• Tidak ada hasil yang ditemukan

GIZI OLAHRAGA (KARBOHIDRAT DAN OLAHRAGA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GIZI OLAHRAGA (KARBOHIDRAT DAN OLAHRAGA)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

GIZI OLAHRAGA

(KARBOHIDRAT DAN OLAHRAGA)

UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN GIZI

2014

(2)

KARBOHIDRAT DAN OLAHRAGA 1. Pendahuluan

Di dalam dunia olahraga, tidak hanya metode latihan atau juga bakat yang akan menentukan prestasi yang dapat diraih oleh seorang atlet namun konsumsi nutrisi yang tepat dalam sehari hari secara langsung juga akan memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan performa serta prestasi yang dapat diraih oleh seorang atlet. Oleh karena itu, atlet yang memiliki tingkat kegiatan aktivitas fisik yang tinggi akan membutuhkan konsumsi zat gizi yang tepat komposisinya agar ketersediaan sumber energi di dalam tubuh dapat tetap terjaga baik untuk menjalankan aktivitas sehari-hari maupun saat akan menjalani program latihan maupun saat akan bertanding (www.pssplab.com).

Kombinasi antara rutinitas latihan dengan frekuensi yang dapat mencapai 2x perhari-nya serta kemudian dilanjutkan dengan pertandingan pada akhir minggu seperti pada kompetisi sepakbola nasional ataupun kompetisi olahraga lainnya, menyebabkan atlet akan membutuhkan jumlah asupan energi (kalori) yang besar untuk mendukung aktivitasnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan energi, seorang atlet secara umum disarankan untuk memenuhi kebutuhannya dengan kombinasi sebesar 50% atau secara ideal 55-65% melalui konsumsi karbohidrat, 20-35% melalui konsumsi lemak serta 12-15% melalui konsumsi protein (www.pssplab.com).

2. Energi Saat Olahraga

Kebutuhan energi pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber- sumber energi yang tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran lemak, serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara ketiganya, simpanan protein bukanlah merupakan sumber energy yang langsung dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai jika simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh (www.pssplab.com).

Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energy untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi olahraga yang dilakukan. Pada olahraga intensitas rendah (±25 VO

2

max) dengan waktu durasi yang panjang seperti jalan kaki atau lari-lari kecil, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh.

Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energy utama tubuh

dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap akan

dibutuhkan oleh tubuh untuk menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk

mempertahankan level glukosa darah (www.pssplab.com).

(3)

Pada olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan berfungsi sebagai sumber energy utama tubuh dan akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran lemak dalam memproduksi energi di dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai sumber energy utama tubuh akan meningkat hingga sebesar 100% ketika intensitas olahraga berada pada rentang 70-95% VO

2

max (www.pssplab.com).

3. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi yang tidak hanya berfungsi

untuk mendukung aktivitas fisik seperti berolahraga namun karbohidrat juga

merupakan sumber energi utama bagi sistem pusat syaraf termasuk otak. Di dalam

tubuh, karbohidrat yang dikonsumsi oleh manusia dapat tersimpan di dalam hati

(4)

dan otot sebagai simpanan energi dalam bentuk glikogen. Total karbohidrat yang dapat tersimpan di dalam tubuh orang dewasa kurang lebih sebesar 500 gr atau mampu untuk menghasilkan energi sebesar 2000 kkal. Di dalam tubuh manusia, sekitar 80% dari karbohidrat ini akan tersimpan sebagai glikogen di dalam otot, 18-22% akan tersimpan sebagai glikogen di dalam hati dan sisanya akan bersirkulasi di dalam aliran darah dalam bentuk glukosa (www.pssplab.com).

Karbohidrat, dalam bentuk glukosa, adalah bahan bakar yang lebih disukai untuk kerja otot. Hal ini sangat penting selama latihan intensitas tinggi, tetapi latihan apa pun yang dilakukan beberapa karbohidrat akan digunakan.

Pada saat berolahraga terutama olahraga dengan intensitas moderat-tinggi, kebutuhan energy bagi tubuh dapat terpenuhi melalui simpanan glikogen, terutama glikogen otot serta melalui simpanan glukosa yang terdapat di dalam aliran darah (blood glucose) dimana ketersediaan glukosa di dalam aliran darah ini dapat dibantu oleh glikogen hati agar levelnya tetap berada pada keadaan normal.

Proses pembakaran 1 gram karbohidrat akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal.

Walaupun nilai ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan energi hasil pembakaran lemak, namun proses metabolisme energi karbohidrat akan mampu untuk menghasilkan ATP (molekul dasar pembentuk energi) dengan kuantitas yang lebih besar serta dengan laju yang lebih cepat jika dibandingkan dengan pembakaran lemak (www.pssplab.com).

Sebagai zat gizi yang berfungsi untuk menyediakan energi bagi tubuh, konsumsi karbohidrat pada saat latihan / pertandingan olahraga kompetitif sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi seorang atlet profesional saat menjalani kompetisi atau jadwal latihan yang padat (http://files.wordpress.com/).

