• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK, SCREEN TIME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK, SCREEN TIME"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

68

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK, SCREEN TIME DAN KONSUMSI MINUMAN RINGAN DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA SMA KRISTEN EBEN HAEZAR MANADO

Triska Yolanda Worang*, A. Joy. M. Rattu**, Jootje. M. L. Umboh**

*Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi

**Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

ABSTRAK

Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Setelah mengetahui pola perilaku anak-anak remaja terhadap kesehatan, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara aktivitas fisik, screen time dan konsumsi minuman ringan dengan status gizi di Manado terutama pada kelompok umur remaja. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara aktivitas fisik, screen time dan konsumsi minuman ringan dengan status gizi pada siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan pada bulan November 2016 – Januari 2017 di SMA Kristen Eben Heazar Manado. Populasi adalah seluruh siswa kelas XI SMA Kristen Eben Heazer Manado dan sampel berjumlah 75 siswa. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikan uji chi-square aktivitas fisik (0,000) dan screen time (0,035) dan konsumsi minuman ringan (0,000) dengan status gizi pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado. Berdasarkan uji Wald, nilai Wald aktivitas fisik lebih besar dari konsumsi minuman ringan sehingga aktivitas fisik berpengaruh dominan terhadap status gizi. Kesimpulan terdapat hubungan antara aktivitas fisik, screen time dan konsumsi minuman ringan dengan status gizi dan aktivitas fisik berpengaruh dominan terhadap status gizi pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado. Maka disarankan bagi siswa sekolah dasar diharapkan lebih memperhatikan jenis konsumsi yang dikonsumsi yaitu cukup zat gizi (serat, karbohidrat, protein dan lemak).

Kata kunci: Aktivitas Fisik, Screen Time, Konsumsi Minuman Ringan, Status Gizi

ABSTRACT

Nutritional status of influenced by of food consumption and the use of substances nutrition in in the body. After knowledge pattern of behavior teenagers on health, writer feel interested to have a research on the relationship between physical activity, screen time and consumption soft drinks with the status of nutrition in manado especially on the teen age group. This study aims to know the relationship between physical activity, screen time and the consumption of lightly with nutritional status of to their students christian high school eben heazar manado. The research is research analytic with the approach cross sectional study that was held in november 2016 - january 2017 in Christian High School Eben Heazar Manado. Population is all students Class XI Christian High School Eben Heazer Manado and sample were 75 students. Data analysis using analysis univariat, bivariat and multivariate. Result showed that the test significant chi-square physical activity (0,000) and screen time (0,035) and consumption soft drinks (0,000) with status of nutrition in High School Student Christian Eben Heazar Manado. Based on the wald, wald value physical activity larger than the consumption of low so physical activity influential dominant about the status of nutrition. The conclusion is the relationship between physical activity, screen time and consumption soft drinks on nutrition and physical activity influential dominant about the status of nutrition in High School Student Christian Eben Heazar Manado. But advised for primary school student expected to pay more attention to the consumer consumed that is the nutrients (fiber, carbohydrates, proteins and fats).

Keywords: Physical Activity, Screen Time, The Consumption Of Light, Nutrition Status

PENDAHULUAN

Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan

pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang jika tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat

(2)

69 gizi yang berlebihan sehingga menimbulkan efek toksik atau membahayakan. (Almatsier, 2003).

Meningkatnya prevalensi obesitas merupakan masalah kesehatan utama diseluruh dunia (Park and Kim, 2012). Sekitar 2,8 juta orang dewasa meninggal setiap tahun terkait dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Secara keseluruhan lebih dari 10% dari populasi orang dewasa di dunia menderita obesitas, dan hampir 300 juta adalah wanita (WHO, 2013). Di Indonesia, angka obesitas terus meningkat. Berdasarkan Riskesdas (2013), pada laki-laki dewasa terjadi peningkatan dari 13,9% pada tahun 2007 menjadi 19,7 % pada tahun 2013, sedangkan pada wanita dewasa terjadi kenaikan yang sangat ekstrim mencapai 18,1 %. Dari 14,8% pada tahun 2007 menjadi 32,9 % pada tahun 2013 (Anonim, 2013).

