• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berkhas Kliping Juni 2008 Agraria-Juni 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Berkhas Kliping Juni 2008 Agraria-Juni 2008"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME VI JUNI 2008

(2)

Berkhas merupakan salah satu media Akatiga yang menyajikan kumpulan berita dari berbagai macam surat kabar, majalah, serta sumber berita lainnya. Jika pada awal penerbitannya kliping yang ditampilkan di Berkhas dilakukan secara konvensional, maka saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-download berita dari situs-situs suratkabar, majalah, serta situs-situs berita lainnya.

Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.

(3)

D a f t a r I si

Pemerintah naikkan subsidi pupuk jadi Rp13 triliun --- 1

15 Hektare Sawah Indramayu Terancam Kekeringan --- 3

Bangkitlah Pertanianku, Jayalah Negeriku --- 4

Kedaulatan Pangan Dicapai dengan Teknologi--- 6

Pengeluaran Petani Membengkak--- 7

Petani Lebih Butuh Pompa Air Dibanding BLT--- 8

Petani Keluhkan Harga Rosela Anjlok --- 9

Stok Bulog Cukup buat Enam Bulan --- 10

Banyak Petani Tidak Menggarap Lahan akibat Kurang Air --- 11

Nilai Tukar Petani Turun 4,93 Persen --- 13

Petani Butuh Dana Sertifikasi Lahan --- 14

Pupuk Kosong, Petani Terlambat Memupuk --- 15

Sembilan DAS Kritis --- 16

Petani Minta Harga Diproteksi --- 17

Harga Beras Bakal Naik --- 18

Kemarau Lebih Awal, Petani Tanam Palawija --- 20

TPA Galuga Rusak Sawah --- 21

Masih Minim, Lahan Terbuka Hijau --- 22

Perlu Cadangan Pangan untuk Warga Miskin --- 23

Beras Mahal, Penyaluran Raskin Tersendat --- 24

Ribuan Hektar Sawah di Banten Kekeringan --- 25

Harga Karet Membaik, Para Petani Bergairah --- 26

Hama Tikus Mengganas di Kabupaten Tabanan --- 27

100.000 Hektare Sawah Puso --- 28

Ratusan ha Sawah Terancam Kekeringan --- 29

45 Persen Lahan Jagung Ditanami Hibrida --- 30

Sembilan DAS Kritis Lahan Pertanian Terancam --- 32

Alokasi Pupuk Tidak Sesuai dengan Usulan --- 34

Bukan Konsep Pangan, tapi Reforma Agraria --- 35

Petani Kakao Sulsel Sulit Berantas Hama --- 37

(4)

Petani Merugi Jutaan Rupiah --- 41

Petani Protes Penertiban Pupuk oleh Polisi --- 43

Produksi Beras Akan Ditarget --- 44

Kelangkaan Pupuk Akibat Pemakaian Melebihi Dosis --- 46

Kabupaten Tangerang Kembangkan Padi Organik --- 47

Tangerang Jadi Sentra Padi Organik --- 48

Bulog Pastikan Mampu Jaga Pangan --- 49

Bulog Sulit Serap Beras --- 51

Harga Urea Capai Rp 75.000 Per Zak --- 52

Ratusan Hektar Tanaman Padi Terancam Puso --- 54

'Krisis Pangan Indonesia Hanya Sebentar' --- 55

Produksi Padi Sumut Aman --- 57

4 Komoditas pangan diatur secara khusus --- 58

Depok Hasilkan 5.682 Ton Padi --- 60

Pengadaan Bulog Tidak Terganggu --- 61

Inspirasi Pembangunan Pertanian Terpadu NTT --- 62

Petani Membakar Tanaman Padi --- 64

Kekeringan Meluas --- 66

Krisis Pangan Global dan MDGs--- 68

Kekeringan, tetapi Surplus --- 70

Harga Pupuk Bersubsidi di Atas Harga Eceran Tertinggi --- 71

Kovenan Ekosob dan Soal Pangan --- 72

Krisis Pangan dan Solidaritas --- 74

Luas Sawah Kering Menurun --- 76

Pupuk Langka --- 77

Penjualan Pupuk dengan “Smart Card” Bisa Diterapkan --- 78

Sawah di Konawe Terancam Gagal Panen --- 79

Harga Pupuk Masih di Atas HET--- 80

Petani Berharap Pemerintah Perbaiki Irigasi --- 81

Subsidi Tahun 2009 Tergantung Bahan Baku --- 82

BLT untuk 'pahlawan pangan' --- 84

(5)

Hak Asasi Petani dan Reforma Agraria --- 90

Masalah Pertanian Akan Selalu Muncul --- 92

Petani Sulit Dapat Pupuk--- 93

Sedimentasi Irigasi Jeuram Makin Parah --- 94

Petani Mengeluh Harga Benih Naik 90 Persen --- 95

Atasi Kelangkaan Pupuk di Bengkulu --- 96

Harga Pupuk Nonsubsidi Meningkat Tajam --- 97

Petani Sebaiknya Beralih ke Pupuk Organik --- 98

Tanaman Padi Dibiarkan ---100

Prabowo: Petani Harus Sejahtera ---102

Bendungan Kayu Ini untuk Menyelamatkan Sawah Kami... ---103

(6)

Bisnis I ndonesia Senin, 02 Juni 2008

Pe m e r in t a h n a ik k a n su b sid i p u p u k j a d i Rp 1 3 t r iliu n

JAKARTA: Pemerintah akhirnya menaikkan subsidi pupuk dari Rp7,6 triliun pada 2007 menjadi Rp13 triliun atau hampir dua kali lipatnya, tetapi pelaksanaannya menunggu proses yang sedang berlangsung.

Mentan Anton Apriyantono mengatakan kenaikan subsidi pupuk tersebut merupakan kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum lama ini. "Pemerintah sudah setuju terhadap rencana kenaikan subsidi," katanya seusai melakukan panen padi bantuan pemerintah pascabanjir di Sragen, pekan lalu.

Namun, lanjutnya, realisasinya masih harus menunggu persetujuan dari lembaga DPR, sampai saat ini rencana kenaikan subsidi Rp13 triliun itu masih dalam pembahasan di tingkat legislatif.

Anton berharap para wakil rakyat segera meloloskan pengajuan kenaikan subsidi pupuk bagi petani.

Dia menyebutkan pemerintah memahami kesulitan petani sehubungan dengan kenaikan BBM yang tidak bisa dihindari itu. Karena itu pemerintah segera meluncurkan kenaikan subsidi pupuk yang besarannya hampir mencapai dua kali lipat.

Dirut PT Pupuk Sriwidjaja Dadang Heru Kodri mengatakan lonjakan harga bahan baku (amoniak dan fospat) semakin membebani produsen dan menyebabkan harga pokok penjualan (HPP) ikut naik.

"Untuk mempertahankan harga eceran tertinggi (HET) perlu ada tambahan subsidi sesuai dengan kenaikan harga-harga bahan baku. Saat ini dibahas di tim pupuk di bawah koordinasi Deputi Menko Perekonomian," katanya melalui pesan singkat kepada Bisnis.

Dadang menambahkan pekan ini masih dilaksanakan koordinasi untuk mengoptimalkan beban negara dengan kondisi korporasi. Saat ini, alokasi subsidi pupuk yang ditetapkan dalam APBN-P 2008 hanya Rp7,8 triliun, sedangkan BUMN pupuk membutuhkan alokasi subsidi tahun ini minimal menjadi Rp15 triliun, seiring dengan biaya produksi yang melonjak.

Dirut PT Petrokimia Gresik (Petrogres) Arifin Tasrif mengatakan kenaikan bahan baku sangat memberatkan produsen, sebab perusahaan harus mendanai dahulu modal kerja.

Tagih pemerintah

"Modal kerja meningkat sangat drastis sekitar tiga atau empat kali lipat dari yang biasa. Untungnya kami didukung sumber pendanaan yang kuat, tentunya nanti akan kami tagih ke pemerintah," katanya, seusai mengikuti Penandatanganan Pakta Integritas di lingkungan Pusri Holding, akhir pekan lalu

Menurut dia, Petrogres sudah mendapat dukungan pendanaan dari sejumlah perbankan nasional, untuk menutupi tambahan modal kerja yang membengkak.

(7)

Bisnis I ndonesia Senin, 02 Juni 2008

Arifin menjelaskan tidak ada kenaikan harga pupuk subsidi, kecuali harga pupuk nonsubsidi yang diperkirakan dinaikkan sekitar 90%-95% dari harga internasional. "Ya, segera akan kita sesuaikan bulan depan untuk pupuk nonsubsidi."

Saat ini, harga pupuk di pasar internasional mencapai US$434 per ton yang dipicu kenaikan harga bahan baku amoniak yang melonjak 115% menjadi US$475 per ton, sejak Januari 2008. ([email protected]/[email protected])

(8)

Jurnal Nasional Senin, 02 Juni 2008

Ekonomi - Keuangan - Bisnis Jakarta | Senin, 02 Jun 2008

1 5 H e k t a r e Sa w a h I n d r a m a y u Te r a n ca m Ke k e r in g a n

by : Wahyu Utomo

AREA pertanian seluas 12 hingga 15 ribu hektare di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat diperkirakan mengalami kekeringan.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir di Kabupaten Indramayu, akhir pekan ini mengungkapkan, lahan persawahan yang terancam kekeringan itu umumnya tersebar di tujuh kecamatan di kawasan pantai utara. “Gejala-gejala (ancaman kekeringan) itu sekarang sudah ada,” katanya di sela pemberian bantuan pompa air oleh produsen minuman berenergi PT Bintang Toejoeh kepada petani Indramayu.

Winarno mengatakan, 15 ribu hektare sawah yang terancam kekeringan itu merupakan sawah tadah hujan yang setiap tahun memang mengalami kekurangan air.

Menurut dia, kekeringan terparah yang melanda persawahan di Indramayu terjadi dua tahun lalu, sedangkan pada 2007 seluas lebih dari 15 ribu hektare. “Tahun ini kalau musim kemarau kering bisa lebih besar lagi, tapi kalau musim kemarau basah bisa lebih kecil (yang kekeringan),” katanya.

Saat ini dari 200 ribu hektare lahan pertanian di Indramayu 77 ribu hektare merupakan sawah beririgasi teknis, 65 ribu hektare sawah yang mendapatkan aliran air dari Waduk Jatilihur dan Bendung Rentang.

Sedangkan sisanya, merupakan sawah tadah hujan yang sangat potensial mengalami kekeringan setiap tahun.

Menurut dia, satu-satunya harapan untuk mengatasi kekeringan di Indramayu yakni pemerintah segera merealisasikan rencana pembangunan Waduk Jatigede.

