JURNAL REVOLUSI INDONESIA
JRI, Volume 1 Nomor 5 April 2021
E-ISSN: 2774-5996 P-ISSN: 2774-5325
Publisher:
Fenery Library
Address:
Jl. Purbaya, Warak, Sumberadi, Mlati, Sleman, 55288, Yogyakarta, Indonesia
Telp. 0815-7315-5311 | 0815-7315-1443 Email: [email protected]
Tools:
Jurnal Revolusi Indonesia (JRI) is an open access peer review research journal published by Fenery Library. Every article published is a scientific article within the scope of social science. The main purpose of this publication is to disseminate original articles by researchers on various social issues.
Jurnal Revolusi Indonesia (JRI) is a national scale journal covering social science studies. This journal focuses on community service, public administration, social influence, institutional, local government systems, public health, etc. Jurnal Revolusi Indonesia (JRI) will be issued regularly twelve times a year.
The main audience are academics, students, practitioners and other interested people in the Social field.
EDITOR IN CHIEF
Sri Nuryeni, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YPPT Tasikmalaya
ASSOCIATE EDITOR
1. Agus Irfan Freddy Firdaus, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YPPT Tasikmalaya 2. Fanji Adhyaksa, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YPPT Tasikmalaya
3. Yudi Hermawan, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YPPT Tasikmalaya
REVIEWERS
1. Ahmad Fudholi, ID Scopus: 57208177993, Web of Science Researcher ID: C-4451-2019, Universiti Kebangsaan Malaysia, Malaysia
2. Ambo Upe, ID Scopus: 35729642900, SINTA ID: 260351, Orcid ID: https://orcid.org/0000-0001-8468- 075X Google Scholar ID: https://scholar.google.com/citations?user=CV-rNfcAAAAJ&hl=id&oi=ao Universitas Halu Oleo
3. Badrun Susantyo, SINTA ID: 599937,
Google Scholar ID: https://scholar.google.co.id/citations?user=E_9XgtwAAAAJ&hl=id&oi=ao, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
4. Meyzi Heriyanto, ID Scopus: 57219345183, Universitas Riau
5. Mohamed Fathy Mohamed Abdelgelil
Universiti Sultan Zainal Abidin (unisza), Malaysia 6. Muhammad Ali Equatora, ID Scopus: 57216788940,
Google Scholar ID: https://scholar.google.com/citations?hl=en&user=CgTWU-gAAAAJ, Orcid ID: http://orcid.org/0000-0002-5604-522X,
Politeknik Ilmu Permasyarakatan
7. Muhammad Syarif Hidayatullah Elmas,
Google Scholar ID: https://scholar.google.com/citations?user=2jQ28nAAAAAJ&hl=id&oi=ao, Universitas Panca Marga Probolinggo
8. Sudarmin Manik, Orcid ID: https://orcid.org/0000-0002-9136-7208, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Riau
9. Sulsalman Moita, SINTA ID: 6028526,
Google Scholar ID: https://scholar.google.co.id/citations?user=pyjUCvcAAAAJ&hl=id&oi=ao, Universitas Halu Oleo
10. Srikalimah, SINTA ID: 6073322, Google Scholar ID:
https://scholar.google.com/citations?user=QEbZMqMAAAAJ&hl=en&oi=ao, Orcid ID:
https://orcid.org/0000-0002-9622-9349, Universitas Islam Kadiri
PENGARUH REKRUTMEN DAN SELEKSI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. SUKSES
MITRA SEJAHTERA KABUPATEN KEDIRI 321-332
Agus Diana Faridiningrum dan Budi Prabowo
ANALISIS PELAKSANAAN BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM (ABH) KASUS TINDAK ASUSILA 333-343 Efi Siti Fatonah
ANALISA SIFAT FISIK DAN KIMIA PELUMAS PADA UJI KETAHANAN MOTOR DIESEL BERBAHAN BAKAR JME B20 344-358 Hadi Prasutiyon, Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah dan Urip Prayogi
ANALISIS INVESTASI DAN MANAJEMEN RISIKO TERHADAP PROYEK PENGEMBANGAN BANDARA DI PT. ANGKASA PURA I (PERSERO) 359-376 Herdy Setiawan, Zulkifli Zulkifli dan Mombang Sihite
UPAYA MENINGKATKAN ETIKA WARGA MADRASAH MELALUI PENERAPAN LIMA
PEMBIASAAN AKHLAK MULIA 377-386
Herijeni
ANALISIS PENGARUH SOCIAL NETWORK MARKETING DAN ELECTRONIC WORD OF MOUTH (E-WOM) TERHADAP MINAT BELI MELALUI KEPERCAYAAN KONSUMEN SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING 387-399
Imelda Fitria Pratama Putri dan Lia Nirawati
STRATEGI PEMASARAN DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN PADA KOLAM PANCING DAN WARUNG LESEHAN CSDW SIDOARJO 400-410 Neni Hardiati dan Hasan Bisri
PENERAPAN STRATEGI CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (CRM) DALAM MENINGKATKAN LOYALITAS PELANGGAN (STUDI KASUS PADA NISSI FURNITURE
SURABAYA) 411-429
Shintiya Anggi Erfariani dan Ety Dwi Susanti
CURIOSITY DAN THAHARAH PADA PAI EKSPERIMEN DI SMP NEGERI 218 JAKARTA 430-440 Suhardin
ANALISIS STRATEGI BERSAING DALAM PERSAINGAN USAHA DI BIDANG KULINER AYAM GEPREK (STUDI KASUS PADA RUMAH MAKAN MI3 SETAN DAN AYAM GEPREK JUMBO
WARU SIDOARJO) 441-452
Titis Puspita Sari dan Ety Dwi Susanti
Volume 1, No. 5, April 2021 p-ISSN: 2774-5325, e-ISSN: 2774-5996
PENGARUH REKRUTMEN DAN SELEKSI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. SUKSES MITRA SEJAHTERA KABUPATEN KEDIRI Agus Diana Faridiningrum dan Budi Prabowo
Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jawa Timur, Indonesia Email: [email protected] dan [email protected]
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Diterima 2 April 2021
Sumberdaya manusia merupakan salah satu modal intelektual bagi suatu perusahaan. Persaingan yang semakin tajam menuntut perusahaan untuk memiliki sumberdaya manusia yang baik dan berkualitas.Kinerja karyawan merupakan aspek penting dalam kegiatan manajemen sumber daya manusia yang berpengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan. Salah satu cara menentukan kinerja seperti apa yang diharapkan yaitu dengan proses rekrutmen dan seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) Pengaruh rekrutmen dan seleksi terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera. (2) Pengaruh Rekrutmen terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera. (3) Pengaruh kepuasan seleksi terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan harian tetap dengan jumlah 87 orang dan teknik sampling yang digunakan adalah Probability Random Sampling. Metode dalam penelitian ini bersifat kuantitatif dan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner yang dianalisis dengan SPSS 20. Hasil penelitian menemukan:
(1)Rekrutmen dan seleksi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (nilai sig. kurang dari 0.05 pada tes Anova, yaitu 0.001) (2) Rekrutmen memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kinerja karyawan (p-value lebih dari 0.005,yaitu 0. 940). (3) Seleksi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (p-value kurang dari 0.05, yaitu 0.
000).
Kata kunci:
rekrutmen; seleksi;
kinerja karyawan
Pendahuluan
Era globalisasi membawa dampak bagi dunia bisnis. Saat ini aset ekonomi lebih berbasis pada intelektual, bukan lagi bersifat fisik seperti tanah,atau mesin-mesin yang dimiliki oleh suatu perusahan. Sumberdaya manusia merupakan salah satu modal intelektual bagi suatu perusahaan. Persaingan yang semakin tajam menuntut perusahaan untuk memiliki sumberdaya manusia yang baik dan berkualitas.
