BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara purposif yakni pada komunitas petani padi sawah di Kampung Ciburuy, Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa komunitas tersebut secara bertahap sudah mulai menerapkan sistem pertanian organik dalam menanam padi sejak tahun 2002. Seiring dengan itu, proses ini terus berjalan hingga pada tahun 2004 Lembaga Pertanian Sehat (LPS) Yayasan Dompet Dhuafa Republika mendukung pengembangan pertanian organik khususnya produksi padi sehat melalui Program Pemberdayaan Pertanian Sehat1 dan memberi jaminan pasar beras sehat tersebut. Kerjasama yang dibangun antara kelompok tani, koperasi, dan LPS ini mampu menciptakan sebuah produk unggulan. Produk unggulan komunitas petani setempat adalah beras SAE (Sehat, Aman, Enak). Program tersebut berkembang hingga saat ini beras sehat dari Kampung Ciburuy ini sudah memiliki jaringan distribusi yang relatif tetap. Keberhasilan program tersebut juga tidak terlepas dari adanya peran Koperasi Kelompok Tani “Lisung Kiwari”. Secara konsisten, komunitas ini terus secara bertahap mengembangkan praktek budidaya padi dengan mengacu pada standar organik2. Pada tahun 2006, Desa Ciburuy ini menjadi salah satu lokasi penerapan program pengembangan pertanian organik untuk komoditi padi yang pertama kali disosialisasikan di Kabupaten Bogor. Oleh karena itu, lokasi ini seringkali menjadi salah satu rujukan utama tempat penelitian dan pelatihan pertanian organik di Kabupaten Bogor ini.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober 2008 sampai dengan Februari 2009. Penelitian yang dimaksud mencakup studi penjajagan dan kajian intensif di lapangan. Pilihan waktu tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan waktu
1
Program LPS dengan memberikan bantuan biaya sewa lahan kepada kelompok tani yang anggotanya tergolong mustahik (penerima zakat). Anggota kelompok ini juga menjadi anggota koperasi kelompok tani “Lisung Kiwari”. Adapun kewajiban setiap anggota kelompok adalah pada setiap kali panen dari lahan yang sudah disewa tersebut, dari 1 kuintal beras harus ditabungkan ke koperasi sebanyak 4 kg untuk biaya panen tahun berikutnya.
2
yang diperlukan untuk mempersiapkan perencanaan penelitian, sehingga penulis pada saat penelitian di lapang dapat bekerja secara optimal.
3.2 Unit Analisis
Pemilihan unit analisis didasarkan pada persoalan yang hendak diteliti. Untuk mengkaji kelembagaan, maka subyek penelitian yang dipilih adalah individu petani sebagai bagian dari komunitas petani padi sawah di Kampung Ciburuy, serta para individu sebagai pihak-pihak yang terlibat dalam berbagai kelembagaan yang terbentuk dalam sistem pertanian organik tersebut. Pihak-pihak tersebut meliputi lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, serta konsumen beras SAE itu sendiri. Petani yang dimaksud adalah petani penggarap sehingga memiliki akses dan kontrol untuk mengambil keputusan di lahan pertaniannya khususnya untuk menerapkan sistem pertanian organik dan membangun jaringan dengan pihak-pihak lain dalam sistem tersebut. Terdapat sejumlah petimbangan mengapa individu dijadikan sebagai unit analisis dalam penelitian ini. Pertama, sebagai konsekuensi atas pilihan paradigma yang telah diletakkan dalam penelitian ini, yang melihat realitas sosial atau gejala sosial itu ada pada individu atau internalized dalam individu, sehingga satuan analisisnya adalah tingkah laku individu dan kolektivitas hanya sebagai hasil teratur dari perbuatan-perbuatan individu (Veerger dalam Zusmelia, 2007). Dalam terminologi sosiologi dikenal dengan group behaviour (behavioral pattern).