Sementara Deputy Director Marketing Bintang Toejoeh, Hokiano mengatakan, melalui program "Joss Berbagi" pihaknya telah menyiapkan dana ratusan juta untuk membantu petani dan nelayan di empat provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Untuk bulan Mei, pihaknya memberikan bantuan kepada para petani di Kabupaten Indramayu berupa pompa air sebanyak 18 unit. “Diharapkan bantuan pompa air ini mampu menolong petani mengatasi kekeringan memasuki musim kemarau,” katanya seperti dilansir Antara.

Selain itu, dengan mesin pompa yang baru bisa meningkatkan efisiensi penggunaan BBM sehingga menekan ongkos produksi petani.

(9)

Jurnal Nasional Senin, 02 Juni 2008

Opini Jakarta | Senin, 02 Jun 2008

Ba n g k it la h Pe r t a n ia n k u , Ja y a la h N e g e r ik u

by : Fransiskus Saverius Herdiman

Anton Apriyantono

Yang Maha Kuasa telah mengajarkan kepada kita bahwa di balik kesulitan akan ada kemudahan seperti telah difirmankan Allah di dalam Al Quran. Ayat inilah yang harus kita jadikan pegangan dalam menyikapi situasi krisis pangan yang melanda dunia akibat terjadinya krisis energi. Selain itu kita pun harus ingat akan firman Allah di dalam Al Quran yang mengatakan bahwa tidak akan berubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang berusaha mengubah nasibnya sendiri. Kedua ayat ini seharusnya meyakinkan kita bahwa apapun kesulitan yang melanda kita asalkan kita mau berusaha mengatasinya maka kesulitan itu dapat kita atasi karena di balik kesulitan itu ada kemudahan. Di balik krisis ada hikmah, di balik krisis ada peluang.

Alhamdulilah, kita patut bersyukur kepada Allah SWT bahwa dalam situasi di mana banyak negara lain mengalami krisis pangan, khususnya krisis beras, Indonesia justru berhasil mengatasi situasi ini dengan baik yang dicirikan dengan cukupnya pasokan pangan, khususnya beras di seluruh tanah air. Harga beras di Indonesia juga relatif stabil bahkan BPS mencatat harga beras di bulan april secara rata-rata justru mengalami penurunan dibandingkan dengan harganya di bulan Maret. Situasi yang sebaliknya justru terjadi di negara-negara yang dikenal surplus beras seperti Thailand dan Vietnam di mana harga beras di kedua negara tersebut naik tajam, bahkan harga beras yang diperdagangkan secara internasional meningkat tajam akhir-akhir ini sampai lebih dari 2 kali lipat dibanding tahun lalu yaitu diatas seribu dolar amerika per ton. Di negara-negara tetangga kita juga terjadi kenaikan harga beras yang tajam seperti di Malaysia dan Filipina, bahkan mengalami masalah dalam pasokan berasnya.

Stabilnya harga beras dan cukupnya pasokan beras di Indonesia ditengah-tengah situasi krisis beras di banyak negara, termasuk di Amerika sekalipun yang sudah membatasi jumlah beras yang boleh dibeli oleh konsumen, menunjukkan bahwa ketahanan pangan di Indonesia cukup baik. Walaupun demikian, masalah besar yang kita hadapi adalah daya beli masyarakat, khususnya masyarakat kelas bawah memang sangat terbatas, akibatnya cukup banyak masyarakat yang kurang mampu membeli beras dengan jumlah yang cukup. Itulah sebabnya pemerintah memberikan beras raskin sebanyak 15 kg per KK per bulan selama satu tahun penuh selama tahun 2008 ini dengan harga Rp 1.600 per kg bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu ini. Dengan demikian diharapkan seluruh penduduk Indonesia tidak mengalami masalah dengan pangan ini, dengan kata lain ketahanan pangan kita betul-betul kuat.

(10)

Jurnal Nasional Senin, 02 Juni 2008

Pada sisi lain, krisis energi dan pangan yang melanda dunia dewasa ini memberi berkah karena hampir semua produk pertanian membaik harganya. Belum pernah terjadi sebelumnya bahwa harga komoditi pangan sampai perkebunan harganya begitu bagus seperti sekarang ini, sebut saja harga-harga beras, jagung, kedele, CPO, karet, kakao, bahkan yang sebelumnya pernah jatuh sekarang membaik seperti cengkeh, kelapa, kopra, dll. Ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi pertanian kita dan mengambil manfaat dari membaiknya harga produk pertanian ini agar kesejahteraan petani dapat meningkat.

Di bidang pertanian Indonesia memiliki kelebihan karena kita memiliki sumber daya alam dan iklim yang mendukung untuk usaha pertanian. Kita juga punya sumber daya manusia yang handal dan dalam jumlah yang banyak di bidang pertanian karena pertanian sudah menjadi budaya kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia. Di sisi lain ada permintaan yang tinggi terhadap produk-produk pertanian di dunia internasional dengan harga yang bagus pula. Oleh karena itu ini adalah peluang bagi kita untuk membangkitkan sektor pertanian kita agar mampu memenuhi permintaan dunia tersebut dan mampu menyejahterakan petani serta masyarakat Indonesia.

Beberapa indikator telah menunjukkan mulai bangkitnya pertanian Indonesia, sebut saja pertumbuhan sektor pertanian di tiga tahun terakhir, dari tahun 2005 sampai 2007 terus meningkat dengan angka pertumbuhan diatas 3 persen, hal yang jarang terjadi sebelumnya. Demikian halnya dengan surplus perdagangan produk pertanian yang semakin besar dengan angka pertumbuhan yang selalu meningkat pula. Peningkatan produksi pertanian juga alhamdulilah baik, sebut saja pada tahun 2007 produksi beras meningkat 4.77 persen dibanding tahun sebelumnya, produksi jagung meningkat 14.4 persen, bahkan beberapa produk lainnya meningkat di atas angka 5 persen seperti CPO, daging sapi, gula konsumsi, dll. Tingkat kesejahteraan petani yang ditandai nilai NTP (Nilai Tukar Petani) juga meningkat terus sejak masa setelah terjadinya kenaikan BBM di bulan oktober 2005. Secara berangsur-angsur NTP yang tadinya dibawah 100 setelah kenaikan BBM oktober 2005 terus naik sehingga menjadi sekitar 108 di bulan Februari 2008. Hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata tingkat kesejahteraan petani membaik.

Kebangkitan pertanian Indonesia adalah suatu keharusan karena sektor ini adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan berperan dalam ketahanan pangan, mengurangi kemiskinan dan pengangguran serta peningkatan ekspor dan devisa. Tanda-tanda bangkitnya pertanian telah ada, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah mempercepat kebangkitan pertanian tersebut dan mempertahankan pertumbuhan pertanian yang tinggi serta meningkatkan kesejahteraan petaninya.

(11)

Kompas Senin, 02 Juni 2008

Pe r t a n ia n

Ke d a u la t a n Pa n g a n D ica p a i d e n g a n Te k n olog i

Senin, 2 Juni 2008 | 00:33 WIB

Makassar, Kompas - Kedaulatan pangan Indonesia hanya bisa diwujudkan lewat pengembangan teknologi pertanian, baik pertanian organik maupun pertanian nonorganik, serta reformasi agraria. Sumber daya manusia di bidang pertanian masih menjadi kendala untuk mengembangkan teknologi pertanian di Indonesia. Cadangan pangan yang memadai juga penting untuk membangun kedaulatan pangan Indonesia.

Pengamat pertanian, Mohammad Jafar Nafsah, dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan Lutfi Halide mengemukakan itu dalam stadium general ”Mewujudkan Indonesia Berdaulat Pangan” Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Hasanuddin, Sabtu (31/5) di Makassar.

Mohammad Jafar Nafsah menyatakan, kedaulatan pangan hanya bisa dicapai dengan pengembangan teknologi pertanian, akses permodalan bagi petani, dan reformasi agraria. ”Saat ini, pengembangan teknologi pertanian di Indonesia buruk. Sarjana pertanian bisa bekerja di bidang apa saja dengan baik, kecuali di bidang pertanian. Itulah kenyataan yang kita hadapi,” kata Jafar.

Jafar mencontohkan kecenderungan petani untuk kembali menggunakan pupuk organik tidak diimbangi dengan pengembangan teknologi pupuk organik.

”Padahal, jika dilakukan secara konvensional, pemupukan organik membutuhkan enam ton pupuk hijau dan dua ton pupuk kandang. Pertanyaannya, siapa yang sanggup mengangkut delapan ton pupuk, sementara memakai pupuk nonorganik cukup beberapa kantung. Hal seperti itu harus dipikirkan,” kata Jafar.

Jafar juga menekankan perlunya reformasi agraria sehingga setiap petani memiliki luas lahan yang bisa diolah secara ekonomis. ”Rata-rata lahan yang dimiliki petani di Jawa hanya 0,3 hektar. Luasan itu tidak ekonomis untuk dikelola. Jawa sudah terlalu padat sehingga sulit melakukan reformasi agraria. Akan tetapi, reformasi sangat mungkin dilakukan di luar Jawa. Pengembangan teknologi pengolahan pangan juga harus dilakukan,” kata Jafar.

Adapun Lutfi Halide mengatakan, sumber daya manusia yang bekerja di bidang pertanian masih menjadi kendala pengembangan teknologi pertanian di Indonesia. ”Dahulu pemerintah membuat sekolah pertanian menengah atas. Akan tetapi, lulusan sekolah itu justru tidak mau menjadi petani. Hal yang sama terjadi dengan sarjana pertanian dan teknik pertanian,” kata Lutfi.

Nilai tambah ekonomis hasil pertanian yang dinikmati pertanian juga terlalu kecil sehingga banyak orang tidak mau menjadi petani.

(12)

Kompas Senin, 02 Juni 2008

Pe n g e lu a r a n Pe t a n i M e m b e n g k a k

Pe t a n i M e m om p a Air 1 - 3 Ka li d a la m Se m in g g u

Senin, 2 Juni 2008 | 03:00 WIB

Purwakarta, Kompas - Petani sawah tadah hujan di sejumlah desa di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terpaksa mengeluarkan ongkos lebih besar karena tanaman padi mereka mulai kekurangan air. Petani harus membuat sumur pantek untuk menyedot air sehingga butuh biaya tak sedikit guna membeli bahan bakar.

Pengeluaran tambahan untuk menyelamatkan tanaman padi agar tidak kekeringan tersebut menyebabkan ongkos produksi diperkirakan naik dari Rp 3 juta-Rp 3,5 juta menjadi Rp 4,5 juta-Rp 5 juta per hektar. Jumlah itu belum termasuk biaya untuk membeli pestisida guna mengatasi serangan hama.