Menurut Mary Parker Follet dalam buku (Yusuf & Al Arif, 2015) manajemen Sumberdaya Manusia adalah suatu seni untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan kata lain tidak memerlukan pekerjan-pekerjaan itu sendiri.
Suatu perusahaan dinyatakan berhasil ketika pencapaian kinerja karyawan di perusahaan tersebut mencapai target sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
“Menurut (Afandi, 2018) Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi secara illegal, tidak melanggar hukum serta tidak bertentangan dengan moral maupun etika yang ada”.
Pencapaian kinerja yang baik dapat beberapa hal salah satunya yaitu penempatan posisi calon karyawan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Berikut merupakan data presentase kinerja karyawan PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri periode bulan Januari sampai dengan bulan September 2020 :
Tabel 1
Data Pencapaian Target Kinerja Karyawan PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri
2020
Target (m3)
Realisasi
(m3) (-) Keterangan
Jan 5639,41 5090,84 -548,57
Belum tercapai Februari 4967,27 4880,30
-
86,9686
Belum tercapai Maret 6027,81 4269,88 -1757,93
Belum tercapai April 2979,13 3221,97 242,84 Tercapai Mei 3453,90 3799,64 345,74 Tercapai Juni 3038,79 3444,60 405,81 Tercapai Juli 3189,81 3399,70 209,89 Tercapai Agustus 2669,99 2831,71 161,72 Tercapai September 5477,44 4551,44 -926
Belum tercapai
Berdasarkan data yang didapatkan diidentifikasikan tidak tercapainya target kinerja karyawan di sebabkan oleh ketidaksesuaian kompetensi karyawan. Mendapatkan karyawan yang berkompeten bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu proses rekrutmen dan seleksi yang diterapkan oleh perusahaan. . Melalui proses
rekrutmen dan seleksi diharapkan bisa mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan agar mampu untuk menjalankan tugas- tugas yang diberikan oleh perusahaan. Menurut (Nurjaman, 2014) Rekrutmen merupakan proses untuk memperoleh calon pegawai sebanyak-banyaknya untuk diseleksi potensinya sehingga yang diterima sebagai pegawai merupakan pelamar yang paling berkualitas dan paling dibutuhkan sesuai dengan lowongan yang tersedia. Proses seleksi menurut (Nurjaman, 2014) adalah proses untuk menemukan ciri-ciri, keahlian dan keterampilan calon pegawai sesuai dengan yang di harapkan oleh organisasi dan untuk mengisi kekosongan jabatan tertentu.
Proses ini mempunyai peran penting dalam kesuksesan perusahaan karena dapat menunjukan kemampuanya untuk terus bertahan, beradaptasi dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat Pentingnya proses rekrutmen dan seleksi bagi perusahaan guna mendukung tercapainya tujuan perusahaan, maka fungsi perekrutan dan seleksi yang selektif akan memberi nilai bagi perusahaan. Melalui proses rekrutmen dan seleksi yang baik diharapkan perusahaan akan memperoleh sumberdaya manusia yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.
PT. Sukses Mitra Sejahtera merupakan perusahaan industri yang bergerak dibidang kayu lapis (plywood). PT. Sukses Mitra Sejahtera memiliki visi dan misi yaitu menjadi perusahaan kayu lapis yang sekelas dengan global dan mampu memiliki harga maupun kualitas yang mampu bersaing dipasar lokal maupun pasar internasional. PT.
Sukses Mitra Sejahtera sangat memerlukan karyawan yang inovatif, kreatif dan berkualitassmaka proses rekrutmen dan seleksi karyawan harus dilaksanakan dengan baik dan tepat. Kegagalan dalam melakukan proses rekrutmen dan seleksi calon karyawan berdampak pada proses pencapaian tujuan perusahaan. Tujuan dari adanya rektumen dan seleksi yaitu untuk mendapatkan karyawan yang tepat untuk perusahaan, sehingga karyawan bisa dituntut untuk bekerja secara optimal.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengambil judul “Pengaruh Rekrutmen dan Seleksi Terhadap Kinerja Karyawan PT Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri”.
Menurut (Nurjaman, 2014) seleksi calon pegawai, merupakan “proses untuk menemukan ciri-ciri, keahlian, dan keterampilan calon pegawai sesuai dengan yang diharapkan oleh organisasi dan untuk mengisi kekosongan jabatan tertentu”.
Menurut colquitt dalam (Kasmir, 2018) menjelaskan bahwa “Kinerja adalah nilai dari seperangkat perilaku karyawan yang berkontribusi, baik secara positif atau negatif terhadap pemenuhan tujuan organisasi”.
Untuk mengetahui dan menganalisis apakah terdapat pengaruh rekrutmen dan seleksi secara simultan terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kediri. Untuk mengetahui dan menganalisis apakah terdapat pengaruh rekrutmen secara parsial terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kediri.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh rekrutmen dan seleksi secara simultan and parsial terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kediri serta untuk mengetahui dan menganalisis apakah terdapat
pengaruh seleksi secara parsial terhadap kinerja karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kediri. Manfaat penelitian ini untuk bahan masukan, informasi, ide dan pertimbangan bagi perusahaan terhadap manajemen sumberdaya manusia sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan di PT. Sukses Mitra Sejahtera serta penelitian ini diharapkan memberikan wawasan tentang manajemen sumberdaya manusia serta sebagai bahan dalam penelitian yang lebih lanjut yang berkaitan dengan pengaruh proses rekrutmen dan seleksi terhadap kinerja karyawan.
Metode Penelitian
Berdasarkan metode dan teori yang ada maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. PT. Sukses Mitra Sejahtera, Ds Cangak, Kec. Kras, Kediri, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2020 sampai dengan Januari 2021. Populasi dari penelitian ini adalah karyawan PT. Sukses Mitra Sejahtera yang berjumlah 690 karyawan. Dengan jumlah sampel sebanyak 87 responden yaitu karyawan PT. Sukses Mitra Sejahtera. Untuk pengambilan data dari responden dalam penelitian ini yaitu menggunakan data primer sedangkan untuk sumber data dari penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan cara observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner secara langsung kepada responden penelitian. Dalam penelitian ini analisis data akan menggunakan teknik statistik deskriptif.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda merupakan suatu metode statistik umum yang digunakan untuk meneliti hubungan antara sebuah variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent) yang bertujuan untuk meramalkan nilai variabel terikat (dependent) dengan menggunakan nilai – nilai variabel bebas (independen). Adapun bentuk rumusan dari persamaan regresi linier berganda adalah:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + e Hasil dan Pembahasan A. Hasil Penelitian
Berdasarkan data yang sudah diolah dari hasil kuesioner, maka dapat di peroleh penyajian data sebagai berikut :
Karakteristik responden merupakan ciri-ciri responden berdasarkan dari identitas yang dimiliki masing-masing responden. Dalam penelitian ini karakteristik responden dapat dikelompokkan menurut usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan responden. Variabel dalam penelitian ini yaitu Rekrutmen (X1), Seleksi (X2)dan Kinerja karyawan (Y).
