PENGEMBANGAN PERIKANAN
Pemahaman karakteristik suatu wilayah untuk pengembangan perikanan menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Perkembangan kegiatan perikanan tidak terlepas dari keberadaan sumberdaya ikan dan lingkungannya, teknologi, sumberdaya manusia, permodalan, kebijakan, kelembagaan, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan faktor-faktor lainnya. Masing-masing daerah memiliki potensi sumberdaya perikanan dengan karakteristik yang bersifat spesifik atau khas untuk daerah tersebut.
Karakteristik sumberdaya perikanan yang bersifat khas tersebut di atas, berimplikasi terhadap kinerja kegiatan perikanan di suatu wilayah. Sebagai contoh, terkait dengan kondisi geo-topografi wilayah dari pusat pendaratan ikan yang berada pada lokasi yang masih terisolir dengan kondisi topografi pada daerah yang berbukit atau pegunungan, akan berimplikasi terhadap sulitnya aksesibilitas pasar dari produksi ikan yang dihasilkan.
Pada Bab ini akan dibahas kaitan antara kondisi aspek geo-topografi, biologi, teknologi, sosial-ekonomi dan politik dari Wilayah Selatan Jawa terhadap implikasinya bagi kinerja perikanan di wilayah ini. Pembahasan didasarkan pada keadaan umum daerah penelitian yang telah dijelaskan pada Bab 4, dan kondisi sistem perikanan tangkap pada Bab 5.
6.1 Implikasi Karakteristik Aspek Geo-Topografi
Geo-topografi dimaksudkan sebagai letak suatu wilayah ditinjau dari bentuk permukaan buminya berdasarkan pada posisi geografis. Kondisi geo-topografi suatu wilayah menjadi penting, hal ini terkait dengan tingkat aksesibilitas dari wilayah tersebut. Secara umum pusat-pusat pendaratan ikan di Selatan Jawa berada di daerah yang masih terisolir. Wilayah Selatan Jawa sebagian besar berupa pegunungan atau perbukitan. Kondisi geo-topografi seperti ini, menjadi salah satu faktor penghambat berkembangnya kegiatan perikanan di Selatan Jawa. Yani et al. (2004) menyatakan, suatu kegiatan industri biasanya berada di suatu wilayah yang strategis. Lokasi yang strategis adalah suatu lokasi yang dapat
mendukung berkembangnya kegiatan industri, yaitu terkait dengan ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja, sumber energi, transportasi dan komunikasi, pasar, teknologi, peraturan, iklim dan ketersediaan sumber air. Tamin (2000) juga menyatakan, daerah pemukiman, industri, pertokoan, fasilitas hiburan, dan fasilitas sosial, mempunyai beberapa persyaratan teknis dan non teknis yang harus dipenuhi dalam menentukan lokasinya. Ciri teknis yang sering dipakai adalah kondisi topografi (datar, bukit, pegunungan), kesuburan tanah dan geologi.
Pusat-pusat kegiatan perikanan berada di suatu wilayah pantai, yang secara umum berada di suatu lokasi dengan kepadatan penduduk rendah. Produksi ikan yang dihasilkan harus didistribusikan ke daerah-daerah lain, agar produk dapat dipasarkan dengan baik. Disini penting diperhatikan bahwa suatu lokasi pusat kegiatan perikanan harus memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi, sehingga pasar produk terjamin. Aksesibilitas atau kemudahan akses, dimaksudkan bahwa daerah produksi mudah diakses pasar. Aksesibilitas terkait dengan kemudahan suatu lokasi dijangkau dengan berbagai sarana transportasi.
Transportasi merupakan faktor penting untuk dapat mendistribusikan ikan ke tempat-empat tujuan pasar. Biaya transportasi yang tinggi, tidak efisien bagi upaya untuk mendistribusikan ikan ke tempat tujuan pemasaran, dan berpotensi meningkatkan biaya faktor-faktor produksi. Adanya transportasi memungkinkan terjadinya hubungan antar daerah, antar-hinterland dan foreland, serta menimbulkan dampak terhadap sosial ekonomi penduduk dan penggunaan lahan.
Berdasarkan pada pemahaman tersebut di atas, terlihat bahwa lokasi suatu wilayah secara geo-topografi berpengaruh besar terhadap perkembangan kegiatan perikanan. Perkembangan industri perikanan mensyaratkan suatu kemudahan akses yang terkait dengan ketersediaan prasarana dan sarana transportasi, sehingga memudahkan orang untuk melakukan perjalanan. Aksesibilitas untuk kegiatan perikanan, terkait dengan kemudahan mendapatkan input untuk melakukan proses produksi, serta akses untuk memasarkan hasil produksi.
Secara umum, sebagian besar Wilayah Pantai Selatan Jawa secara geo-topografi berada pada lokasi yang tidak strategis untuk kegiatan industri perikanan. Lokasi yang terisolir, dengan bentuk permukaan bumi yang berbukit-bukit dan berlereng terjal, infrastruktur jalan belum dibangun secara memadai,
serta sarana transportasi yang tidak memadai merupakan faktor potensial yang menghambat berkembangnya kegiatan industri perikanan di daerah ini.
Kondisi geo-topografi Kabupaten Sukabumi sebagian besar adalah daerah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan yang berupa dataran rendah. Lokasi PPN Palabuhanratu berada di sebelah barat daya Kabupaten Sukabumi. Secara geo-topografi lokasi PPN Palabuhanratu merupakan daerah yang sulit dijangkau. Akses menuju lokasi PPN Palabuhanratu dapat melalui dua pintu masuk, yaitu melalui Bogor atau Sukabumi. Perjalanan dari Bogor menuju Palabuhanratu dapat melalui jalur Cikidang-Palabuhanratu atau Bogor-Cibadak-Palabuhanratu. Kedua jalur tersebut akan melewati daerah pegunungan dan perbukitan, dengan prasarana jalan yang berkelok dan berliku. Jalur Sukabumi-Cibadak-Palabuhanratu, juga dalam kondisi yang sama.
Kabupaten Garut berada pada ketinggian 7 sampai dengan 1.244 m dpl, memiliki topografi wilayah sangat beragam. Lokasi PPP Cilautereun berada di Kecamatan Pamempeuk, merupakan lokasi yang cukup terisolir. Lokasi PPI Cilaeteureun dapat ditempuh dengan menggunakan sarana angkutan perkotaan atau kendaraan berkapasitas kecil. Jalan menuju PPI Cilautereun melewati daerah perkebunan teh di Pegunungan Cikurai, kondisi jalan sempit, berkelok dan terjal.