Darta (60), petani di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Sabtu (31/5), mengatakan, sejumlah petani di desanya membuat sumur untuk mengairi sawah. Mereka mengeluarkan biaya Rp 600.000 hingga Rp 1 juta untuk membeli pipa besi dan membayar tenaga penggali sumur.

”Segala cara harus ditempuh untuk menyelamatkan padi sampai panen tiba. Jika kami menyerah, sudah pasti tak bisa panen dan modal tanam hilang percuma,” papar Darta.

Petani yang telah memiliki sumur pantek harus mengeluarkan biaya tambahan ratusan ribu rupiah untuk membeli solar atau bensin. Petani memompa 1-3 kali dalam sepekan dengan konsumsi bensin atau solar 10-20 liter untuk sekali mengairi satu hektar sawah.

”Jika terlambat menyedot air, sawah akan mengering lagi. Sekali memompa, kami mengeluarkan biaya Rp 55.000-Rp 120.000 untuk bahan bakar,” tutur Wawan Kurniawan (29), petani di Desa Benteng. Usia tanaman padi di Purwakarta saat ini 45-60 hari. Menurut Wawan, hingga masa panen tiba nanti, petani masih harus memompa air 5-10 kali.

Kekeringan di Jawa Barat juga mulai melanda Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Di Jawa Tengah, kekeringan antara lain terjadi di Tegal, Banjarnegara, dan Banyumas. Adapun di Jawa Timur, tanaman padi di Kabupaten Gresik juga terancam sehubungan dengan menyusutnya debit air di lima waduk di daerah itu.

(13)

Suara Pembaruan Senin, 02 Juni 2008

Pe t a n i Le b ih Bu t u h Pom p a Air D ib a n d in g BLT

[JAKARTA] Petani lebih membutuhkan pompa air ketimbang bantuan langsung tunai (BLT) di saat kekeringan melanda sebagian sawah, terutama di Pulau Jawa saat ini. Untuk menyelamatkan padi mereka dari ancaman kekeringan, petani terpaksa membeli pompa air dan menggali sumur pantek untuk mengairi sawah mereka.

Demikian dikatakan Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir di sela-sela penyerahan bantuan pompa air untuk petani Indramayu dari PT Bintang Toejoe di Sleman, Indramayu, Minggu (1/6).

Akibat kekeringan, ribuan petani di Indramayu, Cirebon , Subang, Purwakarta, dan Bandung harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengairi sawah mereka. Biaya untuk penggunaan bahan bakar minyak saja untuk menggerakkan pompa air mencapai Rp 1 juta-Rp 2 juta/hektare.

Jadi, biaya operasional pertanian membengkak menjadi Rp 4,5-5 juta dibanding saat musim hujan, yang mencapai Rp 3 juta-3,5 juta/hektare.

Jika petani sudah memiliki pompa dan pipa saluran air, mereka cukup mengeluarkan Rp 180.000-360.000/ minggu untuk mengairi satu hektare sawah. Hingga musim panen nanti, petani harus mengeluarkan biaya untuk BBM Rp 300.000-600.000 untuk satu hektare sawah.

"Pemerintah gagal mengubah budaya petani di Jawa Barat agar beralih menanam palawija di musim kering," ujar Winarno.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Indramayu, Apas Fahmi mengatakan, sekitar 12.000 hektare, atau 10 persen dari total luas sawah di sana 120.000 hektare di Indramayu terancam kekeringan pada awal musim kemarau ini. Untuk mencegah tanaman agar tidak mengalami puso atau mati, harus menggunakan pompa air.

Menurut Apas, selama ini, air irigasi Indramayu berasal dari dua sumber, yakni Waduk Jatiluhur dan Bendung Rentang. Sedangkan, seluas 32.000 hektare adalah sawah tadah hujan yang memang tidak ditargetkan bisa menghasilkan gabah pada musim ini.

Area tadah hujan itulah yang kini terancam kekeringan, seperti di Kecamatan Widasari, Losarang, dan Kandanghaur.

(14)

Jurnal Nasional Selasa, 03 Juni 2008

Ekonomi - Keuangan - Bisnis Jakarta | Selasa, 03 Jun 2008

Pe t a n i Ke lu h k a n H a r g a Rose la An j lok

by : Stevie Saputra

PULUHAN petani rosela yang tersebar di Karesidenan Banyumas mengeluhkan anjloknya harga rosela kering dalam satu bulan terakhir. Harga bunga rosela kering bulan ini hanya antara Rp50.000-Rp 70.000, turun drastis dibanding bulan lalu yang mencapai Rp130.000 per kg. Petani tidak tahu jika permintaan rosela tinggi hingga pedagang pengepul seenaknya menentukan harga.

Seorang petani di Tegalkamulyan Cilacap, Jaeni Abdul Wahab mengatakan, anjloknya harga karena tindakan para pengepul yang memonopoli. Harga yang ditawarkan hanya Rp50.000 per kg rosela kering jenis ungu. Rosela segar hanya Rp4.000 per kg nonbiji. “Dari seperempat hektare di satu periode panen, saya hanya mendapat tujuh kuintal rosela basah. Jika dikeringkan, otomatis bobotnya susut menjadi 90 kg saja. Jika dihitung, saya masih tetap bisa mendapatkan laba, namun tidak sebesar panen lalu,” katanya kepada Jurnal Nasional, Senin(2/6).

Dari pengakuan petani, harga yang ditentukan pengepul bervariatif. Rakum, petani di Jatilawang Banyumas, mengatakan, memasok rosela kering jenis ungu seharga Rp60.000 per kg akhir Mei lalu. Harga ini jauh berbeda dibandingkan awal 2008, berkisar

Rp180.000 per kg.

Di Cilacap, harga hanya Rp50.000 per kg rosela kering atau lebih rendah Rp10.000 dibanding di Banyumas. Petani mengharapkan langkah prorakyat dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini baik pembinaan kepada petani untuk meningkatkan kualitas bunga juga pemasaran.

"Saya mengharapkan ada perhatian dan tindakan dari Bapak Presiden untuk menstabilkan harga sekaligus membantu pemasaran produk unggulan kami agar bersaing di internasional. Kami bukan petani yang menekankan kuantitas tapi kualitas hingga tidak mengecewakan konsumen," ucap Rakum.

Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Cilacap, Suharyadi mengungkapkan, turunnya harga bunga rosela karena masa panen. Namun, katanya, tidak tertutup kemungkinan ada ulah pengepul yang menekan harga petani.

(15)

Jurnal Nasional Selasa, 03 Juni 2008

Ekonomi - Keuangan - Bisnis jakarta | Selasa, 03 Jun 2008

St ok Bu log Cu k u p b u a t En a m Bu la n

by : Sapariah

PERSEDIAAN beras Perum Bulog sekitar 1,8 juta ton, cukup memenuhi kebutuhan nasional sampai enam bulan ke depan.

Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar kepada wartawan pekan lalu mengatakan, penyerapan padi petani sebesar 1,47 juta ton, kontrak 1,57 juta ton. Target pengadaan sampai akhir Mei 1,6 juta ton.

Sedangkan rencana penyaluran beras sebesar 1,3 juta ton, terealisasi 1,1 juta ton atau 86 persen. Secara keseluruhan, katanya stok Bulog sebanyak 1,8 juta ton. “Setelah ditambah cadangan beras pemerintah dan carry over tahun lalu, potensi ketahanan pangan nasional cukup sampai enam bulan ke depan. Juni sampai November aman,” ucapnya.

Pengadaan beras terbesar masih dari Jawa Timur (Jatim) 577 ribu ton, Jawa Tengah (Jateng ) 314 ribu ton, Jawa Barat (Jabar) 220 ribu ton, dan Sulawesi Selatan (Sulsel) 151 ribu ton. Selain empat daerah penghasil terbesar itu, ada daerah penghasil baru, seperti

Nusa Tenggara Barat (NTB ) 83 ribu ton, Sumatera Selatan (Sumsel) 62 ribu ton. “Enam daerah ini signifikan menyumbang beras nasional.”

(16)

Kompas Selasa, 03 Juni 2008

Ba n y a k Pe t a n i Tid a k M e n g g a r a p La h a n a k ib a t

Ku r a n g Air

Selasa, 3 Juni 2008 | 01:11 WIB

Cirebon, Kompas - Kekeringan mulai melanda sebagian Pulau Jawa. Untuk mengatasi hal itu, petani memompa air tanah atau sungai dan menanam palawija. Namun, banyak pula yang membiarkan lahannya tidak ditanami.

Seperti para petani di bagian utara Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Mereka tidak menggarap lahan karena kesulitan mendapatkan air. Hal serupa terjadi di Kecamatan Jiken dan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Para petani memilih cara tersebut karena tidak ingin merugi atau tidak punya modal.

Duliman (43), petani di Desa Pangenan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, tidak ingin beralih ke palawija, seperti timun, jagung, atau cabai, meski tanaman itu tidak membutuhkan banyak air. ”Petani tidak punya cukup modal untuk menanam. Belum lagi harus memompa air,” ujarnya, Senin (2/6).

Kepala Seksi Serealia Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Cirebon Wasman mengatakan, ada 10 kecamatan yang setiap tahun mengalami kekeringan, antara lain, Karangsembung, Waled, Gebang, Pangenan, Gegesik, Kapetakan, dan Susukan.

Di Kecamatan Jiken, Blora, areal persawahan yang mengering berada di Desa Nglebur. Kondisi tanah sawah retak-retak, padi yang baru berumur 1-1,5 bulan tampak kuning.

Kasuwi (49), petani Desa Nglebur, tidak mengairi sawah 0,5 hektarnya karena tidak mampu membeli bahan bakar untuk pompa diesel.

Sementara itu, Agus (45) berupaya mengairi sawah seluas 1 hektar dengan menyedot air Kali Nglebur dua kali sehari.

Di Kecamatan Cepu petani Desa Gadon dan Kentong memompa air dari sumur pantek lantaran padi mereka sudah berumur 70-90 hari.

Sukardi (42), pemilik 2 hektar sawah di Desa Gadon, memperkirakan produksi gabah pada panen nanti turun, dari 7,5 ton menjadi 4 ton. Setiap hari ia membeli 10 liter solar dengan harga Rp 6.500 per liter. Hal itu berakibat pada naiknya ongkos produksi, dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 4,5 juta.

Lahan persawahan di Banjarnegara, Jawa Tengah, juga mulai kekeringan. Di Kecamatan Manadadi dan Banjarmangu, tanaman padi berumur 1-1,5 bulan mulai menguning akibat kekeringan.