Obesitas memiliki etiologi multifaktorial yang melibatkan genetik, metabolisme, budaya, faktor psikososial dan perubahan gaya hidup yang mengakibatkan peningkatan asupan makanan dan berkurangnya pengeluaran energi (Fontaine et al., 2003; Sebastian, 2012) sehingga mengakibatkan akumulasi kelebihan lemak tubuh. Hampir 37% penyebab kematian perempuan di Amerika disebabkan oleh penyakit kardiovaskular termasuk stroke, penyakit jantung koroner (PJK) dan penyakit kardiovaskular lainnya dimana pada usia ≥ 40 tahun, 23 % akan meninggal dalam waktu satu tahun setelah serangan jantung, lebih tinggi bila dibandingkan persentase pada laki-laki

yaitu 18% (Ryan, 2013), sedangkan di Indonesia, prevalensinya mencapai 31,7% (Anonim, 2013).

Aktivitas fisik juga memiliki pengaruh yang berarti terhadap kejadian obesitas (Angel dkk, 2013). Penelitian Ekowati (2011) mengungkapkan bahwa 50.9% anak obesitas memiliki tingkat aktivitas yang ringan, diantaranya duduk selama belajar di sekolah, sedikit olahraga saat sekolah, terlalu lama menonton televisi dan kurangnya waktu bermain di luar. Aktivitas fisik menyebabkan terjadinya proses pembakaran energi sehingga semakin banyak beraktivitas, energi yang keluar akan semakin banyak. Hasil penelitian Nadimin (2011) menunjukkan bahwa orang dengan status gizi normal cenderung memiliki aktivitas fisik yang tinggi dan sedang.

Data NHANES III menunjukkan 26% anak berusia 8 sampai 16 tahun menonton TV lebih dari 4 jam per hari. Remaja menghabiskan lebih banyak waktu pada screen media dibandingkan dengan kegiatan lain. Kamar tidur anak dilengkapi dengan screen media antara lain dua pertiga diantaranya memiliki satu set TV, setengah memiliki DVD player atau alat untuk permainan video dan sepertiga memiliki akses internet atau komputer. Sejak adanya screen media di kamar tidur terjadi peningkatan lama screen time yang mengubah perilaku dan menyebabkan obesitas. Penelitian di Finlandia menyimpulkan bahwa lama waktu bermain komputer dengan jaringan internet memiliki hubungan positif dengan obesitas dan risiko overweight sedangkan penggunaan telepon

(3)

70 genggam hanya memiliki korelasi lemah dengan IMT.

Konsumsi minuman ringan telah menjadi suatu hal yang menarik dibicarakan yang menimbulkan kontroversi dalam bidang kesehatan masyarakat dan isu kebijakan kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minuman ringan turut memberi kontribusi terhadap timbulnya kegemukan dan masalah kesehatan lainnya. Remaja merupakan golongan kelompok usia yang relatif bebas, termasuk relatif dalam memilih jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Banyak penelitian membuktikan bahwa perilaku gizi yang salah banyak dijumpai pada remaja. Umboh dan Rattu, (2016) dalam laporan penelitian mereka yang berjudul “faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi minuman ringan pada siswa Sekolah Menengah Pertama Kristen Eben Haezar 2 Manado” menemukan bahwa dari total 88 orang responden, sebanyak 36 responden (40,9%) mengkonsumsi minuman ringan <330 ml per hari dan yang mengkonsumsi minuman ringan > 330 ml per hari sebesar 52 responden (59,1%).

Setelah mengetahui pola perilaku anak-anak remaja terhadap kesehatan, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara aktivitas fisik, screen time dan konsumsi minuman ringan dengan status gizi di Manado terutama pada kelompok umur remaja.

Lokasi penelitian yang dipilih yaitu SMA Kristen Eben Haezar Manado yang berlokasi di Jl. 14 Februari Teling Atas Manado dengan

jumlah siswa per kelas yaitu kelas X 266 siswa, kelas XI 297 siswa, kelas XII 267 siswa dan total keseluruhan 830 siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti terdapat cukup banyak siswa yang obes, dan setelah jam istirahat banyak yang bermain game di handphone dan berdasarkan pengamatan, di sekolah terdapat kantin dengan jualan berbagai jenis minuman ringan (soft drink). Wawancara dengan guru sekolah, ternyata aktivitas fisik yang dilakukan oleh siswa di sekolah sesuai kurikulum sekolah hanya tersedia mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjaskes) yaitu dua jam dalam satu minggu.