Secara geo-topografi wilayah Jawa Tengah di bagian selatan merupakan kawasan pantai yang sempit, dengan lebar sekitar 10-25 km. Wilayah perbukitan landai membentang sejajar dengan pantai, dari Cilacap hingga Yogyakarta. Bentuk topografis Kabupaten Cilacap bagian selatan merupakan dataran rendah, terdapat Pulau Nusakambangan dengan cagar alam Nusakambangan dan Segara Anakan. Lokasi PPS Cilacap terletak di Kecamatan Cilacap Selatan tepatnya di Kelurahan Tegal Kamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan. Secara geo-topografi, lokasi PPS Cilacap mudah dijangkau. Terdapat dua akses masuk yaitu dari arah timur dan arah barat. Akses masuk dari timur sangat baik, dengan kondisi jalan yang cukup datar dan lebar. Sementara itu, akses masuk dari arah barat yaitu dari arah Jeruk Legi, prasarana jalan tidak cukup baik dan melalui daerah perbukitan.
Kabupaten Kebumen memiliki topografi wilayah umumnya meliputi permukaan daratan, daerah aliran sungai serta daerah pantai. Selatan daerah Gombong, terdapat rangkaian pegunungan kapur yang membujur hingga pantai
selatan. PPI Pasir terletak di Desa Pasir Kecamatan Ayah, dengan aksesibilitas rendah. Lokasi PPI berada di daerah terisolir, berjarak sekitar 45,5 km dari kota kabupaten. Jalan menuju lokasi melalui daerah pegunungan, berkelok dan terjal. Sarana jalan adalah jalan kabupaten, dengan kondisi sempit dan rusak. Sarana angkutan berupa angkutan pedesaan.
Sementara itu keadaan topografi berupa Pegunungan Seribu terletak di Selatan Yogyakarta dengan ketinggian sekitar 130-1.000 m dpl. Wilayah Gunung Kidul sebagian besar berupa perbukitan dan pegunungan kapur, yakni bagian dari Pegunungan Sewu. PPI Sadeng terletak di Kecamatan Girisubo. Kondisi jalan dari Wonosari menuju PPI Sadeng cukup baik. Prasarana jalan berupa jalan hotmix, dengan lebar 5-6 m. Hambatan utama perjalanan adalah jalan yang berkelok-kelok mengikuti kountur pegunungan, naik turun dengan bibir jalan yang terjal. Sarana angkutan relatif jarang, dan sangat sepi. Jumlah penduduk di Kecamatan Girisubo relatif kecil, sehingga pergerakan transportasi sangat jarang.
Kondisi topografi Jawa Timur bagian selatan berupa pegunungan kapur selatan. Wilayah pegunungan kapur selatan merupakan wilayah tandus, tidak subur dan belum begitu berkembang. Wilayah Pacitan memiliki topografi berupa pegunungan kapur selatan yang membujur dari Gunung Kidul ke Trenggalek menghadap Samudera Hindia. Terdapat tiga jalur utama dari dan menuju Pacitan, yaitu jalur Solo-Wonogiri-Pacitan, Ponorogo-Pacitan dan Trenggalek-Pacitan. Jalur tersebut dalam kondisi baik, namun beberapa diantaranya beresiko longsor dan beberapa ruas kurang memadai untuk beban berat.
Secara topografi, sebagian besar wilayah Trenggalek merupakan dataran tinggi dan sebagian kecil lainnya merupakan daerah dataran rendah. Kecamatan Watulimo tempat PPN Prigi berada, memiliki ketinggian dari 0-450 m dpl. Kemiringan tanah berkisar antara 15% sampai dengan 25%. Jalan menuju PPN Prigi berupa jalan hotmix dengan lebar sekitar 3-8 m, melalui daerah pegunungan yang berkelok-kelok, sempit dan terjal. Sarana transportasi berupa colt, sementara itu untuk perdagangan digunakan sarana truk.
Kondisi topografis Kabupaten Malang, di bagian selatan merupakan daerah pegunungan kapur dengan ketinggian 0-500 m dpl. PPP Pondokdadap berjarak 29 km dari Kecamatan Sumbermanjing, 75 km dari Kepanjen dan 157 km dari
Kota Surabaya. Aksesibilitas menuju PPP Pondokdadap melalui Kota Malang-Turen-Sendangbiru dengan jarak sekitar 69 km. Kondisi jalan berupa jalan hotmix dengan lebar sekitar 3-8 m, berkelok-kelok dan terjal. Sarana transportasi yang dapat digunakan berupa mini bus, colt dan ojek.
Jika dilihat dari aspek geo-topografinya, daerah pusat kegiatan perikanan yang telah berkembang dengan baik di Selatan Jawa adalah PPS Cilacap. Lokasi PPS Cilacap berada di suatu lokasi yang secara geo-topografi memiliki nilai positif untuk menunjang pengembangan kegiatan industri perikanan. Daerah Cilacap memiliki kondisi topografinya relatif datar, sarana infrastruktur berupa jalan dan sarana transportasi telah terbangun dengan baik. Hubungan dari Cilacap ke daerah-daerah yang menjadi hinterland-nya yaitu Bandung, Semarang, Jakarta dan kota-kota lainnya untuk memasarkan produksi ikan mudah dilakukan. Kota Cilacap sebagai kota pusat pemerintahan kabupaten, perdagangan, industri dan wisata, menjadikan Cilacap memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi. Pergerakan orang dan barang sangat tinggi, didukung fasilitas transportasi yang sangat baik.
Suatu lokasi tidak selamanya akan merupakan daerah yang terisolir. Perkembangan pembangunan dapat membuka isolasi suatu daerah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa lokasi pelabuhan perikanan yang telah berkembang. Seperti misalnya lokasi PPN Palabuhanratu dan PPN Prigi. Perkembangan perikanan di kedua lokasi ini, telah membuka isolasi daerah tersebut. Saat ini Palabuhanratu dan Prigi, sudah cukup ramai. Perkembangan wilayah ini selain dari kegiatan perikanan juga sebagai dampak dari perkembangan kegiatan pariwisata.
Aspek geo-topografi terkait juga dengan pemilihan lokasi wilayah daratan yang tepat untuk pembangunan pelabuhan perikanan. Lokasi pelabuhan perikanan mensyaratkan wilayah daratan yang cukup luas, dengan bentuk permukaan yang hampir rata (Murdiyanto 2002). Beberapa lokasi PPI memiliki luas wilayah daratan yang tidak begitu lebar. Pusat kegiatan perikanan seperti di PPI Pasir, PPI Sadeng dan PPP Pondokdadap memiliki wilayah dataran yang sempit. Daerah sekitar pelabuhan merupakan areal perbukitan, yang tentunya akan memerlukan biaya mahal untuk menjadikannya pusat kegiatan industri perikanan.
Berdasarkan pada pembahasan di atas, terlihat jelas bahwa kondisi geo-topografi suatu wilayah akan menentukan bagi perkembangan perikanan di daerah
tersebut. Kondisi topografi suatu wilayah akan berimplikasi: 1) kondisi geo-topografi lokasi basis penangkapan yang melalui daerah perbukitan dan pegunungan yang terjal akan berpengaruh terhadap aksesibilitas pemasaran produk perikanan; 2) luas lahan berupa dataran yang sempit di suatu lokasi pelabuhan, menghambat berkembangnya kegiatan industri di pelabuhan tersebut; dan 3) lokasi basis penangkapan yang terisolir akan berimplikasi pada sulitnya mendapatkan input produksi, tenaga kerja dan akses dengan dunia luar yang berdampak pada terhambatnya perkembangan kegiatan industri perikanan.
6.2 Implikasi Karakteristik Aspek Biologi
Karakteristik biologi terkait dengan keberadaan sumberdaya ikan di suatu perairan. Keberadaan ikan di suatu perairan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, salinitas, massa air, front, upwelling, termoklin, dan kondisi arus perairan (Subani dan Barus 1988). Keberadaan sumberdaya ikan di suatu perairan berasosiasi dengan kondisi-kondisi tertentu seperti sebuah teluk, muara sungai, perairan karang, serta keberadaan hutan mangrove. Indonesia yang tergolong perairan tropis memiliki perairan karang cukup luas karena karang-karang hanya dapat hidup subur pada perairan yang bersuhu diatas 20oC, sedang suhu rata-rata perairan Indonesia berkisar antara 27oC-30oC (Subani 1984). Faktor musim dan perubahan suhu tahunan juga akan mempengaruhi penyebaran dan kelimpahan suatu jenis ikan, karena terjadi perubahan kelimpahan makanan (Gunarso 1985).
Faktor lingkungan perairan di Indonesia dipengaruhi oleh perubahan musim. Secara umum Wilayah Perairan Selatan Jawa dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim barat yang berlangsung pada bulan Desember-Maret dan musim timur pada bulan Juni-Agustus. Kedua musim tersebut berpengaruh terhadap kondisi lingkungan perairan dan keberadaan sumberdaya ikan. Pada musim barat sering terjadi hujan lebat, angin sangat kencang, dan ombak yang besar. Kondisi perairan akan bersalinitas sangat rendah saat musim hujan. Kondisi salinitas yang rendah pada musim hujan ini, juga disebabkan pengaruh aliran sungai besar yang banyak bermuara di Samudera Hindia. Pada musim timur keadaan perairan relatif lebih tenang, jarang terjadi hujan, dan angin yang bertiup tidak terlalu kencang. Kadar garam pada umumnya tinggi di musim timur.
Keberadaan kedua musim ini, juga mempengaruhi aktivitas nelayan dalam melakukan operasi penangkapan. Seringnya terjadi hujan lebat, angin sangat kencang, dan ombak yang besar pada musim barat, menyebabkan nelayan tidak banyak melakukan kegiatan operasi penangkapan ikan. Sebaliknya kondisi perairan yang relatif lebih tenang, jarang terjadi hujan, dan angin yang bertiup tidak terlalu kencang, memungkinkan nelayan untuk turun ke laut.
Perairan Samudera Hindia secara umum merupakan perairan yang memiliki tingkat produktivitas perairan yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh banyaknya sungai besar yang bermuara di Samudera Hindia. Beberapa sungai yang bermuara di Samudera Hindia yaitu Sungai Cimandiri dan Cikaso di Perairan Palabuhanratu, Sungai Cilautereun di Perairan Pameungpeuk, Sungai Serayu, Citandui, Yasa dan Sungai Donan di Perairan Cilacap, Sungai Lukulo di Perairan Kebumen, serta Sungai Opak, Sungai Progo, Sungai Glagah, dan Sungai Bogowonto di Wilayah Perairan DI Yogyakarta. Sungai-sungai tersebut membawa unsur hara yang menyuburkan perairan, dan merupakan tempat yang potensial bagi sumberdaya ikan termasuk di dalamnya adalah sumberdaya udang.
Adanya pengaruh peristiwa penaikan massa air (upwelling) yang terjadi di Perairan Samudera Hindia, membawa unsur hara yang ada di lapisan bawah ke lapisan permukaan. Kondisi ini telah menjadikan Perairan Samudera Hindia merupakan perairan yang subur. Berdasarkan kajian PRPT yang dilakukan pada bulan Oktober-Nopember 2001, upwelling di Selatan Pulau Jawa berlangsung pada suhu 26,2 oC, makin ke timur maka upwelling semakin mendekati pantai.
Kesuburan perairan juga didukung oleh banyaknya hutan bakau (hutan mangrove), khususnya di Perairan Cilacap yaitu di sekitar Segara Anakan. Hutan bakau ini merupakan tempat yang baik bagi post larva udang untuk berlindung dan mencari makan (nursery dan feeding ground). Udang hidup di permukaan dasar laut dengan substrat lumpur bercampur pasir. Udang penaeid umumnya hidup di dasar perairan dengan dasar lumpur, berpasir atau lumpur berpasir. Selain keadaan dasar laut dan aliran sungai, beberapa parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan udang penaeid yaitu suhu, salinitas, kadar oksigen, curah hujan, sedimentasi, kekeruhan, arus dan pasang surut air, fase bulan, keadaan siang hari atau malam, unsur hara dan keadaan hutan mangrove.
Daerah penangkapan udang penaeid di Selatan Pulau Jawa terdapat di Perairan Penanjung Pangandaran, Teluk Penyu Cilacap sampai Gombong serta Yogyakarta sampai Pacitan. Kebanyakan udang penaeid tertangkap di Penanjung Pangandaran dan Teluk Penyu Cilacap dan yang tertangkap di Perairan Selatan Yogyakarta sampai Pacitan, merupakan sesuatu yang kebetulan dari migrasi sebagian kecil udang penaeid dari Teluk Penyu Cilacap sampai Gombong karena pengaruh perluasan arus pantai(Naamin 1984).
Banyaknya teluk yang berada di Perairan Samudera Hindia juga merupakan fishing ground yang baik bagi sumberdaya ikan. Perairan teluk merupakan perairan yang relatif dangkal, sehingga produktivitas primer di perairan ini relatif tinggi. Perairan teluk diantaranya yaitu Teluk Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi, Teluk Penyu di Kabupaten Cilacap, Teluk Panggul, Teluk Munjungan dan Teluk Prigi di Kabupaten Trenggalek.
Perairan Selatan Jawa banyak memiliki pantai berkarang dan curam. Kondisi ini dipengaruhi oleh topografi wilayah, dimana Wilayah Selatan Jawa banyak daerah berupa perbukitan dan pegunungan kapur. Perairan karang merupakan fishing ground yang baik untuk perikanan udang karang (lobster). Suman et al. (1993) menyatakan bahwa daerah penangkapan udang karang pada umumnya terdapat di daerah karang dengan kedalaman 3-20 m dengan jarak dari pantai antara 4-7 mil. Lokasi daerah penangkapan biasanya terdapat di sekitar Pulau Nusakambangan, Pangandaran, Parigi, Batukaras, Legok Jawa, Bagolok dan kadang-kadang sampai ke daerah Perairan Selatan Garut.