Tamam (50), petani di Desa Medayu, Kecamatan Wanadadi, hanya bisa menunggu giliran penyedotan air dari sungai ke sawahnya.

Jumlah pompa diesel yang disewakan terbatas. Di sisi lain kekeringan mengancam tanaman padi mengalami puso.

(17)

Kompas Selasa, 03 Juni 2008

Menurut Kepala Bidang Bina Produksi dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Gunung Kidul Supriyadi, Senin, permintaan ekspor gaplek telah berdatangan. China, misalnya, memesan 250.000 ton gaplek kering.

Direktur Pengelolaan Air Departemen Pertanian Gatot Irianto, Senin di Jakarta, mengatakan, teknis budidaya padi saat ini kerap dihadapkan pada isu kekeringan dan kebanjiran. Kedua bencana berdampak buruk bagi peningkatan kualitas dan produktivitas gabah petani. Namun, dengan peningkatan teknis budidaya, kerugian akibat kedua bencana itu dapat dihindari.

(18)

Kompas Selasa, 03 Juni 2008

Pe t a n i

N ila i Tu k a r Pe t a n i Tu r u n 4 ,9 3 Pe r se n

Selasa, 3 Juni 2008 | 01:37 WIB

Palembang, Kompas - Nilai tukar petani Sumatera Selatan April 2008 turun 4,93 persen dibandingkan dengan nilai tukar petani Maret 2008, dari 133,80 persen menjadi 127,20 persen. Penurunan NTP terjadi akibat turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 4,06 persen, sementara indeks harga yang dibayar naik 0,92 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan M Haslani Haris saat paparan kepada wartawan, Senin (2/6), mengatakan, NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. ”Semakin tinggi NTP, relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani,” ujar Haslani.

Indeks harga yang diterima petani menunjukkan perubahan harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Komoditas pertanian yang dicakup berasal dari subsektor tanaman bahan makanan (TBM) dan subsektor tanaman perkebunan rakyat (TPR).

Di Sumatera Selatan, penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 4,06 persen terjadi sebagai dampak turunnya indeks harga TPR hingga 9,90 persen, sedangkan indeks harga TBM hanya naik sebesar 0,15 persen.

Komoditas TBM yang mengalami penurunan indeks harga pada April 2008 adalah subkelompok sayur-sayuran sebesar 0,77 persen dan subkelompok buah-buahan sebesar 0,55 persen. Sebaliknya, subkelompok padi tidak mengalami perubahan indeks dan subkelompok palawija naik 0,87 persen.

(19)

Kompas Selasa, 03 Juni 2008

Pu n g u t a n u n t u k Ba n t u Pe t a n i Sa w it

Pe t a n i Bu t u h D a n a Se r t ifik a si La h a n

Selasa, 3 Juni 2008 | 00:17 WIB

Medan, Kompas - Petani kelapa sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia meminta pemerintah mengembalikan pungutan ekspor minyak kelapa sawit dalam bentuk pemberian benih bersubsidi. Petani juga meminta pungutan ekspor dikembalikan dalam bentuk biaya sertifikasi lahan.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsyad di Medan, Senin (2/6), jika dana pungutan ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dikembalikan ke petani, tingkat produktivitas perkebunan sawit rakyat niscaya meningkat.

”Kami sebenarnya ingin pungutan ekspor tersebut bisa dikembalikan ke petani dalam bentuk subsidi benih,” kata Asmar.

Dia mengungkapkan, selain dalam bentuk subsidi benih, pengembalian dana pungutan ekspor juga bisa digunakan mendirikan waralaba benih sawit bersertifikat.

Dengan demikian, petani-petani sawit yang berada jauh dari tempat produsen benih bersertifikat tetap bisa mendapatkan benih kualitas unggul.

Selama ini tingkat produktivitas sawit dari petani masih sangat rendah karena faktor bibit yang dipakai masih asal-asalan. Banyak petani menggunakan bibit hasil hasil produksi sendiri. Meski biayanya lebih murah, kualitasnya sangat jauh dibandingkan dengan bibit bersertifikat hasil produksi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) ataupun perkebunan besar.

Petani, lanjut Asmar, juga meminta dana pungutan ekspor bisa dikembalikan untuk membantu program sertifikasi lahan. Sertifikasi lahan kebun rakyat selama ini terhambat karena biayanya dianggap petani cukup mahal.

”Kalau bisa, pungutan ekspor ini dikembalikan ke petani dalam bentuk bantuan biaya sertifikasi lahan. Sertifikasi lahan ini dibutuhkan petani karena mereka bisa mengagunkan kebunnya untuk mendapat kredit program revitalisasi perkebunan,” katanya.

Sertifikat lahan

Asmar mengatakan, salah satu penghambat terealisasinya program revitalisasi perkebunan adalah ketiadaan sertifikat lahan dari petani. Di sisi lain, pihak bank mensyaratkan sertifikat lahan perkebunan jika mereka ingin mendapat kucuran kredit revitalisasi perkebunan.

”Kalau pungutan ekspor ini dikembalikan untuk membantu petani menyertifikasi lahannya, paling tidak kan bisa membantu program revitalisasi perkebunan,” ujarnya.

(20)

Kompas Selasa, 03 Juni 2008

Pu p u k Koson g , Pe t a n i Te r la m b a t M e m u p u k

Selasa, 3 Juni 2008 | 00:58 WIB

PROBOLINGGO, KOMPAS - Sebagian petani di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, terlambat memupuk tanaman tembakau. Pasalnya, pupuk ZA bersubsidi yang diperlukan pada awal musim tanam tidak tersedia.

Sejak akhir Mei, petani tembakau di Kabupaten Probolinggo memulai musim tanam. Sementara musim panen akan jatuh mulai September hingga November. Adapun jenis tembakau yang dikembangkan adalah voor oogst.

Berdasarkan pantauan di Kecamatan Besuk, Probolinggo, Senin (2/6), sebagian tanaman tembakau telah berumur 15 hari. Semestinya, pada umur 10 hari tanaman sudah diberi pupuk ZA. ”Saya belum bisa memupuk sampai sekarang,” kata Heri (29), petani tembakau.

Menurut Azizah (43), pengecer pupuk di Kecamatan Besuk, pupuk ZA bersubsidi maupun nonsubsidi kosong sejak dua bulan terakhir. Azizah biasanya menerima pasokan pupuk ZA dua hari sekali dengan volume 2 ton. Namun, selama dua bulan terakhir ini, ia hanya menerima 2 ton pupuk ZA sekali, yakni pada Kamis pekan lalu yang langsung ludes dalam dua jam.

Selalu terjadi

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Probolinggo Yulis Setyaningsih, menyatakan, kelangkaan pupuk bersubsidi selalu terjadi di Kabupaten Probolinggo setiap tahun. ”Saya tidak tahu di mana salahnya,” katanya.

Jika pupuk ZA terlambat diberikan, menurut Yulis, hal itu akan berakibat pada lambatnya pertumbuhan tanaman tembakau. Akhirnya, kualitas daun tembakau turun.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Probolinggo, rencana areal tembakau musim tanam 2008 adalah 7.335 hektar. Jika dibandingkan dengan rencana luas areal tembakau tahun lalu, yakni 7.125 ha, terjadi peningkatan rencana luas areal sebesar 3 persen.

Adapun target panen tahun ini adalah 8.800 ton atau sesuai dengan rencana pembelian lima gudang pabrik rokok di Kabupaten Probolinggo. Namun, target itu lebih kecil dibandingkan dengan surat edaran dari Dinas Perkebunan Provinsi Jatim yang menetapkan luas areal tembakau pada 2008 seluas 11.000 ha. Adapun target panennya 14.000 ton.

(21)

Pikiran Rakyat Selasa, 03 Juni 2008

Se m b ila n D AS Kr it is

JAKARTA, (PR).-

Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan, sebanyak sembilan daerah aliran sungai yang membentang di 20 kabupaten di tanah air saat ini dalam kondisi kritis, sehingga dikhawatirkan mengancam lahan pertanian di wilayah tersebut.

Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Deptan Hilman Manan di Jakarta, Senin (2/6) mengatakan, kesembilan DAS tersebut meliputi DAS Ciliwung, DAS Citarum, DAS Cimanuk, dan DAS Citanduy di Jawa Barat. Selain itu, DAS Bengawan Solo dan DAS Serayu di Jawa Tengah, DAS Brantas di Jawa Timur, DAS Jeneberang di Sulawesi Selatan, serta DAS Palung di Nusa Tenggara Timur.

"Dengan kerusakan DAS tersebut, maka setiap musim hujan lahan pertanian di wilayah yang dilalui sungai-sungai itu mengalami banjir sebaliknya kalau musim kemarau kekeringan," katanya.

Oleh karena itu, katanya, mulai 2008 Ditjen PLA memprogramkan perbaikan DAS kesembilan sungai tersebut dengan target seluas 20.000 hektar (ha) serta dana Rp 30 miliar atau Rp 1,5 miliar/ha. Hilman mengakui, perbaikan DAS tersebut tidak serta merta dirasakan hasilnya, tetapi baru sekitar 20 tahun bisa dirasakan manfaatnya.

Sementara itu, menyinggung luas kekeringan yang melanda areal pertanian di tanah air, Ditjen PLA menyatakan, dalam 10 tahun terakhir rata-rata setiap tahun mencapai 200.000 ha begitu juga persawahan yang terkena banjir sebesar itu.

Dari data yang dikeluarkan Ditjen Tanaman Pangan Deptan, luas areal persawahan yang terkena kekeringan dari 1992-2007 mencapai 3,56 juta ha atau rata-rata per tahun 22.878 ha, yang mana dari luas tersebut mengalami puso atau gagal panen 710.277 ton atau sekitar 44.392 ha.

Dampak dari kekeringan selama 16 tahun terakhir yakni kehilangan hasil panen mencapai 6,38 juta ton gabah kering giling (GKG) atau rata-rata 398.948 ton per tahun.

Sedangkan luas areal pertanian yang terkena banjir selama periode yang sama, tercatat 2,97 juta ha atau rata-rata 185.735 ha per tahun yang mana gagal panen atau puso 813.793 ha atau sekitar 67.811 ha.

(22)

Seputar I ndonesia Selasa, 03 Juni 2008

Pe t a n i M in t a H a r g a D ip r ot e k si

Tuesday, 03 June 2008

MEDAN(SINDO) – Serikat Petani Indonesia,Sumatera Utara (Sumut),meminta pemerintah mengeluarkan kebijakan yangdapatmemproteksiharga jual produk pertanian.