Tabel 1
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
No Jenis
Kelamin
Jumlah Presentase
1 Laki – laki 57 Orang 65 %
2 Perempuan 30 Orang 35 %
Jumlah 87 Orang 100%
Tabel 2
Klarifikasi responden berdasarkan usia
No Usia Jumlah Presentase
1 <20 Tahun 8 Orang 9%
2 21-30 Tahun 49 Orang 57%
3 31-40 Tahun 23 Orang 26%
4 >40 Tahun 7 Orang 8%
Jumlah 87 Orang 100%
Tabel 3
Klarifikasi responden berdasarkan pendidikan terakhir
No Tingkat
pendidikan
Jumlah Presentase
1 SLTP - -
2 SLTA 72 Orang 83%
3 D3 2 Orang 2%
4 S1 13 Orang 15%
Jumlah 87 Orang 100%
1. Uji Validitas
Tabel 4
Hasil Uji Validitas Variabel Penelitian Variabel Pernyataan rhitung
Koefisien Korelasi
rtabel n-2
Kesimpulan
Rekrutmen (x1)
X1.1 0,434 0.2108 Valid
X1.2 0,648 0.2108 Valid
X1.3 0, 578 0.2108 Valid
X1.4 0,372 0.2108 Valid
X1.5 0,505 0.2108 Valid
Seleksi (X2) X2.1 0,555 0.2108 Valid
X2.2 0,536 0.2108 Valid
X2.3 0,654 0.2108 Valid
X2.4 0,688 0.2108 Valid
X2.5 0,507 0.2108 Valid
X2.6 0,454 0.2108 Valid
X2.7 0,573 0.2108 Valid
Kinerja Karyawan (Y)
Y1 0,684 0.2108 Valid
Y2 0,719 0.2108 Valid
Y3 0,748 0.2108 Valid
Y4 0,801 0.2108 Valid
Y5 0,673 0.2108 Valid Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa hasil pengujian validitas indikator dari semua variabel bebas maupun variabel terikat menunjukkan valid, karena nilai korelasi lebih besar dari rtabel sehingga dinyatakan bahwa semua variabel penelitian telah valid.
2. Uji Reliabilitas
Tabel 5
Hasil Uji Reliabelilitas Variabel Penelitian Variabel Cronbac
h Alpha (α)
Alpha (α) Kesimpulan
Rekrutmen (X1)
0,669 0,60 Reliabel
Seleksi (X2) 0,726 0,60 Reliabel Kinerja
Karyawan (Y)
0,782 0,60 Reliabel
Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa variabel Rekrutmen (X1), Seleksi(X2), dan Kinerja Karyawan (Y) telah reliabel. Karena semua nilai alpha (rhitung) lebih besar dari 0,6. Maka dalam penelitian ini seluruh variabel dinyatakan reliabel.
3. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Tabel 6 Uji normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz
ed Residual
N 87
Normal Parametersa,b
Mean 0E-7
Std.
Deviation 2,44650478 Most Extreme
Differences
Absolute ,060
Positive ,045
Negative -,060
Kolmogorov-Smirnov Z ,558
Asymp. Sig. (2-tailed) ,914
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Dari tabel 4.8 dapat dijelaskan bahwa hadil uji Kolmogorov- Smirnov memang terbukti bahwa nilai residual mengikuti sebaran normal karena Asymp. Sig (2-tailed) = 0,914 ˃ 0,05.
b. Uji Autokorelasi
Tabel 7 Uji Autokorelasi
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 ,405a ,164 ,144 2,475 1,445
a. Predictors: (Constant), Seleksi, Rekrutmen b. Dependent Variable: Kinerja
Berdasarkan tabel 4.9 diatas diketahui bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,445. n = (87), k = (2) nilai (dU) = (1.6046 ) dan dL = (1.6985 ).
Maka kriterianya ialah dU (1,6046) < DW (1,445) < 4-dU (2,3954) yang artinya bahwa tidak terjadi autokorelasi antar variabel bebas dalam penelitian ini.
c. Uji Heteroskedastisitas
Gambar 1 Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan output scatterplot di atas dapat dilihat bahwa titik-titik tersebut menyebar dan titik tersebut tidak membentuk pola tertentu yang jelas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heterokedastisitas.
d. Uji Multikolinieritas
Tabel 8
Uji Multikolinieritas
Variabel Toleransi VIF Kesimpulan Rekrutmen (X1) 0,987 1,013 Non
Multikoliniearitas Seleksi (X2) 0,987 1,013 Non
Multikoliniearitas Dari hasil perhitungan multikolinieritas dengan nilai VIF, dapat diketahui bahwa untuk semua variabel mempunyai nilai VIF dibawah angka 10. Sehingga hasil uji menunjukkan tidak adanya multikolinieritas karena nilai VIF dibawah angka 10.
4. Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel 9
Analisis regresi linier berganda
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients t sig
B Std.Error Beta
1.( Constant) 9,585 2,974 3,223 0,002
Rekrutmen 0,009 0,116 0,008 0,076 0,940
Seleksi 0,360 0,090 0,404 4,022 0,000
Pada output unstandarbized coefficient bagian B diperoleh nilai b1 variabel Rekrutmen (X1) sebesar 0,009 nilai b2 variabel Seleksi (X2) sebesar 0,360 dan nilai konstanta (a) adalah 9,585. Maka, diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + e
= 9,585 + 0,009 X1 + 0,360 X2 + e
Adapun penjelasan dari model persamaan regresi diatas adalah sebagai berikut :
a. Konstanta (a) sebesar 9,585. Hal ini berarti jika variabel proses rekrutmen dan seleksi bernilai nol (tidak pengaruh sama sekali), maka besarnya kinerja karyawan adalah sebesar 9,585.
b. Koefisien regresi (b1) variabel proses rekrutmen (X1) sebesar 0,009 yang artinya apabila proses rekrutmen ditingkatkan (karena bertanda positif) sebesar satuan, maka kinerja karyawan akan naik sebesar 0,009 satuan dengan anggapan bahwa variabel lain konstan.
c. Koefisien regresi (b2) variabel seleksi (X2) sebesar 0,360 yang artinya apabila seleksi ditingkatkan (karena bertanda positif) sebesar satuan, maka kinerja karyawan akan naik sebesar 0,360 satuan dengan anggapan bahwa variabel lain konstan.
5. Analisis Koefisien Korelasi (R) dan Koefisien Determinasi (R2) Tabel 10
Koefisien Korelasi (R) dan Koefisien Determinasi (R2) Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 ,405a ,164 ,144 2,475 1,445
a. Predictors: (Constant), Seleksi, Rekrutmen b. Dependent Variable: Kinerja
Nilai koefisien korelasi (r) menunjukkan seberapa erat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Besarnya nilai koefisiensi korelasi adalah 0,405 Nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan korelasi variabel Rekrutmen (X1) dan Seleksi (X2) dengan variabel bebas Kinerja Karyawan (Y) sebesar 0,405 atau 40,5%.
Pengujian koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Koefisien determinan berkisar antara nol sampai satu (0≤R2≥1). Maka,
berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa nilai R sebesar 0,405 yang artinya antara variabel independen yang terdiri dari proses rekrutmen dan seleksi dengan variabel dependen yaitu kinerja mempunyai hubungan yang kuat. Nilai R square menunjukkan 0,164 artinya pengaruh variabel proses rekrutmen dan seleksi terhadap kinerja cukup kuat yaitu sebesar 16,4%. Sedangkan sisanya (100%-16,4%=83,6%%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
6. Pengujian Hipotesis
a. Pengujian Secara Simultan (Uji F) Tabel 11
Hasil Perhitungan Uji F ANOVAa
Model Sum of
Squares
Df Mean
Square
F Sig.
1
Regression 100,866 2 50,433 8,230 ,001b Residual 514,743 84 6,128
Total 615,609 86
a. Dependent Variable: Kinerja
b. Predictors: (Constant), Seleksi, Rekrutmen
Berdasarkan hasil di atas dihasilkan Fhitung> Ftabel yaitu 8,230>
3,11 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel bebas Rekrutmen (X1) dan Seleksi (X2) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Kinerja Karyawan (Y).
b. Pengujian Secara Parsial (Uji T)
Tabel 12
Hasil perhitungan Uji t Model Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients t sig
B Std.Error Beta
1.( Constant) 9,585 2,974 3,223 0,002
Rekrutmen 0,009 0,116 0,008 0,076 0,940
Seleksi 0,360 0,090 0,404 4,022 0,000
c. Uji parsial variabel Rekrutmen (X1) terhadap Kinerja Karyawan (Y).
Hipotesis : 0,05/2 = 0,025 dengan df (n-k-1) = (87-2-1) = 84 ttabel = 1.98861 thitung = 0,076 .
