• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh: WENNIE FRANSISCA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh: WENNIE FRANSISCA"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERENDAMAN SOFT DENTURE LINER AUTOPOLIMERISASI DALAM LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT DAN Ricinus communis

TERHADAP JUMLAH Candida albicans DAN KEKASARAN PERMUKAAN

TESIS

Oleh:

WENNIE FRANSISCA 177160014

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS PROSTODONSIA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)

PENGARUH PERENDAMAN SOFT DENTURE LINER AUTOPOLIMERISASI DALAM LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT DAN Ricinus communis

TERHADAP JUMLAH Candida albicans DAN KEKASARAN PERMUKAAN

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Spesialis Prostodonsia (Sp.Pros) dalam Bidang Ilmu Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

WENNIE FRANSISCA 177160014

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS PROSTODONSIA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)
(4)

ii Telah diuji

Pada Tanggal : 11 November 2020

PANITIA PENGUJI TESIS

KETUA : Syafrinani, drg., Sp.Pros (K)

ANGGOTA : 1. Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros (K) 2. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt

3. Dr. Darwin Yunus Nasution, MS 4. Ricca Chairunnisa, drg., Sp.Pros (K)

5. Putri Welda Utami Ritonga, drg., MDSc., Sp.Pros (K)

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH PERENDAMAN SOFT DENTURE LINER AUTOPOLIMERISASI DALAM LARUTAN LARUTAN

SODIUM HIPOKLORIT DAN RICINUS COMMUNIS TERHADAP JUMLAH Candida albicans DAN

KEKASARAN PERMUKAAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Medan, 11 November 2020

Wennie Fransisca

(6)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Wennie Fransisca, drg.

NIM : 177160014

Program Studi : Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia

Departemen : Prostodonsia

Fakultas : Kedokteran Gigi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui dan memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ( Non-exclusive Royalty Free Right ) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Autopolimerisasi dalam Larutan Sodium Hipoklorit dan Ricinus communis terhadap Jumlah Candida albicans dan Kekasaran

Permukaan

beserta perangkat yang ada (bila diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non Eksklusif ini, Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya dan menampilkan / mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Segala bentuk tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah ini menjadi tanggung jawab saya pribadi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Medan, 11 November 2020

Yang Membuat Pernyataan

Wennie Fransisca

(7)

i

i

DAFTAR ISTILAH

SDL = Soft Denture Liner

ISO = International Standard Organization GPT = Glossary of prosthodontic Terms

ADA = American Dental Association

ASTM = American Society for Testing and Materials

AFM = Atomic Force Microscope

WHO = World Health Organization

ABSTRAK

Soft denture liner (SDL) merupakan bahan soft yang berbasis akrilik atau silikon yang digunakan dalam bidang prostodonsia sebagai bahan pelapis lunak dan sifat itu tetap bertahan setelah polimerisasi. Soft denture liner (SDL) memiliki resiliensi yang hampir sama dengan mukosa oral mampu memberikan efek cushion sehingga dapat mencegah

(8)

ii

konsentrasi tekanan lokal dan menyalurkan beban fungsional secara merata pada mukosa dan meminimalisasi terjadinya trauma pada jaringan pendukung di bawah gigi tiruan. Soft denture liner (SDL) yang digunakan didalam rongga mulut dapat menyebabkan akumulasi plak yang merupakan kolonisasi dari mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Hal ini menyebabkan lingkungan rongga mulut menjadi anaerobik. Lingkungan anaerobik dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme yang berlebihan terutama Candida albicans, sehingga SDL harus dibersihkan secara berkala dengan bahan pembersih yang memiliki efek antimikroba yang dapat mengeliminasi Candida albicans yang berlebihan. Metode pembersihan yang direkomendasi adalah secara kimia dengan perendaman dalam larutan pembersih, namun perendaman dalam bahan pembersih dapat menyebabkan perubahan sifat fisik bahan yaitu terlepasnya komponen soluble yaitu plasticizer dari SDL akrilik maupun terjadinya penyerapan air pada filler bahan SDL silikon, hal ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan kekasaran permukaan pada bahan, sehingga bahan pembersih yang dipilih harus memiliki efektivitas antimikroba yang baik tanpa menyebabkan perubahan kekasaran permukaan yang signifikan.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh bahan pembersih Ricinus communis dan sodium hipoklorit terhadap jumlah Candida albicans dan kekasaran permukaan SDL akrilik dan silikon autopolimerisasi. Bahan penelitian yang digunakan adalah SDL akrilik dan silikon autopolimerisasi. Jenis bahan pembersih yang dipakai adalah sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% yang dibuat dengan memakai emulgator tween 80. Sampel untuk pengukuran jumlah Candida albicans (n = 32) berukuran 10 x 10 x 2 mm, sedangkan sampel untuk pengukuran nilai kekasaran permukaan (n = 32) berbentuk tabung dengan diameter 15 mm dan tebal 10 mm. Sampel kemudian dibagi

(9)

iii

iii

kedalam 4 kelompok (n = 8) yaitu kelompok SDL akrilik autopolimerisasi dalam perendaman sodium hipoklorit 0,5%, SDL silikon autopolimerisasi dalam perendaman sodium hipoklorit 0,5%, SDL akrilik autopolimerisasi dalam perendaman Ricinus communis 10% dan SDL silikon autopolimerisasi dalam perendaman Ricinus communis 10%. Penghitungan jumlah Candida albicans dilakukan dengan alat colony counter dalam CFU/mL, sedangkan untuk pengukuran kekasaran permukaan digunakan alat Atomic Force Microscope (AFM) pada satu bidang permukaan yang sama sebelum dan setelah perendaman dalam satuan µm. Data yang diperoleh diuji menggunakan unpaired t test antara kelompok SDL akrilik autopolimerisasi dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%, serta kelompok SDL silikon autopolimerisasi dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% dengan tingkat signifikansi p

< 0,05. Berdasarkan hasil uji statistik, diperoleh hasil tidak ada pengaruh antara kelompok SDL akrilik autopolimerisasi dalam perendaman sodium hipoklorit 0,5% dan kelompok SDL akrilik autopolimerisasi dalam perendaman Ricinus communis 10% terhadap jumlah Candida albicans (p = 0,666) dan kekasaran permukaan (p = 0,341) serta tidak ada pengaruh antara kelompok SDL silikon autopolimerisasi dalam perendaman sodium hipoklorit 0,5% dan kelompok SDL silikon autopolimerisasi dalam perendaman Ricinus communis 10% terhadap jumlah Candida albicans (p = 0,478) dan kekasaran permukaan (p = 0,764). Untuk kelompok kekasaran permukaan dilakukan uji paired T test untuk setiap kelompok, hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh antara sebelum dan setelah perendaman SDL akrilik dalam sodium hipoklorit 0,5%, (p = 0,001) sebelum dan setelah perendaman SDL akrilik dalam Ricinus communis 10%, (p = 0,001) sebelum dan setelah perendaman SDL silikon dalam sodium hipoklorit 0,5% (p = 0,02) serta tidak adanya

(10)

iv

perbedaan pada kelompok sebelum dan setelah perendaman SDL silikon dalam Ricinus communis 10% (p = 0,095). Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa Ricinus communis 10% efektif sebagai bahan pembersih untuk soft denture liner karena memiliki daya anti mikroba yang sama dengan sodium hipoklorit yang merupakan gold standard dan perubahan kekasaran permukaan yang terjadi tidak melebihi 0,2 µm pada soft denture liner akrilik dan soft denture liner silikon autopolimerisasi.

Kata Kunci: Jumlah Candida albicans, Kekasaran Permukaan, Soft Denture Liner, Sodium hipoklorit, Ricinus communis.