Sekolah ini dipilih karena dapat mewakili kelompok umur remaja dan sekolah ini juga merupakan sekolah swasta yang diperkirakan memiliki tingkat ekonomi keluarga menengah ke atas sehingga paparan teknologi media informasi dan media lainnya diperkirakan cukup tinggi.Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin meneliti tentang hubungan antara aktivitas fisik, screen time dan konsumsi minuman ringan dengan status gizi pada siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado?

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan pada bulan November 2016 – Januari 2017 di SMA Kristen Eben Heazar Manado. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Kristen Eben Heazer Manado dan sampel berjumlah 75 siswa. dengan metode simple random

(4)

71

sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat HASIL DAN PEMBAHASAN

Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado

Tabel 1 Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado

Aktivitas Fisik Status Gizi Nilai p OR

Kurang Baik Baik Total

n % n % n %

Kurang Baik 42 64,6 4 6,2 46 70,8 0,000 39,375

Baik 4 6,2 15 23,1 19 29,2

Total 46 70,8 19 29,2 65 100

Ket: p = 0,000 (continuity correction)

Berdasarkan tabulasi silang yang dilakukan antara aktivitas fisik dengan status gizi, diperoleh data bahwa jumlah responden yang memiliki aktivitas fisik yang kurang baik sebanyak 46 orang (70,8%) dengan rincian yang memiliki status gizi kurang baik sebanyak 42 orang (64,6%) dan baik sebanyak 4 orang (6,2%); sedangkan jumlah responden yang memiliki aktivitas fisik baik sebanyak 19 orang (29,2%) dengan rincian yang memiliki status gizi kurang baik sebanyak 4 orang (6,2%) dan yang baik sebanyak 15 orang (23,1%). Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil dengan nilai p = 0,000 < 0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan status gizi.

Aktivitas fisik merupakan setiap gerakan tubuh yang dapat meningkatkan pengeluaran tenaga, energi dan pembakaran kalori (Starkey, 2011). Aktivitas fisik berat, sedang maupun ringan tergantung pada jenis kegiatan, intensitas dalam sehari, durasi dan frekuensi kegiatan.

Wiraida (2014) meneliti “Perbedaan Tingkat Konsumsi Energi, Aktivitas Fisik Dan Pengeluaran Uang Jajan Pada Anak Sekolah Dasar Overweight Dan Non Overweight Di Wilayah Puskesmas Banjarejo, Kecamatan Taman Kota Madiun”. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik Independent t-test menunjukkan ada perbedaan yang bermakna terhadap aktivitas fisik antara kelompok siswa SD yang overweight maupun siswa SD yang non overweight dengan nilai p=0.009 (p<0.05).

Hasil penelitian yang dilakukan selama weekday untuk aktivitas fisik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kegiatan dan variasi kegiatan yang dilakukan oleh anak sekolah dasar. Hal ini disebabkan karena aktivitas anak sekolah dasar hampir 25% digunakan untuk belajar di sekolah selama hampir 7 jam setiap harinya, yaitu kegiatan berupa duduk dan mengikuti kegiatan belajar (Swaminathan et al, 2011). Pada (weekend) hari minggu anak-anak banyak menghabiskan untuk melakukan olahraga dan kegiatan rumah

(5)

72 tangga (menyapu, mengepel rumah) (Sawello dkk, 2012). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar kelompok overweight maupun non overweight memiliki aktivitas ringan. Aktivitas fisik ringan pada kelompok overweight 20% lebih tinggi dibandingan dengan kelompok non overweight.

Pramadhan (2016) menganalisis screen

times, aktivitas fisik, asupan zat gizi dan

hubungannya terhadap status gizi dan kecukupan energi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan metode wawancara dan pengisian kuesioner secara mandiri yang dilakukan di Sekolah Dasar (SD) 03 Gadog Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Asupan zat gizi dan aktivitas fisik berkorelasi signifikan (p<0.05) dengan Tingkat Kecukupan Energi (TKE). Screen time, aktivitas fisik, dan asupan zat gizi yang baik berpengaruh signifikan (p<0.05) dengan TKE yang baik. Aktivitas fisik dan asupan zat gizi yang baik berpengaruh signifikan (p<0.05) terhadap status gizi (IMT/U) yang baik. Sementara itu TKE yang kurang berpengaruh signifikan (IMT/U) terhadap status gizi yang baik.

Anak sekolah yang tidak memiliki kegiatan di luar rumah cenderung menghabiskan waktu di rumah dengan bermain gadget atau menonton televisi dengan durasi yang lama. Lebih lanjut Angel (2013) menjelaskankan bahwa anak sekolah dengan aktivitas fisik setiap hari yang tergolong ringan memiliki risiko 3 kali untuk menjadi obesitas dibandingan dengan yang memiliki

aktivitas fisik yang bervariasi setiap harinya (ringan-sedang-berat) (Angel, 2013). Nuralliyah (2013) yang menyebutkan perbedaan aktivitas fisik dipacu oleh siswa yang overweight malas bergerak karena merasa cepat lelah

Rattu dan Umboh (2016) dalam penelitian mereka di SMP Kristen Eben Haezar Manado menemukan bahwa anak sekolah memiliki kebiasaan jajan di sekolah maupun di rumah, dari hasil penelitian mereka didapatkan bahwa hampir seluruh responden menggunakan uang saku setiap harinya. Pengeluaran uang saku yang digunakan untuk membeli jajan lebih tinggi dibandingkan yang digunakan untuk membeli bahan non pangan.

Chen dkk (2016) meneliti Hubungan Screentime Dengan Status Obesitas Pada Remaja Di Kotamadya Medanpenelitian cross sectional dilakukan pada Maret sampai Juni 2014 di sekolah swasta Mulia, Pencawan, dan Immanuel di kotamadya Medan. 255 remaja berusia 12 sampai 17 tahun dikumpulkan secara

(6)

73

Hubungan Antara Screen Time Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado

Tabel 2 Hubungan Antara Screen Time Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado

Screen Time Status Gizi Nilai p OR

Kurang Baik Baik Total n % n % n % Kurang Baik 46 70,8 16 24,6 62 95,4 0,035 - Baik 0 0 3 4,6 3 4,6 Total 46 70,8 19 29,2 65 100

Ket: p = 0,035 (continuity correction)

Berdasarkan tabulasi silang yang dilakukan antara screen time dengan status gizi, diperoleh data bahwa jumlah responden yang memiliki aktivitas fisik yang kurang baik sebanyak 62 orang (95,4%) dengan rincian yang memiliki status gizi kurang baik sebanyak 46 orang (70,8%) dan baik sebanyak 16 orang (24,6%); sedangkan jumlah responden yang memiliki aktivitas fisik baik sebanyak 3 orang (4,6%) dengan rincian yang memiliki status gizi kurang baik sebanyak 0 orang (0%) dan yang baik sebanyak 3 orang (4,6%). Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil dengan nilai p = 0,035 < 0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara sreen time dengan status gizi.

Pramadhan (2016) menganalisis screen

times, aktivitas fisik, asupan zat gizi dan

hubungannya terhadap status gizi dan kecukupan energi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan metode wawancara dan pengisian kuesioner secara mandiri yang dilakukan di Sekolah Dasar (SD) 03 Gadog Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Asupan zat gizi

dan aktivitas fisik berkorelasi signifikan (p<0.05) dengan Tingkat Kecukupan Energi (TKE). Screen time, aktivitas fisik, dan asupan zat gizi yang baik berpengaruh signifikan (p<0.05) dengan TKE yang baik. Aktivitas fisik dan asupan zat gizi yang baik berpengaruh signifikan (p<0.05) terhadap status gizi (IMT/U) yang baik, sementara itu TKE yang kurang berpengaruh signifikan (IMT/U) terhadap status gizi yang baik.

