnya
51
2. Saya lebih tertarik membeli produk Aqua LIFE dibandingkan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sejenis lainnya
3. Saya ingin mencoba produk Aqua LIFE dibandingkan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sejenis lainnya Minat
Transaksional
Transaksi produk 1. Saya tertarik membeli produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Aqua LIFE
2. Saya menjadikan produk Aqua LIFE sebagai pilihan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)
3. Saya berminat mencoba produk Aqua LIFE sebagai Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)
Likert (1-5)
52
Tabel 3. 4 Operasionalisasi Variabel Sikap terhadap 3R
No. Variabel Dimensi Indikator Pernyataan Skala
1. Sikap Terhadap 3R (Mills (2012)
Reduce Individu memberi dukungan dan penilaian yang efektif dalam upaya mengurangi
timbunan sampah dalam kegiatan sehari-hari dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
1. Saya mendukung pengurangan penumpukan sampah
2. Menurut saya, dengan
mengurangi penumpukan sampah dapat mengurangi pencemaran lingkungan
3. Saya mendukung setiap kegiatan yang dapat mengurangi jumlah penumpukan sampah
Likert (1-5)
Reuse Individu setuju dan mendukung dengan adanya sistem reuse dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena meminimalisir sampah yang tidak bisa diuraikan oleh tanah dan bisa
dimanfaatkan kembali.
1. Saya mendukung penggunaan kembali material sampah yang tidak dapat terurai
2. Saya mendukung gerakan memanfaatkan kembali material sampah yang tidak dapat diurai untuk menjaga kelestarian lingkungan
3. Menurut saya, adanya
penggunaan material sampah yang tidak dapat diurai dapat
Likert (1-5)
53
mengurangi pencemaran lingkungan
Recycle Recycle dinilai efektif untuk mengurangi pencemaran lingkungan, apabila individu mendaur ulang sampah maka jumlah sampah ikut berkurang diikuti oleh penurunan tingkat pencemaran lingkungan.
1. Saya mendukung kegiatan daur ulang sebagai sarana mengurangi pencemaran lingkungan
2. Kegiatan daur ulang dapat mengurangi jumlah sampah 3. Menurut saya, mendaur ulang sampah secara efektif dapat mengurangi pencemaran lingkungan
Likert (1-5)
54
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Menurut metode dan teknik pengumpulan data, peneliti akan menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder.
3.5.1 Data Primer
Menurut Sugiyono (2017, p. 137), dalam pengumpulan data kuesioner yang bersifat primer (utama), peneliti akan menerima data secara langsung dari sumber data. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil dari jawaban responden atas kuesioner atau angket yang disebarkan. Kuesioner ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang disusun sesuai dengan hubungan antar variabel.
3.5.2 Data Sekunder
Sumber data kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Menurut Sugiyono (2017, p. 193), data sekunder termasuk dalam data tidak langsung yang diterima oleh peneliti, karena data ini diperoleh dari berbagai sumber. Misalnya, sumber buku, jurnal, dan situs internet. Sumber data sekunder ini kemudian digunakan peneliti untuk memperkuat serta melengkapi informasi dari data primer (Kriyantono, 2014, p.42)
3.6 Teknik Pengukuran Data
Setelah kuesioner/angket disebarkan, responden bersedia untuk menjawab pertanyaan kuesioner dengan poin indikator yang telah disediakan. Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, maka setiap pernyataan diberi kode agar dapat dianalisis lebih lanjut. Peneliti menggunakan skala likert sebagai skala ordinal
55
untuk mengukur hasil angket yang disebarkan, sebagai berikut (Sugiyono, 2019, p.147).
