BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Penelitian dilakukan terhadap Panitia, Tim Kerja dan Operator pada Bagian Pengadaan Barang/Jasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Jalan Ir. H. Juanda No. 193 Bandung.
3.2 Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh data yang menunjukkan gambaran tentang pengaruh implementasi kebijakan e-procurement dan pelayanan terhadap efektivitas kerja pada bagian pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitan dan Pengembangan Sumber Daya Air Bandung. Atas pertimbangan tujuan penelitian, maka penelitian ini bersifat verifikatif dan deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang ciri-ciri variabel. Mengingat sifat penelitian ini adalah deskriptif dan verifikatif yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode descriptive survey dan metode explanatory survey (Sugiyono, 2007: 7). Tipe penelitian bersifat kausalitas, dimana dalam penelitian ini akan diuji apakah implementasi kebijakan e- procurement dan pelayanan berpengaruh terhadap efektivitas kerja pada bagian pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.
3.3 Operasionalisasi Variabel
Dalam penelitian yang menjadi variabel penelitian adalah implementasi kebijakan e-procurement dan pelayanan sebagai variabel bebas (X) dan efektivitas kerja pada bagian panitia pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Bandung sebagai variabel terikat (Y).
Berdasarkan kerangka pikiran yang telah dikemukakan, maka definisi variabel penelitian ini adalah:
1. Implementasi kebijakan E-Procurement merupakan hubungan yang memungkinkan tujuan-tujuan ataupun sasaran-sasaran kebijakan publik diwujudkan sebagai “outcome” (hasil akhir) kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah yang terdiri dari 4 (empat) dimensi yaitu Confidentiality, Integrity, Availability, dan Non-Repudiation..
2. Pelayanan terdiri dari Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empaty dan transparancy.
3. Efektivitas kerja merupakan pencapaian sasaran yang telah disepakati atas usaha bersama. Kriteria paling banyak dipakai untuk mengukur efektivitas yaitu Produktivitas,Eefisiensi, dan Kepuasan kerja.
Operasionalisasi variabel dilakukan untuk dapat menentukan data yang diperlukan dengan menganalisis variabel-variabel penelitian terhadap dimensi dimensinya sampai pada indikator-indikator konkritnya seperti digambarkan dalam pada tabel 3.1.
Tabel 3.1
Operasionalisasi variabel penelitian
Variabel Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala Item
Nomor
Implementasi E- Procurement
(X1) Rahardjo, (2005:135- 138)
Suatu aplikasi yang digunakan untuk mengelola pengadaan barang/jasa berbasis internet yang didisain untuk mencapai suatu proses pengadaan barang/jasa yang efektif, efisien dan terintegrasi.
1. Confentiality
2. Integrity
3. Availability
4. Non- Repudiation
1.Tingkat keterjaminan kerahasiaan data
2. Tingkat keterjaminan keamanan data
1.Tingkat objektivitas data 2.Tingkat akurasi data
1.Ketersediaan data 2.Kemudahan mengakes data 1.Pelaku tidak dapat menyangkal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal 1,2
3,4,
5,6
7,8,9
Pelayanan (X2) Tjiptono,
(1997:14)
Segala sesuatu yang
mampu memenuhi
keinginan atau kebutuhan pelanggan
1.Tangibles/Bukti langsung
2. Reliability/
Keandalan
3.Responsiveness/
Daya tanggap
4. Assurance/
Jaminan 5. Empaty
6. Transparancy
1.Penampilan pegawai 2.Fasilitas pelayanan 3.Daftar pelayanan 4. Tata letak ruangan 5.Kebersihan ruangan
1.Keterampilan pegawai 2.Keahlian pegawai 3.Kemudahan pelayanan
1 Pegawai menjawab ketersediaan 2.Menanggapi permintaan pegawai 3. Pegawai melayani dengan cepat
1. Pengetahuan pegawai 2. Pelayanan ramah
1. Memahami keluhan 2. Kesamaan pelayanan 3. Komunikasi yang baik
1. Kejelasan pelayanan 2. Standar pelayanan
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
10,11,12, 13,14
15,16,17
18,19,20
21,22
23,24,25, 26
27,28
Efektivitas Kerja (Y) Gibson, (1986:27)
Pencapaian sasaran yang telah disepakati atau
usaha bersama
1. Produktivitas
2. Efisiensi
3. Kepuasan
1.Kemampuan kerja 2.Kualitas kerja
1.Ketepatan waktu
2.Perbaikan keuntungan dan biaya
1. Sikap pegawai
2.Keterlambatan dan keluhan pelanggan
Ordinal
Ordinal
Ordinal 29,30
31,32
33,34
Indikator-indikator dalam penelitian ini menggunakan skala ordinal yang diukur berdasarkan teknik skala likert. Menurut Soegiyono (2006:80) bahwa:
“Skala likert merupakan metode pengukuran sikap yang menyatakan setuju dan ketidak setujuannya terhadap obyek atau kejadian tertentu. Skala ini pada umumnya menggunakan lima angka penelitian, yaitu (1) sangat setuju, (2) setuju, (3) tidak pasti atau netral, (4) tidak setuju dan (5) sangat tidak setuju”.
