19
PENGARUH PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)
TERHADAP HASIL BELAJAR IPA PADA MATERI CAHAYA
SISWA KELAS IV SD IT NUR IHSAN MEDAN
Rizka Hidayah Husin Lubis
Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara Email : [email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine whether or not there is a positive reinforcement effect on science learning outcomes in the light material of class V SD IT Nur Ihsan. The approach used in this study is a quasi-experimental approach with pretest and posttest control group design. In this study, there were two groups that were selected randomly, then given a pretest to determine whether there was a difference between the experimental group and the control group. Data collection is taken through the method of observation and student learning outcomes scale. The instruments used include observation guidelines and the scale of science learning outcomes. Test the validity of the instrument using construct validity, and reliability testing using the Alpha formula, with an Alpha coefficient of 0.917. The result of the average score of the students with the provision of reinforcement reinforcement was 98.19, while the average score of the percentage of science learning outcomes was 76.71. While the average score of students with the control class was 81, while the average percentage of student learning outcomes was 62.9. Testing the research hypothesis by comparing the pretest with the posttest and strengthened by the Gain score analysis, the average student learning outcomes in the pretest activities were 71.81. Nur Ihsan.
Keywords: Reinforcement, learning outcomes
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penguatan positif terhadap hasil belajar IPA pada materi cahaya siswa kelas V SD IT Nur Ihsan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan quasi eksperimen dengan Pretest dan Posttest Control Grup Design. Penelitian ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara Random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok control.Pengumpulan data diambil melalui metode observasi dan skala hasil belajar siswa.Instumen yang digunakan meliputi pedoman observasi dan skala hasil belajar IPA.Uji validitas instrumen menggunakan validitas konstruk, dan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha, dengan koefisien Alpha sebesar 0,917.Hasil skor rata – rata siswa dengan pemberian penguatan Reinforcementadalah 98,19 sedangkan skor rata – rata persentase hasil belajar IPA adalah 76,71. Sedangkan skor rata – rata siswa dengan kelas control adalah 81, sedangakan untuk persentase rata-rata hasil belajar siswa adalah 62,9.Pengujian hipotesis penelitian dengan membandingkan pretest dengan posttest dan diperkuat dengan analisis Gainscore, rata-rata hasil belajar siswa pada kegiatan pretest sebesar 71,81Hasil tersebut menunjukkan hipotesis penelitian diterima yaitu penguatan positif dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada materi cahaya siswa kelas IV SD IT Nur Ihsan.
20 1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia.Pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara. Hal ini telah dijamin dalam UUD 1945 Pasal 31 yaitu “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.“ Oleh karena itu, setiap orang harus dapat mengembangkan diri melalui pendidikan dan memperoleh manfaat dari pendidikan tersebut, diantaranya: ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya demi meningkatkan kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup tidak terlepas dari peningkatan mutu pendidikan.
Dalam mengajar dan mendidik, seorang guru tidak hanya dituntut untuk dapat mengajar dan juga menguasai kelas, namun pendidik juga harus memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan (skill) mengajar yang mumpuni, sehingga dapat menyampaikan ilmu kepada peserta didik dengan sebaik-baiknya. Wina Sanjaya (2006:33) mengatakan bahwa keterampilan mengajar merupakan syarat mutlak bagi bagi seorang guru, agar guru bisa mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang akan digunakan sehingga guru dapat melaksanakan peranannya dalam pengelolaan proses pembelajaran, sehingga pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dari pernyataan tersebut dapat kita ketahui bahwa guru yang memiliki keterampilan mengajar dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar guru sebagai pengajar harus mengembangkan berbagai keterampilan mengajar untuk dapat menciptakan pembelajaran menyeluruh dan terintegrasi. E. Mulyasa (2005: 69), menyatakan bahwa Keterampilan Mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. Melihat dari pernyataan tersebut diperlukan latihan yang
sistematis untuk dapat menguasai keterampilan mengajar dengan utuh dan terintegrasi, misalnya melalui pembelajaran mikro (micro teaching). Moh. Uzer Usman (2006 : 74) mengatakan bahwa terdapat keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai guru yaitu; keterampilan bertanya (questioning skills), keterampilan memberikan penguatan (reinforcement skills), keteramapilan mengadakan variasi (variation skills), keterampilan menjelaskan (explanning skills), keterampilan membuka dan menutup pelajaran (set induction and closer), keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, sertaketerampilan mengajar perseorangan. Untuk menjadi seorang guru, keterampilan guru seharusnya menjadi keterampilan dasar yang melekat pada seorang pendidik.