Karena glikogen otot yang menjadi sumber energi utama untuk berbagai aktivitas olahraga memiliki jumlah simpanan yang terbatas di dalam tubuh. maka salah satu tujuan konsumsi karbohidrat pada saat olahraga adalah untuk menghemat pemakaian glikogen otot agar level energi tubuh, performa serta intensitas olahraga dapat dipertahankan (http://files.wordpress.com/).

4. Simpanan Karbohidrat (Glikogen)

Produksi adenosine triphosphate (ATP) selama kerja otot yang intensif tergantung dari ketersediaan glikogen otot dan glukosa darah. jaringan otot merupakan simpanan glikogen yang utama (400 g), kemudian hati (70 g) dan glukosa darah (2,5 g; 342 kJ). Jumlah ini dapat bervariasi diantara individu, dan tergantung faktor seperti intake atau asupan makanan (http://files.wordpress.com/).

Jumlah simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh merupakan salah

satu faktor penentu performa seorang atlet . Atlet yang mengkonsumsi karbohidrat

dalam jumlah yang besar dalam sehari-hari akan memilki simpanan glikogen yang

relatif lebih besar jika dibandingan dengan atlet yang mengkonsumsi karbohidrat

(5)

dalam jumlah yang kecil. Dengan simpanan glikogen yang rendah, seorang atlet dalam menjalankan latihan/pertandingannya akan cepat merasa lelah sehingga kemudian mengakibatkan terjadinya penurunan intensitas dan performa olahraga.

Hal ini berbeda dengan seorang atlet yang akan memiliki performa dan ketahanan yang lebih baik apabila memiliki simpanan glikogen yang besar (www.pssplab.com).

Perlu juga untuk diketahui bahwa glikogen yang terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke dalam aliran darah dalam bentuk glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. Hal ini berbeda dengan glikogen yang tersimpan di dalam hati yang dapat dikonversi menjadi glukosa melalui proses glycogenolysis ketika terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkan (www.pssplab.com).

Simpanan glikogen di hati mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan kadar glukosa darah selama masa istirahat (diantara waktu makan utama) dan selama latihan. Kadar glikogen hati dapat habis selama masa puasa yang lama (15 jam) dan dapat menyimpan 490 mmol glikogen dengan diet campuran sampai 60 mmol glikogen dengan diet rendah karbohidrat. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dapat meningkatkan glikogen kurang lebih 900 mmol (http://files.wordpress.com/).

Simpanan glikogen hati ini sifatnya labil, disarankan agar latihan yang lama dilakukan 1-4 jam setelah makan makanan sumber karbohidrat yang terakhir. Jika latihan yang lama dilakukan pada pagi hari setelah puasa semalam, maka diet tinggi karbohidrat harus dikonsumsi pada tengah malam (http://files.wordpress.com/).

a. Faktor Yang Mempengaruhi Simpanan Glikogen Otot 1) Jumlah karbohidrat

Berdasarkan berbagai penelitian terlihat bahwa kecepatan simpanan glikogen yang maksimal terjadi ketika 0,7-1,0 g/kg BB karbohidrat dikonsumsi setiap 2 jam pada tahap awal proses pemulihan, atau total asupan karbohidrat 8-10 g/kg BB/24 jam. Jumlah karbohidrat ini dapat digambarkan dengan asupan karbohidrat 500-800 g/hari untuk rata- rata atlit atau dalam presentase 60-70% dari total energi untuk atlet dengan latihan yang berat (http://files.wordpress.com/).

2) Besarnya pengosongan glikogen

Kecepatan simpanan glikogen paling besar terjadi pada jam-jam

pertama masa pemulihan setelah latihan, ketika pengosongan otot terjadi

maksimal dibandingkan jika pengosongan otot hanya sedikit

(http://files.wordpress.com/).

(6)

3) Waktu konsumsi karbohidrat

Kegagalan mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat segera pada tahap pemulihan akan menghambat penyimpanan glikogen. Hal ini disebabkan kegagalan waktu peningkatan sintesa glikogen langsung setelah latihan dihentikan, serta karena penundaan penyediaan makanan bagi sel otot (http://files.wordpress.com/).

Sintesa glikogen tidak dipengaruhi oleh frekuensi makan (porsi kecil tapi sering atau porsi besar sekaligus). Atlet disarankan untuk memilih jadwal makan yang praktis dan nyaman; porsi kecil tapi sering mungkin bermanfaat untuk mengatasi problem makan makanan tinggi karbohidrat yang volumenya besar (http://files.wordpress.com/).

b. Faktor Yang Mempengaruhi Simpanan Glikogen Hati 1) Waktu makan makanan sumber karbohidrat

Puasa semalam dapat menurunkan simpanan glikogen hati dan mempengaruhi penampilan atlet jika latihan dilakukan dalam waktu lama.

