• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan lembaga yang mengelola pasar modal di Indonesia. BEI menyediakan media bagi terselenggaranya transaksi di pasar modal. Bursa Efek Indonesia merupakan penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Guna mencapai keefektivitasan, pemerintah memutuskan menggabungkan kedua bursa tersebut sejak tanggal 1 Desember 2007 menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa Efek Indonesia juga menyediakan berbagai produk investasi. Terdiri dari 9 sektor perusahaan yang terdaftar di BEI.

Salah satu sektor industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sektor pertambangan. Menurut Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan, Mineral dan Batubara, pertambangan merupakan sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang. Di dalam sektor pertambangan terdapat beberapa sub sektor perusahaan pertambangan yaitu sub sektor pertambangan batubara, sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi, sub sektor pertambangan logam dan mineral, sub sektor pertambangan batu-batuan. Negara Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah khususnya sumber daya alam penghasil bahan tambang, berbagai jenis tambang yang dihasilkan melalui proses penambangan dan pengolahan yang dilakukan oleh perusahaan pada sektor pertambangan dengan tujuan menghasilkan produk yang mempunyai nilai jual tinggi serta berguna membantu masyarakat Indonesia dalam pemenuhan kebutuhannya.

Berdasarkan data Kementrian Keuangan (Kemenkeu) terdapat lima sektor perusahaan yang menjadi penyumbang pajak terbesar di Indonesia yaitu sektor

(2)

2

pertambangan, sektor manufaktur, sektor jasa keuangan, sektor konstruksi, dan sektor perdagangan. Berdasarkan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, berikut data penerimaan pajak sektoral pada tahun 2017-2019:

Gambar 1.1 Pertumbuhan Penerimaan Pajak Sektoral Sumber: kemenkeu.go.id, diakses pada 12 Juni 2021

Pada grafik di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan penerimaan pajak pada tahun 2017 hingga 2019 dari sektor pertambangan mengalami fluktuasi.

Tercatat bahwa sektor pertambangan pada tahun 2017 menuju 2018 mengalami kenaikan. Tahun 2019 mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Akhir september 2019 realisasi penerimaan pajak dari sektor pertambangan sebesar Rp 43.21 triliun. Angka tersebut terkontraksi 20,6% secara year on year (yoy), pada realisasi bulan agustus yang negatif 16,3%. Pada pengembalian pajak cenderung naik 34,4%. Sementara untuk Pajak Penghasilan (PPh) Badan bruto sektor pertambangan negatif 18%. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengatakan volume dan harga komoditas pertambangan berada dalam tren pelemahan terutama batubara. Hal tersebut terjadi karena perlambatan ekonomi global yang membuat mitra dagang Indonesia kehilangan daya beli (CNBC Indonesia, 2019).

Industri pertambangan adalah industri yang pada dasarnya melakukan pengolahan hasil bumi untuk memperoleh nilai, yang selanjutnya dijual dengan tujuan memperoleh laba yang diinginkan perusahaan. Perusahaan pertambangan

-30%

-20%

-10%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

2017 2018 2019

Pertumbuhan Penerimaan Pajak Sektoral

Pertambangan Manufaktur Perdagangan Konstruksi Jasa Keuangan

(3)

3 cukup diminati oleh para investor dalam negeri maupun luar negeri. Dengan adanya hubungan istimewa di perusahaan dalam negeri maupun luar negeri dapat berdampak pada ketidakwajaran harga, biaya atau imbalan yang direalisasikan dalam suatu transaksi bisnis. Secara umum transaksi antar Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut dikenal dengan istilah transfer pricing (Hidayat, Winarso, & Hendrawan, 2019) .

Berdasarkan fenomena tersebut peneliti memutuskan untuk menggunakan sampel perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peneliti juga mempertimbangkan objek penelitian dari peneliti terdahulu yang menggunakan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dibedakan pada periode tahun penelitiannya.