Teknik skala likert berguna untuk pengukuran atas jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan cara memberikan nilai skor pada setiap item jawaban. Pemberian skor untuk setiap jawaban. Pemberian skor untuk setiap jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada responden penelitian ini akan mengacu pada pernyataan Sugiyono (2006:86-87) bahwa:
Jawaban dari setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang dapat berupa kata-kata. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:
1. Sangat setuju/selalu/sangat positif, diberi skor: 5 2. Setuju/sering/positf, diberi skor: 4
3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral, diberi skor: 3
4. Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif, diberi skor: 2 5. Sangat tidak setuju/tidak pernah/sangat negatif, diberi skor: 1
3.4 Sumber dan Cara Penentuan Data
Dalam penelitian ini alat ukur yang akan digunakan berupa angket yang terdiri dari sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbatas berikut pilihan jawaban yang disediakan, sehingga responden tinggal memilih salah satu jawahan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, Tingkat pengukuran variabel pada
penelitian ini yaitu ordinal dengan kategori jawaban terdiri dari lima kategori jawaban dengan skala perbedaan tidak jauh.
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah secara keseluruhan (sensus) yang berjumlah 43 orang terdiri dari 20 orang panitia pengadaan barang/jasa, 20 orang Tim kerja, dan 3 orang operator.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam pembahasan penelitian ini, digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Studi Pustaka, dengan cara mempelajari buku-buku, artikel-artikel serta mengumpulkan, meneliti dan menyeleksi teori-teori yang berhubungan dan menunjang terhadap variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain implementasi kebijakan e-procurement, pelayanan dan efektivitas kerja yang terjadi di dalamnya.
2. Studi lapangan, dimaksudkan untuk mendapatkan data primer dengan cara : a) Wawancara, yaitu tanya jawab yang dilakukan secara langsung terhadap
beberapa pihak yang terkait dengan proses penelitian ini dilingkup pegawai khususnya unsur pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Bandung.
b) Observasi, yaitu melihat langsung kondisi lapangan yang akan dijadikan lokasi penelitian.
c) Kuisioner, dimana peneliti membuat daftar pertanyaan secara tertulis yang diajukan kepada responden untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh implementasi kebijakan E-Procurement dan pelayanan terhadap efektivitas kerja pada bagian pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Bandung.
3.6 Uji Validitas
Uji validitas ditujukan untuk menguji sejauhmana alat ukur dalam hal ini kuesioner mengukur apa yang ingin diukur. Pengujian validitas dilakukan dengan mengkorelasikan masing-masing item skor dengan total skor. Teknik analisis yang digunakan adalah koefisien korelasi product-moment pearson, sebagai berikut :
Keterangan:
ryx = koefisien korelasi.
∑x = jumlah skor item.
∑y = jumlah total/seluruh item.
n = jumlah responden.
Butir yang mempunyai korelasi positif dengan skor total serta korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa butir tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula.
Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah r = 0,3. jadi kalau korelasi antara butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka butir instrumen
( )( )
{ ∑ 2 − ∑ ( ) ∑ −
2} ∑ { ∑ ∑2 − ( ) ∑
2}
− ( ) ∑
2}
=
y y
n x x
y x
xy
ryx n
tersebut tidak valid. (Sugiyono, 2007: 143). Adapun jumlah sampel dalam melakukan uji validitas sebanyak 20 responden.
Tabel 3.2 Uji validitas variabel implementasi kebijakan E-Procurement Item no r korelasi r kritis keterangan
1 0.540 0,3 Valid
2 0.636 0,3 Valid
3 0.574 0,3 Valid
4 0.462 0,3 Valid
5 0.303 0,3 Valid
6 0.595 0,3 Valid
7 0.699 0,3 Valid
8 0.412 0,3 valid
9 0.742 0,3 Valid
Berdasarkan hasil uji validitas, diketahui bahwa dalam variabel Implementasi Kebijakan E-Procurement semua item valid karena nilai r korelasinya lebih besar dari 0,3 (0,540>0,30).
Tabel 3.3 Uji validitas variabel pelayanan Item no R korelasi r kritis Keterangan
10 0.706 0,3 Valid
11 0.409 0,3 Valid
12 0.554 0,3 Valid
13 0.612 0,3 Valid
14 0.745 0,3 Valid
15 0.439 0,3 Valid
16 0.410 0,3 Valid
17 0.380 0,3 Valid
18 0.482 0,3 Valid
19 0.488 0,3 Valid
20 0.376 0,3 Valid
21 0.525 0,3 Valid
22 0.625 0,3 Valid
23 0.312 0,3 Valid
24 0.601 0,3 Valid
25 0.564 0,3 Valid
26 0.541 0,3 Valid
27 0.335 0,3 Valid
28 0.480 0,3 Valid
Berdasarkan hasil uji validitas, diketahui bahwa dalam variabel pelayanan semua item valid karena nilai r korelasinya lebih besar dari 0,3 (0,706>0,30).
Tabel 3.4 Uji validitas efektivitas kerja Item no r korelasi r kritis Keterangan
29 0.837 0,3 Valid
30 0.752 0,3 Valid
31 0.557 0,3 Valid
32 0.736 0,3 Valid
33 0.632 0,3 Valid
34 0.590 0,3 Valid
Berdasarkan hasil uji validitas, diketahui bahwa dalam variabel efektivitas semua item valid karena nilai r korelasinya lebih besar dari 0,3 (0,837>0,30).
3.7 Uji Reliabilitas
Singarimbun, (1989: 140) menyatakan bahwa : “reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat ukur atau instrumen penelitian dapat dipercaya atau diandalkan dalam kegiatan pengumpulan data. Jika suatu alat ukur atau instrumen penelitian dapat digunakan dua kali untuk mengukur gejala yang sama dengan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat ukur atau instrumen tersebut reliable.”
Analisis reliabilitas merupakan salah satu ciri utama instrumen pengukuran yang baik. Reliabilitas sering disebut juga sebagai keterpercayaan, keandalan, keajegan, konsisten dan sebagainya, namun ide pokok dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.
Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris ditujukan oleh suatu angka yang disebut koefesien reliabiltas, walaupun secara teoritis besarnya koefisien
Dalam hal reliabilitas, koefesien yang besarnya kurang dari nol (0,00) tidak ada artinya karena interpretasi reliabilitas selalu mengacu pada koefisien yang positif.
Pada penelitian ini digunakan metode pengukuran reliabilitas Alpha Cronbach, dengan kriteria besarnya koefisien reliabilitas minimal harus dipenuhi oleh suatu alat ukur adalah 0,70 yang berarti bahwa secara keseluruhan alat ukur telah memiliki konsistensi internal yang dapat diandalkan.