Skinner (Sugihartono, dkk, 2007: 98) menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement), untuk itu keterampilan memberikan penguatan (reinforcement) harus dikuasai oleh guru karena penguatan yang diberikan kepada siswa akan membangkitkan motivasi siswa
dalam melakukan kegiatan
pembelajaran, sehingga nantinya tujuan pembelajaran dapat diraih dengan baik. Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999: 272) menyatakan penguatan merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain. Moh. Uzer Usman (2006: 73) menyatakan bahwa penguatan mempunyai pengaruh berupa sikap positif terhadap proses belajar anak dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian anak terhadap kegiatan belajar atau merangsang dan meningkatkan motivasi belajar. Pemberian penguatan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran sangat penting, utamanya dalam meningkatkan motivasi belajar anak. Guru perlu
21 memberikan penguatan sebagai respon
positif terhadap siswa, karena dengan pemberian penguatan akan mendorong partisipati aktif siswa dan meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Melihat pentingnya mata pelajaran IPA untuk dipelajari, karena pelajaran ini memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini senada dengan pendapat Wisudawati dan Sulistyowati (2014: 22) yang mengemukakan bahwa “dahulu, saat ini, dan saat yang akan datang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memegang peranan sangat penting dalam kehidupan manusia, karena kehidupan kita sangat tergantung dari alam, zat terkandung di alam, dan segala jenis gejala yang terjadi di alam”. Berdasarkan pendapat tersebut, keberadaan mata pelajaran IPA berguna bagi kehidupan manusia sehari-hari..Pada kenyataannya, masih banyak siswa yang kurang tertarik dan cenderung menghindari IPA.Hal ini dikarenakan, IPA dianggap mata pelajaran yang terlalau banyak menawarkan fakta-fakta dan konsep-konsep yang harus dihafalkan. Dengan penerapan pemberian penguatan oleh guru, maka diharapkan dalam pembelajaran IPA akan berhasil dan lebih efektif. Penguatan merupakan salah satu cara untuk memotivasi siswa dalam belajar IPA. Jadi, dengan bekal motivasi inilah siswa akan belajar dengan semangat, dan kreatif, sehingga diharapkan nantinya dapat dicapai hasil belajar yang maksimal khususnya dalam mata pelajaran IPA. Tinggi rendahnya hasil belajar, akan memberikan sumbangan dalam mencapai kesuksesan di masa depan siswa.
Menurut Mulyasa (2011: 37) guru harus mampu memaknai suatu pembelajaran serta menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas peserta didik. Dapat diindentifikasi beberapa peran guru dalam pembelajaran yang bermakna,
diantaranya adalah a) guru sebagai pendidik; b) guru sebagai pengajar; c) guru sebagai pembimbing; d) guru sebagai pelatih; e) guru sebagai penasihat; f) guru sebagai pembaharu; g) guru sebagai model dan teladan; h) guru sebagai pribadi; i) guru sebagai peneliti; j) guru sebagai pendorong kreativitas; dan k) guru sebagai pembangkit pembelajaran, dan lain-lain.
