1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG KEGIATAN
Perkembangan teknologi kini dapat terbukti dengan banyaknya media massa yang ada di lingkungan masyarakat. Kini media massa dapat menjadi media utama untuk mengulas informasi. Media massa memiliki beragam jenis diantaranya ada jenis media elektronik dan media cetak. Macam media cetak adalah surat kabar, majalah, koran dan lain sebagainya, sedangkan media elektronik adalah media televisi, website, radio atau media film. Film adalah pesan yang disampaikan melalui media audio visual ,kedua media ini cukup efektif untuk digunakan dimana penonton akan dapat lebih memahami isi pesan melalui dua media yang kemudian dijadikan menjadi satu yang disebut dengan film, sehingga Film akan dapat memiliki pesan yang mampu mempropaganda penonton jika film tersebut dikemas dengan tepat dan sesuai dengan target audience.
Seiring dengan perkmebangan zaman, film memiliki jenis dan fungsinya sendiri, tidak hanya sebagai media hiburan, namun film juga dapat difungsikan untuk media pengetahuan. Dari film sebagai media pengetahuan ini film dapat menceritakan sejarah dan menjadi sumber ilmu pengetahuan baru bagi khalayak. Berbagai jenis film diantaranya film fiksi, eksperimental, dan film dokumenter. Jenis cerita dalam film cukup beragam dikaneranakan dari banyaknya fenomena yang terjadi di lingkungan dan ragam budaya yang ada di Indonesia atau bahkan di dunia. Salah satu isu yang menarik untuk mempropaganda atau mempengaruhi pandangan dari khalayaknya adalah dengan mengangkat tokoh inspiratif dan juga tokoh nasionalisme di indonesia.
Seperti pada film urip urup dimana pada film ini menceritakan tentang pak Nurbani sebagai narasumber utama dimana ia menjadi salah satu tokoh muhammadiyah yang cukup berpengaruh di lingkungannya, dan pak Nurbani
2 ialah sosok yang dapat duduk bersama orang non muslim lainnya, diaman saat ia berdakwah pak nurbani memposisikan dirinya sama dengan lawan bicaranya hal ini dinamakan sebagai dakwah inklusif. Film urip urup ini diproduksi dengan adanya perlombaan yang diadakan oleh Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PSM PTM).
Muhammadiyah melalui Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) bersama Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Tingkat Nasional setiap 2 tahun sekali. Kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dipandang perlu diselenggarakan, mengingat mahasiswa adalah potensi strategis umat dan bangsa sedangkan PTM adalah ruang lingkup bagi studi mahasiswa Muhammadiyah. Oleh karena itu, mengadakan event lomba seni dan pencarian bakat seni yang diikuti oleh mahasiswa dengan melibatkan PTM adalah langkah strategis dan langkah mengefektifkan jaringan Muhammadiyah untuk menuju tujuan Muhammadiyah di bidang seni budaya. Tujuan dari acara ini juga untuk memberikan ruang bagi setiap Mahasiswa Muhammadiyah untuk menuangkan, mempresentasikan, mengaktualisasikan gagasan, ide, dan/atau pemikiran-pemikiran inovatifnya melalui seni. Memberikan ruang unjuk prestasi para mahasiswa Muhammadiyah di bidang seni budaya. Dan juga semua kegiatan tersebut bermuara pada usaha meningkatkan peran perjuangan Muhammadiyah di bidang seni budaya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Banyak sekali cabang yang dilombakan seperti, Penulisan Skenario, Dangdut Solo, Theater, Musikalisasi Puisi, Qiroatil, Fotografi, Film dan lain sebagainya.
Prodi Ilmu Komunikasi UMM dalam rangka menyambut PSM-PTM ke III di Jakarta, mendelegasikan mahasiswa yang memiliki potensi dalam bidangnya masing-masing. Setiap cabor memiliki penanggung jawab untuk memilih mahasiswa yang sesuai keahliannya. Banyak sekali delegasi dari Prodi
3 Ilmu Komunikasi yang dipilih untuk mengikuti PSM-PTM di Jakarta, terutama mahasiswa semester 3-5. Tujuan mereka tidak memilih semester 6-8 dikarenakan yaitu untuk meregenerasi potensi dari mahasiswa di UMM sendiri.
Kegiatan pada perlombaan cabang Produksi Film doku drama ini mengacu pada point bahwa indoensia memiliki banyak tokoh islam yang memiliki kontribusi terhadap masyarakat dan memiliki kiprah dan pemikiran besar bagi lingkungan sekitarnya. Festival PSM PTM ini cukup menarik dikarenakan adanya urgensi yang perlu disampaikan melalui perlombaan ini, khususnya pada perlombaan Film doku drama. Peserta pada cabang perlombaan Doku drama ini melakukan proses produksi di lingkungannya masing masing atau menyesuaikan dengan konsep yang telah dibangun di film tersebut, dan pada hari pelaksanaan perlombaan, seluruh tim perlombaan film dokudrama ini hanya mengikuri rangkaian acara yang sudah ada hingga malam penganugerahan tiba, berbeda dengan cabang lomba yang lainnya dimana mereka melakukan perlombaan pentas seni pada saat hari pelaksanaan.
Banyaknya tokoh Muhammadiyah yang memiliki kiprah dan kontribusi terhadap lingkungan membuat tim RYCHL film untuk membuat ide cerita tentang bagaimana seorang muhammadiyah berdakwah melalui metode dakwah inklusif. Dakwah sendiri adalah mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syariah islamiyah yang terlebih dahulu telah diyakini oleh pendakwah sendiri. pendakwah pada dasarnya memiliki metode tersendiri untuk menyampaikan pesan dari kajian aqidah yang mereka sampaikan. Metode yang umum digunakan oleh pendakwah adalah metode dakwah secara eksklusif, metode dakwah eksklusif adalah sikap yang memandang bahwa keyakinan, pandangan pikiran dan diri islam sendirilah yang paling benar, sementara keyakinan, pandangan, pikiran dan prinsip yang dianut agama lain salah, sesat dan harus dijauhi. Metode dakwah eksklusif ini sering menjadi perbincangan karena banyaknya orang yang tidak relevan dengan situasi pada zaman sekarang. Kemudian muncul metode dakwah yang berlawanan yakni metode dakwah inklusif, inklusif adalah memposisikan
4 dirinya ke dalam posisi yang sama dengan orang lain atau kelompok lain sehingga membuat orang tersebut berusaha untuk memahami perspektif orang lain atau kelompok lain dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Dari permasalahan inilah kemudian tim produksi memproduksi sebuah tayangan film doku-drama yang berjudul Urip urup yang mana tokoh utama pada film urip urup adalah seorang pendakwah inklusif yang bisa memposisikan dirinya ke posisi orang yang didakwah.