Perairan Samudera Hindia Selatan Jawa kaya berbagai jenis sumberdaya ikan, baik pelagis besar, pelagis kecil, demersal, dan udang. Potensi sumberdaya pelagis besar sekitar 323,64 ton per tahun, termasuk sumberdaya pelagis besar adalah tuna dan cakalang. Menurut Subani dan Barus (1988), daerah penangkapan tuna berada di Indonesia Bagian Timur dan daerah lain yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Keberadaan tuna sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, salinitas, massa air, front, upwelling, termoklin, dan kondisi arus perairan. Kondisi perairan yang berubah sesuai dengan perubahan musim yang terjadi di Samudera Hindia, menyebabkan keberadaan tuna tidak tetap sepanjang tahun. Tuna terbiasa untuk melakukan migrasi dari satu perairan ke perairan lain.
Potensi sumberdaya ikan lainnya yang bernilai ekonomis tinggi dan termasuk komoditi ekspor adalah layur dan bawal putih. Layur dan bawal putih termasuk jenis ikan demersal. Kedua jenis ikan ini ditemukan di hampir seluruh perairan pantai di Indonesia. Burhanuddin et al. (1998) menyatakan, ikan bawal umumnya hidup di perairan pantai yang dalam dengan dasar perairan berlumpur.
Hasil kajian PRPT yang dilakukan pada bulan Oktober-Nopember 2001 menyatakan, penyebaran sumberdaya pelagis di Samudera Hindia pada kedalaman 5-100 m tercatat di seluruh Perairan Jawa Timur dan secara sporadis di Perairan DI Yogyakarta serta Cilacap. Keberadaan konsentrasi ikan pelagis bertepatan dengan nilai suhu antara 27-29 oC dan nilai salinitas 33-34 psu.
Hasil kajian PRPT (2001) juga menyatakan bahwa, tingkat pemanfaatan sumberdaya pelagis besar, pelagis kecil, dan lobster di Wilayah Perairan Samudera Hindia (WPP IX) masih ≤50%, sehingga masih besar peluang untuk dimanfaatkan. Sementara itu untuk sumberdaya demersal, ikan karang, udang penaeid dan cumi-cumi sudah >95%.
Berdasarkan pada kondisi biologi Perairan Selatan Jawa seperti tersebut di atas, implikasinya terhadap kinerja kegiatan perikanan adalah: 1) perairan yang subur, khususnya adalah pada daerah-daerah yang berasosiasi dengan perairan teluk, perairan karang, muara sungai, hutan mangrove dan perairan terjadinya upwelling, perairan tersebut merupakan fishing ground yang baik untuk kegiatan penangkapan ikan; 2) beberapa jenis sumberdaya ikan yang potensial dan bernilai ekonomi tinggi yang dapat dimanfaatkan adalah tuna, cakalang, udang, lobster, layur dan bawal putih; 3) peluang pemanfatan yang masih cukup besar adalah untuk sumberdaya pelagis besar, pelagis kecil dan lobster.
6.3 Implikasi Karakteristik Aspek Teknologi
Secara umum struktur perikanan tangkap didominasi oleh perikanan skala kecil. Kapal/perahu yang digunakan nelayan pada umumnya telah menggunakan mesin, dengan kekuatan mesin rata-rata 15 PK. Jenis perahu yang digunakan sebagian besar adalah jenis perahu fiberglass dengan ukuran 1-2 GT. Dominasi perahu-perahu fiberglass nyata terlihat pada pusat-pusat pendaratan nelayan tradisional. Jenis alat tangkap dominan adalah pancing dan jaring insang (gillnet
monofilament dan multifilament). Nelayan lokal merupakan nelayan turun temurun, dengan pengetahuan dan keterampilan terbatas. Dominasi perikanan skala kecil, menyebabkan daerah penangkapan terkonsentrasi di perairan pantai. Dampak dari kondisi tersebut adalah perairan pantai, dengan potensi utama sumberdaya demersal telah mengalami tangkap penuh (fully exploited).
Kelompok alat tangkap dominan di Provinsi Jawa Barat adalah jaring insang dan pancing. Jaring insang dan pancing banyak digunakan nelayan di Jawa Barat bagian selatan, utamanya oleh nelayan skala kecil dengan daerah penangkapan ikan di perairan pantai. Alat tangkap skala menengah maupun besar, seperti longline dan purse seine jarang beroperasi. Alat tangkap mini purse seine banyak dioperasikan oleh nelayan di PPP Cilautereun Kabupaten Garut.
Pusat kegiatan perikanan terbesar di Selatan Jawa Barat adalah di Kabupaten Sukabumi yaitu di PPN Palabuhanratu. Palabuhanratu telah memiliki pelabuhan perikanan bertipe B, namun demikian unit penangkapan ikan yang digunakan masih didominasi oleh unit skala kecil dan menengah. Alat tangkap yang dominan digunakan adalah jaring insang dan pancing. Jaring angkat mengalami peningkatan yang cukup tajam pada tahun 2001, yaitu mencapai 1.500 unit. Kelompok jaring angkat utama yang digunakan nelayan adalah bagan. Keberadaan bagan telah menimbulkan permasalahan yang serius, dalam kaitannya dengan permasalahan lingkungan. Permasalahan serius yang ditimbulkan oleh bagan adalah terlalu banyaknya jumah unit yang ada, sehingga hampir menguasai seluruh Perairan Teluk Palabuhanratu. Disamping itu, banyaknya konstruksi bagan di laut telah menyulitkan operasi penangkapan ikan oleh jenis unit penangkapan lain. Unit payang juga banyak dioperasikan di PPN Palabuhanratu untuk menangkap ikan pelagis, khususnya ikan tongkol dan cakalang.
Pusat kegiatan perikanan terbesar di Garut berada di PPP Cilautereun. Kapal yang digunakan didominasi oleh perahu motor tempel, yang keberadaannya terus meningkat setiap tahun. Perkembangan perikanan di Kabupaten Garut lebih didominasi oleh perikanan skala kecil, dengan unit penangkapan yang digunakan adalah mini purse seine. Hal yang menarik dari kegiatan perikanan di PPP Cilautereun adalah peningkatan nilai produksi dengan persentase yang lebih tinggi dari pada produksi. Hal ini mengindikasikan, jenis ikan yang tertangkap memiliki
nilai ekonomis yang tinggi. Jenis ikan tersebut diantaranya seperti layur, bawal putih dan kerapu yang merupakan komoditi ekspor.
Perikanan di Kabupaten Cilacap didominasi oleh kelompok pancing, trammel net dan gillnet. Alat tangkap pukat kantong cenderung tetap hingga tahun 2002, yaitu berjumlah 570 unit dari sebelumnya berjumlah 580 unit pada tahun 1994. Pukat kantong mengalami peningkatan tajam tahun 2003 yaitu berjumlah 1.390 unit. Pukat kantong yang digunakan, sebagian besar adalah payang dan jaring arad. Jaring arad digunakan nelayan untuk menangkap udang krosok.