ABSTRACT

Soft denture liner (SDL) is a soft material based on acrylic or silicon which is used in prosthodontic field as a soft coating material and the properties remain after polymerization. SDL has almost the same resilience as the oral mucosa which provide a cushion effect so that it can prevent the concentration of local pressure and distribute the functional loading evenly on the mucosa and to minimize trauma on the supporting tissue

(11)

v

v

under the denture area. The SDL that used in the oral cavity can cause an accumulation of plaque which is a colonization of microorganisms such as bacteria and fungi which create an anerobic environment in the oral cavity. Anerobic environment can trigger excessive growth of microorganisms, especially Candida albicans, therefore, SDL must be cleaned periodically with cleaning agents that have an antimicrobial effect that can eliminate the excessive Candida albicans. The recommended cleaning method is chemically method by soaking into the cleaning material, but soaking in the cleaning material can cause changes in the physical properties of the material such as the release of soluble components namely plasticizer from acrylic SDL or the occurrence of water absorption in the filler of silicone SDL material, this can cause the roughness changes of the surface material, therefore, the ideal cleansing agent must have a good antimicrobial effectiveness without causing significant surface roughness changes. The aims of this study to examine the effect of Ricinus communis and sodium hypochlorite cleaning agents on the amount of Candida albicans and the surface roughness of autopolymerized SDL acrylic and silicon. The research material used in this study are autopolymerized SDL acrylic and silicone. Types of cleaning agents used in this study are 0.5% sodium hypochlorite and 10% Ricinus communis. The sample for measuring the number of Candida albicans (n = 32) with a dimension of 10 x 10 x 2 mm, while the sample for measuring the surface roughness value (n = 32) is tubular with a diameter of 15 mm and a thickness of 10 mm. The sample were divided into 4 groups (n = 8), which were autopolymerized SDL acrylic groups in 0.5% sodium hypochlorite immersion, autopolymerized SDL silicon in 0.5% sodium hypochlorite immersion, autopolymerized SDL acrylic in 10% Ricinus communis with tween 80 as an emulsifier immersion and

(12)

vi

autopolymerized SDL silicon immersion in Ricinus communis 10%. The total amount of Candida albicans colony is count with a colony counter in CFU / mL, meanwhile for the measurement of surface roughness the Atomic Force Microscope (AFM) was used on the same surface plane before and after immersion in µm units. The data obtained were tested using an unpaired T test between the autopolymerized acrylic SDL group in 0.5% sodium hypochlorite solution and Ricinus communis 10%, and the autopolymerization silicon SDL group in 0.5% sodium hypochlorite solution and Ricinus communis 10% with a significance level of p < 0.05. Based on statistical test results, there was no statistical significant results between autopolymerization SDL acrylic group in 0.5% sodium hypochlorite immersion and autopolymerization SDL acrylic group in Ricinus communis 10% immersion on the amount of Candida albicans colony (p = 0.666) and surface roughness (p = 0.341 ) and there was also no statistical significant results between the autopolymerized SDL silicon group in 0.5% sodium hypochlorite immersion and the autopolymerized SDL silicon group in the immersion of Ricinus communis 10% on the number of Candida albicans colony (p = 0.478) and surface roughness (p = 0.764). For the surface roughness group, a paired T test was performed for each group, the results of the statistical tests showed that there was a statistical significant differences of changes of 3 groups of immersion which were before and after immersion of acrylic SDL in 0.5%

sodium hypochlorite, (p = 0.001) before and after immersion of acrylic SDL in Ricinus communis 10% , (p = 0.001) before and after immersion of silicon SDL in sodium hypochlorite 0.5% (p = 0.02) and there was no difference in the groups before and after immersion of silicon SDL in Ricinus communis 10% (p = 0.095). Based on the study results, it can be concluded that Ricinus communis 10% was effective as cleansing agent

(13)

vii

vii

for soft denture liner because of the same antimicrobial effect with 0.5% sodium hypochlorite which was the gold standard for disinfectant agent and the surface roughness does not exceed 0,2 µm on both autopolymerized acrylic and silicon soft denture liner.

Keywords: Candida albicans counts, Surface roughness, Soft denture liner, Sodium hypochlorite, Ricinus communis

(14)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga tesis ini selesai disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis Prostodonsia pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Nenek tersayang Ratna, Ayah tersayang Anwar, Ibu tersayang Siertje, sahabat istimewa penulis Wilson, drg., Sp. Perio. serta seluruh keluarga yang telah memberikan kasih sayang tidak terbalas, doa, pengertian, semangat dan dukungan baik moril maupun materiil kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan pendidikan ini.

(15)

ix

ix

Dalam penulisan tesis ini, penulis telah banyak mendapat pengarahan serta bimbingan dari berbagai pihak sehingga tesis ini dapat disusun dengan baik. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Ismet Danial Nasution, drg, PhD, Sp.Pros(K). selaku dosen pembimbing utama dan guru besar di Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dalam penulisan tesis ini telah banyak yang telah meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk membimbing, memberikan pengarahan, cara berpikir, semangat, motivasi serta dorongan kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

Beliau merupakan sosok teladan dan panutan bagi penulis sejak dalam masa pendidikan S1 hingga sekarang. Teladan yang diberikan berupa cara membentuk pola pikir yang berbasiskan ilmu, attitude, filosofi, dan nalar sangat berarti dalam membentuk logika dan dasar pemikiran penulis.

2. Prof. Dr Urip Harahap, Apt. selaku pembimbing anggota yang telah meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk membimbing, membuka wawasan pemikiran baru, memberikan pengertian, semangat, motivasi serta dorongan dan solusi kepada penulis selama penulisan tesis ini hingga selesai.

3. Putri Welda Utami Ritonga, drg., MDSc., Sp.Pros(K). selaku pembimbing anggota telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing, memberikan pengarahan, masukan, semangat, dorongan, membentuk cara berpikir dan memberikan banyak solusi dalam menghadapi masalah kepada penulis selama penulisan tesis ini hingga selesai. Penulis sangat merasakan bimbingan, pengertian, perhatian, semangat dan ketulusan dalam membantu mengarahkan agar tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

4. Prof. Haslinda Z Tamin, drg., M. Kes., Sp. Pros (K). selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia (PPDGS) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah banyak mengarahkan, memberikan dorongan, semangat dan teladan selama penulisan tesis ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.

Teladan yang diberikan berupa semangat, motivasi yang tinggi, selalu berpikir positif,

(16)

x

dan memperhatikan segala sesuatu secara detail dan sistematis sangat berarti dalam membentuk pola berpikir penulis, khususnya selama proses penyelesaian tesis ini.

5. Syafrinani, drg., Sp. Pros (K). selaku Ketua tim penguji dan sebagai Ketua Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah meluangkan banyak waktu untuk membimbing, memberikan masukan dan koreksi, pengarahan serta solusi kepada penulis selama penulisan tesis ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Teladan yang diberikan berupa arahan, nasehat, semangat, motivasi yang tinggi, serta keikhlasan dan pola berpikir yang inovatif dalam menghadapi masalah yang timbul.

6. Dr. Darwin Yunus Nasution, MS. selaku tim penguji tesis yang telah meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk membimbing, memberikan pengarahan, koreksi motivasi serta dorongan kepada penulis selama penulisan tesis ini hingga selesai.

7. Ricca Chairunnisa, drg, Sp.Pros (K). selaku tim penguji tesis yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk bimbingan, mengarahkan, memberi koreksi, semangat dan dorongan kepada penulis selama penulisan tesis ini hingga selesai.

8. Dr. Trelia Boel, drg., M.Kes., Sp.RKG(K). sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

9. Seluruh staf pengajar di Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terutama kepada Ariyani, drg., MDSc., Sp.Pros(K).; Prof.

Slamat Tarigan, drg., MS, Ph.D.; Eddy Dahar, drg., M.Kes.; Ika Andryas, drg., MSc.;

Hubban drg., MSc. dan Veronica Angelika, drg., MDSc, Sp.Pros. yang telah memberikan saran, masukan, do’a, dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

10. Dwi Tjahyaning Putranti, drg, M.Kes. dan Siti Wahyuni, drg, MDSc. selaku Kepala dan Manager Unit Jasa Industri (UJI) Laboratorium Dental Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara serta para tekniker laboratorium.

11. Seluruh pegawai di Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Bu Yanti, Kak Naya, Nurul, Dara dan Sony.

12. Dr. drh Basri A Gani Msi., selaku dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas UNSYIAH yang telah banyak membantu dalam proses penelitian ini.

(17)

xi

xi

13. Seluruh pegawai dan asisten di Laboratorium Mikrobiologi Fisika Material FMIPA UNSYIAH Aceh yang telah banyak membantu dalam proses penelitian tesis ini.