Kedua, realitas sosial yang dikonstruksikan oleh individu yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya dan saling berbagi makna, dan keberadaan realitas sosial tersebut tidak dapat dipisahkan dari individu. Individu-individu merupakan realitas konkrit dan obyektif dan masyarakat hanya merupakan nama yang merujuk pada asosiasi diantara mereka. Jadi tindakan individu merupakan sumber informasi utama dalam rangka memahami fenomena sosial (Nugroho dalam Zusmelia, 2007). Ketiga, para aktor—seperti petani, buruh, tokoh masyarakat, pengelola koperasi, penyuluh, dan distributor beras SAE yang terlibat dalam sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy adalah merupakan individu-individu yang berada dalam suatu jaringan sosial personal tertentu, regulasi tertentu, “kode etik” tertentu dan dalam bentuk pertukaran tertentu.
Artinya dalam penelitian ini, individu dilihat sebagai anggota kelompok (group) sehingga penelitian ini dapat mengungkap dan mengkonstruksi ”group behaviour” (behavioral pattern).
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, dimana melalui penelitian ini peneliti berupaya untuk memahami dan membentuk kembali konstruksi tentang suatu realitas sosial, dengan tujuan untuk mengarahkan konsensus namun tetap terbuka terhadap interprestasi baru sebagai informasi dan peningkatan kesempurnaan. Pilihan atas paradigma konstruktivis dilatarbelakangi oleh pertimbangan ontologi dan epistemologi yang dianut paradigma ini. Secara ontologi, paradigma konstruktivis adalah bersifat relativis, artinya realitas yang dipahami bersifat plural (multiple realitas). Realitas didasarkan atas pengalaman yang bersifat sosial-budaya, lokal dan spesifik. Sedangkan secara epistemologi, paradigma konstruktivis bersifat transaksional dan subyektivis. Dimana antara peneliti dengan subyek penelitian saling terkait dan interaktif. Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode hermeneutika dan dialektika dalam mencapai proses kebenaran. Metode hermeneutika dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat dari orang perorangan, sedang metode dialektika mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat dari orang-perorangan untuk memperoleh suatu konsensus kebenaran yang disepakati bersama. Dengan demikian hasil akhir dari suatu kebenaran merupakan perpaduan pendapat yang bersifat relatif, subyektif dan spesifik mengenai hal-hal tertentu (Salim, 2001). Salah satu faktor yang mempermudah dijalankannya metode tersebut adalah kesamaan bahasa yang digunakan oleh tineliti dan peneliti yaitu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Dengan kesamaan bahasa tersebut lebih mempermudah terbentuknya pemahaman saat wawancara dilakukan. Proses kebenaran pun dapat diupayakan dengan melakukan triangulasi data yaitu proses cek dan re-check data yakni dengan mempertanyakan topik yang sama pada kedua tineliti dari lapisan yang berbeda seperti antara petani penggarap dengan buruhnya, antara majikan dengan buruhnya, antara petani laki-laki dan petani perempuan, antara tokoh masyarakat dengan petani dari lapisan bawah, antara
penyuluh setempat dengan petani binaannya, antara petani padi sehat dengan petani padi non-organik, dan antara petani sesepuh dengan taruna taninya. Kebenaran data diperoleh ketika data bersifat jenuh (redundant) yaitu pada saat sebagian besar tineliti mengungkapkan jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama diberikan. Data tersebut kemudian ditampilkan sebagai sintesis dan analisis data hasil temuan lapang yang diuraikan secara deskriptif. Adapun kutipan langsung yang dituliskan dalam pelaporan ditujukan untuk memperkuat argumentasi dari sintesis dan analisis yang dilakukan oleh peneliti.