Kesimpulan: Berdasarkan perhitungan dapat disimpulkan bahwa variabel Rekrutmen (X1) tidak berpengaruh secara parsial terhadap Kinerja Karyawan (Y). Hal ini, terlihat dari nilai signifikan 0,940 > 0,05 dan thitung 0,076<ttabel 1,99897 maka H0 diterima dan H1 ditolak.
d. Uji parsial variabel Seleksi (X2) terhadap Kinerja Karyawan (Y).
Hipotesis : 0,05/2 = 0,025 dengan df (n-k-l) = (67-2-1) = 84 dimana ttabel = 1.98861 thitung = 3,501 .
Kesimpulan: Berdasarkan perhitungan dapat disimpulkan bahwa variabel Seleksi (X2) berpengaruh secara parsial terhadap Kinerja Karyawan (Y). Hal ini, terlihat dari nilai signifikan 0,000 < 0,05 dan thitung 4,022 > ttabel 1,99897 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
B. Pembahasan
1. Pengaruh rekrutmen dan seleksi terhadap kinerja karyawan
Berdasarkan analisa data melalui pengujian hipotesis secara simultan (Uji F) didapat bahwa Fhitung yaitu (8,230) ≥ Ftabel (3,11) dengan tingkat signifikan 0,001 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel Rekrutmen (X1) dan Seleksi (X2) mempunyai pengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan (Y) PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri.
Penelitian ini sama dengan adanya penelitian terdahulu yang yang dilakukan oleh Muhammad Darwis Meyandie Nasution (2019) yang berjudul “ Pengaruh Proses Rekrutmen dan Seleksi terhadap Kinerja Karyawan : Studi pada PT. Dian Bahari Sejati” hasil penelitiani menyatakan bahwa rekrutmen dan seleksi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Dian Bahari Sejati
2. Pengaruh Rekrutmen terhadap Kinerja Karyawan
Hasil pengujian hipotesis pengaruh secara parsial antara variabel Rekrutmen (X1) terhadap Kinerja karyawan (Y) dengan menggunakan uji t yang menghasilkan nilai t hitung (0,076) < t tabel (1,99897) maka H0 diterima dan H1
ditolak. Yang artinya secara parsial tidak ada pengaruh antara Rekrutmen (X1) terhadap Kinerja karyawan (Y).
Penelitian ini sama dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Junior Pangkey, 2019) dengan judul “Pengaruh Rekrutmen, Seleksi, Promosi Jabatan, Penggajian Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Air Manado” yang menyatakan bahwa rekrutmen secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
3. Pengaruh Seleksi terhadap Kinerja Karyawan
Berdasarkan analisa data melalui pengujian hipotesis terdapat pengaruh proses seleksi terhadap kinerja karyawan PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri secara parsial, hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,000 < 0,05 dan thitung 4,022 > ttabel 1,99897 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini diartikan bahwa seleksi dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Aziz et al., 2017) yang berjudul Pengaruh Rekrutmen dan Seleksi Terhadap Kinerja di PT. Inalum Indonesia yang menyatakan bahwa variabel seleksi secara parsial berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Karena semakin ketat suatu proses seleksi yang dilakukan perusahaan maka akan semakin meningkatkan kinerja yang dihasilkan oleh karyawan pada PT. Sukses Mitra Sejahtera.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan yang sesuai dengan tujuan hipotesis Seleksi terhadap kinerja karyawan PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil uji simultan menyimpulkan bahwa variabel bebas Rekrutmen (X1), Seleksi (X2) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat kinerja karyawan (Y) pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri .Hal ini dibuktikan dengan Fhitung lebih besar dari Ftabel.
2. Variabel bebas Rekrutmen (X1) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat kinerja karyawan (Y) pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri Hal ini dibuktikan dengan Thitung lebih kecil dari Ttabel.
3. Variabel bebas Seleksi (X2) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat kinerja karyawan (Y) pada PT. Sukses Mitra Sejahtera Kabupaten Kediri Hal ini dibuktikan dengan Thitung lebih besar dari Ttabel.
BIBLIOGRAFI
Afandi, P. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia (Teori, Konsep dan Indikator).
Riau: Zanafa Publishing.
Aziz, T. A., Maarif, M. S., & Sukmawati, A. (2017). Pengaruh rekrutmen dan seleksi terhadap kinerja. Jurnal Aplikasi Bisnis Dan Manajemen (JABM), 3(2), 246.
Junior Pangkey, V. P. K. L. dan Sjendry S. R. L. (2019). Pengaruh Rekrutmen, Seleksi, Promosi Jabatan, Penggajian Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt.
Air Manado. Universitas Sam Ratulangi Manado.
Kasmir. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia Teori dan Praktik (Cetakan Ke).
Penerbit PT. Raja Grafindo Persada.
Nurjaman, K. (2014). Manajemen Personalia (Manajemen Personalia dan Ruang Lingkupnya). Bandung: CV Pustaka Setia Bandung.
Yusuf, B., & Al Arif, M. N. R. (2015). Manajemen sumber daya manusia di lembaga keuangan syariah. Jakarta: Rajawali Pers.
ANALISIS PELAKSANAAN BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM (ABH) KASUS TINDAK ASUSILA
Efi Siti Fatonah Bapas kelas I Bandung
Email: [email protected]
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Diterima 11 Maret 2021
Kasus kejahatan yang dilakukan oleh anak dan orang dewasa dalam proses penanganannya tentu berbeda.
Mempertahankan hak-hak anak dalam proses perlindungan hukum terhadap anak berhadapan dengan hukum (ABH) diperlukan pemahaman yang komprehensif secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak serta penyebabnya dan menganalisis pelaksanaan bimbingan sosial terhadap anak berhadapan dengan hukum (ABH). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitain deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengimplementasian bimbingan sosial kemasyarakatan telah terlaksana cukup baik sehingga tujuan anak berhadapan dengan hukum dapat berkembang ke arah yang positif dapat tercapai untuk menjadi generasi muda yang diharapkan oleh bangsa dan negara.
Kata kunci:
Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH); kejahatan;
bimbingan sosial
Pendahuluan
Masa depan bangsa terletak pada generasi muda yang dihasilkannya. Pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap anak sebagai penerus bangsa. Perlindungan anak merupakan salah satu dari pembangunan nasional. Anak merupakan sumber daya yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Dalam persoalan perlindungan hukum bagi anak- anak, maka tercantum pada UUD Negara RI Tahun 1945 pasal 34 bahwa “Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh negara”.
Pengertian anak dalam hukum pidana mengutamakan terhadap hak-hak anak yang harus dilindungi karena secara kodrat anak memiliki substansi yang lemah dan rentan terhadap pertanggung jawaban atas dirinya sendiri. Pengertian anak jika ditinjau lebih lanjut lagi dari segi usia kronologis menurut hukum dapat berbeda-beda tergantung tempat, waktu, dan untuk keperluan apa, hal ini juga akan mempengaruhi batasan yang digunakan untuk menentukan umur anak (Abdussalam, 2007).
Rasa aman dan terlindungi harus dimiliki oleh setiap anak. Sehingga dapat tercipta rasa tanggung jawab dalam masyarakat. Anak seharusnya diperlakukan dengan baik dalam lingkungan keluarga yang bahagia, penuh kasih sayang dan perhatian dari keluarga. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, kejahatan terhadap orang dewasa maupun terhadap anak semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitas. Krisis sosial semakin meningkat dikarenakan norma-norma yang kurang begitu diperhatikan.
Perkembangan zaman membuat gaya hidup, pola pikir serta norma dan tata krama semakin menurun. Tidak sedikit dari tindak kejahatan anak sebagai pelakunya.
Tingkat kenalakan anakpun meningkat dari tahun ke tahun. Bermacam-macam kejahatan yang terjadi seperti narkoba, mencuri hingga tindak asusila yang menjadi kasus terbanyak.