Untuk menjamin tingginya simpanan glikogen hati untuk menjalani latihan tsb, dianjurkan makanan terakhir dimakan tidak lebih dari 2-6 jam sebelum latihan. Hal ini mungkin tidak praktis untuk atlet yang akan latihan pada pagi dini hari. Pada kasus ini makanan terakhir yang dimakan malam sebelumnya sebaiknya mengandung banyak karbohidrat (http://files.wordpress.com/).

2) Jenis karbohidrat

Konsumsi makanan yang mengandung fruktosa akan meningkatkan

kecepatan sintesa glikogen hati dibandingkan dengan glukosa. Oleh karena

itu untuk memaksimalkan simpanan glikogen hati, makanan yang tinggi

fruktosa (buah, jus buah) harus termasuk di dalam diet selama masa

pemulihan (http://files.wordpress.com/).

(7)

Walaupun jumlah karbohidrat yang dapat tersimpan sebagai glikogen ini memiliki keterbatasan, namun kapasitas penyimpanannya terutama kapasitas penyimpanan glikogen otot dapat ditingkatkan dengan cara mengurangi konsumsi lemak dan memperbesar konsumsi bahan pangan kaya akan karbarbohidrat seperti roti, kentang, jagung,singkong atau juga pasta. Pengisian tubuh dengan karbohidrat pada masa persiapan ini biasanya dikenal dengan istilah carbohydrate loading dan akan memberikan manfaat terutama bagi atlet yang akan berkompetisi dalam cabang olahraga endurance atau atlet yang akan melakukan latihan/ pertandingan dengan durasi lebih dari 90 menit (www.pssplab.com).

5. Kebutuhan Karbohidrat Bagi Atlet

Bagi seorang atlet, konsumsi karbohidrat minimum yang disarankan adalah sebanyak 250 gr atau sudah memenuhi kebutuhan energi sebesar 1000 kkal. Walaupun kebutuhan energi seorang atlet akan berbeda untuk tiap jenis olahraga, namun secara umum atlet diharapkan untuk memenuhi kebutuhan energinya setidaknya 50% atau idealnya 55-65% melalui konsumsi karbohidrat (www.pssplab.com).

Photo by Baba Steve

(8)

Konsumsi karbohidrat tinggi dalam seharihari terutama sebelum berolahraga bertujuan untuk meningkatkan simpanan glikogen di dalam tubuh dan untuk menjaga level glukosa di dalam darah sehingga laju produksi energi melalui pembakaran karbohidrat saat berolahraga dapat tetap terjaga (www.pssplab.com).

Selain mengkonsumsi karbohidrat yang tinggi dalam sehari-hari, seorang atlet juga akan mendapatkan manfaat dengan mengkonsumsi karbohidrat pada saat berolahraga. Konsumsi karbohidrat yang dilakukan pada saat berolahraga, terutama olahraga dengan waktu yang panjang (> 45 menit) dapat membantu tubuh dalam menjaga konsentrasi glukosa darah, menjaga ketersediaan glikogen hati serta menjaga agar laju pembakaran karbohidrat tetap tinggi sehingga terjadinya kelelahan dapat ditunda (www.pssplab.com).

Karbohidrat yang di konsumsi pada saat berolahraga ini diperkirakan mampu untuk memberikan kontribusi hingga sebesar 16-20% terhadap laju produksi energi di dalam tubuh. Selain itu, pada olahraga yang bersifat intermittiment /stop & go atau multisprints seperti sepakbola atau bola basket, karbohidrat yang dikonsumsi juga dapat membantu tubuh dalam proses resintesis glikogen otot serta dapat juga membantu untuk membatasi pemakaian glikogen otot (www.pssplab.com).

a. Sebelum latihan/pertandingan

Atlet yang akan berpartisipasi dalam latihan intensitas sedang dengan durasi pendek, disarankan untuk mengkonsumsi karbohidrat sebesar 5-7 gr karbohidrat/ kg berat badan per harinya. Sedangkan dalam persiapannya untuk menghadapi latihan endurans dengan intensitas moderat-tinggi atau dalam persiapannya untuk menghadapi pertandingan yang kompetitif , atlet direkomendasikan untuk mengkonsumsi karbohidrat sebesar 7-12 gr / kg berat badan per harinya. Dan atlet yang sedang menjalankan program latihan dengan total waktu antara 4-6 jam per hari, disarankan untuk memperbesar konsumsi karbohidratnya hingga 10-12 gr/ kg berat badan per harinya (www.pssplab.com).

Selain dari yang telah disebutkan, bagi atlet yang akan berpartisipasi dalam pertandingan /latihan dengan durasi waktu 90 menit, peningkatan simpanan glikogen juga dapat dilakukan dengan mengkonsumsi karbohidrat sebanyak 8-10 gr/kg berat badan dalam interval waktu 48 - 72 jam sebelum latihan/pertandingan berlangsung. Konsumsi karbohidrat ini dapat meningkatkan jumlah simpanan glikogen sebesar 25-100% dan dapat menunda terjadinya kelelahan pada saat latihan/pertandingan hingga 20%.

