TINJAUAN YURIDIS MENGENAI
PERTANGGUNGJAWABAN PARA PIHAK DALAM KONTRAK KERJA KONSTRUKSI MENURUT UNDANG -
UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG JASA KONSTRUKSI (STUDI KASUS WANPRESTASI
PENINGKATAN JALAN PELABUHAN PERANGGAS - KAYU ARA DI KABUPATEN MERANTI PROVINSI RIAU)
SKRIPSI
Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh:
RAYMOND A LUMBAN GAOL NIM: 140200362
DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Raymond A Lumban Gaol NIM : 140200362
Judul : TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERTANGGUNGJAWABAN PARA PIHAK DALAM KONTRAK KERJA KONSTRUKSI MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG JASA KONSTRUKSI (STUDI KASUS WANPRESTASI PENINGKATAN JALAN PELABUHAN PERANGGAS – KAYU ARA DI KABUPATEN MERANTI PROVINSI RIAU)
Dengan ini menyatakan :
1. Skripsi yang saya tulis ini adalah benar dan tidak merupakan jiplakan dari skripsi atau karya ilmiah orang lain.
2. Apabila terbukti dikemudian hari saya melakukan pelanggaran sebagaimana tersebut diatas, maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.
Demikian pernyataan ini saya buat sebenarnya tanpa tekanan pihak manapun.
Medan, Desember 2018
Raymond A Lumban Gaol
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasih karuniaNya yang berlimpah telah menyertai penulis dalam menjalani perkuliahan sampai dengan penyelesaian skripsi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Adapun skripsi ini diberi judul “Tinjauan Yuridis Mengenai Pertanggungjawaban Para Pihak Dalam Kontrak Kerja Konstruksi Menurut Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi (Studi Kasus Wanprestasi Peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas – Kayu Ara di Kabupaten Meranti Provinsi Riau)’’. Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis berharap agar para pihak yang membaca skripsi ini memaklumi kekurangan Penulis dikarenakan keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan bahan - bahan referensi serta Penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan skripsi ini.
Selama penulisan skripsi ini, Penulis mendapatkan banyak dukungan, semangat, saran dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya terkhusus kepada kedua orang tua Penulis, yaitu Almarhum Bapak. Hudson Lumban Gaol dan Ibu Renta Simanullang karena terutama berkat doa, kasih sayang, nasehat, semangat dan bimbingan Bapak dan
Mamak, Penulis mampu menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada adik-adik Penulis yaitu, Luther Rio Landhy Lumban Gaol dan Atika Friska Lumban Gaol atas doa, dukungan dan saran yang diberikan kepada Penulis.
Pada kesempatan ini pula tidak lupa Penulis mengucapkan terima kasih atas doa, dukungan dan bantuan yang diberikan berbagai pihak yaitu kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Dr. OK Saidin, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Ibu Puspa Melati, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
6. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H., selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi sekaligus selaku Dosen Pembimbing I. Terima kasih banyak atas saran dan arahan dalam setiap bimbingan serta waktu yang Bapak berikan sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini;
7. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing II.
Terima kasih banyak atas waktu, bimbingan, saran, nasihat, ide dan ilmu yang Bapak berikan selama ini serta kesabaran Bapak dalam membimbing saya di setiap bimbingan;
8. Ibu Maria Kaban, S.H., M.Hum., selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah banyak membantu dan memberikan nasehat selama proses penyelesaian studi;
9. Ibu Tri Murti Lubis, S.H., M.H., selaku Sekretaris Departemen Hukum Ekonomi yang telah memberikan masukan terhadap penulisan skripsi ini;
10. Seluruh Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan membimbing penulis selama menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
11. Seluruh staf pegawai dan tata usaha di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
12. Bapak Halgustar, selaku Manager PT. Putra Kreasi Multi Buana cabang Pekanbaru. Terima kasih bapak telah memberikan informasi dan masukan terkait pembahasan dalam skripsi ini;
13. Bapak Elfreth Simamora, S.H., M.H., C.P.L., selaku Kuasa Hukum PT.
Putra Kreasi Multi Buana. Terima kasih telah memberikan informasi, saran, dan masukan terkait penulisan skripsi ini;
14. Keluarga Besar Op. Amudi Lumban Gaol. Terima kasih atas doa, semangat, motivasi dan dukungan yang telah diberikan baik dari segi moril dan materil selama menjalani perkuliahan;
15. Keluarga Besar Op. Hardy Simanullang. Terima kasih atas doa semangat, motivasi dan dukungan yang telah diberikan baik dari segi moril dan materil selama menjalani perkuliahan;
16. Sahabat - Sahabatku yang tergabung dalam “Federation of Mr.X” yaitu Irfandi Marbun, Herbet Manalu, Mulyadi Sihombing, Kristian Hutasoit,
Agung Tampubolon, Ishak Aritonang, Goklas Siburian, Alfon Silitonga, Alfa Redo Napitupulu dan Herman Gea. Terima kasih atas doa, dukungan , saran serta semangat yang kalian berikan disaat suka dan duka yang kualami selama perkuliahaan ini;
17. Sahabat - sahabatku lainnya selama kuliah di Fakultas Hukum yaitu Wildan Wahyudi, Dearman Saragih, Swandi Hutabarat, Bintang Manurung, Rio Firmando, Jupiter Zalukhu, Andre Pasaribu, Sarmeli Manalu, Martin Siahaan, Arfendo Sianipar, Prananta Sidahtama, Tonggi Hutagalung. Terima kasih atas dukungan, waktu dan saran kalian;
18. Sahabat - Sahabatku Kelompok Klinis yaitu Putri Nurmala Sari, Ririn Cynthia, Anissa Wahyuni, Sahriyani, Nia Anasti dan Defriyandi terima kasih atas semangat, waktu, saran yang kalian berikan dan pengorbanan kita bersama melalui proses klinis di semester 6;
19. Sahabat - Sahabatku Alumni SD dan SMP Methodist Pekanbaru yaitu Reinhart, Revi, Iga, Christin, David, Ivan, Daniel, Cindy Dewi dan teman- teman lainnya yang telah menyemangatiku selama ini;
20. Sahabat - sahabatku Alumni SMA Negeri 2 Pekanbaru yaitu Ali, Teguh, Irfan Aufa, Sukendry dan teman-teman lainnya;
21. Teman - teman Ikatan Mahasiswa Pekanbaru USU (Ikampus). Terima kasih banyak;
22. Teman - teman kelompok kecil KMK yaitu Irene, Riris, Christina, Agave, Rame dan Agung;
23. Teman - teman Mahasiswa Grup D Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
24. Ikatan Mahasiswa Hukum Ekonomi (IMAHMI);
25. Seluruh rekan - rekan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Stambuk 2014
Demikianlah yang Penulis dapat sampaikan atas segala kesalahan dan kekurangannya, Penulis minta maaf sebesar-besarnya dan kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak dan pembacanya terkhusus Penulis. Atas segala perhatiannya Penulis ucapkan Terima Kasih.