Metode uji reliabilitas yang digunakan adalah dengan nilai atau cronbach’s alpha dengan rumus :
)
(
− −
=
∑
2 2 1 1
St S i k
k r i
Dimana r = Nilai Reliabilitas k = jumlah item
S2i
∑
= jumlah item St2 = varian totalSedangkan rumus untuk varian total dari varian item adalah :
2 )2 2 (
2
n Xt n
Xt St
∑
∑
−
=
2 2
n JKs n
Si = Jki−
Keterangan Jki = Jumlah kuadran seluruh skor item JKs = Jumlah kuadran subyek
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa nilai reliabilitasnya:
Tabel 3.5 Nilai Reliabilitas
Variabel Koefisien Keterangan
Implementasi kebijakan E-
Procurement 0,705 Reliabel
Pelayanan 0,834 Reliabel
Efektivitas 0,853 Reliabel
Nilai reliabilitas memberikan indikasi bahwa keandalan kuesioner yang digunakan sebagai alat pengukur termasuk pada kategori berkorelasi kuat untuk tiap variabel pada tabel di atas karena nilainya lebih besar dari 0,7 (mis:
0,705>0,7).
3.8 Teknik Analisis Data
3.8.1 Method of Successive Interval (MSI)
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, hipotesis penelitian yang diajukan akan diuji melalui analisis jalur. Asumsi yang harus dipenuhi pada saat melakukan analisis jalur data pengamatan minimal memiliki skala pengukuran interval.
Oleh karena data pengamatan yang diperoleh memiliki skala pengukuran ordinal, agar dapat menggunakan analisis jalur maka dilakukan proses transformasi data dari skala pengukuran ordinal ke skala pengukuran interval melalui suatu metode yang dikenal sebagai method of successive interval, yang pada hakekatnya adalah untuk menempatkan setiap objek ke dalam interval.
Langkah-langkah untuk melakukan transformasi data adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil jawaban responden, untuk setiap pernyataan, hitung frekuensi setiap pilihan jawaban.
2. Berdasarkan frekuensi yang diperoleh untuk setiap pernyataan, hitung proporsi kumulatif untuk setiap pilihan jawaban.
3. Berdasarkan proporsi tersebut, untuk setiap pernyataan, hitung proporsi kumulatif untuk setiap pilihan jawaban.
4. Untuk setiap pernyataan, tentukan nilai batas untuk Z untuk setiap pilihan jawaban.
5. Hitung nilai numerik penskalaan (skala value) untuk setiap pilihan jawaban melalui persamaan berikut:
Scale Value = Density at Lower limit - Density at Uper Limit Area Under Upper Limit - Area Under Lower Limit
Dimana:
Density at Lower limit = Kepadatan batas bawah
Density at Upper Limit = Kepadatan batas atas
Area Under Upper Limit = Daerah dibawah batas atas
Area Under Lower Limit = Daerah dibawah batas bawah
6. Hitung skor (nilai hasil transformasi) untuk setiap pilihan jawaban dengan persamaan berikut : Score = Scale Value + Scale Value Minimum + 1
3.8.2 Analisis Deskriptif Variabel Implementasi Kebijakan E- procurement, Pelayanan, dan Efektivitas Kerja
Untuk mengungkapkan gambaran variabel implementasi kebijakan E- Procurement, pelayanan, dan efektivitas kerja digunakan pendekatan statistik secara deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk mendapatkan skor ukuran proporsi atau prosentase. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat daftar pertanyaan yang bersifat terbatas dengan lima alternatif jawaban. Untuk mengetahui kategori skor yang diperoleh maka perlu ditentukan intervalnya.
Penentuan skor terbesar (maksimal), skor terkecil (minimal), median, kuartil I dan kuartil III dilakukan melalui cara sebagai berikut:
Skor maksimal = Skor tertinggi (5) x jumlah item x jumlah responden Skor minimal = Skor tertinggi (1) x jumlah item x jumlah responden Median = Skor minimal + Skor maksimal : 2
Kuartil I = Skor minimal + Median : 2
Kuartil III = Skor minimal + Skor maksimal : 2
Jika dikonversi dalam bentuk gambar maka nilai interval dari skor minimal sampai skor maksimal akan tampak gambar sebagai berikut:
Skor min Kuartil I Median Kuartil III Skor Mak
Setelah mengetahui nilai skor maksimal, minimal, median, kuartil I, dan kuartil III, untuk selanjutnya menentukan definisi batasan setiap nilai yang didapat.