1.2 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan perekonomian terjadi tentunya memberikan dampak yang cukup besar bagi pola bisnis dan para pelaku bisnis. Dengan adanya pengaruh globalisasi menjadikan ekonomi berkembang secara pesat tanpa adanya batasan sehingga meningkatkan transaksi-transaksi internasional. Kegiatan perdagangan internasional membuat perusahaan multinasional tumbuh semakin pesat dengan mengoperasikan anak atau cabang perusahaan di luar negeri (Rezky & Fachrizal, 2018).

Berbagai transaksi internasional terjadi dalam perusahaan multinasional, salah satunya adalah penjualan barang dan jasa. Transaksi bisnis yang terjadi biasanya dilakukan oleh perusahaan yang berelasi atau perusahaan yang memiliki hubungan istimewa. Penentuan harga yang dilakukan atas berbagai transaksi disebut dengan transfer pricing. Praktik transfer pricing merupakan salah satu isu yang cukup sensitif dalam lingkup bisnis. Perusahaan yang melakukan transfer pricing akan memberi pengaruh terhadap penerimaan negara dari sisi pajak baik secara langsung maupun tidak langsung.

Transfer pricing merupakan penentuan jumlah harga atas penyerahan barang atau jasa dalam transaksi bisnis finansial maupun transaksi lainnya yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang berafiliasi. Transfer pricing menurut Pohan

(4)

4

(2018) adalah harga yang diperhitungkan atas penyerahan barang, jasa, atau harta tak berwujud lainnya dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya yang memiliki hubungan istimewa, dalam kondisi yang didasarkan atas prinsip harga pasar wajar. Transfer Pricing terbagi dua kelompok, yaitu intra-company dan inter-company transfer pricing. Intra-company transfer pricing adalah transfer pricing yang dilakukan oleh antar divisi atau departemen dalam satu perusahaan. Inter-company transfer pricing adalah transfer pricing yang dilakukan oleh dua perusahaan yang memiliki hubungan istimewa. Transaksi yang dilakukan bisa dalam satu negara atau antar negara berbeda.

Dalam menangani masalah transfer pricing terdapat aturan dalam Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan yaitu pasal 18 yang menjelaskan bahwa aturan transfer pricing mencakup beberapa hal antara lain, hubungan istimewa, wewenang menentukan perbandingan hutang dan modal, dan wewenang untuk melakukan koreksi dalam hal terjadi transaksi yang tidak arm’s length. Dalam pasal 18 ayat (4) dijelaskan hubungan istimewa antara wajib pajak badan dapat terjadi karena pemilikan atau penguasaan modal saham suatu badan lainnya sebanyak 25 % (dua puluh lima persen) atau lebih, atau antara beberapa badan yang 25% (dua puluh lima persen) atau lebih sahamnya dimiliki oleh suatu badan. Wajib pajak menguasai wajib pajak yang lainnya atau dua atau lebih wajib pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung.

Perusahaan seringkali mengejar laba maksimal dengan cara menyalahgunakan transfer pricing. Dengan memanfaatkan anak perusahaan yang berada di negara dengan tarif pajak rendah atau negara yang memiliki status tax haven country untuk menghindari pajak. Sesuai prinsip arm’s length principle atau sering disebut prinsip kewajaran dan kelaziman usaha menyatakan bahwa transfer pricing boleh dilakukan asal sejalan dengan prinsip tersebut. Transfer pricing sudah sesuai dengan prinsip arm’s length principle atau belum dapat dilihat dengan melakukan berbagai analisis antara lain analisis kesebandingan dan menentukan pembanding yang mana harus dilakukan antara pihak yang memiliki hubungan istimewa sama atau sebanding dengan kondisi transaksi yang dilakukan antara

(5)

5 pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa yang menjadi pembanding. Oleh karena itu, laba atau harga dalam transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa harus sama dengan atau berada dalam rentang harga atau laba dalam transaksi yang tidak memiliki hubungan istimewa.