Dalam kasus pidana anak sebagai korban maupun pelaku, mereka tetap membutuhkan perlindungan yang memadai dan hak-hak asasi mereka dilindungi dan dihormati setiap saat, sesuai dengan perundang-undangan tentang hak-hak anak (Rochaeti et al., n.d.). Keberadaan anak-anak dalam tempat penahanan dan lembaga pemasyarakatan yang sama dengan orang dewasa dapat memunuculkan peluang korban eksploitasi maupun tindak kekerasan (Rochaeti et al., n.d.). Penanganan Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH) tidak dapat dilakukan seperti penanganan terhadap orang dewasa (Santoso & Darwis, 2017).
Suatu sistem permasyarakatan salah satu bagiannya adalah pembimbing kemasyarakatan. Pembimbing Kemasyarakatan adalah pejabat fungsional penegak hukum yang melaksanakan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan terhadap anak di dalam dan di luar proses peradilan pidana (Zhurami 2020).
Pada masyarakat umum pembimbingan tersebut dinamakan bimbingan sosial bagi Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) dimana mempunyai tujuan agar klien dapat melaksanakan fungsi sosialnya sesuai dengan status dan peran nya sebagai anak dengan diberi bimbingan sosial yang merupakan tindak lanjut dari Pembinaan bertujuan untuk mengarahkan Anak yang Berhadapan dengan Hukum, agar dapat bersikap lebih baik, menjadi orang yang jujur, sopan, lurus, mandiri dan berguna untuk keluarga dan masyarakatnya (Sofyan, 2020).
Menurut (Purnianti, Supadmi, Mamik S. dan Martin, 2002) menyatakan bahwa restorative justice menjadi pilihan yang harus diutamakan untuk melindungi anak.
Restorative justice merupakan alternatif penyelesaian perkara dimana semua komponen yang terkait dengan perkara yang melibatkan anak untuk duduk bersama guna merumuskan secara kolektif cara mengatasi konsekuensi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak dan implikasinya di masa mendatang (Firdaus, Moh. Syafari, 2008). Konsep keadilan restoratif pada intinya terletak pada konsep komunitas yang peduli dan inklusif (Hadi, 2010).
Pendekatan keadilan restorative merupakan penyelesaian dengan cara menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap anak akibat dari tindakan pidana yang dilakukannya dalam arti lain merupakan pemulihan keadaan. Keadilan restoratif
diharapkan memberikan rasa keadilan bagi anak sebab cara ini bukan dengan suatu cara pembalasan hukum yang berat.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Sahrial & Kasim, n.d.; Wahyudi, 2015), membuat peneliti ingin melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan peran bimibingan sosial terhadap ABH, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kejahatan serta penyebab tindak kejahatan yang dilakukan ABH selain itu untuk menelusuri peran bimbingan sosial yang dilakukan oleh pembimbing kemasyarakatan.
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi tolak ukur untuk peningkatan peran bimbingan sosial terhadap ABH dan dapat menjadi inspirasi selanjutnya untuk mengembangkan kembali sisi posisi anak yang terjerat kasus kejahatan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskritptif. Menurut (Whitney dalam Moh Nazir, 2013) yaitu penelitian untuk mencari fakta dengan intepretasi yang tepat. Mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Data dalam penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu prosedur yang menghasilakan data deskriptif berupa kata tertulis, atau lisan orang-orang atau perilaku yang diamati (Moleong, 2006).
Teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi dan studi literatur.
Observasi merupakan salah satu kegiatan ilmiah empiris yang mendasarkan fakta-fakta lapangan maupun teks, melalui pengalaman panca indra tanpa menggunakan manipulasi apapun (Hasanah, 2017). Studi literatur merupakan aktivitas pengumpulan data dengan mempelajari dan mengutip berbagai teori dari berbagai buku, mempelajari dan mengutip data dari berbagai dokumen, mempelajari dan mengutip berbagai informasi dari internet dan media cetak.
Hasil dan Pembahasan
A. Pengertian, hak-hak anak dan faktor penyebab kenakalan anak 1. Pengertian anak
Anak merupakan cikal bakal penerus generasi lama. Menurut (Rumtianing, 2016), Anak adalah seorang yang masih ada di bawah usia tertentu dan belum dewasa serta belum kawin. Artinya, pengertian anak yaitu manusia yang dalam batasan umur tertentu serta belum menikah dan belum dikategorikan sebagai dewasa baik dari fisik maupun mental.
Penentuan batasan umur anak di beberapa negara memiliki perbedaan misalnya di Amerika Serikat menentukan batas umur anak yaitu antara 8-17 tahun, di negara Inggris menentukan batas umur anak antara 12-16 tahun, di negara Australia mayoritas negara bagiannnya menentukan batas umur anak yaitu 8-16 tahun, di negara Belanda batas umurnya antara 12-18 tahun. Negara-
negara Asia misalnya Srilanka menentukan batas umur anak yaitu antara 8-16 tahun, Iran 6-18 tahun, Jepang dan Korea umur antara 14-18 tahun, Kamboja antara 15-18 tahun dan di Filipina umur antara 7-16 tahun.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam Pasal 1 Angka (1) ditegaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Pasal 1 yang dimaksud anak dalam Konvensi ini adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun, kecuali berdasarkan undang- undang bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.
Perilaku anak tidak serta merta selalu menunjukkan positivisme.
Mayoritas di beberapa negara memiliki kasus kenakalan yang dilakukan oleh anak sehingga menyebabkan terjeratnya anak ke dalam kasus hukum. Anak yang terjerat kasus hukum baik sebagai korban, saksi maupun pelaku di sebut anak yang berkaitan dengan hukum atau ABH.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang dimaksud dengan anak yang berhadapan dengan hukum (children in conflict with the law), adalah sebagai berikut :
“Anak yang Berhadapan dengan Hukum adalah Anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana”
Pasal 1 Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juga menentukan sebagai berikut :
1. Anak berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
2. Anak yang menjadi korban tindak pidana yang selanjutnya disebut sebagai anak korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.
3. Anak yang menjadi saksi tindak pidana yang selanjutnya disebut anak saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaimnya sendiri.
2. Hak-hak anak
Hak merupakan sesuatu yang harus diperoleh oleh seseorang disamping melakukan kewajibannya. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif. Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang tidak dapat dipisahkan.
Anak merupakan bagian dari masyarakat dimana hak-haknya tersebut harus dilindungi. Hak-hak anak merupakan yang harus dijamin dalam pemenuhannya. Perlindungan anak adalah salah satu contoh hak anak yang wajib dipenuhi. Perlindungan anak berkaitan dengan lima pilar yakni orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Kelimanya memiliki keterkaitan satu sama lain sebagai penyelenggara perlindungan anak.
Undang-Undang Dasar 1945 telah mengatur mengenai hak anak yang diatur dalam 2 (dua) Pasal yaitu:
a. Pasal 28B ayat (2) yang berbunyi:
“Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
b. Pasal 34 ayat (2) yang berbunyi :
“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”
Adapun hak-hak anak yang sedang dalam proses hukum harus dan wajib diutamakan kepentingannya dimana dalam kepentingan itu terdapat hak-hak dari anak. Dalam Pasal 3 Undang-Undang SPPA mengatur juga mengenai hak-hak anak yang sedang berhadapan dengan hukum, sebagai berikut:
1. Diperlakukan secara manusiawi dengan memperhatikan kebutuhan sesuai dengan umurnya;
2. Dipisahkan dari orang dewasa;
3. Memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain secara efektif;
4. Melakukan kegiatan rekreasional;
5. Bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi, serta merendahkan derajat martabatnya;
6. Tidak dijatuhi pidana mati atau pidana seumur hidup;
7. Tidak ditangkap, ditahan, atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam waktu yang singkat;
8. Memperoleh keadilan dimuka pengadilan anak yang objektif, tidak memihak, dan dalam sidang yang tertutup untuk umum;
9. Tidak dipublikasikan identitasnya;
10. Memperoleh pendampingan orang tua/wali dan orang yang dipercaya oleh anak;
11. Memperoleh advokasi sosial 12. Memperoleh kehidupan pribadi
13. Memeperoleh aksesbilitas, terutama bagi anak cacat;
14. Memperoleh pendidikan;
15. Memeperoleh pelayanan kesehatan;
16. Memeperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
3. Faktor penyebab kenakalan anak
Kenakalan anak atau yang diambil dari istilah juvenile deliquency, Juvenile berarti anak sedangkan delinquency berarti kejahatan. Menurut Jensen
(dalam (Sarwono, 2013), Jenis-Jenis Kenakalan remaja dari kebiasaan atau melanggar hukum : (1) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain. (2) Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain. (3)Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain: pelacuran, penyalagunaan obat. (4) Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orangtua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah orangtua, dan sebagainya.
