PENGARUH PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA
KELAS IV SEMESTER II MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) SINGARAJA
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Ismiatul Jannah1, H. Syahruddin2, Citra Wibawa3
1 2Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected]2, [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). (2) Mengetahui hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran pendekatan konvensional. (3) Mengetahui perbedaan hasil belajar IPA siswa antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan kelompok siswa yang melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu.
Populasi penelitian ini adalah siswa-siswi kelas IV MIN Singaraja. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas IVA MIN Singaraja yang berjumlah 30 orang dan siswa kelas IVB MIN Singaraja yang berjumlah 30 orang. Data hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu uji-t. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa: (1) Hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen tergolong sangat tinggi dengan rata-rata (M) 20,3. (2) Hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol tergolong tinggi dengan rata-rata (M) 17,3. (3) Terdapat perbedaan hasil belajar IPA siswa kelas IV semester II MIN Singaraja yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan kelompok siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran konvensional (thit > ttab, thit = 2,9133 dan ttab = 2,001).
Kata-kata kunci: pendekatan contextual teaching and learning (CTL) dan hasil belajar IPA
ABSTRACT
This study aims to: (1) Knowing the science learning outcomes of students who followed the experimental group learning approach using Contextual Teaching and Learning (CTL). (2) Knowing the science learning outcomes of students learning a control group that followed the conventional approach. (3) Knowing the differences in outcomes between groups of students learn science students who take learning approach using Contextual Teaching and Learning (CTL) with a group of students who carry out learning using conventional learning approaches. The research is a quasi
experimental research. The population was students of class IV MIN Singaraja. The sample of this study was involved 30 in fourth grades A and involved 30 class IVB students in MIN Singaraja. The research data were obtained by using multiple choice test instrument and then analyzed descriptively and inferentially (t-test). The results of this study explain that: (1) The results of the experimental group students learn science as very high with an average of (M) 20.3. (2) The results of the control group students learn science is high with a mean (M) 17.3. (3) There are differences in the results of the fourth grade students learn science second semester MIN Singaraja significantly between groups of students who take the approach of learning using Contextual Teaching and Learning (CTL) with a group of students who take conventional learning approach (thit> ttab, thit = 2.9133 and ttab = 2.001).
Key words: approach contextual teaching and learning (CTL) and the results learn science
PENDAHULUAN
Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menegaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani,dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas,serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Guru yang profesional akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang bermutu dalam rangka mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Banyak usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional salah satu diantaranya adalah penyempurnaan kurikulum yang sebelumnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Untuk itu sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang ini,merupakan strategi baru terutama dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran sebelumnya lebih banyak didominasi oleh peran guru (Teacher Centered). Hal tersebut tampaknya kurang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu guru mampu memilih dan menerapkan model, metode atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi sehingga
mampu mengembangkan daya nalar siswa secara optimal. Kegiatan belajar mengajar di sekolah pada umumnya cenderung monoton dan tidak menarik, sehingga beberapa pelajaran ditakuti dan selalu dianggap sulit oleh siswa, termasuk di dalamnya adalah IPA atau Sains. Hal ini ditunjukkan pada hasil belajar siswa yang masih di bawah KKM 65,00 pada mata pelajaran IPA. Selain itu, motivasi anak dalam belajar IPA menjadi rendah dikarenakan pendekatan pembelajaran yang tidak menarik (konvensional) Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di MIN Singaraja, tidak hanya menuntut penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, fakta di lapangan, khususnya di MIN Singaraja menunjukkan bahwa siswa belum mampu mengusai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPA yang harus mereka kuasai yang ditandai dengan rendahnya hasil belajar IPA.
