BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam dunia pendidikan formal di sekolah terdapat tiga pelaku penting, yakni

11 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan formal di sekolah terdapat tiga pelaku penting, yakni guru, siswa, dan kurikulum (Suparlan, 2008). Dalam UURI No. 14, 2005 tentang guru dikatakan bahwa guru harus memahami norma dan nilai-nilai yang berlaku. Banyaknya tugas guru akan menunjukkan bahwa posisinya sangat vital dalam dunia pendidikan karena akan menjadi sorotan, harus profesional, menjadi agen pendidikan yang memotivasi siswa, mampu mengakomodasi latar belakang siswa dari sisi agama, kondisi kekurangan fisik, kognisi, dan perilaku (Ormrod, dalam Sarumpaet 2014).

Karena tugasnya begitu vital dan strategis dalam dunia pendidikan, maka guru perlu memperoleh dukungan kesejahteraan yang baik supaya pekerjaan utamanya dapat berjalan dengan baik. Bila kesejahteraan tidak terpenuhi maka akan bermasalah dengan tugas dan fungsinya. Tidak terkecuali di dalamnya termasuk guru agama. Berkaitan dengan kesejahteraan ini, dalam Alkitab disebutkan, “Seorang pekerja patut mendapat upah” (Mat 10:10). Orang akan mendedikasikan dirinya untuk karya pewartaan Injil, dan untuk itu dia menerima sesuatu sebagai imbalan dengan mempersiapkan diri mengikuti kuliah formal di lembaga pendidikan katekis atau guru agama sehingga mendapatkan apresiasi yang wajar.

Guru agama menjadi sosok yang unik dalam dunia pendidikan. Ia ditugaskan oleh masyarakat untuk mentransformasikan pendidikan agama kepada generasi muda melalui lembaga sekolah. Guru pelajaran agama memiliki kekhasan

(2)

2

dibandingkan guru mata pelajaran yang lain, yakni membantu mencerdasakan siswa dari perspektif moral dan spiritual, supaya menjadi pribadi beriman yang tangguh dan mendalam. Oleh karena itu, guru agama harus memiliki integritas terkait materi moral dan spiritual yang ia ajarkan di kelas.

Guru agama semestinya juga memiliki iman yang mendalam dan tangguh juga. Guru agama tidak akan dipercaya pengajarannya apabila ia sendiri tidak mengamalkan ajaran agama secara lurus dan benar. Guru agama semestinya berpegang teguh kepada iman agamanya, yang memancarkan keteladanan dalam setiap perwujudan imannya. Hal ini penting karena siswa sebagai peserta didik mendapat pemahaman tentang agama tidak hanya berdasarkan materi yang diajarkan oleh guru agama, tetapi juga dengan memperhatikan segala tingkah laku dan perbuatan guru. Apabila guru agama bekerja semata-mata hanya sekedar memberikan materi pelajaran agama sesuai kurikulum dan tidak menjaga kualitas moral dan iman diri sendiri, maka integritas guru agama akan dipertanyakan oleh masyarakat. Ada pepatah Latin, nemo dat quod non habet – ia tidak akan memberikan apa yang dia tidak miliki.

Tantangan guru agama masa kini semakin kompleks, terutama menghadapi perubahan-perubahan dahsyat, radikal, dan sulit diprediksi yang terjadi di zaman ini. Dampaknya meluas meliputi seluruh dunia dan mengenai berbagai aspek kehidupan yang penting. Suasana perubahan ini juga menyentuh aspek kehidupan beragama. Bagi mereka yang beragama semestinya menyadari bahwa perubahan-perubahan radikal dalam kehidupan ini tak terelakkan dan merupakan buah dari perkembangan sejarah peradaban (Sudiarja, 2006).

Dunia yang berubah dengan cepat ini mau tidak mau akan membawa pengaruh pada hidup beriman. Untuk itu, seorang katekis perlu mengusahakan

(3)

3

perkembangan pemahaman iman melalui tanda-tanda zaman. Di sini kelihatan betapa strategisnya peran para pemuka agama, terutama guru agama (katekis) dalam umat masing-masing agama. Profesi guru agama merupakan profesi yang cukup sentral dalam kemajuan hidup keberagamaan terutama dalam kehidupan spiritual dan akhlak moral.

