• Tidak ada hasil yang ditemukan

QIYAS SEBAGAI METODE HUKUM ISLAM. Yudi Surono. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ibnu Rusyd Lampung Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "QIYAS SEBAGAI METODE HUKUM ISLAM. Yudi Surono. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ibnu Rusyd Lampung Utara"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

QIYAS SEBAGAI METODE HUKUM ISLAM

Yudi Surono

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ibnu Rusyd Lampung Utara E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Sumber hukum dalam Islam, ada yang disepakati (muttafaq) para ulama dan ada yang masih dipersilisihkan (mukhtalaf). Adapun sumber hukum Islam yang disepakati jumhur ulama adalah Al Qur‟an, Hadits, Ijma‟ dan Qiyas. Para Ulama juga sepakat dengan urutan dalil-dalil tersebut. Dalam tulisan ini akan menjelaskan mengenai Qiyas, pengertiannya, rukun Qiyas, macam-macam Qiyas, Cara mengetahui illat dalam Qiyas dan Pandangan ulama tentang pemakaian Qiyas sebagai dalil hukum.

Kata Kunci: Sumber Hukum, Qiyas dan Illat Pendahuluan

Qiyas merupakan suatu cara penggunaan akal (ra’yu) untuk menggali hukum syara‟ dalam hal-hal yang nash Alquran dan Sunnah tidak menetapkan hukumnya secara pasti (qoth’i). Pada dasarnya ada dua macam cara penggunaan rayu, yaitu penggunaan rayu yang masih merujuk kepada nash dan penggunaan rayu secara bebas tanpa mengaitkannya kepada nash. Bentuk pertama secara sederhana disebut qiyas. Meskipun qiyas tidak menggunakan nash secara langsung, tetapi karena merujuk kepada nash, maka dapat dikatakan bahwa qiyas juga sebenarnya menggunakan nash, namun tidak secara langsung.

Dasar pemikiran qiyas yaituadanya kaitan yang erat antara hukum dengan sebab. Hampir dalam setiap hukum diluar bidang ibadat, dapat diketahui alasan logis ditetapkannya hukum itu oleh Allah. Alasan hukum yang logis itulah yang oleh para ulama disebut “illat”. Disamping itu dikenal pula konsep mumatsalah, yaitu kesamaan atau kemiripan antara dua hal yang diciptakan Allah. Bila dua hal itu sama dalam sifatnya, tentu sama pula dalam hukum yang menjadi akibat dari sifat tersebut.

Meskipun Allah SWT hanya menetapkan hukum terhadap satu dari dua hal yang bersamaan itu, tentu hukum yang sama berlaku pula pada hal yang satu lagi, meskipun Allah dalam hal itu tidak menyebutkan hukumnya.

1

1

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 143

(2)

Hal-hal atau kasus yang ditetapkan Allah hukumnya sering mempunyai kesamaan dengan kasus lain yang tidak ditetapkan hukumnya. Meskipun kasus lain itu tidak ditetapkan hukumnya oleh Allah, namun karena ada kesamaan dalam hal sifatnya dengan kasus yang ditetapkan hukumnya, maka hukum yang sudah ditetapkan itu dapat diberlakukan kepada kasus lain tersebut.

Atas dasar keyakinan bahwa tidak ada yang luput dari hukum Allah, maka setiap muslim meyakini bahwa setiap kasus atau peristiwa yang terjadi pasti ada hukumnya. Sebagaimana hukum itu dapat dilihat secara jelas dalam nash syara‟, namun sebagian yang lain tidak jelas. Di antara yang tidak jelas hukumnya itu mempunyai sifat dengan kasus yang sudah dijelaskan hukumnya. Dengan konsep mumatsalah, peristiwa yang tidak jelas hukumnya itu dapat disamakan hukumnya dengan yang ada hukumnya dalam nash. Meskipun secara jelas tidak menggunakan nash, namun karena disamakan hukumnya dengan yang ada hukumnya dengan yang ada nashnya, maka cara penetapan hukum seperti ini dapat dikatakan menggunakan nash syara‟ secara tidak langsung. Usaha mengistinbath dan penetapan hukum yang menggunakan metoda penyamaan ini disebut ulama ushul dengan qiyas (analogi).

Pengertian Qiyas

Qiyas menurut bahasa, berasal dari kata س – ي - ق , yang berarti mengukur.

“Qis rumh” atau “Qas rumh” adalah ungkapan Arab yang berarti mengukur tombak atau lembing. Kata tersebut juga mempunyai akar kata yang lain: س – و – ق yang menunjukkan makna yang sama. Ungkapan qistu al-sya‟a bighairi هريفب ئيشلا تسقsaya mengukur sesuatu dengan sesuatu lain yang menyerupainya.

2

Secara bahasa juga kata qiyas berarti qa da ra, artinya mengukur, membanding sesuatu dengan yang semisalnya, misalnya (هريغب ئيشلا ريدقت) Mengukur sesuatu benda tersebut dengan sesuatu yang sesuai dengan benda itu dan sesuai pula dengan benda-benda lain yang sesuai dengannya.

3

Pengertian qiyas secara terminologi terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ulama ushul fiqh, sekalipun redaksinya berbeda, tetapi mengandung pengertian yang sama, yaitu mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, dalam hukum

2

Ahmad Hasan,Analogical Reasoning in Islamic Yurisprudence. Edisi Bahasa Indonesia,

Qiyas Penalaran Analaogis di Dalam Hukum Islam, ( Bandung, Pustaka, 2001) cet. ke-1, h. 112

3

Juhaya S. Praja. Ibid, h. 62

(3)

yang ada nashnya, karena persamaan kedua itu dalam illat hukumnya.

4

Menurut istilah ulama ushul, qiyas mengandung arti:

1. Al Ghazali dalam Al Mustashfa memberi defenisi qiyas adalah menanggungkan sesuatu yang diketahui dalam hal menetapkan hukum pada keduanya atau meniadakan hukum dari keduanya disebabkan ada hal yang sama antara keduanya dalam penetapan hukum atau peniadaan hukum.

2. Ibnu Subki dalam bukunya Jam’u al Jawami memberikan defenisi qiyas adalah menghubungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui karena kesamaannya dalam ‘illat hukumnya menurut pihak yang menghubungkan (mujtahid).

3. Abdul Wahab Khalaf

5

memberikan pengertian qiyas dengan menyamakan suatu kasus yang tidak terdapat hukumnya dalam nash dengan kasus yang hukumnya terdapat dalam nash, karena adanya persamaan ‘illat dalam kedua kasus hukum itu.