Sedangkan bagi atlet yang akan berpartisipasi dalam pertandingan dengan

durasi waktu 60 menit, peningkatkan simpanan glikogen juga dapat dilakukan

dalam interval waktu 6 jam sebelum pertandingan berlangsung dengan cara

mengkonsumsi karbohidrat sebanyak 1-4 gr /kg berat badan

(www.pssplab.com).

(9)

Photo by Paul Fenton

Beberapa contoh dari bahan pangan yang kaya akan kandungan karbohidrat tinggi dan dapat dikonsumsi pada masa persiapan adalah kentang, donut, pasta, sereal, singkong, sebagian besar jenis nasi, roti putih, roti gandum, atau juga buah-buahan seperti pisang & apel (www.pssplab.com).

Konsumsi karbohidrat yang tinggi dalam sehari-hari akan membantu dalam meningkatkan simpanan karbohidrat (glikogen & glukosa darah) di dalam tubuh sehingga juga akan membantu meningkatkan laju pembakaran karbohidrat serta membatasi pemakaian asam lemak bebas (free fatty acid) &

protein sebagai penyedia energi pada saat berolahraga (www.pssplab.com).

Salah satu contoh dari banyaknya penelitian yang memperlihatkan

peningkatan performa olahraga melalui suplementasi karbohidrat ini pernah

diterbitkan dalam Medicine in Sports Science pada tahun 1979 melalui

penelitian yang dilakukan oleh Costill, D.L. Pada penelitan ini, subjek yang

mengkonsumsi 75 gr karbohidrat sederhana (glukosa) sebelum melakukan

olahraga bersepeda dengan intenistas 80% VO

2

max diperlihatkan mengalami

peningkatan performa ketahanan sebesar 10 menit (53.2 vs 43.2 menit) jika

dibandingkan saat tidak diberikan suplementasi karbohidrat

(www.pssplab.com).

(10)

Photo by Coline Edwards

b. Setelah Latihan/Pertandingan

Salah satu tujuan utama mengkonsumsi karbohidrat setelah selesainya olahraga adalah untuk mengisi kembali simpanan glikogen yang terpakai sehingga kondisi atlet dapat secara cepat dipulihkan agar dapat menjadi lebih siap untuk menghadapi sesi latihan atau pertandingan selanjutnya. Dalam kaitannya dengan penyimpanan glikogen setelah selesainya latihan/pertandingan olahraga, terdapat dua faktor utama yang harus diperhatikan yaitu waktu konsumsi dan besarnya karbohidrat yang dikonsumsi (www.pssplab.com).

Pada saat setelah selesainya latihan/pertandingan olahraga dimana simpanan glikogen berada pada jumlah terendah di dalam tubuh, kadar enzim glycogen synthetase di dalam aliran darah akan berada pada titik tertinggi sehingga pemberian karbohidrat pada masa ini secara efisien akan mengisi kembali simpanan glikogen tubuh. Serta perlu juga untuk diperhatikan bahwa laju penyimpanan glikogen otot di dalam tubuh secara cepat juga akan terjadi pada interval < 2jam setelah selesainya kegiatan olahraga (www.pssplab.com).

Pada interval waktu ini, peyimpanan glikogen otot akan berjalan secara cepat dengan laju 7-8 mmol/jam, namun seiring dengan bertambahnya waktu, laju penyimpanannya akan kembali berjalan secara normal dengan laju 5-6 mmol/jam. Oleh karena itu, untuk mempersingkat waktu pemulihan (recovery) agar performa dapat secara cepat terjaga untuk menghadapi latihan/pertandigan selanjutnya, dalam interval 2 jam setelah selesainya latihan atau pertandingan olahraga, atlet direkomendasikan untuk mengkonsumsi karbohidrat sebesar 50-100 gr atau dapat juga mengkonsumsi 1-1.2 gr karbohidrat / kg berat badan tiap jamnya dalam interval waktu 4 jam.

Adapun setelah melakukan sesi latihan/pertandingan yang melelahkan, total konsumsi karbohidrat yang diharapkan untuk dilakukan dalam interval 24 jam adalah sebesar 600 gr (www.pssplab.com).

Karena setelah selesainya latihan/pertandingan olahraga tubuh juga

akan membutuhkan cairan, maka kebutuhan karbohidrat dan cairan secara

(11)

simultan dapat dipenuhi melalui penambahan karbohidrat sederhana ke dalam air putih atau juga dapat dilakukan dengan mengkonsumsi jus buah-buahan (www.pssplab.com).

Perlu juga untuk diperhatikan bagi atlet yang memiliki 2x sesi latihan yang berjarak 8 jam, konsumsi karbohidrat diharapkan dilakukan secepat mungkin setelah selesainya sesi latihan I agar waktu pemulihan antara sesi latihan dapat berjalan lebih efektif. Air putih yang ditambahkan karbohidrat atau buah-buahan yang banyak mengandung air seperti semangka atau melon dapat juga dipilih untuk mempercepat proses peyimpanan energi dan membantu dalam proses rehidrasi. Selain itu, untuk lebih mengoptimalkan pengembalian energi ke dalam tubuh, karbohidrat dengan nilai GI (Glycemic Index) tinggi atau bahan pangan serta buah-buahan yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi seperti pasta, roti, kentang, singkong, pisang atau juga semangka dapat juga dikonsumsi dengan porsi kecil namun dilakukan secara kontinu dalam waktu 30, 120 dan 240 menit setelah berolahraga (www.pssplab.com).