Pengamatan Kartono (2011) cukup menggambarkan fenomena yang terjadi saat ini, “Tanpa disadari guru sering menjadi guru untuk aparat pemerintah, menjadi guru untuk dinas pendidikan, menjadi guru untuk aturan-aturan, menjadi guru untuk kepentingan dagang di sekolah, atau menjadi guru untuk berjualan paham. Betapa guru mesti membangun visi atau impiannya, melengkapi diri dengan keterampilan mendidik, dan memaknai perjumpaan dengan murid.”

Guru secara umum semestinya memiliki kualitas kepemimpinan yang baik. Ini menjadi syarat mutlak agar proses belajar mengajar dapat berjalan efektif. Guru agama, yang dalam tugasnya mengajarkan moral dan spiritual dalam konteks agama, diharapkan memiliki kesejahteraan (well-being) seperti yang dipikirkan banyak pihak. Namun, cukup mengagetkan seperti terungkap dalam sebuah seminar bersama guru agama katolik di kota Yogyakarta, salah seorang guru agama katolik perempuan mengatakan:

Guru agama bukan pilihanku, tetapi karena desakan orang tua, “Nek ra dadi guru njuk arep kerja apa cah wedok.” (Rosa, 40 th)

Karena guru agama bukan pilihan maka layak dipertanyakan apakah selama ini dia bisa menghayati profesinya sebagai guru dengan baik. Apakah itu berarti dia mampu menemukan kebahagiaan yang dicari banyak orang? Apa itu kebahagiaan? Para psikolog yang mendukung perspektif hedonis memandang kebahagiaan (happiness) dan subjective well-being adalah sama. Namun kebanyakan lebih konsisten dengan pandangan Aristoteles tentang eudaimonia (bahagia) yang

(4)

4

meyakini bahwa kebahagian dan well-being tidak sama. Aristoteles adalah filsuf pertama yang merumuskan dengan jelas bahwa kebahagiaan adalah apa yang dicari semua orang. Karena itulah etikanya disebut “eudemonisme”, dari kata Yunani eudaimonia (bahagia). Jawaban Aristoteles ini amat penting. Atas pertanyaan bagaimana manusia harus hidup. Ia menjawab bahwa manusia harus menata kehidupannya sedemikian rupa hingga ia menjadi semakin bahagia. Jawaban Aristoteles sangat masuk akal karena kebahagiaan merupakan tujuan terakhir manusia. Kita semua meniatinya, dan apa pun apabila tidak menghasilkan kebahagiaan, belum memuaskan (Magnis-Suseno, 2009).

Eudaimonia terdiri dari kebahagiaan dan makna dan dinyatakan dengan rumusan: well-being = kebahagiaan + makna. Untuk mengikuti pandangan ini, orang mesti memahami keutamaan dan implikasi sosial dari perilaku harian. Pandangan ini diperlukan bahwa orang yang mencari well-being menjadi otentik dan hidup menurut kebutuhan nyata dan tujuan yang diinginkan (Waterman, dalam Snyder & Lopez, 2007). Maka, menghayati kehidupan eudaimonia melampaui pengalaman “hal-hal yang menyenangkan” dan mencakup bertumbuh subur sebagai tujuan dalam segala aksi kita.

Menurut Ryff (1989) gambaran tentang karakteristik orang yang memiliki kesejahteraan psikologis merujuk pada pandangan Rogers tentang orang yang berfungsi penuh (fully-functioning person), pandangan Maslow tentang aktualisasi diri (self actualization), pandangan Jung tentang individuasi, konsep Allport tentang kematangan. Juga sesuai dengan konsep Erikson dalam menggambarkan individu yang mencapai integrasi dibanding putus asa, konsep Neugarten tentang kepuasaan hidup, serta kriteria positif tentang orang yang bermental sehat yang dikemukakan Johada. Menurut Keyes, Shmotkin, dan Ryff (2002), fondasi untuk diperolehnya

(5)

5

kesejahteraan psikologis adalah individu yang secara psikologis dapat berfungsi secara positif (positive psycholigical functioning).