Mulyasa (2011: 77) menjelaskan penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap sesuatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilakutersebut.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan penguatan (reinforcement) dapat membuat perilaku seperti apa yang diharapkan oleh pemberi penguatan (reinforcement) itu sendiri. Seorang guru yang memberikan penguatan berarti mengharapkan siswanya melakukan tingkah laku seperti yang ia harapkan. Misalnya, seoarang guru memberikan hadiah atau pujian kepada siswa agar siswa tersebut rajin belajar.tujuan penguatan adalah: a) meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, b) merangsang dan meningkatkan motivasi belajar, dan c) meningkatkan kegiatan belajar, dan membina perilaku yang produktif. Buchari Alma (2008: 30) menguraikan tentang tujuan penguatan sebagai berikut: a) meningkatkan perhatian siswa, b) memperlancar atau memudahkan proses belajar, c) membangkitkan dan mempertahankan motivasi, d) mengontrol atau mengubah sikap suka mengganggu dan menimbulkan tingkah laku belajar yang produktif, e) mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar, dan f) mengarahkan kepada cara berpikir yang divergen dan inisiatif pribadi
Bloom dalam Anni (2007: 7-12) mengusulkan tiga taksonomi yang disebut ranah belajar, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan, dan kemahiran intelektual. Domain kognitif adalah
22 pengetahuan (knowledge), pemahaman
(comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), pengorganisasian (synthesis), menilai (evaluation).Ranah afektif berhubungan dengan perasaan, sikap, minat, dan nilai.Domain afektif adalah sikap menerima (receiving), penanggapan (responding), penilaian (valuing), organisasi (organization), pembentukan pola hidup (organization by a value complex).Sedangkan, ranah psikomotorik berkaitan dengan kemampuan fisik. Domain psikomotorik menurut Elizabeth Simpson, yaitu persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guided response), gerakan terbiasa (mechanism), gerakan kompleks (complex overt response), penyesuaian (adaption), dan kreativitas(originality). 2. METODELOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode eksperimen.Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen.Dalam design ini terdapat dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kemudian diberi pretest kepada kedua kelompok tersebut untuk mengetahui keadaan awal, adakah perbedaan antara kelompok kontrol tidak diberi metode penguatan dan eksperimen yang telah diberi metode penguatan. Masing – masing kelompok ini diberi posttest untuk mengukur haasil belajar siswa.
Populasai penelitian yang akan digunakan adalah seluruh siswa kelas IV SD IT Nur Ihsan yang berjumlah 102 siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling. Sudjana (2005:172) mengatakan bahwa pengambilan sampel secara acak cocok sekali untuk populasi yang homogeny, seluruh populasi akan diberi pre – test yaitu soal –soal dengan materi cahaya. Siswa dengan skor 65-70 akan dijadikan sampel. Sampel yang homogen ini secara random diambil sebanyak 42 orang menjadi sampel penelitian, selanjutnya secara random sampel sebanyak 42 orang
dibagi dua untuk selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok, sehingga diperoleh 21 orang siswa yang merupakan kelompok eksperimen dan 21 orang siswa yang merupakan kelompok control.
Kelompok Pretes t Perlakua n Posttes t Eksperimen t T1 E T1 Kontrol T2 - T2
Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 1001) instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Beliau juga mengemukakan bahwa “pemilihan satu jenis metode pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode”. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen pengumpulan data, yakni: lembar observasi dan skala hasil belajar. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil skor rata – rata siswa dengan pemberian penguatan Reinforcement adalah 98,19, sedangkan skor rata – rata persentase hasil belajar IPA adalah 76,71. Sedangkan skor rata – rata siswa dengan kelas control adalah 81, sedangakan untuk persentase rata-rata hasil belajar siswa adalah 62,9. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh pemberian penguatan Reinforcement terhadap hasil belajar siswa pada materi cahaya. Pengujian hipotesis penelitian bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kegiatan pretest sebesar 71,81 sedangkan untuk rata-rata hasil belajar siswa pada kegiatan postest sebesar 98,19. Dengan demikian dapat diketahui selisih rata-rata pretest-postest sebesar 26,38. Untuk memperkuat analisis tersebut, dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh dari seluruh pernyataan
23 menggunakan rumus N-gain. Dimana
perolehan gain score sebesar 0,47 dan berada pada kategori sedang, yakni lebih besar 0,3 dan kurang dari 0,7 (0,7 < 0,47 ≥ 0,3).Berdasarkan hasil analisis tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata postest sebesar 26.38 dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya, dihasilkan bahwa terjadi perubahan banyaknya frekuensi penguatan yang dilaksanakan oleh guru pada saat pretest, treatment I, treatment II dan treatment III.Dengan demikian, terjadi peningkatan pelaksanaan penguatan yang dilakukan oleh guru. Untuk hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dilihat dari hasil pretest dan postest setelah diberikan treatment. Pada kelas eksperimen dapat kita ketahui ada peningkatan yang cukup banyak berdasarkan skor pretest dan skor posttest. Sedangkan pada kelas control juga ada peningkatan dari skor pretest dan skor posttest. Namun peningkatannya sangat sedikit.