Kesulitan-kesulitan yang dialami guru dalam pembelajaran IPA yaitu:
1. Pelajaran IPA dianggap sangat sulit, sehingga siswa tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran.
2. Guru belum mampu menemukan model pelajaran yang tepat untuk mengajar IPA.
3. Guru kurang mampu menggunakan media yang ada di sekitar sekolah
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan diketahui bahwa:
1. Guru banyak menggunakan metode ceramah sehingga dalam hal ini hanya terjadi komunikasi satu arah antara guru dan siswa itu sendiri, hal tersebut akan berdampak terhadap ketidakterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Pemanfaatan media yang digunakan guru kurang dimanfaatkan.
3. Kurangnya guru memberikan penghargaan terhadap pendapat yang diberikan siswanya dalam proses pembelajaran.
4. Guru belum mampu
mengembangkan silabus yang ada.
Guru hanya berpatokan terhadap buku-buku ajar atau buku pelajaran yang tidak disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
5. Pada kondisi yang lain, guru belum sepenuhnya menghayati hakekat pendidikan IPA, karena guru hanya menekankan produk. Hal demikianlah yang terjadi di MIN Singaraja. Oleh karena itu guru dianjurkan dapat menggunakan metode dan media dengan sebik-baiknya.
Dengan demikian guru tidak hanya mampu melaksanakan pembelajaran di kelas saja melainkan harus mampu melakukan pembelajaran di luar kelas agar lebih bervariasi untuk meningkatkan motivasi siswa yang akan berdampak pada peningkatan hasil belajar. Di samping itu sesuai dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM), seorang guru harus mampu menjadi mediator dan fasilitator untuk mengkaitkan seluruh materi pembelajaran dengan kehidupan nyata yang sering di lihat dan dialami setiap hari oleh siswa.
Salah satu strategi pembelajaran yang mendukung pendekatan (PAIKEM) yang memungkinkan bisa mengembangkan kreativitas, motivasi dan partisipasi siswa adalah pembelajaran dengan berbasis lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Untuk itu pengaruh
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) sangat tepat di gunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang dapat menghadirkan situasi nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan situasi nyata sekitar lingkungan siswa. Pembelajaran berbasis lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran menjadi alternatif pembelajaran untuk memberikan kedekatan antara teoritis dan praktis bagi pengembangan aktivitas dan hasil belajar siswa secara optimal. Pada tahun 2010/2011 beberapa peneliti yang menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) antara lain I Gustu Agung Harry Candra dan Ni Putu Sintha Dewi Mandasari. Mereka telah membuktikan bahwa menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal.
Menurut Ekowati (Parmadi, 2008:2) mengatakan, “memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan bentuk pembelajaran yang berpihak pada pembelajaran melalui penggalian dan penemuan (experiencing) serta keterkaitan (relating) antara materi pembelajaran dengan konteks pengalaman kehidupan nyata melaui kegiatan proyek”. Kegiatan pembelajaran dengan strategi ini guru bertindak sebagai fasilitator dan mediator untuk membantu siswa menemukan dari hasil mengkonstruksi untuk diintegrasikan ke dalam pengetahuan dan keterampilan sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan atau tujuan guru dan siswa.
Dari hasil pengamatan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja pada hari selasa tanggal 18 Februari 2014 tampaknya guru dalam pembelajaran enggan mengajak siswa keluar kelas dengan berbagai alasan antara lain: susah mengawasi, tidak tahu mengkaitkan materi yang diajarkan dengan media yang tersedia di lingkungan sekolah. Ini juga berarti guru belum mampu mengimplementasikan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA). Hal ini dapat dilihat pada nilai rata- rata siswa. Nilai hasil rata-rata siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 65 untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)beberapa siswa masih di bawah KKM, dengan ketuntasan belajar 69%, disamping itu belum pernah ada yang meneliti dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Permasalahan tersebut di atas kemungkinan disebabkan karena kurangnya kemampuan dan keterampilan guru dalam merancang dan mengaplikasikan strategi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan karakteristik Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tersebut. Pada hakekatnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) itu adalah sebagai produk sekaligus sebagai proses.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai produk berisi sekumpulan konsep-konsep, prinsip-prinsip, maupun hukum-hukum sebagai hasil penelitian dan pikiran para ilmuan, sedangkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai proses berisi sekumpulan keterampilan-keterampilan dasar yang mencerminkan suatu proses Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Banyak hal semestinya yang dapat dilakukan oleh guru agar pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sesuai dengan tuntutan kurikulum dan hakekat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) itu sendiri seperti misalnya implementasi Contextual Teaching and Learning (CTL).