14. Seluruh pegawai dan asisten di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, terutama Kak Ayang, Kak Jeanne dan Ko Nasri yang telah banyak membantu dalam proses penelitian tesis ini.

15. Sahabat-sahabat terbaik penulis Teresia N Tarigan, drg.; Marsal Tarigan,drg.;

Ivana, drg.; Leni Hadi, drg.; Sumitro,drg.; David Chandra drg.; Noni Harahap, drg.; Femy Rilinda, drg.; Fauzan Arif, drg.; Joseph Dede H Ginting, drg.; Ervi Gani, drg.; Henny Kartika drg.; Steven Syahputra drg.; Kriswandy Putra drg.; William Wijaya drg.; Felix H Ongko drg. yang sama-sama berjuang dan saling memberi semangat

16. Seluruh rekan sejawat Residen PPDGS Prostodonsia FKG USU Angkatan III, IV, V, VII, VIII, IX yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang selalu memberikan saran, semangat dan do’a kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan tesis ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga tesis ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, khususnya Departemen Prostodonsia.

Medan, 11 November 2020 Penulis Wennie Fransisca,

drg.

NIM : 177160014

(18)

xii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Biodata Peneliti

1. Nama Lengkap : Wennie Fransisca, drg.

2. Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 10 Oktober 1992 3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Agama : Kristen

5. Alamat : Jl. Sei Kera no 134G 6. Nama Orang Tua

Ayah : Anwar

Ibu : Siertje

7. Riwayat Pendidikan

1998 - 2004 : SD Sutomo 1, Medan 2004 - 2007 : SMP Sutomo 1, Medan 2007 - 2010 : SMA Sutomo 1, Medan

2010 - 2014 : S1 Pendidikan Akademik Dokter Gigi (SKG)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara 2014 - 2016 : S1 Pendidikan Profesi Dokter Gigi (Drg.)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara 2017 - sekarang : Sp1 Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis

Prostodonsia (Sp.Pros)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

(19)

xiii

xiii 8. Riwayat Pekerjaan

2016 - sekarang : Praktek Swasta

(20)

xiv

KARYA ILMIAH YANG TELAH DIPRESENTASIKAN

N O

JUDUL KEGI

ATAN

TEMPAT / WAKTU

PEMBIM BING 1

1.

Bond strength and surface roughness of

soft denture liner immersed in cleansing

agent -Short Lecture-

2ndMedan Internationa

l Prosthodont

ic Scientific Meeting

Santika Premiere Dyandra Hotel and Convention

30 Agustus – 1 September 2018 Medan, Indonesia

Prof. Ismet Danial Nasution,

drg., Ph.D., Sp.Pros(K)

Putri Welda Utami Ritonga,

drg., MDSc., Sp.Pros(K) 2

2.

Modified impression technique to

overcome flabby anterior maxillary ridge

and severe residual mandibular ridge resorption - a case

report -Short Lecture-

Prosthodont ic Scientific Meeting

Update

Best Westren Premier Hotel 2-4 Agustus 2019,

Solo, Indonesia

Prof. Ismet Danial Nasution,

drg., Ph.D., Sp.Pros(K)

Ricca Chairunnisa, drg.,

Sp.Pros(K)

(21)

xv

xv .

3.

Vertical dimension and occlusal

contacts rehabilitation of full edentulous

patient with temporomandibular

disorder - Poster Presentation-

12th Post Graduate Conference

2019

Balai Ungku Aziz Universiti

Malaya 18-19 September

2019, Kuala Lumpur, Malaysia

Prof. Ismet Danial Nasution,

drg., Ph.D., Sp.Pros(K)

Ricca Chairunnisa, drg.,

Sp.Pros(K)

(22)

xvi

KARYA ILMIAH YANG TELAH DIPUBLIKASIKAN

NO JUDUL PUBLIKASI PEMBIMBING

1

Bond Strength And Surface Roughness

Of Soft Denture Liner Immersed In Cleansing

Agent

Proceeding: 2ndMedan International Prosthodontic Scientific Meeting “Advanced

Prosthodontics Treatment in ASEAN Economic

Community”

ISBN: 978-602-53-245-0-5

Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros(K)

Putri Welda Utami Ritonga, drg., MDSc., Sp.Pros(K)

2

Modified Impression Technique

To Overcome Flabby Anterior Maxillary

Ridge And Severe Residual Mandibular Ridge Resorption - a

case report

IJMPERD Vol. 10 Issue 3, June

2020

ISSN (P): 2249-6890;

ISSN (E): 2249-8001 -Scopus Indexed-

DOI:

10.24247/ijmperdjun2020121

Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros(K)

Ricca Chairunnisa, drg.,

Sp.Pros(K)

3

A Comprehensive Endodontic Treatment

For Tooth Supported

Prosiding seminar ilmiah Nasional IKORGI IV (SINI IV)

Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros(K)

(23)

xvii

xvii Overdenture With

Medical Compromized In Geriatric Patients: A

Case Report

ISBN: 978-602-465-182-

4 Prof. Trimurni

Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG(K)

Ariyani, drg., MDSc., Sp.Pros(K)

PENGABDIAN YANG TELAH DILAKSANAKAN

NO JUDUL KEGIATAN

TEMPAT / WAKTU

1

Program Pengabdian kepada

Masyarakat Pembuatan Mata

▪ Pembuatan Mata Tiruan

Klinik Prostodonsia RSGM USU Juli-November

2019

(24)

xviii Tiruan di Rumah

Sakit Gigi dan Mulut USU

Medan

2

Program Pengabdian kepada

Masyarakat Pembuatan Feeding

Plate di Rumah Sakit GrandMed Lubuk Pakam dan Mitra Sejati Medan

▪ Pembuatan Feeding Plate

RS GrandMed; RS

Mitra sejati Juli- Desember 2019

(25)

xix

xix

KURSUS YANG TELAH DIIKUTI

NO JUDUL KEGIATAN

TEMPAT / WAKTU

1

Hands on- Rehabilitation for post TMJ disorders treatments

(Live Demo)

• Kuliah Pakar : Drg. Erna Kurnikasari, Sp.Pros(K)

• Hands On

Santika Dyandara Hotel

30 Agustus 2018

Medan

2

Hands On How To Create Bio-Aesthetic Posterior Restoration

• Kuliah Pakar : drg.

Emerson Lim, Sp.Pros

• Hands On

Ruang Nazir Alwi, FKG USU 5 November 2018 Medan, Indonesia

3

Predictable and Precise Tooth Preparation Techniques for Porcelain

Laminate Veneers

• Kuliah Pakar: drg.

Bambang Agustono, M.Kes., Sp. Pros (K)

-UNAIR-

• Hands On

Best Westren Premier hotel 3 Agustus 2019 Solo, Indonesia

(26)

xx 4

Simple Laboratory Procedure in Fabricating Esthetic Ocular Prosthesis

• Kuliah Pakar: Mr.

Rosli Bin Bidin -Universiti Malaya-

• Hands On

Raz Hotel and Convention 6-8 September 2019

Medan, Indonesia

SEMINAR ILMIAH YANG TELAH DIIKUTI

NO KEGIATAN TEMPAT/WAKTU

1

Pertemuan Ilmiah Ilmu Kedokteran Gigi 7

Hotel Horison

Bandung, 2-3 Februari 2018

2

2nd Medan International Prosthodontic Scientific Meeting

Santika Premiere Dyandra Hotel and Convention Medan, 30 Agustus – 1 September

2018

3

Prosthodontic Scientific Meeting Update

Best Westren Premier Hotel Solo, 2-4 Agustus 2019

(27)

xxi

xxi 4

12th Post Graduate Conference 2019

Balai Ungku Aziz Universiti Malaya

18-19 September 2019, Kuala Lumpur, Malaysia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN

DAFTAR ISTILAH ... i ABSTRAK ... ii ABSTRACT ... iv

(28)

xxii

KATA PENGANTAR ... vi DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... x DAFTAR ISI ... xvi DAFTAR GAMBAR ... xxi DAFTAR TABEL ... xxiii DAFTAR GRAFIK ... xxiv DAFTAR LAMPIRAN ... xxv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 ... 1.1 Latar Belakang