Praktik transfer pricing menimbulkan beberapa permasalahan salah satunya masalah keagenan. Masalah terjadi karena terdapat perbedaan informasi yang diterima antara manajemen perusahaan sebagai agen dan pemegang saham sebagai prinsipal. Manajemen memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan pemegang saham karena manajemen memiliki wewenang yang diberikan untuk bertindak secara langsung mengelola perusahaan sehingga informasi lebih yang didapatkan oleh manajemen digunakan untuk melakukan tindakan yang tentunya memberikan dampak keuntungan untuk dirinya sendiri. Tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan yaitu dapat memanfaatkan celah transaksi hubungan istimewa untuk mengatur beban pajak dengan adanya perbedaan tarif pajak antar negara yang memiliki hubungan istimewa tersebut yang dampaknya pada peningkatan laba setelah pajak, hal ini tentunya juga dimanfaatkan oleh manajemen sebagai alat untuk memperoleh keuntungan lebih berupa bonus dari peningkatan laba yang didapat perusahaan.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari Kontan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membidik 51 produsen batubara untuk membuka data kontrak penjualan. Menurut kesepakatan global, upaya mencegah manipulasi transfer pricing dilakukan dengan mengimplementasikan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha atau arm’s length principle yang harus dibuktikan melalui suatu dokumentasi transfer pricing (Santoso , 2019). Dalam berita yang dilansir dari CNN Indonesia, manipulasi transfer pricing bisa dilakukan oleh suatu perusahaan dalam suatu grup yang beroperasi di negara-negara yang memiliki perbedaan sistem pajak.

Manipulasi tersebut melibatkan aktivitas penetapan harga yang tidak wajar, skema transaksi dan struktur usaha artifisial. Hal tersebut juga mengecilkan profit setelah pajak karena menggerus basis pajak dan mengalihkan laba ke perusahaan di negara lain.

(6)

6

Beberapa hal yang juga disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan juga menjabat sebagai ketua Dewan Pengurus Nasional IAI yaitu transfer pricing sebenarnya tidak dilarang selama tidak bertujuan untuk sengaja menggelapkan pajak. Sayangnya, transfer pricing memberi peluang bagi wajib pajak untuk memanipulasi kewajiban pajaknya. Transfer pricing banyak disalahgunakan untuk mencoba mengecilkan atau men-shifting profit yang seharusnya menjadi bagian untuk membayar pajak. Beliau juga menyampaikan bahwa potensi penerimaan pajak dari perusahaan multinasional sangat besar.

Dalam berita tersebut juga disampaikan bahwa dengan dikeluarkannya Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) Action oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), negara- negara yang tergabung di G-20 sepakat untuk menutup lubang (loophole) transfer pricing dengan menciptakan dunia perpajakan internasional yang lebih transparan. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 213/PMK.03/2016 tentang jenis Dokumen dan atau Informasi Tambahan yang Wajib Disimpan oleh Wajib Pajak yang melakukan Transaksi dengan Para Pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa dan Tata Cara Pengelolaannya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tirto id dijelaskan bahwa terdapat berbagai isu negatif salah satunya terkait dengan fenomena praktik transfer pricing. Dalam kasus ini perusahaan multinasional dianggap selalu meminimalisasi jumlah pajaknya melalui rekayasa harga yang ditransfer, khususnya pada entitas afiliasi di luar negeri. Fenomena transfer pricing yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh perusahaan sektor pertambangan pada PT Adaro Energy. Kasus tersebut terdapat indikasi manipulasi harga penjualan batubara. PT Adaro Energy menjual hasil produksinya yaitu batubara dengan harga miring yang mana penjualan tersebut dilakukan dengan menggunakan harga yang ada di bawah harga pasar kepada perusahaan afiliasinya di Singapura yaitu, Coaltrade Services International Pte Ltd. Kemudian, Coaltrade Services International Pte Ltd menjual kembali batubara tersebut ke pasaran sesuai harga lebih tinggi. Selama 2009-2017, Global Witness mencatat lebih dari 70 persen batubara yang dijual Coaltrade berasal dari tambang batubara Adaro di Indonesia. Hal tersebut dimaksudkan guna

(7)

7 menghindari pembayaran royalti dan pajak yang sudah seharusnya dibayarkan ke kas negara sejumlah US$ 125 juta atau setara dengan US$ 14 juta per tahun (Thomas, 2019).