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan motivasi siswa untuk memahami Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) itu sendiri. Di samping itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berbasis lingkungan tampaknya dapat sebagai media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. model pembelajaran ini menjadikan pengajaran dan pembelajaran lebih menggairahkan. Penulis merasa yakin bahwa landasan teori model pembelajaran ini sangat cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di MIN Singaraja. Lingkungan yang mendukung dan proses pembelajaran yang menyenangkan dan
menggairahkan dapat menciptakan serta meningkatkan motivasi siswa SD/MIN untuk belajar IPA. Sehingga keluhan- keluhan seperti bosan, jenuh, kurang bergairah dan tidak menarik yang selama ini sering didengungkan dari siswa dalam proses pembelajaran IPA dapat teratasi melalui pendekatan pembelajaran ini.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment) karena tidak semua variabel yang muncul dalam kondisi eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara ketat selama 24 jam.
Populasi penelitian ini adalah siswa-siswi kelas IV semester II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV MIN Singaraja dengan jumlah 60 siswa.
Penentuan sampel kelas dilakukan dengan teknik random sampling. Untuk mengetahui kesetaraan kemampuan akademik pada populasi penelitian maka dilakukan uji-t terhadap data hasil belajar IPA siswa kelas IV pada nilai UAS.
Dari hasil uji-t yang dilakukan diperoleh sampel yaitu siswa kelas IVA MIN Singaraja sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IVB MIN Singaraja sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan Pendekatan CTL dan kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Desain Penelitian yang digunakan adalah post- test only control group design. Pemilihan desain ini karena peneliti ingin mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA kedua kelompok, dengan demikian penelitian ini tidak menggunakan skor pre-test.
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPA ranah kognitif yang dikumpulkan melalui tes objektif. Tes tersebut telah di uji coba lapangan, sehingga teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil tes uji lapangan tersebut selanjutnya diberikan kepada siswa kelas eksperimen dan kontrol sebagai post-test. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
analisis statistik deskriptif dan data dianalisis dengan menghitung nilai mean, median, modus, standar deviasi, varian, skor maksimum, dan skor minimum.
Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk kurva poligon. Sedangkan teknik yang digunakan untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah uji-t (polled varians). Untuk bisa melakukan uji hipotesis, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan perlu dibuktikan. Persyaratan yang dimaksud yaitu: (1) data yang dianalisis
harus berdistribusi normal, (2) kedua data yang dianalisis harus bersifat homogen.
Untuk dapat membuktikan dan mememenuhi persyaratan tersebut, maka dilakukanlah uji prasyarat analisis dengan melakukan uji normalitas, dan uji homogenitas.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Data
Adapun hasil analisis data statistik deskriptif disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Deskripsi Data hasil belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan tabel di atas, Skor Mean (M), Median (Me), Modus (Mo) digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa kurve sebaran data kelompok siswa yang mengikuti Pembelajaran dengan Pendekatan CTL merupakan juling negatif karena Mo > Me > M (20,75 > 20,6 >
20,3). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor siswa kelompok eksperimen cenderung tinggi. Apabila divisualisasikan ke dalam bentuk kurva, maka tampak pada gambar 1.
Gambar 1. Kurva Poligon Data Hasil Belajar IPA Kelompok Eksperimen
Skor mean (M), Median (Me), Modus (Mo) digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa kurve sebaran data kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional merupakan juling positif karena Mo < Me < M (16,786 > 17 > 17,3).