Kecenderungan kenakalan anak di indonesia semakin meningkat.
Menurut (Bartollas, 1985) ada beberapa faktor yang menjadi latar belakang karakteristik pribadi anak yang berisiko tinggi menjadi pelaku delinquency, yaitu faktor umur (anak yang lebih muda akan berisiko lebih tinggi), variable psikologis (sifat membantah, susah diatur, merasa kurang dihargai), school performance (bermasalah di sekolah dengan tingkah lakunya, membolos), home adjustment (kurang interaksi dengan orang tua dan saudara, kurang disiplin dan pengawasan, minggat), pengguna alkohol dan obat terlarang, lingkungan tetangga, dan adanya pengaruh kekuatan teman sebaya (Marlina, 2009).
Kenakalan anak tejadi karena beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal ialah faktor yang muncul dari dalam dirinya sendiri sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang dipengaruhi oleh keadaan dari luar dirinya. Kedua faktor tadi adalah pemicu terjadinya penyimpangan/kenakalan yang dilakukan oleh anak karena faktor-faktor tadi tidak diperhatikan serta tidak dilalui dengan baik dalam prosesnya.
Beberapa contoh faktor internal diantaranya faktor usia. Faktor usia dimana anak masih memiliki pemahaman yang belum optimal layaknya orang dewasa serta ketidaktahuannya dalam mempersepsikan yang benar dan salah menjadi salah satu penyebab terjadinya kenalakan anak dan tindak pidana.
Anak melakukan apa yang di inginkannya tanpa memikirkan akibat dari apa yang ia lakukan. Itulah pentingnya pendidikan etika serta norma dan pola pikir yang baik harus diawali dari keluarga terutama orang tua.
Faktor eksternal ialah faktor keluarga dan lingkungan, dimana didikan dalam keluarga serta lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk prilaku anak. Selain itu juga faktor pendidikan serta lingkungan sekolah. Di dalam sekolah interaksi terjadi antara anak dengan teman seusianya, dimana karakter tiap-tiap anak itu berbeda-beda, diantara kawan anak-anak tersebut ada kemungkinan memberikan pengaruh negatif dalam pergaulannya contohnya saling membully atau mencuri bahkan sampai belajar berkelahi.
Itulah pentingnya dilakukan pengawasan yang mendalam sebab anak masih sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal diluar dirinya.
B. Peran pembimbing kemasyarakatan terhadap ABH
Secara harfiah pengertian bimbingan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu;
tuntunan; pimpinan.Pembimbing Kemasyarakatan adalah Seseorang yang memiliki keahlian dan keterampilan teknis dalam bidang ilmu pekerjaan sosial (Social Works) disamping disiplin ilmu lain khususnya ilmu hukum yang berkaitan dengan tugasnya.
Pembimbing Kemasyarakatan atau yang dulu disebut Pekerja Sosial Kehakiman (Social Worker in Correctional Field) adalah pejabat fungsional penegak hukum pada Balai Pemasyarakatan yangditunjuk dan atau diangkat menjadi Pembimbing Kemasyarakatan, bertugas melaksanakan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan terhadap Anak di dalam dan di luar proses peradilan pidana.
Fungsi pembimbing Kemasyarakatan dalam melaksanakan program pembimbingan terhadap klien adalah untuk :
a. Melakukan registrasi Klien Pemasyarakatan;
b. Melakukan pengawasan, pembimbingan, dan pendampingan bagi Klien Pemasyaraktan / anak yang berdasarkan putusan pengadilan dijatuhi pidana atau dikenai tindakan;
b. Mengikuti sidang anak di pengadilan negeri dan sidang tim pengamat pemasyarakatan ( TPP );
Tujuan yang hendak dicapai Pembimbing Kemasyarakatan sesuai dengan Tujuan sistem Pemasyarakatan dalam proses pembimbingan kemasyarakatan, yaitu :
a. Klien dapat menyadari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya;
b. Klien tidak melakukan kembali perbuatan yang melanggar hukum tindak pidana;
c. Klien dapat memperbaiki dirinya;
d. Klien dapat diterima kembali oleh masyarakat di tempat tinggalnya;
e. Klien dapat berperan aktif dalam pembangunan Indonesia;
f. Klien dapat hidup secara wajar sebagai warga masyarakat yang baik dan bertanggung jawab
Ada 3 prosedur dalam pelaksanaan pembimbingan terhadap klien anak yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan.
Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan Pasal 1 angka 1 jo juklak Menteri Kehakiman RI Nomor : E-39-PR.05.03 jo juknis Menteri Kehakiman RI Nomor : E.40-PR.05.03Tahun 1987 tentang Bimbingan Klien Pemasyarakatan.
(1) Pembinaan tahap awal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a meliputi:
a. masa pengamatan, pengenalan dan penelitian lingkungan paling lama 1 (satu) tahun;
b. perencanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian;
c. pelaksanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian; dan d. penilaian pelaksanaan program pembinaan tahap awal.
(2) Pembinaan tagap lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b meliputi:
a. perencanaan program pembinaan lanjutan;
b. pelaksanaan program pembinaan lanjutan;
c. penilaian pelaksanaan program pembinaan lanjutan; dan d. perencanaan dan pelaksanaan program asimilasi.
(3) Pembinaan tahap akhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf c meliputi:
a. perencanaan program integrasi;
b. pelaksanaan program integrasi; dan
c. pengakhiran pelaksanaan pembinaan tahap akhir.
Dalam hal pembimbingan anak, Sebelum dilakukannya bimbingan tersebut untuk klien anak, Pembimbing Kemasyarakatan mengadakan sidang TPP. Sidang TPP ini untuk membahas program bimbingan yang disesuaikan dengan latar belakang penyebab anak tersebut melakukan tindak pidana. Selain itu, sidang TPP diadakan guna menyampaikan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembimbingan, seperti klien anak yang jarang melapor dan menyampaikan perkembangan bimbingan pada klien anak sesuai dengan catatan masing-masing PK.
Bagi klien anak, pada bimbingan kepribadian berupa bimbingan konseling dan sharing secara psikologi, atau bimbingan agama maupun rehabilitasi disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan klien anak. Terdapat juga Latihan keterampilan yang diberikan sebagai bagian dari wujud pembinaan klien anak. Nasehatpun diberikan kepada klien anak untuk tidak mengulangi perbuatan tindak pidana, diberikan arahan supaya bisa memiliki kegiatan dan menganjurkan untuk melanjutkan sekolah bagi klien anak yang putus sekolah.
Ketika pembebasan bersyarat ingin diajukan maka dilakukanlah pengawasan klien anak yang bertujuan untuk mencegah pengulangan tindak pidana dan mengembalikan narapidana kedalam masyarakat.
Metode pengawasan pertama terhadap klien pembebasan bersyarat, yaitu:
Pengawasan internal dilakukan oleh PK dimana ia bertatap muka secara langsung dengan klien. Pengawasan ini dijalankan melalui kegiatan wajib lapor dan kunjungan rumah (home visit). Wajib lapor adalah keharusan klien untuk datang ke Balai Pemasyarakatan untuk bertemu dengan PK serta melakukan bimbingan secara rutin setiap bulannya. Sedangkan kunjungan rumah (home visit) adalah kewajiban PK untuk mengunjungi tempat tinggal klien untuk memberikan
pembimbingan selama masa pembebasan bersyarat sehingga klien dapat memenuhi persyaratan yang diberikan oleh hakim. Metode ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses pembimbingan terhadap klien yang bersangkutan benar- benar dilaksanakan.
Adapun metode kedua yaitu Pengawasan eksternal meruapakan kegiatan pengamatan dan penilaian yang dilakukan oleh pihak luar pemasyarakatan, dalam hal ini adalah lingkungan masyarakat tempat klien menjalani pembebasan bersyarat. Metode ini dilakukan dalam upaya untuk mengawasi klien dalam mematuhi ketentuan-ketentuan berupa larangan maupun himbuan yang diberikan kepadanya.
Kesimpulan
Pelaksanaan pembimbingan terhadap klien anak yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan telah dilakukan. Hal tersebut terlihat dari prosedur yang dilaksanakan oleh Pembimbing kemasyarakatan. Peran pembimbingan kemasyarakatan terhadap anak sudah terlihat jelas sehingga tujuan dari pelaksanaan bimbingan kemasyarakatan pun dapat dicapai karena upaya yang telah dimaksimalkan.
BIBLIOGRAFI
Abdussalam. (2007). Hukum Perlindungan Anak. Bogor: Restu Agung.
Bartollas, C. (1985). Correctional treatment: Theory and practice. Prentice-Hall Englewood Cliffs, NJ.
Firdaus, Moh. Syafari, et al. (2008). Membongkar Ingatan Berbagi Pengalaman Kumpulan Catatan Pengalaman. Pustaka Laha.
Hadi, S. (2010). Kriminalisasi anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hasanah, H. (2017). Teknik-teknik observasi (sebuah alternatif metode pengumpulan data kualitatif ilmu-ilmu sosial). At-Taqaddum, 8(1), 21–46.
Marlina, P. P. A. di I. (2009). pengembangan konsep diversi dan Restorative Justice.
Bandung: Refika Aditama
Moh Nazir. (2013). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Moleong, L. J. (2006). Metode penelitian kualitatif edisi revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Purnianti, Supadmi, Mamik S. dan Martin, N. M. (2002). Analisis Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia. UNICEF Perwakilan.
Rochaeti, N., Hnienkswsatie, A. D., & Sularto, R. B. (n.d.). Implementasi Diversi Sebagai Sarana Non Penal Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak Di Bapas Surakarta. Pembaharuan Hukum Pidana, 2(2).
Rumtianing, I. (2016). Kota layak anak dalam perspektif perlindungan anak. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 27(1).
Sahrial, G., & Kasim, S. S. (n.d.). Penanganan Anak Bermasalah Dengan Hukum (Abh) Dalam Kasus Tindak Asusila (Studi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kendari). Welvaart, 1(1).
Santoso, M. B., & Darwis, R. S. (2017). Peran Pembimbing Kemasyarakatan dalam Penanganan Anak Berkonflik dengan Hukum oleh Balai Pemasyarakatan. Share:
Social Work Journal, 7(1), 61–70.
Sarwono, S. W. (2013). Psikologi Remaja Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Sofyan, A. (2020). Peran Pembimbing Kemasyarakatan dalam Perlindungan Anak yang Berhadapan dengan Hukum. Jurnal of Admiration, 1(8), 1029–1038.
Wahyudi, D. (2015). Perlindungan Terhadap Anak yang Berhadapan dengan Hukum Melalui Pendekatan Restorative Justice. Jurnal Ilmu Hukum Jambi, 6(1), 43318.
Zhurahmi, S. (2020). Peran Pembimbing Kemasyarakatan Dalam Pemenuhan Hak Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum (Suatu Penelitian di Wilayah Hukum Balai Pemasyarakatan Kelas II Banda Aceh). Repository Unmuha.
ANALISA SIFAT FISIK DAN KIMIA PELUMAS PADA UJI KETAHANAN MOTOR DIESEL BERBAHAN BAKAR JME B20
Hadi Prasutiyon, Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah dan Urip Prayogi
1,3Universitas Hang Tuah Surabaya, Indonesia
2Insititut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Indonesia Email: [email protected], [email protected] dan
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Diterima 5 Maret 2021
Penelitian ini difokuskan pada penilaian sifat fisik dan kimia pelumas saat dipakai pada uji ketahanan komponen utama motor diesel dengan bahan bakar biodiesel Jelantah Methyl Ester (JME) yang mengandung iodin dan pengaruhnya terhadap ketahanan komponen- komponen utama motor diesel. Penelitian ini dilakukan dengan pengujian eksperimen di laboratorium dan diperoleh hasil bahwa komponen-komponen diesel dengan bahan bakar biodiesel JME dengan varian kandungan iodin ini sangat terpengaruh ketahannya terutama JME yang mempunyai kandungan iodin yang lebih besar. Kandungan iodin dalam pengujian ini terbesar 67,14 (Gravitri), angka yang masih diijinkan oleh Standart SNI yaitu maks.115, namun hal ini sudah membawa dampak yang kurang bagus terhadap komponen-komponen yang mempunyai kandungan logam Fe dan Al, apalagi dengan water content sebesar 0,13%,cetane index sebesar 46,22, sediment content 9,78%, dengan flash point sebesar 188oC juga dengan kinematic viscosity pada 40oC sebesar 17,6 cSt, hal ini menyebabkan disamping proses pembakaran diruang bakar tidak sempurna , juga membuat komponen- komponen yang bersentuhan mengalami penurunan karakteristik propertis yang pada akhirnya membuat komponen tersebut mengalami keausan, berkerak dan berkarat. Oleh karenanya diperlukan performance biodiesel JME yang lebih bagus dengan tingkat nilai iodin yang rasional, dengan harapan biodiesel JME ini benar-benar menjadi bahan bakar alternatif secara ekonomis, fiesibel sebagai pengganti bahan bakar fosil.
Kata kunci:
pelumas, bilangan yodium, jelantah methyl ester (JME), ketahanan komponen mesin diesel.
Pendahuluan
Motor diesel masih menjadi pilihan dalam hal pengerak mula dengan alasan adalah mempunyai durability (ketahanan) dan reliability (keandalan) yang tinggi. Tentu dengan adanya alasan tersebut durability dan reliability yang dimiliki mesin diesel sedapat mungkin dapat dipertahankan atau diharapkan menjadi lebih baik ketika dicoba dengan menggunakan bahan bakar lain (Anton,1985). Terutama ketika dicoba dengan jelantah methyl ester yang mempunyai nilai viskositas lebih tinggi. Pemakaian campuran Jelantah Methyl Esther (JME) dan solar dengan perbandingan 10:90 menaikkan daya efektif motor diesel jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar solar murni pada rpm dan pembebanan tertentu. Kenaikan terjadi pula pada campuran 20:80 dan 30:70 (Adryan, 2002). Bahkan dengan komposisi bahan bakar JME 100% pada putaran 2000 rpm terjadi peningkatan daya efektif sebesar 30.34% jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar solar JME akan dipromosikan sebagai bahan bakar pengganti solar dan kemudian akan luas digunakan sebagai bahan bakar dimasa mendatang (Ahadiat,1994).
JME mempunyai viskositas dan berat jenis yang masih dalam batas yang diijinkan sebagai bahan bakar motor diesel, pada suhu kamar viskositas kinematisnya 7.5 cst (lebih tinggi 27.11% dari minyak solar) dan berat jenisnya 800 kg/m3 (lebih kecil 3.75% dari minyak solar) serta memiliki cetane number yang lebih tinggi dari solar sehingga mempengaruhi proses pembakaran (Pradipta, 2008). Pencampuran minyak solar dengan JME berpengaruh terhadap daya yang dihasilkan dan konsumsi bahan bakar spesifik motor diesel jika dibandingkan dengan menggunakan minyak solar.
Daya yang dihasilkan unutk JME 10, JME 20, JME 30 cenderung mengalami peningkatan pada putaran 2000 rpm dan 2400 rpm (Arismunandar,1997). Masalah ketika menggunakan bahan bakar biodiesel adalah kandungan atau properties dari pada biodiesel itu sendiri, termasuk minyak jelantah sebagai pengganti solar adalah sifat-sifat fisika dan kimia. Terutama viskositas dan titik bakarnya yang lebih tinggi dari pada minyak solar. Dua sifat minyak jelantah (JME) tersebut perlu diturunkan agar cocok menjadi bahan bakar (Pramesti, 2013). Selain itu, studi lain mengatakan kandungan asam tak jenuh dalam biodiesel (yang dinyatakan dengan jumlah iodin) meningkatkan resiko polimerisasi dalam minyak pelumas motor diesel dan dapat menyebabkan terjadinya laju keausan dan terbentuknya carbon deposit pada komponen-komponen utama motor diesel (Subiyanto, 1989). Panas yang dihasilkan sangat tinggi karena jumlah gesekan akan mencairkan logam yang mengakibatkan kerusakan. Untuk menghidari hal ini semua bagian yang bergerak harus dilapisi oleh minyak pelumas yang dipompa kesemua bagian yang bergerak (Baranescu, 1997). Umumnya pelumas yang digunakan kekentalannya (viscositasnya) menggunakan satuan SAE yang ditampung dan disimpan di bak penampungan pelumas (olie carter) yang didalamnya terdapat pompa. Pompa ini bekerja menghisap pelumas dari carter untuk didistribusikan keseluruh bagian-bagian yang membutuhkan setelah terlebih dahulu melewati filter dan pendingin pelumas (Sudik, 2013). Pelumas yang telah didistribusikan ke bagian-bagian seperti permukaan bantalan, poros engkol, roda gigi, silinder, pegas dan bagian bergerak
lainnya, maka akan kembali ke carter dan selanjutnya untuk dihisap pompa, begitu seterusnya (Fort, Ef, 1997.).
Salah satu penyebab kesalahan dalam memilih bahan pelumas adalah kurangnya pengetahuan dan ketrampilan mengenai kandungan bahan pelumas dan penggunaan yang tidak sesuai dengan standart yang ditetapkan oleh pembuat bahan pelumas.
Sumber utama pelumas adalah minyak bumi yang merupakan campuran beberapa organic, terutama hidrokarbon (Trianto, 2004). Segala macam minyak bumi yang mengandung paraffin (CnH2n-2) naftena (CnH2n) dan aromatic (CnHn), jumlah susunan tergantung sumber minyaknya. Aromatik mempunyai sifat pelumasan yang baik tetapi tidak tahan terhadap oksidasi. Parafin dan Naftena lebih stabil tetapi tidak dapat menggantikan aromatik secara keseluruhan (Zuhdi, 2004). Karena type aromatik tertentu bertindak sebagai penghalang oksidasi dan parafin murni tidak mempunyai sifat pelumasan yang baik. Perbedaan yang lain yaitu aromatik mempunyai viscositas rendah, naftena mempunyai viscositas sedang, dan parafin mempunyai viscositas tinggi.
Oksidasi minyak mineral umumnya menyebabkan meningkatkan viscositas serta terbentuknya asam dan zat yang tidak dapat larut (Fahruri, 2003)..
Apabila terjadi oksidasi besar-besaran akan menyebabkan korosi dan bahkan merusak logam yang dilumasi sehingga pelumas harus diperbaharui. Daya tahan oksidasi berkurang pada suhu yang tinggi. Dengan minyak pelumas yang baik, oksidasi berkurang perlahan-lahan sampai pada suhu 80oC diatas suhu tersebut kecepatan oksidasi meningkat dengan cepat. Kecepatan oksidasi tergantung pada suhu udara dan macam bahan bantalan (bearing) (Georing, C,E, 1984). Oleh karena itu sangat sulit menentukan suhu operasi maksimum dan bagaimana seringnya minyak pelumas harus diganti. Angka iodin juga akan mempengaruhi ketahanan motor diesel utamanya adalah komponen-komponen utama pada system penggerak, mulai system penggerak disekitar ruang bakar hingga crank system. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka perlu dilakukan pengujian pada motor diesel untuk mengetahui pengaruh kandungan angka iodine dan kondisi pelumas pada saat menggunakan bahan bakar biodiesel dari minyak jelantah (JME) terhadap ketahanan pada komponen utama (Hendra, 2013). Sudah beberapa peneliti yang menggunakan jelantah sebagai bahan pembuat methyl esther.
Reed TB menggunakan minyak jelantah kedelai, biodiesel ini dipergunakan sebagai pencampur minyak solar sebagai bahan bakar diesel engine pada bus kota di Denver dan perubahan power tidak terjadi secara signifikan. Mittelback telah mengoleksi minyak jelantah dari restoran-restoran dan beberapa tempat lainnya untuk dibuat biodiesel serta peneliti lainnya telah mempelajari pengaruh physical dan chemical properties biodiesel pada kinerja mesin diesel tipe direct injection (Zuhdi, 2002). Setiap Engine Manufaktur tidak mengetes ketahanan (durability) enginenya dengan bahan bakar alternatif, oleh sebab itu apabila ada bahan bakar alternatif maka perlu adanya pengujian ketahanan engine (uji durability) (Zuhdi, 1996). Ada dua cara yang lazim digunakan dalam pengujian ketahanan engine yaitu pengujian laboratory dengan menggunakan engine test bed atau chasis dinamometer. Pengujian laboratory dengan menggunakan engine test bed atau chasis dinamometer mengikuti prosedur yang diberikan oleh Engine
Manufaktur Association (EMA). Peneliti yang memproduksi (membuat) bahan bakar alternatif dianjurkan untuk menguji ketahanan engine selama 200 jam dengan variasi dan waktu pembebanan yang telah ditentukan dan onroad durability test. Onroad durability test bukan pengujian yang dilakukan oleh engine manufaktur. Kelebihan dari pengujian semacam ini adalah kita dapat mengetahui ketahanan secara real dari engine (Imaduddin, 2011).
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode eksperimen. Pada penelitian ini akan dilakukan eksperimen dalam mengidentifikasi kandungan iodin pada biodiesel dari Jelantah Methyl Ester (JME). Selain itu uji ketahanan (durability) pada motor diesel untuk mengetahuinya dengan menggunakan campuran bahan bakar biodiesel JME dan variasi beberapa besaran angka Iodin.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi pelumas baik secara fisik maupun kimia.
Hasil dan Pembahasan
A. Analisa Hasil Pengujian Properties Minyak Pelumas.
Hasil Pengujian Properties Minyak Pelumas dengan Bahan Bakar JME dengan Variasi Iodin
Tabel 1
Parameter properties minyak pelumas
No Parameter B20 B20A B20B Metode
1 Viskositas 40oC (cSt) 43,24 44,88 26,96 Kohler 2 Viskositas 100oC
(cSt)
17,89 17,22 11,44 Kohler 3 TTBN (mgr KOH/gr
sampel)
11,27 8,39 6,61 Kohler
4 Flash Point (oC) 240 240 250 Gravimetri
5 Pour point (oC) Tak terdeteksi
Tak terdeteksi
Tak terdeteksi
Gravimetri
6 Ash content (%) 1,21 1,12 1,05 Gravimetri
7 Sulfur (%) 0,028 0,026 0,036 Gravimetri
8 Fe (%) 0,01 0,83 1,06 AAS
9 Cu (ppm) Tak
tedeteksi
Tak terdeteksi
Tak terdeteksi
AAS
10 Pb (ppm) Tak
terdeteksi Tak terdeteksi
Tak terdeteksi
AAS
11 Cr (ppm) Tak
terdeteksi Tak terdeteksi
Tak terdeteksi
AAS
12 Al (%) 23,69 27,63 30,65 Gravimetri
13 Si (%) 0,26 0,16 0,13 Gravimetri