Vandewater et al (2014) meneliti hubungan antara obesitas, partisipasi kegiatan dan televisi dan video. Penggunaan permainan dalam sampel anak-anak (N=2831) usia 1-12 mewakili anak-anak nasional dengan menilai Indeks Massa Tubuh (BMI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan televisi tidak berhubungan dengan status berat badan anak-anak tetapi penggunaan video game berhubungan. Anak-anak dengan status berat badan yang lebih tinggi ditemukan pada anak-anak yang bermain elektronik pada tingkat sedang, sementara anak-anak dengan status berat badan rendah sangat sedikit atau tidak menggunakan permainan elektronik.

(7)

74 Kenny and Gortamker (2016) meneliti “Screen Time and Obesity in High School Students” yang melibatkan hampir 25.000 siswa SMA. menemukan bahwa tingginya penggunaan smartphone, tablet, komputer, dan video game terkait dengan risiko obesitas. Peserta yang dilaporkan sendiri penggunaan TV dan perangkat layar lainnya (smartphone, tablet, komputer, dan video game). Mereka juga diungkapkan asupan minuman manis dan tingkat aktivitas fisik, ditemukan 20% dari peserta menggunakan perangkat layar lain untuk ≥5 jam setiap hari. Siswa yang menonton TV ≥5 jam sehari hampir 3 kali lebih mungkin untuk mengonsumsi minuman manis setiap hari, dan hampir dua kali lebih mungkin untuk menjadi gemuk. Siswa yang digunakan perangkat layar lainnya ≥5 jam sehari hampir dua kali lebih mungkin untuk mengonsumsi minuman manis, kurang jumlah yang cukup aktivitas fisik, dan untuk mendapatkan tidur yang tidak memadai.

Pramadhan (2016) dalam penelitiannya berjudul Keterkaitan Screen Time, Aktivitas Fisik, Asupan Zat Gizi Dengan Status Gizi Dan Tingkat Kecukupan Energi Pada Siswa SD Gadog 03 Bogor menemukan sebagian besar responden (87.50%) dalam penelitian ini memiliki waktu Screen Time yang tidak sesuai anjuran (≥120 menit) dalam sehari. Pada hari sekolah lebih banyak anak yang sesuai anjuran screen times. Rata-rata durasi Screen Time dalam penelitian ini juga lebih tinggi dari penelitian Nasution (2014) yang menunjukkan rata rata Screen Time anak SD di kota Bogor sebesar 168 menit dan juga lebih tinggi dari

penelitian Hougton et al.(2015). Perbedaan hasil penelitian ini diduga disebabkan oleh perbedaan waktu dan wilayah penelitian sehingga terdapat perbedaan gaya hidup dan pola asuh terhadap anak yang mengakibatkan perbedaan rata-rata Screen Times contoh. Rata-rata durasi Screen Time contoh pada hari libur sebesar 261±131 menit lebih tinggi daripada rata-rata durasi Screen Time pada hari sekolah (188±100 menit). Uji beda terhadap durasi Screen Time contoh pada hari libur dan hari sekolah berbeda nyata, diketahui dari hasil uji beda (Paired T-test) p<0.05. Menurut peneliti, perbedaan tersebut diduga karena pada hari libur kegiatan yang dapat dilakukan contoh lebih banyak tidak terbatas karena harus bersekolah sehingga dapat menghabiskan waktu lebih lama di depan layar televisi. Sebagian besar contoh menghabiskan durasi Screen Time hanya dengan menonton televisi terkait dengan terbatasnya akses untuk penggunaan komputer dan telepon genggam pada lokasi penelitian.

Chen dkk (2016) meneliti Hubungan Screen time Dengan Status Obesitas Pada Remaja Di Kotamadya Medan. Sebanyak 255 remaja berusia 12 sampai 17 tahun dikumpulkan secara simple random sampling dan dikategorikan sebagai obesitas dan non- obesitas menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) sesuai usia. Hasil menunjukkan bahwa total screentime, serta paparan televise/ video, game di komputer, dan telepon genggam berhubungan dengan kejadian obesitas (p = 0,0001).