Penelitian mengenai keputusan transfer pricing telah cukup banyak dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dan tentunya juga terdapat faktor cukup beragam yang dapat mempengaruhi keputusan tersebut. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan transfer pricing, antara lain pajak, mekanisme bonus, leverage.

Menurut Undang-Undang No 16 tahun 2009 pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan terdapat perbedaan kepentingan antara pemerintah sebagai penerima pajak dengan pemilik usaha atau perusahaan sebagai wajib pajak. Bagi pemerintah pajak merupakan sumber pendapatan sedangkan menurut perusahaan pajak merupakan beban yang merugikan perusahaan karena sifatnya yang menjadi pengurang laba perusahaan. Pajak merupakan biaya yang cukup signifikan bagi perusahaan, sehingga hal ini menciptakan keinginan perusahaan untuk meminimalkan beban pajak yang dibayarkan.

Besarnya jumlah pajak yang seharusnya dibayarkan kepada negara mendorong perusahaan melakukan tindakan transfer pricing, dengan memanfaatkan celah hubungan istimewa memungkinkan perusahaan memiliki pendapatan yang rendah sebagai hasil dari nilai transaksi murah dengan perusahaan yang memiliki afiliasi. Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor yang diharapkan dapat memberikan kontribusi pajak yang besar, dengan perusahaan melakukan tindakan transfer pricing guna membantu perusahaan meminimalkan pajak yang harus dibayarkan tentunya merugikan negara (Suparno & Sawarjuwono, 2019). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marfuah et al (2019) dan Cledy dan Amin (2020) menyatakan bahwa pajak berpengaruh positif secara signifikan terhadap transfer pricing berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang

(8)

8

dilakukan oleh (Wardani & Kurnia, 2018) dan (Saifudin & Putri, 2018) menyatakan bahwa pajak tidak memiliki pengaruh pada keputusan transfer pricing.

Mekanisme bonus (bonus mechanism) juga mempengaruhi keputusan transfer pricing. Pemilik perusahaan tentunya melihat kinerja jajaran direksinya dengan cara melihat keseluruhan laba yang dihasilkan. Dengan begitu dalam menjalankan tugasnya para direksi tentunya ingin memberikan kinerja yang baik kepada pemilik perusahaan karena dengan melakukan itu maka pemilik perusahaan akan memberikan penghargaan kepada mereka dengan menggunakan bonus.

Berdasarkan tingkat laba, banyak direksi melakukan penyalahgunaan kekuasaannya untuk terus meningkatkan laba perusahaan demi mendapatkan bonus yang tinggi. Dengan motivasi pemberian bonus tentunya mendorong direksi atau manajemen untuk melakukan tindakan mengatur laba dengan melakukan penjualan dengan pihak yang berafiliasi yang mana tindakan transfer pricing menjadi pilihan oleh manajemen atau direksi untuk memaksimalkan laba.

Menurut Mispiyanti (2015) mekanisme bonus adalah strategi atau motif perhitungan dalam akuntansi yang memiliki tujuan untuk memberikan penghargaan kepada direksi atau manajemen dengan melihat laba perusahaan secara keseluruhan. Hartati et al (2015) menyampaikan bahwa ketika pemberian bonus berdasarkan pada besarnya laba, maka sangat memungkinkan untuk direksi melakukan tindakan mengatur dan memanipulasi laba demi memaksimalkan bonus yang mereka terima. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari (Tania &

Kurniawan, 2019) dan (Saifudin & Putri, 2018) yang menyatakan bahwa mekanisme bonus berpengaruh positif terhadap transfer pricing. Namun, tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Saraswati dan Sujana (2017) dan Santosa dan Suzan (2018) yang menyatakan bahwa mekanisme bonus tidak berpengaruh terhadap transfer pricing.

Selanjutnya, keputusan transfer pricing juga dapat dipengaruhi leverage.