1.2 ANALISIS BRIEF
Point utama pada brief yang di paparkan adalah minimnya dokumentasi dan informasi terkait tokoh islam yang menganut paham Muhammadiyah.
Namun pada realitanya ormas Muhammadiyah adalah salah satu ormas besar di Indonesia yang mana tokoh-tokoh ormas tersebut minim adanya dokumentasi dan informasi terkait tokoh-tokoh yang ada. Brief tersebut memiliki tujuan yang cukup sempit, dimana dari cakupan tersebut dapat mempermudah tim produksi untuk mencari subjek yang ingin di dokumentasikan, dimana di Universitas Muhammadiyah Malang sendiri memiliki dosen dan karyawan yang memiliki tokoh tokoh nasionalisme yang berperan penting bagi ormas Muhammadiyah itu sendiri.
Pada film urip urup menceritakan tentang Pak nurbani yakni sebagai subjek utama dan tokoh aktif Muhammadiyah yang memiliki peran di lingkungan sekitarnya. Subjek utama pada film ini memiliki kontribusi cukup besar yakni membangun masjid yang digunakan untuk warga sekitar, dimana pada masjid tersebut juga digunakan untuk tempat mengaji bagi anak kecil di lingkungannya. Salah satu poin utama dari subjek adalah cara mendakwahnya yang inklusif, yakni dengan memposisikan dirinya kedalam posisi yang sama dengan lawan bicaranya sehingga dengan cara ini pendakwah akan dapat lebih memahami permasalahan dari lawan bicaranya, dari cara mendakwah ini terbukti dari salah satu teman pak nurbani yang mana teman tersebut adalah
5 mantan preman yang kemudian berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik sampai mantan preman tersebut dapat membangun masjid dengan teman- teman yang lainnya. Pada poin ini cukup menjelaskan problem dari beberapa tujuan yang ada pada brief lomba.
Dari poin yang dijelaskan subjek utama cukup menjelaskan point-point yang dipaparkan dari brief yang ada pada perlombaan PSM-PTM, dimana dari beberapa kontribusi dan nilai nilai positif yang ada pada subjek utama cukup menjawab brief yang ada pada point-point perlombaan PSM-PTM.
1.3 IDENTIFIKASI PENYELESAIAN BRIEF 1.3.1 Lomba Film Pendek Doku-Drama
1.3.1.1 Latar Belakang
1. Indonesia memiliki banyak tokoh islam yang mempunyai kontribusi terhadap sejarah atau silsilah berdiri dan berkembangnya Indonesia
2. Muhammadiyah adalah salah satu dari banyak Ormas Keagamaan terbesar di Indonesia
3. Banyaknya figur Muhammadiyah yang memiliki kontribusi besar bagi perkembangan negara dan islam.
4. Perlunya dokumentasi terkait informasi dan tokoh muslim yang nantinya dapat dijadikan rekam jejak untuk generasi selanjutnya.
5. Film ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengenalkan tokoh islam kepada dunia, dimana citra islam di dunia internasional cukup krisis. Sehingga serial dokumenter tokoh muhammadiyah yang memiliki pemikiran inovatif, dan konstruktif diharapkan dapat menjadi solusi.
6 1.3.1.2 Tujuan Lomba
1. Memperluas dokumentasi para tokoh Islam yang memiliki sumbangsih besar bagi Indonesia.
2. Mengingat kembali berbagai sumbangsih yang disumbangkan oleh para figur islam indoensia, baik dari perkembangan islam atau negara itu sendiri.
3. Sebagai salah satu media untuk menciptakan citra baik terhadap tokoh islam.
4. Mengangkat informasi nasionalisme dari tokoh guna menumbuhkan sikap semangat kebangsaan yang penuh inspiratif.
5. Membangkitkan semangat untuk menjunjung nilai nilai kemanusiaan dan membangkitkan semangat kepahlawanan.
7 1.4 TUJUAN
Tujuan pelaporan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana teknik sinematografi yang digunakan dalam produksi film doku-drama berjudul urip urup, dan juga guna untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada jurunsan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.
1.5 MANFAAT
1.5. 1 Manfaat Akademis
Dapat dijadikan sebagai barometer tingkat keberhasilan mahasiswa dalam produksi film dokumenter/doku-drama. Dan dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan tentang teknik seinematografi yang terdapat dalam film urip-urup.
1.5. 2 Manfaat Praktis
Pengerjaan Tugas Akhir ini sangat diharapkan dapat memberikan masukan kepada pembaca dalam melihat suatu tayangan film dokudrama. Pengerjaan Tugas Akhir ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman bagi masyarakat umum ataupun mahasiswa terhadap pemahaman teknik sinematografi dalam film urip- urup.
8 1.6 TINJAUAN PUSTAKA
1.6.1 Pengertian POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) Pada proses produksi Film secara umum dibagi menjadi tiga tahapan, yakni tahapan Pra produksi, produksi, dan pasca produksi.
Dimana pada tahap ini menjadi tahapan dasar pada saat produksi film dilakukan. Berikut fungsi dari tahapan produksi film dari pengertian POAC menurut (Afifuddin:2015) :
1. Planning
fungsi perencanaan ini dalam SOP masuk dalam pra- produksi. Dimana dalam tahap ini strategi yang ditentukan yaitu perencanaan tema dan pembuatan ide cerita, perencanaan biaya yang digunakan dalam proses produksi, perencanaan pemanfaatan segala sarana dan pra sarana yang ada, dan perencanaan terkait penetapan waktu (deadline) dari proses produksi film urip urup.
2. Organizing
Untuk merealisasikan perencanaan yang telah disusun, dalam proses produksi, tim produksi melakukan pengorganisasian (organizing) yaitu dengan melakukan pembagian kerja dan pendelegasian tanggung jawab untuk setiap kru yang bertugas dalam proses produksi film Urip urup, yang diberikan pemerian kerja (job description) tersendiri.
3. Pelaksanaan (actuating)
merupakan tahap perwuju dan nyata dari semua perencanaan, yaitu dengan bentuk pelaksanaan rencana dan rancangan oleh setiap pihak yang terlibat. Dalam strategi
9 pelaksanaan manajemen produksi yang dilakukan oleh Film Urip urup meliputi tahapan riset, pengambilan gambar, penulisan naskah, dan pasca produksi proses editing, pembuatan call sheet dan penayangan perdana crew pada film urip urup.
4. Controlling (pengawasan)
didalam manajemen produksi Film urip urup Pengawasan perencanaan sendiri dilakukan pada setiap meeting tim produksi, pada tahap pengorganisasian juga dilakukan sebuah bentuk pengawasan yaitu untuk memastikan setiap crew melakukan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan apa yang diberikan.