Perkembangan sistem pertanian organik pada dasarnya dilatarbelakangi oleh berubahnya kebutuhan masyarakat dalam memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi pangan yang lebih sehat. Perubahan kebutuhan tersebut pada gilirannya turut merubah mekanisme pengaturan melalui fungsi dan peran kelembagaan dalam sistem pertanian organik. Para pelaku pertanian organik lah yang dapat menginterpretasikan kebutuhan mereka terkait dengan sistem pertanian yang mereka geluti saat ini sesuai dengan peran-peran yang melekat pada diri mereka. Di samping itu, melalui pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman mereka pula yang dapat menjamin keberlanjutan kelembagaan sistem pertanian organik. Oleh karena itu, merujuk pada paradigma konstruktivis ini, suatu realitas sosial dipandang ada dalam bentuk bermacam-macam konstruksi bentuk berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukannya. Realitas yang diamati oleh seseorang itu tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang. Karena dasar filosofi ini, maka hubungan epistemologi antara pengamatan dan objek memiliki sifat kesatuan, subjektif, dan merupakan hasil perpaduan interaksi diantara keduanya.
Berkaitan dengan pilihan paradigma di atas, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan strategi penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Strategi penelitian menguraikan bagaimana mencapai tujuan penelitian secara keseluruhan dan mempertanyakan bagaimana pendekatannya, sedangkan metode penelitian menguraikan bagaimana mencapai strategi penelitian. Strategi penelitian berarti mencakup penguasaan metode dan teknik. Studi kasus paling tidak harus melakukan 3 hal yaitu wawancara, pengamatan,
dan analisis dokumen. Studi kasus merupakan strategi yang lebih sesuai untuk pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why.
Agar memadai sebagai suatu penelitian dengan pendekatan kualitatif, maka beberapa kriteria yang diperhatikan adalah derajat validitas, realibilitas, dan objektivitas hasil penelitian3. Dalam pendekatan kualitatif, derajat validitas adalah tingkat kredibilitas dan tingkat transferabilitas. Tingkat kredibilitas adalah dapat dipercayanya hasil penelitian yang diperoleh dari perspektif tineliti. Dari perspektif ini, tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena kepentingan dari sudut pandang tineliti tersebut. Oleh karena itu, tineliti menjadi satu-satunya yang dapat melegimasi kredibilitas dari hasil penelitian yang diperoleh. Untuk mencapai tingkat kredibilitas ini, maka peneliti melakukan konfirmasi dan diskusi kembali dengan para tineliti dari draft-draft laporan penelitian yang sudah disusun. Tingkat transferabilitas adalah melihat sejauh mana hasil penelitian yang diperoleh dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada konteks yang berbeda. Namun, proses tersebut harus mempertimbangkan asumsi-asumsi yang dibangun dan sejauh mana kemungkinan suatu hasil penelitian kualitatif dapat digeneralisasikan dan diterapkan dalam konteks yang berbeda. Terkait dengan hal itu, hasil penelitian belum diketahui kemungkinan untuk digeneralisasikan oleh karena belum dilakukannya penelitian yang serupa dalam konteks yang berbeda.
Derajat reabilitas pada pendekatan kualitatif adalah derajat depentabilitas yaitu didasarkan pada asumsi replikasi atau pengulangan. Akan tetapi, cukup sulit mengukur hal yang sama pada konteks cuaca yang berbeda. Untuk memperkirakan derajat dependabilitas, peneliti harus mengkonstruksi beragam hipotesis pengarah untuk mencakup fakta-fakta yang ditemukan. Selain itu, peneliti juga perlu untuk merubah konteks dimana penelitian terjadi dan mempertimbangkan sejauh mana perubahan konteks tersebut berdampak pada cara penelitian mendekati studi yang dilakukan.
Derajat objektivitas pada pendekatan kualitatif adalah derajat konfirmabilitas yaitu sejauh mana hasil penelitian yang diperoleh dapat dikonfimasi kembali oleh peneliti lain. Beberapa hal yang dilakukan untuk
3
Guba and Lincoln. Qualitative Validity. http://www.socialresearchmethods.net/kb/qualval.php, diakses pada hari Rabu, 11 April 2007.
mencapai derajat konformabilitas adalah peneliti mendokumentasikan prosedur penelitian yang dijalankan untuk mengecek dan me-re-check data. Peneliti juga memberi tanggapan terhadap hasil penelitian, dan proses tersebut dapat didokumentasikan. Selain itu, peneliti juga mencari secara aktif menggambarkan berbagai kontradiksi dari pengamatan yang dilakukan.