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor siswa kelompok kontrol
0 2 4 6 8 10 12
Frekuensi
Interval Statistik Kelompok
Eksperimen
Kelompok Kontrol
Mean 20,3 17,3
Median 20,6 17
Modus 20,75 16,786
Varians 15,03 16,079
Standar Deviasi 3,876 4,0099
Skor minimum 11 10
Skor maxsimum 27 25
Rentangan 17 16
cenderung rendah. Apabila divisualisasikan ke dalam bentuk kurva, maka tampak pada gambar 2.
Gambar 2. Kurva Poligon Data Hasil Belajar IPA Kelompok Kontrol
Hasil Uji Prasyarat Analisis
Sebelum melakukan uji hipotesis maka harus dilakukan beberapa uji prasyarat.
Terhadap sebaran data yang meliputi uji normalitas terhadap data skor hasil belajar IPA siswa. Uji normalitas ini dilakukan untuk membuktikan bahwa kedua sampel tersebut bedistribusi normal. Uji normalitas data hasil belajar IPA dianalisis menggunakan uji Chi-Square (
2) dengan kriteria apabila
2hitung <
2tabel maka data hasil belajar IPA siswa berdistribusi normal. Adapun hasil perhitungan dari uji normalitas dapat disajikan pada tabel 2.Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar IPA Siswa Kelompok Data Hasil
Belajar
2 hitung
2 tabel StatusKelompok eksperimen Kelompok kontrol
1,657 2,235
7,82 7,82
Normal Normal Berdasarkan hasil perhitungan dengan
menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh
2hit hasil hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen adalah 1,657 dan
2tab dengan taraf signifikansi 5%dan db = 3 adalah 7,82. Hal ini berarti,
2hit
hasil hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen lebih kecil dari2tab
(
2hit
2tab) sehingga data hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan,
2hithasil hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol adalah 2,235 dan
2tab dengan taraf signifikansi 5% dan db = 3 adalah 7,82. Hal ini berarti,
2hit hasil post-testkelompok kontrol lebih kecil dari
2tab (tab
hit 2
2
) sehingga data hasil hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol berdistribusi normal.Setelah melakukan uji prasyarat yang pertama yaitu uji normalitas, selanjutnya dilakukan uji prasyarat yang ke dua yaitu uji homogenitas varians. Uji homogenitas varians data hasil belajar IPA dianalisis menggunakan uji F dengan kriteria kedua kelompok memiliki varians homogen jika Fhitung < Ftabel dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1–1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2–1. Hasil uji homogenitas varians data hasil belajar matematika dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Varians Data Hasil Belajar IPA
Kelompok Data Hasil Belajar F hitung F tabel Status Eksperimen
1,0698 1,861 Fhitung < Ftabel (Homogen)
Kontrol 0
2 4 6 8 10 12
10-12 13-15 16-18 19-21 22-24 25-27
Frekuensi
Interval
Berdasarkan tabel di atas, diketahui Fhit hasil hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah 1,0698.
Sedangkan Ftab dengan dbpembilang = 29, dbpenyebut = 29, dan taraf signifikansi 5%
adalah 1,861. Hal ini berarti, varians data hasil hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.