Tabel 3. 5 Skala Likert
No. Keterangan Skor
1. STS: Sangat Tidak Setuju 1
2. TS: Tidak Setuju 2
3. N: Netral 3
4. S: Setuju 4
5. SS: Sangat Setuju 5
Sumber : Data Olahan Penelitian, 2021 3.6.1 Uji Validitas
Uji validitas merupakan akurasi antara datang yang sebenarnya terjadi di lapangan dan data yang dikumpulkan oleh peneliti. Menurut Riduwan (2004: 109-110) uji validitas instrumen merupakan suatu ukuran menunjukkan tingkat reliabilitas atau validitas alat ukur. Alat ukur tidak valid Menunjukkan efektifitasnya rendah.
Suatu pernyataan dinyatakan valid apabila butir pernyataan tersebut memiliki nilai validitas di atas angka yang ditentukan, dalam penelitian ini. Sementara Ghozali (2016, p.52) menyatakan, uji validitas digunakan untuk menguji indikator yang telah dirumuskan untuk mengukur konsep-konsep dalam penelitian.
56
Data kuesioner dapat dinyatakan valid apabila memenuhi kriteria di bawah ini (Ghozali, 2016, p. 53):.
1. Jika r hitung > r tabel, maka data dinyatakan valid. 2. Jika sig. < alpha, maka data dinyatakan valid.
Tabel 3. 6 Hasil Pengolahan Uji Validitas
No
Items Variabel Dimensi Kode r hitung r tabel sig.
Kesimpula n 1 Green Packagin g Effective X1a 0.594 0.113 0.000 Valid 2 X1b 0.647 0.113 0.000 Valid 3 X1c 0.544 0.113 0.000 Valid 4 X1d 0.623 0.113 0.000 Valid 5 Efficient X2a 0.645 0.113 0.000 Valid 6 X2b 0.588 0.113 0.000 Valid 7 X2c 0.654 0.113 0.000 Valid 8 X2d 0.654 0.113 0.000 Valid 9 Cycle X3a 0.626 0.113 0.000 Valid 10 X3b 0.637 0.113 0.000 Valid 11 X3c 0.604 0.113 0.000 Valid 12 X4d 0.669 0.113 0.000 Valid 13 Safe X4a 0.663 0.113 0.000 Valid 14 X4b 0.602 0.113 0.000 Valid 15 X4c 0.347 0.113 0.000 Valid 16 Minat Beli Minat Eksploratif Y1a 0.649 0.113 0.000 Valid 17 Y1b 0.651 0.113 0.000 Valid 18 Y1c 0.586 0.113 0.000 Valid 19 Y1d 0.599 0.113 0.000 Valid
57 20 Y1e 0.644 0.113 0.000 Valid 21 Y1f 0.645 0.113 0.000 Valid 22 Minat Preferensial Y2a 0.688 0.113 0.000 Valid 23 Y2b 0.646 0.113 0.000 Valid 24 Y2c 0.646 0.113 0.000 Valid 25 Minat Transaksional Y3a 0.626 0.113 0.000 Valid 26 Y3b 0.63 0.113 0.000 Valid 27 Y3c 0.649 0.113 0.000 Valid 28 Sikap 3R Reuse Z1a 0.676 0.113 0.000 Valid 29 Z1b 0.685 0.113 0.000 Valid 30 Z1c 0.704 0.113 0.000 Valid 31 Reduce Z2a 0.688 0.113 0.000 Valid 32 Z2b 0.637 0.113 0.000 Valid 33 Z2c 0.613 0.113 0.000 Valid 34 Recycle Z3a 0.647 0.113 0.000 Valid 35 Z3b 0.577 0.113 0.000 Valid 36 Z3c 0.529 0.113 0.000 Valid
Sumber : Data Olahan Penelitian, 2021
Berdasarkan tabel diatas, terdiri dari 36 pernyataan di dalam kuesioner yang disebarkan secara daring. Penyebaran kuesioner ini mendapatkan sabayak 347 responden yang dinyatakan valid. Pada tabel di atas, menunjukkan bahwa nilai r hitung > r tabel, sehingga data olahan penelitian diatas yang terdiri dari variabel Green Packaging, Minat Beli, dan Sikap Terhadap 3R dinyatakan valid.