6. Konsumsi Cairan & Karbohidrat Saat Berolahraga.

Ketika durasi olahraga semakin panjang dan simpanan glikogen otot sudah semakin berkurang, glukosa yang terdapat di dalam aliran darah dalam jumlah terbatas dapat digunakan oleh tubuh untuk mendukung kerja otot. Walaupun jumlah dari glukosa yang terdapat di dalam aliran darah hanya mampu untuk menghasilkan energi sebesar ±20 kkal namun konsentrasinya ini dapat dipertahankan melalui dua cara yaitu melalui konsumsi karbohidrat saat berolahraga atau melalui proses glycogenolysis dan gluconeogenesis yang terjadi di dalam hati yang juga dapat menghasilkan glukosa (www.pssplab.com).

Untuk menghambat terjadinya kelelahan terutama bagi atlet endurance serta untuk menjaga konsentrasi glukosa darah, jumlah ideal konsumsi karbohidrat yang disarankan pada saat berolahraga adalah sebesar 30-60 gram /jam. Namun karena pada saat olahraga tubuh juga akan membutuhkan cairan agar terhindar dari dehidrasi, maka kebutuhan karbohidrat ini juga dapat dipenuhi melalui konsumsi 600-1.500 ml air putih yang ditambahkan 24-100 gr karbohidrat (4-7% larutan karbohidrat) tiap jamnya (www.pssplab.com).

Karbohidrat yang dikonsumsi pada saat berolahraga ini diperkirakan

mampu untuk mempertahankan level glukosa di dalam darah dan dapat membantu

untuk menjaga tingkat pembakaran karbohidrat di dalam tubuh sehingga

terjadinya kelelahan dapat dihambat hingga 30-60 menit. Selain itu pada saat

berolahraga, konsumsi karbohidrat dengan nilai GI sedang-tinggi juga lebih

disarankan jika dibandingkan dengan mengkonsumsi karbohidrat yang memiliki

nilai GI rendah agar energi secara cepat dapat tersedia di dalam tubuh

(www.pssplab.com).

(12)

7. Konsumsi Karbohidrat & Sport Performance

Hubungan antara pengaruh konsumsi karbohidrat terhadap perfoma olahraga merupakan suatu kajian ilmiah dalam bidang Sports Science yang paling banyak dilpelajari di dalam dunia olahraga. Penelitian penelitian yang mempelajari hubungan antara konsumsi karbohidrat dengan performa olahraga pada awalnya lebih banyak terfokus terhadap jenis olahraga yang bersifat ketahanan (endurance) atau olahraga dengan durasi > 2 jam seperti lari marathon atau bersepeda jarak jauh. Penelitian-penelitian yang dilakukan saat ini kemudian mulai dikembangkan pada jenis olahraga dengan intensitas tinggi ( 70% VO

2

max) yang disertai dengan interval istirahat namun dengan durasi waktu yang lebih singkat yaitu antara 45 menit – 2 jam. Jenis dari olahraga ini biasanya disebut sebagai intermittent exercise atau ada juga yang menyebutkannya sebagai stop & go exercise. Contoh dari olahraga yang termasuk dalam kategori ini adalah olahraga beregu seperti sepakbola, bola basket, bola voli, hoki dan juga olahraga individual seperti tenis, bulutangkis , tenis meja serta jenis-jenis olahraga lain dengan aktivitas atletik yang berubah-ubah (multi sprints) (www.pssplab.com).

a. Olahraga Endurance

Studi yang diakukan oleh Tsintzas dkk seperti yang dipublikasikan dalam International Journal of Sports Nutrition pada tahun 1993 merupakan salah satu dari banyaknya penelitian yang memperlihatkan pengaruh positif konsumsi karbohidrat terhadap perfoma olahraga ketahanan (endurance). Pada penelitian ini, sesi latihan olahraga lari jarak jauh 30 km yang melibatkan 7 atlet lari jarak jauh profesional dilakukan dengan 2 kondisi yang berbeda, dimana dalam tiap sesi latihan yang terpisah dalam interval waktu 10 hari ini, atlet-atlet profesional tersebut akan diberikan konsumsi air putih biasa atau air putih yang ditambahkan dengan karbohidrat. Konsumsi tersebut kemudian akan diberikan sebanyak 250 ml sebelum latihan dimulai dan diberikan secara kontinu sebanyak 150 ml setiap 5 km (www.pssplab.com).

Hasil dari penelitian ini kemudian memperlihatkan bahwa atlet professional yang diberikan suplementasi karbohidrat dapat menyelesaikan sesi latihan lari jarak jauh 30 km dengan waktu yang lebih cepat (128.3±19.9 menit vs 131.2±18.7 menit) jika dibandingkan ketika hanya mengkonsumsi air putih biasa (www.pssplab.com).