Hasil Uji Hipotesis
Hipotesis penelitian yang diuji adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan siswa yang
mengikuti pembelajaran secara konvensional. pada Uji hipotesis ini menggunakan uji–t independent (sampel tak berkorelasi). Dari tabel 2 yang menunjukkan bahwa data hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah normal, dan data tabel 3 yang menunjukkan bahwa varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah homogen serta jumlah siswa pada tiap kelas yang berbeda maka pada uji-t sampel tak berkorelasi ini digunakan rumus uji-t separated varians dengan kriteria H0 tolak jika thit > ttab dan H0 terima jika thit < ttab. Adapun hasil analisis untuk uji-t dapat disajikan pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis
Hasil Belajar Varians N Db thitung ttabel Kesimpulan Kelompok
Eksperimen
3,877 30 58 2,9133 2,001
thitung > ttabel (H0 ditolak) Kelompok Kontrol 4,01 30
Berdasarkan hasil perhitungan uji-t, diperoleh thit sebesar 2,9133. Sedangkan, ttab dengan db = dan taraf signifikansi 5%
adalah 2,001. Hal ini berarti, thit lebih besar dari ttab (thit > ttab) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan Pendekatan Konvensional pada siswa kelas IV semester II tahun pelajaran 2013/2014 MIN Singaraja
Pembahasan
Pembahasan hasil-hasil penelitian dan pengujian hipotesis menyangkut tentang hasil belajar IPA siswa khususnya pada materi memahami baerbagai bentuk energi dan cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar IPA siswa yang dimaksud adalah hasil belajar IPA siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang diterapkan pada kelompok eksperimen dan Pendekatan
pembelajaran konvensional yang diterapkan pada kelompok kontrol dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang berbeda pada hasil belajar IPA siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar IPA siswa. Secara deskriptif, hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan siswa kelompok kontrol. Tinjauan ini didasarkan pada rata- rata skor hasil belajar IPA dan kecenderungan skor hasil belajar IPA.
Rata-rata skor hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen adalah 20.3 berada pada katagori sangat tinggi sedangkan skor hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol adalah 17,3 berada pada katagori tinggi. Jika skor hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa kurve sebaran data merupakan juling negatif yang artinya sebagian besar skor siswa cenderung tinggi. Pada kelompok kontrol, jika skor hasil belajar IPA siswa digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa kurve sebaran data merupakan juling positif yang artinya sebagian besar skor siswa cenderung rendah.
Berdasarkan analisis data menggunakan uji-t yang ditunjukkan pada Tabel 4.7 diketahui thit = 2,492 dan ttab (db = 3 dan
taraf signifikansi 5%) = 2,001. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thit lebih besar dari ttab (thit > ttab) sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran Pendekatan Contextual Teaching Learning dengan siswa yang mengikuti pembelajaran Pendekatan pembelajaran konvensional.
Adanya perbedaan yang signifikan menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa.
Besarnya pengaruh antara Pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dan Pendekatan Pembelajaran Konvensional dapat dilihat dari analisis deskriptif. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa skor hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV semester II MIN Singaraja dibandingkan dengan pembelajaran dengan Pendekatan Konvensional.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan sejumlah hasil penelitian yang sudah dilakukan, antara lain: Memes (2002) menyebutkan bahwa pembelajaran IPA siswa kelas IV dengan CTL yang berwawasan sains-teknologi dapat meningkatkan prestasi hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran baik secara individu dan kelompok, menunjukkan terjadi interaksi yang bersifat kondusif. Penelitian yang dilakukan Chandra (2010) juga menunjukkan bahwa CTL telah mampu meningkatkan hasil belajar baik secar kualitatif maupun secara kuantitatif dan penelitian juga di lakukan oleh Mandasari (2011) juga menyimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar.
Penerapan Contextual Teaching Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memberikan kondisi pada siswa
untuk mengkontruksi pengetahuannya sendiri sehingga menemukan konsep yang harus mereka pelajari melalui proses tahapan-tahapan, baik yang dilakukan secara individual maupun secara berkelompok. Menurut Anisa (2009) ada beberapa kelebihan dalam pembelajaran CTL, yaitu:
1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari.
4. Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru.
5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan siswa yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran dengan menerapkan CTL memiliki tahapan-tahapan yang mengikuti tahapan metode ilmiah, sehingga siswa lebih banyak terlibat aktif dalam pembelajaran seperti yang di kemukakan oleh Anisa (2009) yakni
1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri. 2.
Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan. 3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari. 4.
Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan
bertanya kepada guru. 5.
Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan siswa yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
Hal ini berimplikasi pada tingkat pemahaman siswa, pengetahuan yang diperoleh dikontruksi dari proses IPA yang dilakukan secara langsung. Pembelajaran IPA dikaitkan langsung dengan pengalaman siswa sehari-hari, yakni dengan memunculkan fenomena lingkungan alam maupun sosial sebagai penyulut “starter” untuk memulai pembelajaran. Hal tersebut dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa menemukan hubungan antara pengetahuan yang dipelajari di sekolah dengan yang dihadapi dalam keseharian. Dengan demikian, penerapan CTL dapat menguatkan ingatan siswa terhadap materi yang dipelajarinya dan memperjelas materi yang disajikan guru.
Menurut Anisa (2009) ada beberapa kelebihan dalam pembelajaran CTL, yaitu:
1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari.
4. Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru.
5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan siswa yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran dengan menerapkan CTL memiliki tahapan-tahapan yang
mengikuti tahapan metode ilmiah, sehingga siswa lebih banyak terlibat aktif dalam pembelajaran seperti yang di kemukakan oleh Anisa (2009) yakni
1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri. 2.
Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan. 3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari. 4.
Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru. 5.
Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan siswa yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
Hal ini berimplikasi pada tingkat pemahaman siswa, pengetahuan yang diperoleh dikontruksi dari proses IPA yang dilakukan secara langsung. Pembelajaran IPA dikaitkan langsung dengan pengalaman siswa sehari-hari, yakni dengan memunculkan fenomena lingkungan alam maupun sosial sebagai penyulut “starter” untuk memulai pembelajaran. Hal tersebut dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa menemukan hubungan antara pengetahuan yang dipelajari di sekolah dengan yang dihadapi dalam keseharian. Dengan demikian, penerapan CTL dapat menguatkan ingatan siswa terhadap materi yang dipelajarinya dan memperjelas materi yang disajikan guru.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, A. A. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja:
Undiksha Singaraja.
Anisa. 2009. Kelebihan-kelebihan CTL Chandra, I Gusti Agung Herry. 2010
Penerapan model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning untuk meningkatkan hasil belajar Sains di Sekolah Dasar. Kumpulan Karya Ilmiah Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pedididkan Ganesha Singaraja
Departemen Pendidikan Nasional. No 14 tahun 2005. tentang guru dan dosen menegaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani,dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas,serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. Tahun 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tentang Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPA Sekolah Dasar. Jakarta:
Depdiknas.
Ekowati (Parmadi, 2008:2) Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan bentuk pembelajaran yang berpihak pada pembelajaran melalui penggalian dan penemuan (experiencing) serta keterkaitan (relating) antara materi pembelajaran dengan konteks pengalaman kehidupan nyata melaui kegiatan proyek Johnson, Elaine B. 2007. Contextual
Teaching and Learning.
Bandung : Mizan Learning Center (MLC)
Koyan, I Wayan. 2007. Statistika Terapan (Teknik Analisis Data Kuantitatif).
Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.Mandasari, Ni Putu Shinta Dewi. 2011.
Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Sains di Sekolah Dasar. Kumpulan Karya Ilmiah Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Pedididkan Ganesha Singaraja
Kurnia, Ahmad.2007. “Manajemen Penelitian”. Tersedia pada:
http://skripsi
mahasiswa.blogspot.com/2007/12/
menentukan-populasi-dan-sample- definisi.html diakses tanggal 4 Desember 2012).
Memes, Wayan. 2002. Pendekatan Starter Eksperrimen sebagai Alternatif Model Pembelajaran IPA yang Berwawasan Sains Teknologi untuk Mensukseskan Pendidikan Dasar. Jurnal Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Pengajarnya. Tahun 31 Nomor 1 Januari 2002.
Suastra, I.W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Buku Ajar. Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Singaraja.
Subana, Drs.2005. Statistik Pendidikan.
Bandung: Pustaka Setia.
Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Suastra, I.W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Buku Ajar. Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Singaraja.