1.6.2 Komunikasi Verbal dan Komunikasi Non Verbal
Komunikasi yang dalam bahasa inggris disebut juga dengan communication adalah proses penyampaian informasi dari satu orang ke orang lain dengan bantuan beberapa media. Pihak pengirim informasi disebut dengan pengirim, sedangkan pihak penerima informasi disebut penerima pesan. Jadi pada dasarnya, istilah komunikasi dapat diartikan sebagai proses dimana pengirim mengirimkan informasi kepada penerima.
Terdapat berbagai klasifikasi jenis komunikasi, pada dasarnya komunikasi itu dibedakan menjadi 2 jenis utama yakni komunikasi verbal, dan komunikasi nonverbal menurut (Indah:2016).
1. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal (verbal communication) adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral). Komunikasi verbal menempati porsi besar. Karena kenyataannya, ide-ide, pemikiran atau keputusan, lebih mudah disampaikan secara verbal
10 ketimbang nonverbal. Dengan harapan, komunikan (baik pendengar maun pembaca) bisa lebih mudah memahami pesan- pesan yang disampaikan.
2. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunakasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal lebih bersifat jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan.
Nonverbal juga bisa diartikan sebagai tindakan-tindakan manusia yang secara sengaja dikirimkan dan diinterpretasikan seperti tujuannya dan memiliki potensi akan adanya umpan balik (feed back) dari penerimanya.Dalam arti lain, setiap bentuk komunikasi tanpa menggunakan lambang-lambang verbal seperti kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun tulisan.
Komunikasi non verbal dapat berupa lambang-lambang seperti gesture, warna, mimik wajah dll.
11 1.6.3 Kajian Seputar Tugas Akhir
1.6.3.1 Tinjauan Tentang Film Dokumenter
Seiring berkembangnya zaman, definisi film menjadi lebih kompleks, akan tetapi kedua jenis film ini dapat dibedakan berdasarkan empat kategori. Pertama, kejadian pada film dokumenter merupakan sajian fakta, dan jenis fiksi dapat diinterpretsaikan dengan imajinatif. Pada film fiksi setting adegan dirancang, sedangkan pada dokumenter tidak di setting, dokumenter disajikan secara spontan dan otentik sesuai kondisi yang terjadi.
Bila pada film fiksi, latar belakang (setting) adegan dirancang, pada dokumenter latar belakang harus spontan otentik dengan situasi dan kondisi aslinya. Kedua, yang dituturkan dalam film dokumenter berdasarkan peristiwa nyata (realita), sedangkan pada film fiksi isi cerita berdasarkan karangan imajinatif. Ketiga, sutradara pada film fiksi melakukan pengamatan pada fakta yang terjadi, setelah melakukan pengamatan tahap produksi dilakukan sesuai setting yang sudah di tentukan. Keempat, pada film fiksi penuturannya mengacu pada plot dan alur cerita, sedangkan dokumenter merujuk pada isi dan pemapran (Ratmanto, 2018: 409).
Film Dokumenter juga dapat menjadi salah satu film untuk merekam suatu kejadian secara faktual yang akhirnya hasil dari film tersebut dapat menjadi salah satu rekam jejak atau alternatif historigrafi di suatu daerah tersebut. Film dokumenter menyajikan realitas melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, bahwa film dukumenter tak lepas dari tujuan dan fungsinya sebagai film yang menyebarkan informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu (Imanto, 2007: 25).
12 Menurut Aywaila (dalam Bambang, dkk:2019) Film biografi dalam perfilman indonesia dapat dikategorikan sebagai film dokumenter drama atau dokudrama, jenis dokumenter ini memiliki gaya bertutur mirip dengan film dokumenter, namun jenis film dokudrama dapat mengkontruksikan peristiwa nyata yang dapat dimanifestasikan oleh pembuat film.
Menurut Yudhi (dalam Ermawati :2016),”Dokudrama yakni film dokumenter yang membutuhkan pengadegan”. Pola pada film dokudrama mengadaptasi dari penuturan fiksi yang digabungkan denga pola pada film dokumenter. Dengan menambahkan aspek dramatik pada alur film. Jenis film dokudrama dapat lebih bebas dalam mereka adegan berdasarkan faktanya.
Menurut (Marsina:2018) Karakteristik atau kunci dalam pembuatan film dokumenter adalah ketika sebuah objek dihadirkan dengan realitas film, maka dengan sendirinya objek akan berada dalam realitas, dengan demikian objek tidak termodifikasi oleh kondisi penerimaan dan oleh aspek sinematografi, editing, dan aspek-aspek sinematik lainnya.
13 1.6.3.2 Tinjauan Tentang Sinematografi
Teknik sinematografi menjadi faktor utama dalam kesuksesan suatu pembuatan film, penyampaian pesan dalam film sangat dipenagruhi oleh bagaimana serang sutradara megarahkan teknik sinematografi dengan baik. Menurut (Pratista : 314) sinematografi adalah salah satu unsur sinematik yang mencakup perlakuan sineas terhadap kamera dan stok filmnya dalam sebuah produksi film.
Menurut (Zamrona Muhammad:2017). Pembakuan tata bahasa sinema ini berlaku secara universal sehingga dapat dipahami oleh semua budaya di dunia. Sebuah cara untuk menggambarkan orang, benda, dan tindakan agar dapat dipahami secara langsung oleh semua orang yang melihat gambar tersebut. Pada sisi teknis, tata bahasa sinema mengacu pada aturan dasar yang mengatur pembentukan dan penyajian elemen visual yang dibuat untuk kebutuhan film
Dalam menciptakan sebuah karya film tidak mudah dan tidak sesingakat yang di tonton, membutuhkan proses yang sangat panjang di perlukan peroses pemikiran dan proses teknik.
Proses pemikiran berupa ide, gagasan, dan cerita yang akan digarap dan tentunya harus memiliki sebuah konsep. . Menurut Mabruri dalam (Hermawan:2015), Dalam membuat sebuah film, terdapat tiga tahap yang harus dilalui. Ketiga tahap tersebut adalah praproduksi, produksi, dan pasca produksi.
1. Pra produksi adalah tahapan awal dalam pembuatan film fiksi atau dokumenter. Pada tahapan ini mencakup segala persiapan dan mengumpulkan segala kebutuhan saat proses produksi dan pasca produksi. Dalam tahapan ini mencakup pembuatan ide cerita, penetuan penjadwalan, admnisitrasi, ataupun teknik.
14 2. Produksi adalah tahapan kedua dalam proses pembuatan film, pada tahapan ini dari pematangan konsep yang sebelumnya telah direncanakan di eksekusi. Pada tahapan inilah suatu proses pengambilan gambar di lakukan, pada tahap produksi tidak lagi membuang waktu untuk membicarakan konsep pengambilan gambar, atau peralatan apa saja yang harus dibawa. Dengan kata lain, proses produksi hanya tinggal melakukan apa yang telah di rencakan secara matang saat pra produksi.