Dalam konteks penelitian ini, untuk menjamin objektivitas data dan kemungkinan pengulangan dilakukan, peneliti melengkapi hasil penelitian dengan membuat berbagai dokumentasi seperti membuat catatan lapang, membuat dokumentasi lapang, merekam kondisi lapang dengan alat audio-visual, merekam proses wawancara dengan alat audio, melakukan proses triangulasi data, mengkonstruksi serta merekonstruksi data yang diperoleh. Segala bentuk hasil temuan lapang merupakan hasil temuan dalam konteks dan kurun waktu saat penelitian ini dilakukan. Demikian pula sintesis dan analisis yang diuraikan dalam laporan penelitian ini. Mengingat berbagai dinamika dan proses perubahan yang cepat terjadi dalam komunitas petani di lokasi penelitian, maka fakta-fakta sosial yang ditemukan dalam kurun waktu yang berbeda, sangat memungkinkan untuk mengalami perubahan pula.
Penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu wawancara mendalam dengan panduan pertanyaan, pengamatan berperanserta, dan kajian literatur sebagaimana diuraikan dalam Tabel 5. Wawancara mendalam dilakukan dengan responden dan informan yang diketahui melalui teknik bola salju. Pada awalnya pilihan terhadap informan dilakukan dengan cara sengaja (purposive), yaitu dengan mendatangi aparatur pemerintah maupun tokoh masyarakat dimana penelitian dilakukan, yang selanjutnya akan menggiring pada informan lain dan juga subyek penelitian. Subyek penelitian merupakan pihak yang akan memberi keterangan mengenai dirinya terkait dengan status, peran, hak, kewajiban, dan pola-pola hubungan yang dibangunnya dalam sistem pertanian organik di Kampung Ciburuy. Informan merupakan pihak yang akan memberi keterangan tentang pihak lain dan lingkungannya. Informan ini kemudian akan membantu penulis dalam memilih subyek penelitian yang valid atau memberi keterangan tambahan tentang topik kajian.
Dalam proses penelitian penulis juga melakukan pengamatan berperanserta, pengamatan ini dilakukan agar penulis dapat melihat, merasakan, dan memaknai dunia beserta ragam peristiwa dan gejala sosial di dalamnya sebagaimana subyek penelitian melihat, merasakan, dan memaknainya sehingga memungkinkan pembentukan pengetahuan secara bersama. Pengamatan berperanserta yang dilakukan penulis terbatas pada berpartisipasinya penulis dalam beberapa kegiatan yang dilakukan oleh responden agar terbina raport yang optimal. Untuk membantu penulis dalam mengumpulkan data dilapangan, maka penulis menyusun panduan pertanyaan yang akan ditujukan pada responden dan informan. Hasil dari wawancara mendalam dan pengamatan ini akan penulis tuangkan dalam bentuk catatan harian yang menjadi data primer dalam penelitian ini.
Selain menggunakan triangulasi metode dalam pengumpulan data kualitatif seperti yang telah disebutkan, penelitian ini juga menggunakan metode diskusi kelompok untuk mendapatkan data-data mengenai bagaimana kelompok tersebut mendefinisikan pertanian organik, cara-cara produksi mereka, dan hubungan-hubungan kerja mereka yang merujuk pada keberlanjutan kelembagaan yang terbangun pada masyarakat setempat.
Kajian literatur yang penulis lakukan berasal dari monografi desa untuk mengetahui gambaran umum di daerah penelitian, seperti keadaan lokasi (topografi) dan karakteristik masyarakatnya. Penulis juga melakukan penelaahan pada literatur lain seperti buku teks yang berisi rujukan teori dan hasil penelitian yang berhubungan dengan pertanian organik, pembangunan pertanian yang berkelanjutan, dan kelembagaan, surat kabar, dan juga internet. Kajian literatur ini kemudian menjadi data sekunder dalam penelitian ini.
3.4 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Analisis data kualitatif merupakan upaya yang berlanjut, berulang, dan terus-menerus sehingga dalam waktu yang bersamaan dengan proses pengumpulan data di lapangan, penulis juga menganalisis data tersebut. Penelitian bergerak diantara empat sumbu yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian
data, dan penarikan atau verifikasi kesimpulan (Miles dan Haberman sebagaimana dikutip oleh Sitorus, 1998).
Tabel 5. Teknik Pengumpulan Data
No. Kebutuhan data /
informasi Sumber Data / Informasi
Teknik Pengumpulan Data 1 Penentuan lokasi
sesuai topik penelitian
Dinas Pertanian Kabupaten Bogor Wawancara dan studi literatur 2 Profil desa dan
profil kampung
Data monografi Desa Ciburuy Studi literatur
Profil Kampung Ciburuy Wawancara dan
pengamatan Modernisasi
pertanian di Kampung Ciburuy
Petani padi organik dan petani padi non-organik, tokoh masyarakat, penyuluh setempat Wawancara mendalam dan pengamatan Perkembangan Sistem Pertanian Organik di Kampung Ciburuy
Petani padi organik Tokoh masyarakat Penyuluh setempat Kepala Desa Ciburuy
Wawancara mendalam dan pengamatan
3 Aktivitas dan Pelaku
Petani padi sehat, buruh tani tetap buruh tani lepas, pekerja tetap, tokoh masyarakat, penyuluh setempat, pengelola koperasi Lisung Kiwari (ketua dan pekerja)
petani padi dari luar Kampung Ciburuy, Lembaga Pertanian Sehat distributor beras SAE
Wawancara mendalam, pengamatan berperan serta, diskusi kelompok 4 Bentuk-Bentuk kelembagaan
Petani padi sehat, buruh tani tetap buruh tani lepas, pekerja tetap tokoh masyarakat, penyuluh
setempat, pengelola Koperasi Lisung Kiwari (ketua dan pekerja), petani padi dari luar Kampung Ciburuy, Lembaga Pertanian Sehat, distributor beras SAE
Wawancara mendalam, pengamatan berperan serta, diskusi kelompok 5 Keberlanjutan kelembagaan
Petani padi sehat, buruh tani tetap buruh tani lepas, pekerja tetap tokoh masyarakat, penyuluh
setempat, pengelola Koperasi Lisung Kiwari (ketua dan pekerja), petani padi dari luar Kampung Ciburuy Lembaga Pertanian Sehat
Wawancara mendalam, pengamatan berperan serta 6 Pertanian berkelanjutan
Petani padi sehat, tokoh masyarakat penyuluh setempat, pengelola Koperasi Lisung Kiwari (ketua dan pekerja), petani padi dari luar Kampung Ciburuy,
Lembaga Pertanian Sehat
Wawancara mendalam
Reduksi data bertujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sehingga kesimpulan akhir dapat diperoleh. Reduksi dalam proses pengumpulan data meliputi kegiatan meringkas data, menelusur tema, dan membuat pengelompokkan data. Kegiatan ini berlangsung sejak pengumpulan data sampai dengan penyusunan laporan.
Data-data yang diperoleh dari wawancara mendalam, pengamatan berperan serta, diskusi kelompok terarah, dan analisis dokumen kemudian direduksi melalui proses pemilihan dan pengkategorian data-data yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Data tersebut kemudian digolongkan berdasarkan aspek-aspek tertentu dan disajikan dalam bentuk bab-bab dan teks naratif yang berisi kutipan-kutipan langsung maupun tidak langsung. Penyajian bab-bab dan teks naratif disesuaikan dengan tujuan penelitian.
3.5 Acuan Kerja Penelitian
Merujuk pada Zusmelia (2007), acuan kerja penelitian meliputi dua unsur utama yakni hipotesa-hipotesa pengarah dan batasan analisis. Hipotesa pengarah dimaksudkan sebagai sebuah upaya untuk menuntun peneliti dalam berkerja di lapangan nantinya, dan mulai dari tahap awal kerja lapangan sampai tahap penulisan laporan. Rumusan yang dikemukakan bisa berubah sesuai dengan perkembangan dan kondisi studi di lapangan, sehingga bentuk akhir dari rumusan-rumusan tersebut baru dapat ditemukan pada tahap analisis data dan penulisan laporan. Sehubungan dengan itu, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menekankan dan verifikasi suatu teori atau hipotesis. Penelitian ini bersifat penelitian ekplanatif yang luwes dan terbuka untuk berkembang lebih lanjut, sehingga pada dasarnya batasan analisis yang diberikan hanyalah semacam kerangka kerja yang memberi fokus untuk kerja analisis selama di lapangan maupun sesudah di lapangan.
3.6 Hipotesis Pengarah
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan, maka hipotesis utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa
pertanian berkelanjutan diinterpretasikan dari keberlanjutan kelembagaan dalam sistem pertanian organik melalui adanya kelembagaan-kelembagaan yang berkembang dalam sistem pertanian organik tersebut.
3.7 Batasan Analisis
Terkait dengan masalah dan fokus penelitian ini, maka disusun beberapa terminologi penelitian sebagai batasan analisis sebagai berikut :
Sistem Pertanian Non Organik
Meliputi cara produksi, aturan dan nilai yang melandasi, hubungan-hubungan sosial yang terbentuk dengan diterapkannya sistem pertanian konvensional. Cara produksi didasarkan pada penggunaan input eksternal dan penggunaan zat-zat kimia sintetis, penggunaan benih dan bibit hasil rekayasa genetika, dan lebih mengutamakan pengetahuan serta teknologi modern. Aturan dan nilai yang melandasi adalah pencapaian produktivitas maksimal dan perolehan keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan keseimbangan ekologi, nilai-nilai sosial budaya masyarakat, kualitas produk yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen. Hubungan-hubungan sosial yang terbentuk pun cenderung lebih didasari oleh nilai kapitalistik dengan semakin menguatnya ekonomi uang.
Sistem Pertanian Organik
Meliputi cara produksi, aturan dan nilai yang melandasi, hubungan-hubungan sosial yang terbentuk dengan diterapkannya sistem pertanian organik ini sebagai upaya pengelolaan sumber daya lahan pertanian yang menjamin keberlanjutan lingkungan. Cara produksi meliputi pengolahan tanah, penggunaan benih, penanaman, pemupukan, pengendalian hama penyakit, pemeliharaan tanaman (pengairan dan penyiangan), panen dan pascapanen. Cara produksi ini didasarkan pada prasyarat yakni meminimalisasi penggunaan input eksternal atau zat-zat kimia sintetis, menghindari penggunaan benih atau bibit rekayasa genetik, menggunakan input yang dapat didaur ulang, dan memanfaatkan pengetahuan lokal setempat. Namun, sistem pertanian organik ini tidak menutupi penggunaan
teknologi pertanian seperti penggunaan bibit unggul sebagai inovasi di tingkat lokal, penggunaan alat dan mesin pertanian, teknologi panen serta pascapanen. Aturan dan nilai yang melandasari merujuk pada prinsip-prinsip pertanian organik yang meliputi prinsip kesehatan, prinsip pemeliharaan, prinsip keadilan, dan prinsip ekologis. Adapun hubungan-hubungan sosial yang terbentuk dalam sistem pertanian organik mencakup para pelaku dan aktivitas yang secara terpola dilakukan.
Kelembagaan
Kelembagaan adalah seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat, yang telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia, mendefinisikan bentuk-bentuk aktivitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya, hak-hak istimewa yang telah diberikan serta tanggung jawab yang harus mereka lakukan. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumber daya alam tertentu. Kelembagaan memiliki komponen berupa para pelaku yang terlibat, tata aturan, nilai, norma, dan terdapat tata kelakuan terpola yang muncul sebagai aktivitas para pelaku. Pilar regulatif, normatif, dan kultural-kognitif menjadi elemen dasar dalam kelembagaan yang terbentuk. Adapun terbentuknya kelembagaan didasarkan atas fungsi untuk memenuhi kebutuhan para pihak yang terlibat didalamnya.
Pilar Penopang Kelembagaan
Pilar regulatif mengatur perilaku anggotanya dengan menitikberatkan adanya kepatuhan terhadap proses-proses regulatif yang eksplisit yakni seting peraturan (rule-setting), pemantauan (monitoring), dan aktivitas pemberian sanksi (sanctioning activities). Pilar normatif menitikberatkan pada adanya rumusan atau resep, evaluasi, dan kewajiban sosial dalam kehidupan sosial. Pilar cultural-cognitif atau pengetahuan budaya yang menitikberatkan untuk berbagi konsepsi yang mengkonstitusi keaslian dari realitas sosial dan kerangkanya, melalui pembentukan makna.
Proses Pelembagaan
Terdapat 3 alternatif mekanisme yang menggarisbawahi proses dari pelembagaan sistem sosial yakni pelembagaan berbasis pada pengembalian yang semakin meningkat (institutionalization based on increasing return), pelembagaan berbasis pada peningkatan komitmen (institutionalization based on increasing commitments), dan pelembagaan berbasis pada peningkatan objektifikasi ((institutionalization based on increasing objectification).
Keberlanjutan Kelembagaan
Keberlanjutan kelembagaan yang dimaksud diindikasikan dengan adanya ketahanan sistem sosial masyarakat setempat. Terdapat dua elemen yang menjadi alat untuk mencapai kondisi tersebut yaitu adanya pengorganisasian sosial dan teknik sosial yang ditentukan oleh adanya faktor internal dan faktor eksternal.
Pertanian Berkelanjutan
Melihat kapasitas sistem pertanian untuk menyediakan permintaan yang semakin beragam dan meningkat terhadap komoditi pertanian, dan menjamin kepastian harga dalam jangka waktu yang relatif lama. Merujuk pada suatu sistem pertanian dimana mengurangi polusi dan fakor-faktor yang merusak keseimbangan ekologi dari sistem yang tidak berkelanjutan. Di samping itu, juga menempatkan keberlanjutan sumber daya fisik dan sejumlah set nilai-nilai komunitas, mengupayakan penguatan atau merevitalisasi budaya komunitas, dan menciptakan integrasi antara dimensi fisik dengan dimensi kultural dari produksi dan konsumsi. Lebih lanjut, pertanian berkelanjutan ditujukan untuk memberi keuntungan secara sosial (social justice), keuntungan ekonomis (economically valuabe), dan keuntungan ekologis (ecologically sound).
Batasan analisis tersebut yang diuraikan, secara sosiologis dilihat dalam konteks struktur sosial tertentu, yakni struktur sosial komunitas petani padi sawah di Kampung Ciburuy, Kabupaten Bogor. Struktur sosial yang dimaksud adalah mengacu kepada hubungan-hubungan sosial antara individu-individu, individidu-kelompok, kelompok dengan kelompok pada saat tertentu dan menunjuk pada
perilaku (tindakan) yang diulang-ulang dengan bentuk dan cara yang sama sehingga merupakan hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial tertentu dan antara peranan-peranan sosial tertentu. Adapun berbicara mengenai petani di Kampung Ciburuy secara sosiologis, menempatkan petani dalam aras bentukan hubungan-hubungan sosial petani antara petani dalam kelompok tani, antara kelompok tani dalam satu gapoktan, antara kelompok tani dalam gapoktan yang berbeda, antara petani dengan masyarakat desa setempat, antara petani dengan pemerintah (baik yang diwakili oleh dinas pertanian –dalam hal ini diwakili oleh petugas penyuluh lapangan-, pemerintah desa, maupun pemerintah kecamatan), petani dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, petani dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis baik dalam sistem produksi padi sehat maupun sistem distribusi beras SAE.