58 3.6.2 Uji Reliabilitas
Uji kedua yaitu uji reliabilitas, yang digunakan untuk tujuan mengetahui sebuah data apakah hasil pengukuran dari objek yang sama-sama diteliti memberikan hasil yang sama (Sugiyono, 2017, p. 130). Sementara menurut Ardianto (2010, p. 189), penguji reliabilitas merupakan indikator yang menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya, sehingga jika satu alat ukur digunakan untuk dua kali untuk mengukur objek yang sama hasilnya relatif dan konstan, maka dapat dikatakan alat uji tersebut Penelitian ini akan melakukan uji reliabilitas menggunakan metode Alpha-Cronbach dengan membandingkan nilai Alpha dan r tabel. Jika hasil menunjukkan nilai Alpha > r tabel maka, dikatakan reliabel.
Tabel 3. 7 Tingkat Reliabilitas
Alpha Tingkat Reliabilitas 0,00 s/d 0,20 Kurang Reliabel 0,20 s/d 0,40 Agak Reliabel 0,40 s/d 0,60 Cukup Reliabel
0,60 s/d 0,80 Reliabel
0,80 s/d 1.00 Sangat Reliabel Sumber : Data Olahan Penelitian, 2021
59
Tabel 3. 8 Hasil Pengolahan Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha based on Stadardize Items N of items 0.926 0.926 36
Sumber : Data Olahan Penelitian, 2021
Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil uji reliabilitas Cronbach Alpha yang dilakukan oleh peneliti sebesar 0.926. Oleh karena itu nilai ini menunjukkan bahwa nilai reliabilitas >0,80 dan dinyatakan sangat reliabel.
3.7 Teknik Analisis Data
3.7.1 Uji NormalitasSetelah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas, penulis melakukan uji normalitas data, tujuannya untuk mengetahui apakah sebaran data kuesioner sudah terdistribusi secara normal atau tidak, sebuah data jika tidak terdistribusi secara normal maka tidak bisa dilanjutkan untuk melakukan uji ke tahap selanjutnya. Menurut Ghozali (2018, p.161), terdapat dua acuan pengambilan keputusan agar data dapat terbilang terdistribusi secara normal, sebagai berikut.
1. Data terbilang normal apabila sebarannya di sekitar garis lintang diagonal dan tepat mengikuti arah garis.
2. Data terbilang tidak normal apabila sebarannya menjauhi garis lintang diagonal dan tidak mengikuti arah garis.
60 3.7.2 Uji Linearitas
Menurut Ghozali (2016, p.159) uji linieralitas bertujuan untuk mengetahui apakah model variabel yang digunakan sudah benar atau tidak. Dasar pengambilan keputusan dalam uji linearitas antara lain:
a. Jika nilai Sig. dari deviation of linearity > 0.05, terdapat hubungan linear antara variabel bebas dan terikat
b. Jika nilai Sig. dari deviation of linearity < 0.05, tidak terdapat hubungan linear antara variabel bebas dan terikat
3.7.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas memiliki tujuan untuk mengetahui uji ketidaksamaan varian dari hasil residual satu pengamatan ke pengamatan lain dalam model regresi (Ghozali, 2016, p.134). Model regresi yang baik yaitu memiliki model yang tidak berubah-ubah atau tetap. Model ini disebut dengan homoskedastisitas, sedangkan apabila varian dari beberapa pengamatan berbeda-beda maka disebut heteroskedastisitas. Menurut Ghozali (2016, p. 142) terdapat beberapa cara untuk melakukan uji ini, salah satunya dengan uji Glejser, teknik pengambilan keputusan pada uji ini dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas jika nilai Sig > 0.05. Sementara jika nilai Sig < 0,05 terjadi heteroskedastisitas.