Salah satu penelitian lain yang mempelajari pengaruh konsumsi karbohidrat terhadap performa olahraga endurance juga pernah dilakukan oleh Ivy J.L. seperti yang telah dipublikasikan dalam Medicine & Science in Sports

& Exercise tahun 1979. Di dalam penelitian ini, atlet sepeda terlatih akan

diberikan konsumsi larutan pembanding non-karbohidrat pada sesi latihan I

dan akan diberikan konsumsi air putih yang ditambahkan karbohidrat glukosa

sebanyak 0.2 gr/kg berat tubuh pada sesi latihan yang II. Konsumsi larutan ini

kemudian akan diberikan tiap 15 menit selama 90 menit pertama dalam sesi

olahraga bersepeda yang akan berlangsung selama 2 jam. Hasil dari penelitian

ini kemudian menunjukan peningkatan kapasitas kerja sebesar 11% dalam 30

(13)

menit terakhir ketika subjek diberikan larutan yang diberikan tambahan karbohidrat (www.pssplab.com).

Pengaruh positif konsumsi karbohidrat dalam kegiatan olahraga endurans ini diperkirakan disebabkan oleh adanya tambahan glukosa dari hati ke dalam aliran darah sehingga level glukosa di dalam darah dapat dipertahankan. Pada awal berolahraga, ketika tubuh masih memilki simpanan glikogen yang cukup, karbohidrat (glukosa) yang terdapat di dalam aliran darah hanya akan memberikan kontribusi sebesar 25% terhadap laju produksi energi melalui pembakaran karbohidrat, namun dengan semakin bertambahnya waktu , ketika persediaan simpanan glikogen otot semakin terbatas, glukosa yang tedapat di dalam aliran darah kemudian akan berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh. Karena karbohidrat yang dikonsumsi saat berolahraga juga dapat tersimpan di dalam hati, maka ketika tubuh membutuhkan tambahan energi, hati kemudian akan mengeluarkan glukosa ke dalam aliran darah sehingga level glukosa darah & laju pembakaran karbohidrat dapat dipertahankan. Proses inilah yang kemudian akan membantu untuk menghambat terjadinya kelelahan dalam olahraga ketahanan yang biasanya berdurasi panjang (www.pssplab.com).

b. Intermittent Exercise

Hasil-hasil penelitian yang mempelajari hubungan antara konsumsi karbohidrat pada olahraga intermittent / stop & go atau multi sprints juga menyimpulkan bahwa karbohidrat yang dikonsumsi akan berperan dalam mempertahankan level glukosa darah (blood glucose) sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap laju produksi energi di dalam otot. Tambahan energi yang diperoleh dari glukosa darah ini diperkirakan dapat berfungsi sebagai pembatas pemakaian glikogen otot atau juga dapat berfungsi sebagai katalis pada proses resintesis glikogen selama interval istirahat (www.pssplab.com).

Photo by Jarret Campbell

Salah satu dari contoh penelitian yang mempelajari pengaruh konsumsi

karbohidrat dalam intermittent exercise adalah penelitian yang dilakukan oleh

C.W. Nicholas dan C. Williams seperti yang telah diterbitkan dalam Journal

(14)

of Sports Science pada tahun 1995. Pada penelitian ini, subjek yang digunakan adalah 9 atlet sepakbola yang melakukan 2 kali latihan simulasi aktivitas atletik seperti yang terjadi dalam olahraga beregu seperti sepakbola, rugby atau bola basket (www.pssplab.com).

Sesi latihan ini terpisah dalam interval 7 hari dan pada tiap sesi latihannya subjek akan diberikan air putih yang ditambahkan karbohidrat dan larutan pembanding non-karbohidrat. Larutan tersebut kemudian dikonsumsi sebanyak 5 ml / kg berat badan sebelum latihan berlangsung dan tiap 15 menit dengan volume 2 ml /kg berat badan selama latihan berlangsung. Sesi latihan ini terdiri dari 15 menit sprint, 15 menit jogging, 15 menit berjalan dan 15 menit istirahat dan dilanjutkan dengan periode intermittent running pada 55%

dan 95% VO

2

Max sampai subjek merasa letih. Hasil dari penelitian tersebut kemudian memperlihatkan bahwa subjek yang mengkonsumsi air putih yang tambahkan dengan karbohidrat dapat berlari 33% atau 2.2 menit lebih lama (8.9 vs 6.7 menit) jika dibandingkan ketika menkonsumsi larutan pembanding non-karbohidrat (www.pssplab.com).

Mekanisme proses yang menyebabkan konsumsi karbohidrat dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan performa fisik tubuh saat berolahraga

1. Menjaga level glukosa darah

Konsumsi karbohidrat pada saat berolahraga dapat membantu mencegah hipoglikemia dengan menjaga level normal glukosa di dalam darah (4-6 mmol/L). Sebagai salah satu sumber energi tubuh, level glukosa di dalam darah selain dapat dijaga melalui proses glikogenolisis (pemecahan glikogen hati) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari sumber non-karbohidrat) juga dapat dijaga melalui absoprsi glukosa yang diperoleh melalui konsumsi karbohidrat baik dalam bentuk cairan (jus, cairan yang mengandung karbohidrat) ataupun dalam bentuk padat (buah-buahan) pada saat berolahraga.