1

... 1.2 Permasalahan 8

1.3 Rumusan Masalah... 10 1.4 Tujuan Penelitian ... 12 ... 1.5 Manfaat Penelitian

13

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 13 ... 1.5.2 Manfaat Praktis

14

1.5.2.1 Manfaat Klinis ... 14 1.5.2.2 Manfaat Laboratoris ... 14

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 15 2.1 Basis Gigi Tiruan ... 15

(29)

xxiii

xxiii

2.2 Soft Denture Liner ... 18 2.2.1 Pengertian ... 18 2.2.2 Indikasi ... 19 2.2.3 Klasifikasi... 21 2.2.4 Soft Denture Liner Jangka Pendek ... 22 2.2.5 Soft Denture Liner Jangka Panjang ... 24 2.2.6 Plasticized Acrylic Resin (Soft Denture Liner Akrilik) ... 24 2.2.6.1 Soft Denture Liner Akrilik Polimerisasi Panas ... 25 2.2.6.2 Soft Denture Liner Akrilik Autopolimerisasi ... 26 2.2.7 Silicon Rubber (Soft Denture Liner Silikon) ... 27 2.2.7.1 Soft Denture Liner Silikon Polimerisasi Panas ... 27 2.2.7.2 Soft Denture Liner Silikon Autopolimerisasi ... 28 ... 2.3 Sifat Biologis Bahan Soft Denture Liner

29

2.3.1 Biokompabilitas ... 29 2.3.2 Pembentukan Koloni Mikroorganisme ... 29 2.3.2.1 Karakteristik Candida albicans ... 30 2.3.2.2 Isolasi Candida albicans ... 31 2.3.2.3 Penghitungan Jumlah Candida albicans ... 31 2.3.3 Faktor Penyebab Pertumbuhan Candida albicans

pada Soft Denture Liner ... 33 ... 2.4 Sifat Fisik Bahan Soft Denture Liner

33

2.4.1 Kekasaran Permukaan ... 33

(30)

xxiv

2.4.1.1 Metode Pengukuran Kekasaran Permukaan... 34 2.4.1.1.1 Profilometer ... 34 2.4.1.1.2 Scanning Electron Microscope ... 35 2.4.1.1.3 Atomic Force Microscope ... 37 2.4.2 Faktor yang mempengaruhi Kekasaran permukaan

Soft Denture Liner ... 38 2.5 Pembersihan Soft Denture Liner... 41 2.5.1 Metode Mekanis ... 41 2.5.2 Metode Kimia ... 42 2.5.3 Metode Kombinasi Mekanis Kimia ... 43 2.6 Sodium Hipoklorit ... 44 2.6.1 Komposisi dan Sifat Sodium Hipoklorit ... 44 2.6.2 Mekanisme Kerja Sodium Hipoklorit ... 45 2.6.3 Kelebihan dan Kekurangan Sodium Hipoklorit ... 45 2.7 Ricinus communis ... 46 2.7.1 Komposisi dan Sifat Ricinus communis ... 46 2.7.2 Mekanisme Kerja Ricinus communis ... 47 2.7.3 Kelebihan dan Kekurangan Ricinus communis ... 48 2.8 Pengaruh Sodium Hipoklorit terhadap Candida albicans

dan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner... 49 2.9 Pengaruh Ricinus communis terhadap Candida albicans

dan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner... 50 2.10 Kerangka Teori... 53

(31)

xxv

xxv

2.11 Kerangka Konsep ... 54 2.12 Hipotesis Penelitian ... 55

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 58 3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 58 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 58 3.2.1 Lokasi Pembuatan Sampel ... 58 3.2.2 Lokasi Persiapan dan Pengujian Sampel ... 58 3.2.3 Waktu Penelitian ... 59 3.3 Sampel dan Besar Sampel Penelitian ... 59 3.3.1 Sampel Penelitian ... 59

3.3.1.1 Sampel untuk Penghitungan Jumlah

Candida albicans ... 59 3.3.1.2 Sampel untuk Pengujian Kekasaran Permukaan .... 60 3.3.2 Besar Sampel Penelitian ... 60 3.4 Variabel Penelitian ... 62 3.4.1 Variabel Bebas ... 62 3.4.2 Variabel Terikat... 62 3.4.3 Variabel Terkendali ... 62 3.5 Definisi Operasional ... 63 3.6 Alat dan Bahan Penelitian ... 66 3.6.1 Alat yang digunakan untuk membuat sampel ... 66

(32)

xxvi

3.6.2 Alat yang digunakan untuk menguji sampel ... 67 3.6.3 Bahan Penelitian ... 67 3.7 Cara Penelitian ... 71 3.7.1 Proses Mengurus Surat Penelitian ... 71 3.7.2 Pembuatan Sampel Penelitian ... 71 3.7.3 Pembuatan Larutan Pembersih ... 74

3.7.3.1 Sodium Hipoklorit 0,5% ... 74 3.7.3.2 Ricinus communis 10% ... 74 3.7.4 Pengujian Sampel ... 75 3.7.4.1 Pengujian Jumlah Candida albicans ... 75 3.7.4.2 Pengujian Kekasaran Permukaan ... 79 3.8 Analisa Data ... 80 3.9 Kerangka Operasional Penelitian ... 82

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 84 4.1.Perbedaan Jumlah Candida albicans Pada Perendaman Soft Denture

Liner Akrilik Autopolimerisasi dan Soft Denture Akrilik Silikon Autopolimerisasi Dalam Larutan Sodium Hipoklorit 0,5%

dan Ricinus communis 10% ... 86 4.1.1 Perbedaan Jumlah Candida albicans Pada Perendaman Soft Denture Liner Akrilik Autopolimerisasi Setelah

Perendaman Dalam Sodium Hipoklorit 0,5% dan

Ricinus communis 10% ... 86

(33)

xxvii

xxvii

4.1.2 Perbedaan Jumlah Candida albicans Pada Perendaman Soft Denture Liner Silikon Autopolimerisasi Setelah

Perendaman Dalam Sodium Hipoklorit 0,5% dan

Ricinus communis 10% ... 89 4.2 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Akrilik Autopolimerisasi dan Soft Denture Liner Silikon Autopolimerisasi Dalam Larutan Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

terhadap kekasaran permukaan ... 91 4.2.1 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Akrilik

Autopolimerisasi Dalam Sodium Hipoklorit 0,5%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 91 4.2.2 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Akrilik

Autopolimerisasi Dalam Ricinus communis 10%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 92 4.2.3 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Silikon

Autopolimerisasi Dalam Sodium Hipoklorit 0,5%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 94 4.2.4 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Silikon

Autopolimerisasi Dalam Ricinus communis 10%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 95 4.3 Perbedaan Kekasaran Permukaan Pada Perendaman Soft Denture

Liner Akrilik Autopolimerisasi dan Soft Denture Akrilik Silikon Autopolimerisasi Dalam Larutan Sodium Hipoklorit 0,5%

(34)

xxviii

dan Ricinus communis 10% ... 97 4.3.1 Perbedaan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner

Akrilik Autopolimerisasi Setelah Perendaman

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 97 4.3.2 Perbedaan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner

Silikon Autopolimerisasi Setelah Perendaman

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 98

BAB 5 PEMBAHASAN ... 100 5.1.Perbedaan Jumlah Candida albicans Pada Perendaman Soft Denture

Liner Akrilik Autopolimerisasi dan Soft Denture Akrilik Silikon Autopolimerisasi Dalam Larutan Sodium Hipoklorit 0,5%

Dan Ricinus communis 10% ... 101 5.1.1 Perbedaan Jumlah Candida albicans Pada Perendaman

Soft Denture Liner Akrilik Autopolimerisasi Setelah Perendaman Dalam Sodium Hipoklorit 0,5% dan

Ricinus communis 10% ... 101 5.1.2 Perbedaan Jumlah Candida albicans Pada Perendaman

Soft Denture Liner Silikon Autopolimerisasi Setelah Perendaman Dalam Sodium Hipoklorit 0,5% dan

Ricinus communis 10% ... 103 5.2 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Akrilik Autopolimerisasi dan Soft Denture Liner Silikon Autopolimerisasi Dalam Larutan