4. Abu Hasan al Basri memberikan defenisi, qiyas adalah menghasilkan (menetapkan) hukum ashal pada furu karena keduanya sama dalam ‘illat hukum menurut mujtahid.

6

5. Saifuddin al Amidi mendefenisikan qiyas dengan mempersamakan ‘illat yang ada pada furu’ dengan ‘illat yang ada pada asal yang diistinbathkan dari hukum asal.

7

Sekalipun terdapat perbedaan redaksi dalam beberapa defenisi yang dikemukakan para ulama ushul fiqh klasik dan kontemporer di atas tentang qiyas, tetapi mereka sepakat menyatakan bahwa proses penetapan hukum melalui metode qiyas bukanlah menetapkan dari awal (itsbat al hukm wa insya’uhu) melainkan hanya menyingkap dan menjelaskan hukum (al kasyf wa al izhhar li al hukm) yang ada pada suatu kasus yang belum jelas hukumnya. Penyingkapan dan penjelasan ini dilakukan melalui pembahasan mendalam dan teliti terhadap ‘illat dari suatu kasus yang sedang dihadapi.

8

Apabila ‘illat-nya sama dengan ‘illat hukum yang disebutkan

4

Amir Syarifuddin, UshulFiqh, h. 144

5

Abdul Wahhab Khallaf,Mashadir al-Tasyrie al-Islami fi ma la nashsha fih, (Kuwait, Dar al- Qalam, 1972, h. 19

6

Nawir Yuslem, Kitab Induk Ushul Fiqih; Konsep Mashlahah Imam al Haramain al

Jawayni dan DInamika Hukum Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2007), h. 98

7

Al-Amidi,Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, (Kairo, Matba‟ah al-Ma‟arif, 1914) h. 261.

8

Nourouzzaman Shiddiq,Fiqih Indonesia; Penggaga dan Gagasannya, (Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, 1997), h. 121

(4)

dalam nash, maka hukum terhadap kasus yang dihadapi itu adalah hukum yang telah ditentukan nash tersebut.

Misalnya, seseorang mujtahid ingin mengetahui hukum minuman bir atau wiski. Dari hasil pembahasan dan penelitiannya secara cermat, kedua minuman itu mengandung zat yang memabukkan seperti zat yang ada pada khamar. Zat yang memabukkan inilah yang menjadi penyebab diharamkannya khamar. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al Maidah ayat 90-91. Dengan demikian, mujtahid tersebut telah menemukan hukum untuk bir dan wisky, yaitu sama dengan hukum khamar, karena ‘illat keduanya adalah sama, yakni memabukkan. Kesamaan ‘illat antara kasus yang tidak ada nashnya dengan hukum yang ada nashnya dalam Alquran atau hadis, menyebabkan adanya kesatuan hukum. Inilah yang dimaksudkan para ulama ushul fiqih bahwa penentuan hukum melalui metode qiyas bukan berarti menentukan hukum sejak semula, tetapi menyingkapkan dan menjelaskan hukum untuk kasus yang sedang dihadapi dan mempersamakannya dengan hukum yang ada pada nash, disebabkan kesamaan ‘illat antara keduanya. Dalam contoh lain, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Pembunuh tidak berhak mendapatkan bagian warisan” (HR. Al Nasa‟i dan Al Baihaqi).Menurut hasil penelitian mujtahid yang menjadi ‘illat tidak berhaknya pembunuh menerima warisan dari harta pewaris yang ia bunuh adalah upaya untuk mempercepat mendapatkan harta warisan dengan cara membunuh. ‘illat seperti ini terdapat juga dalam kasus seseorang membunuh orang yang telah menentukan wasiat baginya. Oleh sebab itu, pembunuh orang yang berwasiat (al washi) dikenal hukuman yang sama dengan hukum orang yang membunuh ahli warisnya, yaitu sama-sama tidak berhak memperoleh harta warisan dan harta wasiat.

9

Berdasarkan analisis etimologis, al-Amidi

10

menyimpulkan bahwa qiyas mensyaratkan dua hal yang masing-masing dihubungkan satu sama lain oleh kesamaan: keduanya adalah keterkaitan dan hubungan antara dua hal. Para ahli di atas beragam dalam menyimpulkan bahwa qiyas sebagai penyamaan kasus yang tak terungkap oleh nash dengan kasus yang terungkap oleh nash, karena kesamaan nilai- nilai (‘illat) syari‟ah antara keduanya dalam rangka menerapkan hukum satu kasus

9

Ulama Syafi‟iyah dalam satu pendapat membolehkan pembunuh menerima wasiat dari al washi yang ia bunuh, karena wasiat, menurut mereka merupakan akad pemilikan setelah wafatnya al washi. Oleh sebab itu, antara hak waris dengan hak mendapatkan wasiat, menurutnya berbeda.lihat Hasrun Haroen, Ushul Fiqh I (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 64. lihat juga al Syarbaini al Khatib, Mughni al Muhtaj (Beirut: Dar al Fikr, jilid III, 1978), h. 43.

10

Al-Amidi,Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, (Kairo, Matba‟ah al-Ma‟arif, 1914) h. 261.

(5)

atas lainnya. Sebagian Fuqoha juga berpendapat bahwa kata qiyas mengandung tiga makna. Pertama, mengukur atau mengevaluasi (taqdir), Kedua, kesamaan (musawat) dan ketiga, kumpulan antara keduanya (majmu’).

11

Latar Belakang dan Perkembangannya

Dasar pemikiran qiyas itu adalah adanya kaitan yang erat antara hukum dengan sebab, atas keyakinan bahwa tidak ada yang luput dari hukum Allah, maka setiap muslim meyakini bahwa setiap kasus atau peristiwa yang terjadi pasti ada hukumnya, sebagian hukumnya itu dapat dilihat secara jelas dalam nash syara‟, namun sebagian lain tidak jelas. Diantara yang tidak jelas hukumnya itu mempunyai kesamaan sifat dengan kasus yang sudah dijelaskan hukumnya.