3. Pascaproduksi merupakan tahap terakhir dalam pembuatan sebuah film. Gambar akan diolah lebih lanjut oleh pembuat film dalam tahap ini. Proses pascaproduksi ini dikenal juga dengan editing. proses editing lah yang akan menyatukan/merangkai gambar menjadi satu-kesatuan cerita yang utuh.
Ada beberapa pendapat mengenai proses produksi film, dalam jurnal online studio antelope terdapat 5 tahapan produksi film, yakni proses Development, Pra produksi, produksi, pasca produksi, dan development. Proses development adalah tahap pengembangan ide, menentukan jenis cerita, genre dan format, penulisan skenario. Ada istilah triangle system yaitu produser, sutradara dan penulis naskah.
Setelah mendapatkan ide sutradara, penulis, dan produser akan bekerjasama untuk membuat premis, sinopsis, treatment kemudian skenario. Sedangkan tahap Distribusi Ini adalah tahap produksi film paling akhir, dimana film akan disalurkan untuk penonton. Ada beberapa penyaluran film antara lain: bioskop, pemutaran alternatif, dan festival film. Pemilihan distribusi ini perlu dipertimbangkan dengan baik, bahkan kalau bisa sebelum filmnya diproduksi. Agar filmnya bisa tepat sasaran (penonton)(studio antelope, tt:01).
15 Adapun beberapa konsep estetik yang digunakan untuk mendukung terciptanya sebuah film yaitu :
1. Tata Artistik
Tata artistik merupakan salah satu jobdesc yang cukup penting dimana ia akan memberikan kesan yang tercipta dari sebuah karya, penataan artistik juga harus mampu menerjemahkan skenario dan konsep cerita kedalam bentuk artistik yang nyata.
2. Pencahayaan
Terdapat tiga poin poin penting dalam pencahayaan sebuah karya sinematografi, yaitu cahaya utama (key light), sumber cahaya pengisi (fill light), dan (backlight) digunakan untuk memisahkan objek dengan background. Teknik pencahayaan ini juga akan mempengaruhi mood penonton dimana cahaya akan menentukan warna yang akan di tampilkan pada tayangan tersebut.
3. Warna
Para kreator film juga akan memperhatikan warna pada suatu tayangan yang akan di produksi, dimana warna disini akan sangat berpengaruh pada mood penonton, serta memberikan kesan positif atau negatif pada suatu frame tertentu. Warna dalam suatu film ditentukan oleh tim sinematografi yang juga telah disepakati oleh sutradara film, setelah warna ditentukan lalu dilanjutkan pada proses color grading dimana pada proses ini di lakukan oleh editor film.
Menurut Joseph V. Mascelli (1998:11) terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan agar pengambilan gambar dalam aspek sinematografi mempunyai nilai sinematik yang baik, yakni dengan memperhatikan maksud dari shot yang akan digunakan dan bagaimana
16 shot tersebut memberikan suatu motivasi tertentu serta kesenimbangunan cerita untuk menyampaikan sebuah film, yaitu :
1. Composition (Komposisi)
Komposisi adalah suatu cara untuk meletakkan sebuah objek visual didalam layar, hingga gambar tampak menarik, menonjol dan bisa mendukung alur cerita (Semedhi 2011:43). Menurut Semedhi terdapat tiga dasat teori komposisi, yaitu :
a. Intersection Of Thirds (Rule Of Third)
Cara menentukan titik pusat perhatian di dalam aturan intersection of thirds adalah sebagai berikut :
Bagilah layar menjadi tiga baik secara vertikal maupun horizontal, dan buatlah garis imaginer yang membagi layar menjadi tiga bagian. Di keempat titik itulah objek gambar yang ingin ditonjolkan diletakkan.
Gambar 1.1: Gambar dengan rule of third (sumber: Foto.co.id)
Objek yang paling kita tonjolkan tidak menyinggung atau berada di dua titik, jika menyinggung menonjolkan tiga titik menjadi lebih baik
17
Juru kamera tidak hanya terpaku oleh aturan rule of third ini karena masih banyak aturan atau teori lainnya yang mengarahkan kita menemukan cara untuk menonjolkan objek ke layar
b. Golden Mean Area (area utama titik perhatian) Komposisi golden mean area adalah komposisi yang point of interestnya berada pada titik persimpangan dua garis horizontal yang memiliki perbandingan 38/62, ini adalah cara membuat komposisi yang baik , khususnya untuk pengambilan gambar close up atau gambar besar. Cara membuat golden mean area adalah dengan membagi layar menjadi dua bagian secara mendatar dan bagi jugalah menjadi tiga bagian khususnya pada bagian atasnya, sehingga tergambarlah bagian di atas setengah layar dan dibawah sepertiga layar.
c. Diagonal Depth
Komposisi Diagonal depth adalah salah satu panduan untuk pengambilan gambar luas (long shot). Dalam komposisi ini mensyaratkan setiap mengambil gambar long shot hendaknya mempunyai unsur :
- Gambar yang membentuk garis diagonal
- Benda yang dijadikan latar depan (Foreground) - Objek
- Latar belakang (Background)
Komposisi gambar pada film urip urup tidak terpacu pada satu komposisi gambar saja. Dimana sinematografer
18 tetap memperhatikan rule of third yang ada pada frame kamera. Melalui director shot yang ada dimana sutradara menginginkan banyaknya pergerakan yang ada di kamera.
Sinematografer disini banyak mengeksplor gambar dengan memperbanyak gambar dinamis dan meminimalisir gambar statis. Gambar statis disini digunakan pada saat wawancara dengan narasumber, sedangkan gambar dinamis disini digunakan untuk pengambilan beberapa shot pokok, pengambilan gambar dinamis disini digunakan untuk memberikan penekanan pada tiap gambar. Penekanan gambar tersebut disajikan agar penonton ikut merasakan pergerakan gambar yang gerakkan oleh kameramen.
2. Sudut pandang kamera (Camera Angle)
Sudut kamera adalah sudut pandang ketinggian kamera terhadap obyek yang berada dalam frame. Secara umum dibagi menjadi tiga bagian yaitu high angle, straight angle (kamera berada dalam frame secara lurus), serta low angle (kamera melihat obyek dalam frame yang berada di atasnya).
a. Low angle
Kamera ditempatkan dengan sudut lebih rendah daripada subjek, memberikan kesan seolah sebuah obyek tampak lebih besar, dominan, percaya diri, serta kuat.
Sudut pandang kamera merupakan suatu sudut pandang yang mewakili mata penonton.
19 b. High angle
Memberi kesan seolah obyek seolah tampak kecil, lemah serta terintimidasi, teknik pengambilan gambarnya dengan sudut gambar tepat diatas objek.
c. Eye Level
Kamera sejajar dengan garis mata dimana akan memberikan kesan kewajaran, atau sederajat.