Pemberian penguatan (reinforcement) yang diberikan oleh guru berpengaruh terhadap minat belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan kajian teori dan kerangka berpikir penelitian ini, yakni penguatan memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa.Hal tersebut juga sejalan dengan penjelasan Moh. Uzer Usman (2006: 73) menyatakan bahwa penguatan mempunyai pengaruh berupa sikap positif terhadap proses belajar anak dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian anak terhadap kegiatan belajar atau merangsang dan meningkatkan hasil belajar. Zainal Arifin (2010 : 2) pemberian penguatan dalam penerapan proses pembelajaran merupakansalah satu strategi untuk meningkatkan minat dan perhatian peserta didik dalam belajar. minat dan perhatian merupakan indikator bahwa siswa termotivasi.
4. KESIMPULAN
Pengaruh penguatan positif terhadap hasil
belajar IPA menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Penggunaan metode ini dikondisikan sesuai dengan karakteristik bidang studi, karakteristik siswa, serta tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian, peresentase pemberian penguatan positif mengalami peningkatan pada setiap pertemuan. Peningkatan ini tentu dikarenakan adanya proses pembelajaran yang berbeda dari biasanya, salah satunya adalah pemilihan motede yang tepat.
5. SARAN
Adapun saran pada penelitian ini antara lain: Meskipun demikian penggunaan metode pemberian penguatan memerlukan pemahaman guru IPA baik dari segi persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi serta kerjasama antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran agar hal yang diharapkan yakni meningkatkan kemampuan pemberian penguatan dapat lebih baik. Sehingga minat belajar siswa kelas IV Nur Ihsan Medan meningkat karena penggunaan metode pembelajaran yang tidak monoton, akan tetapi bukan berarti hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan pada kelas atau mata pelajaran lainya. Dasar pemilihan metode pembelajaran bukanlah karena lebih baik, tetapi keefektifan, efesiensi dan daya tarik bagi siswa, oleh karena itu, sebagai seorang guru pandai- pandailah dalam memilih metode pembelajaran yang tepat, dan bervariasi agar semua gaya belajar siswa dapat tercover
DAFTAR PUSTAKA
[1] Asril, Zainal. (2010). Micro Teaching.Jakarta: Rajagrafindo Persada
[2] Asyari, Muslichah. 2006. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran Sains di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan
24 [3] Buchari Alma. (2008). Guru
Profesional, Menguasai Metode
dan Terampil
Mengajar.Bandung:Alfabeta [4] Duwi Priyatno, (2012). Carakilat
belajar analisis data denganSPSS 20.Yogyakarta: Andi.
[5] Dimyati danMudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
[6] lida Prayitno. (1989). Motivasi dalam Belajar.Jakarta: DEPDIKBUD [7] Hamzah B Uno.(2011).teori Motivasi
dan Pengukurannya.Jakarta: PT Bumi Aksara
[8] Ishak Arep & Hendri Tanjung.(2003). Manajemen Motivasi. Bandung: [9] Grasindo Moh.Uzer Usman. (2006).
Menjadi Guru
Profesional.Bandung: PT RemajaRosdakarya
[10] Mulyani Sumantri dan Johar Permana.(1998/1999).Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
[11] Mulyasa, E. (2006). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.Bandung:
RemajaRosdakarya
[12] Oemar Hamalik. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara Rita Eka Izzaty. (2007). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press [13] Sardiman. (2007). Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PTRajaGrafindo Persada [14] Sugihartono,dkk. (2008). Psikologi
Pendidikan.Yogyakarta: UNY Press Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Bisnis. Yogyakarta: CV. Alfabeta
[15] Wahid Murni, dkk. (2010). Keterampilan Dasar Mengajar. Yogyakarta: Ar Ruzz Media [16] Wina Sanjaya. (2010). Perencanaan
dan Desain Sistem