12

Operasional penggunaan qiyas dimulai dengan mengeluarkan hukum yang terdapat pada kasus yang memiliki nash. Cara ini memerlukan kerja nalar yang luar biasa dan tidak cukup hanya dengan pemahaman makna lafazh saja. Apabila ada nash yang menunjukkan hukum pada suatu peristiwa dan dapat diketahui illat hukumnya dengan cara-cara yang digunakan untuk mengetahui illat hukum, kemudian terjadi peristiwa lain yang sama illat hukumnya, maka hukum kedua masalah itu disamakan sebab memiliki kesamaan dalam hal illat hukum. Karena hukum dapat ditemukan ketika illat hukum itu sudah ditemukan.

Pada perkembangannya menurut al Juwayni qiyas merupakan landasan dan tempat bergantung istihad bahkan melalui qiyas-lah berkembangnya fikih dan prosedur penetapan hukum syara, sehingga menghantarkan dalam memperinci hukum-hukum terhadap berbagai peristiwa yang terjadi dan menghilangkan batasan atau tembok penghalang dalam penetapan hukum.

13

Dalam sejarahnya, qiyas adalah bentuk penalaran dalam hukum Islam, dari menggunakan pendapat pribadi ke dalam kasus-kasus yang jelas nashnya.

Al-Quran memberikan penekanan yang besar pada penggunaan rasio dan logika. Penegasannya yang berulang-ulang tentang “berfikir” dan “berefleksi” dan penyebutannya yang sporadis tentang rasio (‘illat, alasan) dan tujuan perintah- perintah mengharuskan penggunaan ra’yu dalam setiap permasalahan yang dihadapi.

Oleh karenanya, sejumlah contoh dari al-Qur‟an dimana ketetapan-ketetapan yang

11

Ahmad Hasan. Ibid, hal. 114.

12

Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Jakarta: Pustaka Amani, 2003), h. 200.

13

Nourouzzaman Shiddiq, Fiqih Indonesia, h. 121.

(6)

didasarkan pada qiyas sangat jelas, dan bukti yang memadai untuk menunjukkan bahwa penggunaan ra’yu dalam pengambilan ketetapan hukum berdasarkan qiyas dan argumennya telah menjadi bagian penting dalam penalaran hukum yang dilakukan oleh para sahabat dan fuqoha ‘awal. Sejumlah bukti telah menunjukkan bahwa Nabi sendiri dalam ajaran-ajarannya menggunakan qiyas, meskipun tidak dalam pengertian yang teknis.

Nabi sendiri berperan sebagai otoritas hukum di Madinah, Diriwayatkan, Ia banyak menunjuk sejumlah sahabatnya sebagai hakim di wilayah Arabia.

Penyelesaian perselisihan secara alami menuntut penggunaan akal dan ra’yu. Dalam hadits ini terjadi dialog antara nabi dengan Muaz, Nabi SAW bertanya kepada Muaz,

“bagaimana engkau memutuskan hukum?menjawab pertanyaan ini ia menjawab secara berurutan, “yaitu Al-Qur‟an, kemudian dengan Sunnah, kemudian dengan melakukan ijtihad”. Nabi kemudian membenarkan jawaban Muaz ini dengan mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq atas diri utusan nabi Allah dengan apa yang diridhai Allah dan Nabi-Nya” (HR. Abu Daud).

Qiyas dan Kekuatan Hujjahnya

Dalam pandangan jumhur ulama, qiyas adalah hujjah syara‟ atas hukum- hukum sebangsa perbuatan dan sebagai hujjah syara‟ yang keempat. Artinya, apabila hukum suatu peristiwa (kedua) itu tidak ditemukan adanya nash atau ijma’, sudah pasti memiliki kesamaan illat dengan peristiwa (pertama) yang ada nash hukumnya, maka peristiwa kedua diqiyaskan dengan masalah pertama dan dihukumi sama dengan hukum pada masalah pertama. Hukum itu menjadi ketetapan syara‟ yang wajib diikuti dan diamalkan oleh mukallaf, sedangkan jumhur ulama itu disebut orang-orang yang menetapkan qiyas. Dalam pandangan kelompok Nidzamiyah, Dhahiriyah, dan sebagian golongan syiah, qiyas bukan hujjah syara‟ atas hukum, dan mereka itu disebut orang-orang yang menolak qiyas. Para ulama yang menetapkan qiyas sebagai hujjah dengan mengambil dalil dari Al Quran, As Sunnah, pendapat dan perbuatan sahabat, juga illat-illat rasional.Pertama: Di antara ayat-ayat Al Quran yang digunakan sebagai dalil qiyas ada tiga ayat:

1. Firman Allah SWT. dalam surat An Nissa‟:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),

dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang

sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),

(7)

jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa‟:59)

Dalam ayat ini karena Allah SWT telah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan dan dipertentangkan di antara mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, jika mereka tidak mendapatkan hukumnya dalam al Quran, as Sunnah, maupun ketetapan ulil amri. Sedangkan mengembalikan dan merujukkan permasalahan kepada Allah dan kepada Rasul mencakup semua cara yang dapat disebut mengembalikkan atau merujukkan. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa menyamakan peristiwa yang tidak memiliki nash dengan peristiwa yang memiliki nash karena kesamaan illat hukumnya adalah termasuk mengembalikan permasalahan kepada Allah dan rasul-Nya, karena mengikuti hukum yang ditetapkan Allah dan Rasulullah.

2. Firman Allah Swt. dalam surat al-Hasyr:

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng- benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka- sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin.Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan (QS. Al Hasyr: 2).

Letak pengambilan dalil adalah pada firman Allah fa’tabiruu. Alasan pengambilan dalil dari ayat ini karena setelah Allah SWT menjelaskan kejadian yang menimpa Yahudi Bani Nadhir yang kafir dan menjelaskan hukuman yang menimpa mereka dari arah yang tidak disangka-sangka, maka Allah berfirman,

“Amb’illah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” Artinya, bandingkanlah dirimu dengan mereka, karena kamu adalah manusia seperti mereka; jika kamu berbuat seperti mereka, maka akan mendapat hukuman yang juga seperti mereka.

Alasan pengambilan dalil semacam inilah yang ditunjukkan oleh firman

Allah fa’tabiruu (ambillah untuk pelajaran), Innafii dzaalika la’ibrah

(Sesungguhnya dalam kejadian itu benar-benar memberi pelajaran), dan firman

Allah laqad kaana fii qashashihim la’ibrah (benar-benar dalam cerita mereka itu

(8)

terdapat pelajaran). Baik al I’tibar itu ditafsiri dengan berjalan yakni lewat, atau ditafsiri dengan mengambil nasehat, semuanya bertujuan menetapkan hukum Allah di antara hukum-hukum Allah kepada makhluk-Nya. Artinya, apa yang berlaku bagi pembanding maka berlaku pula bagi yang dibandingkan. Ingatlah bahwa bila ada seorang pegawai dibebastugaskan karena menerima suap, kemudian pimpinan berkata kepada kepada sesama pegawai, “Sesungguhnya hukuman ini adalah sebagai pelajaran bagi kalian,” atau “Ambillah kejadian ini sebagai pelajaran bagimu,” maka ungkapan itu hanya dipahami dengan arti:

Kalian adalah sama dengan pegawai tadi, bila kalian melakukan perbuatan seperti dia, maka kalian pun akan dihukum sebagaimana dia dihukum.

3. Firman Allah SWT dalam surat Yasin:

Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama (QS. Yasin:79) sebagai jawaban kepada orang yang bertanya,

“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”

Dalam ayat ini karena Allah SWT kembali memberikan contoh kepada orang-orang yang mengingkari adanya kebangkitan dengan qiyas. Yakni, Allah SWT menyamakan kebangkitan makhluk setelah kematian dengan penciptaan dan pertumbuhan makhluk pertama kali, agar dapat diterima oleh para penentang.

Artinya bahwa yang mampu menciptakan dan menumbuhkan makhluk pertama kali tentu mampu untuk mengembalikannya (setelah kematian), bahkan pasti lebih mudah. Pengambilan dalil dengan cara qiyas tersebut adalah pengakuan atas kekuatan qiyas sebagai hujjah dan pembenaran atas pengambilan dalil dengan cara qiyas.

Kedua: Di antara sunnah yang digunakan sebagai dalil ada dua:

1. Hadis Mu‟adz bin Jabal:

“Ketika rasulullah mengutusnya ke negeri Yaman, beliau bertanya,

“Dengan apa engkau memutuskan suatu hukum ketika dihadapkan suatu masalah

kepadamu?” Mu‟adz berkata, “aku putuskan dengan kitab Allah (al Quran), bila

tidak kutemukan maka dengan sunnah Rasulullah, bila tidak kutemukan maka

aku berijtihad dengan pendapatku, dan aku tidak akan condong.” Maka

Rasulullah Saw. Menepuk dadanya dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang

telah memberikan pertolongan kepada utusan Rasulullah atas apa yang ia

relakan.”(HR. Ahmad Abu Daud dan at-Tirmidzi).

(9)

Dalam hadis ini adalah karena Rasul menyetujui kepada Mu‟adz untuk berijtihad dalam memutuskan hukum yang tidak ditemukan hukum yang tidak ditemukan nashnya dalam al Quran dan al Sunnah. Adapun ijtihad adalah mencurahkan kemampuan untuk mendapatkan suatu hukum, termasuk diantara ijtihad itu adalah qiyas, karena qiyas adalah salah satu bentuk ijtihad dan cara pengambilan hukum. Sedangkan Rasulullah SAW tidak menetapkan bahwa ijtihad itu hanya dengan satu cara atau bentuk saja.

2. Diantara hadis-hadis sahih

seringkali rasulullah SAW. Dalam beberapa kejadian yang diajukan kepada beliau dan tidak ada wahyu tentang hukum masalah itu, maka beliau mengambil dalil untuk hukumnya dengan jalan qiyas. Perbuatan Rasul dalam hal yang bersifat umum ini adalah sebagai penetapan hukum syara‟ bagi umatnya, karena tidak ada bukti yang menjelaskan kekhususannya. Sehingga qiyas dalam masalah yang tidak ada nashnya adalah termasuk sunnah rasul, dan qiyas (yang dilakukan rasul) adalah tuntutan bagi umat Islam.

Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Seorang budak wanita dari suku Kha‟am berkata, “Hai Rasulullah, ayahku terkena kewajiban haji ketika sudah tua dan lumpuh, tidak mampu untuk melaksanakannya. Jika aku berhaji untuknya, apakah itu akan bermanfaat untuknya?” Nabi bersabda, “bagaimana pendapatmu jika ayahmu mempunyai hutang kemudian kamu bayar, apakah itu dapat bermanfaat untuknya?” Wanita itu berkata, “Ya” Nabi bersabda, “Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.”

Dalam sebuah riwayat dikatakan: Umar bertanya kepada Rasul tentang ciuman orang berpuasa tanpa mengeluarkan air mani, maka Rasul bersabda,

“Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur dengan air sedangkan kamu

berpuasa?” Umar menjawab, “Tidak apa-apa.”Rasul bersabda “Nah

itulah.”Artinya, mencium seperti itu tidak membatalkan puasa.Dalam sebuah

riwayat dikatakan: Seorang laki-laki suku Fazarah tidak mengakui anaknya yang

hitam ketika dihadapkan oleh istrinya, maka Rasulullah bersabda, “Apakah kamu

punya onta?” ia menjaawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Apakah ada yang berwarna

kelabu (merah gelap seperti debu).”Ia menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Dari

mana.”Ia menjawab, “Mungkin bercampur keringat.” Nabi bersabda, “Anak iini

pun mungkin bercampur keringat.”

(10)

Adapun perbuatan yang ucapan para sahabat membuktikan bahwa qiyas adalah hujjah syara. Mereka berijtihad mengenai masalah-masalah yang tidak memiliki nash hukum dan meng-qiyas-kan hukum yang tidak memiliki nash dengan hukum yang memiliki nash dengan cara membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Mereka mengqiyaskan masalah khalifah dengan imam shalat, membai‟at Abu Bakar sebagai khalifah dan menjelaskan dasar-dasar qiyas dengan ungkapan: Rasulullah rela Abu bakar menjadi imam agama kita, apakah kita tidak rela dia sebagai pemimpin dunia kita. Mereka meng-qiyas-kan pengganti Rasul dengan rasul, mereka memerangi pembangkang zakat dengan dasar bahwa rasul melakukan pengambilan zakat dan doa Rasul sebagai penenang jiwa orang-orang yang mengeluarkan zakat, sebagaimana firman Allah SWT: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. At taubah: 103) Umar bin Khattab dalam pesannya kepada Abu Musa Al Asy‟ariy berkata, “…kemudian pahamlah terhadap apa yang telah aku sampaikan kepadamu dalam menghadapi permasalahan yang tidak memiliki nash Quran atau sunnah, lalu carilah perbandingan antara masalah- masalah itu.

Pahamilah beberapa metode menetapkan hukum kemudian yakinlah bahwa pendapatmu lebih dicintai Allah dan lebih mendekati kebenaran.”Ali bin Abi Thalib berkata, “Kebenaran dapat diketahui dengan membandingkan suatu masalah dengan masalah yang lain, menurut orang-orang yang berakal. “Ketika Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang jual beli makanan sebelum diterimakan, ia berkata, “Aku tidak memperhitungkan segala sesuatu kecuali yang sebanding.”

Ibnu qayyim

14

menukil beberapa fatwa para sahabat Rasulullah SAW atas hasil ijtihad mereka dengan metode qiyas, sedangkan Rasulullah semasa hidupnya, tidak mengingkari adanya sahabat yang berijtihad.Demikian juga sebagian sahabat tidak mengingkari adanya hasil ijtihad dengan pendapat sendiri dan dengan mengkiaskan di antara masalah-masalah yang hampir memiliki kesamaan. Maka, mengingkari kekuatan qiyas sebagai hujjah berarti menyalahkan ijtihad yang telah dilakukan para sahabat dan menyalahkan apa yang telah ditetapkan dengan perbuatan dan ucapan mereka.

14

Ibnu qayyim, I’laamul Muwaqqi’iin juz dua, h. 244

(11)

Telah diketahui bahwa al-Qur‟an dan al-Hadits keduanya sebagai pijakan dalam metode hukum qiyas, prinsip qiyas juga telah dibenarkan oleh para fuqoha terdahulu, berdasarkan praktek para sahabat dan tabi’in. Ini disebut dengan ijma’

para sahabat dan kaum muslimin abad-abad awal setelah Nabi.Sehingga banyak kasus semacam semacam itu telah terekam dalam karya-karya fiqh dan hadits.

Dalam hal qiyas para sahabat, Al-Jashshos

15

menyatakan bahwa Pertama, Tak seorangpun dari para kalangan sahabat yang menolak penggunaan qiyas sebagai sumber hukum setelah Al-Quran, hadits dan ijma‟, juga tak seorangpun diantara mereka yang ragu untuk menggunakan ra’yu atau qiyas dalam masalah-masalah hukum. Sehingga, Al Jashshos berkesimpulan, bahwa para sahabat sebenarnya sudah sangat akrab dengan pembolehan ajaran ini dan penggunaan ra‟yu serta ijtihad berdasarkan perintah Nabi. Jika tidak, mereka tidak akan sepakat tentang penggunaannya dalam hukum. Kedua, ijma’ sahabat tentang keabsahan qiyas itu sendiri merupakan otoritas.Ketidaksepakatan atas penyelewengan terhadap kesepakatan itu tidak diperbolehkan.

Pandangan Ulama yang Menolak/ mengkritik Teori Qiyas

Diantara sekian madzhab ulama yang menyetujui qiyas sebagai sumber dan metode hukum Islam, terdapat pula komunitas ulama mazhab yang tidak mengakui qiyas sebagai metode hukum Islam, yaitu Madzhab Zahiriyah, Ibn Hazm dan sebagian Mu‟tazilah. Argumen-argumen penolakan qiyas sebagai metode hukum Islam, adalah:

1. Ketentuan-ketentuan Syari‟ah terdapat dalam bentuk perintah dan larangan.

Terdapat juga kategori mandub dan makruh, yang pada dasarnya merupakan dua variasi dari mubah. Oleh karena itu, hanya ada tiga jenis ahkam: perintah, larangan dan kebolehan. Apabila tidak terdapat nash yang jelas tentang suatu persoalan, maka ia masuk ke dalam prinsip ibahah yang telah ditetapkan dalam al-Qur‟an. Perintah-perintah dan larangan telah ditetapkan dengan otoritas yang jelas dari al-Qur‟an, Sunnah dan ijma‟, yang apabila tidak ada maka tidak ada pula yang dapat menetapkan perintah wajib dan larangan, dan hal ini secara otomatis masuk dalam kategori mubah. Oleh karena itu, tidak terdapat ruang bagi analogi dalam menentukan ahkam.

15

Al Jashshos. Al-Fushul fi al-Ushul, ( Kairo, Dar al-Kutub al-Misriyyah, tt) h. 247.

(12)

2. Pendukung-pendukung analogi, menurut Ibn Hazm,

16

memakai asumsi bahwa syari‟ah tidak memberikan nash untuk setiap masalah, sebuah asumsi yang bertentangan dengan ketentuan eksplisit Al-Qur‟an.

3. Qiyas mendasarkan justifikasinya pada ‘illat yang sama antara kasus asal dan kasus baru. ‘illat juga ditunjukkan dalam nash, apabila hukum itu berasal dari nash itu sendiri, dan qiyas menjadi berlebih-lebihan, atau jika tidak, maka tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya secara pasti. Oleh karena itu, qiyas bersandar pada perkiraan, yang tidak diterima untuk menjadi dasar ketentuan hukum.

4. Ibn Hazm, berpendapat bahwa qiyas secara jelas dilarang dalam Al-Qur‟an.

Karena, nash-nash Al-Qur‟an dan Sunnah menjawab seluruh peristiwa, dan bahwa qiyas adalah tambahan yang tidak perlu bagi nash.

Objek dalam Qiyas

Objek qiyas adalah setiap hukum syara‟ yang tidak memiliki dalil yang qoth’i. Dengan demikian, syariat Islam dalam kaitannya qiyas adalah salah satu dari cara berijtihad terbagi dalam dua bagian:

1. Syariat yang tidak boleh dijadikan lapangan ijtihad yaitu, hukum-hukum yang telah dimaklumi sebagai landasan pokok Islam, yang berdasarkan pada dalil-dalil qoth’i, seperti kewajiban melaksanakan rukun Islam, atau haramnya berzina, mencuri dan lain-lain.

2. Syariat yang bisa dijadikan lapangan ijtihad yaitu hukum yang didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat zhanni, serta hukum-hukum yang belum ada nash-nya dan ijma‟ para ulama.

Terkait dengan obyek qiyas atau masalah pokok qiyas, Ahmad hasan

17

mengelompokkan obyek qiyas ke dalam 9 pokok masalah:

1. Masalah-masalah yang dapat dipahami atau rasional („aqliyah);

2. Masalah-masalah etimologis (lughat);

3. Sebab-sebab dan syarat-syarat (asbab wa syuruth);

4. Hal-hal yang tidak ada hukum asalnya dalam Syari‟ah (‘adam ashli atau nafy ashli);

5. Peribadatan-peribadatan dasar (ushul al-ibadat);

16

Ibnu Hazm,Ushul fiqh wa qqwaid al-fiqhiyah (shamila).

17

Ahmad Hasan. Ibid, h. 62-63.

(13)

6. Hukuman (hudud) dan denda (kaffarat) yang telah ditentukan dan hal-hal yang jumlah, kuantitas atau ukurannya telah disebutkan oleh Syari‟at (muqaddarat);

7. Kelonggaran atau ketetapan-ketetapan khusus (rukhash, tunggal rukhshah);

8. Hal-hal yang berkaitan dengan watak manusia (khilqah);

9. Ketetapan-ketetapan Syari‟ah secara umum (jami’ al-ahkam al-Syar’iyyah).

Kesembilan masalah-masalah pokok qiyas di atas, dikalangan fuqoha diperdebatkan.Menurut sebagian mereka, qiyas berperan dalam masalah-masalah tersebut, sedang menurut sebagian lainnya, qiyas tidak berperan di situ.

Rukun-rukun Qiyas

Istinbat hukum berdasarkan qiyas harus memunuhi empat rukun.Jika bila salah satu rukunnya tidak terpenuhi, maka analogi hukum menjadi cacat. Dan ke empat rukun adalah sebagai sebagai berikut:

1. Ashl (pokok), yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nashnya yang dijadikan tempat mengqiyaskan. Ashl juga disebut maqis alaih (yang dijadikan tempat mengkiyaskan), mahmulalaih (tempat membandingkan), atau musyabbah bih (tempat menyerupakan).

2. Furu’ (cabang), suatu peristiwa yang yang tidak ada nashnya. Furu’ disebut juga dengan maqis (yang sianalogikan), atau musyabbah (yang diserupakan).

3. Hukum ashl , yaitu hukum syara‟ yang ditetapkan oleh suatu nash.

4. ‘Illat, yaitu suatu sifat yang terdapat pada hukum asal, dengan adanya sifat itulah, ashl mempunyai suatu hukum.

Al-Far’u

Al-far’u adalah perkara yang belum memiliki nash dan ijma‟, dan perkara yang dituntut penetapan hukumnya.Posisi al-far’u sebagai al-maqis bagi ashl.Jadi al- far’u adalah peristiwa dan kejadian yang belum memiliki status hukum, dan hendak dicari keputusan hukumnya melalui metode qiyas.Al-far’u dapat menjadi al maqis bagi ashl bila memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada hakikatnya syarat al-far’u yaitu:

1. Al-far’u tidak boleh mendahului ashl dalam penetapan hukumnya 2. Al-far’u tidak memiliki nash dan ijma’.

3. Al-far’u memiliki kesamaan ‘illah hukum ashl.

Bila syarat-syarat-syarat di atas tidak dipenuhi al-far’u maka qiyas menjadi

cacat. Karena al-far’u adalah perkara yang belum ada penetapan hukumnya dan

(14)

dianalogikan kepada ashl. Proses analogi akan sempurna bila terdapat kesamaan

‘illah antara ashl dan far’u.Bagi orang Indonesia, beras dikiaskan dengan gandum dalam pengeluaran zakat. Beras merupakan far’u yang ketetapan hukumnya belum ada dalam nash dan ijma’ serta penetapan hukumnya berlangsung setelah hukum ashl. Beras dan diqiyaskan terhadap gandum dikarenakan kedua-duanya merupakan makanan pokok bagi penduduk setempat.

Hukm al-Ashl

Hukum ashl adalah Hukum syar‟i pada ashl yang diperoleh dari nash

18

Dalam contoh qiyas nabiz terhadap khamar, yang menjadi hukum ashl adalah keharaman khamar. Keharaman ini diperoleh dari nash.Hukm ashl memiliki syarat-syarat tertentu. Imam al-Amidi membuat delapan syarat hukum ashl, yaitu:

19

1. Hukum ashl bersifat syar‟i 2. Hukum ashltsabit tidak mansukh 3. Dalil penetapannya bersifat syar’i

4. Hukum ashl tidak lahir (cabang) dari hukum ashl lainnya 5. Hukum ashl tidak lari (ma’dul) dari hukum-hukum qiyas.

Lari dari hukum qiyas terbagi dua: (1) Sesuatu yang tidak diketahui maknanya seperti bilangan rakaat sholat, jumlah nishab dan kafarat. Hal ini tidak bisa menjadi qiyas bagi yang lain. (2) Sesuatu yang telah disyariatkan sejak awal dan tidak ada menyerupainya. Seperti rukshahsafar dan mengangkat tangan kanan ketika bersumpah. Ini juga tidak dapat menjadi qiyas.

Al-‘‘illah

Pembahasan „‘illah merupakan pembahasan yang banyak menyedot perhatian para ulama. Karena ‘illah merupakan rukun yang paling menentukan dalam proses analogi hukum. Defenisinya saja sudah banyak perdebatan. Imam Ghazali memberi defenisi: al-washfu al-muatssiru fi al-ahkam bi ja’li asy-syari’i la lizatihi (sifat yang berkesesuaian terhadap hukum yang dibuat oleh Allah, bukan karena sifat itu sendiri). Sedangkan Mu‟tazilah mengatakan: al-muatssiru li zatihi fi al-hukm.

20

Al-

18

Abdul Wahhab Khallaf, Ilmual-Ushul…, 61. Wahbah…, Ushul al-fiqh…, 1/606

19

Al-Amidi, al-Ihkam…, 5/243-245

20

Al Isnawiy, Nihayah as Suul…, 319

(15)

Amidi mendefenisikan „‘illah sebagai al-ba’its ‘ala al-hukm (alasan hukum).

Sedangkan ar-Razi: al-Muarrif lil hukm.

21

Defenisi diatas bercorak kalam dan mengundang banyak perdebatan.

Pengertian yang lebih mudah apa yang ditulis oleh Abdul Wahhab Khallaf: Suatu sifat yang dibangun diatasnya hukum ashl dan keberadaan sifat itu pada far’u dapat disamakan dengan hukum ashl.

22

‘illah merupakan asas utama bagi qiyas, dan kesamaan sifat yang terdapat pada ashl dan far’u menghasilkan hukum pada far’u.

23

„‘illah adalah pondasi hukum dan keberadaannya menyebabkan keberadaan hukum lain.

24

Nabiz menjadi haram disebabkan adanya„‘illah keharaman yang sama pada khamar, yaitu memabukkan.

Para ulama berbeda pendapat dalam merumuskan syarat-syarat ‘illah sebagai asas terwujud qiyas.Secara keseluruhan ada 24 syarat yang mereka rumuskan.

25

Sebagian syarat disepakati dan sebagian lain terjadi perbedaan .Menurut Dr. Abdul Halim yang disepakati sangat sedikit sekali -kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali.

26

Sedangkan menurut Abdul Wahhab Khallaf ada empat syarat yang disepakati:

27

1. „‘illah harus bersifat zhahir (washfanzhahiran). Yaitu dapat diketahui oleh panca indra. Seperti zat memabukkan yang terdapat dalam khamar dan juga nabi

2. ‘illah bersifat mundhabit. Maksudnya bahwa ‘illah memiliki ketetapan sifat yang tidak berbeda pada setiap kondisi dan keadaan. Seperti za

28

t memabukkan dalam khamar dan nabiz, yang siapa saja meminumnya akan membuat mabuk.

3. ‘illah bersifat munasib. Bahwa ‘illah memiliki keterkaitan dengan maqasid syari‟ah.

4. ‘illah tidak bersifat terbatas pada ashl semata. Karena jika hanya terdapat pada ashl maka tidak akan bisa menjadi kiasan bagi far’u.

Adapun illat rasional dalam menetapakan qiyas ada tiga:

21Ibid.

22

Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu al-Ushul…, 60

23

Khalid Ramadhan Hasan, Mu’jam Ushul al-Fiqh, h. 187

24

Al-Hadiy al-Kirru, Ushul at-Tasyri…, 47

25

Asy-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, cet.1 (Riyadh: Dar al-Fadhilah, 2000) juz 2, hal. 872.

Wahbah…, Ushul al-Fiqh…, 1/652. Zarkasyi, al-Bahr al-Muhith, cet.2 (Ghardaqah: Dar ash- shafwah, 1992) juz 5, hal. 132

26

. Abdul Halim Abdur Rahman, Mabahits al-Illah fi al-Qiyas, cet.2 (Beirut: Dar al-Basyair al-Islamiyah, 2000) hal. 190

27

Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu al-Ushul…, 68-70

28

Lihat Wahbah, Ushul at-Tasyri’…, 1/655

(16)

1. Allah Swt. tidak menetapkan hukum syara‟ kecuali untuk kemaslahatan, dan kemaslahatan umat adalah tujuan akhir dari penetapan hukum syara‟. Bila suatu kejadian yang tidak memiliki nash ada kesamaan dengan kejadian yang telah memiliki nash dalam hal illat hukumnya, yang diduga kuat untuk kemaslahatan, maka sikap bijaksana dan rasa keadilan menuntut untuk menyamakan masalah- masalah itu dalam hukumnya, untuk membuktikan kemaslahatan dalam menetapkan hukum syara‟ yang menjadi tujuan pembuatan hukum.

2. Nash Al Quran dan As Sunnah sangat terbatas dan ada habisnya. Sedangkan kejadian dan permasalahan manusia tidak terbatas dan tidak ada habisnya. Maka tidak mungkin nash yang ada habisnya itu saja yang menjadi sumber hokum syara‟ bagi masalah-masalah yang tidak ada habisnya. Oleh karena itu qiyas bertindak sebagai sumber hukum syara‟ yang mengiringi kejadian-kejadian baru, membuka peluang pembentukan hukum dalam masalah baru dan memadukan antara pembuatan hukum dengan kemaslahatan.

3. Qiyas adalah dalil yang didukung oleh naluri yang sehat dan teori yang benar.

Seseorang yang melarang minuman karena beracun, bisa mengkiaskan minuman itu kepada semua minuman yang beracun. Seseorang yang mengharamkan suatu perbuatan karena mengandung unsur permusuhan dan penganiayaan kepada orang lain, bisa mengkiaskan perbuatan itu kepada semua perbuatan yang mengandung unsur permusuhan dan penganiayaan kepada orang lain. Di antara umat manusia tidak ada perbedaan pendapat bahwa sesuatu yang dimiliki oleh satu di antara dua benda yang sama, pasti dimiliki oleh salah satu yang lain;

selama tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Al-Syathibi berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan ‘illat adalah hikmat itu sendiri, dalam bentuk maslahat dan mafsadat, yang berkenaan dengan ditetapkannya perintah, larangan, atau keizinan, baik keduanya itu zhahir atau tidak, mudhabith atau tidak. Jadi baginya ‘illat itu tidak lain kecuali adalah maslahat dan mafsadat itu sendiri.

29

Metode-metode untuk menentukan ‘illat dibagi dalam dua kategori besar, yaitu :

1. Shahihah, yakni metode yang keabsahannya disepakati oleh para fuqoha.

2. Zhanniyah, yaitu metode yang keabsahannya bersifat dugaan dan mungkin.

29

Al-Syatibi, Al-Muwafaqot fi Ushul al-Ahkam, Jilid 1 (Beirut. Dar al-Fikr, tt ), h. 185.

(17)

Al-Syirozi menyebut kedua metode itu dengan ashl (asal) dan istinbath (turunan).Metode shahihah, dibagi dua: ijma‟ dan nash. Nash itu sendiri dibagi kedalam nash yang eksplisit (sharih) dan nash yang implisit (ima’ wa al-tanbih).

Sedang metode yang zhanni ada lima: munasabah (kesesuaian), syabah (keserupaan), thardi (kebersamaan atau kebetulan), dawran (perputaran) dan sabr wa taqsim (penyelidikan dan klasifikasi).

30

Kebanyakan fuqoha dalam menemukan ‘illat dengan cara- cara sebagai berikut:

1. Tanqih al-manath (pembersihan dasar ketetapan hukum).

2. Tahqiq al-manath (verifikasi atau realisasi dasar ketetapan hukum).

3. Takhrij al-manath (pengambilan dasar ketetapan hukum).

Macam-macam qiyas 1. Qiyas Aula

Qiyas yang illat-nya mewajibkan adanya hukum dan yang disamakan (mulhaq) dan mempunyai hukum yang lebih utama dari pada tempat menyamakannya (mulhaq bih). Misalnya, mengqiyaskan memukul kedua orang tua dengan mengatakan “ah “ kepadanya, yang tersebut dalam firman Allah SWT:

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isro, 23).

Mengatakan “ah” kepada ibu bapak dilarang karena illat-nya ialah menyakitkan hati. Oleh karena itu, memukul kedua ibu bapak tentu lebih dilarang, sebab disamping menyakitkan hati juga menyakitkan jasmaninya. Illat larangan yang terdapat pada mulhaq (yang disamakan) lebih berat dari pada yang terdapat pada mulhaq bih. Dengan demikian, larangan memukul kedua orang tua lebih keras dari pada larangan mengatakan “ah“ kepadanya.

30

Al-Syrazi,Kitab al-Luma’( Mekkah, Bahrul Ulum, 1325 H) h. 295.

(18)

2. Qiyas Musawi

Qiyas yang illat-nya mewajibkan adanya hukum dan illat hukum yang terdapat pada mulhaq-nya sama dengan illat hukum terdapat pada mulhaq bih.

Misalnya, merusak harta benda anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim, yakni sama-sama merusak harta. Sedang makan harta anak yatim diharamkan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).Maka merusak harta anak yatim adalah haram.Keharamannya karena diqiyaskan pada memakan harta anak yatim.” (QS. An Nisa‟: 10).

3. Qiyas Dalalah

Qiyas dimana illat yang ada pada mulhaq menunjukkan hukum, tetapi tidak mewajibkan hukum padanya, seperti mengqiyaskan harta milik anak kecil pada harta seorang dewasa dalam kewajibannya mengeluarkan zakat, dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah.

Dalam masalah ini, Abu Hanifah berpendapat lain. Bahwa harta benda anak yang belum dewasa tidak wajib di zakati lantaran diqiyaskan dengan haji. Sebab, menunaikan ibadah haji itu tidak wajib bagi anak yang belum dewasa (mukallaf).

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa menurut bahasa, qiyas artinya ukuran atau mengukur, mengetahui ukuran sesuatu, atau menyamakan sesuatu dengan yang lain. Dengan demikian, qiyas diartikan mengukurkan sesuatu atas yamg lain, agar diketahui persamaan antara keduanya. Sedangkan secara terminologi adalah, menyamakan suatu hukum dari peristiwa yang tidak memiliki nash hukum dengan peristiwa yang sudah memiliki nash hukum, sebab sama dalam

„illat hukumnya.

Dalam pandangan jumhur ulama, qiyas adalah hujjah syara‟ atas hukum-

hukum sebangsa perbuatan dan sebagai hujjah syara‟ yang keempat. Artinya, apabila

hukum suatu peristiwa (kedua) itu tidak ditemukan adanya nash atau ijma’, sudah

pasti memiliki kesamaan „illat dengan peristiwa (pertama) yang ada nash hukumnya,

maka peristiwa kedua diqiyaskan dengan masalah pertama dan dihukumi sama

(19)

dengan hukum pada masalah pertama. Hukum itu menjadi ketetapan syara‟ yang

wajib diikuti dan diamalkan oleh mukallaf, sedangkan jumhur ulama itu disebut

orang-orang yang menetapkan qiyas. Adapun pembagian qiyas itu sendiri dibagi

menjadi tiga yaitu qiyas aula, musawi dan dalalah.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997

Ahmad Hasan, Qiyas Penalaran Analaogis di Dalam Hukum Islam, Bandung, Pustaka, 2001

Al Syarbaini Al Khatib, Mughni al Muhtaj, Beirut: Dar al Fikr, jilid III, 1978 Al-Amidi.Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Kairo, Matba‟ah al-Ma‟arif, 1914

Abdul Wahhab Khallaf. Mashadir al-Tasyrie al-Islami fi ma la nashsha fih, Kuwait, Dar al-Qalam, 1972

Ahmad Hasan. Analogical Reasoning in Islamic Yurisprudence, edisi B. Indonesia

“Qiyas Penalaran Analogis di Dalam Hukum Islam”, Bandung, Pustaka, 2001.

Abdul Halim Abdur Rahman, Mabahits al-’illah fi al-Qiyas, cet.2 (Beirut: Dar al- Basyair al-Islamiyah, 2000

Al-Hadiy al-Kirru, Ushul at-Tasyri’ al-Islamiy, cet. 3 (Dar al-Arabiah lil Kitab, tth) Asy-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, cet.1 Riyadh: Dar al-Fadhilah, 2000

Al-Syrazi, Kitab al-Luma’ Mekkah, Bahrul Ulum, 1325 H

Zarkasyi, Al-Bahr Al-Muhith, cet.2, Ghardaqah: Dar ash-shafwah, 1992

Juhaya S. Praja. Juhaya S. Praja. Filsafat Hukum Islam, Bandung, UINSBA, 1995 Nawir Yuslem, Kitab Induk Ushul Fiqih; Konsep Mashlahah Imam al Haramain al

Jawayni dan Dinamika Hukum Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2007

Nourouzzaman Shiddiq, Fiqih Indonesia; Penggagas dan Gagasannya, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1997

Wahbah az-Zuhaily, Ushul al-Fiqh al-Islamiy, cet. I, Damaskus: Dar al-Fikr, 1986

Referensi

Dokumen terkait

13 Hukum Berdasarkan Bentuk Hukum Berdasarkan Tempat berlakunya Hukum Berdasarkan Waktu berlakunya 3.Kebenaran 4.Penjelasan 5.Kemampuan 6.Menyampaikan pendapat

Guru bahasa dapat membahas perbedaan lintas-budaya dengan siswa dengan menekankan bahwa tidak ada budaya yang lebih baik daripada budaya yang lain dan menekankan bahwa mempelajari

Dia sangat kecewa melihat petinggi negara, tokoh masyarakat, pembawa acara di televisi, dan orang cendekia Indonesia yang merasa “hebat” mencampuradukkan bahasa Indonesia

Suatu olahraga yang dilakukan dengan intensitas yang tinggi dapat memicu organ tubuh menjadi stres dan cidera, dan membuat perubahan pada sitokin yang ada.. di

Berdasarkan hasil penelitian “Keanekaragaman Kopi Rakyat Berdasarkan Karakter Topografi di Kabupaten Lumajang” dapat disimpulkan bahwa ditemukan 3 jenis tanaman kopi yaitu

• Produk, permukaan yang berhubungan dengan produk, dan bahan pengemas dilindungi terhadap kontaminasi yang mungkin terjadi dipergunakan kembali • Seafood HACCP Alliance Course

Semakin tinggi konsentrasi Na-CMC yang ditambahkan maka semakin tinggi pula overrun es krim sari biji nangka yang dihasilkan namun overrun es krim sari biji