Efek positif dari terjaganya level normal glukosa darah ini dapat

dirasakan terutama saat simpanan glikogen otot sudah semakin menipis

seiring dengan meningkatnya intensitas serta waktu olahraga. Berbeda

pada saat awal olahraga dimana simpanan glikogen otot memberikan

kontribusi yang besar dalam proses pembakaran karbohidrat, saat akhir-

akhir olahraga merupakan waktu di mana glukosa darah akan memiliki

peranan yang dominan dalam menjaga pembakaran karbohidrat untuk

menyediakan energy (http://files.wordpress.com/).

(15)

2. Menjaga laju oksidasi (pembakaran) karbohidrat tetap tinggi

Konsumsi karbohidrat dengan jenis serta jumlah yang tepat dapat membantu untuk menjaga metabolisme energi yang tinggi di dalam tubuh.

Konsentrasi ideal karbohidrat dalam larutan untuk dikonsumsi pada saat olahraga berada pada rentang 6-8% (6-8 gram glukosa atau sukrosa dalam 100 ml air putih) dengan jumlah konsumsi yang direkomendasikan sebanyak 30-60 gram per jam.

Selain dipengaruhi oleh jumlah konsumsi karbohidrat, laju metabolisme energi juga akan dipengaruhi oleh pemilihan jenis karbohidrat. Karbohidrat seperti glukosa atau sukrosa baik dalam bentuk sederhana (simple form) ataupun dalam bentuk polimer merupakan pilihan karbohidrat yang paling baik dalam minuman untuk olahraga. Glukosa serta sukrosa dan juga maltodekstrin selain jum mempunyai laju penyerapan yang hampir sama juga mampu menghasilkan laju metabolisme energi yang tinggi yaitu 1 gr/menit.

Perhatian khusus harus diberikan kepada pengunaan karbohidrat fruktosa dalam minuman untuk olahraga, karena konsumsinya dengan jumlah tertentu terasosiasikan dengan terhambatnya absorpsi cairan serta gangguan pada sistem pencernaan, maka jumlah ideal konsentrasi fruktosa dalam minuman untuk olahraga adalah sebanyak 2-3% (2-3 gram fruktosa dalam 100 ml air putih). Karbohidrat fruktosa serta galaktosa relatif menghasilkan laju metabolisme energi yang lebih rendah yaitu sebesar 0.6 gr/menit (http://files.wordpress.com/).

3. Sebagai sumber energi luar tubuh dan menghemat pemakaian glikogen otot

Berfungsi sebagai tambahan energi dari luar tubuh (external fuel sources), konsumsi karbohidrat pada saat olahraga dapat memberikan kontribusi sebesar 10-30% terhadap total pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi. Adanya tambahan energi dari luar tubuh ini selain memberikan kontribusi terhadap produksi energi tubuh juga akan membantu menghemat pemakaian glikogen otot (glycogen sparing) atau konsumsi karbohidrat pada saat berolahraga dapat membantu untuk menghemat pemakaian sumber energi dalam tubuh (internal fuel sources).

Adanya penghematan pemakaian glikogen otot ini dapat

memberikan manfaat terutama bagi atlet cabang olahraga endurans atau

jenis olahraga lainnya yang memiliki durasi waktu pertandingan/latihan

(16)

lebih dari 60 menit, dimana dengan terjaganya simpanan glikogen otot ini seorang atlet akan mempunyai kapasitas performa serta daya tahan tubuh yang lebih baik (http://files.wordpress.com/).

4. Menstimulasi resintesis glikogen

Proses ini bermanfaat terutama pada olahraga atau aktivitas latihan intermittent/stop & go berdurasi singkat yang sifat kegiatannya merupakan kombinasi antara aktivitas intensitas tinggi-rendah yang diselingi dengan interval istirahat seperti pada olahraga beregu.

Karena terdapat kombinasi antara aktvitas intensitas tinggi-rendah dan juga interval istirahat, konsumsi karbohidrat dapat menstimulasi proses resintesis glikogen yang secara teoritis dapat berjalan saat berlangsungnya periode aktivitas intensitas rendah atau saat interval istirahat. Mekanisme ini secara langsung dapat membantu untuk menjaga simpanan glikogen dan juga menghemat jumlah total glikogen tubuh yang terpakai (http://files.wordpress.com/).

5. Mencegah peningkatan hormon stress

Selain berfungsi untuk menyediakan serta menjaga level energi di

dalam tubuh, salah satu manfaat lain yang diperoleh dengan

mengkonsumsi karbohidrat saat berolahraga adalah dapat memberikan

efek positif secara psikologis. Kesimpulan ini disebutkan dalam beberapa

penelitian yang telah dipublikasikan sepertii dalam Journal of the

International Society of Sports Nutrition tahun 2006. Selain faktor rasa

yang disebutkan dapat membantu untuk memberikan pengaruh positif

terhadap mood serta motivasi, pengaruh positif lain dari konsumsi

karbohidrat saat olahraga adalah dapat mencegah peningkatan level

hormon stress di dalam tubuh yaitu hormon kortisol

(http://files.wordpress.com/).