Menurut marcelli dalam (Nugraha:2018) Adapun beberapa penempatan kamera sebagai pembawa suasana dalam adegan yang terbagi menjadi 3 jenis angle kamera, yaitu :
5. Angle kamera objektif
Angle kamera objektif menjadikan penonton agar dapat menyaksikan adegan dalam film melalui mata pengamat tersembunyi, angle ini tidak mewakili sudut pandang dari aktor atau yg berada di frame. Objek juga tidak menyadari adanya kamera.
6. Angle Kamera Subjektif
Angle ini berlaku sebagai sudut pandang penonton. Dimana objek atau tokoh menyadari adanya kamera. Tujuang dari angle ini adalah untuk melibatkan penonton agar ikut merasakan adegan yang ada di film tersebut.
20 7. Point Of View
Angle ini hampir sama dengan angle kamera subjektif dimana penonton ikut merasakan kejadian dalam adegan. Angle ini biasa digunakan untuk membuat penonton merasakah lebih adegan yang dibuat pada film tersebut.
Dari ketiga sudut pandang penempatan kamera sebagai pembawa suasana dalam adegan yang digunakan pada film urip urup adalah menggunakan Angle Kamera Objektif dan satu shot di ending menggunakan sudut pandang kamera subjektif.
Sudut pandang objektif disini digunakan sesuai dengan alur film dokumenter pada umumnya, dimana juru kamera disni merekam semua aktifitas yang terjadi sesuai dengan realita yang ada.
Adapun satu sudut pandang subjektif yang digunakan pada film urip urup yakni pada shot pak nurbani berdakwah melaui salah satu serial TV yang ada pada channel ATV, dan ending pada film urip urup yakni pada adegan pak nurbani mencium bau bunga lalu pandangan pak nurbani melihat ke arah pandangan penonton. Shot ini digunakan sebagai penakanan kepada penonton bahwa hal yang dilakukan oleh narasumber utama ini perlu dilakukan oleh para pendakwah ataupun masyarakat yang menonton film urip urup.
21 3. Shot size
Ukuran pengambilan gambar selalu dikaitkan dengan ukuran tubuh manusia, namun penerapan ukuran ini juga berlaku pada benda lain, tinggal menyesuaikan ukurannya saja, ukuran gambar tersebut yaitu :
1. Extreme Long shot (ELS).
Merupakan ukuran gambar yang sangat jauh, panjang, dan luas berdimensi lebar dari objeknya. Shot size ini biasa digunakan untuk komposisi gambar indah pada sebuah panorama.
2. Long shot (LS)
Merupakan tekmik yang memperlihatkan komposisi obyek secara total, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
3. Medium Long shot (MLS)
Komposisi gambar ini cenderung lebih menekankan kepada obyek dengan seperempat dari gambar Long shot.
4. Medium Shot (MS)
Gambar diambil dari pinggul pokok materi sampai pada kepala pokok materi. Komposisi ini biasa digunakan untuk gambar wawancara atau pada dialog pemain film.
5. Close Up
Meliput wajah dari keseluruhan pokok materi. Dimana pada shot size ini untuk memperjelas ukuran gambar. Shot size ini biasa digunakan untuk menekankan emosi atau reaksi terhadap suatu adegan
22 6. Big Close up (BCU)
Ukuran gambar lebih tajam dari CU, dimana shot size ini mengungkapkan kedalaman pandangan mata, kebencian, raut muka, emosi wajah. BCU juga dapat digunakan untuk objek berupa benda bayang, asap rokok, makanan dll.
7. Extreme Close up (ECU)
Pengambilan gambar lebih mendetail dan berani dengan hanya mengambil satu objek saja.
Biasa digunakan untuk menekankan ekspresi dari suatu adegan tertentu.
Film urip urup memiliki beberapa fariasi shot yang dengan berbagai lensa yang digunakan.
Shot tersebut memiliki kedudukannya sendiri.
Seperti halnya extreme longshot digunakan sebagai pengantar dari adegan satu ke adegan selanjutnya, dan juga beberapa shot extreme longshot digunakan untuk munculnya text sebagai highlight informasi yang ada pada film urip urup.
4. Pergerakan Kamera
Dalam sinematografi ada dua macam pergerakan kamera, yaitu sebagai berikut:
1. Pergerakan kamera tanpa menggeser kamera dari tempatnya atau pergerakan kamera dengan posisi kamera statis, pergerakan ini dibagi menjadi : a. Zoom in/ zoom out
yaitu pergerakan kamera dengan mengubah jarak dari focal length.
23 b. Pan
Pan atau panoramic adalah pergerakan kamera mendatar secara horizontal. Gerakan ini dibagi menjadi dua gerakan, yaitu pan right adalah pergerkan menyapu kekanan, pan Left adalah pergerakan menyapu ke kiri.
c. Tilt
Pergerakan kamera keatas atau kebawah namun kamera masih tetap bertumpu pada sumbunya.
d. Padestal
Yaitu pergerakan kamera ke atas/bawah secara vertikal. Dalam pergerakan ini seluruh bagian kamera bergerak ke atas/bawah namun ujung lensa tetap tidak berubah.
2. Pergerakan kamera dinamis, yaitu dengan cara menggeser kamera dari tempatnya, baik mendekat atau menjauh dari objek.
a. Track
Yaitu pergerakan kamera mengikuti objek pengambilan gambar. Track dibagi menjadi dua yakni track right dan track left.
b. Dolly
Yaitu pergerakan kamera mendekati atau menjauh dari objek. Pergerakan ini dibagi menjadi dua yaitu dolly in ialah pergerakan kamera mendekat ke arah objek tanpa mengubah sudut atau ukuran lensa, dolly back adalah pergerakan kamera menjauh dari objek.
24 c. Jib
Yaitu pergerakan kamera yang hampir ke segala arah, namun pergerakan ini perlu menggunakan alat bantu yang disebut Jib atau crane.
Adapun beberapa konsep yang digunakan untuk memvisualkan dramatisasi yang terjadi pada film urip urup ini. Alur film yang digunakan adalah alur Maju. Dimana pada alur ini pengenalan tokoh dan konflik yang terjadi berada di awal film dan penyelesaian masalah berada di akhir film. Kameramen disini tidak banyak menggunakan aspek sinematografer secara khusus diakrenakan jenis dokumenter yang kami produksi ini banyak menangkap moment yang terjadi di saat hari pelaksanaan berlangsung. Teknik sinematografi yang diterapkan pada film urip urup terbagi menjadi 4 teknik, yaitu sebagai berikut
1. Komposisi
Komposisi adalah suatu cara untuk meletakkan objek gambar didalam layar, sehingga gambar tersebut tampak menarik, menonjol, dan bisa mendukung alur cerita yang telah di tentukan. Dalam sinematografi komposisi gambar menetapkan pada pencahayaan, pembingkaian gambar, tata warna, dan ruang agar dapat menghasilkan kesan pada penonton.