Kegiatan perikanan di Cilacap merupakan yang terbesar di Selatan Jawa. Pusat kegiatan perikanan terbesar berada di PPS Cilacap. Unit penangkapan longline mulai berkembang di Cilacap sekitar tahun 1998. Perkembangan longline di Cilacap bersamaan dengan dioperasikannya PPN Cilacap. Aktivitas longline terus mengalami peningkatan yaitu dari 252 trip pada tahun 1998, meningkat sampai sebesar 3.773 trip pada tahun 2001. Setelah tahun tersebut, aktivitas longline terus menurun dikarenakan berbagai sebab. Salah satunya adalah kenaikan biaya operasional yang tinggi, dengan peningkatan harga solar. Usaha tuna longline di Indonesia secara komersial mulai dijajaki oleh PN Perikani pada tahun 1960. Pada saat itu usaha longline ini kurang berkembang dan akhirnya berhenti karena berbagai kesulitan. Pada awal Pelita I, kembali usaha perikanan tuna longline dirintis yaitu dengan adanya dukungan kebijakan pemerintah dalam pengembangan usaha perikanan industri melalui UU Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada saat itu dibentuk proyek perintis usaha longline di Indonesia, yaitu PT. Perikanan Samudera Besar (PT. PSB) pada Mei 1972. Produksi yang dihasilkan adalah tuna beku (frozen tuna), tetapi tidak dapat digunakan untuk bahan baku sashimi karena temperatur palkah hanya mencapai -35 ºC, produksi hanya dapat digunakan untuk ikan kaleng. Pada tahun 1984 PT PSB mulai merintis usaha tuna segar (fresh tuna). Rintisan usaha longline oleh PT PSB mempunyai dampak positif terhadap perkembangan usaha tuna longline di Indonesia (Batubara 1988).
Selain longline, Cilacap juga merupakan pusat kegiatan perikanan udang di Selatan Jawa. Jenis komoditi udang yang banyak tertangkap dan merupakan komoditi ekspor, diantaranya yaitu udang dogol dan udang jerbung. Perikanan
udang di Cilacap menggunakan alat tangkap trammel net. Trammel net di Cilacap berkembang pasca pelarangan trawl, yaitu pada tahun 1983.
Jenis alat tangkap di Kebumen diantaranya adalah payang, jaring sirang, gillnet multifilament, trammel net, dan rawai. Alat tangkap dominan adalah jaring sirang. Jaring sirang digunakan oleh nelayan secara multipurpuse, yaitu dengan menggunakan satu kapal. Jaring sirang digunakan untuk menangkap layur, bawal putih dan lobster, yang akan digunakan nelayan sesuai dengan musimnya.
Struktur perikanan di Kabupaten Gunung Kidul tidak jauh berbeda dengan di Kebumen. Unit penangkapan ikan dominan adalah jaring insang dan pancing. Pukat kantong pada awalnya banyak dioperasikan nelayan yaitu pada 1994-1998 berjumlah 800 unit, namun tidak dioperasikan lagi di tahun berikutnya. Nelayan Gunung Kidul juga menggunakan unit penangkapan multipurpose. Nelayan dapat mengganti alat tangkap sesuai dengan musim ikan, tanpa harus mengganti perahu.
Unit penangkapan ikan yang beroperasi di Kabupaten Pacitan terdiri atas payang, gillnet, pancing dan krendet. Jumlah alat tangkap terus mengalami peningkatan, yaitu dari 5.347 unit tahun 2001, menjadi 7.423 unit tahun 2003 atau naik sekitar 39% dalam waktu 2 tahun. Alat tangkap yang dominan di Kabupaten Pacitan selama periode tahun 2001-2003 adalah pancing. Krendet merupakan alat yang digunakan untuk menangkap lobster.
Alat tangkap yang dominan digunakan nelayan Trenggalek adalah pancing dan jaring klitik. Rawai banyak digunakan untuk menangkap layur. Purse seine merupakan alat tangkap yang banyak digunakan di PPN Prigi. Purse seine digunakan untuk menangkap ikan pelagis, khususnya tongkol dan cakalang. Pada musim tertentu purse seine digunakan untuk menangkap ikan teri dan lemuru.
Alat tangkap yang digunakan nelayan di Malang meliputi pancing, jaring, gillnet, payang, tonda, rawai dan purse seine. Secara umum, jumlah alat tangkap mengalami peningkatan. Pancing tonda mulai dioperasikan di Malang pada tahun 2004, saat ini merupakan alat tangkap yang paling produktif terutama untuk penangkapan tuna dan cakalang.
Pancing tonda merupakan alat tangkap yang sangat terkenal di kalangan nelayan Indonesia, karena harganya yang relatif murah dan pengoperasiannya sangat mudah untuk menangkap tuna kecil di dekat permukaan. Tonda merupakan
pancing dengan umpan hidup atau umpan palsu yang diberi tali panjang dan ditarik oleh perahu atau kapal (Farid et al. 1989). Subani dan Barus (1988) menyatakan, tonda dioperasikan pada siang hari dengan cara menduga-duga, berlayar kesana kemari dengan terlebih dahulu mencari kawanan ikan seperti tongkol dan cakalang, operasi dapat juga dilakukan disekitar rumpon.
Perkembangan perikanan tonda di Malang, telah mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten lain untuk mengembangkan rumpon. Pemasangan rumpon pada awalnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dalam hal ini Diskanlut Jawa Timur. Pemasangan rumpon dilakukan di Perairan Selatan Malang, dengan pusat pendaratan di PPP Pondokdadap. Keberhasilan program ini telah mendorong Dinkanlut Jawa Timur menempatkan rumpon di tempat lain, yaitu di Perairan Trenggalek dan Pacitan. Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DI Yogyakarta (Gunung Kidul) dan Jawa Barat (Sukabumi), juga terdorong untuk melakukan hal yang serupa. Saat ini telah berkembang kegiatan perikanan tonda di PPN Prigi, PPI Sadeng dan PPN Palabuhanratu. Perkembangan perikanan tonda ini patut diwaspadai, karena hasil tangkapan umumnya berukuran kurang dari 10 kg. Jika kondisi ini dibiarkan berkembang tanpa perencanaan dan pengendalian yang tepat, dikuatirkan akan membahayakan bagi keberlanjutan sumberdaya tuna.
Implikasi dari karakteristik teknologi penangkapan ikan yang ada di Selatan Jawa adalah: 1) diperlukan pengembangan teknologi, dengan skala usaha yang lebih besar; 2) jenis ikan tujuan tangkap akan menentukan terhadap jenis teknologi yang digunakan; 3) pengembangan perikanan pancing tonda untuk memanfaatkan sumberdaya tuna dengan pemasangan rumpon laut dalam yang sedang gencar dikembangkan oleh beberapa pemerintah daerah patut diwaspadai terhadap keberlanjutan sumberdaya tuna.