Leverage menurut Rahayu et al (2020) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva yang perusahaan miliki tersebut berasal dari hutang atau modal, sehingga dapat diketahui posisi perusahaan dan kewajibannya yang bersifat tetap kepada pihak lain serta keseimbangan nilai aktiva tetap dengan

(9)

9 modal yang ada. Semakin tinggi hutang perusahaan maka semakin tinggi beban bunga yang ditanggung oleh perusahaan, tingginya beban bunga akan mempengaruhi laba yang diperoleh perusahaan. Anggota kelompok biasanya dibiayai oleh perusahaan dengan transfer hutang dan/ atau modal (Pratiwi, 2018).

Perusahaan yang memiliki tingkat penggunaan hutang yang tinggi akan lebih fokus pada pembayaran hutang yang berdampak pada pengambilan keputusan perusahaan, termasuk dalam melakukan transfer pricing dengan melakukan pengalihan hutang kepada perusahaan yang memiliki hubungan istimewa sebagai upaya perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya. Sehingga perusahaan yang memiliki leverage yang tinggi cenderung akan melakukan transfer pricing untuk mengurangi beban bunga atau beban operasional lainnya yang harus dibayarkan untuk menghindari kerugian.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2018) dan Rezky & Fachrizal (2018) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap transfer pricing. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al (2020) dan Cledy dan Amin (2020) yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing.

Dari latar belakang dan fenomena yang telah dipaparkan di atas serta adanya hasil perbedaan dalam penelitian-penelitian sebelumnya, maka penulis tertarik untuk meneliti variabel pajak, mekanisme bonus dan leverage sebagai variabel independen yang merupakan beberapa faktor yang menyebabkan perusahaan melakukan tindakan transfer pricing. Oleh karena itu, judul dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Pajak, Mekanisme Bonus, dan Leverage terhadap Keputusan Transfer Pricing (Studi pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019)”.

1.3 Perumusan Masalah

Transfer pricing merupakan suatu kebijakan yang dilakukan perusahaan dalam memutuskan harga transfer suatu transaksi baik barang, jasa, harta tak berwujud atau transaksi finansial yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam transfer pricing terdapat dua kelompok yaitu inter-company dan intra-company transfer

(10)

10

pricing. Inter-company adalah transaksi yang dilakukan antar perusahaan yang memiliki hubungan istimewa sedangkan intra-company adalah transaksi yang dilakukan antar divisi dalam perusahaan. Hubungan istimewa yang terjalin menyebabkan transaksi antar beberapa divisi atau perusahaan dalam satu kelompok usaha menjadi tidak wajar dengan menaikan atau menurunkan harga yang tidak sesuai dengan harga pasar.

Tingginya tarif pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada negara mendorong perusahaan melakukan tindakan transfer pricing, dengan memanfaatkan celah hubungan istimewa memungkinkan perusahaan memiliki pendapatan yang rendah sebagai hasil dari nilai transaksi murah dengan perusahaan yang memiliki hubungan istimewa. Adanya perbedaan tarif pajak antar negara mendorong perusahaan melakukan transaksi penjualan kepada pihak yang memiliki hubungan istimewa di negara yang memiliki tarif pajak lebih rendah atau bahkan negara dengan status tax haven country.Transfer pricing merupakan ancaman yang bisa dikatakan cukup serius untuk otoritas pajak di Indonesia maupun di berbagai negara, ancaman ini dapat diketahui dengan melihat harga transfer yang digunakan dalam transaksi seringkali cenderung tidak wajar. Dengan dilakukannya transfer pricing yang tidak sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman (arm’s length principle) tentunya dapat menimbulkan masalah.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi manajemen dalam melakukan transfer pricing dan faktor-faktor tersebut cukup menyebabkan berbagai masalah. Beberapa faktor tersebut masih terus dikaji karena masih dijumpai perbedaan hasil penelitian terdahulu. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan pengkajian kembali terhadap variabel yang bisa mempengaruhi keputusan transfer pricing.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, penelitian ini bermaksud menguji pengaruh pajak, mekanisme bonus, dan leverage terhadap keputusan transfer pricing. Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(11)

11 1. Bagaimana pajak, mekanisme bonus, dan leverage serta keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019?

2. Apakah pajak, mekanisme bonus, dan leverage berpengaruh secara simultan terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019?

3. Bagaimana pengaruh parsial dari :

a) Pajak terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019?

b) Mekanisme bonus terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019?

c) Leverage terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pajak, mekanisme bonus, leverage dan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019.