Menurut Joseph V. Mascelli komposisi dalam teknik sinematografi terbagi menjadi beberapa jenis dimana hal ini juga dilakukan dalam pembuatan film urip urup.
a. Rule Of Third
Tujuan pada penggunaan komposisi rule of third ini adalah agar frame gambar menjadi beraturan dan objek ditempatkan pada tiik-titik tertentu, objek tidak terlalu berada pada sisi kiri maupun kanan frame. Penggunaan komposisi ini juga perlu memperhatikan Headroom, looking room, dan leading lines dimana ketiga hal ini penting untuk diperhatikan
25 agar komposisi gambar memiliki jarak pandang dan ruang yang cukup bagi objek. Jenis komposisi rules of third ini sangat umum digunakan bagi para pegiat film, pada pembuatan film dokumenter jenis komposisi ini juga perlu diperhatikan karena pada dasarnya dokumenter ialah mendokumentasikan peristiwa atau kejadian yang ada sesuai dengan realita, maka tipe komposisi juga harus segera di setting dengan secepat meungkin untuk menghasilkan gambar yang seimbang. Jenis komposisi ini juga digunakan pada film urip urup seperti gambar di bawah ini:
Gambar 1.2 Rules of third film urip urup
Gambar 1.3 Rules of third film urip urup
Gambar 1.4 Rules of third film urip urup
26 Tujuan penggunaan komposisi Rule Of Third pada film urip urup ini adalah untuk memberikan kesan keseimbangan pada objek suatu objek yang ada pada frame. Keseimbangan yang di ada pada objek yakni memperhatikan headroom, looking room, dan leading lines.
2. Sudut pandang kamera
Sudut pandang kamera atau angle shot ini sangat penting untuk diperhatikan bagi juru kamera. Pemilihan angle shot yang baik akan meningkatkan kulitas dramatik yang dibangun melalui sebuah tayangan film.
Angle shot dibagi menjadi tiga bagian.
a. Low Angle
Gambar 1.5 Sudur pandang kamera Low Angle
Gambar 1.6 Sudur pandang kamera Low Angle
Gambar 1.7 Sudut pandang kamera Low Angle
27 Sudut pandang low angle ini bertujuan untuk memberikan kesan berwibawa atau lebih tinggi, dimana sudut pandang jenis low angle pada film urip urup ini digunakan pada scene pak nurbani, dan scene pura luhur. Pada scene pak nurbani komposisi low angle digunakan untuk memberikan kesan kewibahan dan objek akan terkesan lebih terlihat kuat dari pak nurbani itu sendiri.
b. Eye level
Gambar 1.8 Sudut pandang kamera Eye Level
Gambar 1.9 Sudut pandang kamera Eye Level
Gambar 1.10 Sudut pandang kamera Eye Level
28 Sudut pandang kamera eye level ini bertujuan untuk memberikan fokus pada pada objek sehingga dapat menampilkan keadaan yang sebenarnya. Pada umumnya sudut pandang eye level ini digunakan karena tidak adanya suatu penekanan tertentu dari objek yang ada pada frame. Posisi kamera dari eye level ini diletakkan sejajar dengan objek.
Adapun beberapa penempatan kamera sebagai pembawa suasana dalam adegan yang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:
c. Angle kamera objektif
Gambar 1.11 Angle kamera objektif
Gambar 1.12 Angle kamera objektif
Gambar 1.13 Angle kamera subjektif
29 Sudut pandang penonton yang digunakan pada film urip urup adalah sudut pandang kamera objektif, dan sudut pandang kamera subjektif. Sudut pandang objektif adalah dimana dengan menggunankan sudut pandang ini penonton akan diajak untuk menyaksikan peristiwa melalui mata pengamat yang tersembunyi, dan aktor atau aktris yang ada pada adegan tersebut tidak melihat adanya kamera. Sedangkan tujuan dari sudut pandang subjektif adalah untuk memberikan kesan seseorang berpikiran relatif, berdasarkan perasaan atau selera seorang.
Pada film urip urup sudut pandang ini digunakan untuk penekanan bahwa pak nurbani mencintai aktivitas yang ia lakukan kemudian adegan pak Nurbani melihat ke arah kamera.
3. Shot size
Shot size adalah salah satu teknik teknik pengambilan gambar dengan tujuan menentukan area frame yang diperuntukkan pada obyek utama dalam gambar baik jenis frame luas atau sempit yang bertujuan untuk membenarkan potongan dari frame tersebut. Secara umum ukuran shot dibagi menjadi tiga ukuran dari close up, medium dan long shot, bagian tersebut memiliki fokus frame yang berbeda diantaranya:
a. Ekstreme long shot
Gambar 1.14 Shot size Extreme Long shot
30 Gambar 1.15 Shot size Extreme Long shot
Gambar diatas menunukkan teknik pengambilan gambar shot size extreme long shot. Extreme long shot merupakan kekuatan yang ingin menetapkan suatu (peristiwa, pemandangan) yang sangat jauh.
Panjang dan luas dimensi lebar. Extreme long shot biasa digunakan dengan pengambilan gambar aerial shot atau shot yang berada di udara.
Tujuan pengambilan gambar drone dengan shot size Extreme long shot pada film urip urup ini adalah untuk memberikan informasi lokasi dan set yang ada pada film.
b. Longshot
Gambar 1.16 Shot size Long shot
Gambar 1.17 Shot size Long Shot
31 Pada gambar diatas menunjukkan teknik pengambilan gambar shot size long shot. Long shot merupakan jenis pengambilan gambar yang menunjukan keseluruhan objek. Pada gambar 1.16 terlihat bangunan secara keseluruhan dan gambar 1.17 menunjukkan mulai dari ujung kepala hingga kaki. Tujuan shot ini adalah untuk mengetahui informasi lokasi dan set yang ada pada film urip urup.
c. Medium long shot
Gambar 1.18 Shot size Medium Shot
Gambar 1.19 Shot size Medium Shot
Medium long shot merupakan tipe pengambilan gambar mulai dari kepala sampai bagian kaki, ukuran dari shot ini lebih mendekati objek daripada ukuran Long shot. Tujuan dari shot ini adalah untuk mengetahui detail aktifitas dari objek.