Dari beberapa literatur dan hasil penelitian, dapat diringkas bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi well-being seseorang terdiri dari: (1) faktor demografis, yang meliputi usia, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi, (2) dukungan sosial, (3) kompetensi pribadi, yaitu kemampuan atau skill pribadi yang dapat digunakan sehari-hari, di dalamnya mengandung kompetensi kognitif, (4) religiusitas; dan (5) kepribadian.

Hasil penelitian yang dilakukan Smith (2015) di negara Barat menemukan bahwa banyak guru merasa tidak bahagia dalam hidupnya. Berdasarkan hasil survei terhadap dua belas profesi yang dianggap paling bahagia, ternyata profesi guru tidak termasuk di dalamnya. Ketidakbahagiaan tersebut bisa jadi karena faktor profesi sebagai guru, bisa jadi karena faktor lain. Dalam wawancara tentang kebahagiaan dengan seorang guru agama katolik, dikatakan bahwa:

Sebagai guru agama Katolik di sekolah swasta, saya mesti bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya. Menggantungkan hidup saya menjadi guru agama yang bukan pegawai negeri adalah tidak mungkin. Saya mesti mengerjakan hal lain yang tidak berhubungan dengan profesi saya, misalnya dengan jual beli motor. Di samping itu istri saya juga buka warung kelontong sehingga sangat membantu berputarnya ekonomi keluarga saya. (Ism, 40 tahun)

Senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Nor (2004) terhadap guru-guru di Malaysia yang menemukan hasil bahwa ternyata kepuasan guru terhadap profesinya berada pada kategori sedang, bahkan hampir mendekati rendah. Hasil penelitian di atas menarik untuk dicermati lebih lanjut karena penelitian serupa belum dilakukan di Indonesia sehingga hasilnya bisa saja berbeda. Selain itu, penelitian tentang kebahagian pada para pendidik adalah penelitian yang sangat penting mengingat profesi tersebut adalah profesi yang sangat strategis dalam

(6)

6

memajukan suatu bangsa melalui praksis pendidikan. Menurut Pradiansyah (2008) kebahagiaan guru akan menentukan efektivitas pentransferan ilmu pada anak didik. Ketika guru merasa bahagia, dia bisa merasuk pada jiwa anak sehingga mampu mengikuti cara maupun kecepatan berpikir anak. Guru dapat menyesuaikan dirinya agar anak dapat menerima ilmu yang dia miliki secara utuh (Aziz, 2011).

Ditinjau dari psikologi, profesi guru merupakan salah satu objek psikologi yang dapat dihubungkan dengan perasaan positif dan negatif. Perasaan positif dan negatif juga merupakan sikap dari seorang guru terhadap profesinya. Hal senada juga dikemukakan oleh Jenny (2012) yang menyatakan bahwa sikap adalah keadaan diri manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi objek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap objek atau situasi. Berdasarkan hal tersebut sikap guru terhadap profesinya dapat diketahui dari caranya bereaksi atau merespon terhadap profesinya sebagai guru.

Reaksi positif maupun negatif seorang guru, akan menentukan usahanya atau kesediaannya dalam menerima atau menolak dalam menekuni dan menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab dan rasa senang. Jika seorang guru mampu bersikap positif terhadap profesinya, maka mereka akan menekuni dan melaksanakan profesinya dengan rasa senang, menarik untuk ditekuni, dan bermanfaat bagi dirinya maupun anak didiknya di sekolah. Sikap menerima, berarti ada kesadaran dari dirinya sendiri untuk selalu belajar dan bukan karena paksaan. Bila guru menekuni dan melaksanakan profesinya dengan rasa senang, maka apa yang mereka kerjakan akan memperoleh hasil yang maksimal.