(8)

75

Hubungan Antara Konsumsi Minuman Ringan Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado

Tabel 3 Hubungan Antara Konsumsi Minuman Ringan Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado

Konsumsi Minuman Ringan

Status Gizi Nilai p OR

Kurang Baik Baik Total n % n % n % Kurang Baik 34 52,3 3 4,6 37 56,9 0,000 18,525 Baik 12 18,5 16 24,6 28 43,1 Total 46 70,8 19 29,2 65 100

Ket: p = 0,000 (continuity correction)

Berdasarkan tabulasi silang yang dilakukan antara konsumsi minuman ringan dengan status gizi, diperoleh data bahwa jumlah responden yang konsumsi minuman ringan kurang baik sebanyak 37 orang (56,9%) dengan rincian yang memiliki status gizi kurang baik sebanyak 34 orang (52,3%) dan baik sebanyak 3 orang (4,6%); sedangkan jumlah responden yang konsumsi minuman ringan baik sebanyak 28 orang (43,1%) dengan rincian yang memiliki status gizi kurang baik sebanyak 12 orang (18,5%) dan yang baik sebanyak 16 orang (24,6%). Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil dengan nilai p = 0,000 < 0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi minuman ringan dengan status gizi.

Kontribusi makanan jajanan yang memiliki kandungan karbohidrat dan lemak inilah yang meningkatkan jumlah energi. Penelitian Angel, dkk (2013) juga menemukan data bahwa siswa SD overweight memiliki tingkat konsumsi di atas rata-rata dibandingkan dengan anak yang tidak overweight. Pada

penelitian ini karakteristik kesukaan pada jenis makanan tertentu seperti bakso, es sirup, permen dan roti selai, dimana makanan tersebut kaya akan karbohidrat dan lemak. Selain konsumsi makanan yang berlebih, responden juga tidak ada penyeimbang, yaitu aktivitas fisik. Sebaliknya pada anak dengan status non overweight memiliki tingkat konsumsi dan kegiatan yang beragam. Hal ini sesuai dengan penelitian Suryaputra (2012) yang menunjukkan perbedaan signifikan terhadap tingkat konsumsi energi siswa overweight dan non overweight. Moehyi (2003) menjelaskan bahwa tingkat konsumsi zat gizi pada anak dipengaruhi oleh pola makan.

Analisis Multivariat

Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik. Tahap sebelum dilakukan uji regresi logistik adalah menentukan variabel bebas yang mempunyai p ≤ 0,05 dalam uji hubungan dengan variabel terikat (uji Chi Square) dalam uji bivariat tersebut di atas. Berdasarkan uji bivariate

(9)

76 ketiga variabel bebas (aktivitas fisik, screen time, dan konsumsi minuman ringan) memiliki nilai p ≤ 0,05 sehingga ketiga variabel tersebut dimasukkan dalam analisis selanjutnya.

Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan konsumsi minuman ringan berpengaruh signifikan terhadap status gizi, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi kedua variabel tersebut < 0,05. Berdasarkan uji Wald, nilai Wald aktivitas fisik lebih besar dari konsumsi minuman ringan sehingga aktivitas fisik berpengaruh dominan terhadap status gizi.

KESIMPULAN

1. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi pada siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado.

2. Terdapat hubungan antara screen time dengan status gizi pada siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado.

3. Terdapat hubungan antara konsumsi minuman ringan dengan status gizi pada siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado. 4. Aktivitas fisik merupakan faktor yang

paling dominan berhubungan dengan status gizi pada siswa SMA Kristen Eben Heazar Manado.

SARAN 1. Bagi siswa

Bagi siswa sekolah dasar diharapkan lebih memperhatikan jenis konsumsi yang dikonsumsi yaitu cukup zat gizi (serat, karbohidrat, protein dan lemak), Bagi

siswa diharapkan memilih kegiatan yang bisa membuat tubuh bergerak dan dapat 2. Bagi sekolah

Agar pihak sekolah lebih memperhatikan masalah gizi siswa terutama masalah overweight dengan cara memberikan penyuluhan dan edukasi. Sekolah juga berupaya melarang penjualan minuman soft drink di kantin sekolah. Pihak sekolah menggiatlkan kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan aktivitas fisik

3. Bagi orang tua

Agar menganjurlkan kepada anak untuk menggunakan uang saku dengan bijak.