32 d. Medium shot
Gambar 1.20 Shot size Medium Shot
Secara umum medium shot adalah jenis pengambilan gambar yang menunjukan siapa yang sedang melakuakan kegiatan. Ukuran shot dari medium shot adalah mulai dari ujung kepala hingga bagian lutut.
e. Closeup
Gambar 1.21 Shot size Close up
Gambar 1.22 Shot size Close up
33 Gambar 1.23 Shot size Close up
Pengambilan gambar dengan Tipe close up memperlihatkan bagian wajah yang memenuhi frame. Shot size close up ini biasa digunakan untuk shot insert atau biasa digunakan untuk memberi penekanan pada suatu adegan atau objek tertentu. Pada film urip urup shot closeup di gunakan pada objek petani, dimana tujuan dari pengambilan objek tersebut adalah untuk memberikan penekanan kepada penonton pada objek petani. Dimana pada petani lebih diperbanyak untuk shot closeup itu sendiri.
f. Big Close up
Gambar 1.24 Shot size Big Close up
Gambar 1.25 Shot size Big Close up
34 Pengambilan gambar denagn Tipe Big Close up memperlihatkan bagian yang lebih tajam atau detail dari shot size close up. Seperti pada tujuan shot size close up, shot size big closeup ini memiliki tujuan untuk memberikan kesan dari dialog pak nurbani yakni dengan menanam pohon bisa menjadi ibadah karena adanya oksigen yang dikeluarkan dari pohon tersebut, sehingga perlunya shot detail Big Close Up sebagai penekanan dari dialog tesebut.
4. Pergerakan kamera
Pergerakan kamera dalam sebuah gambar memberikan pengaruh yang besar pada mood penonton. Pergerakan kamera ini memiliki makna tersendiri, umumnya pergerakan ini memiliki fungsi agar adegan yang dibangun dalam suatu gambar dapat terlihat lebih efektif. Beberapa pergerakan kamera tidak mengacu pada pergerakan dengan kamera statis, namun juga ada pergerakan kamera dengan cara menggeser kamera dari tempatnya atau disebut dengan pergerakan kamera secara dinamis. Adapun beberapa pergerakan kamera yang digunakan dalam film urip urup, yaitu:
a. Pergerakan kamera statis 1. Panning left/right
Gambar 1.26 Pergerakan kamera Pan Left
35 Gambar 1.27 Pergerakan kamera Pan Right Pergerakan panning pada film urip urup digunakan untuk memberikan kesan dinamis pada establish shot. Dimana shot akan lebih bervariasi dan tidak menjadi monoton. Dan tidak ada suatu penekanan tertentu dari shot panning ini.
2. Tilt up/down
Gambar 1.28 Pergerakan kamera Tilt Down
Gambar 1.29 Pergerakan kamera Tilt Up
Gambar 1.30 Pergerakan kamera Tilt Up
36 Tilt adalah pergerakan kamera secara vertical
sehingga membuat titik kamera ke atas atau ke bawah. Tilt up berarti menunjukkan kamera secara bertahap naik, tilt down berarti mengarahkan kamera secara bertahap ke bawah. Fungsi dari gerakan ini adalah digunakan untuk menggiring mata penonton pada aktivitas tertentu pada subyek atau objek yang ada dalam frame kamera. Pada gambar 1.28 shot tilt down ditunjukkan untuk menunjukkan ladang perkebunan mulai dari pegunungan hingga ladang itu sendiri. Sedangkan gambar 1.29 digunakan untuk menunjukkan sosok pak nur yang berwibawah. Dan gambar 1.30 untuk menunjukkan lokasi pura.
b. Pergerakan kamera dinamis 1. Track in
Gambar 1.31 Pergerakan kamera Track In
2. Track Out
Gambar 1.32 Pergerakan kamera Track Out
37 Track in disini digunakan pada saat pak nurbani berjalan keluar dari wilayah pura. Dan track out digunakan untuk ending film. Track out disni berfungsi sebagai penekanan terhadap suatu adegan saat objek melihat ke arah kamera. Sedangkan track in digunakan untuk mengambil gambar pak nurbani saat keluar dari pura.
38 1.6.4 Referensi Karya Sejenis
1. “Waria, Kisah Inklusi dari Banjarmasin” karya Program Peduli
Film ini menceritakan tentang sebuah kisah suka duka seorang waria dari sudut pandang Mutia dan Fitri (subjek utama), ia adalah dua dari sekian banyak waria yang diterima dengan baik oleh keluarga dan masyarakat umum. Film ini diproduksi oleh tim program peduli yang bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah.
Dalam film ini beberapa shot yang disajikan cukup sederhana, dimana semua shot di ambil sesuai aktifitas yang dilakukan oleh narasumber utama. Slow motion digunakan untuk menambah dramatisasi cerita yang ada, pada hal ini tim kamera juga perlu koordinasi kembali dengan tim editing untuk menentukan Frame Per second pada saat akan melakukan produksi. Beberapa angle yang digunakan pada film ini juga meberikan kesan pada subjek utama, yakni menggunakan shot Low angle untuk memberikan kesan berwibawah atau memberikan kesan empati yang harus kita berikan kepada mereka (waria) dari sudut pandang penonton.
Shot Type Of Shot
Low Angle – Still - Medim Shot
Low Angle – Follow - CloseUp
39 Low Angle – Still –
Medium Close up
Tabel 1.1 jenis shot low angle
Sumber : youtube Film “Waria, Kisah Inklusi dari Banjarmasin”
Film ini juga menyajikan beberapa tipe gambar dengan Depth Of Field atau kedalaman yang tajam, cara ini digunakan untuk memberikan kesan dramatisasi yang lebih dalam dan membuat gambar menjadi lebih sinematik. Selain itu beberapa jenis shot yang digunakan juga memiliki makna tersirat bagi penonton, dengan adanya shot sepatu wanita, shot wawancara subjek utama dengan adanya poster HIV &
Aids, dan shot waria berjalan sendiri di tengah perkebunan.
Shot Deskripsi Shot
(Eye Level - Still- Long Shot)
(Shot waria berjalan ditengah perkebunan), shot ini memberikan kesan bahwa waria kurang diterima oleh masyarakat luas, sehingga waria tersebut berjalan di tengah perkebunan yang kurang ada interaksi dari masyarakat sekitar
(High Angle – Pan right -Close up)
(Shot sepatu wanita), pada shot ini
memberikan kesan yang lebih dalam dimana adanya sepatu wanita dirumah seorang waria.
40 (Eye level – Still – Medium Shot)
(shot wawancara narasumber), poster yang berada di background narasumber ini bertuliskan HIV dan Aids, disini penulis berasumsi bahwa narasumber masih memperhatikan resiko yang terjadi jika ia berhubungan dengan sesama jenis.
Tabel 1.2 jenis dan deskripsi shot
Sumber : youtube Film “Waria, Kisah Inklusi dari Banjarmasin”
2. Edhi sunarso the soldier karya mahatma putra
Pada Film urip urup Film “Edhi sunarso the soldier” karya Mahatman putra ini kami gunakan sebagai referensi pada plot atau alur cerita, dimana film ini menceritakan tentang sosok Edhi sunarso yakni seorang pemahat patung atau pematung dengan karya-karya besar monumental di Indonesia. Film ini menggunakan alur maju. Alur maju disini yakni alur yang peristiwanya ditampilkan secara kronologis, maju dan berurutan dari tahap awal hingga tahap akhir cerita. Alur ini umum digunakan oleh para pembuat film pada umumnya, namun yang menarik dari film ini adalah hasil pahatan atau hasil monumen yang dikerjakan oleh narasumber utama ditampilkan di akhir film, sehingga penonton digiring untuk menunggu sebuah hasil yang dilakukan oleh narasumber utama.