(35)

xxix

xxix

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

terhadap kekasaran permukaan ... 104 5.2.1 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Akrilik

Autopolimerisasi Dalam Sodium Hipoklorit 0,5%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 104 5.2.2 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Akrilik

Autopolimerisasi Dalam Ricinus communis 10%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 105 5.2.3 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Silikon

Autopolimerisasi Dalam Sodium Hipoklorit 0,5%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 106 5.2.4 Pengaruh Perendaman Soft Denture Liner Silikon

Autopolimerisasi Dalam Ricinus communis 10%

Terhadap Kekasaran Permukaan ... 107 5.3 Perbedaan Kekasaran Permukaan Pada Perendaman Soft Denture

Liner Akrilik Autopolimerisasi dan Soft Denture Akrilik Silikon Autopolimerisasi Dalam Larutan Sodium Hipoklorit 0,5%

dan Ricinus communis 10%... 108 5.3.1 Perbedaan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner

Akrilik Autopolimerisasi Setelah Perendaman

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 108 5.3.2 Perbedaan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner

Silikon Autopolimerisasi Setelah Perendaman

(36)

xxx

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 109

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 111 6.1 Kesimpulan ... 111 6.2 Saran ... 112

DAFTAR PUSTAKA ... 114

(37)

xxxi

xxxi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Gambaran mikroskopik Candida albicans ... 31 2.2 Colony Counter ... 32 2.3 Profilometer ... 35 2.4 Prinsip kerja SEM ... 37 2.5 Prinsip kerja AFM ... 38 2.6 Struktur kimia ricinoleic acid ... 47 2.7 Mekanisme kerja ricinoleic acid ... 48 3.1 Bentuk sampel untuk penghitungan jumlah Candida albicans ... 59 3.2 Bentuk sampel untuk pengujian kekasaran permukaan ... 60 3.3 Master mold ... 60 3.4 SDL akrilik autopolimerisasi ... 67 3.5 SDL silikon autopolimerisasi ... 67 3.6 Tween 80 ... 68 3.7 Suspensi Candida albicans ... 68 3.8 Potato Dextrose Agar ... 69 3.9 Phosphate Buffered Saline ... 69 3.10 Aquabidest ... 69 3.11 NaOCl 0,5% ... 70 3.12 Ricinus communis murni... 70 3.13 Perbandingan bubuk dan cairan SDL akrilik ... 71 3.14 Perbandingan base dan catalyst SDL silikon ... 72 3.15 Proses pembuatan sampel ... 73 3.16 Pengerasan mold ... 73 3.17 Sampel dimasukkan dalam inkubator ... 74 3.18 Kontaminasi biakan Candida albicans ke dalam larutan

NaOCl 0,5% steril ... 75

(38)

xxxii

3.19 Inokulasi pada sampel SDL ... 76 3.20 Proses pelepasan Candida albicans pada sampel SDL ... 77 3.21 Pembenihan akhir Candida albicans pada media PDA ... 77 3.22 Seluruh sampel Candida albicans yang tumbuh di cawan petri ... 78 3.23 Penghitungan koloni dengan colony counter ... 78 3.24 Proses pengukuran kekasaran permukaan sampel dengan mesin AFM ... 80 4.1 Penghitungan jumlah Candida albicans menggunakan alat

colony counter ... 85 4.2 Gambaran hasil scan Atomic Force Microscope pada satu

bidang datar ... 86

(39)

xxxiii

xxxiii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1 Kandungan Klorin Dalam Sodium Hipoklorit ... 44 3.1 Definisi Operasional Variabel Bebas... 63 3.2 Definisi Operasional Variabel Terikat ... 64 3.3 Definisi Operasional Variebel Terkendali ... 65 4.1 Perbedaan Jumlah Candida albicans pada Soft Denture Liner

Akrilik Autopolimerisasi Setelah Perendaman Dalam

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 88 4.2 Perbedaan Jumlah Candida albicans pada Soft Denture Liner

Silikon Autopolimerisasi Setelah Perendaman Dalam

Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 90 4.3 Pengaruh Perendaman SDL Akrilik Autopolimerisasi Dalam Sodium

Hipoklorit 0,5% Terhadap Kekasaran Permukaan ... 92 4.4 Pengaruh Perendaman SDL Akrilik Autopolimerisasi Dalam

Ricinus communis 10% Terhadap Kekasaran Permukaan ... 93 4.5 Pengaruh Perendaman SDL Silikon Autopolimerisasi Dalam Sodium

Hipoklorit 0,5% Terhadap Kekasaran Permukaan ... 95 4.6 Pengaruh Perendaman SDL Silikon Autopolimerisasi Dalam

Ricinus communis 10% Terhadap Kekasaran Permukaan ... 96 4.7 Perbedaan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner Akrilik

Autopolimerisasi Setelah Perendaman Sodium Hipoklorit 0,5%

dan Ricinus communis 10% ... 97 4.8 Perbedaan Kekasaran Permukaan Soft Denture Liner Silikon

Autopolimerisasi Setelah Perendaman Sodium Hipoklorit 0,5%

dan Ricinus communis 10% ... 99

(40)

xxxiv

(41)

xxxv

xxxv

DAFTAR GRAFIK

Grafik Halaman

4.1 Perbedaan Jumlah Candida albicans pada SDL Akrilik Autopolimerisasi

Setelah Perendamaan dengan Larutan Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 88 4.2 Perbedaan Jumlah Candida albicans pada SDL Silikon Autopolimerisasi

Setelah Perendamaan dengan Larutan Sodium Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 90 4.3 Perbedaan Selisih Nilai Kekasaran Permukaan pada SDL Akrilik

Autopolimerisasi Setelah Perendamaan dengan Larutan Sodium

Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 98 4.4 Perbedaan Selisih Nilai Kekasaran Permukaan pada SDL Silikon

Autopolimerisasi Setelah Perendamaan dengan Larutan Sodium

Hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% ... 99

(42)

xxxvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Ethical Clearance dari Komite Etik Penelitian USU

2. Surat Keterangan Izin Penelitian di Laboratorium Penelitan Fisika Material FMIPA, UNSYIAH

3. Surat Keterangan Izin Penelitian di Laboratorium Penelitan Fakultas Farmasi, USU 4. Surat Keterangan Izin Penelitian di Laboratorium Penelitan Departemen

Prostodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, USU 5. Hasil Scanning AFM

6. Hasil Uji Statistik

(43)

xxxvii

xxxvii

(44)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manajemen pasien prostodontik sangat berhubungan dengan upaya mempertahankan dan menjaga kesehatan jaringan struktur pendukung gigi tiruan ketika berfungsi (Huddar, dkk., 2012). Basis gigi tiruan merupakan bagian dari gigi tiruan yang bersandar pada jaringan lunak (Veeralyan, 2017). Secara umum, basis gigi tiruan dapat terbuat dari bahan logam dan non-logam (Gunadi, 2012; Tandon, 2010).

Bahan logam biasanya merupakan campuran logam (alloy) seperti Ni-Cr dan Co-Cr, sedangkan bahan non-logam biasanya terbuat dari bahan polimer (Zarb, dkk., 2012;

Power, 2008). Bahan basis gigi tiruan dari polimer dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan reaksi termalnya, yaitu termoplastik dan termoset. Bahan termoplastik adalah polimer yang jika dipanaskan pada suhu dan tekanan tertentu akan menjadi lunak, tetapi akan kembali seperti semula jika didinginkan, contohnya adalah thermoplastic nylon. Bahan termoset adalah bahan yang mengalami perubahan kimia dalam proses pembuatan dan pembentukannya, contohnya cross-linked poly(methyl methacrylate) atau resin akrilik (Tandon, 2010; Zarb, dkk., 2012).

Bahan basis gigi tiruan akrilik merupakan bahan yang paling sering dipakai dalam kasus kehilangan gigi dan biasanya digunakan untuk pembuatan protesa maksilofasial, gigi tiruan sebagian lepasan, dan gigi tiruan penuh. Salah satu sifat basis gigi tiruan adalah bersifat kaku, sehingga dapat menyebabkan cedera pada mukosa alveolar pada kasus kompleks, seperti linggir alveolar yang tajam, linggir atropi

(45)

2

2

maupun pasien dengan mukosa yang tipis dan tidak lenting (Huddar, dkk., 2012;

Suapaneni, dkk., 2013). Untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakan soft denture liner (SDL). Soft denture liner diindikasikan untuk pasien dengan linggir atropi, linggir tajam (knife edge), xerostomia, dan untuk menutupi jaringan pasca bedah (Geramipanah, dkk., 2013; Kaur, dkk., 2011).