3.7.4 Analisis Jalur (Path Analysis)
Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur untuk menguji besarnya kontribusi yang diberikan oleh koefisien jalur setiap diagram jalur (Kuncoro, Engkos, p. 115, 2010). Menurut Ghozali (2008a, p.93), analisis jalur digunakan untuk
61
melakukan pengembangkan lanjutan dari analisis regresi berganda dan juga bivariat, sekaligus menguji terhadap variabel intervening/mediating. Dalam penelitian kali ini, peneliti akan mengukur hubungan langsung dan tidak langsung antar variabel dalam model.
3.7.4.1 Analisis Jalur menggunakan Model SEM
Dalam penelitian ini peneliti akan mengukur variabel dependen dan independen yang tidak bisa diukur secara langsung (unobservable) atau variabel laten. Oleh karena itu, peneliti akan menggunakan model persamaan struktural (SEM). Tujuan menggunakan model SEM ini berguna untuk melihat analisis factor atau confirmatory factor analysis dan analisis jalur secara bersama-sama. Diawali dengan melakukan Confirmatory Factor Analysis untuk memastikan indikator dan dimensi pembentuk variabel ini sudah cukup reliabel (Haryono, Siswoyo, p. 249, 2017). Sementara analisis jalur untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh mediasi atau tidak terdapat pengaruh mediasi dari variabel yang akan diteliti.
3.7.4.2 Diagram Jalur
Diagram jalur perlu dilakukan dalam analisis jalur untuk mengetahui bagaimana hubungan satu variabel dengan yang lainnya, sehingga dapat memberikan suatu pandangan menyeluruh mengenai struktur model.
62 3.7.4.3 Persamaan Struktural
Persamaan struktural dalam penelitian kali ini digunakan untuk mengetahui pola hubungan kausal yang terjadi antara variabel X ke Y dan Z. Selain itu, persamaan struktural memiliki sub-struktur yang jumlahnya mengikuti model yang dikembangkan (Haryono, Siswoyo, p. 92, 2017).
3.7.4.4 Koefisien Jalur
Setelah menentukan diagram jalur yang menghasilkan persamaan sub-struktur, peneliti mulai menentukan koefisien jalur untuk setiap variabel eksogen. Koefisien jalur sendiri akan menunjukkan pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen.
a) Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan melihat nilai Critical Ratio (CR) yang dihasilkan dari perhitungan loading dari setiap koefisien. Selain itu, nilai estimate hasil keluaran standardized regression weight digunakan untuk mengetahui arah dan kekuatan hubungan jika pengaruh pada hipotesis dinyatakan signifikan. Besarnya pengaruh antar variabel dapat dilihat dari nilai estimate disetiap jalur. Semakin besar nilai hitung estimate, menunjukkan pengaruh yang semakin besar antar variabel yang satu dengan yang lain. Di penelitian kali ini menggunakan tingkat signifikansi sebesar 5% dan hipotesis dapat diterima apabila nilai CR >= 1.96 dan p-value < 0.05.
63
Hipotesis statistik yang akan diuji pada penelitian ini dijabarkan sebagai berikut.
Hipotesis 1
Ada pengaruh Green Packaging terhadap Minat Beli dan Sikap Pro-3R a. Ho: β = 0
b. H1: β ≠ 0 Hipotesis 2
Ada pengaruh mediasi Sikap Pro-3R pada Green Packaging terhadap Minat Beli
c. Ho: β = 0 d. H2: β ≠ 0 Keterangan:
Ho : Hipotesis nol
H1 dan H2 : Hipotesis alternatif
Tabel 3. 9 Hipotesis Penelitian
No Ho Ha
1
Tidak terdapat pengaruh Green Packaging Aqua LIFE terhadap Sikap Pro-3R dan Minat Beli konsumen
Terdapat pengaruh Green Packaging Aqua LIFE terhadap Sikap Pro-3R dan Minat Beli konsumen
2
Tidak terdapat pengaruh mediasi Sikap Pro-3R pada Green Packaging Aqua LIFE terhadap Minat Beli konsumen
Terdapat pengaruh mediasi Sikap Pro-3R pada Green Packaging Aqua LIFE terhadap Minat Beli konsumen Sumber: Data Olahan Penelitian, 2021