(17)

Pengaturan Makan Atlet

a. Periode persiapan

Makanan persiapan bertanding harus memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lain yang tujuannya untuk membentuk cadangan glikogen.

→ diet tinggi karbohidrat sampai 80%

→ pola makan 5-6 kali/hari : - 3x mak. Utama - 2-3x mak.Selingan

b. Makanan pada periode pertandingan yang harus diperhatikan:

- Jadwal pertandingan - lama pertandingan - berat/ringannya olahraga - frekuensi pertandingan

Pengaturan makan saat pertandingan:

- 3-4 jam sebelum bertanding makan makanan lengkap, syarat:

mudah cerna, tidak merangsang dan bergas, karbohdrat tinggi, rendah lemak dan protein serta cukup vitamin dan mineral

- 1-2 jam sebelum tanding makan makanan kecil (< 500 kal), sebelum bertanding sebaiknya hindari minum yg manis sekali (<2,5%gula)/jus

- 30-60 menit minum air 150-250 ml atlet tidak boleh merasa haus/dehidrasi

c. Periode Pertandingan

- Minum teratur 10-15 menit sebanyak 150-250 ml air dingin

- Pada olahraga endurance (>2jam) minuman harus mengandung karbohidrat dan elektrolit

- Makanan tinggi karbohidrat padat misalnya: pisang, jus, dll

d. Periode Pemulihan

- segera setelah pertandingan: minum 1-2 gelas air sejuk - ½ jam setelah tanding : Jus 1 gelas

- 1 jam setelah tanding : jus 1 gelas+snack (<300 kal)

- 2 jam setelah tanding : mak. Lengkap, porsi kecil (< lemak) - 4 jam setelah tanding : makan sesuai kebutuhan

(http://files.wordpress.com/)

(18)

Sumber karbohidrat

Makanan / minuman Rata-rata porsi Karbohidrat (g)

Air Susu 200ml 10

Buah Apel 100g 12

Selai atau madu 2 sdt 12

Buah labu 250ml 12

Jus buah 200ml 14

Jagung Manis 85g 16

Keripik 30g 16

Roti tawar 36g 17

Kacang panggang 135g 20

Pisang 134g 20

Buah kering 25g 20

Direbus buah 110g 20

Cereal bar 33g 20

Yoghurt buah 150g 20

Keping jagung 30g 27

Olahraga isotonik minuman 500ml 30

Muesli 50g 33

Batang coklat 65g 35

Susu kocok 300ml 40

Panekuk 70g 44

Pasta 220g 50

Keripik 165g 50

Spons pudding 110g 50

Beras 180g 55

Kentang panggang 180g 57

Buah crumble 170g 60

Naan Roti 160g 80

(www.milk.co.uk)

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Foster, C., Costill, D.L., & Fink, M.J. Effects of preexercise feeding on endurance performance. Medicine & Science in Sports. 1979.

http://www.pssplab.com/journal/04.pdf

http://files.wordpress.com/penggunaan-karbohidrat-dalam-menghasilkan- energi/ppt

http://www.milk.co.uk/page.aspx?intPageID=123

http://ksrpmi-its.blogspot.com/2014/10/jenis-makanan-sebelum-olahraga.html

Referensi

Dokumen terkait

Streptococcus faecalis, Streptococcus milleri$ dan &#34;acteroides spp edan(kan a,ses hati ame,ik  dise,a,kan oleh or(anisme mikrosko*is *arasit )aitu E.. adan)a aliran em*edu

Perburuan gas untuk pembangkit PLN tidak lagi harus dengan volume besar, namun sekecil apapun dan bahkan gas-gas dari lapangan marginal sekalipun sangat membantu usaha

Dari hasil yang diperoleh tersebut maka tingkat efektivitas pajak restoran adalah lebih besar dari 100 persen, yang berarti pemungutan pajak restoran Kota Palembang adalah

Sedangkan dalam penelitian sekarang berdasarkan uji t yang telah disajikan dalam tabel 4.19 juga menyatakan bahwa harga dalam uji t mendapatkan nilai signifikansi

dan ada perbedaan antara yang diinginkan bahwa para siswa bisa berbahasa Inggris namun tenaga pengajar di Indonesia masih belum dikatakan baik maka peneliti ingin melihat

Mengetahui beberapa faktor yang berkaitan dengan penggunaan KB IUD pada peserta KB non IUD. Mendeskripsikan karakteristik peserta KB non IUD di Kecamatan Pedurungan Kota

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 97 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang

Data kedua adalah data riil yang digunakan untuk penerapan yang merupakan data dari percobaan internasional untuk gandum yang dilakukan oleh program CIMMYT (International Maize