Beberapa data yang disajikan dalam film ini menggunakan dokumen-dokumen pribadi yang dimiliki oleh narasumber utama, yakni data dokumen berupa foto. Penyajian data ini umum dilakukan oleh pembuat film dokumenter dimana hal ini juga digunakan untuk memperkuat suatu cerita yang dibangun oleh pembuat film.
Film ini juga mengangkat isu tentang Nasionalisme, dimana Edhi Sunarso menjadikan seamangat untuk berjuang demi negara dengan cara memahat patung dengan ukuran yang tidak pernah ia buat,
41 terdapat presiden Indonesia ke-1 yakni Ir.Soekarno yang juga ikut memberikan statement yang dipaparkan oleh edhi sunarso yakni “Kau berani perang melawan belanda, tapi bikin patung saja tidak berani”.
Statement ini menjadi salah satu ungkapan untuk membangkitkan rasa Nasionalisme yang di sajikan pada film tersebut.
42 1.7 METODE
1.7.1 Metode Penyelesaian Brief
Teknik yang digunakan dalam penyelesaian brief adalah menggunakan metode riset pada subjek utama dan riset pada beberapa media, dan lingkungan sekitar sebagai pendukung data dari subjek utama. Riset disini digunakan untuk melakukan pendekatan pada subjek utama dan digunakan untuk menjawab beberapa data yang di peroleh dari brief yang diberikan pada panitia perlombaan PSM-PTM.
1.7.2 Metode yang Relevan 1. Wawancara
Alat pengumpulan data menggunakan wawancara ini menggunakan wawancara mendalam dengan subjek. Wawancara mendalam ini adalah wawancara yang mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti (Burhan Bungin, 2011:157-158).
Subjek yang diwawancara ada 5 subjek yakni :
a. Pak Nurbani yak sebagai Narasumber Utama film urip urup Lokasi Wawancara:
Masjid Padang Mashar, di Jl.Gunungsari kec.Bumiaji, Kota Batu
Draft Pertanyaan:
1. bisa diperkenalkan nama bapak siapa dan sedang sibuk dengan apa sekarang
2. kalau boleh tau kenapa bapak memilih bertani di waktu senggang bapak bukan pekerjaan lain?
3. bagaimana cara bapak meyakinkan ke masyarakat di sekitar bapak tinggal, bahwa bertani adalah pekerjaan yang menghasilkan?
43 4. dari hasil beberapa riset yang telah kami lakukan, ada kabar bahwa bapak mempunyai cara unik untuk berdakwah ke masyarakat, boleh di jelaskan pak, seperti apa cara bapak berdakwah ke masyarakat?
5. tadi bapak menjelaskan bahwa dakwah inklusif bapak tidak memandang golongan agama dan paham, sperti dari pemuka agama lain pemabuk dan penjudi, disini ada yang menarik menurut kami pak, disini bapak berdakwah ke para pemabuk dan penjudi yang notabene sudah di cap negatif oleh masyarakat dan bisa dianggap kafir juga di agama kita.. bisa dijelaskan pak bagiamana cara bapak bisa membaur dengan mereka, mungkin bapak ada perasaan was was mungkin saat bertemu mereka?
6. dari perjalanan bapak berdakwah apakah ada orang yang tidak senang atau tidak cocok dengan cara bapak berdakwah?
7. bagaimana cara bapak mengatasi masalah tersebut dimana ada orang-orang yang tidak senang atau tidak cocok dengan cara bapak berdakwah?
8. pertanyaan terakhir kita pak, apakah ada pesan untuk kita generasi muda yang juga ingin berdakwah seperti bapak, agar tetap semangat walaupun nanti pasti ada orang- orang yang tidak sepemahaman dengan kita?
b. Pak gastar dan kedua temannya sebagai narasumber pendukung
Lokasi Wawancara:
Masjid At-taubah di Jl.Flamboyan, Songgokerto, kec.Batu.
Draft Pertanyaan:
1. Jelaskan siapa pak nurbani seperti yang bapak kenal?
44 2. Bagaimana cara pak nurbani bisa bertoleransi denga bapak?
c. Tiga teman pak nurbani sebagai Umat Hindu Lokasi wawancara :
Wawancara dengan umat hindu dilakukan di Pura Luhur Giri Arjuno, di Jl.Tulungrejo, kec.Bumiaji, kota Batu Draft pertanyaan:
1. kapan bapak pertama kali bertemu dengan pak nurbani?
2. bagaimana pandangan pak nurbani terhadap agama bapak?
g. Yuyun sebagai Warga di lingkungan Gunungsari kec.Bumiaji
Lokasi Wawancara:
Dilakukan di Rumah Narasumber, di Jl.Gunungsari kec.Bumiaji, Kota Batu
Draft Pertanyaan:
1. Bagaimana pandangan ibu terhadap pak nurbani di lingkungan desa Gunungsari?
h. Sutiyami sebagai Warga di lingkungan Gunungsari kec.Bumiaji
Lokasi Wawancara:
Dilakukan di Toko narasumber, di Jl.Gunungsari kec.Bumiaji, Kota Batu
Draft Pertanyaan:
1. Bagaimana pandangan ibu terhadap pak nurbani di lingkungan desa Gunungsari?
45 2. Dokumentasi
Dokumen dikategorikan sebagai dokumen pribadi, dokumen resmi, sumber tertulis, film, atau gambar (foto) yang semua itu memberikan informasi bagi proses pengerjaan Tugas Akhir. Teknik mengumpulkan data dengan dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang di peroleh dari catatan (data) yang telah tersedia atau yang dibuat oleh pihak lain (Hamidi, 2010:140).
1. Profile Narasumber utama :
Nama : Drs. Nurbanis Yusuf , M.Si Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Jl.Gunungsari Kec.Bumiaji, Kota Batu Pekerjaan :
Direktur ATV
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Ketua Muhammadiyah (2 periode)
Ketua I MUI kota Batu
Bertani
Riwayat Pendidikan :
S1 Universitas Muhammadiyah Malang
S2 Universitas Muhammadiyah Malang
46 2. Data sekunder
Adapun data sekunder yang diperoleh adalah data pak nurbani saat berdakwah melalui stasiun TV swasta yang bernama ATV. Dan dokumen foto pak nurbani pada saat menjadi ketua Muhammadiyah dan pada saat menjadi ketua MUI kota Batu. Data tersebut kami peroleh melalui pak nurbani sebagai narasumber utama.