Soft denture liner merupakan suatu bahan berbasis akrilik atau silikon yang berfungsi untuk menggantikan permukaan intaglio pada basis gigi tiruan yang bersifat resilient untuk mendapatkan distribusi tekanan yang merata, mengurangi tekanan lokal, dan meningkatkan retensi dari ill-fitting denture dengan memanfaatkan undercut yang ada (Suapaneni, dkk., 2013; Geramipanah, dkk., 2013; Kaur, dkk., 2011). Saat ini, soft denture liner diklasifikasikan berdasarkan waktu penggunaanya terbagi atas dua tipe, yaitu jangka pendek dan jangka panjang (Geramipanah, dkk., 2013; Hashem, 2015).

SDL tipe jangka pendek disebut dengan tissue conditioner dengan waktu pemakaian kurang dari 30 hari yang diindikasikan untuk pemakaian gigi tiruan pada kasus pasca bedah atau pasca pencabutan gigi (Alapatt, dkk., 2015), sedangkan SDL tipe jangka panjang berbahan dasar akrilik (plasticizer acrylic resin) maupun silikon (silicon elastomer) yang terbagi menjadi tipe autopolimerisasi dan polimerisasi panas. Bahan SDL tipe jangka panjang yang sering digunakan saat ini adalah tipe autopolimerisasi baik yang berbahan dasar akrilik maupun berbahan dasar silikon, hal ini karena waktu kunjungan klinik yang lebih singkat serta harga yang lebih murah dengan jangka waktu pakai yang hampir sama dengan bahan SDL polimerisasi panas.

Syarat ideal dari bahan SDL antara lain: mudah dimanipulasi, perubahan dimensi yang minimal, penyerapan air minimal, mampu mempertahankan

(46)

3

kelenturannya, mudah dibersihkan, tidak mengalami perubahan warna, tidak mengalami tarnish, tidak berasa dan berbau, estetik yang baik, tidak larut dalam air, memiliki ketebalan minimal 2-3 mm, tidak menyebabkan kolonisasi bakteri dan jamur, tidak berubah bentuk, dan memiliki bond strength yang kuat dengan basis gigi tiruan (Jaboinski, dkk., 2015; Zarb, dkk., 2012). Berdasarkan beberapa studi, ditemukan adanya penurunan sifat bahan seiring berjalannya waktu (Usta, 2016).

Soft denture liner memiliki sifat biologis, sifat mekanis, sifat fisik, dan sifat kimia. Sifat biologis merupakan biokompatibilitas suatu bahan sehingga dapat diterima di dalam rongga mulut tanpa menyebabkan efek toksis dan alergi maupun iritasi jaringan serta terbebas dari kolonisasi mikroba seperti Candida albicans. Sifat mekanis merupakan kekuatan kompresi dari bahan, kekerasan (hardness), dan kekuatan lekat bahan dengan basis gigi tiruan dan merupakan faktor ketahanan dari SDL. Sifat fisik merupakan kekasaran permukaan, stabilitas dimensi dan stabilitas warna yang merupakan faktor kemampuan bahan untuk mempertahankan bentuk permukaan, dimensi dan warna selama pemakaian di dalam rongga mulut maupun saat dibersihkan sehingga tidak memperparah kolonisasi mikroba. Sifat kimia merupakan penyerapan air dan solubilitas bahan yang harus minimal saat pemakaian dalam rongga mulut maupun saat direndam dalam larutan pembersih (Hashem, 2015; Usta, 2016; Chladek, dkk., 2014).

Soft denture liner yang digunakan didalam rongga mulut dapat menyebabkan akumulasi plak yang merupakan kolonisasi dari mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Hal ini menyebabkan lingkungan rongga mulut menjadi anaerobik. Lingkungan anerobik dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme yang berlebihan terutama

(47)

4

4

Candida albicans (Segundo, dkk., 2014). Candida albicans merupakan mikroorganisme penyebab utama terjadinya denture stomatitis (Badaro, dkk., 2019).

Kondisi ini menyebabkan inflamasi kronis pada mukosa di bawah SDL dan pada kondisi yang parah dapat menimbulkan ketidaknyamanan pasien (Salles, 2015).

Permasalahan lainnya pada pasien pengguna gigi tiruan dengan SDL adalah permukaan interfasial antara SDL dan basis gigi tiruan sulit dipoles serta penyerapan air dan saliva pada bahan SDL yang akan memperparah akumulasi mikroorganisme sehingga SDL harus dibersihkan secara berkala (Muralidhar, dkk., 2012).

Soft denture liner harus dibersihkan secara berkala dengan bahan pembersih yang memiliki efek antimikroba yang dapat mengeliminasi Candida albicans yang berlebihan. Metode pembersihan gigi tiruan terbagi atas metode mekanis, kemis, dan kemis mekanis. Metode pembersihan secara mekanis akan meningkatkan kekasaran permukaan SDL dan basis gigi tiruan sehingga permukaan basis gigi tiruan dan SDL menjadi irregular, hal ini akan mempermudah akumulasi plak, kolonisasi Candida albicans dan hilangnya elastisitas bahan SDL (Usta, dkk., 2016; Mancuso, 2012).

Metode pembersihan yang direkomendasi adalah secara kimia dengan perendaman dalam bahan pembersih (Farzin, dkk., 2013), namun perendaman dalam bahan pembersih dapat menyebabkan perubahan sifat fisik bahan yaitu terlepasnya komponen soluble yaitu plasticizer dari SDL akrilik maupun terjadinya penyerapan air pada filler bahan SDL silikon. Perendaman SDL akrilik dalam bahan pembersih akan menyebabkan 2 reaksi, yaitu pertama, plasticizer dan soluble agent akan masuk ke dalam cairan, dan yang kedua polimer akan menyerap cairan sehingga menyebabkan perubahan sifat fisis dan mekanis dari bahan SDL (Mahboub, 2017). Ekstrusi

(48)

5

plasticizer ke cairan akan menyebabkan hilangnya elastisitas dan perubahan sifat viskoelastis dari bahan dan menyebabkan SDL menjadi rigid dan getas (mudah robek) serta menyebabkan microporosity dan terbentuknya crater (Huddar, dkk., 2012;

Pahuja, dkk., 2013), sedangkan pada bahan SDL silikon, filler yang terkandung dalam bahan silikon akan menyerap molekul air, banyaknya penyerapan tersebut akan tergantung pada hydrophobicity dan porositas bahan silikon (Pisani, dkk., 2010).

Perendaman SDL dalam bahan pembersih dapat menyebabkan peningkatan kekasaran permukaan SDL dan menyebabkan akumulasi plak sehingga terjadi kolonisasi jamur dan bakteri dalam jangka waktu yang lama (Hashem, 2015; Mahboub, 2017; Badaro, dkk., 2017). Peningkatan kekasaran yang masih dapat ditoleransi oleh permukaan bahan tanpa menyebabkan kolonisasi plak adalah di bawah 0,2µm (Badaro, dkk., 2017). Bahan pembersih yang dipilih harus memiliki efektivitas antimikroba yang baik tanpa menyebabkan perubahan sifat bahan yang signifikan contohnya kekasaran permukaan (Badaro, dkk., 2017, Mohammed, dkk., 2016).

Bahan pembersih yang digunakan secara umum terbagi atas bahan alami, dan buatan. Bahan alami biasanya terbuat dari campuran ekstrak tumbuhan atau hewan.

WHO (World Health Organization) menyarankan penggunaan bahan-bahan alami yang merupakan turunan dari hewan, tumbuh-tumbuhan maupun mineral alami (Pisani, 2012). Banyak tumbuh-tumbuhan telah diketahui dan diteliti memiliki efek antimikroba dan biokompatibel dengan mahluk hidup dan bisa didapatkan dengan harga yang relatif murah. Salah satu contohnya adalah Ricinus communis/castor oil (Pisani, 2012; Badaro, dkk., 2016; Andarde, dkk., 2014). Bahan buatan biasanya terbuat dari campuran anion dan kation atau protein yang membentuk senyawa,

(49)

6

6

contohnya adalah sodium hipoklorit, alkalin peroksida dan enzim (Kaur, dkk., 2014, Salles, dkk., 2015).