2. Untuk mengetahui apakah pajak, mekanisme bonus, leverage berpengaruh secara simultan terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019.

3. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial dari:

a) Pajak terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019.

(12)

12

b) Mekanisme bonus terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019.

c) Leverage terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2019.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut:

1.5.1 Aspek Teoritis

1) Bagi akademisi, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para akademisi di bidang akuntansi, khususnya mengenai transfer pricing di Indonesia.

2) Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan acuan dan referensi bagi peneliti selanjutnya, khususnya mengenai keputusan transfer pricing dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.5.2 Aspek Praktis

Manfaat praktis yang ingin diperoleh sebagai hasil dari penelitian ini adalah:

1) Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan membantu pemerintah dalam menyempurnakan regulasi atau peraturan perundang- undangan tentang praktik transfer pricing.

2) Bagi Investor atau calon investor, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi guna sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan investasi pada perusahaan terkhusus pada perusahaan sektor pertambangan 3) Bagi Manajemen perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam melakukan praktik transfer pricing.

(13)

13 1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Penulisan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab yang saling terkait, sehingga dapat ditarik kesimpulan atas permasalahan yang diangkat. Secara garis besar, sistematika penulisan pada penelitian ini terbagi menjadi:

a. BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini menjelaskan secara umum, ringkas dan padat yang menggambarkan dengan tepat isi penelitian. Isi bab meliputi: Gambaran Umum Objek Penelitian, Latar Belakang Penelitian, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Penulisan Tugas Akhir.

b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi teori dari umum sampai ke khusus, disertai penelitian terdahulu dan dilanjutkan dengan kerangka pemikiran penelitian yang diakhiri dengan hipotesis jika diperlukan.

c. BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini menegaskan pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis temuan yang dapat menjawab masalah penelitian. Bab ini meliputi uraian tentang: Jenis Penelitian, Operasional Variabel, Populasi dan Sampel (untuk kuantitatif) atau Situasi Sosial (untuk kualitatif), Pengumpulan Data, Uji Validitas dan Reliabilitas, serta Teknik Analisis Data.

d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini berisikan hasil penelitian dan pembahasan diuraikan secara tepat dan sistematis sesuai dengan perumusan masalah serta tujuan penelitian.

e. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini berisi kesimpulan hasil penelitian yang merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian, kemudian menjadi saran yang berkaitan dengan manfaat penelitian.

Gambar

Gambar 1.1 Pertumbuhan Penerimaan Pajak Sektoral  Sumber: kemenkeu.go.id, diakses pada 12 Juni 2021

Referensi

Dokumen terkait

Kode yang muncul setelah pencarian tersebut adalah nomor klasifikasi buku yang digunakan perpustakaan untuk menyusun koleksi buku yang ada agar buku-buku yang sejenis dapat

Saya Hervita Laraswati mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja semester akhir bermaksud meneliti tentang “Analisis Risiko Musculoskeletal

Sesudah mengalami asimilasi progresif total, bunyi-bunyi yang sama tersebut kembali mengalami perubahan bunyi, zeroisasi sinkope, pada salah satu bunyi dari dua

Flavonoida biasanya terdapat sebagai O-glikosida, pada senyawa tersebut satu gugus hidroksil flavonoida (atau lebih) terikat pada satu gula dengan ikatan hemiasetal yang tidak

dibantu perencana Comprehensive Planning Perencana dibantu aspirasi masyarakat Strategic Planning Stakeholders di- bantu perencana Participatory Planning Masyarakat

Persetujuan tertulis dibuat dalm bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir persetujuan tindakan kedokteran sebelum ditandatangani atau dibubuhkan cap ibu

Cooper, (1982:38) latihan aerobik adalah kerja tubuh yang memerlukan oksigen untuk kelangsungan proses metabolisme energi selama latihan. Sehingga latihan aerobik

Terdapat implementasi pengelolaan fauna tetapi tidak mencakup kegiatan pengelolaan secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan terhadap jenis-jenis yang