Masalahnya,selama ini petani masih sering dirugikan dengan harga jual produk pertanian yang tidak sebanding dengan biaya produksi. Kondisi petani kian disulitkan pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sekretaris SPI Sumut Purwanto mengatakan hingga saat ini harga jual produk petani selalu lebih rendah dibandingkan dengan harga yang harus dibayar petani.

”Kalau dibandingkan dengan biaya kebutuhan petani yang dalam setahun bisa naik tiga kali, tentu tidak sebanding dengan harga jual produk petani yang hanya naik setahun sekali,” katanya kepada SINDO kemarin. Dia mengatakan, jika melihat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selama ini, tidak ada yang berpihak ke sektor pertanian. Kenaikan harga pembelian pemerintah gabah yang ditetapkan beberapa lalu juga dinilai masih terlalu kecil.

Menurut Purwanto, agar petani terbantu, pemerintah hendaknya segera melakukan perubahan kebijakan dengan membuka akses permodalan dan produksi, serta mempermudah pemasaran hasil pertanian. ”Selama ini yang terjadi justru liberalisasi kebijakan di pertanian jadi proteksi harga tidak ada. Hendaknya ini harus dihapuskan dan melindungi petani dengan memberikan insentif dan jaminan,” ujarnya.

Sementara itu,Kepala Badan Pusat Statistik Sumut Alimuddin Sidabalok mengatakan, nilai tukar petani Sumut pada April 2008 tercatat 94,26 poin,naik 0,83% dibanding NTP Maret 2008 yang mencapai 93,49.Indeks harga yang diterima petani pada April naik 2,08% dibandingkan Maret 2008. ”Subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor tanaman perkebunan rakyat masing-masing mengalami kenaikan 1,90% dan 2,59%, dan indeks harga yang dibayar petani naik 1,24% bila dibandingkan Maret 2008.

(23)

Suara Pembaruan Selasa, 03 Juni 2008

H a r g a Be r a s Ba k a l N a ik

Kalau biasanya mereka belanja beras dua kali seminggu, kini hanya tiga kali dalam dua minggu. Itu yang menyebabkan omzet penjualan berkurang.

[JAKARTA] Harga beras saat ini relatif masih stabil karena kenaikan harga beras sudah mendahului kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun harga beras akan mencapai titik keseimbangan baru pada akhir Juni nanti mengikuti tren kenaikan harga pascakenaikan harga BBM.

Setelah keseimbangan baru terjadi, sekitar Rp 5.000/kg atau naik Rp 300 dari harga sekarang, harga beras akan relatif stabil. Demikian rangkuman pendapat pelaku bisnis beras maupun organisasi petani yang dihubungi SP, Selasa (3/6).

Sekretaris Umum Asosiasi Pedagang Beras Indonesia, Nellys Soekidi mengatakan, untuk pekan ini belum ter- jadi pergerakan harga yang berarti, karena kenaikan harga beras sudah mendahului kenaikan harga BBM. Namun, menurut Nellys, kemungkinan besar harga beras akan kembali mengalami kenaikan pada Juni-Juli 2008, karena pada saat itu beberapa sentra beras mengalami kekeringan.

Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, menambahkan, cepat atau lambat harga beras akan naik dan akan stabil dengan harga keseimbangan baru. "Harga keseimbangan itu sekitar Rp 5.000/kg, walau harga internasional sudah mencapai sekitar Rp 10.000/kg," ujar Winarno.

Sementara itu, Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani (WAMTI), Agusdin Pulungan mengatakan, tren penurunan harga beras di beberapa daerah hanya bersifat sementara. "Saat ini petani terdesak kebutuhan sehingga melepas cadangan berasnya. Setelah itu, akan terjadi titik harga baru yang relatif stabil," katanya.

Informasi yang dihimpun SP di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Selasa pagi, para pedagang masih tetap menjual beras dengan harga lama. "Harga beras hingga hari ini masih stabil," ungkap Atep, pedagang grosir beras. Dijelaskan, harga beras jenis IR 64 masih di- jual Rp 4.800/kg, IR 51 Rp 5.100/kg, Rojolele (munjul) Rp 5.100/kg, Super (SP) Rp 5.500/kg, IR 42 Rp 6.200/kg, Pandan Wangi Rp 6.700/kg, dan beras ketan Rp 7.100/kg.

Atep mengatakan, harga beras sulit turun. "Pedagang besar tidak mau rugi. Kalau harga beras turun di pasaran, mereka akan menyetok sampai harga kembali stabil," ungkapnya.

Pedagang beras lainnya, Nelly mengatakan, stok di Pasar Induk Cipinang masih aman, walau ada sedikit penurunan penjualan.

Menurutnya, penurunan penjualan kemungkinan besar akibat daya beli masyarakat yang menurun terkait kenaikan harga BBM. "Tetapi kita tetap men- jual beras dengan harga yang sama," tegasnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang beras di Pasar Minggu mengeluhkan penurunan omzet penjualan. Kendati pembeli tidak berkurang, pembelian beras mulai dikurangi sejumlah pelanggan.

(24)

Suara Pembaruan Selasa, 03 Juni 2008

(25)

Suara Pembaruan Selasa, 03 Juni 2008

Ke m a r a u Le b ih Aw a l, Pe t a n i Ta n a m Pa la w ij a

[BANYUMAS] Para petani di Banyumas, Jawa Tengah, yang menyadari musim kemarau tahun ini datang lebih awal, tidak menanam padi. Mereka menanam palawija seperti jagung, kacang, dan kedelai. Pada saat kekeringan tiba, mereka tinggal menunggu tanamannya berbuah. Berbeda dengan petani lain yang bertanam padi, mereka harus bekerja keras mencari air siang malam, agar tanamannya tidak mati.

"Petani yang bijak taat pada pola tanam, yakni padi - palawija - padi. Seharusnya, saat ini mereka bertanam palawija. Kalau pun menanam padi, harus lebih awal. Sehingga pada saat kemarau ini padinya sudah menguning menunggu tua saja," ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Joko Wikanto, Selasa (3/6) pagi, di Purwokerto.

Menurut Joko, kekeringan sudah melanda 233 hektare (ha) akibat musim kemarau yang datang lebih awal. Padahal, sawah mereka sebagian melakukan penanam terlambat, sehingga masih membutuhkan banyak air pada saat kemarau ini.

(26)

Suara Pembaruan Selasa, 03 Juni 2008

TPA Ga lu g a Ru sa k Sa w a h

Pe t a n i Bog or Tu n t u t Ga n t i Ru g i Rp 3 ,3 M

[BOGOR] Sedikitnya 200 petani asal Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Senin (2/6), mendatangi Gedung Balaikota Bogor. Mereka menuntut Wali Kota Bogor Diani Budiarto membayar ganti rugi sebesar Rp 3,3 miliar menyusul rusaknya puluhan hektare lahan pertanian mereka akibat Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) Galuga yang dikelola Pemkot Bogor.

Para petani membawa tanaman padi dan berorasi di depan Balai Kota. Sempat terjadi kericuhan di pintu gerbang yang dijaga ketat petugas Satuan Polisi Pamong Praja. Terjadi aksi dorong. Kericuhan makin marak saat truk sampah milik Dinas Kebersihan Pemkot Bogor melintas di depan Balai Kota.

Sejumlah petani mengejar truk sampah dan melemparinya dengan batu. Mereka gagal menyandera truk sampah yang terus melaju. Para petani kembali berunjukrasa di gerbang Balai Kota sambil berteriak "Wali Kota Bogor harus bertanggung jawab atas rusaknya lahan pertanian petani Galuga!"

Chepy Hasan, koordinator aksi ratusan Petani Galuga menyebutkan, sejak 1990-an sebagian areal Desa Galuga dijadikan areal TPA bagi Kota Bogor. Namun, TPA itu mencemari lingkungan dari air rembesan sampah dan merusak sawah serta kebun palawija petani. "Kerugian kami taksir Rp 3,3 miliar," ujarnya.

Barji, seorang petani menambahkan, beberapa kali petani melayangkan surat protes dan menuntut ganti rugi ke Pemkot Bogor, tetapi selalu tidak ditanggapi. Sehingga terpaksa kini ratusan petani mendatangi langsung Balai Kota Bogor di Jl Juanda.

(27)

Jurnal Nasional Rabu, 04 Juni 2008

Ekonomi - Keuangan - Bisnis Balikpapan | Rabu, 04 Jun 2008

M a sih M in im , La h a n Te r b u k a H ij a u

by : Tussie Ayu Riekasapti

BERDASARKAN amanat Undang-undang (UU) No 27 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Tata Ruang, Luas Lahan Terbuka Hijau disyaratkan minimal 30 persen dari luas keseluruhan kota. Namun saat ini, masih sangat sedikit kota di Indonesia memenuhi syarat itu. “Sebagian besar kota di Indonesia masih jauh dari syarat itu. Justru yang sudah memenuhi adalah Balikpapan, yang memenuhi sebanyak 48 persen lahan terbuka hijau dari keseluruhan luas kota,” kata Menteri Kehutanan, MS Kaban usai meresmikan Kebun Raya Balikpapan-Sungan Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin malam (2/5).

Sedangkan di daerah lain, belum ada kesadaran dan komitmen yang cukup untuk membuat lahan terbuka hijau.

Dia menambahkan, daerah perlu mambangun komitmen agar amanat UU ini bisa tercapai.

Lahan terbuka hijau ini, selain berguna untuk menjaga lingkungan dan udara, juga bisa berfungsi untuk menurunkan kriminalitas. Berdasarkan penelitian di negara lain, ruang terbuka hijau bisa menstimulus banyak aktivitas. “Banyak aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan di ruang terbuka hijau. Masyarakat juga bisa membangun hobi. Tapi ini belum terbangun di Indonesia,” kata Kaban menjelaskan.

Untuk mewujudkan 30 persen lahan terbuka hijau di setiap kota, harus melibatkan sejumlah pihak. Pihak-pihak itu adalah masyarakat kota yang menikmati jika lahan terbuka hijau terbangun, pendatang yang cenderung menggunakan lahan terbuka hijau sebagai tempat tinggal atau sumber ekonomi, pengusaha yang melihatnya sebagai sumber ekonomi, dan media massa untuk membentuk pandangan masyarakat tentang pentingnya ruang terbuka hijau.

Senada dengan Kaban, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, jaringan irigasi baru akan bermanfaat bila ada air. “Dan itu baru bisa terjadi dengan adanya hutan yang lebat. Permukiman perkotaan juga akan terjaga baik jika ruang terbuka hijau terpelihara,” katanya di tempat yang sama.

Kedua menteri ini berkumpul di Balikpapan untuk merencanakan pembangunan Kebun Raya Balikpapan-Sungai Wain.

Menurut Djoko, ini adalah salah satu kebun raya yang sedang direncanakan untuk dibangun Departemen Pekerjaan Umum. Dua kebun raya lain ada di Kuningan, Jawa Barat dan Liwa di Lampung. Bagi Kalimantan Timur, ini adalah kebun raya kedua. Sebelumnya telah ada kebun raya Unmul yang berada di Samarinda.

Selain berguna sebagai tempat konservasi dan pendidikan, Djoko berpendapat, kebun raya dapat berfungsi sebagai pendorong perekonomian.

Sementara Kepala LIPI, Umar Djenie mengatakan, Indonesia adalah negara terbesar ke empat di dunia yang keanekaragaman hayatinya terancam semakin punah.

(28)

Kompas Rabu, 04 Juni 2008

Pe r lu Ca d a n g a n Pa n g a n u n t u k W a r g a M isk in

Rabu, 4 Juni 2008 | 00:58 WIB

Jakarta, Kompas - Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengimbau para gubernur dan bupati atau wali kota sebagai ketua Dewan Ketahanan Pangan daerah menyelenggarakan cadangan pangan bagi masyarakat miskin. Pengelolaan cadangan pangan dilakukan di setiap rukun tetangga atau RT.

Berdasarkan surat imbauan yang diterima Kompas, Selasa (3/6) di Jakarta, setiap RT diminta mengelola stok pangan berupa bahan pangan yang secara umum dikonsumsi oleh masyarakat miskin setempat.

Bahan pangan tersebut bisa dalam bentuk beras maupun nonberas, seperti jagung, ubi, dan sagu.

Dalam surat imbauan bernomor 113/2008 dinyatakan bahwa cadangan pangan setiap RT sebanyak 500 kilogram setara beras atau setidaknya cukup memenuhi kebutuhan pangan warga RT selama tiga bulan, yakni selama periode tanam hingga panen.

Sumber pendanaan untuk pengelolaan pangan itu dapat diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi dan APBD kabupaten/kota.

Cadangan pangan yang dikelola di setiap RT itu dimanfaatkan untuk penanggulangan masalah pangan tidak saja dalam kondisi kekurangan pangan, tetapi juga dalam situasi kelebihan pangan.

Hal itu dapat menimbulkan gejolak harga yang meresahkan masyarakat dan ketidakmampuan rumah tangga miskin dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Selama ini pengelolaan cadangan pangan nasional dilakukan Perum Bulog, dalam bentuk beras sebagai komoditas tunggal. Bentuknya cadangan beras pemerintah, raskin, dan operasi stabilisasi harga beras.

Tahun 2008, total pengelolaan stok beras Bulog 2,8 juta-3 juta ton. Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar mengatakan, pihaknya telah merintis kerja sama pengelolaan cadangan beras di daerah, seperti yang dilakukan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

(29)

Kompas Rabu, 04 Juni 2008

Ba h a n Pa n g a n

Be r a s M a h a l, Pe n y a lu r a n Ra sk in Te r se n d a t

Rabu, 4 Juni 2008 | 01:10 WIB

Serang, Kompas - Penyaluran beras untuk keluarga miskin atau raskin di Provinsi Banten masih tersendat. Padahal, harga beras dan bahan pangan di pasaran terus beranjak naik semenjak pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak.

Berdasarkan pantauan, Selasa (3/6), harga beras di Pasar Induk Rau Serang dan Pasar Baru Cilegon kembali naik rata-rata Rp 500 per kilogram. Harga beras jenis C4 kualitas rendah naik dari Rp 4.300 menjadi Rp 4.500 per kilogram , kualitas sedang yang banyak dikonsumsi masyarakat naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.000 per kilogram.

Adapun harga beras C4 kualitas baik naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram. Bahkan, harga beras kualitas super, seperti jenis Pandanwangi, sudah mencapai Rp 6.500 per kilogram, dari sebelumnya Rp 6.000 per kilogram.

Kenaikan harga beras di pasar induk membuat harga beras di tingkat eceran juga melonjak. Saat ini, sejumlah warung di Kota Serang sudah menjual beras C4 kualitas sedang dengan harga Rp 5.500 per kilogram. Padahal sebelum harga bahan bakar naik, harganya Rp 4.800-Rp 5.000 per kilogram.

”Sekarang yang paling jelek, yang baunya apek saja harganya Rp 4.000. Padahal dulu paling harganya Rp 3.200-Rp 3.500 per kilogram,” kata Fatimah, warga Cinanggung, Serang.

Raskin tersendat

Pada saat harga beras mulai tinggi, penyaluran raskin yang bertujuan untuk membantu keluarga miskin (gakin) di Banten justru masih tersendat. Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Desa (BPPMD) Banten Sigit Suwitare, hingga akhir Mei, baru 33,99 persen raskin yang disalurkan, yakni sebanyak 16.700,94 ton dari jatah raskin selama Januari-Mei sebanyak 49.141 ton.

Untuk Kabupaten Pandeglang baru 57,14 persen atau sebanyak 4.698 ton dari jatah 8.222 ton, dan Kota Cilegon 74,74 persen atau 1.093,45 ton dari jatah 1.463 ton raskin yang disalurkan. Lebak 54,76 persen atau 5.624,4 ton dari jatah 10.271 ton, Kota Serang 52,32 persen atau 891 ton dari 1.703 ton, Kabupaten Serang 25,96 persen atau 1.942 ton dari jatah 7.481 ton, Kabupaten Tangerang 11,2 persen atau 1.995 ton dari jatah 17.813 ton, dan Kota Tangerang 21,43 persen atau 468,8 ton dari jatah 2.188 ton.

Bahkan ada beberapa desa di Serang yang sama sekali belum menyalurkan raskin, seperti Desa Curug, Kecamatan Curug, Kota Serang. Jatah raskin selama Januari-Mei belum diambil dengan alasan masih musim panen padi. ”Dari Januari sampai sekarang raskin belum kami ambil. Alasannya, satu, karena sedang musim panen,” kata Kepala Desa Curug, Suharyadi, kemarin.

(30)

Kompas Rabu, 04 Juni 2008

Pe r t a n ia n

Rib u a n H e k t a r Sa w a h d i Ba n t e n Ke k e r in g a n

Rabu, 4 Juni 2008 | 01:10 WIB

Serang, Kompas - Ribuan hektar sawah di Provinsi Banten mengalami kekeringan, dan 252 hektar di antaranya terancam puso. Sulitnya mendapatkan air membuat sebagian petani padi di pantai utara Serang beralih menanam semangka.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten, hingga Selasa (3/6), lahan persawahan yang mengalami kekeringan seluas 8.117 hektar. Usia tanaman padi di areal persawahan itu 7 hari hingga 30 hari.

Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Pandeglang, dengan luas sawah kekeringan mencapai 5.921 hektar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kekeringan melanda daerah selatan Pandeglang seperti Kecamatan Cibaliung, Sobang, Cikeusik, Cibitung, Angsana, Munjul, Sobang, Sukaresmi, Patia, Pagelaran, dan sebagian kecil di Cikeudal.

Pasalnya, sebagian besar lahan pertanian di daerah selatan Pandeglang merupakan sawah tadah hujan. Selain itu, daerah selatan juga tidak dilengkapi dengan saluran irigasi yang bisa mengairi sawah satu tahun penuh.

”Kebanyakan sawah memang hanya mengandalkan air hujan, sehingga sering mengalami kekeringan,” kata Kepala Subdinas Pertanian Distanak Banten Agus Tauhid, kemarin.

Pasti terpengaruh

Kekeringan juga melanda 1.882 hektar lahan pertanian di Kabupaten Lebak. Bahkan, tanaman padi berusia 15-30 hari di lahan seluas 252 hektar di Kecamatan Malingping terancam puso. Selain itu, di Serang, luas areal pertanian yang sudah dilaporkan mengalami kekeringan mencapai 314 hektar.

(31)

Pikiran Rakyat Rabu, 04 Juni 2008

H a r g a Ka r e t M e m b a ik , Pa r a Pe t a n i Be r g a ir a h

KUNINGAN, (PR).-

Membaiknya harga karet di pasaran beberapa tahun terakhir ini semakin menggairahkan para petani dan pengusaha karet di Indonesia, termasuk di wilayah Kab. Kuningan. Namun, luas perkebunan komoditas tersebut yang masih terbatas menjadi kendala bagi para pelaku usaha karet.

"Harga karet saat ini cukup bagus, sejak tiga tahun lalu, untuk setiap kilogramnya mencapai Rp 32.000,00 Namun, masih terbatasnya jumlah tegakan pohon karet menjadi kendala sekaligus tantangan tersendiri bagi kami," kata Direktur PT Geger Halang (GH), Ir. Sofyan Mawardi yang mengelola tanaman karet di Kab. Kuningan, Selasa (3/6).

Diakui Sofyan, keterbatasan jumlah pohon karet produktif tidak semata-mata menjadi salah satu kendala, tetapi harus bisa disikapi dengan menambah populasi pohon karet di atas lahan yang ada, baik dengan cara menanam tanaman di lahan lain maupun dengan melakukan upaya peremajaan.

Saat ini pihak GH tengah melakukan peremajaan sedikitnya 25.000 pohon untuk menggantikan pohon-pohon karet yang dinilai sudah kurang, bahkan, tidak produktif lagi dengan memanfaatkan entres (bibit) unggul Klon PB260. Di area kebun Padacukup yang masuk wilayah Desa Cibuntu dan Singkup Kec. Pasawahan serta Desa Seda Kec. Mandirancan seluas 211 hektare sebagian besar di antaranya akan ditanami karet.

(32)

Kompas Kamis, 05 Juni 2008

H a m a Tik u s M e n g g a n a s d i Ka b u p a t e n Ta b a n a n

Kamis, 5 Juni 2008 | 01:25 WIB

Denpasar, Kompas - Hama tikus sejak dua bulan lalu secara ganas menyerang tanaman padi petani di Kecamatan Tabanan dan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali. Akibatnya, hasil panen merosot hingga separuh dari biasanya.

Hal itu dikemukakan petani dan kelian (koordinator) subak di Desa Pakisan, Tuailang, Subameo dan Buahan, Kecamatan Tabanan, Rabu (4/6).

Warga Pakisan, Ny Agus Sudarestu, menyatakan, di sejumlah areal sawah, batang padi yang sudah berbuah digeret hingga tumbang, lalu bulir padi dimakan.

”Areal sawah kami hanya 6 are (600 meter persegi) dan baru selesai dipanen akhir pekan lalu. Kalau biasanya sekali panen menghasilkan 8 kuintal (800 kilogram), kini hanya 2 kuintal,” kata Ny Agus.