Salah satu bahan pembersih gigi tiruan yang umum digunakan adalah sodium hipoklorit (NaOCl). Sodium hipoklorit merupakan bahan pembersih berspektrum luas dan telah diakui oleh American Dental Association (ADA) sebagai bahan pembersih dan agen desinfektan dengan berbagai konsentrasi (Badaro, dkk., 2019). Sodium hipoklorit dapat membersihkan gigi tiruan dalam waktu singkat, namun kekurangannya adalah rasa dan bau yang tidak sedap (Mahboub, dkk., 2017; Badaro, dkk., 2017).

Bahan pembersih lainnya yang saat ini sedang dikembangkan adalah penggunaan bahan alami dari tumbuhan Ricinus communis. Ricinus communis memiliki kandungan ricinoleic acid yang telah banyak digunakan di dunia kedokteran gigi (endodonsia, periodonsia dan prostodonsia) dikarenakan memiliki sifat anti inflamasi dan efek antimikroba (Badaro, dkk., 2016; Andarde, dkk., 2014). Larutan ini mempunyai karakteristik yang baik untuk sebagai pembersih gigi tiruan karena bersifat deterjen yang baik serta aktivitas anti mikroba yang dapat memecahkan molekul glukosa dari dinding sel mikroba dan jamur patogen serta rasa dan bau yang dapat ditoleransi pasien (Badaro, dkk., 2016). Gigi tiruan harus direndam dalam larutan pembersih setiap hari dengan waktu perendaman yang efektif adalah 20 menit (Salles, 2015; Rabah, 2017).

Arruda, dkk., (2016) dalam penelitiannya melihat efektivitas bahan pembersih sodium hipoklorit 0,1%; sodium hipoklorit 0,2%; dan Ricinus communis 8% terhadap biofilm pada gigi tiruan resin akrilik dan menemukan bahwa secara signifikan menurunkan jumlah Candida albicans, dan sodium hipoklorit 0,2% dan Ricinus communis 8% memiliki efek yang sama. Porta, dkk., (2013) dalam penelitiannya

(50)

7

menemukan bahwa sodium hipoklorit dengan konsentrasi 0,5% memiliki efek antimikroba yang terbaik sebagai bahan pembersih gigi tiruan akrilik. Salles, dkk., (2015) dalam penelitiannya melihat efektivitas bahan pembersih terhadap bahan akrilik menemukan bahwa larutan sodium hipoklorit 0,25%, sodium hipoklorit 0,5% , dan Ricinus communis 10%, menemukan bahwa sodium hipoklorit 0,25% dan 0,5%

memiliki efek antimikroba yang signifikan terhadap Candida albicans, namun Ricinus communis 10% tidak memiliki efek yang signifikan (p = 0,001). Badaro, (2016) dalam penelitiannya, sodium hipoklorit 0,25%, sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% menemukan bahwa semua larutan memiliki efek antimikroba yang signifikan, namun efektivitas yang paling baik adalah larutan Ricinus communis 10%

dengan remisi koloni Candida albicans sebesar 50%, kemudian diikuti sodium hipoklorit 0,5% dengan remisi koloni Candida albicans sebesar 46%.

Pisani, dkk., (2012) dalam penelitiannya untuk melihat pengaruh perendaman bahan sodium hipoklorit dan Ricinus communis terhadap kekasaran permukaan gigi tiruan akrilik, menemukan terdapat peningkatan kekasaran permukaan pada bahan akrilik setelah perendaman dalam larutan Ricinus communis 2%, namun tidak terjadi peningkatan kekasaran yang signifikan dalam perendaman larutan 1% sodium hipoklorit. Badaro, dkk., (2014) menemukan tidak ada peningkatan kekasaran permukaan resin akrilik polimerisasi panas yang signifikan setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,25%; sodium hipoklorit 0,5%; dan Ricinus Communis 10%. Sena, dkk., (2011) dalam penelitiannya untuk melihat pengaruh waktu perendaman terhadap kekasaran permukaan SDL akrilik dan silikon dengan waktu perendaman yang berbeda menemukan terdapat peningkatan kekasaran permukaan SDL yang signifikan setelah

(51)

8

8

perendaman dalam larutan sodium hipoklorit 0,5%; namun peningkatan kekasaran SDL akrilik lebih besar daripada silikon.

Pemilihan bahan pembersih secara selektif sangat penting untuk mencegah akumulasi Candida albicans dan meminimalisasi perubahan kekasaran SDL. Hasil penelitian Salles, dkk., (2015) menemukan larutan Ricinus communis 10% tidak memiliki efek antimikroba yang signifikan terhadap Candida albicans, sedangkan hasil penelitian Badaro, dkk., (2016) menemukan bahwa larutan Ricinus communis 10%

memiliki efek antimikroba yang signifikan dan paling baik apabila dibandingkan dengan sodium hipoklorit. Adanya hasil penelitian yang berbeda sebelumnya mengenai efektivitas larutan Ricinus communis 10% untuk mengurangi jumlah Candida albicans serta saat ini belum ada penelitian tentang pengaruh perendaman terhadap perubahan kekasaran permukaan dari SDL pada larutan Ricinus communis 10%, menyebabkan peneliti tertarik untuk melihat pengaruh bahan pembersih Ricinus communis dan sodium hipoklorit terhadap jumlah Candida albicans dan kekasaran permukaan soft denture liner.

1.2 Permasalahan

Soft denture liner saat ini merupakan alternatif untuk mengatasi masalah yang timbul pada pasien pemakai gigi tiruan karena dapat mengembalikan retensi dan stabilitas gigi tiruan serta kenyamanan pasien terutama pada kasus kompleks misalnya pada pasien edentulous dengan linggir atropi, tajam, undercut tulang yang banyak, pasien dengan atropi mukosa, pasien yang mukosanya tidak dapat menerima tekanan gigitiruan, pasien yang merasakan nyeri mukosa yang berkepanjangan (Pisani, 2010).

(52)

9

Soft denture liner perlu dibersihkan bersamaan dengan gigi tiruan setiap harinya untuk mencegah akumulasi plak. Namun, tantangan yang harus dihadapi adalah kekurangan dari soft denture liner yaitu tidak dapat dibersihkan dengan cara mekanis karena dapat menyebabkan terjadinya gesekan yang merusak permukaan SDL, sehingga perlu pembersihan secara kimia, yaitu dengan perendaman, sehingga pemilihan bahan pembersih yang efektif dalam mencegah akumulasi plak serta memiliki efek entimikroba yang baik menjadi sangat penting. Selain daripada hal tersebut, perendaman SDL dalam larutan pembersih memungkinkan terjadinya perubahan sifat dari SDL, yaitu terjadinya porositas akibat dari penyerapan air yang menyebabkan molekul air masuk dan menggantikan komponen cross linking pada SDL akrilik serta filler silikon yang menyerap air sehingga menyebabkan rusaknya ikatan rantai polimer silikon. Hal ini akan menyebabkan perubahan kekasaran permukaan SDL yang justru semakin mempermudah akumulasi plak akibat permukaan yang tidak rata, meskipun mekanisme perubahan kekasaran berbeda antara SDL akrilik dan silikon.

Beberapa jenis bahan pembersih telah diaplikasikan sebagai bahan pembersih gigi tiruan, di antaranya adalah sodium hipoklorit dan Ricinus communis.

Sodium hipoklorit sudah diterima oleh American Dental Association (ADA) sebagai bahan pembersih gigitiruan dan sebagai bahan desinfeksi dengan konsentrasi yang beragam, namun hingga saat ini belum banyak penelitian mengenai pengaruh perendaman bahan pembersih Ricinus communis terhadap kekasaran permukaan pada SDL. Hal ini disebabkan bahan pembersih tersebut belum tersedia dalam kemasan di pasaran dan belum diakui oleh ADA seperti sodium hipoklorit karena masih perlu

(53)

10

10

diteliti lebih lanjut mengenai efek antimikrobanya serta pengaruhnya terhadap sifat SDL setelah perendaman dalam jangka waktu yang lama.