Menurut Al-Rasyid, (1993: 128), batasan skor itu jika:
>Kuartil III, disebut sikap sangat positif
>Median, disebut sikap positif
<Median s.d Kuartil I, disebut sikap negatif
<Kuartil I, disebut sikap sangat negatif
3.8.3 Analisis Verifikatif
Untuk mengukur dan menguji antar variabel penelitian digunakan pendekatan statistik secara verifikatif yang digunakan untuk mengukur dan menguji implementasi kebijakan e-procuremnet dan pelayanan berpengaruh terhadap efektivitas kerja pada bagian pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Bandung.
3.8.4 Analisis Jalur
Berdasarkan identifikasi masalah, tujuan penulisan dan hipotesis, maka metode analisis yang digunakan adalah metode analisis jalur (path analysis).
Analisis ini bertujuan untuk menentukan besarnya pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainya, baik itu pengaruh yang sifatnya secara langsung atau tidak langsung serta mengukur besarnya pengaruh dari suatu variabel penyebab ke variabel akibat yang disebut dengan koofesien jalur. Untuk memperjelas tentang penggunaan analisa jalur (path analysis) maka berikut ini ditampilkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 3.6 Model Analisis Jalur
Peninjauan Model Analisis Jalur
Tujuan Menganalisis pola hubungan kausal antara variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung, tidak langsung maupun serempak beberapa variabel penyebab terhadap sebuah variabel akibat.
Terminologi untuk variabel yang diteliti
Variabel penyebab (eksogen) dan variabel akibat (endogen).
Isu dan masalah penelitian
(1) Apakah variabel eksogen X1, X2,…..Xk berpengaruh terhadap variabel Y (endogen).
(2) Berapa pengaruh langsung, tidak langsung , total dan serempak, variabel eksogen X1, X2,…..Xk terhadap variabel Y (endogen).
Jenis dan input data
Metrik, minimal interval atau mendekati interval, data yang dinyatakan dalam satuan baku Z score.
Hubungan yang dianalisis
Bisa tunggal, tetapi kebanyakan multiple : Y1 = F (X1, X2,…..Xk)
………
Yk = F (X1, X2,…..Xk).
Asumsi Sama dengan model regresi, dengan tambahan tiga asumsi :
(1) Tidak ada arah kausalitas yang berbalik (non reciprocal causation) atau hubungan antar variable bersifat rekursif.
(2) Model yang diuji dibangun atas dasar kerangka teoritis tertentu yang mampu menjelaskan hubungan kausalitas antara variabel yang diteliti.
(3) Variabel yang diteliti dapat diobservasi secara langsung.
Sumber : Adaptasi dari Hair, (1998: 165) dan Sitepu, (1994: 11)
Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup dengan menggunakan skala ordinal. Nilai yang digunakan variabel independen (X) yang terdiri dari yaitu X1 dan X2 serta variabel terikat (Y) yang diasumsikan linier, seperti yang tergambar dalam diagram jalur berikut ini :
Gambar 3.1 Struktur Path Analisis
ε Pyx1 Pyε rx1x2
Pyx2
Keterangan:
Y = Efektivitas kerja X2 = Pelayanan
X1 = Implementasi kebijakan E-Procuremnet ε = Variabel lain yang tidak diteliti
rx1x2 = Parameter strtuktural, menunjukkan hubungan korelasi antara variabel X1 dan X2
Pyxl = Parameter struktural, menunjukkan besarnya pengaruh X1 terhadap Y.
Pyx2 = Parameter struktural, menunjukkan besarnya pengaruh X2 terhadap Y.