6.4 Implikasi Karakteristik Aspek Sosial-Ekonomi
Mayoritas penduduk di Wilayah Selatan Jawa, khususnya yang bermukim di Provinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur adalah Suku Jawa. Bahasa sehari-hari penduduk adalah Bahasa Jawa. Mayoritas penduduk Provinsi Jawa Barat adalah Suku Sunda, bahasa sehari-hari Bahasa Sunda. Komunitas campuran terlihat sangat jelas pada daerah-daerah perbatasan, seperti di Cirebon dan Ciamis.
Pada kedua daerah ini, bahasa yang digunakan adalah campuran Bahasa Jawa dan Sunda. Agama sebagian besar penduduk adalah Agama Islam.
Karakteristik sosial budaya masyarakat Selatan Jawa secara umum adalah bersifat jujur, nrimo, apa adanya, mudah diatur, berdisiplin tinggi, beretos kerja tinggi, menjunjung nilai-nilai kegotongroyongan dan kekeluargaan, serta berakhlak mulia. Kehidupan bergotongroyong dan kekeluargaan masih melekat di masyarakat. Pepatah Jawa yang mengatakan “mangan ora mangan asal kumpul” (makan tidak makan asal berkumpul), sepertinya masih dianut oleh sebagian besar masyarakat. Walaupun dalam perkembangannya banyak juga anggota masyarakat yang kemudian merantau untuk mencari nafkah di kota, namun keterikatan dengan masyarakat desa asal tidak dapat dihilangkan. Perantau ini yang kemudian membawa karakter masyarakat perkotaan ke desa asal dan membawa perubahan-perubahan sosial-ekonomi, baik dalam hal positif maupun negatif.
Dalam kehidupan bermasyarakat, toleransi dan tenggang rasa diantara penduduk sangat besar. Selain itu, karakter individu penduduk pedesaan di sebagian besar wilayah kajian memiliki sifat ramah, mudah menerima inovasi, menjunjung nilai-nilai agama dan menghormati adat yang sudah turun menurun.
Kondisi kehidupan bermasyarakat yang demikian, dapat dijadikan modal sosial yang sangat berarti bagi program pembangunan perikanan. Ruddle et al. (1999) diacu dalam Arsyad et al. (2007) menyatakan, faktor tradisi, hukum adat, kebiasaan penduduk, pengaruh agama dan lain-lain di kalangan komunitas nelayan, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kelangsungan kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan.
Secara ekonomi, beberapa kabupaten di Selatan Jawa termasuk kabupaten miskin, seperti Kabupaten Kebumen, Pacitan dan Trenggalek, kecuali Cilacap dan Malang yang termasuk kabupaten kaya. Kondisi ekonomi masyarakat sebagian besar penduduk memiliki tingkat ekonomi yang rendah. Pertanian merupakan sektor utama perekonomian dan mata pencaharian penduduk. Pertanian mencakup tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Subsektor perikanan laut, memiliki prioritas pembangunan yang lebih rendah dari subsektor pertanian lainnya. Diberlakukannya UU 22/1999, yang diperbaharui dengan UU
32/2004, telah mendorong pemerintah kabupaten di Pantai Selatan Jawa mengarahkan prioritas pembangunannya ke subsektor perikanan laut.
Secara umum, terdapat perbedaan strata sosial-ekonomi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa atau masyarakat nelayan. Masyarakat perkotaan pada umumnya memiliki strata sosial-ekonomi yang lebih baik. Perkembangan prasarana infrastruktur transportasi, listrik dan telekomunikasi telah memudahkan orang untuk melakukan berbagai kegiatan dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan kondisi sosial-ekonomi masyarakat perkotaan. Kondisi sebaliknya terjadi pada masyarakat desa, atau masyarakat nelayan. Secara sosial-ekonomi masyarakat nelayan pada strata yang rendah. Smith (1981) diacu dalam Kusnadi (2000); Winahyu dan Santiasih (1993) diacu dalam Kusnadi (2000); Simatupang et al. dalam Suryana et al. (1990) menyatakan, secara sosial-ekonomi nelayan merupakan kelompok masyarakat yang paling termarjinalkan. Tingkat pendidikan yang rendah merupakan ciri umum kehidupan nelayan dimanapun berada. Tingkat kehidupan nelayan sedikit di atas pekerja migran atau setaraf dengan petani kecil. Bahkan, jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain di sektor pertanian, nelayan khususnya nelayan buruh dapat digolongkan sebagai lapisan sosial yang paling bawah.
Kondisi sosial-ekonomi nelayan pada strata paling bawah, selain disebabkan faktor intrinsik usaha, juga dipengaruhi oleh teknologi, kelembagaan dan kebijakan pemerintah. Simatupang et al. dalam Suryana et al. (1990) menyatakan, usaha perikanan merupakan usaha yang penuh resiko, musiman dan padat modal. Besarnya kebutuhan modal, cenderung membuat kedudukan pemilik modal sangat kuat. Hal ini menyebabkan ketimpangan bagian keuntungan yang diterima oleh pemilik modal dan nelayan. Kondisi ini nyata terlihat di pemukiman nelayan, juragan/pemilik kapal biasanya memiliki strata sosial-ekonomi yang lebih baik.
Selain perbedaan karakteristik sosial-ekonomi antara masyarakat kota dan masyarakat nelayan, terdapat pula perbedaan karakteristik sosial-ekonomi masyarakat nelayan dari 8 kabupaten yang menjadi obyek penelitian. Masyarakat nelayan di Palabuhanratu, Cilacap dan Prigi, umumnya lebih maju dari pada masyarakat nelayan di kabupaten lainnya. Sentuhan program-program pembangunan perikanan dan keberadaan fasilitas pusat pendaratan ikan yang telah
mengarah ke perikanan industri, menjadikan kondisi masyarakat nelayan memiliki wawasan yang lebih luas dan kondisi sosial-ekonominya lebih baik.
Program COFISH yang telah berjalan selama 2 periode di Kabupaten Trenggalek, telah mampu merubah cara pandang masyarakat terhadap perilaku pengelolaan sumberdaya perikanan. Program pemberdayaan nelayan dilakukan melalui pembentukan dan penguatan kelompok-kelompok nelayan, dalam bentuk pelatihan dan paket bantuan modal dan peralatan, serta fasilitas peningkatan akses terhadap lembaga keuangan. Program COFISH di Trenggalek terasa sekali manfaatnya bagi peningkatan kondisi sosial-ekonomi masyarakat nelayan.
Berbagai program pembangunan lainnya, seperti Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), juga telah mampu merubah kondisi sosial-ekonomi masyarakat nelayan ke tingkat yang lebih baik. Program PEMP telah menyentuh hampir semua masyarakat nelayan di lokasi wilayah kajian. Berbagai organisasi kenelayanan seperti KUB, Rukun Nelayan dan Kelompok Wanita Nelayan, juga telah berperan dalam peningkatan kondisi sosial-ekonomi nelayan.
Karakteristik sosial-ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat nelayan berimplikasi terhadap: 1) pengembangan perikanan diharapkan lebih berpihak ke nelayan, sehingga dapat meningkatkan strata sosial-ekonomi nelayan; 2) inovasi teknologi baru maupun pengembangan skala usaha nelayan dapat dilakukan, karena secara umum nelayan di Selatan Jawa mudah untuk menerima perubahan atau inovasi baru; 3) diversifikasi usaha perlu diberikan, sehingga nelayan mendapatkan hasil tambahan dan dapat meningkatkan strata sosial-ekonominya.
6.5 Implikasi Karakteristik Aspek Politik
Menurut Saad (2003) , politik hukum dirumuskan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak atau telah dilaksanakan oleh pemerintah. Politik hukum perikanan merupakan keseluruhan kebijakan pemerintah mengenai perikanan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk produk hukum.
Berdasarkan hal tersebut, produk hukum perikanan merupakan wujud dari kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah untuk mengatur kegiatan perikanan. Kegiatan perikanan tidak dapat dilepaskan dari aspek politik, hukum, peraturan, kelembagaan dan orang-orang yang terlibat di
dalamnya. Politik mencakup aspek kelembagaan, karena hukum atau peraturan dalam implementasinya dilakukan oleh fungsi dari lembaga yang ada. Politik terkait dengan orang-orang yang berada di dalam kelembagaan atau pemerintahan. Siapa orang yang berperan sebagai pengambil keputusan di bidang perikanan, akan menentukan arah bagi pengembangan perikanan.
Terkait dengan kondisi di atas, peran dari kelembagaan perikanan di tingkat provinsi atau kabupaten/kota sangatlah penting bagi keberlanjutan pengembangan perikanan di wilayahnya. Hal ini jelas terlihat pada kabupaten dengan kelembagaan Dinas Perikanan dan Kelautan yang berdiri sendiri, seperti di Kabupaten Cilacap, Sukabumi dan Trenggalek. Perkembangan perikanan di ketiga kabupaten tersebut telah berkembang dengan baik. Selain kelembagaan dinas, keberadaan kelembagaan lainnya, seperti KUD, HNSI dan kelompok-kelompok nelayan juga berperan penting bagi pembangunan perikanan.
Disamping faktor kelembagaan, keterpaduan sistem perundang-undangan perlu dibangun untuk dapat menjamin terlaksananya pengelolaan sumberdaya secara optimal, efisien dan efektif. Keterpaduan sistem perundangan-undangan mencakup materi hukum, agar tidak terjadi ketidaksesuaian antara perundang-undangan yang satu dengan yang lainnya. Keterpaduan antara peraturan perundangan di tingkat nasional dengan di daerah dan juga dengan di tingkat internasional. Peraturan atau kebijakan mencakup juga peraturan atau kebijakan tidak tertulis yang sudah mengakar di masyarakat. Peraturan atau kebijakan tersebut merupakan kearifan lokal yang perlu dihargai dan dipertahankan.
Berbagai peraturan perundang-undangan berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di wilayah Indonesia, sudah dibuat dan sudah diberlakukan. Sebagai salah satu acuan dalam pembuatan peraturan perundang-undangan tentang perikanan adalah Konvensi PBB tentang hukum laut yaitu United Nation Convention on the Law of the Sea, dimana Indonesia telah turut merativikasi dan mensahkannya dalam UU 17/1985. Ketentuan batas wilayah perairan Indonesia, telah diatur diantaranya melalui: 1) UU 1/1973 tentang Landas Kontinen, 2) UU 5/1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, 3) UU 6/1996 tentang Perairan Indonesia, dan 4) PP 38/2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Peraturan berkaitan
dengan pengelolaan perikanan, diantaranya adalah PP 15/1984 tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam Hayati di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Undang-Undang tentang Perikanan yaitu UU 9/1985 yang diperbaharui dengan UU 31/2004. Selanjutnya berbagai peraturan kebijakan diturunkan dari UU tersebut diantaranya seperti yang telah disebutkan pada Bab 5.3.1.
Peraturan mengenai pembagian wewenang pengelolaan perikanan antara pusat dan daerah tercantum UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. UU ini diperjelas pelaksanaannya melalui PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Berbagai peraturan daerah telah dibuat dalam rangka pelaksanaan mandat sesuai dengan kewenangannya seperti telah disebutkan di Bab 5.3.1. Terlihat bahwa peraturan atau kebijakan yang dibuat daerah masih sangat terbatas, serta belum dapat mengakomodasikan tugas dan wewenang yang telah didesentralisasikan pemerintah kepada daerah sesuai dengan UU 32/2004 dan PP 38/2007. Berbagai faktor menjadi sebab masih terbatasnya peraturan dan kebijakan perikanan di daerah. Lambannya pembuatan peraturan atau kebijakan di bidang perikanan di daerah, diantaranya terkait dengan keterbatasan SDM, masih rendahnya pemahaman terhadap kegiatan pengelolaan perikanan, situasi politik daerah dan kepentingan ego sektoral, serta mahalnya proses untuk pembuatan peraturan atau kebijakan.
Kondisi politik wilayah berimplikasi terhadap: 1) pengembangan perikanan masih berjalan lambat, karena dukungan politik pemerintah masih rendah; 2) diperlukan pembuatan kebijakan-kebijakan perikanan untuk dapat mengatur pengelolaan sumberdaya perikanan sesuai dengan wewenang pengelolaan yang telah didesentralisasikan ke pemerintah daerah; 3) kelembagaan dinas terkait dengan perikanan dan kelautan diharapkan dapat berdiri sendiri tidak tergabung dengan sektor lain.
Berdasarkan pemahaman di atas, nyata bahwa kondisi aspek geo-topografi, biologi, teknologi, sosial-ekonomi dan politik berimplikasi terhadap kinerja perikanan di Wilayah Selatan Jawa. Secara keseluruhan implikasi karakteristik berbagai aspek tersebut terhadap kinerja perikanan terangkum dalam Tabel 11.
Kebijakan strategis untuk penerapan model di atas memiliki nilai konsistensi yang cukup tinggi, sehingga model cukup valid untuk dapat diterapkan dalam sistem. Nilai konsistensi dari setiap elemen secara berurut untuk pengembangan perikanan tuna dan pengembangan perikanan pantai yaitu: 1) sektor masyarakat yang terpengaruh (93,5%), (97,22%) ; 2) kebutuhan untuk terlaksananya program (98,2%), (91,71%) ; 3) kendala utama pengembangan program (93,0), (93,83); 4) perubahan yang dimungkinkan atau tujuan dari program (97,0%), (97,00%); 5)
tolok ukur keberhasilan program (96,3%), (97,53%); 6) aktivitas yang diperlukan untuk terlaksananya program (97,0%), (97,53%) ; serta 7) lembaga yang terlibat untuk keberhasilan program (93,5%), (96,80%).
Analisis finansial dilakukan untuk menentukan kelayakan usaha pada perikanan tuna longline. Perhitungan kelayakan usaha meliputi perhitungan keuntungan usaha, net present value (NPV), net benefit cost ratio (B/C) dan internal rate of return (IRR) (Gaspers 1992; Gray et al. 1992).
No. Aspek Karakteristik Implikasi karakteristik wilayah terhadap perkembangan perikanan
1 Geo-
Topografi - Basis penangkapan secara geografi merupakan di daerah cukup terisolir. - Secara topografi sebagian besar wilayah merupakan rangkaian pegunungan kapur selatan, dengan bentuk permukaan bumi yang berbukit-bukit dan berlereng terjal.
- Infrastruktur jalan belum dibangun secara memadai. - Sarana transportasi masih terbatas.
- Secara umum merupakan lokasi yang tidak strategis untuk kegiatan industri perikanan.
- Terkecuali Cilacap, memiliki wilayah daratan relatif rata dan tingkat aksesibilitas tinggi.
- Sulitnya akses pemasaran dari produk perikanan yang dihasilkan.
- Luas lahan berupa dataran yang sempit di suatu lokasi pelabuhan, menghambat berkembangnya kegiatan industri di pelabuhan tersebut
- Lokasi basis penangkapan yang terisolir sulit untuk mendapatkan input produksi, tenaga kerja dan akses ke dunia luar, sehingga berdampak pada terhambatnya perkembangan kegiatan perikanan.
2 Biologi - Perairan termasuk Wilayah Samudera Hindia (WPP IX), kaya akan sumberdaya ikan, baik pelagis besar, pelagis kecil, demersal dan udang. - Perairan yang subur, khususnya adalah pada daerah-daerah yang
berasosiasi dengan perairan teluk, perairan karang, muara sungai, hutan mangrove dan perairan terjadinya upwelling.
- Pemanfaatan sumberdaya demersal, udang, ikan karang dan cumi-cumi dalam kondisi fully exploited (pemanfaatan mencapai hampir 100%). - Potensi sumberdaya pelagis besar, pelagis kecil dan lobster masih
memiliki peluang untuk diusahakan (pemanfaatan baru sekitar 50%).
- Perairan yang subur, khususnya adalah pada daerah-daerah yang berasosiasi dengan perairan teluk, perairan karang, muara sungai, hutan mangrove dan perairan terjadinya upwelling, merupakan fishing ground yang baik untuk kegiatan penangkapan ikan - Beberapa jenis sumberdaya ikan potensial dan bernilai
ekonomi tinggi yang dapat dimanfaatkan adalah tuna, cakalang, udang, lobster, layur dan bawal putih
- Peluang pemanfatan yang masih cukup besar untuk sumberdaya pelagis besar, pelagis kecil dan lobster.
3 Teknologi - Usaha perikanan didominasi usaha perikanan skala kecil, unit teknologi
didominasi oleh jaring monofilament (jaring sirang), multifilament (gillnet) dan pancing, kapal jenis fiberglass, 1-2 GT, bermesin luar (outbord engine) sekitar 15 PK, digunakan secara multipurpose untuk menangkap bawal putih, bawal hitam, cucut, layur, lobster serta sumberdaya ikan lain di perairan pantai.
- Unit skala menengah khususnya untuk menangkap tongkol, cakalang, tenggiri, dengan alat tangkap gillnet, purse seine dan pancing tonda. - Unit skala besar untuk menangkap tuna, dengan alat tangkap longline.
- Diperlukan pengembangan teknologi, dengan skala usaha yang lebih besar.
- Jenis ikan tujuan tangkap akan menentukan terhadap jenis teknologi yang digunakan.
- Pengembangan perikanan pancing tonda untuk memanfaatkan sumberdaya tuna dengan pemasangan rumpon laut dalam yang sedang gencar dikembangkan oleh beberapa pemerintah daerah patut diwaspadai
Tabel 11 Lanjutan
No. Aspek Karakteristik Implikasi karakteristik wilayah terhadap
perkembangan perikanan
4 Sosial-
Ekonomi - Termasuk kabupaten miskin, kecuali Cilacap, Sukabumi dan Malang. - Strata sosial-ekonomi nelayan termasuk kelompok yang termarjinalkan. - Nelayan bersifat terbuka terhadap perubahan/ inovasi teknologi baru. - Hubungan kekerabatan, rasa gotong royong dan kekeluargaan masih
cukup tinggi.
- Sebagian nelayan memiliki mata pencaharian lain yaitu sebagai petani dan peternak. Secara umum, nelayan yang memiliki mata pencaharian lain memiliki kondisi sosial-ekonomi yang lebih baik.
- Nelayan pemilik memiliki strata ekonomi yang lebih baik dari pada nelayan buruh. Nelayan pada unit usaha dengan skala yang lebih besar, umumnya memiliki strata sosial-ekonomi yang lebih baik.
- Terdapat perbedaan strata sosial-ekonomi antara daerah yang kegiatan perikanannya sudah berkembang seperti Cilacap, Palabuhanratu dan Prigi dengan daerah lain yang kegiatan perikanannya belum berkembang. Pada daerah yang kegiatan perikanannya sudah berkembang umumnya memiliki strata sosial-ekonomi yang lebih baik.
- Pengembangan perikanan diharapkan lebih berpihak ke nelayan, sehingga dapat meningkatkan strata sosial-ekonomi masyarakat nelayan.
- Inovasi teknologi baru maupun pengembangan skala usaha nelayan dapat dilakukan, karena secara umum nelayan di Selatan Jawa mudah untuk menerima perubahan atau inovasi baru.
- Diversifikasi usaha perlu diberikanan, sehingga nelayan mendapatkan hasil tambahan dan dapat meningkatkan strata sosial-ekonomi nelayan.
5 Politik - Dukungan politik pemerintah provinsi, kabupaten/kota terhadap perkembangan perikanan masih rendah, prioritas pembangunan perikanan dan kelautan masih rendah, orientasi pembangunan masih terfokus ke darat.
- Kebijakan atau regulasi di bidang perikanan masih terbatas.
- Kelembagaan perikanan, khususnya kelembagaan pemerintah (dinas perikanan) belum berperan optimal, karena masih bergabung dengan sektor lain.
- Pada daerah yang dinas perikanannya berdiri sendiri tidak bergabung dengan sektor lain, perkembangan perikanannya relatif lebih baik. - Kelembagaan usaha (KUD) dan kelembagaan lainnya juga masih belum
berperan nyata dalam memajukan perikanan di daerahnya.
- Kelembagaan yang tumbuh dari rasa kebersamaan nelayan seperti Rukun Nelayan, relatif lebih memiliki peran dalam pembangunan perikanan lokal.
- Pengembangan perikanan masih berjalan lambat, karena dukungan politik pemerintah masih rendah. - Diperlukan pembuatan kebijakan-kebijakan perikanan
untuk dapat mengatur pengelolaan sumberdaya perikanan sesuai dengan wewenang pengelolaan yang telah didesentralisasikan ke pemerintah daerah. - Kelembagaan dinas terkait dengan perikanan dan
kelautan diharapkan dapat berdiri sendiri tidak tergabung dengan sektor lain.
18