(7)

7

Sementara itu, penelitian ini juga akan melihat pentingnya guru agama katolik sebagai pemimpin spiritual (rohani). Kepemimpinan spiritual (spiritual leadership) sebagai salah satu aspek psikologis dapat menjadi sumber motivasi untuk mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan spiritual akan membuat manusia dinamis dalam menjalani kehidupan ini, dan lebih dari itu, kepemimpinan spiritual memang diperlukan untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Fry (2003) menulis, kepemimpinan spiritual dikembangkan melalui model motivasi internal yang menggabungkan visi, harapan/keyakinan, dan cinta altruistik, teori spiritualitas di tempat kerja, dan ketahanan spiritual yang memiliki variabel makna/panggilan dan keanggotaan.

Seorang guru agama dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin terutama di bidang spiritual di mana setiap perkataan atau perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didiknya. Namun demikian, ternyata peran guru agama sebagai pemimpin ini tidak hanya berlaku di lembaga pendidikan tempat dia mengajar, tetapi juga di rumah maupun di lingkungan masyarakat. Seorang kepala sekolah sebuah SMA Katolik di Yogyakarta menceritakan bagaimana guru agamanya memperlihatkan bahwa dia memimpin para muridnya dalam sebuah kegiatan kerohanian:

Ziarah Bulan Maria pada setiap bulan Mei menunjukkan bagaimana anak-anak begitu serius mengikuti kegiatan yang dibimbing oleh guru agama. Mulai dari berangkat bersama-sama, sampai di tempat dan kemudian melakukan perarakan dilakukan dengan baik dan lancar. Saya melihat sebagai pemimpin rohani, guru agama memang memberi pengaruh positif bagi anak didiknya. (Sr. A. PIJ. 51 tahun)

Kepemimpinan spiritual adalah sebuah paradigma untuk transformasi dan perkembangan organisasi yang dirancang untuk menciptakan suatu organisasi yang dimotivasi secara intrinsik, organisasi yang belajar (Fry, 2003). Fairholm (1997), Mitroff dan Denton (1999) mengungkapkan adanya 4 dimensi utama kepemimpinan spiritual, yaitu religiousness (keberagamaan), kesalingterhubungan

(8)

8

(interconnectedness), misi (sense of mission), dan keseluruhan (wholeness/holistic mindset). Kepemimpinan spiritual adalah model yang mendorong orang lain dalam berhubungan dengan diri spiritual mereka, yang merupakan sumber kreativitas, nilai-nilai dan moralitas sebagai penemuan panggilan hidup (Fairholm, 1997). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fry dan Cohen (2009), dengan spiritual leadership dapat membantu berkembangnya nilai kemanusiaan yang positif, psikologis dan keadaan spiritual yang bermuara pada tercapainya komitmen organisasi, produktivitas dan kinerja organisasi yang menyeluruh. Hal ini menunjukkan pentingnya spiritual leadership dalam upaya meningkatkan komitmen pribadi terhadap organisasi.

Maka menarik melihat hubungan antara spiritualitas dan agama. Wolf (2004) menulis bahwa spiritual leadership menekankan minat yang besar pada etika, nilai, keterampilan berelasi, dan promosi tentang keseimbangan antara kerja dan diri. Spiritualitas tidak sama dengan agama. Istilah “agama” dihubungkan dengan akumulasi bentuk-bentuk budaya, prosesi, institusi, dan perayaan yang sangat spesifik, yang telah tersusun selama berabad-abad peradaban manusia. Isilah “spiritual” berhubungan dengan suatu inti yang lebih fundamental, baik di dalam maupun melampaui agama. Untuk mengeksplorasi kepemimpinan spiritual perlu mengeksplorasi dimensi paling dalam untuk mengartikan keunikan dan potensialitas terbaik kita sebagai manusia. Ketika orang menyadari dan mengapresiasi kedalaman rohani, kemampuan mereka untuk menjadi pemimpin menjadi lebih mendalam. Mereka menjadi lebih produktif, dan semakin berdampak positif pada orang lain – secara keseluruhan mereka menciptakan suasana lingkungan berkarya yang lebih baik.

(9)

9

Selain kepemimpinan spiritual, dalam menekuni dan melaksanakan profesinya seorang guru agama perlu meningkatkan konsep dirinya. Hal itu dikarenakan konsep diri merupakan faktor internal guru sebagai kekuatan dasar, yang memberi kekuatan dan mengarahkan perilaku individu yang meliputi: kepercayaan individu terhadap dirinya sendiri, melihat citra diri dan harga dirinya, serta tanggapannya terhadap orang lain dalam hubungan dengan tugasnya sebagai guru. Menurut Lambas (2004) konsep diri adalah totalitas sikap dan persepsi guru terhadap dirinya sendiri.

Dalam sebuah wawancara singkat dengan seorang guru agama Katolik, dia menceritakan gambaran konsep dirinya demikian:

Ketika prodiakon di lingkungan tidak bisa melakukan tugasnya, saya sebagai guru agama menjadi pengganti karena dianggap memahami dibandingkan yang bukan guru agama. Tugas ini sebenarnya bukan pekerjaan saya tetapi asal tunjuk saja sehingga saya merasa diperalat untuk banyak hal. (HN, 49 tahun).

Guru agama katolik dianggap mumpuni untuk hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Guru yang profesional memerlukan konsep diri yang tinggi. Konsep diri merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antarpribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang setelah keberhasilan komunikasi, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer (Ceris, 2012). Guru yang mempunyai konsep diri yang tinggi cenderung memberi peluang luas kepada siswa-siswa untuk berkreasi.

Dari pemaparan latar belakang di atas, ada sebuah fenomena yang hendak peneliti garisbawahi bahwa ada kesadaran hubungan antara spiritual leadership dan konsep diri dengan subjective well-being pada guru agama katolik. Oleh karena itu, peneliti memberi judul penelitian ini: Hubungan antara Spiritual Leadership dan

(10)

10

Konsep Diri dengan Subjective Well-Being pada Guru Agama Katolik Kota Yogyakarta.

B. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan hasil penelitian awal (preliminary study) menunjukkan bahwa guru agama Katolik di Kota Yogyakarta dihadapkan penghayatan hidupnya sebagai guru agama yang mereka sendiri tidak memilihnya. Situasi ini membuat mereka terbebani sehingga mereka kurang bersemangat dan tidak fokus dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka. Permasalahan yang dihadapi oleh para guru ini dapat menghambat pemenuhan subjective well-being (SWB) para guru. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah spiritual leadership dan konsep diri dapat memprediksi subjective well-being pada guru agama katolik di Kota Yogyakarta.

C. Keaslian Penelitian

Sudah banyak penelitian yang menggali masalah spiritual leadership terutama berkaitan dengan industri dan organisasi untuk meningkatkan kinerja terutama penelitian di luar negeri baik yang sifatnya kualitatif maupun kuantitatif. Di Indonesia penelitian tentang spiritual leadership juga masih berkisar pada peningkatan kinerja dalam industri organisasi. Demikian juga sudah banyak pula penelitian mengenai konsep diri guru pada umumnya. Pun pula penelitian mengenai subjective well-being guru. Sementara itu ada juga penelitian tentang pengalaman spiritual dihubungkan dengan kebahagiaan.

Namun demikian penelitian mengenai kepemimpinan spiritual dan konsep diri dapat memprediksi well-being guru agama ini memang memiliki keaslian.

(11)

11

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif faktor-faktor yang berhubungan dengan subjective well-being pada guru agama katolik di Kota Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang peranan spiriual leadership dan konsep diri dengan well-being guru agama. Dengan demikian apabila penelitian ini terbukti dan juga memberi sumbangan yang signifikan, maka dapat digunakan sebagai saran kepada guru agama katolik untuk menggunakan subjective well-being.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini secara teoretis diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu bahan kajian mengenai peningkatan kemampuan spiritual leadership pada guru agama sekaligus mengenali konsep diri dan subjective well-being guru agama. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat membantu mencari solusi subjective well-being dan guru agama katolik menjadi agent of spirituality dalam mengemban tugas dan fungsinya baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat dalam rangka mencerdaskan dan membangun moralitas bangsa.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :