BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWENANGAN PERADILAN UMUM DAN ARBITRASE DALAM MEMERIKSA PERKARA PERDATA

Teks penuh

(1)

21

A. Kewenangan Peradilan Umum Dan Arbitrase Dalam Memeriksa

Perkara Perdata

Konstitusi Indonesia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat).1 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan dengan tegas bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum.2 Sebagai konsekuensi dari Indonesia adalah negara hukum, maka semua tindakan yang dilakukan baik oleh penyelenggara negara maupun oleh warga negara harus didasarkan pada ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Salah satu ciri khas negara hukum adalah adanya kekuasaan kehakiman (judicial power) yang merdeka.3

Di Indonesia, kekuasaan kehakiman diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman tentang Kekuasaan Kehakiman. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan

1 Penjelasan Umum Undang-Undang Dasar 1945. 2 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. 3

Z. A. Sangadji, Kompetensi Badan Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara, Cetakan Pertama, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm. 1.

(2)

tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.4 Badan-badan peradilan dalam 4 (empat) lingkungan peradilan tersebut memiliki kekuasaan yuridiksi menerima, memeriksa, memutus, dan menyelesaikan suatu perkara yang diajukan kepadanya.5 Kekuasaan demikian lazim dikenal dengan sebutan kewenangan mengadili atau kompetensi.6 Sedangkan pengadilan khusus7 adalah pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang diatur dalam undang-undang.

Badan-badan peradilan tersebut mempunyai kewenangan masing-masing dalam menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan suatu perkara. Kompetensi juga dapat disebut yuridiksi, yang di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman berarti kewenangan pengadilan untuk mengadili atau pengadilan yang berwenang mengadili sengketa tertentu sesuai dengan ketentuan yang digariskan peraturan perundang-undangan.8

Dalam hal ini, dibedakan menjadi 2 (dua) kewenangan pengadilan, yaitu kompetensi multak atau wewenang absolut dan kompetensi relatif atau wewenang nisbi. Kompetensi mutlak (wewenang asbolut) adalah kewenangan badan peradilan dalam memeriksa dan mengadili mengenai perkara tertentu yang secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan peradilan lainnya, baik dalam lingkungan

4

Pasal 18 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

5 Z. A. Sangadji, op.cit., hlm. 2-3. 6 Ibid., hlm. 3.

7

Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

8

(3)

peradilan yang sama maupun berbeda.9 Wewenang mutlak ini disebut juga atribusi kekuasaan kehakiman.10 Putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan terhadap suatu perkara yang secara mutlak tidak berwenang memeriksa dan mengadilinya adalah batal demi hukum.11 Sedangkan kompetensi relatif (wewenang nisbi) adalah kewenangan dari badan peradilan sejenis dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara atas dasar letak atau lokasi wilayah hukumnya.12

Menurut Philipus M. Hadjon13, pembagian kompetensi (distributie van rechtsmacht) antara 4 (empat) lingkungan peradilan, dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang digariskan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, yakni prinsip pertama adalah yang terkandung dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 yaitu, kekuasaan serta acara badan-badan peradilan diatur dengan undang-undang, prinsip kedua adalah bahwa peradilan khusus hanya menangani perkara tertentu yang ditetapkan dengan undang-undang. Dengan kedua prinsip tersebut, kompetensi peradilan umum ditetapkan dengan menggunakan teori

9

Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis, Citra Media Hukum, Yogyakarta, 2006, hlm. 11-12.

10

Sri Wardah dan Bambang Sutiyoso, Hukum Acara Perdata Dan Perkembangannya di

Indonesia, Cetakan Pertama, Gama Media, Yogyakarta, 2007, hlm. 72.

11 Ibid.

12 Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis, op.cit., hlm. 11-12. 13

Philipus M. Hadjon. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Cetakan Pertama, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1987, hlm. 116.

(4)

residu, yaitu bidang yang tidak diserahkan kepada peradilan khusus, dengan sendirinya termasuk lingkup kompetensi peradilan umum.

Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer dan lingkungan peradilan tata usaha negara.14 4 (empat) badan peradilan tersebut, mempunyai kompetensi absolut yang berbeda antara 1 (satu) badan peradilan dengan badan peradilan yang lain. Masing-masing badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung mempunyai kewenangan mengadili sendiri-sendiri, yaitu:

1. Peradilan Umum berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana dan perdata sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.15

2. Peradilan Agama berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.16

3. Peradilan Militer berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana militer sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.17

4. Peradilan Tata Usaha Negara berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.18

14 Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. 15 Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. 16

Pasal 25 ayat (3) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

17

(5)

Masing-masing lingkungan peradilan tersebut mempunyai bidang yuridiksi tertentu. Diantara 4 (empat) lingkungan badan peradilan tersebut, yang berwenang menyelesaikan sengketa perdata adalah peradilan umum. Selain melalui peradilan umum, menurut Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, penyelesaian sengketa perdata dapat di lakukan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa. Dalam Pasal 58 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa upaya penyelesaian sengketa perdata dapat dilakukan di luar pengadilan negara melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.19 Selanjutnya dalam Pasal 61 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman ditentukan bahwa ketentuan mengenai arbitrase dan penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58, Pasal 59, dan Pasal 60 diatur dalam undang-undang.20 Arbitase diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Hukum perdata meliputi semua hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan.21 Dalam literatur lain disebutkan bahwa hukum perdata adalah seperangkat/ kaidah hukum yang mengatur perbuatan atau hubungan antar manusia/badan hukum perdata untuk kepentingan para pihak sendiri dan pihak-pihak lain yang bersangkutan

18

Pasal 25 ayat (5) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

19 Pasal 58 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. 20 Pasal 61 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. 21

Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cetakan Ketujuh Belas, PT. Intermasa, Jakarta, 1983, hlm. 9.

(6)

dengannya, tanpa melibatkan kepentingan publik/ umum/ masyarakat yang lebih luas.22

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau BW (Burgerlijke Wetbook) membagi hukum perdata ke dalam bidang-bidang sebagai berikut:23

1. Hukum tentang orang (personen recht);

2. Hukum tentang benda (zaken recht);

3. Hukum tentang perikatan (verbintenissen recht);

4. Hukum tentang pembuktian dan kadaluwarsa (van bewijs en verjaring). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terdiri atas empat buku, yaitu Buku Pertama yang berjudul Perihal Orang, memuat hukum tentang diri seseorang dan Hukum Kekeluargaan. Buku Kedua yang berjudul Perihal Benda, memuat hukum perbendaan serta Hukum Warisan. Buku Ketiga yang berjudul Perihal Perikatan, memuat hukum kekayaan yang mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak tertentu. Yang terakhir, Buku Keempat yang berjudul Perihal Pembuktian dan Lewat Waktu (Daluwarsa), memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-akibat lewat waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.

22

Munir Fuady, Konsep Hukum Perdata, Cetakan Kesatu, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2014, hlm. 1.

23

(7)

Berikut akan diuraikan kewenangan peradilan umum dan arbitrase dalam memeriksa perkara perdata:

1. Kewenangan Peradilan Umum Dalam Memeriksa Perkara Perdata

Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi, untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan Kehakiman di lingkungan Peradilan Umum dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara Tertinggi.

Pasal 50 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum menyebutkan bahwa Pengadilan Negeri bertugas dan berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama.24 Dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 disebutkan bahwa Pengadilan Tinggi bertugas dan berwenang mengadili perkara pidana dan perkara perdata di tingkat banding.25

Kewenangan Pengadilan Negeri dalam perkara pidana mencakup segala bentuk tindak pidana, kecuali tindak pidana militer yang merupakan kewenangan dari peradilan militer. Sedangkan dalam perkara perdata, Pengadilan Negeri

24

Pasal 50 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

25

(8)

berwenang menagdili perkara perdata secara umum, kecuali perkara perdata tertentu yang merupakan kewenangan Pengadilan Agama.

2. Kewenangan Arbitrase Dalam Memeriksa Perkara Perdata

Arbitrase diperkenalkan di Indonesia bersamaan dengan diberlakukannya RV (Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering) pada tahun 1847, karena semula Arbitrase ini diatur dalam ketentuan Pasal 615 s/d 651 Rv.26 Ketentuan-ketentuan tersebut sekarang ini sudah tidak berlaku lagi dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.27

a. Pengertian Arbitrase

Arbitrase merupakan salah satu metode penyelesaian sengketa.28 Berikut akan diuraikan beberapa pengertian arbitrase:

Pengertian arbitrase menurut Black’s Law Dictionary:29

“Arbitration. The reference of a dispute to an impartial (third) person chosen by the parties to the dispute who agree in advance to abide by the arbitrator’s award issued after hearing at which bothe parties have an opportunity to be heard. An arrangement for taking and abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter, instead of carrying it to estabilish tribunals of justice, and is intended to avoid the formalities, the delay, the expense and vexation of ordinary litigation. Arbitration. An alternative dispute resolution system that is agreed to by all parties to a

26

Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis, op.cit., hlm. 99.

27 Budy Budiman, Mencari Model Ideal Penyelesaian Sengketa, dikutip dari Ibid. 28

Munir Fuady, Arbitrase Nasional, Cetakan Kesatu, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm. 11.

29

(9)

dispute. This system provides for private resolution of a disputes in speedy fashion.”30

Menurut R. Subekti31 arbitrase sebagai penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim yang berdasarkan persetujuan bahwa mereka akan tunduk kepada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim atau para hakim yang mereka pilih atau tunjuk tersebut.

Pengertian arbitrase atau perwasitan menurut M. N. Purwosutjipto32 adalah suatu peradilan perdamaian, dimana para pihak bersepakat agar perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya, diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak, yang ditunjuk oleh para pihak sendiri dan putusannya mengikat bagi kedua belah pihak.

Pengertian arbitrase menurut Priyatna Abdurrasyid:33

“Arbitrase adalah salah satu mekanisme alternatif penyelesaian sengketa-aps yang merupakan bentuk tindakan hukum yang diakui oleh undang-undang dimana salah satu pihak atau lebih menyerahkan sengketa – ketidak-sefahamannya – ketidak-sepakatannya dengan satu pihak lain atau lebih kepada satu orang (arbiter) atau lebih (arbiter-arbiter-majelis) ahli yang profesional, yang akan bertindak sebagai hakim/peradilan swasta yang akan menerapkan tata cara hukum negara yang berlaku atau menerapkan tata cara hukum perdamaian yang telah disepakati bersama oleh para pihak tersebut terdahulu untuk sampai kepada putusan yang final dan mengikat.”

Lebih lanjut Priyatna Abdurrasyid menjelaskan, oleh karena itu dikatakan bahwa arbitrase adalah hukum prosedur dan hukum para pihak (law of procedure

30

ALTSCHUL, Standford M., The Most Important Legal Term You’ll Ever Need To

Know, 1994, dikutip dari Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian

Sengketa (APS), Edisi ke-2 (Revisi), Fikahati Aneska, 2011, hlm. 49. 31

R. Subekti, Arbitrase Perdagangan, Cetakan Pertama, Bincaipta, Bandung, 1981, hlm. 1.

32

M. N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia, dikutip dari Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm. 108.

33

(10)

dan law of the parties).34 Ini dikarenakan para pihak mempunyai hak untuk menentukan sendiri tata cara apa yang akan diterapkan, wewenang apa yang diberikan kepada arbiter, dan jenis hukum mana yang diterapkan sehubungan dengan sengketa tertentu.35

Abdulkadir Muhammad36 memberikan batasan yang lebih rinci, menurutnya arbitrase adalah badan peradilan swasta di luar lingkungan peradilan umum, yang dikenal khusus dalam dunia perusahaan. Arbitrase adalah peradilan yang dipilih dan ditentukan sendiri secara sukarela oleh pihak-pihak pengusaha yang bersengketa. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan negara merupakan kehendak bebas pihak-pihak. Kehendak bebas ini dapat dituangkan dalam perjanjian tertulis yang mereka buat sebelum atau sesudah terjadi sengketa sesuai dengan asas kebebasan berkontrak dalam hukum perdata.

Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang dimaksud dengan arbitrase adalah:37 cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, pada dasarnya dapat disimpulkan mengenai unsur-unsur dari arbitrase adalah sebagai berikut:38

1) Cara penyelesaian sengketa secara privat atau di luar pengadilan;

2) Atas dasar perjanjian tertulis dari para pihak;

3) Untuk mengantisipasi sengketa yang mungkin terjadi atau yang sudah terjadi; 34 Ibid. 35 Ibid., hlm. 62. 36

Abdulkadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, dikutip dari Rachmadi Usman, loc.cit.

37

Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

38

(11)

4) Dengan melibatkan pihak ketiga (arbiter atau wasit) yang berwenang mengambil keputusan;

5) Sifat putusannya adalah final dan mengikat.

b. Perjanjian Arbitrase

Pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 menyatakan bahwa perjanjian arbitrase adalah kesepakatan (jadi berdasarkan suatu perjanjian) berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis39 untuk menyerahkan sengketa yang timbul sekarang atau yang akan datang kepada arbitrase. Para pihak telah memufakati secara tertulis bahwa mereka, apabila terjadi perkara mengenai perjanjian yang telah mereka buat, akan memilih jalan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dan tidak berperkara di hadapan peradilan umum.40 Jadi dengan adanya klausul arbitrase ini, maka para pihak telah menyetujui tidak menyelesaikan sengketa mereka dengan cara berperkara di muka pengadilan umum.41

Klausul arbitrase ini merupakan hal yang penting karena akan menentukan berlangsungnya suatu arbitrase, bagaimana pelaksanaannya, hukum substantif apa yang berlaku, dan lain-lain.42

39

Sudargo Gautama, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan

Alternatif Penyelesaian Sengketa Baru 1999, Cetakan Kesatu, PT Citra Aditya Bakti, Bandung,

1999, hlm. 36.

40

Ibid., hlm. 27.

41 Ibid. 42

Gunawan Widjaja, Seri Aspek Hukum Dalam Bisnis: Arbitrase VS. Pengadilan

Persoalan Kompetensi (Absolut) Yang Tidak Pernah Selesai, Cetakan Pertama, Kencana Prenada

(12)

Dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dijelaskan bahwa:43

“Arbitrase yang diatur dalam undang-undang ini merupakan cara penyelesaian suatu sengketa di luar peradilan umum yang didasarkan atas perjanjian tertulis dari pihak yang bersengketa. Tetapi tidak semua sengketa dapat diselesaikan melalui arbitrase, melainkan hanya sengketa mengenai hak yang menurut hukum dikuasai sepenuhnya oleh para pihak yang bersengketa atas dasar kata sepakat mereka.”

Ditegaskan dalam penjelasan umum tersebut bahwa perjanjian arbitrase harus berdasarkan kata sepakat para pihak.

Kompetensi absolut arbitrase secara normatif akan lahir ketika para pihak dalam membuat perjanjian dengan tegas menyatakan bahwa mereka akan menyelesaikan perselisihan mereka melalui forum arbitrase.44 Dengan demikian, pengadilan tidak wewenang untuk mengadili sengketa tersebut.

Bentuk perjanjian arbitrase dibagi menjadi dua, yaitu pactum de compromittendo dan akta kompromis. Berikut akan dipaparkan bentuk perjanjian arbitrase tersebut:

1) Pactum De Compromittendo

Secara harafiah, istilah pactum de compromittendo berarti akta kompromis, tetapi dalam beberapa literatur Indonesia dibedakan antara keduanya. Jadi, perbedaannya semata-mata pada pemakaiannya. Istilah pactum de compromittendo ditujukan kepada kesepakatan pemilihan arbitrase di antara para

43

Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

44

Bambang Sutiyoso, Akibat Pemilihan Forum Dalam Kontrak Yang Memuat Klasula

(13)

pihak yang dilakukan sebelum terjadinya perselisihan.45 Para pihak sebelumnya telah sepakat untuk menyerahkan penyelesaian sengketa atau perselisihannya yang mungkin akan terjadi di kemudian hari kepada lembaga arbitrase.

Pactum de compromittendo diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, yang menyatakan bahwa para pihak dapat menyetujui suatu sengketa yang terjadi atau yang akan terjadi antara mereka untuk diselesaikan melalui arbitrase.46

2) Akta Kompromis

Akta kompromis adalah kesepakatan penyelesaian sengketa melalui arbitrase, dimana kesepakatatan dilakukan setelah sengketa muncul.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan antara pactum de compromittendo dan akta kompromis hanya terletak pada saat pembuatan perjanjian.47 Bila pactum de compromittendo dibuat sebelum perselisihan terjadi, akta kompromis dibuat setelah perjanjian terjadi.48

Perjanjian arbitrase tersebut harus dibuat secara tertulis dalam suatu dokumen yang ditandatangani oleh para pihak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.49

45 Munir Fuady, Arbitrase Nasional, op.cit., hlm. 118. 46

Pasal 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

47

Gunawan Widjaja, Seri Aspek Hukum Dalam Bisnis: Arbitrase VS. Pengadilan

Persoalan Kompetensi (Absolut) Yang Tidak Pernah Selesai, op.cit., hlm. 41.

48 Ibid. 49

Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyebutkan:

(14)

c. Objek Sengketa Arbitrase

Objek sengketa yang menjadi kewenangan arbitrase ditentukan dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Di dalam Pasal tersebut disebutkan:

1) Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.

2) Sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian.

Objek pemeriksaan sengketa arbitrase adalah memeriksa sengketa keperdataan, tetapi tidak semua sengketa keperdataan dapat diselesaikan melalui arbitrase, hanya bidang tertentu yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa tidak semua peristiwa hukum yang terjadi dapat diselesaikan melalui arbitrase.

Berikut akan diuraikan tentang ruang lingkup sengketa di bidang perdagangan dan apa yang dimaksud dengan hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa:

Persetujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dimuat dalam suatu dokumen yang ditandatangani oleh para pihak.

(15)

1) Sengketa di Bidang Perdagangan

Tidak ada suatu penjelasan resmi mengenai apa yang dimaksud dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 199950 mengenai apa yang termasuk dengan ruang lingkup hukum bidang perdagangan. Namun, jika dihubungkan dengan Penjelasan Pasal 66 huruf b Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, yang dimaksud dengan ruang lingkup hukum perdagangan adalah kegiatan-kegiatan antara lain di bidang51 perniagaan, perbankan, keuangan, penanaman modal, industri dan hak kekayaan intelektual.

2) Sengketa Mengenai Hak yang Menurut Hukum dan Peraturan Perundan-Undangan Dikuasai Sepenuhnya oleh Pihak yang Bersengketa

Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 mengatur bahwa hanya hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasasi sepenuhnya oleh para pihak yang bersengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase. Jika yang dihadapi adalah masalah mengenai perceraian, penuntutan nafkah oleh salah satu pihak, pembagian harta dan lain-lain hal dalam bidang hukum kekeluargaan, maka permaslahan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase. Sudah jelas di sini tidak hanya para pihak yang berwenang, tetapi ada peranan dan pengaruh dari masyarakat serta keluarga yang bersangkutan di dalam permasalahan ini.

50

Gunawan Widjaja, Alternatif Penyelesaian Sengketa, Cetakan Pertama, PT RajaGrafindo, Jakarta, 2001, hlm. 100.

51

Penjelasan Pasal 66 huruf b Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

(16)

Di dalam RV telah disebut berbagai kemungkinan yang tertutup untuk arbitrase, antara lain berbagai keadaan atau sengketa yang timbul karena hubungan suami istri, hukum kekeluargaan pada umumnya, misalnya perceraian dan pembagian harta warisan dan sebagainya. Sengketa-sengketa tersebut, tidak dapat dimasukkan dalam katagori hak yang menurut hukum dikuasai sepenuhnya oleh para pihak yang bersengketa.

3) Sengketa Yang Tidak Dapat Diselesaikan Melalui Arbitrase

Ditentukan lebih lanjut dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Altternatif Penyelesaian Sengketa bahwa sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian. Ketentuan Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Altternatif Penyelesaian Sengketa tersebut memberikan perumusan negtif, di mana dikatakan bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian52 (dading). Ketentuan mengenai dading tersebut, merupakan pembatasan masalah-masalah yang dimungkinkan untuk diselesaikan menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Ketentuan mengenai perdamaian diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku III Bab Kedelapan belas Pasal 1851 sampai dengan Pasal

52

(17)

1864. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang dimaksud dengan perdamaian adalah:53

“Suatu perjanjian dengan mana kedua belah pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang sedang begantung atau pun mencegah timbulnya suatu perkara. Perjanjian tersebut harus dibuat secara tertulis, apabila tidak dibuat secara tertulis, maka perjanjian tersebut tidak sah.”

Di dalam suatu perdamaian, harus ada terlebih dahulu suatu perselisihan antara kedua belah pihak. Setelah perselishan muncul, maka terjadi suatu tawar menawar yang pada akhirnya mencapai suatu persetujuan, di mana masing-masing pihak melepaskan bagian dari yang ditawarkan dalam persetujuan tersebut. Dalam Hukum Perseorangan atau Kekeluargaan, tidak boleh dikatakan dading tentang sah atau tidaknya suatu perkawainan, pengesahan seorang anak, sahnya suatu pengakuan sebagai anak. Juga hak-hak ketatanegaraan tidak boleh dimasukkan dalam dading, seperti misalnya hak untuk memilih atau dipilih menjadi anggota badan-badan perwakilan rakyat.

Di dalam beberapa pasal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sendiri ditentukan barang-barang apa yang masing-masing pihak tidak mempunyai kekuasaan, seperti yang ditentukan dalam Pasal 1332 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam pasal tersebut ditentukan bahwa hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan sajalah yang dapat menjadi obyek suatu perjanjian. Dengan kata lain, maka barang-barang yang berada di luar perdagangan (buiten handel) seperti jalan-jalan raya, sungai-sungai, pantai laut dan lain sebagainya tidak dapat menjadi obyek dari dading juga.

53

(18)

Pasal 1334 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan suatu boedel-warisan, sebagai yang hanya mungkin saja akan ditinggal oleh seorang boedel-warisan, sebagai barang-barang yang tidak dapat dijadikan obyek dari suatu perjanjian, termasuk juga suatu dading. Dinyatakan dalam Pasal 1852 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, bahwa untuk dapat melakukan suatu perdamaian (dading) orang harus mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan (beschikken) atas objek-objek yang meliputi dading itu.

Dinyatakan pula bahwa para wali dan kuartor tidak dapat membuat suatu kompromi atau dading (perdamaian), jika mereka tidak memperhatikan ketentuan dalam Buku I bab ke-15 dan ke-17 dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Bab ke-15 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengatur soal mereka yang belum dewasa dan perwalian. Bab-17 mengatur soal curatele. Semua ketentuan dalam Bab ini harus diperhatikan oleh seorang wali atau kurator jika melakukan perdamaian.

Disebutkan dalam alinea ke-3 dari Pasal 1852 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, bahwa kepala pemerintahan setempat yang bertindak dalam mengkualitasikan mereka itu dan badan-badan umum atau rumah-rumah pemeliharaan piatu (gestichten) tidak dapat melakukan perdamaian tanpa memperhatikan formalitas yang ditentukan oleh undang-undang bagi mereka ini. Dinyatakan lebih lanjut dalam Pasal 1853 Kitab Undang-Undnag Hukum Perdata, bahwa atas perbuatan kepentingan perdata yang didasarkan atau dihasilkan tindak pidana atau pelanggaran tidak dapat dibuat perdamaian. Demikian pula tidak dapat diadakan arbitrase mengenai materi seperti ini.

(19)

d. Kewenangan Absolut Arbitrase

Kompetensi absolut arbitrase untuk menyelesaikan suatu perkara bergantung pada perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak.54 Apakah persetujuan yang memuat perjanjian arbitrase, baik dalam bentuk “pactum de compromittendo” atau “akta kompromis”, mengenyampingkan kompetensi pengadilan. Terhadap permasalahan ini berkembang dua aliran, sebagai berikut:

1) Klausul Arbitrase: Bukan Publik Orde

Menurut aliran yang mengajarkan klausul arbitrase bukan publik order atau bukan kepentingan umum (niet van openbaar orde), klausul arbitrase tidak mutlak menyingkirkan kewenangan Pengadilan untuk memeriksa dan mengadili perkara yang timbul dari perjanjian.55 Meskipun suatu perjanjian terdapat klausul arbitrase, baik yang berbentuk pactum de compromittendo atau akta kompromis, apabila salah satu pihak mengajukan gugatan tentang hal itu kepada Pengadilan maka Pengadilan Negeri tetap berwenang memeriksa dan mengadili sengketa yang timbul dari perjanjian berklausul arbitrase tersebut.

Aliran ini memberi hak opsi atau hak pilih bagi para pihak, untuk memlilih apakah sengketa yang timbul diajukan kepada badan arbitrase atau ke Pengadilan. Apabila salah satu pihak telah mengajukan sengketa kepada badan arbitrase, maka

54

Ridwan Khairandy, PT Pulau Intan Cemerlang dan PT Gunung Berlian v Syafei

Juremi, et.al, (Putusan Mahkamah Agung N0: Reg. No. 1851/Pdt./1984): Analisis terhadap Kesalahan Pengadilan dalam Penafisran Perjanjian dan Penentuan Kompetensi Absolut Arbitrase, diakses dari

http://ridwankhairandy.staff.uii.ac.id/2010/01/20/pt-pulau-intan-cemerlang- dan-pt-gunung-berlian-v-syafei-juremi-etal-putusan-mahkamah-agung-no-reg-no-1851pdt1984-analisis-terhadap-kesalahan-pengadilan-dalam-penafsiran-perjanjian-dan-p/, pada tanggal 15 September 2015, pukul 09:04 WIB, hlm. 8.

55

(20)

mutlak gugur yurisprudensi Pengadilan Negeri untuk menerima, memeriksa dan mengadili sengketa tersebut. Namun apabila salah satu pihak telah mengajukan sengketa kepada Pengadilan Negeri, maka dengan sendirinya gugur kewenangan badan arbitrase untuk memeriksa dan mengadili sengketa tersebut. Demikian pendapat yang paling ekstrim dari aliran yang mengajarkan klausul arbitrase bukan berkapasitas sebagai kepentingan umum (non public order).

Klausul arbitrase tidak bersifat absolut menyingkirkan kewenangan badan Pegadilan. Oleh karena itu para pihak tetap memiliki kebebasan untuk mengajukan persengketaan yang timbul kepada Pengadilan Negeri. Pengadilan Negeri berwenang sepenuhnya menerima, memeriksa dan mengadili sepanjang pihak lawan tidak mengajukan eksepsi atau bantahan yang menyatakan bahwa perjanjian telah diikat dengan klausul arbitrase, sehingga kewenangan untuk menyelesaikan persengketaan jatuh ke badan arbitrase. Apabila diajukan eksepsi tentang adanya klausul arbitrase dalam perjanjian, dengan sendirinya menurut hukum, gugur yurisprudensi Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan mengadili sengketa tersebut.

Sebaliknya, apabila tidak ada pihak yang tidak mengajukan eksepsi tentang adanya klasul arbitrase, maka dianggap telah melepaskan haknya atas klausul arbitrase yang diperjanjikan. Menurut pendapat ini, supaya klausul arbitrase bisa mempengaruhi kewenangan menyelesaikan sengketa melalui badan arbitrase, klausul arbitrase tersebut harus dipertahankan. Cara mempertahankannya ialah dengan mengajukan eksepsi. Secara formil, eksepsi harus diajukan dalam jawaban pertama oleh pihak tergugat. Apabila eksepsi terhadap klausul arbitrse baru

(21)

diajukan dalam gugat rekonpensi, secara formil dianggap tidak sah dan tidak memiliki daya. Akibatnya, pihak tergugat dianggap telah melepaskan hak dan kepentingannya atas klausul dimaksud, dan kewenangan mengadili sengketa menjadi yuridiksi Pengadilan Negeri.

Aliran ini misalnya secara tersirat dapat dilihat dalam putusan NR 8 Januari 1925, menurut putusan ini,56 adalah sebagai berikut:

a) Suatu klausul arbitrase “niet van openbaar orde” (bukan ketertiban umum).

b) Sengketa yang timbul dari perjanjian yang memuat klausul arbitrase dapat diajukan ke pengadilan perdata.

c) Pengadilan tetap berwenang mengadili, sepanjang pihak lawan tidak mengajukan eksepsi akan adanya klausul arbitrase.

d) Dengan tidak adanya eksepsi diajukan, pihak lawan dianggap telah “melepaskan” haknya atas klausul arbitrase dimaksud.

e) Eksepsi atau tangkisan klausul arbitrase baru diajukan dalam gugatan rekonpensi, tergugat dianggap telah melepaskan haknya atas klausul arbitrase, dan kewenangan mengadili sengketa sudah jatuh dan tunduk pada yuridiksi pengadilan.

56

Tim Pengkajian Hukum MARI, Penemuan Hukum dan Pemecahan Masalah-Masalah

Hukum Dalam Arbitrase 1990, dikutip dari Suyud Margono, ADR dan Arbitrase Penyelesaian Sengketa Bisnis, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2010, hlm. 158.

(22)

2) Klausul Arbitrase: Pacta Sunt Sevanda

Kata pacta berasal dari kata pactum, yang berarti agreement atau perjanjian. Dari kata pactum, lahir ungkapan pacta sunt servanda, yang berkembang dan menjadi kaidah hukum yang mengandung makna setiap perjanjian yang sah (legal agreement) mengikat kepada para pihak, oleh karena itu para pihak harus menaatinya.57 Oleh karena itu, setiap persetujuan hanya dapat gugur (ditarik kembali) atas kesepakatan bersama para atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Lebih lanjut dipertegas bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan iktikad baik (good faith).58

Asas pacta sunt servanda secara positif telah dituangkan dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berintikan:

a) Setiap perjanjian mengikat kepada para pihak;

b) Kekuatan mengikatnya serupa dengan kekuatan undang-undang; dan

c) Hanya dapat ditarik kembali atas persetujuan bersama para pihak.

Bertitik tolak dari teori prinsip pacta sunt servanda, aliran ini berpendapat, setiap perjanjian memuat klausl arbitrase:

a) Mengikat secara mutlak kepada para pihak; dan

57

M. Yahya Harahap, op.cit., hlm. 128-129.

58

(23)

b) Oleh karena itu, kewenangan memeriksa dan memutus sengketa yang timbul, menjadi kewenangan absolut.

Jika makna pacta sunt servanda dihubungkan dengan ketentuan Pasal 1388 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, serta dikaitkan dengan perjanjian, terdapat beberapa asas yang sangat esensial untuk diterapkan menentukan kewenangan yuridiksi arbitrase:

a) Setiap perjanjian mengikat kepada para pihak;

b) Kekuatan mengikatnya serupa dengan kekuatan undang-undang; dan c) Hanya dapat ditarik kembali atas kesepakatan bersama para pihak.

Klausul arbitrase merupakan persetujuan atau kesepakatan yang dituangkan para pihak ke dalam perjanjian, oleh karenanya, asas-asas yang terkandung dalam pacta sunt servanda dan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, berlaku sepenuhnya terhadap perjanjian arbitrase. Acuan penerapannya:

a) Persetujuan arbitrase mengikat secara mutlak kepada para pihak;

b) Oleh karena itu, apabila timbul persengketaan dari apa yang telah mereka perjanjikan, kewenangan untuk menyelesaikan dan memutus sengketa, mutlak menjadi kewenangan badan arbitrase;

c) Dengan demikian, pengadilan tidak berwenang memeriksa dan mengadili sengketa secara mutlak;

(24)

d) Dan gugurnya klausul arbitrase hanya terjadi apabila secara tegas ditarik kembali atas kesepakatan para pihak; dan

e) Serta tidak dapat dibenarkan hukum, penarikan secara diam-diam, apalagi penarikan secara speihak atau secara unilateral.

Aliran ini berpendirian, sejak para pihak mengadakan perjanjian arbitrase, maka para pihak secara mutlak telah terikat. Kemutlakan keterikatan kepada perjanjian arbitrase, dengan sendirinya telah mewujudkan kewenangan absolut badan arbitrase untuk menyelesaikan dan memutus sengketa yang timbul dari perjanjian.

Gugurnya kewenangan mutlak arbitrase untuk menyelesaikan dan memutus sengketa yang timbul dari perjanjian, hanya dapat dibenarkan apabila para pihak sepakat dan setuju menarik kembali secara tegas perjanjian arbitrase. Maka, sejak para pihak mengikat diri dalam perjanjian arbitrase, sejak itu dengan sendirinya telah lahir kompetensi absolut arbitrase untuk menyelesaikan persengketaan yang timbul dari perjanjian. Oleh karena itu, ada atau tidak ada diajukan eksepsi, Pengadilan harus tunduk kepada ketentuan pasal 134 HIR59 dan menyatakan diri tidak berwenang mengadili.

59

Pasal 134 HIR berbunyi: “Jika perselisihan itu adalah suatu perkara yang tidak termasuk wewenang pengadilan negeri, maka pada sembarang waktu dalam pemeriksaan perkara itu, boleh diminta supaya hakim mengaku tidak berwenang, dan hakim itu pun, karena jabatannya, wajib pula mengaku tidak berwenang.” (Rv. 132: IR. 136, 190)

(25)

e. Putusan Arbitrase

Pada prinsipnya putusan arbitrase bersifat final dan mengikat, tidak ada upaya hukum banding atau kasasi terhadap putusan arbitrase. Putusan arbitrase bersifat final dan mengikat tersebut diatur dalam Pasal 60 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang berbunyi putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. Pada Penjelasan Pasal 60 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa disebutkan bahwa putusan arbitrase merupakan putusan final dan dengan demikian tidak dapat diajukan banding, kasasi atau peninjauan kembali.

Namun, karena beberapa hal dimungkinkan adanya pembatalan putusan arbitrase. Pembatalan putusan arbitrase hanya dapat dilakukan jika terdapat hal-hal yang bersifat luar biasa.60 Putusan arbitrase dapat dibatalkan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut:61

1) Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu dan dinyatakan palsu;

2) Setelah putusan diambil, ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau

3) Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.

60

Bambang Sutiyoso, Hukum Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Gama Media, Yogyakarta, 2008, hlm. 160.

61

Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

(26)

Upaya pembatalan tersebut bukanlah merupakan banding biasa terhadap suatu putusan arbitrase, pembatalan merupakan suatu upaya hukum yang luar biasa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada prinispnya suatu putusan arbitrase adalah putusan tingkat pertama dan terakhir (final dan binding).

3. Eksekusi Putusan Dalam Perkara Perdata

Putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak.62 Sebuah konsep putusan (tertulis) tidak mempunyai kekuatan sebagai putusan sebelum diucapkan di persidangan oleh hakim.63

Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan pada sidang pengadilan yang terbuka untuk umum untuk menyelesaikan atau mengakhiri perkara perdata.64 Sedangkan pengertian putusan perkara perdata menurut Zainuddin Mappong adalah:65

“Suatu kesimpulan hakim yang diperoleh selama memeriksa dan mengadili suatu perkara perdata berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di persidangan, kemudian menghubungkan antara fakta-fakta tersebut dengan dalil gugatan serta menentukan dasar hukumnya, baik menurut hukum perdata materiil maupun menurut hukum perdata formil dan selalu harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.”

62

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi Ke Tujuh, Liberty Yogyakarta, Yogyakarta, 2006, hlm. 210.

63

Ibid.

64

Ridwan Syahrani, Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Umum, Pustaka Kartini, Jakarta, 1988, hlm, 83.

65

Zainuddin Mappong, Eksekusi Putusan Serta Merta, Cetakan Kedua, Tunggal Mandiri, Malang, 2014, hlm. 128.

(27)

Ada 3 (tiga) kekuatan yang melekat pada putusan pengadilan yakni, kekuatan mengikat, kekuatan pembuktian dan kekuatan eksekusi atau untuk jelasnya merupakan kekuatan untuk merealisir putusan berdasarkan kepala putusan yang berbunyi: “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”66

Putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan (eksekusi) adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde), yaitu putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet, banding dan kasasi.67 Semua putusan pengadilan mempunyai kekuatan eksekutorial yaitu kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa oleh alat-alat negara.68

Putusan akhir menurut sifat amarnya (diktumnya) dapat dibedakan atas 3 (tiga) macam, yaitu: putusan condemnatoir, putusan constitutief dan putusan declaratoir.69 Putusan condemnatoir adalah putusan yang memuat amar menghukum salah satu pihak yang sedang berperkara.70 Putusan constitutief adalah putusan yang memastikan suatu keadaan hukum, baik yang bersifat meniadakan suatu keadan hukum maupun yang menimbulkan keadaan hukum baru.71 Sedangkan putusan declaratoir adalah yang berisi pernyataan atau penegasan tentang suatu keadaan atau kedudukan hukum semata-mata.72

66

Djazuli Bachar, Eksekusi Putusan Perkara Perdata, Edisi Revisi, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995, hlm. 21.

67

Ridwan Syahrani, op.cit., hlm. 105.

68

Ibid.

69 Ibid., hlm. 88.

70 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, hlm. 877. 71

Ibid., hlm. 876.

72

(28)

Hanya putusan pengadilan yang dikutumnya bersifat condemnatoir saja yang memerlukan pelaksanaan secara paksa oleh alat-alat negara. Sedangkan putusan yang dikutumnya bersifat constitutief dan declaratoir tidak memerlukan sarana-sarana untuk melaksanakan putusannya. Hal tersebut disebabkan karena putusan yang dikutumnya bersifat constitutief dan declaratoir tidak memuat adanya hak atas suatu prestasi.73

Pelaksanaan putusan pengadilan tidak lain adalah realisasi daripada apa yang merupakan kewajiban dari pihak yang dikalahkan untuk memenuhi suatu prestasi, yang merupakan hak dari pihak yang dimenangkan, sebagaimana tercantum dalam putusan pengadilan.74

Hukum eksekusi mengatur cara dan syarat-syarat yang dipakai untuk mengeksekusi/menjalankan putusan pengadilan, apabila pihak yang kalah tidak bersedia secara sukarela memenuhi bunyi putusan pengadilan tersebut.75 Dalam HIR/Rbg, eksekusi putusan pengadilan diatur dalam Pasal 196 HIR/207 Rbg dan berikutnya mengenai putusan pengadilan yang menghukum orang untuk membayar uang diatur dalam Pasal 224 Rbg/206 HIR, sedangkan eksekusi putusan pengadilan yang menghukum orang untuk melakukan suatu perbuatan diatur dalam Pasal 225 HIR/259 Rbg.76

73 Ridwan Syahrani, op.cit.,hlm. 105. 74 Ibid., hlm. 106.

75

Zainuddin Mappong, op.cit., hlm. 135.

76

(29)

Dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman tentang Kekuasaan Kehakiman diatur tentang pelaksanaan putusan pengadilan, yang menyatakan:

a. Pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh jaksa; b. Pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara perdata dilakukan oleh

panitera dan jurusita dipimpin oleh ketua pengadilan negeri putusan pengadilan dilaksankan dengan memperhatikan nilai kemanusiaan dan keadilan.

Sedangkan Pasal 55 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman menyatakan: a. Ketua pengadilan wajib mengawasi pelaksanaan putusan pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

b. Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan.

Asas-asas eksekusi (pelaksanaan putusan):77

a. Eksekusi (pelaksanaan putusan) dijalankan terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Inilah salah satu asas atau prinsip yang mesti diperhatikan pada saat hendak melakukan eksekusi. Dalam Undang-Undang Peradilan Tata Usaha dikatakan, hanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang

77

Moh. Taufik Makarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, Cetakan Pertama, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hlm. 214 - 216.

(30)

dapat dilaksanakan.78 Akan tetapi terhadap asas tersebut ada pengecualian. Dalam kasus-kasus tertentu, undang-undang memperbolehkan eksekusi terhadap putusan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap, atau pelaksanaan putusan dapat dijalankan pengadilan terhadap bentuk hukum tertentu di luar putusan, sehingga ada kalanya eksekusi bukan merupakan tindakan menjalankan putusan pengadilan, tapi menjalankan pelaksanaan (eksekusi) terhadap bentuk-bentuk hukum yang dipersamakan undang-undang sebagai putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Terhadap pengecualian dimaksud, eksekusi dapat dijalankan sesuai dengan aturan tata cara eksekusi terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Bentuk-bentuk pengecualian yang diatur oleh undang-undang meliputi: 1) Pelaksanaan putusan lebih dahulu atau uit voerbaar bij voorrad.

Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg memberi hak kepada Penggugat untuk mengajukan permintaan agar putusan dapat dijalankan eksekusinya lebih dulu, sekalipun terhadap putusan itu pihak tergugat mengajukan banding atau kasasi.

2) Pelaksanaan putusan provisi.

Pelaksanaan terhadap putusan provisi merupakan pengecualian eksekusi terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Sebagaimana diketahui, kalimat terakhir Pasal Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg mengenal gugat provsi, yakni tuntuan lebih dulu yang bersifat

78

(31)

sementara mendahului putusan pokok perkara. Apabila hakim mengabulkan gugatan atau tuntutan provisi, maka putusan provisi tersebut dapat dilaksanakan (dieksekusi) sekalipun perkara pokoknya belum diputus. Undang-undang seperti yang diatur Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg maupun Pasal 54 Rv, memperbolehkan menjalankan pelaksanaan putusan provisi mendahului pemeriksaan dan putusan pokok perkara.

3) Akta perdamaian.

Bentuk pengecualian ini diatur dalam Pasal 130 HIR atau Pasal 154 Rbg. Menurut pasal ini, selama persidangan berlangsung, kedua belah pihak yang berperkara dapat berdamai, baik atas anjuran hakim maupun atas inisiatif dan kehendak kedua belah pihak. Apabila tercapai perdamaian dalam persidangan maka hakim membuat akta perdamaian, menghukum kedua belah pihak untuk memenuhi akta perdamaian. Sifat akta perdamaian yang dibuat di persidangan mempunyai kekuatan eksekusi (executorial kracht) seperti putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.

4) Eksekusi terhadap grose akta.

Pengecualian lain yang diatur dalam undang-undang ialah menjalankan eksekusi terhadap groese akta, baik grose akta hipotik maupun grose akta pengakuan hutang, sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR atau Pasal 258 Rbg. Menurut pasal ini eksekusi yang dijalankan alan memenuhi isi perjanjian yang dibuat oleh para pihak. Hal ini jelas merupakan penyimpangan dan pengecualian eksekusi terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.

(32)

b. Eksekusi dijalankan terhadap putusan yang tidak dijalankan secara sukarela. Pada prinsipnya eksekusi sebagai tindakan paksa menjalankan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, baru merupakan pilihan hukum apabila pihak yang kalah tidak mau menjalankan atau memenuhi isi putusan secara sukarela. Jika pihak yang kalah bersedia mentaati dan memenuhi putuan secara sukarela, tindakan eksekusi harus disingkirkan. Oleh karena itu harus dibedakan antara menjalankan putusan secara sukrela dengan menjalankan putusan secara eksekusi.

c. Putusan yang dapat dieksekusi adalah putusan yang bersifat condemnatoir Artinya mengandung suatu penghukuman. Putusan-putusan yang amar atau diktumnya adalah declaratoir atau konsitutif tidak perlu diekseusi atau dilaksanakan, karena begitu putusan-putusan yang demikian itu diucapkan, maka keadaan yang dinyatakan sah oleh putusan declaratoir mulai berlaku pada saat itu juga, atau dalam halnya putusan konsitutif, keadaan baru sudah tercipta pada detik itu pula. Putusan condemnatoir bias berupa penghukuman untuk:

1) Menyerahkan suatu barang; 2) Mengosongkan sebidang tanah;

3) Melakakukan suatu perbuatan tertentu; 4) Menghentikan suatu perbuatan/keadaan; 5) Membayar sejumlah uang.

(33)

Dari kelima bentuk putusan condemnatoir, dari huruf a sampai dengan huruf d adalah penghukuman yang berbentuk eksekusi riil, sedangkan huruf e adalah eksekusi pembayaran sejumlah uang. Pada umunya eksekusi riil sangat sederhana hanya meliputi barang tertentu, misalnya barang yang menjadi sengketa adalah sebidang tanah, maka eksekusi riilnya hanya terbatas pada pengosongan dan penyerahan tanah yang menjadi sengketa. Eksekusi riil tidak dapat berkembang terhadap harta tergugat yang lain. Berbeda dengan eksekusi pembayaran sejumlah uang, berlaku asas obyek eksekusi meliputi semua harta debitor, dengan patokan, sampai semua hutang (tagihan) terlunasi. Ini sesuai dengan prinsip hukum perdata yang menentukan semua harta kekayaan debitor memikul beban untuk melunasi hutang kepada kreditor sampai terpenuhi seluruh pembayaran hutang.

B. Perjanjian Dan Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Perdata

1. Dasar-Dasar Perjanjian

a. Pengertian Perjanjian

Menurut Sri Soedewi Masychoen Sofwan, perjanjian adalah suatu perbuatan hukum di mana seorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap seorang lain atau lebih. 79 Menurut R. Wirjono Prodjodikoro, suatu perjanjian diartikan sebagai suatu perbuatan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan suatu hal atau

79

A. Qorim Syamsudin Meliala, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta

(34)

untuk tidak melakukan suatu hal, sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu. Menurut Subekti, perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Menurut K.R.M.T. Tirtodiningrat, perjanjian adalah suatu perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat di antara dua orang atau lebih untuk menimbulkan akibat-akibat hukum yang diperkenankan oleh Undang-Undang.

Sedangkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) terjemahan Subekti tidak dipakai istilah perjanjian melainkan yang dipakai adalah persetujuan. Hal ini tidak menjadi persoalan, sebab suatu perjanjian disebut juga persetujuan karena kedua belah pihak setuju untuk melakukan sesuatu.80 Jadi, kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama.

Tetapi menurut R. Wirjono Prodjodikoro, perjanjian dan persetujuan adalah berbeda.81 Beliau mengatakan bahwa persetujuan dalam perundang-undangan Hindia Belanda dulu dinamakan overeenkomsten, yaitu suatu kata sepakat antara dua pihak atau lebih mengenai harta benda kekayaan mereka yang bertujuan mengikat kedua belah pihak. Sedangkan, perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak yang lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.

80

Ibid., hlm. 8.

81

(35)

Dalam KUHPerdata bukan menggunakan kata perjanjian melainkan persetujuan. Pasal 1313 KUHPerdata mengatakan bahwa suatu persetujuan adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

b. Syarat Sahnya Perjanjian

KUHPerdata menentukan empat syarat yang harus ada pada setiap perjanjian, sebab dengan dipenuhinya syarat-syarat inilah suatu perjanjian itu berlaku sah.82 Keempat syarat untuk sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUHPerdata adalah:

1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3) Suatu hal tertentu; dan

4) Suatu sebab yang halal.

Dua syarat yang pertama adalah syarat yang menyangkut subjeknya, sedang dua syarat yang terakhir adalah mengenai objeknya. Suatu perjanjian yang mengandung cacat pada subjeknya, yaitu syarat sepakat mereka yang mengikatkan dirinya dan kecapakan untuk bertindak, tidak selalu menjadikan perjanjian tersebut menjadi batal dengan sendirinya (nietig), tetapi seringkali hanya memberikan kemungkinan untuk dibatalkan (vernietigbaar).83 Sedang,

82 A. Qorim Syamsudin Meliala, op.cit., hlm. 9. 83

J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian: Buku 1, op.cit., hlm. 163.

(36)

perjanjian yang cacat dalam segi objeknya, yaitu mengenai segi suatu hal tertentu atau suatu sebab yang halal, adalah batal demi hukum.84

Berikut penjelasan mengenai keempat syarat tersebut:

1) Kata Sepakat dari Mereka yang Mengikatkan Dirinya

Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya mengandung makna bahwa para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat atau ada persesuaian kemauan atau saling menyetujui kehendak masing-masing, yang dilahirkan oleh para pihak dengan tiada paksaan, kekelirian, dan penipuan.85

Paksaan (dwang), kekelirian (dwaling), dan penipuan (bedrog) merupakan 3 hal yang mengakibatkan kesepakatan tidak sempurna, sebagaimana diatur dalam Pasal 1321 KUHPerdata s.d. 1328 KUHPerdata.

2) Kecakapan untuk Membuat Perjanjian

Cakap (bekwaam) meruapakan syarat umum untuk dapat melakukan perbautan hukum secara sah, yaitu harus dewasa, sehat akal pikiran, dan tidak dilarang oleh suatu perundang-undangan untuk melakukan sesuatu perbuatan tertentu.86 Dengan kata lain, orang yang tidak cakap tidak memenuhi syarat untuk

84 Ibid., hlm 163-164. 85

Ridwan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, Edisi Ketiga, Cetakan Kesatu, PT. Alumni, Bandung, 2006, hlm. 205-206.

86

(37)

membuat perjanjian.87 Adapun orang yang tidak cakap menurut Pasal 1330 KUHPerdata adalah:

a) Orang-orang yang belum dewasa;

b) Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;

c) Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang persetujuan-persetujuan tertentu.

Tegasnya, syarat kecakapan untuk membuat suatu perjanjian ini mengandung kesadaran untuk melindungi baik bagi dirinya dan bagi miliknya maupun dalam hubungannya dengan keselamatan keluarganya.88

3) Suatu Hal Tertentu

Pengertian suatu hal tertentu mengarah kepada barang yang menjadi objek suatu perjanjian.89 Menurut Pasal 1333 KUHPerdata, barang yang menjadi objek suatu pejanjian ini harus tertentu, setidak-tidaknya harus ditentukan jenisnya, sedangkan jumlahnya tidak perlu ditentukan asalkan saja kemudian dapat ditentukan atau diperhitungkan.90 Selanjutnya ditentukan lebih lanjut dalam Pasal 1334 ayat (1) KUHPerdata, yaitu barang-barang yang baru akan ada kemudian hari juga dapat menjadi objek suatu perjanjian.

87

Budiman N.P.D. Sianaga, Hukum Kontrak & Penyelesaian Sengketa Dari Prespektif

Sekretaris, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005, hlm. 17.

88 Ridwan Syahrani, op.cit., hlm. 209. 89

Budiman N.P.D. Sianaga, op.cit., hlm. 18.

90

(38)

Namun, menurut Pasal 1334 ayat (2) KUHPerdata barang-barang yang akan masuk hak warisan seseorang karena yang lain akan meinggal dunia dilarang dijadikan objek suatu perjanjian, kendatipun hal itu dengan kesepakatan orang yang akan meninggal dunia dan akan meninggalkan barang-barang warisan itu. Adanya larangan ini karena menjadikan barang yang akan diwarisi sebagai objek perjanjian bertentangan dengan kesusilaan.91

Kemudian dalam Pasal 1332 KUHPerdata ditentukan bahwa barang-barang yang dapat dijadikan objek perjanjian hanyalah barang-barang yang dapat diperdagangkan. Lazimnya barang-barang yang dipergunakan untuk kepentingan umum dianggap sebagai barang-barang di luar perdagangan, sehingga tidak bisa dijadikan objek perjanjian.92

4) Suatu Sebab yang Halal

Selanjutnya undang-undang menghendaki untuk sahnya suatu perjanjian harus ada suatu oorzaak (causa) yang diperbolehkan.93 Secara letterlijk kata oorzaak atau causa berarti sebab, tetapi menurut riwayatnya, yang dimaksudkan dengan kata itu, ialah tujuan, yaitu apa yang dikehendaki oleh kedua pihak dengan mengadakan perjanjian itu.94 Mengenai syarat ini Pasal 1335 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan.

91

R. Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, Cetakan Kesebelas, PT. Bale Bandung, Bandung, 1989, hlm. 23.

92 Ridwan Syahrani, op.cit., hlm. 210. 93

Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cetakan XXVI, 1994, PT. Intermasa, Jakarta, 1994, hlm. 136.

94

(39)

Dari apa yang diterangkan di atas, jelaslah bahwa praktis hampir tidak ada perjanjian yang tidak mempunyai causa.95 Suatu causa yang palsu terdapat, jika suatu perjanjian dibuat dengan pura-pura saja, untuk menyembunyikan causa yang sebenrnya yang tidak diperbolehkan.96 Adapun suatu causa yang tidak diperbolehkan ialah yang betentangan dengan undang-undang, kesusilaan atau keterbtiban umum.97

c. Asas-Asas Dalam Perjanjian

1) Asas Kebebasan Berkontrak

Asas kebebasan berkontrak merupakan tiang sistem hukum perdata, khususnya untuk hukum perikatan yang diatur dalam Buku III KUHPerdata. Asas kebebasan berkontrak yang dianut hukum Indonesia tidak lepas kaitannya dengan sistem terbuka yang dianut Buku III KUHPerdata yang merupakan hukum pelengkap yang dapat dikesampingkan oleh para pihak dalam membuat kontrak.

Dengan asas kebebasan berkontrak, orang dapat menciptakan jenis kontrak baru yang sebelumnya tidak dikenal di dalam perjanjian bernama dan isinya menyimpang dari kontrak bernama yang diatur oleh undang-undang, yakni Buku III KUHPerdata.98 95 Ibid., hlm. 137. 96 Ibid. 97 Ibid 98

J. Satrio, Hukum Perikatan: Perikatan Pada Umumnya, Alumni, Bandung, 1993, hlm. 36.

(40)

Asas kebebasan berkontrak menurut hukum perjanjian Indonesia meliputi ruang lingkup sebagai berikut:99

a) Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian;

b) Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian; c) Kebebasan untuk menentukan atau memilih causa dari perjanjian yang akan

dibuatnya;

d) Kebebasan untuk menentukan objek perjanjian;

e) Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian;

f) Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional (aanvullend, optional).

Asas kebebasan berkontrak (freedom of contract) membuka kesempatan kepada para pihak yang membuat perjanjian untuk menentukan hal-hal berikut ini:

a) Pilihan hukum (choice of law), dalam hal ini para pihak menentukan sendiri dalam kontrak tentang hukum mana yang berlaku terhadap interpretasi kontrak tersebut;

b) Pilihan forum (choice of jurisdiction), yakni para pihak menentukan sendiri dalam kontrak tentang pengadilan atau forum mana yang berlaku jika terjadi sengketa di antara para pihak dalam kontrak tersebut;

99

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi

Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, 1993, hlm.

(41)

c) Pilihan domisili (choice of domicile), dalam hal ini masing-masing pihak melakukan penunjukan di manakah domisili hukum dari para pihak tersebut.100

Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata mengakui asas kebebasan berkontrak dengan menyatakan, bahwa semua perjanjian yang dimuat secara sah mengikat para pihak sebagai undang-undang.

2) Asas Konsensualisme

Kontrak atau perjanjian harus didasarkan pada konsensus atau kesepakatan dari pihak-pihak yang membuat perjanjian.101 Dengan asas konsensualisme, perjanjian dikatakan telah lahir jika ada kata sepakat atau persesuaian kehendak diantara para pihak yang membuat perjanjian tersebut.

Berdasarkan asas konsensualisme itu, dianut paham bahwa sumber kewajiban kontraktual adalah bertemunya kehendak (convergence of wills) atau konsensus para pihak yang membuat kontrak.102

3) Asas Kekuatan Mengikatnya Kontrak

Apabila pacta sunt servada dikaitan dengan adanya perjanjian, maka para pihak yang membuat perjanjian harus melaksanakan perjanjian yang mereka buat.

100

Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dasri Sudut Pandang Hukum Bisnis), dikutip dari Ibid., hlm. 13-14.

101

Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesa dalam Perspektif Perbandingan:

Bagian Pertama, Cetakan Pertama, FH UII Press, Yogyakarta, 2013, hlm 90.

102

(42)

Menurut asas ini kesepakatan para pihak itu mengikat sebagaimana layaknya undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

Dengan adanya konsensus dari para pihak itu, maka kesepakatan itu menimbulkan kekuatan mengikat perjanjian sebagaimana layaknya undang-undang (pacta sunt servada).103

Apa yang dinyatakan seseorang dalam suatu hubungan menjadi hukum bagi mereka. Asas inilah yang menjadi kekuatan mengikatnya perjanjian. Ini bukan kewajiban moral, tetapi juga kewajiban hukum yang pelaksanaannya wajib ditaati. 4) Asas Itikad Baik

Pasal 1338 KUHPerdata menyebutkan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-asalan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Selanjutny, Pasal 1338 KUHPerdata mengatur bahwa suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Menurut Ridwan Khairandy, itikad baik di sini bermakna bahwa perjanjian dilaksanakan secara patut dan rasional. Prestasi para pihak di dalam melaksanakan perjanjian harus secara rasional dan patut.

5) Asas Personalitas

Adanya personalitas dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1340 KUHPerdata. Pasal tersebut menyebutkan bahwa suatu perjanjian hanya berlaku

103

Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesa dalam Perspektif Perbandingan:

(43)

antara pihak-pihak yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat membawa rugi kepada pihak-pihak ke tiga, tidak dapat pihak-pihak ke toga mendapat manfaat karenanya, selain dalam hal yang diatur dalam Pasal 1317 KUHPerdata. Dengan demkian asas personalitas bermakna bahwa perjanjian hanya berlaku bagi pihak-pihak yang membuatnya.

d. Wanprestasi Dalam Perjanjian 1) Pengertian Wanprestasi

Para pihak yang membuat perjanjian wajib melaksanakan kewajiban yang timbul dari perjanjian tersebut. Kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak dalam perjanjian disebut sebagai prestasi.

Pemenuhan prestasi adalah hakikat dari suatu perjanjian. Kewajiban memenuhi prestasi dari debitor selalu disertai dengan tanggung jawab, artinya debitor mempertaruhkan harta kekayannya sebagai jaminan pemenuhan utangnya kepada kreditor.

Dalam melaksanakan prestasi tersebut, ada kalanya debitor tidak dapat melaksanakan prestasi atau kewajibannya. Ada penghalang ketika debitor melaksanakan prestasi dimaksud. Tidak terpenuhinya kewajiban itu ada dua kemungkinan alasannya, yaitu:

a) Karena kesalahan debitor, baik karena kesengajaan maupun karena kelalian; b) Karena keadaan memaksa (force majure, overmacht), sesuatu yang terjadi di

(44)

Apabila tidak terpenuhinya kewajiban prestasi disebabkan oleh kesalahan debitor, baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian, dan kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya, maka dikatakan bahwa debitor melakukan wanprestasi. Istilah lain wanprestasi dalam bahasa Indonesia adalah cidera janji atau ingkar janji.

Wanprestasi atau cidera janji adalah suatu kondisi di mana debitor tidak melaksanakan kewajiban yang ditentukan di dalam perikatan, khususnya perjanjian (kewajiban kontraktual). Wanprestasi dapat juga terjadi di mana debitor tidak melaksanakan kewajibannya yang ditentukan dalam undang-undang.

Wanprestasi dalam hukum perjanjian mempunyai makna yaitu debitor tidak melaksanakan kewajiban prestasinya atau tidak melaksanakan sebagaimana mestinya sehingga kreditor tidak memperoleh apa yang dijanjikan oleh pihak lawan.

Adapun pengertian umum wanprestasi adalah pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut selayaknya. Wanprestasi berasal dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda “wanprestatie”. Wan berarti buruk atau jelek dan prestatie berarti kewajiban yang harus dipenuhi oleh debitor dalam setiap perikatan.

Jadi, wanprestasi adalah prestasi yang buruk atau jelek. Secara umum artinya tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan, baik perikatan yang timbul karena perjanjian maupun perikatan yang timbul karena undang-undang.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :