51 BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam BAB III ini akan membahas tentang veriabel penelitian, definisi operasional, metodologi pengumpulan data, populasi dan sampel penelitian dan teknik analisa data, meliputi: uji asumsi dan cara pengujian hipotesis.
3.1 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel bebas dan 1 variabel terikat yaitu:
Variabel bebas : Konsep Diri dan Dukungan Sosial Teman Sebaya.
Variabel terikat : Kompetensi Interpersonal.
3.2 Definisi Operasional
3.2.1 Kompetensi Interpersonal
Menurut Buhrmester dkk., (1988) kompetensi interpersonal adalah ketrampilan atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki individu untuk membina hubungan yang baik dan efektif dengan orang lain atau antar individu. Aspek-asepk kompetensi interpersonal yaitu kemampuan berinisiatif, kemampuan bersifat terbuka, kemampuan bersikap asertif, kemampuan memberikan dukungan emosional, dan kemampuan mengatasi konflik.
Untuk mengukur kompentensi interpersonal digunakan Interpersonal Competence Questionnaire (ICQ) berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Buhrmester, dkk., (1988). Semakin tinggi skor dari skala ini menujukkan semakin tinggi kompetensi interpersonal yang dimiliki, dan begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang
52
ditunjukkan dalam skala ini menunjukkan semakin rendah pula kompetensi interpersonal yang dimiliki.
3.2.2 Konsep Diri
Konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan dalam berinteraksi dengan lingkungan, Fitts (1971). Aspek-aspek konsep diri yaitu diri identitas (identity self), diri perilaku (behavioral self), diri penilai (judging self), diri fisik (physical self), diri moral-etik (moral-ethical self), diri pribadi (personal self), diri keluarga (family self), diri social (social self).
Untuk mengukur konsep diri digunakan Tennesse Self Concept Scale (TSCS) oleh Fitts (1971), yang diadopsi oleh Jamaludin dkk., (2009). Semakin tinggi skor dari skala ini menujukkan semakin tinggi konsep diri yang dimiliki, dan begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang ditunjukkan dalam skala ini menunjukkan semakin rendah pula konsep diri yang dimiliki.
3.2.3 Dukungan Sosial Teman Sebaya
Dukungan sosial merupakan suatu ketentuan yang dapat diperoleh ketika kita membangun hubungan dengan orang lain, dalam hal ini teman sebaya, (Weiss, 1974). Aspek-aspek dukungan sosial yaitu ketergantungan yang dapat diandalkan (reliable alliance), bimbingan (guidance), pengakuan positif (reassurance of worth), integrasi sosial (social integration), kesempatan untuk mengasuh (opportunity to provide nurturance).
Untuk mengukur dukungan sosial digunakan The Social Provision Scale, (Weiss, 1974), yang diadopsi oleh Cutrona dkk., (1994). Semakin tinggi skor dari skala ini menujukkan semakin tinggi dukungan sosial yang
53 diterima, dan begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang ditunjukkan dalam skala ini menunjukkan semakin rendah pula dukungan sosial yang diterima.
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Ambon yang berjumlah 530 orang (2009-2014). Dari populasi yang ada sampel yang diambil adalah 136 orang dengan mengunakan purposif sampling dengan karakteristik sebagai berikut:
1. Mahasiswa strata 1 angkatan 2012 dan 2013 dan yang tidak readmisi. Dengan alasan bahwa kebanyakan mahasiswa di angkatan 2012 dan 2013 adalah mereka yang dapat dikatakan baru, sehingga dalam membangun kompetensi interpersonal masih menjadi suatu hal yang sulit.
2. Penulis berasumsi kebanyakan dari mahasiswa Ambon masih sulit untuk berteman dengan teman-teman yang berbeda daerah, hal itu terlihat dari batas pergaulan mereka yang kebanyakan memilih dekat dengan teman-teman Ambon saja.
3. Sedangkan mereka yang telah melalui readmisi berarti mereka yang sudah lama dan kembali berkuliah dari awal.
Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang kompetensi interpersonal, konsep diri dan dukungan sosial teman sebaya menggunakan skala psikologi, dengan alasan skala psikologi memiliki keunikan yang khas seperti: stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tisak langsung mengungkapkan indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan, selalu berisi banyak aitem, dan respon partisipan tidak dikalsifikasikan dalam benar atau salah. Semua
54
jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh- sungguh. Ciri khas inilah yang membedakan skala psikologi dari berbagai alat pengumpulan data lainnya seperti angket, daftar isian, dan inventori.
Skala psikologi yang digunakan dalam penelitian ini, dikembangkan berdasarkan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban, yakni: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS).
3.4 Skala
Pengumpulan data menggunakan angket. Angket ini disusun berdasarkan skala likert dengan lima kategori pilihan jawaban, yakni Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS).
3.4.1 Skala Kompetensi Interpersonal
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kompentensi interpersonal adalah Interpersonal Competence Questionnaire (ICQ) berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Buhrmester, dkk., (1988) dengan 40 aitem pernyataan, reliabilitas aitem yang diperoleh adalah; kemampuan berinisiatif (α = 0,82), kemampuan bersikap terbuka (α = 0,81), kemampuan bersikap asertif (α = 0,80), kemampuan memberikan dukungan emosional (α = 0,75), kemampuan mengatasi konflik (α = 0,69). Kemudian dimodifiksi oleh penulis sesuai kebutuhan penelitian dengan 30 aitem pernyataan.
Penjabaran dari aspek kompetensi interpersonal, indikator dan sebaran total item sebagai blue print alat ukur yang nantinya akan dipakai dalam penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
55 Tabel 3.1
Blue Print Skala Kompetensi Interpersonal
NO ASPEK INDIKATOR
AITEM
TOTAL
F U
1 Kemampuan berinisiatif
Mampu memulai suatu interaksi dan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan sosial yang lebih besar
1,21 16 3
Mampu mencari pengalaman baru dengan dunia luar, serta mampu mengendalikan diri sendiri
6,26 11 3
2 Kemampuan bersikap terbuka
Mampu mempertahankan pendapat serta
mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap suatu hal
2,12 17 3
Mampu menyampaikan informasi yang bersifat pribadi mengenai dirinya
3,24 27 3
3 Kemampuan bersikap asertif
Mampu mengungkapnkan gagasan tentang perasaan
7,22 18 3
Jujur serta terbuka pada orang lain dengan cara yang sesuai
38,12 9 3
4 Kemampuan memberikan dukungan emosional
Mampu menenagkan dan memberi semangat terhadap orang lain
4,23 19 3
Memberi rasa nyaman terhadap orang lain, ketika orang itu ada dalam keadaan tertekan dan bermasalah
8,10 14 3
5 Kemampuan menghadapi konflik
Mampu mempertimbangkan kembali penilaian terhadap suatu masalah
15 20,25 3
Mampu merumuskan cara untuk menyelesiakan konflik dengan sebaik-baiknya
5,30 29 3
Total 30
56 Tabel 3.2
Sebaran Aitem Skala Kompetensi Interpersonal Untuk Try-Out
NO ASPEK INDIKATOR
AITEM
TOTAL
F U
1 Kemampuan berinisiatif
Mampu memulai suatu interaksi dan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan sosial yang lebih besar
1,21, 31*
16 4
Mampu mencari pengalaman baru dengan dunia luar, serta mampu mengendalikan diri sendiri
6,26, 32*
11 4
2 Kemampuan bersikap terbuka
Mampu mempertahankan pendapat serta
mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap suatu hal
2,12, 33*
17 4
Mampu menyampaikan informasi yang bersifat pribadi mengenai dirinya
3,24, 34*
27 4
3 Kemampuan bersikap asertif
Mampu mengungkapnkan gagasan tentang perasaan
7,22, 35*
18 4
Jujur serta terbuka pada orang lain dengan cara yang sesuai.
38,12, 36*
9 4
4 Kemampuan memberikan dukungan emosional
Mampu menenagkan dan memberi semangat terhadap orang lain
4,23, 37*
19 4
Memberi rasa nyaman terhadap orang lain, ketika orang itu ada dalam keadaan tertekan dan bermasalah
8,10, 38*
14 4
5 Kemampuan menghadapi konflik
Mampu mempertimbangkan kembali penilaian terhadap suatu masalah
15,39* 20,25 4
Mampu merumuskan cara untuk menyelesiakn konflik dengan sebaik-baiknya
5,30, 40*
29 4
Total 40
Keterangan: tanda (*) adalah aitem yang ditambah
57 3.4.2 Skala Konsep Diri
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur konsep diri menggunakan Tennesse Self Concept Scale (TSCS) oleh Fitts (1971), yang digunakan oleh Jamaludin, dkk., (2009) dalam penelitiannya, dengan 90 aitem pernyataan. Uji reliabilitas 90 aitem tersebut adalah (α = 0,855), dengan penjabaran sebagai berikut; diri identitas (identity self) α = 0,624, diri perilaku (behavioral self) α = 0,784, diri penilai (judging self) α = 0,822, diri fisik (physical self) α = 0,516, diri moral-etik (moral-ethical self) α = 0,749, diri pribadi (personal self) α = 0,727, diri keluarga (family self) α = 0,755, diri sosial (social self) α = 0,683. Kemudian dimodifikasi oleh penulis sesuai kebutuhan penulisan dengan 32 aitem pernyataan.
Penjabaran dari aspek konsep diri, indikator dan sebaran total item sebagai blue print alat ukur yang nantinya akan dipakai dalam penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.3
Blue Print Skala Konsep Diri
NO ASPEK INDIKATOR
AITEM
TOTAL
F U
1 Diri Identitas (Identitiy Self)
Mengambarkan diri dan membangun identitas diri
8,16, 25
14 4
2 Diri Perilaku (Behavioral Self)
Individu mampu menilai dirinya sendiri
2,4, 26
17 4
3 Diri
penerimaan/peni laian (Judging Self)
Individu mampu memberikan penilaian terhadap apa yang diekspresikannya.
6,21, 27
24 4
4 Diri Fisik (Physical Self)
Individu mampu menilaikeadaan dirinya: antara lain kesehatan, penampilan dan keadaan tubuh.
1,10, 28
15 4
58
5 Diri Moral- Etik (Moral-Ethical Self)
Individu mempresepsikan hubungannya dengan Tuhan berdasarkan nilai-nilai moral agama.
5,22, 29
19 4
6 Diri Pribadi (Personal Self)
Kepuasan individu terhadap pribadinya.
12,13,3 0
11 4
7 Diri Keluarga (Family Self)
Kepuasan individu akan kedekatannya dalam keluarga.
3,7, 31
18 4
8 Diri Sosial (Social Self)
Interaksi individu dengan orang lain maupun lingkungannya.
9,20, 32
23 4
Total 32
Tabel 3.4
Sebaran Aitem Skala Konsep Diri Untuk Try-Out
NO ASPEK INDIKATOR
AITEM
TOTAL
F U
1 Diri Identitas (Identitiy Self)
Mengambarkan diri dan membangun identitas diri
8,16, 25,33*
14 5
2 Diri Perilaku (Behavioral Self)
Individu mampu menilai dirinya sendiri
2,4,26, 34*
17 5
3 Diri
penerimaan/peni laian (Judging Self)
Individu mampu memberikan penilaian terhadap apa yang diekspresikannya.
6,21, 27,35*
24 5
4 Diri Fisik (Physical Self)
Individu mampu menilaikeadaan dirinya:
antara lain kesehatan, penampilan dan keadaan tubuh.
1,10, 28,36*
15 5
5 Diri Moral- Etik (Moral-Ethical Self)
Individu mempresepsikan hubungannya dengan Tuhan berdasarkan nilai-nilai moral agama.
5,22, 29,37*
19 5
6 Diri Pribadi (Personal Self)
Kepuasan individu terhadap pribadinya.
12,13, 30,38*
11 5
59
7 Diri Keluarga (Family Self)
Kepuasan individu akan kedekatannya dalam keluarga.
3,7, 31,39*
18 5
8 Diri Sosial (Social Self)
Interaksi individu dengan orang lain maupun lingkungannya.
9,20, 32,40*
23 5
Total 40
Keterangan: tanda (*) adalah aitem yang ditambah
3.4.3 Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
Pengukuran variabel dukungan sosial digunakan The Social Provision Scale, (Weiss, 1974), yang digunakan oleh Cutrona, dkk., (1994) dalam penelitiannya, dengan 24 aitem pernyataan. Uji reliabilitas 24 aitem tersebut adalah (α = 0,915). Kemudian dimodifikasi penulis dengan 24 aitem pernyataan sesuai kebutuhan penulisan.
Penjabaran dari aspek dukungan sosial, indikator dan sebaran total item sebagai blue print alat ukur yang nantinya akan dipakai dalam penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.5
Blue Print Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
NO ASPEK INDIKATOR
AITEM
TOTAL
F U
1 Ketergantungan yang dapat Diandalkan (Reliable Alliance)
Ada individu yang dapat diandalkan dalam saat-saat tertentu
1,23 10,18 4
2 Bimbingan (Guidance)
Pemberian nasehat, saran dan informasi yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi.
12,16 3,19 4
60
3 Pengakuan Positif (Reassurance of Worth)
Pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas individu.
13,20 6,9 4
4 Kedekatan Emosional (Emotional Attachment)
Pengekspresian dari kasih sayang, cinta, perhatian dan kepercayaan yang diterima individu, yang dapat
memberikan rasa aman kepada individu yang menerima
11,17 2,21 4
5 Integrasi Sosial (Social Integration)
Memungkinkannya untuk membagi minat, perhatian serta melakukan kegiatan secara bersama-sama.
5,8 14,22 4
6 Kesempatan untuk Mengasuh (Opportunity to Provide Nurturance)
Memungkinkan individu untuk memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh
kesejahteraan.
4,7 15,24 4
Total 24
Tabel 3.6
Sebaran Aitem Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya Untuk Try-Out
NO ASPEK INDIKATOR
AITEM
TOTAL
F U
1 Ketergantungan yang dapat Diandalkan (Reliable Alliance)
Ada individu yang dapat diandalkan dalam saat-saat tertentu
1,23, 25*
10,18 5
2 Bimbingan (Guidance)
Pemberian nasehat, saran dan informasi yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi.
12,16, 26*
3,19 5
3 Pengakuan Positif (Reassurance of Worth)
Pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas individu.
13,20, 27*
6,9 5
61
4 Kedekatan Emosional (Emotional Attachment)
Pengekspresian dari kasih sayang, cinta, perhatian dan kepercayaan yang diterima individu, yang dapat memberikan rasa aman kepada individu yang menerima
11,17, 28*
2,21 5
5 Integrasi Sosial (Social Integration)
Memungkinkannya untuk membagi minat, perhatian serta melakukan kegiatan secara bersama-sama.
5,8, 29*
14,22 5
6 Kesempatan untuk Mengasuh (Opportunity to Provide Nurturance)
Memungkinkan individu untuk memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh kesejahteraan.
4,7, 30*
15,24 5
Total 30
Keterangan: tanda (*) adalah aitem yang ditambah
3.5 Jenis Data dan Prosedur Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan adalah data primer yang didapat dari penyebaran angket pernyataan yang di dalamnya berisi skala-skala psikologi, dengan cara meminta bantuan Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Maluku Salatiga (HIPMMA) untuk membagi kepada mahasiswa yang berasal dari Ambon angkatan 2012 dan 2013 yang tidak readmisi.
3.6 Penskalaan
Hal yang tidak dapat dipisahkan dengan pengukuran adalah metode penskalaan, merupakan proses penetuan letak stimulus atau letak kategori respon tertentu pada suatu kontinum psikologis (Azwar, 2013).
Metode penskalaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert.
62
Pemberian Skor
Sangat Sesuai : 5;
Sesuai : 4;
Netral : 3;
Tidak Sesuai : 2;
Sangat Tidak Sesuai : 1.
3.7 Daya Diskriminasi dan Reliabilitas Alat Ukur 3.7.1 Daya Diskriminasi Aitem
Azwar (2013) menyatakan daya diskriminasi aitem atau daya beda adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur.
Misalnya dalam skala yang diukur untuk mengungkapkan kompetensi interpersonal, maka aitem berdaya beda tinggi adalah aitem yang menunjukkan mana individu atau kelompok individu yang memiliki kompetensi interpersonal yang tinggi dan mana yang tidak. Pengujian daya diskriminasi aitem dilakukan dengan cara menghitung menghitung koofisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala itu sendiri. komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem- total.
Sebagai kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem total biasanya digunakan batasan rix ≥ 0.30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30 daya bedanya dianggap memuaskan. Jika koefisien korelasi kurang dari 0.30 maka dinyatakan gugur (Azwar, 2013).
63 3.7.2 Reliabilitas
Reliabilitas meruapakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliable.
Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, keajengan, kestabilan, dan konsistensi, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adlah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2013).
Penentuan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode Alpha Cronbach. Nilai koefisien alpha yang dianggap reliabel adalah jika memenuhi nilai minimal 0.60 (Ghozali, 2009).
Kategori tingkatan reliabilitas dengan koefisien alpha yang dikutip dari Sugiyono (2005) dan akan menjadi pedoman penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 3.7
Pedoman Penilaian Reliabilitas
Alpha Kriteria
0.00 – 0.199 Sangat Rendah
0.20 – 0.399 Rendah
0.40 – 0.599 Sedang
0.60 – 0.799 Kuat
0.80 – 1.000 Sangat Kuat
3.8. Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik dilakukan agar mendapatkan model regresi yang baik dan benar-benar mampu memberikan estimasi yang handal dan tidak bias sesuai dengan kaidah Best Linear Unbiased Estimator (BLUE). Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, uji linearitas.
64
3.8.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, kedua variabel (bebas maupun terikat) mempunyai distribusi normal atau setidaknya mendekati normal (Ghozali, 2009). Uji normalitas dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan grafik Histogram serta P- P Plot Test. Pada uji Kolmogorov-Smirnov apabila nilai signifikan > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Normalitas P-P Plot Test dideteksi dengan melihat titik-titik yang mengikuti garis linier yang bergerak dari bawah kekanan atas. Sehingga bila titik-titik tersebut mengikuti garis linier, berarti data terdistribusi normal dan analisis dapat dilanjutkan (Santosa, 2000).
3.8.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Apabila terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas (Ghozali, 2009). Ghozali (2009) dan Wijaya (2009) menyatakan bahwa apabila nilai tolerance > 0.10 dan nilai VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinearitas.
3.8.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika varians berbeda disebut heteroskedstisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
Apabila titik pada grafik scatterplot menyebar secara acak di atas dan di
65 bawah angka 0 pada sumbu Y serta tidak membentuk pola yang jelas atau tertentu, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Santoso, 2010).
3.8.4 Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui linearitas hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dan untuk mengetahui signifikansi penyimpangan dari linearitas hubungan tersebut. Jika penyimpangan tersebut tidak signifikan (p > 0.05), dan signifikansi linearitas signifikan (p < 0.05), maka hubungan antara variable bebas dengan variabel terikat adalah linear (Hadi, 2000).
Selain melihat tabel statistik, uji linearitas juga dapat dicek dengan melihat residual scatterplot sebagai bagian dari perhitungan regresi berganda. Residual scatterplot harus menunjukan garis lurus sebagai indikator bahwa pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen bersifat linier (Pallant, 2007).
3.9 Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis penelitian, teknik analis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda, dengan menggunakan bantuan SPSS 17.0. Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu: Konsep Diri (X1), Dukungan Sosial Teman Sebaya (X2), terhadap variabel terikatnya yaitu Kompetensi Interpersonal (Y).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Terdapat pengaruh secara simultan antara konsep diri dan dukungan sosial teman sebaya terhadap kompetensi interpersonal mahasiswa Ambon di Universitas Kristen Satya Wacana.
66