Medan, Desember 2018
Hormat Penulis,
Raymond A Lumban Gaol
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…..……….……….. i
DAFTAR ISI………..………... vi
ABSTRAK……….……….……….. ix
BAB I PENDAHULUAN……….... 1
A. Latar Belakang………. 1
B. Rumusan Masalah ………... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan………. 9
D. Keaslian Penulisan……….... 11
E. Tinjauan Kepustakaan……….…. 12
F. Metode Penulisan………. 23
G. Sistematika Penulisan………... 27
BAB II PENGATURAN KONTRAK KERJA KONSTRUKSI….. 29
A. Tinjauan Umum tentang Kontrak………….……… 29
1. Pengertian Kontrak……….. 29
2. Jenis-Jenis Kontrak……….. 33
3. Unsur-Unsur Kontrak……….. 40
4. Syarat Sahnya Kontrak……… 43
5. Asas-Asas Kontrak……….. 49
6. Prestasi dan Wanprestasi………...….. 54
7. Momentum Terjadinya Kontrak……….. 59
B. Tinjauan Umum tentang Kontrak Kerja Konstruksi……… 61
1. Pengertian Kontrak Kerja Konstruksi atau Perjanjian Pemborongan……….. 61
2. Jenis-Jenis Kontrak Kerja Konstruksi…..……….. 66 3. Para Pihak dalam Kontrak Kerja Konstruksi…………. 71 4. Jaminan dalam Kontrak Kerja Konstruksi………...….. 75 5. Kontrak Kerja Konstruksi Pemerintah………..…. 78 BAB II BERAKHIRNYA KONTRAK KERJA KONSTRUKSI... 82
A. Berakhirnya Kontrak Kerja Konstruksi………... 82 B. Pemutusan Sepihak Kontrak Kerja Konstruksi…………... 85 BAB IV PERTANGGUNGJAWABAN PARA PIHAK DALAM
KONTRAK KERJA KONSTRUKSI…….……… 88 A. Pertanggungjawaban Para Pihak dalam Kontrak Kerja
Konstruksi Menurut Undang – Undang Nomor 2
Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi…….………. 88 B. Sengketa Kontrak Kerja Konstruksi (Studi Kasus
Wanprestasi Peningkatan Jalan Pelabuhan
Peranggas - Kayu Ara di Kabupaten Meranti)….…... 97 1. Para Pihak yang Terlibat serta Hak dan Kewajibannya.. 97 2. Pelaksanaan Kontrak Kerja Konstruksi dalam Kasus
Peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas – Kayu Ara
di Kabupaten Meranti………. 102 a. Sengketa Kontrak Kerja Konstruksi…...…………... 102 b. Upaya Penyelesaian Sengketa……… 104 C. Perlindungan Hukum Terhadap Penyedia Jasa dan
Pengguna Jasa Konstruksi………... 109
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………. 116
A. Kesimpulan……….... 116
B. Saran……….. 118
DAFTAR PUSTAKA……..………...……….. 120 LAMPIRAN
Lampiran I Hasil Wawancara
Lampiran II Surat Riset dari Fakultas Hukum
Lampiran III Surat Riset dari PT. Putra Kreasi Multi Buana Lampiran IV Kontrak
ABSTRAK
Raymond A Lumban Gaol*
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H**
Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum***
Di Era Globalisasi saat ini pembangunan di bidang infrastruktur merupakan salah satu program pemerintah yang memegang peranan penting dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam merencanakan suatu proyek pembangunan pihak Pemerintah diwakili oleh Dinas Pekerjaan Umum sebagai Pengguna Anggaran untuk melakukan kesepakatan dengan kontraktor sebagai pihak yang akan mengerjakan pembangunan yang kemudian dituangkan dalam satu kesatuan dokumen yang disebut dengan Kontrak Kerja Konstruksi. Kontrak Kerja Konstruksi tersebut menjadi instrumen yang penting baik dalam mengakomodasi maupun membatasi hak dan kewajiban dari kontraktor maupun Pemerintah selama terselenggaranya proses pembangunan. Pada kenyataannya dalam proses pelaksanaan kontrak tersebut, sering dijumpai wanprestasi dari kontraktor berupa terlambatnya pelaksanaan atau tidak dilakukannya pekerjaan tersebut. Namun tidak jarang pula pemerintah wanprestasi dalam melakukan pembayaran yang tidak tepat waktu dan tidak sesuai prestasinya. Dalam penelitian skripsi ini akan diuraikan mengenai pengaturan serta aspek-aspek terkait Kontrak Kerja Konstruksi dan pelaksanaan pekerjaan konstruksi, bilamana diketahui Kontrak Kerja Konstruksi itu dapat berakhir dan seperti apa tanggung jawab para pihak serta bentuk pertanggungjawabannya dalam hal terjadinya wanprestasi dalam pelaksanaan Kontrak Kerja Konstruksi yang dihubungkan dengan contoh kasus wanprestasi yang idlakukan pemerintah terhadap PT.
Putra Kreasi Multi Buana.
Metode Penelitian yang digunakan dalam skripsi ini metode penelitian yuridis normatif yang didukung dengan data empiris. Sumber data penulisan skripsi adalah data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dengan PT. Putra Kreasi Multi Buana Cabang Pekanbaru sebagai pelaksana pekerjaan konstruksi dan data sekunder yang bersumber dari peraturan perundang-undangan dan berbagai literatur serta dokumen kontrak itu sendiri yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
Pengaturan Kontrak Kerja Konstruksi saat ini diatur didalam Undang - Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi dengan peraturan pelaksananya Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Kontrak Kerja Konstruksi beserta perubahan-perubahannya. Kontrak Kerja Konstruksi berakhir oleh karena pekerjaan telah selesai, pembatalan kontrak, kematian kontraktor, kepailitan, pemutusan kontrak dan persetujuan kedua belah pihak. Pertanggungjawaban dakan hal terjadinya wanprestasi kontrak kerja kontruksi dilakukan dengan cara pemberian kompensasi, penggantian biaya, perpanjangan waktu, perbaikan atau pelaksanaan ulang pekerjaan yang tidak sesuai prestasi dan pemberian ganti kerugian. Terkait dengan Kasus wanprestasi Pemerintah Kabupaten Meranti terhadap PT Putra Kreasi Multi Buana oleh karena tidak adanya upaya Pemerintah Kabupaten Meranti membayar ganti kerugian dalam beberapa upaya penyelesaian, maka saat ini penyelesaian sengketa ditempuh melalui jalur litigasi di Pengadilan Negeri Bengkalis.
Kata Kunci : Kontrak Kerja Konstruksi, Dinas Pekerjaan Umum, Pertanggungjawaban.
* Mahasiswa
** Dosen Pembimbing I
*** Dosen Pembimbing II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang serius dalam melakukan pembangunan, dimana pada saat ini telah dilaksanakan pembangunan di segala bidang baik pembangunan di bidang fisik maupun di bidang non fisik.
Oleh karena itu hasil-hasil pembangunan harus dapat dinikmati seluruh rakyat Indonesia sebagai upaya peningkatan kesejahteraan lahir dan batin secara adil dan merata demi tercapainya kesejahteraan rakyat dan menciptakan kemakmuran.
Berhasilnya pembangunan sangat tergantung pada partisipasi seluruh rakyat, yang berarti bahwa pembangunan harus dilaksanakan secara merata oleh segenap lapisan masyarakat.1
Salah satu bidang pembangunan itu adalah pembangunan di bidang ekonomi yang diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik berupa gedung perkantoran, perumahan, pelabuhan, industri, jalan, jembatan dan sebagainya.
Dalam hal ini semuanya memerlukan pengaturan yang tegas baik dari segi yuridis maupun segi teknisnya yang perlu dikembangkan serta ditingkatkan pelaksanaannya.2
1F.X. Djumialdji (1), Hukum Bangunan, Dasar-Dasar Hukum dalam Proyek dan Sumber Daya Manusia, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1996), hlm.1
2F.X. Djumialdji (2), Perjanjian Pemborongan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991), hlm.1
Terutama di era Presiden Joko Widodo saat ini, sektor infrastruktur menjadi salah satu prioritas program pemerintahannya guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan pembangunan infrastruktur ini merupakan program ambisius jika dibandingkan Presiden -
Presiden sebelumnya.3
Jika melihat dari sejarah pembangunan yang dilakukan di Indonesia sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu pada masa pemerintahan Belanda. Pada saat itu perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi tidak begitu banyak, hanya sekitar enam perusahaan dan merupakan anak perusahaan dengan induknya berada di Belanda. Disamping keenam perusahaan kontraktor Belanda tersebut ada juga beberapa perusahaan kontraktor kecil Indonesia yang berfungsi sebagai sub kontraktor dan pemasok. Setelah Indonesia merdeka, banyak tenaga bangsa Belanda seperti tenaga teknik, profesor, guru, direktur perusahaan, dan arsitek, kembali ke negaranya. Hal ini menyebabkan posisi ini harus diisi oleh orang Indonesia. Pada periode ini terjadi ketidakstabilan perekonomian Indonesia, tidak tersedia dana yang cukup untuk perkembangan, kecuali hanya untuk pekerjaan rehabilitasi dengan bantuan asing. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1965 dilakukanlah pembenahan dalam program pembangunan dan pelaksanaannya dari sejak awal pertumbuhannya sebagai perusahaan/industri harus disadari bahwa proses-proses konstruksi memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan produksi-produksi pabrik pada umumnya.
Pelaksanaan pembangunan wajib dilakukan oleh pemerintah, swasta maupun investor baik lokal dan investor asing yang bekerja sama dengan pemborong atau kontraktor.
4
Aspek yang menjadi tumpuan utama jasa konstruksi terletak pada kualitas dan kemampuan sumber daya manusia, para pengelola maupun tenaga kerjanya,
3Sulistijo Sidarto Mulyo & Budi Santoso, Proyek Infrastruktur & Sengketa Konstruksi, (Jakarta : Prenada Media Group, 2018), hlm.5
4http://www.pu.go.id/satminkal/dirjen/uu_18_1999.pdf (diakses pada tanggal 10 Juli 2018, pukul 19.22 WIB)
sedangkan dalam industri pabrik tumpuan utamanya terletak pada kualitas mesin- mesinnya.5 Sehingga pengembangan jasa konstruksi menjadi agenda publik yang penting dan strategis bila melihat perkembangan yang terjadi secara cepat dalam konteks globalisasi dan liberalisasi, kemiskinan dan kesenjangan, demokratisasi dan otonomi daerah, yang mana hal ini dimungkinkan karena adanya kestabilan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.6
Sektor jasa konstruksi pada saat ini memiliki peranan yang sangat penting dan strategis oleh karena jasa konstruksi menghasilkan produksi akhir berupa bangunan atau bentuk fisik lainnya baik sarana maupun prasarana yang berfungsi mendukung pertumbuhan dan perkembangan berbagai bidang terutama bidang ekonomi, sosial dan budaya guna mewujudkan tujuan masyarakat adil dan
Salah satu tujuan dibuatnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi adalah untuk mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban. Tetapi dalam menghadapi tantangan persaingan internasional, tampaknya ketentuan-ketentuan dalam UU Jasa Konstruksi membutuhkan penyempurnaan, khususnya terkait upaya penguatan daya saing jasa konstruksi agar dapat bersaing di tingkat internasional karena peraturan tersebut dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman sehingga perlu direvisi dimana saat ini Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi (selanjutnya disebut Undang-Undang Jasa Konstruksi).
5Djoko Triyatno, Hubungan Kerja di Perusahaan Jasa Konstruksi, (Bandung : Mandar Maju, 2004), hlm.20
6Ibid, hlm.20
makmur baik secara materil dan spiritual.7
Di era globalisasi pembangunan bangsa Indonesia saat ini dilaksanakan secara terencana, menyeluruh, terpadu, terarah, bertahap, dan berkelanjutan di segala sektor kehidupan. Pembangunan nasional yang dilaksanakan berupa pembangunan berkesinambungan secara bertahap guna meneruskan cita-cita bangsa Indonesia untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selain itu jasa konstruksi berperan juga dalam menumbuhkan dan mengembangkan industri jasa di Indonesia.
8
Dalam teori dan praktek hukum, istilah “konstruksi” dan “pemborongan”
dianggap sama, terutama jika dikaitkan dengan istilah hukum kontrak konstruksi atau hukum kontrak pemborongan. Sebenarnya istilah pemborongan mempunyai cakupan yang lebih luas daripada istilah konstruksi karena yang diborong adalah konstruksi beserta pengadaan jasanya.
Terciptanya kehidupan masyarakat yang maju dan sejahtera supaya bangsa Indonesia dapat disejajarkan dengan bangsa lain yang telah lebih dahulu maju. Dampak dari berkembangnya dan semakin majunya masyarakat tersebut memberikan pengaruh yang besar dalam melakukan hubungan hukum, yang mana perjanjian atau kontrak menjadi aspek yang sangat penting dalam melakukan hubungan hukum tersebut.
9
7Rizki Wahyu Sinatria Pianandita, Penanganan Sengketa Kontrak Konstruksi Berdimensi Publik, Tesis, (Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009), hlm.28
8Haldy Wiranda, Pelaksanaan Perjanjian Kerja Pembangunan Jembatan Sumpur Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau, Skripsi, (Pekanbaru : Universitas Lancang Kuning, 2017), hlm.4
9Munir Fuady (1), Kontrak Pemborongan Mega Proyek, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1998), hlm.8
Perjanjian pemborongan pekerjaan ialah suatu perjanjian antara seseorang atau badan usaha (pihak yang memborongkan pekerjaan) dengan seseorang atau badan usaha lain (sipemborong) dimana pihak pertama menghendaki atau mengharapkan hasil pekerjaan tertentu yang telah diberikannya dan telah disanggupinya untuk diadakan oleh pihak lain atas pembayaran sejumlah uang tertentu sebagai harganya.10
Seiring perkembangannya, perjanjian pemborongan pekerjaan saat ini lebih dikenal dengan istilah kontrak kerja konstruksi. Kontrak Kerja Konstruksi adalah dokumen yang memiliki kekuatan hukum yang memuat persetujuan bersama secara sukarela antara pihak kesatu dan pihak kedua yang mana pihak kesatu berjanji untuk memberikan jasa dan menyediakan material untuk membangun proyek bagi pihak kedua; pihak kedua berjanji membayar sejumlah uang sebagai imbalan untuk jasa dan material yang telah digunakan.
11
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pihak yang kesatu menghendaki hasil dari suatu pekerjaan yang disanggupi oleh pihak yang lainnya untuk diserahkannya untuk jangka waktu yang ditentukan, dengan menerima suatu jumlah uang sebagai harga hasil dari pekerjaan tersebut.
12
10Wirjono Prodjodikoro (1), Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung : Sumur, 1986), hlm.9
11Rochany Natawidjana & Siti Nurasiyah, Aspek Hukum dan Administrasi Proyek, Makalah, (Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia, 2009), hlm.6
12R. Subekti (1), Aneka Perjanjian (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1989), hlm.65
Undang-Undang No.2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi juga memberikan pengertian kontrak kerja konstruksi adalah keseluruhan dokumen kontrak yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelengaraan jasa
konstruksi.13
Lebih lanjut Meriam Budiharjo mengatakan bahwa dalam perjanjian pemborongan yang dilakukan dengan pemerintah, pemerintah dapat mengadakan kontrak yang bersifat hukum publik yaitu kontrak yang berorientasi pada kepentingan umum bersifat memaksa. Di dalam kontrak tersebut tidak ada kebebasan berkontrak dari masing-masing pihak karena syarat-syarat kontrak ditentukan pemerintah berdasarkan syarat-syarat umum dari perjanjian pemborongan bangunan, karena hal tersebut menyangkut keuangan Negara dalam jumlah besar dan untuk melindungi keselamatan umum.
Maka jika dilihat dari pengertian keduanya disimpulkan bahwa kontrak kerja konstruksi dapat disamakan dengan perjanjian pemborongan pekerjaan. Kemudian untuk membedakan asal pekerjaannya kontrak kerja konstruksi dibedakan atas kontrak kerja konstruksi yang berasal dari pemerintah dan kontrak kerja konstruksi yang berasal dari swasta.
14
Terjadinya wanprestasi dalam pekerjaan konstruksi sering disebabkan oleh terlambatnya pelaksanaan atau tidak dilakukannya pekerjaan tersebut sehingga
Dalam pelaksanaannya, kontraktor/jasa konstruksi atau pemborong memiliki kewajiban untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaannya sesuai proporsi kerja dan waktu-waktu yang ditetapkan dalam kontrak sampai dengan waktu penyerahan proyek. Selain itu kontraktor wajib memberikan informasi dan melaporkan progres pelaksanaan pekerjaan dan memberikan keterangan kepada pemberi kerja dalam setiap periode yang ditetapkan dalam kontrak.
13Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi
14http://www.hukumonline.com/klinik/detail/It508f92b38cd01/definisi-
pemborongan-pekerjaan-dan-pekerja-borongan (diakses pada tanggal 10 Juli 2018, pukul 21.07 WIB)
menyebabkan pembangunan tidak dapat diselesaikan tepat waktu. Hal ini memberikan kerugian berupa tertundanya pemanfaatan dari proyek tersebut.
Pemberi kerja wajib memberikan peringatan dan sanksi terhadap pihak kontraktor selaku yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut baik itu berupa denda maupun pemutusan kontrak.
Beberapa kasus yang terjadi juga terdapat kecenderungan yang mana pihak pemberi kerja atau pengguna jasa yang melakukan wanprestasi, misalnya dalam hal keterlambatan pembayaran prestasi yang telah dilaksanakan penyedia jasa atau kontraktor secara tepat waktu dan tanpa cacat sekalipun. Mengenai pertanggungjawaban pengguna jasa disini, pihak penyedia jasa terlebih dahulu harus mengajukan tagihan yang disertai data-data perhitungan. Namun, pada kenyataannya yang terjadi selama ini adalah sangat jarang ada pihak penyedia jasa yang berani menggugat hal tersebut dengan mengajukan tagihan kepada pengguna jasa, dalam hal ini Pengguna Anggaran dikarenakan mereka khawatir hal tersebut akan berpengaruh ataupun dijadikan sebagai suatu penilaian untuk mendapatkan dan mengerjakan suatu proyek kedepannya.
Selain itu, terkadang pihak penyedia jasa konstruksi terlambat menerima pembayaran berdasarkan tahapan penyelesaian pekerjaannya yang dalam hal ini pemerintah selaku pengguna jasa beralasan tidak mempunyai dana di Kas Daerah.
Dengan adanya keterlambatan pembayaran tersebut, tentu akan mempengaruhi kinerja dari penyedia jasa konstruksi yang mengakibatkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Hal ini menyebabkan penyedia jasa konstruksi tetap dikenakan denda keterlambatan, meskipun keterlambatan ini terjadi juga dikarenakan ketelambatan pembayaran oleh pemerintah.
Mengenai hal diatas juga akan dibahas dalam penulisan ini dimana terjadi kasus yang melibatkan PT. Putra Kreasi Multi Buana selaku penyedia jasa atau kontraktor dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kepulauan Meranti selaku pengguna jasa dan pemerintah. Para pihak telah sepakat melakukan kontrak pada tanggal 28 September Tahun 2016 untuk pekerjaan Peningkatan Jalan dari Pelabuhan Peranggas ke Kayu Ara. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan adalah 88 hari yang terhitung sejak tanggal penandatanganan kontrak 28 September 2016 sampai dengan 24 Desember 2016. Setelah penandatangan kontrak PT. Putra Kreasi Multi Buana selaku kontraktor diberikan uang muka sebesar 20 persen dari nilai kontrak yaitu sebesar 17,1 milyar rupiah. Pada bulan Oktober 2016 dilakukan pembayaran kepada kontraktor hanya sebesar 31 persen atas porsi pekerjaan kontraktor yang sudah lebih dari 50 persen yang mana itu tidak dibayar sesuai jumlahnya di kontrak dengan alasan pemerintah tidak memiliki dana di kas daerah. Selanjutnya, pada bulan Nopember 2016 untuk porsi pekerjaan yang sudah mencapai sekitar 65 persen, pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum menolak untuk melakukan pembayaran dengan alasan tidak tersedianya dana di kas daerah. Oleh karena adanya janji dari pemerintah bahwa akan ada pembayaran pada bulan Desember 2016. PT. Putra Kreasi Multi Buana selaku kontraktor tetap melakukan pekerjaan sampai dengan tanggal 20 Desember 2016 dengan porsi pekerjaan sebesar 85 persen dan telah ditanda tangani Berita Acara Pekerjaan untuk volume pekerjaan tersebut artinya jumlah pekerjaan tersebut telah diakui. Akan tetapi pemeritah tetap tidak memiliki dana untuk melakukan pembayaran sehingga kontraktor keberatan untuk melanjutkan pekerjaan. Pada tanggal 24 Desember
2016 kontrak berakhir, Pihak kontraktor dalam hal ini tidak ingin dikenakan sanksi oleh karena keterlambatan pekerjaan dan tidak selesainya pekerjaan yang masih 85 persen dengan alasan tidak tersedianya dana untuk melaksanakan pekerjaan dalam 3 bulan pekerjaan sebagaimana di dalam kontrak bahwa pembayaran dilakukan setiap bulan dan berdasarkan progres besarnya porsi pekerjaan yang diselesaikan dan meminta pertanggungjawaban pihak Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Meranti untuk membayar ganti kerugian.
Berdasarkan Latar Belakang diatas, dilakukan penulisan skripsi dengan judul ’’Tinjauan Yuridis Mengenai Pertanggungjawaban Para Pihak dalam Kontrak Kerja Konstruksi Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi (Studi Kasus Wanprestasi Peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas - Kayu Ara Di Kabupaten Meranti Provinsi Riau).’’
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas permasalahan yang akan dibahas, antara lain :
1. Bagaimanakah pengaturan kontrak kerja konstruksi di Indonesia ?
2. Bagaimanakah berakhirnya kontrak kerja konstruksi dan pemutusan sepihak dalam kontrak kerja konstruksi ?
3. Bagaimanakah pertanggungjawaban para pihak dalam kontrak konstruksi menurut undang-undang nomor 2 tahun 2017 tentang jasa konstruksi ?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1. Memahami bentuk pengaturan kontrak kerja konstruksi di Indonesia.
2. Mengetahui keadaan berakhirnya kontrak kerja konstruksi.
3. Mengetahui bentuk pertanggungjawaban para pihak dalam kontrak kerja konstruksi serta penyelesaian sengketa kontrak kerja konstruksi dikaitkan dengan kasus Wanprestasi Peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas-Kayu Ara di Kabupaten Meranti, Provinsi Riau.
Sedangkan yang menjadi manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Secara Teoritis
Penulisan ini kiranya dapat menjadi bahan untuk mengembangkan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa serta dapat menjadi kajian lebih lanjut oleh kalangan akademisi, masyarakat maupun pihak penyedia dan pengguna jasa konstruksi dan yang membutuhkan informasi mengenai kontrak kerja konstruksi baik dari tahap awal kontrak kerja konstruksi, pelaksanaan kontrak kerja konstruksi sampai pada penyelesaian sengketa konstruksi.
2. Secara Praktis
Berdasarkan Penulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran berupa fakta mengenai pelaksanaan kontrak kerja konstruksi di lapangan hal-hal yang menjadi tanggung jawab para pihak dalam suatu kontrak kerja konstruksi yang mana dalam penulisan ini terutama adalah pihak pemerintah, sampai pada upaya penyelesaian sengketa konstruksi serta kiranya penulisan ini dapat memberikan sumbangan maupun masukan bagi perkembangan ilmu hukum, khususnya di bidang konstruksi.
D. Keaslian Penulisan
Skripsi yang berjudul “Tinjauan Yuridis Mengenai Pertanggungjawaban Para Pihak dalam Kontrak Kerja Konstruksi Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi’’ (Studi Kasus Wanprestasi Peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas-Kayu Ara di Kabupaten Meranti Provinsi Riau) adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri. Skripsi ini merupakan implikasi dari ilmu yang didapatkan penulis selama kuliah dengan cara merumuskan topik serta permasalahan berdasarkan data yang diperoleh baik dari bahan-bahan perkuliahan, literatur-literatur, peraturan-peraturan hukum, penelusuran melalui media massa baik media cetak maupun media elektronik yaitu internet serta penelitian terhadap kasus tersebut. Adapun penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan kontrak kerja konstruksi adalah penelitian yang dilakukan oleh saudara Haldy Wiranda (angkatan 2013) pada tahun 2017, skripsi pada Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning Riau, dengan judul skripsi “Pelaksanaan Perjanjian Kerja Pembangunan Jembatan Sumpur Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau”.
Permasalahan dalam skripsi ini adalah :
1. Bagaimana pelaksanaan perjanjian kerja pembangunan jembatan Sumpur di Kabupaten Rokan Hulu, Riau ?
2. Apa faktor penghambat pelaksanaan perjanjian kerja pembangunan jembatan Sumpur di Kabupaten Rokan Hulu, Riau ?
3. Apa upaya dalam mengatasi hambatan pelaksanaan perjanjian kerja pembangunan jembatan Sumpur di Kabupaten Rokan Hulu, Riau ?
Maka berdasarkan rumusan masalah dan kasus yang dibahas jelas berbeda serta dari penelusuran kepustakaan baik skripsi dan tesis, bahwa penelitian skripsi
yang dilakukan penulis belum pernah diteliti maupun ditulis dalam bentuk sama khususnya di Provinsi Riau dan juga tidak ditemukan judul yang sama sesuai dengan analisis kepustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Sehingga dapat dikatakan penulis tidak meniru karya orang lain dan penulisan skripsi ini asli dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Perjanjian
a) Pengertian Perjanjian atau Kontrak
Perjanjian berdasarkan Pasal 1313 KUH Perdata adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Perbuatan yang dimaksudkan dalam definisi tersebut diartikan sebagai perbuatan hukum yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum dengan cara menambahkan perkataan “saling mengikatkan dirinya” dalam Pasal 1313 KUH Perdata, sehingga rumusannya menjadi “persetujuan” adalah suatu perbuatan hukum dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.”15
b) Unsur-Unsur Kontrak
Suatu perjanjian dikatakan sebagai persetujuan karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu sehingga dapat dikatakan bahwa perjanjian dan persetujuan itu adalah sama.
15R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, (Bandung : Bina Cipta, 1987), hlm.30
Menurut Abdul Kadir Muhammad unsur-unsur perjanjian adalah sebagai berikut :16
1) Ada beberapa pihak
2) Ada persetujuan diantara para pihak 3) Adanya tujuan yang hendak dicapai 4) Adanya prestasi yang akan dilaksanakan 5) Adanya bentuk tertentu lisan atau tulisan
6) Adanya syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian c) Syarat Sahnya Kontrak
Syarat sahnya kontrak berdasarkan pasal 1320 KUH Perdata yaitu : 1) Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3) Suatu hal tertentu
4) Suatu sebab yang hal
Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya dan kecakapan untuk membuat suatu perikatan digolongkan sebagai syarat subjektif. Suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal digolongkan sebagai syarat objektif. Syarat subjektif apabila tidak terpenuhi maka konsekuensinya kontrak atau perjanjian dapat dibatalkan, sedangkan syarat objektif apabila tidak terpenuhi maka konsekuensinya kontrak dapat batal demi hukum.17
d) Asas-Asas Kontrak
16Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perikatan, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1992), hlm.78
17Mudjisantosa, Memahami Kontrak Pengadaan Pemerintah Indonesia, (Yogyakarta : CV. Prima Print, 2014), hlm.109
Berdasarkan teori, didalam suatu kontrak terdapat 5 asas yang dikenal menurut ilmu hukum, yaitu antara lain adalah :18
1) Asas Kebebasan Berkontrak, yaitu setiap orang dapat secara bebas membuat perjanjian selama memenuhi syarat sahnya perjanjian dan tidak melanggar hukum serta ketertiban umum.
2) Asas Konsesualisme, berarti kesepakatan (consensus) yaitu pada dasarnya perjanjian telah lahir sejak detik tercapainya kata sepakat.
3) Asas Kepastian Hukum (Pacta Sunt Servanda), yaitu jika terjadi sengketa dalam pelaksanaan perjanjian, misalnya salah satu pihak ingkar janji (wanprestasi) maka hakim dengan keputusannya dapat memaksa agar pihak yang melanggar itu melaksanakan kewajibannya sesuai perjanjian.
4) Asas Itikad Baik, yaitu itikad baik berarti keadaan batin para pihak dalam membuat dan melaksanakan perjanjian harus jujur, terbuka dan saling percaya.
5) Asas Kepribadian (Personality), yaitu berarti isi perjanjian hanya mengikat para pihak secara personal, yang mana tidak mengikat pihak-pihak lain yang tidak memberikan kesepakatannya.
2. Jasa Konstruksi
Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultasi konstruksi dan atau pekerjaan konstruksi. Berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang No.2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, penyelenggaraan jasa konstruksi bertujuan untuk :
18Ibid, hlm.110-111
a) Memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk struktur usaha yang kukuh, andal, berdaya saing tinggi, hasil jasa konstruksi yang berkualitas.
b) Mewujudkan ketertiban penyelenggaran jasa konstruksi yang menjamin kesetaraan kedudukan antara penyedia jasa dan pengguna jasa dalam menjalankan hak dan kewajiban serta meningkatkan kepatuhan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c) Mewujudkan peningkatan partisipasi masyarakat di bidang jasa konstruksi.
d) Menata sistem jasa konstruksi yang mampu mewujudkan keselamatan publik dan menciptakan kenyamanan lingkungan terbangun.
e) Menjamin tata kelola penyelenggaraan jasa konstruksi yang baik
f) Menciptakan integrasi nilai tambah dari seluruh penyelenggaraan jasa konstruksi.
Pasal 12 UUJK menerangkan jenis usaha konstruksi meliputi :
a) Usaha jasa konsultansi konstruksi, berdasarkan sifatnya usaha jasa konsultansi konstruksi dibagi atas 2 yaitu usaha jasa konsultansi konstruksi umum dan usaha jasa konsultansi konstruksi khusus. Usaha jasa konsultansi konstruksi umum diklasifikasikan antara lain arsitektur, rekayasa, rekayasa terpadu, dan arsitektur lanskap serta perencanaan wilayah yang mana menjalankan tugasnya dalam bentuk pengkajian, perencanaan, perancangan, pengawasan dan manajemen penyelenggaraan jasa konstruksi. Sedangkan usaha jasa konsultansi konstruksi spesialis diklasifikasikan antara lain konsultansi ilmiah dan teknis serta pengujian dan analisis teknis yang mana tugasnya berupa melakukan survei, pengujian teknis dan analisis.
b) Usaha pekerjaan konstruksi, berdasarkan sifatnya usaha pekerjaan konstruksi juga dibagi 2 yaitu pekerjaan konstruksi umum dan pekerjaan konstruksi spesialis. Usaha pekerjaan konstruksi umum diklasifikasikan antara lain untuk gedung dan bangunan sipil yang tugasnya meliputi pembangunan, pemeliharaan, pembongkaran, serta pembangunan kembali. Sedangkan usaha pekerjaan konstruksi spesialis diklasifikasikan antara lain instalasi, konstruksi khusus, konstruksi prapabrikasi, penyelesaian bangunan serta peminjaman peralatan.
c) Usaha pekerjaan konstruksi terintegrasi merupakan gabungan antara usaha pekerjaan konstruksi dan jasa konsultansi konstruksi yang diklasifikasikan antara lain untuk bangunan gedung dan bangunan sipil yang tugasnya meliputi rancang bangun, perekayasaan, pengadaan dan pelaksanaan.
Pemilihan penyedia jasa konstruksi yang menggunakan sumber pembiayaan dari keuangan Negara dilakukan dengan cara tender atau seleksi atau lelang, pengadaan secara elektronik, penunjukan langsung, dan pengadaan langsung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemilihan penyedia jasa melalui tender/lelang terbagi atas :
a. Pelelangan umum, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa atau pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dan dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya.
b. Pelelangan terbatas, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan melalui media massa dan pengumuman resmi dengan mencantumkan
penyedia barang/jasa yang diyakini mampu dengan jumlah secara terbatas, yang mana pekerjaan yang dilelangkan tersebut mempunyai risiko tinggi dan mengharuskan penggunaan teknologi tinggi.
Pengadaan secara elektronik merupakan metode pemilihan penyedia jasa konstruksi yang sudah tercantum di dalam katalog, yang mana katalog dimaksud disini adalah informasi yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis, tingkat komponen dalam negeri, produk dalam negeri, produk SNI, produk hijau, Negara asal, harga, penyedia, dan informasi lainnya yang terkait barang atau jasa tertentu.19
a) Penanganan darurat untuk keamanan dan keselamatan masyarakat
Penunjukan langsung, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa tanpa melalui tender, dimana pengguna jasa langsung dapat memilih penyedia barang/jasa yang dipandang layak dan memenuhi syarat dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi.
Penunjukan langsung dapat dilakukan dalam hal :
b) Pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan oleh penyedia jasa yang sangat terbatas atau hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak
c) Pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut keamanan dan keselamatan negara
d) Pekerjaan yang berskala kecil e) Kondisi tertentu.
Pemilihan penyedia jasa dan penetapan penyedia jasa dalam pengikatan hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan dengan mempertimbangkan :
a) Kesesuaian antara bidang usaha dan ruang lingkup pekerjaan
19Penjelasan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi
b) Kesetaraan antara kualifikasi usaha dan beban kerja c) Kinerja penyedia jasa
d) Pengalaman menghasilkan produk konstruksi sejenis.
3. Kontrak Kerja Konstruksi
Kontrak kerja konstruksi adalah keseluruhan dokumen kontrak yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelengaraan jasa konstruksi.20 Mengenai pengaturannya, kontrak kerja konstruksi telah diatur dalam Pasal 1604 sampai dengan Pasal 1617 KUH Perdata dan juga diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 yang sudah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi serta peraturan-peraturan pelaksana lainnya.21
Dengan adanya kontrak kerja konstruksi selalu ada pihak-pihak yang terikat didalamnya, tetapi ada juga pihak-pihak lain yang juga terikat tidak secara langsung. Baik pihak-pihak yang terikat, maupun yang tidak secara langsung terikat disebut dengan peserta kontrak kerja konstruksi. Adapun peserta dalam kontrak kerja konstruksi adalah :22
a) Pemberi Tugas (Bouwheer)
Pemberi tugas dapat berupa perseorangan, badan hukum, swasta, instansi pemerintah ataupun swasta. Pemberi tugaslah yang mempunyai prakarsa memborongkan bangunan sesuai dengan kontrak dan apa yang terkandung dalam bestek dan syarat-syarat. Dalam memborongkan pekerjaan umum yang dilakukan
20Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017, Op.cit
21Sulistijo Sidarto Mulyo dan Budi Santoso, Op.cit, hlm.22
22F.X. Djumialdji (2), Op.cit, hlm.7
instansi pemerintah, direksi lazim ditunjuk dari instansi yang berwenang, biasanya dari instansi pekerjaan umum atas dasar penugasan ataupun perjanjian kerja.
b) Pemborong (Kontraktor)
Pemborong adalah perorangan atau badan hukum, swasta maupun pemerintah yang ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan pemborongan bangunan sesuai dengan bestek.
c) Perencana (Arsitek)
Arsitek adalah perseorangan atau badan hukum yang berdasarkan keahliannya mengerjakan perencanaan, pengawasan, penaksiran harga bangunan, memberi nasehat, persiapan, dan melaksanakan proyek di bidang teknik pembangunan untuk pemberi tugas.
d) Direksi (Pengawas)
Direksi bertugas untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan pemborong atau kontraktor. Pengawas memberi petunjuk-petunjuk memborongkan pekerjaan, memeriksa bahan-bahan waktu pembangunan berlangsung, dan akhirnya membuat penilaian opname dari pekerjaan. Selain itu, pada waktu pelelangan yaitu mengadakan pengumuman pelelangan yang akan dilaksanakan, memberikan penjelasan mengenai Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pemborongan-pemborongan pembelian dan membuat berita acara penjelasan, melaksanakan pembukuan surat penawaran, mengadakan penilaian dan menetapkan calon pemenang serta Berita Acara Hasil Pelelangan.
4. Wanprestasi
Wanprestasi atau tidak dipenuhinya janji dapat terjadi baik karena sengaja maupun tidak disengaja. Pihak yang tidak sengaja melakukan wanprestasi oleh
karena memang tidak mampu untuk memenuhi prestasi tersebut atau juga terpaksa untuk tidak melakukan wanprestasi.23
Wanprestasi dapat berupa :24
a) Sama sekali tidak memenuhi prestasinya b) Prestasi yang dilakukan tidak sempurna c) Terlambat memenuhi prestasi
d) Melakukan apa yang didalam perjanjian dilarang untuk dilakukan
Terjadinya wanprestasi tersebut mengakibatkan salah satu pihak dirugikan.
Oleh karena salah satu pihak dirugikan akibat wanprestasi tersebut, maka pihak wanprestasi harus menanggung akibat berupa pembatalan kontrak baik disertai atau tidak disertai ganti rugi dan pemenuhan kontrak baik disertai atau tidak disertai ganti rugi.
Dengan demikian ada dua kemungkinan pokok yang dapat dituntut oleh pihak yang dirugikan yaitu pembatalan atau pemenuhan kontrak. Namun jika dua kemungkinan pokok tersebut diuraikan lebih lanjut, kemungkinan tersebut dapat dibagi menjadi empat yaitu :25
a) Pembatalan kontrak saja
b) Pembatalan kontrak disertai ganti rugi c) Pemenuhan kontrak saja
d) Pemenuhan kontrak disertai ganti rugi
Tuntutan apa yang harus ditanggung oleh pihak yang wanprestasi tersebut tergantung pada jenis tuntutan yang dipilih oleh pihak yang dirugikan. Bahkan
23Ahmadi Miru & Sakka Pati, Hukum Perikatan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2011), hlm.74
24Ibid, hlm.74
25Ibid, hlm.75
apabila tuntutan itu dilakukan dalam bentuk gugatan di pengadilan, pihak yang wanprestasi tersebut juga dibebani biaya perkara.26
5. Penyelesaian Sengketa
Penyelesaian suatu sengketa konstruksi yang terjadi pada fase pelaksanaan kontraktual dapat ditempuh melalui 2 cara yaitu melalui litigasi (pengadilan) dan non litigasi (diluar pengadilan). Sengketa konstruksi untuk penyelesaiannya secara yuridis diakomodasi melalui dua peraturan utama yaitu Undang-Undang No.2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi (UUJK) dan Undang-Undang No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang mana kedua peraturan ini mengatur mengenai penyelesaian sengketa secara non litigasi.27
Secara umum jenis penyelesaian sengketa meliputi yaitu ; mediasi, konsiliasi dan arbitrase.
Pasal 88 UUJK menerangkan sengketa yang terjadi dalam kontrak kerja konstruksi diselesaikan dengan prinsip dasar musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Apabila musyawarah tidak mencapai kemufakatan, para pihak menempuh tahap penyelesaian sengketa sebagaimana tercantum dalam kontrak.
28
a) Mediasi
Mediasi adalah Pihak ketiga (baik perorangan atau lembaga independen), tidak memihak dan bersifat netral, yang bertugas memediasi kepentingan dan diangkat serta disetujui para pihak yang bersengketa. Sebagai pihak luar mediator tidak memiliki kewenangan memaksa, tetapi bertemu dan mempertemukan para pihak yang bersengketa guna mencari masukan atas pokok perkara. Melalui
26Ibid, hlm.76
27Sulistijo Sidarto Mulyo dan Budi Santoso, Op.cit, hlm.45
28Ibid, hlm.46
masukan tersebut, mediator dapat menentukan kekurangan atau atau kelebihan suatu perkara, yang kemudian disusun dalam proposal tertulis yang akan dibicarakan kepada para pihak secara langsung. Tahap mediasi memiliki peran yang cukup penting dalam menciptakan suasana yang kondusif sehingga para pihak yang bersengketa dapat berkompromi dan menghasilkan penyelesaian yang saling menguntungkan para pihak yang bersengketa.29
b) Konsiliasi
Konsiliasi adalah Penyelesaian sengketa dengan menggunakan bantuan seorang konsiliator yang ditunjuk berdasarkan kesepakatan para pihak yang bersengketa. Konsiliator disini berperan dalam menyusun dan merumuskan upaya penyelesaian untuk ditawarkan kepada para pihak, dimana solusi yang dibuat konsiliator menjadi rumusan dalam pemecahan masalah yang kemudian dituangkan dalam kesepakatan tertulis30
c) Arbitrase
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999, Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.
29Hamid Shahab, Menyingkap dan Meneropong Undang-Undang Arbitrase No.30 Tahun 1999 dan Penyelesaian Alternatif serta Kaitannya dengan Undang-Undang Jasa Konstruksi No.18 Tahun 1999 dan FIDIC, (Yogyakarta : Liberty, 2000), hlm.67
30Pasal 51 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
Pengertian lain disimpulkan oleh Nazarkhan Yasin yaitu, arbitrase adalah sebuah perjanjian dimana para pihak yang bersengketa sepakat untuk untuk menyelesaikan sengketa tersebut oleh pihak ketiga, baik seorang atau beberapa orang wasit, yang dipilih sendiri oleh para pihak tersebut.31
F. Metode Penulisan
Penelitian pada dasarnya merupakan, “suatu upaya pencarian” dan bukannya sekedar mengamati dengan teliti terhadap sesuatu obyek yang mudah terpegang di tangan. Penelitian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu research, yang berasal dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Dengan
demikian secara logisnya berarti “mencari kembali”.32 Penelitian itu dimulai ketika seseorang berusaha untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi secara sistematis dengan metode tertentu yang bersifat ilmiah, artinya metode atau teknik yang digunakan tersebut bertujuan untuk satu atau beberapa gejala dengan jalan menganalisanya dan dengan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan masalah yang ditimbulkan oleh faktor tersebut.33 Metode penelitian hukum adalah bertujuan menguraikan tentang tata cara bagaimana suatu penelitian hukum itu harus dilakukan.34
31Sulistijo Sidarto Mulyo dan Budi Santoso, Op.cit, hlm.50
32Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.27
33Khudzaifah Dimyati, Metode Penelitian Hukum : Pendekatan Normatif dan Sosiologis, (Surakarta : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Press, 2004), hlm.1
34Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta : Sinar Grafika, 1996), hlm.7
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif yang didukung dengan data empiris. Penelitian hukum normatif merupakan penelitian untuk mempelajari asas-asas, norma- norma, nilai-nilai dan konsep-konsep yang dikaji melalui kaidah-kaidah serta peraturan-peraturan yang berlaku.
2. Sifat Penelitian
Penelitian dalam skripsi ini bersifat deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan, menguraikan fakta, menelaah dan membandingkan semua data yang diperoleh untuk kemudian dianalisis sebagai upaya menemukan jawaban dan memecahkan masalah terkait gejala-gejala yang terdapat dalam implikasi suatu kaidah atau norma hukum yang berlaku di masyarakat.
3. Data Penelitian a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari subjek penelitian dan berhubungan langsung dengan objek penelitian. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan Bapak Halgustar selaku manager PT. Putra Kreasi Multi Buana Cabang Pekanbaru dan Elfreth Simamora S.H, M.H., C.P.L selaku Kuasa Hukum PT. Putra Kreasi Multi Buana.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data utama dalam penulisan skripsi ini yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan cara mempelajari literatur-
literatur, peraturan perundang-undangan serta dokumen kepustakaan lainnya yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini.
Data sekunder dalam penulisan skripsi ini terbagi atas : 1) Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang berisi kaidah- kaidah atau norma yang bersifat mengikat. Bahan hukum dalam skripsi ini terdiri dari :
a) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
b) Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi;
c) Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi;
d) Perjanjian Nomor : 600/PU-BM/PJ/1.03.0.PLU.07.013/IX/2016 mengenai Kegiatan Peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas-Kayu Ara;
e) Peraturan lainnya yang terkait.
2) Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan bahan-bahan hukum berupa publikasi tentang hukum yang isinya menjelaskan dan menganalisis bahan hukum primer seperti buku, hasil penelitian terdahulu, literatur, jurnal hukum dan artikel.35
3) Bahan Hukum Tersier
35Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana, 2008), hlm.140
Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan penunjang yang menjelaskan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.36
4. Teknik Pengumpulan Data
Bahan hukum tersier yang digunakan dalam skripsi ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus hukum, dan internet.
Teknik pengumpulan data dalam penulisan skripsi ini adalah :
a. Penelitian Kepustakaan (library research) yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur- literatur, catatan-catatan, peraturan-peraturan, laporan-laporan serta artikel-artikel dari media cetak dan media elektronik yaitu internet: yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.37
b. Penelitian Lapangan (field research) yaitu dengan melakukan penelitian ke lapangan dalam bentuk wawancara guna mencari data-data yang aktual.
Dalam penelitian ini dilakukan wawancara terhadap Bapak Halgustar selaku Manager PT. Putra Kreasi Multi Buana Cabang Pekanbaru dan Bapak Elfreth Simamora S.H, M.H., C.P.L selaku Kuasa Hukum PT Putra Kreasi Multi Buana.
5. Analisis Data
Analisis data dalam skripsi ini dilakukan secara kualitatif yaitu menseleksi dan mengelompokkan data yang diperoleh dari penelitian di lapangan (wawancara) menurut kualitas dan kebenarannya. Kemudian dilakukan penarikan kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif yang
36Bambang Sunggono, Op.cit, hlm.16
37Tampil Anshari Siregar, Metodologi Penelitian Hukum, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2005), hlm.21
merupakan suatu proposisi umum yang kebenarannya telah diketahui dan berakhir pada suatu kesimpulan yang bersifat lebih khusus.38
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan menjadi salah satu metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini, hal ini bertujuan untuk mempermudah menyusun serta memahami isi dari skripsi ini.
Skripsi ini disusun secara sistematis dan dibagi dalam 5 (lima) bab, dan setiap bab dibagi atas sub-sub bab (bagian-bagian) yang garis besarnya akan digambarkan sebagai berikut :
Bab I merupakan pendahuluan yang berisi mengenai latar belakang penulisan skripsi, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II membahas mengenai tinjauan umum tentang kontrak yang terdiri dari pengertian kontrak, jenis-jenis kontrak, unsur-unsur kontrak, syarat sahnya kontrak, asas-asas kontrak, prestasi dan wanprestasi, momentum terjadinya kontrak serta membahas mengenai tinjauan umum tentang kontrak kerja konstruksi yang terdiri dari pengertian kontrak kerja konstruksi atau perjanjian pemborongan kerja, jenis-jenis kontrak kerja konstruksi, para pihak dalam kontrak kerja konstruksi, jaminan dalam kontrak kerja konstruksi dan kontrak kerja konstruksi dengan pemerintah.
Bab III membahas mengenai berakhirnya kontrak kerja konstruksi terdiri dari berakhirnya kontrak kerja konstruksi serta pemutusan sepihak dalam kontrak kerja kontruksi.
38Bambang Sunggono, Op.cit, hlm.11
Bab IV membahas mengenai pertanggungjawaban para pihak dalam kontrak kerja konstruksi menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang jasa konstruksi dan analisis mengenai sengketa kontrak kerja konstruksi berdasarkan kasus wanprestasi peningkatan jalan pelabuhan Peranggas-Kayu Ara di Kabupaten Meranti yang terdiri para pihak yang terlibat serta hak dan kewajibannya, pelaksanaan kontrak kerja konstruksi yang membahas sengketa kontrak kerja konstruksi dan upaya penyelesaian sengketa serta mengenai perlindungan hukum terhadap penyedia jasa konstruksi dan pengguna jasa konstruksi.
Bab V membahas mengenai kesimpulan dan saran yang merupakan bab penutup dari seluruh bab-bab sebelumnya, yang berisikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan uraian skripsi ini diikuti dengan pemberian saran-saran terkait masalah-masalah dalam skripsi ini.