Nyoman Artoyo (48), petani Desa Buahan, mengeluhkan hal yang sama. Sawah Artoyo seluas 30 are kini sedang ditumbuhi padi berusia dua minggu. Batang padi yang sudah digeret tikus tampak layu di bekas rumpunnya.

Sesajen

I Gusti Kadek Sutarko (61), kelian Subak Empas Denbantas, Tabanan, menyatakan bingung mengatasi hama tikus.

”Petani di sini enggan mematikan tikus di sawah karena takut tikus akan bertambah banyak dan semakin ganas. Untuk sementara, hanya ditangkal dengan sesajen, tetapi tikus tidak berkurang,” paparnya.

Subak Empas Denbantas, Pakisan, meliputi sawah seluas 40 hektar milik 200 petani. ”Rata-rata hasil panen kali ini mengecewakan,” ujarnya.

Sutarko memiliki sawah 50 are. Biasanya ia mendapat 2,5-3 ton gabah sekali panen. Namun, dari 25 are yang dipanen dua pekan lalu hasilnya hanya 500 kilogram.

Upah turun

Serangan tikus juga dikeluhkan para buruh panen karena upah yang mereka peroleh ditentukan oleh gabah yang didapat.

Menurut Syamsuri (34), buruh asal Banyuwangi di Pakisan, Tabanan, Rabu, ia bersama tiga anggota keluarganya sudah seminggu menjadi buruh panen padi. Upahnya Rp 15.000 per kuintal gabah hasil panen.

(33)

Pikiran Rakyat Kamis, 05 Juni 2008

1 0 0 .0 0 0 H e k t a r e Sa w a h Pu so

M e n in g k a t D ib a n d in g k a n d e n g a n M T 2 0 0 6 - 2 0 0 7

JAKARTA, (PR).-

Departemen Pertanian mengungkapkan, selama musim tanam (MT) 2007-2008 atau periode Oktober-Maret, luas areal persawahan yang mengalami puso atau gagal panen lebih dari 100.000 hektare (ha).

Hal itu dikatakan Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Alimoeso di Jakarta, Rabu (4/6). Menurut dia, areal persawahan yang terkena banjir 275.365 ha dan puso 103.197 ha. "Jika dibandingkan musim hujan pada periode MT 2006-2007 yang terkena banjir maupun puso saat ini mengalami peningkatan," katanya.

Menurut dia, pada MT 2006-2007, areal persawahan yang terkena banjir seluas 219.000 ha dan 75.249 ha, di antaranya mengalami puso, sedangkan rata-rata 5 tahun luas serangan banjir sekitar 247.000 ha dan puso lebih dari 70.000 ha.

Walaupun terjadi peningkatan lahan yang terkena banjir dan puso, katanya, tetapi pada 2007-2008 petani telah melakukan penanaman kembali sekitar 100.000 ha, seperti yang terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

"Daerah itu sudah terkena banjir dua kali sehingga petani telah melakukan penanaman kembali dua kali. Malah ada yang tiga kali tanam ulang," katanya. Meski demikian, ucapnya, ada juga daerah yang tidak dapat ditanami kembali karena banjir dan genangannya sudah luar biasa atau terlalu tinggi.

Menurut dia, daerah yang terkena banjir dan sudah menanam kembali mencapai 96 persen. Selain itu, sebagian besar sudah panen. Sementara itu, luas areal persawahan yang terkena kekeringan pada MT 2007-2008, katanya, mencapai 57.000 ha dengan tingkat puso 4.100 ha atau menurun dibandingkan dengan MT 2006-2007.

Pada MT 2006-2007, kekeringan melanda 267.000 ha persawahan dengan kegagalan panen 18.000 ha, sedangkan dalam lima tahun terakhir, rata-rata yang terkena kekeringan 88.000 ha dan puso 14.000 ha. "Jadi, kalau dilihat pada musim tanam tahun ini, jumlah lahan kekeringan masih di bawah MT 2006-2007," katanya.

Untuk periode Januari-April 2008, Deptan mencatat luas kekeringan mencapai 14.300 ha dan puso 2.189 ha, sedangkan periode yang sama tahun 2007 kekeringan 237.000 ha dan puso 13.700 ha.

Sutarto menyatakan, pihaknya telah mengupayakan penggunaan benih unggul dan realisasi tanam, terutama untuk persawahan yang terkena banjir dan kekeringan, telah dilakukan penanaman kembali.

Menurut dia, realisasi tanam pada periode Oktober 2007-Mei 2008 meningkat dan mencapai 100,41%, di atas sasaran seluas 10,065 juta hektare atau mencapai 10,107 juta hektare. Sementara realisasi penggunaan benih unggul, baik itu benih bantuan maupun benih bermutu, meningkat menjadi sekitar 53,04% bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

(34)

Pikiran Rakyat Kamis, 05 Juni 2008

Ra t u sa n h a Sa w a h Te r a n ca m Ke k e r in g a n

SUMEDANG, (PR).-

Ratusan hektare (ha) areal sawah berisi tanaman padi usia muda di beberapa blok lahan sawah di Kab. Sumedang, kini mulai dihantui ancaman kekeringan. Berdasarkan pemantauan "PR", Rabu (4/6), tanah permukaan pada sejumlah petak sawah tampak sudah mengering disertai retakan-retakan.

Kondisi seperti itu, sebagian besar menimpa areal-areal sawah tadah hujan serta pada areal sawah yang tidak termasuk pengairan irigasi. Di antaranya, di Blok Sawahmenak dan Salareuma, di Desa Cijati, Kecamatan Situraja, serta di sejumlah blok areal persawahan di hampir semua desa di Kecamatan Darmaraja.

Tanda-tanda ancaman kekeringan akibat kemarau seperti itu, menurut sejumlah petani di kedua wilayah kecamatan itu, mulai dirasakan selama sebulan terakhir. Untuk mengatasinya, petani dan pemilik sawah nonirigasi teknis di sekitar sungai dan sumber air permukaan di dua kecamatan itu, akhir-akhir ini telah mulai mengatur dan melakukan jadwal giliran pasokan air dari sumber air di sekitarnya.

Perkiraan kekeringan juga diutarakan pemilik sawah di Desa Jatibungur, Kecamatan Darmaraja, Wahidin (41). Mantan Kepala Desa Jatibungur itu mengatakan, areal sawah di 10 desa di wilayah Kec. Darmaraja yang selama ini mengandalkan suplai air dari Sungai Cimuja dan Cihonje, akhir-akhir ini juga sudah mulai kekurangan air.

Untuk menangkal ancaman tersebut, sejumlah pemilik sawah ada yang berupaya dengan menutupi permukaan tanah sawah di sela-sela tanaman padinya dengan jerami basah. Cara tersebut, menurut Ny. Itoh Rokayah (63) yang tengah menghamparkan jerami basah pada petakan sawahnya di Blok Salareuma, dilakukan untuk memperlambat pengeringan tanah permukaan sawah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan Kab. Sumedang Ir. Soenaryo Soehanda, M.M., M.B.A, saat dikonfirmasi mengenai hal itu, Rabu (4/6), mengatakan, untuk mencegah terjadinya kekeringan, pihaknya jauh-jauh hari sudah menyosialisasikan jadwal tanam. Termasuk menyampaikan hasil prakiraan musim dari pihak Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) kepada masyarakat petani di Kab. Sumedang.

(35)

Suara Pembaruan Kamis, 05 Juni 2008

4 5 Pe r se n La h a n Ja g u n g D it a n a m i H ib r id a

[JAKARTA] Departemen Pertanian terus mendorong penggunaan jagung hibrida untuk menggenjot produksi jagung nasional. Dari realisasi tanam periode Oktober 2007 - Maret 2008 seluas 2,83 juta ha, sebanyak 45 persennya ditanami jenis hibrida.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Soetarto Alimuso kepada SP di Jakarta, Selasa (3/6).

Sementara itu berdasarkan angka ramalan I Badan Pusat Statistik, tahun ini luas panen jagung mencapai 3,76 juta hektare dengan produksi mencapai 13,88 juta ton. Deptan sendiri menargetkan luas panen tahun ini 4,25 juta hektar dengan produksi mencapai 15,93 juta ton. Untuk mendukung realisasi target tersebut, Deptan sudah menyalurkan bantuan benih hibrida untuk luas lahan sekitar 800.000 hektare.

Di tempat terpisah, Ketua Dewan Jagung Nasional, Fadel Muhammad meminta pemerintah menerapkan harga dasar jagung secara regional untuk mengamankan harga komoditas pangan tersebut ketika musim panen. Konsep ini mirip penetapan harga beras melalui kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP), namun untuk jagung disesuaikan dengan regional masing-masing.

Fadel menyatakan, selain menerapkan harga dasar, pemerintah juga harus bertanggung jawab membeli jagung petani sebagaimana dilakukan Perum Bulog untuk komoditas gabah dan beras. Saat ini, tambahnya, pemerintah daerah Gorontalo telah melakukan pembelian jagung petani saat musim panen, sehingga mereka mendapatkan kepastian pasar dengan harga yang menguntungkan.

"Di negara-negara lain seperti Korea Selatan dan Jepang, pemerintahnya juga membeli hasil petani ketika panen tiba, hal itu efektif mencegah ulah para tengkulak," katanya.

Lebih lanjut Fadel yang juga Gubernur Gorontalo itu mencontohkan, Pemda Gorontalo saat ini berani melakukan pembelian jagung petani dengan harga Rp750/kg ketika harga di pasaran Rp400-Rp500/kg dan harga di Jawa Rp800/kg. Saat ini, harga jagung di Gorontalo sudah mencapai Rp2.500/kg, sedangkan modal usaha yang dikeluar- kan petani hanya sekitar Rp700-Rp800/kg sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Dia mengungkapkan, bertanam jagung sebenarnya merupakan usaha yang menguntungkan, karena saat ini harga di pasaran sudah mencapai Rp3.000/kg sementara modal usaha hanya sekitar Rp1.000/kg. Selain itu, permintaan terhadap jagung baik di dalam negeri maupun luar negeri cukup besar, seperti di Malaysia sebanyak 3 juta ton per tahun, Filipina 1,5 juta ton per tahun, Korea 12,5 juta ton per tahun, dan Vietnam 1 juta ton per tahun.

Karawang

Sementara itu, Bupati Karawang Dadang S Muchtar menyatakan, pihaknya siap mengembangkan tanaman jagung hibrida di kabupaten tersebut. Menurut dia, Karawang saat ini memiliki lahan seluas 50.000 ha yang potensial untuk pengembangan jagung hibrida. Namun pada tahap awal akan dilakukan pada areal 3.600 hektar yang di Kecamatan Tirtamulya.

(36)

Suara Pembaruan Kamis, 05 Juni 2008

(37)

Suara Pembaruan Kamis, 05 Juni 2008

Se m b ila n D AS Kr it is

La h a n Pe r t a n ia n Te r a n ca m

[JAKARTA] Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan, sebanyak sembilan daerah aliran sungai (DAS) yang membentang di 20 kabupaten di Tanah Air saat ini dalam kondisi kritis. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam lahan pertanian di wilayah sembilan DAS tersebut. Demikian dikatakan Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Deptan Hilman Manan kepada SP di Jakarta, Kamis (5/6).

Hilman mengatakan, kesembilan DAS tersebut meliputi DAS Ciliwung, DAS Citarum, DAS Cimanuk, dan DAS Citanduy di Jawa Barat. Selain itu, DAS Bengawan Solo dan DAS Serayu di Jawa Tengah, DAS Brantas di Jawa Timur, DAS Jeneberang di Sulawesi Selatan, serta DAS Palung di Nusa Tenggara Timur.

Lebih lanjut Hilman mengatakan, kondisi kritis DAS tersebut juga menjadikan sejumlah waduk yang airnya bersumber dari DAS tersebut ikut kritis dan mengalami pendangkalan hebat. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang dilalui sungai-sungai itu mengalami kebanjiran di musim hujan, dan sebaliknya mengalami kekeringan di musim kemarau.

Hasil studi JICA sejak tahun 2003, kawasan hulu DAS Bengawan Solo yang memiliki tangkapan air seluas 2.700 km2 menunjukkan bahwa sekitar 80 - 90 persen material sedimen yang terhampar di depan mulut "pintu pengambilan" (intake) waduk Gadjah Mungkur berasal dari lahan-lahan usaha tani kritis yang berada di bagian hulunya. Demikian pula sedimentasi yang terjadi pada waduk Sudirman di Jateng, Saguling di Jabar, Sutami di Jatim dan sejumlah waduk lainnya.

Sementara itu, menyinggung luas kekeringan yang melanda areal pertanian di tanah air, Ditjen PLA menyatakan, dalam 10 tahun terakhir rata-rata setiap tahun mencapai 200.000 ha begitu juga persawahan yang terkena banjir sebesar itu.

Dari data yang dikeluarkan Ditjen Tanaman Pangan Deptan, luas areal persawahan yang terkena kekeringan dari 1992-2007 mencapai 3,56 juta ha atau rata-rata per tahun 22.878 ha. Dari luas tersebut lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen 710.277 ton atau sekitar 44.392 ha.

(38)

Suara Pembaruan Kamis, 05 Juni 2008

Sedangkan, luas areal pertanian yang terkena banjir selama periode yang sama, tercatat 2,97 juta ha atau rata-rata 185.735 ha per tahun yang mana gagal panen atau puso 813.793 ha atau sekitar 67.811 ha.

Jika dijumlahkan, akibat banjir dan kekeringan terjadi kehilangan beras sebanyak rata-rata 501 ribu ton per tahun.

(39)

Kompas Jumat, 06 Juni 2008

Pu p u k M a h a l, Pe t a n i Un j u k Ra sa

Alok a si Pu p u k Tid a k Se su a i d e n g a n Usu la n

Jumat, 6 Juni 2008 | 00:35 WIB

Ngawi, Kompas - Puluhan petani dari Cepoko, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, berunjuk rasa di Gedung DPRD Ngawi, Kamis (5/6). Petani menuntut alokasi pupuk di wilayah mereka ditambah. Selama ini, setiap masa tanam tiba, petani selalu kesulitan mendapatkan pupuk.

Pengunjuk rasa datang dengan menumpangi satu truk. Setelah membentangkan poster bertuliskan tuntutan mereka di halaman Gedung DPRD, perwakilan petani ditemui Komisi A dan Komisi B.

Dalam pertemuan itu, Sidik Gunawan, petani, mengatakan, pada masa tanam Februari-Maret, kios resmi penjual pupuk bersubsidi di Ngrambe tidak ada lagi yang menjual pupuk urea dan SP-36. Kalaupun ada, harganya di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

”Pupuk urea yang seharusnya sekitar Rp 60.000 menjadi Rp 85.000-Rp 90.000 per zak (isi 50 kilogram). Begitu pula dengan pupuk SP-36 yang seharusnya sekitar Rp 77.500 menjadi Rp 120.000 per zak,” kata Sidik.

Mahal dan sulitnya petani memperoleh pupuk terjadi setiap masa tanam tiba. Oleh karena itu, mereka meminta DPRD menekan pemerintah untuk memperbaiki distribusi dan menambah alokasi pupuk bersubsidi bagi petani di Ngrambe.

”Sebentar lagi kami memulai masa tanam ketiga, kami resah karena pupuk mahal dan langka,” ucap Nur Khamid, petani lain.

Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Ngawi Marsudi mengatakan, alokasi pupuk urea dan SP-36 yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bagi petani Ngawi memang tak sesuai dengan usulan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi. Akibatnya, terjadi kekurangan.

Usulan dari Pemkab Ngawi, alokasi pupuk urea sebanyak 42.000 ton, sedangkan SP-36 13.000 ton. Sementara Pemprov Jatim mengalokasikan pupuk urea 39.251 ton dan SP-36 sebanyak 12.110 ton.

”Tidak tertutup kemungkinan kelangkaan ini terjadi karena banyak pupuk bersubsidi yang sebetulnya dialokasikan untuk Ngawi, tetapi malah dijual di luar Ngawi,” tutur Marsudi.

(40)

Media Bersama Sabtu, 07 Juni 2008

Bu k a n Kon se p Pa n g a n , t a p i Re for m a Ag r a r ia

Sabtu, 07 Juni 2008 11:37 Sadikin Gani

Sadikin Gani

Sadikin Gani

Susetiawan, staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, menyatakan bahwa sumber krisis pangan di Indonesia terkait erat dengan penggunaan konsep pangan yang menyatakan beras sebagai satu-satunya makanan utama. Menurutnya, seperti dikutip Kompas, 06 Juni 2008, penggunaan konsep itupun dinilai menjadi sumber terpuruknya kehidupan petani dan hilangnya keragaman jenis bahan pangan yang ada di Indonesia.

Bagaimana penjelasannya?

Menurut Susetiawan, dengan konsep pangan seperti itu, pemerintah berupaya menyediakan beras yang cukup dan murah bagi masyarakat. Atas dasar itulah pemerintah pun mengimpor beras. Padahal, langkah tersebut merugikan petani, karena harga beras dalam negeri kalah bersaing dengan beras impor.

Lebih jauh Susetiawan mengemukakan bahwa penggunaan konsep pangan yang menempatkan beras sebagai satu-satunya bahan pokok telah menjebak pemerintah untuk menetapkan standar kemakmuran berdasarkan tingkat konsumsi beras per hari. Karena itulah, kata Susetiawan, “kalau konsep pangan berubah, krisis pangan bisa diatasi karena fokus pemerintah bukan hanya pada beras."

Penjelasan yang dikemukakan Susetiawan logis. Namun, terlalu menyederhanakan masalah jika penjelasan kiris pangan di Indonesia hanya bertumpu pada soal konsep pangan dan kebijakan perberasan. Meski logis, penjelasan tersebut bisa menyesatkan dan menutupi persoalan pertanian secara keseluruhan dan pangan khususnya. Sebab, sama sekali tidak menyentuh persoalan alas hidup pangan, yaitu sumber agraria. Dalam konteks itu tidak lain adalah tanah dan air.

Penjelasannya bisa saya kemukakan dalam alur berpikir singkat berikut ini:

* Pangan untuk keperluan makan bisa tersedia jika tersedia pula tanah atau lahan untuk menanamnya.

* Pangan bisa memenuhi kebutuhan suatu masyarakat jika rasio antara jumlah orang yang membutuhkan beras dengan luas tanah pertanian yang tersedia dan tenaga kerja yang mengolahnya seimbang. Dengan begitu, proses produksi pertanian bisa berkelanjutan. * Agar proses produksi terus berlanjut sehingga dapat memenuhi perkembangan kebutuhan, selain harus didukung dengan modernisasi teknologi pertanian, juga harus mampu memberi jaminan penghidupan yang layak bagi tenaga kerjanya.

(41)

Media Bersama Sabtu, 07 Juni 2008

Namun demikian, satu hal yang saya pikir sudah sangat jelas dan perlu selalu kita ingat, bahwa usaha perbaikan apapun di sektor pangan khususnya dan pertanian pada umumnya, tidak akan pernah terpecahkan selama persoalan alas hidup pangan dan tanaman pertanian, yaitu tanah dan air tidak pernah disentuh. Persoalan krisis pangan tidak akan pernah bisa dipecahkan untuk kepentingan jangka panjang jika kita menutup mata pada realitas ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia. Itu artinya, reforma agraria adalah syarat utama sekaligus pintu masuk bagi usaha memacahkan masalah pangan dan pertanian pada umumnya. Jika itu dilaksanakan, bukan hanya soal pangan dan pertanian yang akan menerima dampak positif, tetapi juga kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Betapa tidak, sampai saat ini m

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya luas kebun kelapa sawit dunia time lag 5 tahun, produksi minyak kedelai dunia, penawaran CPO dunia, harga minyak kedelai dunia, permintaan CPO dunia tahun sebelumnya

kin mempersulit industri farmasi nasional. Perubahan mlai tukar mata uang asing ter' hadap rupial memenSaruhi biaya produksi sekitar 1cplo-150/0, ditambah kenaikan

Euk n hanya bisa dlgunakan sebagai poslaMu, bangunannya luga menurut S€etul btsa dlpakat untuk batat waEa, gendtdlkn anak usla dlnl (PAUD), dan pemberdayaan tanlut

Harga kedelai nasional dipengaruhi oleh permintaan kedelai, penawaran kedelai, jumlah produksi kedelai, stok kedelai, impor kedelai, harga kedelai dunia dan harga

Bahwa dalam rangka memberdayakan ekonomi kerakyatan dan dalam upaya memacu kegiatan produksi pangan serta untuk meningkatkan pendapatan petani melalui jaminan harga yang

Ketatnya persaingan dalam dunia industri semakin memacu perusahaan manufacturing untuk meningkatkan terus menerus hasil produksinya dalam bentuk kualitas, harga, jumlah

hingga 70% dari total biaya produksi. Harga kayu lapis dunia berpengaruh positif terhadap permintaan bahan bahan baku kayu bulat. Apabila terjadi kenaikan harga kayu lapis

Harga kedelai nasional dipengaruhi oleh permintaan kedelai, penawaran kedelai, jumlah produksi kedelai, stok kedelai, impor kedelai, harga kedelai dunia dan harga