DAFTAR PUSTAKA

Angel, D., N. Mayulu, dan F. Onibala. 2013. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Obesitas pada Anak SD di Kota Manado. Jurnal Penelitian Keperawatan Volume 1. Nomor 1. Universitas Sam Ratulangi.

Almatsier. S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Anonim. 2013. Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan.

Anonim. 2007. Australian Safety and Compensation Council (ASCC). Overweight and obesity: Implications For Workplace Health And Safety And Workers’ Compensation – Scoping Paper. Australian Government.

Anonim. 2013. About Cardiovascular diseases. World Health Organization. Geneva. Cited July 15th 2016. Available

(10)

77 www.who.int/cardiovascular_diseases/a bout_cvd/en/accessed on.

Anonim. 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2013. Diakses: 19 Oktober 2016

Chen, R. G. S. Sofyani, dan Hakimi. 2016. Hubungan Screentime Dengan Status Obesitas Pada Remaja Di Kotamadya Medan. Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik, Medan, Indonesia

Diunggah dari

repository.usu.ac.id/bitstream/.../57908/ 6/Abstract.pdf

Kenny, E., and S. Gortmaker. 2016. United States Adolescents' Television, Computer, Videogame, Smartphone, And Tablet Use: Associations With Sugary Drinks, Sleep, Physical Activity, And Obesity. [Published Online Ahead Of Print December 14, 2016]. J Pediatr. Pramadhan, Y. 2016. Keterkaitan Screen

Time, Aktivitas Fisik, Asupan Zat Gizi Dengan Status Gizi Dan Tingkat Kecukupan Energi Pada Siswa Sd Gadog 03 Bogor

Umboh, J. M. L. dan R. B. Ch. Rattu. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Soft Drink Siswa SMP Kristen Eben Haezar Manado. Proceeding Kongres Nasional IAKMI, Makasar 4-6 Nopember 2016.

Vandewater, E. A., S. Mi-suk., A. G. Caplovitz. 2004. Linking Obesity and Activity Level With Children’s Television and Video Game Use. Journal of Adolescene

Wiraida E.A. 2014. Perbedaan Tingkat Konsumsi Energi, Aktivitas Fisik Dan Pengeluaran Uang Jajan Pada Anak Sekolah Dasar Overweight Dan Non Overweight Di Wilayah Puskesmas Banjarejo, Kecamatan Taman Kota Madiun. Program Studi S1 Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Gambar

Tabel 1 Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen Eben Heazar  Manado
Tabel  2  Hubungan  Antara  Screen  Time  Dengan  Status  Gizi  Pada  Siswa  SMA  Kristen  Eben  Heazar  Manado
Tabel 3 Hubungan Antara Konsumsi Minuman Ringan Dengan Status Gizi Pada Siswa SMA Kristen  Eben Heazar Manado

Referensi

Dokumen terkait

Peubah kategorik yaitu jenis kelamin, status sekolah (Negeri, Swasta), asal sekolah (Palembang, Kabupaten di Sumatera selatan atau Sumsel, luar Sumsel), pendidikan orang

The Chief Eunuch named Shim sings out several names that are chosen to face His Majesty Emperor Hsien Feng and Her Majesty the Grand Empress Lady Jin.. Orchid’s fate

Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Ia menyatakan bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah, karena memerlukan imajinasi dan

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor I04, Tambahanb. Lembaran Negara Republik Indonesia

hypervolume maka semakin baik solusi dari EMO tersebut. Karena NSGA-II merupakan algoritma stokastik, maka perlu dilakukan analisis statistik dari hasil penelitian yang

Dari dua pernyataan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa akad Ijab Qobul merupakan ungkapan antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi atau kontrak atas suatu hal

Hasil simulasi yang dilakukan pada pra siklus untuk melihat kemampuan awal anak usia dini tunagrahita menunjukkan tingkat kemampuan fisik motorik kasar anak masih rendah,

Studi ini menunjukkan bahwa MICS IOL hidrofilik acrylic plate-haptic dengan permukaan hidrofobik menunjukkan hasil yang dapat dibandingkan dengan SICS IOL dalam