Pye = Parameter struktural, menunjukkan besarnya pengaruh variabel lain terhadap Y
Berdasarkan diagram jalur diatas dapat dinyatakan dalam persamaan tunggal sebagai berikut :
Y = ρYX1+ ρYX2 + ρYee
Langkah–langkah perhitungan untuk analisis jalur adalah sebagai berikut :
X
1Y
X
21. Gambarkan terlebih dahulu diagram jalurnya sebagai langkah menterjemahkan hipotesis penelitian ke dalam diagram jalur sehingga tampak jelas variabel apa saja yang merupakan variabel penyebab (eksogenus) dan variable akibat (endogenus).
2. Hitung matrik korelasi antar variabel
R =
1 ...
1 ...
1
2 1 2 1
y x
y x x x
r r r
Dengan rumus kolerasi sebagai berikut :
yxj
r = j k
Y Y
n X
X n
Y X Y
X n
n
h h n
h h n
h jh n
h jh
n
h
h jh n
h
h jh
...., 2 , 1
;
2
1 2
1 2
1 1
2
1
1 =
−
−
−
∑
∑
∑
∑
∑
∑
=
=
=
=
=
=
3. Hitung invers matriks koefisien kolerasi untuk variabel eksogenusnya
R -1 =
22 21
12 11
C C
C C
4. Hitung koefisien jalur dengan rumus :
= −
xy y x
yx r
r x
j R
1 1
ρ 1 ; j = 1,2
5. Hitung R2y(x1x2....xy)
yang merupakan koefisien determinasi total
Xk
X
X1, 2,..., terhadap Y yang rumusnya :
( )
[ ]
=
2 1 2 2 1
1 2
yx yx yx x yx
x
y r
r
R ρ ρ
6. Hitung ρyε berdasarkan rumus :
( 1 2)
1 2yxx
yε = −R
ρ
3.9 Pengujian Hipotesis
Setelah dihitung koefisien jalurnya maka langkah berikutnya adalah menguji keberartian koefisien jalur tersebut. Terdapat dua tahapan pengujian dalam analisis jalur yaitu pengujian keseluruhan dan pengujian individual.
Langkah – langkah pengujian keseluruhan adalah sebagai berikut : 1. Tentukan hipotesisnya :
H0 : ρyx1 = ρyx2 = 0
H1 : Sekurang-kurangnya ada sebuah ρyxj ≠0 2. Hitung statistik ujinya dengan rumus :
F =
) 1
( ) 1 (
2 2 1
2 2 1
x yx
x yx
R k
R k n
−
−
−
Statistik uji diatas mengikuti distribusi F dengan derajat bebas
v1 = k dan v2 = n – k – 1. Kriteria penolakannya adalah “Tolak Ho yang menyatakan bahwa ρyx1=ρyx2=0jika Fhitung > Ftabel”.
Kaidah keputusan:
• Apabila F hitung > F tabel, maka Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh antara variabel implementasi kebijakan E-Procurement dan pelayanan terhadap efektivitas kerja pada bagian panitia pengadaan barang/jasa secara simultan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.
• Apabila F hitung ≤ F tabel, maka Ho diterima, artinya tidak terdapat
pengaruh antara variabel implementasi kebijakan E-Procurement dan pelayanan terhadap efektivitas kerja pada bagian panitia pengadaan barang/jasa secara simultan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.
• Secara parsial, pengujian hipotesis dilakukan sebagai berikut:
1. Tentukan Hipotesis uji yaitu :
H0 : ρyxi = 0 versus H1 : ρyxi ≠ 0 dimana i = 1, 2,3 2. Hitung statistik uji individual dengan rumus sebagai berikut :
t i =
) 1 (
) 1
( 2( 1 2)
−
−
− k n
CR R
P
ii x x y
yxi
3. Menghitung nilai t tabel, didasarkan pada tabel distribusi t dengan df = n-k-1, dan α = 0,05.
4. Kriteria pengujian:
• thitung > t tabel, maka: Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh antara variabel implementasi kebijakan e-procurement dan pelayanan terhadap efektivitas kerja pada bagian panitia pengadaan barang/jasa secara simultan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.
• thitung < t tabel, maka: Ho diterima, artinya tidak terdapat pengaruh antara variabel implementasi kebijakan e-procuremnet dan pelayanan terhadap efektivitas kerja secara simultan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.