Hasil penelitian Salles, dkk., (2015) menemukan bahwa larutan Ricinus communis 10% tidak memiliki efek antimikroba yang signifikan terhadap Candida albicans, sedangkan hasil penelitian Badaro, dkk., (2016) menemukan larutan Ricinus communis 10% memiliki efek antimikroba yang signifikan dan paling baik apabila dibandingkan dengan sodium hipoklorit. Hingga saat ini belum ada penelitian tentang pengaruh perendaman terhadap perubahan kekasaran permukaan dari soft denture liner pada larutan Ricinus communis 10%. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pengaruh perendaman SDL dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% terhadap jumlah Candida albicans dan kekasaran permukaan SDL akrilik dan silikon autopolimerisasi yang sering digunakan oleh klinisi pada masa kini.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan hal- hal yang diuraikan pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Perbedaan jumlah Candida albicans pada soft denture liner akrilik autopolimerisasi dan soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam larutan sodium hipoklorit 0,5%

dan Ricinus communis 10%

1.1 Apakah ada perbedaan jumlah Candida albicans pada soft denture liner akrilik autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%?

(54)

11

1.2 Apakah ada perbedaan jumlah Candida albicans pada soft denture liner silikon autopolimerisasi dan soft denture liner silikon autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%?

2. Pengaruh Perendaman soft denture liner akrilik autopolimerisasi dan soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% terhadap kekasaran permukaan.

2.1 Apakah ada pengaruh perendaman soft denture liner akrilik autopolimerisasi dalam sodium hipoklorit 0,5% terhadap kekasaran permukaan?

2.2 Apakah ada pengaruh perendaman soft denture liner akrilik autopolimerisasi dalam Ricinus communis 10% terhadap kekasaran permukaan?

2.3 Apakah ada pengaruh perendaman soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam sodium hipoklorit 0,5% terhadap kekasaran permukaan?

2.4 Apakah ada pengaruh perendaman soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam Ricinus communis 10% terhadap kekasaran permukaan?

3. Perbedaan kekasaran permukaan soft denture liner akrilik dan silikon autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%.

3.1 Apakah ada perbedaan kekasaran permukaan soft denture liner akrilik autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%?

3.2 Apakah ada perbedaan kekasaran permukaan soft denture liner silikon autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%?

(55)

12

12 1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Perbedaan jumlah Candida albicans pada soft denture liner akrilik autopolimerisasi dan soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

1.1 Mengetahui perbedaan jumlah Candida albicans pada soft denture liner akrilik autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

1.2 Mengetahui perbedaan jumlah Candida albicans pada soft denture liner silikon autopolimerisasi dan soft denture liner silikon autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

2. Pengaruh Perendaman soft denture liner akrilik autopolimerisasi dan soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10% terhadap kekasaran permukaan.

2.1 Mengetahui pengaruh perendaman soft denture liner akrilik autopolimerisasi dalam sodium hipoklorit 0,5% terhadap kekasaran permukaan

2.2.Mengetahui pengaruh perendaman soft denture liner akrilik autopolimerisasi dalam Ricinus communis 10% terhadap kekasaran permukaan

2.3 Mengetahui pengaruh perendaman soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam sodium hipoklorit 0,5% terhadap kekasaran permukaan

2.4 Mengetahui pengaruh perendaman soft denture liner silikon autopolimerisasi dalam Ricinus communis 10% terhadap kekasaran permukaan

(56)

13

3. Perbedaan kekasaran permukaan soft denture liner akrilik dan silikon autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

3.1 Mengetahui perbedaan kekasaran permukaan soft denture liner akrilik autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

3.2 Mengetahui perbedaan kekasaran permukaan soft denture liner silikon autopolimerisasi setelah perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan Ricinus communis 10%

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah wawasan dan pengetahuan bidang kedokteran gigi tentang pengaruh perendaman larutan pembersih gigitiruan buatan dan alami pada soft denture liner akrilik dan silikon autopolimerisasi terhadap efektivitas antimikroba terutama Candida albicans serta pengaruhnya terhadap kekasaran permukaan

2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian yang lebih lanjut mengenai pengaruh perendaman bahan pembersih alami Ricinus communis terhadap sifat soft denture liner lainnya.

(57)

14

14 1.5.2 Manfaat Praktis

1.5.2.1 Manfaat Klinis

Manfaat klinis penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan pertimbangan bagi dokter gigi dalam memilih bahan soft denture liner sebagai bahan relining dan jenis bahan yang terbaik untuk desinfeksi bahan soft denture liner.

2. Sebagai bahan masukan bagi dokter gigi dan pasien yang menggunakan soft denture liner untuk menggunakan bahan pembersih yang tidak menyebabkan perubahan kekasaran permukaan soft denture liner.

1.5.2.2 Manfaat Laboratoris

Manfaat laboratoris penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan untuk membuat bahan pembersih yang cocok digunakan pada soft denture liner.

(58)

15 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Basis Gigi Tiruan

Basis gigi tiruan adalah bagian dari gigi tiruan yang bersandar pada jaringan lunak rongga mulut (The Glossary of Prosthodontic Terms, 2017). Fungsi basis gigi tiruan adalah menggantikan tulang alveolar yang sudah hilang, mengembalikan estetis wajah, menyalurkan tekanan oklusal ke jaringan pendukung gigi, linggir sisa alveolar atau gigi penyangga, mempertahankan residual ridge dan tempat untuk melekatkan komponen gigi tiruan lainnya seperti anasir gigi tiruan, occlusal rest, lengan retentif dan lengan resiprokal pada gigi tiruan dari bahan resin akrilik (Carr, dkk., 2011).

Menurut International Organization for Standardization (ISO), syarat bahan basis gigi tiruan yang ideal adalah sebagai berikut:

a. Biokompatibel berarti tidak bersifat toksik dan non iritan

b. Karakteristik permukaan: permukaan halus, keras, dan mengkilap c. Warna: translusen dan merata

d. Stabilitas warna: tidak boleh menunjukkan lebih dari sedikit perubahan warna.

e. Tidak terdapat porositas

f. Kekuatan fleksural: lebih dari 60-65 MPa

g. Modulus elastisitas: minimal 2000 MPa untuk polimer yang dipolimerisasi dengan panas dan 1500 MPa untuk polimer autopolimerisasi

Gambar

Gambar 2.2. Colony Counter
Gambar 2.4. Prinsip kerja SEM (Choudhary, 2017)
Gambar 2.5. Prinsip kerja AFM (Kyeyune, 2017)
Tabel 2.1. Kandungan klorin dalam sodium hipoklorit (Dvorak, dkk., 2008)  Sodium Hipoklorit (%)  Kandungan Klorin (ppm)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ampul dibuat dari bahan gelas tidak berwarna akan tetapi untuk bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan ampul yang terbuat dari bahan gelas

 Dalam welfare state, hak kepemilikan diserahkan kepada swasta sepanjang hal tersebut memberikan insentif ekonomi bagi pelakunya dan tidak merugikan secara sosial,

Buton Utara surat izin belajar/pernyataan mengikuti studi lanjut 365 15201002710242 DARWIS SDN 5 Wakorumba Utara Kab... Peserta Nama Peserta

1) Persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, persepsi manfaat, dan persepsi biaya secara simultan berpengaruh terhadap niat menggunakan PC Tablet

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka di dapat rumusan masalah yaitu, “Bagaimana menerapkan aplikasi data mining penjualan motor

Inkubasi tabung mikrosentrifus kedua selama 10 menit pada temperatur ruang (bolak-balikkan tabung 2-3 kali selama masa inkubasi) untuk melisis sel-sel darah

Berita yang terkait dengan garis atau area ditampilkan dalam bentuk chartlet untuk membantu pelaut mengetahui posisi suatu objek, Contoh : Peletakan kabel laut

Lokasi yang berdekatan dengan muara sungai, tidak dianjurkan untuk pembesaran Ikan Kerapu Macan karena lokasi tersebut salinitasnya sangat berfluktuasi karena